Anda di halaman 1dari 10

Makalah

IDUL ADHA ATA QURBAN


D
I
S
U
S
U
N

Oleh
SRI RESKI AULIA
NASLAH
NUR ANISA
SYAMSUL FAHRI

MTsN TIANAMBUNG
TAHUN PELAJARAN 2017/2018
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, karena atas berkat dan
limpahan rahmat-Nya-lah maka kami bisa menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.
Berikut ini kami mempersembahkan sebuah makalah dengan judul "Strategi dan Perencanaan
Pertumbuhan Ekonomi", yang menurut penulis dapat memberikan manfaat yang besar bagi kita
guna memilih strategi yang tepat untuk pembangunan ekonomi yang tepat untuk Negara. Melalui
kata pengantar ini penulis lebih dahulu meminta maaf dan memohon permakluman bila mana isi
makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang kami buat kurang tepat Dengan ini kami
mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih dan semoga allah SWT
memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat

Penulis
DAFTAR ISI

Bab I Pendahuluan .................................................................................

A. Latar belakang .............................................................................

B. Rumusan Masalah.......................................................................

C. Tujuan .........................................................................................

Bab II Pembahasan ...............................................................................

Bab III Penutup ......................................................................................

A. Kesimpulan ..................................................................................

Daftar Pustaka .......................................................................................


BAB II
PEMBAHASAN

A. Seputar Pengertian Idul Adha (hari raya Kurban)

merupakan hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijah tahun Hijriyah. Seluruh
umat Islam mengagungkan nama kebesaran Allah, takbir selama empat hari berturut-turut. Idul
Adha selalu memberikan makna bagi setiap umat Islam. Bahkan dalam batas-batas tertentu
memiliki makna juga bagi umat lain, karena Idul Adha memiliki misi kemanusiaan yang bersifat
universal.

Seputar Pengertian Idul Adha

Idul Adha adalah sebuah hari raya Islam. Pada hari ini diperingati peristiwa kurban, yaitu ketika
Nabi Ibrahim (Abraham), yang bersedia untuk mengorbankan putranya Ismail untuk Allah, akan
mengorbankan putranya Ismail, kemudian digantikan oleh-Nya dengan domba.

Pada hari raya ini, umat Islam berkumpul pada pagi hari dan melakukan salat Ied bersama-sama di
tanah lapang, seperti ketika merayakan Idul Fitri. Setelah salat, dilakukan penyembelihan hewan
kurban, untuk memperingati perintah Allah kepada Nabi Ibrahim yang menyembelih domba
sebagai pengganti putranya.

Hari Raya Idul Adha jatuh pada tanggal 10 bulan Dzulhijjah, hari ini jatuh persis 70 hari setelah
perayaan Idul Fitri. Hari ini juga beserta hari-hari Tasyrik diharamkan puasa bagi umat Islam.

Pada hari raya idula adha, kaum muslimin selain dianjurkan melakukan shalat sunnah dua rekaat,
juga dianjurkan untuk menyembelih binatang kurban bagi yang mampu. Anjuran berkurban ini
bermula dari kisah penyembelihan Nabi Ibrahim kepada putra terkasihnya yakni Nabi Ismail.

Peristiwa ini memberikan kesan yang mendalam bagi kita. Betapa tidak. Nabi Ibrahim yang telah
menunggu kehadiran buah hati selama bertahun-tahun ternyata diuji Tuhan untuk menyembelih
putranya sendiri. Nabi Ibrahim dituntut untuk memilih antara melaksanakan perintah Tuhan atau
mempertahankan buah hati dengan konsekuensi tidak mengindahkan perintahNya. Sebuah pilihan
yang cukup dilematis. Namun karena didasari ketakwaan yang kuat, perintah Tuhanpun
dilaksanakan. Dan pada akhirnya, Nabi Ismail tidak jadi disembelih dengan digantikan seekor
domba. al Quran surat al Shaffat ayat 102-109.
B. Hal Penting Tentang Idul Adha

1. Melaksanakan ibadah haji. Haji merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilakukan
oleh ummat Islam yang mampu (istathoah), menguasai pengetahuan ibadah haji dan
mampu mengamalkannya, mampu membiayai segala rangkaian ibadah haji ke Baitullah,
mamiliki kesehatan fisik dan psikis untuk menunaikan segala rukun dan sunnah haji ke
Baitullah, dan merasa aman dalam proses perjalanan haji. anda dapat membaca seputar
pengertian ibadah haji.
2. Berqurban merupakan ibadah yang dianjurkan kepada ummat Islam untuk melakukannya,
karena ibadah qurban tidak hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, rabbil izzati,
melainkan mendekatkan diri kita dengan sesama insan, terutama yang seaqidah ketika di
Masjidil Haram dan di Arafah ketika wuquf.
3. turunnya wahyu Allah swt terakhir untuk Rasulullah saw. Jika Idul Fitri diawali dengan
bulan Ramadan suatu waktu yang dipilih oleh Allah swt untuk menurunkan wahyu yang
pertama. Maka wahyu yang terakhir diturunkan menjelang puncak Idul Adha, saat haji
wada Rasulullah saw pada tahun ke 10 H, yang berbunyi: Alyauma akmaltu lakum
diinakum, waatmamtu alaikum nimatii waradliitu lakumul Islaama diinaa.(QS. Al-
Maidah :3) Artinya: "Pada hari ini telah aku sempurnakan bagimu agamamu dan telah
aku sempurnakan nikmatku atasmu dan Aku rela Islam sebagai agama bagimu." Ayat ini
sungguh menggambarkan bahwa keseluruhan ayat Al-Quran telah diturunkan kepada
Rasulullah saw dan diyakini sudah sempurna, karena itu sudah saatnya beliau dipanggil
untuk menghadap-Nya untuk selama-lamanya, ditegaskan pula bahwa Islam sebagai
agama yang diridhai-Nya.

Pengertian Qurban Secara Lengkap Setiap tanggal 10 Dzul Hijjah, semua umat Islam yang
tidak melaksanakan haji merayakan hari raya Idul Adha. Pada hari itu, umat Islam sangat
disunnahkan untuk berqurban dimana mereka menyembelih hewan qurban untuk kemudian
dibagi-bagikan kepada seluruh umat Islam di suatu daerah. Lalu apakah sebenarnya Qurban itu?
Dibawah ini akan dijelaskan secara lengkap.

Qurban berasal dari bahasa Arab, Qurban yang berarti dekat (). Kurban dalam Islam juga
disebut dengan al-udhhiyyah dan adh-dhahiyyah yang berarti binatang sembelihan, seperti unta,
sapi (kerbau), dan kambing yang disembelih pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq
sebagai bentuk taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah.

Dalil Disyariatkannya Kurban

Allah SWT telah mensyariatkan kurban dengan firman-Nya, Sesungguhnya Kami telah
memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu, dan
berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang terputus. (Al-Kautsar:
1 3).

Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagai syiar Allah. Kamu banyak
memperoleh kebaikan dari padanya, maka sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya.
(Al-Hajj: 36).
Keutamaan Ibadah Kurban
Dari Aisyah ra, Nabi saw bersabda, Tidak ada suatu amalan pun yang dilakukan oleh manusia pada hari
raya Kurban yang lebih dicintai Allah SWT dari menyembelih hewan Kurban. Sesungguhnya hewan Kurban
itu kelak pada hari kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulunya dan kuku-kukunya. Dan
sesungguhnya sebelum darah Kurban itu menyentuh tanah, ia (pahalanya) telah diterima di sisi Allah,
maka beruntunglah kalian semua dengan (pahala) Kurban itu. (HR Tirmidzi).

Hukum Berkurban

Ibadah kurban hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Bagi orang yang
mampu melakukannya lalu ia meninggalkan hal itu, maka ia dihukumi makruh. Hal ini
berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Nabi saw pernah
berkurban dengan dua kambing kibasy yang sama-sama berwarna putih kehitam-hitaman dan
bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelih kurban tersebut, dan membacakan nama Allah serta
bertakbir (waktu memotongnya).

Dari Ummu Salamah ra, Nabi saw bersabda, Dan jika kalian telah melihat hilal (tanggal)
masuknya bulan Dzul Hijjah, dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka
hendaklah ia membiarkan rambut dan kukunya. HR Muslim

Arti sabda Nabi saw, ingin berkorban adalah dalil bahwa ibadah kurban ini sunnah, bukan
wajib.

Diriwayatkan dari Abu Bakar dan Umar ra bahwa mereka berdua belum pernah melakukan
kurban untuk keluarga mereka berdua, lantaran keduanya takut jika perihal kurban itu dianggap
wajib.

Hikmah Kurban
Ibadah kurban disyariatkan Allah untuk mengenang Sejarah Idul Adha sendiri yang dialami oleh Nabi
Ibrahim as dan sebagai suatu upaya untuk memberikan kemudahan pada hari Id, sebagaimana yang
disabdakan oleh Rasulullah saw, Hari-hari itu tidak lain adalah hari-hari untuk makan dan minum serta
berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla.

Syarat-syarat Qurban

Binatang yang Diperbolehkan untuk Kurban

Binatang yang boleh untuk kurban adalah onta, sapi (kerbau) dan kambing. Untuk selain yang tiga
jenis ini tidak diperbolehkan. Allah SWT berfirman, supaya mereka menyebut nama Allah
terhadap binatang ternak yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka. (Al-Hajj: 34).

Dan dianggap memadai berkurban dengan domba yang berumur setengah tahun, kambing jawa
yang berumur satu tahun, sapi yang berumur dua tahun, dan unta yang berumur lima tahun, baik
itu jantan atau betina. Hal ini sesuai dengan hadis-hadis di bawah ini:

Dari Abu Hurairah ra berkata, aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, Binatang kurban
yang paling bagus adalah kambing yang jadza (powel/berumur satu tahun). (HR Ahmad dan
Tirmidzi).
Dari Uqbah bin Amir ra, aku berkata, wahai Rasulullah saw, aku mempunyai jadza, Rasulullah
saw menjawab, Berkurbanlah dengannya. (HR Bukhari dan Muslim).

Dari Jabir ra, Rasulullah saw bersabda, Janganlah kalian mengurbankan binatang kecuali yang
berumur satu tahun ke atas, jika itu menyulitkanmu, maka sembelihlah domba Jadza.

Berkorban dengan Kambing yang Dikebiri

Boleh-boleh saja berkurban dengan kambing yang dikebiri. Diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu
Rafi, bahwa Rasulullah saw berkurban dengan dua ekor kambing kibasy yang keduanya
berwarna putih bercampur hitam lagi dikebiri. Karena dagingnya lebih enak dan lebih lezat.

Binatang-Binatang yang Tidak Diperbolehkan untuk Kurban


Syarat-syarat binatang yang untuk kurban adalah bintang yang bebas dari aib (cacat). Karena itu, tidak
boleh berkurban dengan binatang yang aib seperti di bawah ini:
1. Yang penyakitnya terlihat dengan jelas.
2. Yang buta dan jelas terlihat kebutaannya
3. Yang sumsum tulangnya tidak ada, karena kurus sekali.
Rasulullah saw bersabda, Ada empat penyakit pada binatang kurban yang dengannya kurban itu tidak
mencukupi. Yaitu yang buta dengan kebutaan yang nampak sekali, dan yang sakit dan penyakitnya
terlihat sekali, yang pincang sekali, dan yang kurus sekali. (HR Tirmidzi seraya mengatakan hadis ini
hasan sahih).
4. Yang cacat, yaitu yang telinga atau tanduknya sebagian besar hilang.

Selain binatang lima di atas, ada binatang-binatang lain yang tidak boleh untuk kurban, yaitu:
1. Hatma (ompong gigi depannya, seluruhnya).
2. Ashma (yang kulit tanduknya pecah).
3. Umya (buta).
4. Taula (yang mencari makan di perkebunan, tidak digembalakan).
5. Jarba (yang banyak penyakit kudisnya).

Juga tidak mengapa berkurban dengan binatang yang tak bersuara, yang buntutnya terputus, yang
bunting, dan yang tidak ada sebagian telinga atau sebagian besar bokongnya tidak ada. Menurut
yang tersahih dalam mazhab Syafii, bahwa yang bokong/pantatnya terputus tidak mencukupi,
begitu juga yang puting susunya tidak ada, karena hilangnya sebagian organ yang dapat dimakan.
Demikian juga yang ekornya terputus. Imam Syafii berkata, Kami tidak memperoleh hadis
tentang gigi sama sekali.

Waktu Penyembelihan Hewan Kurban

Untuk kurban disyaratkan tidak disembelih sesudah terbit matahari pada hari Iduladha. Sesudah
itu boleh menyembelihnya di hari mana saja yang termasuk hari-hari Tasyrik, baik malam ataupun
siang. Setelah tiga hari tersebut tidak ada lagi waktu penyembelihannya.

Dari al-Barra ra Nabi saw bersabda, Sesungguhnya yang pertama kali kita lakukan pada hari ini
(Iduladha) adalah kita salat, kemudian kita kembali dan memotong kurban. Barangsiapa
melakukan hal itu, berarti ia mendapatkan sunnah kami. Dan barangsiapa yang menyembelih
sebelum itu, maka sembelihan itu tidak lain hanyalah daging yang ia persembahkan kepada
keluarganya yang tidak termasuk ibadah kurban sama sekali.
Abu Burdah berkata, Pada hari Nahar, Rasulullah saw berkhotbah di hadapan kami, beliau
bersabda: Barangsiapa salat sesuai dengan salat kami dan menghadap ke kiblat kami, dan
beribadah dengan cara ibadah kami, maka ia tidak menyembelih kirban sebelum ia salat.

Dalam hadis yang lain, Rasulullah saw bersabda, Barangsiapa yang menyembelih sebelum salat,
maka sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya. Dan barangsiapa yang menyembelih setelah
salat dan khotbah, sesungguhnya ia telah sempurnakan dan ia mendapat sunnah umat Islam.
(HR Bukhari dan Muslim).

Bergabung dalam Berkurban

Dalam berkurban dibolehkan bergabung jika binatang korban itu berupa onta atau sapi (kerbau).
Karena, sapi (kerbau) atau unta berlaku untuk tujuh orang jika mereka semua bermaksud
berkurban dan bertaqarrub kepada Allah SWT.

Dari Jabir ra berkata, Kami menyembelih kurban bersama Nabi saw di Hudaibiyyah seekor unta
untuk tujuh orang, begitu juga sapi (kerbau). (HR Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi)

Pembagian Daging Kurban

Disunahkan bagi orang yang berkurban memakan daging kurbannya, menghadiahkannya kepada
para kerabat, dan menyerahkannya kepada orang-orang fakir. Rasulullah saw bersabda,
Makanlah dan berilah makan kepada (fakir-miskin) dan simpanlah.

Dalam hal ini para ulama mengatakan, yang afdhal adalah memakan daging itu sepertiga,
menyedekahkannya sepertiga dan menyimpannya sepertiga.

Daging kurban boleh diangkut (dipindahkan) sekalipun ke negara lain. Akan tetapi, tidak boleh
dijual, begitu pula kulitnya. Dan, tidak boleh memberi kepada tukang potong daging sebagai upah.
Tukang potong berhak menerimanya sebagai imbalan kerja. Orang yang berkurban boleh
bersedekah dan boleh mengambil kurbannya untuk dimanfaatkan (dimakan).

Menurut Abu Hanifah, bahwa boleh menjual kulitnya dan uangnya disedekahkan atau dibelikan
barang yang bermanfaat untuk rumah.

Orang yang Berkurban Menyembelihnya Sendiri

Orang yang berkorban yang pandai menyembelih disunahkan menyembelih sendiri binatang
kurbannya. Ketika menyembelih disunahkan membaca, Bismillahi Allahu Akbar, Allahumma
haadza an? (Dengan nama Allah dan Allah Maha Besar, ya Allah kurban ini dari ?[sebutkan
namanya]).

Karena, Rasulullah saw menyembelih seekor kambing kibasy dan membaca, Bismillahi wallahu
Akbar, Allahumma haadza anni waan man lam yudhahhi min ummati (Dengan nama Allah,
dan Allah Maha Besar, Ya Allah sesungguhnya (kurban) ini dariku dan dari umatku yang belum
berkurban). (HR Abu Daud dan Tirmidzi).

Jika orang yang berkurban tidak pandai menyembelih, hendaknya dia menghadiri dan
menyaksikan penyembelihannya.
Dari Abu Said al-Khudri ra, Rasulullah saw bersabda, Wahai Fatimah, bangunlah. Dan
saksikanlah kurbanmu. Karena, setetes darahnya akan memohon ampunan dari setiap dosa yang
telah kau lakukan. Dan bacalah: Sesungguhnya salatku, ibadahkukorbankuhidupku, dan
matiku untuk Allah Tuhan semesta Alam. Dan untuk itu aku diperintah. Dan aku adalah orang-
orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah, Seorang sahabat lalu bertanya,
Wahai Rasulullah saw, apakah ini untukmu dan khusus keluargamu atau untuk kaum muslimin
secara umum? Rasulullah saw menjawab, Bahkan untuk kaum muslimin umumnya.

Oleh KH. Ishomuddin (Dosen FAI Univ Darul Ulum Jombang) http://jombang.nu.or.id/apa-dan-bagaimana-
kurban
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Kata kurban berasal dari bahasa arab qurban artinya mendekati atau menghampiri. Sedang
menurut istilah, kurban adalah adalah segala sesuatu yang digunakan untuk mendekatkan diri
kepada Allah baik berupa hewan sembelihan maupun yang lainnya.
Hewan yang boleh dijadikan qurban adalah : unta, sapi, dan kambing (atau domba). Selain tiga
hewan tersebut, misalnya ayam, itik, dan ikan, tidak boleh dijadikan qurban (Sayyid Sabiq, 1987;
Al Jabari, 1994).

DAFTAR PUSTAKA

1. http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-qurban.html