Anda di halaman 1dari 34

BAB 3

PERENCANAAN

3.1 Pengorganisasian
Untuk efektifitas pelaksanaan Model Manajemen Pelayanan Asuhan Kebidanan
Profesional (MPAKP) dalam menentukan kebijakankebijakan internal yang sifatnya umum,
kelompok menyusun sruktur organisasi sebagai berikut :
Ketua : Siti Zulfitria, S.Keb
Wakil ketua : Ratnawati, S.Keb
Sekretaris I : Rizky Anggraita Damayanti, S.Keb
Sekretaris II : Luthfiana Husnaini Utami, S.Keb.
Bendahara : Nur Melati Bangkit Tias, S.Keb
Sie Perlengkapan : Ridya Nurul Ridha, S.Keb
Nadia Sumartin, S.Keb
Annisa Rahma Fitri Kusnaini, S.Keb
Sie Humas : Khoiriyah Noviastuti, S.Keb
Anna Nur Aziz, S.Keb
Dokumentasi : Niluh Putu Cendy Andriandany, S.Keb.
Adapun dalam pengelolaan ruang rawat maka diselenggarakan pengorganisasian dalam
pembagian peran sebagai berikut :
1. Kepala Ruangan
2. Ketua Tim
3. Bidan Pelaksana
Pembagian peran ini secara rinci akan dilampirkan, setelah pelaksanaan Manajemen
pelayanan asuhan kebidanan profesional (MPAKP) di ruangan.
3.2
3.3 Perencanaan Pemecahan Masalah (Planning of Action)
No Masalah Rencana Kegiatan Tujuan Indikator Keberhasilan Waktu
1 Terlaksananya advokasi,
Terbentuknya
Melakukan advokasi dan Model TIM dapat
SPO Model TIM belum SPOModel TIMdan
rekomendasi SPO Model terlaksana sesuai Senin, 13-06-2016
tertulis dengan jelas evaluasi penilaian
TIM dengan SPO
roleplay masuk kriteria
baik (75-100%)
Terlaksananya advokasi,
Menyampaikan
Terbentuknya
Melakukan advokasi dan kondisi pasien secara
SPO Timbang Terima SPOTimbang Terimadan
rekomendasi SPO timbang umum dan hal yang Selasa, 14-06-2016
Belum Ada evaluasi penilaian
terima perlu ditindaklanjuti
roleplay masuk kriteria
oleh shift berikutnya
baik (75-100%)
Menumbuhkan cara
Terlaksananya advokasi,
RDK Belum bisa berpikir kritis dan
Terbentuknya
dilaksanakan karena Melakukan advokasi dan sistematis dalam
SPORDKdan evaluasi Rabu, 22-06-2016
terbatasnya waktu dan rekomendasi SPO RDK pemecahan masalah
penilaian roleplay masuk
kurang sosialisasi RDK kebidanan pada
kriteria baik (75-100%)
pasien
Pelaksanaan Sentralisasi Melakukan advokasi dan Mempermudah Terlaksananya advokasi, Rabu, 15-06-2016
Obat sudah berjalan dengan rekomendasi SPO pengelolaan obat Terbentuknya
baik, namun SPO nya sentralisasi obat secara efektif dan SPOSentralisasi obatdan
belum ada efisien evaluasi penilaian
roleplay masuk kriteria
baik (75-100%)
Terlaksananya advokasi,
Seluruh bidan
Terbentuknya
Discharge Planning sudah Melakukan advokasi dan mampu melakukan
SPODischarge
berjalan, namun SPO nya rekomendasi SPO discharge planning Selasa, 14-06-2016
Planningdan evaluasi
belum ada Discharge Planning dengan baik dan
penilaian roleplay masuk
benar
kriteria baik (75-100%)
Dari Indikator PPI, sebesar -
Memutuskan
60% tenaga kesehatan tidak Aplikasi cuci tangan Terlaksananya cuci
rantai penularan
2 melakukan five moments sebelum validasi pasien tangan sebelum Senin, 13-06-2016
infeksi
cuci tangan. validasi pasien

Penempatan Linen Kotor


mengganggu akses jalan Melakukan advokasi Terputusnya
Tersedianya ruangan
3 petugas dan terlalu dekat tentang alur ruangan penularan infeksi Jumat, 17-06-2016
khusus untuk linen kotor.
dengan Ruang Sentralisasi penempatan linen kotor. nosokomial
Obat
Kurangnya informasi pada Kurangnya informasi pada Sebesar 100 % pasien
- Untuk Ketepatan
pasien dan keluarga pasien dan keluarga mampu menyebutkan
indentifikasi pasien Senin, 13 sd 26 -06-
4 mengenai gelang identitas mengenai gelang identitas gelang identitas dan cuci
- Memutuskan rantai 2016
dan fungsinya serta cuci dan fungsinya serta cuci tangan beserta
penularan infeksi
tangan . tangan . fungsinya.
5 Tanggal Kalibrasi Alat Pengadaan buku kalibrasi Memantau Kalibrasi Terlaksananya advokasi , 15-06-2016
tidak tertera pada peralatan dan melakukan advokasi alat secara berkala dan tersedianya buku
dan tidak adanya buku tentang Kalibrasi Alat kalibrasi untuk ruangan.
Kalibrasi secara berkala
Pengadaan SPO yang
Tidak tersedia prosedur ditempel di ruang
Terpasangnya prosedur
penggunaan dan perawatan pemeriksaan tentang Terpeliharanya alat
penggunaan dan
6 alat pemeriksaan mandiri prosedur penggunaan dan reduksi urine dalam Rabu, 15-06-2016
perawatan alat reduksi
yang dipasang diruang perawatan alat jangka waktu lama
urine
pemeriksaan pemeriksaan mandiri
dalam ruangan
Belum tersedianya papan Agar struktur
Pengadaan papan Terpasangnya papan
7 pengorganisasian tim organisasi tim terlihat Rabu, 15-06-2016
pengorganisasian tim pengorganisasian tim
R.Edelweis jelas

3.4
3.5 Perencanaan MPAKP
3.5.1 Model MPAKP
Berikut sistem pemberian asuhan kebidanan dalam manajemen pelayanan asuhan
kebidanan profesional.

Tenaga kesehatan Kepala Ruangan Sarana Prasarana


lain rumah sakit

Katim Shift Pagi Katim Shift Sore Katim Shift


Malam

Bidan Bidan Bidan Pelaksana


Pelaksana Pelaksana

Pasien
Keterangan:
: Garis Koordinasi
: Garis Komando
: Garis Koordinasi antar shift
: Garis Asuhan Kebidanan
Gambar 3.1 Sistem pemberian Model Asuhan Kebidanan (Nursalam, 2012)

Keterangan Job Description


1. Kepala Ruangan
Kepala ruangan adalah seseorang yang telah menamatkan DIII Kebidanan yang telah
memenuhi kualifikasi.
Uraian Tugas :
a. Mengkoordinasi kelancaran kegiatan pelayanan di Ruang Edelweis.
b. Membuat, melaksanakan dan melakukan evaluasi program kerja di Ruang Edelweis.
c. Memonitor dan mengevaluasi program peningkatan mutu pelayanan.
d. Melakukan koordinasi dengan unit lain yang terkait dengan Ruang Edelweis dalam usaha
meningkatkan mutu pelayanan .
e. Mengkoordinasi pelayanan asuhan kebidanan di Ruang Edelweis.
f. Membimbing praktek klinik staf baru/mahasiswa di Ruang Edelweis.
g. Melaksanakan tugas lain atas perintah atasan.
2. Ketua Tim
Ketua Tim adalah Seorang tenaga profesional dengan pendidikan DIII Kebidanan yang diberi
wewenang dan tanggung jawab untuk mengkoordinasi (dalam satu shift jaga) dalam
melaksanakan pelayanan kebidanan Ruang Edelweis.
Uraian tugas :
a. Melakukan koordinasi dengan seluruh anggota tim.
b. Membimbing, memantau dan mengontrol kinerja anggota tim.
c. Berkoordinasi dengan kepala tim yang lain yang terkait dalam upaya kelancaran
pelayanan.
d. Membuat penugasan, supervisi, evaluasi
e. Melaksanakan asuhan kebidanan
f. Mengetahui kondisi pasien dan dapat menilai kebutuhan pasien
g. Melakukan tindakan darurat sesuai kebutuhan pasien.
h. Membuat laporan jaga dan melakukan serah terima jaga.
i. Melakukan bimbingan kepada peserta didik terutama dalam hal bimbingan keterampilan.
j. Melaporkan bila terjadi kerusakan alat-alat kepada IPS.
k. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan melalui pertemuan-pertemuan ilmiah.
3. Bidan Pelaksana
Bidan pelaksana adalah Orang yang memberikan pelayanan di Ruang Edelweis yang telah
mendapatkan pendidikan minimal DIII Kebidanan.
Uraian Tugas :
a. Melaksanakan pelayanan di Ruang Edelweis
b. Melaksanakan serah terima tugas pergantian dinas.
c. Melaksanakan tugas pagi, siang, malam dan hari libur secara bergilir sesuai daftar dinas.
d. Melaksanakan asuhan kebidanan dan kegiatan pelayanan.
e. Bertanggung jawab terhadap kesediaan alat, obat, sarana dan prasarana serta sarana
penunjang.
f. Memelihara kebersihan, ketertiban, keamanan, ruang perawatan fdan lingkungannya.
g. Memberikan bimbingan kepada mahasiswa yang praktek di ruangan.
h. Melaksanakan tugas lain atas perintah atasan.
3.5.2 Penerapan Manajemen Pelayanan Asuhan Kebidanan Professional (MPAKP)
Tujuan
Diharapkan setelah dilakukan praktik manajemen mahasiswa PSPB, ruang Edelweis
RSUD, Dr. M .Soewandhie mampu menerapkan MPAKP secara baik.
1. Waktu
Pelaksanaan aplikasi MPAKP tahap I-II mulai tanggal 13-26 Juni 2016
2. Rencana Strategis :
Mendiskusikan bentuk dan penerapan model MPAKP yang dilaksanakan.
Menerapkan model MPAKP yang sudah ditentukan, yaitu tim.
3. Kriteria Evaluasi :
a. Struktur :
1) Menentukan penanggung jawab MPAKP.
2) Mendiskusikan bentuk dan penerapan MPAKP .
3) Merencanakan kebutuhan tenaga bidan.
4) Melakukan pembagian peran bidan.
5) Menetukan deskripsi tugas dan tanggung jawab bidan.
6) Melakukan pembagian jadwal serta pembagian tenaga bidan.
b. Proses :
1) Menerapkan MPAKP :
2) Tahap uji coba MPAKP pada tanggal 10 Juni 2016
3) Tahap Aplikasi MPAKP tahap I-II pada tanggal 13 - 26 Mei 2016
4) Tahap Evaluasi MPAKP tanggal 26 - 27 Juni 2016
c. Hasil :
Mahasiswa mampu menerapkan MPAKP sesuai dengan job description.
3.5.3 Timbang Terima
1. Pengertian
Timbang terima adalah suatu cara dalam menyampaikan dan menerima suatu laporan
yang berkaitan dengan keadaan pasien. Timbang terima merupakan kegiatan yang harus
dilakukan sebelum pergantian shift. Selain laporan antar shift, dapat disampaikan juga
informasi-informasi yang berkaitan dengan rencana kegiatan yang telah atau belum
dilaksanakan. (Nursalam, 2009)
2. Tujuan
a. Menyampaikan kondisi atau keadaan pasien secara umum.
b. Menyampaikan hal-hal yang penting yang perlu ditindaklanjuti oleh shift berikutnya.
c. Tersusun rencana kerja untuk dinas berikutnya.
3. Langkah-langkah
a. Kedua kelompok shift dalam keadaan sudah siap.
b. Shift yang akan menyerahkan perlu mempersiapkan hal-hal apa yang akan
disampaikan.
c. Bidan menyampaikan kepada penanggungjawab shift selanjutnya meliputi:
1) Kondisi atau keadaan pasien secara umum.
2) Tindak lanjut atau dinas yang menerima operan.
3) Rencana kerja untuk dinas yang menerima operan.
d. Penyampaian operan di atas harus dilakukan secara jelas dan tidak terburu-buru.
e. Bidan dan anggota kedua shift dinas bersama-sama secara langsung melihat keadaan
pasien.
4. Prosedur Timbang Terima
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam prosedur ini meliputi :
a. Persiapan
1) Kedua kelompok sudah dalam keadaan siap.
2) Kelompok yang akan bertugas menyiapkan buku catatan.
b. Pelaksanaan
Timbang terima dilaksanakan oleh bidan kepada bidan yang mengganti jaga pada
shift berikutnya :
1) Timbang terima dibuka oleh kepala ruangan di meja bidan
2) Bidan sebagai koordinator pada shift sebelumnya menyampaikan laporan meliputi
: jumlah pasien, identitas pasien, hasil pengkajian dan asuhan pada pasien,
intervensi yang belum atau yang harus dilanjutkan dan catatan atau pesan khusus.
3) Bidan yang melakukan timbang terima dapat melakukan diskusi, klarifikasi dan
validasi terhadap hal-hal yang ditimbang terimakan.
4) Hal-hal yang sifatnya khusus dan memerlukan perincian yang lengkap sebaiknya
dicatat untuk kemudian diserah terimakan kepada bidan jaga berikutnya.
5) Penyampaian saat timbang terima secara jelas dan singkat.
6) Lama timbang terima untuk setiap pasien tidak lebih dari 5 menit kecuali pada
kondisi khusus dan memerlukan penjelasan yang lengkap dan rinci.
7) Kepala ruangan dan semua bidan keliling ke tiap pasien dan melakukan validasi
data.
8) Pelaporan untuk timbang terima ditulis secara langsung pada buku laporan
ruangan oleh ketua tim dan langsung ditandatangani oleh masing-masing ketua
tim yang melakukan timbang terima.
9) Timbang terima ditutup oleh kepala ruangan.
PASIEN

HASIL PENGKAJIAN DATA SUBJEKTIF


DAN OBJEKTIF

DIAGNOSA DAN MASALAH PASIEN

PENATALAKSANAAN SESUAI HASIL


KOLABORASI DENGAN DOKTER SPOG

PENATALAKSANAAN YANG SUDAH PENATALAKSANAAN YANG BELUM


DILAKSANAKAN DILAKSANAKAN/PERLU DILANJUTKAN

VALIDASI KEPADA PASIEN


Gambar 3.2 Alur Timbang Terima (Nursalam, 2012)
5. Penerapan Timbang Terima
a. Tujuan
Setelah dilaksanakan praktik manajemen kebidanan diharapkan Ruang Edelweis
RSUD.Dr.M.Soewandhie mampu melaksanakan timbang terima dengan baik.
b. Waktu
Pelaksanaan aplikasi timbang terima dimulai tanggal 13-26 Juni 2016. Pelaksanaan
evaluasi tanggal 26 27 Juni 2016.
c. Rencana strategi :
1) Menentukan penanggung jawab timbang terima
2) Menyusun format timbang terima serta petunjuk teknis pengisiannya
3) Menyiapkan kasus kelolaan yang akan digunakan untuk timbang terima
4) Menentukan jadwal pelaksanaan timbang terima
5) Timbang terima dapat dilakukan secara lisan atau tertulis
6) Melaksanakan timbang terima bersama dengan kepala ruangan dan staf kebidanan
7) Dilaksanakan pada setiap pergantian shift
8) Dipimpin oleh katim sebagai penanggung jawab shift
9) Diikuti bidan, mahasiswa yang berdinas atau akan berdinas
10) Informasi yang disampaikan harus akurat, singkat sistematis atau menggambarkan
kondisi saat ini dengan tetap menjaga kerahasiaan pasien
11) Timbang terima harus berorientasi pada permasalahan kebidanan, rencana
kebidanan, tindakan dan perkembangan kesehatan pasien
12) Mendokumentasikan hasil timbang terima pasien
6. Kriteria Evaluasi :
a. Struktur :
1) Menentukan penanggungjawab timbang terima.
2) Menyusun teknik timbang terima bersama-sama dengan staf kebidanan.
3) Menentukan materi timbang terima.
4) Status pasien disiapkan.
5) Persiapan buku laporan dan buku pesanan khusus.
b. Proses :
1) Melaksanakan timbang terima bersama dengan Karu dan staf kebidanan pada
pergantian shift.
2) Timbang terima dipimpin oleh ketua tim shift pagi/siang/malam sebagai
penanggungjawab shift.
3) Timbang terima diikuti oleh bidan, mahasiswa yang berdinas atau akan berdinas
4) Timbang terima dilaksanakan di midwife station paling lama 15 menit dan 3 - 5
menit di setiap pasien.
c. Hasil
1) Bidan mampu melaporkan timbang terima yang berisi (identitas, diagnosa medis,
masalah kebidanan, intervensi yang sudah dan belum dilaksanakan, intervensi
kolaboratif, rencana umum pasien).
2) Bidan dapat mengikuti perkembangan pasien secara paripurna.
3) Dapat meningkatkan kemampuan komunikasi antar bidan.
4) Menjalin hubungan kerja sama yang bertanggungjawab antar bidan.
5) Pelaksanaan asuhan kebidanan dapat berjalan berkesinambungan.

3.5.4 Refleksi Diskusi Kasus


Refleksi diskusi kasus adalah suatu metode dalam merefleksikan pengalaman klinis bidan
yang mengacu kepada pemahaman terhadap standart (Depkes RI, 2005).
Refleksi diskusi kasus merupakan metode baru yang dapat menuntun bidan dalam suatu
kelompok diskusi, baik di Rumah Sakit maupun di Puskesmas untuk berbagi pengetahuan serta
pengalaman klinisnya yang didasarkan atas standart yang berlaku. Proses diskusi yang
berlangsung memberikan ruang dan waktu bagi setiap peserta untuk merefleksikan pengalaman
serta kemampuannya tanpa tekanan, bahkan terkondisi bahwa setiap peserta saling mendukung,
utamanya bagi bidan yang tidak terbiasa atau kurang percaya diri dalam menyampaikan
pendapat.
Pengembangan profesionalisme masa kini bagi bidan menjadi tantangan dimana mutu
pelayanan yang tinggi akan menjadi tuntutan dari pelanggan. Peningkatan profesionalisme dapat
dilakukan berbagai cara, salah satunya melalui refleksi diskusi kasus (RDK) yang apabila
dilaksanakan secara rutin dan konsisten dapat mendorong bidan lebih memahami hubungan
standart dengan kegiatan pelayanan yang diberikan sehari-hari.
Mempraktikan RDK dapat juga dikatakan sebagai bagian in-service training yang
sangat efektif dan efisien. Kesadaran akan kebutuhan untuk berkembang adalah menjadi salah
satu tanggung jawab terhadap dirinya dan profesinya. Melalui peningkatan profesionalisme akan
dapat meningkatkan kinerja bidan sesuai standart dalam memberikan pelayanan yang bermutu
untuk memenuhi harapan masyarakat.
1. Tujuan :
a. Menumbuhkan cara berfikir kritis dan sistematis dalam pemecahan masalah
kebidanan pada pasien
b. Meningkatkan pemikiran tentang tindakan kebidanan yang berorientasi pada masalah
pasien
c. Meningkatkan kemampuan menentukan diagnosa kebidanan
d. Meningkatkan kemampuan justifikasi masalah kebidanan
e. Melaksanakan asuhan kebidanan secara menyeluruh.
2. Persyaratan
a. Suatu kelompok bidan terdiri dari 5-8 orang.
b. Salah satu anggota kelompok menjadi fasilitator, satu orang lagi sebagai penyaji dan
yang lainnya menjadi peserta.
c. Posisi fasilitator, penyaji dan peserta lainnya dalam diskusi setara atau equal.
d. Kasus yang disajikan oleh penyaji merupakan pengalaman klinis kebidanan yang
menarik.
e. Posisi duduk sebaiknya melingkar tanpa dibatasi oleh meja atau benda lainnya, agar
setiap peserta dapat saling bertatapan dan berkomunikasi secara bebas.
f. Tidak boleh ada interupsi dan hanya satu orang saja yang berbicara dalam satu saat,
peserta lainnya memperhatikan proses diskusi.
g. Tidak diperkenankan ada dominasi, kritik yang dapat memojokkan peserta lainnya.
h. Membawa catatan diperbolehkan namun perhatian tidak boleh terkikis atau tertumpu
hanya pada catatan, sehingga dapat mengurangi konsentrasi dalam diskusi.
i. Proses diskusi meliputi :
1) Sistem yang didukung oleh manajer lini pertama (kepala ruangan atau supervisor)
yang mendorong serta mewajibkan anggotanya untuk melaksanakan RDK secara
rutin, terencana dan terjadwal dengan baik.
2) Bidan berbagi pengalaman klinis dan iptek diantara sejawat masing-masing
selama 1 jam, minimal setiap bulan sekali.
3) Setiap anggota secara bergilir mendapat kesempatan dan menimba pengalaman
sebagai fasilitator, penyaji, dan sebagai anggota dalam diskusi tersebut.
4) Proses diskusi memberikan kesempatan kepada setiap anggota untuk
menyampaikan pendapat dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan
sedemikian rupa yang merefleksikan pengalaman, pengetahuan serta kemampuan
masing-masing.
5) Selama diskusi berlangsung harus dijaga agar tidak ada pihak-pihak yang tertekan
atau terpojok. Yang diharapkan terjadi justru sebaliknya yaitu dukungan dan
dorongan bagi setiap peserta agar terbiasa menyampaikan pendapat mereka
masing-masing.
6) Refleksi diskusi kasus dapat dimanfaatkan sebagai wahana untuk menyelesaikan
masalah, namun tidak dipaksakan.
7) Adanya cacatan kehadiran dan laporan RDK serta catatan kehadiran dan laporan
RDK serta catatan tentang isu-isu yang muncul tidak terjadi atau terulang lagi.
8) RDK merupakan salah satu metode in-service training yang mengandung ciri-ciri
pembelajaran antar sejawat dalam satu profesi, sebagai salah satu sarana untuk
meningkatkan kemampuan bidan.
Ka Ruangan

Kelompok RDK
(5-8 bidan)

Penyaji Kasus
TAHAP PRA
RDK

Penetapan Kasus

Penetapan Jadwal
Kegiatan

Waktu Penyajian?
Apa Dx Kebidanan?
Penyajian
Data yang mendukung?
Kasus
TAHAP Bagaimana intervensi yang sudah
PELAKSANAAN dilakukan?
RDK Apa hambatan yang ditemukan?

Diskusi semua anggota


(Moderator, penyaji, peserta)

Solusi masalah

TAHAP PASCA
RDK
Kesimpulan dan dokumentasi

Gambar 3.3 Alur Refleksi diskusi kasus (Nursalam, 2012)


3. Penerapan
a. Tujuan
Setelah dilaksanakan praktik manajemen kebidanan, diharapkan Ruang Edelweis
RSUD.Dr. M Soewandhie mampu melaksanakan refleksi diskusi kasus dengan baik.
b. Waktu
Pelaksanaan aplikasi refleksi diskusi kasus tanggal 21 Juni 2016
Pelaksanaan evaluasi Tanggal 23 Juni 2016
c. Rencana Strategi
1) Menentukan penanggung jawab refleksi diskusi kasus
2) Menentukan pasien yang akan dijadikan subyek dalam refleksi diskusi kasus
3) Menyusun proposal kegiatan refleksi diskusi kasus (strategi dan materi).
4) Menentukan strategi refleksi diskusi kasus yang akan dilakukan.
5) Menentukan materi dalam pelaksanaan refleksi diskusi kasus.
6) Menyiapkan petunjuk teknis pelaksanaan refleksi diskusi kasus.
7) Melaksanakan refleksi diskusi kasus bersama-sama kepala ruangan dan staf
kebidanan.
d. Kriteria Evaluasi
1) Struktur
Menetukan penanggung jawab refleksi diskusi kasus.
Menetapkan kasus yang akan di rondekan.
Memberikan informed consent kepada pasien dan keluarga.
2) Proses
Melaksanakan refleksi diskusi kasus bersama-sama Kepala ruangan dan staf
kebidanan.
Penjelasan tentang pasien oleh bidan primer dalam hal ini penjelasan
difokuskan pada masalah kebidanan dan intervensi yang telah dilaksanakan
tetapi belum mampu mengatasi masalah pasien.
Diskusi antar anggota tim tentang kasus tersebut.
Pemberian masukan solusi tindakan yang lain yang mampu mengatasi
masalah pasien tersebut.
3) Hasil
Dapat dirumuskan tindakan kebidanan untuk menyelesaikan masalah pasien.
Hasil diskusi yang disampaikan dapat ditindak lanjuti dan dilaksanakan.
3.5.5 Sentralisasi Obat
1. Pengertian Sentralisasi Obat
Sentralisasi obat (teknik pengelolaan obat penuh) adalah pengelolaan obat dimana
seluruh obat yang akan diberikan kepada pasien diserahkan sepenuhnya kepada bidan,
pengeluaran dan pembagian obat sepenuhnya dilakukan oleh bidan (Nursalam, 2002).
2. Tujuan Sentralisasi Obat
Menurut Nursalam (2002) sentralisasi obat bertujuan untuk:
a. Meningkatkan mutu pelayanan kepada pasien terutama dalam pemberian obat.
b. Sebagai tanggung jawab dan tanggung gugat secara hukum maupun secara moral.
c. Mempermudah pengelolaan obat secara efektif dan efisien.
d. Menyeragamkan pengelolaan obat.
e. Mengamankan obat-obat yang dikelola.
f. Mengupayakan ketepatan pemberian obat dengan tepat pasien, dosis, waktu, cara
3. Teknik Pengelolaan Sentralisasi Obat
Teknik pengelolaan sentralisasi obat adalah pengelolaan obat dimana seluruh obat yang
diberikan kepada pasien baik obat oral maupun obat injeksi diserahkan sepenuhnya
kepada bidan. Penanggung jawab pengelolaan obat adalah kepala ruangan yang secara
operasional dapat didelegasikan kepada staf yang ditunjuk. Pengeluaran dan pembagian
obat tersebut dilakukan oleh bidan dimana pasien atau keluarga wajib mengetahui dan
ikut serta mengontrol penggunaan obat tersebut.
4. Penerimaan obat
Dokter menuliskan resep untuk pasien kemudian menyerahkan pada bidan. Bidan
memberikan resep pada keluarga. Obat yang telah diresepkan dan dibeli oleh keluarga
pasien diserahkan kepada bidan. Selanjutnya bidan menunjukkan obat-obat tersebut
kepada keluarga pasien kemudian mencocokkan jumlahnya sekaligus mengisi lembar
serah terima obat. Lembar serah terima obat ditandatangani oleh bidan dan
pasien/keluarga.
Bidan menuliskan nama pasien, nomor registrasi, jenis obat, jumlah dalam resep
dan yang diterima obat dalam lembar serah terima obat. Lembar serah terima obat terdiri
dari rangkap 2 yang satu diberikan kepada pasien/keluarga, sedangkan yang satu lagi
disimpan bidan.Keluarga akan diberikan penjelasan kapan obat tersebut akan habis.
Obat yang telah diserahkan oleh pasien/keluarga selanjutnya dikembalikan oleh
bidan kepada pasien/ keluarga untuk disimpan.
5. Pembagian obat
a. Obat yang telah diterima untuk selanjutnya dicatat dalam format pemberian obat
oral/injeksi.
b. Obat-obat yang telah disimpan oleh pasien/ keluarga untuk selanjutnya diberikan oleh
bidan dengan memperhatikan alur yang tercantum dalam daftar pemberian obat
oral/injeksi dengan terlebih dahulu dicocokkan dengan terapi yang diinstruksi dokter.
c. Pada saat pemberian obat, bidan menjelaskan macam obat, kegunaan obat, jumlah
obat, dan efek samping obat. Obat yang diterima oleh bidan disimpan di kotak obat.
d. Sediaan obat yang ada di pasien/ keluarga selanjutnya diperiksa setiap shift oleh
petugas yang ditunjuk dan didokumentasikan dalam buku masuk obat. Obat yang
hampir habis akan diinformasikan kepada pasien/keluarga dan kemudian dimintakan
kepada dokter penanggung jawab pasien.
6. Penambahan Obat Baru
a. Bilamana terdapat penambahan atau perubahan jenis, dosis atau jadwal pemberian
obat, maka informasi ini akan dimasukkan dalam format pemberian obat oral/injeksi.
b. Pada pemberian obat yang bersifat tidak rutin (sewaktu saja), maka dokumentasi
dilakukan pada format pemberian obat oral/injeksi
7. Obat Khusus
a. Obat disebut khusus apabila sediaan yang memiliki harga yang cukup mahal,
memiliki jadwal pemberian yang cukup sulit, memiliki efek samping yang cukup
besar atau hanya diberikan dalam waktu tertentu atau sewaktu saja.
b. Pemberian obat khusus dilakukan dengan menggunakan format pemberian obat
oral/injeksi khusus untuk obat tersebut dan dilakukan oleh bidan primer.
c. Informasi yang diberikan kepada pasien/keluarga meliputi nama obat, kegunaan obat,
waktu pemberian, efek samping, penanggung jawab pemberian.
8. Pengembalian Obat
Bila pasien pulang atau pindah ruangan dan obat masih sisa maka obat dikembalikan
kepada pasien/keluarga dengan ditanda tangani oleh pasien/keluarga serta tanggal dan
waktu penyerahan.
9. Alur Sentralisasi Obat

Dokter

Bidan
Pendekatan bidan
PASIEN/KELUARGA

FARMASI/APOTIK

PASIEN/KELUARGA - Surat persetujuan


sentralisasi obat dari
perawat
- Lembar serah
PP/BIDAN YANG terimaobat
MENERIMA - Buku serah terima
obat/masuk obat

PENGATURAN DAN
PENGELOLAAN OLEH BIDAN

PASIEN / KELUARGA

Gambar 3.4 Alur Sentralisasi Obat (Nursalam, 2002)


Keterangan :
: Garis komando
: Garis Koordinasi
Keterangan:
Setiap pasien baru diberikan resep oleh dokter melalui bidan ruangan, kemudian
pasien/keluarga membeli obat tersebut di Apotik/farmasi. Setelah mendapatkan obat selanjutnya
pasien/keluarga memberikan obat pada bidan untuk di catat di lembar pemberian obat. Setelah
dicatat obat kembali diberikan pada pasien/keluarga untuk penyimpanan, baru kemudian obat
injeksi/oral diberikan pada pasien sesuai jadwal.
7. Penerapan Sentralisasi Obat
a. Tujuan
Setelah dilakukan praktik manajemen kebidanan, diharapkan mahasiswa PSPB dan
Ruang Edelweis RSUD. Dr. M. Soewandhie mampu menerapkan sentralisasi obat yang
benar.
c. Waktu
Pelaksanaan aplikasi sentralisasi obat 13 26 Juni 2016
Pelaksanaan evaluasi 26 27 Juni 2016
d. Rencana strategi :
1) Menentukan penanggung jawab sentralisasi obat.
2) Menyusun proposal sentralisasi obat.
3) Melaksanakan sentralisasi obat pasien bekerja sama dengan bidan, dokter dan bagian
farmasi.
4) Mendokumentasikan hasil pelaksanaaan pengelolaan sentralisasi obat. Melaksanakan
sentralisasi obat pasien bekerja sama dengan bidan, dokter dan bagian farmasi.
5) Mendokumentasikan hasil pelaksanaaan pengelolaan sentralisasi obat.
e. Kriteria Evaluasi :
1) Struktur :
a) Menentukan penanggungjawab sentralisasi obat.
b) Menyiapkan format sentralisasi obat
2) Proses :
a) Melaksanakan sentralisasi obat pasien bersama-sama dengan bidan, dokter dan
bagian farmasi.
b) Mendokumentasikan hasil pelaksanaan pengeloalaan sentralisasi obat.
3) Hasil :
a) Pasien menerima sistem sentralisasi obat.
b) Bidan mampu mengelola obat pasien.
c) Mutu pelayanan kepada pasien terutama dalam pemberian obat meningkat.
d) Dapat bertanggungjawab dan bertanggung gugat baik secara hukum maupun
secara moral.
e) Pengelolaan obat efektif dan efisien.
3.5.6 Monitoring dan Evaluasi
1. Tujuan
Setelah dilaksanakan praktek manajemen kebidanan, diharapkan Ruang Edelweis
RSUD.Dr.M.Soewandhie mampu menerapkan monitoring dan evaluasi kebidanan
dengan baik.
2. Waktu
Pelaksanaan aplikasi monitoring dan evaluasi tanggal 13 26 Juni 2016 , pelaksanaan
evaluasi 26 27 Juni 2016
3. Rencana strategi
a. Mengajukan proposal pelaksanaan monitoring dan evaluasi.
b. Mendokumentasikan hasil pelaksanaan monitoring dan evaluasi kebidanan. Merevisi
konsep monitoring dan evaluasi kebidanan
c. Menentukan materi monitoring dan evaluasi kebidanan
d. Merevisi format monitoring dan evaluasi
e. Melaksanakan monitoring dan evaluasi kebidanan bersama-sama bidan ruangan.
f. Mendokumentasikan hasil pelaksanaan monitoring dan evaluasi kebidanan.
4. Kriteria evaluasi :
a. Struktur :
1) Menentukan penanggungjawab monitoring dan evaluasi kebidanan.
2) Menyusun konsep monitoring dan evaluasi kebidanan.
3) Menentukan materi monitoring dan evaluasi
b. Proses :
1) Melaksanakan monitoring dan evaluasi kebidanan bersama bidan ruangan dan
supervisor.
2) Mendokumentasikan hasil pelaksanaan monitoring dan evaluasi kebidanan.
c. Hasil :
1) Mahasiswa mampu melaksanakan monitoring dan evaluasi secara optimal.
2) Supervisor mengevaluasi hasil monitoring dan evaluasi
3) Supervisor memberikan reward/ feed back pada ketua tim dan bidan pelaksana.
9. Alur Monitoring dan Evaluasi
Ka. Bid Perawatan

Kasi Perawatan

Ka. Perawatan IRNA

Menetapkan kegiatan dan tujuan Kepala Ruangan


serta instrumen / alat ukur

Monitoring dan
evaluasi

Menilai kinerja Perawat/bidan Ketua Tim

Fair Bidan Pelaksana


Feed Back
Follow Up, pemecahan
masalah, reward
Kualitas Pelayanan Meningkat

Diagram 3.6 Alur Monitoring dan Evaluasi (Nursalam, 2012)


Keterangan : Kegiatan monitoring dan evaluasi
Delegasi dan monitoring dan evaluasi
3.5.7 Discharge Planning
Discharge planning adalah suatu proses dimana mulainya pasien mendapatkan pelayanan
kesehatan yang diikuti dengan kesinambungan perawatan baik dalam proses penyembuhan
maupun dalam mempertahankan derajat kesehatannya sampai pasien merasa sipa kembali ke
lingkungannya. Dischage planing menunjukan beberapa poses formal yang melibatkan tim atau
memiliki tanggung jawab untuk mengatur perpindahan sekelompok orang ke kelompok ainnya
(RCP, 2001)
Discharge Planning (Perencanaan Pulang) merupakan komponen sistem perawatan
berkelanjutan, pelayanan yang diperlukan pasien secara berkelanjutan dan bantuan untuk
perawatan berlanjut pada pasien dan membantu keluarga menemukan jalan pemecahan masalah
dengan baik, pada saat tepat dan sumber yang tepat dengan harga yang terjangkau (Doenges &
Moorhouse, 2001)
Kegagalan untuk memberikan dan mendokumentasikan perencanaan pulang akan
beresiko terhadap beratnya penyakit, ancaman hidup dan disfungsi fisik. Dalam perencanaan
pulang diperlukan komunikasi yang baik dan terarah sehingga apa yang disampaikan dapat
dimengerti dan berguna untuk proses perawatan di rumah.
1. Tujuan Discharge Planning:
Menurut JiBP dan Sirass (1998) discharge planning bertujuan untuk :
a. Menyiapkan pasien secara fisik, psikologi dan sosial.
b. Meningkatkan kemandirian pasien saat bidanan di rumah.
c. Meningkatkan asuhan kebidanan yang berkelanjutan pada pasien.
d. Membantu rujukan pada pasien pada sistem pelayanan yang lain.
e. Membantu pasien dan keluarga agar memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan
dalam mempertahankan status kesehatan pasien.
2. Komponen perencanaan pulang (Komponen Discharge Planning)
a. Pada saat pasien masuk ruangan :
1). Menyambut kedatangan pasien
2). Orientasi ruangan, jenis pasien, peraturan, dan denah ruangan
3). Memperkenalkan pasien pada temna sekamar, perawat, bidan dan dokter serta tenaga
kesehatan lain.
4). Melakukan pengkajian kebidanan
5). Menyampaikan kepada keluarga perkiraan lama masa perawatan.
b. Selama masa perawatan:
1). Pemeriksaan klinis dan penunjang yang lain
2). Melakukan asuhan kebidanan pada pasien
3). Penyuluhan kesehatan : penyakit, perawatan, pengobatan, diet, aktivitas dan kapan
waktu kontrol ulang.
3. Langkah-langkah dalam perencanaan pulang
Pra Discharge Planning :
a. Bidan pelaksana mengidentifikasikan pasien yang direncanakan untuk pulang.
b. Bidan pelaksana melakukan identifikasi kebutuhan pasien yang akan pulang.
c. Bidan pelaksana membuat perencanaan pasien pulang.
d. Melakukan kontrak waktu dengan pasien dan keluarga.
4. Tahap pelaksanaan Discharge Planning :
a. Menyiapkan pasien dan keluarga, peralatan, status, kartu dan lingkungan.
b. Bidan pelaksana dibantu Katim melakukan pemeriksaan fisik sesuai kondisi pasien.
c. Bidan pelaksana memberikan pendidikan kesehatan yang diperlukan pasien dan keluarga
untuk perawatan di rumah tentang : aturan diet, obat yang harus diminum di rumah,
aktivitas dan kegiatan, yang harus dibawa pulang, rencana kontrol, yang perlu dibawa
saat kontrol, prosedur kontrol, jadwal, pesan khusus.
d. Bidan pelaksana memberikan kesempatan kepada pasien dan keluarga untuk mencoba
mendemonstrasikan pendidikan kesehatan yang telah diajarkan.
e. Bidan pelaksana memberikan kesempatan kepada pasien dan keluarga untuk bertanya
bila belum mengerti.
5. Tahap post pelaksanaan Discharge Planning:
a. Karu melakukan evaluasi terhadap perencanaan pulang
b. Karu memberikan reinforcement atau reward kepada pasien dan keluarga jika dapat
melakukan dengan benar apa yang sudah dilaksanakan.
c. Followup.
6. Alur Discharge Planning
Dokter dan Tim Kesehatan Bidan Pelaksana dibantu

Keadaan pasien :
1. Klinis dan pemeriksaan
penunjang lain
2. Tingkat ketergantungan
pasien

Perencanaan Pulang

Program HE : Lain lain


Penyelesaian Administrasi Diet
Obat
Aktivitas dan kegiatan
Yang harus dibawa pulang
Rencana kontrol
Yang perlu dibawa kontrol
Prosedur kontrol
Jadwal pesan khusus

Monitor (sebagai program


service safety) oleh :
Keluarga dan Petugas
Kesehatan

Diagram 3.7 Alur Discharge Planning (potter & perry, 2005)


7. Penerapan Discharge Planning
a. Tujuan
Setelah dilakukan praktik manajemen kebidanan, diharapkan semua bidan di Ruang
Edelweis RSUD.Dr.M.Soewandhie dan mahasiswa PSPB mampu melaksanakan
discharge planning dengan benar.
b. Waktu
Pelaksanaan Discharge Planning mulai tanggal 13 26 Juni 2016. Pelaksanaan evaluasi
26 27 Juni 2016
c. Rencana Strategi :
1) Menentukan penanggung jawab discharge planning.
2) Menentukan materi discharge planning.
3) Menentukan pasien yang akan dijadikan subjek discharge planning.
4) Menentukan jadwal pelaksanaan discharge planning
5) Melaksanakan discharge planning.
d. Kriteria evaluasi
1) Evaluasi struktur.
a) Persiapan pasien, peralatan, status, kartu dan lingkungan.
b) Penyusunan struktur pelaksanaan Discharge Planning
2) Evaluasi proses
a) Discharge Planning dilaksanakan pada semua pasien pulang.
b) Materi yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan pasien.
3) Evaluasi hasil
a) Terdokumentasinya pelaksanaan pasien pulang.
b) Pasien dan keluarga dapat mengetahui bidanan di rumah tentang : Aturan diet,
obat yang harus diminum di rumah, aktivitas, yang harus dibawa pulang, rencana
kontrol, yang perlu di bawa saat kontrol, prosedur kontrol, jadwal, pesan khusus.
3.5.8 Dokumentasi Kebidanan
Dokumentasi merupakan suatu catatan otentik atau dokumen asli yang dapat dijadikan
bukti dalam persoalan hukum. Dokumentasi kebidanan merupakan bukti pencatatan dan
pelaporan berdasarkan komunikasi tertulis yang akurat dan lengkap yang dimiliki oleh bidan
dalam melakukan asuhan kebidanan dan berguna untuk kepentingan pasien, tim kesehatan, serta
kalangan bidan sendiri (Hidayat, 2008:2).
1. Tujuan Utama Pendokumentasian
a. Mengidentifikasi status kesehatan pasien dalam rangka mencatat kebutuhan pasien,
merencanakan, melaksanakan tindakan kebidanan dan mengevaluasi tindakan.
b. Dokumentasi untuk penelitian, hukum dan etika.
2. Manfaat dan Pentingnya Dokumentasi Kebidanan
a. Hukum
Semua catatan informasi tentang pasien merupakan dokumentasi resmi dan bernilai
hukum, oleh karena itu data harus diidentifikasi secara lengkap, jelas, objektif dan
ditandatangani oleh tenaga kesehatan atau bidan. Dalam hal ini perlu dicantumkan waktu
dan sebaiknya dihindari adanya penulisan yang dapat menimbulkan interpretasi yang
salah.
b. Jaminan Mutu (kualitas pelayanan)
Pencatatan data pasien yang lengkap dan akurat akan memberi kemudahan bidan untuk
menyelesaikan masalah pasien serta untuk mengetahui sejauh mana masalah dapat
teratasi. Hal ini juga memungkinkan bidan untuk mengetahui adanya masalah baru secara
dini.
c. Komunikasi
Dokumentasi merupakan alat perekam masalah yang berkaitan dengan pasien sehingga
dapat dijadikan sebagai alat komunikasi antar tenaga kesehatan.
d. Keuangan
Semua tindakan kebidanan yang belum, sedang dan telah diberikan dicatat dengan
lengkap sebagai acuan dalam menentukan biaya bidanan pasien.
e. Pendidikan
Dokumentasi berisi kronologis dari kegiatan asuhan kebidanan yang dapat digunakan
sebagai bahan atau referensi pembelajaran bagi siswa atau profesi kebidanan.
f. Penelitian
Data yang terdapat dalam dokumentasi kebidanan mengandung informasi yang dapat
digunakan sebagai bahan riset untuk pengembangan ilmu kebidanan.
g. Akreditasi
Dokumentasi kebidanan dapat digunakan untuk melihat sejauh mana peran dan fungsi
bidan dalam melaksanakan asuhan kebidanan.
3. Fungsi Dokumentasi Kebidanan
a. Aspek administratif
Dokumentasi kebidanan berisi tentang tindakan bidan berdasarkan wewenang dan
tanggung jawab sebagai tenaga medis dan paramedis dalam mencapai tujuan pelayanan
kesehatan.
b. Aspek medis
Dokumentasi berisi catatan yang dipergunakan sebagai dasar untuk merencanakan
pengobatan dan perawatan yang harus diberikan kepada pasien.
c. Aspek hukum
Dokumentasi dapat dijadikan jaminan kepastian hukum atas dasar keadilan, sama halnya
dalam rangka usaha menegakkan hukum dan penyediaan tanda bahan bukti untuk
menegakkan keadilan, karena semua catatan tentang pasien merupakan dokumentasi
resmi dan bernilai hukum.
d. Aspek keuangan
Dokumentasi dapat dipergunakan sebagai dasar untuk perincian biaya atau keuangan.
e. Aspek penelitian
Dokumentasi dapat dipergubakan sebagai data dalam penelitian dan pengembangan ilmu
pengetahuan melalui studi dokumentasi.
f. Aspek pendidikan
Dokumentasi berisi data informasi tentang perkembangan kronologis dan kegiatan
pelayanan medik yang diberikan kepada pasien sehingga dapat digunakan sebagai bahan
atau referensi pendidikan.
g. Aspek dokumentasi
Dipergunakan sebagai bahan pertanggungjawaban dalam proses dan laporan pelayanan
kesehatan.
h. Aspek jaminan mutu
Memberikan kemudahan bagi bidan dalam membantu menyelesaikan masalah pasien dan
untuk mengetahui sejauh mana masalah dapat teratasi serta seberapa jauh masalah baru
dapat diidentifikasi dan dimonitor melalui catatan yang akurat sehingga dapat
meningkatkan mutu asuhan kebidanan.
i. Aspek akreditasi
Dokumentasi dapat digunakan untuk memantau kualitas layanan kebidanan yang telah
diberikan sehubungan dengan kompetensi dalam melaksanakan asuhan kebidanan.
j. Aspek statistik
Dokumentasi dapat membantu suatu institusi untuk mengantisipasi kebutuhan tenaga dan
menyusun rencana sesuai dengan kebutuhan.
k. Aspek komunikasi
Dokumentasi dapat digunakan sebagai koordinasi asuhan kebidanan yang diberikan oleh
beberapa orang untuk mencegah pemberian informasi yang berulang-ulang kepada pasien
oleh anggota tim kesehatan ( Hidayat, 2008:2-4).
4. Syarat Dokumentasi Kebidanan
a. Kesederhanaan.
Penggunaan kata-kata yang sederhana, mudah dibaca, mudah dimengerti, dan
menghindari istilah yang sulit dipahami.
b. Keakuratan.
Data yang diperoleh harus benar-benar akurat berdasarkan informasi yang telah
dikumpulkan.
c. Kesabaran
Gunakan kesabaran dalam menbuat dokumentasi kebidanan dengan meluangkan waktu
untuk memeriksa kebenaran terhadap data pasien yang telah atau sedang diperiksa.
d. Ketepatan
Untuk memperoleh ketepatan diperlukan ketelitian dalam menggunakan setiap lembar
dokumentasi.
e. Kejelasan dan keobjektifan
Data untuk dokumentasi kebidanan harus logis, jelas, rasional, kronologis, serta
mencantumkan nama dan nomor register (Hidayat, 2008:4-5).
5. Prinsip Dokumentasi Kebidanan
a. Dokumentasikan secara lengkap tentang suatu masalah penting yang bersifat klinis.
b. Lakukan penandatanganan dalam setiap pencatatan data.
c. Tulislah dengan jelas dan rapi.
d. Gunakan ejaan dan kata baku serta tata bahasa medis yang tepat dan umum.
e. Gunakan alat tulis yang terlihat jelas, seperti tinta untuk menghindari terhapusnya
catatan.
f. Gunakan singkatan resmi .
g. Gunakan pencatatan dengan grafik untuk mencatat tanda vital.
h. Catat nama pasien disetiap halaman.
i. Berhati-hati ketika mencatat status pasien dengan HIV/AIDS.
j. Hindari menerima instruksi verbal dari dokter melalui telepon, kecuali dalam kondisi
darurat.
k. Tannyakan apabila ditemukan instruksi yang tidak tepat.
l. Dokumentasi terhadap tindakan atau obat yang dihentikan kepada pasien.
m. Catat informasi secara lengkap tentang obat yang diberikan.
n. Catat keadaan alergi obat atau makanan.
o. Catat daerah atau tempat pemberian injeksi atau suntikan.
p. Catat hasil laboratorium yang abnormal (Hidayat, 2008:7-8).
6. Model Yang Digunakan Dalam Dokumentasi Kebidanan
Model yang digunakan dalam pencatatan perkembangan pasien adalah model SOAP.
Bentuk penerapannya adalah sebagai berikut:
S (Subyektif) : segala bentuk pernyataan atau keluhan dari pasien.
O (Obyektif) : data yang didapat dari hasil pemeriksaan oleh bidan atau tenaga kesehatan
lain.
A (Assasment) : diagnosa yang ditegakkan berdasarkan data subyektif dan data obyektif.
P (Planning) : rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan assasment.
7. Keuntungan pendokumentasian:
a. Memungkinkan penggunaan proses kebidanan.
b. Rencana tindakan dan catatan perkembangan dapat dihubungkan.
c. Memungkinkan pemberian asuhan keperwatan secara kontinyu.
d. Perkembangan pasien dapat dengan mudah digambarkan.
8. Kerugian pendokumentasian:
a. Tidak dapat digunakan untuk pencatatan semua disiplin ilmu.
b. Pembatasan rencana tindakan kebidanan yang tidak aplikatif untuk beberapa situasi
kebidanan.
9. Penerapan Dokumentasi kebidanan
a. Tujuan
Setelah dilakukan praktek manajemen kebidanan, diharapkan semua bidan di Ruang
Edelweis RSUD.Dr.M.Soewandhie dan mahasiswa PSPB mampu menerapkan
pendokumentasian kebidanan secara baik dan benar.
b. Waktu
Pelaksanaan aplikasi dokumentasi mulai 13 26 Juni 2016. Pelaksanaan evaluasi tanggal
26 27 Juni 2016.
c. Rencana strategi :
a. Mendiskusikan format pengkajian dan pendokumentasian sesuai dengan kasus di
ruangan Edelweis RSUD.Dr.M.Soewandhie
b. Merevisi format pengkajian, diagnosa kebidanan, perencanaan, pelaksanaan dan
evaluasi.
c. Menyiapkan format / pendokumentasian kebidanan.
d. Melaksanakan pendokumentasian bersama dengan bidan ruangan.
d. Kriteria Evaluasi :
1) Struktur
a) Menentukan penanggungjawab kegiatan.
b) Mendiskusikan format pengkajian dan pendokumentasian sesuai dengan kasus di
ruangan Edelweis RSUD.Dr.M.Soewandhie
c) Menyiapkan format pengkajian, diagnosa kebidanan, perencanaan, pelaksanaan
dan evaluasi.
d) Menyiapkan format/pendokumetasian kebidanan.
2) Proses :
a) Penggunaan standar terminologi (pengkajian, diagnosa, perencanaan,
pelaksanaan, evaluasi).
b) Data yang relevan dan bermanfaat dikumpulkan kemudian di catat sesuai dengan
prosedur dalam catatan yang permanen.
c) Diagnosa kebidanan disusun berdasarkan klasifikasi dan analisa data yang akurat.
d) Rencana tindakan kebidanan ditulis dan dicatat sebagai bagian dari catatan yang
permanen.
e) Observasi dicatat secara akurat, lengkap dan sesuai urutan waktu.
f) Evaluasi dicatat sesuai dengan urutan waktu meliputi selama dirawat, dirujuk,
pulang ataupun perubahan status pasien, respon pasien terhadap tindakan.
g) Rencana tindakan yang direvisi, berdasarkan hasil yang diharapkan pasien.
3) Hasil :
Mahasiswa mampu menerapkan pendokumentasian secara baik dan benar.
3.5.9 Penerimaan Pasien Baru
1. Tujuan
Setelah dilakukan praktek manajemen kebidanan, diharapkan semua bidan di Ruang
Edelweis RSUD.Dr.M.Soewandhie dan mahasiswa PSPB mampu menerapkan sistem
penerimaan pasien baru dengan baik dan benar.
2. Penanggung jawab : Khoiriyah Noviastuti, S. Keb
3. Waktu
Aplikasi mulai tanggal 13 26 Juni 2016.
Pelaksanaan evaluasi 26 27 Juni 2016.
4. Rencana Strategi
1) Membuat format penerimaan pasien baru
2) Melaksanakan penerimaan pasien baru bersama dengan bidan ruangan Edelweis
5. Protap Penerimaan Pasien Baru
1) Tahap pra penerimaan pasien baru
a. Menyiapkan fungsi administrasi
b. Menyiapkan fungsi kamar sesuai pesanan
c. Menyiapkan peralatan khusus
d. Menyiapkan format penerimaan pasien baru
2) Tahap pelaksanaan penerimaan pasien baru
a. Pasien datang di ruangan diterima oleh kepala ruangan/ bidan primer/ bidan
yang diberi delegasi.
b. Bidan memperkenalkan diri kepada pasien dan keluarganya.
c. Bidan menunjukkan kamar/ tempat tidur pasien dan mengantar ke tempat
yang telah ditetapkan.
d. Bidan bersama karyawan lain memindahkan pasien ke tempat tidur (apabila
pasien datang dengan branchard/ kursi roda) dan berikan posisi yang nyaman.
e. Perkenalkan pasien baru dengan pasien yang sekamar.
f. Kaji keadaan umum pasien.
g. Bidan melakukan pengkajian data awal sesuai format.
h. Barang-barang untuk pasien diinventaris, yang diletakkan di almari pasien
yang tidak diperlukan pasien dibawa pulang oleh keluarganya.
i. Setelah pasien tenang dan situasi sudah memungkinkan bidan memberikan
informasi kepada pasien dan keluarga tentang :
a) Letak kamar bidan, dokter, kamar mandi/WC dan dapur.
b) Jam berkunjung :
Senin-Minggu dan hari libur:
Pagi: pukul 11.00 12.00 WIB
Sore: Pukul 16.00 18.00 WIB
c) Persyaratan menunggu apabila diperlukan : penunggu adalah keluarga
yang terdekat dan masing-masing pasien hanya boleh satu penunggu.
d) Administrasi ruangan yang perlu diketahui :
e) Sentralisasi obat
f) Tata cara pembayaran jasa RS
g) Dokter, nama kepala ruangan, bidan penangggung jawab pasien dan
tenaga non kebidanan yang akan berhubungan dengan pasien.
h) Tunjukkan alat-alat yang dapat digunakan pasien (tempat tidur, lampu,
kipas angin, AC).
j. Bidan menanyakan kembali tentang kejelasan informasi yang telah
disampaikan.
k. Apabila pasien atau keluarga sudah jelas, maka diminta untuk
menandatangani informed consent.
3.4 Kegiatan Inovasi
3.4.1. Pembuatan papan pengorganisasian tim di ruang Edelweis
1. Latar belakang
Pengorganisasian merupakan fungsi dari manajemen dalam mengatur manusia, tugas,
wewenang, dan tanggung jawab dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Fungsi
pengorganisasian adalah mengatur orang-orang, mengatur kegiatan, mengadakan pembagian
kerja (uraian tugas), menempatkan orang dalam departemen, dan menetapkan batasan-
batasan wewenang (Bagus, 2013). Perlu adanya media sebagai sarana untuk mengetahui
struktur organisasi dan wewenang seseorang dalam organisasi tersebut. Bentuk media yang
digunakan dapat berupa media tulis maupun cetak yang dipasang di dalam ruangan dan
mudah dilihat oleh seluruh pegawai. Media ini bersifat fleksibel agar mudah diganti untuk
setiap pergantian shift.
2. Masalah
Belum adanya papan pengorganisasi tim pershift.
3. Rencana Pelaksanaan
Berdasarkan latar belakang masalah diatas usaha yang dapat kami upayakan adalah
pengadaan papan pengorganisasian tim pershift diruang Edelweis untuk mengetahui nama
ketua tim dan anggota tim saat jaga pershift. Penggunaan papan ini dengan menyesuaikan
nama ketua tim dan anggota tim yang jaga saat itu.