Anda di halaman 1dari 14

Gangguan Psikotik Akut

I. Definisi

Gangguan psikotik akut adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan ketidak

mampuan individu menilai kenyataan yang terjadi, misalnya terdapat halusinasi,

waham atau perilaku kacau/aneh (Maslim, 2001).

Diagnostic and Statistical Manual of Mentaal Disorders edisi keempat

(DSM-IV) mengkombinasikan dua konsep diagnostik menjadi diagnosis

gangguan psikotik singkat. Pertama, gangguan berlangsung singkat, didefinisikan

didalam DSM-IV sebagai kurang dari satu bulan tetapi sekurangnya satu hari;

gejala mungkin memenuhi atau tidak memenuhi kriteria diagnosis untuk

skizofren. Kedua, gangguan mungkin berkembang sebagai respon terhadap

stressor psikososial yang parah atau kelompok stressor. Pengelompokan bersama

kedua konsep tersebut didalam DSM IV sebagai gangguan psikotik singkat ialah

dengan mengingat kesulitan praktis dalam membedakan konsep-konsep tersebut

didalam praktik klinis (Sadock, 2010).

II. Epidemiologi

Pada umumnya gangguan ini dianggap jarang, seperti yang dinyatakan oleh

suatu penelitian tentang perekrutan militer dimana insidens psikosis reaktif

singkat diperkirakan adalah 1,4 per 100.000 yang direkrut. Lebih sering pada

pasien muda daripada pasien lanjut usia, walaupun beberapa kasus melaporkan

adanya riwayat kasus yang memang mengenai orang lanjut usia. Gangguan ini

lebih sering terjadi pada pasien di akhir ketiga untuk awal dekade keempat

kehidupan. Kasus juga telah diakui di kemudian hari. Sebuah studi epidemiologi

1
internasional menemukan kejadian gangguan sampai 2 kali lipat lebih tinggi pada

wanita dibandingkan pada pria. Laporan studi dari Amerika Serikat

mengindikasikan bahkan dominan pada wanita (Sadock, 2010; Susser and

Wanderling, 1994).

Beberapa klinisi mengatakan bahwa gangguan mungkin paling sering pada

pasien dari kelas sosioekonomi rendah dan pada pasien dengan ganggaun

kepribadian yang telah ada sebelumnya (histrionic, narsistik, paranoid, skizotipal,

dan ambang). Orang yang telah mengalami bencana berat atau perubahan kultural

yang besar. Tetapi semua hal tersebut belum dibuktikan benar didalam penelitian

klinis yang terkontrol baik (Sadock, 2010).

III. Etiologi

Faktor psikososial bermakna dianggap menyebabkan psikosis reaktif

singkat, tetapi kriteria tersebut telah dihilangkan dari DSM IV. Perubahan dalam

DSM IV menempatkan diagnosis gangguan psikotik akut didalam kategori yang

sama dengan banyak diagnosis psikiatrik utama lainnya yang penyebabnya tidak

diketahui dan diagnosis kemungkinan termasuk gangguan yang heterogen

(Sadock, 2010).

Pasien dengan gangguan psikotik akut yang pernah memiliki gangguan

kepribadian mungkin memiliki kerentanan biologis atau psikologis kearah

perkembangan gejala psikotik. Walaupun pasien dengan perkembangan psikotik

akut sebagai suatu kelompok mungkin tidak memiliki peninggian insidensi

skizofren didalam keluarganya, beberapa data menyatakan bahwa adanya suatu

peninggian insidensi gangguan mood. Perumusan psikodinamika telah menyadari

2
adanya mekanisme menghadapi (coping mechanism) yang tidak adekuat dan

kemungkianan adanya tujuan sekunder pada pasien dengan gejala psikotik.

Seperti pada teori biologis tentang gangguan, teori psikologis belum disahkan

oleh penelitian klinis yang terkontrol cermat. Teori psikodinamik tambahan

menyatakan bahwa gejala psikotik adalah suatu pertahanan terhadap fantasi yang

dilarang, pemenuhan harapan yang tidak dicapai, atau suatu pelepasan dari situasi

psikososial tertentu (Sadock, 2010).

Penyebabnya belum diketahui secara pasti, tapi sebagian besar di jumpai

pada pasien dengan gangguan kepribadian mungkin memiliki kerentanan biologis

atau psikologis terhadap perkembangan gejala psikotik. Satu atau lebih faktor

stres berat, seperti peristiwa traumatis, konflik keluarga, masalah pekerjaan,

kecelakaan, sakit parah, kematian orang yang dicintai, dan status imigrasi tidak

pasti, dapat memicu psikosis reaktif singkat. Beberapa studi mendukung

kerentanan genetik untuk gangguan psikotik akut (Sadock, 2010).

IV. Gambaran Klinis

Gejala gangguan psikotik akut selalu termasuk sekurang kurangnya satu

gejala psikosis utama, biasanya dengan onset yang tiba-tiba, tetapi tidak selalu

memasukkan keseluruhan pola gejala yang ditemukan pada skizofrenia. Beberapa

klinisi telah mengamati bahwa gejala afektif, konfusi dan gangguan pemusatan

perhatian mungkin lebih sering ditemukan pada gangguan psikotik akut daripada

gangguan psikotik kronis. Gejala karakteristik untuk gangguan psikotik akut

adalah perubahan emosional, pakaian atau perilaku yang aneh, berteriak teriak

atau diam membisu dan gangguan daya ingat untuk peristiwa yang belum lama

3
terjadi. Beberapa gejala tersebut ditemukan pada gangguan yang mengarahkan

diagnosis delirium dan jelas memerlukan pemeriksaan organik yang lengkap,

walaupun hasilnya mungkin negatif (Sadock, 2010).

Pemeriksaan status mental biasanya hadir dengan agitasi psikotik parah

yang mungkin terkait dengan perilaku aneh, tidak kooperatif, agresif fisik atau

verbal, tidak teratur berbicara, berteriak atau kebisuan, suasana hati labil atau

depresi, bunuh diri, membunuh pikiran atau perilaku, kegelisahan, halusinasi,

delusi, disorientasi, perhatian terganggu, konsentrasi terganggu, gangguan

memori, dan wawasan miskin (Bora, 2009).

VI. Diagnosis

Diagnosis untuk gangguan psikotik, didasarkan terutama atas lama gejala.

Untuk gejala psikotik yang berlangsung sekurangnya satu hari tetapi kurang dari

satu bulan dan yang tidak disertai dengan satu gangguan mood, ganggaun yang

berhubungan dengan zat, atau suatu gangguan psikotik karena kondisi medis

umum, diagnosis gangguan psikotik akut kemungkianan merupakan diagnosis

yang tepat. Untuk gejala psikotik yang lebih dari satu hari diagnosis sesuai yang

harus dipertimbangkan adalah gangguan delusional (jika waham merupakan

gejala psikotik utama), gangguan skizofreniform (jika gejala berlangsung kurang

dari 6 bulan) dan skizofrenia (jika gejala telah berlangsung lebih dari 6 bulan)

(Sadock, 2010).

Jadi gangguan psikotik akut diklasifikasikan didalam DSM IV sebagai suatu

gangguan psikotik dengan durasi singkat (Tabel 2.1). Kriteria diagnostik

menentukan sekurang-kurangnya satu gejala yang jelas psikotik yang berlangsung

4
selama satu hari sampai satu bulan. DSM IV menentukan lebih lanjut penentuan

dua ciri: (1) adanya atau tidak adanya satu atau lebih stressor yang jelas dan; (2)

suatu onset pasca persalinan (postpartum) (Sadock, 2010).

Seperti pada pasien psikiatrik akut, riwayat yang diperlukan untuk membuat

diagnosis mungkin tidak dapat diperoleh hanya dari pasien. Walaupun adanya

gejala psikotik mungkin jelas, informasi mengenai gejala prodromal, episode

suatu gangguan mood sebelumnya, dan riwayat ingesti zat psikotomimetik yang

belum lama mungkin tidak dapat diperoleh dari wawancara klinis saja. Disamping

itu, klinis mungkin tidak mampu memperoleh informasi yang akurat tentang ada

atau tidaknya stressor pencetus. Informasi tersebut paling baik dan paling akurat

didapatkan dari seorang sanak saudara atau seorang teman. (Sadock, 2010).

Tabel 2.1.Kriteria Diagnostik Gangguan Psikotik Akut Menurut DSM-IV 298.9


A. Adanya satu atau lebih gejala berikut
Waham
Halusinasi
Bicara terdisorganisasi (misalnya sering menyimpang atau
inkoherensi)
Perilaku terdiorganisasi jelas atau katatonik
Catatan: Jangan masukkan gejala jika merupakan pola respons
yang diterima secara kultural
B. Lamanya suatu episode gangguan adalah sekurangnya satu hari tetapi
kurang dari satu bulan, akhirnya kembali penuh pada tingkat fungsi
pramorbid
C. Gangguan tidak lebih baik diterangkan oleh suatu gangguan mood dengan
ciri psikotik, gangguan skizoafektif atau skizofrenia dan bukan karena efek
fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat yang disalahgunakan,
suatu medikasi) atau kondisi medis umum.

Sebutkan jika:

5
Dengan stressor nyata (psikosis reaktif singkat): jika gejala terjadi segera
setelah dan tampak sebagai respon dari suatu kejadian yang, sendirian
atau bersama sama, akan menimbulkan stress yang cukup besar bagi
hampir setiap orang dalam keadaan yang sama dalam kultur orang
tersebut
Tanpa stressor nyata: jika gejala psikotik tidak terjadi segera setelah atau
tampaknya bukan sebagai respon terhadap kejadian yang sendirian
atau bersama sama akan menimbulkan stress yang cukup besar bagi
hampir setiap orang dalam keadaan yang sama dalam kultur orang
tersebut.
Dengan onset pasca persalinan: jika onset dalam waktu empat minggu
setelah persalinan.

Tabel 2.2.Kriteria Diagnostik Gangguan Psikotik Akut dan Sementara Menurut

PPDGJ-III, F23
1. Menggunakan urutan diagnosis yang mencerminkan urutan prioritas yang

diberikan untuk ciri-ciri utama terpilih dari gangguan ini. Urutan prioritas

yang dipakai ialah :

a. Onset yang akut (dalam masa 2minggu atau kurang = jangka waktu

gejala-gejala psikotik menjadi nyata dan mengganggu sedikitnya

beberapa aspek kehidupan dan pekerjaan sehari-hari, tidak termasuk

periode prodromal yang gejalanya sering tidak jelas) sebagai ciri khas

yang menentukan seluruh kelompok.

b. Adanya sindrom yang khas (berupa polimorfik= beraneka ragam dan

berubah cepat, atauschizoprenia-like = gejala skizofrenia yang

khas).

c. Adanya stress akut yang berkaitan (tidak selalu ada, sehingga

didefinisikan dengan karakter ke 5; x0 = tanpa penyerta stres akut; x1

= dengan penyerta stres akut). Kesulitan atau problem yang


6
berkepanjangan tidak boleh dimasukan sebagai sumber stres dalam

konteks ini.

d. Tidak diketahuinya berapa lama gangguan akan berlangsung.

2. Tidak ada gangguan dalam kelompok ini yang memenuhi kriteria baik

untuk episode manik (F30.-) maupun depresif (F32.-), walaupun

perubahan emosional dan gejala-gejala afektif individu dapat menonjol

dari waktu ke waktu.

3. Tidak ada penyebab organik, seperti : trauma kapitis, delerium atau

demensia. Tidak merupakan intoksifikasi akibat penggunaan alkohol atau

obat-obatan

Penelitian laboratorium spesifik untuk gangguan psikotik Akut tidak ada.

Sejarah, pemeriksaan fisik, dan tes laboratorium dapat membantu membedakan

gangguan psikotik akut dari gangguan psikotik sekunder untuk kondisi umum

medis, delirium, dan berbagai gangguan lainnya. Pekerjaan laboratorium rutin dan

spesifik mungkin diperlukan untuk menyingkirkan penyebab lain dari psikosis.

Gangguan zat-induced psikotik, delirium zat-diinduksi, dan keracunan zat dapat

dibedakan dari gangguan psikotik akut dengan mempertimbangkan onset, tentu

saja, skrining obat urin, dan tingkat alkohol dalam darah (Correll et al., 2008).

Tidak ada studi pencitraan yang diperlukan untuk mendiagnosis gangguan

psikotik akut. Selanjutnya pengujian dengan modalitas seperti computed

tomography (CT), magnetic resonance imaging (MRI), dan

electroencephalography (EEG) dapat dipertimbangkan, namun studi tersebut

7
hanya berguna untuk mendiagnosa kemungkinan penyebab medis psikosis

(Correll et al., 2008).

VIII. Diagnosis Banding

Klinis tidak boleh menganggap bahwa diagnosis yang tepat untuk pasien

yang psikotik akut adalah gangguan psikotik akut, bahkan jika faktor psikososial

pencetus yang jelas ditemukan. Faktor tersebut dapat semata-mata terjadi

bersama-sama. Diagnosis lain yang dipertimbangkan didalam diagnosis banding

adalah sebagai berikut:

Gangguan buatan dengan tanda dan gejala psikologis yang menonjol,

berpura-pura,

Gangguan psikotik karena kondisi medis umum, dan

Gangguan psikotik akibat zat.

Seorang pasien mungkin tidak mau mengakui penggunaan zat gelap, dengan

demikian membuat pemeriksaan intoksikasi zat atau putus zat sulit tanpa

menggunakan tes laboratorium. Pasien dengan epilepsy atau delirium dapat juga

datang dengan gejala psikotik yang dengan ditemukan pada gangguan psikotik

singkat (Sadock, 2010).

Terjadinya episode psikotik selama episode afektif penuh mengecualikan

diagnosis gangguan psikotik akut. Jika gejala psikotik bertahan selama lebih dari

1 bulan, gangguan schizophreniform, gangguan schizoaffective, skizofrenia,

gangguan delusi, gangguan mood dengan ciri psikotik, atau gangguan psikotik

tidak disebutkan secara spesifik (NOS) adalah kemungkinan yang paling penting

untuk dipertimbangkan. Cepat berubah delusi dan cepat berubah suasana hati juga

8
membantu membedakan gangguan psikotik akut dari skizofrenia, gangguan

schizoafektif, dan gangguan delusional (Correll et al., 2008).

Dalam kasus pura-pura sakit, biasanya ada beberapa bukti yang

menunjukkan bahwa penyakit itu pura-pura untuk tujuan dimengerti. Pada

gangguan buatan, sejarah dapat mengungkapkan bahwa gejala yang sengaja

dibuat-buat. Stres psikologis pada individu dengan gangguan kepribadian dapat

memicu periode singkat gejala psikotik. Dalam kasus tersebut, jika gejala menetap

selama lebih dari 1 hari, diagnosis tambahan gangguan psikotik akut dapat

dipertimbangkan (Correll et al., 2008).

IX. Terapi

a. Perawatan di Rumah Sakit

Karena durasi pendek gangguan psikotik akut, pengobatan singkat dan

terfokus untuk menjadi sebagai nonrestrictive. Namun, tetap klinis penting untuk

mencegah pasien dari merugikan diri sendiri atau orang lain. Dengan demikian,

pasien yang mengalami serangan psikotik akut mungkin harus dirawat di rumah

sakit secara singkat sehingga mereka dapat dievaluasi dan keselamatan mereka

terjamin. Jika seorang pasien menjadi agresif dan agresif, pengasingan singkat

atau pembatasan mungkin diperlukan (Karagianis et al., 2001).

Jika seorang pasien psikotik secara akut, perawatan singkat di rumah sakit

mungkin diperlukan untuk pemeriksaan dan perlindungan pasien. Pemeriksaan

pasien membutuhkan monitoring ketat terhadap gejala dan pemeriksaan tingkat

bahaya pasien terhadap dirinya sendiri dan orang lain. Disamping itu, lingkungan

rumah sakit yang tenang dan terstruktur dapat membantu pasien memperoleh

9
kembali rasa realitasnya. Sambil klinisi menunggu lingkungan dan obat

menunjukkan efeknya, pengurungan, pengikatan fisik, atau monitoring berhadap-

hadapan dengan pasien mungkin diperlukan (Sadock , 2010).

b. Farmakoterapi

Dua kelas utama obat yang perlu dipertimbangkan didalam pengobatan

gangguan psikotik adalah obat antipsikotik antagonis resptor dopamine dan

benzodiazepine. Jika dipilih suatu antipsikotik, suatu antipsikotik potensi tinggi,

misalnya haloperidol biasanya digunakan. Khususnya pada pasien yang berada

pada resiko tinggi untuk mengalami efek samping ekstrapiramidal, suatu obat

antikolinergik kemungkinan harus diberikan bersama-sama dengan antipsikotik

sebagai profilaksis terhadap gejala gangguan pergerakan akibat medikasi. Selain

itu, benzodiazepine dapat digunakan dalam terapi singkat psikosis. Walaupun

benzodiazepine memiliki sedikit kegunaan atau tanpa kegunaan dalam pengobatan

jangka panjang gangguan psikotik, obat dapat efektif untuk jangka singkat dan

disertai dengan dengan efek samping yang lebih jarang daripada antipsikotik.

Pada kasus yang jarang benzodiazepine disertai dengan peningkatan agitasi

dan pada kasus yang lebih jarang lagi dengan kejang putus obat (withdrawl

seizure), yang hanya biasanya terjadi pada penggunaan dosis tinggi terus menerus.

Penggunaan obat lain dalam terapi gangguan psikotik singkat, walaupun

dilaporkan di dalam laporan kasus, belum didukung oleh penilitian skala besar.

Tetapi, medikasi hipnotik sering kali berguna selama satu sampai dua minggu

pertama setelah resolusi episode psikotik. Pemakaian jangka panjang medikasi

harus dihindari dalam pengobatan gangguan ini. Jika medikasi pemeliharaan

diperlukan, klinisi harus mempertimbangkan ulang diagnosis (Sadock, 2010).

10
Tujuan dari farmakoterapi adalah untuk mengurangi morbiditas dan untuk

mencegah komplikasi. Kedua agen antipsikotik tipikal dan atipikal telah

digunakan dalam pengobatan gangguan psikotik akut. Setelah serangan akut telah

berakhir, rawat inap lebih lanjut tidak diperlukan. Individu, keluarga, kelompok

dan psikoterapi dapat dipertimbangkan untuk membantu mengatasi stres,

menyelesaikan konflik, dan meningkatkan harga diri dan kepercayaan diri (Brook

et al., 2000).

c. Psikoterapi

Walaupun perawatan dirumah sakit dan farmakoterapi merupakan

kemungkinan untuk mengendalikan situasi jangka pendek, bagian yang sulit dari

terapi adalah integrasi psikologis dari pengalaman kedalam kehidupan pasien dan

keluarganya. Psikoterapi individual, keluarga atau kelompok mungkin

diindikasikan. Diskusi tentang stressor, episode psikotik dan perkembangan

strategi untuk mengatasinya adalah topik utama untuk terapi tersebut. Masalah

yang berhubungan adalah membantu pasien mengatasi kehilangan harga diri dan

kepercayaan (Sadock, 2010).

X. Perjalanan Penyakit dan Prognosis

Menurut definisinya, perjalanan penyakit gangguan psikotik akut adalah

kurang dari satu bulan. Namun demikian, perkembangan gangguan psikiatrik

bermakna tertentu dapat menyatakan suatu kerentanan mental pada pasien.

Sejumlah pasien dengan persentasi yang tidak diketahui yang pertama kali di

klasifikasikan menderita gangguan psikotik singkat selanjutnya menunjukkan

sindroma psikiatrik kronis, seperti skizofrenia dan gangguan mood. Tetapi, pada

11
umumnya pasien dengan gangguan psikotik akut memiliki prognosis yang baik,

dan penelitian di eropa telah menyatakan bahwa 50 sampai 80 persen dari semua

pasien tidak memilki masalah psikiatrik berat lebih lanjut (Kumar, 2011).

Lamanya gejala akut dan residual sering kali hanya beberapa hari. Kadang-

kadang, gejala depresif mengikuti resolusi gejala psikotik. Bunuh diri adalah suatu

keprihatinan pada fase psikotik maupun fase depresif pascapsikotik. Sejumlah

indikator telah dihubungkan dengan prognosis yang baik (Tabel 2.3). Pasien

dengan ciri-ciri tersebut kecil kemungkinannya kemudian akan menderita

skizofrenia atau suatu gangguan mood (Sadock, 2010).

Tabel 2.3 Ciri Prognosis yang Baik untuk Gangguan Psikotik Akut
Penyesuaian yang baik sebelum sakit (pramorbid)

Sedikit ciri schizoid pramorbid

Stressor pencetus yang berat

Onset gejala mendadak

Gejala afektif

Bingung dan bimbang selama psikosis

Sedikit penumpulan afektif

Durasi gejala singkat

Tidak ada keluarga yang skizofrenik

Umumnya, gangguan psikotik akut memiliki prognosis yang baik dan

menjalankan program tersebut dalam waktu kurang dari 1 bulan. Sebuah

prognosis yang baik biasanya dikaitkan dengan onset mendadak, durasi singkat

gejala, dan penyesuaian premorbid yang baik; prognosis sangat menguntungkan

12
bagi pasien yang tidak memiliki riwayat kejiwaan premorbid. Menurut penelitian

di Eropa, 50-80% dari semua pasien tidak memiliki masalah utama lebih lanjut

kejiwaan (Jorgensen and Mortensen, 1990).

Seperti halnya episode psikotik lainnya, resiko bahaya bagi diri sendiri atau

orang lain meningkat dengan episode akut dari gangguan psikotik akut. Beberapa

data menunjukkan bahwa episode psikotik akut dengan onset akut mungkin

merupakan manifestasi awal dari gangguan jiwa berat (pasien mungkin misalnya,

gangguan afektif) berisiko untuk melakukan bunuh diri selama episode psikotik,

terutama ketika gangguan psikotik akut dikaitkan dengan gejala afektif (Correll et

al., 2008).

DAFTAR PUSTAKA

American Psychiatric Association. 2000. Diagnostic and Statistical Manual of Mental


Disorder, 4th Edition. Washington DC. American Psychiatric Association.

Bora E, Yucel M. and Pantelis C. 2009. Cognitive functioning in schizophrenia,


schizoaffective disorder and affective psychoses: meta-analytic study.
British Journal of Psychiatry, 195:475-482

Brook S, Lucey JV and Gunn KP. Intramuscular ziprasidone compared with


intramuscular haloperidol in the treatment of acute psychosis. Ziprasidone
I.M. Study Group. J Clin Psychiatry. Dec 2000;61(12):933-41

13
Correll CU, Smith CW, Auther AM, McLaughlin D, Shah M, Foley C, et al.,
Predictors of remission, schizophrenia, and bipolar disorder in adolescents
with brief psychotic disorder or psychotic disorder not otherwise specified
considered at very high risk for schizophrenia. J Child Adolesc
Psychopharmacol. Oct 2008;18(5):475-90

Jorgensen P, Mortensen PB. Reactive psychosis and mortality. Acta Psychiatr Scand.
Mar 1990;81(3):277-9.

Karagianis JL, Dawe IC, Thakur A, et al. Rapid tranquilization with olanzapine in
acute psychosis: a case series. J Clin Psychiatry. 2001;62 Suppl 2:12-6

Kumar R., et al. 2011. Acute Psychosis as the Initial Presentation of MS: A Case
Report. The International MS Journal. 17.2: 5457.

Kusumawardhani A, Husain AB, et al., 2010. Buku Ajar Psikiatrik. Jakarta: Balai
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Maslim, R. 2001. Diagnosis Gangguan Jiwa : Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III.


Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya

Sadock BJ and Sadock VA. 2010. Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis Ed 2.
Jakarta: EGC.

Susser E and Wanderling J. Epidemiology of nonaffective acute remitting


psychosis vs schizophrenia. Sex and sociocultural setting. Arch Gen
Psychiatry. Apr 1994;51(4):294-301

Trimble MR. and George MS. 2010. Biological Psychiatry 3rd edition. Wiley-
Blackwell.

14