Anda di halaman 1dari 50

LAPORAN MAGANG TINGKAT SARJANA

OPTIMISASI PENDISTRIBUSIAN PUPUK UREA WILAYAH SUMATRA SELATAN


PT. PUPUK SRIWIDJAJA MENGGUNAKAN METODE ALGORITMA SPANNING
TREE

Disusun Oleh:
Asa Satria Bilawaal

DEPARTEMEN PENJUALAN WILAYAH I (PSO)


PT. PUPUK SRIWIDJAJA PALEMBANG
TAHUN 2017
PT PUPUK SRIWIDJAJA PALEMBANG
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN KERJA MAGANG TINGKAT SARJANA

Nama : Asa Satria Bilawal


Jurusan : Teknik Industri
Judul Laporan : Optimisasi Pendistribusian Pupuk Urea Wilayah Sumatra Selatan PT.
Pupuk Sriwidjaja Menggunakan Metode Algoritma Spanning Tree

Palembang, Agustus 2017


Menyetujui,

Pembimbing,

Mesil Asteri
Badge No. 15.1473

Mengetahui,
Superintendent Pelaksanaan Diklat

Andy Leonard M.P. Situmorang


Badge No. 04.0915
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat

dan hidayah-Nya kepada kita semua, khususnya pada penulis sehingga dapat menyelesaikan

laporan ini yang ditujukan untuk memenuhi salah satu hasil dari Kerja Praktik atau magang di PT.

Pupuk Sriwidjaja Palembang.

Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada Nabi Muhammad SAW, kepada

keluarganya, sahabat, serta kepada seluruh umatnya sampai akhir jaman. Penulis juga

mengucapkan terima kasih kepada:

1. Allah SWT yang telah memberikan kemudahan dan kelancaran, serta sebagai yang

pertama selalu membantu dalam menyelesaikan kerja praktik atau magang ini.

2. Kedua orang tua yang senantiasa selalu mendukung dan mendoakan yang menjadi orang

pertama yang selalu berdoa atas kelancaran pelaksanaan kerja praktik.

3. Bapak Khalid selaku Manajer Penjualan PSO Wilayah I

4. Bapak Hendra Gunawan selaku Koord. Operasional.

5. Bapak Alex Chandra selaku Koord. Hubungan & Promosi.

6. Bapak Andy Leonard M.P. Situmorang selaku superintendent pelaksanaan diklat.

7. Ibu Mesil Asteri selaku pembimbing magang kerja praktik.

8. Staff unit kerja Bagian Penjualan PSO Wilayah I: Fikri Hidayat, Echa Febriliya, Dimas

Putro Arianto, Meiriza Herwandi S. Terimakasih atas pelajaran dan ilmu-ilmu baru yang

telah diajarkan dan telah mendukung penulis untuk dapat menyelesaikan laporan akhir

magang ini.
9. Kepada seluruh karyawan Departemen Penjualan PSO Wilayah I serta seluruh karyawan

Departemen Pendidikan dan Pelatihan PT. Pusri Palembang yang telah membantu dan

mendukung penulis dalam proses kerja praktik / magang.

10. Teman seperjuangan kerja magang terutama bagian unit kerja kepada Umi, Mezvi, Mifta,

Alvita dan teman kerja praktik yang berbeda departemen Ining, Hazbi, Diaz, Dicky,

Yunus, Ifan, Rindi dan teman-teman lainnya yang telah membantu dalam bersosialisasi

selama kerja praktik berlangsung.

11. Kepada seluruh orang yang telah membantu dalam pelaksanaan kerja praktik mulai dari

awal hingga akhir baik keluarga, teman, maupun orang-orang diluar yang juga membantu

dalam proses kerja praktik.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan tugas Kerja Praktik ini masih jauh dari

kata sempurna dan banyak sekali kekurangan. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan

hati penulis mengharapkan kritik dan juga saran yang membangun demi kesempurnaan

pembuatan laporan ini dan juga perbaikan dimasa yang akan datang.

Akhir kata penulis mengharapkan semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi

generasi penerus, khususnya bagi penulis, dan semua pihak yang membacanya.

Akhirnya kepada Allah SWT. Penulis serahkan segala sesuatunya, semoga yang

penulis harapkan ini dapat terkabul dan dilancarkan. Aamiiin.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.

Palembang, Juli 2017

Penulis
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN...... i
KATA PENGNTAR...... ii - iii
DAFTAR ISI..... iv v
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang 1 - 3
1.2.Rumusan Masalah........... 3
1.3.Tujuan. 3
1.4.Manfaat........... 4
1.5.Batasan.... 4
1.6.Asumsi.........4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Pelaksanaan Magang. 5
2.2. Gudang 5 - 6
2.2.1. Tujuan Gudang.. 6 - 7
2.2.2. Manfaat Gudang 7 - 9
2.3. Pengertian Sistem Transportasi.. 9 - 10
2.3.1. Pemodelan Sistem.... 10 - 11
2.3.2. Pemodelan Pemilihan Rute Perjalanan 11 - 14
2.4. Transportasi dan Masalah Kemacetan.. 15 - 16
2.5. Optimisasi. 16
2.6.Analisis Optimisasi... 17
2.7.Pengertian Minimum Spanning Tree.. 17 - 18
2.8. Pengertian Algoritma 18
2.9. Pengertian Logistik... 18 - 19

BAB III GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN


3.1. PT PUSRI. 20 - 21
3.2. Visi, Misi, Tata Nilai & Makna PT PUSRI.. 21
3.3. Makna Logo. 21 - 22
3.4. Profil Pabrik PT PUSRI Palembang 23 - 25
3.5. Struktur Organisasi Departemen Penjualan Wilayah I (PSO) PT PUSRI
Palembang. 25 - 29

BAB IV KERANGKA BERPIKIR.... 30


BAB V PEMBAHASAN
5.1. Penentuan Jalur Rute Terpendek. 31 - 35
5.2. Penentuan Alternatif Jalur Distribusi.. 35 - 40

BAB VI PENUTUP
6.1. Kesimpulan. 41
6.1.1. Rute Lintasan Minimum Pendistribusian Pupuk Urea Sumatra Selatan... 41 - 42
6.1.2. Alternatif Rute Pendistribusian Pupuk Urea Sumatra Selatan... 42 - 43
6.2. Saran... 43

DAFTAR PUSTAKA. vi
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pada era ini, perindustrian di Indonesia semakin bersaing dalam penjualan mutu dan

kualitas dimana hal-hal penting tersebut dirancang dan dipikirkan untuk menarik dan

meningkatkan daya jual kepada berbagai konsumen. Banyak hal yang perlu dikaji dalam

peningkatan mutu bagi masing-masing produk yang diperdagangkan oleh setiap perusahaan

yang menawarkan produk kepada pasar. Bisa pemerhatian pada faktor biaya jual produk,

kualitas produk, lama pengiriman bagi perusahaan, dan lain sebagainya. Disini lah kajian

mengenai pemaksimalan mutu dalam tujuan untuk meningkatkan mutu atau keunggulan

perusahaan dalam memasarkan produknya agar dapat menyelesaikan masalah yang ada dan

bisa saja setiap saat terjadi.

Perusahaan yang bergerak di dalam penyaluran kebutuhan atau pemenuhan kebutuhan

Negara adalah objek yang sangat tepat dan ideal untuk dilakukannya pengkajian penyelesaian

masalah yang ada di dalam pemasaran produk ke seluruh wilayah. Dalam kesempatan ini,

perusahaan yang menjadi objek penelitian untuk dilakukan penyelesaian masalah terkait

pemasaran produk adalah PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang. Perusahaan ini adalah perusahaan

BUMN yang memproduksi pupuk terbesar dan pertama di Indonesia. selain memproduksi,

perusahaan ini juga memasarkan atau mendistribusikan produk-produknya ke banyak wilayah.

Produk yang dipasarkan memiliki dua tipe yaitu subsidi dan juga non-subsidi. Produk

bersubsidi dari pemerintah diperuntukan kepada petani dan perkebunan dimana terdapat
bantuan biaya di dalam produk tersebut, sedangkan produk non-subsidi dipasarkan secara

komersil yaitu penjualan atau pemasaran secara umum di beberapa pasar di Indonesia.

Perusahaan pupuk terbesar ini memiliki kewajiban untuk menyalurkan atau

mendistribusikan pupuk ke beberapa wilayah provinsi dan kabupaten di seluruh wilayah

Indonesia. Dari faktor-faktor yang dapat menurunkan keuntungan atau membuat kondisi

kurang atau bahkan tidak efisien dalam pendistribusian produk, pada kesempatan ini di dalam

penelitian ini akan lebih fokus kepada pemaksimalan jalur atau rute pendistribusian produk ke

beberapa wilayah yang ada di Sumatra Selatan. Hal ini dapat dilakukan dengan penentuan

jarak-jarak antar gudang di wilayah Sumatra Selatan dimana penentuan jarak terkecil tersebut

juga memperhatian beberapa referensi atau faktor diantaranya; jarak, jenis kendaraan, tariff

organda atau perhubungan, dan tariff pasar.

PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang (PUSRI) memerlukan pemecahan masalah tersebut

dimana seperti yang diketahui masalah di dalam pendistribusian pupuk urea ke beberapa

gudang di wilayah Sumatra Selatan belum pernah dilakukan. Penelitian ini dilakukan untuk

menyelesaikan problem perusahaan yang ada dimana diketahui bahwa perusahaan pernah

mengalami beberapa kendala seperti contoh pada saat perusahaan melakukan pengantaran

barang untuk di distribusikan ke gudang-gudang di beberapa wilayah yang ada terjadi kendala

dimana jalan atau rute yang dilalui sedang terjadi hambatan yang mengakibatkan pengantaran

barang menjadi terhambat. Dengan dilakukannya penelitian ini akan dapat memecahkan

masalah yang ada yang juga diperlukan untuk perusahaan dalam memaksimalkan

pendistribusian secara efisien. Dengan kata lain, penelitian ini bertujuan untuk menentukan

jarak terdekat untuk menuju ke gudang tujuan dan juga menentukan rute atau jalur alternatif

dengan menggunakan metode Spanning Tree dan juga Shortest Route. Untuk menentukan
jalur alternatif nantinya akan dilakukan pengembangan teknik dari metode yang digunakan.

Maksud dari pengembangan metode yang digunakan ini adalah untuk menentukan alternatif

atau pilihan rute atau jalur lain yang dapat digunakan dalam pendistribusian pupuk. Hasil akhir

yaitu berupa alternatif-alternatif yang menampilkan jarak dan biaya yang diperlukan apabila

rute alternatif tersebut dipilih untuk melakukan pendistribusian barang.

Dengan demikian, penelitian ini dilakukan untuk membuat kondisi efisien dala penyaluran

pupuk ke beberapa wilayah tujuan. Dengan adanya alternatif yang ada pada jalur atau rute

perjalanan, akan dapat secara cepat dan langsung menentukan keputusan memilih jalur terbaik

yang lebih efisien dari jalur lainnya apabila jalur utama yang paling minimum atau efisien

yang ada sedang mengalami gangguan yang dapat menyebabkan terhambatnya proses

pendisgtribusian.

1.2. Rumusan Masalah

Terdapat beberapa rumusan masalah yang ada pada penelitian ini yaitu sebagai berikut:

1. Jalur atau rute mana yang terdekat untuk mendistribusikan pupuk urea ke setiap gudang?

2. Alternatif mana saja yang dapat dipilih dalam mendistribusikan pupuk ke setiap gudang?

1.3.Tujuan

Adapun terdapat beberapa tujuan di dalam penelitian ini yaitu adalah sebagai berikut:

1. Dapat menentukan jarak terdekat menuju ke beberapa gudang tujuan.

2. Memiliki alternatif pilihan rute atau jalur dalam pendistribusian pupuk urea.

3. Memecahkan masalah terkait dengan kendala jalur utama pendistribusian.


4. Memperoleh hasil efisien dalam pendistribusian dengan cara meng-optimalisasikan

penyaluran pupuk ke beberapa gudang.

1.4. Manfaat

Adapun terdapat beberapa manfaat yang terdapat di dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:

1. Perusahaan dapat memiliki hasil berupa bahasan yang menunjukan jalur atau rute terdekat

dalam penyaluran pupuk urea ke setiap gudang di Sumatra Selatan agar efisien.

2. Dapat memiliki alternatif plihan rute jalur untuk mendistribusikan pupuk urea di wilayah

Sumatra Selatan.

1.5. Batasan

Adapun terdapat beberapa batasan di dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:

1. Penelitian mengenai pendistribusian pupuk dilakukan di wilayah Sumatra Selatan.

2. Produk yang di distribusikan yaitu pupuk urea.

1.6. Asumsi

Adapun terdapat asumsi di dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:

1. Di asumsikan bahwa jalan yang dilalui dalam penentuan jarak atau rute terpendek tidak

memiliki kendala apapun saat dilalui.

2. Di asumsikan bahwa data yang diperoleh benar dan valid.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Pelaksanaan Magang

Magang di departemen penjualan mahasiswa sekaligus sebagai penulis diminta

untuk menentukan hasil atau mengoptimalkan pendistribusian pupuk urea di wilayah

Sumatra Selatan. Optimasi ini dilkukan dengan cara menentukan hasil rute pendistribusian

terpendek atau terkecil agar penyaluran atau pendistribusian pupuk urea efisien dari segi

biaya dan waktu.

Dalam menentukan rute, data yang diperoleh berupa lokasi dan jarak antar gudang

yang terdapat di daerah Sumatra Selatan. Dari data yang diperoleh tersebut, kemudian

dilakukan analisis data yang memiliki output jalur rute pendistribusian ke semua bagian

pabrik di wilayah Sumatra Selatan.

2.2. Gudang

Gudang merupakan suatu fasilitas yang berfungsi sebagai lokasi penyaluran barang

dari supplier (pemasok), sampai menuju ke pengguna. Dalam praktik operasional setiap

perusahaan cenderung memiliki suatu ketidakpastian akan permintaan yang ada. Hal ini

mendorong timbulnya kebijakan dari perusahaan untuk melakukan sistem persediaan

(inventory) agar permintaan dapat di antisipasi dengan cermat. Dengan adanya kebijakan

mengenai inventory ini mendorong perusahaan untuk menyediakan fasilitas gudang

sebagai tempat untuk menyimpan barang inventory.


Gudang adalah lokasi untuk menyimpan produk barang sampai permintaan

(demand) cukup besar untuk melaksanakan distribusi. Penyimpanan dianggap perlu untuk

menyesuaikan produk dengan kebutuhan konsumen. Prinsip kegunaan waktu (time utility)

dijadikan sebuah alas an untuk membenarkan alas an ini. untuk perusahaan manufaktur

yang memproduksi produk dengan skala yang besar dan konstan dan memiliki berbagai

produk di banyak lokasi, pergudangan memberikan metode untuk mengurangi biaya

penyimpanan bahan mentah, dan suku cadang, serta biaya penanganan, di samping

memaksimumkan operasi produksi. Dengan adanya pergudangan, dapat meningkatkan

efisiensi pemasukan dimana perusahaan dapat mendorong atau menekan terjadinya

kerugian dari banyak hal. Persediaan pasar untuk seluruh suku cadang dapat dipertahankan

di gudang sehingga dapat menurunkan kebutuhan penumpukan persediaan di masing-

masing pabrik.

Pengertian lain mengenai gudang adalah sebuah tempat yang dibebani tugas untuk

menyimpan barang yang akan dipergunakan dalam produksi, sampai barang tersebut

diminta sesuai jadwal produksinya. Gudang dapat digambarkan sebagai salah satu sistem

logistic dari sebuah perusahaan yang berfungsi untuk menyimpan sebuah produk dan

perlengkapan produksi lainnya dan juga menyediakan informasi mengenai status serta

kondisi material atau produk yang disimpan di gudang sehingga informasi tersebut mudah

di akses oleh siapapun yang berkepentingan.

2.2.1. Tujuan Gudang

Gudang bertujuan untuk mengurangi biaya transportasi dan produksi, karena

gudang emiliki peranan penting dalam proses pengendalian dan pengurangan biaya

transportasi dan produksi, pada dasarnya gudang berkaitan erat dengan persediaan
barang namun pada posisi tertentu gudang dapat mengurangi biaya transportasi dan

produksi. Selain itu, adanya gudang juga mampu menjadi alat untuk pengkoordinasian

antara penawaran dengan permintaan. Gudang mempunyai peranan penting dalam hal

mengkoordinasikan antara penawaran dengan permintaan, hal ini disebabkan karena

permintaan pasar tidak selalu bisa diproyeksikan secara akurat sedangkan proses

penawaran suatu barang harus terus berjalan. Untuk itu diperlukan sebuah gudang

untuk menyimpan barang pada saat volume produksi naik dan volume permintaan

menurun.

Adanya gudang mampu memenuhi kebutuhan produksi. Seperti diketahui dalam

suatu produksi tentunya akan menghasilkan barang atau produk dengan karakteristik

dan sifat yang berbeda pula, ada jenis barang yang bisa langsung di konsumsi, seperti

contoh makanan dan minuman, untuk barang seperti itu memerlukan gudang sebagai

tempat penyimpanan barang agar mendapat keawetan yang dibutuhkan oleh barang

dengan karakteristik seperti itu.

Gudang juga dapat memenuhi kebutuhan pasar dikarenakan barang-barang yang

telah beredar di pasaran memiliki banyak macam, namun ada beberapa barang yang

diminta selalu ada oleh konsumen. Agar pasokan barang tersebut tidak terputus maka

diperlukan gudang yang relative dekat dengan pasar sebagai media pendistribusian

untuk memenuhi kebutuhan pasar dan dapat didistribusikan dengan lancar dan tepat

waktu (cepat).

2.2.2. Manfaat Gudang

Menurut Purnomo (2004:282) secara garis besar manfaat pergudangan antara lain

adalah:
1. Manufacturing support (pendukung proses produksi)

Operasi pergudangan memiliki peranan sangat penting di dalam proses produksi,

dukungan dari operasi pergudangan sangat mutlak bagi kelancaran proses

produksi, sistem administrasi proses penyimpanan, transportasi dan material

handling (pengendalian material) serta aktifitasaktifias lainnya yang ada di dalam

pergudangan yang diatur sedemikian hingga proses produksi berjalan sesuai

dengan target yang hendak dicapai.

2. Production mixing

Menerima pengiriman barang berbagai macam dari berbagai sumber dan dengan

sistem pengendalian material baik otomatis maupun manual dilakukan penyortiran

dan menyiapkan pesanan pelanggan selanjutnya mengirimnya ke pelanggan.

3. Sebagai perlindungan terhadap barang

Gudang merupakan jenis peralatan atau tempat dengan sistem pengamanan yang

dapat diandalkan. Dengan demikian barang akan mendapatkan jaminan keamanan

yang baik dari berbagai bahaya pencurian, kebakaran, banjir, serta problem

keamanan lainnya.

4. Dalam sistem pergudangan

Material berbahaya dan material tidak berbahaya akan dipisahkan beberapa

material yang memiliki resiko membahayakan dan menimbulkan pencemaran,

untuk itu dengan menggunakan kode keamanan tidak diijinkan material yang

beresiko tersebut ditempatkan dengan lokasi pabrik.


5. Sebagai persediaan

Untuk melakukan peramalan permintaan produk yang akurat merupakan hal yang

sangat sulit, agar dapat melayani pelanggan setiap waktu, operasi pergudangan

dapat digunakan sebagai alternatif tempat persediaan barang yang mana akan

berfungsi sebagai tempat penyimpanan dan penanganan persediaan.

2.3. Pengertian Sistem Transportasi

Sistem adalah suatu bentuk keterkaitan antara suatu variabel dengan variabel

lainnya di dalam tatanan yang terstruktur, dengan kata lain sistem adalah gabungan

beberapa komponen atau objek yang saling berkaitan. Sistem juga dapat diartikan sebagai

gabungan dari berbagai hal berupa manusia, software, dan lain sebagainya dimana suatu

sistem memiliki tujuan yang sama dari gabungan-gabungan hal yang ada. Sedangkan

transportasi itu sendiri adalah kegiatan pemindahan barang-barang atau penumpang dari

suatu tempat menuju ke tempat lain. Sehingga sistem transportasi dapat diartikan sebagai

gabungan dari beberapa komponen atau objek yang saling berkaitan dalam hal

pengangkutan barang atau manusia oleh berbagai jenis kendaraan sesuai dengan kemajuan

teknologi yang ada.

Sistem transportasi berawal dari pengangkutan sederhana sejalan dengan sejarah

manusia berpindah atau bergerak ke suatu tempat menuju ke tempat lainnya dengan

membawa atau mengangkut apa saja mulai dari barang dan manusia namun dalam kondisi

yang terbatas. Pergerakan yang dilakukan manusia kini berkembang dengan menggunakan

tenaga hewan, namun pada era modern saat ini, pengangkutan barang menuju tempat

tujuan sudah semakin maju dengan mempergunakan teknologi yang semakin canggih yang
memudahkan dalam pengangkutan barang. Selanjutnya revolusi industri dengan

diciptakannya tenaga mesin kendaraan seperti; mobil, kereta, pesawat terbang, dan kapal

laut, hasil daya angkut, jarak, maupun waktu hamper terbatas. Manusia, hewan, dan

kendaraan merupakan perangkutan karena manusia atau kendraan bergerak dari satu

tempat ke tempat yang lainnya sehingga timbul lalulintas atau jalur perlintasan.

2.3.1. Pemodelan Transportasi

Model adalah alat bantu atau media yang dapat digunakan untuk menggmbarkan

dan menyederhanakan uatu realita (keadaan sebenarnya) secara terstruktur. Semua

model merupakan penyederhanaan dari realita untuk mendapatkan tujuan tertentu,

yaitu penjelasan dan pengertian yang lebih mendalam serta untuk kepentingan

peramalan.

Model dapat dibagi menjadi beberapa jenis, diantaranya adalah:

1. Model fisik, model yang memperlihatkan dan menjelaskan suatu objek yang sama

dengan skala yang lebih kecil sehingga didapatkan gambaran yang lebih jelas dan

rinci serta terukur mengenai perilaku objek tersebut jika dibangun dalam skala

sebenarnya.

2. Model peta dan diagram, yaitu merupakan sebuah model yang menggunakan garis,

gambar, warna, dan juga bentuk sebagai media penyampaian informasi yang

memperlihatkan realita objek tersebut.

3. Model statistik dan matematika, yaitu model yang menggambarkan keadaan yang

ada dalam bentuk persamaan-persamaan dan fungsi matematis sebagai media

dalam usaha mencerminkan realita. Misalnya menerangkan aspek fisik, sosial-

ekonomi, dan model transportasi. Keuntungan pemakaian model matematis dalam


perencanaan transportasi adalah bahwa sewaktu pembuatan formulasi, kalibrasi

serta penggunaannya, para perencana dapat belajar banyak melalui eksperimen,

tentang kelakuan dan mekanisme internal dari sistem yang sedang dianalisis.

Sebuah model tersebut merupakan cerminan dan penyederhanaan dari realita atau

keadaan yang sebenarnya untuk tujuan tertentu, seperti memberikan penjelasan,

pengertian dan peramalan. Dalam studi perencanaan transportasi, analisis dampak

dari pembangunan suatu prasarana biasanya melibatkan tahap peramalan atau

prediksi besarnya kebutuhan pergerakan. Tahap ini dapat dilakukan melalui

metoda pemodelan yang lebih dikenal dengan pemodelan transportasi. Pemodelan

juga dapat dilakukan menggunakan simulasi dimana di dalam sistem simulasi

transportasi dapat menjadikan tolak ukur atau gambaran dari kenyataan yang

terjadi.

2.3.2. Pemodelan Pemilihan Rute Perjalanan

Dasar pemikirannya adalah pemilihan rute bagi pelaku perjalanan terhadap

jalur antara sepasang zona dengan suatu moda perjalanan tertentu. Pemodelan ini

memperlihatkan dan memprediksikan pelaku perjalanan yang memilih berbagai

rute dan lalu lintas yang menghubungkan jaringan transportasi tersebut dan

menerapkan sistem model kebutuhan akan transportasi untuk memperkirakan

jumlah pergerakan yang dilakukan oleh setiap tujuan pergerakan selama selang

waktu tertentu. Salah satu tujuan utama pemilihan rute adalah

mengidentifikasikan rute yang ditempuh pengendara dari zona asal ke zona tujuan

dan juga jumlah perjalanan yang melalui setiap ruas jalan pada suatu jaringan

jalan.
Tahap terakhir dalam estimasi atau perkiraan permintaan perjalanan adalah

menentukan perjalanan yang akan dibuat diantara setiap pasang zona, dengan

moda tertentu atau dengan rute tertentu di dalam jaringan lalu-lintas yang ada. Hal

ini merupakan suatu persoalan yang ada pada moda untuk jalan raya dimana

biasanya terdapat banyak rute yang ditempuh oleh seseorang yang melakukan

perjalanan.

Perusahaan dalam mendistribusikan barang atau produknya memiliki data

atau lokasi-lokasi berupa letak-letak lokasi gudang yang ada. Kemudian dari

lokasi-lokasi gudang yang ada, kemudian ditentukan jalur atau rute yang paling

efisien yang kemudian dipilih dan ditetapkan oleh perusahaan menjadi jalur atau

rute utama pendistribusian. Jalur atau rute transportasi pendistribusian barang

tersebut dipilih berdasarkan efisiensi dari segi waktu, biaya, dan lainnya. Hal ini

dilakukan agar perusahaan mendapatkan keuntungan yang maksimal dan

menekan kerugian dari banyak faktor penyebab dan kerugian dari berbagai aspek.

Secara konsep, perencanaan transportasi empat tahap dapat digambarkan

seperti gambar berikut:


Aksebilitas
(accessibility)

Bangkitan dan tarikan


perjalanan

(
Sebaran pergerakan
(accessibility)
(trip distribution)

Pemilihan moda
angkutan
(accessibility)

Pemilihan rute
(trip assigment)

Arus pada jaringan


transportasi

Gambar 2.1. Bagan Alir (Flowchart) Konsep Perencanaan Transportasi Empat Tahap

(Wells, 1975)

Pada jaringan angkutan biasanya jumlah rute alternatif lebih sedikit, hanya

terdapat satu jalur gerak saja yang menghubungkan dua zona, dan gerak

mempunyai kualitas yang jauh lebih baik daripada jalur gerak lainnya, sehingga

tetap merupakan pilihan utama. Asumsi yang bisa diambil dalam penentuan

perjalanan adalah bahwa pejalan akan memilih jalur gerak dengan waktu tempuh

minimum untuk perjalanan di jalan raya.


Waktu perjalanan untuk sebuah jalan tertentu tergantung pada volume lalu

lintas jalan tersebut, akan tetapi dalam menganalisis sistem transportasi di masa

depan, model-model permintaan inilah yang akan digunakan untuk

memperkirakan volume dimasa depan, walaupun pada saat yang sama pemilihan

rute untuk pejalan tertentu tergantung pada waktu perjalanan antara berbagai ruas

jalan dan karena itu tergantung pada volume yang harus diramalkan. Rute lalu

lintas dipilih dimana setiap orang akan menempuh jalur gerak dengan waktu

minimum atau terkecil dari tempat asal ke tujuan, dan juga memenuhi kondisi

dimana waktu perjalanan pada setiap ruas jalan konsisten dengan volume lalu

lintas di jalan tersebut karena kedua hal diatas dihubungkan oleh suatu fungsi

antara kecepatan dan volume.

Biasanya dianggap bahwa para pengguna jalan akan memilih jalur waktu

minimum, dimana waktu yang dimaksud adalah waktu total dari tempat asal ke

tujuan, termasuk waktu untuk berjalan dan menunggu kendaraan angkutan. Dalam

pelaksanaannya, biasanya dianggap bahwa para pejalan akan terpengaruh oleh

waktu menunggu rata-rata. Oleh karena itu, rute alternatif melalui jaringan

angkutan akan dibandingkan berdasarkan waktu berjalan pada sebelum dan

sesudah berkendaraan, ditambah waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan

diantara rute tersebut apabila terdapat perpindahan diantara rute tersebut,

ditambahkan waktu yang dibutuhkan didalam kendaraan.


2.4. Transportasi dan Masalah Kemacetan

Transportasi di suatu wilayah mempengaruhi efisiensi ekonomi dan sosial daerah

tersebut, dan hampir setiap orang menggunakan transportasi. Oleh sebab itu, sistem

transportasi merupakan salah satu topik utama di dalam perkembangan wilayah. Masalah

dalam pergerakan lalu lintas, khususnya pada jam jam sibuk, yang mengakibatkan

pengguna transportasi mengalami keterlambatan jutaan jam akibat terjadinya kemacetan.

Kemacetan lalu lintas akan selalu mengakibatkan dampak negatif, baik terhadap

pengemudinya sendiri maupun ditinjau dari segi ekonomi dan lingkungan. Bagi

pengemudi kenderaan, kemacetan akan menimbulkan ketegangan (stress). Selain itu juga

akan menimbulkan kerugian berupa kehilangan waktu karena waktu perjalanan yang lama

serta bertambahnya biaya operasi kenderaan karena seringnya kenderaan berhenti. Selain

itu timbul pula dampak negatif terhadap lingkungan berupa peningkatan polusi udara serta

peningkatan gangguan suara kenderaan (kebisingan).

Kemacetan menjadi salah satu permasalahan yang rumit yang terjadi di jaringan

lalu lintas. Secara teori, kemacetan disebabkan oleh tingkat kebutuhan perjalanan yang

lebih tinggi dibandingkan dengan kapasitas yang tersedia. Berdasarkan teori tersebut,

maka solusinya adalah mengurangi jumlah kendaraan yang lewat, atau meningkatkan

kapasitas, baik kapasitas ruas maupun kapasitas persimpangan. Permasalahannya

kemudian, apabila secara teorinya begitu mudah, mengapa pelaksanaannya begitu sulit,

mengapa sampai saat ini kemacetan lalu lintas tidak dapat diatasi. Persoalan-persoalan

yang terkait ternyata sangat banyak, seperti disiplin lalu lintas, penegakan hukum, sosial

ekonomi, tenaga kerja, dan lain sebagainya, sehingga persoalannya menjadi kompleks dan
tidak ada satupun solusi tunggal yang dapat diterapkan untuk mengatasi persoalan

kemacetan lalu lintas.

2.5. Optimisasi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994, h.800), optimalisasi adalah berasal

dari kata dasar optimal yang berarti terbaik, tertinggi, paling menguntungkan, menjadikan

paling baik, menjadikan paling tinggi, pengoptimalan proses, cara, perbuatan

mengoptimalkan (menjadikan paling baik, paling tinggi, dan sebagainya) sehingga

optimalisasi adalah suatu tindakan, proses, atau metodologi untuk membuat sesuatu

(sebagai sebuah desain, sistem, atau keputusan) menjadi lebih/sepenuhnya sempurna,

fungsional, atau lebih efektif.

Menurut Siregar (2004), optimalisasi aset merupakan proses kerja dalam

manajemen aset yang bertujuan untuk mengoptimalkan potensi, lokasi, nilai, jumlah atau

volume, legal dan ekonomi yang dimiliki aset tersebut. Secara umum tujuan optimalisasi

aset dimaksudkan untuk mengidentifikasi dan inventarisasi semua aset yang meliputi

bentuk, ukuran, fisik, legal, sekaligus mengetahui nilai pasar atas masing-masing aset

tersebut yang mencerminkan manfaat ekonomisnya.

Prosedur pemecahan masalah optimasi adalah memodelkan persoalannya ke

dalam sebuah program matematis dan kemudian memecahkannya dengan menggunakan

teknik-teknik atau metode optimasi seperti program linier, program nonlinier, program

tujuan ganda, dan metode-metode lainnya yang sudah berkembang saat ini.
2.6. Analisis Optimisasi

Dalam penelitian ini, dilakukan analisis yang mencangkup pengatasan

permasalahan mengenai optimisasi pendistribusian produk pupuk urea ke gudang-gudang

di wilayah Sumatra Selatan. Objek penelitian mengenai pemaksimalan atau optimisasi

penyaluran produk di perusahaan ini menggunakan data berupa jarak antara gudang pusat

di lini I menuju ke gudang lini II yang beredar di daerah Sumatra Selatan. Permasalahan

yang ada berupa jalur yang banyak yang bisa dipilih menuju tempat tujuan, namun dengan

dilakukannya penelitian ini dapat ditentukan hasil berupa jalur minimum dalam

permasalahan penyaluran pupuk urea ke masing-masing gudang.

Penentuan jarak terpendek atau rute terbaik dapat memberikan hasil berupa

pendistribusian barang secara efisien. Dengan jarak yang ditempuh dengan

memperhatikan jarak minimum atau terpendek, dapat menekan juga biaya yang

dikeluarkan oleh perusahaan. Metode yang digunakan dalam penentuan jarak terpendek

atau rute minimum dalam penyaluran barang ke semua gudang wilayah Sumatra Selatan,

digunakan metode bernama Spanning Tree dimana jarak minimum akan ditemukan setelah

dianalisis.

2.7. Pengertian Minimum Spanning Tree

Pohon rentang minimum (minimal spanning tree) adalah teknik mencari jalan

penghubung yang dapat menghubungkan semua titik dalam jaringan secara bersamaan

sampai diperoleh jarak minimum. Masalah pohon rentang minimum serupa dengan

masalah rute terpendek (shortest route), kecuali bahwa tujuannya adalah untuk

menghubungkan seluruh simpul dalam jaringan sehingga total panjang cabang tersebut
diminimisasi. Jaringan yang dihasilkan merentangkan (menghubungkan) semua titik

dalam jaringan tersebut pada total jarak (panjang) minimum.

2.8. Pengertian Algoritma

Logistik adalah proses pengelolaan yang strategis terhadap pemindahan dan

penyimpanan barang, suku cadang dan barang jadi dari supplier, diantara fasilitas fasilitas

perusahaan dan kepada para pelanggan. Pengertian yang sederhana logistic merupakan

bagian dari suatu kegiatan atau tugas yang melaksanakan proses penyiapan/penyedian,

penyimpanan dan penyaluran produk atau jasa kepada konsumen atau pengguna akhir.

Logistik identik dengan pergudangan dan transportasi, yakni gudang tempat menyimpan

bahan baku, barang setengah jadi maupun barang jadi. Sedangkan transportasi tidak lebih

dari proses pemindahan barang-barang atau produk dari gudang ke proses pengolahan

ataupun ke pemakai/konsumen. Dina Rahmayanti, Ringgo Afrinando (2013: 2)

menyatakan, bahwa manajement information system (MIS) merupakan penerapan sistem

informasi di dalam organisasi untuk mendukung informasi-informasi yang dibutuhkan

oleh semua tingkatan manajemen.

2.9. Pengertian Logistik

Pengertian logistik yang lebih rinci adalah proses perencanaan, pelaksanaan, dan

pengendalian aliran yang efisien dan efektif dari barang atau jasa dan informasi terkait

mulai dari titik asal sampai titik penggunaan untuk memenuhi keperluan pelanggan.

Secara umum dapat dikatakan bahwa logistik adalah aliran barang atau jasa mulai

dari sumber sampai tujuan. Pengertian logistik yang lebih rinci adalah proses perencanaan,
pelaksanaan, dan pengendalian aliran yang efisien dan efektif dari barang atau jasa dan

informasi terkait mulai dari titik asal sampai titik penggunaan untuk memenuhi keperluan

pelanggan. Kata kunci logistik adalah aliran dengan obyek barang atau jasa dengan tujuan

menyediakan barang dengan jumlah yang tepat, waktu yang tepat, lokasi yang tepat, dan

biaya yang tepat. Kegiatan utama logistik adalah pengadaan, penyimpanan, persediaan,

pengangkutan, pergudangan, pengemasan, keamanan, dan penanganan barang dan jasa

baik dalam bentuk bahan baku, barang antara, dan barang jadi.

Pendekatan logistik berbeda dengan pendekatan tata niaga yang lebih melihat

keseimbangan antara permintaan dan pasokan. Mekanisme tata niaga lebih banyak

bertumpu pada pengaturan harga supaya terjadi kecocokan antara pasokan dan permintaan.

Jika pasokan lebih banyak maka harga turun. Jika permintaan berlebih maka harga naik.

Logistik melihat kelebihan permintaan berarti kehilangan pendapatan dan kelebihan

penawaran berarti pemborosan sumber daya. Alat yang dipakai bukan hanya penyesuaian

harga tetapi waktu dan kapasitas dari sistem logistik. Penyesuaian harga merupakan gejala

masalah bukan solusi. Logistik membantu penggunaan sumber daya secara efisien,

melakukan optimasi imbal-balik terhadap tujuan yang berbenturan, dan melakukan

rancang ulang sistem logistik.


BAB III

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

Dengan adanya program pemagangan tingkat sarjana penulis mampu

meningkatkan keterampilan, disiplin, untuk memaksimalkan ilmu pengetahuan sehingga

siap untuk bersaing di dalam dunia kerja.

3.1. PT PUSRI

PT Pupuk Sriwidjaja Palembang (Pusri) adalah perusahaan yang didirikan sebagai

pelopor produsen pupuk urea di Indonesia pada tanggal 24 Desember 1959 di Palembang

Sumatera Selatan, dengan nama PT Pupuk Sriwidjaja (Persero). Pusri memulai operasional

usaha dengan tujuan utama untuk melaksanakan dan menunjang kebijaksanaan dan

program pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional, khususnya di industri

pupuk dan kimia lainnya. Sejarah panjang Pusri sebagai pelopor produsen pupuk nasional

selama lebih dari 50 tahun telah membuktikan kemampuan dan komitmen kami dalam

melaksanakan tugas penting yang diberikan oleh pemerintah.

Selain sebagai produsen pupuk nasional, Pusri juga mengemban tugas dalam

melaksanakan usaha perdagangan, pemberian jasa dan usaha lain yang berkaitan dengan

industri pupuk. Pusri bertanggung jawab dalam melaksanakan distribusi dan pemasaran

pupuk bersubsidi kepada petani sebagai bentuk pelaksanaan Public Service Obligation

(PSO) untuk mendukung program pangan nasional dengan memprioritaskan produksi dan

pendistribusian pupuk bagi petani di seluruh wilayah Indonesia. Penjualan pupuk urea non

subsidi sebagai pemenuhan kebutuhan pupuk sektor perkebunan, industri maupun eksport
menjadi bagian kegiatan perusahaan yang lainnya diluar tanggung jawab pelaksanaan

Public Service Obligation (PSO).

Sebagai perusahaan yang bertanggung jawab atas kelangsungan industri pupuk

nasional, Pusri telah mengalami berbagai perubahan dalam manajemen dan wewenang

yang sangat berkaitan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah. Saat ini Pusri secara resmi

beroperasi dengan nama PT Pupuk Sriwidjaja Palembang dengan tetap menggunakan

brand dan merk dagang Pusri.

3.2. Visi, Misi, Tata Nilai & Makna PT PUSRI

Visi

Menjadi perusahaan pupuk terkemuka tingkat regional.

Misi

Memproduksi serta memasarkan pupuk dan produk agribisnis secara efisien dan

memuaskan pelanggan.

Makna

Untuk kemandirian pangan dan kehidupan yang lebih baik.

Tata nilai

- Integritas

- Professional

- Fokus pada pelanggan

- Loyalitas

- Baik sangka

3.3.Makna Logo

Makna logo yang terkandung di dalam logo PT PUSRI adalah:


Kejayaan dan Kemenangan yang Gilang-Gemilang

Gambar 3.1. Logo PT PUSRI

1. Lambing pusri yang berbentuk huruf U melambangkan singkatan Urea. Lambing ini

telah terdaftar di Ditjen Haki Dep Kehakiman & HAM no 021391.

2. Setangkai padi dengan jumlah butiran 24 melambangkan tanggal akte pendirian PT. Pupuk

Sriwidjaja.

3. Butiran-butiran urea berwarna putih sejumlah 12, melambangkan bulan Desember

pendirian PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang.

4. Setangkai kapas yang mekar dan kelopaknya, butir kapas yang mekar berjumlah 5 buah

kelopak yang pecah berbentuk 9 retakan ini melambangkan angka 59 sebagai tahun

pendirian PT Pupuk Sriwidjaja Palembang.

5. Perahu kajang merupakan ciri khas kota Palembang yang terletak di tepian sungai Musi

6. Kuncup teratai yang mekar merupakan imajinasi pencipta akan prospek perusahaan

dimasa depan.
3.4. Profil Pabrik PT PUSRI Palembang

Pembangunan fasilitas pabrik dari PUSRI I, II, III, IV, V dan IB dilakukan secara bertahap.

Masing-masing pabrik dibangun dengan perencanaan matang sesuai dengan Rencana

Pembangunan Lima Tahun yang dicanangkan oleh Pemerintah Indonesia dan untuk

memenuhi kebutuhan pupuk nasional yang terus meningkat.

Gambar 3.2. Pabrik PT PUSRI Palembang

1. Pusri I (1963 - 1986)

Pusri I merupakan simbol dari tonggak sejarah industri pupuk di Indonesia.

Dibangun di atas lahan seluas 20 hektar, PUSRI I adalah pabrik pupuk pertama di

Indonesia yang dibangun pada tanggal 14 Agustus 1961 dan mulai beroperasi pada tahun

1963 dengan kapasitas terpasang sebesar 100.000 ton urea dan 59.400 ton amonia per

tahun. Saat ini peran Pabrik PUSRI I sudah digantikan oleh PUSRI IB karena alasan usia

dan tingkat efisiensi yang sudah menurun.

2. Pusri II

PUSRI II adalah pabrik pupuk kedua yang dibangun oleh Pusri dan mulai

beroperasi pada tanggal 6 Agustus 1974. PUSRI II diresmikan oleh Presiden Republik
Indonesia pada tanggal 8 Agustus 1974 dengan kapasitas produksi sebesar 380.000

metrik ton urea per tahun dan 218.000 metrik ton amonia per tahun.

3. Pusri III

Proses perencanaan PUSRI III telah dimulai ketika pemerintah meresmikan

operasional PUSRI II sebagai langkah antisipasi meningkatnya kebutuhan pupuk.

Sebagai tindak lanjut dari keputusan pemerintah, tepat pada tanggal 21 Mei 1975

Menteri Perindustrian M Jusuf telah meresmikan Pemancangan Tiang Pertama

pembangunan Pabrik Pusri III. Pabrik Pusri III memiliki kapasitas produksi 1.100 metrik

ton amonia per hari atau 330.000 setahun dan 1.725 metrik ton urea sehari atau 570.000

metrik ton setahun.

4. Pusri IV

Melalui Surat Keputusan No.17 tanggal 17 April 1975, Presiden Republik Indonesia

telah menugaskan kepada Menteri Perindustrian untuk segera mengambil langkah-

langkah persiapan guna melaksanakan pembangunan pabrik Pusri IV. Pada tanggal 7

Agustus 1975 awal pembangunan PUSRI IV. Pemancangan tiang pertama pembangunan

pabrik PUSRI IV dilakukan di Palembang oleh Menteri Perindustrian M Jusuf tanggal

25 Oktober 1975. Pusri IV dibangun pada tahun 1977 dengan kapasitas produksi yang

sama dengan PUSRI III dengan kapasitas produksi 1.100 metrik ton amonia sehari, atau

330.000 metrik ton setahun dan 1.725 metrik ton urea sehari atau 570.000 metrik ton

setahun.

5. Pusri IB

Pabrik PUSRI IB merupakan pabrik yang dibangun sebagai pengganti pabrik

PUSRI I yang telah dinyatakan tidak efisien lagi. Tanggal 15 Januari 1990
merupakan Early Start Date untuk memulai kegiatan Process Engineering Design

Package. Tanggal 1 Mei 1990 merupakan effective date dari pelaksanaan

pembangunannya dan diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 22

Desember 1994.

PUSRI IB adalah proyek pabrik baru dengan kapasitas produksi 446.000 ton

amonia per tahun dan 570.000 ton urea per tahun. Proyek ini menerapkan teknologi

proses pembuatan amonia dan urea hemat energi dengan efisiensi 30% lebih hemat dari

pabrik-pabrik PUSRI yang ada.

Ruang lingkup Pusri IB mencakup satu unit pabrik amonia berkapasitas 1.350 ton per

hari atau 396.000ton per tahun. Satu unit pabrik urea berkapasitas 1.725 ton per hari atau

570.000 ton per tahun dan satu unit utilitas, offsite dan auxiliary.

3.5. Struktur Organisasi Departemen Penjualan Wilayah I (PSO) PT PUSRI Palembang


Dibawah ini aalah gambaran struktur organisasi Departemen Penjualan PSO Wilayah I
PT PUSRI Palembang:
Gambar 3.3. Struktur Organisasi Departemen Penjualan Wilayah I (PSO)

Berikut ini adalah Fungsi dan tugas pokok dari struktur organisasi, yaitu:

1. General Manager penjualan produk PSO

Adapun Fungsi dan Tugas Pokok dari General Manager Penjualan Produk PSO

adalah sebagai berikut:

a. Bertanggung jawab atas kelancaran pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi dan

produk bersubsidi lainnya, sesuai dengan ketentuan yang telah diatur, dengan

memastikan:

1. Perencanaan penjualan sesuai ketentuan yang berlaku.

2. Pengelolaan saluran pemasaran/distribusi yang optimal.

3. Penyusunan SPJB yang mendukung dan memadai.

4. Penanganan kondisi darurat yang tepat.


b. Melaksanakan pengawasan pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi bersama

instansi terkait.

c. Mengkoordinir pembuatan laporan sesuai ketentuan yang berlaku.

d. Melaksanakan pengukuran dan mitigasi risiko penjualan serta penilaian KPI.

e. Melaksanakan pembinaan SDM dibawahnya.

f. Bertanggung jawab seluruh asset di wilayah kerjanya.

g. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diperintahkan atasan yang sesuai dengan

kebijakan Perusahaan.

2. Manager penjualan wilayah I

Adapun Tugas dan Fungsi pokok dari Manager Penjualan Wilayah II adalah

sebagai berikut:

a. Mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk mengkoordinasikan; perencanaan &

pengelolaan pendistribusian pupuk bersubsidi.

b. Melakukan koordinasi dan evaluasi dengan unit kerja terkait masalah SDM, GCG/KPI,

Manko serta optimasi asset yang ada di daerah.

c. Memonitor laporan Kepala Penjualan tentang permasalahan pupuk yang ada di daerah

serta berkoordinasi dengan unit kerja terkait untuk tindak lanjut permasalahannya.

d. Memonitor temuan SPI, ISO, BPK, KAP, BPKP serta tindak lanjut temuan-temuannya

dengan berkoordinasi kepada unit kerja terkait.

e. Melaksanakan perintah atasan sesuai dengan kebijakan Perusahaan.


3. Bagian penjualan Daerah

Bagian Penjualan Daerah adalah unit kerja yang bertanggung jawab terhadap

penjualan dan distribusi pupuk ditingkat Provinsi. Adapun fungsi dan tugas pokok dari

bagian penjualan daerah adalah sebagai berikut:

a. Bertanggung jawab terhadap rencana pengadaan & penjualan pupuk bersubsidi setiap

bulan untuk kebutuhan sektor subsidi berkoordinasi dengan Manager Penjualan

Produk PSO.

b. Membuat mapping daerah tentang potensi penjualan dan hasilnya dilaporkan ke kantor

pusat.

c. Bertanggung jawab terhadap jumlah pupuk yang disalurkan sesuai dengan jumlah

RDKK yang ada.

d. Melakukan evaluasi proses penunjukan distributor pupuk bersubsidi bersama Tim

Kantor Pusat sesuai ketentuan berlaku.

e. Melakukan penilaian distributor secara periodik.

f. Melakukan evaluasi dan usulan harga jual pupuk bersubsidi ke distributor apabila ada

perubahan kebijakan dari Pemerintah dan Perusahaan untuk disampaikan kepada

Manager Penjualan Produk PSO.

g. Melakukan pengawasan terhadap pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi

bersama instansi terkait.

h. Membuat laporan rencana tindak lanjut terhadap temuan-temuan SPI, ISO, BPK, KAP,

BPKP dan melaporkan kepada Manager Penjualan Produk PSO.

i. Membuat laporan dalam hal pengadaan dan penjualan pupuk sesuai ketentuan yang

berlaku.
j. Memonitor dan melaporkan keberadaan fisik aset kepada Manager Penjualan PSO.

k. Menyiapkan dokumen Claim Property All Risk (PAR). Gempa bumi akibat kerusakan

yang terjadi pada gudang, gedung dan rumah dinas di wilaahnya untuk disampaikan

terhadap unit kerja terkait.

l. Melakukan evaluasi dan pembinaan SDM di bawah unit kerja Bagian Penjualan Rayon

dan berkoordinasi dengan unit kerja terkait serta melaporkan kepada Manager

Penjualan Produk PSO.

m. Melaksanakan pengukuran dan mitigasi risiko penjualan serta penilaian KPI.

n. Merencanakan dan melakukan strategi pencapaian/peningkatan target penjualan

produk PSO.

o. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diperintahkan oleh atasan sesuai dengan

Kebijakan Perusahaan.
BAB IV
KERANGKA BERPIKIR PENUGASAN

Di dalam pendistribusian barang sampai menuju ke lokasi akhir atau sampai ke

pembeli membutuhkan penyaluran barang dari gudang pusat atau gudang pabrik

pemproduksi barang. Dalam mendistribusikan barang atau produk, pastinya akan

berkaitan dengan lokasi-lokasi gudang yang tersebar di beberapa wilayah bagian dimana

dari lokasi antar gudang tersebut memiliki jarak yang diperlukan untuk menentukan jarak

pendistribusian minimum. Dengan ditentukannya pendistribusian produk ke setiap gudang

secara minimum, dapat memaksimalkan keuntungan bagi perusahaan dalam

mengeluarkan biaya pengantaran.

Kondisi Awal Tindakan Kondisi Akhir

Peneliti: Belum Penyusunan proposal


menggunakan penelitian jarak minimum
metode spanning tree pendistribusian pupuk urea
wilayah SumSel

Diduga dengan
Menyusun proposal dengan diawali melalui penggunaan
dengan pengambilan data berupa metode Spanning
lokasi gudang beserta jaraknya Tree dapat
menentukan jarak
terpendek
pendistribusian
Menentukan jarak pupuk urea di SumSel
terpendek pendistribusian dapat
pupuk urea menggunakan mengoptimalkan
metode Spanning Tree pendistribusian
pupuk urea
BAB V
PEMBAHASAN

5.1. Penentuan Jalur Rute Terpendek


Dalam menentukan jalur rute terdekat pada proses pendistribusian pupuk urea

menuju ke gudang-gudang di Sumatra Selatan diperlukan data berupa lokasi gudang-

gudang di bagian Lini I yaitu di daerah Sumatra Selatan. Data lokasi gudang yang

disertakan dengan jarak yaitu sebagai berikut:

Tabel 5.1. Lokasi dan Jarak Gudang Lini I Daerah Sumatra Selatan
Eks Gudang Lini I / PPO PT SAK - Palembang
GPP
No. Deskripsi Gudang GPP Gudang GPP Gudang
Lubuk
Palembang Naskah Lahat Martapura Belitang
Linggau
Jarak
1. (KM) 5 12 220 314 231 225

Dari tabel data di atas, dapat diketahui bahwa gudang Lini I yang berada di wilayah

Sumatra Selatan terdapat di kota Palembang, GPP Naskah, Gudang Lahat, GPP Lubuk

Linggau, GPP Martapura, dan Gudang Belitang. Dari gudang pusat atau utama menuju

ke gudang Palembang memiliki jarak 5km, jarak terdekat kedua yaitu menuju ke GPP

(Gudang Penyimpanan Pupuk) Naskah sejauh 12km. Dari GPP Naskah berikutnya

urutan yang ketiga adalah menuju ke Gudang Lahat. Dari pusat ke gudang Lahat

memiliki jarak sejauh 220 km. setelah dari GPP Naskah, lokasi gudang berikutnya

yang terdekat adalah Gudang Belitang dimana dari pusat menuju ke gudang tersebut

sejauh 225km. Gudang berikutnya yaitu adalah menuju ke GPP Martapura. Jarak yang

ditempuh dari pusat menuju ke GPP Martapura adalah sejauh 231 km. Kemudian,

gudang tujuan yang terakhir yang memiliki lintasan jalur yang terjauh yaitu GPP

Lubuk Linggau yaitu sejauh 314 km. Total jarak dengan satuan kilometer dari pusat
menuju gudang-gudang di wilayah Sumatra Selatan apabila dari pusat kendaraan yang

digunakan adalah sebanya satu kendaraan setiap gudang atau dengan kata lain

perusahaan mengirimkan 6 kendaraan menuju ke semua gudang di Lini I yaitu sebesar

1007km.

Untuk meminimalkan jarak yang ditempuh, perusahaan hanya cukup untuk

melakukan perjalanan sebanyak 2 jalur untuk mendistribusikan pupuk urea menuju

semua gudang di bagian Lini I. Untuk memaksimalkan pendistribusian dengan

menekan jarak yang banyak untuk sekali pengantaran menuju semua gudang,

dilakukan pengolahan data dengan cara memangkas jalur atau rute agar dapat

melakukan perjalanan lebih singkat dalam proses mengoptimalkan pendistribusian

pupuk. Dengan rute-rute yang telah ditentukan dengan jarak yang paling minimum,

perusahaan dapat memangkas jumlah pemakaian kendaraan atau transportasi darat

untuk menuju ke gudang-gudang Lini I.

Untuk lebih jelasnya lagi dapat dilihat dari hasil pengolahan data pemangkasan

jalur atau rute distribusi pupuk urea di Lini I:

Gambar 5.1. Jarak Pendistribusian Pupuk Urea Lini I Daerah Sumatra Selatan

Berdasar gambar diatas, dapat diketahui bahwa jarak pendistribusian memiliki

lebih dari satu pilihan jalur atau rute yang dapat dipilih oleh perusahaan. Jarak dari
pusat dengan lambang Node berwarna merah dan bertuliskan huruf P menuju ke

Gudang Palembang (GP) sejauh 5km. dari pusat menuju ke GPP Naskah sejauh 12km.

Dari pusat, bisa langsung menuju ke GPP Naskah namun dapat diminimalkan dengan

melewati Gudang Palembang terlebih dahulu yang kemudian menuju GPP Naskah.

Jarak antara Gudang Palembang menuju GPP Naskah sejauh 7km. kemudian jarak dari

pusat menuju ke Gudang Lahat sejauh 220km. Namun, pendistribusian dapat

diminimalkan dengan melewati Gudang Palembang terlebih dahulu ataupun GPP

Naskah terlebih dahulu dengan jarak yang sama namun dapat di distribusikan sekaligus

ke gudang yang berada di sebelum Gudang Lahat. Kemudian jarak dari GPP Naskah

menuju ke Gudang Belitang sejauh 213km. Apabila dari pusat, jarak menjadi 225km.

Dari GPP Naskah menuju Gudang Lahat jaraknya sejauh 208 km, apabila dari pusat

menuju Gudang Lahat jarak menjadi 220km. dari Gudang Lahat menuju ke Gudang

Belitang jaraknya sejauh 5km. Dari Gudang Belitang menuju ke GPP Naskah sejauh

6km. Dari Gudang Lahat dapat menuju langsung ke GPP Naskah sejauh 11km, Namun

dapat menjadi efisien dengan terlebih dahulu menuju ke Gudang Belitang. Dari

Gudang Belitang juga bisa menuju langsung ke GPP Lubuk Linggau dengan jarak

89km. Namun, dapat dioptimalkan agar lebih efisien dengan terlebih dahulu menuju

ke GPP Martapura dengan jarak 6km yang kemudian menuju ke GPP Lubuk Linggau

dengan jarak 83km, total menuju GPP Lubuk Linggau dari Gudang Belitang jaraknya

sama apabila dari Gudang belitang langsung menuju ke GPP Lubuk Linggau sejauh

89km. Dari Gudang Lahat juga dapat langsung menuju ke GPP Lubuk Linggau dengan

jarak 94km. Namun dapat dimaksimalkan lagi agar efisien dengan terlebih dahulu
menuju ke GPP Martapura dengan jarak 11km yang kemudian baru menuju ke GPP

Lubuk Linggau dengan jarak 83km.

Dari rute-rute pendistribusian dari pusat menuju ke gudang-gudang yang ada di

Lini I atau Sumatra Selatan, dapat dilakukan pengolahan untuk memperoleh hasil

optimal dengan menggunakan Algoritma Spanning Tree dengan hasil seperti gambar

berikut:

Gambar 5.2. Hasil Minimum Spanning Tree Distribusi Pupuk Lini I Sumatra Selatan

Berdasarkan hasil pengolahan data untuk menentukan jarak dengan rute terdekat

pendistribusian pupuk urea di Lini I pada wilayah Sumatra Selatan dapat diketahui

bahwa rute yang diperlukan untuk dilalui dimulai pada pabrik dan gudang utama

dengan gambar node berwarna merah dengan bertuliskan huruf P. dari pusat atau

pabrik utama, kemudian melalui Gudang Palembang dengan jarak 5km yang kemudian

menuju ke GPP Naskah dengan jarak 7km. Dari GPP Naskah kemudian menuju ke

Gudang Lahat dengan jarak 208km, dari Gudang Lahat kemudian menuju ke Gudang

Belitang dengan jarak 5km. Rute selanjutnya menuju ke GPP Martapura dengan jarak

6km, yang kemudian pendistribusian berakhir pada GPP Lubuk Linggau dimana jarak

dari GPP Martapura menuju GPP Lubuk Linggau berjarak 83km. Total jarak yang

dibutuhkan dalam pendistribusian pupuk urea dari pusat menuju ke semua gudang
sampai ke tujuan terjauh pada GPP Lubuk Linggau yaitu adalah 314km. Apabila dalam

pengantaran pupuk hanya dibutuhkan 1 truk saja, maka kendaraan hanya memerlukan

satu kali rute perjalanan dalam proses pendistribusian ke gudang-gudang. Namun,

apabila memerlukan lebih dari 1 truk, dapat dilalui dengan di atur dalam tujuan

pengantarannya. Misalkan 3 truk melakukan pengantaran pupuk menuju Gudang

Palembang dan GPP Naskah, beberapa truk lainnya langsung melanjutkan perjalanan

menuju rute berikutnya menuju Gudang Lahat, Gudang Belitang, GPP Martapura, dan

GPP Lubuk Linggau dengan pembagian tujuan lokasi yang sama seperti sebelumnya.

5.2.Penentuan Alternatif Jalur Distribusi


Setelah ditentukannya rute dengan jalur terpendek pendistribusian pupuk urea di

daerah Sumatra Selatan, kemudian terdapat jalur alternatif yang tersedia yang dapat

dipilih untuk melakukan perjalanan pendistribusian. Jalur-jalur alternatif yang tersedia

dapat dilihat dari hasil berikut:

Gambar 5.2. Hasil Alternatif 1 Jalur Distribusi Pupuk Lini I Sumatra Selatan

Berdasarkan hasil penentuan jalur distribusi alternatif yang tersedia dan dapat

dipilih apabila terjadi hal-hal yang menghalang atau menjadi penghambat perjalanan

di rute minimum utama yaitu dengan menggunakan minimum 2 truk dalam sekali
pengantaran barang dimana satu truk melalui Gudang Palembang dengan jarak 5km,

kemudian menuju GPP Naskah dengan jarak 7km, menuju Gudang Belitang dengan

jarak 213km, kemudian terakhir menuju GPP Martapura dengan jarak 6km. total jarak

yang dilalui pada rute pertama yaitu 231km. kemudian alternatife jalurnya yaitu dari

pusat menuju ke Gudang Lahat dengan jarak 220km, kemudian menuju GPP Lubuk

Linggau dengan jarak 94km, total yang dilalui pada rute alternatif pertama sebesar

314km. Jarak ini jauh lebih jauh untuk dilalui dibandingkan dengan jarak minimum

yang telah ditentukan sebelumnya, namun rute ini dapat dipilih untuk dijadikan

alternatif apabila jalur minimum utama terjadi kendala atau masalah dalam

pengantaran barang.

Gambar 5.2. Hasil Alternatif 2 Jalur Distribusi Pupuk Lini I Sumatra Selatan

Berdasarkan hasil penentuan jalur distribusi alternatif yang tersedia dan dapat

dipilih apabila terjadi hal-hal yang menghalang atau menjadi penghambat perjalanan

di rute minimum utama yaitu dengan menggunakan minimum 2 truk dalam sekali

pengantaran barang dimana satu truk melalui Gudang Palembang dengan jarak 5km,

kemudian menuju Gudang Belitang dengan jarak 220km, lalu berakhir menuju ke GPP

Martapura dengan jarak 6km. total yang dihabiskan dalam sekali perjalanan pada rute

ini adalah 231km. Kemudian terdapat pilihan alternatif pada transportasi kedua menuju
GPP Naskah dengan jarak 12km, kemudian menuju Gudang Lahat dengan jarak

208km, lalu berakhir pada GPP Lubuk Linggau dengan jarak 94km. Total yang dilalui

pada rute alternatif kedua ini adalah 314km. Jarak ini jauh lebih jauh untuk dilalui

dibandingkan dengan jarak minimum yang telah ditentukan sebelumnya, namun rute

ini dapat dipilih untuk dijadikan alternatif apabila jalur minimum utama terjadi kendala

atau masalah dalam pengantaran barang.

Gambar 5.2. Hasil Alternatif 3 Jalur Distribusi Pupuk Lini I Sumatra Selatan

Berdasarkan hasil penentuan jalur distribusi alternatif yang tersedia dan dapat

dipilih apabila terjadi hal-hal yang menghalang atau menjadi penghambat perjalanan

di rute minimum utama yaitu dengan menggunakan minimum 3 truk dalam sekali

pengantaran barang dimana satu truk melalui Gudang Palembang dengan jarak 5km.

Kemudian kendaraan kedua dan ketiga menuju ke GPP Naskah dengan jarak 12km,

kemudian menuju Gudang Belitang dengan jarak 213km, setelah itu dapat dilalui

dengan salah satu truk menuju ke Gudang Lahat dengan jarak 5km, kemudian truk

salah satu truk lainnya melanjutkan pengantaran barang menuju GPP Martapura

dengan jarak 6km kemudian menuju GPP Lubuk Linggau dengan jarak 83km. Total

jarak yang ditempuh dalam rute alternatif ketiga ini yaitu 324km. Jarak ini jauh lebih

jauh untuk dilalui dibandingkan dengan jarak minimum yang telah ditentukan
sebelumnya, namun rute ini dapat dipilih untuk dijadikan alternatif apabila jalur

minimum utama terjadi kendala atau masalah dalam pengantaran barang.

Gambar 5.2. Hasil Alternatif 4 Jalur Distribusi Pupuk Lini I Sumatra Selatan

Berdasarkan hasil penentuan jalur distribusi alternatif yang tersedia dan dapat

dipilih apabila terjadi hal-hal yang menghalang atau menjadi penghambat perjalanan

di rute minimum utama yaitu dengan menggunakan minimum 2 truk dalam sekali

pengantaran barang dimana satu truk melalui Gudang Palembang dengan jarak tempuh

5km, kemudian menuju GPP Naskah dengan jarak 7km. Kemudain untuk rute kedua

dapat dilalui dari pusat menuju ke Gudang Lahat dengan jarak 220km, kemudian

menuju Gudang Belitang dengan jarak 5km, dari gudang Belitang menuju ke GPP

Martapura dengan jarak 6km, kemudian menuju ke lokasi terakhir yaitu GPP Lubuk

Linggau dengan jarak 83km. Total jarak yang ditempuh pada alternatif keempat ini

adalah 326km. Jarak ini jauh lebih jauh untuk dilalui dibandingkan dengan jarak

minimum yang telah ditentukan sebelumnya, namun rute ini dapat dipilih untuk

dijadikan alternatif apabila jalur minimum utama terjadi kendala atau masalah dalam

pengantaran barang.
Gambar 5.2. Hasil Alternatif 5 Jalur Distribusi Pupuk Lini I Sumatra Selatan

Berdasarkan hasil penentuan jalur distribusi alternatif yang tersedia dan dapat

dipilih apabila terjadi hal-hal yang menghalang atau menjadi penghambat perjalanan

di rute minimum utama yaitu dengan menggunakan minimum 2 truk dalam sekali

pengantaran barang dimana satu truk melalui Gudang Palembang dengan jarak 5km

kemudian menuju Gudang Lahat dengan jarak 215km, lalu menuju ke tujuan akhir

pada GPP Martapura dengan jarak 11km. Kemudian rute kedua dilalui dengan menuju

ke GPP Naskah dengan jarak 12km, kemudian dari GPP Naskah kemudian menuju ke

Gudang Belitang dengan jarak 213km, lalu tujuan akhir yaitu menuju ke GPP Lubuk

Linggau dengan jarak 89km. Total jarak yang ditempuh pada rute alternatif kelima ini

adalah 545km. Jarak ini jauh lebih jauh untuk dilalui dibandingkan dengan jarak

minimum yang telah ditentukan sebelumnya, namun rute ini dapat dipilih untuk

dijadikan alternatif apabila jalur minimum utama terjadi kendala atau masalah dalam

pengantaran barang.

Dari rute-rute yang tersedia tersebut, dapat dipilih beberapa alternatif yang ada.

Alternatif tersedia pada jalur-jalur yang telah ditentukan dan dapat berupah dengan

ketetapan lain atau keputusan lain dengan melihat situasi kondisi jalur rute pada situasi

nyata. Apabila terdapat jalur yang tidak dapat dilalui atau dalam kata lain terdapat
kendala yang menghambat perjalanan, dapat dipilih alternatif lainnya yang telah

ditentukan atau dapat dipilih dari jalur yang tersedia lainnya dari hasil penentuan jalur

alternatif yang ada. Rute jalur pendistribusian yang paling optimal hanya tersedia satu

rute perjalanan dengan alternatif perjalanan lebih dari satu dan dapat bertambah lagi

dengan melihat kondisi nyata perjalanan yang ada.


BAB VI
PENUTUP

6.1. Kesimpulan

Setelah dilakukan pengolahan data untuk menentukan jalur rute terpendek dalam

proses pendistribusian pupuk urea di Sumatra Selatan, terdapat hasil dimana jarak

maksimal berjarak 314km dalam sekali perjalanan menuju gudang terjauh dari pusat.

Kemudian apabila terdapat halangan atau hambatan yang membuat perjalanan

terhambat pada jalur minimum tersebut, dalam pembahasan terdapat 5 iterasi pilihan

alternatif rute yang dapat dipilih dalam mendistribusikan barang menuju ke gudang-

gudang atau lokasi tujuan.

6.1.1. Rute Lintasan Minimum Pendistribusian Pupuk Urea Sumatra

Selatan

Dari hasil pembahasan yang telah di analisis dapat ditemukan jalur

pendistribusian terpendek dalam proses pendistribusian pupuk urea di Lini I

pada wilayah Sumatra Selatan. Terdapat 6 tujuan gudang dari pusat pabrik

yang harus dituju dalam melakukan perjalanan pendistribusian barang.

Dalam menentukan jalur atau rute terpendek dilakukan dengan menggunakan

metode Spanning Tree. Metode tersebut adalah metode algoritma yang

terdapat di dalam bidang ilmu logistic yang bertujuan untuk menemukan dan

menentukan rute terpendek agar efisien dalam penyaluran barang-barang

distribusi menuju gudanggudang di Sumatra Selatan. Setelah dilakukannya

pengolahan data yang bersumber dari data kuantitatif yang didapat dari

departemen pemasaran dan logistic, telah dimukan hasil berupa jarak


pendistribusian terpendek dengan panjang lintasan 314km dalam sekali

perjalanan. Perjalanan dimulai dari pusar gudang atau pabrik tempat

dilakukan produksi sampai pada GPP Lubuk Linggau dengan lintasan jarak

terjauh. Rute-rute yang dilalui dalam melakukan perjalanan distribusi sampai

menuju ke tujuan akhir atau tujuan terjauh adalah mulai dari Pusat Gudang

Palembang GPP Naskah Gudang Lahat Gudang Belitang GPP

Martapura GPP Lubuk Linggau. Apabila dalam sekali pengantaran hanya

diperlukan satu kendaraan saja, maka perjalanan hanya memerlukan

perjalanan dengan jarak 314km saja.

6.1.2. Alternatif Rute Pendistribusian Pupuk Urea Sumatra Selatan

Dalam proses melakukan pendistribusian pupuk pada Lini I di wilayah

Sumatra Selatan, telah ditentukan rute lintasan minimum yang dapat dilalui

oleh kendaraan transportasi pengantar barang menuju ke gudang-gudang

tujuan. Namun, apabila terdapat halangan yang membuat perjalanan

terhambat dapat dipilih alternatif perjalanan atau rute lain yang dapat dipilih

untuk melakukan perjalanan menuju ke gudang-gudang. Dari pembahasan

yang dilakukan dalam penelitian ini, terdpat 5 pilihan alternatif yang dapat

dipilih dalam perjalanan distribusi. Pilihan alternatif pertama membutuhkan

minimal 2 kendaraan darat dengan total jarak 545km. alternatif kedua yang

tersedia di dalam pembahasan memerlukan minimal 2 kendaraan darat

dengan total jarak 545km. Untuk pilihan alternatif ketiga yang tersedia

membutuhkan minimal 3 kendaraan transportasi darat dengan total jarak

324km. Jarak ini lebih sedikit dibandingkan pilihan alternatif sebelumnya.


Kemudian pada alternatif pilhan berikutnya membutuhkan minimal 2

kendaraan transportasi darat dengan total jarak sebesar 326km. pilihan

berikutnya yang terakhir yang terdapat di dalam pembahasan adalah

membutuhkan minimal 2 kendaraan dengan jarak total sebesar 545km.

6.2. Saran

Dalam penelitian ini, diperlukannya data yang lebih lengkap berupa rute jalan

sesuai dengan kondisi nyata agar dapat lebih akurat dalam menentukan rute perjalanan

pendistribusian. Penelitian dan pengolahan data dapat lebih dimaksimalkan dalam

jangka waktu yang ditak ditentukan agar mendapat hasil yang lebih valid dan

terpercaya dengan melakukan penelitian tambahan menggunakan survey dan juga

memperoleh data-data pendukung lain dalam berupa data sekunder perusahaan.


DAFTAR PUSTAKA

Diakses di: www.pusri.co.id Pada jam 15:20 Tanggal 7 Juli 2017

Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994, hal:800)

Purnomo Hari, 2004, Pengantar Teknik Industri, Yogyakarta, Graha Ilmu.

Siregar, C.J.P., dan Amalia, L, 2004, Farmasi Rumah Sakit: Teori dan Penerapan, Jakarta, Buku

Kedokteran EGC.

Wells, G.R. 1975, Comprehensive Transport Planning. London, Charles Griffin.