Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya, makalah
yang berjudul Review Dokumen Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Kabupaten Banyuwangi dalam penyelesaian tugas mata kuliah Pengantar Lingkungan
Pesisir ini telah diselesaikan dengan baik.
Ucapan terima kasih tidak lupa penulis ucapkan kepada dosen mata kuliah Pengantar
Lingkungan Pesisir. Terima kasih juga penulis tujukan kepada keluarga dan seluruh pihak
yang senantiasa membantu dan mendukung dalam penyusunan makalah ini.
Makalah ini penulis buat untuk membantu pembaca supaya lebih memahami dan
mempelajari materi dalam kuliah Pengantar Lingkungan Pesisir. Makalah ini penulis
persembahkan khusus kepada para mahasiswa perencanaan wilayah dan kota ITS serta
para dosen perencanaan wilayah dan kota ITS, namun tidak menutup kemungkinan bagi
para pembaca umum lainnya.
Penulis juga menyadari atas segala kekurangan dalam makalah ini.sehingga penulis
berharap adanya kritik dan saran yang membangun untuk memperbaiki makalah penulis
selanjutnya. Akhir kata penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis
khususnya, dan pembaca umumnya.

Surabaya, 31 Maret 2015

Penulis

Pengantar Lingkungan Pesisir


Review Dokumen Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Banyuwangi
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................................. i


DAFTAR ISI ...........................................................................................................................ii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................................... iii
DAFTAR TABEL ................................................................................................................... iii
I. PENDAHULUAN ............................................................................................................ 1
II. PEMBAHASAN .............................................................................................................. 1
A. Konsep Dasar Teoritis ................................................................................................ 1
B. Fakta dan Analisa Ekosistem Mangrove ..................................................................... 3
C. Rencana Ekosistem Mangrove ................................................................................... 4
III. ANALISIS DOKUMEN PERENCANAAN .................................................................... 4
A. Kelebihan Dokumen ................................................................................................... 4
B. Kekurangan Dokumen ................................................................................................ 5
IV. PENUTUP .................................................................................................................. 7
A. Kesimpulan dan Rekomendasi ................................................................................... 7
B. Lesson Learned.......................................................................................................... 8
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 9
LAMPIRAN ......................................................................................................................... 10

ii

Pengantar Lingkungan Pesisir


Review Dokumen Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Banyuwangi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Metode transek mangrove ........................................................................................... 6

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Pengelompokkan Data Dalam Penyusunan RZWP ....................................................... 10


Tabel 2 Kriteria yang menentukan kondisi mangrove .................................................................. 11
Tabel 3 Kriteria Baku Kerusakan Mangrove .................................................................................. 12

iii

Pengantar Lingkungan Pesisir


Review Dokumen Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Banyuwangi
I. PENDAHULUAN

Wilayah pesisir adalah suatu wilayah peralihan antara daratan dan lautan dimana
batasnya dapat didefinisikan baik dalam konteks struktur administrasi pemerintah maupun
secara ekologis. Secara historis menunjukan bahwa wilayah pesisir ini telah berfungsi
sebagai pusat kegiatan masyarakat karena berbagai keunggulan fisik dan geografis yang
dimilikinya, agar pemanfaatan sumber daya laut dan pesisir dapat terselenggara secara
optimal, diperlukan upaya penataan ruang sebagai salah satu bentuk intervensi kebijakan
dan penanganan khusus dari pemerintah dengan memperhatikan kepentingan stake holders
lainnya.
Penataan ruang tersebut lebih menekankan kepada perencanaan kawasan pesisir dan
pulau-pulau kecil yang harus dibuat oleh pemerintah daerah yang khusus dibuat
berdasarkan analisis kondisi eksisting wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil tertentu. Data ini
merupakan data yang vital untuk digunakan sebagai dasar rencana karena data-data
ekosistem ini memiliki berbagai potensi, yakni meliputi sumber daya hayati, sumber daya
hayati, jasa-jasa lingkungan, fungsi pertahanan dan keamanan, fungsi ekonomi, serta fungsi
ekologi. Perencanaan pesisir haruslah mengambil bentuk sebagai rencana yang terintegrasi,
serta mempertimbangkan aspek ekonomi, ekologis, dan sosial politik dengan sifat
berkelanjutan.
Studi kasus yang diangkat dalam laporan ini adalah Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Banyuwangi. Kabupaten Banyuwangi sebagai wilayah bagian
timur Provinsi Jawa Timur memiliki sumber daya alam berupa pesisir dan pulau-pulau kecil
yang sangat potensial dan strategis, sehingga perencanaannya memerlukan data ekosistem
yang terinventarisasi dengan baik dan menjadi lokasi studi yang ideal untuk bahan
identifikasi fakta dan analisa terkait ketersediaan data ekosistem, khususnya mangrove di
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Sehingga dapat diketahui bagaimana ekosistem
mangrove yang ada di Kabupaten Banyuwangi dan dapat diidentifikasi apa saja kelebihan
dan kekurangan data ekosistem mangrove dalam Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Banyuwangi.

II. PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Teoritis


Undang-undang Nomor 01 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan
Pulau-pulau Kecil menjelaskan bahwa Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil memiliki 1
keragaman potensi sumber daya alam yang tinggi, dan sangat penting bagi pengembangan
sosial, ekonomi, budaya, lingkungan, dan penyangga kedaulatan bangsa. Oleh karena itu
perlu dikelola secara berkelanjutan dan berwawasaan global dengan memperhatikan
Pengantar Lingkungan Pesisir
Review Dokumen Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Banyuwangi
aspirasi dan partisipasi masyarakat dan tata nilai bangsa yang berdasarkan norma hukum
nasional.
Berdasarkan Peraturan Nomor PER/16/MEN/2008 tentang Perencanaan
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Perencanaan, pengelolaan wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil adalah suatu proses penyusunan tahapan-tahapan kegiatan
yang melibatkan berbagai unsur kepentingan didalamnya. Terdapat banyak aspek yang
perlu diperhatikan dalam tahap penyusunan rencana wilayah pesisir, salah satunya adalah
metode pengumpulan data.
Pengumpulan data diperlukan untuk memperoleh gambaran awal tentang isu,
permasalahan, potensi, pemanfaatan ruang dan pemanfaatan sumberdaya laut pesisir dan
pulau-pulau kecil di lokasi perencanaan yang digunakan sebagai data awal dalam membuat
peta dasar, peta tematik dan peta rencana. Pengumpulan data ini dapat dilakukan dengan
survei langsung ke lapangan. Selain itu juga dapat dilakukan pengumpulan data informasi
dari lembaga atau institusi yang telah melakukan proses pengumpulan data lapangan dan
mendokumentasikannya dalam bentuk laporan, buku, diagram, peta, foto dan media
penyimpanan lainnya.
Data-data dasar yang dibutuhkan dalam penyusunan rencana wilayah pesisir ini
antara lain meliputi:
1. Kebijakan terkait, dalam penyusunan rencana harus mempertimbangkan
kebijakan setempat sehingga nantinya akan didapat rencana yang sesuai.
2. Kondisi fisik wilayah, hal ini dapat dilihat dari data geologi, morfologi, topografi dan
sebagainya.
3. Hidro-oceanografi, meliputi data pasang surut, batrimetri, arus, kualitas air laut
serta angin dan gelombang.
4. Bio-ekologi, meliputi data sebaran biota, kondisi ekosistem pesisir serta kondisi
sumber daya pesisir.
5. Sosial, Ekonomi dan Budaya merupakan data pendukung seperti kependudukan,
budaya dan adat setempat, perekonomian, sarana prasarana serta pemanfaatan
ruang eksisting.
Data-data diatas merupakan data fakta yang dibutuhkan untuk menganalisa
sehingga didapat produk perencanaan yang sesuai dengan karakteristik, kondisi dan
kebijakan setempat. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Lampiran.
Metode pengumpulan data diatas juga sangat diperlukan dalam ekosistem mangrove
untuk menjelaskan bagaimana kondisi eksisting ekosistem mangrove pada suatu wilayah 2
secara mendetail. Ada banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan

Pengantar Lingkungan Pesisir


Review Dokumen Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Banyuwangi
mangrove yaitu meliputi faktor salinitas, subtract serta kondisi pasang surut air laut. Untuk
lebih jelasnya mengenai data ketiga factor tersebut dapat dilihat pada Lampiran.
Terdapat dua metode pengumpulan data mangrove yaitu:
1. Metode Angle Count Cruising
2. Metode Transek Plot Garis
Namun metode pengumpulan data mangrove yang biasanya dilakukan di Indonesia
adalah dengan metode transek plot garis atau biasa dikenal dengan analisis vegetasi.
Metode ini menggunakan peralatan yang relatif sederhana dan memberikan data akurat utk
banyak aspek (karakteristik dan struktur) ekosistem mangrove. Adapun prinsip dasar dari
metode ini dengan mengetahui densitas (kerapatan), frekuensi (keterdapatan), dan
dominansi.
Selanjutnya data mengenai kerapatan dapat digunakan untuk menentukan
kerusakan mangrove dengan membandingkan bagaimana penutupannya dengan nilai
kerapatannya. Pedoman mengenai kriteria baku dan penentuan kerusakan mangrove dapat
dilihat pada Lampiran. Selain itu data frekuensi digunakan untuk mengetahui kondisi jumlah
mangrove dimana jika pengukurannya dilakukan secara temporal akan diketahui apakah
setiap waktunya mangrove mengalami pengurangan atau penambahan. Dominansi dapat
diketahui dengan melihat mayoritas jenis mangrove di suatu wilayah, dengan begitu dapat
direncanakan penanganan ekosistem mangrove sesuai jenisnya karena berbeda jenis maka
berbeda pula karakteristik mangrove. Data mengenai jenis-jenis mangrove dapat dilihat
pada Lampiran.

B. Fakta dan Analisa Ekosistem Mangrove


Berdasarkan data sekunder yang diperoleh dari Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Banyuwangi, ekosistem mangrove banyak dijumpai sepanjang
pantai di teluk Pangpang dari jenis Rhizophora dan Avecinea. Hutan mangrove di sisi barat
teluk Pangpang termasuk ke dalam bagian dari kawasan Taman Nasional Alas Purwo.
Mangrove di kawasan sisi barat teluk Pangpang merupakan hasil penanaman oleh
masyarakat dengan ketebalan 100 meter dan jenis bibit mangrove yang digunakan adalah
Rhizophora mucronata.
Selain mangrove yang ada di sisi barat teluk Pangpang juga terdapat mangrove di
sisi timur dan sisi selatan teluk Pangpang. Untuk mangrove di kawasan sisi timur teluk
Pangpang, kondisi hutan mangrove masih alami dan baik dengan ketebalan berkisar antara
300-400 meter. Sedangkan untuk mangrove pada sisi selatan teluk Pangpang terdapat
3
mangrove alami dengan ketebalan 1.000 meter dimana zonasi mangrove di sisi selatan
teluk Pangpang relative sama dengan sisi barat teluk Pangpang.

Pengantar Lingkungan Pesisir


Review Dokumen Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Banyuwangi
Menurut data dari Departemen Kelautan dan Perikanan, selain di teluk Pangpang
ekosistem mangrove juga terdapat pada:
Kecamatan Banyuwangi
Kecamatan Wongsorejo
Kecamatan Kalipuro
Kecamatan Tegaldlimo
Kecamatan Pesanggaran
Namun proporsi jumlah mangrove di kecamatan diatas tidak sebanyak pada
kawasan teluk Pangpang. Tingkat kerawanan akan kerusakan mangrove pada Kabupaten
Banyuwangi disebabkan adanya pengembangan beberapa kegiatan, meliputi permukiman,
akomodasi wisata dan atraksi wisata.

C. Rencana Ekosistem Mangrove


Pada umumnya ekosistem mangrove berfungsi untuk melindungi habitat, ekosistem,
dan aneka biota laut, melindungi pantai dari sedimentasi, abrasi dan proses akresi
(pertambahan pantai) serta mencegah terjadinya pencemaran pantai. Oleh karena itu, perlu
dilakukan perlindungan yang ketat untuk menjaga habitat mangrove. Rencana
pengembangan sub kawasan konservasi hutan mangrove pada Kabupaten Banyuwangi
adalah sebesar 2.705,78 Ha.

III. ANALISIS DOKUMEN PERENCANAAN

Dalam menganalisa dokumen perencanaan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan


Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Banyuwangi, kami membandingkan dengan rencana sejenis,
yakni Rencana Zonasi Wilayah Pesisir Jawa Timur.

A. Kelebihan Dokumen
Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Banyuwangi
secara umum sudah cukup baik dan dijabarkan secara sistematis. Dalam pembahasan
ekosistem mangrove yang terdapat pada RZWP ini kelebihannya adalah :
1. Ekosistem Mangrove dijelaskan RZWP Kabupaten Banyuwangi pada Bab IV
Analisa Zonasi Kawasan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil halaman 33. Pembahasan
yang terdapat pada rencana ini meliputi definisi mangrove secara umum beserta
ciri-cirinya yakni hutan yang berada di daerah tepi pantai yang dipengaruhi
pasang surut air laut, sehingga lantai hutannya selalu tergenang air. Manfaat 4
hutan mangrove secara fisik seperti menjaga garis pantai agar tetap stabil,
melindungi pantai dari abrasi, menahan tiupan angin kencang dari laut, serta
menjadi wilayah penyangga terhadap rembesan air laut (intrusi) dan biologis yakni
Pengantar Lingkungan Pesisir
Review Dokumen Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Banyuwangi
sebagi tempat memijah dan berkembang-biaknya hewan air, tempat berlindung
dan kembang biak berbagai spesies burung dan satwa lain serta sebagai sumber
plasma nutfah dan juga secara ekonomis.
2. Dalam pembahasan mengenai ekosistem mangrove menjelaskan pula tentang
pengembangan kawasan yang kurang berwawasan lingkungan sebagaimana
dijelaskan pada Bab IV Analisa Zonasi Kawasan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
halaman 34. sehingga berpotensi merusak ekosistem hutan mangrove. Dijelaskan
bahwa pemanfaatan hutan mangrove saat ini cenderung merusak yang dapat
menyebabkan penurunan luas hutan mangrove. Eksploitasi kawasan hutan
mangrove menjadi kawasan tambak, industri, permukiman, dan pertanian yang
menjadi faktor utama kerusakan mangrove.

B. Kekurangan Dokumen
Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Banyuwangi
memiliki kekurang-sempurnaan sebagaimana dokumen perencanaan lainnya. Berikut
penjelasan kekurangan dari analisis penulis:
a. Luasan area mangrove secara keseluruhan di wilayah Kabupaten Banyuwangi
tidak dicantumkan dan dijelaskan dengan jelas, hanya terdapat penjelasan letak
hutan mangrove yang ada di Kabupaten Banyuwangi. Sebaiknya dijelaskan
luasan eksisting per kecamatan yang berbatasan dengan laut yang mempunyai
area konservasi mangrove.
b. Kondisi Eksisting hutan mangrove belum dijelaskan dengan rinci, penjelasan
hanya berkisar tentang pengertian dan definisi mangrove saja sebagaimana
dijelaskan pada RZWP Kabupaten Banyuwangi pada Bab IV Analisa Zonasi
Kawasan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil halaman 33. Sebaiknya tidak dijelaskan
pula jenis atau spesies mangrove yang terdapat pada wilayah konservasi sebagai
bentuk pelestarian spesies-spesies mangrove endemic maupun langka. Yang
kedua yakni kerapatan tutupan mangrove sebagai dasar mengetahui kondisi
mangrove yang belum tercantum pada dokumen perencanaan, apakah dalam
keadaan baik sesuai standar ataupun tidak dan tingkat kerusakan mangrove pada
Kabupaten ini juga belum diketahui. Pengukuran kondisi mangrove sesuai baku
mutu tercantum pada Keputusan Menteri LH No.201 Th. 2004 (Lampiran).
Yang ketiga yakni persebaran mangrove di Kabupaten Banyuwangi dari data
persebaran ini kita bisa melakukan pencegahan terhadap bencana gelombang, 5
dari data persebaran ini dapat memperkirakan daerah yang rawan dengan kondisi
mangrove untuk dapat mengurangi resiko bencana. Adanya penjelasan mengenai

Pengantar Lingkungan Pesisir


Review Dokumen Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Banyuwangi
hal ini dapat menjadi acuan dalam perencanaan kawasan untuk memperoleh hasil
rencana yang optimal untuk diterapkan di Kabupaten Banyuwangi ini.
c. Dalam penyajian data lokasi dan luas kawasan hutan mangrove tidak terdapat
visualisasi dalam bentuk peta maupun tabel apabila dibandingkan dengan RZWP
Provinsi Jawa Timur yang memberikan keterangan persebaran berupa peta pada
Bab II halaman 12. Penyajian analisis deskriptif berupa tabel, gambar, grafik
maupun peta dapat memudahkan pembaca dalam memahami isi Rencana Zonasi
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Banyuwangi ini.
d. Belum terdapatnya penjelasan mengenai pengukuran luas mangrove ideal dalam
buku Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten
Banyuwangi. Sebaiknya dicantumkan cara-cara pengukuran yang dapat dijadikan
acuan dalam perencanaan. Cara cara yang umumnya digunakan untuk
melakukan pengukuran luas dan kerapatan mangrove yakni:
1. Menghitung luasan area konservasi hutan mangrove melalui citra satelit
dengan cara luas pada citra dikalikan dengan skala citra. Cara pertama ini
cukup mudah, namun tidak akurat dan tidak dapat menjawab banyak aspek
hanya terbatas pada luas keseluruhan saja.
2. Dengan metode transek plot garis (transect line plots) yang dimodifikasi dan
dikenal sebagai analisis vegetasi. Prosedur yang digunakan adalah
menentukan lokasa representative dan memotong tegak lurus dengan garis
pantai agar zonasi dapat diketahui. Lalu, transek disipkan lebih dari 1 (minimal
3) agar mewakili kerapatan antar transek.1 transek terdiri dari minimal 3 plot,
terdapat ukuran tertentu dalam pengukuran plot. Diharapkan output berupa
DBH (diameter batang), kerapatan, frekuensi dan dominasi hingga diperoleh
indeks sebagaimana tercantum pada poin (b). Metode ini menggunakan alat
yang relatif sederhana namun akurat untuk beberapa aspek. Namun
membutuhkan waktu yang cukup lama dan skill yang cukup untuk melakukan
identifikasi.

Gambar 2. 1 Metode transek mangrove


Sumber: Presentasi Mata Kuliah Mangrove

Pengantar Lingkungan Pesisir


Review Dokumen Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Banyuwangi
e. Berkaitan dengan rencana hutan mangrove, tidak ada penjelasan yang lengkap
mengenai rencana kedepannya, pembahasan mengenai mangrove terdapat pada
subab zona perlindungan setempat dan penyajian rencananya terbatas pada
rencana luas keseluruhan kawasan konservasi mangrove seluas 2.075,78 hektar.
Sedangkan, pada Rencana Zonasi Wilayah Pesisir Jawa TImur, terdapat
perbedaan data rencana pengembangan hutan mangrove di Kabupaten
Bayuwangi yang terbagi pada lokasi di perairan Wongsorejo, Teluk Pang-Pang,
Grajagan (daerah rawan tsunami), Teluk Rajegwesi, Pesanggaran, rawa Taruna
Jajag (perbatasan Kec.Tegaldlimo dengan Purwoharjo), dan Rawa Biru Kec.
Pesanggaran dengan luas total 1.738,33 Hektar (RZWP Provinsi Jawa Timur Bab
IV halaman 41 dan 42). Adanya perbedaan ini sebaiknya dapat dihindari dan
dapat disinkronkan satu sama lainnya. Data dari RZWP Kota/Kabupaten yang
didapat sebagai dasar penyusunan RZWP Provinsi sebaiknya diverifikasi lagi dan
dicocokkan dengan kondisi eksisiting sehingga tidak ada tumpang tindih antar
informasi.
f. Hasil rencana kawasan konservasi hutan mangrove tidak dapat menjawab
permasalahan kondisi eksisting mangrove dikarenakan kurang lengkapnya data
fakta dan proses pengambilan data juga kurang tergambarnya fenomena-
fenomena yang menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas mangrove di
Kabupaten Banyuwangi. Sebaiknya pada data fakta kawasan konservasi
mangrove dijelaskan mengenai hal hal diatas sebagai landasan pengembangan
agar rencana yang dihasilkan dapat menjawab permasalahan pada kawasan
konservasi mangrove Kabupaten Bayuwangi secara optimal.
IV. PENUTUP

A. Kesimpulan dan Rekomendasi


Dari penjelasan mengenai dokumen RZWP Kabupaten Banyuwangi di atas, maka
dalam menyusun RZWP untuk ekosistem mangrove yang baik adalah dengan:
1. Menjelaskan luasan eksisting area mangrove per kecamatan yang memiliki area
konservasi mangrove di Kabupaten Banyuwangi.
2. Menjelaskan pengertian dan definisi mangrove serta kondisi eksisting hutan
mangrove yang terdapat di Kabupaten Banyuwangi. Selain itu dijelaskan pula
kerapatan tutupan mangrove sebagai dasar mengetahui kondisi mangrove,
7
apakah hutan mangrove dalam keadaan baik sesuai standar ataupun tidak. Bisa
juga dengan mencantumkan pengukuran kondisi mangrove sesuai baku mutu
pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 201 Tahun 2004.

Pengantar Lingkungan Pesisir


Review Dokumen Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Banyuwangi
3. Menjelaskan jenis dan spesies mangrove yang terdapat pada wilayah konservasi
sebagai bentuk pelestarian spesies-spesies mangrove endemic maupun langka.
Selain itu, dijelaskan pula persebaran spesies-spesies mangrove di Kabupaten
Banyuwangi.
4. Untuk persebaran lokasi spesies mangrove dan luas kawasan huta mangrove
sebaiknya ditampilkan dalam bentuk peta, tabel, gambar, maupun grafik agar
lebih memudahkan pembaca memahami isi RZWP Kabupaten Banyuwangi ini.
5. Menjelaskan pengukuran luas mangrove yang ideal karena cara-cara pengukuran
tersebut dapat dijadikan acuan dalam perencanaan.
6. Menjelaskan rencana kedepan kawasan mangrove tersebut yang tidak terbatas
pada rencana luas keseluruhan kawasan konservasi mangrove saja.
7. Menjelaskan data fakta dan proses pengambilan data agar hasil rencana kawasan
konservasi hutan mangrove dapat menjawab permasalahan kondisi eksisting
mangrove yang terdapat di Kabupaten Banyuwangi.

B. Lesson Learned
Sebagai seorang planner, dengan adanya review dokumen Rencana Zonasi Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Banyuwangi maka kita dapat :
1. Mengetahui hal apa saja yang tedapat dalam suatu dokumen perencanaan RZWP
Kabupaten Banyuwangi, khususnya perencanaan kawasan pesisir Kabupaten
Banyuwangi.
2. Mengetahui kondisi pesisir di Kabupaten Banyuwangi dan lokasi mana saja yang
berbatasan langsung dengan laut atau merupakan kawasan pesisir Kabupaten
Banyuwangi.
3. Mampu melihat kelebihan dan kekurangan dari dokumen RZWP Kabupaten
Banyuwangi ini, sehingga dapat menyimpulkan indikator apa saja yang diperlukan
dalam suatu dokumen perencanaan.
Selain itu, kita dapat menarik suatu pembelajaran tentang analisa ketersediaan fakta
dan analisa aspek ekosistem ini pada dokumen Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-
Pulau Kecil Kabupaten Banyuwangi sebagai pondasi awal dalam perencanaan kawasan
pesisir sebagai salah satu sub keilmuan dalam bidang Perencanaan Wilayah dan Kota.

Pengantar Lingkungan Pesisir


Review Dokumen Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Banyuwangi
DAFTAR PUSTAKA

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah


Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 201 Tahun 2004 tentang Kriteria Baku
Dan Pedoman Penentuan Kerusakan Mangrove
Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per.16/Men/2008
tentang Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil

Pengantar Lingkungan Pesisir


Review Dokumen Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Banyuwangi
LAMPIRAN
Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor
Per.16/Men/2008 tentang Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil,
data yang diperlukan dalam penyusunan rencana dapat dikelompokkan berdasarkan tabel
dibawah ini:
Tabel 1 Pengelompokkan Data Dalam Penyusunan RZWP
Jenis Data Teknik
Komponen Data Sumber Data
Prmer Sekunder Pengambilan Data
Kebijakan
RTRW Sekunder Instansi Studi Pustaka
RPJM dan Renstra Sekunder Instansi Studi Pustaka
Isu dan Masalah Sekunder Instansi Studi Pustaka
Studi Terkait Sekunder Instansi Studi Pustaka
Kondisi Fisik Wilayah
Geografis dan
Sekunder Instansi Studi Pustaka
Administratif
Geologi dan
Sekunder Instansi Studi Pustaka
Morfologi
Topografi Sekunder Instansi Studi Pustaka
Iklim dan Cuaca Sekunder Instansi Studi Pustaka
Hidro-Oceanografi
Pasut Sekunder Instansi Studi Pustaka
Bathimetri Sekunder Instansi Studi Pustaka
Arus Sekunder Instansi Studi Pustaka
Angin dan
Sekunder Instansi Studi Pustaka
Gelombang
Kualitas Air Laut Primer Pengukuran Observasi
Bio-Ekologi
Sebaran Biota Wawancara,
Responden,
(endemik lagkah, Primer Sekunder Observasi, Studi
Instansi
hampir punah, invasi) Pustaka
Kondisi Ekosistem
Responden, Wawancara,
Pesisir (mangrove,
Primer Sekunder Pengukuran, Observasi, Studi
terumbu karang,
Instansi Pustaka
lamun, lahan basah)
Kondisi Sumberdaya
Pesisir (pencemaran, Responden, Wawancara, Studi
Primer Sekunder
degradasi, isu dan Instansi Pustaka
masalah)
Sosial, Ekonomi, dan Budaya
Responden, Wawancara, Studi
Kependudukan Primer Sekunder
Instansi Pustaka
Budaya dan Adat Responden, Wawancara, Studi
Primer Sekunder
Istiadat Instansi Pustaka
Responden, Wawancara, Studi
Perekonomian Primer Sekunder
Instansi Pustaka
Sarana dan Responden, Wawancara, Studi 10
Primer Sekunder
Prasarana Instansi Pustaka
Pemanfaatan Ruang Responden, Wawancara, Studi
Primer Sekunder
Eksisting Instansi Pustaka
Sumber: Peraturan Nomor PER/16/MEN/2008
Pengantar Lingkungan Pesisir
Review Dokumen Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Banyuwangi
Selain itu, dalam Peraturan Nomor PER/16/MEN/2008 tentang Perencanaan
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Perencanaan juga dijelaskan dalam
menetukan kondisi ekosistem mangrove mempertimbangkan banyak aspek seperti yang
tercantum dalam tabel dibawah ini:
Tabel 2 Kriteria yang menentukan kondisi mangrove
Kriteria Kesesuaian
No. Variable Data
Baik Sedang Buruk
Kelerengan Pantai dan Pasang
1. > 15 5 - 15 <5
a. Frekuensi Rendaman (hr/km)
2. Tekstur Lumpur Lumpur Pasir Pasir
3. pH Tanah 5,5 8,5 4,0 5,5 < 4,0 atau > 8,0
4. pH Air 5,0 - 7,5 3 -5 atau 7,5 8,0 < 3,0 atau > 8,0
5. Salinitas (o/oo) 5 - 25 26 40 < 5 atau > 40
6. Bahan Organik 1-5 0 -1 atau 5 - 10 > 10
Sumber: Peraturan Nomor PER/16/MEN/2008

Data-data pada tabel sangat diperlukan dalam penentuan kondisi mangrove


dikarenakan mangrove merupakan salah satu jenis flora yang ekstrem yaitu dapat
beradaptasi dilingkungan tertentu. Maka dari itu sangat penting untuk mengetahui data-data
seperti yang tercantum dalam tabel.
Mangrove merupakan salah satu ekosistem yang memiliki beraneka macam jenis
dimana jenis mangrove ini yang menentukan karakteristiknya. Sehingga dalam perencanaan
ekosistem mangrove perlu diketahui terlebih dahulu jenisnya agar penanganannya dapat
dilakukan sesuai dengan karakteristik mangrove. Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan
no. P.03/MENHUT-V/2004, terdapat beberapa jenis mangrove antara lain:
1. Avicennia
2. Sonneratia
3. Rhizopora
4. Bruguiera
5. Lumnitzera
6. Xylocarpus
7. Nypa
Upaya pengendalian untuk melindungi mangrove dari kerusakan adalah dengan
mengetahui adanya tingkat kerusakan berdasarkan kriteria baku kerusakannya. Kriteria
baku kerusakan mangrove digunakan sebagai cara untuk menentukan status kondisi
mangrove. Berdasarkan KepMen LH No 201 Tahun 2004, kriteria baku kerusakan mangrove
ditetapkan berdasarkan presentase luas tutupan dan kerapatan mangrove yang hidup. 11
Metode penentuan Kriteria Baku Kerusakan Mangrove didasarkan pada penggunaan
metode Transek Garis dan Petak Contoh (Transect Line Plot. Metode Transek Garis dan
Petak Contoh (Transect Line Plot) adalah metode pencuplikan contoh populasi suatu
Pengantar Lingkungan Pesisir
Review Dokumen Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Banyuwangi
ekosistem dengan pendekatan petak contoh yang berada pada garis yang ditarik melewati
wilayah ekosistem tersebut. Metode pengukuran ini merupakan salah satu metode
pengukuran yang paling mudah dilakukan, namun memiliki tingkat akurasi dan ketelitian
yang akurat.
Tabel 3 Kriteria Baku Kerusakan Mangrove
Kriteria Penutupan (%) Kerapatan (pohon/ha)
Baik Sangat Padat 75 1500
Sedang 50 - < 75 1000 - < 1500
Rusak Jarang < 50 < 1000
Sumber: KepMen LH No 201 Tahun 2004

12

Pengantar Lingkungan Pesisir


Review Dokumen Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Banyuwangi