Anda di halaman 1dari 19

Tugas Kelompok

Mata Kuliah : Keperawatan Maternitas

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN


PENYAKIT MENULAR SEKSUAL

Oleh :
KELOMPOK I
SITTI ZAENAB (C051171722)

NOVIETA (C051171713)

BETH YANE PENI (C051171729)

HASLINDA MAYA SARI (C051171726)

AHMAD KADIR (C051171707)

ANDI FATMAWATI FIRMAN (C051171708)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2017
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Penyakit menular seksual (PMS) merupakan sekelompok penyakit yang
disebabkan oleh mikroorganisme yang dapat menimbulkan gangguan pada saluran kemih
dan reproduksi. Ibu hamil merupakan kelompok resiko tinggi terhadap PMS. Melakukan
pemeriksaan konfirmatif dengan tujuan untuk mengetahui etiologi yang pasti tentang ada
atau tidaknya penyakit menular seksual yang diderita ibu hamil, sangat penting dilakukan
karena PMS dapat menimbulkan morbiditas dan mortalitas baik kepada ibu maupun bayi
yang dikandung/dilahirkan (Yulifah,dkk, 2009).
Penyakit Menular Seksual. PMS adalah infeksi yang penularannya terjadi melalui
kontak seksual baik dalam bentuk kontak seksual genital, oral atau anal. Banyak penderita
PMS tidak menyadari bahwa dirinya mengidap PMS oleh karena penyakit ini seringkali
tidak menunjukkan gejala.
Penyakit Menular Seksual (PMS) relative sering terjadi pada kehamilan, terutama
pada penduduk perkotaan yang kurang mampu, tempat penyalahgunaan obat dan prostitusi
yang mewabah. Penapisan, identifikasi, edukasi dan terapi merupakan komponen penting
pada perawatn prenatal wanita yang beresiko tinggi mengidap penyakit penyakit ini.
PMS adalah infeksi atau penyakit yang ditularkan melalui hubungan seks (oral,
anal, vagina) atau penyakit kelamin atau infeksi yang ditularkan melalui hubungan seks
yang dapat menyerang alat kelamin dengan atau tanpa gejala dapat muncul dan menyerang
mata, mulut, saluran pencernaan, hati, otak serta organ tubuh lainnya. Misalnya
HIV/AIDS, Hepatitis B. (Eny Ratna, 2009; hal. 31)
PMS dapat menimbulkan resiko bagi ibu hamil dan janin yang dikandungnya. PMS
dapat menyebabkan :
1. Abortus
2. Kehamilan Ektopik (embrio melakukan implantasi diluar rahim)
3. Persalinan preterm (kehamilan 37 minggu )
4. Lahir mati
5. Cacat bawaan
6. Morbiditas neonatus
7. Kematian
Seringkali penularan pada janin terjadi saat persalinan, saat melalui jalan lahir yang
terinfeksi. Namun, sejumlah infeksi juga dapat terjadi secara transplasental sehingga
menyebabkan infeksi janin intrauterin.Adalah satu hal yang penting untuk memastikan
bahwa wanita hamil bebas dari PMS. Pada kunjungan prenatal pertama, provider
kesehatan (bidan, dokter , obstetric dan gynecologist) akan melakukan skrining untuk
beberapa jenis PMS, termasuk HIV human immunodeficiency virus (pada beberapa
sentra kesehatan tertentu) dan syphilis. Beberapa jenis PMS dapat disembuhkan dengan
obat, namun tidak semua jenis PMS dapat diobati dengan obat.Bila jenis PMS yang
diderita termasuk jenis yang sulit disembuhkan maka harus diambil langkah terbaik untuk
melindungi janin yang dikandung.

Beberapa penyakit yang termasuk penyakit menular seksual :


1. Sifilis
Sifilis merupakan penyakit menular seksual (PMS) yang biasa dikenal dengan raja
singa.Sifilis dapat menular pada bayi yang dikandung secara transplasenta dan
menimbulkan kecacatan, penyebabnya adalah treponema pallidum.
Sifilis merupakan penyakit infeksi sistemik disebabkan oleh troponema pallidum yang
dapat mengenai seluruh organ tubuh, mulai dari kulit, mukosa, jantung hingga susunan
saraf pusat, dan juga dapat tanpa manifestasi lesi di tubuh. Infeksi terbagi atas beberapa
fase, yaitu sifilis primer, sifilis sekunder, sifilis laten dini dan lanjut, serta neurosifilis
(sifilis tersier). Sifilis umumnya ditularkan lewat kontak seksual, namun juga dapat
secara vertical pada masa kehamilan. (Sarwono; 2009)
2. Gonoroe
Gonore adalah IMS yang disebabkan oleh diplokokus intrasel gram-negatif anaerob
Neisseria gonorrhoeae.Gonorea adalah semua infeksi yang disebabkan oleh neisseria
gonorrhea. N. gonorrrhoeae dibawah mikroskop cahaya tampak sebagai diplokokus
berbentuk biji kopi dengan lembar 0,8 m dan bersifat tahan asam. Kuman ini bersifat
gram negative, tampak diluar dan di dalam leukosit polimorfnuklear, tidak dapat
bertahan lama di udara bebas, cepat mati pada keadaan kering, tidak tahanpada suhu di
atas 39 C, dan tidak tahan zat desinfektan.
3. HIV/ AIDS
HIV adalah penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh,dan AIDS adalah
kumpulan gejala akibat kekurangan atau kelemahan sistem kekebalan tubuh yang
dibentuk setelah lahir.
AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome.Acquired
artinya didapat, jadi bukan merupakan penyakit turunan, immuno berarti sistem
kekeblan tubuh,Deficiency artinya kekurangan, sedangkan syndrome adalah kumpulan
gejala.AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang merusak kekebalan
tubuh, sehingga mudah diserang oleh penyakit-penyakit lain yang berakibat
fatal.Padahal penyakit-penyakit tersebut misalnya berbagai
virus,cacing,jamur,protozoa,dan basil tidak menyebabkan gangguan yang berarti pada
orang yang sistem kekebalannya normal.Selain penyakit infeksi,penderita AIDS juga
mudah terkena kanker.Dengan demikian gejala AIDS amat bervariasi.Virus yang
menyebabkan penyakit ini adalah virus HIV (Human Immuno-deficiency Virus).

B. Etiologi
1. Sifilis
a) Sifilis disebabkan oleh triponema palidum, spiroket yang menginfeksi mukosa
sampai timbulnya kanker membran.
b) Sifilis sulit di lacak dan penyakit ini hanya menghilang ke dalam tubuh dan terus
melakukan kerusakan di tempat-tempat yang tidak dapat dilihat
c) Lama masa inkubasi, dari waktu pajanan sampai timbulnya kanker primer,
bergantung pada jumlah microorganism yang menetap saat infeksi dan berapa lama
organism ini bereplikasi. Spiroket membutuhkan 33 jam untuk bereplikasi
dibandingkan bakteri yang hanya memerlukani beberapa menit untuk bereplikasi.
Inkubasi pada tahap primer adalah 10-90 hari setelah kontak, rata-rata 21 hari.
Tanda dan gejala sembuh dengan spontan dalam 3 minggu tanpa terapi.
Inkubasi pada tahap sekunder adalah 17 hari samapai 6 bulan setelah kontak, rata-
rata 2,5 bulan. Bila sifilis tidak diobati tanda dan gejala sembuh secara spontan
dalam 2-8 minggu, dengan rata-rata 4 minggu.
Tahap laten dimulai setiap lesi sekunder hilang.
d) Individu dinyatakan infeksius bila muncul salah asatu lesi primer atau sekunder.
Respon antibodi awal adalah IgM, dan dalam 2 minggu IgM berubah menjadi IgG.
2. Gonoroe
a) Organisme gonokokus (gonokokus, GC) adalah bakteri diplokokus berbentuk
kacang-kacang merah, yang bersifat patogen pada epitel. Lokasi infeksi yang umum
mencakup:
Orofaring
Konjungtiva mata
Uretra pria
Saluran reproduksi wanita. GC menetap dalam vagina hingga menstruasi, saat
kanalis serviks terbuka, dan kemudian naik ke uterus serta tuba falopii.
Rektum
b) Infeksi sebelumnya memberikan antibody, namun bukan imunitas. Baik virulensi
bakteri maupun daya tahan tubuh individu bervariasi.
3. HIV/ AIDS
a) Penularan HIV terjadi kalau ada cairan tubuh yang mengandung HIV,seperti
hubungan seks dengan pasangan yang mengidap HIV, jarum suntik,dan alat-alat
penusuk (tato,penindik,dan cukur) yang tercemar HIV dan ibu hamil yang mengidap
HIV kepada janin atau disusui oleh wanita
b) Yang mengidap HIV (+).Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang terkena HIV lebih
mungkin tertular
c) Walaupun janin dalam kandungan dapat terinfeksi ,sebagian besar penularan terjadi
waktu melahirkan atau menyusui, bayi lebih mungkin tertular jika persalinan
berlanjut lama.Selama proses persalinan, bayi dalam keadaan beresiko tertular oleh
darah ibu,Air susu ibu (ASI) dari ibu yang terinfeksi HIV juga mengandung virus
itu. Jadi jika bayi disusui oleh ibu HIV (+), bayi bisa tertular.

C. Gambaran Klinis
1. Sifilis
Pada kehamilan gejala klinik tidak banyak berbeda dengan keadaan tidak hamil, hanya
perlu diwaspadai hasil tes serologi sifilis pada kehamilan normal bisa memberikan hasil
positif palsu.Transmisi treponema dari ibu ke janin umumnya terjadi setelah plasenta
terbentuk utuh, kira kira sekitar umur kehamilan 16 minggu.Oleh karena itu bila sifilis
primer atau sekunder ditemukan pada kehamilan setelah 16 minggu, kemungkinan
untuk timbulnya sifilis congenital lebih memungkinkan.
a) Tahap primer menunjukan ciri-ciri berikut :
Lesi primer adalah sanker: papula kecil yang membentuk jalan masuk dan
menghancurkan diri untuk membentuk ulserasi superficial yang tidak nyeri, dan
berakhir selama 5 minggu dan sembuh secara spontan. Lesi ini sehingga luput
dari deteksi. Lesi mungkin satu atau banyak.
Sekitar 70% kasusu terjadi duseminata dari jalan masuk infeksi ke kelenjar limfe
yang menyebabkan pembesaran kelenjar limfe pada lipatan paha dan axila yang
diikuti pembesaran kelenjar limfe yang lain (bubo-satelit), nyeri tekan dan
berbatas tegas.
b) Tahap sekunder
Disebabkan diseminata hematogen yang berasal dari drainase kelenjar limfe
regional. Tahap sekunder ditandai dengan kondisi berikut:
Ruam kulit yang menyeluruh, bilateral, tidak gatal, dan tidak nyeri tampak
hamper diseluruh tubuh , namun terutama di membrane mukosa, telapak tangan
dan telapak kaki. Ruam yang muncul bias berupa salah satu atau semua bentuk
lesi berikut:
Macula datar, berwarna tembaga
Papula eritematosa, berkerak
Pustule
Tampilan ruam dalam mulut berupa erosi putih yang disebabkan dengan
tempelan mukosa.
Lesi lecet yang berkombinasi dengan kondiloma latum yang terbentuk pada area
tubuh yang lembab, seperti area vulva dan perianal. Lesi ini berupa sekelompok
kecil veruka datar yang tertutup oleh eksudat keabu-abuan; lesi ini sangat
infeksius. Jangan keliru membedakan lesi ini dengan kondiloma akuminata,
veruka eksternal yang disebabkan oleh HPV.
Gejala sistemik yang biasa terjadi:
Adenopati yang menyeluruh
Demam, malaise, letargi dan sakit kepala
Anoreksia dan penurunan berat badan
Alopesia terjadi dimana saja pada tubuh.
c) Tahap laten
Terjadi setelah manifestasi sifilis sekunder hilang tanpa terapi. Spiroket yang tinggal
dalam keadaan dorman ditubuh dan termanifestasi sendiri beberapa tahun kemudian
seiring degenerasi banyak organ. Spiroket dapat didiagnosis dengan uji laboratorium
saat tidak ada manifestasi klinis, terutama bila riwayat pejanan telah diketahui atau
terdapat riwayat lesi primer atau sekunder. Dengan gejala:
Luka primer didaerah genetalia atau tempat lain seperti dimulut dari sekitarnya.
Pada lues sekunder kadang kadang timbul kondiloma lata. Lues laten dan sudah
lama dapat menyerang organ tubuh lainnya.
Pemeriksaan serologis reaksi wassermann dan VDRL
Kelahiran mati atau anak yang lalu dengan lues congenital merupakan petunjuk
bahwa ibu menderita sifilis.
d) Tahap Tersier
Sifilis tersier adalah kelanjutan dari sifilis sekunder. Dengan tandda khas Gumma (
infiltrate berbatas tegas, lunak, destruktif, besarnya bervariasi ) dapat menjadi ulkus.
Dapat terjadi pada mukosa, tulang, hepar, kardiovaskuler.
2. Gonoroe
Gejala pada wanita berbeda dengan pria, karena perbedaan antomi dan fisiologi genital
wanita dan pria. Masa inkubasinya bervariasi, singkat (mulai dari beberapa jam sampai
2- 5 hari ), gejala dan tanda pada ibu hamil:
Disuria
Gatal pada vulva
Sekret purulenta dari uretra
Kelenjar batholini membesar
Orofaringitis ( penyebab hubungan oral genital )
Rektum ( penyebab hubungan rectum dan genital)
Konjungtivitis ( melalui alat/ tangan)
Kadang-kadang menimbulkan rasa nyeri di panggul bawah
3. HIV / AIDS
Sebagian penderita mengalami gejala-gejala berikut dalam masa 2 - 6 minggu selepas
dijangkiti kuman HIV:
Demam
Sakit tekak dan batuk
Sakit otot
Sakit kepala
Bengkak kelenjar limfa
Letih
Ruam
Sakit sendi
Turun berat badan

Infeksi HIV terjadi melalui 3 tahapan :


Tahap Primer/Akut
Terjadi dalam 3-6 minggu, manifestasinya klinisnya berlangsung selama kurang
lebih 1 bulan yang menyebabkan nyeri kepala, demam.Pada tahap ini virus dapat
dideteksi di dalam darah. Jumlah sel CD4+ sedikit menurun : 750-1000 sel/mm3.
Tahap Kronik / Asimptomatik
Dapat berlangsung selama 10 tahun, replikasi virus berlangsung lebih cepat dan lebih
destruktif CD4 sebanyak 500 sel/mm3
Tahap AIDS
Ditandai dengan penurunan jumlah sel CD4+ yang progresif (200 sel/mm3).

D. Faktor Risiko
1. Sifilis
Faktor Resiko :
Paling sering terjadi pada golongan usia muda umur 20 29 tahun
Orang yang melakukan kontak langsung dengan infeksius awal lesi awal kulit atau
selaput lendir pada saat melakukan hubungan seksual dengan penderita sifilis.
Dapat diturunkan oleh ibu penderita pada anak yang dikandungnya
Bergonta ganti pasangan seksual
Tidak menggunakan kondom saat berhubungan seksual
Melalui barang perantara yang sedah dipakai oleh penderita seperti pakaian dalam,
handuk dan sebagainya ( Djuanda,1987 )
2. Gonoroe
Kelompok berisoko tinggi
PSK ( Pekerja Seks Kormesial )
Orang yang mempunyai 1 pasangan seksual tetapi pasanganya suka bergonta ganti
pasangan seksual
Pada wanita usia 16-24 tahun
Pada laki-laki usia 20-34 tahun
Homoseks dan pecandu narkotika ( Dayli 2005 )
3. HIV/AIDS
Mempunyai perilaku seksual berisiko tinggi yaitu melakukan seksual tanpa kondom
dengan banyak mitra seksual yang dapat berpotensi HIV/ AIDS
Mempunyai riwayat infeksi menular seksual
Mempunyai riwayat menerima transfuse darah berulang, tanpa tes penapisan awal
Mempunyai perlukaan kulit, tattoo, tindik, atau sirkumsisi dengan alat yang tidak
steril dan bergantian
Sebagai pemakai narkoti suntik terutama pemakaian jarum bersama secara
bergantian tanpa sterilisasi yang memadai

E. Prognosis
1. Sifilis
Prognosis pada ibu hamil dengan sifilis buruk, jika tidak dilakukan dengan penanganan
yang tepat akan berdampak buruk baik si Ibu maupun untuk janin yang dikandungnya.
Pada saat lahir bayi dapat tampak sehat dan kelainan timbul setelah beberapa minggu,
tetapi dapat pula kelainan ada sejak lahir. Di mana virus Troponema Pallidum masuk
secara hematogen melalui placenta ( UK 10 minggu ), sehingga janin yang terinfeksi
dapat mati atau abortus, lahir mati atterm ( IUFD ), dan lahir hidup dengan tanda- tanda
sifilis kongenital.
Pada bayi dapat dijumpai kondisi sebagai berikut :
Pertumbuhan intrauterine yang terlambat
Kelainan membrane mukosa ( bibir, mulut, laring dan mukosa genital)
Kelainan kulit, rambut dan kuku
Dapat berupa macula eriterm, papullosqruamosa, dan bulla.Bulla sedah ada sejak
lahir yang tersebar secara simetris terutama pada telapak tangan dan kaki.
Kelainan tulang ( terjadi pada 6 bulan pertama )
Tanda sifilis kongenital lanjut :
Kornea : keratitis intersisial
Biasanya terjadi pada umur pubertas dan bilateral.npada kornea timbul pengabuan
menyerupai gelas disertai vaskularisasi sclera.Terjadi pada 20 50% kasus sifilis
kongenital lanjut.
Tulang : perisynovitis
Mengenai kedua lutut yang akan mengakibatakan terjadinya bengkak tanpa nyeri
yang simetris.
Sistem saraf pusat
Biasanya yang menjadi tanda adalah adanya kelemahan umum dan renjatan
2. Gonoroe
Bayi yang terkena gonoroe akan menjadi buta, pembengkakan pada kedua kelopak mata
dan matanya mengeluarkan nanah. Selain itu penyakit sistemik seperti meningitis dan
arthritis, sepsis, pada bayi yang terinfeksi pada proses persalinan
3. HIV/AIDS
Tujuh puluh delapan persen ( 78% ) bayi yang terinfeksi HIV akan menunjukan gejala
klinis menjelang umur 2 tahun dan biasanya 3 sampai 4 tahun kemudian akan
meninggal. Pemaparan terhadap HIV tidak selalu mengakibatkan penularan, beberapa
orng yang terpapar HIV selama bertahun-tahun bisa tidak terinfeksi. Di sisi lain
seseorang yang terinfeksi bisa tidak menampakan gejala selama lebih dari 10 tahun.
Tanpa pengobatan , infeksi HIV ,mempunyai resikom1-2 % untuk menjadi AIDS pada
beberapa tahun pertama. Risiko ini meningkat 5% pada setiap tahun berikutnya. Teknik
perhitungan jumlah virus HIV ( plasma RNA ) dalam darah seperti polymerase chain
reaction ( PCR ) dan branched deoxyribo nucleid acid (bDNA ) test membantu dokter
untuk memonitor efek penobatan dan membantu penilaian prognosis penderita. Kadar
virus ini bervariasi mulai kuran dari beberapa ratus sampai lebi dari sejuta virus
RNA/mL plasma.
Dengan HIV, antibodinya dihasilkan dalam jangka 3-8 minggu.Taap berikutnya
sebelum antibodi tersebut dapat dideteksi dikenal sebagai tahap jendela.Pengujian dapat
dilakukan dengan menggunakan sampel darah, air liur atau air kencing.Pengujian HIV
harus dilakukan sejalan dengan bimbingan sebelum-selama-dan sesudahnya.Jumlah
normal dari sel-sel CD4+T pada seseorang yang sehat adalah 800-1200 sel/ml kubik
darah. Ketika seorang pengidap HIV yang sel-sel CD4+T-nya terhitung dibawah 200,
dia menjadi semakin mudah diserang oleh infeksi-infeksi oportunistik.

F. Penatalaksanaan
Sifilis
Pengobatan sifilis kongenital terbagi menjadi pengobatan pada ibu hamil dan pada bayi.
Penisilin masih tetap merupakan obat pilihan untuk pengobatan sifilis, baik sifilis
didapat maupun kongenital.Pada wanita hamil, tetrasiklin dan doksisiklin merupakan
kontraindikasi. Pengobatan sifilis pada kehamilan dibagi menjadi 3, yaitu :
Sifilis Dini ( primer, sekunder, dan laten dini tidak lebih dari 2 tahun)
Benzatine Penisillin 1x / IM, Penisillin G Prokain dalam aquadest 600.000 IU/IM
selama 10 hari.
Sifilis Lanjut ( lebihan dari 2 tahun )
Benzatine Penisillin G 2.4 juta IU/ IM setiap minggu, selama 3x berturut- turut, atau
dengan Penisilin G Prokain 600.000 UI/ IM setiap hari selama 21 hari
Neurosifilis
Benzidin penicillin 6 9 MU selama 3 sampai 4 minggu. Selanjutnya dianjurkan
pemberian benzyl penicillin 2 -4 MU secara IV setiap 4 jam selama 10 hari.
Wanita hamil dengan sifilis harus diobati sedini mungkin, sebaiknya sebelum hamil
atau pada triwulan 1 untuk mencegah penularan pada janin.Suami harus diperiksa
dengan menggunakan tes reaksi wasserman dan VDRL, bila perlu diobati.
Gonorroe
Pada ibu hamil tidak dapat diberikan obat golongan kuinolon dan tetraksiklin yang
direkomendasikan adalah golongan sefalosporin ( seftriakson 250 Mg/ IM dosis
tunggal). Jika wanita hamil alergi terhadap penisil atau sefalosporin tidak dapat
ditoleransi sebaiknya diberikana Spektinomisin 2 gr/IM sebagai dosis tunggal.
Pada wanita hamil juga dapat diberikan amoksisilin 2 grm / 3 gram peroral dengan
tambahan probenesid 1 grm oral sebagai dosis tunggal saat isolasi N.Gonorrhoeae yang
sensitive terhadap penisilin. Amoksisilin direkomendasikan untuk pengobatan jika
disertai infeksi C. Trachomatis.
Pencegahan
Tidak melakukan hubungan seksual baik vaginal, anal dan oral dengan orang yang
terinfeksi
Pemakaian Kondom dapat mengurangi tetapi tidak dapat menghilangkan sama sekali
risiko penularan penyakit ini
Hindari hubungan seksual sampai pengobatan antibiotik selesai
Sarankan juga pasangan seksual kita untuk diperiksa guna mencegah infeksi lebih
jauh dan mencegah penularan
Pengendalian penyakit menular seksual ini adalah dengan meningkatkan keamanan
kontak seks dengan menggunakan upaya pencegahan.
HIV/ AIDS
Tata cara mencegah penularan HIV dari ibu ke bayi caranya dengan melakukan skrining
yang baik, cara lainnya dengan pemberian obat antiretroviral pada ibu positif, selain itu
dengan melakukan persalinan yang aman pada saat persalinan, selama persalinan,
setelah persalinan.
Untuk mencegah HIV perlu juga diberikan obat anti HIV pada ibu hamil ysng diketahui
terinfeksi HIV pada TM II dan III, diberikan AZT peroral, sedangkan saat persalinan
diberikan AZT melalui infus, keada bayi baru lahir diberikan selama 6 minggu.
Pada persalinan normal kemungkinan penularan HIV lebih besar sehingga pada ibu
hamil di anjurkan untuk menjalani operasi caesar.
Manajemen ibu hamil penderita AIDS tanpa gejala atau dengan gejala, sebaiknya
mendapatkan langkah- langkah sebagai berikut :
Identifikasi Resiko Tinggi yaitu pemakai narkotika intravena, pasangan seksualnya
memakai narkotika intravena.
Dilakukan pemeriksaan darah terhadap HIV.
Diberikan peningkatan pengetahuan tentang HIV/ AIDS
Memberikan konseling mengenai masalah HIV/ AIDS
Infeksi HIV/AIDS saat ini belum ditemukan obatnya sehingga disarankan bagi mereka
yang menderita HIV tidak melakukan huhungan badan tanpa menggunakan alat
kontrasepsi
Pathway Sifilis

Sex berisiko tinggi Hyegene rendah, virulensi kuman tinggi Kontak langsung

Pajanan treponema pallidum

Masuk ke mukosa

Troponema masuk kesaluran limfatik

Sifilis primer

Limfatik Mukosa

Infeksi primer

Papula jadi ulkus bersih, tidak


nyeri dan menonjol (chancre)

Diobati, sembuh Ulserasi soliter dan keras yg tidak nyeri

Kerusakan integritas kulit Menjalar ke kelenjar


inguinal medial

Sifilis sekunder
Lesi pada berbagai
organ dan mukosa
Demam subfebril
Nyeri kepala
Gangguan citra tubuh
Nyeri Hipertermi
Konsep
Asuhan Keperawatan
I. PENGKAJIAN
1. Identitas
Sifilis bisa menyerang pada semua usia dan jenis kelamin.
2. Keluhan Utama
Biasanya klien mengeluh demam, anoreksia dan terdapat lesi pada kulit.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Biasanya klien mengeluh demam, anoreksia dan terdapat lesi pada kulit.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat adanya penyakit sifilis pada anggota keluarga lainnya sangat menentukan.
6. Pengkajian Persistem
a. Sistem integumen
Kulit : biasanya terdapat lesi. Berupa papula, makula, postula.
b. Kepala dan Leher
Kepala : Biasanya terdapat nyeri kepala
Mata : Pada sifilis kongenital terdapat kelainan pada mata (keratitis inter stisial).
Hidung : Pada stadium III dapat merusak tulang rawan pada hidung dan palatum.
Telinga : Pada sifilis kengenital dapat menyebabkan ketulian.
Mulut : Pada sifilis kongenital, gigi hutchinson(incisivus I atas kanan dan kiri
bentuknya seperti obeng).
Leher : Pada stadium II biasanya terdapat nyeri leher.
c. Sistem Pernafasan
d. Sistem kardiovaskuler
Kemungkinan adanya hipertensi, arteriosklerosis dan penyakit jantung reumatik
sebelumnya.
e. Sistem penceranaan
Biasanya terjadi anorexia pada stadium II.
f. Sistem muskuloskeletal
Pada neurosifilis terjadi athaxia.
g. Sistem Neurologis
Biasanya terjadi parathesia.
h. Sistem perkemihan
Biasanya terjadi gangguan pada sistem perkemihan.
i. Sistem Reproduksi
Biasanya terjadi impotensi.

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN


Diagnosa yang kemungkinan muncul pada diagnosa sifilis
1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan agen cedera fisik
2. Nyeri berhubungan dengan agen cedera biologis
3. Hypertermi berhubungan dengan invasi kuman
4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan fungsi tubuh (karena
anomaly atau penyakit)
III. INTERVENSI KEPERAWATAN

No Diagnosa NOC NIC

1. Hypertermi berhubungan Out come : termoregulasi Pengaturan suhu :


dengan invasi kuman Setelah dilakukan tindakan
Monitor suhu paling
keperawatan diharapkan :
tidak Setiap 2 jam
Tidak terjadi peningkatan Tingkatkan intake cairan
suhu tubuh dan nutrisi adekuat
Melaporkan kenyamanan Gunakan matras
suhu penghangat ,selimut,dan
Suhu tubuh dalam batas tingkatkan lingkungan
normal 36,5-37,5 sekitar
Berikan pengobatan
antipiretik yang sesuai

2. Nyeri akut berhubungan Out come : control nyeri Setelah Managemen nyeri :
dengan agen cedera dilakukan tindakan keperawatan Lakukan pengkajian
biologis diharapkan : komprehensif yang
meliputi
Pasien mampu
lokasi,karaktersitik,durasi
mengenali kapan nyeri
,dan frekuensi
terjadi
Observasi adanya
Dapat menggambarkan
petunjuk non verbal
factor penyebab nyeri
mengenai ketidak
Menggunakan tindakan
nyamanan
pengurangan nyeri tanpa
Ajarkan prinsip-prinsip
analgetik
managemen nyeri
Menggunakan analgetik
Kolaborasi dengan tim
yang digunakan
medis lain dalam
penanganan nyeri
3. Kerusakan integritas kulit Out come :integritas jaringan Perlindungan infeksi
berhubungan dengan agen kulit. Setelah dilakukan tindakan
Monitor adanya tanda
cedera fisik keperawatan diharapkan :
dan gejala infeksi
Pigmentasi kembali sistemik local
normal Monitor kerentanan
Elastisitas kulit kembali terhadap infeksi
normal Tingkatkan asupan
Tidak ada lesi pada kulit nutrisi yang adekuat
Integritas kulit normal Kolaborasi dengan tim
medis dapatkan kultur
yang diperlukan .

4. Gannguan citra tubuh Setelah dilakukan tindakan Peningkatan citra tubuh


berhubungan dengan keperawatan diharapkan :
Peningkatan harga diri
perubahan fungsi tubuh
Mempertahankan
Monitor frekuensi dan
gambaran internal diri
pernyataan mengkritisi
Dapat meningkatkan
diri
kepuasan dengan fungsi
Monitor apakah pasien
tubuh
dapat melihat bagian
Dapat meningkatkan
tubuh mana yang
penyesuaian terhadap
berubah
perubahan tampilan fisik
Bantu pasien untuk
Dapat mendeskripsikan
mendiskusiksn
bagian tubuh yang
perubahan-perubahan
terkena
bagian tubuh disebabkan
adanya penyakit atau
pembedahan
Bantu pasien
memisahkan penampilan
fisik dari perasaan
berharga secara pribadi
,dengan cara tepat.
DAFTAR PUSTAKA

Sarwono Prawirohardjo, 2009. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal, Jakarta. YBPS

Fadlun, Feryanto Achmad. 2011. Asuhan Kebidanan Patologis. Jakarta : Salemba Medika

Smeltzer C.S, Bare G.B,. (2002). Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Volume 3.
Jakarta : EGC
Nanda International. (2015). Jakarta : EGC
Nursing Outcome Classification Edisi Kelima. (2016). Yogyakarta : Mocomedia
Nursing Interventions Classification Edisi Keenam. (2016). Yogyakarta : Mocomedia

Anda mungkin juga menyukai