Anda di halaman 1dari 16

Jurnal Reading

PENERAPAN VEIN VIEWER DALAM MEMPERCEPAT KERJA PERAWAT


DAN MENINGKATKAN KENYAMANAN PASIEN
DI RUANG IGD RSMH PALEMBANG

PROGRAMPROFESINERSPSIKFKUNSRI

KeperawatanGawatDarurat& Intensif

Oleh :
Kelompok 2
Aidil Fitrisyah
Indah Oktarita
Rini Puspita Anggraini
Tanty Elnera
Tiara Apriana Putri

PROGRAMSTUDIILMUKEPERAWATAN
FAKULTASKEDOKTERANUNIVERSITASSRIWIJAYA
BAB 1
LATAR BELAKANG

A. Pendahuluan
Revolusi teknologi di bidang kesehatan yang telah dicapai sampai saat ini merupakan
ciri yang bermakna dalam kehidupan modern. Walaupun demikian kekuatan teknologi harus
dimanfaatkan secara hati-hati dan penuh tanggungjawab, untuk menjamin bahwa kita
menerapkan secara efisien dan manusiawi. Penggunaan teknologi kesehatan yang tepat
melibatkan tidak hanya penguasaan ilmu pengetahuan, peralatan teknik atau mesin dan
konsep-konsep tetapi juga untuk mengetahui masalah-masalah ekonomi, etika dan moral
(Raymond, 1998).
Pemanfaatan teknologi di bidang kesehatan dapat dilakukan di berbagai tingkatan
terutama di dalam rumah sakit. Rumah sakit merupakan sarana pelayanan kesehatan, tempat
berkumpulnya orang sakit maupun orang sehat, atau dapat menjadi tempat penularan
penyakit serta memungkinkan terjadinya pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan
(PerMenKes, 2004). Salah satu pelayanan di dalam rumah sakit yang paling sibuk adalah di
Instalasi Unit Gawat Darurat (ACEM, 2014).
Unit Gawat Darurat menurut Australlian College For Emergency Medicine(ACEM)
adalah unit klinis inti dalam rumah sakit yang menangani keadaanpasien di instalasi gawat
darurat, pelayanan di IGD akan mempengaruhi kepuasanpasien secara signifikan dan
mempengaruhi citra rumah sakit. Fungsi instalasigawat darurat adalah untuk menerima
pasien, triase, menstabilkan danmenyediakan manajemen darurat untuk pasien dengan
keadaan kritis, mendesak(ACEM, 2014).
Pelayanan yang cepat dan tepat sangat dibutuhkan di dalam unit pelayanan IGD. salah
satu pelayanan yang paling cepat dan utama di IGD adalah pemberian cairan kepada pasien
melalui infus terutama pada pasien yang harus membutuhkan resusitasi cairan segera.
Pelayanan yang cepat dan utama dalam pemasangan dan pengambilan sampel darah tersebut
dapat terhambat jika terdapat hamatan dalam menjalankannya terutama dari segi
karakteristik pasien seperti edema ekstermitas, obesitas hingga pasien neonatus (ACEM,
2014).
Menurut sebuah studi baru-baru ini, telah diperkirakan bahwa ada hampir 500 juta
veinpunctures dilakukan setiap tahun. Penelitian lain menunjukkan bahwa 95,2-97,3 persen
dari mereka yang sukses dalam upaya pertama yang menunjukkan bahwa sulit untuk
menemukan pembuluh darah di sekitar 14 juta kasus pada percobaan pertama. Juga, 15.000
pasien per hari tergantung pada 4 atau lebih upaya untuk mengambil darah atau cairan
lainnya dari vena menyebabkan mereka mengalami banyak ketidaknyamanan dan rasa sakit.
Menemukan vena untuk akses intravena melalui perifer, sentral, terutama pasien obesitas
dan mereka yang telah memiliki beberapa suntikan obat intravena sering ditemukan menjadi
sulit oleh perawat.
Di pusat-pusat Phlebology, ahli bedah mengandalkan mesin ultrasound untuk
bimbingan pada lokasi dan pemetaan vena yang abnormal untuk mengobati gangguan.
Faktor-faktor seperti obesitas dan vena berukuran kecil menimbulkan tantangan bagi
mereka karena vena tidak teraba atau terlihat. Beberapa perangkat telah dikembangkan
baru-baru untuk membantu perawat dalam mengidentifikasi pembuluh dara pasien dalam
melakukan tindakan pemasangan infus ataupun pengambilan sampel darah. Salah satu
perangkat yang saat ini telah dikembangkan dan diterapkan di berbagai rumah sakit yaitu
vein viewer (Sureshkumar Vivek, 2015)
Vein viewer adalah sebuah alat yang dapat memvisualisasikan sebuah pembuluh
darah sehingga akan meningkatkan kenyamanan pasien dan mempermudah perawat dalam
bekerja. Vein Viewer atau Contrast Enhancer (VCE) merupakan alat untuk melihat posisi vena
dengan memanfaatkan prinsip penyerapan cahaya inframerah oleh darah sehingga darah (pembuluh
darah) terlihat jelas dan diproyeksikan secara real time pada kulit. Perawat dapat menangkap
informasi, proses, dan proyek real-time gambar digital dari pola darah pasien langsung pada
permukaan kulit. Teknologi ini dipatenkan, menggunakan AVIN (Active Vascular
Pencitraan Navigasi), memungkinkan Anda untuk melihat melalui kulit hingga 10mm vena
melihat dalam, bifurcations, katup, real-time isi ulang / pembilasan kapal dan komplikasi
seperti hematoma dari tusukan disengaja meningkatkan Total prosedur akses vaskular,
bukan hanya jarum suntik. (Pratama dan Setiawan 2016)
Sehingga kesimpulannya, kami ingin memberikan sebuah masukan mengenai sebuah
teknologi penerapan vein viewer dalam mempercepat kerja perawat dan meningkatkan
kenyamanan pasien di instalasi gawat darurat RSMH Palembang dalam tindakan
pemasangan infus dan pengambilan sampel darah pasien.
BAB 2
PEMBAHASAN

A. Terapi Intravena
Terapi intravena adalah tindakan yang dilakukan dengan cara memasukkan cairan,
elektrolit, obat intravena dan nutrisi parenteral ke dalam tubuh melalui intravena. Tindakan
ini sering merupakan tindakan life saving seperti pada kehilangan cairan yang banyak,
dehidrasi dan syok, karena itu keberhasilan terapi dan cara pemberian yang aman diperlukan
pengetahuan dasar tentang keseimbangan cairan dan elektrolit serta asam basa. Tindakan ini
merupakan metode efektif dan efisien dalam memberikan suplai cairan ke dalam
kompartemen intravaskuler. Terapi intravena dilakukan berdasarkan order dokter dan
perawat bertanggung jawab dalam pemeliharaan terapi yang dilakukan. Pemilihan
pemasangan terapi intravena didasarkan pada beberapa faktor, yaitu tujuan dan lamanya
terapi, diagnosa pasien, usia, riwayat kesehatan dan kondisi vena pasien. Apabila pemberian
terapi intravena dibutuhkan dan diprogramkan oleh dokter, maka perawat harus
mengidentifikasi larutan yang benar, peralatan dan prosedur yang dibutuhkan serta
mengatur dan mempertahankan system (Susiati,2008)

1. Definisi Pemasangan Infus


Pemasangan infus adalah pemberian sejumlah cairan kedalam tubuh melalui
sebuah jarum ke dalam pembuluh vena (pembuluh balik) untuk menggantikan
cairan/zat-zat mekanan dari tubuh. Pemasangan infus dilakkan pada pasien yang
memerlukan masukan cairan melalui intravena yang mengalami pengeluaran
cairan/nutrisi yang berat, dehidrasi, dan syok (Dougherty, 2010)
Pemasangan Infus adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh melalui
sebuah jarum ke dalam pembuluh vena (pembuluh balik) untuk menggantikan cairan
atau zat-zat makanan dari tubuh.
Keadaan-keadaan yang dapat memerlukan pemberian cairan infus adalah
(Irawati, 2014) :
a) Perdarahan dalam jumlah banyak (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah
b) Trauma abdomen berat (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah)
c) Fraktur tulang, khususnya di pelvis (panggul) dan paha
d) Kehilangan cairan tubuh pada dehidrasi
e) Diare dan demam
f) Luka bakar luas
g) Semua trauma kepala, dada, dan tulang punggung

2. Tujuan pemasangan infus :


Menurut Wayunah, (2011) tujuan umum pasien dalam pemasangan infuse adalah
a) Mempertahankan atau mengganti cairan tubuh yang mengandung air,
elektrolit,vitamin, protein lemak, dan kalori yang tidak dapat dipertahankan secara
adekuat melalui oral
b) Memperbaiki keseimbangan asam basa
c) Memperbaiki volume komponen-komponen darah
d) Memberikan jalan masuk untuk pemberian obat-obatan kedalam tubuh
e) Memonitor tekan Vena Central (CVP)
f) Memberikan nutrisi pada saat system pencernaan di istirahatkan

3. Anatomi fisiologi yang terkait menurut (Potter & Perry, 2006)


a) Permukaan dorsal tangan :
1) Vena Sevalika
2) Vena supervisial dorsalis
3) Ramus Vena Dorsalis
4) Vena Basilika
b) Pemukaan lengan bagian dalam :
1) Vena Basilika
2) Vena Sevalika
3) Vena kubital median
4) Vena Median lengan bawah
5) Vena radialis
c) Permukaan Dorsal kaki :
1) Vena Savenamagna
2) Fleksus Dorsalis
3) Ramus Dorsalis

4. Prinsip pemasangan infuse


Menurut Maria dan Kurnia (2012) prinsip pemasangan infuse adalah sebagai berikut:
a) Pada anak/pediatric
Karena vena klien sangat rapuh hindari tempat-tempat yang mudah
digerakkan/digeser dan gunakan alt pelindung sesuai kebutuhan. Vena-vena kluit
kepalasangat mudah pecah dan memerlukan perlindungan agr tidak mudah
mengalami infiltrasi.
b) Pada lansia
Pada lansia sedapat mengkin gunakan kateter/jarum dengan ukuran paling
kecil (24-26). Ukuran kecil mengurangi trauma pada vena dan memungkinkan
aliran kecil mengurangi trauma pada vena dan memungkinnkan aliran darah lebih
lancar.Kestabilan vena menjadi hilang dan vena akan bergeser dari
jarum.Penggunaan sudut 5-15o saat memasukkan jarum.

5. Indikasi
Menurut Wayunah, (2011) indikasi dalam pemasangan infuse adalah
a) Pada Keadaan emergency resusitasi jantung paru memungkinkan pemberian
obatsecara langsung kedalam intravena.
b) Untuk memberikan respon yang cepat terhadap pemberian obat
c) Untuk memasukkan dosis obat dalam jumlah obat dalam jumlah besar secara terus-
menerus melalui infuse (lidokain, xilokain)
d) Untuk menurunkan ketidaknyamanan pasien dengan mengurangi kebutuhan
denganinjeksi intramuskuler.
e) Untuk mencegah masalah yang mungkin timbul apabila beberapa obat di
campurdalam satu botol.
f) Untuk memasukkan obat yang tidak dapat diberikan secara oral (misal:pada pasien
koma) atau intra muskuler (missal : pasien dengan gangguan koagulasi)

6. Kontraindikasi
Menurut Irawati, (2014) kontraindikasi pasien dalam pemasangan infuse adalah
a) Inflamasi (bengkak, nyeri, demam) dan infeksi di lokasi pemasangan infus.
b) Daerah lengan bawah pada pasien gagal ginjal, karena lokasi ini akan digunakan
untuk pemasangan fistula arteri-vena (A-V shunt) pada tindakan hemodialisis (cuci
darah).
c) Obat-obatan yang berpotensi iritan terhadap pembuluh vena kecil yang aliran
darahnya lambat (misalnya pembuluh vena di tungkai dan kaki).
B. Pengambilan Darah Vena
1. Definisi
Pengambilan darah vena adalah cara pengambilan darah dengan menusuk area
pembuluh darah vena dengan menggunakan spuit. Pengambilan darah vena yaitu suatu
pengambilan darah vena yang diambil dari vena dalam fossa cubiti, vena saphena magna
/ vena supervisial lain yang cukup besar untuk mendapatkan sampel darah yang baik dan
representatif dengan menggunakan spuit atau vacutainer (Chairlan dan Lestari, 2011)

2. Tujuan Tindakan
Tujuan Tindakan dari pengambilan dara vena adalah sebagai berikut, (Muliaty, Dewi,
2012)
a) Untuk mendapatkan sampel darah vena yang baik dan memenuhi syarat untuk
melakukan pemeriksaan.
b) Untuk menurunkan resiko kontaminasi dengan darah (infeksi, needle sticj injury)
akibat vena punctie bagi petugas maupun penderita.
c) Untuk petunjuk bagi petugas yang melakukan pengambilan darah (phlebotomy)
d) Untuk mendapatkan spesimen darah vena tanpa anti koagulan yang memenuhi
persyaratan untuk pemeriksaan kimia klinik dan imunoserologi.
e) Untuk menganalisa kandungan komponen darah, seperti sel darah merah, sel darah
putih, angka leukosit, dan angka trombosit.
f) Darah vena juga dapat digunakan untuk analisa gas darah jika darah arteri tidak dapat
diperoleh, tetapi hanya berguna untuk mengevaluasi pH, PaCO2 dan base excess.

3. Kompetensi dasar lain yang harus dimiliki untuk melakukan tindakan


Tempat-tempat yang dimungkinkan dilakukan pengambilan darah vena adalah
sebagai berikut:
a) Lengan: vena basilika, vena sefalika, vena median cubiti, vena medial-antebrakial,
vena radialis
b) Tungkai: vena saphenous
Ada dua cara dalam pengambilan darah vena, yaitu cara manual dan cara vakum.
Cara manual dilakukan dengan menggunakan alat suntik (syring), sedangkan cara vakum
dengan menggunakan tabung vakum (vacutainer) (Kusumawati, 2015)
Pengambilan Darah Vena dengan Syring
Pengambilan darah vena secara manual dengan alat suntik (syring) merupakan cara
yang masih lazim dilakukan di berbagai laboratorium klinik dan tempat-tempat
pelayanan kesehatan. Alat suntik ini adalah sebuah pompa piston sederhana yang terdiri
dari sebuah sebuah tabung silinder, pendorong, dan jarum. Berbagai ukuran jarum yang
sering dipergunakan mulai dari ukuran terbesar sampai dengan terkecil adalah : 21G,
22G, 23G, 24G dan 25G.
Pengambilan darah dengan suntikan ini baik dilakukan pada pasien usia lanjut dan
pasien dengan vena yang tidak dapat diandalkan (rapuh atau kecil).
Pengambilan Darah Vena Dengan Tabung Vakum
Tabung vakum pertama kali dipasarkan oleh
perusahaan AS BD (Becton-Dickinson) di bawah nama
dagang Vacutainer. Jenis tabung ini berupa tabung
reaksi yang hampa udara, terbuat dari kaca atau plastik.
Ketika tabung dilekatkan pada jarum, darah akan mengalir masuk ke dalam tabung dan
berhenti mengalir ketika sejumlah volume tertentu telah tercapai.
Jarum yang digunakan terdiri dari dua buah jarum yang dihubungkan oleh
sambungan berulir. Jarum pada sisi anterior digunakan untuk menusuk vena dan jarum
pada sisi posterior ditancapkan pada tabung. Jarum posterior diselubungi oleh bahan dari
karet sehingga dapat mencegah darah dari pasien mengalir keluar. Sambungan berulir
berfungsi untuk melekatkan jarum pada sebuah holder dan memudahkan pada saat
mendorong tabung menancap pada jarum posterior.
Keuntungan menggunakan metode pengambilan ini adalah, tak perlu membagi-
bagi sampel darah ke dalam beberapa tabung. Cukup sekali penusukan, dapat digunakan
untuk beberapa tabung secara bergantian sesuai dengan jenis tes yang diperlukan. Untuk
keperluan tes biakan kuman, cara ini juga lebih bagus karena darah pasien langsung
dapat mengalir masuk ke dalam tabung yang berisi media biakan kuman. Jadi,
kemungkinan kontaminasi selama pemindahan sampel pada pengambilan dengan cara
manual dapat dihindari.
Kekurangannya sulitnya pengambilan pada orang tua, anak kecil, bayi, atau jika
vena tidak bisa diandalkan (kecil, rapuh), atau jika pasien gemuk. Untuk mengatasi hal
ini mungkin bisa digunakan jarum bersayap (winged needle).
Jarum bersayap atau sering juga dinamakan jarum kupu-kupu hampir sama
dengan jarum vakutainer seperti yang disebutkan di atas. Perbedaannya adalah, antara
jarum anterior dan posterior terdapat dua buah sayap plastik pada pangkal jarum anterior
dan selang yang menghubungkan jarum anterior dan posterior. Jika penusukan tepat
mengenai vena, darah akan kelihatan masuk pada selang (flash).

4. Indikasi Dan Kontra Indikasi


Menurut Prastika (2011) Indikasi dan Kontraindikasi dalam pengambilan darah
Vena adalah:
Indikasi: Pemeriksaan laboratorium
Kontraindikasi:
a) Jika terdapat tanda-tanda infeksi, infiltrasi, atau trombosis pada tempat penusukan
b) Klien dengan mastektomi yang mengalami gangguan pada tangannya
c) Fistula arteriovenus
d) Lengan yang yang mengalami gangguan atau kelumpuhan
e) Lengan dengan gangguan sirkulasi ataupun neurologis
5. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi dalam pengambilan darah vena adalah (Widhori, 2014)
a) Pembendungan yang terlalu lama akan mempengaruhi hasil pemeriksaan karena akan
terjadi hemokonsentrasi.Pengisapan darah yang terlalu dalam akan menyebabkan
darah membeku dalam spuit, segera pisahkan darah ke dalam tabung sesuai dengan
jenis pemeriksaan.
b) Selama pengambilan darah vena, tidak ada darah yang ke luar. Solusinya, jarum tidak
ada di dalam vena. Tarik jarum periahan-lahan. Jika tidak ada darah yang ke luar,
gerakkan ujung jarum sesuai dengan arah vena. Jika tetap tidak berhasil, tank jarum.
Lakukan penekanan 1 - 2'. Coba lagi pada vena yang lain.
c) Terbentuk hematoma pada tempat penusukan. Solusinya tarik jarum, lakukan
penekanan sampai darah berhenti.
d) Tempat penusukan untuk pengambilan darah vena/arteri terus berdarah. Solusinya
lakukan penekanan 1 - 2 ' untuk pengambilan darah vena dan 5 - 10 ' untuk
pengambilan darah arteri. Cek tempat penusukan dan jika perdarahan terus berianjut,
tekan lebih lama.

C. VeinViewer
1. Definisi
Vein Viewer atau ContrastEnhancer (VCE) adalah alat untuk melihatposisi vena
dengan memanfaatkan prinsippenyerapan cahaya inframerah oleh darahsehingga darah
(pembuluh darah) terlihatjelas dan diproyeksikan secara real timepada kulit. Vein Viewer
menggunakancahaya inframerah untuk menyinaribagian tubuh yang akan diukur.
Sebuahimager CCD menangkap gambar daricahaya inframerah yang terpantul daripasien.
Foto yang dihasilkan imager CCDkemudian diproyeksikan oleh proyektorcahaya tampak ke
pasien dalam posisisejajar dengan sistem pengambilangambar. (Pratama dan Setiawan
2016)
2. Tujuan dan Manfaat
Tujuan dan Manfaat utama dari vein viewer sendiri untuk memvisualisasikan pembuluh
darah vena tubuh terutama mereka yang obesitas, warna kulit gelap dan kendala lainnya
dalam memasang atau mengambil darah vena sehingga akan memudahkan dan
memberikani efektivitas waktu yang lebih baik daripada pencarian vena secara manual,
mencegah terjadinya kegagalan venipuncture ke pasien, mengurangi risiko trombolitis
dan infeksi serta mengurangi cost pengobatan pada pasien (Sureshkumar Vivek, 2015)

3. Cara Kerja Vein Viewer


Veinviewer memproyeksikan gambar seperti gambar di layar film, tapi Veinviewer
melakukan hal ini secara real time membuat kulit pasien "layar". Proyeksi cahaya dekat-
inframerah diserap oleh darah dan tercermin jaringan di sekitarnya. Kami menangkap
informasi, proses, dan proyek real-time gambar digital dari pola darah pasien langsung
pada permukaan kulit. Teknologi ini dipatenkan, menggunakan AVIN (Active Vascular
Pencitraan Navigasi), memungkinkan Anda untuk melihat melalui kulit hingga 10mm
vena melihat dalam, bifurcations, katup, real-time isi ulang / pembilasan kapal dan
komplikasi seperti hematoma dari tusukan disengaja meningkatkan Total prosedur akses
vaskular, bukan hanya jarum suntik (Bawase, 2015)

4. Cara dan Mekanisme Kerja Vein Viewer


a) Blok Diagram
Gambar 4. Blok Diagram Vein Viewer

Veinviewer adalah prototipe yang lebih baru dan sistem komersial telah berganti
nama menjadi Vein Viewer.
Bagian-Bagian Vein Viewer :
1) Kamera
Kamera yang digunakan untuk VCE adalah Sentech STC-kamera CCD 1000 dan
komersial LCD proyektor adalah model Infocus LP290. Kamera dipasang pada
dua goniometers untuk rotasi dalam dua arah. Cermin panas di depan kamera
memantulkan cahaya inframerah karenanya, memungkinkan untuk jatuh pada
kulit dan juga mencerminkan cahaya yang dipancarkan dari kulit subjek kembali
ke kamera untuk itu untuk menangkap gambar.
2) Projector
Cermin panas transparan untuk cahaya tampak dan memancarkan cahaya dari
proyektor ke kulit pasien. Cermin panas selaras sehingga membuat sudut 45o
dengan sumbu optik kamera untuk itu untuk memantulkan cahaya inframerah dan
memungkinkan cahaya dari proyektor yang akan dikirim. Seratus sirkuler diatur
Light Emitting Dioda (LED) dengan panjang gelombang 740nm digunakan untuk
menerangi kulit. Ini adalah ELD-
740-524 Model dan sama spasi. cahaya inframerah yang dipancarkan dari LED ini
telah disebarkan menggunakan dua diffusers LSD20PC10-F10X10 / PSA dari
Fisik Optik Corporation sejak studi eksperimental membuktikan bahwa sumber
cahaya menyebar menawarkan peningkatan yang lebih baik dari vena dengan
menyediakan bahkan pencahayaan. diffuser cahaya membentuk ini menawarkan
efisiensi transmisi yang baik dengan emisi seragam. Dua polarizer dari jenis yang
sama yang digunakan; satu di depan LED untuk polarisasi linear sementara yang
lain digunakan di depan lensa kamera pada sudut yang tepat untuk yang pertama
untuk menghilangkan silau pada gambar dengan cross-polarisasi. Warna cahaya
untuk memproyeksikan gambar kembali ke kulit hijau dalam rangka untuk
menghilangkan gangguan dengan cahaya inframerah yang digunakan untuk
menerangi dan vena gambar. Pembuluh darah tampak gelap pada latar belakang
hijau. Seluruh set-up mekanis selaras untuk presisi.
3) Processing Unit
Unit pengolahan yang terkandung komputer dengan 12-bit video capture card
yang bisa menangkap data video analog progressive scan dari kamera. Gambar-
gambar tersebut diolah menggunakan prosesor komputer Pentium IV untuk
meningkatkan kontras dari pembuluh darah menggunakan metode perangkat
tambahan tepi masking unsharp adaptif. Adaptif tepi perangkat tambahan yang
tersedia untuk peningkatan tingkat kontras dekat saturasi gambar di segala tempat
pada gambar, sangat meningkatkan kontras yang ditawarkan oleh gambar kamera
asli.
(Varma, Sahane, Thakre, 2014)
BAB 3
KESIMPULAN DAN SARAN

Vein viewer adalah sebuah alat yang dapat memvisualisasikan sebuah pembuluh
darah sehingga akan meningkatkan kenyamanan pasien dan mempermudah perawat dalam
bekerja. Vein Viewer atau Contrast Enhancer (VCE) merupakan alat untuk melihat posisi vena
dengan memanfaatkan prinsip penyerapan cahaya inframerah oleh darah sehingga darah
(pembuluh darah) terlihat jelas dan diproyeksikan secara real time pada kulit. Perawat dapat
menangkap informasi, proses, dan proyek real-time gambar digital dari pola darah pasien
langsung pada permukaan kulit. Vien viewer ini dapat digunakan dalam pemasangan
infuse dan pengambilan sampel darah vena. Selain mempermudah vien viewer ini juga
dapat menghemat atau meminimalisir waktu apalagi di gunakan di ruangan IGD yang
begitu banyak pasien yang datang dan harus epat dan tepat dalam penanganannya.
DAFTAR PUSTAKA
ACEM. 2014. Emergency Departement Design. Guidelines. G15. Third Section, Australian
Collage For Emergency Medicine

Bawase Agha. 2015. Infrared Hand Vein detection sytem. IOSR. Journal of Electronics and
Communication Engineering (IOSR-JECE)e- ISSSN: 2278-2834p-ISSN:2278-8735
PP 48-52

Chairlan dan Lestari. 2011. Pedoman Teknik Dasar Untuk Laboratorium Kesehatan (Manual
Of Basic Techniques For Health Laboratory) Edisi 2. Jakarta: EGC

Dougherty, L., dkk. 2010 Standards For Infusion Therapy: The RCN therapy forum.

Irawati Nurma. 2014. Gambaran Pelaksanaan Pemasangan Infus Yang Tidak Sesuai SOP
Terhadap kejadian Flebitis Di RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Kabupaten
Wonogiri. file:///C:/Users/888/Downloads/01-gdl-nurmairawa-548-1-nurma.pdf
diakses pada tanggal 19 Oktober 2017

Kusumawati. 2015. Hubungan Pelaksanaan Standart Prosedur Operasional Pengambilan


Darah Vena Dengan Kejadian Phlebitis di RSI Siti Hajar Sidoharjo.
file:///C:/Users/888/Downloads/MANUSKRIP%20SARI%20DEWI.pdf diakses pada
tanggal 22 Oktober 2017.

Maria dan Kurnia. 2012. Kepatuhan Perawat Dalam Melaksanakan Standar Prosedur
Operasional Pemasangan Infus Terhadap Phlebitis. Jurnal Stikes Vol 5(1)

Muliaty, Dewi. 2012. Petunjuk praktis teknik-teknik plebotomi, laboratorium Klinik Prodia.
http://fk.unsoed.ac.id/sites/default/files/img/modul%20labskill/genap%20I/Genap%20
I%20-%20Analisa%20Gas%20darah%20dan%20injeksi.pdf diakss pada tanggal 21
Oktober 2017

Potter & Perry. 2006. Fundamental keperawatan: Konsep, Proses dan Praktik. Jakarta: EGC

Prastika D, et al. (2011). Kejadian Phlebitis di Rumah Sakit Umum


Daerah Majalay. http://download.portalgaruda.org/article.php?arti
cle=103607&val=1378. Diunduh pada tanggal 19 Oktober 2017

Setiawan. 2016. Vein Viewer (Pembacaan Letak Pembuluh Darah Vena).


http://digilib.poltekkesdepkes-sby.ac.id/public/POLTEKKESSBY-Studi-739-
DraftSeminar.pdf diakses pada tanggal 20 oktober 2017

Sureshkumar vivek, etc (2015) Electronik Vein Finder. Vol 4(10)


https://www.ijarcce.com/upload/2015/october-15/IJARCCE%2083.pdf diakses pada
tanggal 20 oktober 2017

Susiati, 2008, Keterampilan Keperawatan Dasar, Paket 1, Erlangga Medical Series, Jakarta

Varma, Sahane, Thakre. 2014. Infrared VeinViewer. Vol 2( 1).


Wayunah. 2011. Hubungan Pengetahuan Perawat Tentang Terapi Infus dengan Kejadian
Flebitis dan Kenyamanan Pasien diruang Rawat Inap RSUD Kabupaten Indramayu.
Tesis. Universitas Indonesia Jakarta

Widhori.(2014). Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan perawat dalam melaksanakan


protap pengambilan sample darah di ruang rawat inap RSUD Padang Panjang.
.http://jurnal.umsb.ac.id/w p- content/uploads/2014/09/j urnal-widhori.pdf. Di akses
pada tanggal 22 Oktober 2017