Anda di halaman 1dari 4

BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi
Adult Respiratory Distress Syndrome (ARDS) merupakan suatu bentukan dari gagal napas
akut yang ditandai dengan: hipoksemia, penurunan fungsi paru-paru, dyspnea, edema paru-
paru bilateral tanpa gagal jantung, dan infiltrate yang menyebar. Selain itu, ARDS dikenal
juga dengan nama noncardiogenic pulmonary edema, shock pulmonary, dan lain-lain.
(Irman Soemantri, 2008)
B. Etiologi
Faktor penting penyebab ARDS antara lain:
1. Shock (disebabkan banyak faktor)
2. Trauma (memar pada paru-paru, fraktur multiple, dan cedera kepala)
3. Cedera system saraf yang serius
Cedera system saraf yang serius seperti trauma, CVA, tumor, dan peningkatan tekanan
intracranial dapat menyebabkan terangsangnya saraf simpatis sehingga mengakibatkan
vasokontriksi sistemik dengan distribusi sejumlah besar volume darah ke dalam paru-
paru. Hal ini menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik dan kemudian akan
menyebabkan cedera paru-paru (lung injury).
4. Gangguan metabolism (pankreatitis dan uremia)
5. Emboli lemak dan cairan amnion.
6. Infeksi paru-paru difus (bakteri, virus, dan jamur)
7. Inhalasi gas beracun (rokok, oksigen konsentrasi tinggi, gas klorin, NO2, dan ozon).
8. Aspirasi (sekresi gastrik, tenggelam, dan keracunan hidrokarbon).
9. Menelan obat berlebih dan overdosis narkotik/nonnarkotik (heroin, opioid, dan aspirin).
10. Kelainan darah (DIC, transfusi darah multiple, dan bypass kardiopulmoner).
11. Operasi besar.
12. Respons imunologik terhadap antigen pejamu (sinfrom goodpasture dan SLE).

C. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis ARDS bervariasi tergantung dari penyebabnya. Pada permulaan
cedera selama beberapa jam pertama, pasien mungkin bebas dari gejala-gejala dan tanda-
tanda gangguan pernapasan yang segera diikuti dengan dyspnea.
Pengukuran analysis blood glasses (ABGs) lebih dini akan memperlihatkan penekanan
PO2 meskipun PCO2 menurun, sehingga perbedaan oksigen alveolar arteri meningkat. Pada
stadium dini tersebut pemberian oksigen dengan masker atau dengan kanula menyebabkan
peningkatan bermakna dalam PO2 arteri.
Pada pemeriksaan fisik dapat juga ditemukan suara napas ronchi basah saat inspirasi
halus, meskipun tidak begitu jelas.

D. Pemeriksaan Diagnostik
1. Chest X-ray: pada stadium awal tidak terlihat dengan jelas atau dapat juga terlihat adanya
bayangan infiltrate yang terletak di tengah region perihilar paru-paru. Pada stadium
lanjut, terlihat penyebaran di interstisial secara bilateral dan infiltrate alveolar, menjadi
rata dapat mencakup keseluruhan lobus paru-paru. Tidak terjadi pembesaran pada
jantung.
2. ABGs: hipoksemia (penurunan PaO2), hipokapnia (penurunan nilai CO2 dapat terjadi
terutama pada fase awal sebagai kompensasi terhadap hiperventilasi), hiperkapnia
(paCO2 >50) menunjukkan terjadi gangguan pernapasan. Alkaliosis resiratori (pH >
7,45) dapat timbul pada stadium awal, tetapi asidosis dapat juga timbul pada stadium
lanjut yang berhubungan dengan peningkatan anatomical dead space dan penurunan
ventilasi alveolar. Asidosis metanolisme dapat timbul pada stadium lanjut yang
berhubungan dengan peningkatan nilai laktat darah, akibat metabolisme anaerob.
3. Pulmonary Function Test: kapasits pengisian paru-paru dan volume paru-paru menurun,
terutama FRC, peningkatan anatomical dead space dihasilkan oleh area dimana timbul
vasokontriksi dan mikroemboli.
4. Asam laktat: meningkat

E. Penatalaksanaan
1. Terapi oksigen
Oksigen adalah obat dengan sifat terapeutik yang penting dan secara potensial
mempunyai efek samping toksik. Pasien tanpa riwayat penyakit paru-paru tampak toleran
dengan oksigen 100% selama 24-72 jam tanpa abnormalitas fisiologis yang signifikan.

2. Ventilasi mekanik
Aspek penting perawatan ARDS adalah ventilasi mekanis. Terapi modalitas ini bertujuan
untuk memberikan dukungan ventilasi sampai integritas membrane alveolakapiler
kembali baik. Dua tujuan tambahan adalah:
a. Memelihara ventilasi adekuat dan oksigenasi selama periode kritis hipoksemia berat.
b. Mengatasi faktor etiologi yang mengawali penyebab distress pernapasan.
3. Posiif End Expirator Breathing (PEEB)
Ventilasi dan oksigenasi adekaut diberikn malalui volume ventilator dengan tekanan dan
kemampuan aliran yang tinggi, dimana PEEB dapat ditambahkan. Positif end expiratory
breathing (PEEB dipertahankan dalam alveoli melalui siklus pernapasan untuk mencegah
alveoli kolaps pada akhir ekspirasi.
Komplikasi utama PEEB adalah penurunan curah jantung dan barotrauma. Hal tersebut
sering kali terjadi jika pasien diventilasi dengan tidal volume diatas 15ml/kg atau PEEB
tingkt tinggi. Peralatan selang dada torakostomi darurat harus siap tersedia.
4. Pemantauan Oksigenasi Arteri Adekuat
Sebagian besar volume oksigen ditransfer ke jaringan dalam bentuk oksihemoglobin. Bila
anemia terjadi, kandungan oksigen dalam darah menurun. Sebagai akibat efek ventilasi
mekanik PEEB pengukuran seri hemoglobin perlu dilakukan untuk kalkulasi kandungan
oksigen yang akan menentukan kebutuhan untuk trasfusi sel darah merah.
5. Titrasi Cairan
Efek pathogenesis dari peningkatan permeabilitas alveolar-kapiler adalah dapat
mengakibatkan edema interstisial dan edema alveolar. Pemebrian cairan yang berlebihan
pada orang normal dapat menyebabkan edema paru-paru dan gagal pernapasan. Tujuan
utama terapi cairan adalah untuk mempertahankan parameter fisiologik normal.
6. Terapi farmakologis
Penggunaan kortikosteroid untuk terapi masih kontroversial. Sebelumnya terapi antibiotic
diberikan untuk profilaksis, tetapi pengalaman menunjukkan bahwa hal ini tidak dapat
mencegah sepsis gram negative yang berbahaya. Akhirnya antibiotic profilaksis rutin
tidak lagi digunakan.
7. Pemeliharaan Jalan Napas
Selang endotracheal atau selang trakheostomi disediakan tidka hanya sebagai jalan napas,
tetapi juga berarti melindungi jalan napas (dengan cuff utuh), memeberikan dukungan
ventilasi kontinu dan memberikan konsentrasi oksigen terus-menerus. Pemeliharaan jalan
napas meliputi: mengetahui waktu penghisapan, teknik penghisapan, tekanan cuff
adekuat, pencegahan nekrosis tekanan nasal dan oral untuk membuang secret, dan
pemonitoran konstan terhadap jalan napas bagian atas.
8. Pencegahan infeksi
Perhatian penting terhadap sekresi pada saluran pernapasan bagian atas dan bawah serta
pencegahan infeksi melalui teknik penghisapan yang telah dilakukan. Infeksi nasokomial
adalah infeksi yang didapatkan di rumah sakit.
9. Dukungan nutrisi
Malnutrisi relative merupakan masalah umum pada pasien dengan masalah kritis. Nutrisi
parenteral total (hiperalimentasi intravena) atau pemberian makan melalui selang dapat
memperbaiki malnutrisi dan memungkinkan pasien untuk menghindari gagal napas
sehubungan dengan nutrisi buruk pada otot inspirasi.
10. Monitor semua system terhadap respons terapi dan potensial komplikasi
Rata-rata moralitas 50-70%, dapat menimbulkan gejala sisa saat penyembuhan. Prognosis
jangka panjang baik. Abnormalitas fisiologis dari ringan sampai sedang yang telah
dilaporkan adalah abnormalitas obstruksi terbatas, defek difusi sedang dan hipoksemia
selama latihan.