Anda di halaman 1dari 2

Definisi

Anemia penyakit kronis merupakan bentuk anemia derajat ringan sampai sedang yang terjadi akibat infeksi
kronis, peradangan, trauma dan penyakit neoplastik yang telah berlangsung 12 bulan dan tidak disertai
penyakit hati, ginjal dan endokrin. Jenis anemia ini ditandai dengan kelainan metabolisme besi, sehingga terjadi
penumpukan besi di makrofag.

Penatalaksanaan

Terapi utama pada anemia penyakit kronis adalah dengan mengobati penyakit dasarnya. Terdapat juga beberapa
pilihan untuk menangani anemia pada penyakit kronis, diantaranya yaitu :

1. Transfusi

Transfusi merupakan pilihan pada kasus-kasus yang disertai dengan dengan gangguan hemodinamik. Beberapa
literature menyebutkan bahwa pasien anemia pada penyakit kronik yang disertai infark miokard, transfusi dapat
mengurangi resiko kematian secara bermakna. Tidak ada batasan yang pasti pemberian transfusi harus
dilakukan pada kadar hemoglobin berapa, namun sebaiknya kadar hemoglobin pada pasien dipertahankan pada
10-11 gr/dL.

2. Eritropoietin

Selain untuk menghindarkan pasien dari transfusi beserta efek sampingnya, pemberian eritropoietin juga
mempunyai beberapa keuntungan, yaitu:

Mempunyai efek anti inflamasi dengan cara menekan produksi dari TNF- dan interferon-.

Pemberian eritropoetin juga akan menambah proliferasi dari sel-sel kanker ginjal serta meningkatkan rekurensi
pada kanker kepala dan leher.

Saat ini telah terdapat tiga jenis eritropoietin, yakni eritropoietin alfa, eritropoietin beta dan darbopoietin.
Masing - masing eritropoietin ini berbeda struktur kimiawi, afinitas terhadap reseptor serta waktu paruhnya
sehingga memungkinkan untuk memilih mana yang lebih tepat dalam menangani suatu kasus.

Daftar Pustaka

Muhammad A, Sianipar O. 2005. Penentuan Defisiensi Besi Anemia Penyakit Kronis Menggunakan Peran
Indeks sTRfR-F. Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory, Vol. 12, No. 1, Nov 2005.
Diakses melalui: http://www.journal.unair.ac.id/filerPDF/IJCPML-12-1-03.pdf pada 14 April 2016.

Kumar, Cotran, Robbins. Sistem Hematopoietik dan Limfoid. Buku Ajar Patologi. Edisi 2. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC,2007;h.463

A.V. Hoffbrand, J.E. Pettit, P.A.H. Moss, Ahli bahasa : dr. Lyana Setiawan. Buku Kapita Selekta Hematologi
Edisi IV. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.2013.

Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, dkk. 2014. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II edisi VI.
Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

H. Bambang Permono, Sutaryo, IDG. Ugrasena, Endang Windiastuti, Maria Abdulsalam. Buku Ajar
Hematologi Onkologi Anak Edisi Ketiga. Jakarta : Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2012.

Bakta, Made.hematologi klinik ringkas.Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC,2007; h.39.


Penatalaksanaan

Terapi terutama ditujukan pada penyakit dasarnya. Pada anemia yang mengancam nyawa, dapat diberikan
transfusi darah merah (packed red cell) seperlunya. Pengobatan dengan suplementasi besi, tidak diindikasikan,
kecuali untuk mengatasi anemia pada artritis reumatoid. Pemberian kobalt dan eritropoeitin dikatakan dapat
memperbaiki anemia pada penyakit kronik. Tidak ada terapi spesifik yang dapat kita berikan untuk anemia
penyakit kronik, kecuali pemberian terapi untuk penyakit yang mendasarinya. Biasanya apabila penyakit yang
mendasarinya telah diberikan pengobatan dengan baik, maka anemianya juga akan membaik. Pemberian obat
obat hematinik seperti besi, asam folat, atau vitamin B12 pada pasien anemia penyakit kronik, tidak ada
manfaatnya.

Belakangan ini telah dicoba untuk memberikan beberapa pengobatan yang mungkin dapat membantu pasien
anemia penyakit kronik, antara lain:

Rekombinan eritropoetin (Epo), dapat diberikan pada pasienpasien anemia penyakit kronik yang penyakit
dasarnya artritis reumatoid, Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS), dan inflamatory bowel disease.
Dosisnya dapat dimulai dari 50100 Unit/Kg, 3x seminggu, pemberiannya secara intra venous (IV) atau
subcutan (SC). Bila dalam 23 minggu konsentrasi hemoglobin meningkat dan/atau feritin serum menurun,
maka kita boleh menduga bahwa eritroit respons. Bila dengan dosis rendah responsnya belum adekuat, maka
dosisnya dapat ditingkatkan sampai 150 Unit/Kg, 3x seminggu. Bila juga tidak ada respons, maka pemberian
eritropoetin dihentikan dan dicari kemungkinan penyebab yang lain, seperti anemia defisiensi besi. Namun ada
pula yang menganjurkan dosis eritropoetin dapat diberikan hingga 10.00020.000 Unit, 3x seminggu.3,2

Transfusi darah berupa packed red cell (PRC) dapat diberikan, bila anemianya telah memberikan keluhan atau
gejala. Tetapi ini jarang diberikan oleh karena anemianya jarang sampai berat.

Prednisolon dosis rendah yang diberikan dalam jangka panjang. Diberikan pada pasien anemia penyakit
kronik dengan penyakit dasarnya artritis temporal, reumatik dan polimialgia. Hemoglobin akan segera kembali
normal demikian juga dengan gejalagejala polimialgia akan segera hilang dengan cepat. Tetapi bila dalam
beberapa hari tidak ada perbaikan, maka pemberian kortikosteroid tersebut segera dihentikan.

Kobalt klorida, juga bermanfaat untuk memperbaiki anemia pada penyakit kronik dengan cara kerjanya yaitu
menstimulasi pelepasan eritropoetin, tetapi oleh karena efek toksiknya obat ini tidak dianjurkan untuk diberikan.

Daftar Pustaka

Alsaggaf Hood, dkk. 2004. Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru. Bagian Ilmu Penyakit Paru FK Unair. Surabaya.

Aditama Tjandra Yoga. 2005. Patofisiologi Batuk. Bagian Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Unit Paru RS Persahabatan. Jakarta.

Sat Sharma. 2006. Obstructive Lung Disease. Division of Pulmonary Medicine, Department of Internal
Medicine, University of Manitoba. www.emedicine.com

Garisson Susan J. 2001. Dasar-Dasar Terapi dan Rehabilitasi Fisik. Departement of Physical Medicine and
Rehabilitation. Texas