Anda di halaman 1dari 29

TUGAS KEPANITERAAN KLINIK MADYA

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

LAPORAN KELUARGA BINAAN


PNEUMONIA

Oleh
Sandra Yuliana Andini Putri
H1A 012 052

Pembimbing:
dr. Lina Nurbaiti, M.Kes, FISPH, FISCM
dr. Anom Josafat, MPH

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM/PUSKESMAS
NARMADA KABUPATEN LOMBOK BARAT
2017

1
I. KASUS PASIEN DALAM KELUARGA BINAAN
Data Kasus Pasien dalam Keluarga Binaan
Nama Dokter Muda : Sandra Yuliana Andini Putri
Nomor Induk Mahasiswa : H1A212052
Fasilitas Pelayanan Kesehatan : Puskesmas Narmada

Tabel 1. Data Identitas Pasien


Pasien Keterangan
Nama An. W Anak Ny. K
Umur / tgl. Lahir 26 bulan / 27-12-2014
Alamat Sembung Barat, Kecamatan
Narmada, Lombok Barat
Jenis kelamin Perempuan
Agama Islam
Pendidikan -
Pekerjaan -
Status perkawinan Belum menikah
Alergi obat -

II. IDENTITAS KELUARGA BINAAN


Keluarga yang akan dibina dalam kasus ini adalah keluarga An. W, yang
merupakan anak pertama dari Ayah (Tn. S) dan Ibu (Ny. K). Keluarga dari An. W
terdiri atas ayah, ibu, kakek dan neneknya. Kepala keluarga dalam keluarga ini
adalah ayah pasien yaitu sebagai pemegang keputusan serta yang bertanggung
jawab terhadap keluarga ini. An.W tinggal satu rumah di wilayah Batu Kuta
Kecamatan Narmada, Lombok Barat Jadi, dalam keluarga binaan ini terdapat 5
orang anggota keluarga.

2
Berikut ini adalah identitas anggota keluarga yang diperoleh pada saat
kunjungan pertama (15 Mei 2017):

Tabel 2. Data identitas keluarga


Anggota Keluarga Keterangan
Nama Tn. S Ayah An. W
Umur 31 tahun
Alamat Sembung Barat, Kecamatan Narmada,
Lombok Barat
Agama Islam
Pendidikan SMP
Pekerjaan Buruh Pasar
Status Menikah
Anggota Keluarga Keterangan
Nama Ny. K Ibu An. W
Umur 26 tahun
Alamat Sembung Barat, Kecamatan Narmada,
Lombok Barat
Agama Islam
Pendidikan SMP
Pekerjaan IRT
Status Menikah
Anggota Keluarga Keterangan
Nama Aq. Z Kakek dari An. W
Umur 61 tahun
Alamat Sembung Barat, Kecamatan Narmada,
Lombok Barat
Agama Islam
Pendidikan Tidak sekolah
Pekerjaan Petani
Status Menikah

Anggota Keluarga Keterangan


Nama Inaq. R Nenek dari An. W
Umur 58 tahun
Alamat Sembung Barat, Kecamatan Narmada,
Lombok Barat
Agama Islam
Pendidikan Tidak sekolah
Pekerjaan Petani
Status Menikah

Keluarga Tn. S secara skematis dapat digambarkan dalam pohon keluarga / ikhtisar
keluarga sebagai berikut:

3
Ikhtisar Keluarga An. W:

Keterangan:
: Keluarga inti : perempuan
: Keluarga yang diperiksa : pasien
: laki-laki
: meninggal

DATA STATUS KESEHATAN KELUARGA

Data kesehatan awal, diambil saat kunjungan pertama ke rumah keluarga binaan.
Tabel 3. Data status kesehatan anggota keluarga
Aspek Kakek Nenek Ayah Ibu
An. W
Pemeriksaan (Aq. Z) (Inaq.R) (Tn. S) (Ny. K)
160/100 180/110
TD (mmHg) 100/80 110/70 -
mmHg mmHg
N 88x/menit 84x/menit 80x/mnt 72x/mnt 121 x/m

RR 18x/menit 18x/menit 18x/mnt 18x/mnt 28 x/mnt


T 36,8C 36,7C 36,8C 36,7C 37,9
BB 68 kg 60 kg 65 kg 63kg 10.5 kg

4
TB 170 cm 160 cm 160 cm 155cm 83 cm
23,5 23,4 23,5 26,2
kg/m2 kg/m2
BMI kg/m2 kg/m2 normal
(normal) (normal)
(normal) (gemuk)

III. DATA PELAYANAN PASIEN DALAM KELUARGA BINAAN


ANAMNESIS
(alloanamnesis dengan ibu pasien tanggal 15 Mei 2017 di puskesmas Narmada)
Keluhan Utama:
Batuk
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien umur 26 bulan dikeluhkan batuk dan terlihat sesak sejak 2 hari yang lalu
dan memberat sejak tadi pagi. Batuk terus menerus dan terdengar seperti berdahak.
Sesak dikeluhkan terus menerus tanpa bunyi ngik dan tidak dipengaruhi oleh
perubahan suhu. dikeluhkan juga terus menerus hingga pasien sangat lemas. Pasien
juga diketahui demam sejak 2 hari yang lalu dengan suhu tubuh yang naik turun.
Keluhan mual dan muntah disangkal. Keluhan mencret disangkal. Untuk keluhan
batuk dan sesak kali ini ibu pasien belum pernah membawa pasien untuk berobat.
Ibu pasien hanya memberikan obat penurun panas yang dibelinya di warung untuk
diberikan ke anaknya saat demam dirasakan tinggi sekali.
Riwayat penyakit dahulu
Ibu pasien mengaku anaknya pernah mengalami keluhan sesak 1 bulan yang lalu.
Pasien dibawa ke Puskesmas dan menjalani rawat jalan, keluhan mulai berkurang.
Riwayat batuk pilek (+), demam (+) namun setelah berobat ke puskesmas pasien
sembuh, riwayat rawat inap (-).
Riwayat penyakit keluarga dan lingkungan
Kakek dan nenek pasien menderita hipertensi
Riwayat pengobatan
Pasien sebelumnya pernah berobat ke poliklinik Puskesmas Narmada dengan
keluhan yang sama. Pasien mendapat terapi paracetamol dan antibiotik.
Riwayat Kehamilan dan Persalinan
Ibu pasien mengandung selama 9 bulan, ini merupakan kehamilan ketiga. Selama
hamil ibu melakukan ANC rutin lebih dari 9 kali di Posyandu. Riwayat trauma (-),

5
riwayat perdarahan (-), riwayat sakit dan minum obat-obatan tertentu (-). Ibu
melahirkan secara normal di Klinik Bersalin Swasta, dengan berat lahir 2.800 gr.
Ibu pasien tidak mempunyai keluhan setelah melahirkan.
Riwayat Nutrisi
Selama kehamilan ibu makan sebanyak 2-3x perhari. Pantangan makanan selama
hamil tidak ada. Ibu pasien memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan kepada
pasien, kemudian diberi MPASI berupa bubur. Saat ini pasien sudah makan
makanan yang sama dengan keluarga yang lain. Air untuk memasak dan mencuci
peralatan makan berasal dari air sumur didekat rumah pasien.
Riwayat Imunisasi
Pasien telah mendapat imunisasi sesuai jadwal di posyandu.

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum & tanda-tanda vital :
Keadaan Umum : Sedang
Kesadaran : Compos Mentis
Fungsi vital:
Nadi : 120 x/mnt
Respirasi : 40 x/menit
Suhu : 38,70 C
Status gizi:
Berat Badan : 10.5 kg
Panjang Badan: 83 cm
Status Gizi : BB/U : -1 SD
TB/U : -2SD/ -1SD
BB/TB : -1 SD/ 0 SD
Status Generalis
Kepala : bentuk dan ukuran normal
Rambut : warna hitam, tidak mudah tercabut.
Mata : anemis (-/-),ikterus (-/-), edema palpebra (-), mata cowong (-/-).
THT : kesan normal, bentuk dan fungsi normal, serumen (-), pernafasan
cuping hidung (+), pembesaran KGB (-).
Thoraks
Inspeksi : kelainan bentuk (-), pergerakan simetris (+/+), retraksi subcostal (+)

6
Auskultasi : Pulmo: vesikuler (+/+), wheezing (+/+), ronkhi(+/+)
Cor: S1, S2 tunggal, regular, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : Bentuk : distensi (-), scar (-), keloid (-).
Auskultasi : Peristaltik usus : (+) 16 kali/menit
Palpasi : Nyeri tekan (-), massa (-), turgor kembali lambat (-)
Hepar, lien, dan ginjal : tidak teraba
Perkusi : Suara timpani

Ekstremitas :
Tungkai Atas Tungkai bawah
Kanan Kiri Kanan Kiri
Akral hangat + + + +
Edema - - - -

DIAGNOSIS KERJA
Pneumonia

PENATALAKSANAAN
- Amoxicillin syr 3x1cth
- Paracetamol syr. 4x1/2 cth
- Ambroxol syr. 3x1/2 cth

PROGNOSIS PASIEN
Dubia ad Bonam

KONSELING
Konseling yang diberikan pada keluarga terutama pengasuh (ibu) pasien :
1. Menghindari faktor riskiko pencetus serangan pneumonia, contoh : asap rokok,
unggas, asap bakar sampah, dll
2. Mengenai cara pemberian obat. Setelah memberi dosis pertama, amati selama
30 menit, jika pasien muntah, beri 1 dosis lagi. Pemberian antibiotik
amoxicillin diberikan selama 3 hari walaupun pasien terlihat sudah membaik.

7
3. Kompres dengan handuk basah pada dahi, dada dan daerah lipatan tubuh
seperti ketiak dan paha untuk membantu menurunkan suhu tubuh pasien.
4. Membersihkan lubang hidung pasien jika mengganggu.
5. Memakaikan pakaian yang tipis.
6. Menghindarkan pasien dari anggota keluarga atau tetangga yang memiliki
penyakit infeksi saluran pernafasan.
7. Menyarankan untuk selalu mencuci tangan sebelum memegang/bermain-main
dengan pasien.
8. Memberi informasi mengenai pentingnya ventilasi di dalam rumah dan
menyarankan agar jendela rumah dibuka terutama di pagi hari.
9. Mengubah perilaku sehari-hari menjadi perilaku hidup bersih dan sehat
10. Menjaga kebersihan lingkungan
11. Lebih aktif bekerjasama dengan pusat pelayanan kesehatan.

IV. KONDISI FAKTOR RISIKO LINGKUNGAN, SOSIAL, EKONOMI, DAN


BUDAYA KELUARGA
1. Keadaan Lingkungan
Keluarga An. W tinggal di Desa Sembung Barat, Kecamatan Narmada,
Lombok Barat. Tempat tinggalnya tersebut merupakan tempat tinggal bersama dari
pihak Ayah yang ditempati sejak tahun 1999. Ukuran bangunan tempat tinggal
mereka adalah 11 x8 m dan menghadap ke arah timur. Bangunan rumah ini
beratapkan genteng, tidak memiliki plavon dengan lantai terbuat semen. Rumah
berdinding tembok bata yang sudah diplester dan dicat dengan warna putih. Rumah
ini terdiri atas 3 buah kamar, 1 ruang tamu, 1 ruang tengah, 2 dapur, 1 kamar
mandi.
Lokasi rumah terletak 7 m dari jalan. Rumah tersebut memiliki 1 buah
jendela besar di ruang tamu, dan pada setiap kamar tidak memiliki jendela hanya
lubang ventilasi. Kondisi di dalam kamar agak lembab dan gelap. An. W tidur
bersama ayah dan ibunya. Kondisi di dalam kamar tersebut agak gelap karena sinar
matahari hanya masuk melalui pintu, lubang ventilasi dikamar ditutup oleh ibu
pasien karena nyamuk.
Rumah An. W memiliki halaman kecil didepan rumah berukuran 5x6m.
Halaman tersebut ditanami pohon dan terdapat sebuah berugak. Batas rumah pasien
di sebelah timur adalah jalan rayaa, sebelah utara adalah tembok pekarangan rumah

8
tetangga, di sebelah selatan berbatasan rumah tetangga, dan sebelah barat
berbatasan dengan rumah tetangga.
Keluarga An. W memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari menggunakan
air dari sumur yang berada disamping rumah. Air tersebut digunakan sebagai air
minum, air untuk memasak dan kebutuhan sehari-hari lainnya.

2. Sosial Ekonomi
An. W adalah anak ke dua dari keluarga Tn. S dan Ny. K. Penghasilan
dalam keluarga diperoleh dari ayah yang bekerja sebagai buruh angkut di pasar
dengan penghasilan perbulan tidak menentu berkisar Rp 1.000.000 hingga Rp
1.500.000. Untuk keperluan listrik biasanya menghabiskan 50.000 per bulan pulsa
listrik, terkadang ada penambahan. Untuk masak dan minum sumber air yang
digunakan adalah air sumur dengan pompa listrik yang berada disamping rumah.
Kakek dan nenek pasien bekerja sebagai petani dan bekerja di sawah milik orang
lain. Penghasilan dari nenek dan kakek sepenuhnya dipegang oleh kakek dan tidak
berkontribusi dalam pendapatan keluarga inti. Untuk memasak, keluarga ini
memiliki dua dapur yang terpisah. Nenek memliki dapur sendiri yang digunakan
untuk memasak makanan untuk dirinya dan kakek. Ny. K juga memiliki dapur
sendiri yang digunakan untuk memasak makanan untuk Tn. S dan dua orang
anaknya.
Berdasarkan informasi dari Ny. K diketahui bahwa tetangga yang berada
diseberang rumah pasien sekitar 7m dari rumah sering membakar sampah didepan
rumah setiap hari sehingga asap pembakaran akan sampai ke rumah pasien.
3. Budaya
Ibu pasien mengatakan bahwa di lingkungan tempat tinggal mereka masih
terdapat beberapa budaya yang dianut oleh masyarakat sekitar. Namun keluarga
An. W tetap memilih berobat ke puskesmas bila sakit.

9
Denah Rumah Pasien :

Sumur
Dapur
U Kamar
kakek
Kamar
nenek
mertua

R. Keluarga

R. Kamar Dapur
Tamu pasien ibu
Ket:
Pintu
Jendela

Dokumentasi Rumah:

Rumah pasien tampak depan Ruang tamu

Ruang tidur I Ruang tidur II

10
Kamar Pasien Ruang tengah

Sumur

Dapur
V. MASALAH KESEHATAN KELUARGA BINAAN
1. Identifikasi Masalah Kesehatan Keluarga
Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dari kunjungan pertama
terhadap keluarga binaan, maka dapat dirumuskan beberapa masalah kesehatan
dalam keluarga An. W tersebut beserta dengan kemungkinan penyebab masalah
kesehatannya yang disajikan dalam tabel sebagai berikut:
Anggota Masalah Kemungkinan Penyebab
No. Keterangan
Keluarga Kesehatan Masalah Kesehatan
1. Anak Pneumonia Kurangnya pengetahuan cara Masalah diketahui
(An. W) merawat anak. saat kunjungan
Lingkungan fisik rumah yang pasien ke puskesmas
tidak mendukung, ventilasi dan saat melakukan

11
kurang sehingga udara dalam kunjungan pertama
rumah lembab. ke rumah pasien
Pasien sering ditidurkan di tanggal 15 Mei 2017
lantai tanpa alas
Dapur terletak di dalam
rumah, dekat ruang keluarga,
sehingga asap saat memasak
dapat masuk ke dalam rumah.
Kebiasaan ayah pasien
merokok di dalam rumah.
2. Ayah Perokok aktif Kebiasaan merokok setiap Masalah diketahui
(Tn.S) hari. saat kunjungan
Minum kopi setiap hari. pertama pembina ke
rumah pasien.
3. Ibu (Ny.K) - Tidak ada keluhan Saat kunjungan ke
rumah tidak ada
masalah kesehatan
4. Kakek Hipertensi Usia Masalah diketahui
(Aq. Z) Kebiasaan minum kopi saat kunjungan
2x/hari pertama pembina ke
rumah pasien.
5. Nenek Hipertensi Usia Masalah diketahui
(Iq. R) Kebiasaan minum kopi saat kunjungan
2x/hari pertama pembina ke
rumah pasien.

Dari tabel di atas, diperoleh data bahwa saat kunjungan rumah pertama,
masalah kesehatan dialami oleh An. W, ayah (Tn.D), kakek (Aq.Z) dan nenek
(Iq.R) Dengan demikian 4 orang dari 5 orang anggota keluarga masih memilki
masalah kesehatan.
Jika dilihat dari aspek kesehatan masyarakat, maka masalah-masalah
kesehatan yang dialami oleh semua anggota keluarga An. W tersebut di atas terkait
dengan determinan kesehatan yang ada yaitu aspek biologis, aspek lingkungan,

12
aspek perilaku/gaya hidup, dan aspek pelayanan kesehatan, dapat diuraikan sebagai
berikut:
1. Pasien (An. W) Pneumonia
Berdasarkan determinan kesehatan, An. W memiliki masalah kesehatan yang
terutama terkait pada biologis dan aspek lingkungan.
2. Ayah (Tn.S) Perokok aktif
Berdasarkan determinan kesehatan, Tn.D memiliki masalah kesehatan yang
terutama terkait pada aspek perilaku/gaya hidup.
3. Kakek (Aq.Z)
Berdasarkan determinan kesehatan, masalah kesehatan yang ada terutama
terkait pada perilaku atau gaya hidup dan aspek biologis
4. Nenek (Iq. R)
Berdasarkan determinan kesehatan, masalah kesehatan yang ada terutama
terkait pada perilaku atau gaya hidup dan aspek biologis
Dari kunjungan tersebut, pembina mulai mengidentifikasi masalah
kesehatan keluarga An.W yang diperoleh melalui kunjungan ke rumah pasien pada
tanggal 15 Mei 2017. Dari kunjungan rumah pertama tersebut mulai diperoleh
masalah kesehatan masing-masing anggota keluarga dan memperkirakan rencana
upaya intervensi yang akan dilakukan.

13
2. Rencana Upaya Intervensi yang Akan Dilakukan
Anggota Masalah
No Rencana Upaya Intervensi Ket.
Keluarga Kesehatan
1. Anak W Pneumonia Memberikan KIE kepada keluarga Masalah
pasien terutama kepada orangtua, kesehatan
mengenai penyakit pneumonia diketahui
meliputi faktor resiko, tanda dan saat
gejala, tanda bahaya, pencegahan serta kunjungan
cara penanggulangannya. pertama dan
Penyuluhan mengenai Pola Hidup kedua
Bersih dan Sehat (PHBS) dalam kerumah
rumah tangga kepada pengasuh dan pasien.
keluarga
Menyarankan untuk membuka jendela
rumah agar sinar matahari masuk dan
rumah jadi tidak lembab.
Rutin membersihkan rumah dan debu
di jendela
Menyarankan agar ayah pasien untuk
berhenti merokok atau setidaknya
tidak merokok di dalam rumah.
Menyarankan agar pada saat masak,
anak tidak dekat dengan asap
2. Ayah Perokok Penyuluhan mengenai bahaya Masalah
(Tn.S) aktif merokok, menyarankan untuk kesehatan
mengurangi jumlah rokok harian. diketahui
Menyarankan mengganti rokok saat
dengan permen sampai kebiasaan kunjungan
merokok hilang. pertama
Mengurangi rokok secara bertahap
hingga dapat berhenti merokok

14
3. Kakek Hipertensi Menyarankan untuk mulai Masalah
(Aq. Z) mengatur pola makan dengan kesehatan
baik, misalnya dengan diketahui
mengurangi makanan yang tinggi saat
natrium seperti garam, MSG, kunjungan
makanan kaleng atau makanan pertama
yang diawetkan, makanan
bersantan, berlemak, mengurangi
daging merah dan makanan
berminyak.

Penyuluhan kepada yang


bersangkutan mengenai faktor
resiko, penyebab dan komplikasi
dari hipertensi.

Rajin mengukur tekanan darah di


puskesmas setiap obat akan habis

Meminta pasien saling


mengingatkan dengan istrinya
untuk menjaga pola makan,
selalu minum obat hipertensinya,
dan kontrol ke puskesmas atau
klinik terdekat untuk tekanan
darah dan keluhan kesehatannya.
4. Nenek Hipertensi Menyarankan untuk mulai Masalah
(Iq.R) mengatur pola makan dengan kesehatan
baik, karena istri pasien yang diketahui
memasak makanan sehari-hari di saat
rumah misalnya dengan kunjungan
mengurangi garam menjadi tidak pertama

15
lebih dari sendok teh perhari,
MSG, makanan yang diawetkan
dan siap saji, makanan bersantan,
berlemak, mengurangi daging
merah dan makanan berminyak.

Penyuluhan kepada yang


bersangkutan mengenai faktor
resiko, penyebab dan komplikasi
dari hipertensi.

Meminta istri pasien agar saling


mengingatkan dengan suami
untuk menjaga pola makan,
selalu minum obat hipertensinya,
dan kontrol ke puskesmas atau
klinik terdekat untuk tekanan
darah dan keluhan kesehatannya

3. Upaya Kesehatan yang Telah Dilakukan Keluarga


Upaya kesehatan yang telah dilakukan oleh keluarga An. W bila terdapat anggota
keluarga yang sakit adalah membawa ke dokter peraktek umum atau langsung ke PKM
Narmada. Selama ini Aq. Z dan Iq. R tidak pernah mengontrol tekanan darah tingginya
ke puskesmas, pasien hanya berobat ke puskesmas bila ada keluhan.

16
VI. PENGKAJIAN MASALAH KESEHATAN PASIEN
1. Kerangka Konsep Masalah Pasien

BIOLOGIS/PERSONAL

MELITUS
Usia anak yang masih
kecil => daya tahan tubuh
belum maksimal

PERILAKU DIABETES
LINGKUNGAN
MELITUS
Kebiasaan ayah dan Polusi udara dalam
merokok di dalam
rumah
rumah dan didekat DIABETES Tidak efektifnya
anaknya Pneumonia
MELITUS jendea/ventilasi
Kebiasaan anak udara dalam rumah
terpapar asap saat ibu
lembab
memasak di dapur DIABETES
Jarang membuka dan
MELITUS
PELAYANAN
membersihkan jendela
KESEHATAN
sehingga suasana
kamar pengap dan DIABETES
Kurangnya sosialisasi kepada
lembab
masyarakat mengenai pneumonia,
MELITUS
pencegahan dan
penanggulangannya.

DIABETES
Nilai Fungsi Dalam Keluarga MELITUS
Lima fungsi dasar keluarga yang dikemukakan oleh Friedman (1998) yaitu:
a. Fungsi afektif
DIABETES
Dalam keluarga Tn.S hubungan individu dengan istri terjalin dengan harmonis. Ny K
yang merupakan istri Tn. S selaluMELITUS
memasak makanan untuk keluarga inti. Ny. K juga
yang mengurus An. W tanpa dibantu pengasuh. Hubungan istri dengan keluarga mertua

DIABETES 17

MELITUS
juga terlihat baik. Hanya untuk urusan makanan, Iq. R merasa masih sanggup melayani
suaminya yaitu Iq.Z sehingga dirumah keluarga ini terdapat dua dapur yang terpisah.
Hubungan antar mertua, anak, dan istri cukup baik.
Fungsi afektif keluarga ini sudah baik.
b. Fungsi sosial
Dalam kehidupan sehari-hari, keluarga Tn. S dan Ny. K bersosialiasi dengan baik dengan
tetangga disekitar rumah. Hal ini terbukti dengan tetangga yang saling mengenal dengan
keluarga pasien dan An. W. Tetangga yang memiliki anak kecil juga sering mengajak
anaknya untuk bermain dengan An.W.
Fungsi sosial keluarga ini sudah baik.
c. Fungsi Reproduksi
Sejak menikah selama 3 tahun yang lalu, Tn. S dan Ny. K dikaruniai oleh 1 orang anak.
Selama ini Ny.K menggunakan KB AKDR. Keluarga ini belum merencanakan punya
anak lagi. Fungsi reproduksi keluarga ini sudah baik.
d. Fungsi Ekonomi
Pasien merupakan keluarga dengan status ekonomi menengah kebawah, dengan
penghasilan kurang lebih Rp 1.500.000/bulan (hasil pekerjaan suami sebagai buruh di
pasar). Pasien merupakan buruh angkut di pasar mandalika. Istrinya seorang ibu rumah
tangga, yang sehari-harinya bekerja di rumah mengurus rumah tangga dan anak.
Fungsi ekonomi keluarga ini sudah cukup baik.
e. Fungsi perawatan kesehatan
Dalam menjaga kesehatan dan mencegah penyakit, saat ini orang tua An. W yaitu Tn. S
dan Ny. K sudah mulai mengerti akan pentingnya menjaga kesehatan, seperti minum dari
air bersih yang telah dimasak, berobat segera ke puskesmas bila sakit. Namun ada
beberapa perilaku yang masih belum mampu secara maksimal dilakukan seperti menjaga
kebersihan rumah dan membuka jendela sehingga ventilasi udara berjalan dengan baik.
Hal ini mengakibatkan An. W sering mengalami ISPA berulang dan saat ini sedang
menderita pneumonia.
Fungsi perawatan kesehatan keluarga ini sudah cukup baik.

18
APGAR SCORE
Untuk menilai fungsi fisiologis keluarga ini digunakan APGAR skor dengan nilai hampir
selalu = 2, kadang = 1, hampir tidak pernah = 0. APGAR skore disini akan dilakukan
pada masing-masing anggota keluarga dan kemudian dirata-rata untuk menetukan fungsi
fisiologis keluarga secara keseluruhan. Nilai rata-rata 1-4 = jelek, 5-7 = sedang, 8-10 =
baik.
Skor
Kategori Keterangan
0 1 2

1. Adaptation X Seluruh anggota keluarga dapat beradaptasi


dengan anggota keluarga lain, dukungan dan saran
dari anggota keluarga lain,

2. Partnership X Seluruh anggota keluarga menjalin komunikasi


yang baik, saling mengisi antara anggota keluarga
dalam segala masalah yang dialami keluarga

3. Growth X Anggota keluarga jarang melakukan hal-hal baru


sehingga jarang memberi dukungan mengenai hal-
hal baru

4. Affection X Hubungan kasih sayang dan interaksi antar


anggota terjalin dengan baik

5. Resolve X Anggota keluarga kadang-kadang puas mengenai


kebersamaan dan waktu yang dihabiskan antar
anggota keluarga.

Skor fungsi fisiologis keluarga An. W adalah 8. Dalam ketentuan APGAR score
dikatakan keluarga ini dalam kategori baik.

19
2. Diagnostik Holistik
Aspek Personal
Pasien umur 26 bulan dikeluhkan batuk dan terlihat sesak sejak 2 hari yang lalu dan
memberat sejak tadi pagi. Batuk terus menerus dan terdengar seperti berdahak. Sesak
dikeluhkan terus menerus tanpa bunyi ngik dan tidak dipengaruhi oleh perubahan
suhu. dikeluhkan juga terus menerus hingga pasien sangat lemas. Pasien juga
diketahui demam sejak 2 hari yang lalu dengan suhu tubuh yang naik turun. Keluhan
mual dan muntah disangkal. Keluhan mencret disangkal. Untuk keluhan batuk dan
sesak kali ini ibu pasien belum pernah membawa pasien untuk berobat. Ibu pasien
hanya memberikan obat penurun panas yang dibelinya di warung untuk diberikan ke
anaknya saat demam dirasakan tinggi sekali.
Aspek Klinik
Pneumonia berulang
Aspek Risiko Internal
Pasien merupakan anak perempuan yang berumur 26 bulan (faktor imunitas yang
belum sempurna) sehingga rentan terkena berbagai penyakit.
Aspek Psikososial keluarga
Kurangnya pengetahuan pengasuh dan keluarga mengenai cara merawat anak yang
baik dan benar; kebiasaan ayah dan kakek merokok dalam rumah; lingkungan yang
kurang sehat; dan sosioekonomi menengah.

20
3. Rencana Penatalaksanaan Pasien
No. Kegiatan Rencana intervensi Sasaran Waktu Hasil yang diharapkan
1. Aspek personal Evaluasi: keluarga - Keluarga dan pengasuh
- Keluhan, harapan, dan kekhawatiran pasien dapat mengetahui cara
keluarga pasien merawat anak dengan benar.
Intervensi: - Kekhawatiran ibu pasien
- Edukasi keluarga mengenai cara mengenai kondisi pasien
merawat anak dengan benar akan berkurang
2. Aspek klinik Terapi:
Pneumonia - Non Farmakologis: keluarga - Perbaikan gejala klinis
Segera mengganti pakaian pasien - Dilakukan kontrol kesehatan
pasien bila pakaian tersebut
teratur
basah
- Pengasuh dan keluarga
Menjaga anak tetap hangat.
teratur dan selalu disiplin
Menghindarkan anak dari polusi
dalam pemberian obat
asap rokok atau asap masalan.
Menganjurkan agar jendela
kepada anak

rumak sering dibuka - Komplikasi dapat dicegah


Menyarankan membersihkan
dan merapikan rumah setiap
hari

Terapi farmakologi :

21
- Amoxicillin syr 1 cth
- Paracetamol syr. 4x1/2 cth K/P
- Ambroxol syr. 3x1/2 cth
Edukasi
- Menjelaskan tentang penyakit
Pneumonia
- Pentingnya terapi non farmakologis
3. Aspek Resiko Edukasi: keluarga - keluarga pasien mengerti
Internal - Mengenai keadaan kesehatan pada pasien bahwa usia pasien
usia tersebut merupakan usia rentan
- Pentingnya status Gizi anak dalam terkena penyakit.
pertumbuhan dan perkembangannya - Keluarga pasien mengerti
- Pentingnya posyandu sebagai sarana berat badan rendah dapat
awal dalam menilai kesehatan meningkatkan resiko terkena
penyakit

4. Aspek psikososial
Kurangnya Edukasi: Seluruh 2 - Pengasuh dan keluarga
pengetahuan pengasuh - Mengenai Pneumonia, faktor anggota minggu pasien mengerti mengenai
dan keluarga mengenai resiko, pencegahan serta keluarga Pneumonia
Pneumonia dan ISPA, tatalaksana dan bahaya pasien - Seluruh anggota keluarga
serta faktor resiko dan pneumonia yang tidak dapat menerapkan PHBS di

22
pencegahannya, tertangani rumah
kurangnya - Menganai PHBS - Seluruh anggota keluarga
pengetahuan keluarga - Mengenai bahaya merokok pasien mengetahui bahaya
mengenai rumah sehat merokok dan dapat
dan perilaku hidup menghilangkan kebiasaan
sehat, serta kebiasaan merokok terutama di dalam
ayah yang merokok rumah
menjadi faktor resiko
dari aspek lingkungan
dan prilaku keluarga
bagi penyakit yang
dialami pasien saat ini.

VII. FOLLOW UP
Tindak Lanjut Dan Hasil Intervensi Pasien

Tanggal Intervensi Yang Dilakukan, Diagnosis Holistik & Rencana Selanjutnya


Kunjungan Pertama Evaluasi:
(15 Mei 2017) - Apa saja keluhan yang ada pada pasien dan anggota keluarga pasien, serta status kesehatan keluarga
secara umum.
- Melakukan evaluasi mengenai intervensi pertama yang dilakukan ketika pasien di bawa berobat di
PKM Narmada yaitu mengenai pemberian obat, mengenai pola asuh dan cara merawat anak dengan

23
benar serta edukasi keluarga mengenai pneumonia serta faktor resikonya.
Hasil :
- Keluarga pasien masih belum mengetahui mengenai penyakit Pneumonia, faktor resiko, pencegahan,
dan mengenali tanda bahaya penyakit tersebut pada anak.
- Keluarga pasien yang hasil pemeriksaannya status kesehatannya abnormal adalah pasien yaitu An. W
- Selain itu terdapat masalah kesehatan lain yang dialami oleh keluarga pasien yaitu Tn. S, ayah pasien
adalah seorang perokok aktif, kakek pasien (Aq.Z) dan nenek (Iq. R) memiliki hipertensi.
- Evaluasi pola asuh yang dilakukan oleh ibu dan keluarganya yaitu:
- Jarang mengganti pakaian An. W yang basah atau kotor dengan pakaian yang bersih dan kering saat
An. W bermain.
- Ibu dan keluarga kadang-kadang menidurkan An.W saat siang di berugak depan rumah yang
berbatasan dengan jalan raya.
- Tn. S sering merokok di dalam rumah.
- Selalu mengikuti posyandu sesuai dengan jadwalnya.
- Evaluasi mengenai PHBS
- Keluarga pasien jarang membuka jendela setiap pagi dan jarang membersihkan rumahnya.
- Keluarga masih tidak mencuci tangan pakai sabun
Intervensi:
- Memberikan penjelasan mengenai kondisi/ penyakit yang diderita oleh anak dan kakek neneknya.
- Memberikan KIE mengenai Pneumonia dan ISPA, faktor resiko, pencegahan dan mengenai tanda
bahaya pada anak dan anak.
- Memberikan KIE mengenai bahaya merokok

24
- Memberikan penjelasan mengenai faktor risiko, gejala, pencegahan, pengobatan, komplikasi (stroke,
peny.jantung) dan upaya pengontrolan penyakit hipertensi
- Menganjurkan untuk rutin minum obat hipertensi dan memeriksakan tekanan darahnya
- Penyuluhan kembali tentang cara merawat anak dengan baik dan benar :
- Apabila pakaian An. W yang basah atau kotor agar segera diganti dengan pakaian yang bersih dan
kering.
- Tidak menidurkan An.W saat siang di berugak depan rumah yang berbatasan dengan jalan raya.
- Tn. S tidak merokok di dalam rumah dan mengurangi jumlah rokok.
- Selalu mengikuti posyandu sesuai dengan jadwalnya
- Mengingatkan agar kakek dan nenek rutin melakukan kontrol tekanan darah dan mengambil obat di
puskesmas
Memberikan KIE mengenai PHBS secara personal hygiene maupun lingkungan kepada ibu dan keluarga:
- Mencuci tangan dengan air bersih, mengalir, dan sabun.
- Membuka jendela setiap hari.
- Menjaga kebersihan rumah.
Kunjungan Kedua Evaluasi:
(20 Mei 2016) - Kondisi klinis pasien
- Evaluasi dari intervensi sebelumnya
Hasil:
- Kondisi An. W lebih baik, tidak terlihat sesak, dan batuk mulai berkurang.
- Keluarga lebih mengetahui mengenai penyakit pneumonia dan ISPA akan segera mencari
pengobatan ke puskesmas bila ada keluarga pasien yang terserang penyakit tersebut.

25
- Ayah pasien masih mulai menerima mengenai bahaya merokok namun belum bisa mengurangi
jumlah rokok yang dihisap.
- TD Aq.Z 150/90 mmHg, TD Iq.R 180/100 mmHg, sudah berobat ke puskesmas dan obat yang
diberikan rutin diminum
Pola pengasuhan pasien yaitu:
- Pakaian yang digunakan an. W bersih, jika basah langsung diganti oleh Ibu
- An.W masih sempat ditidurkan dua kali saat siang di berugak depan rumah yang berbatasan
dengan jalan raya.
- Tn. S terkadang merokok di dalam rumah, belum bisa mengurangi jumlah rokok.
- Selalu mengikuti posyandu sesuai dengan jadwalnya
Evaluasi PHBS :
- Keluarga pasien mulai membersihkan jendela dan membukanya secara teratur
- Ayah pasien masih merokok di dalam rumah, walaupun mulai membatasi merokok ketika
berada dekat dengan anak-anaknya
Intervensi:
Melakukan edukasi mengenai :
- Pola asuh dan cara perawatan anak dengan benar.
- Edukasi kepada keluarga tentang PHBS
- mengingatkan agar kakek dan nenek rutin melakukan kontrol tekanan darah dan mengambil
obat di puskesmas

26
Kunjungan ke Tiga Evaluasi :
(1 Juni 2017) - Evaluasi dan intervensi sebelumnya.
- Kondisi kesehatan anggota keluarga.
Hasil :
- An. W terlihat sudah sehat kembali, tidak ada keluhan sesak dan batuk.
- Tidak terdapat anggota keluarga yang mengalami sakit.
- Tn. S masih merokok, namun terkadang jumlahnya sudah mau mulai dikurangi satu batang dari
jumlah awal setengah bungkus perhari.
Pola pengasuhan pasien :
- Pakaian yang digunakan an. W bersih, jika basah langsung diganti oleh Ibu
- An.W sudah tidak tidur siang di berugak dan dipindahkan ke kamar.
- Selalu mengikuti posyandu sesuai dengan jadwalnya
Evaluasi PHBS :
- Jendela di rumah sudah lebih bersih dibanding saat kunjungan pertama dan rutin dibuka saat
subuh.
- Tn. S merokok di brugak dan tidak didalam rumah atau didekat anak-anaknya
- Kakek dan nenek tetap ke puskesmas untuk kontrol obat dan tekanan darah tiap 10 hari sekali
Intervensi :
Melakukan edukasi mengenai :
- Pola asuh dan cara perawatan anak dengan benar.
- Edukasi kepada keluarga tentang PHBS.

27
KESIMPULAN

Faktor pendukung terselesaikannya masalah kesehatan pasien


Pasien dan keluarga terbuka terhadap edukasi dan motivasi yang diberikan Pembina.
Dukungan dan perhatian keluarga terhadap kesehatan pasien.
Pendidikan terakhir ayah dan ibu adalah SMP, walaupun demikian keduanya
memiliki wawasan terbuka yang memperbesar keinginan keluarga untuk mendukung
penyembuhan pasien.
Jarak dari rumah pasien ke puskesmas tidak terlalu jauh
Faktor penghambat terselesaikannya masalah pasien:
Kebiasaan merokok ayah yang sulit dirubah.
Kondisi fisik rumah dan lingkungan yang tidak mendukung.
Sosial ekonomi keluarga menengah
Rencana penatalaksanaan pasien selanjutnya:
Mengajak keluarga pasien untuk terus meningkatkan kualitas hidup anggota keluarganya,
menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, memperhatikan kebersihan pasien dan
lingkungan sekitar, serta pemanfaatan pelayanan kesehatan dari segi promotif dan
preventif.

31
DAFTAR PUSTAKA

Asmah. 2008. Dokter Keluarga. KMPK Universitas Gadjah Mada; Jogjakarta.


Depkes RI. 1998. Definisi Keluarga.
UU No. 23 tahun 1992. Definisi Sehat.
Prasetyawati, A.E. Kedokteran Keluarga dan Wawasannya. Fakultas Kedokteran Universitas
Sebelas Maret.

32