Anda di halaman 1dari 185

Konsep Kewirausahaan Sosial

DAFTAR ISI

BAB I Konsep Kewirausahaan Sosial.................................................... 1

Pengertian Wirausahaan .............................................................. 2


Pengusaha, Wirausaha, Dan Penemu ......................................... 3
Wirausaha Dan Manajer ............................................................... 3
Sejarah Kewirausahaan Sosial..................................................... 7
Pengertian Kewirausahaan Sosial............................................... 8
Karakteristik Social Entrepreneur menurut Tokoh-Tokoh
Modern.......................................................................................... 13
Komunitas Social Entrepreneurship.................................... 15
BAB II Merancang Dan Merintis Usaha Kewirausahaan Sosial. . . 20
Merancang Usaha Sosial....................................................... 20
Pengantar Audit Sosial.......................................................... 23
Contoh Usaha Dibidang Sosial............................................. 25
Merintis Usaha........................................................................ 29
Langkah langkah Merintis Usaha...................................... 30
BAB III Skema Program Kewirausahaan Sosial............................. 40
Tahap tahap Pelaksanaan program.................................... 41
Tata Cara Pengajuan Sosial Bussines Plans...................... 44
Tata Cara Pelaporan Hasil Pelaksanaan ............................. 47
BAB IV Prinsip Prinsip Kewiraushaan......................................... 56
Hakikat Wirausaha................................................................. 56
Sikap Dan Prilaku Wirausaha Dan Pelatihan....................... 59
Pola Pikir W irausahawan...................................................... 62
Etika Wirausaha...................................................................... 64
BAB V Kepemimpinan dalam Pengelola Usaha............................. 70
Konsep Kepemimpinan......................................................... 70
Implementasi Prinsip prinsip Kepemimpinan dalam
Pengelolaan........................................................................... 71
BAB VI Kreativitas dan Inovasi........................................................ 78
Kreativitas dan Inovasi.......................................................... 78
Inovasi Produk........................................................................ 89
BAB VII Usaha Kecil dan Menengah............................................... 96
Usaha Kecil dan Menengah................................................... 96
Berbagai Perubahan dalam Dunia Usaha............................ 107
BAB VIII Menerapkan Strategi Programme Life Cycle (PLC)....... 115
Peluang Pasar ........................................................................ 115
Teknik Analisa Peluang Pasar............................................... 118

1
Konsep Kewirausahaan Sosial

enganalisis Lingkungan Pemasaran.................................... 122


BAB IX Kualitas, Diversifikasi Dan Ekspansi Layanan................. 125
Hakekat Mutu Layanan dan Kepuasan Pelanggan............. 125
Diversifikasi Dan Ekspansi Layanan ................................... 133
BAB X Pecitraan Merek ( Brand Image )......................................... 141
Hakekat Brand Image............................................................. 141
Langkah-Langkah Meraih Dan Mempertahankan
Brand Image............................................................................ 142
Hubungan brand image dengan Market Share
( Daya Jual )........................................................................... 143
BAB XI Pemasaran Dan Pengembangan Daya Saing Produk...... 148
Pengertian Pemasaran.......................................................... 148
Pengembangan Daya Saing Produk.................................... 155
BAB XII Membangun Jejaring Kerja ( Kemitraan ) ....................... 163
Hakikat Jejaring kerja ( Kemitraan ).................................... 163
Pentingnya Membangun Jejaring Kerja ( Kemitraan )....... 166
Pola Kemitraan ...................................................................... 176
Daftar Pustaka................................................................................... 184

BAB I
KONSEP KEWIRAUSAHAAN SOSIAL

2
Konsep Kewirausahaan Sosial

Di dalam kehidupan masyarakat Indonesia terdapat nilai-nilai sosial yang


membentuk kearifan local (local wisdom) dan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-
hari. Misalnya, gotong royong, kekeluargaan, musyawarah untuk mufakat, dan tepa selira
(toleransi). Hadirnya kearifan lokal ini tak bisa dilepaskan dari nilai-nilai religi yang dianut
masyarakat Indonesia sehingga nilai-nilai kearifan local ini makin melekat pada diri mereka.
Tak mengherankan, nilai-nilai kearifan lokal ini dijalankan tak semata-mata untuk menjaga
keharmonisan hubungan antarmanusia, tetapi juga menjadi bentuk pengabdian manusia
kepada Sang Pencipta. Kearifan lokal inilah yang mendorong manusia berkelompok dan
membentuk entitas. Bagi Francis Fukuyama, penulis buku Trust the Social Virtues and the
Creation of Prosperity, kearifan lokal merupakan modal sosial yang dipandang sebagai
bumbu vital bagi perkembangan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Fukuyama
menunjukkan hasil studi di berbagai negara bahwa modal sosial yang kuat akan
merangsang pertumbuhan berbagai sektor ekonomi karena adanya tingkat rasa percaya
yang tinggi, dan kerekatan hubungan dalam jaringan yang lebih luas tumbuh di antara
sesama pelaku ekonomi. Dengan bahasa lain, modal sosial ini mampu ditingkatkan menjadi
kewirausahaan sosial. Termotivasi oleh permasalahan yang dihadapi masyarakat (social
problem), muncullah inisiatif untuk menciptakan manfaat sosial (social benefit) yang
kemudian turut menumbuhkan manfaat ekonomi (economic benefit) sehingga berdirilah
Social Enterprise atau lembaga kewirausahaan sosial. Dalam bangunan perekonomian
Indonesia saat ini, tingkat pengangguran pemuda masih cukup tinggi, sehingga akan
mengakibatkan masalah sosial yang cukup tinggi pula apabila tidak memperoleh perhatian
yang serius. Beberapa masalah sosial yang dipengaruhi oleh tingginya pengangguran
diantaranya kemiskinan, penyalahgunaan narkoba, kriminalitas, pergaulan bebas,
premanisme, jual-beli manusia (human trafficking), dan lain sebagainya. Kondisi tersebut
akan mengganggu pembangunan di segala bidang dan stabilitas nasional. Oleh karena itu,
yang dibutuhkan saat ini adalah suatu solusi nyata yang dapat membantu mengatasi
permasalahan di atas. Salah satu solusi tersebut adalah dengan meningkatkan semangat
kewirausahaan pada setiap individu yang ada di masyarakat, terutama kaum muda sebagai
tulang punggung bangsa, diantaranya adalah melalui pengembangan kewirausahaan sosial
berbasis sekolah.

A. Pengertian Wirausahaan

3
Konsep Kewirausahaan Sosial

Kata entrepreneurship yang dahulunya sering diterjemahkan dengan kata


kewiraswastaan akhir-akhir ini diterjemahkan dengan kata kewirausahaan. Entrepreneur
berasal dari bahasa Perancis yaitu entreprendre yang artinya memulai atau melaksanakan.
Wiraswasta/wirausaha berasal dari kata: Wira: utama, gagah berani, luhur; swa: sendiri;
sta: berdiri; usaha: kegiatan produktif. Dari asal kata tersebut, wiraswasta pada mulanya
ditujukan pada orang-orang yang dapat berdiri sendiri.
Di Indonesia kata wiraswasta sering diartikan sebagai orang-orang yang tidak
bekerja pada sektor pemerintah yaitu; para
pedagang, pengusaha, dan orang-orang yang
bekerja di perusahaan swasta, sedangkan
wirausahawan adalah orang-orang yang mempunyai
usaha sendiri. Wirausahawan adalah orang yang
berani membuka kegiatan produktif yang mandiri.
Hisrich, Peters, dan Sheperd (2008:h 10)
mendifinisikan: Kewirausahaan adalah proses
penciptaan sesuatu yang baru pada nilai menggunakan waktu dan upaya yang diperlukan,
menanggung risiko keuangan, fisik, serta risiko sosial yang mengiringi, menerima imbalan
moneter yang dihasilkan, sertra kepuasan dan kebebasan pribadi. Kewirausahaan dapat
didefinisikan sebagai berikut: Wirausaha usaha merupakan pengambilan risiko untuk
menjalankan usaha sendiri dengan memanfaatkan peluang-peluang untuk menciptakan
usaha baru atau dengan pendekatan yang inovatif sehingga usaha yang dikelola
berkembang menjadi besar dan mandiri dalam menghadapi tantangantantangan
persaingan (Nasrullah Yusuf, 2006).
Kata kunci dari kewirausahaan adalah;
1. Pengambilan resiko
2. Menjalankan usaha sendiri
3. Memanfaatkan peluang-peluang
4. Menciptakan usaha baru
5. Pendekatan yang inovatif
6. Mandiri (misal; tidak bergatung pada bantuan pemerintah)

B. Pengusaha, wirausaha, dan penemu

4
Konsep Kewirausahaan Sosial

Tidak semua pengusaha adalah wirausahawan. Sebagai contoh seorang pengusaha


yang karena ia memiliki saham disuatu perusahaan dan memiliki koneksi tertentu dengan
pejabat pemerintah sehingga ia memperoleh fasilitas-fasilitas istimewa baik dalam
memenangkan tender maupun kemudahan dalam perizinan bukanlah seorang
wirausahawan. Orang tersebut tidak lebih hanyalah seorang pengusaha/pedagang. Kita
dapat mengambil contoh pengusaha air minum dalam kemasan dengan merk Aqua, Bapak
Tirto Utomo. Dia dapat dikatakan seorang wirausahawan karena ia melakukan terobosan
dalam usaha baru air minum dalam kemasan yang pada saat itu dikuasai oleh minuman
bersoda dan beralkohol.
Pada awal berdirinya perusahaan Aqua banyak orang mempertanyakan mengapa air
tawar diperjual belikan yang biasanya di Indonesia dapat diminta dengan gratis, tetapi usaha
tersebut ternyata berhasil bahkan kini banyak perusahaan lain yang mengikutinya.
Wirausaha berbeda dengan penemu (inventor)
yaitu orang yangmenemukan sesuatu yang
berguna bagi kehidupan manusia, misalnya
Thomas Alpha Edison menemukan listrik.
Einstein menemukan atom, dan lainnya.
Mereka tidak dapat disebut
wirausahawan jika penemuannya tersebut
tidak ditransformasikan oleh mereka sendiri ke
dalam dunia usaha. Wirausahawan adalah
orang yang yang memanfaatkan penemuan tersebut ke dalam dunia usaha.

C. Wirausahawan dan Manajer

Wirausahawan berbeda dengan manajer. Meskipun demikian tugas dan perannya


dapat saling melengkapi. Seorang wirausahawan yang membuka suatu perusahaan harus
menggunakan keahlian manajerial (manajerial skills) untuk mengimplementasikan visinya.
Dilain pihak seorang manajer harus menggunakan keahlian dari wirausahawan
(entrepreneurial skill) untuk mengelola perubahan dan inovasi.
Menurut Kao (1989), secara umum posisi wirausahawan adalah menempatkan
dirinya terhadap risiko atas guncangan-guncangan dari perusahaan yang dibangunnya
(venture). Wirausahawan memiliki risiko atas finansialnya sendiri atau finansial orang lain
yang dipercayakan kepadanya dalam memulai suatu. Ia juga berisiko atas keteledoran dan
kegagalan usahanya. Sebaliknya manajer lebih termotivasi oleh tujuan yang dibebankan
dan kompensasi (gaji dan benefit lainnya) yang akan diterimanya. Seorang manajer tidak

5
Konsep Kewirausahaan Sosial

toleran terhadap sesuatu yang tidak pasti dan membingungkan dan kurang berorientasi
terhadap resiko dibandingkan dengan wirausahawan. Manajer lebih memilih gaji dan posisi
yang relatif aman dalam bekerja. Seperti contoh pada gambar tersebut yang menunjukan
bahwa Wirausahawan lebih memiliki keahlian intuisi dalam mempertimbangkan suatu
kemungkinan atau kelayakan dan perasaan dalam mengajukan sesuatu kepada orang lain.
Dilain pihak, manajer memiliki keahlian yang rational dan orientasi yag terperinci (rational
and detailed-oriented skills).

Wirausahawan dilahirkan, dicetak, atau Lingkungan

Perdebatan yang sangat klasik adalah perdebatan mengenai apakah wirausahawan


itu dilahirkan (is borned) yang menyebabkan seseorang mempunyai bakat lahiriah untuk
menjadi wirausahawan atau sebaliknya wirausahawan itu dibentuk atau dicetak (is made).
Sebagian pakar berpendapat bahwa wirausahawan itu dilahirkan sebagian pendapat
mengatakan bahwa wirausahawan itu dapat dibentuk dengan berbagai contoh dan
argumentasinya. Misalnya Mr.X tidak mengenyam pendidikan tinggi tetapi kini dia menjadi
pengusa besar nasional. Dilain pihak kini banyak pemimpin/pemilik perusahaan yang
berpendidikan tinggi tetapi reputasinya belum melebihi Mr. X tersebut.
Pendapat lain adalah wirausahawan itu dapat dibentuk melalui suatu pendidikan atau
pelatihan kewirausahaan. Contohnya, setelah Perang Dunia ke-2 beberapa veteran perang
di Amerika belajar berwirausaha. Mereka belajar berwirausaha melalui suatu pendidikan
atau pelatihan baik pendidikan/pelatihan singkat maupun pendidikan/pelatihan yang
berjenjang. Dengan modal pengetahuan dan fasilitas lainnya mereka berwirausaha. Samuel
Whalton pendiri Walmart yang kini menjadi retailer terbesar dunia adalah veteran yang
memulai usahanya pada usia 47 tahun. Ross Perot pendiri Texas Instrument yang pernah
mencalonkan diri sebagai presiden Amerika dari partai independen juga seorang veteran
yang berhasil dibentuk menjadi wirausahawan. Ada yang mengatakan bahwa seseorang
menjadi wirausahawan itu karena lingkungan. Misalnya, banyak orang WNI keturunan
menjadi wirausahawan yang sukses karena mereka hidup di lingkungan para wirausahawan
atau pelaku usaha. Pendapat yang sangat moderat adalah tidak mempertentangkan antara
apakah wirausahawan itu dilahirkan, dibentuk atau karena lingkungan. Pendapat tersebut
menyatakan bahwa untuk menjadi wirausahawan tidak cukup hanya karena bakat
(dilahirkan) atau hanya karena dibentuk. Wirausahawan yang akan berhasil adalah
wirausahawan yang memiliki bakat yang selanjutnya dibentuk melalui suatu pendidikan atau
pelatihan, dan hidup di lingkungan yang berhubungan dengan dunia usaha.
Seseorang yang meskipun berbakat tetapi tidak dibentuk dalam suatu pendidikan
/pelatihan tidaklah akan mudah untuk berwirausaha pada masa kini. Hal ini disebabkan

6
Konsep Kewirausahaan Sosial

dunia usaha pada era ini menghadapi permasalahan-permasalahan yang lebih kompleks
dibandingkan dengan era sebelumnya. Sebaliknya orang yang bakatnya belum terlihat atau
mungkin masih terpendam jika ia memiliki minat dengan motivasi yang kuat akan lebih
mudah untuk dibentuk menjadi wirausahawan. Bagi yang ingin mempelajari kewirausahan
janganlah berpedoman pada berbakat atau tidak. Yang penting memiliki minat dan motivasi
yang kuat untuk belajar berwirausaha.

Manfaat mempelajari Kewirausahaan

Mempelajari pengetahuan dan praktek kewirausahaan mempunyai beberapa


manfaat. Manfaat tersebut akan memberikan kita pilihan karir untuk berperan menjadi:
1. Wirausahawan (entrepreneurs)
2. Wiramanajer (intrapreneurs)
3. Wirakaryawan (innopreneurs)
4. Ultramanajer (ultrapreneur)
5. Pendidik/ Pemikir
Jika wirausahawan adalah orang yang menjalankan usahanya sendiri, wiramanajer
adalah orang yang memiliki kemampuan sebagai wirausahawan tetapi tidak menjalankan
usaha sendiri melainkan menjalankan usaha atau memimpin usaha orang lain.
Wiramanajer adalah manajer yang meng-implementasikan ide-ide wirausahawan
menjadi sesuatu yang menguntungkan bagi organisasi/perusahaan (pinchott III, 1985). Tanri
Abeng yang pernah menjadi manajer Bakri Group dan PT Multi Bintang adalah contoh
seorang wiramanajer yang berhasil.
Wirakaryawan adalah para karyawan yang memiliki kemampuan sebagai
wirausahawan tetapi karena sebab-sebab tertentu mereka memilih untuk bekerja di suatu
perusahaan/organisasi. Mereka adalah karyawan dari segala lapisan manajemen yang
dapat meng-implementasikan ide-ide yang inovatif di dalam struktur perusahaan yang ada
(Lynn dan Lynn, 1992).
Ultramanajer Adalah orang-orang yang memiliki kemampuan untuk membuka
bidang usaha baru di berbagai tempat dengan pendekatan yang inovatip. Pendidik/pemikir.
Belajar kewirausahaa dapat pula dimanfaatkan untuk menjadi pendidik atau pemikir dalam
kewirausahaan. Mereka adalah orang-orang yang mempelajari kewirausahaan tetapi bukan
bermaksud untuk menjadi pelaku yang berhubungam dengan kewirausahaan, melainkan

7
Konsep Kewirausahaan Sosial

untuk kepentingan pendidikan atau menganalisis sesuatu yang membutuhkan pengetahuian


tentang kewirausahaan.

D. Sejarah Kewirausahaan Sosial

Istilah social entrepreneurship digunakan pertama dalam literatur mengenai


perubahan sosial di tahun 1960-an dan 1970-an. Istilah ini mulai digunakan secara luas
pada 1980-an dan 1990-an, dipromosikan oleh Bill Drayton pendiri Ashoka: Inovator untuk
Publik, dan lain-lain. Dari tahun 1950 hingga 1990-an Michael Young, promotor terkemuka
perusahaan sosial dan pada tahun 1980 digambarkan oleh Profesor Daniel Bell di Harvard
sebagai 'pengusaha paling sukses di dunia kewirausahaan sosial 'karena perannya dalam
menciptakan lebih dari enam puluh organisasi baru di seluruh dunia, termasuk Sekolah
Pengusaha Sosial (SSE) yang ada di Inggris, Australia dan Kanada dan dia juga mendukung
individu untuk mewujudkan potensi mereka dan sekaligus untuk mendirikan, menimbang
dan mempertahankan, perusahaan dan bisnis sosial. Dan masih ada wirausahawan sosial
lainnya. Walaupun Istilah Social Entrepreneurship ini relatif baru dikenal, namun sebenarnya
ide yang terkandung dalam istilah tersebut merupakan sebuah konsep lama, bisa jadi sejak
munculnya peradaban manusia yang bersosial terhadap lingkungannya, untuk berbagi dan
memakmurkan lingkungan sekitarnya. Intinya adalah untuk berbagi manfaat. Hal ini bisa
juga kita lihat dalam literatur agama samawi seperti dalam Islam.
Dalam literatur Islam, nabi Muhammad S.A.W. sendiri diutus ke dunia untuk menjadi
rahmat bagi semesta alam (Q.S. Al-Anbiyaa:107). Pengertian tersebut bisa diterjemahkan
bahwa misi beliau bukan hanya semata-mata membawa agama yang berisi ritual
penyembahan terhadap Tuhan yang Esa, namun kebih daripada itu membawa sistem
kehidupan manusia (way of life) yang komprehensif. Hubungan interaksi antar manusia
termasuk didalamnya adab terhadap lingkungan alam sekitar juga diatur, yang disebut
dengan istilah "mu'amalah", yang berisi syari'at (aturan) hubungan sosial antar sesama
manusia, termasuk alam (seperti hewan dan tanaman). Dalam mu'amalah yang berkaitan
dengan mencari harta diatur cara dan etika bagaimana mencari harta yang halal dan
memakmurkan bumi (masyarakat dan lingkungan). Contoh dalam Islam menghalalkan jual-
beli (perdagangan), mewajibkan zakat, menganjurkan infaq, sedekah, hadiah, wakaf,
membantu orang yang berhutang, dan yang lainnya, dan juga melarang mengambil harta
secara bathil seperti mencuri, mengurangi timbangan (curang), riba, judi, gharar, dan
sejenisnya. Cukup banyak dalil-dalil dalam al-Qur'an dan hadits nabi yang membahas
tentang mu'malah ini. Berkenaan dengan tema social enterpreneurship, ada sebuah hadits

8
Konsep Kewirausahaan Sosial

dalam literatur Islam yang bisa kita petik pelajaran kebijaksanaan dalam mengelola usaha
dan bermanfaat bagi lingkungan sosialnya.
Al-Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah S.A.W.
bersabda: Ketika seorang laki-laki berada di sebuah tanah lapang yang sunyi, dia
mendengar sebuah suara di angkasa, Berilah air
pada kebun si Fulan! Awan itu pun bergerak lalu
mencurahkan airnya di satu bidang tanah yang
berbatu hitam. Ternyata saluran air dari beberapa
buah jalan air yang ada telah menampung air
tersebut seluruhnya. Dia pun mengikuti air itu.
Ternyata dia sampai kepada seorang pria yang
berdiri di kebunnya sedang mengubah aliran air
dengan cangkulnya. Laki-laki tadi berkata kepadanya, Wahai hamba Allah, siapa
namamu? Petani itu menjawab, Nama saya Fulan. Dia menyebutkan nama yang tadi
didengar oleh lelaki pertama dari angkasa. Si petani bertanya kepadanya, Wahai hamba
Allah, mengapa Anda menanyakan nama saya? Kata lelaki itu, Sebetulnya, saya tadi
mendengar sebuah suara di awan yang airnya baru saja turun dan mengatakan, Berilah air
pada kebun si Fulan! menyebut nama Anda. Apakah yang Anda perbuat dengan kebun ini?
Petani itu berkata, Baiklah, kalau Anda mengatakan demikian. Sebetulnya, saya selalu
memerhatikan apa yang keluar dari kebun ini, lalu saya menyedekahkan sepertiganya,
sepertiga berikutnya saya makan bersama keluarga saya, dan sepertiga lagi saya
kembalikan (untuk modal cocok tanam). Dengan sanad hadits ini juga, dari Wahb bin
Kaisan sampai kepada Abu Hurairah ra, tetapi (dalam riwayat ini) petani itu berkata, Saya
mengalokasikan sepertiganya untuk orang miskin, peminta-minta, dan para perantau (ibnu
sabil).

E. Pengertian kewirausahaan sosial

Entrepreneurship atau kewirausahaan memiliki pengertian yang luas, kewirausahaan


dipandang sebagai fungsi yang mencakup eksploitasi peluang-peluang yang muncul di
pasar. Eksploitasi tersebut sebagian besar berhubungan dengan pengarahan dan/atau
kombinasi input yang produktif. Seorang wirausahawan selalu diharuskan menghadapi
resiko atau peluang yang muncul, serta sering dikaitkan dengan tindakan yang inovatif.
Social Entrepreunership atau bisa kita terjemahkan Kewirausahaan sosial
menurut pengertiaannya adalah melihat atau mengidentifikasi masalah sebagai
peluang untuk membentuk sebuah model bisnis baru yang bermanfaat bagi
pemberdayaan masyarakat sekitar. Hasil yang ingin dicapai bukan keuntungan materi
atau kepuasan pelanggan, melainkan bagaimana gagasan yang diajukan dapat memberikan

9
Konsep Kewirausahaan Sosial

dampak baik bagi masyarakat. Mereka seperti seseorang yang sedang menabung dalam
jangka panjang karena usaha mereka memerlukan waktu dan proses yang lama untuk dapat
terlihat hasilnya. Menurut kelompok peneliti EMES (Spear & Binet 2003 dalam Alex Nicholls.
2008: 15) definisi/makna dari elemen sosial pada kewirausahaan sosial adalah:
(a) An activity launched by a group of citizen
(b) Decision making power not based on capital ownership
(c) A participatory nature involving those affected by nature
(d) Limited profit distribution
(e) An explicit aim to benefit the community

Berdasarkan paparan dimuka maka dapat dikatakan bahwa elemen sosial dalam kata
kewirausahaan sosial mengacu pada sebuah aktivitas yang diinisiasi dan dilakukan oleh
warga, tingkat pengambilan keputusan yang tidak didasarkan pada kepemilikan modal, serta
tujuan dan target yang jelas untuk menjadi bermanfaat bagi masyarakat.

Wirausaha sosial menjadi fenomena sangat menarik saat ini karena perbedaan-
perbedaannya dengan wirausaha tradisional yang hanya fokus terhadap keuntungan materi
dan kepuasan pelanggan serta signifikansinya terhadap kehidupan masyarakat. Kajian
mengenai kewirausahaan sosial melibatkan berbagai ilmu pengetahuan dalam
pengembangan serta praktiknya di lapangan. Lintas ilmu pengetahuan yang diadopsi kajian
kewirausahaan sosial merupakan hal penting untuk menjelaskan serta membuat pemikiran-
pemikiran baru.

Menurut Dees (2002: xxxi) cara terbaik mengukur kesuksesan kewirausahaan sosial
adalah bukan dengan menghitung jumlah profit yang dihasilkan, melainkan pada tingkat
dimana mereka telah menghasilkan nilai-nilai sosial (social value). Para wirausaha sosial
bertindak sebagai agen perubahan dalam sektor sosial dengan:

1. Mengadopsi sebuah misi untuk menciptakan dan mempertahankan nilai-nilai sosial.


2. Mengenali dan mengusahaka peluang-peluang baru untuk menjamin
keberlangsungan misi tersebut.

3. Melibatkan diri dalam sebuah proses inovasi, adaptasi dan belajar yang
berkelanjutan.

4. Bertindak penuh semangat walaupun dengan keterbatasan sumber.

5. Penuh intensitas dalam semangat akuntabilitas kepada konstituen dan pada usaha-
usaha untuk menghasilkan target yang telah ditetapkan. (Dees dkk, 2002:xxxi)

10
Konsep Kewirausahaan Sosial

Jelas sekali tergambar dalam definisi tersebut bahwa kewirausahaan sosial merupakan
sebuah gerakan dengan misi sosial, yang diusahakan dengan upaya-upaya menemukan
peluang dan mengolahnya dengan inovasi dan proses belajar yang tiada henti serta
kesiapan untuk bertindak tanpa dukungan sumber daya yang memadai.

Satu hal, semangat yang muncul ketika sedang membahas kewirausahaan sosial
adalah semangat pemberian manfaat yang sebesar-besarnya untuk masyarakat, dengan
cara yang inovatif dan pendekatan yang sistemik (bukan dengan jalan yang tanpa
perencanaan dan pemikiran matang sebelumnya). Dibalik itu semua, sebenarnya hal ini
menunjukkan usaha-usaha untuk memberikan penghargaan kepada mereka yang memang
telah melakukan hal-hal yang luar biasa tersebut. sekali lagi, usaha untuk mensosialisasikan
istilah kewirausahaan sosial adalah usaha untuk memberikan penghormatan terhadap
pihak-pihak yang memang layak menyandang gelar tersebut. Yaitu mereka yang telah
memberikan waktunya, pemikirannya, tenaganya, modalnya untuk sebesar-besarnya
manfaat bagi masyarakat.

Definisi yang lebih kompleks mengenai kewirausahaan sosial diungkapkan oleh Martin &
Osberg (2007: 35)

.social entrepreneurship as having the following three components: (1) identifying a stable
but inherently unjust equilibrium that causes the exclusion, marginalization, or suffering of a
segment of humanity that lacks the financial means or political clout to achieve any
transformative benefit on its own; (2) identifying an opportunity in this unjust equilibrium,
developing a social value proposition, and bringing to bear inspiration, creativity, direct
action, courage, and fortitude, thereby challenging the stable states hegemony (3) forging a
new, stable equilibrium that release trapped potential or alleviates the suffering of the
targeted group, and through imitation and the creation of a stable ecosystem around the
new equilibrium ensuring a better future for the targeted group and even society at large.

Satu hal yang dapat diungkapkan adalah bahwa kewirausahaan sosial identik
dengan usaha-usaha peningkatan nilai kemanusiaan manusia, yang biasanya dimulai
dengan identifikasi peluang-peluang yang dapat dikerjakan. Tentu saja, untuk dapat
memulainya diperlukan sebuah inspirasi yang besar dan kuat, serta didukung oleh
kreativitas dan keberanian untuk bertindak. Sehingga pada akhirnya kegiatan ini dapat
benar-benar bermanfaat sosial.

Seorang entrepreneur atau wirausaha adalah seorang yang berusaha dengan


kegigihan dan keberaniannya sehingga usahanya mengalami pertumbuhan. Seorang

11
Konsep Kewirausahaan Sosial

entrepreneur adalah seorang yang moving forward, maju terus ke depan sehingga
usahanya tumbuh dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, konsep entrepreneurship dikenal
luas mulai business entrepreneur, creative entrepreneur, technopreneur sampai social
entrepreneur. Wirausaha sosial atau social entrepreneur adalah seorang yang berusaha
dalam aktivitas kewirausahaan dengan memiliki tujuan utama untuk menyelesaikan
permasalahan sosial dan lingkungan hidup dengan memberdayakan komunitas melalui
kegiatan yang bernilai ekonomi. Kewirausahaan sosial diawali dengan keprihatinan terhadap
keadaan sosial yang berujung menjadi sebuah model bisnis baru. Kewirausahaan sosial
merupakan kombinasi dari semangat besar dalam misi sosial dengan disiplin, inovasi dan
keteguhan seperti yang lazim ditemukan di dunia bisnis. Dapat dikatakan kewirausahaan
sosial menggunakan sikap mental wirausaha demi tujuan-tujuan sosial.

Skema kewirausahaan social

Sektor ketiga yang mengatur soal Kewirausahaan Sosial di Inggris mendefenisikan


Kewirausahaan Sosial sebagai bisnis/usaha yang tujuan utamanya adalah untuk
tujuan sosial. Pada prinsipnya, mereka menginvestasikan kembali pendapatan mereka
kepada usahanya atau komunitasnya untuk mencapai tujuan sosial tersebut. Tidak seperti
usaha komersil, mereka tidak didorong untuk menghasilkan laba untuk pemegang saham
ataupun pemiliknya. Pada tabel di bawah tergambarkan beberapa karakteristik yang dimiliki
oleh organisasi nirlaba, kewirausahaan sosial, perusahaan yang bertanggung jawab secara
sosial/lingkungan dan perusahaan konvensional.

12
Konsep Kewirausahaan Sosial

F. Karakteristik Social Entrepreneur Menurut Tokoh-Tokoh Modern

Terdapat beberapa pembelajaran tentang kewirausahawan sosial beserta beberapa


karakteristik yang dimiliki oleh para usahawan (pengusaha) sosial itu sendiri. Hal tersebut
dapat terlihat dari penelitian mengenai kewirausahaan sosial terbagi menjadi beberapa grup
sosial sesuai dengan karakteristiknya masing-masing. Hal ini pada dasarnya terdiri dari hal-
hal yang tidak umum untuk dilakukan dalam kegiatan usaha yang biasanya berjalan secara
rutin. Austin Stevenson dan Wei-Skillern berpendapat bahwa usahawan sosial dan
tradisional berbeda dengan pengusahanya sendiri, metode, situasi, dan peluang. Tujuan
utama dari usahawan sosial adalah melayani kebutuhan dasar masyarakat,
sementara usahawan tradisional adalah untuk meraih pasar yang besar kesenjangan dan
memperoleh keuntungan, dalam proses bertaraf minimum untuk kepentingan
masyarakatnya.
Paul C Light mengamati berbagai definisi yang ada usahawan sosial dan
memberikan definisi yang luas yang menganggap bahwa usahawan sosial adalah individu,
kelompok, jaringan, organisasi atau aliansi. Tapi berupaya secara berkelanjutan melalui ide-
ide yang berbeda untuk mengatasi masalah-masalah sosial yang signifikan. Lynn
Barendsen dan Howard Gardeber menjelaskan bahwa Pemimpin yang baru sebagai
pemimpin yang sadar akan kewajiban mereka. Mereka memiliki kemampuan untuk melihat
hal-hal yang sifatnya positif. Gillian et al. berpendapat bahwa hanya keterampilan saja tidak
membuat kewirausahaan dapat dikatakan sebagai seorang pengusaha sosial. Sebaliknya
seorang pengusaha sosial juga memerlukan persimpangan virtuousness, kesempatan
sosial, pengakuan, dapat menghakimi, bersifat toleransi, dan inovasi.
Sarah H Alvord membuat analisis komparatif dari tujuh kasus kewirausahaan sosial
yang secara luas telah diakui sebagai sesuatu yang dianggap sukses. Mereka mengenali
perbedaan-perbedaan dalam bentuk tujuh organisasi yang memperkenalkan inovasi.
Thomson mendefinisikan pengusaha sosial sebagai orang-orang dengan sikap pengusaha
bisnis, tetapi beroperasi di masyarakat. Mereka bertindak lebih sebagai pengasuh dari
masyarakat dan bukan sebagai pengusaha yang dengan mudah menghasilkan uang.
Gregory Dees mengidentifikasikan pengusaha sosial sebagai pengusaha yang langka. Dia

13
Konsep Kewirausahaan Sosial

menggambarkan satu set ciri-ciri luar biasa pengusaha sosial dengan menekankan bahwa
masyarakat harus mendorong dan memberi balasan kepada orang dengan kemampuan
yang sifatnya unik.
Hal ini tentunya sangat bergantung kepada bagaimana isi dari gagasan yang kita
tawarkan, pada dasarnya agar gagasan serta ide yang kita tawarkan bisa diterima oleh
masyarakat kita harus memiliki misi sosial di dalamnya semata-mata hanya untuk membuat
masyrakat dapat terbebaskan dari permasalahan yang terjadi. Dalam pelaksanaan
pengimplementasian gagasan tersebut pastinya kita akan mendapatkan banyak sekali
permasalahan, seorang jiwa usahawan sosial (social entrepreneur) harus mempunyai
kemampuan pengelolaan risiko (risk management) agar dapat menuntaskan apa yang
menjadi idenya tersebut. Kemampuan mengelola risiko ini merupakan suatu hal yang
penting agar kita dapat memastikan bahwa program yang ditawarkan berjalan secara
berkelanjutan.

Beberapa Karakteristik Kewirausahaan Sosial yang dapat di lakukan

Kegiatan dirintis oleh sekelompok warga/komunitas


Pengambilan keputusan tidak didasari oleh kepemilikan modal
Sifatnya partisipatif, terutama melibatkan mereka yang dipengaruhi oleh kegiatan
dan dampak kewirausahaan sosial tersebut
Pembagian keuntungan yang terbatas
Tujuan sosial/manfaat komunitas dinyatakan secara eksplisit

Model-Model Kewirausahaan Sosial

Sutia Kim Alter dalam buku Social Entrepreneurship: New Models of Sustainable
Social Change menulis bahwa terdapat tiga model kewirausahaan sosial berdasarkan
metode operasionalnya, yakni:

Model 1: Program Sosial yang Terintegrasi dalam Kegiatan Usaha


Kewirausahaan Sosial Model 1 memiliki misi sosial yang secara langsung tercapai dengan
mengembangkan kegiatan usahanya. Oleh sebab itu, hubungan antara kegiatan
kewirausahaan dan program sosial saling terintegrasi dan tidak bisa dipisahkan.

Model 2: Program Sosial yang Bersinggungan dengan Kegiatan Usaha


Kewirausahaan Sosial Model 2 memiliki misi sosial yang bersinggungan dengan kegiatan
usahanya. Ini berarti sebagian dari kegiatan usahanya berjalan terpisah dari misi sosial yang

14
Konsep Kewirausahaan Sosial

ingin dicapai. Meskipun demikian, kegiatan usaha dari Kewirausahaan Sosial Model 2 tetap
berkaitan erat dengan program sosialnya.

Model 3: Program Sosial yang Terpisah dari Kegiatan Usaha


Kewirausahaan Sosial Model 3 memiliki unit usaha yang terpisah dari program sosial yang
menjadi tujuan utamanya. Pada model tersebut unit usaha dibentuk agar keuntungan dapat
diinvestasikan kembali ke program sosial guna menjaga keberlanjutannya

Dari uraian diatas dapat digambarkan model


Kewirausahaan Sosial, yang meliputi
masyarakat, peluang maupun sumber daya
yang tersedia. Keuntungan yang akan
diperoleh tidak hanya dari sisi materi tetapi
juga dari sisi social. Secara lebih lengkap
tergambar pada model dibawah ini.

G. Komunitas Social Entrepreneurship

1. Komunitas

Komunitas dapat didefenisikan sebagai kelompok sosial yang saling berinteraksi


dalam satu daerah/ wilayah tertentu, yang biasanya memiliki latar belakang budaya dan
sejarah yang sama. Dengan perkembangan media komunikasi seperti internet, komunitas
tidak lagi dibatasi oleh lokasi atau wilayah nyata yang sama tetapi biasanya disatukan oleh
kebutuhan, ketertarikan, kepercayaan, atau sejumlah kondisi lain yang serupa. Seberapa
besarkah suatu komunitas? Tidak ada batasan terhadap ukuran komunitas dan ini kembali
pada kebutuhan dari komunitas tersebut. Yang paling penting dari suatu komunitas adalah
identitas yang disepakati dan dimiliki bersama oleh semua anggota komunitas (collective
identity). Kewirausahaan sosial dibentuk dengan tujuan menyelesaikan permasalahan sosial
yang terdapat di suatu komunitas. Oleh sebab itu, penting untuk dapat mengenali langkah
pertama dalam merancang kewirausahaan sosial yaitu mengidentifikasi terlebih dahulu
permasalahan yang ingin diselesaikan serta mencari akar dari permasalahan sosial yang
dapat diidentifikasi. Dari sinilah visi dan misi suatu aktivitas kewirausahaan akan terfokus
untuk dapat bekontribusi dalam pemecahan masalah. Pengembangan suatu komunitas
akan dipengaruhi oleh kerjasama yang terbangun, wirausahawan sosial yang berhasil

15
Konsep Kewirausahaan Sosial

umumnya sangat ditunjang selain oleh performa personalnya


juga oleh kemampuan dalam bekerjasama. Bekerjasama
nampaknya harus menjadi kebutuhan utama dalam
kewirausahaan sosial, intinya adalah bagaimana kita dapat
menggalang kerjasama dalam konteks hubungan yang saling
menguntungkan dengan pihak lain (dependensi) maupun dalam konteks membangun
kemandirian (interdependensi) komunitas. Kerja sama yang dibangun tidak hanya antar
anggota kelompok namun juga dalam konteks yang lebih luas yaitu antara kelompok atau
komunitas dengan stakeholder atau para pemangku kepentingan yang relevan (masyarakat,
perusahaan, pemerintah, lembaga pendukung seperti NGO,lembaga pendidikan dan
sebagainya, serta lingkungan).

2. Potensi Komunitas

Potensi ekonomi komunitas adalah sumber daya yang dimiliki komunitas yang dapat
digunakan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi bersama. Kewirausahaan sosial
berbasis komunitas dapat memperoleh pembiayaan melalui berbagai metode. Berbagai
alternatif sumber pembiayaan untuk kewirausahaan sosial dapat dicontohkan sebagai
berikut :

Tabel 1.1 sumber pembiayaan sosial


Level Sumber yang umum
Strategis, Pendanaan untuk Pemerintah pusat Pemerintah daerah
keseluruhan hasil dari Dana-dana internasional (lembaga donor)
perusahaan biasanya dengan Organisasi Sosial atau Lembaga tingkat
jalan kemitraan dengan nasional yang memiliki kepedulian pada
organisasi lain tujuan sosial tertentu
Proyek Pendanaan untuk manfaat Dana pemerintah Yayasan dan dana
yang spesifik dan terukur, yang perwalian (trust) Sponsor pribadi
dilakukan oleh perusahaan
Pendapatan Dari hasil penjualan Penjualan Kontrak jasa / servis Sewa
barang dan jasa Pinjaman Investasi Penyertaan Modal
Komunitas Kontribusi dari Acara penggalangan dana lokal (crowd

16
Konsep Kewirausahaan Sosial

komunitas terhadap tujuan sourcing) Akad/Hibah Donasi Iuran


perusahaan keanggotaan sukarela
Amal Pendanaan untuk tujuan- Dana amal nasional
tujuan amal dari organisasi Dana Perwalian (trust) local
secara keseluruhan atau proyek-
proyek tertentu
Pribadi Investasi dari sector Sponsor Pemodalan Kemitraan
swasta, baik untuk tujuan Donasi dan hibah dari perusahaan lain
komersial ataupun tujuan etis. Investasi filantropis

LATIHAN

Andi Hermawan, Pemilik Raka Production

Awal mulanya Andi Hermawan adalah seorang pelukis jalanan.Tak puas dengan jalan
hidupnya, ia lalu mencoba mencari usaha lain yang memerlukan modal tidak terlalu besar.
Kebetulan di kecamatan Blimbing Malang yang menjadi tempat tinggalnya, ia melihat
banyak sekali tempurung kelapa yang dibuang percuma. Andi pun memutar otak. Tahun
2002, ia memulai menyulap tempurung tempurung kelapa itu menjadi berbagai bentuk
kerajinan. Andi lantas memanfaatkan keahliannya melukis untuk merancang berbagai
kerajinan yang unik. Keunggulan produk saya ini karena desiannya yang terbatas dan
berbeda ujar Andi. Seiring perjalanan waktu, usaha kerajinan Andi terus berkibar dikota

17
Konsep Kewirausahaan Sosial

Malang. Bahkan ia sering tidak mampu melayani pesanan yang datang padanya karena ia
hanya menjalani usahanya sendiri. Merasa sudah perlu melebarkan sayap, Andi
mengajukan kredit ke PT.SEMEN GRESIK, Tbk.
Kreditnya termasuk kelas mikro hanya Rp 4 juta. Toh, dengan pinjaman segiitu ia
sudah bisa merekrut 4 orang tenaga pembantu dan membuat toko kecil yang dinamai
RAKA PRODUCTION . Kredit dari BUMN menolong saya. Terlalu rumit untuk usaha kecil
jika masuk ke Perbankan, kita sulit dipercaya, ujar Andi mengungkapkan alasannya memilih
kredit dari Semen Gresik. Kini bisnis Andi sudah mulai pesat. Produk yang dihasilkannya
semakin beragam mulia dari asbak, tempat sabun, tempat lilin, hingga tempat lampu
hias.Harganya sangat bervariasi mulai Rp 5.000 Rp 500.000 per unit. Produk produknya
cukup laku. Dalam sebulan Andi bisa melego ribuan unit kerajinan dan pernik pernik
lainnya.Yang menarik, selain menjadi pemasok pasar dalam negeri, produk RAKA
PRODUCTION juga sudah melancong ke negeri Jiran Malaysia. Malah Andi mulai melirik
pasar Eropa. Selain kerajinan, ia juga berekspansi ke produksi mebel, meja, dan lemari dari
tempurung kelapa. Untuk mendukung rencana usahanya ia pun ingin mengajukan pinjaman
lagi ke Semen Gresik. Kali ini nilainya sekitar 60 juta rupiah.
Sumber : Kontan Edisi Khusus Mei 2006

Dari Kasus diatas,


a. jelaskan bagaimana karakteristik seseorang yang memiliki jiwa kewirausahaan?
b. Nilai-nilai apa saja yang terdapat dalam jiwa kewirausahaan bila dilihat dari sikap dan
kepribadiannya?
c. Motif apa saja yang mendorong seseorang tertarik dan memilih berwirausaha?

2. Coba Cari kasus success story, dan dari kasus tersebut:


a. jelaskan bagaimana karakteristik seseorang yang memiliki jiwa kewirausahaan?
b. Nilai-nilai apa saja yang terdapat dalam jiwa kewirausahaan bila dilihat dari sikap dan
kepribadiannya?
c. Motif apa saja yang mendorong seseorang tertarik dan memilih berwirausaha?

18
Konsep Kewirausahaan Sosial

19
Merancang Dan Merintis Usaha Kewirausahaan Sosial

BAB II
MERANCANG DAN MERINTIS USAHA
KEWIRAUSAHAAN SOSIAL

A. Merancang Usaha Sosial

1. Kanvas Model Bisnis Untuk Kewirausahaan Sosial

Sesi ini dapat dihantarkan dengan menggunakan presentasi Business


Model Canvas (selanjutnya BMC) yang sudah diadaptasi dari presentasi oleh
Alex Osterwalder PhD. Presentasi tersebut dapat diunduh bersama dengan
Modul Skills for Social Entrepreneurs. Untuk penjelasan presentasi, silakan
mengacu pada Lampiran 3.1. Menurut Alex Osterwalder PhD Sebuah model
bisnis adalah gambaran logis mengenai bagaimana sebuah organisasi
menciptakan, menghantarkan dan menangkap sebuah nilai. Berikut adalah
Business Model Canvas yang dirancang oleh Alex Osterwalder PhD .

Gambar 2.1 Komponen dasar Business Model Canvas

PNil: Penawaran Nilai. Hal (produk atau jasa) apa yang dapat suatu
organisasi/bisnis/usaha tawarkan? Contoh: produknya berupa
makanan/penganan bagi siswa, tapi nilai yang ditawarkan misalnya
makanan halal, sehat terjamin. Jasa yang ditawarkan berupa pencucian
pakaian siswa, tapi nilai yang ditawarkan adalah kebersihan, kepraktisan
dan kerapihan pakaian dengan harga yang terjangkau

20
Merancang Dan Merintis Usaha Kewirausahaan Sosial

SPas: Segmen Pasar. Orang/lembaga yang akan menikmati nilai yang


ditawarkan. Bisa saja ada 2 pasar yang akan menikmati nilai yang
ditawarkan, dan hanya salah satu yang dapat menawarkan balik nilai
ekonomi (sanggup membayar). Contoh: yang menikmati makanan halal
dan sehat adalah siswa, tapi yang membayar adalah orang tuanya atau
malah pihak lain.

JDis: Jalur Distribusi. Terkait dengan bagaimana upaya


organisasi/bisnis/usaha menghantarkan nilai yang ditawarkan, kepada
segmen pasar yang akan menikmati dan membayarnya. Contoh:
ditawarkan melalui kantin sekolah, melalui jasa antar jemput langsung ke
rumah siswa

BRel: Bina Relasi. Terkait dengan upaya menyampaikan informasi positif


dan mengelola mekanisme umpan balik dari penikmat nilai. Tujuannya
adalah untuk memelihara keinginan mereka untuk terus menikmati nilai
yang ditawarkan namun juga mengetahui secara terus menerus
bagaimana meningkatkan kualitas tawaran nilai sehingga penikmatnya
akan terus setia

SPeng: Sumber Penghasilan. Semua komponen di atas bagian SPeng


akan menentukan darimana organisasi/bisnis/usaha dapat meraih nilai
ekonomis yang akan membantu mereka untuk terus berusaha. Contoh:
Menawarkan nilai atas produk makanan sehat dan halal kepada orang tua
murid sehingga mereka bersedia membayar agar anak mereka tidak perlu
jajan pada saat sekolah dan meminimalisir peluang mereka sakit karena
jajanan kurang sehat, penghasilannya adalah dari pembayaran orang tua.
Yang menikmati langsung produk adalah siswa, yang menikmati nilai
yang ditawarkan adalah orang tua siswa, yang membayar adalah orang
tua siswa.

KProd: Kegiatan Produksi. Terkait dengan apa saja yang dilakukan


untuk menghasilkan nilai yang dapat ditawarkan. Contoh: Membeli bahan
makanan, mengolahnya menjadi makanan, mengemasnya dan
menjajakannya

21
Merancang Dan Merintis Usaha Kewirausahaan Sosial

MPro: Material Produksi. Hal-hal/barang-barang yang dibutuhkan untuk


menghasilkan nilai yang dapat ditawarkan. Contoh: x kg bahan makanan
per hari, x kotak kemasan makanan, kios, dsb

MUsa: Mitra Usaha. Pihak-pihak yang dapat/sudah terlibat untuk KProd


dan MProd. Misalnya: sesame staf pengajar/staf administratif/orang tua
yang terlibat dalam produksi dan distribusi, supplier, dsb.

SBia: Struktur Biaya. Bagaimana (dan berapa) biaya muncul akibat


KProd dan pengadaan MProd. Contoh: Ongkos membeli bahan makanan,
biaya mengolah, mengemas dan menjajakan makanan,dsb
Setelah memahami semua komponen dasar, perhatikan contoh Business
Model Kanvas untuk Grameen Bank:

Dari uraian diatas dapat dijabarkan melalui langkah-langkah sebagai berikut :

Langkah Pengisian 1:

Grameen Bank menyediakan layanan pinjaman mikro kepada wirausahawan


kurang mampu melalui cabang Grameen Bank di desa-desa. Namun, kegiatan
operasional cabang Grameen Bank tidak dilakukan di gedung perkantoran.
Grameen Bank menggunakan agen perorangan untuk menghubungkan antara
segmen pasar (yakni peminjam).

Langkah Pengisian 2:

Sebagai bank yang menyediakan layanan pinjaman, pemasukan utama


Grameen Bank adalah bunga pinjaman. Ini adalah pendapatan utama dari
Grameen Bank. Sumber penghasilan bagi bank syariat Islam adalah melalui
skema bagi hasil yang disepakati dengan wirausahawan yang meminjam uang.

Langkah Pengisian 3:

Untuk memastikan kegiatan simpan-pinjam Grameen Bank berkelanjutan, makan


kegiatan utama bank tersebut adalah pengelolaan resiko serta peminjaman dan
penagihan pinjaman. Kebanyakan peminjam Grameen Bank adalah masyarakat
berpenghasilan rendah sehingga sangat penting untuk mengelola dan menjaga
tingkat resiko pinjaman. Salah satu mitra terpenting Grameen Bank adalah

22
Merancang Dan Merintis Usaha Kewirausahaan Sosial

pemerintah Bangladesh sebagai pemberi modal awal dan pendukung kegiatan-


kegiatan Grameen Bank. Oleh sebab itu, menjaga relasi dengan pemerintah juga
merupakan bagian dari model bisnis Grameen Bank.

Langkah Pengisian 4:

Struktur biaya Grameen Bank adalah agen dan biaya modal pinjaman. Alasan
mengapa Grameen Bank dapat bertahan hingga sekarang adalah karena
berhasil menjaga agar Struktur Penghasilan (SPeng) selalu lebih besar dari
Struktur Biaya (SB) Contoh di atas terkait dengan pembentukan koperasi sekolah
guna mensubsidi siswa putus sekolah. Perhatikan bahwa terdapat dua kotak
dengan warna berbeda pada BMC tersebut. Jika suatu usaha menawarkan dua
produk atau pelayanan yang berbeda, berikan tanda dengan warna berbeda dan
gunakan secara konsisten pada kotak-kotak BMC lainnya. Ini untuk
memudahkan pemahaman logika di balik BMC yang Anda buat. Koperasi
sekolah pada contoh di atas menyediakan dua jenis pelayanan. Yang pertama,
dalam kotak-kotak berwarna pink, adalah model bisnis untuk produk makanan
ringan, minuman, ATK dan hasil keterampilan siswa yang dijual melalui koperasi.
Yang kedua, dalam kotak-kotak berwarna biru, adalah layanan pemberian subsidi
sekolah bagi siswa-siswa yang terancam putus sekolah. Karena layanan
pemberian subsidi tidak memiliki Material Produksi (MP) dan Struktur Biaya (SB)
maka kedua kotak tersebut tidak diisi oleh kotak berwarna biru.

B. Pengantar Audit Sosial

Pengertian tentang Audit Sosial hingga kini masih terus dikembangkan,


namun konsep Sosial Audit dapat dijelaskan sebagai : Suatu cara untuk
mengukur sejauh mana suatu kelompok masyarakat atau organisasi
menjalankan apa yang telah menjadi tujuan dan nilai-nilai yang dipegangnya.
Merupakan suatu cara untuk memastikan apakah organisasi tetap relevan, layak
dan dapat berkelanjutan. Prosesnya berlangsung secara terus menerus dan
merupakan kegiatan yang melekat pada perusahaan atau organisasi untuk
membantu dalam pelaksanaan seluruh aktivitasnya apakah tetap berlangsung
sesuai dengan tujuan-tujuan, nilai-nilai dan pencapaian , sehingga
memungkinkan seluruh pihak pemangku kepentingan untuk mempelajari

23
Merancang Dan Merintis Usaha Kewirausahaan Sosial

sejauhmana organisasi dijalankan selama ini. Terdapat empat tahapan utama :


Tahap pertama adalah menentukan maksud dan tujuan serta nilai-nilai yang
disepakati bersama. Ketiga tahap berikutnya dapat terangkum dalam pernyataan
berikut ; Prove it, Report it, Improve it (Buktikanlah, Laporkanlah, Tingkatkanlah)

Gambar 2.2. Skema Proses Audit Sosial

Praktek audit sosial di Indonesia secara umum dapat digambarkan


melalui bagaimana suatu organisasi koperasi melaksanakan musyawarah atau
yang kita kenal dengan RAT (Rapat Anggota Tahunan),dimana pengurus
memaparkan kinerja organisasi selama setahun berjalan dan rencana kerja satu
tahun mendatang. Pertemuan ini dihadiri oleh para anggota,pengurus pe-ngawas
dan pemangku kepentingan lainnya. Mengapa perlu dilakukan Audit Sosial?

Manfaat Penjelasan
Menghindari misi yang samar-samar Maksud dan tujuan perusahaan
atau Mission Mist sebaiknya rutin ditinjau ulang dan
disepakati secara demokratis
Tata kelola organisasi yang baik Tujuan yang telah disepakati
kemudian dapat diukur dan
dimonitor sesuai dengan kriteria
internal
Nilai-nilai yang jelas Nilai-nilai ditetapkan dan disepakati
bersama
Tata kelola organisasi yang efektif Kebijakan,peraturan-peraturan dan
bila perlu AD/ ART ditinjau ulang
secara teratur
Pemangku kepentingan Analisis pemangku kepentingan
mengidentifikasi siapa atau pihak

24
Merancang Dan Merintis Usaha Kewirausahaan Sosial

mana saja para pemangku


kepentingan
Kualitas keterlibatan pemangku Seluruh pemangku kepentingan,
kepentingan baik penerima manfaat maupun
pemangku kepenti-ngan lainnya
terlibat dalam proses tata kelola
organisasi melalui dialog yang
demokratis
Bekerja dengan efektif Seluruh tugas-tugas serta peran-
peran para pengelola maupun
pekerja ditinjau ulang secara teratur
Practices what it preaches Survey dilakukan terhadap
penerapan nilai-nilai organisasi dan
kesesuaiannya dengan situasi masa
kini
Bergerak sesuai kekuatan Rencana tindak berdasarkan
analisis SWOT
Mengenali posisi Analisa posisi
Penggunaan alat untuk tatakelola Pengukuran dan alat serta metode
organisasi yang Baik kontrol kualitasditinjau secara
teratur
Pelatihan yang sesuai Kebutuhan Pelatihan bagi pengelola
dan pekerja dianalisis, juga ditinjau
kesesuaian nya dengan tujuan
organisasi dan waktunya.
Pertemuan yang efisien Tinjau seluruh pertemuan,pelatihan
sebagai suatu kesatuan
Memiliki keterbukaan dan Laporan Audit Sosial
akuntabilitas kepada komunitas

Organisasi di tatanan kewirausahaan sosial terus tumbuh dan berubah


secara dinamis. Proses Audit Sosial akan meningkatkan kesadaran kita tentang
aturan dasar yang sama yang akan mempersatukan kita. Hal ini juga
mengingatkan kita atas tujuan awal maupun hasil akhir dari upaya kita.

C. CONTOH USAHA DIBIDANG SOSIAL

Dibawah ini akan diberikan ilustrasi keberhasilan usaha dibidang


kewirausahaan sosial.

1. Kebab Turki BABA RAFI

25
Merancang Dan Merintis Usaha Kewirausahaan Sosial

Siang itu, Hendy Setiono berkemeja batik cokelat dipadu celana hitam.
Cukup sederhana. Tak tecermin tampang seorang bos dari perusahaan beromzet
lebih dari Rp 1 miliar per bulan. Kebab adalah makanan khas Timur Tengah
(Timteng) yang dibuat dari daging sapi panggang, diracik dengan sayuran segar,
dan dibumbui mayonaise, lalu digulung dengan tortila. Hendy mengisahkan,
pada Mei 2003, dirinya mengunjungi ayahnya yang bertugas di perusahaan
minyak di Qatar. Selama di negeri yang baru sukses melaksanakan Asian Games
itu, dia banyak menemui kedai kebab yang dijubeli warga setempat. Lantaran
penasaran, Hendy yang mengaku hobi makan itu lantas mencoba makanan yang
lezat bila dimakan dalam kondisi masih panas tersebut. Ternyata, rasanya
sangat enak. Saya tak menduga rasanya seperti itu, papar Hendy. Begitu tiba
kembali di Surabaya, dia langsung menyusun strategi bisnis. Yang pertama
dilakukan adalah mencari partner. Dia tidak ingin usahanya asal-asalan. Dia
kemudian bertemu Hasan Baraja, kawan bisnisnya yang kebetulan juga senang
kuliner. Awalnya, mereka sengaja melakukan trial and error untuk menjajaki
peluang bisnis serta pangsa pasarnya. September 2003, gerobak jualan kebab
pertamanya mulai beroperasi. Mengawali sebuah bisnis memang tidak mudah.
Apalagi untuk meraih sukses seperti sekarang. Suka duka pun dirasakan,
hasilnya dalam 3-4 tahun, dia berhasil mengembangkan sayap di mana-mana.
Bahkan, hingga pengunjung 2006, pengusaha muda tersebut mencatat telah
memiliki 100 outlet Kebab Turki Baba Rafi yang tersebar di 16 kota di Indonesia.
Tidak hanya di Jawa, tapi juga di Bali, Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan.

2. Kewirausahaan Sosial di Pondok Pesantren Al Ittifaq

Di wilayah dataran tinggi selatan Bandung terdapat sebuah lembaga


pendidikan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ittifaq yang dipimpin oleh KH. Fuad
Affandi, yang dikenal dengan panggilan akrab Mang Haji. Ponpes Al Ittifaq
mengajarkan siswa tingkat TK, MI, MTs dan MA. Selain menyediakan sarana
pendidikan dan pembelajaran, Ponpes Al Ittifaq juga berperan sebagai
penggerak agribisnis sayuran dataran tinggi. Bersama lima gabungan kelompok
tani (gapoktan) di sekitar ponpes, dan melibatkan santrinya dalam aktivitas
agribisnis, Ponpes Al Ittifaq menyuplai 3-4 ton sayuran per hari ke gerai-gerai
Hero (Giant), Makro (Lotte), Diamond, Yogya, Ramayana dan Superindo serta
Restoran-restoran dan hotel yang ada di Bandung dan Jakarta. Bila rata-rata

26
Merancang Dan Merintis Usaha Kewirausahaan Sosial

harga sayuran tersebut Rp. 3000/kg, maka omzet yang dihasilkan Ponpes Al
Ittifaq bisa sampai Rp. 270 juta per bulan. Omzet ini menjadi sumber penghasilan
lebih dari 400 petani yang tinggal di sekitar lingkungan ponpes dan menjamin
penghidupan 326 orang santri yang umumnya kaum dhuafa. Bila ditambah
anggota keluarga petani, ribuan orang bergantung pada kegiatan ekonomi yang
diawali Mang Haji sejak 1970-an. Untuk mengelola ratusan juta rupiah itu, Mang
Haji mendirikan lembaga keuangan pondok pesantren yang bertujuan untuk
menyimpan uang hasil pendapatan dari distributor yang sebelumnya melewati
bank-bank. Dari sinilah para santri dan warga yang terlibat dalam agribisnisnya
dapat memenuhi kebutuhan mereka dengan sistem simpan pinjam. Di tangan
Fuad Affandi, agama yang biasanya dipraktikkan sebatas ibadah shalat, mengaji
dan berdoa, diubah menjadi agama yang bersifat sosial, menekankan etos kerja
serta agama sebagai etika pembebasan. Sang Kiai bukan hanya tampil sebagai
aktor penjaga nilai-nilai masyarakat, tapi juga sebagai agen perubahan sosial.

3. KRAFTY KIDS di Shotton Hall


Scholl, Peterlee Shotton Hall School
adalah sekolah menengah di Peterlee,
County Durham, Inggris. Sekolah ini
mengkhususkan pada pendidikan seni
pertunjukan,dengan usia murid antara
11 16 tahun. Pada tahun 2000
dimulai program E2E (Education To
Employment), dimana siswa diberi
kesempatan untuk mengembangkan
kemampuan wirausaha, komunikasi, kerjasama tim, kepribadian dan
keterampilan teknis. Siswa-siswa E2E kemudian mengembangkan program
Krafty Kids. Mereka mengunjungi pabrik serta gudang setempat untuk
mengumpulkan barang-barang sisa yang biasanya terbuang. Kemudian mereka
mengolahnya menjadi kerajinan tangan maupun bahan siap pakai untuk
membuat kerajinan tangan dan dijual ke sekolah-sekolah di lingkungan mereka.
Program tersebut dijalankan selama satu semester dan kemudian dilanjutkan

27
Merancang Dan Merintis Usaha Kewirausahaan Sosial

oleh kelompok siswa berikutnya. Sejak Krafty Kids dijalankan, sebagian lulusan
berhasil terserap di dunia kerja maupun diterima di jenjang pendidikan yang lebih
tinggi. Di Indonesia, praktek kewirausahaan sosial berbasis sekolah tidaklah
baru. Bahkan sekolah-sekolah swasta di Indonesia dijalankan sebagai
Perusahaan Berbasis Kewirausahaan Sosial yang bertujuan untuk
mengembangkan pendidikan. Implementasi prinsip-prinsip dan semangat
kewirausahaan sosial sangat tampak pada berbagai sekolah Islam yang memiliki
visi dan misi pendidikan, agama dan sosial.

4. Koperasi Sekolah Bina Amal,


Semarang

Dirintis pada tahun 2006, Koperasi


Sekolah Bina Amal menjual berbagai jenis
kebutuhan sekolah, ATK, makanan ringan
dan katering sekolah serta menyediakan
layanan simpan-pinjam bagi karyawan
sekolah. Koperasi Sekolah Bina Amal turut melibatkan guru dan karyawan
sekolah, orang tua murid, industri rumah tangga, maupun komunitas di sekitar
sekolah dalam pengelolaan dan pengembangan koperasi. Dengan menitipkan
barang dagangan di koperasi sekolah, beberapa anggota komunitas dan orang
tua murid dapat memperoleh penghasilan tambahan. Koperasi juga sedang
merintis jasa penyediaan Laptop kepada guru untuk menunjang kegiatan belajar
mengajar, dengan cara, koperasi membelikan terlebih dahulu kemudian guru
mengangsur bulanan dengan bagi hasil yang disepakati. Anggota Koperasi Bina
Amal pada tahun 2010 mencapai lebih dari 100 orang dengan omzet hingga 120
juta per tahun. Koperasi Sekolah Bina Amal terletak di salah satu sudut SDIT
Bina Amal di Jl. Kyai Saleh No. 8 Semarang, dan turut melibatkan siswa dalam
kegiatan praktek jual-belinya. Selain menyediakan jajanan sehat dan bersih,
Koperasi Sekolah Bina Amal juga memberikan pengalaman belajar kepada
siswa-siswi dengan cara ditugaskan secara bergilir untuk menjaga koperasi pada
saat jam istirahat. Berbagai hasil karya seni siswa juga dipajang di Koperasi
Sekolah Bina Amal dan dibeli oleh para orang tua siswa yang tertarik.

28
Merancang Dan Merintis Usaha Kewirausahaan Sosial

D. Merintis Usaha

Seringkali kita dipusingkan dengan suatu hal dan berbagai keperluan yang
menyangkut awal buka suatu usaha. Karena banyaknya persiapan dan pikiran
kita pun akhirnya lupa akan action dan akhirnya persiapan untuk membuka
usaha pun menjadi terbengkalai, agar kita terhindar dari hal tersebut maka kita
perlu untuk mengetahui berbagai hal yang mendukung suatu strategi dalam
merintis sebuah usaha. Strategi merintis usaha tersebut merupakan pijakan wala
dalam kita memulai usaha agar kita bisa mendapatkan gambaran serta hasil
usaha sesuai dengan yang kita iginkan. Agar kita mengetahui berbagai strategi
usaha tersebut berikut kami coba tampilkan berbagai aspek yang harus dimiliki
dalam merancang suatu usaha tersebut.

Tetapkan pangsa pasar


Saat kita akan membuka suatu usaha pakaian misalnya tentu kita akan
menetapkan target dan pangsa pasar yang akan kita bidik, karena tentu
antara pakaian anak muda tentu berbeda dengan pakaian orang dewasa
maupun wanita untuk itulah kita perku untuk menetapkan target terlebih
dahulu agar pemasaran dan penyerapan pasar produk kita lebih
terararah.

Pilih Merk
Seringkali pengusaha kecil lupa dan entah luput akan pemilihan merk ini,
mereka selalu beranggapan bahwa usaha yang mereka jalankan
merupakan sebuah usaha yang kecil sehingga belum membutkan suatu
merk yang besar. Ini merupakan sebuah anggapan yang salah, dalam
artian tidak serius dalam memulaisuatu usaha. Saat kita mulai terjun
dalam suatu usaha tentu kita berkeinginan dan bertekad untuk menjadi
besar kan, maka dengan itulah kita perlu untuk menyiapkan merk agar
produk kita bisa dikenal dengan baik dan bisa menjadi suatu dorongan
motivasi agar kita bisa menghasilkan produk yang bisa diserap dengan
baik dipasaran.

Promosi
Pergunakan semua kemampuan dan sumber daya promosi dengan
maksimal, promosi yang bagus tidak harus selalu mahal namun promosi
yang sederhana namun terararh pun bisa menghasilkan promosi yang
positif sesuai dengan yang diharapkan.

29
Merancang Dan Merintis Usaha Kewirausahaan Sosial

Manage keuangan
Walau baru merintis dan belum menghasilkan laba yang besar namun
kita juga perlu untuk memanage keuangan dengan baik,contohnya pada
gambar tersebut dimana keuangan menjadi modal utama untuk sebuah
ide hal ini dilakukan agar kita bisa memilih dan memisahkan mana
keperluan bisnis dan mana keperluan rumah tangga agar usaha yang kita
geluti bisa berjalan dengan baik.

E. Langkah-langkah Merintis
Usaha

Membangun usaha adalah keinginan


banyak orang. Selain menghasilkan uang, dengan usaha, dapat memberi
lapangan pekerjaan bagi orang lain. Sayangnya banyak orang yang kesulitan
untuk memulai usaha. Lalu bagaimana cara memulai usaha baru dari nol?
Sejumlah entrepreneur yang memiliki nama besar pernah berujar, modal untuk
memulai usaha cuma satu, yakni mempunyai impian. contohnya sebuah jalan
untuk memulai langkah kaki dari awal stars hingga ke tujuan impian Karena
dengan impian Anda dapat menciptakan ide usaha yang luar biasa, hingga
akhirnya ide usaha tersebut
direalisasikan menjadi sebuah
peluang usaha baru yang
menguntungkan. Kunci
kesuksesan memulai usaha
adalah berani menjadikan
mimpi kita menjadi ide bisnis
yang nyata. Jangan pernah
takut gagal dalam memulai bisnis, karena setiap kegagalan akan memberikan
pelajaran berharga bagi langkah bisnis Anda. Berikut adalah tips sederhana bagi
Anda yang ingin memulai usaha:

1. Tentukan mimpi dan ide usaha


Setelah Anda memiliki mimpi, tentukan ide usaha. Sesuaikan usaha yang
akan dibuka dengan kemampuan, minat atau bakat yang miliki. Namun

30
Merancang Dan Merintis Usaha Kewirausahaan Sosial

tetap tanpa meninggalkan faktor peluang pasar yang ada di masyarakat.


Banyak pengusaha sukses, karena memilih bidang usaha yang mereka
sukai. Dengan demikian, Anda akan selalu berusaha mengembangkan
bisnis yang dimiliki, dengan perasaan senang hati tanpa ada kejenuhan
ataupun rasa bosan yang sering muncul.
Selain itu, ide usaha juga dapat dilakukan dengan memulai usaha yang
belum pernah ada di pasaran, sehingga terkesan unik dan menarik, atau
membuka usaha yang telah banyak dipasaran namun memiliki peluang
pasar yang masih besar.

2. Ciptakan visi dan misi


Sebuah usaha harus mempunyai visi dan misi yang jelas, sehingga tujuan
dan langkah usaha tersebut dapat terstruktur dengan baik untuk
menunjang pengembangan usaha yang dibangun.

3. Aksi
Sebaik apapun ide usaha, tidak akan pernah menjadi usaha yang sukses
jika Anda tidak segera bertindak. Mulailah usaha yang kita rencanakan
dengan penuh keyakinan dan ketekunan, karena menjalankan sebuah
usaha hingga mencapai kesuksesan membutuhkan perjuangan dan
perjalanan yang cukup panjang dengan kerja keras yang harus
dijalankan.

4. Selalu belajar dan lakukan pengamatan


Amati pengusaha yang telah sukses dengan bidang yang sama. Bila
usaha Anda tergolong baru amatilah strategi manajemen yang mereka
gunakan. Hal penting lainnya yaitu perdalam pengetahuan mengenai
semua hal yang berhubungan dengan bisnis yang Ansa jalankan, agar
produk kita bisa lebih inovatif.

5. Hadapi dan nikmati hambatan


Membangun sebuah usaha hingga sukses tidak mudah. Pasti akan ada
hambatan dan resiko kegagalan hampir selalu membayangi setiap usaha.
Untuk itu, sebaiknya Anda harus selalu berpikiran positif terhadap
hambatan, karena dalam tiap kesulitan akan ada kemudahan jika kita
mau bekerja keras.
Tanpa kita sadari, dalam keadaan terdesak kreativitas seseorang akan
meningkat untuk mencari solusi dari masalah yang ada. Dengan menikmati

31
Merancang Dan Merintis Usaha Kewirausahaan Sosial

hambatan usaha, akan menguatkan mental usaha dan menambah kemampuan


Anda dalam membangun usaha. Ada tiga cara atau bentuk yang dapat dilakukan
untuk memulai suatu usaha atau memasuki dunia usaha yaitu merintis usaha
baru (starting), membeli perusahaan orang lain (buying) dan Franchising
(Kerjasama Manajemen/Waralaba).

Tabel 2.1 Tiga Bentuk Merintis Usaha

Bentuk Kelebihan Kekurangan

Merintis o Gagasan Murni o Pengakuan nama barang


usaha o Bebas beroperasi o Fasilitas inefisien
o Fleksibel dan mudah o Persaingan kurang
penggunaan diketahui
Membeli o Kemungkinan sukses o Perusahaan yang dijual
perusahaano Lokasi sudah cocok biasanya Lemah
o Karyawan dan pemasok o Peralatan tak efisien
biasanya sudah mantap o Mahal
o Sudah siap operasi o Sulit inovasi
Kerjasama o Mendapat pengalaman
o Tidak mandiri
manajemen dalam logo, nama, metoda o Kreativitas tidak
teknik produksi, pelatihan berkembang
dan bantuan modal o Menjadi independen,
o Penggunaan nama, Merek terdominasi, rentan
yang sudah dikenal terhadap perubahan
franchisor

LATIHAN

Dream Building

1. Petunjuk Penggunaan Modul


Modul ini menjelaskan kepada semua mahasiswa seharusnya memiliki
kesempatan untuk memimpikan masa depan mereka sejalan dengan persiapan
yang mereka lakukan saat ini untuk mencapainya. Aktivitas tersebut dapat
dilakukan oleh semua orang tanpa memandang usia

32
Merancang Dan Merintis Usaha Kewirausahaan Sosial

2. Kegiatan Belajar
a. Tujuan Pembelajaran
melatih membangun impian dalam kerangka bertindak dan berfikir kreatif
b. Uraian Materi
Sukses Dimulai dari Impian Besar
Apakah saat ini kita memiliki impian yang sangat tinggi yang ingin diraih,
yaitu sebuah impian yang mungkin mustahil untuk kita capai dengan keadaan
kita sekarang ini? Apakah mungkin sekarang kita sedang direndahkan dan
ditertawakan oleh teman, saudara, atau bahkan orang tua ketika kita
menceritakan impian kita kepada mereka? Jika kita menjawab ya, janganlah kita
merasa kecil hati dan putus asa. Sebaliknya, kita harus bangga dan berbahagia
karena kita baru saja memasuki langkah awal kesuksesan. Mengapa demikan?
Karena pondasi kesuksesan adalah impian yang kita miliki. Setiap orang yang
telah sukses pasti diawali dengan impian.
Membangun impian dapat diibaratkan seseorang yang sedang membangun
sebuah rumah. Awalnya kita harus membangun pondasi yang kokoh agar bila
terjadi bencana alam seperti banjir, gempa bumi, atau lainnya yang
mengakibatkan rumah yang kita bangun retak dan rusak, kita dapat
membangunnya kembali. Begitu pula halnya bila kita sedang berusaha
mewujudkan impian yang kita miliki. Jika impian yang kita tanamkan sudah
melekat sedemikian kuatnya dalam diri kita, kita akan siap untuk bangkit kembali
jika seandainya kita mengalami kegagalan.
Banyak orang berhasil yang mengawali langkah keberhasilan dalam
hidupnya dengan bermimpi. Salah satunya adalah Soichiro Honda yang
sekarang ini terkenal dengan produk ciptaannya berupa sepeda motor dan mobil
bermerek Honda. Pada waktu Honda masih duduk di bangku sekolah, ia
bukanlah seorang siswa yang pandai. Pada saat gurunya sedang menerangkan
pelajaran, Honda sering melamun dan berkhayal berbagai macam penemuan
yang cemerlang, terutama yang banyak berhubungan dengan permesinan
karena ia sangat suka dengan mesin. Karena kebiasaan bermimpinya di kelas
tersebut ia sempat dikeluarkan dari sekolah. Namun hal tersebut tidak
menghentikan semangatnya untuk mewujudkan semua impiannya. Hingga saat
ini Honda dapat memperlihatkan diri kepada dunia bahwa ia adalah salah satu
contoh orang yang sangat berhasil dalam mengubah semua impiannya menjadi

33
Merancang Dan Merintis Usaha Kewirausahaan Sosial

kenyataan. Dan sampai saat ini Honda terus-menerus melakukan inovasi-inovasi


baru melalui mimpi-mimpi barunya dengan melakukan kampanye The Power of
Dreams melalui media massa belum lama ini. Kisah Honda ini terdapat memberi
pelajaran yang cukup menarik yang dapat kita petik, yaitu bahwa setinggi apa
pun mimpi kita, jika kita benarbenar yakin bahwa mimpi kita akan berhasil dan
kita mau berusaha keras untuk mewujudkannya, maka pastilah suatu saat mimpi
kita tersebut akan menjadi kenyataan.
Dalam realitas kehidupan yang kita jalani saat ini, kita harus memiliki cita-
cita dan impian agar hidup kita dapat terarah dan memiliki tujuan yang jelas. Kita
bebas merancang impian kita sesuai dengan yang kita inginkan dan kita juga
bebas untuk mengubah impian kita setiap saat jika memang suara hati kita
menghendaki untuk mengubahnya. Keberhasilan dan kesuksesan dalam hidup
selalu berawal dari impian. Namun tidak semua orang berhasil mewujudkan
impiannya. Hal ini bergantung pada bagaimana kita bisa mengarahkan impian
kita kepada kenyataan yang kita harapkan. Orang yang berhasil mewujudkan
impiannya adalah orang yang dapat menyelaraskan antara impian dengan
tindakan. Suatu impian akan dapat dicapai jika kita tidak terlena dengan impian-
impian kita dan selalu hidup dalam dunia impian, namun kita diharapkan untuk
mau mengubah sikap dan tindakan kita menuju ke arah impian yang kita cita-
citakan. Jika saat ini kondisi dan keadaan kita sangat jauh dari impian yang kita
miliki, kita harus mengubah perilaku dan tindakan kita untuk mencapainya.
Dengan kata lain, kita harus keluar dari zona kenyamanan (comfort zone) kita.
Misalnya, jika kita memiliki impian untuk bisa lulus sekolah/kuliah dengan nilai
baik, ubahlah sikap kita yang mungkin biasa bermalas-malasan untuk menjadi
lebih giat lagi dan berusahalah dengan sebaik mungkin untuk mewujudkannya.

Mimpi Aktif dan Pasif

Saya rasa hampir setiap orang pernah bermimpi. Mimpi adalah suatu
rangkaian kejadian atau peristiwa yang terjadi dalam pikiran sadar maupun
pikiran bawah sadar kita. Mimpi yang biasa kita alami adalah mimpi pada saat
kita sedang tidur. Mimpi pada saat kita sedang tidur biasanya terjadi apabila kita
sedang menghadapi suatu permasalahan dalam diri dan batin kita. Masalah-
masalah tersebut masih menumpuk dalam pikiran kita sehingga pada saat kita
tidur alam pikiran bawah sadar kita membawa kita kepada masalah-masalah

34
Merancang Dan Merintis Usaha Kewirausahaan Sosial

tersebut tanpa dapat kita kendalikan, namun kita merasa seolah-olah mengalami
kejadian yang sebenarnya. Mimpi seperti ini saya sebut dengan istilah mimpi
pasif. Saya menyebut demikian karena mimpi tersebut adalah mimpi yang terjadi
di luar kehendak kita. Kita tidak dapat mengontrol mimpi kita itu dan mimpi
tersebut cenderung tidak nyata. Mimpi seperti ini akan berakhir apabila kita
terjaga dari tidur. Di samping mimpi pasif yang berlangsung pada saat kita tidur,
ada juga seseorang yang pada dasarnya sering berkhayal atau
mengimajinasikan hal-hal indah secara terus menerus namun tidak pernah
berusaha untuk mewujudkannya. Berkhayal (mimpi) semacam ini saya
kategorikan ke dalam mimpi pasif juga karena ia hanya beranganangan dan
membayangkan kejadian-kejadian indah namun tanpa diikuti perubahan tindakan
yang menuju kepada tercapainya impiannya tersebut. Hal ini sama saja halnya
dengan hidup dalam dunia mimpi yang telah saya sebutkan sebelumnya karena
semua angan- angan tersebut akan berakhir pada saat ia selesai berimajinasi
(baca: bangun dari tidurnya).
Sedangkan mimpi aktif adalah suatu imajinasi atau khayalan yang
dilakukan secara terus-menerus namun disertai dengan perubahan perilaku yang
mengacu kepada tercapainya mimpi tersebut sehingga kita tidak selalu hidup
dalam dunia mimpi atau dunia tidur dan berusaha mewujudkannya. Seperti telah
dijelaskan sebelumnya bahwa dalam dunia tidur pada saat kita bermimpi, kita
tidak dapat mengendalikan mimpi kita tersebut, dan setelah kita terbangun
semua hal yang terjadi dalam mimpi tersebut hilang tanpa bekas. Begitu pula jika
kita hanya memiliki impian tapi tidak melakukan sesuatu untuk mewujudkan
impian tersebut adalah sama dengan ber-mimpi pasif karena tidak ada tindakan
nyata untuk mewujudkannya. Oleh karena itu, kita hendaknya menjadi pemimpi-
pemimpi aktif di mana kita tidak hanya berimajinasi saja tapi juga melakukan
tindakan yang mendukung ke arah tercapainya impian kita. Lakukan perubahan
dalam diri kita, keluar dari zona kenyamanan, dan raihlah impian kita tersebut.

Tips Mewujudkan Mimpi


Jika sampai saat ini yang sering kita lakukan hanyalah bermimpi pasif,
mungkin kini saatnya kita mencoba untuk mengubah mimpi pasif kita menjadi
mimpi aktif dan mewujudkannya dalam realitas kehidupan kita sehingga kita tidak
hanya hidup dalam dunia mimpi.

35
Merancang Dan Merintis Usaha Kewirausahaan Sosial

Berikut saya akan coba memaparkan beberapa tips untuk mengubah mimpi pasif
menjadi mimpi aktif dan mewujudkan impian yang kita miliki ke dalam realitas
hidup.
a. Setiap orang pasti memiliki segudang impian yang sangat indah dan
berjuta-juta keinginan dalam pikirannya. Dan pada saat inilah orang
tersebut sedang berada pada state 1 yaitu ia sedang bermimpi pasif.
Namun, tentu saja kita tidak dapat memperoleh semua impian kita secara
sekaligus dalam tempo yang sangat singkat tanpa melakukan apa-apa.
Kita harus dapat menyaring dan membuat prioritas impian mana yang akan
kita wujudkan terlebih dahulu. Kita harus beralih dari state 1 (mimpi pasif) di
mana yang kita lakukan hanya bermimpi setinggi-tingginya ke state 2
(mimpi aktif) dengan melalui suatu jembatan yang saya beri nama filter
trans imajiner. Filter ini merupakan suatu titik di mana kita sedang berada
pada proses transisi/pemindahan mimpi-mimpi kita yang hanya ada dalam
khayalan kita untuk menjadi kenyataan. Filter ini bermanfaat untuk
menyaring semua mimpi kita yang mungkin jumlahnya sangat banyak
hingga menjadi beberapa yang ingin kita capai dalam waktu dekat.
Pada state ini kita dituntut untuk tidak hanya membayangkan terwujudnya
impian kita saja, namun kita juga harus memikirkan proses pencapaiannya
tahap demi tahap dan mimpikan pula proses tersebut tahap demi tahap
sampai kita berhasil meraih apa yang kita mimpikan dan menjadi realitas.
b. Setelah kita menyaring mimpi-mimpi yang kita miliki, kita harus melewati
satu rintangan terbesar dalam proses meraih impian berikutnya, yaitu kita
harus berusaha untuk keluar dari zona kenyamanan kita (comfort zone).
Zona ini merupakan saat di mana kita merasa sangat nyaman dengan
mimpi-mimpi di alam mimpi kita. Pada saat ini mungkin kita tidak tahu apa
yang harus kita lakukan untuk keluar dari zona ini karena mimpi yang kita
miliki sangat jauh dari keadaan kita sekarang ini sehingga kita merasa
bahwa kita sudah pasti tidak dapat mewujudkan impian tersebut. Kita harus
berhasil melewati zona ini dengan melakukan tindakan nyata dalam proses
meraih impian yang kita inginkan. Kita harus selalu optimis bahwa impian
kita akan dapat menjadi kenyataan suatu saat nanti.
c. Tahapan ini merupakan tahapan yang paling menentukan apakah impian-
impian kita akan menjadi kenyataan atau tidak. Pada tahapan ini kita harus
siap menghadapi masalah yang dapat berupa penghalang atau hambatan

36
Merancang Dan Merintis Usaha Kewirausahaan Sosial

maupun kesulitan yang harus kita hadapi dalam proses meraih impian kita.
Salah satu penghalang atau hambatan yang harus kita hadapi dapat
berupa jatuh miskin, kehilangan orang yang dicintai, dihina orang banyak,
dikucilkan, tidak dipercaya, dikeluarkan dari sekolah dan hal-hal lain yang
menyebabkan kita kehilangan semangat untuk terus berusaha mewujudkan
impian kita. Hambatan yang banyak dialami setiap orang adalah kegagalan.
Dan kegagalan ini sering membuat orang patah semangat dan berputus
asa serta tidak berani mencoba lagi. Tidak jarang impian seseorang
berakhir pada state ini. Kegagalan ini banyak disebabkan oleh karena
proses mewujudkan impian tidak seindah dan semudah apa yang kita
bayangkan sebelumnya. Seharusnya, jika kita mengalami kegagalan, kita
harus berani mencoba kembali, memimpikan kembali secara aktif,
memvisualisasikan dalam pikiran kita mulai dari proses sampai tercapainya
impian kita sehingga kita selalu memiliki semangat juang yang tinggi
setelah kita mengalami kegagalan dan bukan hanya merenungi nasib yang
telah terjadi atau bahkan kita mengubah impian kita. Memang tidak ada
salahnya bagi kita untuk mengubah impian kita semula dan berusaha
mencapai impian yang lain jika kita memang sudah merasa bahwa impian
kita sudah tidak sejalan dengan tujuan hidup kita. Namun satu hal yang
harus kita yakini adalah bahwa dengan selalu belajar dari pengalaman
kegagalan dan kemudian mencoba lagi suatu saat mimpi kita pasti akan
dapat menjadi kenyataan. Orang yang tabah, sabar, dan berhasil melewati
semua permasalahan tersebut barulah akan menjadi orang yang berhasil
meraih impiannya. Sanggupkah kita menghadapi semua rintangan-
rintangan tersebut? Ingat cerita Honda Soichiro! Dan ikuti panduan tips-tips
yang telah diutarakan sebelumnya. Jangan lupa untuk selalu membawa
serta impian kita ke mana pun kita pergi, di mana pun kita berada, dalam
berbagai kondisi dan situasi yang bagaimana pun yang sedang menimpa
kita. Kita harus selalu percaya dan yakin bahwa impian yang kita miliki akan
tercapai melalui usaha-usaha kita yang tekun dan tidak kenal menyerah
serta tidak lupa untuk meminta pertolongan Tuhan. Dengan demikian
keberhasilan akan dapat kita peroleh.

Tugas Kegiatan Belajar 2


Tugas: Buat sebanyak-banyaknya impian tentang masa depan saudara

37
Merancang Dan Merintis Usaha Kewirausahaan Sosial

Prosedur
a) Mahasiswa diminta untuk duduk sambil menutup mata dan
memvisualisasikan diri mereka sebagai orang yang telah tumbuh dewasa
sesuai dengan pertanyaan yang diajukan
b) Setelah itu para mahasiswa diminta untuk menulis visualisasi mereka
selama 5-10 menit untuk menjawab pertanyaan yang berhubungan
dengan Pertanyaan tentang impianku
c) Bagilah masing-masing mahasiswa kedalam kelompok yang terdiri 3-5
orang. Pilih satu orang wakil untuk memuat ringkasan laporan kepada
seluruh kelas mengenai apa yang telah dipelajari selama
memvisualisaikan masa depan
Pertanyaan Mengenai Impian
a) Perasaan apakah yang paling penting menurut saya mengenai hari ini?
b) Jenis Pekerjaan yang akan saya pilih? Mengapa?
c) Apakah saya bekerja berhubungan dengan orang, gagasan dan juga
benda?
d) Apakah saya memanfaatkan minat/hobby/keahlian yang sedang saya
kembangkan sekarang
e) Apakah saya bekerja untuk pihak lain ataukah saya bertanggung jawab
terhadap usaha tersebut
f) Apakah saya puas dengan pekerjaan yang saya pilih? Mengapa?
g) Saat para mahasiswa sedang melakukan kegiatan diskusi, beberapa
informasi berhubungan dengan pertanyaan dibawah ini harus
diperhatikan.
a. Berapakah jumlah mahasiswa yang membuka usaha
b. Berapa orang yang mengendarai mobil mewah ?
c. Berapa orang mahasiswa yang memiliki rumah dan apartemen
mereka sendiri ?
d. Apa hubungan hal tersebut dengan jumlah pendapatan yang ingin
mereka peroleh ?
e. Berapa banyak keahlian yang telah meraka kembangkan mulai dari
saat ini ?
f. Apakah mereka bahagia dengan kehidupan mereka saat ini ?
g. Apa yang mereka pelajari dari aktifitas tersebut

38
Merancang Dan Merintis Usaha Kewirausahaan Sosial

39
Skema Program Kewirausahaan Sosial

BAB III
SKEMA PROGRAM KEWIRAUSAHAAN SOSIAL

Skema program kewirausahaan social dapat digambarkan melalui


beberapa tahapan, diantaranya melalui pembinaan mahasiswa secara
berkelanjutan, optimalisasi keberadaan organisasi kemahasiswaan, mendorong
keterlibatan pergururan tinggi (PT) dan masyarakat secara totalitas. Secara lebih
lengkap dapat diperlihatkan pada Gambar 2.1 di bawah.

Input program meliputi mahasiswa, organisasi kemahasiswaan dan dosen


yang mempunyai minat dan bakat kewirausahaan yang dibuktikan dengan
pengalaman melakukan wirausaha atau telah mengikuti program kewirausahaan
seperti Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK), Cooperative
Education (Coop), Kuliah Kewirausahaan (KWU), Magang Kewirausahaan
(KWU), Kuliah Kerja Usaha (KKU), atau Karya Alternatif Mahasiswa (KAM),
pengabdian masyarakat dan sebagainya. Input program tersebut tersebut
mengajukan proposal kegiatan usaha yang lebih mengutamakan dibidang sosial.
Proposal yang dinyatakan lolos seleksi, selanjutnya mendapatkan proses
pembelajaran kewirausahaan yang berupa : pendidikan dan latihan (diklat)
kewirausahaan-business coach, bimbingan rencana bisnis (business plan),

40
Skema Program Kewirausahaan Sosial

magang di mitra UMKM, bimbingan dan bantuan modal untuk memulai usaha
baru, dan pendampingan usaha. Dalam proses ini PT melibatkan pengusaha
kecil dan menengah (UKM). Sebagai output program ini adalah wirausahawan-
wirausahawan muda (young entrepreneurs) dibidang social dan lembaga
pengembangan pendidikan wirausaha soail yang terbentuk di PT.

A. Tahapan-Tahapan Pelaksanaan Program

Secara garis besar ada tiga tahapan pelaksanaan program


kewirausahaan sosial ini yakni :

1. Tahap Persiapan meliputi :


a. Penyiapan tim/panitia
b. Sosialisasi program kepada mahasiswa, dosen dan lembaga
kemahasiswaan
c. Pengajuan proposal oleh mahasiswa, dosen dan lembaga kemahasiswaan
d. Identifikasi dan seleksi mahasiswa, dosen dan lembaga kemahasiswaan
peserta program

2. Tahap pembekalan meliputi :


a. Diklat kewirausahaan
b. Penyusunan rencana bisnis
c. Magang

3. Tahap pelaksanaan meliputi :


a. bantuan modal kerja
b. Start-up business
c. Pendampingan oleh tim dari PT dan dosen pengasuh
d. Monitoring dan evaluasi

1). Pihak yang Terlibat dan Peran Masing-Masing


1. Universitas sebagai pengelola program :
a. Melakukan sosialisasi program kepada mahasiswa, dosen dan lembaga
kemahasiswaan
b. Melakukan identifikasi dan seleksi mahasiswa, dosen dan lembaga
kemahasiswaan
c. Melakukan kegiatan pembekalan kewirausahaan social
d. Melakukan pendampingan

41
Skema Program Kewirausahaan Sosial

e. Melakukan kegiatan monitoring dan evaluasi program


f. Membuat laporan kegiatan

2. Mahasiswa, dosen dan lembaga kemahasiswaan sebagai peserta program :


a. Mengikuti seleksi
b. Menyusun rencana bisnis
c. Mengikuti pembekalan
d. Melaksanakan magang
e. Mendirikan dan menjalankan usaha
f. Menandatangani perjanjian/kontrak kerja tentang pengembalian modal
usaha
g. Membuat laporan reguler mengenai perkembangan usaha

3. Dosen/mentor :
a. Melakukan pendampingan
b. Melakukan mediasi antara lembaga kewirausahaan sosial dan peserta
c. Melakukan monitoring dan evaluasi
d. Menerima konsultasi mahasiswa

4. Pengusaha kewirausahaan sosial :


a. Melakukan bimbingan dan pendampingan usaha secara prakis
b. Memberikan umpan balik saran-saran pengembangan usaha
c. Menjadi mitra usaha peserta program

2). Indikator Keberhasilan


1. Bagi Universitas
a. Jumlah mahasiswa, dosen dan lembaga kemahasiswaan yang terlibat
dalam progam
b. Jumlah mahasiswa, dosen dan lembaga kemahasiswaan wirausaha yang
memulai bisnis
c. Jumlah unit bisnis yang berhasil diciptakan
d. Keberlanjutan program
e. Jumlah unit bisnis yang masih survive dan keberlanjutan usaha
f. Keterlibatan pengusaha dan tingkat kepuasan mereka terhadap
pelaksanaan program
g. Efektivitas dan efisiensi penggunaan dana
h. Eksistensi lembaga pengembangan pendidikan kewirausahaan

2. Bagi Mahasiswa dan Unit Bisnis


a. Pengetahuan kewirausahaan sosial
b. Keterampilan dan sikap wirausaha

42
Skema Program Kewirausahaan Sosial

c. Jejaring bisnis
d. Kemampuan mengelola bisnis
e. Perkembangan bisnis
f. Pasar lebih luas
g. Kelancaran cash flow
h. Jumlah tenaga kerja
i. Jumlah omzet dan asset
j. Jumlah dan variasi inventori

3). Keberlanjutan Program


Untuk menjamin keberhasilan dan keberlanjutan program maka
diperlukan komitmen peserta, kerjasama dan dukungan jurusan, serta
pengelolaan & pengembangan oleh universitas.

1. Komitmen peserta
Kesungguhan dan kerja keras serta pantang menyerah dalam mengikuti dan
melaksanakan program merupakan kunci keberhasilan program. Komitmen
terutama dalam pengembalian modal kerja dalam skema yang telah disusun
merupakan kunci keberlanjutan program ditinjau dari sisi usaha mahasiswa.
Oleh karena itu dalam seleksi proposal visibilitas skema pengembalian modal
kerja menjadi salah satu pertimbangan, di samping pengalaman wirausaha
serta kesediaan mitra untuk bekerjasama.

2. Dukungan dan Kerjasama Fakultas


Dukungan terhadap mahasiswa oleh fakultas melalui program studi / jurusan
sangat penting karena program studi.jurusan adalah pihak yang paling
mengerti karakteristik mahasiswa dan bidang studi yang dikembangkan dalam
program mahasiswa wirausaha. Kerjasama sinergis dapat membantu
keberlanjutan program.

3. Pengelolaan dan Pengembangan oleh universitas


Untuk mengelola (melakukan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan,
pengawasan, dan evaluasi) serta mengembangkan (melakukan penelitian &
pengembangan) program kewirausahaan sosial serta program lain yang

43
Skema Program Kewirausahaan Sosial

terkait dengan hubungan antar lembaga dibentuk lembaga yang bersifat


struktural atau fungional yang bertanggung jawab kepada Rektor.

B. Tata Cara Pengajuan social Bussines Plan

1). Persyaratan peserta


a. Mahasiswa, dosen dan lembaga organisasi mahasiswa
b. Mempunyai minat dan bakat kewirausahaan dan atau pengalaman
berwirausaha;
c. Mengajukan proposal secara kelompok sesuai format yang telah
ditentukan;
d. Jumlah anggota kelompok 1-2 orang, dapat dari satu program studi atau
satu fakultas atau lintas fakultas.
e. Usaha akan mendapat bantuan modal kerja bergulir minimum 2 juta/
kelompok;
f. Sanggup mengikuti seluruh kegiatan yang diselenggarakan yang meliputi
diklat, penyusunan business plan, magang, pendirian usaha, pelaksanaan
usaha, pelaporan hasil;
g. Sanggup mengembalikan modal usaha sesuai skema pengembalian yang
telah disetujui, untuk digulirkan kepada peserta yang lainnya oleh
pengelola agar keberlanjutan program terlaksana;
h. Mekanisme penyerahan modal kerja dan pengembaliannya diatur dalam
kontrak kerja.

2). Format Social Bussines Plan


Proposal ditulis pada kertas HVS A4 dengan spasi 1,5 font Times New
Roman 12 dengan margin kiri 4 cm, kanan 3 cm, atas 3 cm, bawah 3 cm.
Proposal dibuat rangkap 3, dengan cover berwarna hijau tua. Contoh sampul dan
lembar pengesahan proposal dapat dilihat pada lampiran. Sistematika isi
proposal adalah sebagai berikut :

a. Judul
Judul hendaklah singkat dan spesifik, tetapi cukup jelas memberi gambaran
mengenai kegiatan usaha yang diusulkan.

b. Latar Belakang
Menjelaskan hal-hal yang mendorong atau argumentasi prospektifnya peluang
usaha yang diusulkan, profil dan kondisi pasar, serta kondisi dan potensi wilayah

44
Skema Program Kewirausahaan Sosial

dari segi fisik, sosial, ekonomi maupun lingkungan yang relevan dengan kegiatan
yang akan dilakukan serta sumberdaya lain yang tersedia.

c. Bidang Usaha
Uraian bidang usaha yang akan dilakukan. Bidang usaha dapat berupa produksi
barang atau jasa, pemasokan bahan baku, keagenan, pemasaran, franchise dsb.

d. Tujuan
Rumusan tujuan yang akan dicapai secara spesifik, yang merupakan kondisi
baru yang diharapkan terwujud setelah usaha berjalan. Rumusan tujuan
hendaknya jelas dan dapat diukur.

e. Manfaat
Menyebutkan manfaat yang akan diperoleh ditinjau dari sisi pengusul, PT, UKM,
maupun masyarakat.

f. Target Luaran
Menjelaskan target luaran kegiatan baik berupa barang maupun jasa dengan
spesifikasinya serta kapasitas produknya.

g. Gambaran Umum Rencana Usaha


Uraian tentang modal investasi dan modal kerja, rencana produksi dan
pemasaran, rencana organisasi dan manajemen.

h. Rencana Anggaran Biaya & Prakiraan Profit


Rencana anggaran biaya dan prakiraan profit dibuat dalam format seperti pada
Lampiran.

i. Jadwal Kegiatan
Jadwal kegiatan meliputi persiapan , pelaksanaan dan penyusunan laporan
usaha dalam bentuk Bar-chart. Bar-chart memberikan rincian kegiatan dan
jadwal pelaksanaan kegiatan tersebut. Untuk menghindari keterikatan waktu
pelaksanaan dengan periode waktu tertentu, usahakan tidak menggunakan
nama bulan secara eksplisit dalam penjadwalan rencana kegiatan. Sebagai

45
Skema Program Kewirausahaan Sosial

contoh, untuk menggambarkan urutan waktu pelaksanaan, gunakan kata bulan


ke-1, bulan ke- 2, dan seterusnya, bukan bulan Maret, bulan April, dan
seterusnya.

j. Personalia Tim Pelaksana


1. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : .
b. NIM : .
c. Fak/Program Studi : .
d. Pengalaman wirausaha : .
e. No. Telp/HP : ...
f. Alamat rumah : ...
e. Waktu untuk kegiatan : ........ jam/minggu

2. Anggota Pelaksana (rincian seperti butir 1)


3. Dosen Pendamping (akan ditentukan setelah Social Bussiness Plan lolos)
a. Nama Lengkap :
b. NIP :
c. Pangkat, Golongan :
d. Jabatan Fungsional :
e. Jabatan Struktural : ...
f. Fakultas/Program Studi :
g. Bidang Keahlian : ...
h. Pengalaman wirausaha : ...
i. No. Telpon/HP :
j. Alamat Rumah :
k. Waktu untuk kegiatan : jam/minggu

k. Lampiran
a. Biodata Ketua serta Anggota Kelompok
b. Biodata Dosen Pendamping (akan ditentukan setelah Social Bussiness
Plan lolos)
c. Pernyataan kesanggupan kerjasama dari mitra
d. Pernyataan kesanggupan mengembalikan modal kerja
e. Denah Rencana Lokasi Tempat Usaha

3). Evaluasi Proposal

46
Skema Program Kewirausahaan Sosial

Evaluasi proposal dilakukan oleh tim/panitia ad hoc yang dibentuk oleh


universitas. Format penilaian proposal adalah seperti tabel berikut.

NO KRITERIA BOBOT SKOR BOBOT X SKOR


1 Kemampuan menangkap 25
peluang
usaha
a. Latar belakang
b. Tujuan
c. Manfaat
2 Visibilitas usaha 40
a. Gambaran rencana usaha
b. Jadwal
c. Pengalaman
3 Keberlanjutan usaha 25
a. Target luaran
b. Kelayakan jual
c. Prakiraan profit
4 Penunjang 10
a. Skema pengembalian modal
b. Kesanggupan mitra

C. Tata Cara Pelaporan Hasil Pelaksanaan

1). Format Laporan Pelaksanaan


Laporan ditulis pada kertas HVS berukuran A4 dengan spasi 1,5 dan
margin kiri 4 cm, kanan 3 cm, atas 3 cm, bawah 3 cm, dengan font New Times
Roman 12 . Laporan dibuat rangkap 3, dengan sampul berwarna hijau tua.
Contoh sampul dan lembar pengesahan proposal dapat dilihat pada lampiran.
Sistematika isi laporan adalah sebagai berikut.
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN
ABSTRAK
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I. RENCANA USAHA
A. Latar Belakang
B. Bidang Usaha
C. Lokasi Usaha
D. Modal Usaha
E. Tujuan

47
Skema Program Kewirausahaan Sosial

F. Manfaat di bidang sosial


G. Produk yang Diharapkan
BAB II. PELAKSANAAN USAHA
A. Pelaksanaan Produksi
B. Pelaksanaan Pemasaran
C. Manajemen SDM
D. Laporan Keuangan
E. Hambatan dan Cara Mengatasi
BAB III.RENCANA PENGEMBANGAN
A. Keberlanjutan Usaha
B. Rencana Pengembangan
REFERENSI
LAMPIRAN-LAMPIRAN
1. Dokumentasi Pelaksanaan Usaha
2. Cashflow

2). Lampiran

a). Contoh Lembar Pengesahan Proposal

LEMBAR PENGESAHAN PROPOSAL

1. Judul Usaha : ...............................................................

2. Ketua Pelaksana
a. Nama Lengkap : ...............................................................
b. NIM / NIP : ...............................................................
c. Semester : ............................................................. (bagi mahasiswa)
d. Jurusan/Prodi : ...............................................................
e. Fakultas : ...............................................................
f. Alamat kost : ...............................................................
g. Alamat asal : ...............................................................
h. No. Telpon/HP : ...............................................................

3. Pembimbing
a. Nama Lengkap : ...............................................................
b. NIP : ...............................................................

48
Skema Program Kewirausahaan Sosial

c. Pangkat, gol : ...............................................................


d. Jabatan : ...............................................................
e. Jurusan/Prodi : ...............................................................
f. Fakultas : ...............................................................
g. No. Telpon/HP : ...............................................................

4. Jumlah Anggota : .................................................... orang


5. Rencana Biaya
a. Bantuan PT : Rp. .........................................................
b. Kredit Usaha : Rp. .........................................................
c. Sumber lain : Rp. .........................................................
d. Total : Rp. .........................................................

6. Jangka Waktu pelaksanaan : .....................................................bulan


7. Alamat Lokasi Usaha : .........................................................

Palembang, ................. Mengetahui Ketua Jurusan/Program


Studi

Ketua Tim, Ketua Jurusan

b). Contoh Rencana Anggaran Biaya Dan Perhitungan Profit

1). Rencana Anggaran


Jumlah (Rp)
NO JENIS ANGGARAN
Bantuan PT Kredit Usaha Sumber lain Total
Modal investasi
a. Sarana prasarana
1)
2)
dan seterusnya
b. Peralatan
1)
2)
dan seterusnya
Modal kerja
a. Bahan baku
1)
2)
dan seterusnya
b. Gaji karyawan
1)
2)

49
Skema Program Kewirausahaan Sosial

dan seterusnya
c. Operasional
1)
2)
dan seterusnya
Total

2). Perkiraan Profit

No Jenis Jumlah Harga Harga Jual* Profit


Produk/Jas Pokok (per satuan)
a

Total
Profit:
*) Penentuan harga jual disesuaikan dengan kelayakan sesuai harga pasar

a. Saldo Akhir

1) Saldo akhir = b a
2) Untuk Cicilan Utang : ........................................................
3) Untuk investasi : ...............................................................

c). Contoh Format Pernyataan Kesediaan Kerjasama

SURAT PERNYATAAN KESEDIAAN BEKERJASAMA

Yang bertanda tangan di bawah ini saya,


Nama lengkap :.................................................................................
Jabatan dalam UKM : ................................................................................
Nama UKM : ...............................................................................
Bidang Usaha UKM : ................................................................................
Alamat UKM : ................................................................................
No. Telpon/HP :.................................................................................

Atas nama perusahaan, saya menyatakan bersedia menjalin kerjasama dengan


kelompok mahasiswa wirausaha,

Nama lengkap ketua : ................................................................................


NIM / NIP : ................................................................................
Jurusan/Prodi : ................................................................................
Fakultas : ...............................................................................

50
Skema Program Kewirausahaan Sosial

Judul Usaha : ................................................................................


Alamat Lokasi Usaha : ...............................................................................
Alamat rumah : ................................................................................
No. Telpon/HP :.................................................................................

Nama Dosen Pendamping :.........................................................................


No. Telpon/HP : ................................................................................
Alamat Pendamping : ................................................................................

Demikian surat ini saya buat, agar dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Palembang.,.........................
Pimpinan Perusahaan........

(.........................................)

* Form kerjasama UKM Mitra dikumpulkan setelah tanda tangan kontrak

d). Contoh Format Surat Pernyataan Kesediaan Pengembalian Modal Usaha

SURAT PERNYATAAN KESEDIAAN PENGEMBALIAN MODAL USAHA

Yang bertanda tangan di bawah ini, peserta Program Mahasiswa Wirausaha

Ketua
Nama lengkap : ...........................................................................................
NIM/NIP : ...........................................................................................
Jurusan : ...........................................................................................
Prodi : ...........................................................................................
Fakultas : ...........................................................................................
No. Telp/HP : ...........................................................................................
Nama orangtua : ...........................................................................................
Alamat orangtua : ...........................................................................................
Nama Dosen Pendamping: ..................................................................................

51
Skema Program Kewirausahaan Sosial

Anggota 1

Nama lengkap : ...........................................................................................


NIM/NIP : ...........................................................................................
Jurusan : ...........................................................................................
Prodi : ...........................................................................................
Fakultas : ...........................................................................................
No. Telp/HP : ...........................................................................................
Nama orangtua : ...........................................................................................
Alamat orangtua : ...........................................................................................
Nama Dosen Pendamping: ..................................................................................

Judul Usaha : ...........................................................................................


Alamat Lokasi Usaha : ...........................................................................................

Dengan ini menyatakan sanggup mengembalikan modal usaha pada Program


Kewirausahaan Sosial dengan cara sebagai berikut :
a. Jumlah modal usaha yang diterima : Rp............................................
b. Besar angsuran pengembalian modal usaha : Rp...................... selama
......... kali, terhitung mulai tanggal ..................................... .

Demikian surat pernyataan ini kami buat dengan kesadaran penuh dan tidak ada
paksaan dari pihak manapun. Jika kami melanggar pernyataan ini kami bersedia
menerima sanksi yang ditetapkan oleh universitas.

Palembang .........................
Yang membuat pernyataan,
Tanda tangan Nama terang
................................ .................................
................................ .................................

e). Contoh Format Progress Report

52
Skema Program Kewirausahaan Sosial

LATIHAN

53
Skema Program Kewirausahaan Sosial

KISAH SUKSES PENGUSAHA BURGER (Nopember 10, 2007)


Seorang Lulusan STM bangunan ini mengawali bisnisnya hanya dengan dua
gerobak. Kini, ia memiliki 10 pabrik dan 2.000 outlet Edam Burger yang tersebar
di seluruh Indonesia. Segalanya tentu tak mudah diraih. Bahkan, ia pernah
menjalani hidup yang keras di Jakarta. Orang tua memberi saya nama Made
Ngurah Bagiana. Saya lahir pada 12 April 1956 sebagai anak keenam dari 12
bersaudara. Sejak kecil, saya terbiasa ditempa bekerja keras. Malah kalau
dipikir-pikir, sejak kecil pula saya sudah jadi pengusaha. Bayangkan, tiap pergi ke
sekolah, tak pernah saya diberi uang jajan. Kalau mau punya uang, ya saya
harus ke kebun dulu mencari daun pisang, saya potong-potong, lalu dijual ke
pasar. Setelah lulus STM, saya hijrah ke Jakarta. Saya berjualan telur. Saya beli
satu peti telur di pasar, lalu diecer ke pedagang-pedagang bubur. Ternyata,
usaha saya mandeg. Saya pun beralih menjadi sopir omprengan. Bentuknya
bukan seperti angkot ataupun mikrolet zaman sekarang, masih berupa pick-up
yang belakangnya dikasih terpal. Saya menjalani rute Kampung Melayu -
Pulogadung - Cililitan. Tahun 1985, saya pulang ke kampung halaman. Pada 25
Desember tahun itu, saya menikah dengan perempuan sedaerah, Made Arsani
Dewi. Oleh karena cinta kami bertaut di Jakarta, kami memutuskan kembali ke
Ibu Kota untuk mengadu nasib. Kami membeli rumah mungil di daerah Pondok
Kelapa. Waktu itu saya bisnis mobil omprengan. Awalnya berjalan lancar, tapi
karena deflasi melanda tahun 1986-an, saya pun jatuh bangkrut. Kerugian makin
membengkak. Saya harus menjual rumah dan mobil. Lalu, saya hidup
mengontrak.

NYARIS TERSAMBAR PETIR


Titik cerah muncul di tahun 1990. Saya pindah ke Perumnas Klender. Tanpa
sengaja, saya melihat orang berjualan burger. Saya pikir, tak ada salahnya
mencoba. Saya nekad meminjam uang ke bank, tapi tak juga diluluskan.
Akhirnya saya kesal dan malah meminjam Rp 1,5 juta ke teman untuk membeli
dua buah gerobak dan kompor. ;Bahan-bahan pembuatan burger, seperti roti,
sayur, daging, saus, dan mentega, saya ecer di berbagai tempat. Dibantu
seorang teman, saya menjual burger dengan cara berkeliling mengayuh gerobak.
Burger dagangannya saya labeli Lovina, sesuai nama pantai di Bali yang sangat
indah. Banyak suka dan duka yang saya alami. Susahnya kalau hujan turun,
saya tak bisa jalan. Roti tak laku, Akhirnya, ya, dimakan sendiri. Masih untung

54
Skema Program Kewirausahaan Sosial

karena istri saya bekerja, setidaknya dapur kami masih bisa ngebul. Pernah juga
gara-gara hujan, saya nyaris disambar petir. Ketika itu saya tengah memetik
selada segar di kebun di Pulogadung. Tiba-tiba hujan turun diiringi petir besar.
Saya jatuh telungkup hingga baju belepotan tanah. Rasanya miris sekali.
Di awal-awal saya jualan, tak jarang tak ada satu pun pembeli yang
menghampiri, padahal seharian saya mengayuh gerobak. Mereka mungkin
berpikir, burger itu pasti mahal. Padahal, sebenarnya tidak. Saya hanya mematok
harga Rp 1.700 per buah. Baru setelah tahu murah, pembeli mulai ketagihan.
Dalam sehari bisa laku lebih dari 20 buah. Untuk mengembangkan usaha, saya
mengajak ibu-ibu rumah tangga berjualan burger di depan rumah atau sekolah.
Mereka ambil bahan dari saya dengan harga lebih murah. Sungguh luar biasa,
upaya saya berhasil. Dalam dua tahun, gerobak burger saya beranak menjadi
lebih dari 40 buah. Saya pun pensiun menjajakan burger berkeliling dan
menyerahkan semua pada anak buah. Tak berhenti sampai di situ, tahun 1996
saya mencoba membuat roti sendiri dan membuat inovasi cita rasa saus.
Seminggu berkutat di dapur, hasilnya tak mengecewakan. Saya berhasil
menciptakan resep roti dan saus burger bercita rasa lidah orang Indonesia.
Rasanya jelas berbeda dengan burger yang dijual di berbagai restoran cepat saji.
Sumber : http://cepiar.wordpress.com/2007/11/10/kisah-sukses-pengusaha-
burger/

Pertanyaan diskusi:
1) Identifikasi karakteristik wirausaha apa yang dimiliki oleh tokoh di atas?
2) Bagaimana ia mengatasi kegagalannya?
3) Carilah tokoh serupa di sekitar lingkungan Anda, tanyalah mengapa ia
ingin menjadi wirausaha? Kegagalan dan keberhasilan apa yang pernah
ia alami? Bagaimana ia menyikapi hal tersebut?

55
Prinsip prinsip kewirausahaan

BAB IV
PRINSIP-PRINSIP KEWIRAUSAHAAN

A. Hakikat Wirausaha

Perkembangan ilmu pengetahuan, sosial, ekonomi, politik, budaya,


teknologi, dan kesejahteraan telah menciptakan kesenjangan di antara faktor-
faktor yang mempengaruhi perkembangan tersebut, misalnya antara ilmu
pengetahuan dan sosial, sosial dan politik, budaya dan sosial, atau sosial dan
teknologi. Kesenjangan ini akan menciptakan perubahan status sosial, perilaku,
gaya hidup, kebutuhan, keinginan, selera, dan sebagainya, sehingga pada
akhirnya akan memunculkan peluang bisnis. Munculnya peluang bisnis yang
baru akan menstimulasi terjadinya banyak entrepreneur muda. Hal inilah yang
mendorong timbulnya entrepreneurship seiring dengan perubahan dan
perkembangan ekonomi. Ada beberapa faktor yang menstimulasi spirit of
entrepreneurship, yaitu:
1. Evolusi produk, perubahan produk akan menimbulkan perubahan
kebutuhan;
2. Evolusi ilmu pengetahuan, perubahan ilmu pengetahuan akan
menimbulkan inspirasi produk baru;
3. Perubahan gaya hidup, selera, dan hobi, perubahan gaya hidup akan
menimbulkan keinginan akan produk yang berbeda;
4. Perubahan teknologi, berkembangnya teknologi dan semakin canggihnya
teknologi akan menciptakan produk, suasana, dan gaya hidup yang
berbeda;
5. Perubahan budaya, berkembangnya gaya hidup, pendapatan, selera,
teknologi, dan sebagainya akan mengubah budaya seseorang,
sehingga hal ini mempengaruhi kebutuhan akan produk yang
berbeda di setiap tempat;
6. Perubahan struktur pemerintahan dan politik, perubahan politik akan
mempengaruhi perubahan struktur pemerintahan, yang berujung pada
perubahan peraturan, kebijakan, dan arah perekonomian, sehingga
muncullah sebuah kesenjangan kebutuhan akan produk; dan
7. Intrapreneurship, kemampuan intrapreneurship (entrepreneurship di
dalam sebuah lembaga) yang semakin baik dan kuat akan memunculkan
gairah entrepreneur. Hal Ini disebabkan karena kreativitas, inovasi,

56
Prinsip prinsip kewirausahaan

ketatnya persaingan, perubahan organisasi. Jadi, organisasi secara tidak


langsung mengembangkan jiwa entrepreneurship seseorang.
Beberapa padanan kata entrepreneurship
dalam bahasa Indonesia adalah: (1) kewirausahaan,
(2) kewiraswastaan, (3) kepengusahaan. Namun bila
dicermati, ada hal yang berbeda arti, yaitu antara
wirausaha dan entrepreneur. Wirausaha berasal dari
kata wira artinya berani, dan usaha, yang
m`knanya berani untuk berusaha. Sedangkan
wiraswasta, bermakna berani mengambil resiko secara terkelola. Bila kita
mengamati periembangan arti kata entrepreneur dari waktu ke waktu, maka kita
menyimpulkan bahwa wirausaha dan wiraswasta itu adalah bagian dari makna
entrepreneurship.Dalam Ada berbagai pendapat bahwa setelah memutuskan
untuk masuk ke dalam dunia bisnis,
seseorang lalu memulainya, kemudian
menjalankannya. Apakah hal itu sudah
tepat? Kenyataan yang sering terjadi ialah
bahwa bisnis tersebut akan berakhir
dengan biasa-biasa saja, atau asal jalan, dan bahkan bila kita tidak berhati-hati
bisa berakhir dengan gulung tikar. Olehkarena itu, kita membutuhkan strategi
untuk membangun sebuah bisnis terlebih dahulu sambil Anda menjalankannya.
Menurut Anda, mana yang tepat: menciptakan bisnis yang berkelas,
membuat bisnis yang berkelas, atau membangun bisnis yang berkelas? Ada
banyak alasan yang semuanya baik, tetapi menurut kami, yang lebih tepat
adalah membangun sebuah bisnis yang berkelas. Menciptakan itu lebih ke arah
sesuatu yang baru, padalah konsep bisnis Anda mungkin sudah ada, tetapi
belum terbentuk menjadi sebuah konsep entrepreneurship yang terpadu. Ilmu-
ilmu lain seperti keuangan, marketing, manajemen, produksi, sumber daya
manusia, strategi, dan lain-lain itu memang sudah banyak diberikan di sekolah-
sekolah atau dalam buku-buku karangan pakar-pakar akademik, tetapi yang
belum ada adalah benang merah sebagai tali penghubung antara ilmu yang satu
dengan yang lain untuk digabungkan dengan teori kreativitas sehingga menjadi
rantai yang kokoh dan kuat. Sebagai contoh, ibarat bisnis itu sebuah pohon,
maka biji adalah entrepreneurship, di mana si penanam (pemilik usaha) harus
memilih biji yang mengandung unsur (gen) pembentuk pohon bermutu tinggi.

57
Prinsip prinsip kewirausahaan

Itulah filosofi tentang entrepreneurship. Jadi, hakikat wirausaha adalah bisnis


yang dibangun oleh dasar yang kokoh dari sebuah pengetahuan berwirausaha
(business knowledge) yang di dalamnya terkandung gengen dasar pembentuk
seperti bakal organisasi, sistem, manajemen, strategi, konsep, dan taktik bisnis.
Unsur-unsur tersebut bila dimekarkan, maka bisnis Anda akan hidup (survive)
dan kokoh. Seperti pohon yang berasal dari biji yang baik, akan bisa tumbuh
akar, batang, cabang, ranting, yang kokoh, dan daun yang rimbun, serta buah
yang bermutu sebagaimana diharapkan. Jadi, di dalam membangun sebuah
bisnis, perlu juga untuk mengetahui konsep entrepreneurship yang baik.
Membangun bisnis itu membutuhkan konsep, bukan hanya sekadar membuat
bisnis saja, karena bisnis itu baru bagian dari awalnya. Oleh karena itu, kami
memutuskan untuk lebih memilih kata membangun (to build) bisnis yang
berkelas, bukan membuat (to make) bisnis yang berkelas.

B. Sikap dan Perilaku Wirausaha dan Pelatihan

Banyak orang berpendapat keliru bahwa wirausahawan bukanlah profesi,


yaitu kecenderungan orang untuk memilih
menjadi seorang wirausahawan yang
hanya didorong oleh faktor keterpaksaan,
atau kalau sudah tidak ada jalan keluar,
atau kalau mempunyai modal uang yang
banyak sekali. contoh pada gambar
tersebut yang menunjukan bahwa prilaku seseorang dapat merubah segalanya.

Beberapa sikap dan prilaku wirausaha sebagai berikut :

1. Kreatif dan Inovatif; Seorang wirausahawan harus memiliki daya kreasi


dan inovasi yang lebih dari pebisnis biasa, harus selalu mampu
menciptakan hal-hal baru dan berbeda. Hal-hal yang belum terpikirkan
oleh orang lain sudah terpikirkan olehnya dan dia mampu membuat hasil
inovasinya itu menjadi demand.

58
Prinsip prinsip kewirausahaan

Contohnya: sebuah pena memiliki


lampu berasal dari ide seperti
gambar tersebut.. Contoh lainnya
yang sederhana adalah
pengemasan air minum steril
kedalam botol sehingga air bisa
diminum langsung tanpa dimasak. Banyak sekali contoh lain yang
menunjukkan bahwa kreatifitas dan inovasi adalah salah satu faktor yang
bisa membawa seseorang menjadi wirausahawan sukses. Perlu diingat
bahwa kreatifitas dan inovasi bukan merupakan satu-satunya factor
penentu satu-satunya.
2. Percaya diri, Tegar dan Ulet; Wirausahawan yang berhasil umumnya
memiliki rasa percaya diri yang tinggi, tegar dan sangat ulet. Ia tidak
mudah putus asa, bahkan mungkin tidak pernah putus asa. Masalah akan
dihadapinya dan bukan dihindari. Jika ia membuat salah perhitungan, saat
ia sadar akan kesalahannya, ia secara otomatis juga memikirkan cara
untuk membayar kesalahan itu atau membuatnya menjadi keuntungan. Ia
tidak akan berhenti memikirkan jalan keluar walaupun bagi orang
lain, jalan keluar sudah buntu. Kegagalan akan dibuatnya menjadi
pelajaran dan pengalaman yang mahal. Semangatnya tidak pernah luntur;
ada saja yang membuatnya bisa berpikir positif demi keuntungan yang
dikejarnya. Seorang enterpreneur memiliki KEYAKINAN: pasti berhasil,
pasti bisa, pasti sukses, pasti tercapai, pasti mau, pasti siap, pasti kuat,
pasti sembuh, pasti lulus dan pasti mampu. selalu menetapkan target
tinggi, target sulit,target berat, target jauh dan bahkan target yang menurut
orang lain gila. Seorang enterpreneur memiliki menyatikan dirinya
sebagai pebisnis SEJATI yang bekerja dan bertindak atas dasar
ketulusan, kemudahan, cinta kasih, memaafkan, tanpa pamrih, sabar,
ikhlas, bekerja keras, bekerja tulus, bekerja benar, selalu memberi,
menghargai, berbuat kebaikan
3. Pekerja Keras; Waktu kerja bagi seorang wirausahawan tidak ditentukan
oleh jam kerja. Saat ia sadar dari bangun tidurnya, pikirannya sudah
bekerja membuat rencana, menyusun strategi atau memecahkan masalah.
Dalam setiap aktifitasnya ia tetap berpikir dan selalu menghubungkan
semua hal dengan upaya-upaya untuk inovasi usahanya.

59
Prinsip prinsip kewirausahaan

4. Pola Pikir Mampu Melakukan Beberapa Hal Sekaligus (Siap dan Bisa Apa
Saja); Seorang wirausahawan sejati mampu melihat sesuatu dalam
perspektif/dimensi yang berlainan pada satu waktu (multi-dimensional
information processing capacity). Bahkan mampu melakukan multi-
tasking (melakukan beberapa hal sekaligus).Kemampuan inilah yang
membuatnya piawai dalam menangani berbagai persoalan yang
dihadapi oleh perusahaan. Semakin tinggi kemampuan seorang
wirausahawan dalam multitasking, semakin besar pula kemungkinan
untuk mengolah peluang menjadi sumber daya produktif.
5. Mampu Menahan Nafsu untuk Cepat Menjadi Kaya; Wirausahawan yang
bijak biasanya hemat dan sangat berhati-hati dalam menggunakan
uangnya terutama jika ia dalam tahap awal usahanya. Setiap pengeluaran
untuk keperluan pribadi dipikirkannya secara serius sebab ia sadar
bahwa sewaktu-waktu uang yang ada akan diperlukan untuk modal
usaha atau modal kerja. Keuntungan tidak selalu menetap, kadang ia
harus merugi dan perusahaan harus tetap dipertahankan. Oleh sebab itu,
jika ia memiliki keuntungan 10, hanya sepersekian yang digunakan untuk
keperluan pribadinya. Sebagian besar disimpannya untuk digunakan bagi
kemajuan usahanya atau untuk tabungan jika ia terpaksa mengalami
kerugian. Wirausahawan yang bijak juga mengerti bahwa membangun
sebuah perusahaan yang kokoh dan mapan memerlukan waktu bertahun-
tahun bahkan tidak jarang belasan atau puluhan tahun.Seorang
wirausahawan yang memulai usahanya dari skala yang kecil hingga
menjadi besar akan mampu menahan nafsu konsumtifnya. Baginya,
pengeluaran yang tidak menghasilkan akan dianggap sebagai sebuah
kemewahan. Jika tabungannya tidak cukup untuk membeli kemewahan
itu, dia akan menahan diri sampai tabungannya jauh berlebih.Ia juga
menghargai keuntungan yang sedikit demi sedikit dikumpulkannya.
Keuntungan itu diinvestasikannya ke dalam usaha lainnya sehingga lama-
ke lamaanhartanya bertambah banyak. Dalam hal ini memang ada
benarnya pepatah yang mengatakan: hemat pangkal kaya. Sebaliknya,
wirausahawan yang tidak bijak seringkali tidak dapat menahan nafsu
konsumtif. Keuntungan dihabiskan untuk berbagai jenis kemewahan dan
hal yang tidak produktif sehingga tidak ada lagi tabungan untuk perluasan
perusahaan atau untuk bertahan pada masa sulit. Perusahaan manapun
tidak lama bertahan.

60
Prinsip prinsip kewirausahaan

6. Berani Mengambil Resiko; Seorang wirausahawan berani mengambil


risiko. Semakin besar risiko yang diambilnya, semakin besar pula
kesempatan untuk meraih keuntungan karena jumlah pemain semakin
sedikit. Tentunya, risiko-risiko ini sudah harus diperhitungkan terlebih
dahulu.
7. Peka, Teliti, Cermat dan Bertindak Cepat; Wirausawahan yang sukses
selalu bekerja dan bertindak dengan cermat, teliti dan memiliki kepekaan
terhadap semua potensi yang mengancam maupun potensi yang potensial
untuk diubah sebagai peluang dan mampu serta selalu berusaha bertindak
cepat dan bersungguh-sungguh mengerjakan sampai berwujud dan
memberi hasil.
8. Fokus Dan Tidak Mudah Tidak Betah; Wirausahawan selalu bekerja dan
bertindak secara fokus dan tidak mudah tidak betah. Kegagalan tidak akan
menghalanginya untuk melakukan apa yang sudah diyakini.
Wirausahawan tidak mudah
berpindah kerja atau berpindah
produk, karena ia yakin bahwa
untuk membangun image
diperlukan waktu.
9. Siap Bekerja Melebihi Rata-Rata;
Wirausahawan menyediakan
dirinya untuk bekerja melebihi rata-rata orang lain, bersedia bekerja lebih
lama, bekerja lebih banyak, bekerja lebih sulit, bekerja lebih berat dan
bekerja lebih banyak.

C. Pola Pikir Wirausahawan

Banyak mitos, opini, dan pandangan yang menjadi panutan bagi orang
yang ingin memulai berwirausaha. Mitos tersebut sangat mengganggu pikiran
orang, sering menimbulkan rasa ketakutan yang lebih besar dari sebelumnya,
atau bahkan berusaha menghindarinya, atau melemahkan kinerjanya sebagai
wirausahawan. Banyak orang yang tidak berani menjadi seorang wirausahawan
hanya dikarenakan bahwa dirinya percaya pada perkataan orang, yaitu bahwa
menjadi seorang wirausahawan adalah bukan jalan hidupnya atau bukan
takdirnya. Mitos ini begitu melekat di dalam hati mereka sejak lama sehingga
tidak terbersit keinginan untuk menjadi seorang wirausahawan. seperti contoh

61
Prinsip prinsip kewirausahaan

gambar yang menunjukan Perlu dipikirkan bahwa hidup itu adalah suatu pilihan.
Sebenarnya kita dihadapkan dengan banyak pilihan, dan hanya kita yang
membatasi banyaknya pilihan. Sukses atau gagal, tidak ada seorangpun yang
akan peduli. Tidak ada orang lain yang mampu mengubah sukses atau gagalnya
masa depan kita, kecuali diri kita sendiri. Sebagian orang berpikir pula bahwa
menjadi wirausahawan itu adalah karena faktor keturunan. Orang yang berpikir
seperti ini melihat bahwa orang-orang yang sukses menjadi wirausahawan itu
merupakan anak atau cucu dari seorang wirausahawan juga, dan bisnis yang
digeluti merekapun sama. Lama kelamaan pendapat ini dibenarkan dan
mengkristal menjadi sebuah mitos yang dipercaya turun temurun. Namun
sesungguhnya tidaklah demikian, karena semua orang pada dasarnya bisa
menjadi wirausahawan.
Sering juga mitos menghantui orang yang sebenarnya ingin menjadi
wirausahawan. Mereka menunggu adanya suatu peluang untuk memulai suatu
bisnis dan terus menunggu. Hal ini dikarenakan mereka melihat seorang
wirausahawan dapat sukses karena mendapatkan suatu peluang yang bagus.
Apakah Anda melihat bagaimana dia menemukannya? Apakah Anda mengetahui
cerita sebelumnya tentang mereka? Anda melihatnya setelah sukses, tetapi tidak
prosesnya. Anda menunggu datanya peluang yang sama? Ketahuilah bahwa apa
yang merupakan peluang emas bagi orang lain belum tentu merupakan peluang
emas bagi Anda. Ingatlah bahwa peluang itu dicari, bukannya ditunggu. Peluang
yang terbaik itu berasal dari diri Anda sendiri, bukan dari orang lain, karena
sesungguhnya Anda pun mempunyai jiwa wirausaha.
Modal memang diperlukan untuk sebuah bisnis, tetapi modal yang mana?
Banyak jenis modal yang dibutuhkan oleh seorang wirausahawan untuk sukses.
Namun modal uang bukan satu-satunya faktor yang membuat seorang
wirausahawan sukses. Banyak orang yang ketika ditanya mengapa mereka tidak
ingin menjadi wirausahawan, mereka menjawab: itu bukan bakatku, aku tidak
mempunyai keahlian bisnis, atau aku tidak cocok menjadi wirausahawan.
Ingatlah bahwa menjadi seorang wirausahwan juga bias dipelajari dan
dikembangkan, asalkan kita punya tekad yang kuat untuk meraihnya dan punya
pedoman pengetahuan untuk memulai dan menjalankan bisnis dengan benar,
seperti sebuah peta bagi Anda yang sedang bepergian.
Seorang wirausahawan memerlukan karakter yang kuat dengan ciri-ciri
sebagai berikut:

62
Prinsip prinsip kewirausahaan

1. Pandai mengelola ketakutannya. Seorang wirausahawan pandai


mengelola ketakutannya untuk membangkitkan keberanian dan
kepercayaan dirinya dalam menghadapi suatu risiko.
2. Mempunyai iris mata yang berbeda dengan yang lain. Dalam hal ini, iris
mata adalah cara seseorang memandang sesuatu (masalah kesulitan,
perubahan, diri sendiri, lingkungan, trend dan kejadian) untuk
memunculkan kreativitasnya agar tercipta ide- ide, gagasan, konsep
dan mimpinya, lalu mencoba untuk meningkatkan nilai. Jadi, seorang
yang mempunyai jiwa wirausaha yang kuat itu mempunyai pola pandang
akan sesuatu yang berbeda dengan orang lain.
3. Pemasar sejati atau penjual yang ulung. Untuk menjadi ulung
membutuhkan keterampilan (skill). Tanpa skill, Anda akan memulai
dengan lebih berat dan membutuhkan lebih banyak waktu. Skill ini akan
mempermudah Anda dalam membangun bisnis Anda, meningkatkan
Kecepatan pertumbuhan bisnis Anda, dan mengurangi ketergantungan
modal yang besar.
4. Melawan arus dan menyukai tantangan baru. Seorang wirausahawan
cenderung tidak suka mengikuti arus tengah, atau terperangkap di
dalam kehidupan yangmembosankan.Dia selalu tidak bisa diam, berpikir
dan terus berpikir.
5. Mempunyai keteguhan hati yang tinggi. Dalam hal ini perbedaan seorang
wirausahawan sejati dengan yang biasa saja adalah dalam hal
ketangguhan, mengatasi perbedaan, dan bisa menjaga keutuhan.
Keteguhan hati itu membuat orang berbeda di dalam memandang suatu
kegagalan. Kegagalan tidak ada, yang ada hanyalah sebuah rintangan
besar, sangat besar dan juga kecil. Kegagalan adalah persepsi orang
yang merasa buntu dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan dan
cenderung tidak ingin berusaha untuk mencari jalan
keluar/pemecahannya. Kegagalan bukanlah ujung dari perjalanan.
6. Tidak menerima apa yang ada di hadapannya dan selalu mencari yang
terbaik. Seorang wirausahawan diharapkan mampu memberikan apa
yang lebih baik lagi bagi pelanggan. Seorang yang ingin selalu sempurna
(perfectionist) seperti pisau bermata dua. Pertama ialah bahwa ia
berdampak baik untuk berusaha mencapai yang terbaik dan memberikan
yang terbaik. Kedua, ia berdampak buruk bagi dirinya sendiri bila ia tidak
mampu menanggung senjata kesempurnaan dirinya dan pikirannya

63
Prinsip prinsip kewirausahaan

sehingga berakibat fatal, seperti frustrasi dan putus asa karena idealisme
yang mengubur impiannya.

D. Etika Wirausaha

Berbicara tentang etika perlu didahului pemahaman tentang moral. Moral


sangat erat kaitannya dengan pembicaraan agama dan budaya, artinya kaidah-
kaidah dari moral wirausahawan sangat dipengaruhi oleh ajaran serta budaya
yang dimiliki oleh wirausahawan sendiri. Setiap agama mengajarkan pada
umatnya untuk memiliki moral yang terpuji, apakah itu dalam kegiatan
mendapatkan keuntungan dalam berwirausaha. Jadi, usaha yang dilandasi oleh
nilai-nilai moral agama sudah jelas merupakan suatu yang terpuji dan pasti
memberikan dampak positif bagi kedua belah pihak. Umpamanya, dalam
melakukan transaksi, jika dilakukan
dengan jujur dan konsekwen, jelas kedua
belah pihak akan merasa puas dan
memperoleh kepercayaan satu sama
lain, yang pada akhirnya akan terjalin
kerja sama yang erat saling
menguntungkan, sebagai contoh sebuah
pedagang dan pembeli pada gambar
tersebut. Moral dan usaha (bisnis) perlu terus ada agar terdapat dunia usaha
yang benar-benar menjamin tingkat kepuasan, baik bagi konsumen maupun
wirausahawan. Isu yang mencuat adalah karena semakin pesatnya
perkembangan informasi tanpa diimbangi dengan dunia usaha yang ber "moral",
maka dunia ini akan menjadi suatu rimba modern dimana yang kuat menindas
yang lemah. Dengan demikian, keadilan dan pemerataan yang diamanatkan
UUD 1945 Pasal 33 tidak akan pernah terwujud. Moral lahir dari orang yang
menerapkan ajaran agama dan budaya. Agama telah mengatur seseorang
dalam melakukan hubungan dengan orang lain, sehingga dapat dinyatakan
bahwa orang yang mendasarkan usahanya pada agama akan memiliki moral
yang terpuji dalam berwirausaha.
Berdasarkan ini sebenarnya moral dalam berwirausaha tidak akan bisa
ditentukan dalam bentuk suatu peraturan yang ditetapkan oleh pihak-pihak
tertentu.Moral harus tumbuh dari diri seseorang dengan pengetahuan ajaran
agama dan budaya, serta mampu menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari.

64
Prinsip prinsip kewirausahaan

Apabila moral merupakan sesuatu yang mendorong orang untuk melakukan


kebaikan, maka etika bertindak sebagai rambu-rambu yang merupakan
kesepakatan secara rela dari semua anggota suatu kelompok. Dubisnis yang
bermoral akan mampu mengembangkan etika (patokan/ramburambu) yang
menjamin kegiatan usaha yang seimbang, selaras, dan serasi.
Etika sebagai rambu-rambu dalam suatu kelompok masyarakat akan
dapat membimbing dan mengingatkan anggotanya kepada suatu tindakan yang
terpuji (good conduct) yang harus selalu dipatuhi dan dilaksanakan. Etika di
dalam berwirausaha sudah tentu harus disepakati oleh orang-orang yang berada
dalam kelompok usaha tersebut serta kelompok yang terkait lainnya.

Dalam menciptakan etika berwirausaha, ada beberapa hal yang perlu


diperhatikan, antara lain ialah:

1. Pengendalian diri

Para wirausahawan dan pihak yang terkait mampu mengendalikan diri


mereka masing-masing untuk tidak memperoleh sogokan dalam bentuk apapun
dari siapapun. Di samping itu, wirausahawan sendiri tidak mendapatkan
keuntungan dengan jalan main curang dan menekan pihak lain. Dalam hal
penggunaan keuntungannya pun tetap harus memperhatikan kondisi masyarakat
sekitarnya, walaupun keuntungan itu merupakan hak bagi wirausahawan. Inilah
etika bisnis yang "etis".

2. Pengembangan tanggung jawab sosial (social responsibility)

Wirausahawan di sini dituntut untuk peduli dengan keadaan masyarakat,


bukan hanya dalam bentuk "uang" dengan jalan memberikan sumbangan,
melainkan lebih dari itu. Sebagai contoh, kesempatan yang dimiliki oleh
wirausahawan untuk menjual pada tingkat harga yang tinggi sewaktu terjadinya
lonjakan permintaan harus menjadi perhatian dan kepedulian bagi
wirausahawan, dengan tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk meraup
keuntungan yang berlipat ganda. Jadi, dalam keadaan lonjakan permintaan
wirausahawan harus mampu mengembangkan sikap tanggung jawab terhadap
masyarakat sekitarnya.

65
Prinsip prinsip kewirausahaan

3. Mempertahankan jati diri dan tidak mudah untuk terombangambing oleh


pesatnya perkembangan informasi dan teknologi

Etika berwirausaha bukan berarti anti perkembangan informasi dan


teknologi, tetapi informasi dan teknologi itu harus dimanfaatkan untuk
meningkatkan kepedulian bagi golongan yang lemah. Lebih dari pada itu adanya
tranformasi informasi dan teknologi jangan sampai menghilangkan nilai budaya
yang kita miliki.

4. Menciptakan persaingan yang sehat

Persaingan dalam dunia usaha perlu


untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas, tetapi
persaingan tersebut tidak mematikan yang lemah.
sebagai contoh produk minuman pepsi dan minuman coke pada gambar tersebut
Sebaliknya, harus terdapat jalinan yang erat antara wirausahawan yang satu
dengan yang lain,.sehingga dengan perkembangan usahanya yang besar
mampu memberikan dampak positif yang luas (spread effect) terhadap
perkembangan sekitarnya. Untuk itu dalam menciptakan persaingan perlu ada
kekuatan-kekuatan yang seimbang dalam dunia usaha tersebut.

5. Menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan"

Dunia usaha seharusnya tidak memikirkan keuntungan hanya pada saat


sekarang saja, tetapi perlu memikirkan bagaimana dengan keadaan di masa
mendatang. Berdasarkan ini jelas bahwa wirausahawan dituntut untuk tidak
meng-"eksploitasi" tanpa mempertimbangkan lingkungan dan keadaan di masa
datang walaupun saat sekarang merupakan kesempatan untuk memperoleh
keuntungan besar.

6. Menghindari sifat 5K (Katabelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi dan


Komisi)

66
Prinsip prinsip kewirausahaan

Sebagai contoh, jika wirausahawan itu memang tidak wajar untuk


menerima kredit karena persyaratan tidak bisa dipenuhi, jangan menggunakan
"katabelece" dari "koneksi" serta melakukan "kongkalikong" dengan data yang
salah. Juga jangan memaksa diri untuk mengadakan kolusi" serta memberikan
"komisi" kepada pihak yang terkait.

7. Mampu menyatakan yang benar itu benar

Jika wirausahawan sudah mampu menyatakan yang benar itu benar,


yakinlah tidak akan terjadi lagi apa yang dinamakan dengan korupsi, manipulasi
dan segala bentuk permainan curang dalam
berwirausaha ataupun berbagai kasus
yang mencemarkan nama bangsa dan
negara.

8. Menumbuhkan sikap saling percaya antara golongan wirausahawan

Untuk menciptakan kondisi berwirausaha yang "kondusif" harus ada


saling percaya (trust) antara golongan pengusaha kuat dengan golongan
pengusaha lemah agar pengusaha lemah mampu berkembang bersama dengan
pengusaha lainnya yang sudah besar dan mapan. Contohnya sekelompok
pengusaha yang saling percaya pada gambar di tersebut. Kepercayaan yang
selama ini hanya ada di antara golongan kuat saja, saat sekarang sudah berada
pula pada golongan menengah sehingga dunia bisnis lebih berkembang.

9. Konsekuen dan konsisten dengan aturan main yang telah disepakati


bersama

Etika berwirausaha yang telah disepakati tidak akan dapat terlaksana


apabila para pelaku tidak mentaatinya secara konsekuen dan konsisten.
Seandainya semua etika bisnis telah disepakati, sementara ada "oknum", baik
wirausahawan sendiri maupun pihak yang lain yangmencoba untuk melakukan
"kecurangan" demi kepentingan pribadi, jelas semua konsep etika berwirausaha
itu akan "gugur" satu demi satu.

67
Prinsip prinsip kewirausahaan

10. Menumbuhkembangkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa


yang telah disepakati

Jika etika bisnis telah dimiliki oleh semua pihak, maka akan tercipta
ketenteraman dan kenyamanan dalam berwirausaha.

LATIHAN

1. Pada masa sekarang berwirausaha sudah tidak asing bagi yarakat, walaupun
tidak semua sukses. Dalam latihan ini (tugas kelompok 3-5 orang), Anda
diminta untuk memilih satu bentuk usaha yang dimiliki oleh salah satu
peserta diskusi kelompok. Diskusikan pertanyaan berikut ini:
a) Bagimana anda memulai usaha ?
b) Apa harapan awal berwirausaha?
c) Bagaimana harapan itu dapat terpenuhi setelah satu tahun berjalan?
d) Apa langkah yang dilakukan setelah wirausahanya berjalan lebih dari
3 tahun?
e) Bagaimana pola yang digunakan untuk mengelola wirausahanya?
f) Bagaimana posisinya di antara kompetitornya?
g) Apakah posisi kewirausahaan saat ini merupakan posisi terbaik yang
dapat diraih dari harapan awal?

68
Prinsip prinsip kewirausahaan

h) Apa kelebihan dan bagaimana memperbaiki kekurangannya agar


dapat bersaing secara beretika dalam berwirausaha?
2. Menurut Anda, mana yang lebih cocok untuk kondisi Anda, berkaitan dengan
hakikat membangun wirausaha atau membuat wirausaha? Apa alasan Anda?
3. Apakah ada perbedaan sikap dan perilaku wirausahawan dengan pegawai?
Mana yang paling mendominasi perbedaan tersebut?
4. Banyak mitos yang mengucilkan wirausaha, padahal kenyataannya berbeda.
Bagaimana pola pikir untuk menjadi wirausahawan yang sukses?
5. Etika yang didasarkan atas nilai-nilai moral dan budaya, mampu mendorong
wirausahawan mengelola dengan baik. Jelaskan, bagaimana kaitan antara
etika dengan pengelolaan kewirausahaan yang baik?

69
Prinsip prinsip kewirausahaan

70
Kepemimpinan Dalam Pengelola usaha

BAB V
KEPEMIMPINAN DALAM PENGELOLA USAHA

A. Konsep Kepemimpinan

Para wirausahawan rata-rata adalah seorang pemilik usaha (owner), dan


biasanya menjadi seorang pemimpin usaha juga. Untuk menjadi pemimpin yang
baik, Anda membutuhkan suatu karakter yang kuat. Contoh seorang pemimipin
pada gambar tersebut. Pemimpin selalu hadir di
saat yang sulit atau krisis dan yang paling akhir
kali menikmati kesuksesan. Ia tidak keras kepala
karena kekuasaannya, melainkan kuat
kepribadiannya, mempunyai konsep yang jelas
dan prinsip-prinsip yang dipegang teguh serta
diakuinya bahwa itu yang benar.

Ada tiga karakter kuat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu:
1. Tidak sekedar berbicara, tetapi selalu memberi contoh. Ia haruslah yang
pertama bertindak ketika bahaya datang.
2. Bakat pemimpin bisa berupa bawaan, tetapi karakter kuat bias dibentuk,
karena hal itu merupakan sebuah pilihan.
3. Karakter dapat menopang kesuksesan jangka panjang bersama orang
lain. Banyak orang berbakat yang sudah menjadi pemimpin namun jatuh
di saat-saat bisnis justru sedang berkembang, karena mereka tidak
mempunyai karakter yang kuat.

Ada empat fungsi kepemimpinan:


1. Perintis (pioneer), seorang pemimpin adalah penunjuk jalan yang mampu
membuka jalan yang rumit sekalipun. Walaupun penuh rintangan, ia
mampu keluar dari tekanan fisik dan mental. Intuisi seorang pemimpin
harus tajam, visioner, dan mampu mengelola risiko, sehingga anak buah
melakukan tugas dengan lebih mudah.
2. Penyeimbang (balancer), seorang pemimpin itu bisa membuat kekacauan
menjadi selaras dan bijaksana dalam mengatasi konflik-konflik yang
terjadi. Ia mampu menyatukan budaya karena visinya yang kuat. Ia

70
Kepemimpinan Dalam Pengelola usaha

adalah penyeimbang antara kekurangan dan kelebihan yang ada, dan ia


membuat segala sesuatu menjadi tenang dan seimbang.
3. Pandai memberdayakan (empowering), setiap orang pasti mempunyai
bakat yang terpendam. Ada yang sudah mengetahui tetapi belum digali,
dan ada yang tidak mengetahui dan belum menggalinya, atau bahkan
tidak mau menggali. Seorang pemimpin mempunyai kemampuan untuk
melihat lebih dalam lewat pemikiran yang kuat dan mampu membuat
seseorang yang sebelumnya tidak mampu menjadi hebat dan maju.
4. Menjadi panutan. Pemimpin yang baik selalu memberi contoh terlebih
dahulu, bukan memerintahkan anak buahnya untuk mencoba dahulu
sebelum dirinya, karena mereka belum mengetahui jalan keluarnya.
Seorang pemimpin tidak pernah membiarkan bawahannya bingung
dalam bekerja tanpa arah dan aturan-aturan yang jelas. Bila kita
melihat, pada umumnya pemimpin tidak memiliki banyak variasi visi.
Misi hidup seorang pemimpin bisa digolongkan menjadi empat bagian,
yaitu: popularitas, prestasi, pengakuan diri, dan ketenangan jiwa.
Walaupun berbeda, semua itu bertujuan satu, yaitu kebahagiaan hidup.

B. Implementasi Prinsip-prinsip Kepemimpinan dalam Pengelolaan

Implementasi prinsip-prinsip kepemimpinan memerlukan pengenalan


terhadap karakter dari diri sendiri. Dengan memahami kemampuan diri, maka
seorang pemimpin dapat membentuk pola kepemimpinan yang merupakan ciri
dari seorang pemimpin yang sukses dalam berwirausaha, yaitu:

1. Motivator Ulung

Seorang wirausahawan yang sukses pasti mampu mengelola usahanya


dan seorang perencana strategi yang andal, motivator ulung bagi timnya,
ambisius, dan total dalam bekerja karena ia mencintai pekerjaannya. Sebagai
contoh, kebanyakan tim olahraga yang menjuarai kejuaraan nasional ataupun
dunia, mempunyai seorang motivator ulung sebagai manager di dalam timnya.
Begitu pula bisnis. Bisnis itu adalah permainan sebuah tim, karena suatu saat
Anda mungkin juga langsung mengelola sebuah tim SDM yang akan bekerja
untuk Anda. Sebuah tim bisnis yang sukses pasti memiliki seorang motivator

71
Kepemimpinan Dalam Pengelola usaha

ulung di belakangnya, dapat berperan sebagai manajer atau pemimpin, yang


bercirikan sebagai berikut:
a. Ia tidak senang disanjung, tetapi lebih suka menyanjung tim untuk maju.
b. Ia tidak suka nge-boss karena mengandalkan kekuasaannya, tidak
suka memerintah, tidak one man show, atau lari dari tanggungjawab.
Kekuasaan itu baik, sedangkan yang jahat itu adalah orang yang
menggunakan kekuasaannya untuk tujuan pribadi.
c. Ia lebih suka melayani, bukan untuk dilayani. Keinginannya adalah tim
yang tangguh, bukan hanya seorang yang serba bias (superman).
d. Ia mampu memotivasi tim secara menggelora, semangat yang tidak
pernah padam, dan seolah-olah tim itulah pemiliknya.
e. Ia membuat sukses anak buahnya, namun bukan dirinya yang tampil.
Selain ciri-ciri di atas, masih banyak ciri lainnya. Seorang motivator ulung
mempunyai wibawa yang hebat. Ia mampu membaca perasaan, keinginan,
kelemahan dan kekuatan individu maupun tim. Anda, para usahawan, disarankan
untuk mempelajari dan menjadikan diri Anda sebagai seorang motivator ulung
bagi diri sendiri dan orang lain.

2. Pendengar yang Baik

Anda tidak akan dapat menjadi seorang motivator ulung bila lebih senang
membicarakan diri Anda sendiri. Keinginan tim harus Anda beli, dan bukan
Anda yang menjual keinginan Anda kepada tim. Oleh karena itu, jadilah
pemimpin yangmempunyai kontrol emosi dan perasaan, sehingga Anda menjadi
seorang pendengar yang baik dan hebat.
Pemimpin akan disenangi jika ia mampu
mendengarkan apa yang tim inginkan, seperti
contoh pemimpin yang mendengarkan klainnya
seperti gambar tersebut. selanjutnya
memotivasi tim untuk mewujudkannya agar visi
bisnis menjadi target kerja mereka. Caranya yaitu jangan cenderung memotivasi
secara face to face atau langsung, tetapi biarlah Anda menjadi pelatih (coach)
yang hebat. Tanpa itu, tim tidak akan menyukai Anda dan tidak mau secara mati-
matian memperjuangkan kepentingan Anda.

3. Pemimpin yang hebat tidak ingin menjadi yang nomor satu

72
Kepemimpinan Dalam Pengelola usaha

Pemimpin adalah orang yang memimpin, jadi harus yang pertama, dan
yang pertama belum tentu yang nomor satu. Seorang pemimpin yang handal
selalu yang pertama melangkah untuk membuka lahan atau yang pertama
maju menyerang, karena ia mempunyai strategi, visi, dan misi yang kuat. Setelah
itu barulah tim akan mengikuti di belakangnya. Tetapi saat merayakan
kemenangan, seorang pemimpin justru harus membiarkan timnya yang pertama
menikmati kemenangan itu, bukan dirinya. Seorang pemimpin tidak menyukai
untuk disebut-sebut sebagai yang nomor satu, terhebat, terpandai, terbaik, ter-
dan ter- yang lain. Seperti Contoh pada gambar seorang pemimpin tersebut. Ia
harus seperti seorang dirigen dalam sebuah orkestra, di mana saat timnya
melaksanakan pekerjaan untuk melayani penonton, ia justru menghadap kepada
timnya dahulu, bukan ke penonton.. Saat penonton tepuk tangan, ia masih tetap
menghadap ke arah timnya, baru kemudian ia berbalik untuk menghormati
penonton. Berilah motivasi dan kepercayaan bagi tim Anda. Bawahan yang
berbuat salah jangan malah Anda maki-maki atau copot, karena belum tentu ia
lemah. Mungkin ia membutuhkan motivasi atau posisinya yang tidak tepat.
Bimbinglah ia agar menjadi hebat di bidangnya.

4. Pemimpin yang baik senang memuji hasil kerja bawahannya dan


memotivasi yang kurang mampu

Karyawan akan lebih menyukai bekerja di tempat di mana ia merasa


hebat. Setiap manusia mempunyai ego yang kuat. Mereka justru haus untuk
disenangkan, bukan Anda yang ingin disenangkan. Dari pemimpinlah semua
masalah berawal. Rata-rata dirinya ingin
disenangkan oleh bawahan, dihormati, dan
disanjung bahwa ia hebat. Jika itu terjadi,
saat itulah kiranya bisnis Anda mulai rapuh
dan berisapsiap menghadapi jurang
kehancuran. Bisnis akan terlihat maju atau
tidak, dari gaya pemimpinnya. Ingat, bila bisnis Anda ingin maju, maka bisnis
Anda harus dipegang oleh seorang pemimpin yang berpikiran lebih maju ke
depan. Anda jangan ingin menjadi yang nomor satu, tetapi biarlah para bawahan
Anda yang merasa terhebat di bidangnya, dan Andalah yang akan menikmati
bisnis Anda tersebut.

73
Kepemimpinan Dalam Pengelola usaha

5. Sopan dan menghargai orang lain

Kata yang paling tepat adalah bahwa bisnis itu memanusiakanmanusia.


Setiap bawahan mempunyai perasaan, hati, emosi dan keangkuhan. Jadi,
janganlah sombong, tetapi hargailah perasaan mereka, maka mereka akan
mematuhi apa yang Anda inginkan.

6. Antisipatif dan proaktif

Bisnis itu seperti kapal di tengah samudera luas. Terkadang ketika laut
tenang dan udara juga cerah, tiba-tiba hujan deras dan gelombang badai datang.
Seorang nahkoda harus selalu mempunyai kiat yang jitu sebagai antisipasi
menghadapi gelombang dan badai tersebut. Nahkoda harus berpikir proaktif,
yaitu mempersiapkan hal-hal yang paling buruk yang akan terjadi pada bisnisnya.
Seorang pemimpin harus berpikir sepuluh langkah ke depan, bertindak untuk
mengantisipasi kemungkinan dan resiko terburuk, serta harus proaktif untuk
mencegah hal-hal yang negatif bagi bisnisnya. Pemimpin seperti ini akan
membuat tim dan anak buahnya bangga karena mempunyai seorang pemimpin
yang hebat dan bijaksana. Mereka menganggap bahwa ilmu yang dimiliki
pemimpin mereka seperti lautan yang tiada batas, dan hal ini membuat mereka
menjadi lebih pandai dan ingin menyamai pemimpin mereka.

7. Fleksibel, lentur dan pemaaf

Seorang bos terkadang bersikap kasar, terutama di saat sedang marah.


Ia bisa menggebrak meja, berterika menggelegar, tanpa memperdulikan situasi di
sekelilingnya. Selain itu seringkali pendapatnya ingin selalu diikuti, serta tidak
lentur dalam aturan main, kecuali untuk dirinya sendiri. Padahal seorang
pemimpin lebih baik daripada bos. Seorang pemimpin suka mencari jalan keluar
dari pada membuat masalah. Ia adalah seorang selalu dapat menyelesaikan
masalah, sehingga ia tidak mengandalkan organisasinya untuk menjadi tameng
kesalahannya. Pemimpin yang hebat merupakan orang yang pemaaf dan
menerima keadaan bahwa hal ini adalah kesalahan dirinya dan bukan kesalahan
bawahannya, karena ia ternyata kurang antisipasif dan proaktif. Ia berpikir bahwa
lebih baik memperbaiki dari pada berkutat dalam kemelut yang tidak ada habis-
habisnya. Ia menyadari bahwa mereka adalah manusia yang bisa berbuat salah,

74
Kepemimpinan Dalam Pengelola usaha

asalkan jangan terus menerus. Untuk itulah seorang pemimpin harus mempunyai
pisau yang tajam untuk mengatasi masalah-masalah yang terjadi dan membuat
semua menjadi jelas. Ia harus cepat mengambil keputusan dalam situasi dan
waktu yang tepat, tidak normatif sekali, tetapi fleksibel, namun tidak lemah.

8. Visioner dan perencana strategi (strategic thinker)

Seorang pemimpin adalah seperti nahkoda, di mana ia tahu bahwa di


seberang sana ada sebuah pulau yang menjadi tempat untuk berlabuh dan
tujuan berlayar. Ia mengetahui ada karang dan menghindarinya. Seorang
pemimpin menguasai ilmu astronomi, di mana ia dapat memperkirakan situasi
yang akan terjadi bila tampak sesuatu tanda-tanda ke arah sana. Seorang
pemimpin bisnis harus dan mutlak adalah seorang visioner dan karena visioner
itulah maka ia perlu menjadi seorang perencana strategi yang handal.

9. Tenang dalam kondisi apapun

Banyak pemimpin pandai yang tidak mempunyai ketenangan,sehingga


mereka sering gelisah, murung, dan bingung di depan bawahannya. Hal itu
mengakibatkan motivasi tim menurun. Seorang pemimpin harus tenang dalam
situasi kritis, sekalipun terjadi kekacauan. Ia harus menenangkan perasaannya
agar mampu membawa tim kepada situasi yang lebih baik. Karena
ketenangannya maka ia akan berpikir jernih, sabar, dan cerdik sehingga dapat
mengambil keputusan yang tepat bagi kemenangan timnya.

10. Ahli dalam segala bidang

Seorang pemimpin harus belajar lebih giat daripada bawahannya. Ia


harus mempelajari semua skill agar mampu menjadi pelatih yang handal. Ia
harus mampu mengarahkan orang yang lemah, karena memang ia mempunyai
keahlian sebagai motivator. Seorang pemimpin bisa memecahkan masalah
karena ia memahami masalah yang terjadi dari pengalamannya. Seorang
pemimpin dinilai berhasil bila mempunyai kemampuan dan kemauan belajar yang
tinggi. Ia tidak cepat frustrasi, tetapi mencari sisi positif untuk diambil sebagai
ilmu dan informasi yang berharga. Ia harus memiliki pengalaman dalam banyak
bidang agar mampu mengurangi risiko dan tidak mengalami kehancuran dalam
bisnisnya. Ingat, seorang wirausahawan itu bukan risk taker melainkan risk
manager.

75
Kepemimpinan Dalam Pengelola usaha

11. Rendah hati, tidak sombong dan Humoris

Sudah menjadi keharusan bahwa jika Anda adalah pemimpin yang


rendah hati, maka bawahan Anda akan senang berada di dekat Anda, sehingga
mereka mau mengungkapkan isi hati dan menghormati Anda. Di saat-saat
tertentu, seorang pemimpin perlu membuat suasana tidak dingin, kaku, dan
bte. Ia harus mampu mencairkan suasana dengan gurauan yang segar tanpa
mengurangi rasa hormatnya sebagai pemimpin. Oleh karena itu, seorang
pemimpin harus sering mengumpulkan gurauan yang segar untuk mengisi waktu
yang kaku, dingin, dan terkadang cenderung monoton, misalnya dalam rapat,
diskusi ringan, dan lain-lain.

13. Orang yang terakhir merayakan kesuksesan

Seorang wirausahawan yang hebat itu tidak sombong, bossy atau tinggi
hati. Ketika bisnisnya jalan pertama kali, seorang pempimpinlah yang mengambil
resikonya, tetapi ketika kesuksesan terjadi pertama kali, ia haruslah menjadi
yang paling akhir menikmatinya.

LATIHAN

Diskusikanlah dalam kelompok kecil:


1. Apakah kepemimpinan dengan karakter kuat diperlukan untuk mengelola
usaha? Apa alasannya?
2. Karakter kepemimpinan mana yang sangat diperlukan untuk mengelola
usaha? Urutkanlah dari yang paling utama!
3. Bagaimana menurut Anda hubungan antara pimpinan perusahaan,
manajer perusahaan serta pemilik perusahaan
4. Jelaskan kepemimpinan yang berkarakter kuat!
5. Apa saja prinsip-prinsip kepemimpinan yang cocok dalam pengelolaan
usaha?
6. Mengapa sertifikasi instruktur sangat diperlukan untuk meningkatkan
kepercayaan pelanggan?
Pertanyaan Kasus
Kasus :

76
Kepemimpinan Dalam Pengelola usaha

Sofjan Wanandi : Ketua Umum Apindo


Usahawan dari Grup Gemala Sofjan Wanandi (62), Rabu (14/5), terpilih sebagai
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menggantikan
Suparwanto. "Hal pertama yang kami kerjakan adalah konsolidasi pengusaha,
dengan tujuan ikut member kontribusi membangun republik ini," tutur Sofjan
Wanandi hari Kamis 15/5/03. Apindo di bawah kepengurusan baru akan segera
membentuk sekretariat kerja bersama dengan serikat buruh untuk memperlancar
komunikasi dan menyelesaikan persoalan-persoalan perburuhan secara bipartit.
Dengan cara itu diharapkan iklim investasi bias membaik karena keributan antara
pengusaha dan buruh bisa dihindarkan. Selain itu Apindo akan bekerja sama
dengan Organisasi Buruh Internasional (ILO) untuk meningkatkan kualitas buruh
dan sekaligus pengusaha sehingga dapat terbentuk kemitraan yang bertujuan
memperbaiki iklim investasi karena semakin baiknya saling pengertian. "Kami
akan membuka Sekretariat Bersama dengan buruh sehingga kalau ada masalah
bipartit bisa kita selesaikan sendiri sebelum ribut. Jadi tidak usah lewat
pemerintah dulu selama kita bisa selesaikan masalah-masalah kita," ujar Sofjan.
Komunikasi
Menurut Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jacob Nuwa Wea, ada 68
serikat buruh, sementara yang memiliki anggota hanya sekitar 38 buah. "Kami
usulkan para pimpinan serikat buruh ketemu paling sedikit sekali sebulan
sehingga komunikasi lancar agar persoalan bisa kita selesaikan sebelum ribut.
Kami betul-betul ingin membuat suatu iklim investasi yang kondusif karena
banyak dari pengusaha asing selalu mempersoalkan masalah buruh ini sebagai
salah satu dari masalah besar mereka," ujarnya. Tahun lalu, katanya, setidaknya
43 perusahaan Korea dan 10 perusahaan Jepang hengkang dari Indonesia
antara lain karena persoalan buruh di samping masalah legal dan keamanan.
Selain itu, daya kompetisi buruh Indonesia juga sudah kalah dari Cina dan
Vietnam.
Sumber:http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/s/sofjan-wanandi/index.shtml
Pertanyaan diskusi:
1. Jelaskan orientasi kepemimpinan yang dilakukan oleh tokoh di atas!
2. Jelaskan kelebihan dan kelemahan strategi kepemimpinan yang ia terapkan!

77
Kreativitas dan Inovasi

BAB VI
KREATIVITAS DAN INOVASI

A. KREATIVITAS DAN INOVASI

Seorang wirausahawan harus memiliki ide-ide baru yang dihasilkan dari


suatu kreativitas. Sebagai Contoh sebuah organisasi yang menunjukan
kreativitas dan inovasi dalam berkarya pada gambar tersebut. Kreativitas inilah
yang akan membawa wirausahawan untuk ber-inovasi terhadap usahanya.
Naisbitt dan Aburdene dalam Reinventing the Corporation menyatakan begitu
perlunya suatu basis pendidikan yang dapat menciptakan kretaivitas dalam suatu
masyarakat informasi baru. Mereka menyebutnya dengan proses TLC (Teaching,
Learning, and creativity) yaitu suatu proses pembelajaran bagaiman berpikir
(learning how to think), pembelajaran bagaimana belajar (learning how to learn),
dan pembelajaran bagaimana menciptakan sesuatu (learning how to create).
Kreatif dan inovatif adalah karakteristik personal yang terpatri kuat dalam diri
seorang wirausaha sejati. Bisnis yang tidak dilandasi upaya kreatif dan inovatif
dari sang wirausaha biasanya tidak dapat berkembang abadi. Lingkungan bisnis
yang begitu dinamis menuntut wirausaha untuk selalu adaptif dan mencari
terobosan terbaru. Karakter cepat berpuas diri dan cenderung stagnan sama
saja membawa bisnis ke arah kematian.
Pemahaman kreatif dan inovatif sering kali dipertukarkan satu sama lain.
Menurut Zimmerer dkk (2009) kreatifitas adalah kemampuan untuk
mengembangkan ide-ide baru dan untuk menemukan cara-cara baru dalam
melihat masalah dan peluang. Inovasi adalah kemampuan untuk menerapkan
solusi kreatif terhadap masalah dan peluang untuk meningkatkan atau untuk
memperkaya kehidupan orang-orang. Selanjutnya Ted Levitt (dalam Zimmerer,
2009) menyatakan bahwa kreatifitas memikirkan hal-hal baru dan inovasi
mengerjakan hal-hal baru. Jadi kreatif adalah sifat yang selalu mencari cara-cara
baru dan inovatif adalah sifat yang menerapkan solusi kreatif. Kreatif tapi tidak
inovatif adalah mubazir karena ide hanya sebatas pemikiran tanpa ada realisasi.
Semua bisnis yang maju dan berkembang hingga kini berpangkal pada upaya
kreatif dan inovatif. Banyak restoran waralaba asing yang telah mengglobal dan
berdiri sejak puluhan tahun yang lalu selalu menunjukkan karakter ini. Sepertinya

78
Kreativitas dan Inovasi

begitu mudah dan sederhana. Tetapi banyak wirausaha yang abai ketika bisnis
telah dirasakan mencapai tingkat kemapanan. Kreatifitas dan inovasi mungkin
dapat dipandang sebagai upaya yang mengganggu keseimbangan yang telah
tercipta.
Kreatif dan inovatif dapat diterapkan secara sederhana. Kuncinya adalah
kepekaan dalam mencium peluang dan kemampuan membaca pasar. Seorang
member MRC misalnya. Ketika pelanggan sudah mulai jenuh dengan fried
chicken, ia melihat masih ada peluang lain yang dapat dikembangkan.
Berhubung gerainya ada di kantin sekolah, ia mencoba memahami selera siswa.
Kebanyakan siswa suka bumbu keju. Ia memiliki ide bagaimana kalau keju
digabung dengan ayam. Pemikiran kreatif ini kemudian dikembangkan menjadi
produk yang dinamai: cheesy chicken. Hasilnya lumayan bagus. Setelah tes
pasar dan dijual terbatas, pelanggan begitu menyukai menu ini. Pelanggan selalu
mencari-cari dan selalu terjual habis.

1. Pengertian Kreativitas

Kreativitas adalah inisiatif terhadap suatu produk atau proses yang


bermanfaat, benar, tepat, dan bernilai terhadap suatu tugas yang lebih bersifat
heuristic daripada algorithmic (Dollinger, 1995 h 65).
Heuristic adalah sesuatu yang merupakan pedoman, petunjuk, atau
panduan yang tidak lengkap yang akan menuntun kita untuk mengerti,
mempelajari, atau menemukan sesuatu yang baru. Heuristic bagaikan suatu map
(peta buta) yang belum jelas dimana kita dan kemana kita
akan berjalan. Heuristic menstimulasi seseorang untuk belajar lebih dalam untuk
dirinya, seperti bagaimana menuju kota B dari kota A dengan petunjuk map yang
kurang jelas tersebut.
Algorithm adalah suatu mekanikal set dari aturan-aturan, suatu
perencanaan operasi yang telah diset sebelumnya untuk pemecahan suatu
masalah, pengambilan keputusan, dan penyelesaian suatu konflik. Contohnya,
melempar satu koin mata uang pada gambar tersebut adalah suatu algorithm
karena jumlah sisi dari koin dan indikator dari kepala atau ekor telah ditetapkan
dengan jelas sehingga hasilnya dapat diperkirakan jika koin tersebut
dilemparkan.

79
Kreativitas dan Inovasi

Rockler dalam Innovative Teaching Strategies mendefinisikan bahwa;


kretaivitas adalah seseorang yang dengan sadar mendapatkan suatu perspektif
baru dan sebagai hasilnya membawa sesuatu yang baru.
Kreativitas tersebut melalui suatu proses yang sangat penting dalam
tindakan yang orisinil, yang berhubungan dengan produksi, menghasilkan
sesuatu yang unik dari seseorang di satu pihak, dan material, kejadian, atau
lingkungan dari kehidupannya dilain pihak (h 36-38).
Kreativitas didefinisikan pula sebagai kemampuan untuk menciptakan
kemampuan yang baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah dan
sistem masalah atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan
baru antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya (Munandar, 1999).
Agar kreativitas dapat terwujud maka dibutuhkan adanya dorongan dari dalam
diri individu (motivasi instrinsik) maupun dorongan dari lingkungan (motivasi
ekstrinsik). Motivasi instrinsik adalah kecenderungan atau dorongan pada
seseorang untuk mewujudkan potensi dan dirinya, serta dorongan untuk
berkembang dan menjadi matang, juga dorongan untuk mengungkapkan dan
mengaktifkan semua kapasitas seseorang. Dorongan ini merupakan motivasi
primer untuk kreativitas ketika individu membentuk hubungan-hubungan baru
dengan lingkungannya dalam upaya menjadi diri sendiri sepenuhnya. Dorongan
ini ada pada setiap orang dan sifatnya internal namun membutuhkan kondisi
yang tepat untuk diekspresikan (Munandar, 1999).

a. Kreativitas Seseorang
Secara umum kreativitas seseorang dapat diformulasikan sebagai berikut;
1. Kreativitas dimiliki oleh setiap orang (baik pada tingkatkemampuan yang
kecil maupun besar)
2. Kreativitas memerlukan pencapaian dari suatu perspektif yang baru.
Paling tidak baru untuk orang tersebut
3. Perspektif yang baru ini dicapai dengan membawa bersama pengalaman
yang tidak berhubungan sebelumnya.
4. Kreativitas mendambakan sesuatu yang lebih berkualitas
5. Seseorang harus mendekati lingkungannya dengan cara yang holistic
6. Orang yang kreatif harus berfantasi, bermain, dan berpikir
7. Orang yang kretaif bersikap spontan, fleksibel, dan terbuka terhadap
pengalaman
8. Spontanitas dari manusia adalah sumber dari kreativitas (Ibid)
Atribut orang yang kreatif .(Roe, dikutip dari Kao, 1989) adalah;
1. Kesungguhan dan terbuka terhadap pengalaman

80
Kreativitas dan Inovasi

2. Suka memperhatikan melihat sesuatu dengan cara yang tidak biasa


3. Menerima dan merekonsiliasi sesuatu yang bertentangan
4. Toleransi terhadap sesuatu yang tidak jelas
5. Independen dalam mengambil keputusan, berpikir dan bertindak
6. Memerlukan dan mengasumsikan otonomi
7. Percaya diri dan tidak menjadi subjek dari kendali kelompok
8. Gigi dan Rela mengambil resiko yang diperhitungkan

Raudsepp menambahkan lebih lanjut atribut orang kreatif sebagai berikut;


1. Sensitif terhadap permasalahan
2. Lancar-kemampuan untuk men-generik ide-ide yang banyak
3. Fleksibel, keaslian dan Responsif terhadap perasaan
6. Terbuka terhadap penomena yang belum jelas
7. Motivasi dan Bebas dari rasa takut gagal
9. Berpikir dalam imajinasi dan Selektif

Zimmerer (2009) menegaskan bahwa kreatifitas dapat diajarkan dan


kreatifitas individual dapat ditingkatkan. Caranya? Ia menguraikan 11 cara untuk
meningkatkan kreatifitas individual yaitu :
1) Beri kesempatan diri Anda menjadi kreatif.
Berani untuk berpikir kreatif tanpa takut dibilang bodoh oleh orang lain.
Ide-ide cemerlang biasanya lahir dari hal-hal yang mungkin dianggap
bodoh dan tak berarti.
2) Beri pikiran Anda masukan segar setiap hari.
Agar kreatif, otak perlu distimulasi dengan hal-hal baru yang variatif.
Mendengarkan radio dan berganti-ganti setiap hari, mendengarkan
beraneka ragam jenis musik atau melakukan hal-hal lain yang
sebelumnya tidak pernah dilakukan.
3) Amati berbagai produk dan jasa perusahaan lainnya, terutama yang
berada dalam pasar yang benar-benar berbeda. Tidak ada salahnya
meminjam ide perusahaan lain, kemudian mengembangkan menjadi
inovasi yang brilian.

4) Sadari kekuatan kreatif dari kesalahan.


Orang bijak mengatakan agar kita selalu belajar dari kesalahan yang
diperbuat. Orang kreatif mengatakan kita dapat memperoleh ide dari
kesalahan yang kita buat. Kisah Charles Goodyear menunjukkan hal
tersebut. Setelah bekerja selama lima tahun untuk memformulasikan
kombinasi karet, belerang dan timah putih, pada malam yang dingin

81
Kreativitas dan Inovasi

tahun 1839, tanpa sengaja Charles menumpahkan sedikit campuran


tersebut pada kompor kerjanya. Campuran tersebut meleleh
membentuk senyawa baru yang selama ini dicari-cari!
5) Bawalah selalu buku harian untuk mencatat pikiran dan ide Anda.
Ide-ide kreatif kadang muncul tanpa disengaja dan di waktu yang tak
terduga. Daripada cepat terlupa, ada baiknya membawa buku kecil
untuk mencatat ide-ide yang mungkin akan muncul tiba-tiba.
6) Dengarkan ide orang lain.
Ide tidak selalu datang dari diri kita sendiri. Ide dapat datang dari orang
lain atau bahkan kompetitor kita sendiri. Jadi selalu dengarkan orang
lain karena mungkin ia akan menghadirkan ide cemerlang buat kita.
7) Dengarkan apa kata pelanggan.
Mendengarkan pelanggan wajib hukumnya. Mereka mengkonsumsi
produk kita dan sekaligus menjadi sumber ide yang tiada habisnya.
8) Berbicara dengan anak kecil. Anak-anak tidak membatasi pemikiran
mereka. Mereka begitu bebas mengungkapkan kreatifitas mereka tanpa
batas. Mereka dapat menjadi sumber ide yang berharga.
9) Simpan kotak mainan di kantor Anda dan selalu membaca buku.
Mainan-mainan kecil seperti yoyo, gasing dan lain-lain dapat menjadi
sumber inspirasi. Ketika sedang bingung, Anda dapat mengambil satu
dan memikirkan bagaimana benda tersebut berkaitan dengan masalah
Anda. Baca buku mengenai cara merangsang kreatifitas dan
mengambil kursus kreatifitas. Memahami prinsip-prinsip kreatifitas akan
sangat membantu meningkatkan kemampuan kreatif kita.

2. Pengertian Inovasi

Salah satu karakter yang sangat penting dari wirausahawan adalah


kemampuannya berinovasi. Tanpa adanya inovasi perusahaan tidak akan dapat
bertahan lama. Contohnya beberapa pedagang kain dan baju yang menjual
beraneka ragam bentuk dan warna pada gambar tersebut .Hal ini disebabkan
kebutuhan, keinginan, dan permintaan pelanggan berubah-ubah. Pelanggan
tidak selamanya akan mengkonsumsi produk yang sama. Pelanggan akan
mencari produk lain dari perusahaan lain yang dirasakan dapat memuaskan
kebutuha mereka. Untuk itulah diperlukan adanya inovasi terus menerus jika
perusahaan akan berlangsung lebih lanjut dan tetap berdiri dengan usahanya.
Inovasi adalah suatu penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada
atau yang sudah dikenal sebelumnya. orang atau wirausahawan yang slalu

82
Kreativitas dan Inovasi

berinovasi, maka ia sapat dikatakan sebagai seorang wirausahwan yang inovatif.


seseorang yang inovatif akan selalu berupaya melakukan perbaikan, menyajikan
sesuatu yang baru/unik yang berbeda dengan yang sudah ada. inovatif juga
merupakan sikap penting bagi yang hendaknya dimiliki oleh seorang
wirausahawan. wirausahawan yang slalu melakukan inovasi dalam ushanya.
maka keuntungan dan kesuksesan akan ia dapat. inovatif merupakan implikasi
dari karakteristik wirausahawan yang mampu membawa perubahan pada
lingkungan sekitarnya. inovatif secara tidak langsung menjadi sifat pembeda
antara wirausahawan dengan orang biasa, maupun pengusaha. seorang
wirausahawan akan selalu memikirkan untuk melakukan sesuatu yang berbeda,
tidak seperti yang dipikirkan dan dilakukan oleh kebanyakan orang. kreatif dan
inovatif adalah suatu kemampuan untuk memindahkan sumber daya yang
kurang produktif menjadi sumber daya yang produktif sehingga memberikan nilai
ekonomis. baik langsung maupun tidak langsung seorang wirausahawan adalah
orang yangmampu membawa perubahan pada lingkunganya. disisi lain ia juga
orang yang sanggup menerima perubahan yang terjadi dan menyikapi
perubahan tersebut dengan positif. ia juga berani mengambil resiko berhasil
ataupun gagal di setiap jalan yang ia ambil. wirausahawan mampu bertahan
pada kondisi perekonomian yang sulit dan serba kalut. karena disaat semua
resah, ia memiliki kreasi dan inovasi untuk memindahkan sumber daya yang
kurang produktif menjadi sumber daya yang produktif sehingga memberikan nilai
ekonomis.
Definisi Inovasi menurut Para Ahli

Everett M. Rogers (1983), Mendefisisikan bahwa inovasi adalah suatu


ide, gagasan, praktek atau objek/benda yang disadari dan diterima
sebagai suatu hal yang baru oleh seseorang atau kelompok untuk
diadopsi.
Stephen Robbins (1994), Mendefinisikan, inovasi sebagai suatu gagasan
baru yang diterapkan untuk memprakarsai atau memperbaiki suatu
produk atau proses dan jasa.

Berdasarkan pengertian tersebut, Robbins lebih memfokuskan pada tiga hal


utama yaitu :
1. Gagasan baru yaitu suatu olah pikir dalam mengamati suatu fenomena
yang sedang terjadi, termasuk dalam bidang pendidikan, gagasan baru ini

83
Kreativitas dan Inovasi

dapat berupa penemuan dari suatu gagasan pemikiran, Ide, sistem


sampai pada kemungkinan gagasan yang mengkristal.
2. Produk dan jasa yaitu hasil langkah lanjutan dari adanya gagasan baru
yang ditindak lanjuti dengan berbagai aktivitas, kajian, penelitian dan
percobaan sehingga melahirkan konsep yang lebih konkret dalam bentuk
produk dan jasa yang siap dikembangkan dan dimplementasikan
termasuk hasil inovasi dibidang pendidikan.

3. Upaya perbaikan yaitu usaha sistematis untuk melakukan


penyempurnaan dan melakukan perbaikan (improvement) yang terus
menerus sehingga buah inovasi itu dapat dirasakan manfaatnya.

Sifat Perubahan Dalam Inovasi Ada 6 Kelompok Yaitu:


1. Penggantian (substitution)
Misalnya : Inovasi dalam penggantian jenis sekolah, penggantian bentuk
perabotan, alat-alat atau sistem ujian yang lama diganti dengan yang
baru.

2. Perubahan(alternation)
Misalnya : Mengubah tugas guru yang tadinya hanya bertugas mengajar,
ditambah dengan tugas menjadi guru pembimbing dan penyuluhan /
mengubah kurikulum sekolah yang semula bercorak teoretis akademis
menjadi kurikulum dan mata pelajaran yang berorientasi bernuansa
keterampilan hidup praktis.

3. Penambahan (addition)
Misalnya : Adanya pengenalan cara penyusunan dan analisis item tes
objektif di kalangan guru sekolah dasar dengan tidak mengganti atau
mengubah cara-cara penilaian yang sudah ada.

4. Penyusunan kembali (restructturing)


Misalnya : Upaya menyusun kembali susunan peralatan, menyusun
kembali komposisi serta ukuran dan daya tampung kelas, menyusun
kembali urutan mata-mata pelajaran / keseluruhan sistem pengajaran,
sistem kepangkatan, sistem pembinaan karier baik untuk tenaga edukatif
maupun tenaga administratif, teknisi, dalam upaya perkembangan
keseluruhan sumber daya manusia dalam sistem pendidikan.

84
Kreativitas dan Inovasi

5. Penghapusan (elimination)
Contohnya : Upaya menghapus mata-mata pelajaran tertentu seperti
mata pelajaran menulis halus, atau menghapus kebiasaan untuk
senantiasa berpakaian seragam.

6. Penguatan (reinforcement)
Misalnya : Upaya peningkatan atau pemantapan kemampuan tenaga dan
fasilitas sehingga berfungsi secara optimal dalam permudahan
tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.

3 . Prinsip-prinsip Inovasi

Drucker (1985) mengatakan bahwa dalam melakukan inovasi perlu


memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut;
1. Sesuatu yang harus dilakukan
a. Menganalisi peluang
b. Apa yang harus dilakukan untuk memuaskan peluang
c. Sederhana dan terarah
d. Dimulai dari yang kecil
e. Kepemimpinan
2. Sesuatu yang tidak harus dilakukan
a. mencoba untuk menjadi yang pandai
b. mencoba ingin mengerjakan sesuatu yang banyak
c. mencoba inovasi untuk masa yang akan dating
3. Kondisi
a. Memerlukan ilmu pengetahuan
b. Membangun keunggulannya sendiri
c. Inovasi adalah efek dari ekonomi dan masyarakat

4. Peluang Inovasi

Inovasi dapat bersumber dari adanya peluang-peluang sebagai berikut;


1. Penelitian dan Pengembangan
2. Keberhasilan/kegagalan
3. Penolakan pelanggan
4. Kebutuhan, keinginan, dan daya beli masyarakat
5. Persaingan

85
Kreativitas dan Inovasi

6. Perubahan demografi
7. Perubahan selera
8. IPTEK baru.

4.1 Penelitian dan Pengembangan

Penelitian dan pengembangan merupakan konsep yang relative masih


baru di bidang pendidikan. Ilmu pengetahuan dapat dianggap sebagai strategi
mencari pengetahuan yang kurang lebih bersifat abstrak yang dinamakan teori.
Sedangkan pengembangan adalah penerapan pengetahuan yang terorganisasi
untuk membantu memecahkan masalah dalam masyarakat termasuk di bidang
pendidikan. Sebuah pertanyaan menarik yang muncul bagi para peneliti,
mengingat saat ini penelitian pengembangan menjadi suatu metode penelitaian
yang cukup popular dan banyak dipilih sebagai metode penelitian dalam segala
bidang kajian, termasuk dalam dunia pendidikan. Penelitian merupakan kegiatan
pengumpulan, pengolahan, analisis, dan penyajian data yang dilakukan secara
sistematis dan objektif untuk memecahkan suatu persoalan atau ingin menguji
suatu hipotesis untuk mengembangkan prinsip-prinsip umum, sedangkan
pengembangan adalah proses atau cara yang dilakukan untuk mengembangkan
sesuatu menjadi baik atau sempurna. Kalau arti penelitian dan arti
pengembangan dikaitkan menjadi satu kata utuh yaitu penelitian dan
pengembangan, maka dapat diartikan sebagai kegiatan pengumpulan,
pengolahan, analisis, dan penyajian data yang dilakukan secara sistematis dan
objektif yang disertai dengan kegiatan mengembangan sebuah produk untuk
memecahkan suatu persoalan yang dihadapi.
Inovasi dapat dihasilkan melalui suatu penelitian dan pengembangan
(research and development). Perusahaan-perusahaan yang telah maju atau
besar umumnya mempunyai satu divisi khusus untuk melakukan penelitian dan
pengembangan bagi bagi produk-produk barunya. Penelitian dan pengembangan
ini merupakan suatu inovasi yang sistematis dengan menggunakan metode-
metode ilmiah. Perusahaan ini berprinsip harus melakukan inovasi terus menerus
bagi kelangsungan hidupnya.

4.2 Keberhasilan/kegagalan

Keberhasilan/kegagalan baik dari perusahaanan sendiri maupun dari


perusahaan lain dapat dijadikan sumber ide bagi suatu inovasi. Keberhasilan

86
Kreativitas dan Inovasi

peluncuran suatu produk merupakan ide untuk melakukan inovasi bagi produk
yang lainnya. Produk inovasi tersebut dapat sama tetapi dengan perbedaan
spesifikasinya. Misalnya, munculnya kendaraan diesel Isuzu Panther merupakan
sumber inovasi bagi Toyota Kijang untuk memproduksi kendaraan diesel Kijang
baru dengan bahan bakar solar. Peluncuran suatu produk juga dapat menjadi
sumber inovasi bagi produk suplemen lainnya. Misalnya, produk asesoris
kendaraan merupakan suplemen bagi produk tersebut diluncurkan.

4.3 Kebutuhan, Keinginan,


dan Dayabeli Masyarakat

Inovasi dapat bersumber dari


memperhatikan kebutuhan, keinginan
dan daya beli masyarakat. contohnya,
semua masyarakat mempunyai
kebutuhan akan perumahan. Namun
keinginan dari individu masyarakat tersebut berbeda-beda sesuai dengan selera
dan keadaan ekonomi mereka. Selanjutnya permintaan akan perumahan akan
dipengaruhi oleh daya beli masyarakat. Seorang yang butuh perumahan
mungkin menginginkan rumah yang besar dengan harga yang lebih mahal.
Namun karena kemampuan daya belinya tidak memadai maka ia harus membeli
rumah yang kecil yang terjangkau oleh daya belinya. Seorang pemimpin
perusahaan dalam hal ini harus membuat perumahan dengan tipe-tipe yang
sesuai dengan keinginan dan daya beli mereka.
1. Kebutuhan fisik (physiological needs) Yaitu kebutuhan dasar hidup
seperti air, udar, sandang, pangan, perumahan, pendidikan, dan
kesehatan.
2. Kebutuhan keamanan (safety needs) Yaitu kebutuhan akan
perlindungan terhadap bahya, terbebas dari rasa ketakutan, dan
keamanan.
3. Kebutuhan sosial (social needs) Yaitu kebutuhan akan rasa dicintai,
dimiliki, berafiliasi, dan diakui
4. Kebutuhan penghargaan (esteems needs) Yaitu keutuhan akan
prestasi, pengakuan dan status
5. Kebutuhan aktualisasi diri (self-actualization needs) Yaitu kebutuhan
untuk mengaktualisasikan kemampuan potensial dengan
menggunakan bakat yang kreatif.

87
Kreativitas dan Inovasi

4.4 Persaingan

Persaingan adalah sumber inovasi yang sangat besar andilnya dalam


peluncuran produk-produk baru. Dengan adanya persaingan perusahaan akan
terdorong untuk melakukan inovasi. Sebagai
contoh, persaingan dalam produk kosmetik
pada gambar tersebut, dari beberapa merek
menyebabkan perusahaan meningkatkan
penelitian dan pengembangan akan produknya
untuk menciptakan produk-produk baru
dengan spesifikasi dan keunggulannya
masing-masing.

4.5 Demografi

Perubahan demografi dapat merupakan sumber inovasi untuk


menyesuaikan produk produk yang ada atau membuat produksi yang sama
sekali baru. Perubahan demografi meliputi; usia, seks, juml;ah keluarga, siklus
kehidupan keluarga, pendapatan, kedudukan, pendidikan, agama, ras,
kebangsaan.

4.6 Perubahan Selera

Konsumen dapat diasumsikan mudah tertarik dengan sesuatu yang baru


atau berbeda dari apa yang biasa dilihatnya sehri-hari. Konsumen mempunyai
keinginan untuk tampil beda dengan yang lainnya sesuai dengan seleranya
masing-masing. Perubahan harus cermat memperhatikan selera para konsumen
dan perubahannya untuk segera melakukan inovasi bagi produknya.

4.7 Ipteks baru

Munculnya ilmu pengetahuan dan teknologi baru untuk memudahkan


memproduksi suatu barang atau jasa dapat merupakan sumber inovasi. Contoh
dengan adanya komputer maka produksi dalam industry percetakan dan grafika
mengalami revolusi. Percetakan dapat

88
Kreativitas dan Inovasi

menampilkan gambar seperti poto dengan lebih mudah dan cepat.Revolusi ini
mengakibatkan perubahan dalm perwajahan kemasan (packaging) suatu barang.
Sumber inovasi menurut Drucker (1995) adalah sebagai berikut:
a. Tidak diperkirakan (the unexpected)
o Sukses yang tidak diperkirakan
o Kegagalan yang tidak diperkirakan
b. Ketidaksesuaian (incongruities) dan Proses kebutuhan (process need)
d. Struktur pasar dan industri (industry and market struktures)
e. Demografi (demographics) dan Pengetahuan baru (new knowledge)

B. Inovasi Produk

Inovasi produk merupakan suatu proses yang berusaha memberikan


solusi terhadap permasalahan yang ada. Permasalahan yang sering terjadi di
dalam bisnis adalah produk yang bagus tetapi mahal atau produk yang murah
tetapi tidak berkualitas. Sebagai pelaku usaha, kita harus peka terhadap
keinginan client kita yang kadang sulit kita terima. Keinginan yang paling umum
adalah client menginginkan produk yang bagus dengan harga yang murah.
Untuk menciptakan produk yang berkualitas dengan harga yang terjangkau kita
harus jeli melihat berbagai peluang untuk mewujudkannya. Peluang-peluang
yang mungkin terjadi adalah

1. Mencoba mengurangi biaya produks.i Ini bisa dilakukan misalnya


menambah kuantitas pembelian bahan baku untuk mendapatkan
potongan harga. Hal lain adalah melakukan outsourcing ke perusahaan
lain untuk mencegah biaya sdm yang lebih tinggi. Atau kita juga bisa
mencari celah-celah yang bisa mengoptimalkan proses produksi
2. Memberikan layanan lain yang bisa memberikan subsidi harga.
Contoh yang terkenal adalah produsen kamera. Harga kamera akan terus
turun tetapi harga lensa tetap mahal. Pada lini ini mungkin untung
penjualan kamera sedikit, tetapi untung dari penjualan lensa cukup tinggi
sehingga bisa menopang penjualan kamera.

Inovasi produk dapat meliputi beberapa kategori yaitu;

89
Kreativitas dan Inovasi

a. Produk baru yang menciptakan pasar baru secara keseluruhan ( new


to the world products)
b. Produk baru yang memungkinkan perusahaan untuk masuk dan
membangun pasar untuk pertama kalinya (new product lines)
c. Produk baru yang melengkapi kini produk yang telah ada (addition to
existing product lines)
d. Produk baru yang menyajikan perbaikan kinerja atau nilai yang
dirasakan oleh pelanggan lebih besar yang menggantikan produk
yang ada (improvements in revision to existing products)
e. Produk yang sudah ada namun ditargetkan ke pasar atau segmen
yang baru (repositionings)
f. Produksi baru yang menyajikan produk yang sama tetapi dengan
harga yang lebih rendah (cost reductions) (Booz, Allen dan
Hamilton, 1982)

Area inovasi

90
Kreativitas dan Inovasi

Mensiasati perkembangan ekonomi dunia yang semakin hari semakin


mendekati realisasi pasar bebas dunia, maka semua perusahaan, terutama di
Indonesia, sudah bukan saatnya
lagi hanya membicarakan daya
saing, atau efektifitas dan
effisiensi, tetapi sudah harus
action: menggerakkan inovasi.
Inovasi yang appropriate akan
dapat memampukan manajemen
berjalan secara efektif dan efisien,
sehingga daya saing perusahaan bisa semakin melambung tinggi. Ketika
membicarakan inovasi, maka sebenarnya inovasi tidak bisa dibatasi. Inovasi
sangatlah luas, batasnya adalah kemampuan berfikir manusia. Namun untuk
masuk ke area yang tidak terbatas tersebut, mungkin perlu pengantar contoh-
contoh inovasi yang sudah banyak kita kenal. Dalam tulisan ini, inovasi-inovasi
yang bisa untuk menjadi contoh a.l. inovasi produk, inovasi proses, inovasi
servis, inovasi organisasi, dan inovasi model bisnis.

1. Inovasi produk. Perusahaan yang selalu melakukan inovasi produk


misalnya produsen sepeda motor. Setelah memproduksi mesin 2 tak dan 4
tak non-matic, saat ini yang banyak diminati konsumen adalah mesin
matic. Inovasi dilanjutkan dengan jenis rem, mulai dari rem tromol, rem
cakram, hidrolik, dll., dsb.
2. Inovasi proses. Contoh perusahaan yang banyak berinovasi proses
adalah pabrik jamu dan pabrik obat-obatan. Kalau jaman dahulu, sebelum
merdeka, jamu disajikan di gelas oleh penjual jamu gendong keliling, saat
ini jamu sudah disajikan dalam sachet, tinggal dibuka, diminum di mana
saja dan kapan saja, tidak diperlukan lagi penjual jamu keliling. Di
Perusahaan obat-obatan juga telah banyak dilakukan inovasi proses, yang
sebelumnya menggunakan mesin dengan kapasitas 10.000 kapsul per
hari misalnya, telah diganti dengan mesin baru yang bisa memproduksi
10.000 kapsul per menit, dengan menggunakan tenaga kerja yang sama.

3. Inovasi servis. Inovasi ini banyak dilakukan oleh perusahaan pemasaran


retail atau penjual jasa. Para penjual retail saat ini tidak hanya menjajakan
dagangannya di toko, kios atau warung, tetapi telah ada yang beinovasi

91
Kreativitas dan Inovasi

jemput bola, dengan mendatangi konsumen. Begitu juga dengan penjual


jasa, kalau sebelumnya jasa kursus/pelatihan dilayani secara
berkelompok, beberapa waktu kemudian sudah ada jasa kursus/pelatihan
door to door, atau pelatihan private.

4. Inovasi organisasi. Saran saya, sebaiknya semua perusahaan


melakukan gebrakan inovasi organisasi. Organisasi yang vertikal dan
nggedabyah, perlu direvisi menjadi horizontal/flat atau teamwork dan
ramping. Sudah terbukti perusahaan yang mempunyai struktur organisasi
yang ramping lebih survive di saat krisis dari pada organisasi yang
nggedabyah. Organisasi dengan struktur flat biasanya disertai tanpa garis
komando dari atasan ke bawahan. Garis komando diganti masing-masing
pekerja bekerja sesuai dengan agreement, mou atau komitmen yang telah
disepakati. Peran atasan bukan lagi sebagai supervisor atau tukang
perintah dan mengawasi, tetapi ia berperan sebagai mentor atau coach.
Dan, otoritas tertinggi tidak terletak di pundak pimpinan, tetapi ditempatkan
di system atau value yang telah disepakati bersama sebelumnya, yang
umumnya dituangkan dalam visi, misi, kode etik, goal dan obyektif
perusahaan.

5. Inovasi model bisnis. Contoh yang bisa jelas dilihat adalah dalam sistem
pemasaran atau distribusi produk. Model bisnis yang telah berkembang
sejak dahulu adalah pemasaran konvensional, yaitu dengan membuka
cabang di beberapa tempat untuk melayani konsumen di berbagai tempat.
Sistem pemasaran seperti ini membutuhkan biaya/investasi yang sangat
besar. Saat ini sudah banyak perusahaan yang berinovasi, merevisi
sistem pemasarannya dengan menggunakan waralaba dan networking:
a.l. member get member dan multilevel marketing.

Gagasan dan Ide Inovasi Produk

92
Kreativitas dan Inovasi

Pada table dibawah ini digambarkan contoh suatu gagasan dan menjadi dasar
untuk berinovasi produk.

Tabel 6.1 Gagasan dan Ide Inovasi Produk


GAGASAN BARU PROSES PROSES PENEMUAN IDE
PENEMUAN IDE
1. Kacamata anti embun Pangsa Keluar dari mobil ber AC kacamata
pasar; pemakai kacamata, khususnya langsung berembun, mengganggu
di daerah dingin atau mobil ber AC. penglihatan dan harus dilap, terlebih
ketika sedang tergesa-gesa untuk
mengerjalan sesuatu

2. Jasa penyalur bodyguard Sumber; Pangsa pasar; orang-orang kaya,


perguruan beladiri, komplotan preman peng, pejabat, selebriti yang
dan eks tahanan yang sudah dididik memerlukan pengamanan terhadap
keselamatannya. Melihat adanya
biro penyalur rumah tangga dan
tenaga kerja lainnya.

3. Alat pembersih keringat dibaju Alat Kadang kala bekerja pada udara
harus kecil dan dapat dikantongi yang panas sehingga mengeluarkan
untuk dibawa kemana-mana. Dapat keringat sedangkan penampilan dan
membersihkan keringat di baju tanpa pakaian harus rapi dan wangi setiap
harus mencuci keseluruhan baju saat agar tidak menggangu rekan
cukup digosokkan pada bagian sekerja terutama jika bekerja
tertentu yang terkena keringat saja. bersama kolega berdekatan.
Pangsa pasar; Para eksekutif yang
selalu harus
berhubungan/bernegosasi dengan
para eksekutif yang lain dengan
penampilan prima.

4.Jasa pengelolaan lahan kosong Biro Melihat lahan kosong yang terlantar/
jasa ini berfungsi sebagai belum dimanfaatkan oleh pemiliknya
penghubung antara pemilik lahan,
calon pengguna/pengolah lahan dan
pejabat yang berwenang.

Proses adopsi dari inovasi

93
Kreativitas dan Inovasi

Pelanggan yag mengadopsi suatu inovasi dari produk akan melalui


proses sebagai berikut;
a. Awarness. Pada tahap ini calon pelanggan baru menaruh perhatian
terhadap inovasi tetapi masih memiliki sedikit informasi terhadap
produk inovatif. Tugas perusahaan adalah menyebar luaskan
informasi dari produk inovatif pada segmen atau sasaran pasar
(target market) yang telah direncanakan.
b. Interest. Pada tahap ini calon pelanggan terdorong untuk
mencari informasi lebih lanjut mengenai produk inovatif. Tugas
perusahaan adalah mempermudah para calon pelanggan untuk
memperoleh informasi yang disebarluaskan
c. Evaluation. Calon pelanggan mempertimbangkan apakah akan
memakai produk inovatif tersebut atau tidak. Dalam tahap uji coba
ini perusahaan harus menjaga jangan sampai produk yang
diujicoba oleh mereka ternyata tidak sesuai dengan yang mereka
harapkan.
d. Adoption. Jika tahap ujicoba berhasil maka calon pelanggan akan
memutuskan untuk menggunakan produk inovatif dengan penuh dan
secara teratur. Tugas perusahaan dalam tahapan ini adalah
menjaga kepercayaan dari para pelanggan degan tetap menjaga
mutu produk dan pelayanan. Dilain pihak perusahaan harus tetap
mengembangkan produk yang ada untuk memperoleh inovasi
produk yang baru.

Kategori adopsi suatu inovasi

Para pelanggan atau pemakai satu dan lainnya memiliki perbedaan


dalam mengadopsi suatu produk inovatif. Everet M. Rogers (1962) membagi
pengadopsian menjadi beberapa kategori sebagai berikut :
1. Pelopor (early adopters)
2. Pengikut awal (early majority)
3. Pengikut lambat (late majority)
4. Kolot (laggards)

94
Kreativitas dan Inovasi

Waktu adopsidari inovasi

Gambar 6.1 Kategori Adopsi Berdasarkan Waktu Adopsi Relatif


Sumber: digambar kembali dari Everett M. Rogers, Diffusion of Innovations, New
York: Free Press, 1962, hal. 162.

RANGKUMAN

Seorang wirausahawan bukan saja dituntut untuk berani mengambil risiko


tetapi juga harus kreatif dan inovatif agar dapat mengembangkan usahanya
dalam menghadapi berbagai tantangan persaingan .

LATIHAN

1. Jelaskanlah pengertian kreativitas beserta contohnya?


2. Jelaskanlah pengertian inovasi beserta contohnya?
4. jelaskan Prinsip-prinsip inovasi?
5. sebutkan Peluang inovasi?
6. Sebutkan tiga inovasi produk apa yang saudara ingin ciptakan?
7. Jelaskan proses adopsi dari inovasi beserta contohnya?

95
Usaha Kecil dan Menengah

BAB VII
USAHA KECIL DAN MENENGAH

Usaha Kecil dan Menengah disingkat UKM adalah sebuah istilah yang
mengacu ke jenis usaha kecil yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp
200.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Dan usaha yang
berdiri sendiri. Menurut Keputusan Presiden RI no. 99 tahun 1998 pengertian
Usaha Kecil adalah: Kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dengan
bidang usaha yang secara mayoritas merupakan kegiatan usaha kecil dan perlu
dilindungi untuk mencegah dari persaingan usaha yang tidak sehat.

A. USAHA KECIL DAN MENENGAH

Usaha kecil (small business) merupakan tiang penyangga ekonomi suatu


negara. Sebagai contoh di negara adidaya seperti Amerika ; lebih dari 80 %
usahanya merupakan usaha kecil. John naisbitt dalam ceramahnya pada global
entrepreneur forum 95 di singapura mengungkapkan adanya kecenderungan-
kecenderungan menjelang tahun 2000. kecenderungn itu meliputi pergeseran
aktivitas dunia dan pemain-pemain besar (konglomerat) ke arah pemain-pemain
kecil yang menggunakan usaha dalam skala kecil dan menengah . Ia
menyebutkan pula bahwa pemain-pemain kecil itulah yang akn menjadi pemain
utama dalam ekonomi yang besar ini.
Usaha adalah semua aktivitas yang mencari keuntungan dengan
mengusahakan kebutuhan barang dan jasa
kepada orang lain (Nickles, McHugh, dan
McHugh, 1996) Usaha kecil menurut Luthan
dan Hodgest (1989, h 88,) adalah usaha
yang dimiliki secara independen dimana
kegiatan yang dibidanginya tersebut tidak
dominan dan memenuhi standar tertentu.
Menurut M. Kwartono Adi
mendefinisikan usaha kecil adalah sebagai berikut: Usaha kecil adalah kegiatan
ekonomi rakyat yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000,-
tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau yang memiliki hasil

96
Usaha Kecil dan Menengah

penjualan tahunan paling banyak Rp 1.000.000.000,- dan milik Warga Negara


Indonesia (Adi, 2007:12). Zulkarnain mendefinisikan pengertian usaha kecil
adalah kegiatan ekonomi rakyat yang memenuhi kriteria sebagai (Zulkarnain,
2006:125):

1. Usaha yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200 juta rupiah,
tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
2. Usaha yang memiliki penjualan tahunan paling banyak Rp 1 miliar rupiah.

3. Usaha yang berdiri sendiri, bukan perusahaan atau cabang perusahaan


yang dimiliki, dikuasai,atau terafiliasi, baik langsung maupun tidak
langsung dengan usaha menengah atau skala besar.

4. Berbentuk badan usaha yang dimiliki perseorangan, badan usaha yang


tidak berbadan hukum, termasuk koperasi.

Dari definisi diatas usaha kecil dapat


disimpulkan bahwa di dalam usaha kecil ada
dua hal yang perlu diperhatikan yaitu:

1. Pemusatan kepemilikan dan


pengawasan di tangan seseorang atau
beberapa orang,
2. Terbatasnya pemisahan dalam perusahaan.

Jenis-jenis Usaha Kecil

Usaha kecil dapat digolongkan menjadi beberapa tipe sebagai berikut :


- Usaha Jasa (Service business)
- Usaha Eceran (Retail Business)
- Usaha Grosir (Wholesale Business)
- Usaha Manufaktur (Manufakturing Business)
- Usaha Pertanian (Agricultural Business)

Memulai usaha kecil

Memulai bisnis baru adalah sesuatu yang berat dan resiko gagal yang
besar pula. Sementara membeli usaha yang sudah ada (waralaba) juga sangat

97
Usaha Kecil dan Menengah

berat dalam hal biaya. Bagi calon pengusaha yang belum memiliki pengalaman
dan tidak memiliki cukup modal, maka menjadi distributor salah satu produk MLM
dapat dijadikan pilihan. Banyak orang memandang negatif strategi marketing
MLM. Padahal sebenarnya bisnis ini hanyalah salah satu bentuk strategi
marketing dengan sistem waralaba, tetapi dalam skala kecil & dengan modal
yang kecil pula. Masing-masing anggota merupakan distributor resmi yang terikat
pada kewajiban tertentu dan juga memiliki kebebasan tertentu sesuai dengan
aturan main perusahaan induk.seperti contoh pada gambar tersebut bahwa
usaha kecil dapat dimulai dari rumah, Sama halnya dengan retailer waralaba
besar seperti KFC, Mc Donald, atau binatu Laundrette.

Memulai Usaha Kecil Baru

Ada 2 cara mewujudkan suatu usaha bisnis baru :


1. Memulai usaha dari awal
Beberapa pengusaha merasa lebih puas dengan memiliki usaha dan
menentukan semuanya sendiri. Mulai dari produk, gaya manajemen,
penentuan pemasok dan lain2. Tetapi, resiko kegagalan pun lebih besar
dibanding dengan membeli waralaba karena nama perusahaan yang
belum dikenal.

2. Membeli usaha yang sudah ada


Yang dimaksudkan dengan membeli di sini adalah membeli lisensi atau
waralaba. Bisnis itu sendiri biasanya sudah dikenal orang, kita tinggal
melanjutkannya dengan persyaratan yang ditentukan pemilik waralaba.
Kekurangan dari membeli usaha ini adalah, pengusaha tidak bebas
menentukan produk dan manajemen yang diinginkan. Namun
keuntungannya adalah, kemungkinan gagal lebih kecil karena nama
mapan yang sudah dimiliki oleh bisnis itu sendiri. Para konsultan bisnis
dan kreditur pada umumnya menyarankan para pengusaha baru yang
belum memiliki pengalaman untuk memilih cara yang kedua, karena
kemungkinan gagal lebih kecil.

Seorang wirausahawan harus mempunyai rencana yang matang


mengenai perencanaannya. Rencana tersebut mencakup;Business apa yang
dimiliki, Memulai sendiri tau membeli suatu perusahaan yang ada;mengetahui
apa dan dimana pasar untuk produk atau servisnya.Memulai suatu tidaklah

98
Usaha Kecil dan Menengah

mudah karena banyak tantangan-tantangan yang harus dihadapi. Untuk


suksesnya suatu permulaan kita memerlukan :

a) Adanya peluang usaha yang sangat solid


b) Memiliki keahlian dan kemampuan dalam bidang yang akan
ditekuninya.
c) Pendekatan yang benar dalam menjalankan usaha, dan
d) Memiliki dana yang cukup untuk memulai dan mengoperasikan usaha
tersebut hingga dapat berdiri sendiri(Harper,1991).
Dalam memulai usaha baru kita harus mempelajari situasi pasar maupun
keadaan industri yang akan dimasuki. Keadaan pasar tersebut mungkin telah
dipenuhi oleh para pesaing lainnya sehingga tidak mudah untuk dimasuki,
mungkin juga pasar yang dituju tersebut telah jenuh. Era orientasi produksi dan
orientasi pemasaran tampaknya akan segera berlalu memasuki era baru yaitu
era persaingan (competition era). Untuk itu perlu sekali menganalisis situasi
kekuatan-kekuatan pesaing yang ada di pasar dengan cermat.
Michael Porter (1895) mengungkapkan adanya lima kekuatan persaingan
yang menentukan di sektor industri yaitu :
1) Ancaman dari pendatang baru
2) Ancaman dari barang atau jasa substitusi
3) Kekuatan tawar menawar dari pemasok
4) Kekuatan tawar menawar dari pembeli, dan
5) Persaingan diantara para pesaing yang ada
Untuk menghadapi situasi pasar dalam industri tersebut Porter juga
mengemukakan beberapa dasar strategi yang generik. Untuk pasar industri
dengan target yang lebih luas dapat diterapkan strategi :
a) Produk yang berbeda (product differentiation)
b) Keunggulan biaya (cost leadership)
c) Biaya fokus (cost focus)
d) Perbedaan fokus (focused differentiation).
Perusahaan dapat meluncurkan produk yang berbeda dari pesaing
lainnya dengan memproduksi produk inovatif atau paling tidak ada perbedaan
yang lebih bermanfaat dibandingkan dengan produk pesaing lainnya. Strategi
lain adalah dengan memanfaatkan keunggulan biaya. Keungguklan biaya ini
dapat mengakibatkan biaya produksi kita lebih rendah sehingga dapat menjual
dengan harga yang lebih kompetitif. Sedangkan nuntuk pasar industri dengan
target yang lebih sempit kita dapat menggunakan strategi dengan memfokuskan

99
Usaha Kecil dan Menengah

keunggulan biaya atau memfokuskan differensiasi produk pada segmen pasar


tertentu yang mampu di kuasai.

Masalah yang dihadapi Usaha Kecil

Terdapat masalah-masalah yang dihadapi usaha kecil dan menengah.


Peranan usaha kecil di Indonesia memang diakui sangat penting dalam
perekonomian nasional, terutama dalam aspek-aspek, contohnya seperti
peningkatan kesempatan kerja, pemerataan pendapatan, pembangunan
ekonomi pedesaan dan peningkatan ekspor non migas. Selama ini telah banyak
usaha yang dilakukan oleh pemerintah untuk membantu perkembangan usaha
kecil melalui berbagai macam program pengembangan atau pembinaan usaha
kecil termasuk diantaranya adalah program kemitraan antara usaha menengah
dan besar dengan usaha kecil.

Namun demikian, perkembangan usaha kecil hingga saat ini berjalan


sangat lamban. Sebagai contoh, di sektor industri manufaktur, tingkat
produktifitas atau konstribusi output industri kecil dan rumah tangga terhadap
pembentukan total nilai tambah di sektor tersebut atau produk domestik bruto
masih relatif rendah dibandingkan dengan industri menengah dan besar.

Salah satu penyebab kurang berhasilnya program pengembangan atau


pembinaan usaha kecil di indonesia dalam memperbaiki kondisi atau kinerja
kelompok usaha kecil, dari posisi yang lemah dan tradisional ke posisi yang kuat
dan modern adalah tekanan orientasi program atau kebijakan pemerintah lebih
terletak pada aspek sosial daripada aspek ekonomi atau bisnis. Selama ini
usaha pengembangan kegiatan ekonomi skala kecil yang umumnya padat karya
dan dilakukan oleh kelompok masyarakat miskin berpendidikan rendah
ditunjukkan untuk meningkatkan pendapat mereka atau mengurangi jumlah
pengangguran dan kesenjangan.

Permasalahan mendasar di bidang manajemen bagi para pengusaha


kecil pada berbagai sektor adalah:

1. Permodalan

100
Usaha Kecil dan Menengah

a) Suku bunga kredit perbankan masih tinggi, sehingga kredit menjadi


mahal

b) Informasi sumber pembiayaan dari lembaga keuangan non bank,


misalnya dana penyisihan laba BUMN dan model ventura, masih
kurang. Informasi ini meliputi informasi jenis sumbe pembiayaan serta
persyaratan dan prosedur pengajuan.

c) Sistem dan prosedur kredit dari lembaga keuangan bank dan non
bank rumit dan lama, selain waktu tunggu pencairan kredit yang tidak
pasti.

d) Perbankan kurang menginformasi standar proposal pengajuan kredit,


sehingga pengusaha kecil tidak mampu membuat proposal yang
sesuai dengan criteria perbankan.

e) Perbankan kurang memahami kriteria usaha kecil dalam menilai


kelayakan usaha kecil, sehingga jumlah kredit yang disetujui sering
kali tidak sesuai dengan kebutuhan usaha kecil.

2. Pemasaran
a) Bargaining Power pengusaha kecil dalam berhadapan dengan
pengusaha besar selalu lemah, utamanya berkaitan dengan
penentuan harga dan system pwmbayaran, serta pengaturan tata
letak produk usaha kecil di department store dan supermarket.

b) Asosiasi pengusaha atau profesi belum berperan dalam


mengkoordinasi persaingan tidak sehat antar usaha sejenis.

c) Informasi untuk memasarkan produk di dalam maupun di luar negeri


masih kurang, misalnya tentang produk yang diinginkan, siapa
pembeli, tempat pembelian atau potensi pasar, tata cara memasarkan
produk serta tender pekerjaan utamanya pada usaha jasa.

3. Bahan Baku

a) Supply bahan baku kurang memadai dan berfluktuasi, antara lain


karena adanya kebijakan ekspor dan impor yang berubah-ubah,

101
Usaha Kecil dan Menengah

pembeli besar yang menguasai bahan baku,keengganan pengusaha


besar untuk membuat kontrak dengan pengusaha kecil

b) Harga bahan baku masih terlalu tinggi dan berfluktuasi karena struktur
pasar bersifat monopolistik atau dikuasai pengusaha pasar.

c) Kualitas bahan baku rendah, antara lain karena adanya standardisasi


dan manipulasi kualitas bahan baku.

d) Sistem pembelian bahan baku secara tunai menyulitkan pengusaha


kecil, sementara pembayaran penjualan produk umumnya tidak tunai.

4. Teknologi
a) Tenaga kerja terampil sulit diperoleh dan dipertahankan, antara lain
karena lembaga pendidikan dan pelatihan kurang dapat menghasilkan
tenaga terampil yang sesuai dengan kebutuhan pengusaha kecil.

b) Akses dan informasi sumber teknologi masih kurang dan tidak


merata, sedangkan upaya penyebarluasan masih kkurang gencar.

c) Spesifikasi peralatan yang sesuai dengan kebutuhan (teknologi tepat


guna) sukar diperoleh.

d) Lembaga independent belum ada dan belum berperan, khususnya


lembaga yang mengkaji teknologi yang ditawarkan oleh pasar kepada
pngusaha kecil, sehingga teknologi ini tidak dapat dimanfaatkan
secara optimum.

e) Peranan instansi pemerintahan, non pemerintahan dan perguruan


tinggi dalam mengidentifikasi, menemukan, menyebarluaskan dan
melakukan pembinaan teknis tentang teknologi baru atau teknologi
tepat guna bagi pengusaha kecil masih kurang intensif.

5. Manajemen

a) Pola manajemen yang sesuai dengan kebutuhan dan tahap


perkembangan usaha sulit ditmukan, antara lain karena pengetahuan
dan manajerial skill pengusaha kecil relative rendah. Akibatnya,
pengusaha kecil belum mampu menyusun strategi bisnis yang tepat.

102
Usaha Kecil dan Menengah

b) Pemisahan antara manajemen keuangan perusahaan dan keluarga


atau rumah tangga belum dilakukan, sehingga pengusaha kecil
mengalami kesulitan dalam mengontrol atau mengatur cash flow,
serta dalam membuat perencanaan dan laporan keuangan.

6. Birokrasi

a) Perizinan tidak transparan, mahal, berbelit-belit, diskriminatif, lama


dan tidak pasti, serta terjadi tumpang tindih vertical (antara pusat
daerah) dan horizontal (antar instansi daerah).

b) Penegakan dan pelaksanaan hukum dan berbagai ketentuan masih


kurang serta cenderung kurang tegas.

c) Pengusaha kecil dan asosiasi usaha kecil kurang dilibatkan dalam


perumusan kebijakan tentang usaha kecil.

d) Pungutan atau biaya tambahan dalam pengurusan perolehan modal


dari dana penyisihan laba BUMN dan sumber modal lainnya yang
cukup tinggi.

e) Mekanisme pembagian kuota ekspor tidak mendukung busaha kecil


untuk mampu mengekspor produknya.

f) Banyak pungutan yang seringkali tidak disertai dengan pelayanan


yang memadai.

7. Infrastruktur
a) Listrik, air dan telepon bertarif mahal dan sering menghadapi
gangguan disamping pelayanan petugas yang kurang baik.

b) Kurangnya prasarana yang memadai seperti jalan, listrik, telepon, air,


serta fasilitas penanganan limbah dan gangguan.

8. Kemitraan
a) Kemitraan antara usaha kecil dan usaha menengah dan besar dalam
pemasaran dan sistem pembayaran, baik produk maupun bahan
baku, dirasakan belum bermanfaat.

103
Usaha Kecil dan Menengah

b) Kemitraan antara usaha kecil dengan usaha menengah dan besar


dalam transfer teknologi masih kurang.

9. Peraturan
Peraturan - peraturan yang berkaitan dan berhubungan dengan
pengembangan bisnis secara umum juga memiliki dampak terhadap
pengembangan usaha kecil, hal ini tentu berkaitan dengan kebijakan oleh
pemerintah dalam rangka memajukan sektor usaha kecil.

10. Masalah internal perusahaan


Pengembangan usaha kecil dicirikan dengan lemahnya kondisi internal
yaitu, lemahnya penguasaan teknologi, manajemen yang sederhana,
lemahnya jaringan datribusi pemasaran serta sifat ketergantungan yang
kuat.

11. Masalah desain


Salah satu kelemahan usaha kecil adalah usaha kecil masih memiliki
desain yang terkesan lemah dan sederhana, masih melakukan peniruan
desain serta kurang memiliki kemampuan untuk menguasai teknologi
dalam bidang desain.

Kunci sukses usaha kecil

Anda tentu telah melihat beberapa pengusaha yang menjalankan bisnisnya


semudah mereka menarik nafas. Anda juga mungkin berpikir seandainya bisa
melakukannya sendiri dan pergi dari kehidupan saat ini yang dirasa
membosankan? Nah, untuk membantu Anda berhasil dalam menjalankan bisnis
kecil Anda. berikut sepuluh aturan yang bisa Anda ikuti agar bisnis kecil Anda
sukses.
1. Target
Mungkin tidak semua barang yang Anda tawarkan merupakan yang
dibutuhkan orang. Anda harus
memiliki target pasar tertentu.
Hal ini dilakukan karena
minimnya dana yang ada, atau
target yang anda tuju sebagai
upaya anda untuk ekspansi ke
segmen lainnya. Tetaplah fokus pada target pasar yang Anda tuju dan
kemudian bekerjalah dengan cara Anda.

104
Usaha Kecil dan Menengah

2. Berani Tampil Beda


Apa pun yang dilakukan pesaing Anda, jangan menirunya. Jadilah diri
sendiri, atau seorang pemberontak dan menyimpang dari kebiasaan
umum untuk memastikan bahwa apa yang Anda buat bisa dikenang
dalam memori orang untuk jangka panjang bukan jangka pendek.

3. Bentuk Tim Handal


Jangan hanya merekrut karyawan untuk sekedar mengisi kekosongan,
pilih mereka yang benar-benar tertarik dengan bisnis Anda dan
pertumbuhannya.

4. Jangan Lupa Mengucapkan Terima Kasih


Ini mungkin tampak tidak penting bagi Anda. Tapi bagi pelanggan,
mereka akan merasa senang jika Anda mengungkapkan rasa terima
kasih kepada mereka ketika selesai melakukan bisnis dengan Anda. ini
merupakan hal kecil yang membuat pelanggan Anda datang kembali.

5. Manajemen Waktu
Waktu merupakan aset Anda yang paling penting. Untuk itu, pastikan
selalu bahwa tenggat waktu yang Anda tawarkan terpenuhi dan cepat
tanggap.

6. Konsistensi
Anda dirasa perlu untuk mengetahui apa yang pelanggan Anda rasakan
saat ini. Karena biasanya apa yang pelanggan Anda rasakan saat ini
akan sama dengan apa yang mereka rasakan besok. Hal ini dimaksudkan
untuk memberikan layanan terbaik Anda lagi kepada mereka

7. Senyum
Sekali lagi, Hal ini terlihat sepele namun sangat menguntungkan bagi
bisnis Anda. kebanyakan dari perusahaan-perusahaan sukses
mengharuskan kepada pegawainya yang berinteraksi langsung dengan
masyarakat untuk selalu tersenyum, agar mereka mendapatkan
pelanggan dan memuaskan para klien dan konsumen. Senyum bisa
sebagai tanda pujian atau kesan Anda pada pelanggan.

8. Optimis
Sikap positif selalu dibutuhkan dalam menjalankan usaha kecil. Ingat sifat
optimis secara tidak langsung akan mengantarkan Anda menjadi pribadi
yang tangguh, pantang menyerah, dan tentunya tetap semangat
mengadapi segala rintangan. Ingat, tanpa adanya optimisne bisa

105
Usaha Kecil dan Menengah

dipastikan bisnis anda tidak akan mampu bertahan lama mengahdapi


gempuran persaingan pasar dari para competitor.

9. Jangan Menjual Terlalu Keras


Soft selling adalah pilihan Anda. Hard selling agresif hanya akan
membuat pelanggan ingin menjauh dari Anda.

10. Jangan Berpikir Sempit


Cobalah untuk meninggalkan kenyamanan kecil Anda dan
mengeksplorasi hal-hal baru di luar sana. Dengan begitu Anda akan
menemukan cara yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Banyak pula pendapat mengenai kunci sukses usaha kecil baik yang
dikemukakan oleh kalangan akademik maupun dari para praktisi usaha. Prof.
David McClelland dari Harvard University merumuskan kunci sukses usaha kecil
sebagai berikut:
- Pengembalian resiko yang tepat
- Kerja keras
- Penentuan sasaran yang tepat
- Orientasi prestasi
- Inovasi.
Sam Walton pendiri Walmart yaitu retailer terbesar di Amerika
mengisahkan kunci sukses menjalankan usaha dalam bukunya Sam Walton
Made in America yang dikenal dengan The Ten Commandments of Business,
yaitu :
1. KOMIT terhadap usaha anda
2. BERBAGI KEUNTUNGAN dengan semua yang membantu anda.
3. MOTIVASI mitra anda.
4. KOMUNIKASI segala sesuatunya kepada mitra anda.
5. MENGHARGAI semua orang yang membantu anda.
6. RAYAKAN keberhasilan perusahaan.
7. DENGARKAN setiap orang yang ada di perusahaan.
8. LAMPAU harapan pelanggan.
9. KONTROL pengeluaran perusahaan agar lebih efisien dari
pesaing.
10. BERBEDA cara dari yang lain (Walton dan Huey, 1992)

B. Berbagai Perubahan Dalam Dunia Usaha

106
Usaha Kecil dan Menengah

Seorang wirausahawan harus memperhatikan berbagai perubahan dalam


global usaha yang akan mempengaruhi iklim yang akan atau sedang
ditekuninya. Beberapa kecenderungan yang sangat kuat akan mentransformasi
perubahan lingkungan usaha pada dekade 90-an ini. Kecenderungan-
kecenderungan tersebut meliputi perubahan dari pendekatan modal yang bersifat
finansial menjadi modal yang bersifat sumber daya manusia.

Perubahan tersebut menjadikan sumberdaya manusia yang berkualitas


sebagai keunggulan yang kompetitif dalam organisasi usaha manapun.
Perusahaan mulai mengincar pegawai khususnya manajer yang
berkualitas/sukses seperti Tantri Abeng, bahkan diantaranya melakukan
pembajakan tenaga kerja yang dianggap penting. Perubahan lainnya adalah
bergesernya tempat dari tugas manajemen menengah(middle
management)sebagai akibat adanya revolusi komputer. Komputer sebagian
besar akan banyak menggantikan tugas-tugas manajer menengah sehuingga top
manajer akan banyak memanfaatkan komputer dalam pengambilan
keputusannya. Memulai komputer seorang manajer dapat mengakses berbagai
data dari Bank Data maupun internet. Dilain pihak robotisasi akan menggantikan
pekerja perkeja di lini perakitan (Naisbitt dan Aburdence, 1985).

Dalam menjalankan usaha


atau memulai suatu usaha baru bagi
wirausahawan domestik harus pula
memperhatikan adanya
perubahanperubahan dalam
masyarakat atau dalam dunia usaha.
Beberapa perubahan yang patut
dicatat adalah :

1. Munculnya masyarakat
berkesejahteraan baru (Middle and up income group) Perubahan ini
disebabkan oleh ;
Adanya kemajuan dibidang pendidikan, komunikasi,
perhubungan dan keuangan.
Peluang-peluang yang diciptakan oleh pemerintah.
Jaringan kerja internasional (international network) akibat
industri di Jepang. Korea Selatan, Taiwan dan Singapore

107
Usaha Kecil dan Menengah

Perubahan nilai-nilai masyarakat yang memungkinkan


penghasilan ganda
(suami-isteri)
2. Lahir generasi baru di pedasaan yang berpendidikan lebih tinggi
(Tamat SLTP dan SLTA)
Keberhasilan program KB
Pemerataan dalam memperoleh kesempatan pendidikan
3. Revolusi komunikasi
Perkembangan yang pesat dalam dunia pertelevisian
Jaringan komunikasi yang makin canggih . Telpon genggam,
internet, dsb.
4. Muncul tuntutan terhadap conveniencedalam segala hal.
Meningkatkan daya beli
Keterbatasan
Produk yang ditawarkan makin banyak, dan Cepat dapat
dikonsumsi(fast food)
Mudah dipakai/mudah dibuka untuk kemasan.
Bisa dicicil atau dibayar melalui kartu kredit (credit card)
5. Proses pengambilan keputusan makin pendek.
Muncul iklan-iklan yang menarik di televisi yang dapat dilihat
dari pedesaan.
Selera konsumen dapat pipengaruhi dan diubah.
6. Terjadi perluasan pasar produk-produk bermerk
Masyarakat kian menggandrungi produk bermerk
Promosi yang gencar dan super intensif terhadap produk
bermerk.

kegagalan usaha

Sebagian wirausahawan memperoleh sukses tetapi tidak sedikit pula


diantaranya mengalami kegagalan. Sangat mengejutkan hasil survey yang
dilakukan oleh Michael E. Gerbertentang bisnis-bisnis baru yang mengalami
kegagalan pada tahun kedua sebanyak 80 %. Apakah bisnis Anda berada dalam
20 %-nya? Tentunya Anda berada di tingkat kesuksesan. Sebagai pemilik bisnis,
Anda harus mengetahui apa
penyebab kegagalan dalam
berbisnis, sehingga kita harus
mengantisipasinya dan menjadikan

108
Usaha Kecil dan Menengah

bisnis Anda menjadi sukses dan lebih sukses lagi. Adapun 7 alasan utama
kegagalan bisnis adalah sebagai berikut:

1. Ketidak jelasan bisnis yang dijalankan


Pemilik bisnis belum memutuskan pada nilai, visi, misi dan tujuan bisnis
serta rencana bisnis, sehingga tidak fokus apa bisnis yang dijalankan.
Karena tidak ada kejelasan bisnis yang dijalankan mengakibatkan pemilik
bisnis tidak jelas tujuannya dan belum membuat rencana bisnis tertulis
untuk memandu mereka dalam area bisnis, area keuangan, area keluarga
dan area kesehatan. Tanpa tujuan dan rencana tertulis, Anda seperti orang
yang berwisata ke wilayah asing tanpa paduan atau peta.

2. Rendahnya mental: tidak sabar, tamak dan bimbang


Pemilik bisnis tidak realistis mengenai berapa lama untuk meraih hasil-
hasil bisnisnya, tidak sabar dalam mengambil hasilnya, dalam melakukan
pengeluaran biaya yang minimal dan tidak adanya pekerjaan yang khusus
atau fokus dalam menjalankan bisnis pada pertama. Pemilik bisnis berpikir
bahwa mereka dapat menghasilkan banyak keuntungan secara tetap dan
mudah. Banyak bisnis gagal karena pemilik bisnis mencari jalan untuk
membuat keuntungan besar dengan cepat dan menjadi milyuner secara
instan. Dalam menjalankan bisnis diperlukan suatu proses.Pemilik bisnis
yang kurang pengalaman sering mengerjakan waktu dan uang secara
tidak bijaksana, tanpa pertimbangan konsekuensi, tindakan yang tidak
sabar, tanpa mengambil waktu untuk memperoleh data dan memikirnya,
tak peduli seberapa jauh bisnis itu telah dijalankan pada arah yang tidak
tepat dari tujuan bisnisnya. Karena takut akan kegagalan, banyak pemilik
bisnis menghindari berhadapan dengan tantangan atau halangan dan
sering hancur karena mereka tetap berperforma rendah dalam berbisnis.

3. Rendahnya penjualan, pelayanan dan buruknya hubungan


Kurangnya semangat dalam bagian penjualan adalah faktor utama
reandahnya penjualan yang merupakan salah satu alasan utama
kegagalan dalam berbisnis. Penurunan penjualan mengurangi cash flow
dan dapat menyebakan kegagalan dalam bisnis. Pemilik bisnis perlu
persiapkan tim untuk berpikir dan fokus pada penjualan dan pelangan
setiap saat. Jadikan penjualan sebagai prioritas utama dari tim penjualan
dan tim lainnya. Antisipasi tren kegagalan pasar, produk dan pelayanan.
Lihatlah ke depan, satu, dua, atau tiga tahun mendatang. Ke manakah

109
Usaha Kecil dan Menengah

pemasaran akan berjalan? Apa trend pasarnya? Produk apa yang


ditawarkan sekarang? Apakah sesuai keinginan pasar? Perubahan apa
yang perlu untuk antisipasi keinginan, kebutuhan dan kesukaan
pelanggan. Hubungan yang buruk dengan lingkungan bisnis dan tim
perusahaan akan menyebabkan bisnis Anda tidak mampu bertahan lama
dengan yang lainnya. Baik di dalam atau di luar bisnis Anda, hal itu akan
menyebabkan kegagalan bagi bisnis Anda. Bermusuhan dan pikiran
negatif menyebabkan pemilik bisnis cepat marah, sering mengkritik, protes
terhadap staf yang tidak baik, pemasok dan bahkan pelanggan.

4. Rendahnya pengetahuan keuangan


Kekurangan kemampuan atau rendah pengetahuan tentang Laporan
Keuangan, pemilik bisnis tidak mengetahui bagaimana mengaturnya atau
terlalu sibuk. Pemilik bisnis harus mengetahui dengan pasti berapa banyak
uang yang ia punya, berapa banyak hutangnya, berapa banyak yang
berhutang padanya, dan target untuk menerima atau membayar totalnya.
Tentukan secara lengkap pada sistem akuntansi sehingga Anda selalu
mengetahui ke mana uang tersebut digunakan.

5. Lemahnya sistem pengontrolan dan rendahnya disiplin


Lemahnya sistem pengontrolan di setiap lini perusahaan, seperti
penjualan, persediaan, piutang, pengeluaran biaya operasi perusahaan
terutama di bidang penjualan; sistem penjualannya, cara pencapaian
target, cara mendapatkan pelanggan dengan biaya yang efisien, cara
menjualnya, cara pengiriman, metode penjualannya, harga jualnya, cara
pemantauannya. Apakah semuanya telah dilakukan secara konsiten dan
terus menerus? Lemahnya sistem pengontrolan dan rendahnya disiplin
inilah yang menyebabkan kegagalan dalam berbisnis.

6. Kekurangan modal kerja


Modal kerja yang tidak cukup sering dihadapi oleh pemilik bisnis. Pemilik
bisnis dulu terlalu optimis dan tidak sabar. Pemilik bisnis mengetahui
bahwa untuk mulai membangkitkan keuangan dari penjualan memakan
waktu lama dan pada umumnya Anda memerlukan enam bulan untuk
menyediakan uang tunai sebelum memulai bisnis Anda.

7. Lemahnya perencanaan

110
Usaha Kecil dan Menengah

Karena perencanaan yang lemah, belum adanya rencana bisnis yang


tertulis, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Pemilik bisnis
bereaksi terus menerus, bahkan menjadi kewalahan dengan pekerjaan
yang harus dilakukan. Pemilik bisnis dan timnya harus jelas dalam hal
prioritas di setiap area dari pekerjaan dan tetap bertanya strategi apa yang
paling penting dalam waktu sekarang ini. Serta apa yang dapat saya dan
hanya saya lakukan, jika saya melakukannya dengan baik, akan membuat
perbedaan yang nyata.

Setelah mengetahui 7 alasan utama kegagalan bisnis, maka Anda sebagai


pemilik bisnis atau para eksekutif dapat melakukan antisipasi, terutama pada
area kelemahan Anda dan tetap terus meningkatkan area keunggulan Anda.

RANGKUMAN

Seseorang yang akan menjadi wirausahawan harus memiliki tujuan yang


jelas sehingga ia bisa komit dalam menjalankan nya. Sebelum memulai
seseorang harus mengetahui jenis dan cara memulai yang akan
ditekuninya.Selain itu juga harus memahami masalah-masalah yang akan
dihadapi sehingga dapat mengantisipasinya jika hal tersebut terjadi.

LATIHAN

1. Jelaskan tujuan anda menjadi wirausahawan?


2. Jelaskan pengertian usaha kecil dan contohnya?
3. Jelaskan jenis-jenis usaha kecil?
4. Jelaskan cara-cara memulai usaha kecil?
5. Jelaskan masalah yang dihadapi usaha kecil?
6. Jelaskan kunci sukses usaha kecil?
7. Jelaskan sebab-sebab kegagalan usaha kecil?

111
Usaha Kecil dan Menengah

Studi Kasus
Andi berniat mendirikan perusahan yang memproduksi dan menjual kentang
goreng. Tetapi ia tidak memiliki modal yang cukup. Berdasarkan hasil observasi,
modal awal yang diperlukan Andi untuk membeli bahan baku, peralatan,
perlengkapan dan sewa tempat adalah Rp 20.000.000 tetapi ia hanya memiliki
Rp 15.000.000. Saat ia menceritakan niatnya pada teman-temannya, Wawan
bermaksud untuk bergabung dengan Andi dan berjanji memberikan tambahan
modal. Tetapi Wawan tidak memiliki pengalaman berbisnis sebelumnya dan
terkenal kurang jujur. Pada saat bersamaan koperasi dimana Andi bergabung
bersedia memberikan pinjaman dengan bunga 12% setahun. Setelah berjalan
selama 3 bulan. Berikut adalah laporan rugi/laba perusahaan yang didirikan oleh
Andi:

Laporan rugi/laba
Perusahaan Kentang Goreng
Untuk periode berakhir 31 Desember 2008
Pendapatan:
Penjualan 10,000,000
Harga pokok penjualan:
Persediaan awal 2,000,000
Pembelian 7,000,000
Tersedia untuk dijual 9,000,000
Persediaan akhir 3,000,000
Harga pokok penjualan 6,000,000
Laba kotor 4,000,000
Biaya operasional:
Biaya komisi 500,000
Biaya transportasi 100,000
Biaya listrik, telpon, air 1,000,000
Biaya gaji pegawai 1,200,000
Biaya penyusutan bangunan 300,000

112
Usaha Kecil dan Menengah

Biaya penyusutan inventaris 200,000


Total 2,900,000
Laba operasi 1,100,000
Biaya bunga 50,000
Laba sebelum pajak 1,000,000
Biaya pajak 200,000
Laba/(rugi) bersih 450,000

Ada beberapa fakta yang berkaitan dengan bisnis kentang goreng:


1) Biaya komisi diberikan pada pemasok bahan baku.
2) Andi tidak benar-benar tahu siapa yang paling banyak menggunakan alat
elektronik dan telpon. Air paling sering digunakan untuk mencuci kentang.
3) Saat Andi memasuki bisnis ini telah ada merek Top yang telah lebih
dahulu terkenal dan memiliki banyak pelanggan. Outlet terdekat Top
berjarak 100 meter dari outlet milik Andi.
4) Beberapa bulan setelah Andi memulai bisnis, muncul perusahaan lain
yang menjual produk singkong goreng yang dikemas menyerupai kentang
goring dengan harga yang lebih murah.
5) Selama 6 bulan beroperasi, Andi telah memiliki pelanggan tetap
setidaknya
6) 100 orang yaitu para mahasiswa yang tinggal di dekat warung Andi.
7) Meski telah dilatih selama 1 minggu, 2 dari 4 karyawan masih kurang
cekatan melayani pembeli sehingga waktu tunggu pembelian yang
awalnya diperkirakan 5 menit menjadi molor 10 menit bahkan 13 menit.
Selain itu beberapa pelanggan mengeluhkan rasa yang tidak sama jika
dilayani oleh karyawan yang berbeda.

Pertanyaan:
1. Berdasarkan kasus di atas, jenis badan usaha apa yang sebaiknya dipilih
oleh Andi? Mengapa?
2. Berdasarkan laporan rugi/laba biaya apa yang dapat dikendalikan oleh
Andi? Cara apa yang bisa dilakukan untuk mengendalikan biaya tersebut?
3. Identifikasi persaingan apa yang dihadapi oleh Andi?
4. Bagaimana strategi memenangkan persaingan tersebut?

113
Usaha Kecil dan Menengah

5. Apa cara yang dapat dilakukan oleh Andi untuk mempertahankan


pelanggan?
6. Strategi apa yang harus dilakukan oleh Andi untuk mengelola
karyawannya?

114
Menerapkan Strategi Programme Life Cycle (PLC )

BAB VIII
MENERAPKAN STRATEGI
PROGRAMME LIFE CYCLE (PLC)

Programme Life Cycle (PLC) adalah dinamika kompetitif suatu program


dalam mempertahankan keberlangsungan dan profitabilitasnya. Perusahaan
adalah suatu organisasi yang menawarkan program-program (sebagai produk).
Siklus hidup sebuah program (Programme Life Cycle) dapat digambarkan dalam
diagram berikut:
Langkah pertama dalam mempertahankan keberlangsungan dan
profitabilitas suatu program yang ditawarkan perusahaan adalah melakukan
identifikassi peluang pasar. Identifikasi peluang pasar tidak hanya dilakukan pada
saat pengelola merintis usaha, tetapi harus terus dilakukan setelah usaha itu
berjalan. Hal ini diperlukan karena pasar akan terus berubah sebagai dampak
persaingan dan juga perkembangan teknologi dan informasi yang terjadi.
Perubahan yang terjadi mengharuskan setiap pengelola untuk secara terus
menerus mengidentifikasi peluang pasar agar program yang dipasarkan tepat
sasaran dan mampu menjaga keberlangsungan dan profitabilitasnya.

A. Peluang Pasar

Sehubungan dengan pertumbuhan perusahaan, maka perusahaan perlu


menganalisa peluang pasar yang dapat dimanfaatkan. Analisa peluang pasar ini
sangat penting, karena perusahaan perlu mengetahui berapa besarnya peluang
yang tersedia dalam memasarkan produknya dan dapat menetapkan apakah
pasar cukup besar untuk mendukung produk lain dan masih memberikan laba.
Keberhasilan perusahaan dalam mencapai tujuan dan sasaran sangat
dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan tersebut dalam memasarkan
produknya, untuk itu pertumbuhan pasar di masa yang akan datang sangat
diperlukan. Menganalisa peluang pasar juga untuk membuat keputusan apakah
perusahaan akan terus menjalankan kegiatannya dengan meningkatkan
produktifitasnya atau harus keluar dari pasar. Boone dan Kurtz (1987)
menegaskan hal yang sama bahwa analisis peluang pasar sangat berguna
menyediakan fondasi bagi kepentingan perencanaan dan strategi pemasaran.

115
Menerapkan Strategi Programme Life Cycle (PLC )

Para manajer dipandang perlu mengevaluasi situasi lingkungan, tempat dimana


mereka mencurahkan aktivitas pemasarannya, dan mengestimasi pengaruh-
pengaruh lingkungan yang mungkin timbul pada masa yang akan datang pada
para konsumen. Mempertimbangkan trend masyarakat pada masa yang
mendatang akan mengilhami munculnya ide dan strategi baru, sehingga hal
tersebut merupakan tindakan yang lebih baik karena ia dapat bertindak sebagai
pioner daripada sekedar bereaksi terhadap perubahan yang sedang
berlangsung. Lingkungan beserta arus perubahannya mesti dimonitor dan
dievaluasi secara hati-hati, potensi peluang (kesempatan) dan masalah yang
mungkin muncul mesti diidenfikasi, sebelum suatu organisasi mengembangkan
rencana pemasaran.

Peluang pasar adalah


kesempatan yang masih terbuka yang
dapat diidentifikasi berdasarkan
kepekaan seorang wirausahawan
sehingga menjadi peluang usaha baru.
Jadi peluang pasar pada hakekatnya
adalah peluang usaha. Suatu usaha
dimulai dari adanya peluang (opportunity)
usaha dan ketertarikan pada keuntungan yang diharapkan dari usaha tersebut.
Mewujudkan peluang menjadi kenyataan merupakan proses yang memerlukan
waktu relatif lama. Waktu diperlukan untuk mengatur persyaratan, seperti
menjajaki layak atau tidaknya suatu usaha tersebut, pencarian sumber modal,
ketersediaan bahan baku, sumberdaya alam, dan tenaga kerja yang tersedia,
serta ketersediaan pasar untuk menyalurkan barang atau jasa yang dihasilkan.
Semua itu harus dihadapi dan dikelola secara praktis oleh seorang
wirausahawan yang ingin memanfaatkan suatu peluang usaha. Supaya dapat
berhasil, produk atau jasa (program) yang ditawarkan harus memiliki keunggulan
kompetitif atau sifat unik sehingga lebih diminati di pasaran. pendapat peluang
pasar menurut Kotler (1997:72) adalah sebagai berikut: Peluang pasar adalah
suatu bidang kebutuhan pembeli dimana perusahaan dapat beroperasi secara
menguntungkan.Sedangkan Pearce dan Robinson (2000-230) memberikan
pengertian peluang pasar: Pasar adalah situasi penting yang paling
menguntungkan dalam lingkungan perusahaan.

116
Menerapkan Strategi Programme Life Cycle (PLC )

Analisa peluang pasar merupakan proses riset terhadap faktor-faktor


lingkungan ekstern yang mempengaruhi kegiatan usaha perusahaan tersebut.
Lingkungan ekstern merupakan kekuatan yang tidak dapat dikendalikan,
sehingga perusahaan harus menyesuaikan diri, dan juga menghasilkan ancaman
dan peluang. Perusahaan harus berhati-hati dalam menganalisis lingkungannya
sehingga dapat menghindari ancaman dan mengambil manfaat dari peluang.
Untuk meningkatkan volume penjualan dan merebut pangsa pasar yang besar,
maka perusahaan harus menggunakan kebijaksanaan- kebijaksanaan yang tepat
untuk memasuki peluang pasar yang ada. Selanjutnya perusahaan harus melihat
potensi dari pasar. Kotler (1997:118) menyatakan bahwa: Potensi pasar adalah
batas yang di dekati oleh permintaan ketika pengeluaran pemasaran industri
mendekati tak terhingga untuk lingkungan yang telah di tentukan.Dari potensi
pasar yang ada, sehingga perusahaan dapat mengetahui peluang pasar yang
ada. Sedangkan menurut Kartajaya (2002-49) memberikan pengertian
segmentasi pasar tersebut sebagai berikut: Segmentasi pasar adalah tentang
pemetaan (mapping) suatu pasar menjadi beberapa kategori dengan
mengumpulkan perilaku yang serupa dari pelanggan ke dalam sebuah segmen.
Dari setiap kelompok konsumen dapat dipilih sebagai suatu pasar sasaran yang
akan dicapai dengan menggunakan strategi bauran pemasaran yang tepat.
Adapun dasar-dasar untuk membuat segmentasi pasar konsumen, menurut
Kotler (2002:300) adalah sebagai berikut:

1. Segmentasi geografi
Segmentasi geografi ini mengharuskan pembagian pasar menjadi unit-unit
geografis yang berbeda seperti negara, negara bagian, wilayah, provinsi,
kota atau lingkungan rumah tangga. Perusahaan dapat beroperasi di
semua wilayah geografis, tetapi lebih memperhatikan perbedaan kebutuhan
dan keinginan yang ada dalam segmen tersebut.

2. Segmentasi Demografis
Yaitu dilakukan dengan cara pasar di bagi menjadi kelompok-kelompok
berdasarkan variabel-variabel demografis seperti, usia, ukuran keluarga,
jenis kelamin, penghasilan, agama, ras, generasi, kewarganegaraan, dan
kelas sosial. Variabel demografis ini merupakan dasar yang paling banyak
digunakan dalam membuat kelompok pelanggan, karena variabel ini sangat
berhubungan dengan preferensi dan tingkat pemakaian.
3. Segmentasi Psikografis

117
Menerapkan Strategi Programme Life Cycle (PLC )

Segmentasi ini dilakukan dengan mengelompokkan pembeli yang berbeda


berdasarkan gaya hidup atau kepribadian akan nilai.

4. Segmentasi perilaku
Dalam segmentasi perilaku, pembeli dibagi menjadi kelompok- kelompok
berdasarkan pengetahuan, sikap, pemakaian, atau tanggapan mereka
terhadap suatu produk.

B. Teknik Analisis Peluang Pasar

Salah satu faktor yang perlu dianalisis oleh setiap pelaku usaha atau
calon pengusaha adalah kemampuannya untuk mengetahui peluang atau
potensi pasar. Apabila Anda sebagai pelaku usaha kurang mampu dalam
menganalisis peluang dan potensi pasar, maka kemungkinan besar potensi dan
peluang yang ada akan dimanfaatkan pihak pesaing atau lembaga yang lain.
Sehingga kegiatan usaha yang dijalankan akan banyak mengalami hambatan
atau bahkan kurang berhasil dalam menjalankan fungsi usahanya.
Peluang pasar tidak hanya dianalisa pada saat akan memulai usaha
tetapi justru penting bagi unit usaha yang sudah dimulai untuk mengembangkan,
mempertahankan dan meningkatkan volume usaha. Banyak sekali teknik analisa
peluang pasar antara lain dengan analisa SWOT, analisis portofolio, analisis
PERT, dan lain-lain.
Ada beberapa langkah dalam mengidentifikasi peluang pasar, yaitu:
1. Inventarisasi data dan informasi; untuk mengetahui peluang pasar
yang dapat dijadikan peluang pengembangan usaha atau perluasan
usaha atau penciptaan usaha baru/produk/program baru, maka
lembaga harus melakukan inventarisasi data dan informasi baik
internal dan eksternal tentang kelebihan, kekuatan, dan tantangan
yang berkaitan dengan program atau lembaga dan pelatihan.

2. Analisis Situasi; agar peluang pasar yang akan dijadikan obyek tidak
salah sasaran, maka harus dilekukan analisis situasi lingkungan,
sosial, regulasi pemerintah, dan lain-lain sehingga dapat dihindari
seminimal mungkin beberapa hal yang dapat menghambat
pelaksanaan strategi dalam memanfaatkan peluang pasar tersebut.

3. Klasifikasi dan Penyaringan data/informasi; dari semua data dan


informasi yang telah direkam serta informasi situasi yang telah

118
Menerapkan Strategi Programme Life Cycle (PLC )

diperolah, selanjutnya harus dilakukan pengklasifikasian dan


penyaringan data untuk menemukan titik kemungkinan dari berbagai
peluang yang yang potensial dan tidak potensial.

4. Survei Pasar, melakukan survei secara acak kepada calon


pelanggan untuk mendapatkan respon sementara terhadap
berbagai alternative peluang pasar untuk mendapatkan informasi
yang lebih akurat untuk menentukan strategi dan langkah lanjutan.
Dalam menganalisis peluang pemasaran ada beberapa hal yang harus dilakukan
yaitu:

Riset Pemasaran

Banyak cerita sukses pemasaran tidak bisa dilepaskan dari kesuksesan


riset pemasaran. Akan tetapi untuk mendapatkan ini semua diperlukan kerja
keras tim riset pemasaran sehingga hasil yang diperoleh akan berharga bagi
para manajer untuk mengambil keputusan yang tepat. Banyak hal dari riset
pemasaran yang biasanya kurang memuaskan manajer atau pengguna
informasi, seperti akurasi, informasi yang kurang relevan, tidak tersedia pada
saat yang diperlukan dan sebagainya. Dengan demikian diperlukan kerja keras
dan komunikasi yang baik diantara penyedia dan pengguna informasi
pemasaran. Riset Pemasaran adalah perancangan, pengumpulan, analisis, dan
pelaporan yang sistematis dari data penemuan yang relevan dengan situasi
pemasaran tertentu yang dihadapi peusahaan. Guna mangatasi masalah-
masalah tersebut diatas, maka beberapa hal dapat dilakukan seperti menambah
sumber informasi, mereduksi kesalahan, merencanakandan studi riset yang lebih
baik dan cara pelaporan yang lebih baik.

Langkah-langkah dalam Riset Pemasaran

Biasanya riset pemasaran akan dilakukan oleh perusahaan bila informasi


yang diperlukan tidak diperoleh dari perusahaan-perusahaan riset atau informasi
yang tersedia tidak memadai. Riset pemasaran biasanya dikelola oleh manajer
pemasaran atau manajer riset.

119
Menerapkan Strategi Programme Life Cycle (PLC )

a. Formulasi Masalah

Pendefinisian masalah dan sasaran


riset adalah masalah krusial dalam
riset pemasaran. Periset dan
manajer perlu untuk bekerjasama
untuk memformulasikan masalah,
hal ini dapat dimengerti karena
kesalahan atau kurang tepatnya
pendefinisian suatu masalah akan
menyebabkan terlalu luasnya
masalah dan hasil riset yang
diperoleh tidak tepat sasaran dan
banyak hal yang dilakukan tidak
berguna.

Ada tiga jenis riset yang dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan.

1. Riset eksploratif yaitu riset yang dilakukan untuk mengumpulkan data


pendahuluan guna mengetahui apakah masalah itu memang ada
2. Riset deskriptif yaitu untuk mendapatkan besaran data tertentu

3. Riset kausal yaitu untuk menguji hubungan sebab akibat

b. Menentukan Informasi yang diperlukan, sumber informasi dan teknik riset

Dalam mengembangkan rencana riset harus diputuskan mengenai


darimana memperoleh sumber data, pendekatan risetnya bagaimana, instrument
riset yang dipakai apa, dan bagaimana rencana pengambilan sampelnya dan
metoda kontaknya. Dalam menyusun rencana riset Tabel dibawah ini
memberikan pilihan-pilihan.

120
Menerapkan Strategi Programme Life Cycle (PLC )

Tabel 8.1 Rencana Riset Pilihan

Sumber Data Data Sekunder, Data Primer

Teknik Riset Observasi, Kelompok terfokus, Survei,


Eksperimen

Instrumen Riset Kuesioner, atau dengan cara lainnya

Rencana Pengambilan Sampel Unit pengambilan sample, Ukuran


sampel, Prosedur pengambilan sampel

Cara Kontak Telepon, Internet, Surat-menyurat,


Pendekatan pribadi

c. Mengumpulkan Informasi

Pengumpulan informasi dapat dilakukan berbagai cara, dimulai dari


mendatangi reponden dengan mengajukan serangkaian pertanyaan atau
responden diminta mengisi form isisan dan kemudian merekamnya. Cara lain
yaitu dengan cara wawancara melalui telepon ataupun dengan cara lain yaitu
responden duduk didepan layar monitor dan diajukan pertanyaan dan diminta
untuk memilih jawaban. Cara terakhir ini sangat efisien dan banyak digunakan
dalam era teknologi computer dan telekomunikasi dewasa ini dan responden
merasa lebih nyaman karena dapat dengan bebas menjawab tanpa dilihat
pewawancara.

Hal penting dalam pengumpulan data ini adalah untuk menjamin bahwa
data yang dikumpulkan adalah benar dan terhindarkan dari jawaban yang tidak
jujur atau bias. Untuk hal ini desain pertanyaan haruslah sedemikian sehingga
meminimasi ha-hal yang disebutkan tadi.

d. Menganalisis Informasi dan Menyajikan Hasil Riset

Bila data telah terkumpul maka analisis dapat dimulai. Kegiatan


menganalisis informasi adalah untuk menyaring temuan-temuan yang berguna
dari data untuk kemudian ditabulasikan untuk selanjutnya diproses untuk
mendapatkan distribusi frekuensi satu arah dan dua arah. Rata-rata dan ukuran
dispersi dihitung untuk variabel-variabel utama. Hasil riset sebaiknya disajikan

121
Menerapkan Strategi Programme Life Cycle (PLC )

yang penting-penting saja dan relevan dengan keputusan pemasaran utama


yang dihadapi manajemen.

C. Menganalisis Lingkungan Pemasaran

Lingkungan pemasaran pada dasarnya terdiri dari Lingkungan Demografi,


Lingkungan Ekonomi, Lingkungan Alam, Lingkungan Politik, Lingkungan
Teknologi dan Lingkungan Budaya. Lingkungan pemasaran selalu berubah dari
waktu kewaktu. Lingkungan yang berubah dapat memberikan suatu suatu
ancaman baru dan sekaligus juga peluang baru bagi perusahaan. Perusahaan
harus selalu memonitor dan beradaptasi secara terus menerus.

Lingkungan demografi

Lingkungan demografi perlu


dimonitor mengingat populasi
penduduk adalah yang
membentuk pasar. Dengan
demikian ukuran dan tingkat
pertumbuhan penduduk dalam
suatu wilayah berikut distribusi
umur, tingkat pendidikan, pekerjaaan dll menjadi suatu parameter yang
mempengaruhi karakteristik demografis yang pada akhirnya akan membrikan
implikasi pada pasar.

Lingkungan Ekonomi

Pasar merlukan daya beli, daya beli yang ada dalam suatu perekonomian
tergantung pada pendapatan, harga, tabungan, hutang dan ketersedian kredit.
Perhatian perlu difokuskan pada kecenderungan-kecenderungan utama pada
pendapatan dan pola pengeluaran konsumen.

Lingkungan Alam

Pengaruh lingkungan alam meliputi kelangkaan sumber daya alam, biaya


energi yang meningkat, tingkat polusi yang meningkat, pelestarian lingkungan
dan berkembangnya kesadaran lingkungan dan gerakan lingkungan.

122
Menerapkan Strategi Programme Life Cycle (PLC )

Lingkungan Politik

Perubahan lingkungan politik akan mempengaruhi keputusan pemasaran.


Lingkungan politik mencakup hukum, birokrasi pemerintahan, kelompok/
organisasi yang berpengaruh dalam masyarakat, LSM dsb.

Lingkungan Teknologi

Pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh penemuan teknologi dan


akhirnya menentukan Jumlah. Dilain pihak penemuan teknologi baru akan
merugikan atau menghancurkan industri dengan teknologi yang sudah lama.

Lingkungan Budaya

Hal-hal yang perlu diperhatikan bahwa budaya dasar sulit berubah atau memiliki
kemapanan sedangkan budaya sekunder masih mungkin berubah dan
mengalami pergeseran sepanjang waktu. Bahwa setiap kebudayaan terdiri dari
sub-kebudayaan. Contohnya seperti pembudayaan lingkungan seperti gambar
tersebut. Perubahan
lingkungan akan memberikan
peluang dan sekaligus juga
ancaman. Selain lingkungan
yang disebutkan diatas,
kecenderungan-
kecenderungan juga akan
melahirkan peluang-peluang.
Kecenderungan adalah berbeda dengan mode. Kecenderungan adalah suatu
adalah suatu arah atau urutan kejadian yang memlilki momentum dan jangka
waktu.

Prinsip-prinsip Peluang Pasar Potensial

Dalam mengevaluasi gagasan untuk menciptakan nilai-nilai potensial


(peluang usaha), pelaku usaha perlu mengidentifikasi dan mengevaluasi semua
risiko yang mungkin terjadi. Hasil dari gagasan-gagasan secara keseluruhan

123
Menerapkan Strategi Programme Life Cycle (PLC )

adalah perubahan dalam bentuk arahan atau petunjuk atau kreasi baru tentang
produk (barang/jasa) yang dihasilkan. Banyak wirausaha yang bukan atas
gagasan sendiri tetapi hasil pengamatan dan penerapan gagasan-gagasan
orang lain dan bisa menjadi peluang.
Agar gagasan-gagasan potensial menjadi peluang usaha yang riil,maka
pelaku usaha harus bersedia melakukan evaluasi terhadap peluang secara terus
menerus. Beberapa wujud tindakan dalam rangka mengembangkan peluang
pasar potensial antara lain:

1. Menciptakan produk baru dan berbeda dari kebanyakan produk yang


ada di pasar.
2. Mengamati potensi-potensi yang dimiliki pesaing dan perkembangan
produk baru di pasar.
3. Analisis perusahaan dan proses pengelolaan usaha menjamin apakah
jumlah dan prosesnya berkualitas dan mampu memenuhi kebutuhan
pasar.
4. Memperhitungkan Risiko yang mungkin terjadi, baik risiko teknik,
risiko financial dan risiko pesaing.

LATIHAN

Buatlah analisis peluang pasar dan tetapkan rencana tindakan yang akan
dilakukan berdasarkan data dan informasi yang tersedia di perusahaan Anda!

124
Kualitas Diversifikasi Dan Ekspansi Layanan

BAB IX
KUALITAS, DIVERSIFIKASI DAN EKSPANSI LAYANAN

kesatuan yang sulit untuk dipisahkan. Kinerja berpengaruh langsung


terhadap kepuasan konsumen. Oleh karena itu, suatu perusahaan diharapkan
dapat meningkatkan kinerjanya, dimulai dengan mengetahui sejauh mana tingkat
kepuasan yang diperoleh konsumen.

A. Hakekat Mutu Layanan dan Kepuasan Pelanggan

Meningkatkan layanan bukan lagi suatu opsi, melainkan keharusan usaha


masa kini untuk mempertahankan usahanya di tengah era yang sangat
kompetitif. Menurut James R Evans, peningkatan kualitas pada mulanya
berfokus pada pengurangan cacat dan kesalahan pada barang dan jasa,
perbaikan yang bertahan lama tidak dapat tercapai tanpa perhatian yang
sungguh sungguh terhadap suara konsumen serta keterlibatan partisipasi para
karyawan.
Kepuasan pelanggan yaitu respon atau tanggapan yang diberikan para
konsumen setelah terpenuhinya kebutuhan mereka akan sebuah produk ataupun
jasa, sehingga para konsumen memperoleh rasa nyaman dan senang karena
harapannya telah terpenuhi. Selain itu kepuasan pelanggan juga sering dijadikan
sebagai salah satu tujuan utama dari strategi pemasaran bisnis, baik bisnis yang
dijalankan dengan memproduksi barang maupun bisnis jasa. Keberhasilan
strategi pemasaran suatu usaha dapat dicapai jika kepuasan pelanggan telah
terpenuhi. Namun untuk memperoleh kepuasan pelanggan tidaklah mudah,
karena tiap pelanggan memiliki tingkat kepuasan yang berbeda beda walaupun
membutuhkan produk yang sama. Proses pemenuhan kepuasan pelanggan tidak
hanya membutuhkan produk atau jasa yang berkualitas saja, namun juga
membutuhkan adanya sistem pelayanan yang mendukung. Sehingga para
pelanggan akan merasa senang dengan produk atau jasa yang dibutuhkan, serta
nyaman dengan pelayanan yang diberikan.
Adanya kepuasan pelanggan ternyata juga dapat mempengaruhi omset
penjualan yang dihasilkan. Jika pelanggan merasa puas akan suatu produk
maka permintaan akan meningkat dan omset penjualan pun ikut naik, sebaliknya

125
Kualitas Diversifikasi Dan Ekspansi Layanan

jika pelanggan tidak merasa puas maka permintaan akan menurun begitu juga
dengan omset penjualannya. Hal penting lainnya yang harus diperhatikan yaitu,
pelanggan yang kurang puas dengan suatu produk tidak akan membeli ataupun
menggunakan lagi produk yang kita tawarkan. Selain itu pelanggan yang kurang
puas juga dapat menceritakan kepada konsumen lain tentang keburukan produk
yang mereka dapatkan, sehingga dapat menimbulkan citra buruk di kalangan
para konsumen. Untuk itu, berikut kami berikan beberapa strategi meningkatkan
kepuasan pelanggan, agar dapat terhindar dari kemungkinan buruk seperti
diatas.
1. Berikan produk yang berkualitas, serta bebas dari kerusakan ataupun
kecacatan saat sampai di tangan pelanggan. Sebaiknya cek terlebih
dahulu kualitas produk atau jasa yang akan diberikan kepada pelanggan.
2. Berikan kualitas pelayanan yang ramah, ketepatan waktu penyampaian,
serta menggunakan sistem yang mudah dipahami para pelanggan.
Sehingga para pelanggan tidak merasa kesulitan dengan pelayanan yang
diberikan, baik pelayanan langsung maupun pelayanan online.

3. Fokus pada kepentingan atau pencapaian kepuasan pelanggan, sehingga


produk serta pelayanan yang diberikan dapat memenuhi harapan
pelanggan.

4. Memperhatikan harga produk maupun biaya pelayanan yang sesuai


dengan kondisi pasar saat ini, serta sesuaikan dengan nilai produk atau
jasa yang ditawarkkan. Karena pelanggan akan membandingkan antara
biaya yang dikeluarkan dengan manfaat yang diperoleh dari suatu
produk.

5. Berikan jaminan keamanan dari produk maupun pelayanan yang


diberikan, sehingga para pelanggan percaya dengan produk ataupun jasa
yang ditawakan dan akan terus menjadi pelanggan setia perusahaan kita.
Misalnya dengan mencantumkan ijin dari Badan POM bagi produk
makanan dan obat.

Setelah memiliki beberapa strategi yang dapat digunakan untuk


meningkatkan kepuasan pelanggan, langkah berikutnya Anda dapat mengukur
kepuasan pelanggan Anda dengan beberapa cara sederhana berikut :

126
Kualitas Diversifikasi Dan Ekspansi Layanan

1. Menggunakan sistem saran dan kritik dari para pelanggan. Misalnya


dengan menyediakan kotak saran maupun kritik, atau menyediakan
layanan telepon suara konsumen.
2. Dengan mengadakan survey kepuasan pelanggan. Biasanya dilakukan
dengan memberikan kuesioner pada pelanggan yang sedang membeli
produk kita, atau dapat juga melakukan survey dengan melakukan
telepon acak untuk menanyakan pelayanan yang selama ini telah
diberikan.

3. Dengan mencoba menghubungi kembali pelanggan yang sudah lama


tidak membeli produk kita. Sehingga kita bisa mengetahui penyebab
mereka berhenti berlangganan, apakah karena kecewa dengan produk
kita atau karena ada faktor lain. Sehingga kita dapat mengevaluasi
produk serta pelayanan yang selama ini diberikan.

Dengan adanya penilaian kepuasan pelanggan kita dapat mengetahui


kebutuhan yang diinginkan para pelanggan. Yang berpengaruh pula terhadap
omset penjualan produk. Untuk itu berikan pelayanan prima bagi setiap
pelanggan Anda, agar mereka merasa senang dan nyaman dengan produk kita

Teknik-teknik Meningkatkan Mutu Layanan

Konsep value-added (nilai tambah) telah menjadi salah satu strategi yang
populer selama beberapa tahun. Bahkan, saya punya banyak teman yang
mengklaim bahwa merekalah yang menemukan konsep ini. Menurut saya yang
demikian hanya sekadar klaim saja, sebagaimana banyak orang yang mengklaim
telah menemukan internet! Yang menjadi persoalan sebenarnya adalah bahwa di
pasar saat ini begitu banyak produk dan jasa yang beredar, sehingga
kemampuan untuk menambah nilai produk atau layanan merupakan suatu
kebutuhan mutlak. Tidak diragukan lagi, ketiadaan nilai tambah pada produk atau
jasa menyebabkan pasar dapat dikendalikan oleh faktor paling mendasar, yaitu
harga. Masalahnya, bila Anda hanya bermain harga, Anda tidak akan bisa
mendapatkan tingkat margin penjualan yang tinggi.

Padahal, hal itu menentukan profitabilitas, pertumbuhan jangka panjang,


dan tingkat keberhasilan penjualan.

127
Kualitas Diversifikasi Dan Ekspansi Layanan

10 Cara agar Anda Dapat Menambah Nilai pada Produk atau Layanan
Anda, Tanpa Peduli Apa yang Anda Jual". Beberapa kali orang mendebat saya
dengan mengatakan, Anda tidak mengerti, produk saya berbeda! atau Jasa
saya berbeda! Namun, pada kenyataannya, segala sesuatu itu dapat memiliki
nilai tambah. Jadi, mari kita melangkah dan melihat 10 cara yang bisa Anda
lakukan.

1. Memberikan saran yang baik kepada pelanggan serta pelayanan


dengan tingkat profesionalisme yang tinggi.

Banyak konsultan, kantor akuntan dan bahkan profesional medis


menetapkan bayaran sesuai dengan tingkatan saran yang mereka
tawarkan. Namun, bagi Anda sebagai penjual profesional, yang dapat
Anda berikan adalah nilai pada produk. Dengan demikian, yang perlu
Anda lakukan adalah memahami bahwa Anda perlu memberikan saran
yang jauh lebih bagus, lebih kompleks, dan lebih bernilai daripada
pesaing Anda. Hal ini tentunya membutuhkan wibawa, kebijaksanaan,
dan pemahamaan yang jauh lebih baik tentang apa yang Anda lakukan.

2. Memperbagus pengepakan dan pengemasan.

Di sini, saya tidak hanya berbicara tentang bagaimana penampilan


produk Anda, namun lebih dari itu, juga bagaimana agar tingkat
pembelian dan value-added yang ditawarkan bisa tampak dari kemasan
produk, sehingga semuanya menjadi tampak lebih bernilai.

3. Menerapkan level pelayanan.

Selain Anda dapat meningkatkan tingkat level pelayanan, Anda juga


dapat membedakan tingkat level pelayanan untuk pembelian produk
ukuran tertentu, atau untuk frekuensi pembelian tertentu. Misalnya, Anda
bisa membuat tiga paket layanan: paket emas, paket platinum, dan paket
silver, kepada para pelanggan Anda.

128
Kualitas Diversifikasi Dan Ekspansi Layanan

4. Membuat program khusus untuk pelanggan setia.

Strategi ini terkait dengan konsep "semakin sering seorang pelanggan


membeli dari Anda, semakin baik pula pelayanan, harga, dan fitur yang
mereka dapatkan". Sebagai bukti bahwa strategi ini penting, saya
mengenal banyak orang yang selalu menggunakan jasa penerbangan
yang sama, sekadar ingin mendapat akumulasi penerbangan yang
banyak lalu berkata, Saya sudah naik pesawat dengan maskapai A
sebanyak sekian mil.
5. Memberikan pelatihan keterampilan atau seminar yang berkaitan
dengan produk.

Ketika pelanggan telah membeli produk atau layanan Anda, Anda bisa
memberikan pelatihan atau semacamnya agar mereka dapat
menggunakan produk Anda dengan lebih baik. Semakin banyak Anda
memberikan pelatihan terkait produk Anda, semakin baik pula pelanggan
menggunakan produk Anda.

6. Memberikan "penghargaan" kepada pelanggan tertentu dan juga


hadiah.

Anda, sebagai penjual, dapat memberikan semacam "penghargaan"


kepada pelanggan yang sangat dengan baik mengenal atau mahir
menggunakan produk Anda, bisa memaksimalkan efektivitas produk
Anda, atau pembeli besar yang setia. Penghargaan yang dimaksud
adalah membuat mereka merasa menjadi pelanggan yang istimewa.
Beberapa tahun lalu, kami memasukkan rubrik "Hall of Fame" pada surat
kabar yang kami terbitkan. Kami menemukan bahwa banyak klien kami
yang sangat tertarik untuk muncul di sana. Ini cara bagus untuk
membangun hubungan baik dengan klien dan pelanggan.

7. Peningkatan kualitas.

Pada pelanggan tertentu, yang memiliki tingkat pembelian tertentu atau


interaksi yang cukup sering, Anda dapat memberikan kualitas berbeda.
Kepada pelanggan demikian, berikanlah kualitas produk yang lebih baik,
pelayanan yang lebih berwibawa, personil yang lebih berdedikasi, saluran

129
Kualitas Diversifikasi Dan Ekspansi Layanan

telepon dan faks yang lebih profesional, dan selalu berilah mereka
peluang untuk mendapat pelayanan yang lebih baik lagi. Anda pun bisa
menerapkan pelayanan yang demikian kepada pelanggan baru sebagai
salah satu value-added.

8. Menempatkan personil yang lebih berdedikasi untuk mengangani


pelanggan tertentu.

Ini akan bekerja tepat sasaran jika Anda memiliki produk atau layanan
teknis, atau suatu hal yang membutuhkan dukungan. Mudah saja,
semakin seseorang lebih merasa akrab dengan penyedia jasa atau
produk, maka akan semakin jauh lebih mudah untuk melakukan bisnis
dengan instansi tersebut. Dalam skenario ini, Anda cukup menempatkan
personil pilihan yang berdedikasi untuk menangani pelanggan Anda
secara lebih akrab.

9. Mempercepat pelayanan.

Salah satu cara untuk tampil beda dari pesaing Anda adalah menjamin
pelanggan Anda untuk mendapatkan pelayanan yang lebih cepat. Semua
orang sudah tahu bahwa jika penjual memasang harga tinggi maka
pengiriman cepat adalah salah satu komponen wajibnya.

10. Memberikan informasi secara berkala.

Ini adalah fitur menjadi suatu hal yang biasa bagi penjual informasi yang
berkaitan dengan saham, obligasi, informasi keuangan, atau apa pun
yang berhubungan dengan informasi atau data yang spesifik dengan
waktu. Untuk menerapkan hal ini, mungkin, Anda dapat
mempertimbangkan sebuah newsletter berkala (elektronik atau dicetak)
yang dikirim kepada pelanggan secara teratur yang memuat informasi
penting yang patut mereka miliki.

Inilah 10 cara untuk menambahkan nilai jual pada produk atau layanan Anda.
Semua dapat diterapkan dalam keseharian aktivitas penjualan Anda. Memang,
kadang muncul keraguan untuk menerapkan ini semua karena untuk
menerapkannya membutuhkan kreativitas, inovasi, dan kerja lebih keras dari
pesaing Anda. Akan tetapi, akan menjadi kenyataan yang menyedihkan jika Anda

130
Kualitas Diversifikasi Dan Ekspansi Layanan

terus menjual dengan cara tradisional Anda, hingga harga akan terus
mengendalikan usaha Anda, dan siapa sangka jika pesaing Anda akan
mengambil satu dari 10 ide tadi lalu mengalahkan Anda. Lalu apa tantangan
anda? Lakukan itu sebelum mereka melakukannya! Ketua konfederasi terkenal,
Nathan Bedford Forrest, pernah berkata setelah "memenangkan" suatu
persaingan bisnis, "Saya memenangkannya karena saya melakukannya paling
dahulu!" Anda perlu melakukan hal yang sama

Kepuasan Pelanggan (Customer Satisfaction)

Kepuasan adalah tingkat perasaan seorang pelanggan setelah


membandingkan kinerja (atau hasil) yang dirasakan dengan harapannya. Jadi
tingkat kepuasan adalah fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan
dengan harapan. Kepuasan pelanggan sepenuhnya dapat
dibedakan pada tiga tingkatan, yaitu:

1. Memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar pelanggan, contoh: sebuah


lembaga membuka bahasa bagi siswa SD/SLTP/SLTA dengan materi yang
disesuaikan dengan kurikulum yang dikembangkan di sekolah. Target
adalah peserta bias memahami bahasa inggris sesuai dengan pakem
kurikulum sekolah.
2. Memenuhi harapan pelanggan dengan cara yang dapat membuat mereka
akan kembali lagi. Contoh: sebuah lembaga menyediakan paket-paket
program tata kecantikan rambut; bukan hanya paket tata kecantikan
rambut tetapi juga diberikan teknik perawatan, dan juga pengetahuan
tentang berbagai model tata rambut serta bahan perawatan rambut.
3. Melakukan lebih daripada apa yang diharapkan pelanggan. Contoh: sebuah
lembaga komputer memberikan penawaran program komputer office,
dimana peserta didik tidak hanya dilatih mengoperasikan Ms Office,
tetapi juga diberikan wawasan tentang pemanfaatan program tersebut,
contoh-contoh aplikasi perkantoran, diberikan materi softskill atau materi
tentang dunia kerja (disesuaikan dengan peserta didik) dan setiap hari
diberikan layanan yang berlimpah, bahkan setiap peserta dapat menambah
praktik bebas atau akses internet gratis.
Setiap orang mempunyai pelanggan yang harus dipuaskannya. Ini yang
pertama-tama harus disadari setiap karyawan. Kepuasan pelanggan relevan
untuk kita semua, apapun pekerjaan kita, jadi kepuasan pelanggan bukan

131
Kualitas Diversifikasi Dan Ekspansi Layanan

semata-mata urusan dan tanggung jawab divisi pemasaran dan pelayanan purna
jual. Langkah pertama dalam usaha memuaskan pelanggan adalah menentukan
dan mengantisipasi kebutuhan-kebutuhan pelanggan. Pelanggan yang berbeda
dapat pula berlainan kebutuhannya dan juga berbeda perioritasnya, tetapi pada
dasarnya kebutuhan kebutuhan umum hampir sama. Untuk itu diperlukan cara
pengukuran atas kepuasan pelanggan. Cara sederhana yang digunakan untuk
mengukur kepuasan pelanggan, yaitu :

1. Sistem Keluhan dan Saran; Industri yang berwawasan pelanggan akan


menyediakan formulir bagi pelanggan untuk melaporkan kesukaan dan
keluhannya. Selain itu dapat berupa kotak saran dan telepon
pengaduan bagi pelanggan. Alur informasi ini memberikan banyak
gagasan baik, dan industri dapat bergerak lebih cepat untuk
menyelesaikan masalah.

2. Survei Kepuasan Pelanggan; Industri tidak hanya menggunakan tingkat


keluhan sebagai ukuran kepuasan pelanggan. Industri yang responsif
mengukur kepuasan pelanggan dengan mengadakan survei berkala,
yaitu dengan mengirimkan daftar pertanyaan atau menelepon secara
acak dari pelanggan untuk mengetahui perasaan mereka terhadap
berbagai kinerja industri. Selain itu juga ditanyakan tentang kinerja
industri saingannya.

3. Ghost Shopping (Pelanggan Bayangan); Pelanggan bayangan


adalahmenyuruh orang berpura-pura menjadi pelanggan dan melaporkan
titik-titik kuat maupun titik-titik lemah yang dialami waktu membeli produk
dari industri sendiri maupun industri saingannya. Selain itu pelanggan
bayangan melaporkan apakah wiraniaga yang menangani produk dari
industri.

4. Analisa Pelanggan yang Beralih; Industri dapat menghubungi


pelanggan yang tidak membeli lagi atau berganti pemasok untuk
mengetahui penyebabnya (apakah harganya tinggi, pelayanan kurang
baik, produknya kurang dapat diandalkan dan seterusnya,sehingga dapat
diketahui tingkat kehilangan pelanggan.

132
Kualitas Diversifikasi Dan Ekspansi Layanan

B. DIVERSIFIKASI DAN EKSPANSI LAYANAN

Strategi perusahaan atau organisasi merupakan suatu wilayah kajian


yang selalu menarik untuk dicermati. Begitu banyak pendekatan yang dilakukan,
mulai dari sangat kuantitatif sampai pada belajar dari pengalaman sukses
seseorang atau suatu perusahaan (best practices). Dalam rangka
mempertahankan kesinambungan dan profitabilitas usahannya, berbagai cara
dilakukan oleh perusahaan. Salah satu cara untuk menjaga kesinambungan dan
profitabilitas perusahaan adalah dengan melakukan diversifikassi dan ekspansi
layanan.

Hakekat Diversifikasi dan Expansi

Ekspansi bisnis adalah hal mutlak yang terjadi saat bisnis Anda semakin
berkembang. Dengan ekspansi atau perluasan usaha, pertumbuhan bisnis Anda
akan signifikan dan sesuai dengan target yang Anda harapkan. Namun,
adakalanya, ekspansi bisnis yang berlebihan
justru dapat menghancurkan bisnis yang telah
berjalan. Apa saja manfaat dan bekal yang harus
disiapkan saat memulai ekspansi bisnis? Dengan
melakukan ekspansi bisnis, Anda dapat
mengurangi pesaing. (image: google)

Dari segi manfaat, setidaknya, ekspansi bisnis dapat mendatangkan 7 manfaat


bagi perusahaan Anda.

Pertama, pertumbuhan atau diversifikasi. Perusahaan yang menginginkan


pertumbuhan yang cepat, baik ukuran, pasar saham, maupun diversifikasi usaha
dapat melakukan merger maupun akuisisi. Perusahaan tidak memiliki resiko
adanya produk baru. Selain itu, dengan melakukan ekspansi bisnis, seperti
merger atau akuisisi, perusahaan Anda dapat mengurangi pesaing. Setelah
pesaing berkurang, Anda dapat lebih fokus menjalankan bisnis Anda.

Kedua, sinergi. Sinergi yang baik antara Anda dan perusahaan merger akan
menghasilkan tingkat skala ekonomi. Tingkat skala ekonomi terjadi karena

133
Kualitas Diversifikasi Dan Ekspansi Layanan

perpaduan biaya overhead meningkatkan pendapatan yang lebih besar daripada


jumlah pendapatan perusahaan ketika tidak merger. Sinergi tampak jelas ketika
perusahaan yang melakukan merger berada dalam bisnis yang sama karena
fungsi dan tenaga kerja yang berlebihan dapat dihilangkan. Dengan kerja sama
yang bagus dan komitmen, Anda dapat melanjutkan bisnis dengan lebih percaya
diri.

Ketiga, peningkatan dana. Anda dapat bergabung dengan perusahaan yang


memiliki likuiditas tinggi sehingga daya pinjam perusahaan Anda meningkat
sementara kewajiban keuangan menurun.

Keempat, menambah keterampilan manajemen atau teknologi. Dengan


berekspansi, Anda dapat menambah keterampilan manajemen perusahaan atau
teknologi dari perusahaan merger Anda. Hal ini juga berlaku terhadap para
karyawan Anda sehingga produktivitas kerja meningkat.

Kelima, pertimbangan pajak. Perusahaan dapat membawa kerugian pajak


sampai lebih 20 tahun ke depan atau sampai kerugian pajak dapat tertutupi.
Perusahaan yang memiliki kerugian pajak dapat melakukan akuisisi dengan
perusahaan yang menghasilkan laba untuk memanfaatkan kerugian pajak. Pada
kasus ini, perusahaan yang mengakuisisi akan menaikkan kombinasi
pendapatan setelah pajak dengan mengurangkan pendapatan sebelum pajak
dari perusahaan yang diakuisisi. Bagaimanapun, merger tidak hanya karena
keuntungan dari pajak, tetapi berdasarkan dari tujuan memaksimisasi
kesejahteraan pemilik.

Keenam, meningkatkan likuiditas pemilik. Merger antar perusahaan


memungkinkan perusahaan memiliki likuiditas yang lebih besar. Jika perusahaan
lebih besar, pasar saham akan lebih luas dan saham lebih mudah diperoleh
sehingga lebih likuid dibandingkan dengan perusahaan yang lebih kecil.

Ketujuh, melindungi diri dari pengambilalihan. Hal ini terjadi ketika sebuah
perusahaan menjadi incaran pengambilalihan yang tidak bersahabat. Target firm
mengakuisisi perusahaan lain, dan membiayai pengambilalihannya dengan utang
karena beban utang ini, kewajiban perusahaan menjadi terlalu tinggi untuk
ditanggung oleh bidding firm yang berminat.

134
Kualitas Diversifikasi Dan Ekspansi Layanan

Setelah Anda mengetahui manfaat dari ekspansi, kini Anda dapat


mempersiapkan bekal apa saja yang harus Anda siapkan saat memulai ekspansi.

1. Kas adalah pondasi pertama

Kiat ekspansi bisnis yang utama adalah apabila cash flow bisnis berputar secara
sehat. Semakin konsisten cash flow Anda, semakin fantastik hasilnya. Untuk
melakukannya, cobalah laporkan cash flow statements Anda secara berkala
setiap pekan. Sebagai tambahan, ada cara sederhana untuk melihat kebocoran
cash flow berikut ini.

a. Apakah operating cash Anda positif, artinya Anda tidak perlu suntik
modal untuk kegiatan operasional Anda?
b. Apakah operating cash lebih besar dari profit Anda?

c. Apakah operating cash lebih besar dari investasi fixed asset?

d. Apakah operating cash sejalan kenaikan net income?

Jika Anda tidak tahu apa yang terjadi di bisnis Anda, sekarang saatnya mencari
tahu dari akuntan Anda. Jika Anda belum memiliki akuntan, carilah akuntan
publik. Setelah cashflow terkendali, berikutnya adalah menentukan break even
revenue yang Anda butuhkan untuk menutupi biaya operasional dan cash
reserve Anda. Investasi waktu di area yang tepat Investasi pertama adalah
alokasi waktu Anda. Pastikan anda mempersiapkan 80% waktu untuk
memperkenalkan bisnis. Menjual, marketing, produksi adalah tempat uang Anda
berada. Maka duduk-duduk di balik meja akan membunuh bisnis Anda perlahan-
lahan. Ini ditujukan juga untuk semua staf dan karyawan Anda ! Semua harus
fokuskan 80% untuk mencetak skor fantastik. Siapa di bisnis Anda yang paling
produktif? Siapa yang paling tidak produktif ? Siapa yang paling Anda andalkan?
Siapa yang paling tidak Anda andalkan ? Siapa yang telah berubah, siapa yang
belum? Jika Anda berani melihat kembali di kaca, apakah semua orang di
perusahaan saya produktif memanfaatkan waktu ? Disiplin dengan program
marketing yang menghasilkan Hati-hati! Jangan terjebak dengan aktivitas yang
tidak memberi Anda hasil. Apakah yellow pages ads anda memberikan hasil yang
Anda inginkan ? Apakah brosur Anda semua memberi hasil yang Anda
harapkan ? Apakah cara salesman Anda menawarkan produk benar-benar efektif

135
Kualitas Diversifikasi Dan Ekspansi Layanan

?. Ketahui semua ukuran kesuksesan dari setiap kegiatan Anda. Ukurlah semua
strategi pemasaran Anda, salesman Anda, iklan, brosur, promosi, program Anda.
Stop yang tidak menghasilkan, tingkatkan apa yang sudah berhasil. Jika Anda
tidak mencatat skor setiap aktivitas, Anda tidak bisa membedakan apakah Anda
menang atau kalah.

2. Investigasi pelayanan prima

Jangan jadikan customer service menjadi sebuah departemen ! Semua


karyawan Anda adalah customer service representative, semua benda mati dan
benda hidup di perusahaan Anda adalah customer service. Customer service is
in the detail! Anda pasti akan kecewa jika di makanan favorit Anda terselip
rambut, kutu beras, kadang batu kecil tanpa sengaja. Customer service tidak
bisa menyelesaikan masalah ini dengan kata maaf. Perhatikan bisnis Anda dan
tanyakan secara jujur, apakah ini bisnis yang memberikan pelayanan customer
yang terbaik?

3. Fokus pada team yang produktif

Ini saat paling mengasyikkan! Cari karyawan yang ideal. Jangan


menyerah, memang Anda harus mengeluarkan biaya kompensasi lebih besar,
tapi its worth it ! Jangan berusaha berhemat dengan mengerjakan semua
aktivitas seorang diri. Waktu Anda lebih berharga untuk mencetak cash dan
profit. Sebelum ekspansi terjadi, pastikan Anda tahu cara memilih, memelihara,
melatih orang terbaik.

4. Fokus pada kualitas bukan kuantitas

Awas ada jebakan, Big is Beautiful! Kiat ekspansi bisnis, tidak semua big
is beautiful. Meningkatkan penjualan dua kali lipat belum tentu membuat cash
flow Anda tambah positif. Kuantitas banyak belum tentu mencetak kualitas profit
yang positif. Pilih mana, melayani 100 customers yang menghasilkan 10 juta atau
10.000 customer yang masing-masing memberi 1 juta ?

Langkah-langkah Diversifikasi dan Expansi

136
Kualitas Diversifikasi Dan Ekspansi Layanan

Dari waktu ke waktu semakin sedikit perusahaan yang melakukan


diversifikasi usaha, justru karena kompleksitas persoalan yang dimunculkan oleh
strategi ini. Suatu kelompok usaha yang bergerak pada sektor yang beragam
tentunya sangatlah sulit dikelola. Pada dekade 1960-an dan 1970-an, strategi
diversifikasi menjadi populer karena setiap perusahaan berusaha semaksimal
mungkin agar tidak tergantung hanya pada satu jenis usaha saja. Tetapi konsep
pemikiran tersebut mulai surut sejak dekade 1980-an. Pada prinsipnya
kecenderungan baru tersebut dimotori oleh keinginan untuk menjadi lebih baik
dan tidak bergerak terlalu jauh dari basis kompetensi utama (core competence)
setiap perusahaan. Namun demikian, hal tersebut bukan berarti strategi
diversifikasi sudah benar-benar hilang. Masih cukup banyak pula perusahaan
yang berhasil dengan strategi ini, terutama bagi perusahaan yang bergerak di
wilayah usaha yang mengalami kecenderungan menurun (decline).

1. Concentric Diversification; suatu strategi yang menghasilkan produk atau


layanan baru tetapi berhubungan/terkait dengan yang telah ada. Contoh
dari strategi ini adalah Harian Kompas yang memunculkan berbagai
suratkabar, tabloid, dan majalah baru.

2. Horizontal Diversification; Jika suatu perusahaan menerapkan strategi yang


menambah produk atau layanan baru yang tidak berhubungan/terkait
dengan yang telah ada, tetapi ditujukan kepada pasar/ konsumen yang
telah ada disebut sebagai diversifikasi horizontal. Perhatikan Garuda
Indonesia Airways yang memilik beberapa jaringan hotel di Indonesia.

3. Conglomerate Diversification; Ketika suatu perusahaan menambah suatu


produk atau layanan baru yang tidak terkait/ berhubungan dengan yang
sekarang ada, maka strategi tersebut disebut sebagai diversifikasi
konglomerat. Pada beberapa kasus terjadi bahwa strategi ini dilakukan
dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan melalui aktivitas memecah
perusahaan yang telah dibeli atau menjual kembali salah satu atau lebih
devisinya. Ketika Lippobank memutuskan untuk bergerak di sektor
properti atau ketika Bimantara memasuki sektor televisi merupakan dua
contoh strategi konglomerasi. Demikian pula Maspion dengan Maspion
Bank-nya.

137
Kualitas Diversifikasi Dan Ekspansi Layanan

4. Defensive Strategies; Pada prinsipnya, strategi defensif ditujukan untuk


mempertahankan eksistensi perusahaan dari semakin ketatnya persaingan
usaha dan berbagai ketidakpastian eksternal yang sulit (terkadang tidak
mungkin) dikontrol dan diprediksi. Strategi defensif seringpula dikenal
sebagai survival strategy, yang cenderung terjadi dalam suasana krisis
ekonomi.

Ingat Sebelum Melakukan Ekspansi

Saat bisnis telah berkembang, pelaku bisnis layak untuk memikirkan


ekspansi. Selain memperluas jaringan, ekspansi bisnis juga diperlukan untuk
efisiensi serta menambah profit usaha. Tapi terkadang, ekspansi bisnis justru
mengantarkan pelaku bisnis pada jurang kehancuran. Nah, agar Anda tak
mengalami hal tersebut, simaklah beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum
memutuskan untuk ekspansi bisnis :

a. Buat perencanaan
Membuat perencanaan apapun dalam dunia bisnis adalah hal yang sudah
sewajarnya dilakukan. Termasuk ketika ingin ekspansi. Tapi dalam
kenyataannya banyak pelaku bisnis yang tak melakukannya. Hanya
dengan modal spekulasi, mereka berani mengambil keputusan untuk
berekspansi dan itu adalah kesalahan besar.
Sebagai panduan membuat planning, tanyakan beberapa pertanyaan pada
diri Anda sendiri seperti :

Apa permintaan riil bagi produk (barang atau jasa) Anda saat ini?
Apa permintaan proyeksi bagi produk (barang atau jasa) tersebut dalam
jangka waktu 2 hingga 5 tahun ke depan?
Seberapa besar pertumbuhan yang Anda butuhkan untuk memenuhi
permintaan tersebut?
Bagaimana aktivitas kompetitor bisa mengubah bisnis Anda dalam 2 sampai
5 tahun ke depan?
Apa rencana cadangan Anda dalam menanggapi permintaan yang tidak
seperti biasanya?

138
Kualitas Diversifikasi Dan Ekspansi Layanan

Berapa banyak penambahan pegawai yang Anda butuhkan dan kapan


waktu yang tepat untuk mempekerjakan mereka?
Apa cara terbaik untuk ekspansi yang tidak mengganggu cash flow?
Di mana batas kapasitas ekspansi yang dapat menekan biaya?

b. Jangan berlebihan
Ekspansi memang akan mengantarkan bisnis Anda memasuki level yang
lebih tinggi. Tapi sebaiknya jangan berlebihan dalam membuat
perencanaannya. Gunakan logika dalam merancang perencanaan ekspansi
dibanding ambisi, itu akan membantu Anda mencapai tujuan yang
sebenarnya. Idealnya, perencanaan ekspansi dibuat dengan proyeksi bisnis
untuk lima tahun ke depan. Pikirkan pula segala macam risiko yang
kemungkinan terjadi ketika proses ekspansi itu berlangsung.

c. Saran dari professional


Walau ekspansi bisnis Anda berjalan secara natural dan dianggap sudah
sesuai dengan perencanaan yang telah disusun secara sistematis, namun
saran dari ahli tetap penting. Karena erat kaitannya dengan finansial maka
Anda sebaiknya meminta saran dari pihak yang ahli di bidang finansial.

d. Rancang jadwal manajemen proyek ekspansi


Ketika merancang jadwal manajemen proyek perhatikan beberapa hal
berikut :
1) Identifikasikan proyek
2) Cantumkan tanggal atau membuat timeline
3) Jabarkan tanggung jawab
4) Rancang jadwal tinjauan regular
5) Rinci prosedur pengaturan proyek
6) Rancang finansial dan timing tak terduga

e. Informasikan konsumen

Ekspansi tentu akan menyita waktu serta perhatian Anda jadi kemungkinan
turut pula memengaruhi operasional bisnis sehari-hari. Karena itu,
konsumen harus mengetahui apa yang sedang Anda lakukan. Paparkan

139
Kualitas Diversifikasi Dan Ekspansi Layanan

rencana ekspansi Anda dan waktu pencapaiannya. Bila memungkinkan


sampaikan juga gangguan-gangguan yang bisa saja terjadi yang
memengaruhi pelayanan konsumen ketika proses ekspansi itu sedang
berlangsung. Jangan lupa untuk memberi tahu konsumen manfaat yang
bisa mereka peroleh dengan keputusan ekspansi yang Anda pilih serta
jelaskan juga bagaimana ekspansi itu bisa memengaruhi mereka. Yakinkan
selalu bahwa apa yang sedang Anda lakukan semata-mata demi kepuasan
konsumen.

f. Umumkan ekspansi yang telah Anda lakukan


Ketika ekspansi telah berhasil Anda capai, umumkan kepada konsumen
dan media massa. Beri tahu mereka prestasi bisnis serta peningkatan yang
telah Anda raih serta informasikan juga keunggulan ekspansi dan apa
efeknya bagi konsumen

LATIHAN

1. Jelaskan peluang diversifikasi yang memungkinkan dari program yang


diselenggarakan di perusahaan Anda! Berikan contoh!
2. Jelaskan peluang ekspansi perusahaan Anda dan jelaskan alasannya!
3. Sebutkan dan jelaskan 10 potensi peluang pasar yang menarik menurut
Anda? Apa rencana aksi yang akan Anda lakukan untuk merespon
peluang pasar tersebut?
4. Uraikan langkah-langkah strategis yang terukur untuk melakukan
perbaikan dan peningkatan mutu agar tidak mengalami masa decline?
5. Uraikan 10 langkah untuk meningkatkan mutu kepuasan pelanggan;
jelaskan apa yang sudah dilakukan dan apa perbaikan yang akan
dilakukan! Sebutkan 10 langkah yang belum pernah dilakukan untuk
meningkatkan kepuasan pelanggan!
6. Jelaskan kelemahan dan kelebihan produk Anda? Sebutkan 10 rencana
tindakan untuk peningkatan pencitraan lembaga (brand image)!
7. Jelaskan potensi diversifikasi dan ekspansi yang saat ini Anda kelola?
Uraikan lengkap dengan analisa SWO

140
Pecitraan Merek ( Brand Image )

BAB X
PENCITRAAN MEREK (BRAND IMAGE)

Brand (merek) merupakan salah salah satu bagian terpenting dari suatu
produk. Merek dapat menjadi suatu nilai tambah bagi produk baik itu produk
yang berupa barang maupun jasa. Sebagai contoh: Apabila terdapat 2 (dua)
buah botol parfum yang diisi dengan jenis parfum yang sama baik dalam hal
kualitas maupun kuantitas, maka parfum yang diberi merek akan lebih dianggap
bernilai, lebih bagus dan lebih berkualitas dibandingkan dengan parfum yang
tidak diberi merek. Merek adalah istilah, tanda, simbol, desain atau kombinasi
dari semuanya ini yang dimaksudkan untuk mengidentifikasikan produk atau jasa
dari seorang atau sekelompok penjual, yang membedakan produk/jasa tersebut
dengan produk lain terutama produk saingannya (Kotler,1987). Elemenelemen
merek antara lain: nama, logo, simbol, desain, slogan, dan kemasan (paket).

A. Hakekat Brand Image

Dalam menghadapi persaingan yang ketat, merek yang kuat merupakan


suatu pembeda yang jelas, bernilai, dan berkesinambungan, menjadi ujung
tombak bagi daya saing perusahaan dan sangat membantu dalam strategi
pemasaran Perusahaan baik perusahaan barang maupun jasa berusaha
meningkatkan kekuatan mereknya di pasaran dari waktu ke waktu. Contohnya
produk minuman pepsi pada gambar
tersebut Dalam hal ini produsen akan
berusaha memperkenalkan produknya
terutama keunggulan produk yang tidak
dimiliki oleh produk lain. Keberadaan
merek bukan hanya sematamata
menunjukkan nama dari sebuah produk,
namun lebih dari itu, merek menunjukkan nilai tambah dari produk dalam
berbagai dimensi, yang membedakan produk tersebut dengan produk lain.
Kesuksesan dalam membangun merek yang kuat akan tercipta apabila elemen-
elemen pendukung merek mendukung dan memberikan kontribusi yang positif
guna terciptanya merek yang kuat di pasaran. Elemenelemen yang

141
Pecitraan Merek ( Brand Image )

dimaksudkan di sini adalah kualitas produk yang baik, kemampuan produk dalam
memenuhi kebutuhan ataupun keinginan konsumen, kemampuan strategi
marketing yang handal untuk terus memperkenalkan merek di pasaran melalui
segala programprogram marketing, sampai pada kemasan produk yang benar,
baik dan menarik, harga produk yang sesuai dengan kualitas produk yang
ditawarkan.
Dengan demikian, merek dapat terus dikenal, menjadi perhatian dan terus
dikonsumsi oleh masyarakat (menciptakan keloyalan konsumen), dipercaya,
sehingga merek tersebut menjadi merek yang kuat di pasaran.

B. Langkah-langkah Meraih dan Mempertahankan Brand Image

Beberapa kriteria yang harus diperhatikan dalam pemilihan elemen


merek:
1. Mudah diingat; elemen merek yang dipilih hendaknya yang mudah
diingat, dan disebut/diucapkan. Simbol, logo, nama yang
digunakanhendaknya menarik, unik sehingga menarik perhatian
masyarakat untuk diingat dan dikonsumsi.

2. Memiliki makna; elemen merek hendaknya mengandung sebuah makna


maupun penjelasan/deskripsi dari produk. Diharapkan makna ini dapat
mempengaruhi konsumen untuk mengkonsumsi produk tersebut, yang
meliputi: informasi umum tentang kategori dan isi dari produk, informasi
tentang komposisi penting yang ditonjolkan produk dan manfaat dari
produk, menarik, dan berbobot. Pendekatan lain untuk menarik perhatian
konsumen juga dapat dilakukan dengan variasi elemen merek yang unik,
lucu, pemilihan elemen yang kaya akan visualisasi dan imajinasi. Dalam
hal ini yang ditonjolkan adalah desain yang menarik dan lucu.

3. Fleksibel; elemen merek dapat dimengerti dan tetap dapat diterima oleh
daerah/pasar, bahkan budaya lain. Nama yang digunakan pun tidaklah
terlalu sulit untuk diterjemahkan. Seringkali pemilihan elemen merek
mudah diingat oleh masyarakat lokal, namun sangatlah sulit dimengerti
oleh masyarakat lain. Hal ini tentunya akan menghambat produsen untuk
masuk dalam pasar yang baru.
4. Legal; brand elemen tersebut sah menurut hukum dan undang undang
yang berlaku, sehingga berada di bawah perlindungan hukum.

142
Pecitraan Merek ( Brand Image )

Hal hal yang berkaitan erat dengan merek adalah: Nama merek (brand
name), yaitu bagian dari suatu merek yang dapat diucapkan atau dilafalkan.
Contoh : Avon, Toyota, Disneyland, Pepsodent, dan lain-lain dan Tanda merek
(brand mark), yaitu bagian dari merek yang dapat dikenali,namun tidak dapat
dibaca atau diucapkan. Tanda merek ini berupa logo, simbol, warna, gambar,
desain. Karakter brand supaya menjadi brand yang berpotensi adalah:

1. A quality product: kualitas adalah nomor satu yang diinginkan


konsumen.
2. Being first; menjadi yang pertama dalam pasar, bukan dalam teknologi.
3. Unique positioning concept; merek harus memiliki posisi konsep yang
unik, yang akan membedakan dari pesaingnya.
4. Strong communications programme; brand yang sukses harus disertai
dengan penjualan yang efektif, pengiklanan, kampanye promosi yang
akan mengkomunikasikan fungsi dari brand itu dan nilai-nilai yang
terkandung di dalamnya.Dengan usaha yang keras, dan komitmen untuk
memperkuat komunikasi itu, maka akan menimbulkan kesadaran
konsumen akan brand tersebut.
5. Time and Consistency; merek tidak dibangun dalam waktu yang cepat,
membutuhkan waktu untuk membangun merek tersebut dan nilai-nilai
yang ada di dalamnya. Dalam memelihara nilai-nilai merek dibutuhkan
waktu yang berkesinambungan (terus- menerus) dandihubungkan
dengan perubahan lingkungan.

C. Hubungan Brand Image dengan Market Share (Daya Jual)

Menurut Susanto dan Wijanarko (2004) yang mengadaptasi teori Aaker,


brand equity dapat dikelompokkan ke dalam 5 kategori:

1. Brand awareness; pengakuan dan pengingatan dari sebuah merek dan


pembedaan dari merek yang lain yang ada di lapangan. Jadi brand
awareness adalah kemampuan konsumen untuk mengingat suatu brand
dan yang menjadikannya berbeda bila dibandingkan dengan brand
lainnya.
Ada 4 tingkatan brand awareness yaitu:

143
Pecitraan Merek ( Brand Image )

a. Unaware of brand (tidak menyadari merek); Merupakan tingkat


yang paling rendah dalam piramida kesadaran merek, dimana
konsumen tidak menyadari akan adanya suatu merek.

b. Brand recognition (pengenalan merek); Tingkat minimal dari


kesadaran merek. Hal ini penting pada saat seorang pembeli
memilih suatu merek pada saat melakukan pembelian.

c. Brand recall (pengingatan kembali terhadap merek);


Pengingatan kembali terhadap merek didasarkan pada permintaan
seseorang untuk menyebutkan merek tertentu dalam suatu kelas
produk.

d. Top of mind (puncak pikiran); Apabila seseorang ditanya secara


langsung tanpa diberi bantuan pengingatan dan orang tersebut
dapat menyebutkan satu nama merek, maka merek yang paling
banyak disebutkan pertama kali merupakan puncak pikiran.
Dengan kata lain, merek tersebut merupakan merek utama dari
berbagai merek yang ada di dalam benak konsumen.

Ada 4 indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui seberapa jauh


konsumen aware terhadap sebuah brand antara lain:
a. Recall yaitu seberapa jauh konsumen dapat mengingat ketika
ditanya merek apa saja yang diingat.
b. Recognition yaitu seberapa jauh konsumen dapat mengenali
merek tersebut termasuk dalam kategori tertentu.
c. Purchase yaitu seberapa jauh konsumen akan memasukkan
suatu merek ke dalam alternatif pilihan ketika akan membeli
produk/layanan.
d. Consumption yaitu seberapa jauh konsumen masih mengingat
suatu merek ketika sedang menggunakan produk/layanan
pesaing.

2. Perceived quality; persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas


atau keunggulan suatu produk atau jasa berkenaan dengan
maksud yang diharapkan.
3. Brand association; sesuatu yang berkaitan dengan ingatan
mengenai sebuah produk. Asosiasi ini tidak hanya eksis, namun juga
memiliki suatu tingkat kekuatan. Keterikatan pada suatu merek akan

144
Pecitraan Merek ( Brand Image )

lebih kuat apabila dilandasi pada banyak pengalaman atau


penampakan untuk mengkomunikasikannya.
4. Brand loyalty; merupakan ukuran kesetiaan seorang pelanggan pada
sebuah merek. Loyalitas memiliki tingkatan sebagai berikut:
a. Tingkat loyalitas yang paling dasar adalah pembeli tidak loyal
atau sama sekali tidak tertarik pada merek-merek apapun yang
ditawarkan. Dengan demikian, merek memainkan peran yang
kecil dalam keputusan pembelian. Pada umumnya, jenis
konsumen seperti ini suka berpindah-pindah merek atau disebut
tipe konsumen switcher atau price buyer (konsumen lebih
memperhatikan harga di dalam melakukan pembelian).
b. Tingkat kedua adalah para pembeli merasa puas dengan produk
yang digunakan, atau minimal tidak mengalami kekecewaan.
Pada dasarnya, tidak terdapat dimensi ketidakpuasan yang
cukup memadai untuk mendorong suatu perubahan, terutama
apabila pergantian ke merek lain memerlukan suatu tambahan
biaya. Para pembeli tipe ini dapat disebut pembeli tipe kebiasaan
(habitual buyer).
c. Tingkat ketiga berisi orang-orang yang puas, namun memikul
biaya peralihan (switching cost), baik dalam waktu, uang atau
resiko sehubungan dengan upaya untuk melakukan pergantian
ke merek lain. Kelompok ini biasanya disebut dengan
konsumen loyal yang merasakan adanya suatu pengorbanan
apabila melakukan penggantian ke merek lain. Para pembeli tipe
ini disebut satisfied buyer.
d. Tingkat keempat adalah konsumen benar-benar menyukai merek
tersebut.

e. Pilihan konsumen terhadap suatu merek dilandasi pada suatu


asosiasi, seperti simbol, rangkaian pengalaman dalam
menggunakannya, atau kesan kualitas yang tinggi. Para
pembeli tingkat ini disebut sahabat merek, karena terdapat
perasaan emosional dalam menyukai merek.
f. Tingkat teratas adalah para pelanggan yang setia. Para
pelanggan mempunyai suatu kebanggaan dalam menemukan
atau menjadi pengguna suatu merek. Merek tersebut sangat
penting bagi pelanggan baik dari segi fungsinya, maupun sebagai

145
Pecitraan Merek ( Brand Image )

ekspresi mengenai siapa pelanggan sebenarnya (commited


buyers).

5. Other proprietary brand assets; hal-hal lain yang tidak termasuk


dalam 4 kategori diatas tetapi turut membangun brand equity.
Beberapa keuntungan dengan terciptanya brand image yang kuat
adalah:
a. Peluang bagi produk/merek untuk terus mengembangkan diri
dan memiliki prospek usaha yang bagus.
b. Memimpin produk untuk semakin memiliki sistem keuangan
yang bagus & menciptakan loyalitas konsumen
c. Membantu dalam efisiensi marketing, karena merek telah
berhasil dikenal dan diingat oleh konsumen.
d. Membantu dalam menciptakan perbedaan dengan pesaing.
Semakin merek dikenal oleh masyarakat, maka
perbedaan/keunikan baru yang diciptakan perusahaan akan
mudah dikenali konsumen.
e. Mempermudah dalam perekrutan tenaga kerja bagi
perusahaan, meminimumkan kehancuran/kepailitan
perusahaan, Mempermudah mendapatkan investor baru guna
mengembangkan produk.

RENUNGAN

Setiap hari setiap makhluk menghadapi tarikan kematian. Tiap hari


menghadapi gravitasi kemunduran dan kebangkrutan. Terserah manusia mau
melayani gravitasi kebangkrutan atau melawan gravitasi tersebut. Mengapa
sebuah usaha yang sama mengalami nasib yang berbeda?
Mengapa sebuah usaha bisa hidup sementara yang lain tidak? Misal: Jagal sapi
ada yang hidup dan ada yang mati. Ada banyak pabrik plastik yang mati tapi ada
saja yang hidup? Karena dia punya daya hidup; dia adalah para dieharder. LKP
akan tetap hidup jika didukung oleh semangat dieharder dan upaya yang terus

146
Pecitraan Merek ( Brand Image )

menerus untuk melakukan inovasi dan kreatifitas serta selalu melakukan


tindakantindakan adaptasi sampai menemukan rahasianya. Organisasi agar dia
tetap hidup dan mampu melawan gravitasi kebangkrutan, kemunduran dan
kematian, maka dia harus didukung oleh kegiatan untuk menjaga
keberlangsungan. Bisnis ini tidak akan mati kalau ada SEMANGAT UNTUK
TIDAK PERNAH MATI. Mengapa bisnis ini harus maju dan berlangsung, karena
kita tidak ingin hidup biasa-biasa. Pemilik bisnis menyiasati bisnis dengan tidak
tergantung pada orang.

LATIHAN

Lakukan diskusi kelompok 5 orang; kemudian lakukan analisa terhadap salah


satu perusahaan dari kelompok Anda kemudian lakukan analisa kelebihan dan
kelemahan branding dari peperusahaan tersebut!

147
Pemasaran dan pengembangan daya saing produk

BAB XI
PEMASARAN DAN PENGEMBANGAN DAYA SAING PRODUK

A. Pengertian Pemasaran

Pemasaran adalah suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang
untuk merencanakan, menentukan harga, promosi dan mendistribusikan barang-
barang yang dapat memuaskan keinginan dan mencapai pasar sasaran serta
tujuan perusahaan. Pemasaran adalah kegiatan pemasar untuk menjalankan
bisnis guna memenuhi kebutuhan pasar dengan barang dan atau jasa,
menetapkan harga, mendistribusikan, serta mempromosikannya melalui proses
pertukaran agar memuaskan konsumen dan mencapai tujuan perusahaan.
Ada beberapa definisi mengenai pemasaran diantaranya adalah :

a. Philip Kotler (Marketing) pemasaran adalah kegiatan manusia yang


diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan melalui proses
pertukaran.

b. Menurut Philip Kotler dan Amstrong pemasaran adalah sebagai suatu


proses sosial danmanagerial yang membuat individu dan kelompok
memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan lewat penciptaan
dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain.

c. Pemasaran adalah suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang
untuk merencanakan, menentukan harga, promosi dan mendistribusikan
barang- barang yang dapat memuaskan keinginan dan mencapai pasar
sasaran serta tujuan perusahaan.

d. Menurut W Stanton pemasaran adalah sistem keseluruhan dari kegiatan


usaha yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga,
mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang dapat
memuaskan kebutuhan pembeli maupun pembeli potensial.

1. Pengertian Konsep Pemasaran

148
Pemasaran dan pengembangan daya saing produk

Menurut Swastha Konsep pemasaran adalah sebuah falsafah bisnis


yang menyatakan bahwa pemuasan kebutuhan konsumen merupakan syarat
ekonomi dan sosial bagi kelangsungan hidup perusahaan.
Menurut Kotler Konsep Pemasaran adalah menjadi lebih efektif
daripada para pesaing dalam memadukan kegiatan pemasaran guna
menetapkan dan memuaskan kebutuhan dan keinginan pasar sasaran.

2. Unsur Unsur Konsep Pemasaran

Ada tiga unsur pokok konsep pemasaran (Swastha dan Handoko, 2007)
a. Orientasi pada konsumen.
Perusahaan yang benar-benar ingin memperlihatkan konsumen harus :
Menentukan kebutuhan pokok (basic needs) dari pembeli yang akan
dilayani dan dipenuhi.
Menentukan kelompok pembeli yang akan dijadikan sasaran
penjualan.
Menentukan produk dan program pemasarannya.
Mengadakan penelitian pada konsumen untuk mengukur, menilai
dan menafsirkan keinginan, sikap dan perilaku mereka.
Menentukan dan melaksanakan strategi yang paling baik, apakah
menitikberatkan pada mutu yang tinggi, harga yang murah atau
model yang menarik.

b. Penyusunan kegiatan secara integral (integral marketing).


Pengintegrasian kegiatan pemasaran berarti bahwa setiap orang dan
setiap bagian dalam perusahaan turut berkecimpung dalam suatu
jasa yang terkoordinir untuk memberikan kepuasan konsumen,
sehingga tujuan perusahaan dapat terealisasi.

c. Kepuasan konsumen (customer satisfaction)


Faktor yang menentukan apakah perusahaan dalam jangka panjang
akan mendapatkan laba adalah banyak sedikitnya kepuasan
konsumen yang dapat dipenuhi. Ini tidak berarti bahwa perusahaan
harus memaksimalkan kepuasan konsumen, tetapi perusahaan harus
mendapatkan laba dengan cara memberikan kepuasan kepada
konsumen.

3. Konsep Dalam Pemasaran

149
Pemasaran dan pengembangan daya saing produk

Dalam pemasaran terdapat enam konsep yang merupakan dasar


pelaksanaan kegiatan pemasaran suatu organisasi yaitu : konsep produksi,
konsep produk, konsep penjualan, konsep pemasaran, konsep pemasaran
sosial, dan konsep pemasaran global.

4. Konsep produksi
Konsep produksi berpendapat bahwa konsumen akan menyukai produk
yang tersedia dimana-mana dan harganya murah. Konsep ini
berorientasi pada produksi dengan mengerahkan segenap upaya untuk
mencapai efesiensi produk tinggi dan distribusi yang luas.

5. Konsep produk
Konsep produk mengatakan bahwa konsumen akan menyukai produk
yang menawarkan mutu, performansi dan ciri-ciri yang terbaik

6. Konsep penjualan
Konsep penjualan berpendapat bahwa konsumen, dengan dibiarkan
begitu saja, organisasi harus melaksanakan upaya penjualan dan
promosi yang agresif.

7. Konsep pemasaran
Konsep pemasaran mengatakan bahwa kunsi untuk mencapai tujuan
organisasi terdiri dari penentuan kebutuhan dan keinginan pasar
sasaran serta memberikan kepuasan yang diharapkan secara lebih
efektif dan efisien dibandingkan para pesaing.

8. Konsep pemasaran sosial


Konsep pemasaran sosial berpendapat bahwa tugas organisasi adalah
menentukan kebutuhan, keinginan dan kepentingan pasar sasaran
serta memberikan kepuasan yang diharapkan dengan cara yang lebih
efektif dan efisien daripada para pesaing dengan tetap melestarikan
atau meningkatkan kesejahteraan konsumen dan masyarakat.

9. Konsep Pemasaran Global


Pada konsep pemasaran global ini, manajer eksekutif berupaya
memahami semua faktor- faktor lingkungan yang mempengaruhi
pemasaran melalui manajemen strategis yang mantap. tujuan akhirnya
adalah berupaya untuk memenuhi keinginan dan memberikan manfaat
kepada semua pihak yang terlibat dalam perusahaan.

Tujuan Pemasaran

150
Pemasaran dan pengembangan daya saing produk

Tujuan pemasaran atau marketing objective, adalah apa yang akan dicapai
oleh perusahaan melalui bagian pemasaran. Apabila kepuasan konsumen
tersebut terpenuhi, maka hasil penjualan produknya akan meningkat, dan
akhirnya tujuan pemasaran dapat tercapai, yaitu perolehan laba. Sebaliknya,
apabila perusahaan melalaikan kebutuhan konsumen dan hanya berfikir dari
sudut pandang produsen saja, kemungkinan hasil penjualan produknya akan
menurun, sehingga laba yang diperoleh minim, bahkan dapat terjadi adanya
kerugian. Kepuasan konsumen adalah segalanya bagi perusahaan yang
berorientasi kepada pemasaran/marketing.

Kelebihan dan Kekurangan Konsep Pemasaran

1) Kelebihan Konsep Pemasaran

Dengan menerapkan konsep Pemasaran, kita meberikan apa yang


dibutuhkan masyarakat dan meyakinkan bahwa masyarakat akan puas
terhadap apa yang diberikan kita dengan konsep seperti ini pelanggan
akan kembali untuk membeli kepada kita. atau kata lainnya
Berlangganan.
Sangat mudah dalam memikat hati pelanggan, karena dengan konsep
Pemasaran kita menyediakan apa yang dibutuhkan pelanggan. Tidak
hanya asal menawarkan saja tetapi juga mengambil hati pelanggan.
Pemasaran yang terkoordinir, maksudnya kita tidak akan memiliki stok
berlebih lagi, karena kita meyediakan sesuatu yang dibutuhkan oleh
pelanggan.
Dalam hal modal, tidak diperlukan modal yang besar seperti pada
konsep penjualan, karena kita sudah memiliki pasar sasaran (target)
kita. dengan target yang sudah ada, kita tinggal menyediakan apa
yang dibutuhkan oleh pelanggan dan memuaskan hati pelanggan.
Image di mata masyarakat akan berbeda dibandingkan menggunakan
konsep penjualan, karena dengan konsep pemasaran ini pelanggan
tidak akan merasa dibohongi, ataupun ditipu oleh kita karena kita
memberikan kepuasan pada pelanggan.

2) Kelemahan Konsep Pemasaran

Penyebarannya sangat minim, karena dengan konsep ini kita tidak


melakukan promosi, jadi kita hanya dikenal di daerah tertentu saja,

151
Pemasaran dan pengembangan daya saing produk

dan sulit untuk mengembangkannya untuk ke kawasan yang lebih


luas.
Persaingan kuat, dalam satu Pasar sasaran bisa banyak penganut
konsep pemasaran ini, dan mereka akan berlomba-lomba untuk
menyediakan kebutuhan pelanggan.
Susah untuk ber Inovasi, karena kita hanya menyediakan apa yang
diperlukan oleh pelanggan saja, dan kita tidak bisa seenak kita
mengeluarkan produk kita sendiri yang nantinya tidak ada kepastian
bahwa produk yang kita munculkan pasti laku di Pasar Sasaran.
Perlu banyak relasi dengan badan-badan tertentu atau masyarakat
sekitar Pasar Sasaran, karena dengan banyaknya koneksi dan relasi
kita dapat dengan mudah mengambil hati pelanggan dan
memeperkecil kemungkinan pelanggan beralih dari kita.

Fondasi Dalam pemasaran


Dalam keberadaannya konsep pemasaran berdiri tegak ditopang tiga fondasi
antara lainsebagai berikut :
a) Fondasi pertama, pilihan kebutuhan dan keinginan pasar yang hendak
dipenuhi
b) Fondasi kedua, komitmen kuat semua komponen perusahaan
terhadap kepuasan secara sinergis
c) Fondasi terakhir tidak lain kemampuan perusahaan untuk memberikan
kepuasan dan mendapatkan keunggulan bersaing.

Alasan Perusahaan Menggunakan Konsep Pemasaran


a) Pertumbuhan lamban
b) Penurunan penjualan
c) Pola beli yang berubah-ubah
d) Meningkatkan persaingan
e) Meningkatnya pengeluaran untuk pemasaran
f) Perubahan situasi ekonomi dan lingkungan lainnya

Bauran Pemasaran

Bauran Pemasaran dalam Klasifikasi Barang Konsumen dan untuk


Barang industry.Adanya Klasifikasi barang konsumen maupun industry menurut
penekanan pada aspek bauran pemasaran yang berbeda. Penekanan pada
aspek 4P (Produk harga distribusi dan promosi) barang konsumen Untuk itu. Ada
5 alat promosi yang harus diketahui oleh manajer yaitu (a) periklanan, (b)
promosi penjualan, (c) hubungan masyarakat, (d) publisitas wiraniaga dan

152
Pemasaran dan pengembangan daya saing produk

pemasaran langsung. Suatu perusahaan akan selalu mensubtitusikan satu alat


promosi dengan yang lain. Banyak perusahaan yang mengganti kegiatan
penjualan lapangan dengan iklan surat langsung atau lewat telepon. Faktor yang
dipertimbangkan dalam menyusun Bauran Promosi yaitu:Jenis Pasar Produk,
Tempat berjualan, apakah akan menggunakan strategi dorong atau tarik tingkat
kesiapan konsumen untuk melakukan pembelian, tahap produk tingkat kesiapan
konsumen untuk melakukan pembelian tahap produk dalam siklus hidup produk
dan peringkat pasar perusahaan. Faktor yang menentukan bauran Promosi
adalah (a) Faktor Produk,(b) Faktor Pasar, (c) Faktor Pelanggan, (d) Faktor
Anggaran.

Riset Pasar

Riset pasar adalah kegiatan penelitian dibidang pemasaran yang


diakukan secara sistematis yang dilakukan secara bertahap melalui dari
perumusan masalah, tujuan penelitian, pengumpulan data, pengolahan data, dan
interpretasi penelitian. Hasil penelitian digunakan untuk memberi masukan pada
pihak manajemen dalam rangka untuk identifikasi masalah dan pengambilan
keputusan untuk pemecahan masalah dalam rangka merumuskan strategi
pemasaran guna merebut peluang pasar. Tujuan Riset Pasar adalah untuk
mendapatkan informasi yang akurat sehingga dapat menjelaskan kenyataan
yang ada secara obyektif.
Langkah Sistimatis dalam Riset Pemasaran adalah tindakan yang
dilakukan secara teratur dan konsiten. Secara sistimatis dilakukan mulai dari
perumusan masalah pengumpulan data, analisis data, dan pengujian hipotesis.
Yang perlu diperhatikan dalam Identifikasi, pengumpulan data, analisis dan
interpretasi hasil penelitian adalah sebagai berikut:

1) Identifikasi meliputi masalah manajemen dirumuskan kedalam


masalah riset pemasaran (marketing research problem)
2) Menggunakan metode yang tepat untuk pengumpulan data
3) Menggunakan metode yang tepat untuk analisis data
4) Interpretasi.

Dalam melakukan Riset Pemasaran Manager dapat menghubungkan


antara konsumen, Variabel Pemasaran, dan Lingkungan.Variabel Pemasaran

153
Pemasaran dan pengembangan daya saing produk

yang dapat dikontrol adalah: (a) Produk,(b) Harga, (c) Promosi, (d) Distribusi.
Sedangkan Variabel yang tidak dapat dikontrol adalah: (a) Kondisi ekonomi (b)
Teknologi (c) Politik (d) Kompetisi (e) Perubahan Sosial.
Salah satu teknik riset adalah menggunakan Riset Deskriptif adalah Riset
yang mempunyai tujuan untuk menjelaskan Karakteristik Pasar yang dimaksud
Karakteristik adalah Didahului dengan Hipotessis yang spesifik dan memiliki
desain penelitian secara terstruktur,terencana dan tidak fleksible. Mengutamakan
akurasi dan didasrkan pada pemahaman suatu masalah sebelumnya Metode:
survey observasi dan analisa data sekunder.

Contoh:
Studi Pasar: Profil konsumen, kemampuan konsumen
Studi Pangsa Pasar
Analisis Penjualan yang dideskripsikan berdasarkan wilayah geografi, lini
produk, psikografi.
Studi tentang citra: persepsi konsumen terhadap layanan /produk Studi
Penggunaan Produk: mendiskripsikan tentang pola konsumsi
Studi Deskripsi yaitu pola alur Distribusi, lokasi distributor/agen atau
jumlah.
Studi tentang penetapan harga: meliputi frekuensi perubahan harga,
respon konsumen terhadap perubahan harga.
Studi Periklanan: mempelajari kebiasaan memanfaatkan media profile
konsumen pada program tertentu (majalah,TV)
Sumber data dapat dibedakan menjadi 2 yaitu:data Primer, dan data
Sekunder.Cara mendapatkan data Primer dengan metode komunikasi, metode
Observasi.
Data Sekunder ada dibedakan dengan data Internal dan data External:
Data sekunder adalah data yang sudah dipublikasikan contoh data Statistik dari
Badan Resmi pemerintah atau swasta), Ensiklopedi, journal, Cara Pengumpulan
Data Sekunder dengan Sensus, Sampling, Kasus.

B. Pengembangan Daya Saing Produk

Pengembangan daya saing dapat dilakukan dengan berbagai cara


diantaranya adalah dengan Inovasi produk dan standarisasi pelayanan.

1. Inovasi Produk

154
Pemasaran dan pengembangan daya saing produk

Inovasi adalah suatu penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada
atau yang sudah dikenal sebelumnya. orang atau wirausahawan yang slalu
berinovasi, maka ia sapat dikatakan
sebagai seorang wirausahwan yang
inovatif. seseorang yang inovatif akan
selalu berupaya melakukan perbaikan,
menyajikan sesuatu yang baru/unik yang
berbeda dengan yang sudah ada.
inovatif juga merupakan sikap penting
bagi yang hendaknya dimiliki oleh
seorang wirausahawan. wirausahawan yang slalu melakukan inovasi dalam
ushanya. maka keuntungan dan kesuksesan akan ia dapat. inovatif merupakan
implikasi dari karakteristik wirausahawan yang mampu membawa perubahan
pada lingkungan sekitarnya. inovatif secara tidak langsung menjadi sifat
pembeda antara wirausahawan dengan orang biasa, maupun pengusaha.
seorang wirausahawan akan selalu memikirkan untuk melakukan sesuatu yang
berbeda, tidak seperti yang dipikirkan dan dilakukan oleh kebanyakan orang.
kreatif dan inovatif adalah suatu kemampuan untuk memindahkan sumber daya
yang kurang produktif menjadi sumber daya yang produktif sehingga
memberikan nilai ekonomis. baik langsung maupun tidak langsung seorang
wirausahawan adalah orang yangmampu membawa perubahan pada
lingkunganya. disisi lain ia juga orang yang sanggup menerima perubahan yang
terjadi dan menyikapi perubahan tersebut dengan positif. ia juga berani
mengambil resiko berhasil ataupun gagal di setiap jalan yang ia ambil.
wirausahawan mampu bertahan pada kondisi perekonomian yang sulit dan serba
kalut. karena disaat semua resah, ia memiliki kreasi dan inovasi untuk
memindahkan sumber daya yang kurang produktif menjadi sumber daya yang
produktif sehingga memberikan nilai ekonomis. Inovasi mempunyai 4 (empat) ciri
yaitu :
1. Memiliki kekhasan / khusus artinya suatu inovasi memiliki ciri yang khas
dalam arti ide, program, tatanan, sistem, termasuk kemungkinan hasil
yang diharapkan.
2. Memiliki ciri atau unsur kebaruan, dalam arti suatu inovasi harus memiliki
karakteristik sebagai sebuah karya dan buah pemikiran yang memiliki
kadar Orsinalitas dan kebaruan.

155
Pemasaran dan pengembangan daya saing produk

3. Program inovasi dilaksanakan melalui program yang terencana, dalam


arti bahwa suatu inovasi dilakukan melalui suatu proses yang yang tidak
tergesa-gesa, namun keg-inovasi dipersiapkan secara matang dengan
program yang jelas dan direncanakan terlebih dahulu.

4. Inovasi yang digulirkan memiliki tujuan, program inovasi yang dilakukan


harus memiliki arah yang ingin dicapai, termasuk arah dan strategi untuk
mencapai tujuan tersebut.

2. Standarisasi Layanan

Layanan terhadap Pelanggan menjadi hal yang sangat esensial bagi


setiap perusahan. Bagaimana suatu Layanan baik /prima yang dapat
memberikan kepuasan pada pelanggan adalah suatu hal yang perlu dijaga dan
diciptakan sehingga didapatkan konsumen yang loyal. Oleh karena itu agar
selalu terjaga maka diperlukan
layanan yang terstandart dan dapat
diukur. Hasil dari pengukuran dapat
digunakan sebagai umpan balik
dan digunakan pertimbangan untuk
keperluan pengembangan serta
implementasi strategi peningkatan
kepuasan pelanggan.
Standardisasi Layanan yang
didasarkan hasil pengukuran adalah sebagai berikut:

1. Layanan harus dapat mampu dan mengakomodasi keluhan pelanggan


secara bebas dan terbuka tanpa mengeluarkan biaya apapun

156
Pemasaran dan pengembangan daya saing produk

2. Layanan harus mengandung substansi kekuatan produk Standar layanan


dari hasil pengukuran.
3. Layanan harus dapat mengetahui alasan pelanggan berhenti dan pindah
ke produk lain sehingga dapat meminimalkan custumer Loss rate.
4. Layanan harus mengandung substansi bahwa perusahan selalu
memberikan sinyal yang positif menaruh perhatihan terhadap apa yang
dibutuhkan pelanggan Oleh karena itu agar layanan itu terstandar maka
perlu dibuat Standart operasional Prosedur layanan dari produk yang
dipasarkan.
Oleh karena jenis produk dan sasaran pasar berbeda maka standarisasi
layanan perlu memperhatikan jenis produk yang dihasilkan, pelanggan sasaran.
Standarisasi layanan pada prinsipnya digunakan untuk memperoleh kepuasan
pelanggan yang diharapkan akan mampu diperoleh pelanggan yang loyal. Pada
prinsipnya kepuasan pelanggan itu dapat diukur dengan berbagai macam
metode dan teknik. Pada bagian ini akan dibahas beberapa metode pengukuran
Kepuasan Pelanggan.

Teknik Pengukuran Kepuasan Pelanggan

Sebagaimana dijelaskan didepan bahwa metode survai merupakan


metode yang paling banyak digunakan dalam pengukuran kepuasan pelanggan.
Metode survai kepuasan pelanggan dapat menggunakanpengukuran dengan
berbagai cara sebagai berikut:

1. Pengukuran dapat dilakukan secara langsung dengan pertanyaan seperti


Ungkapan seberapa puas Saudara terhadap pelayanan kami. A pada
skala berikut sangat tidak puas, tidak puas, netral, puas, sangat puas
(directlly reported satifaction)
2. Responden diberi pertanyaan mengenai seberapa besar mereka
mengharapkan suati atribut tertentu dan seberapa besar yang mereka
rasakan (derived dissatifaction)
3. Responden diminta untuk menuliskan masalah-masalah yang mereka
hadapi berkaitan dengan penawaran dari perusahaan dan menuliskan
perbaikan-perbaikan yang mereka sarankan (problem analysis)
4. Responden dapat diminta untuk meranking sebagai elemen (atribut)dari
penawaran berdasarkan derajat pentingnya setiap elemen dan seberapa

157
Pemasaran dan pengembangan daya saing produk

baik kinerja perusahaan dalam masingmasing elemen (Importance


performance Ratings). Teknik ini dikenal pula dengan istilah importance-
performance analysis (Martilla dan James, 1977).

Penerapan Teknologi dan Total Quality Management

Dalam era kompetisi yang semakin ketat maka perkembangan teknologi


tidak bisa diabaikan begitu saja. Perusahaan harus mampu memanfaatkan
perkembangan teknologi terkini. Penyelenggaraan diarahkan berbasis IT. Untuk
itu sistem informasi manajemen bisa digunakan untuk pelayanan termasuk,
promosi, peningkatan jaminan mutu layanan, akademik, pemasaran dan
kemitraan.

TQM (Total Quality Management) adalah


sebuah konsep manajemen strategi
pencapaian sukses jangka panjang yang
ditujukan pada kepuasan pelanggan dengan
dukungan dan partisipasi dari seluruh anggota organisasi
kerja internal maupun eksternal, peningkatan proses, kinerja produk,
kinerja pelayanan dan faktor-faktor kultural. Suatu devisi yang berhubungan
langsung dengan pelanggan adalah bagian pemasaran. Semakin kompetitif
produk perusahaan bersaing dipasaran maka perusahaan harus berorientasi
pada kepuasan pelanggan. Kondisi persaingan dan kemajuan teknologi dan
perkembangan perekonomian sangat mendorong pengembangan kualitas
pelayanan dan kualitas produk perusahaan. Oleh karena itu perusahaan perlu
mengefektifkan devisi Total Quality Control (TQC).
Kualitas mutu pruduk dipengaruhi oleh bagaimana seseorang itu
memperspektifkan untuk menentukan ciri-ciri yang pada dasarnya ada 3 orientasi
yaitu perspektif, konsumen produk, dan proses. Kualitas jasa secara konsisten
berdasarkan ketiga orientasi diatas dapat menyumbangkan perusahaan dalam
menuju mendapatkan kepuasan pelanggan.

Peningkatan Kualitas SDM (Sumber Daya Manusia )

Sumber Daya Manusia Individu-individu dalam organisasi kerwirausahaan


yang dapat memberikan kontribusi atau sumbangan yang berharga berupa
peroduktivitas dari posisi yang mereka pegang untuk mencapai tujuan sistem

158
Pemasaran dan pengembangan daya saing produk

organisasi kewirausahaan. Tugas penyediaan sumber daya manusia yang


semestinya adalah sangat penting bagi wiraswastawan. Produktivitas pada
semua organisasi kewiraswastaan ditentukan oleh bagaimana sumber daya
manusia berinteraksi dan bergabung untuk menggunakan sumber daya system
manajemen. Faktor-faktor seperti latar belakang, umur, pengalaman yang
berhubungan dengan jabatan, dan tingkat pendidikan formal kesemuanya
mempunyai peranan di dalam menentukan tingkat ketepatan posisi individu-
individu pada organisasi kewiraswastaan.
Peningkatan Kualitas SDM dalam suatu lembaga dapat ditempuh melalui
perencanaan SDM, Pengembangan SDM. Perencanaan SDM dimulai dari
perencanaan kualifikasi, kuantifikasi, rekrutment SDM. Pengembangan SDM
dapat melalui Pendidikan dan Latihan pengiriman kegiatan Ilmiah Workshop, dll.
Langkah-langkah penyediaan sumber daya manusia :

1. Perekrutan karyawan
Penarikan tenaga kerja adalah langkah pertama di dalam
menyediakan
sumber daya manusia bagi organisasi kewiraswastaan setiap kali
terdapat posisi yang kosong.
2. Seleksi calon karyawan
Seleksi tenaga kerja adalah penyaringan awal dari calon sumber daya
manusia yang tersedia untuk mengisi suatu posisi. Tujuannya adalah
untuk memperkecil hingga jumlah yang relatif sedikit calon karyawan
dari mana seseorang akhirnya akan disewa.
3. Pelatihan karyawan
Pelatihan karyawan adalah keterampilan yang diajarkan pihak
perusahaan kepada karyawannya.
4. Penilaian hasil kerja
Penilaian tentang hasil kerja yang telah dilakukan oleh karyawannya,
apakah sesuai dengan yang diharapkan atau belum.

Tehnik Pengembangan Keterampilan

Teknik pengembangan keterampilan dalam program pelatihan bisa dibagi


menjadi dua kategori luas : (1) Teknik dalam jabatan untuk mengembangkan
keterampilan (on the job teckniques for develoving skill), dan (2) teknik ruang
kelas untuk mengembangkan keterampilan (classroom techniques for develoving
skill).

159
Pemasaran dan pengembangan daya saing produk

1. Teknik tertentu yang diajukan pada pengembangan keterampilan dalam


ruang kelas termasuk berbagai tipe permainan manajemen (management
games) dan suatu macam aktivitas permainan peranan (role playing
activities). Format dari siswa latihan untuk membuat dan kemudian
mengevaluasi berpaling umum bagi permainan manajemen
membutuhkan suatu kelompok kecagai keputusan manajemen. Evaluasi
Program Pelatihan., Sesudah program pelatihan selesai program tersebut
hendaknya dievaluasi keefektivitasannya. Karena program pelatihan
merupakan suatu investasi biaya, manajemen hendaknya mendapatkan
hasil pengembalian yang layak. Biaya-biaya termasuk bahan, waktu bagi
pelatihan, dan kehilangan produksi akibat individu yang dilatih dan
bukannya bekerja. Pada dasarnya, program pelatihan harus dievaluasi
untuk menentukan apakah ia memenuhi kebutuhan di mana program
tersebut dirancang.

2. Penilaian Hasil Kerja (Performance Appraisal), sesudah individu direkrut,


diseleksi dan dilatih, tugas membuat mereka menjadi individu yang
produktif dalam organisasi belumlah selesai. Langkah keempat dalam
proses penyediaan sumber daya manusia yang tepat bagi organisasi
kewiraswastaan adalah penilaian hasil kerja. Satu dari tujuan utamanya
adalah untuk memberikan umpan balik pada anggota organisasi
kewiraswastaan mengenai seberapa baik mereka bisa menjadi lebih
produktif. Kelemahan potensialnya adalah (1) individu yang terlibat dalam
penilaian hasil kerja bisa memandang penilaian tersebut sebagai situasi
balas jasa hukuman (reward punishment situation) ; (2) penekanan
penilaian hasil kerja bisa menunda penyelesaian kertas kerja bukannya
mengkritik hasil kerja individu ; dan (3) menghasilkan beberapa tipe reaksi
negatif dari bawahan ketika pengevaluasi memberikan suatu komentar
negatif.

LATIHAN

1) Apa yang anda ketahui tentang Strategi Pemasaran?


2) Jelaskan faktor yang mempengaruhi Strategi Pemasaran secara singkat
(Faktor Lingkungan Faktor Persaingan Analisis Kemampuan Internal
Perilaku Konsumen Analisis Ekonomi

160
Pemasaran dan pengembangan daya saing produk

3) Buatlah Strategi masing masing Level pada Lembaga anda ?


4) Jelaskan Strategi Pemasaran dari masing masing Level? Beri contohnya.
5) Buatlah ilustrasi Strategi Pemasaran dari Usaha yang anda tekuni?
6) Jelaskan tentang Pemasaran berwawasan Sosial?.
7) Jelaskan tentang Bauran Pemasaran?
8) Jelaskan tentang Bauran Promosi?
9) Jelaskan secara singkat cakupan Desaign riset Pemasaran?
10) Buatlah rancangan Riset Pemasaran dari usaha yang anda tekuni?
11) Jelaskan pengembangan Produk Baru secara bertahap.?
12) Jelaskan standardisasi Layanan yang didasarkan pada hasil pengukuran?
Buatlah indicator dari komdonen dalam standardisasi tersebut.
13) Buatlah SOP dalam suatu layanan? berikan contoh dari usaha yang anda
lakukan?.
14) Sebutkan ada berapa cara dalam mengukur kepuasan Pelanggan?
15) Berikan contoh ilustrasi dalam pengukuran kepuasan pelanggan?
16) Faktor factor apa yang mempengaruhi tentang produktivitas kerja?
17) Apa nama perusahaan yang anda pimpin dan dimana alamatnya?
Produknya apa saja yang anda pasarkan.

161
Membangun Jejaring Kerja ( Kemitraan )

BAB XII
MEMBANGUN JEJARING KERJA (KEMITRAAN)

A. Hakikat Jejaring Kerja (Kemitraan)

Dalam era globalisasi, adalah suatu kenyataan


bahwa tidak ada satu entitas yang mampu
berdiri sendiri terpisah dari entitas yang lain.
Secara garis besar, kita sangat membutuhkan
Jejaring Kerja (networking) untuk menjadikan
kehidupan kita lebih sukses. Agung
Sudjatmoko (2009) menyatakan bahwa sukses
atau gagalnya seseorang karena pilihan hidupnya sangat tergantung pada garis
tangan dan campur tangan. Keberhasilan kemitraan usaha sangat ditentukan
oleh adanya kepatuhan di antara yang bermitra dalam menjalankan etika
bisnisnya. Pelaku-pelaku yang terlibat langsung dalam kemitraan harus memiliki
dasar-dasar etikan bisnis yang dipahami dan dianut bersama sebagai titik tolak
dalam menjalankan kemitraan. Menurut Keraf (1995) etika adalah sebuah refleksi
kritis dan rasional mengenai nilai dan norma moral yang menentukan dan
terwujud dalam sikap dan pola perilaku hidup manusia, baik sebagai pribadi
maupun sebagai kelompok. Dengan demikian, keberhasilan kemitraan usaha
tergantung pada adanya kesamaan nilai, norma, sikap, dan perilaku dari para
pelaku yang menjalankan kemitraan tersebut.
Manfaat yang dapat diperoleh dalam melakukan kemitraan diantaranya
adalah (1).meningkatkatnya produktivitas, (2).efisiensi, (3).jaminan kualitas,
kuantitas, dan kontinuitas, (4).menurunkan resiko kerugian, (5).memberikan
social benefit yang cukup tinggi, dan (6).meningkatkan ketahanan ekonomi
secara nasional. Kemanfaatan kemitraan dapat ditinjau dari 3 (tiga) sudut
pandang. Pertama, dari sudut pandang ekonomi, kemitraan usaha menuntut
efisiensi, produktivitas, peningkatan kualitas produk, menekan biaya produksi,
mencegah fluktuasi suplai, menekan biaya penelitian dan pengembangan, dan
meningkatkan daya saing. Kedua, dari sudut moral, kemitraan usaha
menunjukkan upaya kebersamaan dam kesetaraan. Ketiga, dari sudut pandang
soial-politik, kemitraan usaha dapat mencegah kesenjangan sosial, kecemburuan
sosial, dan gejolah sosial-politik. Kemanfaatan ini dapat dicapai sepanjang

162
Membangun Jejaring Kerja ( Kemitraan )

kemitraan yang dilakukan didasarkan pada prinsip saling memperkuat,


memerlukan, dan menguntungkan.

Pengertian Jejaring Kerja (Kemitraan)

Jejaring Kerja (kemitraan) atau sering disebut partnership, secara


etimologis berasal dari akar kata
partner. Partner dapat diartikan
pasangan, jodoh, sekutu atau
kompanyon. Sedangkan partnership
diterjemahkan persekutuan atau
perkongsian. Sebagai contoh Bapak
SBY dengan Barak Obama yang
sedang berdiskusi. Dengan demikian,
kemitraan dapat dimaknai sebagai suatu bentuk persekutuan antara dua pihak
atau lebih yang membentuk satu ikatan kerjasama di suatu bidang usaha tertentu
atau tujuan tertentu sehingga dapat memperoleh hasil yang lebih baik.
Pendapat senada disampaikan Agung Sudjatmoko dalam bukunya yang
berjudul Cara Cerdas Menjadi Pengusaha Hebat bahwa kemitraan bisnis
merupakan kerjasama terpadu antara dua belah pihak atau lebih, secara serasi,
sinergis, terpadu, sitematis dan memiliki tujuan untuk menyatukan potensi bisnis
dalam mengahasilkan keuntungan yang optimal. Pengertian tersebut diatas
tidak jauh berbeda dengan pendapat Dr. Frank Minirth dalam bukunya berjudul
You Can. Ia mengungkapkan bahwa Jejaring Kerja adalah seni berkomunikasi
satu sama lain, berbagi ide, informasi dan sumber daya untuk meraih
kesuksesan individu ataupun kelompok. networking is a process of getting
together to get ahead. It is the building of mutually beneficial relationship.
Networking adalah proses kebersamaan. Selain itu networking merupakan
jalinan hubungan yang bermanfaat dan saling menguntungkan, tandasnya.
Secara garis besar dalam membangun Networking haruslah berlandaskan
prinsip saling menguntungkan dan komunikasi dua arah.

Hakekat Membangun Jejaring Kerja (Kemitraan)

Membangun Jejaring Kerja (kemitraan) pada hakekatnya adalah sebuah


proses membangun komunikasi atau hubungan, berbagi ide, informasi dan

163
Membangun Jejaring Kerja ( Kemitraan )

sumber daya atas dasar saling percaya (trust) dan saling menguntungkan
diantara pihak-pihak yang bermitra yang dituangkan dalam bentuk nota
kesepahaman atau kesepakatan guna mencapai kesuksesan bersama yang
lebih besar. Dari definisi di atas dapat dijelaskan bahwa membangun Jejaring
Kerja (kemitraan) dapat dilakukan jika pihak-pihak yang bermitra memenuhi
persyaratan berikut:

a. Ada dua pihak atau lebih organisasi/lembaga


b. Memiliki kesamaan visi dalam mencapai tujuan organisasi/lembaga.
c. Ada kesepakatan/kesepahaman
d. Saling percaya dan membutuhkan
e. Komitmen bersama untuk mencapai tujuan yang lebih besar.

Kemitraan dalam berbisnis dan membangun usaha sangatlah menjadi


kebutuhan yang paling dominan. Dimana hal ini dilakukan demi berkembangnya
usaha yang kita bangun saat ini baik dalam menjalin konsumen maupun menjalin
relasi bisnis dan usaha kita. Bagaimana merancang kemitraan dalam berbisnis
yang baik itu?

Meski terdengar sangat mudah dalam


angan-angan, akan tetapi merancang
kemitraan pada kenyataannya tidaklah
mulah. Berikut adalah langkah bagaimana
merancang kemitraan dalam bisnis dan
usaha.

1. Memiliki kesamaan tujuan dalam berbisnis dan usaha : sebelum


membangun kemitraan hal pertama yang harus dilakukan adalah
menyamakan tujuan pengembangan usaha dan bagaimana memajukan
usaha serta bisnis yang akan dibangun.
2. Membangun Peran Bisnis : dimana tujuan ini untuk memaksimalkan
kekuatan masing-masing pasangan dalam kemitraan ini mempunyai
peran anggota dalam kemitraan misalnya adalah pengaturan pembagian
job kerja serta pembagian pendapatan.

164
Membangun Jejaring Kerja ( Kemitraan )

3. Membuat Dasar Umum dalam kemitraan : dilakukan untuk mengantisipasi


adanya hal-hal yang terjadi suatu saat dalam kemitraan dalam berbisnis
serta bagaimana nantinya bila kemitraan ini terputus.

4. Terbukanya Komunikasi : masing-masing pihak dalam menjalin kemitraan


ini harus dapat berkomunikasi dengan terbuka agar semua pihak bisa
bekerja sesuai dengan kewajiban yang selama ini menjadi tanggung
jawabnya.

5. Perjanjian Kemitraan : hal ini dilakukan untuk mendokumentasikan


tanggung jawab dan kesepakatan, pembagian kerja, yang telah
ditetapkan.

Lima Poin tadi adalah hal pokok untuk membangun sebbuah kemitraan dalam
berbisnis dan membangun sebuah usaha demi tercapainya tujuan dan
berkembangnya usaha anda.

B. Pentingnya Membangun Jejaring Kerja (Kemitraan)

Mengapa membangun Jejaring Kerja menjadi sangat penting baik secara


individu atau organisasi. Perusahaan tidak bisa eksis ditengah tingkat persaingan
yang begitu berat tanpa membangun Jejaring Kerja. Hal ini disebabkan karena:

1. Sumber Daya Perusahaan terbatas; masih banyak perusahaan yang


memiliki keterbatasan sumber daya seperti kualifikasi dan kompetensi
pendidik dan tenaga kependidikan, fasilitas atau sarana-prasarana dan
keuangan (permodalan). Keterbatasan ini mengakibatkan rendahnya
mutu pelayanan perusahaan. Untuk itu, perlu menjalin kemitraan
(sharing) sumber daya dengan berbagai pihak untuk meningkatkan mutu
layanan.

2. Tersedianya berbagai potensi sumber daya di masyarakat yang


dapat disinergikan dengan perusahaan; di masyarakat tersedia
berbagai sumber daya yang cukup potensial tetapi belum diberdayakan
secara optimal oleh perusahaan. perusahaan tidak bisa hanya
mengandalkan campur tangan pemerintah semata, tetapi harus mampu
mengakses semua sumber-sumber di masyarakat sesuai dengan

165
Membangun Jejaring Kerja ( Kemitraan )

spirit/jiwa Perusahaan itu sendiri yakni keswadayaan/kemandirian.


Kedepan perlu diarahkan untuk menjadi sebuah lembaga dengan tingkat
kemandirian yang tinggi dan dikelola secara professional dan berorientasi
profit. perusahaan bisa memiliki tingkat kemandirian (indepndency) yang
tinggi apabila mampu memberdayakan segenap sumber daya di
masyarakat melalui pola kemitraan

3. Adanya kecenderungan (trend) kebutuhan pasar kerja yang selalu


berubah mengikuti perubahan masyarakat; kebutuhan pasar kerja dari
waktu-kewaktu terus berkembang mengikuti perkembangan masyarakat.
Informasi kecenderungan (trend) kebutuhan pasar kerja menjadi sangat
berharga bagi perusahaan dalam rangka pengembangan program yang
inovatif dan laku di pasaran.

Tujuan Membangun Jejaring Kerja (Kemitraan)

Kemitraan Usaha adalah jalinan kerja sama usaha yang saling


menguntungkan antara pengusaha kecil dengan pengusaha menengah/besar
(Perusahaan Mitra) disertai
dengan pembinaan dan
pengembangan oleh
pengusaha besar, sehingga
saling memerlukan,
menguntungkan dan
memperkuat. Kemitraan
hanya dapat berlangsung
secara efektif dan berkesinambungan jika kemitraan dijalankan dalam kerangka
berfikir pembangunan ekonomi, dan bukan semata-mata konsep sosial yang
dilandasi motif belas kasihan.
Kemitraan usaha haruslah berdasarkan asas sukarela dan suka sama
suka. Dalam kemitraan harus dijauhkan kawin paksa. Oleh karena itu, pihak-
pihak yang bermitra harus sudah siap untuk bermitra, baik kesiapan budaya
maupun kesiapan ekonomi. Jika tidak, maka kemitraan akan berakhir sebagai
penguasaan yang besar terhadap yang kecil atau gagal karena tidak bisa jalan.
Artinya, harapan yang satu terhadap yang lain tidak terpenuhi, maka setidaknya
ada 7 alasan terjadi kemitraan usaha dikemukakan sebagai berikut:

166
Membangun Jejaring Kerja ( Kemitraan )

1. Meningkatkan profit atau sales pihak-pihak yang bermitra


2. Memperbaiki pengetahuan situasi pasar

3. Memperoleh tambahan pelanggan atau para pemasok baru

4. Meningkatkan pengembangan produk

5. Memperbaiki proses produksi

6. Memperbaiki kualitas produk atau jasa

7. Meningkatkan akses terhadap teknologi

Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan dalam


membangun Jejaring Kerja (kemitraan ) yaitu sebagai berikut:

1. Meningkatkan partisipasi masyarakat; Salah satu tujuan membangun


Jejaring Kerja (kemitraan) adalah membangun kesadaran masyarakat
terhadap eksistensi usaha, menumbuhkan minat dan meningkatkan
partisipasi masyarakat dalam pengembangan usaha. Masyarakat disini
memiliki arti luas tidak hanya pelanggan (peserta didik) tetapi termasuk
juga pengguna lulusan (user), dinas atau departemen terkait, organisasi
kemasyarakatan , organisasi profesi, lembaga pendidikan, dunia usaha
dan industry (dudi), tokoh masyarakat dan stake holder lainnya.

2. Peningkatan mutu dan relevansi; dinamika perubahan/ perkembangan


masyarakat sangat tinggi. jika ingin tetap eksis harus mampu bersaing
dengan kompetitor lain. Untuk itu, perusahaan dituntut untuk terus
melakukan inovasi, peningkatan mutu dan relevansi program sesuai
kebutuhan pasar. Unttuk itu, membangun Jejaring Kerja (kemitraan)
diperlukan guna merancang program yang inovatif, meningkatkan mutu
layanan dan relevansi program dengan kebutuhan pasar.

3. Mensinergikan program; ada berbagai program dari berbagai pihak


yang sebetulnya bisa disinergikan dengan program kerja perusahaan, jika
terbangun komunikasi dua arah yang baik satu sama lain seperti:

a. Setiap perusahaan besar baik milik pemerintah atau swasta sudah


pasti memiliki program corporate Social Responcibility (CSR) yang
bisa disnergikan.

167
Membangun Jejaring Kerja ( Kemitraan )

b. Sekolahsekolah yang belum memiliki laboratorium bahasa


inggris dan komputer bisa bermitra dengan perusahaan.
c. Disnakertrans menyediakan bursa kerja khusus yang bias
diakases perusahaan.
d. Pemerintah melalui dinas pendidikan dan P2PNFI dan BPPNFI
memiliki anggaran bantuan sosial untuk masyarakat tidak mampu
yang bisa diakses perusahaan.

4. Sosialisasi, promosi dan publikasi; membangun Jejaring Kerja


(kemitraan) dilakukan dalam upaya sosialisasi, promosi dan publikasi
program unggulan dan produk/jasa perusahan sehingga semakin dikenal
oleh masyarakat luas. Dengan semakin dikenalnya secara luas maka
diharapkan dapat meningkatkan jumlah peserta didik dan pengguna
lulusan.

5. Peningkatan akses; melalui Jejaring Kerjasama yang semakin baik dan


meluas maka secara otomotatis akan memperluas akses lembaga (akses
informasi, teknologi, modal, pasar, praktek kerja industri/magang).
Kemitraan dengan berbagai pihak terus dibangun baik dengan
pemerintah sebagai pengambil kebijakan, dengan masyarakat selaku
konsumen/pelanggan maupun dengan dudi selaku pengguna lulusan.

6. Pencitraan publik; membangun image positip adalah salah satu tujuan


kemitraan. Image yang positip (seperti professional, unggul, kompeten)
dapat dibangun melalui program kemitraan. Image positip menyangkut
kredibilitas lembaga dimata masyarakat dan mitra kerja.

7. Penguatan kapasitas dan kapabilitas lembaga; membangun jaringan


kemitraan juga sangat penting dalam upaya peningkatan kapasitas dan
kapabilitas perusahaan. Kapasitas menyangkut optimalisasi pelaksanaan
fungsi perusahaan, sedangkan kapabilitas menyangkut kemampuan
perusahaan itu sendiri untuk memproses input menjadi out put yang siap
pakai.

Prinsip dalam Membangun Jejaring Kerja (Kemitraan)

1. Kesamaan visi-misi;
Kemitraan hendaknya dibangun atas dasar kesamaan visi dan misi dan
tujuan organisasi. Kesamaan dalam visi dan misi menjadi motivasi dan

168
Membangun Jejaring Kerja ( Kemitraan )

perekat pola kemitraan. Dua atau lebih lembaga dapat bersinergi untuk
mencapai tujuan yang sama.

2. Kepercayaan (trust);
Setelah ada kesamaan visi dan misi maka prinsip berikutnya yang tidak
kalah penting adalah adanya rasa saling percaya antar pihak yang
bermitra. Oleh karena itu kepercayaan adalah modal dasar membangun
jejaring dan kemitraan. Untuk dapat dipercaya maka komunikasi yang
dibangun harus dilandasi itikad (niat) yang baik dan menjunjung tinggi
kejujuran.

3. Saling manguntungkan; Asas saling menguntungkan merupakan


fondasi yang kuat dalam membangun kemitraan. Jika dalam bermitra ada
salah satu pihak yang merasa dirugikan, merasa tidak mendapat manfaat
lebih, maka akan menggangu keharmonisan dalam bekerja sama. Antara
pihak yang bermitra harus saling memberi kontribusi sesuai peran
masing-masing dan merasa diuntungkan.

4. Efisiensi dan efektivitas; Dengan mensinergikan beberapa sumber


untuk mencapai tujuan yang sama diharapkan mampu meningkatkan
efisiensi waktu, biaya dan tanaga. Efisiensi tersebut tentu saja tidak
mengurangi kualitas proses dan hasil. Justru sebaliknya dapat
meningkatkan kualitas proses dan produk yang dicapai. Tingkat efektifitas
pencapaian tujuan menjadi lebih tinggi jika proses kerja kita melibatkan
mitra kerja. Dengan kemitraan dapat dicapai kesepakatan-kesepakatan
dari pihak yang bermitra tentang siapa melakukan apa sehingga
pencapaian tujuan menjadi lebih efektif.

5. Komunikasi timbal balik; Komunikasi timbal balik atas dasar saling


menghargai satu sama lain merupakan fondamen dalam membangun
kerjasama. Tanpa komunikasi timbal balik maka akan terjadi dominasi
satu terhadap yang lainnya yang dapat merusak hubungan yang sudah
dibangun.

6. Komitmen yang kuat; Jejaring Kerja sama akan terbangun dengan kuat
dan permanen jika ada komitmen satu sama lain terhadap kesepakatan-
kesepakatan yang dibuat bersama.
Strategi Membangun Jejaring Kemitraan

169
Membangun Jejaring Kerja ( Kemitraan )

Dalam manajemen modern, baik dalam pengembangan sumberdaya


manusia maupuan pengembangan kelembagaan/usaha, kemitraan merupakan
salah satu strategi yang biasa ditempuh untuk mendukung keberhasilan
implementasi manajamen modern. Kemitraan tidak sekedar diterjemahkan
sebagai sebuah kerjasama, akan tetapi kemitraan memiliki pola, memiliki nilai
strategis dalam mewujudkan keberhasilan suatu lembaga dalam menerapkan
manajemen modern. Adapun strategi yang dapat dilakukan diantaranya :

a. Membangun Jejaring Kerja bukan sekedar bertukar kartu nama dan


berkenalan Jika sebagian besar orang merasa kurang berhasil membangun
Jejaring Kerja (networking) karena mereka hanya berkenalan atau bertukar
kartu nama. Setelah tiba di rumah, kartu nama itu hanya memenuhi laci
meja kerja dan sulit mengingat lagi siapa mereka. Sedangkan membangun
kekuatan networking hanya bisa dikerjakan dengan cara yang
terorganisasi.

b. Jadilah pendengar yang baik Pada umumnya, orang-orang lebih senang


membicarakan tentang diri mereka sendiri. Mereka akan selalu berpikir,
Apa yang bisa saya peroleh? atau Apa keuntungan percakapan ini untuk
diri saya sendiri? Bila kita mampu menunjukkan ketertarikan terhadap apa
yang mereka pikirkan ataupun katakan secara tulus, tidak dibuatbuat maka
kita akan mendapatkan banyak keuntungan. Keuntungan menjadi
pendengar yang baik adalah: Pertama: kita akan mendapatkan informasi
sebanyak-banyaknya dalam kesempatan pertemuan singkat tersebut,
misalnya informasi tentang anak-anak, usaha/pekerjaan mereka dan hobi
yang sedang mereka jalankan saat ini. Informasi lebih banyak tentang diri
pribadi mereka sangat penting guna memberikan perlakuan yang paling
tepat, di sisi lain mereka juga pasti terkesan pada diri kita Kedua: ciptakan
tujuan. Dengan menjadi pendengar yang baik kita akan mampu
memvisualisasikan siapa saja yang harus kita dekati. Sehingga tak perlu
membuang waktu dengan mengikuti perkumpulan yang tidak berhubungan
dengan target yang ingin kita capai.. Karena kekuatan networking terletak
pada kualitas dibandingkan kuantitas atau jumlahnya.

c. Upayakan dalam 72 jam kita harus berusaha menjalin komunikasi dengan


mereka agar mereka tidak melupakan kita begitu saja. Langkah yang bisa
kita lakukan adalah mengirimkan kartu pos, mengirimkan e-mail, surat,

170
Membangun Jejaring Kerja ( Kemitraan )

menelpon seraya mengungkapkan kebahagiaan kita mendapatkan


kesempatan bertemu mereka atau menanyakan kabar tentang anak-anak,
usaha, maupun hobi yang sedang mereka kerjakan. Cara lain adalah
mengirimkan sesuatu dan menyampaikan kesan mendalam sekaligus
keinginan untuk bertemu mereka suatu saat nanti, dan lain sebagainya.
Ciptakan berbagai langkah menciptakan jalinan komunikasi, karena hal itu
akan membuat mereka lebih mengingat kita. Sehingga apabila suatu ketika
kita menghubungi atau bertemu lagi, mereka akan dengan mudah
mengingat dan menjalin keakraban dengan kita.

d. Bersikap sabar tetapi aktif dan proaktif dalam memberi. Memberi bisa
dilakukan dalam berbagai cara entah dalam bentuk pelayanan atau
kontribusi kepada perorangan maupun group. Milikilah nilai tersendiri bagi
orang lain, dengan menciptakan kerjasama yang memberikan kemudahan
dan berbagai nilai yang menguntungkan mereka.

e. Bersikap lebih cerdas dan selalu menyampaikan informasi yang akurat dan
apa adanya. Caranya adalah dengan terus belajar banyak hal setiap ada
kesempatan (banyak membaca, mengikuti seminar, worksop, kompetisi,
expo dsb) sehingga kita akan lebih dikenal dibandingkan orang lain karena
kelebihan ilmu pengetahuan yang kita miliki.

f. Kesinambungan komunikasi Kita harus selalu meluangkan waktu untuk


melakukan komunikasi guna mengembangkan dan mempertahankan
hubungan yang sudah terbangun. Salah satu alasannya karena tak ada
jalan pintas dalam mengembangkan dan mempertahankan networking
kecuali kesinambungan komunikasi.. Joe Girald dalam bukunya The
Greatest Salesman In The World, menyatakan bahwa kesinambungan
komunikasi sudah dapat memperluas networking. Ia berpendapat orang
biasapun memiliki sekurang-kurangnya 250 orang yang cukup dekat dalam
kehidupannya. Berdasarkan sebuah penelitian, sebagian besar orang tidak
akan pernah menyadari sedang memerlukan orang lain sebelum
berkomunikasi dengan orang yang bersangkutan selama 8-10 kali. Jangan
pula berkeinginan untuk menunda menjalin komunikasi dengan orang lain,
karena selain tak mendapatkan hubungan baru kita juga akan kehilangan
semangat baru.

171
Membangun Jejaring Kerja ( Kemitraan )

g. Menjadi anggota komunitas tertentu seperti forum HIPKI, HISSPI, HIPMI,


Komunitas Entrepreneur dan sebagainya untuk menambah relasi dan
memperlus wawasan.

h. Peduli lingkungan perusahaan juga harus memiliki rasa tanggungjawab


(peduli) terhadap kehidupan masyarakat di lingkungan sekitarnya. Ada
banyak cara untuk mewujudkannya seperti donor darah, menjaga
kebersihan dan kesehatan leingkungan melalui kerja bakti dan
penghijauan, pemberia beasiswa bagi masyarakat sekitar yang tidak
mampu, ikut berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan dimasayarakat.

i. Membangun citra diri sebagai wirausaha Membangun citra diri sebagai wira
usaha dapat dilakukan dengan cara meningkatkan kemampuan
berkomunikasi, komitmen atas prinsip dan janji, professional, peduli
terhadap karyawan serta yang tidak kalah penting adalah menjaga
penampilan.

j. Masuk ke lingungan organisasi profesi Masuk menjadi anggota komunitas


organisasi profesi tertentu dapat menambah teman bisnis, menambah
wawasan dan pengalaman Dalam pengelolaan lembaga perlu diciptakan
jejaring mitra yang fokus dan benar-benar mendukung efektifitas program,
antara lain melalui pembentukan City Campus dan Sister City:

1) City Campus
a) City campus adalah jaringan kemitraan yang dibangun dalam
rangka pemanfaatan sumber-sumber luar lembaga yang berada di
kota tempat cabang berada sebagai mitra pasangan dalam
praktikum, pengajaran, kunjungan perusahaan dan pembinaan.
b) Tujuan konsep city campus adalah memberikan jalan bagi peserta
didik agar mampu berhubungan langsung (interaksi) secara intensif
selama proses pendidikan dan pelatihan dengan dunia kerja.
Diharapkan dengan interaksi yang intensif tersebut Peserta didik
dapat secepatnya mendapatkan peluang untuk memasuki dunia
kerja sesuai standar yang dibutuhkan perusahaan.
c) Sasaran perusahaan/ institusi untuk jaring kemitraan city campus
disesuaikan dengan kebutuhan lembaga.
d) Bentuk kegiatan jaring kemitraan city campus untuk mendukung
proses pendidikan tersebut include dalam kegiatan proses
pendidikan dan pelatihan yang dapat berupa penugasan kunjungan

172
Membangun Jejaring Kerja ( Kemitraan )

berupa observasi, pemanfaatan laboratorium, perpustakaan


maupun praktek kerja pada peserta didik di setiap jurusan.
e) Kunjungan baik berupa observasi, pemanfaatan laboratorium,
perpustakaan maupun praktek kerja ke perusahaan/instansi dapat
dilakukan oleh peserta didik secara berkelompok (1-3 orang) atau
dalam bentuk kunjungan massal (per kelas atau per program
keahlian) dan disesuaikan dengan kesediaan perusahaan mitra.
f) Perusahaan yang akan dikunjungi harus mampu mewadahi
kebutuhan peserta didik berdasarkan kompetensi, minat dan lain-
lain.
g) Data mitra pasangan itu terdiri dari: Data mitra perusahaan
swasta/BUMN/Perorangan, data mitra institusi swasta/negeri, data
mitra personal, data pimpinan perusahaan, tokoh, dokter dan lain-
lain yang secara personal dapat dimanfatkan, data perguruan tinggi
swasta dan data mitra laboratorium.

2) Sister City
a) Sister City adalah jaringan kemitraan yang dibangun dalam rangka
pemanfaatan sumber-sumber luar lembaga yang berada di wilayah
kantor asal penyumbang peserta terbanyak dan institusi yang
berasal dari kota tinggal peserta didik sebagai mitra pasangan untuk
lebih mendekatkan peserta didik dengan dunia kerja.
b) Tujuan konsep sister city adalah upaya untuk menjaga
keberlangsungan hubungan (interaksi) intensif Peserta didik selama
proses pendidikan dan pelatihan dengan dunia kerja dan
pemanfaatan sumber-sumber luar lembaga dalam rangka untuk
memperluas jangkauan guna menjaga pasar input dan out put.
c) Diharapkan dengan interaksi yang intensif tersebut peserta didik
dapat secepatnya mendapatkan peluang untuk memasuki dunia
kerja sesuai standar yang dibutuhkan perusahaan khususnya di
wilayah tersebut dan pemanfaatan sumber-sumber lain yang dapat
memberikan pelayanan yang lebih baik pada konsumen.
d) Jaringan mitra sister city dibangun berdasarkan asal Peserta didik
dengan memasangkan setiap satu peserta dengan 10 data
perusahaan/institusi di daerahnya, utamanya sesuai dengan bidang
keahlian peserta tersebut.
e) Data mitra pasangan untuk masing-masing peserta didik berfungsi
untuk mengenalkan lebih jauh peserta didik dengan potensi kota
tempat tinggalnya, dan diharapkan mereka mampu mengoptimalkan

173
Membangun Jejaring Kerja ( Kemitraan )

diri untuk memastikan dirinya dapat direkrut di institusi mitra


pasangan tersebut.
f) Data mitra pasangan itu terdiri dari: Data mitra perusahaan
swasta/BUMN/Perorangan, Data mitra institusi swasta/negeri, Data
mitra personal, data pimpinan perusahaan, tokoh, dokter dan lain-
lain yang secara personal dapat dimanfatkan, data perguruan tinggi
swasta dan data mitra laboratorium.

Langkah-langkah Membangun Kemitraan

Kemitraan memberikan nilai tambah kekuatan kepada masing-masing


sektor untuk melaksanakan visi dan misinya. Namun kemitraan juga merupakan
suatu pendekatan yang memerlukan persyaratan, untuk itu diperlukan
langkahlangkah tahapan sebagai berikut:
1. Pengenalan masalah
2. Seleksi masalah
3. Melakukan identifikasi calon mitra dan pelaku potensial melalui
suratmenyurat, telepon, kirim brosur, rencana kegiatan, visi, misi,
AD/ART.
4. Melakukan identifikasi peran mitra/jaringan kerjasama antar sesama mitra
dalam upaya mencapai tujuan, melalui: diskusi, forum pertemuan,
kunjungan kedua belah pihak, dll
5. Menumbuhkan kesepakatan yang menyangkut bentuk kemitraan, tujuan
dan tanggung jawab, penetapan rumusan kegiatan memadukan
sumberdaya yang tersedia di masing-masing mitra kerja, dll. Kalau ini
sudah ditetapkan, maka setiap pihak terbuka kesempatan untuk
melaksanakan berbagai kegiatan yang lebih bervariasi sepanjang masih
dalam lingkup kesepakatan.
6. Menyusun rencana kerja: pembuatan POA penyusunan rencana kerja
dan jadwal kegiatan, pengaturan peran, tugas dan tanggung jawab
Gambaran kemitraan
7. Melaksanakan kegiatan terpadu: menerapkan kegiatan sesuai yang telah
disepakati bersama melalui kegiatan, bantuan teknis, laporan berkala, dll.
8. Pemantauan dan evaluasi

C. Pola Kemitraan

174
Membangun Jejaring Kerja ( Kemitraan )

Kemitraan adalah suatu sikap menjalankan bisnis yang diberi ciri dengan
hubungan jangka panjang, suatu kerjasama bertingkat tinggi, saling percaya,
dimana pemasok dan pelanggan berniaga satu sama lain untuk mencapai tujuan
bisnis bersama. Sehingga dalam pengembangan hubungan kemitraan ini
menghasilkan beberapa pola, yaitu sebagai berikut:

a. Inti-Plasma. Adalah merupakan hubungan kemitraan antara Usaha


Kecil Menengah dan Usaha Besar sebagai inti membina dan
mengembangkan Usaha Kecil Menegah yang menjadi plasmanya
dalam menyediakan lahan, penyediaan sarana produksi, pemberian
bimbingan teknis manajemen usaha dan produksi, perolehan,
penguasaan dan peningkatan teknologi yang diperlukan bagi
peningkatan efisiensi dan produktivitas usaha. Dalam hal ini, Usaha
Besar mempunyai tanggung jawab sosial (corporate social
responsibility) untuk membina dan mengembangkan UKM sebagai
mitra usaha untuk jangka panjang. Contoh: diterapkan dalam
pengembangan Tambak Inti Rakyat dan Perkebunan Inti Rakyat

b. Subkontrak yaitu pola kemitraan antara usaha kecil dengan usaha


menengah ataupun usaha besar, dimana usaha kecil yang
memproduksi komponen.. yang diperlukan perusahaan mitra
sebagai bagian dari hasil produksinya. Pola ini ditandai dengan
adanya kesepakatan tentang kontrak bersama yang menyangkut
volume, harga, mutu, dan waktu. Pola ini sangat bermanfaat dalam
transfer alih teknologi, modal, ketrampilan, dan produktifitas.

c. Dagang umum adalah hubungan kemitraan antara usaha kecil


dengan usaha menengah atau usaha besar, dimana usaha menengah
atau usaha besar memasarkan hasil produksi usaha kecil atau usaha
kecil memasok kebutuhan yang diperlukan oleh usaha menengah
atau usaha besar mitranya. Dalam kegiatan perdagangan pada
umumnya, kemitraan antara usaha besar atau usaha menengah
dengan usaha kecil dapat berlangsung dalam bentuk kerjasama
pemasaran produk, penyediaan lokasi usaha, atau penerimaan
pasokan dari usaha kecil mitra usahanya untuk memenuhi kebutuhan

175
Membangun Jejaring Kerja ( Kemitraan )

yang diperlukan oleh usaha besar atau usaha menengah. Contohnya:


kegiatan bisnis hortikultura, dimana kelompok tani hortikultura
bergabung dengan koperasi kemudian bermitra dengan swalayan
atau kelompok supermarket. Petani memiliki kewajiban untuk
memasok barang-barang sesuai dengan persyaratan dan kualitas
produk yang telah disepakati bersama.

d. Waralaba adalah perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak


untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan
intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain
dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan
pihak lain tersebut, dalam rangka penyediaan dan atau penjualan
barang dan atau jasa. Hubungan kemitraan yang di dalamnya
pemberi waralaba memberikan hak penggunaan lisensi, merek
dagang, dan saluran distribusi perusahaannya kepada penerima
waralaba dengan disertai bantuan bimbingan manajemen. Pemberi
Waralaba adalah badan usaha atau perorangan yang memberikan
hak kepada pihak lain untuk memanfaatkan dan atau menggunakan
hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha
yang dimilikinya. Penerima Waralaba adalah badan usaha atau
perorangan yang diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau
menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri
khas yang dimiliki Pemberi Waralaba.

e. Keagenan adalah hubungan kemitraan yang di dalamnya usaha kecil


diberi hak khusus untuk memasarkan barang dan jasa usaha
menengah atau usaha besar mitranya.

f. Pola kemitraan kerjasama operasional adalah pola hubungan


bisnis yang dijalankan oleh kelompok mitra dengan perusahaan mitra.
Kelompok mitra adalah kelompok yang menyediakan lahan, sarana
dan tenaga kerja. Sedangkan perusahaan mitra menyediakan biaya,
modal, manajemen dan pengadaaan sarana produksi lainnya.
Perusahaan mitra juga sebagai penjamin pasar dengan meningkatkan
nilai tambah produk melalui pengolahan dan pengemasan. Pola ini

176
Membangun Jejaring Kerja ( Kemitraan )

sering diterapkan pada usaha perkebunan tebu,


tembakau, sayuran dan pertambakan. Dalam pola ini telah diatur
tentang kesepakan pembagian hasil dan resiko.

g. Bapak angkat Anak angkat merupakan hubungan antara


pengusaha besar yang bersedia membantu perkembangan
pengusaha kecil. Dibutuhkan kesadaran tinggi bagi bapak angkat
untuk membantu anak angkatnya. Salah satu contohnya adalah
BUMN yang memperoleh profit besar memberikan modal tanpa bunga
kepada peternak di daerah miskin.

h. Franchise merupakan hubungan antara pemilik nama franchise


(franchisor ) dengan pembeli franchise ( franchisee) yang menjual
lisensi beserta atributnya seperti peralatan, proses produksi, resep
campuran proses produksinya, pengendalian mutu, pengawasan
mutu bahan baku, maupun barang jadinya serta bentuk
pelayanannya.

i. Vendor adalah kerjasama dimana produk yang dihasilkan oleh mitra


kerjanya akan digunakan oleh bapak angkat, tetapi produk tersebut
tidak menjadi bagian produk yang dihasilkan oleh bapak angkat.
Sebagai contoh, PT Kratakau Steel yang core business-nya
menghasilkan baja mempunyai anak angkat perusahaan kecil
penghasil emping melinjo. Vendor juga dapat diartikan sebagai
kegiatan bisnis di mana BUMN/BUMS membeli barang setengah jadi
atau barang jadi dari mitra usaha tidak berdasarkan kontrak tertulis,
tetapi atas pesanan melalui perantara. Barang yang dibeli tidak
memenuhi spesifikasi teknis yang spesifik , akan tetapi perusahaan
besar melakukan grading dan membayar sesuai dengan mutu produk
yang diserahkan.

Contoh Bisnis Sosial dan Kemitraan

Usaha sosial atau bisnis sosial (social entreprise) bukanlah sebuah usaha
yang mudah untuk dilakukan. Selain dilaksanakan dengan dorongan untuk
memperoleh laba, bisnis sosial / usaha sosial juga dilandasi oleh sebuah

177
Membangun Jejaring Kerja ( Kemitraan )

idealisasi yang kuat. Idealisasi yang muncul secara kuat adalah bagaimana
sebuah usaha yang dijalankan mampu mengatasi permasalahan yang ada di
sekitar kita. Jadi bukan hanya semata-mata mengejar keuntungan semata, akan
tetapi usaha sosial juga harus berdampak sosial kepada masyarakat dan
lingkungan di sekitarnya.

Berikut ini adalah beberapa perusahaan sosial (socisl entreprise) yang bisa kita
jadikan bahan rujukan untuk mengelola sebuah usaha sosial, yang data-datanya
kami kutip dari situs Green Marketing. Beberapa diantaranya juga memberikan
dukungan bagi pengembangan kewirausahaan sosial di dunia baik melalui
hibah, pemberian pinjaman maupun dengan memberikan dukungan inovasi
dengan menyediakan layanan inkubasi bisnis, jaringan informasi, tenaga ahli
maupun kosnsultasi.

a. Ashoka Ashoka bekerja dengan pengusaha sosial lainya untuk memacu


proyek-proyek yang bertujuan untuk memberikan perubahan pada
masyarakat. Mereka memberikan pinjaman keuangan mikro dan
dukungan kepada masyarakat, serta mempromosikan kerjasama antara
kelompok dan jejaring pengusaha sosial.
b. ClearlySo. Clearly So adalah pasar online untuk bisnis sosial,
perusahaan, dan investasi. Melalui website mereka, perusahaan sosial
dan perusahaan dapat terhubung dengan sesamanya, investor potensial,
serta masyarakat dan organisasi pemerintah.

c. Echoing Green. Echoing Green berinvestasi dan mendukung


pengusaha sosial (social entrepreneur) baru yang dianggap dapat
memberikan solusi. Setiaptahun Echoing green menawarkan 12-15
beasiswa untuk pengusaha sosial baru, menyediakan hingga $ 90 K
untuk pendanaan awal yang terbagi menjadi 4 hibah yang besarnya sama
selama dua tahun.

d. Finca. Finca adalah lembaga keuangan mikro yang memberikan kredit


mikro dan layanan keuangan untuk masyarakat berpenghasilan terendah
di dunia melalui model bank desa.

e. i-Genius. i-Genius adalah sosial network bagi para social entrepreneur.


Melalui platform online, i-Genius memungkinkan wirausahawan sosial dari

178
Membangun Jejaring Kerja ( Kemitraan )

mana saja di dunia untuk berkomunikasi dengan satu sama lain melalui
internet.

f. Grameen Bank. Grameen Bank adalah sebuah organisasi keuangan


mikro dan bank pembangunan masyrakat yang memberikan pinjaman
tanpa agunan berbunga rendah. Grameen Bank didirikan oleh Profesor
Mohammad Yunus, yang kemudian memenangkan Hadiah Nobel
Perdamaian karena keberhasilanya pada upayanya untuk memutus siklus
kemiskinan yang dihadapi oleh masyarakat miskin pedesaan. Seperti
Finca, Grameen beroperasi melalui model perbankan desa.

g. Kiva. Kiva adalah sebuah platform mikro kredita online yang


menghubungkan pemberi pinjaman dengan pengusaha mikro di seluruh
dunia. Kiva bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan melalui kredit
mikro yang diberikan melalui internet. Kiva bermitra dengan lembaga
keuangan mikro yang ada dalam rangka untuk mendapatkan akses ke
pengusaha mikro yang memenuhi syarat untuk diberikan pinjaman di
seluruh dunia dan menyediakan pinjaman bebas bunga sehingga mereka
dapat memperbaiki kehidupan mereka.

h. Root Cause. Root Cause adalah sebuah organisasi nirlaba yang


berfokus pada penyediaan bantuan keuangan untuk pengusaha sosial
dan mendidik investor dampak sosial. Mereka juga melakukan penelitian
untuk menginformasikan investor sosial dan menawarkan konsultasi
strategis untuk membantu individu dan organisasi dalam tujuan sosial
mereka dampak.

i. Skoll Foundation. Skoll Foundation menyediakan investasi dan


memfasilitasi hubungan antara pengusaha sosial dan inovator lain dalam
upaya untuk mendukung perubahan yang fundamental yang akan
memperbaiki masyarakat.

j. Lembaga Khusus Pelatihan, Pada gambar dibawah dijelaskan


bagaimana pentingnya hubungan dengan mitra untuk kesinambungan
usaha (Lembaga Khusus Pelatihan) LKP. Posisi Kemitraan dalam
Kesinambungan Penyelenggaraan LKP

179
Membangun Jejaring Kerja ( Kemitraan )

Gambar 12.1 Siklus Jejaring Kerja

Penjelasan Bagan:
1. perusahaan sebagai penyelenggara pelatihan secara internal memiliki
kekuatan sekaligus juga kelemahan. Kekuatan dan kelemanhan LKP
ditentukan oleh empat (4) hal pokok yaitu sumber daya manusia (SDM),
fasilitas atau sarana -prasarana yang dimiliki, program yang
diselenggarakan dan lulusan (out put) yang dihasilkan. LKP harus mampu
memetakan dimana letak kekuatan dan kelemahan terkait dengan empat
hal tersebut diatas. Setelah mengetahui peta kekuatan dan kelemahan
internal kelembagaannya, maka selanjutnya LKP dapat menentukan
langkah atau strategi untuk peningkatan kinerja LKP, salah satunya
dengan pendekatan PLC (Program Life Cycle)

2. Peningkatan mutu internal LKP dengan pendekatan PLC terdiri dari 5


langkah utama yang pada hakekatnya merupakan suatu tahapan
kegiatan/aktivitas yang terus berkelanjutan sebagai sebuah siklus.
Langkah pertama yaitu penyelenggaraan yang pada intinya merupakan
pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen dan kepemimpinan dalam
mengelola sebuah LKP. Terhadap system pengelolaan LKP perlu
dilakukan perbaikan mutu secara berkelanjutan yang didasarkan pada
hasil monitoring dan evaluasi. Jika perbaikan mutu terus dilakukan maka
akan tercipta pelayanan yang memuaskan bagi masyarakat selaku
konsumen maupun pengguna lulusan. Kepuasan pelanggan dengan
sendirinya akan membangun image positip di masyarakat terhadap
eksistensi perusahaann. Image positif yang sudah terbentuk akan
meningkatkan minat masyarakat untuk mengikuti. Jumlah peserta yang

180
Membangun Jejaring Kerja ( Kemitraan )

semakin meningkat menunjukkan daya dukung masyarakat juga semakin


meningkat, begitu seterusnya.

3. Sedangkan peningkatan mutu perusahaan secara eksternal dapat


dilakukan dengan strategi kemitraan yaitu membangun Jejaring Kerja
dengan pihak-pihak eksternal atas dasar saling percaya dan saling
membutuhkan. Disatu sisi,perusahaan secara internal masih memiliki
keterbatasan-keterbatasan yang menjadi tantangan bagaimana
mengatasinya. Di sisi lain, begitu banyak sumber daya potensial di
masyarakat yang belum diberdayakan secara optimal untuk
pengembangan perusahaan kedepan dan menjadi tantangan perusahaan
bagaimana memberdayakannya. Adapun Pihak-pihak eksternal yang
memungkinkan untuk dijadikan mitra kerja antara lain: Pemda, legislative,
Dinas pendidikan, Dinas/instansi terkait lainnya (disnakertrans, dinkes,
dinas pariwisata dan budaya, dinas pertanian dan peternakan, dinas
perindustrian dan perdagangan), Dunia usaha dan industri (dudi),
Lembaga keuangan seperti Perbankan, Koperasi, organisasi
kemasyarakatan (termasuk asosiasi profesi, lembaga persekolah atau
pondok pesantren, akademisi, Lembaga Sertifikasi (LSK dan LSP), BAN
PNF. Semakin banyak program LKP yang terkoneksi dengan sumber-
sumber eksternal berarti semakit kuat Jejaring Kerja LKP. Semakin kuat
Jejaring Kerja berarti semakin kuat pula eksistensi dan kredibilitas LKP di
masyarakat.

Demikian beberapa wira usaha sosial (social entreprise) yang telah


berkembang dan menunjukkan bahwa dengan model bisnis yang tepat, bisnis
sosial (social entrepreneur) mampu berkembang dengan baik dan memberikan
dampak sosial kemasyarakatan yang besar di lingkunganya. Dari uraian diatas
dapat disimpulkan, tentang kerja wirausahawan sosial adalah bagaimana
Muhamad Yunus, pemenang Nobel Perdamaian 2006, yang dengan sistem kredit
mikro yang lebih dikenal sebagai Grameen Bank, telah membantu jutaan kaum
miskin di Bangladesh, terutama perempuan dan anak, untuk memperoleh
kesejahteraan yang lebih baik. David Bornstein memaparkan bagaimana para
wirausahawan sosial dari berbagai belahan dunia yang hampir tak terliput oleh
media namun telah mengubah aras sejarah dunia dengan terobosan berupa

181
Membangun Jejaring Kerja ( Kemitraan )

gagasan-gagasan inovatif, memutus sekat-sekat birokrasi, mengusung komitmen


moral yang tinggi dan kepedulian (How to Change the World, 2004).

Selain buah kerja brilian Muhammad Yunus, David Bornstein juga


menceritakan puluhan kisah wirausahawan sosial lain, seperti Fabio Rosa
(Brasil) yang menciptakan sistem listrik tenaga surya yang mampu menjangkau
puluhan ribu orang miskin di pedesaan, Jeroo Billimoria (India) yang bekerja
keras membangun jaringan perlindungan anak-anak telantar, Veronika Khosa
(Afrika Selatan) yang membangun model perawatan yang berbasis rumah
(home-based care model) untuk para penderita AIDS yang telah mengubah
kebijakan pemerintah tentang kesehatan di negara tersebut, dan banyak lagi
tokoh yang buah tangannya telah terasa langsung manfaatnya oleh masyarakat.

LATIHAN

1. Apa yang kamu ketahui tentang Jejaring Kerja? Jelaskanpendapat anda!


2. Jelaskan mengapa perusahaan perlu membangun Jejaring Kerja dengan
berbagai pihak?
3. Jelaskan tujuan membangun Jejaring Kerja bagi perusahaan
4. Jelaskan prinsi-prinsip dalam membangun Jejaring Kerja.
5. Jelaskan strategi atau pendekatan dalam membangun Jejaring Kerja
menurut pendapat anda.

DAFTAR PUSTAKA

Acs, Z., OGorman, C., Szerb, L., & Terjesen, S. 2007. Could the Irish Miracle be
Repeated in Hungary? Small Business Economics, 28(2/3), 123-142.

Aidis, R., Estrin, S., & Mickiewicz, T. 2008. Institutions and Entrepreneurship
Development in Russia: A Comparative Perspective. Journal of Business Venturing, 23,
656-672

182
Membangun Jejaring Kerja ( Kemitraan )

Alvord, S.H., Brown, D., & Letts, C.W. 2004. Social Entrepreneurship and Societal
Transformation: An Exploratory Study. Journal of Applied Behavioral Science, 40, 260-
282.

Austin, J., Stevenson, H., & Wei-Skillern, J. 2006. Social and commercial
entrepreneurship: same, different or both? Entrepreneurship Theory and Practice, 30(1),
1-22.

Bowen, H.P., & De Clercq, D. 2008. Institutional context and the allocation of
entrepreneurial effort. Journal of International Business Studies, 39(4), 747-767.

Brock, D.D. 2008. Social Entrepreneurship Teaching Resources Handbook. Ashoka.

Dean, T., & McMullen, J. 2006. Toward a theory of sustainable entrepreneurship:


Reducing environmental degradation through entrepreneurial action. Journal of Business
Venturing, 22(1), 50-76.

Economist. 2007. Entrepreneurship. November 22.

Economist. 2009. A special report on entrepreneurship. March 12.

Justo, R., Lepoutre, J., & Terjesen, S. 2010. Social Entrepreneurship. In Bosma, N.,
Levie, J., Global Entrepreneurship Monitor. 2009 Executive Report.

Levie, J., & Autio, E. 2008. A Theoretical Grounding and Test of the GEM Model. Small
Business Economics, 31(3), 235-263.

Mair, J., & Marti, I. 2006. Social entrepreneurship research: a source of explanation,
prediction and delight. Journal of World Business, 41(1), 36-44.

Marcus, A.A., & Fremeth, A.R. 2009. Green Management Matters Regardless. Academy
of Management Perspectives, 23(3), 17-26.

McMullen, J., Bagby, D.R., & Palich, L. Economic Freedom and the Motivation to
Engage in Entrepreneurial Action, Entrepreneurship Theory & Practice, 32(5), 875-895.

Nicholls, A. 2006. Playing the Field: A New Approach to the Meaning of Social
Entrepreneurship, Social Enterprise Journal, 2(1), 15.

Peredo, A. M., & McLean, M. 2006. Social entrepreneurship: A critical review of the
concept. Journal of World Business, 41(1), 56-65.

Rachida Justo and Jan Lepoutre, 2010, Global Entrepreneurship Monitor (GEM) Social
Entrepreneurship Study: Methodology & Data, Department of Management and
Entrepreneurship, Kelley School of Business, Indiana University.

Reynolds, P., N. Bosma, E. Autio, S. Hunt, N., De Bono, I. Servais, P. Lopez Garcia and
N. Chin. 2005. Global Entrepreneurship Monitor: Data Collection Design and
Implementation 1998-2003. Small Business Economics, 24(3), 205-231.

183
Membangun Jejaring Kerja ( Kemitraan )

Shorrock, A. 2008. Opening Address. United Nations University-WIDER Conference on


Entrepreneurship and Economic Development. Helsinki.

Short, J.C., Moss, T.W., & Lumpkin, G.T. 2009. Research in Social Entrepreneurship:
Past Contributions and Future Opportunities. Strategic Entrepreneurship Journal, 3, 161-
194.

Townsend, D.M., & Hart, T.A. Perceived institutional ambiguity and the choice of
organizational form in social entrepreneurial ventures. Entrepreneurship Theory &
Practice, 32(4), 685-700.

Weerawardena, J., & Mort, G.S. 2006. Investigating social entrepreneurship: a


multidimensional model. Journal of World Business, 41(1), 21-35.

Zahra, S.A., Gedajlovic, E., Neubaum, D., & Shulman, J. Typology of social
entrepreneurs: motives, search processes and ethical challenges. Journal of Business
Venturing, 24(5), 519-532.

184