Anda di halaman 1dari 15

Journal Reading

Penggunaan Biomarker dalam Membedakan Infeksi Saluran Pernafasan


Bawah Bakterial dan Non Bakterial pada Anak-Anak yang Dirawat di
Rumah Sakit: Perbedaan Pelaksanaan Diagnosis antara Pneumonia Akut
dan Bronkitis

Disusun Oleh :
Annisa Raudhotul Jannah G99161017/D-11
Berlian Maya Dewi G99161027/D-10

Pembimbing :
Bagus Artiko, dr., Sp.A

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSDM
SURAKARTA
2017
HALAMAN PENGESAHAN

Journal Reading ini disusun untuk memenuhi persyaratan kepaniteraan


klinik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret /
RSUD Dr Moewardi:

Hari, tanggal: , April 2017

Disusun Oleh :
Annisa Raudhotul Jannah G99161017/D-11
Berlian Maya Dewi G99161027/D-10

Mengetahui dan menyetujui,


Pembimbing Journal Reading

Bagus Artiko, dr., Sp.A


Penggunaan Biomarker dalam Membedakan Infeksi Saluran Pernafasan
Bawah Bakterial dan Non Bakterial pada Anak-Anak yang Dirawat di
Rumah Sakit: Perbedaan Pelaksanaan Diagnosis antara Pneumonia Akut
dan Bronkitis

ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meneliti penggunaan beberapa
biomarker dalam membedakan infeksi saluran pernafasan bawah didapat dari
komunitas yang bersifat bakterial dan non bakterial pada anak-anak serta
perbedaan pelaksanaan diagnosis antara pneumonia dan bronkitis. Sebuah
penelitian kohort retrospektif terdiri dari 108 pasien anak-anak yang dirawat di
Rumah Sakit karena infeksi saluran pernafasan bawah yang didapat dari
komunitas dilakukan selama tahun 2010-2013. Berdasarkan penemuan X-ray dada
dan sampel sputum, pasien digolongkan menjadi 4 kategori, grup pneumonia atau
bronkitis bakterial dan pneumonia atau bronkitis non bakterial (viral maupun
etiologi yang tidak diketahui). Angka neutrofil dan sel darah putih perifer, dan
protein C-reaktif serum (CRP) serta level procalcitonin (PCT) dibandingkan
antara keempat kelompok. Pada akhirnya, terdapat 54 pasien sebagai subjek
penelitian ini. Pada pasien dengan pneumonia, serum CRP dan level PCT
meningkat secara signifikan di kelompok pneumonia bakterial (CRP: p = 0.02,
PCT : p =0.0008). Area di bawah kurva karakteristik penerima operasi untuk PCT
dalam membedakan antara pneumonia bakterial dan non bakterial merupakan
yang terbesar, serta sensitivitas, spesifitas, nilai prediksi positif dan nilai prediksi
negatif dari PCT merupakan yang terbaik dari keempat marker. Di sisi lain, pada
pasien dengan dengan bronkitis, angka neutrofil menurun secara signifikan pada
pasien bronkitis non bakterial; sedangkan pada angka WBC, level CRP dan level
PCT tidak terlihat adanya perbedaan yang signifikan. Simpulannya, PCT
merupakan marker yang paling berguna untuk membedakan pneumonia bakterial
sementara angka hitung neutrofil paling berperan dalam membedakan bronkitis
bakterial. Pelaksanaan diagnosis biomarker mungkin berbeda antara pneumonia
dan bronkitis.
1. Pendahuluan
Infeksi saluran pernafasan bawah-didapat dari komunitas merupakan
salah satu penyakit yang paling sering terjadi pada anak-anak. Patogen
penyebab Infeksi saluran pernafasan bawah-didapat dari komunitas, terutama
adalah bakteri dan virus, dan kejadian tersering infeksi bakteri dipastikan
pada anak-anak yang dirawat di Rumah Sakit karena pneumonia. Terapi
antimikroba yang sesuai diikuti dengan membedakan infeksi bakterial telah
direkomendasikan untuk pasien yang didiagnosis pneumonia. Banyak
biomarker yang digunakan untuk membedakan infeksi bakterial dan evaluasi
terapi pada pasien anak-anak dengan pneumonia, di mana penggunaan protein
C-reaktif serum dan procalcitonin secara luas dan lazim digunakan pada
praktik klinik, telah dilaporkan. Sebagai tambahan marker tersebut, sel darah
putih tepi (WBC) dan angka neutrofil juga merupakan marker tradisional
untuk membedakan pneumonia bakterial.
Berbeda dengan pneumonia, penggunaan agen antimikroba pada fase
awal bronkitis akut tidak direkomendasikan karena patogen penyebab yang
tersering adalah virus. Meskipun begitu, pasien dengan abnormalitas sistem
respiratori lebih rentan untuk terkena infeksi saluran nafas bawah bakterial
didapat dari komunitas, di mana membedakan bronkitis bakterial secara dini
penting untuk mencegah kondisi yang parah. Penggunaan serum CRP dan
PCT untuk membedakan etiologi bakteri dari virus pada infeksi saluran
pernafasan bawah seperti eksaserbasi akut penyakit paru obstruksi kronik
(PPOK) dan bronkitis masih dalam kontroversi. Sebagai tambahan, terdapat
sedikit laporan mengenai evaluasi penggunaan biomarker untuk membedakan
antara bronkitis viral dan bakteri pada pasien anak-anak.

2. Material dan Metode


2.1. Populasi Penelitian
Peneliti melakukan penelitian kohort retrospektif pada 108 pasien
berusia kurang dari 15 tahun yang masuk Departemen Pediatrik Rumah
Sakit Universitas Kyushu dari 1 Januari 2011 hingga 31 Desember 2013
karena infeksi saluran pernafasan bawah-didapat dari komunitas.
Diagnosis infeksi saluran pernafasan bawah-didapat dari komunitas
berdasarkan pada riwayat klinis seperti demam, batuk dan dyspnea dan
penemuan auskultasi suara nafas abnormal, wheezing dan ronkhi basah.
Selain itu, pasien dengan konsolidasi pada X-ray dada didiagnosis
memiliki pneumonia dan pasien tanpa adanya pneumonia didiagnosis
memiliki bronkitis. Informasi klinis pada masing-masing pasien
dikumpulkan menggunakan formulir laporan kasus yang terstandarisasi.
Data laboratorium yang dikumpulkan meliputi sel darah putih periferal
(WBC) dan angka neutrofil, level serum C-reaktif protein (CRP) dan
level procalcitonin (PCT), penemuan pada X-ray dada, penemuan
bakteriologis dari sampel sputum, dan penemuan virologis dari sputum,
sampel aspirasi nasofaring atau swab tenggorok. Ada atau tidak adanya
konsolidasi pada X-ray dada dinilai oleh 4 peneliti (T.H, E.N., S.K., dan
H.N.).
2.2. Koleksi sputum, pemeriksaan bakteriologis dan evaluasi
Sampel sputum diperoleh untuk konfirmasi infeksi bakterial. Koleksi
sputum dan penilaian kualitas menggunakan klasifikasi Gecklers
dilakukan dengan penjelasan sebagai berikut. Smear, diklasifikasikan
sebagai grup Gecklers 4 atau 5, dinilai sesuai untuk pemeriksaan
bakterial. Hanya sampel sputum yang diambil melalui lubang
tracheostomi yang dinilai sesuai, meskipun diklasfikasikan sebagai grup
Gecklers 6. Ketika sel-sel bakterial yang terfagositosis terlihat pada
apusan pewarnaan Gram pada sampel sputum dan bakteri yang sesuai
kemdian diisolasi, dan diidentifikasi sebagai agen kausatif infeksi
bakterial.
2.3. Konfirmasi infeksi viral, chlamydia dan mycoplasma
Test deteksi antigen rapid untuk adenovirus (SAScientific, San
Antonio, TX, USA) menggunakan swab tenggorok, dan untuk virus
influenza (FUJIREBO, Tokyo, Jepang) dan virus sinsitial respiratorik
(RSV) (SA Scientific) menggunakan sputum atau aspirasi nasofaring,
dan tes serologi untuk Chlamydophila pneumoniae (immunoassay enzim
untuk antibodi IgM, Mitsubishi Chemical Medicine, Tokyo, Jepang, cut
off index positif>2.0) dan Mycoplasma pneumoniae (antibodi aglutinasi
partikel, FUJIREBO, Tokyo, Jepang, positif: peningkatan titer antibodi 4
kali lipat atau lebih pada paired sera) dilakukan ketika terindikasi secara
klinis.

Pasien dirawat di RS dengan


infeksi saluran pernafasan
bawah didapat dari komunitas
(n=108)

Tanpa komplikasi (n= 106) Komplikasi (n=2)

Sampel sputum Sampel sputum tidak


tersedia (n= 99) tersedia (n=7)

Sampel sputum Sampel sputum


tidak sesuai (n= 18) sesuai (n= 81)

Pneumonia (n= 50) Bronkitis (n= 31)

Terapi Tanpa terapi Terapi Tanpa terapi


antimikroba antimikroba antimikroba antimikroba
preseden preseden (n= 31) preseden preseden (n= 23)
(n= 19) (n= 8)

Teridentifikasi Tidak teridentifikasi Teridentifikasi Tidak teridentifikasi


patogen bakterial patogen bakterial patogen bakterial patogen bakterial
(n=21, grup A) (n=10, grup B) (n=12, grup C) (n=11, grup D)
antimikroba antimikroba preseden
preseden (n= 31) (n= 31)
Gambar 1
Profil pasien. *Satu pasien dipersulit oleh gagal jantung terkait kadiomiopati dilatasi, dan pasien
lain dipersulit oleh rhabdomiolisis.
2.4. Analisis statistik
Perbandingan nilai kuantitatif dianalisis menggunakan Mann
Whitney U-test. Tes Fishers exact digunakan untuk menganalisis
kualitatif. Pelaksanaan diagnosis bagi masing-masing marker dalam
mengidentifikasi pneumonia atau bronkitis bakterial dinilai sebagai area
di bawah kurva karakteristik penerima operasi (ROC) dan sensitivitas
optimal, spesitifitas optimal, nilai prediktif positif (PPV) dan nilai
produktif negatif (NPV) dihitung berdasarkan nilai cut-off yang
ditentukan oleh kurva ROC. Nilai p kurang dari 0.05 dianggap signifikan
secara statistik. Statistik SPSS (versi 21; SPSS Inc., Chicago, IL, USA,
dan IBM, Armonk,NY,USA) digunakan untuk analisis.

3. Hasil
Profil pasien yang termasuk dalam penelitian ini ditampilkan pada
Gambar 1. Dari 108 pasien dengan infeksi saluran pernafasan bawah, 2 pasien
dieksklusi karena memiliki komplikasi berat (gagal jantung karena dilatasi
kardiomyopati, 1:rhabdomyolisis, 1). Bahkan, 7 pasien dieksklusi karena
sampel sputum tidak diperoleh dari mereka ketika masuk. Pada 81 (81.8%)
dari 99 pasien yang tersisa, sampel sputum sesuai untuk pemeriksaan
bakterial. Dari 8 pasien, 50 dan 31 pasien didiagnosis sebagai pneumonia dan
bronkitis. Peneliti mengeksklusi pasien dengan terapi antimikroba preseden
karena evaluasi sampel sputum yang tidak akurat. Akhirnya, sebanyak 54
pasien menjadi subjek analisis perbandingan. Pada 31 pasien yang
didiagnosis yang memiliki pneumonia, patogen bakterial terdeteksi dari
sampel sputum dari 21 pasien (grup A), dan tidak ada bakteri kausatif yang
terdeteksi dari 10 pasien lainnya (grup B). Dari 23 pasien yang didiagnosis
memiliki bronkitis, patogen bakterial terdeteksi dari sampel sputum dari 12
pasien (grup C), dan tidak ada bakteri kausatif yang terdeteksi dari 11 pasien
lainnya (grup D).
Tabel 1
Demografi dan karakteristik klilnis
Karakteristik Grup A Grup B p Grup C Grup D p
(n=21) (n=10) (n=12) (n=11)
Usia, bulan (rentang) 22 (3-167) 25 (0-142) 0.72 13.5 (2-46) 17 (0-95) 0.50
Jenis kelamin, %laki-laki 66.7 70.0 0.60 66.7 54.5 0.43
Jumlah pasien dengan penyakit underlying (%) 16 (77) 7(70) 0.51 9 (75) 6 (54.5) 0.28
Kesulitan untuk membatukkan sputuma (%) 12 (54.5) 6 (60) 7 (58.3) 5 (45.5)
b
Kelainan paru primer atau sekunder (%) 2 (9.1) 0 (0) 1 (8.3) 1 (9.1)
Imunitas tergangguc (%) 2 (9.1) 1 (10) 1 (8.3) 0 (0)
Hari sakit didapatkan sputum (%) 3 (1-7) 3 (1-30) 0.88 2(1-5) 4 (1-6) 0.35
Demam (%) 19 (90.5) 7(70) 0.18 10 (83.3) 5 (45.5) 0.071
Oksigen tambahan (%) 17 (81) 8 (80) 0.65 9 (75) 11 (100) 0.12
Ventilasi mekanik (%) 2 (9.5) 1 (10) 0.70 0 (0) 2 (18.2) 0.22
Hitung WBC, /L (rentang) 11,100 11,080 0.47 9965 9140 0.069
(7820-27,980) (3430-18410) (6660 20380) (3510-13500)
Hitung neutrofil, /L (rentang) 8078 7133 0.29 6577 3720 0.019
(3105-19,758) (1809-16716) (2882-14327) (1608-8077)
C-reaktif protein, mg/dL (rentang) 9.93 2.11 0.020 4.18 1.67 0.13
(0.12-36.69) (0.12-20.52) (0.83- 10.86) (0.02-23.44))
Procalcitonin, ng/ml (rentang) 1.1 0.1 0.00080 0.1 0.1 0.62
(0.1-13.0) (0.1-1.1) (0.1-4.3) (0.1-0.6)
Huruf tebal pada Tabel 1 menandakan item yang signifikan secara stastistik.
Grup A: pneumonia bekterial, Grup B: pneumonia viral atau pneumonia tanpa etiologi tang jelas. Grup C: bronkitis bakterialis, Grup D: pneumonia viral atau
bronkitis tanpa etiologi yang jelas
a
Termasuk pasien dengan disabilitas intelektual dan gerak berat terkait cerebral palsy, abnormalitas kromosom.
b
Termasuk pasien dengan penyakit paru kronnis dan penyakit paru sekunder terkait penyakit jantung bawaan.
c
Termasuk pasien dengan imunodefisiensi primer dan penggunaan agen imunosupresi sistemik.
Karakteristik klinis pasien dan data laboratorium ditunjukkan pada Tabel
1. Tidak ada perbedaan signifikan dalam demografi atau karakteristik klinis
yang terlihat antara masing-masing kelompok. Tak satu pun dari pasien-
pasien meninggal dalam penelitian ini. Bakteri patogen yang diidentifikasi di
Grup A dan C ditunjukkan pada Tabel 2. Tidak satupun memiliki kultur darah
positif. Enam pasien di Grup A memiliki komplikasi RSV (n = 5) atau infeksi
virus influenza (n = 1), dan 4 pasien di Grup C memiliki komplikasi RSV. Di
Grup B, tidak ada patogen penyebab yang teridentifikasi pada semua pasien.
Di Grup D, 3 pasien didiagnosis memiliki bronkitis RSV sedangkan patogen
penyebab dari 8 pasien yang tersisa tidak diidentifikasi. Tidak ada pasien
yang didiagnosis memiliki adenovirus, klamidia dan infeksi mikoplasma.

Tabel 2
Bakteri penyebab di pasien yang didiagnosa infeksi saluran nafas bawah bakterial

Grup A Grup C
(n = 21) (n = 12)
S. pneumoniae 5 4
H. influenzae 14 5
M. ctarrhalis 2 4
S. intermedius 1 0
S. agalactiae 1 0
Dua patogen dideteksi di 2 pasien dalam Grup A, dan 1 pasien dalam Grup C. Grup A: pneumonia
bakterial, Grup C: bronkitis bakterial.
Pada pasien dengan pneumonia, level serum CRP dan PCT secara
signifikan lebih tinggi di Grup A daripada di Grup B (CRP: p = 0,02, PCT: p
= 0,0008) (Tabel 1). WBC dan jumlah neutrofil tidak berbeda secara
signifikan antara 2 kelompok. Area di bawah kurva ROC (95% CI) untuk
WBC, neutrofil, CRP dan PCT membedakan antara pneumonia bakterial dan
pneuonia non-bakterial (viral maupun etiologi yang tidak diketahui), masing-
masing adalah 0,59 (0.36-0.81), 0,62 (0.40-0.85), 0,76 (0.56-0.97), 0,87
(0.74-1.00) (Gambar. 2A, Tabel 3). Menggunakan kurva ROC, nilai ambang
optimal untuk setiap marker dihitung, dan sensitivitas, spesifisitas, PPV dan
NPV dinilai. Level serum PCT lebih dari 0,2 ng/ml memiliki sensitivitas
86%, spesifisitas 80%, PPV dari 90%, NPV dari 73%, menunjukkan bahwa
PCT adalah marker yang paling dapat diandalkan di antara 4 marker (Tabel 3).
Penentuan diagnosis dihitung dengan penggunaan beberapa biomarker tidak
sepenuhnya dari PCT (data tidak ditampilkan). Pada 3 pasien (14%) dari
Grup A, terapi antimikroba tidak dimulai pada saat masuk. Dua pasien ini
akhirnya diberikan agen antimikroba karena gejala klinis mereka tidak
membaik. Level serum PCT mereka adalah lebih dari 0,2 ng/ml sedangkan
satu pasien yang tersisa adalah 0,1 ng/ml. Pada 4 pasien (40%) dari Grup B,
terapi antimikroba dimulai pada saat masuk. 6 pasien yang tersisa sembuh
tanpa pemberian agen antimikroba, dan jumlah pasien yang memiliki kadar
serum PCT lebih dari 0,2 ng/ml hanya satu.
Pada pasien yang didiagnosis memiliki bronkitis, jumlah neutrofil di
Grup D secara signifikan lebih rendah dari mereka di Grup C (p = 0,019)
(Tabel 1). Jumlah WBC dan level serum CRP lebih tinggi di Grup C daripada
di Grup D, tetapi perbedaannya tidak signifikan secara statistik. Di sisi lain,
tidak ada perbedaan yang signifikan dari level serum PCT yang terlihat di
antara 2 kelompok. Area di bawah kurva ROC (95% CI) untuk WBC,
neutrofil, CRP dan PCT untuk membedakan antara pasien dengan bronkitis
bakteri dan bronkitis non-bakteri masing-masing adalah 0,73 (0.52-0.93),
0,79 (0.60-0.97), 0,69 (0.47-0.91), 0,55 (0.31-0.79), (Gambar. 2B, Tabel 4).
jumlah neutrofil lebih dari 6035/l memiliki sensitivitas 67%, spesifisitas
82%, PPV 80%, NPV 69%, menunjukkan bahwa itu adalah marker yang
paling dapat diandalkan di antara 4 marker (Tabel 4). Kinerja diagnostik
CRP dan PCT dalam membedakan bronkitis lebih buruk daripada
membedakan pneumonia. Pelaksanaan diagnostik dihitung berdasarkan
kombinasi dari jumlah neutrofil dan level serum CRP (sensitivitas 83%,
spesifisitas 82%, PPV 83%, NPV 82%) adalah lebih tinggi dari jumlah
neutrofil. Pada 2 pasien (20%) dari Grup C, terapi antimikroba tidak dimulai
pada masuk. Salah satu pasien ini akhirnya diberikan agen antimikroba
karena gejala klinis tidak membaik. jumlah neutrofil pasien lebih dari 6035/l
sedangkan satu pasien yang tersisa kurang dari 6035/l. Pada 3 pasien (27%)
dari Grup D, terapi antimikroba dimulai pada saat masuk. 8 Pasien yang
tersisa sembuh tanpa pemberian agen antimikroba, dan tidak ada pasien yang
memiliki neutrofil lebih dari 6035/l.

Gambar 2
Kurva karakteristik pemerima operasi (ROC) untuk WBC, neutrofil, CRP, dan PCT. A).
Perbedaaan antara pneumonia bakterial dan non bakterial. B). Perbedaan antara bronkitis bakterial
dan non bakterial.

Tabel 3
Pelaksanaan diagnostik dari WBC, neutrofil, CRP, dan PCT dalam membedakan antara
pneumonia bakterial dan non bakterial.
Marker AUC (95% CI) Cut off Sensitivitas Spesifitas PPV NPV
WBC 0,59 (0,3-0,81) 10.500/l 62% 50% 72% 38%
Neutrofil 0,62 (0,40-0,85) 7665/l 67% 60% 77% 46%
CRP 0,76 (0,56-0,97) 5,73 mg/dl 71% 80% 88% 57%
PCT 0,87 (0,74-1,00) 0,2 ng/ml 86% 80% 90% 73%
WBC: sel darah putih, CRP: protein C-reaktif, PCT: prokalsitonin, AUC: area di bawah kurva
penerima operasi, PPV: nilai prediksi positif, NPV: nilai prediksi negatif.
Tabel 4
Pelaksanaan diagnostik dari WBC, neutrofil, CRP, dan PCT dalam membedakan antara bronkitis
bakterial dan non bakterial.
Marker AUC (95% CI) Cut off Sensitivitas Spesifitas PPV NPV
WBC 0,73 (0,52-0,93) 9590/l 67% 64% 67% 64%
Neutrofil 0,79 (0,60-0,97) 6035/l 67% 82% 80% 69%
CRP 0,69 (0,47-0,91) 3,99 mg/dl 58% 82% 77% 64%
PCT 0,55 (0,31-0,79) 0,2 ng/ml 33% 73% 57% 50%
WBC: sel darah putih, CRP: protein C-reaktif, PCT: prokalsitonin, AUC: area di bawah kurva
penerima operasi, PPV: nilai prediksi positif, NPV: nilai prediksi negatif.

4. Diskusi
Penelitian ini menunjukkan bahwa PCT adalah marker paling berguna
untuk membedakan antara pneumonia bakterial dan non-bakterial.
Penggunaan algoritma berdasarkan pada nilai cut-off PCT (0,25 ng/ml)
mengurangi penggunaan antibiotik dan efek samping antibiotik pada anak-
anak yang didiagnosis memiliki pneumonia komunitas. Nilai cut-off untuk
membedakan pneumonia bakterial dalam penelitian ini (0,2 ng/ml) sama
dengan penelitian sebelumnya. Seperti penelitian sebelumnya, kita bisa
mengkonfirmasi bahwa PCT merupakan marker yang berguna untuk
pengobatan antimikroba yang sesuai pada pneumonia anak.
Berbeda dengan kegunaan PCT di pneumonia anak, penelitian ini
menyarankan bahwa PCT mungkin tidak berguna untuk membedakan antara
bronkitis bakterial dan non-bakterial. PCT adalah marker yang berguna untuk
mendiagnosa infeksi bakteri sistemik atau berat, yang mana hampir tidak
meningkat pada infeksi bakteri lokal atau ringan. Pneumonia diakui sebagai
infeksi berat saluran pernafasan bawah yang lebih dekat dengan infeksi
sistemik, sedangkan gejala bronkitis relatif lebih ringan. Kegunaan PCT
untuk membedakan infeksi bakteri ringan dalam infeksi saluran pernafasan
bawah komunitas mungkin mirip dengan penyakit infeksi lainnya. Selain itu,
kinerja diagnostik CRP untuk membedakan infeksi bakteri di bronkitis juga
kalah dibandingkan dengan pneumonia. Di sisi lain, kinerja diagnostik
neutrofil baik untuk membedakan antara bronkitis bakterial dan non-bakterial,
tapi tidak berguna di pneumonia. Sepengetahuan kami, belum ada laporan
yang mengevaluasi kegunaan biomarker untuk membedakan antara bronkitis
bakterial dan non-bakterial pada pasien anak. Pemeriksaan berbagai indikator
akan diperlukan untuk mendiagnosis infeksi saluran pernafasan bawah
bakterial karena biomarker yang berguna untuk diferensiasi mungkin berbeda
sesuai dengan tingkat keparahan dan luasnya lesi.
Pada anak-anak yang sebelumnya sehat, sebagian besar patogen
penyebab bronkitis akut adalah virus. Di sisi lain, seperti yang dilaporkan
pada orang dewasa, pasien dengan kelainan sistem pernapasan sering
membutuhkan pengobatan antimikroba karena tingginya frekuensi infeksi
bakteri bahkan dalam bronkitis. Diagnosis pasti bronkitis bakterial juga
diperlukan untuk menghindari pengobatan antimikroba tak berguna yang
mengarah ke peningkatan bakteri yang resistan terhadap obat. Rumah sakit
kami adalah rumah sakit rujukan tersier di daerah Fukuoka, di mana banyak
pasien dengan berbagai penyakit yang mendasari termasuk dalam infeksi
bakteri. Proporsi pasien dengan cacat intelektual dan gerak yang berat,
didefinisikan sebagai kombinasi dari cacat fisik yang berat dan cacat
intelektual, tinggi pada anak-anak yang dirawat di rumah sakit dengan infeksi
saluran pernafasan bawah didapat dari komunitas. Anak-anak dengan cacat
intelektual dan gerak berat umumnya memiliki gangguan pernapasan
obstruktif dan restriktif sehingga sulit untuk membersihkan dahak dari saluran
nafas. Selain itu, pasien rentan terhadap infeksi pernafasan berulang dan
kronis, yang dapat merusak jaringan alveolar. Berdasarkan kondisi pernafasan
kronis mereka, anak-anak ini rentan terhadap infeksi saluran pernafasan
bawah didapat dari komunitas yang berat, dan awal pengobatan yang tepat
diperlukan. Penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja diagnostik jumlah
neutrofil mungkin lebih tinggi dari PCT dan CRP dalam membedakan
bronkitis bakteri. Jumlah neutrofil perifer sering menurun pada pasien dengan
infeksi virus. Perbedaan yang signifikan dari jumlah neutrofil antara pasien
dengan bronkitis bakterial dan bronkitis non-bakterial dapat disebabkan oleh
penurunan jumlah neutrofil selanjutnya. Meskipun terdapat alasan yang tepat
mengapa tidak ada perbedaan yang diamati pada jumlah neutrofil antara
pasien pneumonia bakterial dan pneumonia non-bakterial, kemungkinan
selanjutnya, jumlah neutrofil tidak menurun dengan mudah karena stres
infeksi saluran pernafasan berat. Jumlah neutrofil dapat dimanfaatkan untuk
membedakan infeksi saluran pernafasan bawah bakterial -didapat dari
komunitas setelah memahami latar belakang pasien karena mereka tidak
berguna pada pasien dengan neutropenia.
Penelitian retrospektif ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama,
dalam kelompok infeksi saluran pernafasan bawah non-bakterial didapat
dari komunitas, infeksi bakteri tidak dapat sepenuhnya dikeluarkan karena
patogen penyebab tidak dapat diidentifikasi pada semua pasien yang
didiagnosis sebagai infeksi saluran pernafasan bawah non-bakterial didapat
dari komunitas. Beberapa pasien yang diklasifikasikan dalam kelompok
infeksi saluran pernafasan bawah non-bakterial menunjukkan peningkatan
level biomarker. Perbandingan biomarker antara pasien yang didiagnosis
memiliki infeksi saluran pernafasan bawah bakterial dan pasien yang
didiagnosis memiliki infeksi saluran pernafasan bawah virus diperlukan untuk
mengkonfirmasi kinerja diagnostik yang ketat. Kedua, hanya pasien rawat
inap dengan infeksi saluran pernafasan bawah didapat dari komunitas yang
dilibatkan dalam penelitian ini. Kita tidak bisa melakukan studi berbasis
populasi dan membandingkan manifestasi klinis secara keseluruhan antara
masing-masing kelompok. Ketiga, penelitian ini di rumah sakit kami sendiri
mungkin terdapat bias populasi pasien. Akhirnya, penelitian ini dilakukan di
sebuah pusat medis tunggal, dengan jumlah total populasi penelitian yang
kecil. Jumlah anak-anak yang sedikit dalam setiap kelompok dapat
menyebabkan ketidak-tepatan analisis statistik untuk mendeteksi perbedaan
antar kelompok.
Kesimpulannya, pelaksanaan diagnostik CRP dan PCT dalam
membedakan bronkitis akut lebih buruk daripada membedakan pneumonia
akut, sedangkan jumlah neutrofil perifer baik untuk membedakan antara
bronkitis bakteri dan bronkitis non-bakteri, tapi tidak berguna di pneumonia.
Biomarker yang berguna untuk membedakan infeksi saluran pernafasan
bawah didapat dari komunitas mungkin berbeda sesuai dengan tingkat
keparahan dan luasnya lesi. Sebuah studi prospektif skala besar akan
dibenarkan untuk memvalidasi pelaksanaan diagnostik biomarker pada anak
dengan bronkitis bakteri.