Anda di halaman 1dari 4

TUGAS METODE ELEKTROMAGNETIK

LITERATUR REVIEW METODE MAGNETOTELLURIC

Oleh:
MUTIARA QALBI PEBRIAN
1404107010063

PRODI TEKNIK GEOFISIKA


JURUSAN TEKNIK KEBUMIAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BANDA ACEH
2017
Penulis Yunus Daud dan Maryadi
Jurnal
Judul Identifikasi Sistem Geothermal Menggunakan Metode Magnetotellurik
Jurnal 2-Dimensi di Daerah Suwawa, Gorontalo
Halaman 1-7
Jurnal
Upaya eksplorasi panasbumi dapat dilakukan dengan berbagai metode
geofisika, antara lain metode magnetotellurik dan metode gravitasi. Survey
geofisika dengan metode magnetotellurik digunakan untuk mengetahui kondisi
bawah-permukaan berdasarkan nilai resistivitas dan nilai fasenya. Penelitian
dilakukan di daerah geothermal Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo.
Penelitian yang telah dilakukan sebelumnya terdiri dari survey geologi, survey
geokimia, serta survey geofisika terpadu. Hasil survey-survey tersebut belum
menunjukkan hasil yang baik. Maka dari itu perlu dilakukan survey geofisika
dengan menggunakan metode magnetotellurik. Kondisi bawah permukaan yang
ingin diketahui dengan menggunakan metode magnetotellurik ini terkait batas
Pendahuluan
reservoir geothermal, serta system geothermal yang terkait di daerah
pengukuran. Dengan mengetahui batas reservoir dan model system geothermal,
dapat diketahui perkiraan potensi geothermal di daerah tersebut. Hasil inversi
2D dari data MT dapat menunjukkan kemungkinan persebaran reservoir
geothermal, dimensi reservoir dan lokasi sistem. Dengan interpretasi terpadu
terhadap data bantuan lainnya, seperti gravitasi, data geologi serta geokimia
yang ada, akan lebih mudah untuk mengetahui kondisi struktur batuan bawah
permukaan, keberadaan reservoir, dan kemungkinan besar potensi geothermal
di daerah pengukuran, serta sistem geothermal yang terkait akan dapat
dimodelkan dengan baik.
Daerah penelitian berada di wilayah kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone
Bolango, Propinsi Gorontalo. Koordinat daerah penelitian terletak antara 028
13,7 03654.8 LU dan 1230600 1231500 BT atau pada 52.000
68.000 mU dan 511.000 528.000 mT Zona 51N untuk sistem koordinat UTM
pada datum horizontal WGS 84. Titik-titik pengukuran MT yang dilakukan
dapat dilihat pada Gbr 1(lampiran). Pengolahan data magnetotellurik dimulai
dari transformasi time-series dari data hasil pengukuran ke dalam domain
frekuensi. Proses ini dilakukan dengan menggunakan program mtft24.
Kemudian dilakukan QC data dan editing kurva resistivitas dan fase terhadap
Metodologi frekuensi hasil robust processing. Setelah selesai dilakukan editing data
kemudian dilakukan koreksi statik. koreksi statik dilakukan dengan
menggunakan metode trimmed moving average (TMA). Setelah data dikoreksi,
kemudian dilakukan inversi 2D secara vertical pada line pengukuran MT.
Sebelum melakukan proses inversi, dimasukkan input Inversion Control
Parameter. Dari data gravitasi dilakukan analisis terhadap nilai anomali
Bouguer. Kemudian dilakukan juga analisis nilai anomali residual, dan anomali
regionalnya Kemudian juga dilakukan interpretasi secara terpadu atau
terintegrasi, yakni dengan menggunakan data hasil survey geologi dan
geokimia. Dari hasil ini kemudian dibuat model konseptual yang sesuai dengan
system geothermal di daerah tersebut.
Pemodelan dilakukan pada 3 line pengukuran yang melewati titik kemunculan
mata air panas Libungo, Lombongo, dan line yang melewati kedua mata air
tersebut. Model hasil inversi dari data MT untuk line 1 dapat dilihat pada
gambar berikut.

Penampang tersebut melintang dari Stasiun 13 hingga Stasiun 18 dari arah


timur laut ke barat daya. Line ini melalui satu manifestasi air panas Libungo
yang berada dekat dengan Stasiun 17, hingga selanjutnya line ini disebut
sebagai line Libungo. Di bagian utara terdapat body dengan nilai resistivitas
yang tinggi. Batuan resistif ini terletak pada kedalaman yang masih dangkal (<
1000 m). Pada bagian tengah terdapat anomali nilai resistivitas rendah. Nilai
resistivitas ini membentang cukup luas hingga hampir mencapai 3 kilometer,
Hasil dengan ketebalan mencapai 1000 m. Dapat diperkirakan bahwa ini merupakan
Penelitian lapisan clay cap atau batuan alterasi. Di sebelah selatan dari lapisan ini terdapat
titik kemunculan mata air Libungo, sehingga kemungkinan terdapat struktur
patahan yang memotong lapisan clay cap, Sementara di ujung selatan terdapat
batuan resistif pada kedalaman > 1000 m dan memiliki jejak kemenerusan
kearah utara pada kedalaman yang lebih dalam. Secara umum, dari penampang
ini terlihat adanya struktur seperti graben pada daerah sekitar line Libungo.

Gambar diatas menampilkan hasil pemodelan inversi dari line 2 atau line
Lombongo (line ini memotong lokasi mata air panas Lombongo). Pada line ini
terlihat body nilai resitivitas rendah pada bagian tengah atas agak ke selatan.
Body ini dapat diperkirakan merupakan lapisan clay dimungkinkan bahwa
lapisan batuan yang teralterasi menerus dari sekitar mata air Libungo ke arah
timur. Sementara dibagian selatan, masih terdapat batuan resistif pada
kedalaman lebih dari 1000 m.

Keberadaan lapisan yang konduktif masih terdeteksi memiliki karakteristik


yang hampir sama dengan lapisan clay cap yang terdeteksi pada line Libungo.
Besar kemungkinan reservoir geothermal berada di bawah kedua lintasan ini.
Sementara itu di bawah stasiun 26 terdapat struktur yang cukup jelas. Dari
semua data yang telah dianalisis maka dapat dibuat model konseptual sistem
geothermal seperti berikut

Daerah prospek berada di bagian tengah daerah penelitian. Air meteorik masuk
ke dalam reservoir sistem geothermal melalui struktur horst di lembah sebelah
selatan dan utara. Air tersebut kemudian masuk dalam rekahan-rekahan pada
batuan lava andesit Bilungala yang menjadi permeable akibat proses tektonik,
hingga batuan tersebut berperan sebagai reservoir geothermal.