Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Batu empedu biasanya terbentuk dalam kantung empedu dari
konstituen padat empedu dan sangat bervariasi dalam ukuran, bentuk, dan
komposisi. Batu empedu jarang terjadi pada anak-anak dan dewasa muda,
tetapi sering terjadi setelah usia 40 tahun, yang mempengaruhi 30% sampai
40% dari populasi pada usia 80 tahun.
Obstruksi duktus empedu di ikuti oleh kolesistitis akut yang mungkin
berhubungan dengan peningkatan tekanan dan iskemia di kandung empedu
atau iritasi kimia dari organ yang di sebabkan oleh pemajanan jangka panjang
terhadap konsentrat empedu. Infeksi bakteri utama dapat menyebabkan
kolesistitis, tetapi sampai dengan 80% kasus, terjadi batu obstruktif dalam
saluran empedu.
Kolesistitis akut dapat menyebabkan komplikasi dengan abses dan atau
perforasi kandung empedu. Kolesistitis kronis biasanya di hubungkan dengan
batu di dalam duktus bilier dan di manifestasikan oleh intoleran terhadap
makanan berlemak, mual dan muntah, dan nyeri setelah makan.
Kolesthiasis adalah terdapatnya batu pada kandungan empedu dengan
komposisi 3 golongan besar yaitu : batu kolesterol, batu bilirubinat dan batu
pigmen hitam (Sareono Waspadji dr.dkk ; 2001:380).

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian Kolesistitis?
2. Apa etiologi Kolesistitis?
3. Apa saja menifestasi klinis dari Kolesistitis?
4. Apa komplikasi Kolesistitis?
5. Bagaimana patofisiologi?
6. Apa Manifestasi klinis dari Kolesistitis?

1
2

7. Bagaimana pencegahan dan penatalaksanaan dari Kolesistitis?


8. Bagaimana konsep asuhan keperawatan Kolesistitis?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Tujuan Umum
Mahasiswa keperawatan mampu memahami asuhan keperawatan dengan
kolelitiasis.
2. Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu memahami tentang :

1) Menjelaskan pengertian kolelitiasis.


2) Menyebutkan penyebab kolelitiasis.
3) Menyebutkan gambaran klinis dari kolelitiasis.
4) Menjelaskan patofisiologi dan pohon masalah kolelitiasis.
5) Menjelaskan pemeriksaan penunjang dan diagnostic kolelitiasis.
6) Menyebutkan komplikasi kolelitiasis.
7) Menjelaskan penatalaksanaan kolelitiasis.
8) Menjelaskan asuhan keperawatan dengan kolelitiasis.

1.4 Manfaat Penulisan


Manfaat yang dapat diambil sebagai berikut:
1. Mengetahui konsep kolelitiasis
2. Mengetahui asuhan keperawatan pada klien kolelitiasis

1.5 Sistematika Penulisan


Sistematika penulisan dari konsep asuhan keperawatan ini adalah BAB
I PENDAHULUAN yang terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, dan
sistematika penulisan. BAB II KONSEP TEORI yang terdiri dari devinisi,
etiologi, menifestasi klinis, patofisiologi, pathway, penatalaksanaan dan
therapi. BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN yang terdiri dari
pangkajian, contoh analisa data, diagnosa keperawatan, rencana keperawatan,
contoh implementasi dan contoh evaluasi. BAB IV PENUTUP yang terdiri
dari kesimpulan dan saran.
BAB II

KONSEP TEORI

2.1 Definisi
Kolelitiasis adalah inflamasi akut atau kronis dari kandung empedu,
biasanya berhubungan dengan batu empedu yang tersangkut pada duktus
kistik, menyebabkan distensi kandung empedu. Batu empedu di buat oleh
kolesterol, kalsium, bilirubinat, atau campuran disebabkan oleh perubahan
pada komposisi empedu. ( Marlyn E Doengoes, 2000).
Batu empedu adalah endapan satu atau lebih komponen empedu berupa
kolesterol, bilirubin, garam-garam empedu, kalsium dan protein (Sylvia A
Price,1998).
Kolelitiasis adalah obstruksi pada saluran empedu (duktus koledukus)
yang disebabkan oleh batu, yang kemudian menghambat aliran empedu dan
menyebabkan proses inflamasi akut ( Susan Martin Tucker, 1998 ).
Dari beberapa pengertian di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa
kolelitiasis adalah endapan satu atau lebih komponen empedu berupa
kolesterol, bilirubin, garam-garam empedu, kalsium dan protein, yang
kemudian menghambat aliran empedu dan menyebabkan proses inflamasi
akut.
Kolelitiasis/koledokolitiasis merupakan adanya batu di kandung
empedu, atau pada saluran kandung empedu yang pada umumnya komposisi
utamanya adalah kolesterol. (Williams, 2003)

3
4

Gambar kolelitiasis

2.2 Etiologi
2.2.1 Menurut Sarwono Waspadji,1996 penyebab kolelitiasis adalah :
1. Statis cairan empedu
2. Infeksi kuman (E.Coli, klebsiella, Streptokokus, Stapilokokus,
Clostridium).
3. Iskemik dinding kandung empedu.
5

4. Kepekatan cairan empedu.


5. Kolesterol.
6. Lisolesitin.
7. Prostaglandin yang merusak lapisan mukosa dinding kandung empedu
diikuti reaksi supurasi dan inflamasi.
2.2.2 Menurut Mansjoer (2006) terdapat beberapa faktor yang menyebabkan
Kolelitiasis yaitu:
1. Jenis Kelamin
Wanita mempunyai resiko 3 kali lipat untuk terkena Kolelitiasis
dibandingkan dengan pria, ini dikarenakan oleh hormon Estrogen
berpengaruh terhadap peningkatan ekskresi kolestrol oleh kandung
empedu, penggunaan pil kontrasepsi dan terapi hormon (Estrogen)
dapat meningkatkan kolestrol dalam kandung empedu dan penurunan
aktifitas pengosongan kandung empedu.
2. Umur
Resiko untuk terkena Kolelitiasis meningkat sejalan dengan
bertambahnya usia. Orang dengan usia > 60 tahun lebih cenderung
untuk terkena Kolelitiasis dibandingkan dengan orang yang usia
lebih muda.
3. Berat Badan
Orang dengan berat badan tinggi mempunyai resiko lebih tinggi
untuk terjadi Kolelitiasis, ini dikarenakan dengan tingginya Body
Mass Index (BMI) maka kadar kolestrol dalam kandung empedu pun
tinggi, dan juga mengurangi garam empedu serta mengurangi
kontraksi atau pengosongan kandung empedu.
4. Makanan
Intake rendah klorida, kehilangan berat badan yang cepat
mengakibatkan gangguan terhadap unsur kimia dari empedu dan
dapat menyebabkan penurunan kontraksi kandung empedu
5. Faktor Genetik
Orang dengan riwayat keluarga Kolelitiasis mempunyai resiko
lebih besar dibandingkan dengan tanpa riwayat keluarga
6

6. Aktifitas Fisik
Kekurangan aktifitas fisik berhubungan dengan peningkatan
resiko terjadinya Kolelitiasis, ini mungkin disebabkan oleh kandung
empedu lebih sedikit berkontraksi.

2.3 Manifestasi Klinis

Menurut Jennifer P Kowalak,William Welsh, Brenna Mayer , 2001 gejala


klinis kolelitiasis adalah :

1. Nyeri abdomen yang akut pada kuadran kanan atas dan biasa menjalar
ke punggung ,ke daerah diantara kedua scapula atau ke depan dada
rasa ini terjadi sekunder karena inflamasi dan iritasi serabut saraf.
2. Rasa penuh di perut.
3. Distensi abdomen.
4. Kolik akibat lewatnya batu empedu di sepanjang saluran empedu.
5. Mual dan muntah yang dipicu oleh respon inflamasi.
6. Menggigil yang berkaitan dengan demam.
7. Demam dengan derajat rendah (subfebris) yang terjadi sekunder
karena inflamasi
8. Ikterus akibat obstruksi duktus koledokus oleh batu.
9. Perubahan warna urine dan feses.
10. Defisiensi vitamin.

2.4 Klasifikasi
Menurut Sarwono Waspadji ,2006 klasifikasi kolelitiasis adalah :
1. Batu kolesterol
3 faktor utama pembentuk batu kolesterol yaitu: super saturasi
kolesterol, hipomotilitas kandung empedu, dan nukleasi cepat.
Berbentuk oval, multi focal atau mulberry dan mengandung lebih dari
70% kolesterol.
7

2. Batu kalsium-bilirubinat
Batu pigmen coklat terbentuk akibat adanya faktor statis dan
infeksi saluran empedu. Statis dapat disebabkan adanya disfungsi
sfingter oddi, striktur, operasi bilier, dan parasit.
Bila terjadi infeksi saluran empedu, khususnya E.coli, kadar
enzim B-glukoronidase yang berasal dari bakteri akan dihidrolisasi
menjadi bilirubin bebas dan asam glukoranat. Kalsium mengikat
bilirubin menjadi kalsium bilirubinat yang tidak larut.
Didapatkan hubungan erat antara infeksi bakteri dan terbentuknya
batu pigmen coklat. Baik enzim B-glukoronidase endogen maupun
yang berasal dari bakteri ternyata mempunyai peran penting dalam
pembentukan batu pigmen ini. Umumnya batu pigmen coklat ini
terbebtuk da saluran empedu dalam empedu yang terinfeksi.

3. Batu pigmen hitam


Batu pigmen hitam adalah tipe batu yang banyak ditemukan pada
pasien dengan hemolisis kronik atau sirosis hati. Batu pigmen ini
terutama terdiri dari derivate polymerized bilirubin. Patogenesis
terbentuknya batu pigmen ini belum jelas. Umumnya batu pigmen
hitam terbentuk dalam kandung empedu dengan empedu steril.

2.5 Patofisiologi
Menurut Jennifer p kowalak,William welsh,brenna mayer , 2001

Batu empedu hampir selalu dibentuk dalam kandung empedu dan jarang
pada saluran empedu lainnya. Faktor predesposisi yang penting adalah :
Perubahan metabolisme yang disebabkan oleh perubahan susunan
empedu.
Statis empedu
Infeksi kandung empedu
Perubahan susunan empedu mungkin merupakan faktor yang paling
penting pada pembentukan batu empedu. Kolesterol yang berlebihan dan
mengendap dalam kandung empedu.
8

Statis empedu dalam kandung empedu dapat mengakibatkan


supersaturasi progresif, perubahan susunan kimia dan pengendapan unsur
tersebut.
Gangguan kontraksi kandung empedu dapat menyebabkan stasis. Faktor
hormonal khususnya selama kehamilan dapat dikaitkan dengan perlambatan
pengosongan kandung empedu dan merupakan insiden yang tinggi pada
kelompok ini. Infeksi bakteri dalam saluran empedu memegang peranan
sebagian pada pembentukan batu empedu

2.6 Pathway

Penumpukan komponen empedu dan masuknya eschericia


coli dari saluran usus ke dalam saluran kantong empedu

Perubahan cairan empedu dan keseimbangan produksi empedu

Terbentuk inti yang lambat laun menebal dan


mengkristal menjadi batu

Kristal atau batu bergerak atau geser

Menyumbat aliran Menggesek mukosa


empedu saluran empedu

Refluk cairan inflamasi


Perdarahan Nyeri
empedu
Masuk ke dalam kolik/ akut
kolelitiasis pangkreasitis
peredaran darah
Hemoglobin
Defisiansi bilirubin dalam gelap Kulit dan mata
menurun
saluran pencernaan ikterik, urine berwarna

Feses seperti Konjungtiva


Mual, muntah
dempul anemis

Gangguan pola nutrisi Kekurangan volume


cairan
9

2.7 Pemeriksaan penunjang dan diagnostik

Menurut Marlyn E Doengoes, 2000 pemeriksaan diagnostik yang perlu


dilakukan meliputi yaitu:
1. Pemeriksaan darah lengkap
Untuk mengetahui kadar leukositosis, bilirubin, amilase serum, enzim
hati serum-AST(SGOT), ALT(SGPT), LDH dan kadar protrombin.
2. Ultrasonografi.
Menyatakan kalkuli, dan distensi kandung empedu atau duktus
empedu(sering merupakan prosedur diagnostik awal).
3. Kolangiopangk reatografi retrogat endoskopik
Untuk memperlihatkan percabangan bilier dengan kanulasi duktus
koledukus melalui duodenum.
4. Kolangiografi transhepatik perkutaneus
Untuk mengetahui gambaran pembedahan dengan fluoroskopi antara
penyakit kandung empedu dan kanker pangkreas(bila ikterik ada).
5. Kolesistogram(untuk koleasitosis kronis)
Untuk menyatakan batu pada sistem empedu.
6. Skan CT
Dapat menyatakan kista kandung empedu, dilatasi duktus empedu, dan
membedakan antara ikterik obstruksi/non obstruksa.
7. Skan hati(dengan zat radioaktif)
Menunjukkan obstruksi percabangan bilier.
8. Foto abdomen(multi posisi)
Menyatakan gambaran radiologi(klasifikasi) batu empedu, klasifikasi
dinding atau pembesaran kandung empedu.
9. Foto dada
Menunjukkan pernapasan yang menyebabkan penyebaran nyeri.

2.8 Penatalaksanaan

Menurut Menurut Suzanne C. Smeltzer ,2002. penatalaksanaan yang perlu


dilakukan meliputi :
10

2.8.1 Penatalaksanaan non bedah.


1. Penatalaksanaan pendukung dan diet.
80 % dari pasien inflamasi akut kandung empedu sembuh dengan
istirahat, cairan infus, pengisapan nasogastric, analgesic dan
antibiotic. Diit yang dianjurkan adalah tinggi protein dan karbohidrat.
2. Farmakoterapi.
Asam ursodeoksikolat (urdafalk) dan kenodeoksikolat (chenodial,
chenofalk). Fungsinya untuk menghambat sintesis kolesterol dalam
hati dan sekresi dan tidak desaturasi getah empedu.
3. Pengangkatan batu empedu tanpa pembedahan.
Pengangkatan batu empedu : menginfuskan bahan pelarut
(monooktanoin atau metil tertier butyl eter (MTBE) ke dalam
kandung empedu.
Pengangkatan non bedah : dengan lewat saluran T-tube dan
dengan alat jarring untuk memegang dan menarik keluar batu yang
terjepit dalam duktus koleduktus.
4. Extracorporeal shock-wafe lithotripsy.
Metode ini menggunakan gelombang kejut berulang yang
diarahkan pada batu empedu dalam kandung empedu atau duktus
koledokus untuk memecah batu menjadi sejumlah fragmen.
Gelombang kejut tersebut dihasilkan oleh media cairan oleh percikan
listrik yaitu piezoelektrik atau muatan elektromagnetik. Energi
disalurkan kedalam tubuh lewat rendaman air atau kantong berisi
cairan. Setelah batu pecah secara bertahap, pecahannya akan
bergerak perlahan secara spontan dari kandung empedu atau duktus
koledokus dan dikeluarkan melalui endoskop atau dilarutkan dengan
pelarut atau asam empedu peroral.
2.8.2 Penatalaksanaan bedah
1. Praoperatif.
2. Intervensi bedah dan system drainase.
11

3. Kolesistektomi.
paling sering digunakan atau dilakukan : kandung empedu diangkat
setelah arteri dan duktus sistikus diligasi.
4. Minikolesistektomi.
mengeluarkan batu empedu lewat luka insisi selebar 4 cm.
5. Kolesistektomi laparoskopi.
lewat luka insisi kecil melalui dinding abdomen pada umbilicus.
6. Pendidikan pasien pasca bedah.
Berikan informasi kepada pasien dan keluarga tentang tanda dan
gejala komplikasi intra abdomen yang harus dilaporkan : penurunan
selera makan, muntah, rasa nyeri, distensi abdomen dan kenaikan
suhu tubuh.
Saat dirumah perlu didampingi dan dibantu oleh keluarga selama
24 sampai 48 jam pertama.
Luka tidak boleh terkena air dan anjurkan untuk menjaga
kebersihan luka operasi dan sekitarnya.
Masukan nutrisi dan cairan yang cukup, bergizi dan seimbang.
Anjurkan untuk kontrol dan minum obat rutin.
7. Koledokostomi.
insisi lewat duktus koledokus untuk mengeluarkan batu empedu.
8. Pertimbangan gerontologi.

2.9 Komplikasi

Menurut Jennifer p kowalak, William welsh,brenna mayer,2001 komplikasi


kolelitiasis meliputi:
1. Perforasi dan pembentukan abses.
2. Pembentukan fistula.
3. Gangren.
4. Empiema.
5. Kolangitis.
6. Hepatitis.
7. Pankreasitis.
12

8. Ileus batu empedu.


9. Karsinoma.

2.10 Therapi

1. Analgesik, antibiotik, antiemetik, antikolinergik, vitamin K


2. Puasa, Diet dan aktivitas
3. Hisap nasogastrik
4. Cairan parental dengan elektrolit
5. Intervensi operasi : koleksistektomi dengan eksplorasi duktus kolekdukus
atau koleksis totomi.
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN OTITIS MEDIA

3.1 Pengkajian

3.1.1 Identitas Pasien


Nama, umur (biasanya banyak terjadi pada umur 40->60), jenis kelamin (biasanya
banyak terjadi pada wanita),
3.1.2 Riwayat Kesehatan
1. Keluhan utama.
klien mengatakan sering merasa nyeri yang hebat pada abdomen kuadran atas
sebelah kanan
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pada klien kolelitiasis biasanya merasa nyeri pada abdomen,rasa penuh di
perut,mual dan muntah serta menggigil.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasein dadulu sering mengeluh nyeri perut yang sangat hebat di kuadran kanan atas.
4. Riwayat penyakit keluarga
Ada anggota keluarga yang menderita penyakit sama seperti klien

3.1.4 Pemeriksaan
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : lemah, suhu : normal / meningkat, pernafasan meningkat kadang-
kadang chinestoke, nadi meningkat / takikardi, TD : normal.

2. Pemeriksaan Fisik
1) Kepala / leher :konjungtiva pucat, kadang-kadang ikterik pada mucosa, bibir
kering dada : pernafasan cepat dan dangkul / chinestoke.
2) Perut terdapat nyeri tekan dan terasa kaku pada kuadran kanan atas, dispesia,
teraba massa pada abdomen kanan atas.
3) Aktivitas/istirahat
Gejala : Kelemahan
Tanda : Gelisah

13
14

4) Sirkulasi
Tanda : takikardia dan berkeringat
5) Eleminasi

Gejala : perubahan warna urine dan feses

Tanda : distensia abdomen, teraba massa pada kuadran kanan atas, urine gelap,
pekat, feses berwarna tanah liat, steatorea.

6) Makanan / cairan

Gejala : anoreksia, mual, muntah, tidak toleran terhadap lemak dan makanan
pembentuk gas, regurgitasi berulang, nyeri epigastrium, tidak dapat makan,
flatus dispepsia.

Tanda : kegemukan adanya penurunan berat badan.

7) Nyeri / kenyamanan

Gejala : nyeri abdomen atas berat, dpat menyebar ke punggung/ bahu kanan,
nyeri mulai tiba-tiba dan biasanya memuncak dalam 30 menit

Tanda: nyeri lepas otot kejang / kaku bila kuadran kanan atas ditekan.

8) Pernafasan

Tanda: peningkatan frekwensi pernapasan, pernapasan tertekan ditandai oleh


nafas pendek, dangkal

9) Keamanan

Tanda : demam, menggigil, ikteril dengan kulit berkeringat dan gatal.


Kecenderungan perdarahan.

3. Pemeriksaan penunjang
1) DL : leukositosis sedang (akut)
2) Bilirubin dan aminase serum : meningkat
3) SGOT, SGPT, LDH agak meningkat, alkalin fosfat dan 5 nuleotidase, ditandai
peningkatan obstruksi bilier.
15

4) Kadar protombin : menurun


5) Kolesistogram : memgetahui seberapa besar batu pada sistem empedu.
6) Foto polos abdomen : Mengetahui letak batu dan perkiraan besarnya batu.

3.1.5 Pengkajian Pola fungsional Gordon


1. Pola Nutrisi
Biasanya klien mengalami penurunan nafsu makan (anoreksia) dan mual muntah.
2. Pola Istirahat dan Tidur.
Biasanya istirahat dan tidur klien terganggu karena merasakan nyeri.
3. Eliminasi
Biasanya klien mengalami perubahan warna urin dan feses,distensi abdomen dan
teraba masa pada kuadran kanan atas.
4. Sirkulasi
Biasanya klien mengalami takikardi dan berkeringat.
5. Integritas Ego
6. Higiene
7. Neurosensori
8. Nyeri/Ketidaknyamanan
9. Pernafasan
Biasanya klien mengalami peningkatan frekuensi nafas dan pernafasan pendek
dan dangkal.
10. Keamanan
Biasanya klien mengalami gelisah
11. Pola Aktivitas/Istirahat
Biasanya pola aktivitas klien terganggu/ melemah karena merasakan nyeri.

3.2 Diagnosa Keperawatan


1. Nyeri (akut) berhubungan dengan Menggesek mukosa saluran empedu
2. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan
cairan
3. Risiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan anoreksia.
4. Kurang Pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan pengobatan berhubungan dengan
tidak mengenal sumber informasi.
16

3.3 Contoh Perencanaan keperawatan


Nama
No
Tujuan dan KH Intervensi Rasional &
dx
paraf
1 Tujuan :setelah
O 1. oservasi dan catat M 1. memberikan informasi
nmelakukan lokasi, beratnya (s tentang kemajuan/perbaikan
tindakan kala 0-10) dan penyakit, komplikasi dan
keperawatan karakter nyeri keefektifitan
sdelama 2x24 jam (menetap, hilang, Intervensi.
diharapkan Nyeri timbul atau kolik ).
dapr teratasi 2.
Teratasi. 2. 2.Catat repons 2. Nyeri berat yang tidak
KH: terhadap obat dan hilang dapat menunjukkan
-Pasien laporkan bila nyeri adanya komplikasi
mengetahui tidak hilang. 3.
penyebab 3. 3. Tingkatkan tirah 3.Posisi yang nyaman fowler
terjadinya nyeri baring, biaran pasien rendah menurunkan tekanan
-pasien dapat melakukan posisi intraabdomen.
mengatasi nyeri yang nyaman. 4.
-pasien Melaporkan4. 4. Gunakan sprei 4. Menurunkan iritasi kulit dan
nyeri hilang/ yang halus/katun; sensasi gatal.
terkontrol minyak kelapa; 5.
-Menunjukkan minyak mandi(alpha
penggunaan keri).
ketrampilan
relaksasi dan5. 5. Berikan teknik 5. Meningkatkan istirahat dan
aktivitas hiburan relaksasi memusatkan kembali
6. perhatian, dapat menurunkan
nyeri.

6. Kolaborasi dengan 6. Membantu dalam mengatasi


dokter dalam
nyeri yang hebat.
pemberian obat anti
nyeri.

2. Tujuan :setelah1 1. Mmonitor 1.Memberikan informasi


melakukan pemasukan dan tentang status cairan / volume
tindakan pengeluaran cairan sirkulasi dan kebutuhan
keperawatan 2. penggantian cairan.
selama 3x24 jam 2. Awasi belanjutnya2. 2. Muntal berkepanjangan,
diharapkan mual/muntah, kram aspirasi gaster dan pembatasan
Keseimbangan abdomen,kejang pemasukan oral dapat
cairan adekuat ringan, kelemahan menimbulkan defisit natrium,
KH: kaliumdan klorida.
-pasien mengetahui 3. 3. Kaji pendarahan 3. 3. Protrombin darah menurun
pnyebab terjadinya yang tidak biasa dan waktu koagulasi
kekurangan cairan contohnya memanjang bila aliran empedu
-pasien dapat pendarahan pada terhambat, meningkatkan
mengatasi gusi,mimisan, resiko hemarogi.
17

kekurangan cairan petekia, melena. 4.


- Dibuktikan oleh 4. 4. Kaji ulang 4. Membantu dalam proses
tanda vital stabil, pemeriksaan evaluasi volume cairan
membran mukosa laboraturium
lembab, turgor kulit
5. Beri cairan IV,
baik, pengisian elektrolit, dan vit. K.
kapier baik,
eliminasi urin 5. berikan minum 5. Mempertahankan volume
normal. sedikit tapi sering sirkulasi dan memperbaiki
5. ketidakseimbangan

6.kolaborasikan 6 6. Cairan dapat membantu


pemberian cairan mengatasih kekurangan cairan
5.
3. Tujuan:setelah . 1. Kaji distensi 1. Adanya ketidaknyamanan
melakukan abdomen karna gangguan
tindakan percernaan,nyeri gaster.
keperawatan 2. Timbang BB tiap 2. 2. Mengidentifikasi
selama 3x24 jam hari kekurangan/kebutuhan nutrisi
diharapkan
Pemenuhan 3. 3. Diskusikan 3. Melibatkan klien dalam
kebutuhan nutrisi dengan klien perencanaan, klien memiliki
adekuat makanan kesukaan rasa kontrol dan mendorong
KH: dan jadwal makan untuk makan
Pasien akan : yang disukai
- Melaporkan 4. 4. Berikan suasana 4. Untuk meningkatkan nafsu
mual/muntah yang menyenangkan makan/ menurunkan mual
hilang. pada saat makan,
- Menunjukkan hilangkan ransangan
kemajuan mencapai yang berbau.
BB individu yang 5. 5. Jaga kebersihan 5. Oral yang bersih
tepat. oral sebelum makan meningkatkan nafsu makan
- Makanan habis
sesuai porsi yang6. 6. Konsul dengan 6. 6. Berguna untuk
diberikan. ahli diet/ tim merencanakan kebutuhan
pendukung nutrisi nutrisi individual melalui rute
sesua indikasi yang paling tepat

7. Berikan diet 7. Memenuhi kebutuhan


sesuai toleransi nutrisi dan meminimalkan
biasanya rendah ransangan pada kandung
lemak, tinggi serat. empedu.
18

4. Tujuan : setelah 1. Berikan penjelasan 1. menurunkan lemak dan


tindakan dan persiapannya rangsangan simpatis
keperawata selama 2. Kaji ulang proses 2. memberikan dasar
3x24 jam penyakit dan pengetahuan dimana pasin
diharapkan progmosis dapat membuat pilihan
pemahaman proses 3. Kaji ulang program berdasarkan informasi
penyakit, obat dan 3. betu empedu sering berulang
pengobatan, dan kemungkinan efek memerlukan terapi jangka
prognosis, samping panjang
melakukan 4.Anjurkan pasien 4.mencegah/membatasi
periubahan pola untuk menghindari berulangnya serangan
hidup dan makanan / minuman kandung empedu
berpartisipasi tyang tinggi lemak /
dalam program zat iritan gaster
pengobatan 5. Anjurkan istirahat 5.meningkatkan aliran empedu
KH: pada posisi semi dan relaksasi umum selama
- Klien fowler setelah proses pencernaan awal
mengetahui makan
tentang penyakit,
pengobatan, dan 6.Diskusikan 6.menurunkan resiko
prognosisnya penghindaran pendarahan sehubungan
- Klien dapat produk dengan perubahan waktu
mengatasi dan mengandung aspirin koagulasi
berpartisipasi
dalam program
pengobatan
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Batu empedu biasanya terbentuk dalam kantung empedu dari konstituen padat
empedu dan sangat bervariasi dalam ukuran, bentuk, dan komposisi. Batu empedu jarang
terjadi pada anak-anak dan dewasa muda, tetapi sering terjadi setelah usia 40 tahun, yang
mempengaruhi 30% sampai 40% dari populasi pada usia 80 tahun

Kolelitiasis/koledokolitiasis merupakan adanya batu di kandung empedu, atau pada


saluran kandung empedu yang pada umumnya komposisi utamanya adalah kolesterol.
(Williams, 2003)

4.2 Saran
Dalam pembuatan konsep asuhan keperawatan ini penulis sadar bahwa makalah ini
masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan
saran dari pembaca sangatlah kami perlukan agar dalam pembuatan konsep asuhan
keperawatan selanjutnya akan lebih baik lagi. Dan kami juga berharap:
Setelah membaca konsep asuhan keperawatan ini, kami berharap kita menjadi lebih
tahu dan lebih faham tentang proses keperawatan pada sistem pencernaan III
khususnya tentang kolelitiasis
Dan yang paling penting kita bisa mengaplikasikan ilmu ini dalam kehidupan
pekerjaan kelak.

19
DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth. 2001. Keperawatan Mendikal Bedah. Vol 2. Ed 8. Jakarta: EGC

Doengoes, Marilynn.E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC

Kowalak, Jennifer P, dkk. 2001. Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta: EGC

Nealon F Thomas,William H. 1996. Keterampilan Pokok Ilmu Bedah. Edisi 4.

Jakarta: EGC

Price A, Sylvia. 2005. Patofisiologi Konsep-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Ed 6.

Jakarta: EGC

Sudarmaji, Walid. 2007. Hand out KMB 3.Asuhan Keperawatan Batu Empedu.

Jakarta: AKPER RSPAD Gatot soebroto

Tucker Martin susan dkk. 1998. Standar Perawatan Pasien. Vol 2. Jakarta: EGC

20