Anda di halaman 1dari 80

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN HALUSINASI

A. Asuhan Keperawatan Tn. HM


RUANG RAWAT : Bangau TANGGAL DIRAWAT : 16 Juni 2017
I. IDENTITAS PASIEN
Inisial : Tn. HM Tanggal Pengkajian : 21 Juni 2017
Umur : 42 tahun No. RM : 0312xx
Informan : Pasien

II. ALASAN MASUK RUMAH SAKIT


Pasien masuk diruangan bangau pada tanggal 16 Juni 2017 karena pasien sering keluyuran
pada malam hari , terkadang sampai mengganggu orang yang lewat. Pasien terlihat
berbicara sendiri , pasien putus obat 6 bulan. Pada saat pengkajian pasien mengatakan
tidak lagi minum obat karena bidan didesanya tidak menyediakan obat lagi, pasien
mengatakan sulit tidur dan merasa bosan sehingga sering keluyuran b aik siang maupun
malam hari. Tn. HM mengalami gangguan jiwa sejak tahun 2005, selanjutnya pasien sering
keluar masuk RS. Tn. HM kontrol tapi tidak teratur. Pasien mengaku sering mendengar
suara yang mengejeknya.

Masalah Keperawatan : Halusinasi pendengaran

III. FAKTOR PREDISPOSISI


1. Pernah mengalami gangguan jiwa dimasa lalu? v Ya Tidak
2. Pengobatan sebelumnya? Berhasil v Kurang Berhasil Tidak berhasil
3. Pelaku/usia Korban/Usia Saksi/Usia
Aniaya Fisik v 38

Aniaya Seksual

Penolakan

21
KDRT

Tindakan Kriminal
Penjelasan no 1,2,3 : pada tahun 2013 pasien mengatakan pernah pernah dikeroyok oleh
warga karena pasien diduga mencuri motor. Pada pengkajian
didapatkan faktor predisposisi Tn. HM mengalami gangguan
karena putus obat 6 bulan, pasien pernah mengalami aniaya
fisik
Masalah Keperawatan: respon pasca trauma

4. Adakah anggota keluaraga yang mengalami gangguan jiwa ? Ya v Tidak


Hubungan Keluarga Gejala Riwayat Pengobatan / Perawatan
Kakak kandung
Masalah Keperawatan: tidak ada masalah keperawatan

5. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan : Tn. HM mengatakan pernah


mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan yaitu dikeroyok warga.
Masalah Keperawatan: Respon pasca trauma

IV. MASALAH FISIK


1. Tanda Vital TD: 120/80 mmHg N : 86 x/menit RR: 20x/menit T: 36,00C
2. Ukur TB: 165 cm BB : 52 kg
3. Keluhan fisik Ya v Tidak
Jelaskan : Keadaan umum baik, pasien tidak mempunyai kelainan fisik
Masalah Keperawatan: Tidak ada masalah keperawatan

22
V. PSIKOSOSIAL
1. Genogram ( 3 Generasi)

Keterangan :
: Laki-laki x : kakak kandung

: Perempuan

: Pasien
------ : serumah

Jelaskan : Tn. HM merupakan anak ke 2 dari 5 bersaudara. Saat ini Tn. HM tinggal
bersama kedua orangtuanya sedangkan saudaranya telah berkeluarg. Tn.
HM mengatakan tidak ada anggota keluarganya yang mengalami sakit
seperti dirinya.

Masalah Keperawatan: Tidak ada masalah keperawatan

2. Konsep diri
a. Gambaran diri :Tn. HM mengatakan bahwa dirinya senang dengan anggota
tubuhnya yakni badannya karena tinggi, pasien mengatakan bagian tubuh yang tidak
disukainya adalah leher karena terdapat benjolan
b. Identitas diri : Pasien dapat menyebutkan namanya sendiri, pasien mengatakan
dirinya adalah seorang laki laki berumur 42 tahun, pasien merupakan anak ke 2
dari 5 bersaudar
c. Peran : Tn. HM mengatakan bahwa ia merupakan anak , pasien
mengatakan bahwa jarang membantu pekerjaan dirumah. Pasien sering menonton
dan mendengarkan lagu. Pasien mengatakan bahwa dirinya adalah pasien RS Erba di
ruangan bangau
d. Ideal diri : Tn. MH memikirkan orangtuanya dirumah dan ingin segera
pulang ke rumah

23
e. Harga diri : Tn. MH mengatakan malu dengan kondisinya akut diejek sebagai
orang gila

Masalah keperawatan : harga diri rendah

3. Hubungan sosial
a. Orang yang berarti : pasien mengatakan dekat dengan keluarganya, pasien
mengatakan orang yang paling berarti adalah ayah, ibu dan saudara perempuannya
b. Peran serta dalam kegiatan kelompok / masyarakat (di rumah dan di RS)
Di Rumah : Pasien mengatakan tidak pernag berperan dalam kegiatan masyarakat
Di RS : Pasien mau diajak mengikuti kegiatan kelompok seperti: olahraga pagi,
ikut ke rehabilitas (terapi) dan TAK .
c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain : (di rumah & di RS)
Di Rumah : pasien mengatakan bahwa dirumah ia tidak mempunyai teman selain
keluarganya
Di RS : Selama di RS pasien mulai memiliki banyak teman untuk mengobrol
Masalah Keperawatan : tidak ada masalah keperawatan

4. Spritual
a. Nilai dan Keyakinan : Pasien mengatakan bahwa dirinya beragama islam. Pasien
mengatakan bahwa penyakitnya ini merupakan suatu cobaan
b. Kegiatan ibadah: (di rumah & di RS) :
Di Rumah : pasien mengatakan bahwa dirinya jarang beribadah dirumah
Di RS : pasien mengatakan bahwa dirinya jarang beribadah dirumah
Masalah keperawatan : Distres spiritual

VI. STATUS MENTAL


1. Penampilan Tidak rapi Penggunaan pakaian v Cara berpakaian
Tidak sesuai seperti biasanya
Jelaskan : Pasien tampak rapi, pasien mengenakkan baju rumah sakit sesuai
dengan fungsinya, rambut pasien pendek dan sedikit beruban, kuku
pasien pendek dan bersih pasien memakai alas kali, mandi dan
sikat gigi 2x sehari.
Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan

24
2. Pembicaraan
Cepat Keras Gagap Agitasi

Apatis v Lambat Membisu Tidak Mampu memulai


Pembicaraan
Jelaskan : pasien mampu memulai pembicaraan, pasien dapat berbicara
apabila ditanya, tapi pasien berbicara agak lambat. Pasien mampu
memberikan pertanyaan dan memulai pembicaraan.
Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan

3. Aktifitas motorik
Cepat Keras Gagap Agitasi

Tik Grimsen Tremor Tidak Kompulsif


Jelaskan : pasien tampak berbaring dilantai, terkadang pasien berbaring
dikamar. Sesekali pasien duduk dan menonton televisi.
Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan

4. Alam perasaan
Sedih Ketakutan v Putus asa Khawatir Gembira Berlebihan
Jelaskan : pasien kuatir mendengar suara suara yang mengejeknya, karena
terkadang pasien mendengarkan suara tersebut dan terkadang tidak.
Masalah keperawatan : ansietas

5. Afek
v Datar Tumpul Labil Tidak sesuai
Jelaskan : adekuat
Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan

6. Interaksi selama wawancara

25
Bermusuhan Tidak Kooperatif Mudah tersinggung

Kontak mata kurang Defensif Curiga


v
Jelaskan : pasien mampu menjawab beberapa pertanyaan perawat tetapi
selama berinteraksi kontak mata dari pasien kurang.
Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan

7. Persepsi halusinasi
v Pendengaran Penglihatan Perabaan Pengecapan Penghidu
Jelaskan : pasien mengatakan sering mendengar suara-suara / bisikan yang
mengejeknya pada saat sendiri. Pasien mengatakan bahwa saat dirumah suaranya sangat
keras berbeda dengan dirumah sakit
Masalah keperawatan : Gangguan sensori persepsi : Halusinasi

8. Proses pikir
Sirkumstansial Tangensial Kehilangan asosiasi

Fligt of idea blocking Pengulangan pembicaraan/perseverasi


Jelaskan : saat ditanya pasien menjawab pertanyaan dengan jawaban yang
jelas dan mampu memulai pembicaraan
Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan

9. Isi pikir
Obesesi Phobia Hipokondria

Depolarisasi Ide yang terkait Pikiran magis

Waham
Agama Somatik Kebesaran Curiga

26
Nihilistik sisip pikir Siar pikir kontrol pikir
Jelaskan : tidak dapat dikaji
Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan

10. Tingkat kesadaran


Bingung Sedesai Stupor

Disorientasi
Waktu Tempat Orang
Jelaskan : pasien tahu bahwa ia sekarang berada di RS jiwa tempat orang
sakit jiwa, saat ditanya sekarang ini pagi , siang atau malam hari pasien dapat
menjawab dengan benar yaitu siang hari dan siapa saya (pengkaji) pasien dapat
menyebutkan nama pengkaji dan pengkaji merupakan mahasiswa yang sedang
praktek.
Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan

11. Memori
Gangguan daya ingat jangka panjang v Gangguan daya ingat jangka Pendek

Gangguan daya ingat saat ini Konfabulasi


Jelaskan : pketika ditanya pengkaji kapan pasien dibawa ke RS pasien dapat
menjawab dengan benar yaitu hari jumat kemarin kira-kira 5 hari yang lalu. Saat
ditanya pengalaman masa lalunya pasien menceritakan tepat
Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatn

12. Tingkat konsentrasi dan berhitung


Mudah beralih tidak mampu berkonsentrasi tidak mampu berhitung
Sederhana
Jelaskan : saat pengkaji meminta pasien untuk menghitung lama hari ia
dirawat yaitu tanggal 21 16 pasien dapat menjawab dengan benar yaitu 5 hari
Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan

27
13. kemampuan penilaian
v Gangguan ringan Gangguan bermakna

Jelaskan : saat ditanya mandi dulu baru makan atau sebaliknya, pasien
menjawab mandi dulu, alasannya agar ketika makan badan segar dan makanan terasa
enak
Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan

14. Daya tilik dari


Mengingkari penyakit yang diderita Menyalahkan hal-hal diluar dirinya

Jelaskan : pasien menerima dan menyadari tentang dirinya


Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan

VII. KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG (dikaji kemampuan pasien selama di RS)


1. Makan dan minum
v Bantuan minimal Bantuan Total
Jelaskan : pasien mampu makan sendiri tanpa bantuan, makan secara
teratur 3x sehari sesuai jadwal makan di RSJ, Tn. MH makan pelan pelan, selalu
menghabiskan makanannya, Tn. MH makan dengan menggunakan tangan kanan
sebelum dan setelah makan Tn. MH selalu mencuci tangannya serta mengembalikan
dan merapikan tempa makannya.
Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan

2. BAB/BAK

v Bantuan minimal Bantuan Total


Jelaskan : Tn. MH mengatakan selalu mencuci dan membersihkan
area genital dan kamar mandi setelah BAB dan BAK, Tn. MH mengatakan ia selalu
BAB / BAK dikamar mandi.
Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan

28
3. Mandi
v Bantuan minimal Bantuan Total
Jelaskan : pasien mengatakan sehari mandi sebanyak 2 kali sehari
pagi dan sore, pagi ketika subuh dan sore sebelum magrib.
Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan

4. Berpakaian/berhias
v Bantuan minimal Bantuan Total
Jelaskan : pasien mengtakan bisa berpakaian secara mandiri sesuai
dengan baju yang disiapkan dari rumah sakit
Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan

5. Istirahat dan tidur


Tidur siang lamanya : Tn. MH mengatakan tidur siang sebanyak 1 jam dari
pukul 14.00 sampai 15.00
Tidur malam lamanya : Tn. MH mengatakan bahwa tidur malam selama 6 jam
yaitu dari pukul 21.00 04.00,
Kegiatan sebelum/sesudah tidur : Tn. MH mengatakan sebelum tidur biasanya ia
menonton TV sedangkan setelah tidur Tn. MH lansung
mandi
Jelaskan : pasien mengatakan saat di rumah sakit pasien dapat tidur
dengan baik, namun sesekali terjaga dan mendengar suara
bisikan

Masalah keperawatan : Halusinasi pendengaran

6. Penggunaan obat
v Bantuan minimal Bantuan Total
Jelaskan : Tn. Mh minum obat secara teratur 2 x 1 hari dengan
bantuan perawat

29
Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan

Dikaji kemampuan pasien yang dapat dilakukan dirumah :


7. Pemeliharaan kesehatan Ya Tidak

Perawatan lanjutan v

Sistem pendukung

Jelaskan : ketika pasien sudah diijinkan pulang, maka perawatan


lanjutan yang harus dilakukan Tn. MH dianjurkan untuk
kontrol sebelum obat habis serta dalam pemeliharaan
kesehatan Tn. Mh harus didukung dengan penggunaan
obat serta dukungan dari keluraga
Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan

8. Kegiatan di dalam rumah Ya Tidak


Mempersiapkan makanan v

Menjaga kerapian rumah v

Mencuci pakaian v

Pengaturan keuangan v

Jelaskan : jika pasien pulang kegiatan yang ingin Tn. HM lakukan


yaitu menjaga kerapian rumah dengan cara menyapu.
Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan

9. Kegiatan di luar rumah Ya Tidak


Belanja v

v
30
Transportasi
Jelaskan : pasien mengatakan ingin berinteraksi dengan tetangga
Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan

VIII. MEKANISME KOPING

Adaptif v Maladaptif

Bicara dengan orang lain Minum alkohol

Mampu menyelesaikan masalah Reaksi lambat/berlebih

Teknik Relokasi Bekerja berlebihan

Aktifitas konstruktif v Menghindar

Olah raga Menciderai diri

Lainnya. Lainnya.

Jelaskan : pasien mengatakan apabila mempunyai masalah pasien


hanya diam dan menghindar dari masalah
Masalah keperawatan : tak ada masalah keperawatan .

ANALISA DATA

DATA MASALAH/ DIAGNOSA KEPERAWATAN


Subjektif :
- Pasien mengatakan mendengar Gangguan sensori persepsi : Halusinasi
suara yang mengejeknya pendengaran
- Pasien mengatakan dirinya

31
keluyuran pada malam hari

Objektif :
- Pasien tampak sesekali berbicara
sendiri
- Pasien tampak mengarahkan
telinga kearah tertentu

Subjektif :
- Pasien mengatakan merasa bosan
- Pasien mengatakan tidak pernah
Menarik diri
bersosialisasi dan mengikuti
kegiatan masyarakat
Objektif :
- Pasien Nampak jarang
berkomunikasi dengan orang lain
Subjektif :
- Pasien mengatakan apabila
mempunyai masalah pasien hanya Ketidakefektifan koping
diam dan menghindar dari masalah
Objektif :
- Pasien Nampak sulit menentukan
keputusan

IX. ASPEK MEDIK


Diagnosa medis : Halusinasi pendengaran
Terapi medik : - merlopam 1 x 0,5 mg
- TFL 3 x 5 mg
- THF 2 x 2 mg

X. DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN

32
1. GSP : Halusinasi pendengaran
2. Respon pasca trauma
3. Harga diri rendah
4. Isolasi sosial menarik diri
5. Ansietas
6. koping individu inefektif
7. Defisit pengetahuan

XI. POHON MASALAH


Resiko menciderai diri sendiri dan orang lain

Resiko perilaku kekerasan

Gangguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran

Gangguan interaksi sosial : menarik diri

Gangguan konsep diri : harga diri rendah

Koping mekanisme koping individu tidak efektif

XII. DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Halusi pendengaran
2. Menarik diri
3. Koping individu tidak efektif

33
34
35
SP Halusinasi
Pasien
1. SP 1
a. Bina hubungan saling percaya (BHSP)
b. Mengidentifikasi penyebab isolasi sosial pasien
c. Berdiskusi dengan pasien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain
d. Berdiskusi dengan pasien tentang kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain
e. Mengajarkan pasien cara berkenalan dengan satu orang
f. Membimbing pasien memasukkan kegiatan dalam jadwal kegiatan

2. SP II
a. Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya
b. Melatih pasien berkenalan dengan dua orang atau lebih
c. Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

3. SP III
a. Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya
b. Melatih pasien berinteraksi dalam kelompok
c. Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

Keluarga
4. SP I
a. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien
b. Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala isolasi yang dialami pasien beserta proses
terjadinya
c.Menjelaskan cara-cara merawat pasien isolasi social

5. SP II
a. Melatih keluarga mempraktikkan cara merawat pasien dengan isolasi sosial
b. Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien isolasi sosial

36
6. SP III
a. Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas dirumah termasuk minum obat (discharge
planning.
b. Menjelaskan follow up pasien setelah pulang

37
Catatan Perkembangan

Tanggal/ Jam Diagnosa Keperawatan Tujuan Implementasi Evaluasi (SOAP) Paraf


Keperawatan
Rabu, 10 Agustus Isolasi social 1. Pasien dapat 1. Membina S:
2016 membina hubungan hubungan saling Pasien
saling percaya percaya mengatakan masih
2. Pasien dapat 2. Berdiskusi merasa malu dan
memberikan dengan pasien minder
informasi tentang tentang
dirinya keuntungan O:
3. Pasien mampu berinteraksi - Kontak mata
menyebutkan dengan orang lain kurang
keuntungan 3. Berdiskusi - Pasien lebih
berinteraksi dengan dengan pasien banyak diam
orang lain tentang kerugian - Pasien tidak
4. Pasien mampu tidak berinteraksi bicara jika tidak
menyebutkan dengan orang lain. diajak bicara
kerugian berinteraksi 4. Mengajarkan
dengan orang lain pasien cara A:
5. Pasien dapat berkenalan - Pasien mampu
melaksanakan dengan orang lain. menyebutkan
hubungan sosial keuntungan
secara bertahap berinteraksi
6. Pasien mampu - Pasien mampu
menjelaskan menyebutkan
perasaan setelah kerugian tidak
berhubungan dengan berinteraksi
orang lain. dengan orang
lain.

P:
P : Ajarkan pasien

38
cara berkenalan
dengan orang lain
K : Dorong pasien
untuk mau
berinteraksi
dengan orang lain.

Kamis, 11 Agustus Isolasi sosial 1. Pasien dapat 1. Membina S:


2016 membina hubungan hubungan saling Pasien
saling percaya percaya mengatakan malas
2. Pasien dapat 2. Mengajarkan bercakap-cakap
melaksanakan pasien cara
hubungan sosial berkenalan O:
secara bertahap dengan orang lain. - Pasien tampak
3. Pasien mampu menyendiri
mengungkapkan - Kontak mata
perasaan setelah kurang
berhubungan dengan - Pasien tidak
orang lain. bias memulai
pembicaraan

A:
Pasien belum
mampu
berkenalan
dengan orang lain

P:
P : Ajarkan pasien
teknik berinteraksi
dengan baik
K : Dorong pasien
takut berinteraksi.

39
40
6. Asuhan Keperawatan Nn. N
RUANG RAWAT : Nusa Indah TANGGAL DIRAWAT : 25 Juli 2016
I. IDENTITAS PASIEN
Inisial : Nn. N Tanggal Pengkajian : 10 Agustus 2016
Umur : 39 tahun No. RM : 0658xx
Informan :

II. ALASAN MASUK RUMAH SAKIT


Pasien masuk rumah sakit diantar oleh dinas kesehatan kabupaten empat lawang karena
pasien sering berteriak-teriak, dan pasien dipasung selama 19 tahun

III. FAKTOR PREDISPOSISI


1. Pernah mengalami gangguan jiwa dimasa lalu? v Ya Tidak
2. Pengobatan sebelumnya? Berhasil v Kurang Berhasil Tidak berhasil
3. Pelaku/usia Korban/Usia Saksi/Usia
Aniaya Fisik v

Aniaya Seksual

Penolakan

KDRT

Tindakan Kriminal
Penjelasan no 1,2,3 : pasien pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu. Pasien
pernah dirawat di RSJ. Bengkulu kemudian pulih, namun 1 bulan
setelah keluar pasien menunjukkan gejala yang sama. Pasien
pernah menjadi pelaku aniaya fisik dengan memotong tangan
kirinya sendiri.
Masalah Keperawatan: Perilaku kekerasan
4. Adakah anggota keluaraga yang mengalami gangguan jiwa ? v Ya Tidak

41
Hubungan Keluarga Gejala Riwayat Pengobatan / Perawatan
Adik kandung

Masalah Keperawatan: koping keluarga tidak efektif.


5. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan : pasien pernah dilarang oleh ibunya
berhubungan dengan pria beristri. Sejak saat itu perilaku pasien berubah.
Masalah Keperawatan: Koping individu tidak efektif

IV. MASALAH FISIK


1. Tanda Vital TD: 120/70 mmHg N : 78 x/menit RR: 18x/menit T: 36,00C
2. Ukur TB: 150 cm BB : 42 kg
3. Keluhan fisik Ya Tidak v

Jelaskan : Keadaan umum baik, pasien tidak mempunyai kelainan fisik


Masalah Keperawatan: Tidak ada masalah keperawatan

V. PSIKOSOSIAL
1. Genogram ( 3 Generasi)

Keterangan :
: Laki-laki x : adik yang mengalami gangguan kejiwaan

: Perempuan

: Pasien
------ : serumah
Jelaskan : adik kandung pasien ada yang mengalami gangguan kejiwaan.
Masalah Keperawatan: Koping keluarga tidak efektif

2. Konsep diri
a. Gambaran diri : Tidak dapat dikaji
b. Identitas diri : Pasien hanya dapat menyebutkan namanya saja

42
c. Peran : Tidak dapat dikaji
d. Ideal diri : Tidak dapat dikaji
e. Harga diri : Tidak dapat dikaji
Masalah keperawatan : Isolasi sosial

3. Hubungan sosial
a. Orang yang berarti keluarga : pasien mengatakan sangat menyayangi adiknya yang
bernama C
b. Peran serta dalam kegiatan kelompok / masyarakat (di rumah dan di RS)
Pasien mau diajak mengikuti kegiatan kelompok seperti : olahraga pagi, ikut ke
rehabilitas (terapi) dan TAK tetapi pasien hanya diam saja
c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain : (di rumah & di RS)
Selama di RS pasien lebih banyak menyendiri dibandingkan berinteraksi
Masalah Keperawatan : Isolasi sosial : Menarik diri

4. Spritual
c. Nilai dan Keyakinan : Pasien beragama Islam
d. Kegiatan ibadah: (di rumah & di RS) :
Di rumah : tidak dapat dikaji
Di RS : pasien tidak pernah beribadah (sholat)
Masalah keperawatan : Distres spiritual

VI. STATUS MENTAL


1. Penampilan : Tidak rapi Penggunaan pakaian v Cara berpakaian
Tidak sesuai seperti biasanya
Jelaskan : cara berpakaian pasien biasa aja, pasien tampak tidak rapi, rambut
acak-acakan
Masalah keperawatan : defisit perawatan diri
2. Pembicaraan
Cepat Keras Gagap Agitasi
Apatis Lambat Membisu v Tidak Mampu memulai

43
Pembicaraan
Jelaskan : pasien tidak mampu memulai pembicaraan, pasien dapat
berbicara apabila ditanya, tapi hanya sedikit dan langsung diam
lagi.
Masalah keperawatan : kerusakan komunikasi verbal

8. Aktifitas motorik
Cepat Keras Gagap v Agitasi
Tik Grimsen Tremor Tidak Kompulsif
Jelaskan : pasien tampak menarik diri dan tidak mau melakukan aktivitas.
Masalah keperawatan : isolasi sosial

9. Alam perasaan

v Sedih Ketakutan Putus asa Khawatir Gembira Berlebihan


Jelaskan : pasien tampak sedih dan sering menyendiri serta tidak
bersemangat
Masalah keperawatan : isolasi sosial

10. Afek

v Datar Tumpul Labil Tidak sesuai


Jelaskan : ekspresi wajah pasien tidak menunjukkan perubahan apapun
dalam setiap situasi
Masalah keperawatan : kerusakan komunikasi verbal

11. Interaksi selama wawancara


Bermusuhan v Tidak Kooperatif Mudah tersinggung
Kontak mata kurang Defensif Curiga
Jelaskan : pasien tidak bisa menjawab beberapa pertanyaan perawat dan
selama berinteraksi pasien tidak melihat perawat
Masalah keperawatan : gangguan komunikasi verbal dan isolasi sosial
12. Persepsi halusinasi

44
Pendengaran Penglihatan Perabaan Pengecapan Penghidu
Jelaskan : tidak dapat dikaji
Masalah keperawatan : -

13. Proses pikir


Sirkumstansial Tangensial Kehilangan asosiasi
Fligt of idea blocking Pengulangan pembicaraan/perseverasi
Jelaskan : tidak dapat dikaji
Masalah keperawatan : -

14. Isi pikir


Obesesi Phobia Hipokondria
Depolarisasi Ide yang terkait Pikiran magis
Waham
Agama Somatik Kebesaran Curiga
Nihilistik sisip pikir Siar pikir kontrol pikir
Jelaskan : tidak dapat dikaji
Masalah keperawatan : -

15. Tingkat kesadaran

v Bingung Sedesai Stupor


Disorientasi
v Waktu TempatOrang
Jelaskan : pasien tampak bingung dengan lingkungan sekitarnya
Masalah keperawatan : isolasi sosial

16. Memori
Gangguan daya ingat jangka panjang v Gangguan daya ingat jangka Pendek

Gangguan daya ingat saat ini Konfabulasi


Jelaskan : pasien tidak bisa menghafal nama perawat yang merawatnya
Masalah keperawatan : -

45
17. Tingkat konsentrasi dan berhitung
Mudah beralih tidak mampu berkonsentrasi tidak mampu berhitung
Sederhana
Jelaskan : tidak dapat dikaji
Masalah keperawatan : -

18. Kemampuan penilaian


Gangguan ringan v Gangguan bermakna

Jelaskan : pasien tidak bisa mengambil keputusan apapun


Masalah keperawatan : -

19. Daya tilik dari


Mengingkari penyakit yang diderita Menyalahkan hal-hal diluar
Dirinya
Jelaskan : tidak bisa dikaji
Masalah keperawatan : -

VII. KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG (dikaji kemampuan pasien selama di RS)


1. Makan dan minum

v Bantuan minimal Bantuan Total


Jelaskan : pasien bisa makan dan minum secara mandiri
Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan

2. BAB/BAK

v Bantuan minimal Bantuan Total


Jelaskan : pasien bisa BAB & BAK secara mandiri
Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan

3. Mandi

v Bantuan minimal Bantuan Total

46
Jelaskan : pasien bisa mandi walaupun tunggu disuruh mandi baru
mandi
Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan
4. Berpakaian/berhias

v Bantuan minimal Bantuan Total


Jelaskan : pasien dapat berpakaian seperti biasa tetapi untuk berhias
pasien harus dibantu
Masalah keperawatan : defisit perawatan diri

5. Istirahat dan tidur


Tidur siang lamanya : tidak dapat dikaji
Tidur malam lamanya : tidak dapat dikaji
Kegiatan sebelum/sesudah tidur : tidak dapat dikaji
Jelaskan :-
Masalah keperawatan : isolasi sosial

6. Penggunaan obat

vBantuan minimal Bantuan Total


Jelaskan : selama di RS pasien rutin minum obat 3x sehari yang
selalu diingatkan perawat
Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan

Dikaji kemampuan pasien yang dapat dilakukan dirumah :


7. Pemeliharaan kesehatan Ya Tidak
Perawatan lanjutan v
Sistem pendukung
Jelaskan :-
Masalah keperawatan :-

8. Kegiatan di dalam rumah Ya Tidak


Mempersiapkan makanan v

47
Menjaga kerapian rumah v
Mencuci pakaian v
Pengaturan keuangan v
Jelaskan : pasien tidak melakukan kegiatan apapun karena dipasung
Masalah keperawatan : isolasi sosial
9. Kegiatan di luar rumah Ya Tidak
Belanja v
Transportasi v
Jelaskan : pasien tidak melakukan kegiatan apapun karena dipasung
Masalah keperawatan : isolasi sosial

IX. MEKANISME KOPING

v
Adaptif Maladaptif
Bicara dengan orang lain Minum alkohol
Mampu menyelesaikan masalah Reaksi lambat/berlebih

Teknik Relokasi Bekerja berlebihan


Aktifitas konstruktif Menghindar
Olah raga v Menciderai diri

Lainnya. Lainnya.

Jelaskan : pasien pernah memotong tangan kirinya dengan menggunakan


pisau saat tidak ada orang di rumah
Masalah keperawatan : perilaku kekerasan.

48
ANALISA DATA

DATA MASALAH/ DIAGNOSA KEPERAWATAN


Subjektif :
- Pasien hanya mengatakan namanya
saja Isolasi Sosial : Menarik Diri
- Pasien hanya mengatakan satu kata
saja

Objektif :
- Pasien sering menyendiri
- Pasien tidak pernah berinteraksi
atau bercakap-cakap dengan
temannya yang satu ruangan
dengan dia
- Pasien hanya terdiam
- Pasien sulit diajak berkomunikasi.

49
IX. ASPEK MEDIK
Diagnosa medis : isolasi sosial
Terapi medik : - merlopam 1 x 0,5 mg
- TFL 3 x 5 mg
- THF 2 x 2 mg

X. DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN


Isolasi sosial

XI. POHON MASALAH


GSP : Halusinasi

Isolasi sosial : Menarik Diri

Harga diri rendah

XII. DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Isolasi sosial : menarik diri
2. Harga diri rendah
3. GSP : Halusinasi

50
51
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN JIWA PADA PASIEN ISOLASI SOSIAL: MENARIK DIRI

Diagnosa Keperawatan Rencana tindakan keperawatan Rasional


Tujuan Kriteria Evaluasi Tindakan Keperawatan
1 2 3 4 5
Isolasi sosial/ kerusakan TUM:
Interaksi sosial: menarik diri Pasien dapat
Data Subjektif: berinteraksi dengan
Pasien mengatakan orang lain sehingga 1.1 Ekspresi wajah 1.1.1 Bina hubungan Hubungan saling
malas untuk berkumpul tidak terjadi halusinasi yang besahabat, saling percaya percaya merupakan
dengan teman-teman TUK 1: menunjukkan rasa dengan dasar dari terjadinya
yang lain dan lebih Pasien dapat membina senang, ada kontak menggunakanprinsi komunikasi
senang menyendiri dan mempertahankan mata, mau berjabat p komunikasi terapeutik sehingga
......................... hubungan saling tangan, mau terapeutik: akan memfasilitasi
percaya menyebutkan a. Sapa pasien dalam pengungkapan
Data objektif: nama, mau dengn ramah perasaan, emosi, dan
Isolasi Sosial menjawab salam, baik verbal harapan pasien
Tidak memiliki teman pasien mau duduk maupun non
dekat berdampingan verbal
Menarik diri dengan perawat, b. Perkenalkan diri
Tidak komunikatif mau mengutarakan dengan sopan
Tindakan berulang dan masalah yang c. Tanyakan nama
tidak bermakna dihadapi lengkap pasien
Astik dengan pikirannya dan nama
sendiri panggilan yang
Tidak ada kontak mata disulai pasien
Tampak sedih, efek d. Jelaskan tujuan
tumpul pertemuan
e. Jujur dan
Menarik diri menepati janji
Ekspresi wajah kurang f. Tunjukkan
berseri sikap empati
Kurang aktivitas dan menerima

52
Menunduk pasien apa
Menghindar dari orang adanya
lain g. Beri perhatian
kepada pasien
dan perhatikan
kebutuhan dasar
pasien

DX Tujuan Kriteria Evaluasi Tindakan Rasionalisasi


TUK 2 : 2.1 Pasien dapat 2.1.1 Kaji pengetahuan pasien tentang perilaku Diketahuinya penyebab
Pasien dapat menyebutkan menarik diri dan tanda-tandanya akan dapat dihubungkan
menyebutkan penyebab di rumah pasien dengan siapa dengan faktor presipitasi
penyebab menarik diri Siapa yang paling dekat dengan pasien yang dialami pasien
menarik diri yang berasal Apa yang membuat pasien dekat
dari: dengannya
Diri sendiri Dengan siapa pasien tidak dekat
Orang lain Apa yang membuat pasien tidak dekat
Lingkungan Apa yang pasien lakukan agar dekat
dengan seseorang
2.1.2 Beri kesempatan kepada pasien untuk
mengungkapakan perasaan penyebab
menarik diri atau tidak mau bergaul
2.1.3 Beri reinforcement positif terhadap
kemampuan pasien mengungkapkan
perasaannya
TUK 3 : 3.1 Pasien dapat 3.1.1 Kaji pengetahuan pasien tentang manfaat Pasien harus di coba
Pasien dapat menyebutkan keuntungan berinteraksi secara
menyebutkan keuntungan 3.1.2 Beri kesempatan pada pasien untuk bertahap agar terbiasa
keuntungan berhubungan mengungkapkan perasaanya tentang membina hubungan yang
berhubungan dengan orang perasaannya tentang keuntungan sehat dengan orang lain
dengan orang lain, misalnya: berhubungan dengan orang lain
lain dan Banyak 3.1.3 Diskusikan dengan pasien tentang
kerugian bila teman manfaat berhubungan dengan orang lain Mengevaluasi manfaat

53
tidak Tidak sendiri 3.1.4 Beri reinforcement positif terhadap yang dirasakan pasien
berhubungan Bisa kemampuan mengungkapkan sehingga timbul motivasi
dengan orang berdikusi 3.2.1 Perasaan tentang keuntungan berhubungan untuk berinteraksi
lain 3.2 Pasien dapat dengan orang lain
menyebutkan 3.2.2 Beri kesempatan pada pasien untuk
kerugian bila mengungkapkan perasaannya tentang
tidak keuntungan berhubungan dengan orang
berhubungan lain
dengan orang 3.2.3 Diskusikan dengan pasien tentang manfaat
lain berhubungan dengan orang lain
3.2.4 Beri reinforcement positif terhadap
kemampuan mengungkapkan perasaan
tentang keuntungan berhubungan dengan
orang lain
DX Tujuan Kriteria Evaluasi Tindakan Rasionalisasi
TUK 4 : 4.1 Pasien dapat 4.1.1 Kaji kemampuan pasien membina hubungan Hubungan secara bertahap
Pasien dapat mendemonstrasi dengan orang lain memberi kesempatan
melaksanakan kan hubungan 4.1.2 Dorong dan bantu pasien untuk pasien untuk
hubungan secara sosial secara berhubungan dengan orang lain melalui meningkatkan interaksi
bertahap bertahap antara: tahap: dengan orang lain
Pasien- Pasien-perawat
perawat Pasien-perawat-perawat lain
Pasien- Pasien-perawat-perawat lain dan pasien
perawat- lain
perawat lain Pasien-keluarga/ kelompok/ masyarakat
Pasien- 4.1.3 Beri reinforcement positif terhadap
perawat- keberhasilan yang telah dicapai
perawat lain 4.1.4 Bantu pasien untuk mengevaluasi manfaat
dan pasien hubungan dengan orang lain
lain 4.1.5 Diskusikan jadwal harian yang dapat
Pasien- dilakukan bersama pasien dalam mengisi
keluarga/ waktu
kelompok/ 4.1.6 Motivasi pasien untuk mengikuti kegiatan

54
masyarakat ruangan
4.1.7 Beri reinforcement positif atas keberhasilan
pasien dalam kegiatan ruangan

TUK 5 : 5.1 Pasien dapat 5.1.1 Dorong pasien untuk mengungkapkan Ungkapkan perasaan dan
Pasien dapat mengungkapkan perasaannya bila berhubungan dengan orang penguatan dapat
mengungkapkan perasaannya lain meningkatkan rasa
perasaannya setelah 5.1.2 Diskusikan dengan pasien tentang perasaan percaya diri pasien
setelah berhubungan manfaat berhubungan dengan orang lain
berhubungan dengan orang 5.1.3 Beri reinforcement positif atas kemampuan
dengan orang lain untuk: pasien mengungkapkan perasaan manfaat
lain Diri sendiri berhubungan dengan orang lain
Orang lain

TUK 6 : 6.1 Keluarga dapat: 6.1.1 Bina hubungan saling percaya dengan Sistem pendukung sebagai
Pasien dapat Menjelaskan keluarga: bagian yang paling dekat
memanfaatkan perasaannya Salam, perkenalkan diri dengan pasien akan
sistem pendukung Menjelaskan cara Jelaskan tujuan membimbing secara
atau keluarga merawat pasien Buat kontrak kontinyu dalam
menarik diri Eksplorasi perasaan pasien meningkatkan kemampuan
Mendemonstrasik 6.1.2 Diskusikan dengan anggota keluarga pasien dalam membina
an cara perawatan tentang: hubungan dengan orang
pasien menarik Perilaku menarik diri lain
diri Penyebab perilaku menarik diri
Berpartisipasi Akibat yang akan terjadi jika
dalam perawatan perilaku menarik diri tidak
pasien menari diri ditanggapi

55
Cara keluarga menghadapi pasien
menarik diri
6.1.3 Dorong anggota keluarga untuk
memberi dukungan kepada pasien untuk
berkomunikasi dengan orang lain
6.1.4 Anjurkan anggota keluarga secara rutin
dan bergantian menjenguk pasien
minimal satu kali seminggu
6.1.5 Beri reinforcement positif atas hal-hal
yang telah dicapai oleh keluarga

TUK 7 : 7.1 Menyebutkan obat- 7.1.1 Jelaskan obat-obat yang diminum Pasien dan keluarga dapat
Pasien dapat obatan yang pasien pada pasien dan keluarga mengetahui nama-nama
menggunakan diminum dan obat yang diminum oleh
obat-obatan yang kegunaannya (jenis, pasien
diminum dan waktu, efek) 7.1.2 Diskusikan manfaat minum obat dan Pasien dan keluarga dapat
kegunaannya 7.2 Pasien dapat minum kerugian berhenti minum obat tanpa mengetahui kegunaan obat
(jenis, waktu, obat sesuai program seijin dokter yang dikonsumsi pasien
dosis dan efek) pengobatan Pasien dan keluarga
7.1.3 Jelaskan prinsip benar minum obat, mengetahui prinsip benar
baca nomor yang tertera pada botol agar tidak terjadi
obat, dosis obat, waktu dan cara kesalahan dalam
minum) mengkonsumsi obat

7.2.1 Ajarkan pasien minta obat dan minum Pasien dapat memiliki
tepat waktu kesadaran pentingnya
minum obat dan bersedia
minum obat dengan
kesadaran sendiri
7.2.2 Anjurkan pasien melaporkan pada Mengetahui efek samping
perawat atau dokter jika merasakan efek yang sendiri sedini mungkin
tidak menyenangkan sehingga tindakan dapat
dilakukan sesegera

56
mungkin untuk
menghindari komplikasi
7.2.3 Beri pujian jika pasien minum obat Reinforcement positif
dengan benar dapat memotivasi keluarga
dan pasien serta dapat
meningkatkan harga diri

57
SP Isolasi Sosial
Pasien
1. SP 1
a. Bina hubungan saling percaya (BHSP)
b. Mengidentifikasi penyebab isolasi sosial pasien
c. Berdiskusi dengan pasien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain
d. Berdiskusi dengan pasien tentang kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain
e. Mengajarkan pasien cara berkenalan dengan satu orang
f. Membimbing pasien memasukkan kegiatan dalam jadwal kegiatan

2. SP II
a. Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya
b. Melatih pasien berkenalan dengan dua orang atau lebih
c. Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

3. SP III
a. Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya
b. Melatih pasien berinteraksi dalam kelompok
c. Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

Keluarga
4. SP I
a. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien
b. Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala isolasi yang dialami pasien beserta proses
terjadinya
c.Menjelaskan cara-cara merawat pasien isolasi social

5. SP II
a. Melatih keluarga mempraktikkan cara merawat pasien dengan isolasi sosial
b. Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien isolasi sosial

58
6. SP III
a. Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas dirumah termasuk minum obat (discharge
planning.
b. Menjelaskan follow up pasien setelah pulang

59
Catatan Perkembangan

Tanggal/ Jam Diagnosa Keperawatan Tujuan Implementasi Evaluasi (SOAP) Paraf


Keperawatan
Rabu, 17 Agustus Isolasi social 1. Pasien dapat 1. Membina S:
2016 membina hubungan hubungan saling Pasien
saling percaya percaya mengatakan masih
2. Pasien dapat 2. Berdiskusi merasa malu dan
memberikan dengan pasien minder
informasi tentang tentang
dirinya keuntungan O:
3. Pasien mampu berinteraksi - Kontak mata
menyebutkan dengan orang lain kurang
keuntungan 3. Berdiskusi - Pasien lebih
berinteraksi dengan dengan pasien banyak diam
orang lain tentang kerugian - Pasien tidak
4. Pasien mampu tidak berinteraksi bicara jika tidak
menyebutkan dengan orang lain. diajak bicara
kerugian berinteraksi 4. Mengajarkan
dengan orang lain pasien cara A:
5. Pasien dapat berkenalan - Pasien mampu
melaksanakan dengan orang lain. menyebutkan
hubungan sosial keuntungan
secara bertahap berinteraksi
6. Pasien mampu - Pasien mampu
menjelaskan menyebutkan
perasaan setelah kerugian tidak
berhubungan dengan berinteraksi
orang lain. dengan orang
lain.

P:
P : Ajarkan pasien

60
cara berkenalan
dengan orang lain
K : Dorong pasien
untuk mau
berinteraksi
dengan orang lain.

Kamis, 18 Agustus Isolasi sosial 1. Pasien dapat 1. Membina S:


2016 membina hubungan hubungan saling Pasien
saling percaya percaya mengatakan malas
2. Pasien dapat 2. Mengajarkan bercakap-cakap
melaksanakan pasien cara
hubungan sosial berkenalan O:
secara bertahap dengan orang lain. - Pasien tampak
3. Pasien mampu menyendiri
mengungkapkan - Kontak mata
perasaan setelah kurang
berhubungan dengan - Pasien tidak
orang lain. bias memulai
pembicaraan

A:
Pasien belum
mampu
berkenalan
dengan orang lain

P:
P : Ajarkan pasien
teknik berinteraksi
dengan baik
K : Dorong pasien
takut berinteraksi.

61
62
7. Asuhan Keperawatan Nn. A
RUANG RAWAT : Nusa Indah TANGGAL DIRAWAT : 05 Agustus 2016
I. IDENTITAS PASIEN
Inisial : Nn. A Tanggal Pengkajian : 08 Agustus 2016
Umur : 38 tahun No. RM : 0659xx
Informan :

II. ALASAN MASUK RUMAH SAKIT


Keluarga mengatakan pasien sering mengamuk dan meresahkan lingkungan, melempar
ssesuatu ke rumah tetangg, sering tertawa sendiri dan 2 hari sebelum masuk rs pasien lebih
agresif.

III. FAKTOR PREDISPOSISI


1. Pernah mengalami gangguan jiwa dimasa lalu? Ya v Tidak
2. Pengobatan sebelumnya? Berhasil Kurang Berhasil Tidak berhasil
3. Pelaku/usia Korban/Usia Saksi/Usia
Aniaya Fisik

Aniaya Seksual

Penolakan

KDRT

Tindakan Kriminal
Penjelasan no 1,2,3 : pasien tidak pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu, pasien
belum pernah melakukan pengobatan sebelumnya, dan pasien tidak
pernah menjadi pelaku, korban maupun sanksi dari perilaku
aniaya. Pasien belum pernah dirawat di RS. Erba sebelumnya.
Pasien mengalami depresi dan untuk pertama kalinya dirawat.
Masalah Keperawatan: Tidak ada masalah keperawatan

63
4. Adakah anggota keluaraga yang mengalami gangguan jiwa ? Ya v Tidak
Hubungan Keluarga Gejala Riwayat Pengobatan / Perawatan

Masalah Keperawatan:

5. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan : Pasien ditinggal pergi oleh calon
suaminya yang akan menikahinya.
Masalah Keperawatan : Kehilangan.

IV. MASALAH FISIK


1. Tanda Vital TD: 110/70 mmHg N : 74 x/menit RR: 20x/menit T: 36,00C
2. Ukur TB: 160 cm BB : 67 kg
3. Keluhan fisik Ya Tidak v
Jelaskan : Keadaan umum baik, pasien tidak mempunyai kelainan fisik
Masalah Keperawatan: Tidak mempunyai masalah keperawatan

V. PSIKOSOSIAL
1. Genogram ( 3 Generasi)

Keterangan :
: Laki-laki

: Perempuan

: Pasien
------ : serumah

Jelaskan : tidak ada anggota keluarga nya yang mengalami gangguan jiwa.

Masalah Keperawatan: -

64
2. Konsep diri
a. Gambaran diri : Tidak dapat dikaji
b. Identitas diri : Pasien hanya dapat menyebutkan namanya saja
c. Peran : Tidak dapat dikaji
d. Ideal diri : Tidak dapat dikaji
e. Harga diri : Tidak dapat dikaji
Masalah keperawatan : Gangguan identitas pribadi

3. Hubungan sosial
a. Orang yang berarti : keluarga
b. Peran serta dalam kegiatan kelompok / masyarakat (di rumah dan di RS)
Pasien mau diajak mengikuti kegiatan kelompok seperti : olahraga pagi, ikut ke
rehabilitas (terapi) dan TAK tetapi pasien hanya diam saja
c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain : (di rumah & di RS)
Selama di RS pasien lebih banyak menyendiri dibandingkan berinteraksi
Masalah Keperawatan : Isolasi sosial : Menarik diri

4. Spritual
e. Nilai dan Keyakinan : Pasien beragama Islam
f. Kegiatan ibadah: (di rumah & di RS) :
Di rumah : tidak dapat dikaji
Di RS : pasien tidak pernah beribadah (sholat)
Masalah keperawatan : Distres spiritual

VI. STATUS MENTAL


1. Penampilan Tidak rapi Penggunaan pakaian v Cara berpakaian
Tidak sesuai seperti biasanya
Jelaskan : cara berpakaian pasien biasa aja, pasien tampak tidak rapi, acak-
acakan
Masalah keperawatan : defisit perawatan diri

65
2. Pembicaraan
Cepat Keras Gagap Agitasi
Apatis Lambat Membisu v Tidak Mampu memulai
Pembicaraan
Jelaskan : pasien tidak mampu memulai pembicaraan, pasien dapat
berbicara apabila ditanya, tapi hanya sedikit dan langsung diam
lagi.
Masalah keperawatan : kerusakan komunikasi verbal

3. Aktifitas motorik
v
Cepat Keras Gagap Agitasi
Tik Grimsen TremorTidak Kompulsif
Jelaskan : pasien tampak menarik diri dan tidak mau melakukan aktivitas
Masalah keperawatan : isolasi sosial

4. Alam perasaan

v Sedih Ketakutan Putus asa Khawatir Gembira Berlebihan


Jelaskan : pasien tampak sedih dan sering menyendiri serta tidak
bersemangat
Masalah keperawatan : isolasi sosial

5. Afek

v Datar Tumpul Labil Tidak sesuai


Jelaskan : ekspresi wajah pasien tidak menunjukkan perubahan apapun
dalam setiap situasi
Masalah keperawatan : kerusakan komunikasi verbal

6. Interaksi selama wawancara


Bermusuhan v Tidak Kooperatif Mudah tersinggung
Kontak mata kurang Defensif Curiga

66
Jelaskan : pasien tidak bisa menjawab beberapa pertanyaan perawat dan
selama berinteraksi pasien tidak melihat perawat
Masalah keperawatan : gangguan komunikasi verbal dan isolasi sosial
7. Persepsi halusinasi
Pendengaran Penglihatan Perabaan Pengecapan Penghidu
Jelaskan : tidak dapat dikaji
Masalah keperawatan : -

8. Proses pikir
Sirkumstansial Tangensial Kehilangan asosiasi
Fligt of idea blocking Pengulangan pembicaraan/perseverasi
Jelaskan : tidak dapat dikaji
Masalah keperawatan : -

9. Isi pikir
Obesesi Phobia Hipokondria
Depolarisasi Ide yang terkait Pikiran magis
Waham
Agama Somatik Kebesaran Curiga
Nihilistik sisip pikir Siar pikir kontrol pikir
Jelaskan : tidak dapat dikaji
Masalah keperawatan : -

10. Tingkat kesadaran


v Bingung Sedesai Stupor
Disorientasi
v
Waktu TempatOrang
Jelaskan : pasien tampak bingung dengan lingkungan sekitarnya
Masalah keperawatan : isolasi sosial
11. Memori
Gangguan daya ingat jangka panjang v Gangguan daya ingat jangka Pendek

67
Gangguan daya ingat saat ini Konfabulasi
Jelaskan : pasien tidak bisa menghafal nama perawat yang merawatnya
Masalah keperawatan : -
12. Tingkat konsentrasi dan berhitung
Mudah beralih tidak mampu berkonsentrasi tidak mampu berhitung
Sederhana
Jelaskan : tidak dapat dikaji
Masalah keperawatan : -
13. Kemampuan penilaian
Gangguan ringan v Gangguan bermakna

Jelaskan : pasien tidak bisa mengambil keputusan apapun


Masalah keperawatan : -
14. Daya tilik dari
Mengingkari penyakit yang diderita Menyalahkan hal-hal diluar
Dirinya
Jelaskan : tidak bisa dikaji
Masalah keperawatan : -

VII. KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG (dikaji kemampuan pasien selama di RS)


1. Makan dan minum

v Bantuan minimal Bantuan Total


Jelaskan : pasien bisa makan dan minum secara mandiri
Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan

2. BAB/BAK

v Bantuan minimal Bantuan Total


Jelaskan : pasien bisa BAB & BAK secara mandiri
Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan

3. Mandi

68
v Bantuan minimal Bantuan Total
Jelaskan : pasien bisa mandi walaupun tunggu disuruh mandi baru
mandi
Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan

4. Berpakaian/berhias

v Bantuan minimal Bantuan Total


Jelaskan : pasien dapat berpakaian seperti biasa tetapi untuk berhias
pasien harus dibantu
Masalah keperawatan : defisit perawatan diri

5. Istirahat dan tidur


Tidur siang lamanya : tidak dapat dikaji
Tidur malam lamanya : tidak dapat dikaji
Kegiatan sebelum/sesudah tidur : tidak dapat dikaji
Jelaskan :-
Masalah keperawatan : isolasi sosial

6. Penggunaan obat

v Bantuan minimal Bantuan Total


Jelaskan : selama di RS pasien rutin minum obat 3x sehari yang
selalu diingatkan perawat
Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan

Dikaji kemampuan pasien yang dapat dilakukan dirumah :


1. Pemeliharaan kesehatan Ya Tidak
Perawatan lanjutan v
Sistem pendukung
Jelaskan :-
Masalah keperawatan :-
2. Kegiatan di dalam rumah Ya Tidak
v
69
Mempersiapkan makanan
Menjaga kerapian rumah v
Mencuci pakaian v
Pengaturan keuangan v
Jelaskan : pasien tidak melakukan kegiatan apapun hanya berdiam
dikamar
Masalah keperawatan : isolasi sosial
3. Kegiatan di luar rumah Ya Tidak
Belanja v
Transportasi v
Jelaskan : pasien hanya mengganggu tetangga di luar rumah
Masalah keperawatan : resiko perilaku kekerasan

VIII. MEKANISME KOPING

Adaptif vMaladaptif
Bicara dengan orang lain Minum alkohol
Mampu menyelesaikan masalah v Reaksi lambat/berlebih
Teknik Relokasi Bekerja berlebihan
Aktifitas konstruktif Menghindar
Olah raga Menciderai diri
Lainnya. Lainnya.

Jelaskan : pasien selalu tampak menyendiri, tampak murung, dan reaksinya


yang lambat
Masalah keperawatan : isolasi sosial

70
ANALISA DATA

DATA MASALAH/ DIAGNOSA KEPERAWATAN


Subjektif :
- Pasien hanya mengatakan namanya
saja Isolasi Sosial : Menarik Diri
- Pasien hanya mengatakan satu kata
saja

Objektif :
- Pasien sering menyendiri
- Pasien tidak pernah berinteraksi
atau bercakap-cakap dengan
temannya yang satu ruangan
dengan dia
- Pasien hanya terdiam
- Pasien sulit diajak berkomunikasi.

71
IX. ASPEK MEDIK
Diagnosa medis : isolasi sosial
Terapi medik : - merlopam 1 x 0,5 mg
- TFL 3 x 5 mg
- THF 2 x 2 mg

X. DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN


Isolasi sosial

XI. POHON MASALAH


GSP : Halusinasi

Isolasi sosial : Menarik Diri

Harga diri rendah

XII. DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Isolasi sosial : menarik diri
2. Harga diri rendah
3. GSP : Halusinasi

72
73
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN JIWA PADA PASIEN ISOLASI SOSIAL: MENARIK DIRI

Diagnosa Keperawatan Rencana tindakan keperawatan Rasional


Tujuan Kriteria Evaluasi Tindakan Keperawatan
1 2 3 4 5
Isolasi sosial/ kerusakan TUM:
Interaksi sosial: menarik diri Pasien dapat
Data Subjektif: berinteraksi dengan
Pasien mengatakan malas orang lain sehingga 2.1 Ekspresi wajah 1.1.2 Bina hubungan saling Hubungan saling
untuk berkumpul dengan tidak terjadi yang besahabat, percaya dengan percaya
teman-teman yang lain dan halusinasi menunjukkan rasa menggunakanprinsip merupakan dasar
lebih senang menyendiri TUK 1: senang, ada kontak komunikasi terapeutik: dari terjadinya
......................... Pasien dapat mata, mau berjabat h. Sapa pasien dengn komunikasi
membina dan tangan, mau ramah baik verbal terapeutik
Data objektif: mempertahankan menyebutkan maupun non verbal sehingga akan
Isolasi Sosial hubungan saling nama, mau i. Perkenalkan diri memfasilitasi
Tidak memiliki teman dekat percaya menjawab salam, dengan sopan dalam
Menarik diri pasien mau duduk j. Tanyakan nama pengungkapan
Tidak komunikatif berdampingan lengkap pasien dan perasaan, emosi,
Tindakan berulang dan tidak dengan perawat, nama panggilan dan harapan
bermakna mau mengutarakan yang disulai pasien pasien
Astik dengan pikirannya masalah yang k. Jelaskan tujuan
sendiri dihadapi pertemuan
Tidak ada kontak mata l. Jujur dan menepati
Tampak sedih, efek tumpul janji
m. Tunjukkan sikap
Menarik diri empati dan
Ekspresi wajah kurang menerima pasien
berseri apa adanya
Kurang aktivitas n. Beri perhatian
Menunduk kepada pasien dan
Menghindar dari orang lain perhatikan
kebutuhan dasar

74
pasien

DX Tujuan Kriteria Evaluasi Tindakan Rasionalisasi


TUK 2 : 2.1 Pasien dapat 2.1.4 Kaji pengetahuan pasien tentang perilaku Diketahuinya penyebab
Pasien dapat menyebutkan menarik diri dan tanda-tandanya akan dapat dihubungkan
menyebutkan penyebab di rumah pasien dengan siapa dengan faktor presipitasi
penyebab menarik diri Siapa yang paling dekat dengan pasien yang dialami pasien
menarik diri yang berasal Apa yang membuat pasien dekat
dari: dengannya
Diri sendiri Dengan siapa pasien tidak dekat
Orang lain Apa yang membuat pasien tidak dekat
Lingkungan Apa yang pasien lakukan agar dekat
dengan seseorang
2.1.5 Beri kesempatan kepada pasien untuk
mengungkapakan perasaan penyebab
menarik diri atau tidak mau bergaul
2.1.6 Beri reinforcement positif terhadap
kemampuan pasien mengungkapkan
perasaannya
TUK 3 : 3.1 Pasien dapat 3.1.5 Kaji pengetahuan pasien tentang manfaat Pasien harus di coba
Pasien dapat menyebutkan keuntungan berinteraksi secara bertahap
menyebutkan keuntungan 3.1.6 Beri kesempatan pada pasien untuk agar terbiasa membina
keuntungan berhubungan mengungkapkan perasaanya tentang hubungan yang sehat
berhubungan dengan orang perasaannya tentang keuntungan dengan orang lain
dengan orang lain, misalnya: berhubungan dengan orang lain
lain dan Banyak 3.1.7 Diskusikan dengan pasien tentang
kerugian bila teman manfaat berhubungan dengan orang lain Mengevaluasi manfaat yang
tidak Tidak sendiri 3.1.8 Beri reinforcement positif terhadap dirasakan pasien sehingga
berhubungan Bisa kemampuan mengungkapkan timbul motivasi untuk
dengan orang berdikusi 3.2.5 Perasaan tentang keuntungan berhubungan
lain dengan orang lain berinteraksi
3.2 Pasien dapat

75
menyebutkan 3.2.6 Beri kesempatan pada pasien untuk
kerugian bila mengungkapkan perasaannya tentang
tidak keuntungan berhubungan dengan orang
berhubungan lain
dengan orang 3.2.7 Diskusikan dengan pasien tentang manfaat
lain berhubungan dengan orang lain
3.2.8 Beri reinforcement positif terhadap
kemampuan mengungkapkan perasaan
tentang keuntungan berhubungan dengan
orang lain
DX Tujuan Kriteria Evaluasi Tindakan Rasionalisasi
TUK 4 : 4.2 Pasien dapat 4.1.8 Kaji kemampuan pasien membina Hubungan secara bertahap
Pasien dapat mendemonstrasi hubungan dengan orang lain memberi kesempatan pasien
melaksanakan kan hubungan 4.1.9 Dorong dan bantu pasien untuk untuk meningkatkan interaksi
hubungan secara sosial secara berhubungan dengan orang lain melalui dengan orang lain
bertahap bertahap antara: tahap:
Pasien- Pasien-perawat
perawat Pasien-perawat-perawat lain
Pasien- Pasien-perawat-perawat lain dan
perawat- pasien lain
perawat lain Pasien-keluarga/ kelompok/
Pasien- masyarakat
perawat- 4.1.10Beri reinforcement positif terhadap
perawat lain keberhasilan yang telah dicapai
dan pasien 4.1.11Bantu pasien untuk mengevaluasi
lain manfaat hubungan dengan orang lain
Pasien- 4.1.12Diskusikan jadwal harian yang dapat
keluarga/ dilakukan bersama pasien dalam
kelompok/ mengisi waktu
masyarakat 4.1.13Motivasi pasien untuk mengikuti
kegiatan ruangan
4.1.14Beri reinforcement positif atas
keberhasilan pasien dalam kegiatan

76
ruangan

TUK 5 : 5.1 Pasien dapat 5.1.4 Dorong pasien untuk mengungkapkan Ungkapkan perasaan dan
Pasien dapat mengungkapkan perasaannya bila berhubungan dengan penguatan dapat
mengungkapkan perasaannya orang lain meningkatkan rasa percaya
perasaannya setelah 5.1.5 Diskusikan dengan pasien tentang diri pasien
setelah berhubungan perasaan manfaat berhubungan dengan
berhubungan dengan orang orang lain
dengan orang lain untuk: 5.1.6 Beri reinforcement positif atas
lain Diri sendiri kemampuan pasien mengungkapkan
Orang lain perasaan manfaat berhubungan dengan
orang lain

TUK 6 : 6.2 Keluarga dapat: 6.1.6 Bina hubungan saling percaya Sistem pendukung sebagai
Pasien dapat Menjelaskan dengan keluarga: bagian yang paling dekat
memanfaatkan perasaannya Salam, perkenalkan diri dengan pasien akan
sistem pendukung Menjelaskan cara Jelaskan tujuan membimbing secara kontinyu
atau keluarga merawat pasien Buat kontrak dalam meningkatkan
menarik diri Eksplorasi perasaan pasien kemampuan pasien dalam
Mendemonstrasik 6.1.7 Diskusikan dengan anggota membina hubungan dengan
an cara perawatan keluarga tentang: orang lain
pasien menarik Perilaku menarik diri
diri Penyebab perilaku menarik
Berpartisipasi diri
dalam perawatan Akibat yang akan terjadi jika
pasien menari diri perilaku menarik diri tidak
ditanggapi
Cara keluarga menghadapi

77
pasien menarik diri
6.1.8 Dorong anggota keluarga untuk
memberi dukungan kepada pasien
untuk berkomunikasi dengan orang
lain
6.1.9 Anjurkan anggota keluarga secara
rutin dan bergantian menjenguk
pasien minimal satu kali seminggu
6.1.10 Beri reinforcement positif atas hal-
hal yang telah dicapai oleh
keluarga

TUK 7 : 7.3 Menyebutkan obat- 7.1.4 Jelaskan obat-obat yang diminum Pasien dan keluarga dapat
Pasien dapat obatan yang pasien pada pasien dan keluarga mengetahui nama-nama obat
menggunakan diminum dan yang diminum oleh pasien
obat-obatan yang kegunaannya (jenis, Pasien dan keluarga dapat
diminum dan waktu, efek) 7.1.5 Diskusikan manfaat minum obat mengetahui kegunaan obat
kegunaannya 7.4 Pasien dapat minum dan kerugian berhenti minum obat yang dikonsumsi pasien
(jenis, waktu, obat sesuai program tanpa seijin dokter Pasien dan keluarga
dosis dan efek) pengobatan mengetahui prinsip benar
7.1.6 Jelaskan prinsip benar minum obat, agar tidak terjadi kesalahan
baca nomor yang tertera pada botol dalam mengkonsumsi obat
obat, dosis obat, waktu dan cara
minum)
7.2.1 Ajarkan pasien minta obat dan Pasien dapat memiliki
minum tepat waktu kesadaran pentingnya minum
obat dan bersedia minum
obat dengan kesadaran
sendiri
7.2.2 Anjurkan pasien melaporkan pada Mengetahui efek samping
perawat atau dokter jika merasakan efek sendiri sedini mungkin
yang tidak menyenangkan sehingga tindakan dapat
dilakukan sesegera mungkin

78
untuk menghindari
komplikasi
7.2.3 Beri pujian jika pasien minum obat Reinforcement positif dapat
dengan benar memotivasi keluarga dan
pasien serta dapat
meningkatkan harga diri

79
SP Isolasi Sosial
Pasien
1. SP 1
a. Bina hubungan saling percaya (BHSP)
b. Mengidentifikasi penyebab isolasi sosial pasien
c. Berdiskusi dengan pasien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain
d. Berdiskusi dengan pasien tentang kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain
e. Mengajarkan pasien cara berkenalan dengan satu orang
f. Membimbing pasien memasukkan kegiatan dalam jadwal kegiatan

2. SP II
a. Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya
b. Melatih pasien berkenalan dengan dua orang atau lebih
c. Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

3. SP III
a. Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya
b. Melatih pasien berinteraksi dalam kelompok
c. Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

Keluarga
4. SP I
a. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien
b. Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala isolasi yang dialami pasien beserta proses
terjadinya
c.Menjelaskan cara-cara merawat pasien isolasi social

5. SP II
a. Melatih keluarga mempraktikkan cara merawat pasien dengan isolasi sosial
b. Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien isolasi sosial

80
6. SP III
a. Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas dirumah termasuk minum obat (discharge
planning.
b. Menjelaskan follow up pasien setelah pulang

81
Catatan Perkembangan

Tanggal/ Jam Diagnosa Keperawatan Tujuan Implementasi Evaluasi (SOAP) Paraf


Keperawatan
Jumat, 19 Agustus Isolasi sosial 1. Pasien dapat 1. Membina S:
2016 membina hubungan hubungan saling Pasien
saling percaya percaya mengatakan masih
2. Pasien dapat 2. Berdiskusi merasa malu dan
memberikan dengan pasien minder
informasi tentang tentang
dirinya keuntungan O:
3. Pasien mampu berinteraksi - Kontak mata
menyebutkan dengan orang lain kurang
keuntungan 3. Berdiskusi - Pasien lebih
berinteraksi dengan dengan pasien banyak diam
orang lain tentang kerugian - Pasien tidak
4. Pasien mampu tidak berinteraksi bicara jika tidak
menyebutkan dengan orang lain. diajak bicara
kerugian berinteraksi 4. Mengajarkan
dengan orang lain pasien cara A:
5. Pasien dapat berkenalan - Pasien mampu
melaksanakan dengan orang lain. menyebutkan
hubungan sosial keuntungan
secara bertahap berinteraksi
6. Pasien mampu - Pasien mampu
menjelaskan menyebutkan
perasaan setelah kerugian tidak
berhubungan dengan berinteraksi
orang lain. dengan orang
lain.

P:
P : Ajarkan pasien

82
cara berkenalan
dengan orang lain
K : Dorong pasien
untuk mau
berinteraksi
dengan orang lain.

Sabtu, 20 Agustus Isolasi sosial 1. Pasien dapat 1. Membina S:


2016 membina hubungan hubungan saling Pasien
saling percaya percaya mengatakan malas
2. Pasien dapat 2. Mengajarkan bercakap-cakap
melaksanakan pasien cara
hubungan sosial berkenalan O:
secara bertahap dengan orang lain. - Pasien tampak
3. Pasien mampu menyendiri
mengungkapkan - Kontak mata
perasaan setelah kurang
berhubungan dengan - Pasien tidak
orang lain. bias memulai
pembicaraan

A:
Pasien belum
mampu
berkenalan
dengan orang lain

P:
P : Ajarkan pasien
teknik berinteraksi
dengan baik
K : Dorong pasien
takut berinteraksi.

83
84
BAB IV
TELUSURAN EVIDENCE BASE NURSING
A. Analisa PICO

NO. JURNAL POPULATION INTERVENTION COMPARATOR OUTCOME


1. Eyvin Berhimpong, 30 pasien isolasi Latihan Dalam pendahuluan tercantum Hasil analisis dengan
Sefty Rompas, sosial Ketrampilan Sosial data WHO (2013) lebih dari 450 menggunakan uji
Michael juta orang dewasa secara dunia Wilcoxon Signed Rank
Karundeng mengalami gangguan jiwa dan menyatakan bahwa nilai
data Kementerian Kesehatan signifikansi adalah 0,000
(2013) jumlah gangguan jiwa di atau lebih kecil dari nilai
Indonesia lebih dari 28 juta orang signifikansi 0,05 (0,000
dengan kategori gangguan jiwa < 0,005). Dari hasil
ringan 14,3%, dan 17% atau 1000 diatas didapatkan
orang menderita gangguan jiwa kesimpulan bahwa Ho
berat. Berdasarkan data rekam ditolak atau terdapat
medik di RSJ. Prof. Dr. V. L. pengaruh penerapan
Ratumbuysang Manado, jumlah latihan ketrampilan
skizofrenia sebanyak 129 orang sosialisasi terhadap
dan pasien isolasi sosial yang kemampuan berinteraksi
dirawat sampai pada bulan pasien isolasi sosial di
September 2015 sebanyak 34 Rumah Sakit Jiwa Prof.
jiwa. Teknik pengambilan sampel Dr. V. L. Ratumbuysang
adalah total populasi yaitu Manado.
mengambil keseluruhan populasi
untuk dijadikan sampel. Sampel
penelitian ini berjumlah 30 pasien
isolasi sosial dengan
menggunakan desain penelitian
pra eksperimental one group pre
test post test.
2. Abdul Wakhid, 18 pasien isolasi Latihan Dalam pendahuluan tercantum Hasil penelitian

85
Achir Yani S. sosial Ketrampilan Sosial data dari WHO (2009) didapatkan rata-rata
Hamid, Novy Dengan memperkirakan sebanyak 450 juta respon secara
Helena CD Pendekatan Model orang diseluruh dunia mengalami keseluruhan pada
Hubungan gangguan mental dan data WHO masalah isolasi sosial
International (2006) mengungkapkan bhawa 26 sebelum diberikan terapi
Peplau juta penduduk Indonesia latihan keterampilan
mengalami gangguan jiwa, sosial sebesar 93,11 dan
dimana panik dan cemas adalah sesudah diberikan terapi
gejala yang paling ringan. sebesar 60,56. Itu berarti
Gambaran gangguan jiwa berat di hampir seluruh pasien
Indonesia pada tahun 2007 telah mampu melakukan
memiliki prevalensi sebesar 4,6 latihan berbicara yang
permil. Menurut Pusat Data dan baik, melakukan latihan
Depkes RI (2009) diperkirakan berbicara untuk menjalin
pada tahun 2007, Indonesia persahabatan, melakukan
mengalami gangguan jiwa latihan berbicara untuk
sebanyak 1.037.454 orang dan bekerja sama dan
Provinsi Jawa Barat yang melakukan latihan
mengalami gangguan jiwa sebesar berbicara menghadapi
0,22%. Penelitian ini situasi yang sulit.
menggunakan analisis terhadap Pendekatan model
penerapan manajemen terapi hubungan interpersonal
latihan keterampilan sosial pada Peplau dirasakan tepat
pasien isolasi sosial dan harga diri diterapkan pada pasien
rendah dengan pendekatan model dengan masalah isolasi
teori hubungan interpersonal sosial dan harga diri
Peplau (tahap orientasi, rendah karena tahapan-
identifikasi, eksploitasi dan tahapan pemberian
resolusi) yang dilaksanakan asuhan keperawatan
terhadap pasien yang mengalami dalam model hubungan
isolasi sosial dan harga diri rendah interpersonal Peplau
di Ruang Antareja RS. Dr yang terdiri dari thap
Marzoeki Mahdi Bogor sejak orientasi, identifikasi,

86
tanggal 10 September hingga 9 eksploitasi, dan resolusi
November 2012 dengan jumlah dapat diterapkan sesuai
pasien yang mengalami isolasi dengan karakteristik
sosial sebanyak 18 pasien. pasien.

3. Sutejo 13 pasien isolasi Terapi social skills Dalam pendahuluan tercantum Hasil penelitian
sosial yang telah training pada data WHO (2003) yang didapatkan bahwa pasien
diberikan terapi pasien isolasi sosial menjelaskan bahwa sekitar 450 dengan isolasi sosial
spesialis. melalui pendekatan juta orang mengalami gangguan yang hanya mendapatkan
teori Dorothy E. jiwa sedangkan berdasarkan Riset terapi social skills
Johnson Kesehatan Dasar (2007) gangguan training sebanyak 6
Behavioral System jiwa berat di Indonesia sebesar 4,6 orang. Hasil yang
Model. % dan berdasarkan studi awal di diperoleh yaitu pasien
Kelurahan Balumbang sebesar 38 mampu menunjukkan
orang yang mengalami gangguan peningkatan
jiwa sedangkan di Jawa barat keterampilan
prevalensinya 0,22%. Responden berkomunikasi secara
yang mengalami isolasi sosial verbal maupun non
yaitu 18 orang. Pasien dengan verbal serta mampu
isolasi sosial seluruhnya sudah melakukan interaksi
diberikan terapi generalis namun dengan orang lain yang
yang telah diberikan terapi berada disekitarnya.
spesialis social skill training Efektifitas pelaksanaan
hanya berjumlah 13 orang. Hal terapi social skills
tersebut dikarenakan kondisi training pada pasien
pasien yang tidak memungkinkan isolasi sosial dengan
untuk dilakukan terapi social skill pendekatan Behavioral
training yakni pada pasien dengan system Johnson ditujukan
tuna grahita, tuna netra, tuna agar keperawatan lebih
rungu, dan tuna wicara. Asuhan mengembangkan fungsi-
keperawatan pada pasien dengan fungsi perilaku manusia
isolasi sosial di Kelurahan secara optimal.
balumbang Jaya dilakukan

87
berdasrakan penatalaksanan
keperawatan dan medis.
Pengukuran hasil kemampuan
pasien dengan masalah isolasi
sosial dinilai dengan cara
membandingkan hasil pengkajian
awal dengan kondisi setelah
diberikan terapi spesialis
keperawatan jiwa.

4. Arena Putri, Budi 30 pasien yang Terapi social skill Di dalam pendahuluan terdapat Berdasarkan uraian hasil
Anna Keliat, isolasi sosial training dan data masalah kejiwaan Indonesia disimpulkan bahwa
Yossie Susanti Eka family sebesar 19 juta penduduk dan satu respon kognitif, afektif,
Putri psychoeducation. juta diantaranya mengalami fisiologis, perilaku dan
gangguan jiwa berat atau psikosis. sosial mengalami
Berdasarkan data kementerian penurunan atau
kesehatan jumlah gangguan jiwa berkurang tanda dan
berat di Indonesia sekitar 1 juta gejala isolasi sekaligus
jiwa atau 0,46% yang mengalami terjadi peningkatan
gangguan jiwa berat, sedangkan kemampuan pada pasien
19 juta jiwa atau 11,6% setelah diberikan
mengalami gangguan jiwa mental tindakan keperawatan
emosional termasuk depresi. generalis (+) social skills
Jumlah penderita skizoprenia di training (+) family
Indonesia adalah 1% diantara 200 psychoedukasi,
juta penduduk. penurunan tanda dan
Metode yang digunakan adalah gejala dan peningkatan
study serial kasus dan teknik kemampuan lebih tiggi
pengambilan sampel dibandingkan dengan
menggunakan teknik purposive dilakukan kombinasi
sampling. Jumlah sampel dengan terapi social
sebanyak 30 pasien dengan isolasi skills training dan family
sosial. Tindakan yang dilakukan psychoedukasi bila

88
yaitu tindakan spesialis social dibandingkan dengan
skill training dan family hasil bila dilakukan
psychoeducation. Sebanyak 16 terapi social skills
pasien diberikan tindakan social training saja. Dengan
skill training saja dan 14 pasien kata lain pelaksanaan
diberikan tindakan social skill tindakan keperawatan
training dan family generalis dan spesialis
psychoeducation berdampak pada pasien
isolasi sosial yang
berdampak pada
penurunan tanda dan
gejala serta peningkatan
kemampuan pasien.

5. I Nengah Sumirta, 16 pasien perempuan Pelatihan Di dalam pendahuluan terdapat Hasil penelitian ini
I wayan Githa, Ni yang skizofrenia ketrampilan sosial data WHO (2009) bahwa adalah adanya pengaruh
Wayan Ekayanti dengan gejala dengan cara sebanyak 450 juta orang di pelatihan ketrampilan
negatif ( 8 orang bermain peran seluruh dunia mengalami sosial : bermain peran
sebagai kelompok gangguan mental dan di Indonesia terhadap peningkatan
perlakuan dan 8 25 tahun yang lalu sebanyak kemampuan
orang sebagai 1/1000 dan diperkirakan 25 tahun bersosialisasi pada pasien
kelompok kontrol lagi mencapai 3/1000 penduduk. skizofrenia pada
Berdasarkan data RSJ. Prov. Bali kelompok perlakuan
bulan Januari 2014 rata-rata (p=0,005) dan tidak ada
pasien yang mengalami rawat perbedaan nilai pre test
inap sebanyak 266 orang, 92% dan post test pada
diantaranya skizofrenia, 32% kelompok control
halusinasi, 20% kerusakan (p=0,317)
interaksi sosial dan 14% harga diri
rendah. Dalam penelitian ini
menggunakan jenis penelitian
quasy experiment atau
eksperimen semu dengan

89
rancangan pre-post test with
control group design. Teknik
pengambilan sampel
menggunakan purposive sampling
dengan sampelnya 16 pasien
perempuan yang skizofrenia
dengan gejala negtaif (8 orang
sebagai kelompok perlakuan dan
8 orang sebagai kelompok
kontrol).Pada desain ini observasi
dilakukan sebanyak dua kali yaitu
sebelum dan sesudah eksperimen.

6. Mar Rus-Calafell, Tidak dijelaskan Social Skills Tidak ada penjelasan data masalah Prosedur pelatihan
Jose Gutierrez- jumlah sampel Training gangguan jiwa maupun isolasi keterampilan sosial
Maldonado, Joan dalam jurnal. sosial dalam jurnal ini. Intervensi dalam perawatan
Ribas-Sabate and SST dapat difokuskan pada salah psikologis berbasis bukti
Serafin Lemos- satu komponen (kognisi sosial dan untuk komorbiditas
Giraldez kompetensi sosial) atau keduanya gangguan, suasana hati
dalam kombinasi. Secara dan gangguan kecemasan
tradisional, yang paling penting akan lebih efektif
elemen ketika pelatihan diperlakukan. Kombinasi
ketrampilan sosial adalah perilaku pragmatis psikososial
ekspresif (isi pidato dan unsure intervensi, seperti SST
paralinguistic: volume suara, ditambah CBT atau SST
irama, intonasi, gerakan tubuh dan ditambah psikoedukasi
gerakan, jarak interpersonal, dll), bisa jelas meningkatkan
perilaku responsive (persepsi hasil pengobatan dan
sosial, perhatian, pengakuan proses pemulihan pasien.
emosi dan interpretasi), perilaku Generalisasi
interaktif (respon dan reaksi kali, keterampilan sosial untuk
bergantian percakapan dan lingkungan alami pasien
penggunaan sosial) dan faktor adalah jelas salah satu

90
situsional (pengetahuan faktor tantangan utama bagi
budaya dan spesifik tuntutan dokter ketika
kontekstual). Program SST menerapkan SST
biasanya dilakukan oleh psikolog intervensi.
klinis dan durasi mereka dapat
bervariasi 10-22 sesi. Mereka
biasanya diterapkan dalam
kelompok sesi dipimpin oleh
seorang terapis dan co-terapis.
7. Alex Kopelowicz, Populasi 2000 pasein Social skills Pelatihan ketrampilan sosial dapat Pasien skizofrenia dapat
Robert Paul dengan skizofrenia, training dilakukan dengan individu, mempertahankan
Liberman, dan tidak dijelaskan keluarga, dan kelompok. Dalam keterampilan sosial nya
Roberto Zarate sampel dalam jurnal kelompok biasanya melibatkan 4- sampai 2 tahun (durasi
ini. 12 pasien dan khas dipimpin oleh maksimum diukur),
1-2 terapis. Sesi dilakukan 45-90 dimana latihan
menit, tergantung pada tingkat ketranpilan sosial ini
pasien konsentrasi dan control dapat dilakukan di rumah
gejala dan bertemu 1-5 kali per sakit (rawat inap/rawat
minggu. Karena kebanykan pasien jalan), psikiater,
dengan skizofrenia memiliki cacat psikolog, perawat,
meresap, pelatihan keterampilan konselor kesehatan
dapat disampaikan selama periode mental, hidup
waktu yang panjang karena ketrampilan masyarakat,
masing-masing tujuan pribadi dengan mendapatkan dan
pasien yang dicapai secara mempertahankan
berurutan. pekerjaan.

8. Dianna Holden 33 orang (19 orang Social skills Latihan keterampilan sosial dalam Hasil tidak mendukung
Conner kelompok perlakuan training jurnal ini dilakukan dengan dua hipotesis utama yang
dan 14 orang kelompok yaitu kelompok meningkatkan
kelompok kontrol) perlakuan dan kelompok kontrol. keterampilan sosial dan
Dengan jumlah sampel 33 orang, kognitif pada kelompok
19 orang kelompok perlakuan dan perlakuan. Peserta

91
14 orang kelompok kontrol. dengan memori yang
lebih baik dan perhatian
pada pra pengujian juga
tidak menunjukkan
keuntungan dalam
peningkatan
keterampilan sosial.
Kelompok kontrol
meningkat paling pada
beberapa tindakan sosial
dan kognitif.

B. Kelebihan dan Kekurangan

NO. KELEBIHAN KEKURANGAN


1. 1. Abstrak pada jurnal jelas sehingga pembaca dapat mengetahui 1. Tidak adanya penjelasan tentang standar operasional
hasil penelitian secara umum prosedur latihan ketrampilan sosial
2. Di pendahuluan secara jelas adanya data masalah gangguan jiwa 2. Pada pendahuluan, penjelasan tentang latihan
di dunia, Indonesia, dan tempat penelitian. ketrampilan sosial kurang lengkap dan jelas.
3. Metode penelitian menggunakan satu kelompok dengan observasi 3. Tidak terdapat adanya saran
pre dan post test
4.Memaparkan secara jelas dan lengkap latar belakang dari
permasalahan dan tempat yang dijadikan tempat penelitian.
5. Pembahasan variabel univariat, variabel bivariat, interpretasi dan
diskusi hasil secara lengkap dan jelas.
6. Adanya pembahasan tentang latihan keterampilan sosial

2. 1. Di pendahuluan menjelaskan data masalah gangguan jiwa 1. Pada abstrak kurang jelas karena tidak terdapat metode
menurut WHO dan Indonesia serta dijelaskan alasan membahas penelitian
teori Peplau. 2. Di pendahuluan tidak dijelaskan alasan tentang tempat
2. Hasil dan pembahasan variabel univariat secara lengkap dan jelas. penelitian
3. Adanya penjelasan cara melakukan latihan ketrampilan sosial 3. Hasil dan pembahasan variabel bivariat kurang lengkap

92
dengan pendekatan model hubungan interpersonal Peplau. dan jelas.

3. 1. Di pendahuluan sudah jelas karena tercantum data masalah 1. Di dalam abstrak kurang jelas dan lengkap karena
gangguan jiwa menurut WHO, Indonesia, dan daerah tempat dicantumkan metode penelitian.
penelitian (Kelurahan Balumbang). 2. Di dalam hasil dan pembahasan : tidak terdapat data
2. Dalam jurnal, penjelasan tentang terapi social skills training dan hasil univariat dan bivariat beserta pembahasannya yang
Behavioral Sistem Model milik Johnson secara lengkap dan jelas kurang jelas.
3. Dalam metode penelitian tidak dijelaskan teknik
pengambilan sampel dan cara pengambilan sampelnya.

4. 1. Abstrak dalam jurnal jelas sehingga pembaca dapat mengetahui 1. Di pendahuluan tidak tercantum data masalah gangguan
hasil penelitian secara umum jiwa secara dunia dan data studi awal di tempat penelitian.
2. Adanya penjelasan tentang social skill training dan family 2. Kurang jelasnya data hasil univariat dan bivariat.
psychoeducation.
3. Kesimpulan dan saran sudah jelas agar pembaca dapat lebih
mudah memahami.

5. 1. Abstrak dalam jurnal jelas sehingga pembaca dapat mengetahui 1. Tidak penjelasan dimana tempat penelitian ini dilakukan.
hasil penelitian secara umum. 2. Tidak terdapat saran dalam jurnal
2. Metode penelitian menggunakan quasy experiment atau
eksperimen semu dengan rancangan pre-posttest with control group
design
3. Adanya penjelasan tentang pelatihan keterampilan sosial dengan
cara bermain peran.

6. 1. Penjelasan tentang latihan ketrampilan sosial sudah jelas dan 1. Abstrak kurang jelas dan lengkap sehingga pembaca
lengkap. kurang memahami.
2. Terdapat kesimpulan yang jelas. 2. Tidak terdapat data masalah gangguan jiwa di
pendahuluan.
3. Tidak terdapat metode penelitian, teknik pengambilan
sampel, dan cara pengambilan sampel.

93
7. 1. Pembahasan tentang latihan keterampilan sosial sudah jelas dan 1. Abstrak tidak ada.
lengkap 2. Metode penelitian tidak dijelaskan.

8. 1. Hasil dan Pembahasan tentang latihan keterampilan sosial sudah 1. Abstark kurang jelas.
jelas dan lengkap 2. Metode penelitian tidak dijelaskan.

C. Pembahasan

No. Judul Penelitian Pembahasan


1. Pengaruh Latihan Keterampilan Sosialisasi Pada penelitian ini, pasien isolasi sosial di RSJ. Prof. Dr. V. L.
Terhadap Kemampuan Berinteraksi Pasien Isolasi Ratumbuysang Manado sebelum dilakukan latihan ketrampilan sosialisasi
Sosial pasien paling banyak tidak mampu berinteraksi. Setelah dilakukan latihan
keterampilan sosial banyak pasien dinyatakan mampu berinteraksi dan
didapatkan hasil adanya pengaruh penerapan latihan keterampilan
sosialisasi terhadap kemampuan berinteraksi pasien isolasi sosial di RSJ.
Prof. V. L Ratumbuysang.

2. Penerapan Terapi Latihan Ketrampilan Sosial Pada penelitian ini, faktor predisposisi biologis pasien isolasi sosial dan
Pada Pasien Isolasi Sosial dan Harga Diri Rendah harga diri rendah terbanyak yaitu adanya riwayat genetik sedangkan faktor
Dengan Pendekatan Model Hubungan presipitasi aspek biologis yaitu secara psikologis (keinginan pasien yang
Interpersonal Peplau di RS. Dr. Marzoeki Mahdi tidak terpenuhi). Latihan ketrampilan sosial dapat meningkatkan
Bogor kemampuan sosialisasi pada pasien isolasi sosial dan harga diri rendah.
Semua pasien telah mampu melakukan latihan berbicara yang baik,
melakukan latihan berbicara untuk menjalin persahabtan, melakukan
latihan berbicara untuk bekerjasama dan melakukan latihan berbicara
untuk menghadapi situasi yang sulit. Latihan keterampilan sosial juga
dapat menurunkan tanda dan gejala pada pasien yang mengalami isolasi
sosial dan harga diri rendah. Maka didapatkan hasil bahwa pendekatan
model hubungan interpersonal Peplau dirasakan tepat diterapkan pada
pasien dengan masalah isolasi sosial dan harga diri rendah karena
tahapan-tahapan pemberian asuhan keperawatan dalam model hubungan
interpersonal Peplau yang terdiri dari tahap orientasi, identifikasi,

94
eksploitasi dan resolusi dapat diterapkan sesuai dengan karakteristik
pasien.

3. Penerapan Terapi Social Skills Training Pada Pada penelitian ini, karakteristik pasien dengan maslah isolasi sosial di
Pasien Isolasi Sosial dengan Pendekatan Teori Kelurahan Balumbang Jaya mayoritas berusia dewasa, jenis kelamin
Dorothy E. Johnson Behavioral System Model di sebagian besar laki-laki, banyak yang tidak memiliki pekerjaan,
Kelurahan Balumbang Jaya Kecamatan Bogor pendidikan rata-rata SD. Faktor predisposisi penyebab ioslasi sosial paling
Barat Kota Bogor. banyak ditemukan adalah pada aspek sosial budaya yaitu kepribadian
tertutup dan memiliki riwayat kehilangan sedangkan faktor presipitasi
yang paling banyak ditemukan pada pasien isolasi sosial yaitu tidak
memiliki pekerjaan dengan jumlah stressor lebih dari dua stressor
dalamnya rata-rata lima tahun. Efektifitas pelaksanaan terapi social skills
training pada pasien isolasi sosial dengan pendekatan Behavioral System
Johnson ditujukan agar keperawatan lebih mengembangkan fungsi-fungsi
perilaku manusia secara optimal. Penerapan terapi social skill training
memberikan dampak yang efektif dalam mengembangkan perilaku positif
khususnya dalam hal kemampuan berinterkasi dengan orang lain sesuai
dengan subsistem perilaku yang dimiliki pasien.

4. Penerapan Terapi Social Skill Training dan Family Pada penelitian ini, faktor predisposisi isolasi sosial yang paling banyak
Psychoeducation terhadap diagnosis isolasi sosial ditemukan adalah aspek biologis yaitu genetik, pada aspek psikologis
di Ruang Arimbi RSMM Bogor tahun 2013 yaitu ketidakmampuan mengungkapkan keinginan dan pada aspek sosial
budaya yaitu masalah ekonomi. Sedangkan faktor presipitasi yang paling
banyak ditemukan pada pasien isolasi sosial yaitu pada aspek biologis
karena putus obat, pada aspek psikologis karena keinginan yang tidak
terpenuhi, pada aspek sosial budaya yaiu masalah ekonomi. Maka
didapatkan hasil bahwa pelaksanaan tindakan keperawatan generalis +
social skill training + family psychoeducation menunjukkan hasil yang
lebih baik dibandngkan dengan pelaksanaan tindakan keperawatan
generalis + social skill training saja,
5. Pelatihan Keterampilan Sosial : Bermain Peran Pada penelitian ini, kemampuan bersosialisasi pada pasien skizofrenia
Terhadap Peningkatan Kemampuan Bersosialisasi sebelum diberikan pelatihan ketrampilan sosial : bermain peran pada
Pasien Skizofrenia. kelompok perlakuan dikategorikan belum mampu dan juga pada

95
kelompok kontrol seluruhnya dikategorikan belum mampu. Kemampuan
bersosialisasi pada pasien skizofrenia sesudah diberikan pelatihan
keterampilan sosial : bermain peran pada kelompok perlakuan seluruhnya
dikategorikan mampu dan kelompok kontrol sebagian dikategorikan
mampu. Maka didapatkan hasil bahwa adanya pengaruh pelatihan
ketrampilan sosial : bermain peran terhadap peningkatan kemampuan
bersosialisasi pada pasien skizofrenia pada kelompok perlakuan dan tidak
ada perbedaan nilai pre test dan post test pada kelompok kontrol.
6. Social skills training for people with Prosedur pelatihan keterampilan sosial dalam perawatan psikologis
schizophrenia: what do we train? berbasis bukti untuk komorbiditas gangguan, suasana hati dan gangguan
kecemasan akan lebih efektif diperlakukan. Kombinasi pragmatis
psikososial intervensi, seperti SST ditambah CBT atau SST ditambah
psikoedukasi bisa jelas meningkatkan hasil pengobatan dan proses
pemulihan pasien. Generalisasi keterampilan sosial untuk lingkungan
alami pasien adalah jelas salah satu tantangan utama bagi dokter ketika
menerapkan SST intervensi.
7. Recent Advances in Social Skills Training for Pasien skizofrenia dapat mempertahankan keterampilan sosial nya sampai
Schizophrenia 2 tahun (durasi maksimum diukur), dimana latihan ketranpilan sosial ini
dapat dilakukan di rumah sakit (rawat inap/rawat jalan), psikiater,
psikolog, perawat, konselor kesehatan mental, hidup ketrampilan
masyarakat, dengan mendapatkan dan mempertahankan pekerjaan.
8. Social skills training for individuals with Hasil tidak mendukung hipotesis utama yang meningkatkan keterampilan
schizophrenia: evaluation of treatment outcome sosial dan kognitif pada kelompok perlakuan. Peserta dengan memori
and acquisition of social and cognitive skills yang lebih baik dan perhatian pada pra pengujian juga tidak menunjukkan
keuntungan dalam peningkatan keterampilan sosial. Kelompok kontrol
meningkat paling pada beberapa tindakan sosial dan kognitif.

96
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan analisa jurnal di atas, bahwa latihan ketrampilan sosial dapat meningkatkan

kemampuan bersosialisasi pada pasien isolasi sosial. Dari 8 jurnal yang telah dianalisis,

jurnal yang direkomendasikan adalah jurnal tentang terapi social skills training dan

family psychoeducation karena terapi latihan ketrampilan sosial dikombinasikan dengan

terapi psikoedukasi keluarga dimana keluarga juga ikut serta dalam latihan keterampilan

sosial sehingga dihasilkan pasien yang mampu dan mandiri dalam berinteraksi dengan

lingkungan dan sekitarnya. Selain itu, dukungan keluarga juga penting dalam

meningkatkan kemampuan bersosialisasi. Intervensi keperawatan khususnya pada pasien

dengan isolasi sosial dilakukan secara komprehensif dan holistic serta terintegrasi

kedalam sistem keluarga sebagai sumber pendukung bagi pasien. Menurut Towsend

(2005) hubungan dalam keluarga merupakan faktor utama yang mempengaruhi

perkembangan terhadap adanya penyakit atau gangguan yang dialami oleh seseorang.

B. Saran

1. Bagi penelitian keperawatan

Peneliti selanjutna dapat menjadikan hasil analisa jurnal ini sebagai sumber informasi

untuk melakukan penelitian terkait penatalaksanaan terapi social skill training pada

pasien isolasi sosial.

2. Bagi pendidikan keperawatan

97
Bidang keperawatan jiwa dapat menjadikan hasil analisa jurnal ini sebagai landasan

untuk pengembangan ilmu keperawatan yang aplikatif terhadap penatalaksanaan

intervensi terapi social skill training.

3. Bagi praktik keperawatan

Perawat dapat meningkatkan pengetahuan dan menjadi bahan masukan serta

pertimbangan, khususnya perawat jiwa dalam memberikan pelayanan keperawatan

dan dapat menjalankan perannya sebagai care provider, dalam hal ini perawat

memberikan asuhan keperawatan berupa intervensi terapi non farmakologis.

98
DAFTAR PUSTAKA
Berhimpong, Eyvin, dkk.(2016).Pengaruh Latihan Keterampilan Sosialisasi Terhadap
Kemampuan Berinteraksi Pasien Isolasi Sosial Di RSJ Prof. Dr. V.L. Ratumbuysang
Manado.Jurnal Keperawatan, 4(1).

Calafell,Mar Rus, et all.(2014).Social skills training for people with schizophrenia:what do we


train?.Behavioral Psychology/Psicologia conductual.22(3),461-477.

Conner, Diana Holden.(2004).Social Skills Training For Individuals With Schizophrenia


Evaluation Of Treatment Outcome And Acquisition Of Social And Cognitive
Skills.Disertasi.University of North Texas

Elisia, Laela, dkk.(2014).Pengaruh Terapi Okupasi Terhadap Kemampuan Berinteraksi Pada


Pasien Isolasi Sosial Di RSJD DR. Amino Gondohutomo Semarang.Jurnal Ilmu
Keperawatan dan Kebidanan.

Hasriana, Muhammad Nur, Sri Angraini.(2013).Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi


Terhadap Kemampuan Bersosialisasi Pada Pasien Isolasi Sosial Menarik Diri Di Rumah
Sakit Khusus Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. Vol 2 (6)

Kopelowicz, Alex, et all.(2006).Recent Advances in Social Skills Training for


Schizophrenia.Schizophrenia Bulletin.32(S1),S12-S23
Lestari, Arena,dkk.(2014).Penerapan terapi social skill training dan family psychoeducation
terhadap diagnosis isolasi sosial di Ruang Arimbi RSMM Bogor Tahun 2013.Depok.FK UI

Nurfitriana.(2011).Pengaruh Terapi Individu Sosialisasi Terhadap Perubahan Perilaku Isolasi


Sosial Pada Pasien Skizofrenia Di Rumah Sakit Grhasia Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta.Naskah Publikasi.Yogyakarta.Psik Stikes Aisyah.

Pinilih, Sambodo Sriadi.(2012).Pengaruh Social Skills Training (SST) Terhadap Keterampilan


Sosialisasi Dan Social Anxiety Pada Remaja Tunarungu di Sekolah Luar Biasa (SLB)
Kabupaten Wonosobo.Tesis.Depok.Universitas Indonesia

Sutejo.(2013).Penerapan Terapi Social Skills Training Pada Pasien Isolasi Sosial Dengan
Pendekatan Teori Dorothy E. Johnson Behavioral System Model di Kelurahan Balumbang
Jaya Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor. Ners Jurnal Keperawatan.9(1),28-38.

Wakhid, Abdul, dkk.(2013).Penerapan Terapi Latihan Keterampilan Sosial Pada Pasien Isolasi
Sosial Dan Harga Diri Rendah Dengan Pendekatan Model Hubungan Interpersonal
Peplau Di RS DR Marzoeki Mahdi Bogor.Jurnal Keperawatan Jiwa.1(1),34-48

99
100