Anda di halaman 1dari 16

I.

Pendahuluan

Dalam dunia pendidikan di Indonesia,bidang studi administrasi pendidikan boleh


dikatakan masih baru. Di negara-negara yang sudah maju,administrasi pendidikan mulai
berkembang dengan pesat sejak pertengahan pertama abad ke-20,terutama sejak berakhirnya
perang dunia kedua. Khususnya di negara kita,Indonesia,adcministrasi pendidikan baru
diperkenalkan melalui beberapa IKIP sejak tahun 1960-an,dan baru dimasukkan sebagai
mata pelajaran decan mata ujian di SGA/SPG sejak tahun ajaran 1965/1966.Oleh karena
itu,tidak mengherankan jika para pendidik sendiri banyak yang belum dapat memahami
betapa perlu dan pentingnya administrasi pendidikan dalam penyelenggaraan dan
pengembangan pendidikan pada umumnya. Disamping itu, administrasi pendidikan itu
sendiri sebagai ilmu,terus mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan
pendidikan negara masing-masing.(Purwanto:1:2007)

Setelah kita mengetahui realita yang terjadi seperti yang sudah tersebut di atas,maka
diperlukan sebuah penjelasa secara rinci dan mendetail tentang administrasi pendidikan agar
para pendidik dapat memahami betapa perlu dan pentingnya administrasi pendidikan itu.
Oleh karena itu para pendidiki terlebih dahulu harus mengetahui dasar-dasar dari
administrasi pendidikan. Maka dimakalah ini kami akan menjelaskan tentang dasar-dasar
administrasi pendidikan.

1
I. Pembahasan

A. Pengertian dan Tujuan Administrasi Pendididkan


1. Pengertian Administrasi Pendidikan

Dalam arti sempit : suatu proses keseluruhan kegiatan bersama dalam bidang
pendidikan guna mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.

Dalam arti luas : upaya mencapai tujuan secara efektif dan efisien dengan
memanfaatkan orang-orang dalam suatu pola kerjasama. Efektif dalam arti hasil yang
dicapai upaya itu sama dengan tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan efisien
berhubungan dengan penggunaan sumber dana, daya dan waktu yang ekonomis.

Menurut Hardi Nawawi : administrasi pendidikan adalah rangkaian kegiatan atau


keseluruhan proses pengendalian usaha kerjasama sejumlah orang untuk mencapai tujuan
pendidikan secara sistematis yang diselenggarakan dalam lingkungan tertentu, terutama
dalam lembaga pendidikan formal.

Menurut Dadang Suhardan : Administrasi pendidikan sebagai ilmu pengetahuan


yangmembahas pendidikan dari sudut pandang proses kerjasama antar manusia dalam
mengembangkan potensi peserta didik melalui perubahan sikap dalam pembelajaran
untuk mencapai tujuan pendidikan, secara efisien dan efektif.

Menurut M. Ngalim Purwanto : Administrasi pendidikan adalah segenap proses


pengarahan dan pengintegrasian segala sesuatu baik personal, spiritual, dan material yang
bersangkut paut dengan pencapaian tujuan pendidikan.

Menurut Maulana Sidik : Administrasi pendidikan merupakan suatu system kegiatan


bersama pada bidang pendidikan yang dalam proses pelaksanaannya melalui
prosedur/lanngkah-langkah tertentu dan menggunakan fasilitas yang tersedia sehingga
tujuan pendidikan (kegiatan bersama) itu dapat tercapai

2
Anonim, administrasi pendidikan adalah suatu proses keseluruhan,(tidak dilakukan
sendiri/terpisah) melainkan dilakukan dalam satu kesatuan kegiatan yang satu dengan
yang lainnya saling mepengaruhi Kegiatan tersebut bahkan dapat dikatakan sebagai
kegiatan bersama dalam bidang pendidikan yang meliputi; perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, pelaporan, pengkordinasian, pengawasan, pembiayaan
dengan menggunakan atan memanfaatkan fasilitas yang tersedia baik personil, material,
maupun spiritual untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.

2. Tujuan Administrasi Pendidikan

Semua bentuk kegiatan pendidikan diarahkan untuk mecapai tujuan.Menurut Endang


Saefuddin Anshary (1993:47), tujuan harus memiliki dua ciri penting,yaitu:

1. Bersifat stationer artinya telah tercapai , bukan dalam kondisis dikejar atau
diangan-angankan.
2. Semua yang telah dicapai sesuai dengan yang dimaksudkan.Tidak menyimpang
dari harapan.

Pelaksanaan administrasi pendidikan bertujuan sebagai berikut:

1. Tercapainya fleksibilitas dalam proses administrasi pendidikan;


2. Tercapainya efisiensi dan efektivitas pelaksanaan administrasi pendidikan;
3. Terlaksananya kontinuitas administrasi pendidikan;
4. Terlaksananya pendidikan seumur hidup yang disipliner dan berpedoman pada
linieritas keilmuan.

Apabila tujuan administrasi pendidikan ditafsirkan sebagai tujuan orientasi utama


tercapainya tujuan akan memberikan kepuasan kerja.Diman kepuasan kerja merupakan salah
satu dari tujuan administrasi, menurut Sergiovanni dan Carver, ada empat tujuan administrasi,
yaitu:

1. Efektivitas produksi;
2. Efisiensi;
3. Kemampuan menyesuaikan diri;
4. Kepuasan kerja.

3
Sementara itu tujuan pendidkan nasional menurut Garis Besar Haluan Negara(GBHN) adalah:

1. Meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa;


2. Meningkatkan kecerdasan;
3. Meningkatkan keterrampilan;
4. Mempertinggi budi pekerti;
5. Memperkuat kepribadian;
6. Mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-manusia
pembangunan yang yang dapat membangun dirinya sendiri dan bersama-sama
bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.

Dari tujuan-tujuan diatas, dapat dipahami bahwa tujuan umum dari administrasi pendidikan
bertitik tolak dari landasan ideal yang dianut dalam bernegara umumnya dan pengembangan
pendidikan khususnya.

3. Manfaat mempelajari administrasi bagi guru dan calon guru


Dapat mengetahui dan menyadari tugas-tugas dan kewenangan yang mesti dipikulnya
serta mengetahui bagaimana cara-cara melaksanakan tugas-tugas dan kewenangannya
masing-masing.
Mengetahui bagaimana melaksanakan sesuatu kegiatan kependidikan dalam rangka
mencapai tujuan pendidikan supaya tercapai efektif dan efisisen serta secara tepat.
Mengetahui batas-batas hak dan kewajiban masing-masing (tenaga kependidikan).
Prosedur atau langkah-langkah pokok yang harus ditempuh secara urut dalam kegiatan
administrasi pendidikan meliputi:
1. Menyusun rancangan
2. Mengadakan pengorganisasian
3.Memberikan arahan dan bimbingan
4.Mengadakan koordinasi
5.Menciptakan hubungan atau menjalin komunikasi
6.Mengadakan pengawasan atau mengontrol
7. Mengadakan evaluasi

4
Serentetan prosedur kegiatan administrasi pendidikan diatas harus dilakukan secara
berurutan, berjalin satu sama lain sehingga menunjukkan suatu system kegiatan yang
bersinambungan.

4. Manajemen dan administrasi pendidikan


Manajemen adalah suatu proses tertentu yang terdiri atas perencanaan, pengorganisasian,
penggerakan, dan pengawasan, yang dilakukan untuk menentukan dan mencapai tujuan-
tujuan yang telah ditetapkan dengan menggunakan manusia dan sumber daya lainnya.
Jadi, dapat dikatakan bahwa manajemen adalah inti dari administrasi. Sementara dalam
hubungannya terkait dengan administrasi pendidikan, dapat disimpulkan bahwa didalam
proses administrasi pendidikan terdapat kegiatan manajemen.

5. Administrasi Pendidikan dan Administrasi Sekolah


Administrasi sekolah merupakan bagian dari administrasi pendidikan. Administrasi
pendidikan meliputi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan pendidikan
di suatu negara atau bahkan pendidikan pada umumnya. Sedangkan administrasi sekolah
kegiatan-kegiatannya terbatas pada pelaksanaan pengelolaan pendidikan di sekolah.

B. Organisasi sekolah dan struktur organisasi pendidikan

1. Organisasi sekolah

1.a) Pengertian organisasi sekolah

Organisasi sekolah adalah sistem yang bergerak dan berperan dalam merumuskan tujuan
pendewasaan manusia sebagai mahluk sosial agar mampu berinteraksi dengan lingkungan.

Organisasi sekolah adalah sebuah bentuk atau sistem yang terdiri dari sekelompok manusia
yang berkerjasama untuk mencapai tujuan bersama.Oleh sebab itu sekolah dikatakan sebagai
sebuah organisasi karena sekolah didirikan untuk mencapai tujuan bersama khususnya di bidang
pendidikan.

5
1.b) Pentingnya organisasi sekolah

Organisasi dapat diartikan sebagai memberi struktur atau susunan terutama dalam
penyusunan atau penempatan orang-orang dalam suatu kelompok, atau berarti juga
menempatkan hubungan orang-orang dalam kewajiban-kewajiban, hak-hak dan tanggung jawab
masing-masing di dalam struktur yang telah ditentukannya. Penentuan struktur serta hubungan
tugas dan tanggung jawab itu dimaksudkan agar tersusunlah pola kegiatan yang tertuju kepada
tercapainya tujuan-tujuan bersama dari kelompok.
Sekolah, sebagai suatu lembaga pedidikan yang didalamnya terdapat kepala sekolah,
guru-guru, pegawai tata usaha, dsb., dan murid-murid, memerlukan adanya organisasi yang baik
agar jalannya sekolah itu lancer menuju kepada tujuannya.
Menurut sistem persekolahan di Negara kita, pada umumnya kepala sekolah merupakan jabatan
yang tertinggi disekolah itu sehingga dengan demikian kepala sekolah memegang memegang
peranan dan pimpinan segala sesuatunya yang berhubungan dengan tugas sekolah ke dalam
maupun ke luar. Maka dari itu, dalam struktur organisasi sekolah pun kepala sekolah biasanya
selalu didudukkan di tempat yang paling atas.
Factor lain yang menyebabkan perlunya organisasi sekolah yang baik ialah karena tugas
guru-guru tidak hanya mengajar saja; juga pegawai-pegawai tata usaha, pesuruh dan penjaga
sekolah, dll. Semuanya hanya bertanggung jawab dan diikutsertakan dalam menjalankan roda
sekolah itu secara keseluruhan. Dengan demikian agar jangan terjadi over lapping (tabrakan)
dalam memegang atau menjalankan tugasnya masing-masing, diperlukan organisasi sekolah baik
dan teratur.
Dengan organisasi sekolah yang baik dimaksudkan agar pembagian tugas dan tanggung
jawab dapat merata kepada semua orang sesuai dengan kecakapan dan fungsinya masing-masing.
Tiap orang mengerti dan menyadari tugasnya dan tempatnya di dalam struktur organisasi itu.
Dengan demikian dapat dihindari pula adanya tindakan yang sewenang-wenang atau otoriter dari
kepala sekolah; dan sebaliknya dapat diciptakan adanya suatu yang demokratis di dalam
menjalankan roda sekolah itu.

6
1.c) Ciri-ciri organisasi sekolah yang baik

1. Terdapat tujuan yang jelas, tanpa adanya tujuan yang jelas pelaksanaan tugas tidak akan
mempunyai arah
2. Tujuan organsiasi dipahami oleh seluruh anggota apabila anggota tidak atau kurang paham
akan tujan organisasi, partisipasi dari anggota akan sulit dilaksanakan
3. Tujuan organisasi harus dapat diterima oleh anggota, apabila tujuan orgranissi tidak atau
kurang dapat diterima anggota , rasa keterikatan anggota akan hilang sehingga anggota sulit
untuk digerakkan
4. Pembagian tugas yang seimbang agar tidak menumbulkan frustasi
5. Struktur organisasi disederhanakan sesuai dengan beban tugas organisasi

1.d) Faktor-faktor yang mempengaruhi susunan organisasi sekoalah

Tiap-tiap sekolah memerlukan susunan organisasi yang berbeda-beda satu dengan yang
lain. Ini bergantung pada keadaan dan kebutuhan sekolah masing-masing. Namun bagi sekolah-
sekolah yang sejenis perlu adanya pola keseragaman dalam susunan organisasi sekolahnya.
Adapun beberapa factor yang dapat mempengaryhi perbedaan-perbedaan dalam susunan
organisasi sekolah, antara lain:
a. Besar kecilnya sekolah
Ada sekolah yang mempunyai banyak murid, banyak uru, dan banyak pula ruang
belajarnya, tetapi ada pula yang sebaliknya. Ada sekolah yang banyak muridnya namun
tidak cukup guru dan tidak cukup ruang belajarnya, dsb.
b. Letak sekolah
Sekolah yang berada dikota besar berlainan dengan sekolah yang di kota kecil, di kota
kecamatan, di pengunungan, di pinggir pandai, dsb. Letak sekolah atau lingkungan
sekolah menentukan tokoh-tokoh masyarakat siapakah yang perlu diikutsertakan di
dalam membangun dan membina sekolah itu.
c. Jenis dan tingkatan sekolah

7
Sekolah kejurua berbeda dengan sekolah umum, sekolah dasar tidak sama dengan
sekolah SMP/SMA, dan berbeda pula dengan perguruan tinggi dst. Tujuan khusus tiap-
tiap sekolah yang tidak sejeni itu tidak sama.
Demikianlah, meskipun ssekolah-sekolah itu pada umumnya mempunyai keperluan dan
kebutuhan yang banyak ersamaan, dilihat dari perbedaannya di dalam tiga faktor tersebut di atas,
banyak pula perbedaan-perbedaan dalam keadaan dan kebutuhannya. Ini semua dapat
mempengaruhi adanya perbedaan di dalam susunan organisasi sekolah yang diperlukan.

2. Struktur organisasi pendidikan

Struktur organisasi dalam bidang pendidikan dan pengajaran di setiap Negara


berbeda-beda. Hal ini tergantung kepada struktur organisasi dan administrasi
pemerintahannya. Secara umum, struktur organisasi pendidikan dikelompokkan
menjadi dua macam, yaitu :

2.a) Sistem sentralisasi

Di dalam negara-negara yang bentuk pemerintahan dan struktur organisasinya cenderung


kearah kediktatoran, dimana segala kekuasaan dipusatkan pada satu orang atau satu
golongan, maka struktur organisasi cenderung mengarah kepada struktur sentralisasi.
Yakni kekuasaan dan tanggung jawab pada bidang pendidikan dipusatkan pada suatu
badan di pusat pemerintahan. Sehingga, peran kepala sekolah dan guru-guru dalam
kekuasaan, tanggung jawab, dan dalam prosedur-prosedur pelaksanaan tugasnya sangat
dibatasi oleh peraturan-peraturan dan instruksi-instruksi dari pusat. Ciri umum dari
struktur sentralisasi adalah keharusan adanya keseragaman. Keseragaman ini meliputi
semua kegiatan pendidikan, terutama di sekolah yang setingkat dan sejenis.

Adapun keburukan/keberatan yang prinsipal ialah :

a. Bahwa administrasi yang demikian cenderung kepada sifat-sifat otoriter dan birokratis.
Menyebabkan para pelaksana pendidikan, baik para pengawas maupun kepala sekolah serta
guru-guru menjadi orang-orang yang pasif dan bekerja secara rutin dan tradisional belaka.

8
b. Organisasi dan administrasi berjalan sangat kaku dan seret, disebabkan oleh garis-garis
komunikasi antara sekolah dan pusat sangat panjang dan berbelit-belit, sehingga kelancaran
penyelesaian persoalan-persoalan kurang dapat terjamin.
c. Karena terlalu banyak kekuasaan dan pengawasan sentral, timbul penghalang-penghalang bagi
inisiatif setempat, dan mengakibatkan uniformalitas yang mekanis dalam administrasi
pendidikan, yang biasanya hanya mampu untuk sekedar hanya membawa hasil-hasil pendidikan
yang sedang atau sedikit saja.

2.b) Sistem disentralisasi

Di negara-negara yang organisasi pendidikannya di-desentralisasi, pendidikan bukan


urusan pemertintah pusa, melainkan menjadi tanggung jawab pemerintah daerah dan rakyat
setempat. Penyelengaraan dan pengawasan sekolah-sekolah pun berada sepenuhnya dalam
tangan penguasa daerah.
Pemerintah daerah membagi lagi kekuasaannya kepada daerah yang lebih kecil lagi,
seperti kabupaten/kotapraja, distrik, kecamatan, dan seterusnya, dalam penyelenggaraan dan
pembagungan skolah, sesuai dengan kemampuan, kondisi, dan kebutuhan masing-masing. Pada
struktur organisasi pendidikan secara desentralisasi ini, kepala sekolah bertanggung jawab
langsung terhadap pemerintah dan masyarakat. Semua kegiatan sekolah yang dijalankannya
mendapat pengawasan langsung dari pemerintah dan masyarakat. Hal ini karena kepala sekolah
dan guru-guru adalah petugas pendidik yang dipilih, diangkat, dan diberhentikan oleh
pemerintah daerah.
Kebaikan yang terjadi pada sistem desentralisasi yaitu :
a. Pendidikan dan pengajaran dapat disesuaikan dengan dan memenuhi kebutuhan
masyarakat.
b. Kemungkinan adanya persaingan yang sehat di antara daerah sehingga berlomba-lomba
untuk menyelenggarakan sekolah dan pendidikan yang baik.
c. Kepala sekolah, guru-guru, dan petugas pendidikan yang lain akan bekerja dengan baik
karena mereka merasa dibiayai dan dijamin hidupnya.
Adapun keburukannya ialah :
a. Karena otonomi yang sangat luas, kemungkinan program pendidikan akan berbeda-beda.
Dan mungkin menimbulkan perpecahan bangsa.

9
b. Hasil pendidikan dan pengajaran berbeda tiap daerah, baik mutu, sifat, maupun jenisnya.
c. Kepala sekolah, guru-guru, dan petugas pendidikan lainnya cenderung untuk menjadi
karyawan yang matrealistis.penyelenggaraan dan pembiayaan pendidikan yang
diserahkan kepada daerah mungki akan sangat memberatkan beban masyarakat.
Demikian baik struktur sentalisasi dan desentralisasi jika dilakukan secara ekstrem, keduanya
ada kebaikan dan keburukannya.

2.c) Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

Manajemen Berbasis Sekolah merupakan suatu manajemen sekolah yang disebut juga
dengan otonomi sekolah (school autonomy) atau site-based management (Beck & Murphy,
1996). Sejalan dengan belakunya otonomi daerah dalam dunia pendidikan, MBS atau school-
based management (SBM) menuntut terjadinya perubahan dalam manajemen sekolah. Karena
itu, pengelolaan suatu sekolah diserahkan kepada sekolah tersebut, atau sekolah diberikan
kewenangan besar untuk mengelola sekolahnya sendiri dengan menggunakan Manajemen
Berbasis Sekolah ini.

Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yaitu model pengelolaan yang memberikan otonomi
atau kemandirian kepada sekolah atau madrasah dan mendorong pengambilan keputusan
partisipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah atau madrasah sesuai dengan
standar pelayanan mutu yang ditetapkan oleh pemerintah pusat, Provinsi, Kabupaten dan Kota.

Pada prinsipnya MBS bertujuan untuk memberdayakan sekolah dalam menetapkan berbagai
kebijakan internal sekolah yang mengarah pada peningkatan mutu dan kinerja sekolah secara
keseluruhan.MBS merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai keunggulan
masyarakat bangsa dalam penguasaan ilmu dan teknologi, yang dinyatakan dalam GBHN.

MBS, yang ditandai dengan otonomi sekolah dan pelibatan masyarakat merupakan respon
pemerintah terhadap gejala-gejala yang muncul di masyarakat, bertujuan untuk meningkatkan
efisiensi, mutu, dan pemerataan pendidikan. peningkatan efisiensi, antara lain, diperoleh melalui
keleluasaan mengelola sumber daya partisipasi masyarakat dan penyederhanaan birokrasi.
Sementara peningkatan mutu dapat diperoleh, antara lain, melalui partisipasi orang tua terhadap

10
sekolah, fleksibilitas pengelolaan sekolah dan kelas, peningkatan profesionalisme guru dan
kepala sekolah. peningkatn pemerataan antara lain diperoleh melalui peningkatan partisipasi
masyarakat yang memungkinkan pemerintah lebih berkonsentrasi pada kelompok tertentu.

Dalam MBS, tanggung jawab pengambilan keputusan tertentu seperti anggaran, personel,
dan kurikulum lebih banyak diletakkan pada tingkat sekolah daripada di tingkat pusat, provinsi,
atau bahkan juga kabupaten/ kota. Dengan pemberlakuan MBS diharapakan setidaknya dapat
diperoleh beberapa keuntungan antara lain, yaitu:
1. Mendorong kreativitas kepala sekolah untuk mengelola sekolahnya menjadi lebih baik.
2. Dapat lebih mengaktifkan atau meningkatkan kepedulian masyarakat untuk ikut bertanggung
jawab terhadap kinerja dan keberhasilan sekolah atau madrasah.
3. Dapat mengembangkan tugas pengelolaan sekolah atau madrasah tersebut menjadi tanggung
jawab sekolah dan masyarakat.

Tujuan Manajemen Berbasis Sekolah yakni:


1. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah atau madrasah dalam
mengelola dan membedayakan sumber daya yang tersedia;
2. Meningkatkan kepedulian warga sekolah atau madrasah dan masyarakat dalam penyelenggaraan
pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama;
3. Meningkatkan tanggung jawab sekolah atau madrasah kepada orangtua, pemerintah tentang mutu
sekolah atau madrasah;
4. Meningkatkan kompetensi yang sehat antar madrasah dan sekolah lain untuk pencapaian mutu
pendidikan yang diharapkan.

BPPN bekerja sama dengan Bank Dunia (1999) telah mengkaji beberapa factor yang perlu
diperhatikan sehubyngan dengan manajemen berbasis sekolah. Faktor-faktor tersebut ialah:
1. Kewajiban sekolah
2. Kebijakan dan prioritas pemerintah
3. Peranan orang tua dan masyarakat
4. Peranan profesionalisme dan manajerial
5. Pengembangan profesi

11
Ciri-ciri MBS:
A. Organisasi Sekolah:
1. Menyediakan manajemen organisasi kepemimpina transformasional dalam mencapai
tujuan sekolah.
2. Menyusun rencana sekolah dan merumuskan kebijakan untuk sekolah mandiri.
3. Mengelola kegiatan operasional sekoalah.
4. Menjamin adanya komunikasi yang efektif antara sekolah dan masyarakat terkait (school
community).
B. Proses Belajar Mengajar:
1. Meningkatkan kualitas belajar siswa.
2. Mengembangkan kurikulum yang cocok dan tanggap terhadap kebutuhan siswa dan
masyarakat sekolah.
3. Menyelenggarakan pengajaran yang efektif.
4. Menyediakan program pengembangan yang diperlukan siswa.
5. Program pengembangan yang diperlukan siswa.
C. Sumber Daya Manusia:
1. Memberdayakan staf dan menempatkan personel yang dapat melayani keperluan semua
siswa.
2. Memiliki staf yang memiliki wawasan manajemen berbasis sekolah.
3. Menyediakan kegiatan untukpengembangan profesi pada semua staf.
4. Menjamin kesejahteraan staf dan siswa.
D. Sumber daya dan administrasi:
1. Mengidentifikasi sumber daya yang diperlukan dan mengalokasikan sumber daya
tersebut sesuai dengan kebutuhan.
2. Mengelola dana sekolah.
3. Menyediakan dukungan administrative.
4. Mengelola dan memelihara gedung dan sarana lainnya.

Dalam mengimplementasikan MBS terdapat 4 (empat) prinsip yang harus difahami yaitu:

12
1. kekuasaan
2. pengetahuan
3. sistem informasi
4. sistem penghargaan

Kekuasaan Kepala sekolah memiliki kekuasaan yang lebih besar untuk mengambil
keputusan berkaitan dengan kebijakan pengelolaan sekolah dibandingkan dengan sistem
pendidikan sebelumnya. Kekuasaan ini dimaksudkan untuk memungkinkan sekolah berjalan
dengan efektif dan efisien. Kekuasaan yang dimiliki kepala sekolah akan efektif apabila
mendapat dukungan partisipasi dari berbagai pihak, terutama guru dan orangtua siswa. Seberapa
besar kekuasaan sekolah tergantung seberapa jauh MBS dapat diimplementasikan. Pemberian
kekuasaan secara utuh sebagaimana dalam teori MBS tidak mungkin dilaksanakan dalam
seketika, melainkan ada proses transisi dari manajemen yangdikontrol pusat ke MBS.

Sistem Informasi Sekolah yang melakukan MBS perlu memiliki informasi yang jelas
berkaitan dengan program sekolah. Informasi ini diperlukan agar semua warga sekolah serta
masyarakat sekitar bisa dengan mudah memperoleh gambaran kondisi sekolah. Dengan
informasi tersebut warga sekolah dapat mengambil peran dan partisipasi. Disamping itu
ketersediaan informasi sekolah akan memudahkan pelaksanaan monitoring, evaluasi, dan
akuntabilitas sekolah. Infornasi yang amat penting untuk dimiliki sekolah antara lain yang
berkaitan dengan: kemampuan guru dan Prestasi siswa.

Sistem Penghargaan Sekolah yang melaksanakan MBS perlu menyusun sistem


penghargaan untuk memberikan penghargaan kepada warga sekolah yang berprestasi. Sistem
penghargaan ini diperlukan untuk mendorong karier warga sekolah, yaitu guru, karyawan dan
siswa.

Faktor Pendukung Keberhasilan Manajemen Berbasis Sekolah


1. Kepemimpinan dan manajemen sekolah yang baik
MBS aan berhasi jika ditopang oleh kemampuan professional kepala sekolah atau madrasah
dalam memimpin dan mengelola sekolah atau madrasah secara efektif dan efisien, serta mampu
menciptakan iklim organisasi yang kondusif untuk proses belajar mengajar.

13
2. Kondisi social, ekonomi dan apresiasi masyarakat terhadap pendidikan
Faktor eksternala yang akan turut menentukan keberhasilan MBS adalah kondisi tingkat
pendidikan orangtua siswa dan masyarakat, kemampuan dalam membiayai pendidikan, serta
tingkat apresiasi dalam mendorong anak untuk terus belajar.
3. Dukungan pemerintah
Faktor ini sangat membantu efektifitas implementasi MBS terutama bagi sekolah atau madrasah
yang kemampuan orangtua/ masyarakatnya relative belum siap memberikan kontribusi terhadap
penyelenggaraan pendidikan. alokasi dana pemerintah dan pemberian kewenangan dalam
pengelolaan sekolah atau madrasah menjadi penentu keberhasilan.
4. Profesionalisme
Faktor ini sangat strategis dalam upaya menentukan mutu dan kinerja sekolah atau madrasah.
Tanpa profesionalisme kepala sekolah atau madrasah, guru, dan pengawas, akan sulit dicapai
program MBS yang bermutu tinggi serta prestasi siswa.

Supervisi dalam Manajemen Berbasis Sekolah:


Dalam kaitannya dengan MBS supervisilebih ditekankan pada pembinaan dan
peningkatan kemampuan dan kinerja tenaga kependidikan di sekolah dala melaksanakan tugas.
Segala usaha pejabat sekoalah dalam memimpin guru-guru dan tenaga kependidikan lainnya,
untuk memperbaiki pengajaran; termasuk menstimulasi, menyeleksi pertumbuahn dan
perkembangan jabatan guru-guru, menyeleksi, dan merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan
pengajaran dan metode-metode mengajar serta evaluasi pengajaran.
Teknik-teknik supervise:
1. Kunjungan dan observasi kelas
2. Pembicaraan individual
3. Diskusi kelompok
4. Demonstrasi mengajar
5. Perpustakaan profesional

14
II. Penutup

A. Kesimpulan

1. Administrator dan supervisor merupakan tugas kepala sekolah. Administrasi adalah dan supervisi adalah.
Adapun dalam pelaksanaan tugasnya tersebut, kepala sekolahmembutuhkan peranan dari warga sekolah
demi tercapainya tujuan dari tugasnyasebagai administrator dan supervisor.
2. Sebagai administrasi pendidikan, kepala sekolah mempunyai tugas dan tanggun jawab melaksanakan
fungsi-fungsi administrasi yang diterapkan ke dalam kegiatansekolah yang dipimpinnya.
3. Dalam menyusun organisasi sekolah perlu diperhatikan prinsip-prinsippengorganisasian yang baik, dan
di dalam pelaksanaanya diperlukan pengoorganisasian serta arahan yang kontinu dari pimpinan sekolah.
4. Pengelolaan kepegawaian yang dalam ilmu administrasi biasa disebut manajemenmerupakan tugas dan
tanggung jawab kepala sekolah yang sangat penting.
5. Fungsi kepala sekolah sebagai supervisor mencakup kegiatan-kegiatan yangbersangkutan dengan
pembangkitan semangat dan kerja sama guru-guru, pemenuhan alat-alat dan perlengkapan sekolah demi
kelancaran pengajaran dan lain sebagainya.
6. Teknik yang digunakan dalam melaksanakan supervisi oleh kepala sekolah terhadap guru-guru dan
pegawai sekolah dapat dilakukan dengan teknik perseorangan dan teknik kelompok.B.

15
Daftar Pustaka

Herabudin. 2009. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung : CV Pustaka Setia

Mulyasa, E. 2006. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Purwanto, M Ngalim.2005. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung : PT. Remaja


Rosdakarya.

Sagala,Syaiful. 2012. Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung: CV. Alfabeta.

16