Anda di halaman 1dari 9

CASE REPORT

DIARE AKUT DENGAN DEHIDRASI RINGAN


SEDANG

Disusun oleh:

Runi Arumdari

1161050004

Pembimbing:

dr. Alfred Siahaan, Sp.A

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


PERIODE 24 JULI 29 SEPTEMBER 2017
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
2017

1
I. PENDAHULUAN

Diare akut merupakan buang air besar pada bayi atau anak lebih dari 3x per hari, disertai
perubahan konsistensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang berlangsung
kurang dari satu minggu. Diare akut masih merupakan penyebab utama morbiditas dan
mortalitas anak di negara berkembang dan merupakan salah satu penyebab kematian dan
kesakitan tertinggi pada anak terutama usia di bawah 5 tahun. Di dunia, sebanyak 6 juta anak
meninggal tiap tahunnya karena diare. Di Indonesia, diare masih merupakan penyebab
kematian terbanyak.1

Terdapat banyak penyebab diare pada anak, sebagian besar kasusnya merupakan akibat
dari infeksi virus, bakteri, atau parasit. Keadaan lain juga bisa menyebabkan terjadinya diare
pada anak seperti sindroma malabsorpsi. Terdapat juga beberapa faktor resiko terjadinya diare
pada anak, seperti pemberian ASI secara tidak penuh untuk 4-6 bulan pertama kehidupan bayi,
tidak memadainya penyediaan air bersih, pencemaran air oleh tinja, kurangnya sarana
kebersihan (MCK), kebersihan lingkungan dan pribadi yang buruk, penyiapan dan
penyimpanan makanan yang tidak higienis. Selain itu, faktor-faktor seperti gizi buruk,
imunodefisiensi, berkurangnya keasaman lambung, menurunnya motilitas usus, menderita
campak dalam 4 minggu terakhir dan faktor genetik, juga berpengaruh dalam timbulnya diare
pada anak.1

Seiring dengan terjadinya diare, anak dapat kehilangan banyak cairan dan elektrolit
yang terkandung di dalamnya, sehingga sangat penting untuk menilai apakah anak mengalami
dehidrasi atau tidak dan segera melakukan pemberian cairan pengganti agar tidak terjadi
komplikasi seperti hipovolemia, kolaps kardiovaskuler, dan kematian.1,2 Penatalaksanaan diare
selanjutnya bergantung dari derajat dehidrasi anak dan juga berpegang pada penanganan diare
berdasarkan LINTAS DIARE, yaitu rehidrasi, pemberian zinc selama 10 hari, pemberian ASI-
makan, antibiotik selektif, dan edukasi.

Tujuan dilakukannya penulisan laporan kasus ini adalah untuk mengingatkan kembali
mengenai penatalaksanaan diare pada anak berdasarkan prinsip dasar tatalaksana diare.

2
II. LAPORAN KASUS

Pasien anak laki-laki usia 3 tahun 9 bulan datang ke IGD RS UKI dengan keluhan BAB
cair sejak 18 jam SMRS. Pasien sudah BAB 4 kali, BAB berwarna kuning, konsistensi
cair, terdapat ampas, tidak terdapat darah maupun lendir. BAB tidak menyemprot. BAB tidak
berbau busuk, amis, ataupun asam. Setiap BAB banyaknya gelas aqua. Pasien tidak
mengeluh nyeri di anus pada saat BAB. Sebelumnya pasien mengeluh muntah-muntah sejak 1
hari SMRS. Pasien muntah hampir setiap kali pasien makan atau minum. Muntah hanya berisi
makanan dan cairan yang pasien makan atau minum. Muntah tidak disertai darah dan lendir.
Pasien sudah diberikan Gastrusit dan domperidone oleh ibunya, tetapi keluhan tidak berkurang.
Pasien juga sempat dibawa ke klinik oleh ibunya dan diberikan obat Gastrusit kembali, Namun
keluhan belum juga berkurang. Pasien merasa haus, namun ketika pasien diberi minum, pasien
memuntahkannya. Ibu pasien juga mengeluhkan bahwa pasien tampak rewel. Pasien terakhir
BAK pada 1 jam SMRS, BAK berwarna kuning, banyaknya gelas aqua. Pasien juga
sempat demam dengan suhu 37.7C pada 4 jam SMRS. Pasien juga mengeluh perutnya terasa
sakit. Keluhan sesak napas, kejang, perut kembung, dan lecet di sekitar dubur disangkal.
Riwayat alergi makanan dan obat-obatan disangkal. Pasien belum pernah mengalami keluhan
seperti ini sebelumnya. Keluarga pasien yang tinggal satu rumah dengan pasien tidak ada yang
memiliki keluhan yang sama dengan pasien. Pasien seringkali memakan makanan dengan
tangan setelah bermain di luar rumah tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.

Pada pemeriksaan fisik yang dilakukan saat pasien masuk ke rumah sakit ditemukan
keadaan umum pasien tampak sakit sedang (kesadaran komposmentis, pasien tampak rewel).
Pada pemeriksaan tanda-tanda vital ditemukan frekuensi nadi 96x/menit (kuat angkat, isi
cukup, reguler), tekanan darah 110/70mmHg, frekuensi napas 24x/menit, dan suhu 38C
(axilla). Berat badan dan tinggi badan pasien berturut-turut adalah 16 kg dan 104 cm, dengan
status gizi cukup dinilai berdasarkan kurva WHO weight for height. Mata pasien tampak
cekung dan tidak dapat mengeluarkan air mata. Mukosa bibir pasien tampak kering. Pada
pemeriksaan abdomen, terdapat nyeri tekan di regio epigastrium, hipokondrika sinistra, serta
bising usus terdengar 10x/menit. Turgor kulit abdomen tampak melambat. Hasil laboratorium
hemoglobin 11.6 g/dl, leukosit 13.000 /ul, trombosit 305.000 /ul, hematokrit 35.3%, dan GDS
82 mg/dl. Pasien kemudian dirawat di RS UKI dengan diagnosa awal diare akut et causa virus
dengan dehidrasi ringan sedang dan diberikan cairan RL intravena 1120 cc selama 2 jam
untuk rehidrasi, dilanjutkan dengan pemberian KAEN 3B 15 tpm makro, L-Bio 2x1 sach (PO),

3
paracetamol syrup 4x1.5 cth (PO), domperidone 3x1 cth (PO), Zinc syrup 1x20mg (PO), dan
Oralit 150cc setiap kali pasien BAB.

Setelah 24 jam perawatan, pasien masih mengalami demam dengan suhu 38.3C, BAB
pasien masih cair sebanyak 5x berwarna kuning dengan disertai ampas, sebanyak gelas
aqua. Pasien juga masih mengeluh muntah setiap makan dan minum sehingga pasien menjadi
tidak nafsu makan. Nyeri perut juga masih dirasakan oleh pasien. Pada pemeriksaan fisik sudah
tidak didapatkan tanda-tanda dehidrasi, masih didapatkan nyeri tekan di abdomen regio
epigastrium dan hipokondrika sinistra, serta peningkatan bising usus 10x/menit. Dilakukan
pemeriksaan feses lengkap dengan hasil warna feses kuning, konsistensi lembek, terdapat
lendir, tidak terdapat darah maupun E.Coli dan E.Histolytica, tidak terdapat kista, tidak terdapat
cacing dan telur cacing, terdapat lemak, leukosit sebanyak 0-1/LPB dan eritrosit 3-5/LPB.
Pasien diberikan terapi tambahan berupa metronidazole 3x180mg (IV) dan Ranitidine 15mg
(IV), sedangkan terapi lainnya sama dengan hari sebelumnya.

Setelah 48 jam perawatan, pasien sudah tidak demam dengan suhu terukur 36.4C,
namun BAB pasien masih cair dengan frekuensi sebanyak 5x, berwarna kuning, dengan ampas.
Pasien juga masih muntah namun sudah berkurang frekuensinya. Nafsu makan pasien masih
belum membaik. Nyeri perut pasien sudah berkurang dibandingkan hari sebelumnya. Pada
pemeriksaan fisik tanda-tanda vital dalam batas normal, dan tidak ditemukan kelainan pada
pemeriksaan sistem. Pasien masih mendapat terapi yang sama dengan hari sebelumnya.

Setelah 72 jam perawatan, BAB pasien sudah tidak cair seperti hari sebelumnya. Pasien
BAB 2x dengan konsistensi lembek, disertai ampas dan berwarna kuning. Pasien juga sudah
tidak muntah dan nafsu makannya membaik. Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan kelainan.
Terapi yang diberikan masih sama dengan hari sebelumnya.

Setelah 96 jam perawatan, pasien BAB nya hanya 1x dengan konsistensi lembek,
berwarna kuning kecoklatan dengan disertai ampas. Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan
kelainan. Terapi yang diberikan juga masih melanjutkan terapi hari sebelumnya.

Pasien dipulangkan pada hari ke-5 perawatan karena sudah bebas demam selama 3 hari,
BAB juga sudah tidak cair lagi dan frekuensinya sudah tidak lebih dari 3x dalam sehari. Pasien
juga sudah tidak muntah serta sudah kembali nafsu makan.

4
III. PEMBAHASAN

Seorang anak dapat dikatakan mengalami diare akut bila buang air besarnya lebih dari
3x per hari, disertai perubahan konsistensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah
yang berlangsung kurang dari satu minggu. Cara penularan diare pada umumnya melalui cara
fekal-oral yaitu melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh enteropatogen, atau kontak
langsung tangan dengan penderita atau barang-barang yang telah tercemar tinja penderita atau
tidak langsung melalui lalat.1

Faktor resiko yang dapat meningkatkan penularan enteropatogen antara lain tidak
memberikan ASI secara penuh untuk 4-6 bulan pertama kehidupan bayi, tidak memadainya
penyediaan air bersih, pencemaran air oleh tinja, kurangnya sarana kebersihan (MCK),
kebersihan lingkungan dan pribadi yang buruk, penyiapan dan penyimpanan makanan yang
tidak higienis. Selain hal-hal tersebut, beberapa factor pada penderita dapat meningkatkan
kecenderungan untuk dijangkiti diare antara lain gizi buruk, imunodefisiensi, berkurangnya
keasaman lambung, menurunnya motilitas usus, menderita campak dalam 4 minggu terakhir
dan faktor genetik.1

Pada anak dengan diare yang paling penting adalah menilai ada tidaknya tanda-tanda
dehidrasi, sebab selama anak diare terjadi peningkatan hilangnya cairan dan elektrolit yang
terkandung dalam tinja cair anak.2 Diagnosa diare akut disertai dengan klasifikasi derajat
dehidrasinya, apakah diare akut dengan disertai dehidrasi berat, ringan/sedang, atau tanpa
dehidrasi. Berikut klasifikasi derajat dehidrasi menurut WHO:2

Dehidrasi berat, bila terdapat dua atau lebih dari tanda di bawah ini:
o Letargis/tidak sadar
o Mata cekung
o Tidak bisa atau malas minum
o Cubitan kulit perut kembali sangat lambat (2detik)
Dehidrasi ringan/sedang, bila terdapat dua atau lebih dari tanda di bawah ini:
o Rewel, gelisah
o Mata cekung
o Minum dengan lahap, haus
o Cubitan kulit kembali lambat
Tanpa dehidrasi: tidak terdapat cukup tanda untuk diklasifikasikan sebagai dehidrasi
ringan atau berat

5
Prinsip dasar penanganan diare pada anak mencakup 5 poin, yang dijelaskan melalui
LINTAS DIARE (Lima Langkah Tuntaskan Diare) berikut:3

1. Berikan oralit: rehidrasi sangat penting pada anak dengan diare karena akan
terjadi kehilangan cairan bersamaan dengan BAB cair yang dialaminya.
Dehidrasi merupakan hal yang paling berbahaya karena dapat menyebabkan
hipovolemia, kolaps kardiovaskuler, dan kematian bila tidak ditangani dengan
cepat.1 Pemberian cairan pengganti didasarkan pada derajat dehidrasinya. Bila
terjadi dehidrasi berat, segera berikan cairan ringer laktat atau asetat secara
intravena sebanyak 100ml/kgBB, terbagi dalam 30ml/kgBB/1 jam pertama dan
70ml/kgBB/5 jam berikutnya pada anak di bawah 12 bulan, serta
30ml/kgBB/30 menit pertama dan 70ml/kgBB/2.5 jam berikutnya pada anak
usia 12 bulan 5 tahun. Bila terjadi dehidrasi ringan/sedang, berikan oralit
sebanyak 75ml/kgBB selama 3 jam, tetapi bila anak tidak bisa diberikan
rehidrasi oral, misalnya karena anak muntah-muntah, berikan cairan intravena
sebanyak 70ml/kgBB selama 5 jam untuk anak di bawah 12 bulan dan selama
2.5 jam untuk anak 12 bulan 5 tahun.2
2. Berikat tablet zinc selama 10 hari berturut-turut: zinc merupakan mikronutrien
komponen berbagai enzim yang penting untuk kesehatan dan perkembangan
anak. Zinc antara lain penting untuk sintesis DNA.1,2 Zinc hilang dalam jumlah
banyak selama anak diare. Penggantian zinc ini penting untuk membantu
kesembuhan anak. Zinc diberikan dengan dosis 10mg untuk anak usia di bawah
6 bulan dan 20mg untuk anak usia di atas 6 bulan, masing-masing diberikan
satu kali dalam sehari selama 10 hari.2
3. Teruskan ASI-makan: selama diare, penurunan asupan makanan dan
penyerapan nutrisi serta peningkatan kebutuhan nutrisi, sering secara bersama-
sama menyebabkan penurunan berat badan dan berlanjut ke gagal tumbuh.
Selanjutnya, gangguan gizi dapat menyebabkan diare menjadi lebih parah,
lebih lama dan lebih sering terjadi.2
4. Berikan antibiotik secara selektif: infeksi usus pada umumnya self-limited.1
Antibiotik hanya bermanfaat pada anak dengan diare berdarah (kemungkinan
besar shigellosis), suspek kolera (diare air cucian beras), dan infeksi berat
lainnya yang tidak berhubungan dengan saluran pernapasan.2

6
5. Berikan nasihat pada ibu/keluarga: berikan edukasi kepada ibu/keluarga anak
mengenai cara pemberian oralit, zinc, dan untuk segera membawa anaknya ke
rumah sakit bila timbul tanda-tanda seperti diare berdarah, makan atau minum
sedikit, BAB cair lebih sering, muntah berulang-ulang, mengalami rasa haus
yang nyata, minum sedikit, atau tidak membaik dalam 3 hari.3

Pemberian obat-obatan tambahan lainnya seperti obat anti-emetik juga kadang


diperlukan jika terdapat muntah persisten pada pasien. Keluhan muntah persisten dapat
membatasi terapi rehidrasi oral, sehingga dibutuhkan obat anti-emetik guna membantu
terlaksananya terapi rehidrasi oral. Ondansetron merupakan pilihan obat anti-emetik yang
efektif dan minim efek toksik. Dapat diberikan dosis tunggal ondansetron tablet sebanyak
0.2mg/kgBB.4

Penggunaan probiotik sebagai pencegahan dan terapi pada diare telah berhasil
dilakukan pada negara-negara berkembang. Probiotik berguna dalam mengembalikan flora
normal usus, serta meningkatkan imunitas protektif pasien. Meskipun begitu, penggunaan
probiotik belum menjadi standar dalam tatalaksana diare, dan belum teridentifikasi jenis
organisme mana yang paling efektif.4

IV. ANALISA KASUS

Pasien ini didiagnosis diare akut et causa virus berdasarkan anamnesis, yaitu terdapat
BAB cair lebih dari 3x dalam sehari, tanpa disertai lendir atau darah dan berlangsung kurang
dari satu minggu. Pada pasien ini keluhan BAB cair terjadi sejak 18 jam SMRS.

Berdasarkan anamnesis, didapatkan dua tanda dehidrasi ringan/sedang, yaitu anak


tampak haus dan rewel. Kemudian, dari pemeriksaan fisik ditemukan juga tanda-tanda
dehidrasi seperti mata cekung dan turgor yang kembali lambat. Pasien ini dapat diklasifikasikan
ke dalam diare akut dengan dehidrasi ringan/sedang, dimana pada anak ini didapatkan 4 tanda
dehidrasi ringan/sedang menurut WHO.

Oleh karena pasien ini mengalami dehidrasi ringan/sedang, maka seharusnya


penatalaksanaan rehidrasi yang diberikan adalah oralit sebanyak 75ml/kgBB selama 3 jam.
Namun, pada pasien ini terdapat keluhan muntah yang terjadi setiap pasien diberi minum dan
makan. Oleh karena itu, diberikan terapi rehidrasi melalui cairan intravena sebanyak
70ml/kgBB selama 5 jam untuk anak di bawah 12 bulan dan selama 2.5 jam untuk anak 12

7
bulan 5 tahun. Pasien ini berusia 3 tahun 9 bulan dengan berat badan 16 kg, maka pada anak
ini harus diberikan cairan sebanyak 1120 ml selama 2.5 jam. Pada kasus, pasien ini juga telah
diberikan cairan yang sesuai dengan teori.

Pemberian zinc pada anak diberikan dengan dosis 10mg untuk anak usia di bawah 6
bulan dan 20mg untuk anak usia di atas 6 bulan, masing-masing diberikan satu kali dalam
sehari selama 10 hari. Pada pasien sudah diberikan zinc sesuai dengan teori, yaitu zinc 20mg
satu kali sehari.

Pemberian antibiotik pada anak dengan diare hanya bermanfaat pada diare berdarah,
diare air cucian beras atau kolera, dan infeksi-infeksi berat lainnya yang tidak berhubungan
dengan system pencernaan. Pada pasien ini tidak didapatkan gejala diare berdarah, diare
dengan BAB seperti air cucian beras, maupun infeksi berat pada sistem di luar sistem
pencernaan. Jadi, berdasarkan teori, seharusnya pada pasien ini tidak diberikan terapi
metronidazole. Walaupun pada pemeriksaan feses lengkap ditemukan lemak, tetapi itu bukan
menjadi sebuah indikasi bahwa pasien dapat diberikan metronidazole. Menurut teori,
metronidazole diberikan kepada pasien jika ditemukan darah dan lendir pada feses, dan pada
pemeriksaan feses lengkap ditemukan adanya parasit atau stadium kista dari Entamoeba
histolytica atau Giardia lamblia. Jika dilihat dari gejala, pada pasien ini juga belum cukup
untuk dikatakan mengalami infeksi Entamoeba histolytica atau Giardia lamblia, yang menurut
teori akan mengalami diare berdarah dan nyeri perut bagian bawah pada infeksi Entamoeba
histolytica, dan keluhan kram perut, penurunan berat badan, serta produksi gas berlebih pada
infeksi Giardia lamblia.4

Pada kasus ini juga diberikan terapi tambahan berupa domperidone sebagai anti-emetik,
dan juga probiotik yaitu L-Bio. Jika merunut pada teori, anti-emetik yang diberikan seharusnya
adalah ondansetron dosis tunggal 0.2mg/kgBB karena dinilai lebih efektif. Pemberian
domperidone pada kasus ini tidak sesuai dengan teori yang ada. Sedangkan pemberian
probiotik dalam kasus ini sesuai dengan teori.

Dapat disimpulkan bahwa penegakkan diagnosis pada pasien ini sudah dilakukan
berdasarkan teori yang ada, meskipun pada penatalaksanannya tidak semuanya diberikan
berdasarkan teori, seperti pemberian metronidazole dan domperidone.

8
DAFTAR PUSTAKA

1. Subagyo Bambang. Diare Akut. Penyunting Juffrie M, Soenarto SSY, Oswari H, Arief
S, Rosalina I, Mulyani NS. Buku Ajar Gastroenterologi-Hepatologi Anak. Edisi 1. Penerbit
IDAI 2015;87-117.

2. WHO. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Cetakan 1. 2009: 131-
45.

3. Buku Saku Petugas Kesehatan: Lintas Diare. Departemen Kesehatan RI. 2011.

4. Bhutta ZA. Acute Gastroenteritis in children. Penyunting Kliegman RM, et al. Nelson
textbook of pediatrics. Edisi 19. Elsevier. 2011:1323-38.