Anda di halaman 1dari 73

TUGAS

PROJECT WORK (PW)

PERENCANAAN BANGUNAN SALURAN JARINGAN IRIGASI

SKEMA JARINGAN
WAY METEN KABUPATEN BURU

Disusun Oleh :

NAMA : NINGRUM
NIM : 25113081
PROG. STUDY : BANGUNAN AIR

POLITEKNIK NEGERI AMBON


JURUSAN TEKNIK SIPIL
2016
LEMBARAN PENGESAHAN

TUGAS PROJECT WORK (PW)


PERENCANAAN BANGUNAN SALURAN JARINGAN IRIGASI
WAY METEN KABUPATEN BURU

Oleh :
Nama : NINGRUM
Nim : 25113081
Prog. Study : Kosentrasi Bangunan Air

Disetujui Mengetahui
Dosen Pembimbing PW Ketua Jurusan Teknik Sipil

Ir. O . A . TOREH, ST LEONORA LEUHERY ,ST .MT


NIP 19581021 198903 1 001 NIP 19700418 199403 2 001

ii
LEMBARAN PENILAIN PROJECT WORK

Telah diperiksa dan setujui laporan project work terhadap mahasiswa :

Nama : NINGRUM
Nim : 25113081
Prog. Study : Teknik Sipil

Dan kepada mahasiswa tersebut diberikan nilai :

A B C D E TL K

Ambon, Juli 2016

Mengetahui
Disetujui
Ketua Jurusan Teknik Sipil
Dosen Pembimbing PW

Ir. O . A . TOREH, ST
LEONORA LEUHERY ,ST .MT
NIP 19581021 198903 1 001
NIP 19700418 199403 2 001

iii
LEMBARAN ASISTENSI
TUGAS PROJECT WORK

Nama : NINGRUM
Nim : 25113081
Prog. Study : Teknik Sipil

Tanggal
No Uraian Asistensi Paraf
Asistensi

Disahkan
Dosen Pembimbing PW

Ir. O . A . TOREH, ST
NIP 19581021 198903 1 001

iv
KATA PENGANTAR

Segala Puji dan Syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena oleh kasih karunia serta bimbinganNya sehingga penulis dapat
menyelesaikan tugas Project Work ini dengan baik sesuai dengan yang diharapkan
Dalam penulisan ini penulis mengalami banyak kendala dan kesulitan dalam
proses penyusunan, tetapi semuanya itu dapat teratasi sehingga tak lupa penulis
mengucapkan terimah kasih kepada semua pihak yang telah rela membantu penulis
dalam penulisan tugas Project Work ini.
Penulisan tugas Project Work ini, penulis menyadari bahwa masih jauh dari
kesempurnaan. Untuk itu, penulis sangat mengharapkan berbagai masukan berupa
kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan tugas Project Work
ini. Penulis Harapkan semoga tugas ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan
sebagai bahan referensi. Akhirnya penulis mengucapkan Terima kasih

Ambon, Juli 2016

Penulis

v
DAFTAR ISI

COVER .................................................................................................................... i
LEMBARAN PENGESAHAN ............................................................................... ii
LEMBARAN PENILAIN PROJECT WORK ....................................................... iii
LEMBARAN ASISTENSI TUGAS PROJECT WORK ....................................... iv
KATA PENGANTAR ............................................................................................ v
DAFTAR ISI .......................................................................................................... vi
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1

I.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1


I.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 2
I.3 Tujuan Penulisan ...................................................................................... 2
I.4 Ruang Lingkup ......................................................................................... 2
I.5 Sistematika Penulisan ............................................................................... 2

BAB II LANDASAN TEORI ................................................................................. 4

II.1 Pengertian Irigasi ...................................................................................... 4


II.2 Jenis-Jenis Irigasi ..................................................................................... 4
II.2.1 Irigasi gravitasi (Gravitational Irrigation) ......................................... 5
II.2.2 Irigasi bawah tanah (Sub Surface Irrigation) .................................... 5
II.2.3 Irigasi siraman (Sprinkler Irrigation) ................................................ 5
II.2.4 Irigasi tetesan (Trickler Irrigation) .................................................... 5

II.3 Klasifikasi Jaringan Irigasi ....................................................................... 5


II.3.1 Jaringan irigasi sederhana ................................................................. 8
II.3.2 Jaringan irigasi semi teknis ............................................................... 8
II.3.3 Jaringan irigasi teknis ........................................................................ 9

II.4 Jenis jenis Bangunan Irigasi ................................................................ 12


II.4.1 Bangunan utama .............................................................................. 12

vi
II.4.2 Bangunan pembawa ........................................................................ 14
II.4.3 Bangunan Terjun ............................................................................. 15
II.4.4 Bangunan bagi dan sadap ................................................................ 15
II.4.5 Bangunan pengatur dan pengukur ................................................... 15
II.4.6 Bangunan Pembuang dan Penguras ................................................ 19
II.4.7 Bangunan Pelengkap ....................................................................... 19

II.5 Perencanaan Saluran ............................................................................... 20


II.5.1. Standar Perencanaan ....................................................................... 20

II.6 Menentukan Elevasi Tinggi Muka Air Di Bangunan. ............................ 31


II.7 Uraian Profil Pulau Buru ....................................................................... 33
II.7.1 Latar Belakang Irigasi Maluku........................................................ 33
II.7.2 Uraian Profil Pulau Buru ................................................................. 34

BAB III PEMBAHASAN ..................................................................................... 37

III.1 Perhitungan Dimensi Saluran Tersier ..................................................... 37


III.2 Perhitungan Dimensi Saluran Sekunder ................................................. 52
III.3 Perhitungan Saluran Primer .................................................................... 57
III.4 Perhitungan Tinggi Muka Air ................................................................ 60

BAB IV PENUTUP .............................................................................................. 62

IV.1. Kesimpulan ............................................................................................. 62


IV.2. Saran ....................................................................................................... 62

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 64

vii
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Irigasi adalah usaha penyediaan dan pengaturan air untuk menunjang


pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi air bawah
tanah, irigasi pompa, dan irigasi tambak. Irigasi dimaksudkan untuk mendukung
produktivitas usaha tani guna meningkatkan produksi pertanian dalam rangka
ketahanan pangan nasional dan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani yang
diwujudkan melalui keberlanjutan sistem irigasi.
Tujuan irigasi adalah mengalirkan air secara teratur sesuai kebutuhan
tanaman pada saat persedian air tanah tidak mencukupi untuk mendukung
pertumbuhan tanaman, sehingga tanaman bisa tumbuh secara normal. Pemberian
air irigasi yang efisien selain dipengaruhi oleh tata cara aplikasi, juga ditentukan
oleh kebutuhan air guna mencapai kondisi air tersedia yang dibutuhkan tanaman.
Pembangunan saluran irigasi sangat diperlukan untuk menunjang penyediaan
bahan pangan, sehingga ketersediaan air di daerah irigasi akan terpenuhi walaupun
daerah irigasi tersebut berada jauh dari sumber air permukaan (sungai). Hal tersebut
tidak terlepas dari usaha teknik irigasi yaitu memberikan air dengan kondisi tepat
mutu, tepat ruang dan tepat waktu dengan cara yang efektif dan ekonomis.
Dalam memenuhi kebutuhan air pada sektor pertanian dengan sistem irigasi,
memang banyak permasalahan yang muncul. Salah satu persoalan utama yang
terjadi dalam penyediaan air irigasi adalah semakin langkanya ketersediaan air pada
waktu-waktu tertentu. Pada sisi lain permintaan air untuk berbagai kebutuhan
cenderung semakin meningkat sebagai akibat peningkatan jumlah penduduk,
beragamnya pemanfaatan air, berkembangnya pembangunan, serta kecenderungan
menurunnya kualitas air akibat pencemaran.
Diharapkan juga bahwa dengan adanya bangunan Bendung Sungai Ular ini
kebutuhan air irigasi di saat musim kemarau dapat tetap terpenuhi. Oleh karena itu
diperlukan suatu cara untuk mengatur cara pemberian air dan sistem pola tanam
yang lebih optimal yaitu dengan menganalisa efisiensi dan optimalisasi pola tanam
serta analisis kebutuhan air.

1
I.2 Rumusan Masalah

Bertolak dari penulisan dan Latar Belakang maka akan banyak timbul
permasalahan dalam perencanaan saluran Irigasi.
a) Kebutuhan air tiap saluran berbeda-beda hal ini tergantung dimensi, elevasi
petak sawah dan saluran serta kapasitas bangunan irigasi tersebut.
b) Bagaimana mengatur debit air tersebut agar dapat dialirkan guna kebutuhan
pertumbuhan tanaman

I.3 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan yang hendak dicapai dari penulisan Project Work ini adalah
sebagai berikut:
- Dapat mengetahui kondisi dan keadaan sistem irigasi.
- Agar dapat memahami dan mengerti akan maksud dan tujuan dari sistem irigasi.
- Menghitung dimensi tiap saluran baik itu tersier,sekunder dan primer
- Memberikan gambaran untuk Memenuhi dan menjaga tiap debit(Q) kapasitas
kebutuhan air tiap jaringan irigasi agar dapat dimanfaatkan tiap waktu tanpa
berpengaruh pada perbedaan musim

I.4 Ruang Lingkup

Penulisan ini dilakukan dengan mengambil beberapa batasan sebagai berikut:

- menghitung dimensi saluran yang diperlukan untuk mengairi sawah.


- menghitung tinggi muka air dalam saluran

I.5 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan secara keseluruhan pada penulisan ini terdiri dari 4 bab,
yang mana uraian masing masing bab adalah sebagai berikut:

2
Bab I Pendahuluan Bab ini berisi latar belakang, rumusan
masalah, tujuan penulisan, ruang lingkup dan
sistematika penulisan
Bab II Tinjauan Pustaka Bab ini mencakup segala hal yang dapat
dijadikan sebagai dasar pengambilan tema
penulisan, penentuan langkah pelaksanaan
dan metode penganalisaan yang diambil dari
beberapa pustaka yang ada yang memiliki
tema sesuai dengan tema penulisan ini.
Bab III Analisis dan Pembahasan Pada bab ini disajikan perhitungan dimensi
saluran tersier, sekunder, primer dan tinggi
muka air.
Bab IV Kesimpulan dan Saran Pada bab ini disampaikan kesimpulan
penulisan dan saran untuk penerapan hasil
penulisan di lapangan.

3
BAB II
LANDASAN TEORI

II.1 Pengertian Irigasi

Irigasi adalah usaha penyediaan dan pengaturan air untuk menunjang


pertanian yang jenisnya meliputi irigasi air permukaan, irigasi air bawahtanah,
irigasi pompa dan irigasi rawa. Semua proses kehidupan dan kejadian di dalam
tanah yang merupakan tempat media pertumbuhan tanaman hanya dapat terjadi
apabila ada air, baik bertindak sebagai pelaku (subjek) atau air sebagai media
(objek). Proses-proses utama yang menciptakan kesuburan tanah atau sebaliknya
yang mendorong degradasi tanah hanya dapat berlangsung apabila terdapat
kehadiran air. Oleh karena itu, tepat kalau dikatakan air merupakan sumber
kehidupan.
Irigasi berarti mengalirkan air secara buatan dari sumber air yang tersedia
kepada sebidang lahan untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Dengan demikian
tujuan irigasi adalah mengalirkan air secara teratur sesuai kebutuhan tanaman pada
saat persediaan lengas tanah tidak mencukupi untuk mendukung pertumbuhan
tanaman, sehingga tanaman bisa tumbuh secara normal. Pemberian air irigasi yang
efisien selain dipengaruhi oleh tatacara aplikasi, juga ditentukan oleh kebutuhan
air guna mencapai kondisi air tersedia yang dibutuhkan tanaman.

II.2 Jenis-Jenis Irigasi

Seperti yang telah dijelaskan diatas irigasi adalah suatu tindakan


memindahkan air dari sumbernya ke lahan-lahan pertanian, adapun pemberiannya
dapat dilakukan secara gravitasi atau dengan bantuan pompa air. Pada prakteknya
ada 4 jenis irigasi ditinjau dari cara pemberian airnya :
a. Irigasi gravitasi (Gravitational Irrigation)
b. Irigasi bawah tanah (Sub Surface Irrigation)
c. Irigasi siraman (Sprinkler Irrigation)
d. Irigasi tetesan (Trickler Irrigation)

4
II.2.1 Irigasi gravitasi (Gravitational Irrigation)
Irigasi gravitasi adalah irigasi yang memanfaatkan gaya tarik gravitasi untuk
mengalirkan air dari sumber ke tempat yang membutuhkan, pada umumnya irigasi
ini banyak digunakan di Indonesia, dan dapat dibagi menjadi: irigasi genangan liar,
irigasi genangan dari saluran, irigasi alur dan gelombang.

II.2.2 Irigasi bawah tanah (Sub Surface Irrigation)


Irigasi bawah tanah adalah irigasi yang menyuplai air langsung ke daerah
akar tanaman yang membutuhkannya melalui aliran air tanah. Dengan demikian
tanaman yang diberi air lewat permukaan tetapi dari bawah permukaan dengan
mengatur muka air tanah.

II.2.3 Irigasi siraman (Sprinkler Irrigation)


Irigasi siraman adalah irigasi yang dilakukan dengan cara meniru air hujan
dimana penyiramannya dilakukan dengan cara pengaliran air lewat pipa dengan
tekanan (4 6 Atm) sehingga dapat membasahi areal yang cukup luas. Pemberian
air dengan cara ini dapat menghemat dalam segi pengelolaan tanah karena dengan
pengairan ini tidak diperlukan permukaan tanah yang rata, juga dengan pengairan
ini dapat mengurangi kehilangan air disaluran karena air dikirim melalui saluran
tertutup.

II.2.4 Irigasi tetesan (Trickler Irrigation)


Irigasi tetesan adalah irigasi yang prinsipnya mirip dengan irigasi siraman
tetapi pipa tersiernya dibuat melalui jalur pohon dan tekanannya lebih kecil karena
hanya menetes saja. Keuntungan sistem ini yaitu tidak ada aliran permukaan.

II.3 Klasifikasi Jaringan Irigasi

Jaringan irigasi adalah satu kesatuan saluran dan bangunan yangdiperlukan


untuk pengaturan air irigasi, mulai dari penyediaan, pengambilan,pembagian,
pemberian dan penggunaannya.Secara hirarki jaringan irigasi dibagi menjadi
jaringan utama dan jaringantersier.Jaringan utama meliputi bangunan, saluran

5
primer dan saluran sekunder.Sedangkan jaringan tersier terdiri dari bangunan dan
saluran yang berada dalam petak tersier. Suatu kesatuan wilayah yang mendapatkan
air dari suatu jariganirigasi disebut dengan Daerah Irigasi.
Berdasarkan cara pengaturan, pengukuran aliran air dan lengkapnya
fasilitas, jaringan irigasi dapat dibedakan kedalam tiga jenis yaitu:

1. Irigasi sederhana (Non Teknis)


2. Irigasi semi teknis
3. Irigasi teknis

Dalam suatu jaringan irigasi yang dapat dibedakan adanya empat unsur
Fungsional pokok yaitu:

1. Bangunan-bangunan utama (headworks) dimana air diambil dari


sumbernya, umumnya sungai atau waduk.
2. Jaringan pembawa berupa saluran yang mengalirkan air irigasi ke petak-
petak tersier.
3. Petak-petak tersier dengan sistem pembagian air dan sistem pembuangan
kolektif, air irigasi dibagi-bagi dan dialirkan ke sawah-sawah dan
kelebihan air ditampung di dalam suatu system pembuangan di dalam
petak tersier.
4. Sistem pembuangan yang ada di luar daerah irigasi untuk membuang
kelebihan air lebih ke sungai atau saluran-saluran alamiah.

Tabel 2.1 Klasifikasi Jaringan Irigasi


Klasifikasi Jaringan Irigasi
Teknis Semi Teknis Sederhana
Bangunan
Bangunan Bangunan permanen atau Bangunan
1
Utama permanen semi sederhana
permanen
2 Kemampuan Baik Sedang Jelek
bangunan dalam

6
mengukur dan
mengatur debit
Saluran
Saluran irigasi Saluran irigasi
irigasi dan
Jaringan saluran dan pembuang dan pembuang
3 pembuang tidak
terpisah jadi satu
sepenuhnya
terpisah
Belum
dikembangkan Belum ada
4 Petak tersier Dikembangkan atau jaringan
seluruhnya densitas terpisah yang
bangunan dikembangkan
tesier jarang
Efesiensi secara 50 60 % 4050 % < 40 %
5
keseluruhan
Tak ada batasan Sampai 2000 ha < 500 ha
6 Ukuran

(Standar Perencanaan Irigasi KP-01, Dept. PU Dirjen Pengairan, 1986)

Gambar 2.1 Sket Jaringan Irigasi

7
Keterangan :
BBS= Bangunan Bagi Sekunder
STS= Saluran Tersier

II.3.1 Jaringan irigasi sederhana

Jaringan irigasi sederhana mudah diorganisasikan karena menyangkut


pemakai air dari latar belakang sosial yang sama. Namun jaringan ini masih
memiliki beberapa kelemahan antara lain,

- terjadi pemborosan air karena banyak air yang terbuang,


- air yang terbuang tidak selalu mencapai lahan di sebelah bawah yang lebih
subur, dan
- bangunan penyadap bersifat sementara, sehingga tidak mampu bertahan lama.

Gambar 2.1 memberikan ilustrasi jaringan irigasi sederhana.


Gambar 2.1 Skema contoh jaringan irigasi sederhana
Sumber : Kritetia Perencanaan Irigasi KP 01

II.3.2 Jaringan irigasi semi teknis

Memiliki bangunan sadap yang permanen ataupun semi


permanen.Bangunan sadap pada umumnya sudah dilengkapi dengan bangunan

8
pengambil dan pengukur. Jaringan saluran sudah terdapat beberapa bangunan
permanen, namun system pembagiannya belum sepenuhnya mampu mengatur dan
mengukur. Karena belum mampu mengatur dan mengukur dengan baik, system
pengorganisasian bias anya lebih rumit.

Gambar 2..2 memberikan ilustrasi jaringan irigasi semi teknis sebagai bentuk
pengembangan dari jaringan irigasi sederhana.
Gambar 2.2. Skematis contoh jaringan irigasi teknis.
Sumber : Kritetia Perencanaan Irigasi KP 01

II.3.3 Jaringan irigasi teknis

Mempunyai bangunan sadap yang permanen. Bangunan sadap serta


bangunan bagi mampu mengatur dan mengukur. Disamping itu terdapat pemisahan
antara saluran pemberi dan pembuang. Pengaturan dan pengukuran dilakukan dari
bangunan penyadap sampai ke petak tersier. Untuk memudahkan sistem pelayanan
irigasi kepada lahan pertanian, disusun suatu organisasi petak yang terdiri dari petak
primer, petak sekunder, petak tersier, petak kuarter dan petak sawah sebagai satuan
terkecil.

9
Gambar 2.3 memberikan ilustrasi jaringan irigasi teknis sebagai
pengembangan dari jaringan irigasi semi teknis.

Petak tersier menduduki fungsi sentral dalam jaringan irigasi teknis. Sebuah
petak tersier terdiri dari sejumlah sawah dengan luas keseluruhan yang umumnya
berkisar antara 50 100 ha, kadang - kadang sampai 150 ha.
Petak tersier menerima air di suatu tempat dalam jumlah yang sudah diukur
dari suatu jaringan pembawa yang diatur oleh Dinas Pengairan. Untuk
memudahkan sistem pelayanan irigasi kepada lahan pertanian, disusun suatu
organisasi petak yang terdiri dari petak primer, petak sekunder, petak tersier, petak
kuarter dan petak sawah sebagai satuan terkecil

1) Petak Tersier

Perencanaan dasar yang berkenaan dengan unit tanah adalah petak


tersier.Petak ini menerima air irigasi yang dialirkan dan diukur pada bangunan
sadap (off take) tersier yang menjadi tanggung jawab Dinas Pengairan.Bangunan
sadap tersier mengalirkan airnya ke saluran tersier.Di petak tersier pembagian air,

10
eksploitasi dan pemeliharaan menjadi tanggung jawab para petani yang
bersangkutan, di bawah bimbingan pemerintah.Ini juga menentukan ukuran petak
tersier. Petak yang kelewat besar akan mengakibatkan pembagian air menjadi tidak
efisien.
Faktor-faktor penting lainnya adalah jumlah petani dalam satu petak, jenis
tanaman dan topografi.Di daerah-daerah yang ditanami padi luas petak tersier
idealnya maksimum 50 ha, tapi dalam keadaan tertentu dapat ditolelir sampai seluas
75 ha, disesuaikan dengan kondisi topografi dan kemudahan eksploitasi dengan
tujuan agar pelaksanaan Operasi dan Pemeliharaan lebih mudah.Petak tersier harus
mempunyai batas-batas yang jelas seperti misalnya parit, jalan, batas desa dan batas
perubahan bentuk medan (terrain fault). Petak tersier dibagi menjadi petak-petak
kuarter, masing- masing seluas kurang lebih 8 - 15 ha.
Petak tersier harus terletak langsung berbatasan dengan saluran sekunder
atau saluran primer. Perkecualian: kalau petak-petak tersier tidak secara langsung
terletak di sepanjang jaringan saluran irigasi utama yang dengan demikian,
memerlukan saluran tersier yang membatasi petak-petak tersier lainnya, hal ini
harus dihindari.Panjang saluran tersier sebaiknya kurang dari 1.500 m, tetapi dalam
kenyataan kadang-kadang panjang saluran ini mencapai 2.500 m. Panjang saluran
kuarter lebih baik di bawah 500m, tetapi prakteknya kadang-kadang sampai 800 m.

2) Petak sekunder

Petak sekunder terdiri dari beberapa petak tersier yang kesemuanya dilayani
oleh satu saluran sekunder. Biasanya petak sekunder menerima air dari bangunan
bagi yang terletak di saluran primer atau sekunder. Batas-batas petak sekunder pada
umumnya berupa tanda-tanda topografi yang jelas, misalnya saluran pembuang.
Luas petak sekunder bias berbeda-beda, tergantung pada situasi daerah.
Saluran sekunder sering terletak di punggung medan mengairi kedua sisi
saluran hingga saluran pembuang yang membatasinya. Saluran sekunder boleh juga
direncana sebagai saluran garis tinggi yang mengairi lerenglereng medan yang lebih
rendah saja.

11
3) Petak primer

Petak primer terdiri dari beberapa petak sekunder, yang mengambil air
langsung dari saluran primer.Petak primer dilayani oleh satu saluran primer yang
mengambil airnya langsung dari sumber air, biasanya sungai.Proyek-proyek irigasi
tertentu mempunyai dua saluran primer.Ini menghasilkan dua petak primer
Daerah di sepanjang saluran primer sering tidak dapat dilayani dengan
mudah dengan cara menyadap air dari saluran sekunder. Apabila saluran primer
melewati sepanjang garis tinggi, daerah saluran primer yang berdekatan harus
dilayani langsung dari saluran primer.

II.4 Jenis jenis Bangunan Irigasi

II.4.1 Bangunan utama

Bangunan utama dapat didefinisikan sebagai kompleks bangunan yang


direncanakan di sepanjang sungai atau aliran air untuk membelokkan air ke dalam
jaringan saluran agar dapat dipakai untuk keperluan irigasi. Bangunan utama bisa
mengurangi kandungan sedimen yang berlebihan serta mengukur banyaknya air
yang masuk.

12
Bangunan terdiri dari bangunan-bangunan pengelak dengan peredam
energi, satu atau dua pengambilan utama, pintu bilas, kolam olak, dan kantong
lumpur, tanggul banjir pekerjaan sungai dan bangunan-bangunan pelengkap.
Bangunan utama dapat diklasifikasi ke dalam sejumlah kategori, bergantung
kepada perencanaannya. Berikut ini akan dijelaskan beberapa kategori, antara lain:

a. Bendung atau bendung gerak


Bendung (weir) atau bendung gerak (barrage) dipakai untuk meninggikan muka
air di sungai sampai pada ketinggian yang diperlukan agar air dapat dialirkan
ke saluran irigasi dan petak tersier. Ketinggian itu akan menentukan luas daerah
yang di airi (command area). Bendung gerak adalah bangunan yang dilengkapi
pintu yang dapat dibuka untuk mengalirkan air pada waktu terjadi banjir besar
dan ditutup apabila air kecil. Di Indonesia, bendung adalah bangunan yang
paling umum dipakai untuk membelokkan air sungai untuk keperluan irigasi.
b. Pengambilan bebas
Pengambilan bebas adalah bangunan yang dibuat ditepi sungai yang
mengalirkan air sungai ke dalam jaringan irigasi tanpa mengatur tinggi muka
air sungai. Dalam keadaan demikian, jelas bahwa muka air disungai harus lebih
tinggi dari daerah yang diairi dan jumlah air yang dibelokkan harus dapat
dijamin cukup.
c. Pengambilan dari wadu
Waduk (reservoir) digunakan untuk menampung air irigasi pada waktu terjadi
surplus air disungai agar dapat dipakai sewaktu-waktu terjadi kekurangan air.
Jadi, fungsi utama waduk adalah untuk mengatur aliran sungai. Waduk yang
berukuran besar sering mempunyai banyak fungsi seperti untuk keperluan
irigasi, tenaga air pembangkit listrik, pengendali banjir, perikanan dan
sebagainya. Waduk yang berukuran kecil dipakai untuk irigasi saja.
d. Stasiun pompa
Irigasi dengan pompa bias dipertimbangkan apabila pengambilan secara
gravitasi ternyata tidak layak dilihat dari segi teknis maupun ekonomis. Pada
mulanya irigasi pompa hanya memerlukan modal kecil, tetapi biaya
eksploitasnya mahal.

13
II.4.2 Bangunan pembawa

Bangunan pernbawa mempunyai fungsi membawa / mengalirkan air dari


sumbernya menuju petak irigasi. Bangunan pembawa meliputi saluran primer,
saluran sekunder, saluran tersier dan saluran kwarter. Termasuk dalam bangunan
pembawa adalah talang, gorong-gorong, siphon, dan got miring. Saluran primer
biasanya dinamakan sesuai dengan daerah irigasi yang dilayaninya.

A. Talang

Bangunan mengalirkan air meintasi lembah dengan dasar saluran tidak terletak
di atas permukaan tanah dan dengan aliran bersifat bebas.

B. Gorong-gorong

Gorong gorong merupakan bangunan pelintasan yang dilewati saluran irigasi.


Saluran pembawa ini melintasi bangunan lain ( jalan , saluran alam ) dengan aliran
bersifat bebas.

C. SiphoN

Bangunan silang berupa saluran tertutup yang mengalirkan air di bawah


bangunan lain ( missal jalan atau saluran maupun sungai ) dengan sifat aliran air
tertekan.

D. Bangunan got miring

Jika suatu saluran pasangan mempunyai kemiringan cukup besar . Apabila


potongan memanjang medan mempunyai kemiringan melebihi yang diperlukan
oleh dasar saluran . Sedang kalau dibangun bangunan terjun memerlukan beberapa
buah bangunan , maka dibuat bangunan got miring yang mempunyai fungsi seperti
bangunan terjun.

14
II.4.3 Bangunan Terjun

Bangunan tejun atau got miring diperlukan jika kemiringan permukaan


tanah lebih curam daripada kemiringan maksimum saluran yang diizinkan.
Bangunan semacam ini mempunyai empat bagian fungsional, masing-masing
memiliki sifat-sifat perencanaan yang khas.

1. Bagian hulu pengontrol, yaitu bagian di mana aliran menjadi superkritis


2. Bagian dimana air dialirkan ke elevasi yang lebih rendah.
3. Bagian tepat di sebelah hilir, yaitu tempat dimana energy diredam
4. Bagian peralihan aluran memerlukan lindungan untuk mencegah erosi

II.4.4 Bangunan bagi dan sadap

1. Bangunan bagi terletak disaluran primer dan sekunder pada suatu titik
cabang dan berfungsi untuk membagi aliran antara dua saluran atau lebih.
2. Bangunan sadap tersier mengalirkan air dari saluran primer atau sekunder
ke saluran tersier penerima
3. Bangunan bagi dan sadap digabungkan menjadi satu rangkaian bangunan
4. Boks-boks bagi disaluran tersier membagi aliran untuk dua saluran atau
lebih (tersier, subtersier, kuarter)

II.4.5 Bangunan pengatur dan pengukur

Agar pemberian air irigasi sesuai dengan yang direncanakan, perlu


dilakukan pengaturan dan pengukuran aliran di bangunan sadap (awal saluran
primer), cabang saluran jaringan primer serta bangunan sadap primer dan sekunder.
Bangunan pengatur muka air dimaksudkan untuk dapat mengatur muka air sampai
batas-batas yang diperlukan untuk dapat memberikan debit yang konstan dan sesuai
dengan yang dibutuhkan. Sedangkan bangunan pengukur dimaksudkan untuk dapat
memberi informasi mengenai besar aliran yang dialirkan. Kadangkala, bangunan
pengukur dapat juga berfungsi sebagai bangunan

15
pengatur. Peralatan ukur dapat dibedakan menjadi alat ukur aliran-atas bebas (free
overflow) dan alat ukur aliran bawah (underflow). Beberapa dari alat pengukur
dapat juga dipakai untuk mengatur aliran air. Parameter dalam menentukan
pemilihan alat ukur debit adalah sebagai berikut :

1. Kecocokan bangunan untuk keperluan pengukuran debit


2. Ketelitian pengukuran di lapangan
3. Bangunan yang kokoh, sederhana dan ekonomis
4. Rumus debit sederhana dan teliti
5. Eksploitasi dan pembacaan mudah
6. Pemeliharaan mudah dan murah
7. Cocok dengan kondisi setempat dan dapat diterima oleh para petani

Tabel 2.2
Beberapa jenis alat ukur debit
No Tipe Alat Ukur Mengukur Kemampuan
Dengan Aliran Mengatur
1 Ambang Lebar Atas Tidak
2 Parshall Atas Tidak
3 Cipoleti Atas Tidak
4 Romijin Atas Ya
5 Crump de Gruyter Bawah Ya
6 Pipa Sederhana Bawah Ya
7 ConstantHead Orifice Bawah Ya
(Standar Perencanaan Irigasi KP-01, Dept. PU Dirjen Pengairan, 1986)

Peralatan diatas dianjurkan pemakaiannya:

- Di hulu saluran primer, untuk aliran besar alat ambang lebar dipakai untuk

pengukuran dan pintu sorong atau radial untuk mengaturnya.

- Di bangunan bagi/bangunan sadap sekunder, pintu Romijn dan pintu Crump


de Gruyter dipakai untuk mengukur dan mengatur airan. Bila debit besar ,

16
maka alat ukur ambang lebar dengan pintu sorong atau radial bi as dipakai
seperti saluran primer.
- Bangunan sadap tersier, untuk mengatur dan mengukur aliran dipakai alat
ukur Romijn atau jika fluktuasi di saluran besar dapat dipakai alat ukur Crump
de Gruyter. Di petak
- petak tersier kecil di sepanjang saluran primer dengan tinggi muka air yang
bervariasi, dapat dipertimbangkan untuk memakai bangunan sadap pipa
sederhana.

a. Alat Ukur Romiyn

Alat ukur ambang lebar yang bisa digerakkan (naik/turun) untuk mengatur dan
mengukur debit di dalam jaringan saluran irigasi. Terbuat dari pelat baja dan
dipasang diatas pintu sorong. Alat ukur Romiyn ini digunakan di depan bangunan
intake saluran. Dilihat dari segi hidrolis, pintu Romiyn dengan mercu horizontal
dan peralihan penyempitan lingkaran tunggal adalah serupa dengan alat ukur
ambang lebar, maka persamaan antara tinggi dan debitnya adalah :
Q = 1,71 m . b . h 3/2 (2.1)
Dimana :
Q= debit (m3/det)
m= Koefisien pengaliran, untuk ambang datar (L= 3 x h1, nilai m= 0,970,98.
Bila L=h1, nilai m=0,98-1,01.
(h1 adalah tinggi energi hulu, m)
(L adalah panjang mercu, m)
b= lebar pintu
g= percepatan gravitasi,(m/det2) ( 9,8 1)
h= kedalaman air hulu terhadap ambang bangunan ukur (m)

Kelebihan :
1. Bangunan bisa mengukur dan mengatur
2. Dapat membilas sedimen halus

17
3. Ketelitiannya cukup baik

Kekurangan :
1. Pembuatannya rumit dan mahal
2. Bangunan ini membutuhkan muka air yang tinggi di saluran
3. Biaya pemeliharaannya relatif mahal

b. Pintu Sorong

Pintu sorong merupakan pintu air dengan pengaliran bawah.

Gambar 2.6 Aliran di Bawah Pintu Sorong dengan Dasar Horizontal

Persamaan debit yang dipakai untuk pintu sorong :


Q = . a . b ( 2 . g . z ) (2.2)
Dimana :
Q = debit, m3/det
= koefisien debit ( 0,60)
a = bukaan pintu, m
b = lebar pintu, m
g = gravitasi (m) (+9,81)
z = diambil 0,1 m
Keuntungan :

1. Tinggi muka air di hulu dapat dikontrol dengan cepat

18
2. Pintu bilas kuat dan sederhana

Kelemahan :

1. Benda - benda hanyut dapat tersangkut di pintu


2. Kecepatan aliran dan muka air dihulu dapat dikontrol dengan baik jika aliran
moduler.

II.4.6 Bangunan Pembuang dan Penguras

Gorong-gorong adalah bangunan pembuang silang yang paling umum


digunakan sebagai lindungan-luar. Siphon dipakai jika saluran irigasi kecil melintas
saluran pembuang yang besar. Dalam hal ini, biasanya lebih aman dan ekonomis
untuk membawa air irigasi dengan siphon lewat dibawah saluran pembuag tersebut.
Bangunan penguras, biasanya dengan pintu yang dioperasikan dengan tangan,
dipakai untuk mengosongkan seluruh ruas saluran bila diperlukan. Untuk
mengurangi tingginya biaya, bangunan ini dapat digabung dengan bangunan
pelimpah.

II.4.7 Bangunan Pelengkap

Sebagaimana namanya, bangunan pelengkap berfungsi sebagai pelengkap


bangunan-bangunan irigasi yang telah disebutkan sebelumnya. Bangunan
pelengkap berfungsi sebagai untuk memperlancar para petugas dalam eksploitasi
dan pemeliharaan. Bangunan pelengkap dapat juga dimanfaatkan untuk pelayanan
umum. Jenis-jenis bangunan pelengkap antara lain jalan inspeksi, tanggul,
jernbatan penyebrangan, tangga mandi manusia, sarana mandi hewan, serta
bangunan lainnya

19
II.5 Perencanaan Saluran

Di dalam perencanaan saluran-saluran irigasi, akan dijumpai perhitungan


dimensi dan kemiringan dasar saluran dengan cara pendekatan-pendekatan.
Tujuannya adalah untuk mendapatkan bentuk saluran yang stabil, murah dan
memenuhi persyaratan hidrolis. Rumus-rumus pendekatan didasarkan atas
percobaan ataupun penelitian dalam jangka waktu yang lama. Sebagai contoh, salah
satu penelitian untuk mendapatkan kecepatan aliran yang optimum, telah dilakukan
oleh Steevensz dengan rumus V = 0,45 Q0,225, dimana Q = debit aliran dalam
m3/detik (Chouw, 1992). Fortier dan Scobey juga membuat daftar kecepatan
maksimal untuk berbagai jenis tanah atau lahan dengan debit yang direncanakan.
Ada lagi pendekatan lain, dengan membatasi kecepatan aliran tidak lebih
dari 0,75 m/detik agar rumput-rumput tidak tumbuh, atau kecepatan aliran tidak
lebih dari 0,40 m/detik agar nyamuk-nyamuk tidak berkembang (Robert Ch., 1992).
Di Indonesia pendekatan-pendekatan telah dibuat sebagai standar perencanaan
yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pengairan, Kementerian Pekerjaan
Umum dalam buku Pedoman Kriteria Perencanaan Teknis Irigasi, 1980.

II.5.1. Standar Perencanaan

Standar perencanaan yang digunakan dalam merencanakan saluran irigasi


adalah standar irigasi yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Pengairan Kementerian
Pekerjaan Umum, dalam buku Pedoman Kriteria Perencanaan Teknis Irigasi, edisi
Agustus 1980. Selain dari pada itu juga digunakan kriteria dari sumber-sumber lain
yang terdapat dalam literaturliteratur. Berikut ini kriteria perencanaan untuk saluran
primer, skunder, tersier dan kuarter berdasarkan buku standar diatas.

a. Saluran Primer dan Sekunder


a) Bentuk Penampang

20
Pada prinsipnya bentuk penampang saluran direncanakan sebagai saluran
terbuka (open channel) yang berbentuk trapesium, tanpa lapisan pelindung. Bentuk
penampang melintang saluran dipilih sebagai berikut.

Untuk daerah timbunan

Untuk daerah galian

Keterangan:
B = lebar dasar saluran, m.
h = tinggi air, m.
fb = tinggi jagaan (freeboard), m.
H = tinggi total saluran, m.
m = perbandingan sudut dalam saluran
Ne = perbandingan sudut sebelah luar
Nc = perbandingan sudut sebelah dalam

21
Wr = lebar jalan inspeksi, m
W = lebar atas tanggul, m.

b) Perbandingan lebar saluran dan tinggi air (B/h)

Menurut buku Pedoman Kriteria Perencanaan Teknis Irigasi, 1980; lebar dasar
saluran minimum 30 cm. Perbandingan lebar dasar saluran dan tingi air (B/h) sangat
tergantung dari besar debit yang akan mengalir, seperti terlihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Perbandingan (B/h)
Debit saluran (m3/det) (B/h)
< 0,30 1
0,30 - 050 1,5
0,50 - 1,50 2
1,50 - 3,00 2,5
3,00 - 4,50 3
4,50 - 6,00 3,5
6,00 - 7,50 4
7,50 - 9,00 4,5
9,00 - 11,00 5
Sumber: Pedoman Kriteria Perencanaan Teknis Irigasi.

c) Kemiringan lereng atau talud (m, Nc, Ne)

Kemiringan lereng atau talud adalah perbandingan antara panjang garis vertikal
yang melalui puncak saluran dan panjang garis horizontal yang melalui tumit
saluran. Kemiringan lereng atau talud juga tergantung dari jenis bahan atau material
saluran yang digunakan. Dalam hal ini besar kohesi tanah c dan sudut geser dalam
tanah () yang dapat menjaga kesetabilan lereng saluran. Tinggi timbunan juga
mempengaruhi terhadap stabilitas saluran, sehingga dalam menentukan besar
kemiringan talud perlu dievaluasi terhadap stabilitas kelongsoran lereng. Untuk
kondisi normal, standar irigasi memberikan
harga kemiringan lereng seperti pada Tabel 2

22
.
Bila kedalaman galian lebih dalam dari tinggi saluran, maka diperlukan
kemiringan dalam (Nc) dan kemiringan lereng luar (Ne).

d) Tinggi jagaan (freeboard), fb

Tinggi jagaan (freboard), fb yaitu jarak vertikal tanggul saluran dengan tinggi
muka air saat debit maksimum. Tinggi jagaan sebuah saluran, ditetapkan
berdasarkan debit saat banjir. Tinggi jagaan minimum untuk saluran menurut
standar irigasi seperti pada Tabel 5.

23
e) Lebar atas tanggul Wr dan lebar berm W
Bila tanggul saluran digunakan sebagai jalan inspeksi, maka lebar dan ukuran
tanggul tersebut direncanakan sebagai jalan inspeksi. Namun bila jalan inspeksi
tidak dibuat diatas tanggul, maka tanggul dibuat sama seperti pada berm, seperti
pada Tabel 6.

b. Perhitungan Saluran Primer dan Sekunder

a) Rumus Pengaliran
Aliran yang terjadi di dalam saluran dianggap sebagai aliran seragam
(uniformflow). Untuk menghitung kecepatan aliran dan kemiringan saluran
(gradien hidrolis), dipakai rumus Manning.
1
V= R2/3 S1/2

Dimana:
V = kecepatan rata-rata aliran, m/det
n = nilai koefisien kekasaran Manning
R = jari-jari hidrolis, m
S = kemiringan atau gradien hidrolis

24
Debit yang mengalir di dalam saluran, dapatdihitung menurut rumus kontinuitas.
Q = A.V
Dimana:
Q = debit air yang mengalir, m3/det.
A = luas penampang basah saluran, m2.
V = kecepatan rata-rata aliran, m/det.

b) Nilai koefisien kekasaran dasar saluran menurut Manning dan Strickler

Nilai koefisien kekasaran dasar saluran (n) menurut Manning tergantung dari
kondisi saluran. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi nilai kekasaran tersebut,
baik untuk saluran alam maupun saluran buatan, antara lain:
1. Kekasaran permukaan saluran,
2. Ada tidaknya tanaman/tumbuhan dalam saluran,
3. Ketidakteraturan saluran,
4. Trase saluran,
5. Pengendapan dan penggerusan,
6. Hambatan di dalam saluran, misalnya adanya balokbalok, pilar jembatan
dan lain-lain.
Sedang menurut Strickler besarnya nilai kekasaran dasar saluran (Kst)
tergantung dari ukuran butiran sedimen atau ukuran butiran-butiran tanah saluran.
Dari hasil percobaan menurut Strickler, diperoleh nilai Kst adalah:

Dimana:
d = ukuran butir tanah saluran, mm.
g = gravitasi bumi (g = 9,81 m/det2).

Menurut standar irigasi, harga n atau Kst dilihat dari Tabel 7.

25
c) Kecepatan aliran di dalam saluran

Untuk saluran yang tidak dilapisi, maka perlu dibatasi kecepatan aliran, baik
kecepatan maksimum maupun minimum. Kecepatan minimum yang diijinkan, atau
kecepatan tanpa pengendapan (non settling velocity) yaitu kecepatan aliran yang
tidak menimbulkan pengendapan atau sedimentasi dan mendorong pertumbuhan
tanaman air. Hal ini dapat menyebabkan berkurangnya kapasitas saluran.
Sedangkan kecepatan maksimum yang diijinkan atau kecepatan tahan erosi (non
erodible velocity) adalah kecepatan rata-rata terbesar yang tidak menimbulkan erosi
pada tubuh saluran. Kecepatan minimum dan maksimum yang diijinkan menurut
standar irigasi seperti pada Tabel 8.

Untuk mendimensi saluran yang digunakan kecepatan standar irigasi, sejauh hal
ini masih memungkinkan dan layak. Namun jika kecepatan standar ini
menghasilkan gradien hidrolis yang tidak mungkin karena kondisi topografi yang

26
terlalu datar, maka dapat ditentukan kecepatan aliran yang memenuhi kecepatan
minimum dan maksimum seperti di atas. Kecepatan standar yang disarankan dapat
dilihat pada Tabel 9

d) Dimensi saluran
Saluran direncanakan sebagai saluran terbuka yang berbentuk trapesium

Unsur-unsur geografis dari penampang saluran yang berbentuk trapesium adalah:


A = luas penampang basah, m2
= h(B + m.h)
P = keliling basah, m
= B + 2h 1 + 2
R = jari-jari hidrolis, m
=A:P

27
= {h (B + m.h)} : {( B + 2h 1 + 2 )}
Q = debit saluran, m3/det
= V.A

Langkah-langkah untuk mendimensi saluran:

1) Bila debit rencana sudah ditetapkan, pilih nilai kekasaran Manning (n),
perbandingan (B/h), talud (m) dan kecepatan standar, lihat Tabel 7, Tabel 1,
Tabel 2 dan Tabel 9.
2) Menghitung luas penampang basah, A. Dari rumus Q = V.A, maka:

=

3) Dari hubungan (B/h) seperti pada Tabel 1 dan luas penampang basah A = h(B
+ m.h), maka tinggi air (h) dapat ditentukan dan dilihat pula nilai lebar dasar
saluran (B).
4) Tentukan nilai lebar dasar saluran baru (Bb) yang sesuai, agar praktis. Hal ini
dilakukan karena sering didapat nilai B dalam bentuk bilangan yang tidak
bulat, sehingga susah nantinya dilaksanakan di lapangan. Dengan nilai lebar
dasar saluran baru Bb, maka dari persamaan A = h(Bb + m.h) di dapat nilai
tinggi air yang baru, hb.
5) Dari rumus Manning, dapat ditentukan gradient hidraulik saluran.

Dimana:
S = gradien hidrolis.
V = kecepatan aliran standar, m/det.
n = nilai koefisien kekasaran Manning.
R = jari-jari hidrolis, m.
= hb (Bb + m.hb) : (Bb + 2hb 1 + 2

28
6) Tambahkan tinggi jagaan dari Tabel 5 yang sesusai dengan debit rencana,
maka diperoleh tinggi total saluran.
7) Untuk tujuan praktis, maka dibuat dimensidimensi standar sehingga dimensi
saluran yang direncanakan tidak terlalu banyak tipe.

c. Saluran Tersier dan Kuarter


1) Bentuk penampang saluran

Untuk saluran tersier dan kuarter, seluruhnya direncanakan sebagai saluran


terbuka (open channel) tanpa pasangan dan berbentuk trapesium.

Besaran-besaran untuk dimensi saluran tersier dan kuarter seperti pada Tabel
10 berikut.

Catatan: H adalah tinggi tanggul dari elevasi tanah asli (sawah) yang disyaratkan,
tidak boleh kurang dari 0,30 m, hal ini untuk menjamin terlayaninya sawah dengan
memuaskan

29
2) Disain hidrolis saluran

Ada beberapa perhitungan dan asusmsi sebagai berikut:

a. Rumus pengaliran dan koefisien pengaliran Untuk mendimensi saluran,


digunakan rumus pengaliran seragam (uniorm flow) dari Manning.
Q = A.V
= A.1/n . R2/3 . S1/2
Pendimensian saluran sama dengan cara mendimensi saluran primer dan
skunder. Nilai koefisien kekasaran Manning, untuk saluran tersier dan kuarter
diamnbil n = 0,025 atau Kst = 40.
b. Perhitungan dimensi saluran Untuk keperluan praktis baik perencanaan maupun
pekaksanaan, maka dibuat 5 (lima) tipe saluran seperti pada Tabel 11. Dalam
memilih tipe saluran tersier dan kuarter yang layak, maka perlu diperhatikan
kecepatan pengaliran yang menyebabkan pengendapan maupun erosi. Untuk itu
ditetapkan besarnya kecepatan standar, kecepatan minimum dan kecepatan
maksimum seperti pada Tabel 12.

30
Langkah-langkah untuk mendimensi saluran:

1. Bila debit rencana sudah diketahui, pilih kecepatan standar seperti pada Tabel
12, kemudian hitung A = Q/V.
2. Karena perbandingan (B/h) = 1 dan talud m = 1, maka A= h (B +mh) = 2 h2,
sehingga h = A/2 .
3. Pilih tipe saluran yang sesuai dari Tabel 11.
4. Hitung gradien hidrolis, dari rumus:
S = n2 . V2 / R4/3
Dimana:
n = 0,25.
V = kecepatan aliran standar, Tabel 12.
R = jari-jari hidrolis.
S = gradien hidrolis.

II.6 Menentukan Elevasi Tinggi Muka Air Di Bangunan.

Tinggi muka air yang diperlukan dalam jaringan utama di dasarkan pada
tinggi muka air diperlihatkan di sawah-sawah yang diairi air prosedurnya sebagai
berikut :

Hitung tinggi muka air di bangunan sadap tersier.


Hitung kehilangan disaluran kuarter dan tersier serta bangunan,
dijumlahkan menjadi tinggi muka disawah yang diperlukan dalam petak
tersier.
Tentukan kehilangan tinggi energy dibangunan sadap tersier dan
persediaan untuk variasi air akibat eksploitas jaringan utama.

31
Gambar. Perbandingan Tingi Muka Air Disaluran

Elevasi muka air yang diperlukan di saluran primer/sekunder di hulu bangunan


sadap tersier dapat ditentukan dengan rumus berikut:

P = A + a + b + m c + d + n + e + f + g + h + z

Dimana :
P : muka air yang dibutuhkan disaluran sekunder/induk
A : elevasi sawah tertinggi.
a : lapisan air sawah (10-15).
b : HTT pada saluran kuarter sampai sawah 5 cm.
c : HTT di box kuarter 5cm/box.
d : HTT pada bangunan pembawa disaluran irigasi = I L.
e : HTT di box bagi tersier 10 cm
f : HTT pada gorong-gorong 5 cm.
g : HTT pada bangunan sadap tersier = 1/3.H (Romijn).
h : variasi muka air (0,05-0,30).
z : HTT di bangunan petak tersier lainya.
m : jumlah box kuarter di trase tersebut.
n : jumlah box tersier tersier di trase saluran

32
II.7 Uraian Profil Pulau Buru

II.7.1 Latar Belakang Irigasi Maluku

Luas wilayah Provinsi Maluku secara keseluruhan 581.376 Km2, terdiri dari
luas lautan 527.191 km2 dan luas daratan 54.185 km2 atau dengan kata lain sekitar
90 % wilayah Provinsi Maluku adalah lautan. Berdasarkan letak geografis, wilayah
Provinsi Maluku terletak antara 2o 31 9o Lintang Selatan dan 124o 136o Bujur
Timur. Provinsi Maluku merupakan daerah kepulauan yang terdiri dari 1.412
pulau-pulau dan dari sejumlah pulau tersebut, terdapat beberapa pulau yang
tergolong besar seperti : Pulau Buru, Pulau Seram, Pulau Ambon, Pulau Yamdena,
Pulau Wetar, Pulau Wokam, Pulau Kobroor, Pulau Maekor, Pulau Kola dan Pulau
Trangan.
Potensi daerah irigasi di Provinsi Maluku terdapat di Pulau Buru (luas
potensi 15.512 ha, sudah dikembangkan 8.352 ha) dan Pulau Seram (luas potensi
55.693 ha, (termasuk 30.000 ha di Dataran Tehoru dan Werinama yang belum

33
diinventarisir), yang baru dikembangkan 6.674 ha. Pada Tahun 2006 di Pulau
Babar telah di laksanakan inventarisasi daerah irigasi seluas ( 3.000 ha),
sedangkan potensi irigasi rawa terdapat di Kepulauan Aru ( 7.000ha)`
Pulau seram dengan luas 18.625 km2 mempunyai potensi daerah irigasi
seluas ( 25.693 ha) tersebar di Dataran Pasahari ( 23.447 ha), di Dataran Kairatu
( 1.846 ha) dan di Kawasan Karlutu ( 400 ha). Luas fungsional daerah irigasi
yang sudah dikembangkan di Pulau Seram baru mencapai 6.674 ha.
Permasalahan daerah irigasi di Indonesia sangat beragam dan hampir sama
di seluruh provinsi dan sampai saat ini penanganannya belum terlaksana secara
optimal.

II.7.2 Uraian Profil Pulau Buru


1. Letak Daerah

Daerah penelitian adalah wilayah Kabupaten Buru Selatan, Provinsi Maluku.


Secara geografis letak daerah penelitian sebelah Utara dengan Kabupaten Buru dan
Laut Seram, sebelah Selatan dengan Laut Banda, sebelah Barat berbatasan dengan
Laut Banda, dan sebelah Timur dengan Kabupaten Buru dan Selat Manipa. Secara
astronomis daerah penelitian terletak antara 2o3000 LS hingga 5o5000 LS dan
125o0000 BT hingga 127o0000 BT. Daerah penelitian mencakup areal seluas
5.060,0km2, dimana penyebaran terluasnya (93,95% dari luas kabupaten) berada
pada Pulau Buru sedangkan luasan 6,05%sisanya berada pada Pulau Ambalau.

2. Iklim

Berdasarkan peta Zone Agroklimat Provinsi Maluku (LTA-72, 1986) dan


klasifikasi iklim Oldeman (1980), maka Kabupaten Buru Selatan termasuk dalam
tiga zone Agroklimat yaitu zone I.3, III.1, dan zone III.2 dengan curah hujan
tahunan berkisar antara 18003000mm, dan memiliki 36 BB dan 23 BK (zone
C2 dan D2).

Tabel 1.1 menunjukkan kondisi iklim di Kabupaten Buru Selatan. Periode


musim hujan berlangsung selama lima bulan yakni mulai dari bulan Desember

34
sampai Maret dan Juli. Hasil analisis curah hujan menunjukkan bahwa Kabupaten
Buru Selatan memiliki curah hujan tahunan rata-rata 1226,1 mm.

Suhu udara rata-rata bulanan berkisar antara 25,9oC (bulan Juli dan Agustus)
sampai 28.3oC (bulan April). Suhu maksimum terendah terjadi pada bulan Juli
(31,1oC) dan tertinggi pada bulan Nopember(33,4oC). Sedangkan suhu minimum
terendah terjadi pada bulan Juli (22,3oC), dan tertinggi terjadi pada bulan Desember
(24,3oC).

3. Fisiografi

Fisiografi menggambarkan kenampakan bentangan permukaan lahan pada


suatu kawasan yang luas. Fisiografi daerah penelitian terbagi atas tiga kategori
yakni fisiografi dataran, fisiografi perbukitan dan fisiografi pegunungan. Fisiografi
dataran dengan lereng datar hingga bergelombang (015%)seluas 9308.9 hektar
(1.8 %),fisiografi perbukitan dengan lereng landai hingga sangat curam (3
>50%)seluas 53663.3 hektar(10.6 %),fisiografi pegunungan dengan lereng landai
hingga sangat curam (3>50%)seluas 443027.8 hektar (87.6 %).

4. Kondisi Tanah

Jenis tanah yang terdapat di Kabupaten Buru Selatan adalah;Tanah Regosol


(Psamments) dengan kedalaman solum sedang sampai dalam, dan penggunaan
lahan yang umumnya ditemukan adalah kelapa, dan tanaman campuran. Vegetasi
khusus yang ditemukan seperti ketapang, waru dan jenis vegetasi bawah seperti
pescapreae.

Tanah Aluvial (Fluvents), dengan kedalaman solum sedang sampai dalam,


berdrainase baik hingga agak buruk dan bertekstur sedang dengan penggunaan
lahan kelapa, kebun campuran, dan ladang. Tanah Gleisol (Aquents/Aquepts),
dengan kedalaman solum sedang sampai dalam, berdrainase agak buruk hingga
sangat buruk dengan penggunaan lahan kelapa, dan ladang. Vegetasi khusus yang
ditemukan adalah sagu, dan nipah. Tanah Litosol (Lithick orthents), tanah ini
bertekstur sedang dan berdrainase baik dan memiliki kedalaman solum sangat

35
dangkal serta terdapat singkapan batuan. Vegetasi yang ditemukan adalah hutan
primer dan hutan sekunder.

Tanah Rensina (Rendolls),dengan solum dangkal sampai sedang dengan tekstur


sedang hingga halus dan berdrainase baik. Penggunaan lahan yang ditemukan
adalah tanaman campuran, hutan primer dan hutan sekunder.Tanah Kambisol
(Tropepts),dengan solum sedang sampai dalam, berdrainase baik, dengan tekstur
halus sampai agak kasar. Penggunaan lahan yang ditemukan adalah tanaman
campuran (tanaman tahunan, dan ladang) serta hutan primer dan hutan sekunder.

Tanah Brunizem (Udalfs),dengan solum dalam hingga sangat dalam,


berdrainase baik, dengan tekstur halus. Penggunaan lahan yang ditemukan adalah
tanaman campuran dan ladang, serta hutan primer dan hutan sekunder.

Tanah Podsolik (Udults), dengan solum dalam hingga sangat dalam,


berdrainase dalam dengan tekstur halus.Vegetasi yang ditemukan adalah kebun
campuran, dan ladang serta hutan primer dan hutan sekunder.

5. Penduduk dan Angkatan Kerj

Berdasarkan data registrasi penduduk jumlah penduduk di Kabupaten Buru


Selatan sampai dengan tahun 2009 adalah sebanyak 52.949 jiwa dengan uraian pada
masing-masing kecamatan sebagai berikut:

Kecamatan Kepala Madan 9.343 jiwa yang terdiri dari 4.803 jiwa laki-laki dan
4.540 jiwa perempuan; Kecamatan Leksula sebanyak 15.863 jiwa yang terdiri dari
8.332 jiwa laki-laki dan 7.531 jiwa perempuan; Kecamatan Namrole sebanyak
8.547 jiwa yang terdiri dari 4.465 jiwa laki-laki dan 4.082 jiwa perempuan;

Kecamatan Waisama sebanyak 9.689 jiwa yang terdiri dari 5.008 jiwa laki-laki
dan 4.681 jiwa perempuan; Kecamatan Ambalau sebanyak 9.507 jiwa yang terdiri
dari 4.951 jiwa laki-laki dan 4.556 jiwa perempuan;

36
BAB III
PEMBAHASAN

III.1 Perhitungan Dimensi Saluran Tersier

A. SALURAN TERSIER M 7 ki
A= = 68.40 Ha
3
Q= 140.29 = 0.140 m /det

Dari Tabel didapat :


n= b /h = 1.00 maka b = h
V = 0.30 m/det
K = 35
m = 1.00
maka,
2
A = Q/V = 0.468 m
A = (b+m.h)h
2
0.468 = 2.h
h= 0.23 = 0.48 m
maka,
b = 1.00 * 0.48 = 0.5 m

Kontrol Kecepatan
0.5 + 1.0 * 0.48 )
2
A = (b+m.h)h = ( 0.48 = 0.468 m
P= b + 2 . H 1 + m2 = 0.5 + 2 * 0.48 2 = 1.851 m
R= A/P = 0.468
0,3572.0x0,
1.85
357 2
= 0.253 m
V= Q / A = 0.1 0.468 = 0.30 m/det
2 2
Q 0.140
S= 2/3
= 2/3
= 0.0005
K . A. R 35 * 0.47 * 0.25

37
B. SALURAN TERSIER M 6 ki
A= = 53.50 Ha
Q= 113.88 = 0.114 m3 /det

Dari Tabel didapat :


n= b /h = 1.00 maka b = h
V = 0.30 m/det
K = 35.00
m = 1.00
maka,
2
A = Q/V = 0.380 m
A = (b+m.h)h
0.380 = 2.h2
h= 0.19 = 0.44 m
maka,
b = 1.00 * 0.44 = 0.44 m

Kontrol Kecepatan
A = (b+m.h)h = ( 0.4 + 1.0 * 0.44 ) 0.44 = 0.380 m2
P = b + 2 . H 1 + m2 = 0,3572.0x
0.4 + 2 * 0.44
0,357 2
2 = 1.668 m
R= A/P = 0.4 1.67 = 0.228 m
V= Q/A = 0.114 0.380 = 0.30 m/det
2 2
Q 0.114
S= 2/3
= 2/3
= 0.0005
K . A. R 35 * 0.38 * 0.23

38
C. SALURAN TERSIER M 5 ki
A= = 8.00 Ha
Q= 16.82 = 0.017 m3 /det

Dari Tabel didapat :


n= b /h = 1.00 maka b = h
V = 0.30 m/det
K = 35.00
m = 1.00
maka,
2
A = Q/V = 0.056 m
A = (b+m.h)h
2
0.056 = 2.h
h= 0.03 = 0.17 m
maka,
b = 1.00 * 0.17 = 0.17 m

Kontrol Kecepatan
= ( 0.17 + 1.0 * 0.17 )
2
A = (b+m.h)h 0.17 = 0.056 m
P = b + 2 . H 1 + m2 = 0.17 + 2 * 0.17
0,3572.0x0,357
2 2
= 0.641 m
R= A/P = 0.06 0.641 = 0.087 m
V= Q/A = 0.02 0.056 = 0.30 m/det
2 2
Q 0.01682
S= = = 0.0019
K . A. R2/3 35 * 0.06 * 0.087 2/3

39
D. SALURAN TERSIER M 4 ki
A= = 53.10 Ha
Q= 108.91 = 0.109 m3 /det

Dari Tabel didapat :


n= b /h = 1.00 maka b = h
V = 0.30 m/det
K = 35.00
m = 1.00
maka,
2
A = Q/V = 0.363 m
A = (b+m.h)h
2
0.363 = 2.h
h= 0.18 = 0.43 m
maka,
b = 1.00 * 0.43 = 0.43 m

Kontrol Kecepatan
= ( 0.43 + 1.0 * 0.43 )
2
A = (b+m.h)h 0.43 = 0.363 m
P = b + 2 . H 1 + m2 = 0.43 + 2 * 0.43
0,3572.0x0,357
2 2
= 1.631 m
R= A/P = 0.36 1.63 = 0.223 m
V= Q/A = 0.11 0.363 = 0.30 m/det
2 2
Q 0.10891
S= = = 0.0006
K . A. R2/3 35 * 0.36 * 0.223 2/3

40
E. SALURAN TERSIER M 3 ki
A= = 9.00 Ha
Q= 18.46 = 0.018 m3 /det

Dari Tabel didapat :


n= b /h = 1.00 maka b = h
V = 0.30 m/det
K = 35.00
m = 1.00
maka,
2
A = Q/V = 0.062 m
A = (b+m.h)h
2
0.062 = 2.h
h= 0.03 = 0.18 m
maka,
b = 1.00 * 0.18 = 0.18 m

Kontrol Kecepatan
= ( 0.18 + 1.0 * 0.18 )
2
A = (b+m.h)h 0.18 = 0.062 m
P = b + 2 . H 1 + m2 = 0.18 + 2 * 0.18
0,3572.0x0,357
2 2
= 0.672 m
R= A/P = 0.06 0.67 = 0.092 m
V= Q/A = 0.02 0.062 = 0.30 m/det
2 2
Q 0.018
S= = = 0.0018
K . A. R2/3 35 * 0.06 * 0.092 2/3

41
F. SALURAN TERSIER M 1 ki
A= = 4.00 Ha
Q= 8.20 = 0.0082 m3 /det

Dari Tabel didapat :


n= b /h = 1.00 maka b = h
V = 0.30 m/det
K = 35.00
m = 1.00
maka,
2
A = Q/V = 0.027 m
A = (b+m.h)h
2
0.027 = 2.h
h= 0.01 = 0.12 m
maka,
b = 1.00 * 0.12 = 0.12 m

Kontrol Kecepatan
= ( 0.12 + 1.0 * 0.12 )
2
A = (b+m.h)h 0.12 = 0.027 m
P = b + 2 . H 1 + m2 = 0.12 + 2 * 0.12
0,3572.0x0,357
2 2
= 0.448 m
R= A/P = 0.03 0.45 = 0.061 m
V= Q/A = 0.01 0.027 = 0.30 m/det
2 2
Q 0.00820
S= = = 0.0031
K . A. R2/3 35 * 0.03 * 0.061 2/3

42
G. SALURAN TERSIER M 7 ka
A= = 14.50 Ha
Q= 68.40 = 0.068 m3 /det

Dari Tabel didapat :


n= b /h = 1.00 maka b = h
V = 0.30 m/det
K = 35.00
m = 1.00
maka,
2
A = Q/V = 0.228 m
A = (b+m.h)h
2
0.228 = 2.h
h= 0.11 = 0.34 m
maka,
b = 1.00 * 0.34 = 0.34 m

Kontrol Kecepatan
= ( 0.34 + 1.0 * 0.34 )
2
A = (b+m.h)h 0.34 = 0.228 m
P = b + 2 . H 1 + m2 = 0.34 + 2 * 0.34
0,3572.0x0,357
2 2
= 1.293 m
R= A/P = 0.23 1.29 = 0.176 m
V= Q/A = 0.07 0.228 = 0.30 m/det
2 2
Q 0.06840
S= = = 0.0008
K . A. R2/3 35 * 0.23 * 0.176 2/3

43
H. SALURAN TERSIER M 2 ka
A= = 88.50 Ha
Q= 181.51 = 0.1815 m3 /det

Dari Tabel didapat :


n= b /h = 1.00 maka b = h
V = 0.30 m/det
K = 35.00
m = 1.00
maka,
2
A = Q/V = 0.605 m
A = (b+m.h)h
2
0.605 = 2.h
h= 0.30 = 0.55 m
maka,
b = 1.00 * 0.55 = 0.55 m

Kontrol Kecepatan
= ( 0.55 + 1.0 * 0.550 )
2
A = (b+m.h)h 0.55 = 0.605 m
P = b + 2 . H 1 + m2 = 0.55 + 2 * 0.55
0,3572.0x0,357
2 2
= 2.106 m
R= A/P = 0.61 2.11 = 0.287 m
V= Q/A = 0.18 0.605 = 0.30 m/det
2 2
Q 0.18151
S= = = 0.0004
K . A. R2/3 35 * 0.61 * 0.287 2/3

44
I. SALURAN TERSIER M 1 ka
A= = 98.70 Ha
Q= 202.43 = 0.202 m3 /det

Dari Tabel didapat :


n= b /h = 1.00 maka b = h
V = 0.30 m/det
K = 35.00
m = 1.00
maka,
2
A = Q/V = 0.675 m
A = (b+m.h)h
2
0.675 = 2.h
h= 0.34 = 0.58 m
maka,
b = 1.00 * 0.58 = 0.58 m

Kontrol Kecepatan
= ( 0.58 + 1.0 * 0.58 )
2
A = (b+m.h)h 0.58 = 0.675 m
P = b + 2 . H 1 + m2 = 0.58 + 2 * 0.58
0,3572.0x0,357
2 2
= 2.224 m
R= A/P = 0.67 2.22 = 0.303 m
V= Q/A = 0.20 0.675 = 0.30 m/det
2 2
Q 0.20243
S= = = 0.0004
K . A. R2/3 35 * 0.67 * 0.303 2/3

45
J. SALURAN TERSIER Me 5 1
A= = 4.00 Ha
Q= 8.20 = 0.008 m3 /det

Dari Tabel didapat :


n= b /h = 1.00 maka b = h
V = 0.30 m/det
K = 35.00
m = 1.00
maka,
2
A = Q/V = 0.027 m
A = (b+m.h)h
2
0.027 = 2.h
h= 0.01 = 0.12 m
maka,
b = 1.00 * 0.117 = 0.12 m

Kontrol Kecepatan
2
A = (b+m.h)h = ( 0.12 + 1.0 * 0.12 ) 0.12 = 0.027 m
P = b + 2 . H 1 + m2 = 0.12 + 2 * 0.12
0,3572.0x0,357
2 2
= 0.448 m
R= A/P = 0.03 0.45 = 0.061 m
V= Q/A = 0.01 0.027 = 0.30 m/det
2 2
Q 0.008
S= = = 0.0031
K . A. R2/3 35 * 0.03 * 0.061 2/3

46
K. SALURAN TERSIER Me 5 2
A= = 51.50 Ha
Q= 105.63 = 0.106 m3 /det

Dari Tabel didapat :


n= b /h = 1.00 maka b = h
V = 0.30 m/det
K = 35.00
m = 1.00
maka,
2
A = Q/V = 0.352 m
A = (b+m.h)h
2
0.352 = 2.h
h= 0.18 = 0.42 m
maka,
b = 1.00 * 0.42 = 0.42 m

Kontrol Kecepatan
= ( 0.42 + 1.0 * 0.42 )
2
A = (b+m.h)h = 0.352 m
P = b + 2 . H 1 + m2 = 0.42 + 2 * 0.42
0,3572.0x0,357
2 2
= 1.606 m
R= A/P = 0.35 1.61 = 0.219 m
V= Q/A = 0.11 0.352 = 0.30 m/det
2 2
Q 0.106
S= = = 0.0006
K . A. R2/3 35.0 * 0.35 * 0.219 2/3

47
L. SALURAN TERSIER Me 5 3
A= = 31.30 Ha
Q= 64.00 = 0.064 m3 /det

Dari Tabel didapat :


n= b /h = 1.00 maka b = h
V = 0.30 m/det
K = 35.00
m = 1.00
maka,
2
A =Q/V = 0.213 m
A =(b+m.h)h
2
0.213 = 2.h
h= 0.11 = 0.33 m
maka,
b = 1.00 * 0.33 = 0.33 m

Kontrol Kecepatan
= ( 0.33 + 1.0 * 0.327 )
2
A = (b+m.h)h = 0.213 m
P = b + 2 . H 1 + m2 = 0.33 + 2 * 0.33
0,3572.0x0,357
2
2
= 1.250 m
R= A/P = 0.21 1.25 = 0.171 m
V=Q/A = 0.06 0.213 = 0.30 m/det
2 2
Q 0.064
S= = = 0.0008
K . A. R2/3 35 * 0.21 * 0.171 2/3

48
M. SALURAN TERSIER Me 4 ka
A= = 17.00 Ha
Q= 34.87 = 0.035 m3 /det

Dari Tabel didapat :


n= b /h = 1.00 maka b = h
V = 0.30 m/det
K = 35.00
m = 1.00
maka,
2
A = Q/V = 0.116 m
A = (b+m.h)h
2
0.116 = 2.h
h= 0.06 = 0.24 m
maka,
b = 1.00 * 0.24 = 0.24 m

Kontrol Kecepatan
= ( 0.24 + 1.0 * 0.24 )
2
A = (b+m.h)h = 0.116 m
P = b + 2 . H 1 + m2 = 0.24 + 2 * 0.24
0,3572.0x0,
2
357 2
= 0.923 m
R= A/P = 0.12 0.92 = 0.126 m
V= Q/A = 0.03 0.116 = 0.30 m/det
2 2
Q 0.035
S= = = 0.0012
K . A. R2/3 35 * 0.12 * 0.126 2/3

49
N. SALURAN TERSIER Me 2 ka
A= = 65.00 Ha
Q= 133.32 = 0.133 m3 /det

Dari Tabel didapat :


n= b /h = 1.00 maka b = h
V = 0.30 m/det
K = 35.00
m = 1.00
maka,
2
A = Q/V = 0.444 m
A = (b+m.h)h
2
0.444 = 2.h
h= 0.22 = 0.47 m
maka,
b = 1.00 * 0.47 = 0.5 m

Kontrol Kecepatan
0.5 + 1.0 * 0.47 )
2
A = (b+m.h)h = ( = 0.444 m
P = b + 2 . H 1 + m2 = 0,3572.0
0.5 + 2 * 0.47
x0,357 2
2 = 1.805 m
R= A/P = 0.44 1.80 = 0.246 m
V= Q/A = 0.13 0.444 = 0.30 m/det
2 2
Q 0.133
S= = = 0.0005
K . A. R2/3 35 * 0.44 * 0.246 2/3

50
O. SALURAN TERSIER Me 1 ka
A= = 30.00 Ha
Q= 61.53 = 0.0615 m3 /det

Dari Tabel didapat :


n= b /h = 1.00 maka b = h
V = 0.30 m/det
K = 35.00
m = 1.00
maka,
2
A = Q/V = 0.205 m
A = (b+m.h)h
2
0.205 = 2.h
h= 0.10 = 0.32 m
maka,
b = 1.00 * 0.32 = 0.32 m

Kontrol Kecepatan
= ( 0.32 + 1.0 * 0.32 )
2
A = (b+m.h)h = 0.205 m
P = b + 2 . H 1 + m2 = 0.32 + 2 * 0.32
0,3572.0x0,357
2 2
= 1.226 m
R= A/P = 0.21 1.23 = 0.167 m
V= Q/A = 0.06 0.205 = 0.30 m/det
2 2
Q 0.06153
S= = = 0.0008
K . A. R2/3 35 * 0.21 * 0.167 2/3

51
III.2 Perhitungan Dimensi Saluran Sekunder

A. SALURAN SEKUNDER BM7


A= = 82.90 Ha
Q= = 0.193 m3 /det
L= 281 m
Dari Tabel didapat :
n= b /h = 1.00 maka b = h
V = 0.30 m/det
K = 35.00
m = 1.00
maka,
2
A = Q/V = 0.643 m
A = (b+m.h)h
0.643 = 2.h2
h= 0.322 = 0.57 m
maka,
b = 1.00 * 0.57 = 0.6 m

Kontrol Kecepatan
A = (b+m.h)h = ( 0.6 + 1.0 * 0.57 ) = 0.6433 m2
P = b + 2 . H 1 + m2 = 0,3572.0
0.6 + 2 * 0.57
x0,357 2
2 = 2.171 m
R= A/P = 0.64 2.17 = 0.296 m
V= Q/A = 0.193 0.6433 = 0.30 m/det
2 2
Q 0.193
S= 2/3
= 2/3
= 0.0004
K . A. R 35 * 0.64 * 0.296

52
B. SALURAN SEKUNDER BM6
A= = 142.50 Ha
Q= = 0.33 m3 /det
L= 226 m
Dari Tabel didapat :
n= b /h = 1.00 maka b = h
V = 0.35 m/det
K = 35.00
m = 1.00
maka,
2
A = Q/V = 0.949 m
A = (b+m.h)h
2
0.949 = 2.h
h= 0.474 = 0.69 m
maka,
b = 1.00 * 0.69 = 0.7 m

Kontrol Kecepatan
0.7 + 1.0 * 0.69 )
2
A = (b+m.h)h = ( = 0.949 m
P = b + 2 . H 1 + m2 = 0,3572.0
0.7 + 2 * 0.69
x0,357 2
2 = 2.637 m
R= A/P = 0.95 2.64 = 0.360 m
V= Q/A = 0.33 0.949 = 0.35 m/det
2 2
Q 0.33
S= = = 0.0004
K . A. R2/3 35 * 0.95 * 0.360 2/3

53
C. SALURAN SEKUNDER BM5
A= = 150.70 Ha
Q= = 0.351 m3 /det
L= 754 m
Dari Tabel didapat :
n= b /h = 1.00 maka b = h
V = 0.35 m/det
K = 35.00
m = 1.00
maka,
2
A = Q/V = 1.003 m
A = (b+m.h)h
2
1.003 = 2.h
h= 0.501 = 0.71 m
maka,
b = 1.00 * 0.71 = 0.71 m

Kontrol Kecepatan
= ( 0.71 + 1.0 * 0.71 )
2
A = (b+m.h)h = 1.003 m
P = b + 2 . H 1 + m2 = 0.71 + 2 * 0.71
0,3572.0x0,357
2 2
= 2.711 m
R= A/P = 1.00 2.71 = 0.370 m
V= Q/A = 0.351 1.003 = 0.35 m/det
2 2
Q 0.351
S= = = 0.00038
K . A. R2/3 35 * 1.00 * 0.370 2/3

54
D. SALURAN SEKUNDER BM4
A= = 151.30 Ha
Q= = 0.352 m3 /det
L= 125 m
Dari Tabel didapat :
n= b /h = 1.00 maka b = h
V = 0.35 m/det
K = 35.00
m = 1.00
maka,
2
A = Q/V = 1.006 m
A = (b+m.h)h
2
1.006 = 2.h
h= 0.503 = 0.71 m
maka,
b = 1.00 * 0.71 = 0.71 m

Kontrol Kecepatan
= ( 0.71 + 1.0 * 0.71 )
2
A = (b+m.h)h = 1.006 m
P = b + 2 . H 1 + m2 = 0.71 + 2 * 0.71
0,3572.0x0,357
2 2
= 2.715 m
R= A/P = 1.01 2.71 = 0.370 m
V= Q/A = 0.35 1.006 = 0.35 m/det
2 2
Q 0.352
S= = = 0.0004
K . A. R2/3 35 * 1.01 * 0.370 2/3

55
E. SALURAN SEKUNDER B M 3, B M 2, B M 1
A= = 203.80 Ha
Q= = 0.475 m3 /det
L= 234 m
Dari Tabel didapat :
n= b /h = 1.00 maka b = h
V = 0.35 m/det
K = 35.00
m = 1.00
maka,
2
A = Q/V = 1.357 m
A = (b+m.h)h
2
1.357 = 2.h
h= 0.679 = 0.82 m
maka,
b = 1.00 * 0.82 = 0.82 m

Kontrol Kecepatan
= ( 0.82 + 1.0 * 0.824 )
2
A = (b+m.h)h = 1.357 m
P = b + 2 . H 1 + m2 = 0.82 + 2 * 0.82
0,3572.0x0,357
22
= 3.154 m
R= A/P = 1.36 3.15 = 0.430 m
V= Q/A = 0.475 1.357 = 0.35 m/det
2 2
Q 0.475
S= = = 0.0003
K . A. R2/3 35 * 1.36 * 0.430 2/3

56
III.3 Perhitungan Saluran Primer

A. SALURAN PRIMER B Me 5
A= = 1043.60 Ha
Q= 2762.00 = 2.762 m3 /det
L= 876 m
Dari Tabel didapat :
n= b /h = 2.50 maka b = h
V = 0.45 m/det
K = 35
m = 1.00
maka,
2
A = Q/V = 6.138 m
A = (b+m.h)h
2
6.138 = 2.h
h= 3.069 = 1.75 m
maka,
b = 1.00 * 1.75 = 1.8 m

Kontrol Kecepatan
1.8 + 1.0 * 1.75 )
2
A = (b+m.h)h = ( = 6.138 m
P = b + 2 . H 1 + m2 = 0,3572.0
1.8 + 2 * 1.75
x0,357 2
2 = 6.707 m
R= A/P = 6.14 6.71 = 0.915 m
V= Q/A = 2.762 6.138 = 0.45 m/det
2 2
Q 2.762
S= = = 0.00019
K . A. R2/3 35 * 6.14 * 0.915 2/3

57
D. SALURAN PRIMER B Me 2
A= = 1698.00 Ha
Q= 4494.00 = 4.494 m3 /det
L= 300 m
Dari Tabel didapat :
n= b /h = 3.5 maka b = h
V = 0.55 m/det
K = 35.00
m = 1.00
maka,
2
A = Q/V = 8.17 m
A = (b+m.h)h
2
8.171 = 2.h
h= 4.09 = 2.02 m
maka,
b = 1.00 * 2.02 = 2.02 m

Kontrol Kecepatan
= ( 2.02 + 1.0 * 2.02 )
2
A = (b+m.h)h = 8.17 m
P = b + 2 . H 1 + m2 = 2.02 + 2 * 2.02
0,3572.0x0,357
2 2
= 7.738 m
R= A/P = 8.17 7.74 = 1.056 m
V= Q/A = 4.494 8.17 = 0.55 m/det
2 2
Q 4.494
S= = = 0.00023
K . A. R2/3 35 * 8.17 * 1.056 2/3

58
E. SALURAN PRIMER B Me 1
A= = 1783.00 Ha
Q= 4,666 = 4.666 m3 /det
L= 1480 m
Dari Tabel didapat :
n= b /h = 3.50 maka b = h
V = 0.55 m/det
K = 35.00
m = 1.00
maka,
A = Q/V = 8.48 m2
A = (b+m.h)h
2
8.48 = 2.h
h= 4.24 = 2.06 m
maka,
b = 1.00 * 2.06 = 2.06 m

Kontrol Kecepatan
1 * 2.06 )
2
A = (b+m.h)h = ( 2.06 + = 8.48 m
P = b + 2 . H 1 + m2 = 2.06 + 2 * 2.06
0,3572.0x0,357
22
= 7.88 m
R= A/P = 8.48 7.88 = 1.076 m
V= Q/A = 4,666 8 = 550 m/det
2 2
Q 4666
S= = = 223.87
K . A. R2/3 35 * 8.48 * 1.076 2/3

59
III.4 Perhitungan Tinggi Muka Air

A. TMA DI BANGUNAN BM7


a. Dari Saluran Tersier M 7 ki
TMA = 101.5 + 0.15 + ( 281 x 0.0005 )+ 0.10 = + 101.88
b. Dari Saluran Tersier M 7 ka
TMA = 101.5 + 0.15 + ( 281 x 0.0008 )+ 0.10 = + 101.96
c. Dari Saluran Sekunder
TMA = 101.5 + 0.15 + ( 281 x 0.0004 )+ 0.05 = + 101.81

B. TMA DI BANGUNAN BM6


a Dari Saluran Tersier M 6 ki
TMA = 101.5 + 0.15 + ( 226 x 0.0005 )+ 0.10 = + 101.87
b. Dari Saluran Sekunder
TMA = 101.8 + 0.15 + ( 226 x 0.0004 )+ 0.05 = + 102.09

C. TMA DI BANGUNAN BM5


a Dari Saluran Tersier M 5 ki
TMA = 101.5 + 0.15 + ( 754 x 0.0019 )+ 0.10 = + 103.20
b Dari Saluran Sekunder
TMA = 102.09 + 0.15 + ( 754 x 0.0004 )+ 0.05 = + 102.58

D. TMA DI BANGUNAN BM4


a Dari Saluran Tersier M 4 ki
TMA = 101.5 + 0.15 + ( 125 x 0.0006 )+ 0.10 = + 101.82
b Dari Saluran Sekunder
TMA = 102.58 + 0.15 + ( 125 x 0.0004 )+ 0.05 = + 102.83

E. TMA DI BANGUNAN B M 3, B M 2, B M 1
a Dari Saluran Tersier M 3 ki
TMA = 101.5 + 0.15 + ( 234 x 0.0018 )+ 0.10 = + 102.17
b Dari Saluran Tersier M 2 ka
TMA = 101.5 + 0.15 + ( 234 x 0.0004 )+ 0.10 = + 101.84
c Dari Saluran Tersier M 1 ki
TMA = 101.5 + 0.15 + ( 234 x 0.0031 )+ 0.10 = + 102.48
d Dari Saluran Tersier M 1 ka
TMA = 101.5 + 0.15 + ( 234 x 0.0004 )+ 0.10 = + 101.83
e Dari Saluran Sekunder
TMA = 102.83 + 0.15 + ( 234 x 0.0003 )+ 0.05 = + 103.10

60
F. TMA DI BANGUNAN B Me 5
a Dari Saluran Tersier Me 5 1
TMA = 101.5 + 0.15 + ( 876 x 0.0031 )+ 0.10 = + 104.48

b Dari Saluran Tersier Me 5 2


TMA = 101.5 + 0.15 + ( 876 x 0.0006 )+ 0.10 = + 102.24

c Dari Saluran Tersier


Me 5 3
TMA = 101.5 + 0.15 + ( 876 x 0.0008 )+ 0.10 = + 102.44

d Dari Saluran Primer


TMA = 101.5 + 0.15 + ( 876 x 0.0002 )+ 0.05 = + 101.86

G. TMA DI BANGUNAN B Me 4
a Dari Saluran Tersier
Me 4 ka
TMA = 101.5 + 0.15 + ( 381 x 0.0012 )+ 0.10 = + 102.20
b Dari Saluran Primer
TMA = 101.5 + 0.15 + ( 381 x 0.0002 )+ 0.05 = + 101.77

H. TMA DI BANGUNAN B Me 3
a Dari Saluran Primer
TMA = 101.5 + 0.15 + ( 876 x 0.0001 ) + 0.05 = + 101.82

I. TMA DI BANGUNAN B Me 2
a Dari Saluran Tersier
Me 2 ka
TMA = 101.5 + 0.15 + ( 300 x 0.0005 )+ 0.10 = + 101.89
b Dari Saluran Primer
TMA = 101.5 + 0.15 + ( 300 x 0.0002 )+ 0.05 = + 101.8

K. TMA DI BANGUNAN B Me 1
a Dari Saluran Tersier
Me 1 ka
TMA = 101.5 + 0.15 + ( 1480 x 0.0008 )+ 0.10 = + 102.94

b Dari Saluran Primer


TMA = 101.5 + 0.15 + ( 1480 x 223.87 )+ 0.05 = + 331,430

Dari TMA di atas diambil yg paling tinggi : = + 331,430

L. TMA DI HILIR BANGUNAN BM7


TMA = 101.5 + 1,323 x 223.870 = + 296,282

61
BAB IV
PENUTUP

IV.1. Kesimpulan

Dari uraian-uraian tersebut diatas, dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Air oleh manusia digunakan untuk keperluan seharihari seperti untuk memasak
dan minum, mencuci, pembersihan, irigasi, industri, sarana transportasi dan
lain-lain.
2. Salah satu usaha dari pemerintah untuk meningkatkan hasil-hasil pertanian
adalah pemanfaatan air untuk irigasi guna peningkatan produksi pangan.
3. Pada umumnya bentuk saluran irigasi (saluran primer, sekunder, tersier dan
kuarter) adalah saluran terbuka (open channel) berbentuk trapesium tanpa
lapisan pelindung (lining).
4. Dalam merencanakan saluran irigasi, yaitu dalam menentukan dimensi saluran,
kemiringan dasar saluran, kecepatan aliran, serta menghitung debit aliran pada
saluran, dilakukan dengan pendekatanpendekatan.
5. Di Indonesia untuk merencanakan saluran irigasi, digunakan standar dari
Direktorat Jenderal Pengairan, Departemen Pekerjaan Umum, dalam buku
Pedoman Kriteria Pernencanaan Teknis Irigasi, Agustus 1980.

IV.2. Saran

Adapun hal-hal yang akan disampaikan penulis guna untuk perbaikan dan
kesempurnaan penulisan Project Work ini adalah:

1. Dalam penulisan maupun perhitungan dimensi dan debit bangunan bagi dan
sadap harus memiliki banyak buku referensi untuk memudahkan dalam
menghitung dan mendapatkan teori - teori tentang irigasi
2. Untuk menghitung dimensi saluran irigasi harus ada data-data primer dan
sekunder guna melengkapi referensi agar sesuai dengan data serta keadaan di

62
lokasi penulisan Project Work dan sesuai dengan standar kriteria perencanaan
irigasi (KP)
3. Penulisan Project Work ini masih jauh dari kesempurnaan maka penulis
menyarankan agar pembaca lebih jeli dan tidak langsung membenarkan apa
yang tertulis karena kami penulis hanya manusia biasa yang tidak luput dari
salah dan benar

63
DAFTAR PUSTAKA

Dirjend. Pengairan Dept. Pekerjaan Umum. Bandung 1986. Standandar


Perencanaan Irigasi - Kriteria Perencanaan Bagian Jaringan Irigasi (KP-01). CV.
Galang Persada.
Dirjend. Pengairan Dept. Pekerjaan Umum. Bandung 1986. Standar Perencanaan
Irigasi- Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan Utama (KP-02). CV. Galang
Persada.
Dirjend. Pengairan Dept. Pekerjaan Umum. Bandung 1986. Standandar
Perencanaan Irigasi - Kriteria Perencanaan Bagian saluran (KP-03). CV. Galang
Persada.
Bandung Dirjend. Pengairan Dept. Pekerjaan Umum. Bandung 1986. Standar
Perencanaan Irigasi Kriteria Perencanaan Bagian Bangunan (KP-04). CV.
Galang Persada.
Dirjend. Pengairan Dept. Pekerjaan Umum. Bandung 1986. Standar Perencanaan
Irigasi - Kriteria Perencanaan Perencanaan Petak Tersier (KP-05). CV. Galang
Persada.
Peraturan Menteri permukiman dan prasarana wilayah. Jakatra 2004. Tentang
Pedoman Pengembangan Dan Pengeloaan Sistem Irigasi Partisipatif
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20. Jakarta 2006. Tentang
Irigasi
Yudha Mediawan Ir., M.Dev.Plg. Ambon 2009. Desain Hidraulik Bangunan
Irigasi
Dirjend. Pengairan Dept. Pekerjaan Umum Wilayah Timur. Maluku 1995. Uraian
Singkat Pengembangan dan Pengolaan Pengairan di Pulau Seram

64
LAMPIRAN

1. Tersier M 7 ki Luas Areal = 68.40 Ha


Kebutuhan Air = 140.29 m3 /det
2. Tersier M 6 ki Luas Areal = 53.50 Ha
Kebutuhan Air = 113.88 m3 /det
3. Tersier M 5 ki Luas Areal = 8.00 Ha
Kebutuhan Air = 16.82 m3 /det
4. Tersier M 4 ki Luas Areal = 53.10 Ha
Kebutuhan Air = 108.91 m3 /det
5. Tersier M 3 ki Luas Areal = 9.00 Ha
Kebutuhan Air = 18.46 m3 /det
6. Tersier M 1 ki Luas Areal = 4.00 Ha
8.20 3
Kebutuhan Air = m /det
7. Tersier M 7 ka Luas Areal = 14.50 Ha
68.40 3
Kebutuhan Air = m /det
8. Tersier M 2 ka Luas Areal = 88.50 Ha
181.51 3
Kebutuhan Air = m /det
9. Tersier M 1 ka Luas Areal = 98.70 Ha
202.43 3
Kebutuhan Air = m /det
10. Tersier Me 5 1 Luas Areal = 4.00 Ha
8.20 3
Kebutuhan Air = m /det
11. Tersier Me 5 2 Luas Areal = 51.50 Ha
105.63 3
Kebutuhan Air = m /det
12. Tersier Me 5 3 Luas Areal = 31.30 Ha
64.00 3
Kebutuhan Air = m /det
13. Tersier Me 4 ka Luas Areal = 17.00 Ha
34.87 3
Kebutuhan Air = m /det
14. Tersier Me 2 ka Luas Areal = 65.00 Ha
133.32 3
Kebutuhan Air = m /det
15. Tersier Me 1 ka Luas Areal = 30.00 Ha
61.53 3
Kebutuhan Air = m /det

65
16. sekunder B M 7 Luas Areal = 82.9 Ha
3
Kebutuhan Air = 0.193 m /det
L = 281

17. sekunder B M 6 Luas Areal = 142.5 Ha


3
Kebutuhan Air = 0.332 m /det
L = 226 m

18. sekunder B M 5 Luas Areal = 150.7 Ha


3
Kebutuhan Air = 0.351 m /det
L = 754 m

19. sekunder B M 4 Luas Areal = 151.3 Ha


3
Kebutuhan Air = 0.352 m /det
L = 125 m

20. sekunder B M 3, B M 2, B M 1 Luas Areal = 203.8 Ha


3
Kebutuhan Air = 0.475 m /det
L = 234 m

21. primer B Me 5 Luas Areal = 1043.6 Ha


3
Kebutuhan Air = 2762 m /det
L = 876 m

22. primer B Me 4 Luas Areal = 1060.6 Ha


3
Kebutuhan Air = 2807 m /det
L = 381 m

23. primer B Me 3 Luas Areal = 388.8 Ha


3
Kebutuhan Air = 0.906 m /det
L = 876 m

24. primer B Me 2 Luas Areal = 1698 Ha


3
Kebutuhan Air = 4494 m /det
L = 300 m

25. primer B Me 1 Luas Areal = 1783 Ha


3
Kebutuhan Air = 4666 m /det
L = 1480 m

66