Anda di halaman 1dari 16

Skenario 1

KARIES RAMPAN

( drg. Sulistyani, M.Kes )

Seorang anak perempuan umur 5 tahun datang bersama ibunya ke Klinik


Kedokteran Gigi Anak RSGM Universita Jember untuk mengkonsultasikan gigi
anaknya. Dari anamnesa diketahui bahwa gigi - gigi anaknya mengalami
kerusakan sejak usia 4 tahun. Anak tersebut tidak mempunyai kebiasaan minum
menggunakan dot, tetapi sangat menyukai makanan yang manis dan mempunyai
kebiasaan tidak segera menelan makanannya. Gigi gergahamnya juga beberapa
ada yang lubang. Ibunya menanyakan kepada dokter gigi penyebab gigi - gigi
depan atas dan bawah anaknya yang rusak. Hasil pemeriksaan klinis diperoleh
gigi 51, 61, 53, 63, 73, 83, 64, 74, 84, 75 karies dentin. Gigi 52, 62 terjadi
arrested caries. Gigi 71, 72, 81, 82, 55, 75, 85 karies enamel. Gambaran
radiografi menunjukkan benih gigi permanen lengkap dan tidak ada tanda - tanda
keradangan pada periapikal gigi 51, 61, 53, 63, 73, 83, 54, 64, 74, 84, 75.

Gambar 1. Gambaran klinis dan radiografis pasien


STEP 1 ( Clarifying Unfamiliar Terms)

1. Karies enamel : kerusakan pada enamel dan belum terasa sakit/nyeri.


Selain itu terlihat white spot. Adapun urutan permukaan gigi yang sering terkena
karies, yaitu pit, fissure dan kontak.

2. Karies dentin : kerusakan pada dentin dan sedikit terasa sakit. Terlihat
bintik kuning dan kecoklatan.

3. Radiografi : gambaran yang terlihat dari hasil rotgen. Hasil rotgen


radiografi ada dua macam, yaitu radiolusen (warna hitam) dan radiopaque (warna
putih). Dimana hasil tersebut untuk menguatkan diagnosa.

4. Arrested caries : terjadinya pada lokasi yang rawan karies

STEP 2 ( Problem Definition )

1. Apa saja tahapan perkembangan pada rampan karies ?

2. Apa ada pengaruh faktor jenis kelamin terhadap rampan karies ?

3. Apa pengertian dari rampan karies ? Dan pada umur berapa biasanya
terjadi rampan karies ?

4. Apa saja etiologi dari rampan karies ?

5. Apa saja tipe-tipe dari rampan karies ?

6. Bagaimana cara pencegahan terhadap rampan karies ?

7. Apa saja perawatan pada rampan karies ?

8. Apa saja gejala klinis yang ditimbulkan oleh rampan karies ?

9. Mengapa pada gigi anterior rahang atas lebih rentan terhadap rampan
karies dibandingkan dengan gigi anterior rahang bawah ?
STEP 3 ( Brainstorming )

1. Tahap perkembangan karies rampan :

a. Tahap awal

Ditandai dengan white spot pada bagian servikal.

b. Tahap kerusakan

Lesi karies sudah sampai pada bagian dentin membentuk kavitas dan
menimbulkan warna kuning kecoklatan.

c. Tahap lesi dalam

Lesi sudah membesar dalam, dan mencapai pulpa.

d. Tahap traumatik

Terjadimya fraktur mahkota pada gigi anterior rahang atas sebagai


akibat dari kerusakan amelodentinal.

2. Ada pengaruh jenis kelamin terhadap terjadinya rampan karies. Pada laki-
laki lebih rentan terhadap rampan karies karena biasanya lebih tidak peduli
terhadap kesehatan rongga mulut (oral hygiene). Adapun pendapat lain
yang mengatakan bahwa, wanita juga lebih rentan terjadi rampan karies
karena waktu gigi erupsi yang lebih cepat dari laki-laki sehingga lebih
lama berada dalam rongga mulut.

3. Rampan karies adalah suatu lesi karies yang proses dan meluasnya terjadi
secara cepat dan tiba-tiba disebabkan karena ketidakseimbangan
mineralisasi dalam waktu lama di dalam rongga mulut yang diakibatkan
peningkatan konsumsi karbohidrat. Dikatan cepat karena dalam waktu satu
tahun, gigi yang terlibat bisa mencapai 10 buah, dan dikatakan tiba-tiba
karena pulpa langsung terlibat. Biasanya pada umur 4 tahun rentan terkena
rampan karies.
4. Etiologi Rampan Karies

a. Substrat

Berasal dari makanan dan minuman yang mengandung karbohidrat


jenis sukrosa dan laktosa (kariogenik) yang mendukung terjadinya
fermentasi karbohidrat sehingga menghasilkan keadaan asam pada
rongga mulut. Hal ini menyebabkan pH menurun dan terjadinya
demineralisasi pada gigi.

b. Anatomis gigi

Gigi desidui memiliki kandungan bahan organik dan air yang lebih
banyak daripada kandungan mineralnya sehingga lebih rentan karies
dibandingkan dengan gigi tetap.

c. Mikroorganisme

Bakteri kariogenik yang berpengaruh terhadap terjadinya karies


rampan yaitu Streptococcus Mutans dan Lactobacillus karena mampu
memfermentasikan karbohidrat menjadi asam.

d. Faktor herediter

Biasanya dalam setiap keluarga mempunyai pola makan yang sama


dan pemeliharaan kesehatan gigi yang sama.

e. Faktor sistemik

Misalnya, pada penderita diabetes militus.

f. Faktor fisiologis

Pada kebiasaan membersihkan rongga mulut.

g. Faktor psikologis

Stress dapat menurunkan jumlah sekresi dan kekentalan saliva.


5. Pengelompokkan tipe-tipe pada rampan karies dibagi menjadi empat
tingkat perluasan, yaitu :

a. Tipe I. Minimal

Karies terdapat pada dua permukaan gigi anterior rahang atas dan tidak
terdapat pada permukaan gigi posterior.

b. Tipe II. Mild

Karies yang melibatkan lebih dari dua permukaan gigi anterior rahang
atas dan karies tidak ditemukan pada gigi posterior.

c. Tipe III. Moderate

Dua atau lebih permukaan gigi anterior rahang atas menderita karies
dan ditemukan satu atau lebih gigi posterior menderita karies.

d. Tipe IV. Severe

Karies yang melibatkan dua atau lebih permukaan gigi anterior rahang
atas, ditemukan satu atau lebih gigi dengan pulpa terbuka, dan karies
telah terlihat pada gigi anterior rahang bawah.

6. Cara pencegahan terhadap rampan karies :

a. Pemberian edukasi cara menyikat gigi yang baik dan benar.

b. Membersihkan gusi anak bayi dengan kain lap yang lembab setelah
minum ASI ataupun larurtan manis.

c. Jangan membiarkan anak tertidur dengan posisi sedang meminum


larutan manis menggunakan botol atau ASI.

d. Rajin mengontrol gigi setiap 6 bulan sekali.


7. Cara perawatan pada rampan karies :

a. Menghilangkan rasa sakit (Rail of Pain) dengan memberikan zinc


oksid eugenol (ZnO).

b. Menghentikan proses karies

Kavitas dipreparasi untuk membuang jaringan nekrotik. Pada beberapa


kasus yang tidak dapat ditambal langsung, dapat ditambal sementara.

c. Diet

Melakukan diet kontrol dan oral profilaksis pada gigi.

d. Restorasi

Pembuatan restorasi tergantung pada diagnosa masing-masing gigi.

e. Topikal aplikasi

Menggunakan larutan fluor sebagai preventif.


STEP 4 ( Analysing the Problem/ Mapping )

AGEN PENYEBAB

PERMUKAAN GIGI

FAKTOR
PENDUKUNG

RAMPAN KLASIFIKAS
KARIES I

STEP 5 ( Learning Objektif )

1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan pengertian karies rampan

2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan faktor - faktor penyebab karies


rampan

3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan patogenesis karies rampan

4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan klasifikasi dan karakteristik


rampan karies

5. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan arrested caries dan


hubungannya dengan rampan karies
STEP 7 ( Reporting / Generalisation )

1. LO 1 ( Pengertian Rampan Karies )

Rampan karies ialah suatu jenis karies yang proses terjadinya dan
meluasnya sangat cepat dan tiba-tiba, sehingga menyebabkan lubang pada gigi,
terlibatnya pulpa dan cenderung mengenai gigi yang imun terhadap karies yaitu
gigi insisivus depan bawah. Tidak ada keterangan yang menyatakan bahwa
terjadinya rampan karies berbeda dengan karies biasa, hanya waktunya lebih
cepat. Dikatakan cepat karena dalam waktu satu tahun, gigi yang terlibat bisa
mencapai 10 buah, dan dikatakan tiba-tiba karena pulpa langsung terlibat.
Rampan karies dapat terjadi pada mulut yang relatif bersih. (Millet et al, 2005)

Prevalensi karies gigi sulung lebih tinggi dibandingkan gigi tetap, hal ini
disebabkan proses kerusakannya kronis dan asimptomatis. Di samping banyak
faktor yang mempengaruhi terjadinya karies pada gigi sulung, yaitu karena
struktur enamelnya kurang padat karena banyak mengandung air dan
pemeliharaannya kurang baik yaitu sikat gigi tidak teratur.

Karies rampan adalah lesi karies yang terjadi cepat, menyebar secara luas
dan menyeluruh sehingga cepat mengenai pulpa. Karies ini mengenai beberapa
gigi, termasuk gigi yang biasanya bebas karies yaitu gigi anterior bawah, dan
banyak dijumpai pada gigi sulung anak karena mengonsumsi makanan dan
minuman kariogenik atau pada anak balita yang sering mengudap makanan
kariogenik di antara makanan utamanya. (Heriandi, 2000).

Karies rampan juga merupakan lesi akut yang meliputi sebagian atau
semua gigi yang telah erupsi, menghancurkan jaringan mahkota gigi dengan cepat
termasuk permukaan yang biasanya imun terhadap karies, serta mengakibatkan
terkenanya pulpa. (Rosnawi, 2000).

Karies rampan yang spesifik ialah baby bottle caries. Terdapat pada anak-
anak yang berhubungan dengan riwayat masa bayi, misalnya tertidur dengan botol
susu masih di dalam rongga mulut yang berisi sirup atau jus (mengandung gula),
pemberian air susu ibu dengan periode lama, atau memakai dot kosong yang
dicelupkan dalam madu, sirup, atau gula. Frekuensi makanan karbohidrat yang
tinggi pada anak dengan kebiasaan tidur minum susu botol merupakan penyebab
utama dari penularan bakteri kariogenik. (Sumawinata, 2003).

2. LO 2 ( Faktor penyebab rampan karies )

Rampan karies merupakan penyakit yang berhubungan dengan banyak faktor


yang merupakan hasil dari keterlibatan dari host, bakteri, substrat, dan waktu
(Rohaeni, 2009). Umumnya karies terjadi karena diperngaruhi empat faktor utama
tersebut, namun terdapat juga beberapa faktor penunjang rampan karies, yaitu:
kebersihan rongga mulut, faktor psikologis, faktor sistemik, dan faktor herediter
(Fejerskov dan Kidd, 2003). Jika salah satu saja faktor tidak berinteraksi, maka
proses karies tidak akan terjadi.

1. Host
Gigi desidui lebih mudah terserang karies daripada gigi permanen. Hal ini
disebabkan karena :
a. Konfigurasi anatomis yaitu pit dan fisur yang dalam.
b. Bentuk anatomis gigi yang mempunyai sifat self cleansing yaitu
embrasur dan sepertiga servikal.
c. Posisi gigi pada lengkung gigi, hubungannya terhadap kelenjar ludah,
mudah tidaknya dibersihkan dengan sikat gigi
d. Kebiasaan mengunyah yang salah. Sisi yang tidak berfungsi akan cepat
mengendapkan sisa-sisa makanan.
e. Gigi yang terhambat pertumbuhannya, misal impaksi
f. Enamel gigi desidui mengandung lebih banyak bahan organik dan air
sedangkan jumlah mineralnya lebih sedikit daripada gigi permanen.
g. Kristal-kristal gigi desidui tidak sepadat gigi permanen.
2. Bakteri
Salah satu bakteri yang berpengaruh terhadap terjadinya karies adalah
Streptococcus mutans. Bakteri ini mempunyai kemampuan menghasilkan
asam sangat cepat sehingga masuk dalam bakteri asidogenik. Hal ini akan
mempengaruhi virulensi biofilm Streptococcus mutans dalam menyebabkan
karies gigi (Banas, 2004).
3. Substrat
Substrat bagi S. mutans dapat berasal dari jus, susu dan larutan yang manis
yang bisa menyebabkan terjadinya fermentasi karbohidrat. Bakteri di dalam
rongga mulut menggunakan gula sebagai makanan utamanya, kemudian
mereka memproduksi asam yang akan merusak gigi, asam menyerang gigi
sekitar 20 menit atau lebih.
4. Waktu
Waktu sangat berpengaruh terhadap terjadinya karies. Bakteri dan substrat
membutuhkan waktu yang lama untuk demineralisasi dan progresi karies.
Meminum susu dengan menggunakan botol dan ASI ketika tidur sangat tidak
baik, cairannya akan menggenangi rongga mulut (gigi) untuk beberapa waktu
(jam). Genangan susu, jus, larutan yang manis atau air susu ibu pada rongga
mulut saat tidur ditemukan terjadinya fermentasi yang berasal dari gula larutan
tersebut dan akan membantu terjadinya karies. substrat yang menempel pada
permukaan gigi apabila tidak dibersihka akan difermentasi oleh bakteri
menjadi masa asam dalam waktu tertentu. Lamanya waktu yang dibutuhkan
karies untuk berkembang menjadi suatu kavitas cukup bervariasi, diperkirakan
6-48 bulan.
5. Konsumsi Makanan
Seringnya mengkonsumsi makanan dan minuman yang mengandung
karbohidrat terutama diantara waktu makan. Waktu makan merupakan faktor
yang dihubungkan dengan perkembangan rampan karies.
6. Saliva.
Berkurangnya sekresi serta kekentalan saliva menyebabkan terlihatnya
peningkatan akumulasi plak, sehingga jumlah mikroorganisme (streptococus
mutans) akan bertambah. Padahal fungsi dari saliva dapat menghambat karies
karena aksi buffer, kandungan bikarbonat, amoniak dan urea dalam saliva
yang dapat menetralkan penurunan pH yang terjadi saat gula dimetabolisme
bakteri plak. Kecepatan sekresi saliva berakibat pada peningkatan pH dan
kapasitas buffernya.
7. Faktor Psikologis
Pada umumnya dapat mengakibatkan timbulnya kebiasaan buruk dalam
makan atau memilih makanan. Stress juga dihubungkan sebagai penyebab
berkurangnya sekresi dan kekentalan saliva.
8. Faktor Sistemik, misalnya penderita diabetes melitus.
9. Faktor Herediter
Orang tua yang peka terhadap karies akan mempunyai anak yang juga
peka terhadap karies. Hal ini disebabkan karena dalam keluarga mempunyai
pola kebiasan makan yang sama dan pemeliharaan kesehatan gigi yang sama
pula.
3. Patogenesis rampan karies

Berawal karena konsentrasi diet karbohidrat khusunya sukrosa dan laktosa


(kariogenik) yang meningkat dan oral hygiene yang buruk di dalam rongga
mulut mengandung banyak bakteri asidogenik. Seperti bakteri Streptococcus
mutans, Lactobacillus sp yang mendukung terjadinya fermentasi karbohidrat.
Kegiatan fermentasi menimbulkan kondisi rongga mulut yang asam. Hal ini
mengakibatkan demineralisasi pada gigi. Pada tahap awal sekitar 10-12 bulan
ditandai dengan adanya white spot di daerah servikal. Kemudian 16-24 bulan
lesi putih mulai berkembang ke dentin ditandai lesi berwarna kekuningan. Pada
usia 20-36 bulan karakteristik lesi besar, dalam, dan mengiritasi pulpa. Dan
tahap terakhir usia 30-48 bulan terjadinya fraktur mahkota pada gigi anterior
rahang atas di akibatkan dari kerusakan amelodentinalis.

4. LO 4 ( Klasifikasi dan Karakteristik Rampan Karies )


A. Karakteristik :
1. Lesi karies terjadi secara cepat.
2. Penyebaran lesi luas dan menyeluruh sehingga mengenai beberapa gigi
sekaligus dan cepat mengenai pulpa.
3. Lesi karies justru berkembang pada permukaan halus, padahal
biasanya permukaan halus berisiko rendah terhadap karies gigi.
4. Jaringan karies lunak, langsung pada
5. Gigi yang terkena rampan karies biasanya sudah mengalami kerusakan
hebat beberapa gigi atau semuanya dapat menjadi gangren atau
menjadi radiks.
6. Biasanya yang rentan terhadap karies adalah insisiv rahang atas.
7. Bisa juga terjadi di molar rahang atas dan rahang bawah.

B. Klasifikasi :
1. Eric Broderick et al, mengelompokkan rampan karies menjadi
beberapa tipe, yaitu :

a. Tipe I (Minimal) :
Karies terdapat pada dua permukaan gigi rahang atas dan tidak
terdapat pada permukaan gigi posterior.
b. Tipe II (Mild) :
Karies terdapat pada lebih dari dua permukaan gigi rahang atas dan
karies tidak ditemukan pada gigi posterior.
C, Tipe III (Moderate) :
Dua atau lebih permukaan gigi anterior rahang atas menderita
karies dan ditemukan satu atau lebih gigi posterior menderita karies.
5. Tipe IV (Severe) :
Dua atau lebih pemukaan gigi anterior rahang atas menderita
karies, diremukan satu atau lebih gigi dengan pulpa terbuka dan karies
telah terlihat pada gigi anterior rahang bawah.

2. Nursing Bottle Caries :


Merupakan karies dengan lesi yang terjadi pada bayi, balita, dan
anak pra sekolah yang disebabkan oleh pemberian susu botol, ASI atau
cairan bergula termasuk karbohidrat dalam waktu yang panjang selama
beberapa jam sampai tertidur dan kadang-kadang sepanjang malam.
Biasanya terjadi pada 4 gigi anterior rahang atas dan posterior rahang
bawah.
3. ECC (Early Childhood Caries) :
Rampan karies gigi sulung terjadi pada balita, dan anak karena
penggunaan botol dalam waktu lama. Ini terjadi karena malnutrisi,
bakteri Streptococcus Mutans meningkat, dan diet.

LO 5 Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan Arrested Caries

A. Definisi

Arrested caries dideskripsikan sebagai karies yang menjadi statis dan tidak
menunjukkan adanya perkembangan karies lebih lanjut (Rajendran,2012).
Arrested caries merupakan karies yang terhenti. Istilah ini menggambarkan lesi
karies yang tidak berkembang, biasanya terjadi pada lingkungan mulut yang
berubah menjadi cenderung menghambat karies.

B. Karakteristik dari arrested caries, yaitu :


a. Adanya warna coklat kehitaman
b. Perubahan tekstur dari lunak ke keras
Akibat terjadi remineralisasi, mineral yang ada pada gigi meningkat
untuk menutupi demineralisasi. Endapan fluor dan kalsium yang
mengubah konsistensi karies yang awalnya lunak menjadi keras
c. Tidak ada penambahan ukuran lesi karies
d. Tidak ada perkembangan dari karies meskipun ada perubahan warna
(Rajendran,2012)
C. Hubungan Arrested Caries dengan Rampant Caries
Karies, demineralisasi pada tubuli dentin

Bakteri penyebab karies menurun, produksi asam menurun

PH meningkat

Endapan garam menjadi kristal besar trikalsium fosfat memblokir tubuli

Jika bakteri sudah hilang, sel odontoblas akan mensekresi kolagen dan garam
kalsium.

Arrested caries
Pada awal terjadinya rampant caries terdapat white spot lesion pada enamel
gigi. White spot lession tersebut terjadi akibat adanya demineralisasi gigi yang
apabila dibiarkan akan terjadi karies. Pada saat anak-anak berusia sekitar 8 tahun
mayoritas lesi white spot lession tidak berlanjut menjadi lubang, melainkan
terhenti. Pada lesi white spot lession yang terhenti tidak selalu terjadi penggantian
sempurna mineral yang terlah mengalami demineralisasi dengan mineral baru.
Gambaran putih tetap terlihat pada gigi. Permukaan gigi dari lesi white spot yang
terhenti atau arrested justru mengandung lebih banyak fluor dibandingkan
permukaan email di sekitarnya (Kid et al,2002).
Pada umumnya arrested caries ini kariesnya hanya sampai pada dentin dan
tidak menembus pulpa. Saat karies berada pada dentin, maka akan terjadi sklerosis
(pengerasan) tubuli dentin dan pembentukan dentin sekunder yang terjadi akibat
adanya remineralisasi (endapan garam dan kalsium fosfat). Hal tersebut dapat
menghilangkan bakteri penyebab karies (Rajendran,2012).
DAFTAR PUSTAKA
Andlaw R.J., Rock W.P. Alih Bahasa: drg. Agud Djaya. Perewatan gigi anak .2nd
Ed. Indonesia: Widya Medika; 1992.p. 43-51
Banas A. Jeffrey. Virulance Property Of Streptococcus mutans. Frontiers in Biosience.
2004 ; 9 : 1267-1277)

Broderick, E., et al., (2006). The Characterization of a Novel Covalently Modified


Amphiphilic Alginate Derivate, Which Retains Gelling and Non-Toxic
Properties. Journal of Colloid and Interface Science 298. Page : 154-161
Cameron AC, Widmer RP : Handbook of pediatric dentistry, 2nd edition, Mosby
Company, SidneyToronto, 2007
Carranza, F.A., 2006, Clinical Diagnosis, in: Carranza F.A. & Newman M.G.
(eds): Clinical Periodontology, 10th ed., WB. Saunders, Philadelphia
Fejerskov O, Kidd EAM. Dental Caries, the disease and its clinical management. London:
Blackwell Munksgaar, 2003.
Heriandi S. Penanggulangan karies rampan serta keluhannya pada anak. Jurnal
Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. 2000;9(1):5-8.
Kidd, E.A.M., Smith, B.G.N., & Pickard, H.M.,2002.Manual Konservasi
Rajendran, R., dan Sivapathasundharam B., 2012, Shafers Textbook of Oral
Pathology, New Delhi: Elsevier
Millet D, Welbury R : Clinical problem solving in orthodontics and paediatric
dentistry, Sydney-Toronto, 2005

Radifah S. Hubungan Sikap dan Pengetahuan Masyarakat tentang Pencabutan


Gigi di Kabupaten Bone (Skripsi). Makassar : FKG Unhas, 2004.

Restoratif Menurut Pickard. Edisi 6. Alih bahasa oleh Narlan Sumawinata. Widya
Medika : Jakarta

Rosnawi Y. Hubungan antara pemberian minuman botol yang ditambahkan gula


dengan karies rampan pada anak balita di Kotamadya Medan. Dentika
Jurnal Ilmiah Kedokteran Gigi USU. 2000; 5(2);102-6.

Sumawinata N. Senarai Istilah Kedokteran Gigi. Jakarta : Penerbit buku


kedokteran EGC, 2003.

Woelfel. Anatomi gigi. Edisi 8., Jakarta: EGC., 2011: 330-331.