Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

Demam tifoid dapat ditemukan di masyarakat Indonesia, yang tinggal di kota


maupun desa. Penyakit ini sangat erat kaitannya dengan kualitas perilaku hidup
bersih dan sehat, sanitasi dan lingkungan yang kurang baik. Selain masalah diatas
ada beberapa masalah lain yang akan turut menambah besaran masalah penyakit
demam tifoid di Indonesia yang mencapai 11,66% (Susenas 2012). Yaitu sekitar
28.549.060 orang.1
Di Indonesia penyakit ini bersifat endemik dan merupakan masalah
kesehatan masyarakat. Data Riskesdas 2007 menunjukkan angka prevalensi tifoid
yang di diagnosa oleh tenaga kesehatan adalah 0,97 . Angka kesakitan demam
tifoid di Indonesia yang tercatat di bulletin WHO 2008 sebesar 81,7 per 100.000. 1
Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan jumlah kasus demam tifoid
di seluruh dunia mencapai 16-33 juta dengan 500-600 ribu kematian tiap tahunnya.
Demam tifoid merupakan penyakit infeksi menular yang dapat terjadi pada anak
maupun dewasa. Anak merupakan yang paling rentan terkena demam tifoid,
walaupun gejala yang dialami anak lebih ringan dari dewasa. Di hampir semua
daerah endemik, insidensi demam tifoid banyak terjadi pada anak usia 5-19 tahun.1
Berikut ini akan dilaporkan sebuah kasus pediatri pada seorang anak laki-laki
yang dirawat di RSUD Syekh Yusuf dengan Demam Tifoid.
BAB II
LAPORAN KASUS

Seorang anak laki-laki, berusia 8 tahun 7 bulan, masuk rumah sakit RSUD Syekh
Yusuf Kab. Gowa pada tanggal 23 Februari 2017 dengan keluhan utama demam
sejak 2 minggu yang lalu dan demam terus menerus.

ANAMNESIS
Alloanamnesis (dari Ibu Kandung Penderita)
Seorang pasien masuk rumah sakit dengan keluhan demam (+) sejak 2 minggu
yang lalu, demam terus menerus. Menggigil ada. Demam turun dengan penurun
panas, Nyeri kepala (-) Batuk (+) Lendir (+) Flu (-) Mual (-) muntah (-). Nyeri
uluh hati (+) dan Nyeri perut (+). Bibir selalu berdarah. Pasien malas makan dan
minum. BAK Lancar, BAB encer, ampas (+) frek 2 kali

Penyakit Yang Sudah Pernah Dialami


Morbili : (-)
Varicella : (-)
Pertusis : (-)
Diare : (-)
Cacing : (-)
Batuk/pilek : (-)
Lain-lain : (-)

Riwayat Imunisasi
Lengkap.
PEMERIKSAAN FISIK
Berat badan : 16 kg
Tinggi badan : 121 cm
Status Gizi (CDC) : BB/TB % = BB Aktual x 100%_____
BB Baku untuk TB actual
= 16 x 100%
28
= 57% (Gizi Buruk)

Keadaan Umum : Tampak sakit


Kesadaran : Compos Mentis
Tanda vital : Tekanan darah = 100/60 mmHg
Nadi = 138 x/menit
Respirasi = 30 x/menit
Suhu badan = 40,20C
Kepala : Bentuk mesocephal, rambut hitam, tidak mudah dicabut, UUB
menutup
Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, refleks kornea
kesan normal, refleks cahaya normal, lensa jernih, pupil bulat
isokor dengan diameter 3 mm/3 mm
Telinga : Tidak dijumpai adanya sekret
Hidung : Tidak dijumpai deviasi septum, pernafasan cuping hidung tidak
ada, tidak dijumpai adanya sekret
Mulut : Bibir kering (+), Lidah kotor (+), Sianosis tidak ada, Tonsil T1
- T1 tidak hiperemis, faring tidak hiperemis, stomatitis (+)
Leher : Tidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening.
Toraks : Bentuk simetris, ruang interkostal tidak melebar, tidak ada
retraksi
Jantung : Bunyi jantung I dan II murni reguler, tidak terdengar adanya
bising
Paru-paru : Suara pernapasan vesikular, tidak ditemukan adanya
ronki maupun wheezing
Abdomen : Bentuk datar, lemas, bising usus normal, hepar dan lien tidak
teraba
Genitalia : Perempuan, tidak dilakukan evaluasi
Anggota gerak : Akral hangat, Capillary Refill Time 2, kekuatan otot normal,
refleks fisiologis normal, refleks patologis tidak ada, tidak
dijumpai edema

Hasil Laboratorium (29 Desember 2016) :


Darah Rutin :
Wbc : 3.1 x103/L
Rbc : 4.19 x106/L
Hgb : 10.9 g/dl
Hct : 31.4%
Mcv : 78.9 fL
Mch : 26.0 pg
Mchc : 34.0 g/dl
Plt : 21 x103/L
Hasil Widal Tes
Titer O :
Titer H :

Diagnosa kerja :
Demam Tifoid
Terapi :
- IVFD RL 1000 cc/24 jam
- Cefotaxim 800mg/12jam
- PCT syr 3 x 2 cth
- Zink 1 x 20 mg
FOLLOW UP
24 februari 2017 (H-2)
Keluhan : Demam (+), menggigil (-), nyeri kepala (-), pusing (-), batuk
(+), mual (-), muntah (-), nyeri perut (-).
Nafsu makan : kurang
Nafsu minum : baik
BAB : lancar
BAK : lancar.
Keadaan Umum : lemas
Kesadaran : Compos Mentis
Tanda vital : Nadi = 128 x/menit
Respirasi = 24 x/menit
Suhu badan = 39,30C
Jantung : Bunyi jantung I dan II murni reguler, tidak terdengar adanya
bising
Paru-paru : Suara pernapasan vesikular, tidak ditemukan adanya
ronki maupun wheezing
Abdomen : Peristaltik (+) kesan normal.
Diagnosa kerja : Demam Tifoid
Terapi :
- IVFD RL 1000 cc /24 jam
- Cefotaxim 800 mg /12 jam
- PCT 200 mg/ 8 jam / iv
- Ambroxol 3 x cth
- Zink 1 x 20 mg
- Tuberkulin test
- Tirah baring
25 februari 2017 (H-3)
Keluhan : Demam (+), menggigil (-), nyeri kepala (-), pusing (+), batuk
(+), flu (-), mual (-), muntah (-), nyeri perut (+)
Nafsu makan : kurang
Nafsu minum : baik
BAB : lancar
BAK : lancar.
Keadaan Umum : Lemas
Kesadaran : Compos Mentis
Tanda vital : Nadi = 138 x/menit
Respirasi = 40 x/menit
Suhu badan = 38,10C
Jantung : Bunyi jantung I dan II murni reguler, tidak terdengar adanya
bising
Paru-paru : Suara pernapasan vesikular, tidak ditemukan adanya
ronki maupun wheezing
Abdomen : Peristaltik (+) kesan normal.
Diagnosa kerja : Demam Tifoid
Terapi :
- IVFD RL 1000 cc /24 jam
- Cefotaxim 800 mg/12 jam
- PCT 200 mg / 8 jam / iv
- Ambroxol 3 x cth
- Tirah baring

26 februari 2017 (H-4)


Keluhan : Demam (+), menggigil (-), nyeri kepala (-), pusing (-), batuk
(+), flu (-), mual (-), muntah (-), nyeri perut (-)
Nafsu makan : kurang
Nafsu minum : kurang
BAB : encer 1x
BAK : lancar
Keadaan Umum : Lemas
Kesadaran : Compos Mentis
Tanda vital : Nadi = 146 x/menit
Respirasi = 40 x/menit
Suhu badan = 37,5 0C
Jantung : Bunyi jantung I dan II murni reguler, tidak terdengar adanya
bising
Paru-paru : Suara pernapasan vesikular, tidak ditemukan adanya
ronki maupun wheezing
Abdomen : Peristaltik (+) kesan normal.
Diagnosa kerja : Demam Tifoid
Terapi :
- IVFD RL 1000 cc /24 jam
- Cefotaxim 800mg/12 jam/iv
- Ambroxol 3 x cth
- PCT 200 mg /8 jam/iv
- Bc/c 2 x 1 tab
- Tirah baring

27 februari 2017 (H-5)


Keluhan : Demam (+) tadi malam 38,9, menggigil (-), nyeri kepala (-),
pusing (-), batuk (+), flu (-), mual (-), muntah (-), nyeri perut
(-)
Nafsu makan : kurang
Nafsu minum : baik
BAB : encer, 1x tadi malam
BAK : lancar.
Keadaan Umum : Sedang
Kesadaran : Compos Mentis
Tanda vital : Nadi = 130 x/menit
Respirasi = 32 x/menit
Suhu badan = 37,4 0C
Jantung : Bunyi jantung I dan II murni reguler, tidak terdengar adanya
bising
Paru-paru : Suara pernapasan vesikular, tidak ditemukan adanya
ronki maupun wheezing
Abdomen : Peristaltik (+) kesan normal.
Diagnosa kerja : Demam Tifoid
Terapi :
- IVFD KAEN 3B 1000 cc /24 jam
- Cefotaxim800 mg/12 jam
- Dexametasone 3 mg /8 jam/iv
- Bc/c 2 x 1 tab
- Tirah baring
- Kontrol darah rutin, ureum, kreatinin, albumin
-
28 februari 2017 (H-6)
Keluhan : Demam (-), menggigil (-), nyeri kepala (-), pusing (-), batuk (-
), flu (-), mual (-), muntah (-), nyeri perut (-)
Nafsu makan : membaik
Nafsu minum : baik
BAB : baik
BAK : lancar.
Keadaan Umum : Lemas
Kesadaran : Compos Mentis
Tanda vital : Nadi = 112 x/menit
Respirasi = 28 x/menit
Suhu badan = 37,7 0C
Jantung : Bunyi jantung I dan II murni reguler, tidak terdengar adanya
bising
Paru-paru : Suara pernapasan vesikular, tidak ditemukan adanya
ronki maupun wheezing
Abdomen : Peristaltik (+) kesan normal.
Diagnosa kerja : Demam Tifoid
Terapi :
- IVFD KAEN 3B 40cc /24 jam
- Cefotaxim 800mg/12 jam/iv
- Ranitidin 1 amp/12 jam
- Dexametasone 3mg/8 jam/iv
- Ambroxol 3 x cth
- Bc/c 2 x 1 tab
- Tirah baring
BAB III
DISKUSI
A. Definisi

Demam tifoid adalah penyakit infeksi bakteri, yang disebabkan oleh Salmonella

typhi . Penyakit ini ditularkan melalui konsumsi makanan atau minuman yang

terkontaminasi oleh tinja atau urin orang yang terinfeksi. Gejala biasanya muncul 1-3

minggu setelah terkena, dan mungkin ringan atau berat. Gejala meliputi demam tinggi,

malaise, sakit kepala, mual, kehilangan nafsu makan ,sembelit atau diare, bintik-bintik

merah muda di dada (Rose spots), dan pembesaran limpa dan hati. Demam tifoid

(termasuk para-tifoid) disebabkan oleh kuman Salmonella typhi, S paratyphi A, S

paratyphi B dan S paratyphi C.2

B. Etiologi

Demam Tifoid adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh bakteri


Salmonella typhi. Etiologi demam tifoid dan demam paratifoid adalah S. typhi, S.
paratyphi A, S. paratyphi B (S. Schotmuelleri) dan S. paratyphi C (S. Hirschfeldii).

Salmonella typhi sama dengan Salmonella yang lain adalah bakteri Gram-
negatif, mempunyai flagela, tidak berkapsul, tidak membentuk spora fakultatif
anaerob. Mempunyai antigen somatik (O) yang terdiri dari oligosakarida, flagelar
antigen (H) yang terdiri dari protein dan envelope antigen (K) yang terdiri
polisakarida. Mempunyai makromolekular lipopolisakarida kompleks yang
membentuk lapis luar dari dinding sel da dinamakan endotoksin. Salmonella typhi
juga dapat memperoleh plasmid faktor-R yang berkaitan dengan resistensi
terhadap multipel antibiotik.3
Gambar 1.1 Mikroskopik Salmonella Typhi

Gambar 1.2 Salmonella typhi

Salmonella Typhi mempunyai 3 macam antigen, yaitu :4


A. Antigen O (antigen somatik), terletak pada lapisan luar tubuh
mikroorganisme. Bagian ini mempunyai struktur lipopolisakarida atau disebut
juga endotoksin. Antigen ini tahan terhadap panas dan alkohol tetapi tidak tahan
terhadap formaldehid.
B. Antigen H (antigen flagella), terletak pada flagella, fimbriae atau pili dari
mikroorganisme. Antigen ini mempunyai struktur protein dan tahan terhadap
formaldehid tetapi tidak tahan terhadap panas dan alkohol.

C. Antigen Vi, terletak pada kapsul (envelope) mikroorganisme yang dapat


melindungi mikroorganisme terhadap fagositosis. Ketiga macam antigen tersebut
di atas di dalam tubuh penderita akan menimbulkan pula pembentukan 3 macam
antibodi yang disebut agglutinin

C. Patogenesis
Patogenesis demam tifoid melibatkan 4 proses kompleks yang mengikuti
ingesti organism, yaitu: 1) penempelan dan invasi sel- sel pada Peyer Patch, 2)
bakteri bertahan hidup dan bermultiplikasi dalam makrofag Peyer Patch, nodus
limfatikus mesenterica, dan organ- organ extra intestinal sistem retikuloendotelial
3) bakteri bertahan hidup di dalam aliran darah, 4) produksi enterotoksin yang
meningkatkan kadar cAMP di dalam kripta usus dan meningkatkan permeabilitas
membrane usus sehingga menyebabkan keluarnya elektrolit dan air ke dalam
lumen intestinal

Masuknya kuman Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi ke dalam


tubuh manusia terjadi melalui makanan yang terkontaminasi kuman. Sebagian
kuman dimusnahkan dalam lambung karena suasana asam di lambung (pH < 2)
banyak yang mati namun sebagian lolos masuk ke dalam usus dan berkembang
biak dalam peyer patch dalam usus. Untuk diketahui, jumlah kuman yang masuk
dan dapat menyebabkan infeksi minimal berjumlah 105 dan jumlah bisa saja
meningkat bila keadaan lokal pada lambung yang menurun seperti aklorhidria, post
gastrektomi, penggunaan obat- obatan seperti antasida, H2-bloker, dan Proton
Pump Inhibitor.

Bakteri yang masih hidup akan mencapai usus halus tepatnya di jejnum dan
ileum. Bila respon imunitas humoral mukosa usus (IgA) kurang baik maka kuman
akan menembus sel- sel epitel (sel-M merupakan selnepitel khusus yang yang
melapisi Peyer Patch, merupakan port de entry dari kuman ini) dan selanjutnya ke
lamina propria. Di lamina propria kuman berkembang biak dan difagosit oleh sel-
sel fagosit terutama makrofag. Kuman dapat hidup dan berkembang biak di dalam
makrofag dan selanjutnya dibawa ke peyer patch di ileum distal dan kemudian
kelenjar getah bening mesenterika.

Selanjutnya melalui ductus thoracicus, kuman yang terdapat dalam


makrofag ini masuk ke dalam sirkulasi darah (mengakibatkan bakteremia pertama
yang sifatnya asimtomatik) dan menyebar ke seluruh organ Retikuloendotelial
tubuh terutama hati dan Limpa. Di organ- organ RES ini kuman meninggalkan sel-
sel fagosit dan kemudian berkembang biak di luar sel atau ruang sinusoid dan
selanjutnya kembali masuk ke sirkulasi sistemik yang mengakibatkan bakteremia
kedua dengan disertai tanda- tanda dan gejala infeksi sistemik.

Di dalam hepar, kuman masuk ke dalam kandung empedu, berkembang


biak, dan bersama cairan empedu diekskresikan secara intermitten ke dalam
lumen usus. Sebagian kuman dikeluarkan bersama feses dan sebagian masuk lagi
ke dalam sirkulasi setelah menembus usus. Proses yang sama terulang kembali,
berhubung makrofag telah teraktivasi dan hiperaktif maka pada saat fagositosis
kuman Salmonella terjadi beberapa pelepasan mediator inflamasi yang selanjutnya
akan menimbulkan gejala reaksi inflamasi sistemik seperti demam, malaise,
mialgia, sakit kepala, sakit perut, diare diselingi konstipasi, sampai gangguan
mental dalam hal ini adalah delirium. Pada anak- anak gangguan mental ini
biasanya terjadi sewaktu tidur berupa mengigau yang terjadi dalam 3 hari berturut-
turut.

Dalam Peyer Patch makrofag hiperaktif menimbulkan reaksi hiperplasi


jaringan (S. typhi intra makrofag menginduksi reaksi hipersensitivitas tipe lambat,
hyperplasia jaringan dan nekrosis organ). Perdarahan saluran cerna dapat terjadi
akibat erosi pembuluh darah sekitar peyer patch yang sedang mengalami nekrosis
dan hiperplasi akibat akumulasi sel- sel mononuclear di dinding usus.

Proses patologis jaringan limfoid ini dapat berkembang hingga ke lapisan


otot, serosa usus, dan dapat mengakibatkan perforasi. Endotoxin dapat menempel
di reseptor sel endotel kapiler dengan akibat timbulnya komplikasi seperti
gangguan neuropsikiatrik, kardiovaskuler, respirasi, dan gangguan organ lainnya.

Peran endotoksin dalam pathogenesis demam tifoid tidak jelas, hal tersebut
terbukti dengan tidak terdeteksinya endotoksin dalam sirkulasi penderita melalui
pemeriksaan limulus. Diduga endotoksin dari salmonella typhi ini menstimulasi
makrofag di dalam hepar, lien, folikel usus halus dan kelenjar limfe mesenterika
untuk memproduksi sitokin dan zat- zat lain. Produk dari makrofag inilah yang
dapat menimbulkan kelainan anatomis seperti nekrosis sel, sistem vaskuler, yang
tidak stabil, demam, depresi sumsum tulang, kelainan pada darah dan juga
menstimulasi sistem imunologis.3,5

Bagan.2.1 Patogenesis Demam Tifoid 3,5


D. Manifestasi Klinik

Penegakan diagnosis sedini mungkin sangat bermanfaat agar bisa diberikan


terapi yang tepat dan meminimalkan komplikasi. Pengetahuan gambaran klinis
penyakit ini sangat penting untuk membantu mendeteksi secara dini. Walaupun
pada kasus tertentu dibutuhkan pemeriksaan tambahan untuk membantu
menegakkan diagnosis.5

Masa inkubasi demam typhoid rata-rata berlangsung antara 10-14 hari


namun secara keseluruhan memiliki rentang antara 5-21 hari. Gejala-gejala klinis
yang timbul sangat bervariasi dari ringan sampai dengan berat, dari asimtomatik
hingga gambaran penyakit yang khas disertai komplikasi hingga kematian. Variasi
ini bergantung pada status imunitas penderita dan besar inokulum.5,6

Pada minggu pertama gejala klinis penyakit ini ditemukan keluhan dan
gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pada umumnya yaitu demam, nyeri
kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare, perasaan
tidak enak di perut, batuk, dan epistaksis. Pada pemeriksaan fisik hanya didapatkan
suhu badan meningkat. Sifat demam adalah meningkat perlahan-lahan dan
terutama pada sore hingga malam hari.5,7
Dalam minggu kedua gejala-gejala menjadi lebih jelas berupa demam,
bradikardia relatif (bradikardia relatif adalah peningkatan suhu 1 0C tidak diikuti
peningkatan denyut nadi 8 kali per menit), lidah yang berselaput (kotor di tengah,
tepi dan ujung merah serta tremor), hepatomegali, splenomegali, gangguan mental
berupa somnolen, stupor, koma, delirium, atau psikosis. Roseolae jarang
ditemukan pada orang Indonesia. Infeksi traktus urinarius dan metastatis lesi ke
tempat lain seperti tulang, sendi, hati, menings juga dapat terjadi.5,6,7
E. Pemeriksaan Serologi

Widal Tes

Tes Widal merupakan tes aglutinasi yang digunakan dalam diagnosis


serologi penyakit demam typhoid atau demam enterik. Tes Widal mengukur level
aglutinasi antibodi terhadap antigen O9

(somatik) dan antigen H (flagellar). Level tersebut diukur dengan menggunakan


dilusi ganda serum pada tabung tes. Biasanya, antibodi O terlihat pada hari ke 6-8
dan antibodi H terlihat pada hari ke 10-12 setelah munculnya gejala penyakit
demam typhoid. Tes biasanya dilakukan pada serum akut (serum yang pertama kali
diambil saat pertama kali kontak dengan pasien). Minimal harus didapatkan 1 ml
darah untuk mendapatkan jumlah serum yang cukup.9

Dipstik Tes

Uji serologis dengan pemeriksaan dipstik dikembangkan di Belanda


dimana dapat mendeteksi antibodi IgM spesifik terhadap antigen LPS S. typhi
dengan menggunakan membran nitroselulosa yang mengandung antigen S. typhi
sebagai pita pendeteksi dan antibodi IgM anti-human immobilized sebagai reagen
kontrol. Pemeriksaan ini menggunakan komponen yang sudah distabilkan, tidak
memerlukan alat yang spesifik dan dapat digunakan di tempat yang tidak
mempunyai fasilitas laboratorium yang lengkap.9

Uji ini terbukti mudah dilakukan, hasilnya cepat dan dapat diandalkan dan
mungkin lebih besar manfaatnya pada penderita yang menunjukkan gambaran
klinis tifoid dengan hasil kultur negatif atau di tempat dimana penggunaan
antibiotika tinggi dan tidak tersedia perangkat pemeriksaan kultur secara luas.9

F. Diagnosa Banding

1. DBD
2. Malaria

G. Diagnosa

Demam Tifoid
H. Penatalaksanaan

1. Non Medika Mentosa

a) Tirah baring

Seperti kebanyakan penyakit sistemik, istirahat sangat membantu. Pasien


harus diedukasi untuk tinggal di rumah dan tidak bekerja sampai pemulihan.
Lamanya istirahat baring berlangsung sampai 5 hari bebas demam, dilanjutkan
dengan mobilisasi secara bertahap sebagai berikut:

Hari 1 : Duduk 2x15 menit


Hari 2 : Duduk 2x30 menit
Hari 3 : Jalan dan pulang

b) Diet

Diet dan terapi penunjuang dilakukan dengan pertama, pasien diberikan


bubur saring, kemudian bubur kasar dan akhirnya nasi sesuai dengan tingkat
kesembuhan pasien. Namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa
pemberian makanan tingkat dini yaitu nasi dengan lauk pauk rendah selulosa
(pantang sayuran dengan serat kasar) dapat diberikandengan aman. Juga perlu
diberikan vitamin dan mineral untuk mendukung keadaan umum pasien

2. Medikamentosa

a). Kloramfenikol

Dosis : 75-100 mg/kgBB/hari, dibagi dalam 3 atau 4 dosis per oral atau parenteral,
sesuai keadaan penderita.

Lama pemberian :

10 hari untuk demam tifoid ringan


14 hari untuk : Demam tifoid berat ( Keadaan toksik dan komplikasi berat,
bronchitis,pneumonia ), jika demam setelah 10 hari pemberian
kloramfenikol.
b). Obat pilihan

Pemberian obat bila ada tanda tanda resistensi atau intoksikasi kloramfenikol.

Kotrimoksasol:
1. Dosis : trimetropim 6 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis
2. Lama pemberian 10 hari
Amoksisilin:
1. Dosis : 100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 atau 4 dosis
2. Lama pemberian 10 hari.

c). Kortikosteroid

Indikasi :

Keadaan toksik
Komplikasi berat ( perdarahan / perforasi usus, ensefalitis ).
Untuk ini berikan Deksametason 1 mg / kg BB / hari intravena selama 2-3
hari, kemudian dilanjutkan dengan prednisone 2 mg/kgBB/hari sampai
dengan 2 minggu.

I. Komplikasi
Komplikasi demam tifoid dapat dibagi di dalam :
1. Komplikasi intestinal
1. Perdarahan usus
2. Perforasi usus
3. Ileus paralitik
2. Komplikasi ekstraintetstinal
1. Komplikasi kardiovaskular: kegagalan sirkulasi perifer
(renjatan/sepsis), miokarditis, trombosis dan tromboflebitis.
2. Komplikasi darah: anemia hemolitik, trombositopenia dan atau
koagulasi intravaskular diseminata dan sindrom uremia hemoltilik.
3. Komplikasi paru: penuomonia, empiema dan peluritis.
4. Komplikasi hepar dan kandung kemih: hepatitis dan kolelitiasis.
5. Komplikasi ginjal: glomerulonefritis, pielonefritis dan perinefritis.
6. Komplikasi tulang: osteomielitis, periostitis, spondilitis dan
artritis.
7. Komplikasi neuropsikiatrik: delirium, mengingismus, meningitis,
polineuritis perifer, sindrim Guillain-Barre, psikosis dan sindrom
katatoni
J. Prognosis

Prognosis dari beberapa pasien demam tifoid bergantung dari seberapa


cepat pasien didiagnosis dan diberikan terapi. Pada umumnya, demam tifoid yang
tidak diterapi membawa angka mortalitas hingga 10-20%. Pada pasien yang
diobati dengan tepat, angka mortalitas kurang dari 1%
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Pada penderita dapat ditegakan diagnosis Demam Tifoid berdasarkan pada


anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Pada penderita ini, tata laksana umum yaitu IVFD RL 1000 ml/24jam,
Cefotaxim 800 mg/12jam, PCT 200 mg/8jam/iv.
Hasil follow up yang dilakukan selama 5 hari, menunjukkan adanya
perbaikan klinis, diantaranya disebabkan karena kepatuhan minum obat dari
penderita serta adanya intervensi gizi, sehingga prognosis penyakit dari
penderita dapat dikatakan dubia ad bonam.

Saran

Disarankan penderita untuk dapat melakukan kontrol setiap bulannya di poli


untuk menilai perkembangan hasil terapi dan efek samping obat. Evaluasi
pengobatan dilakukan secara klinis yang mana tidak ada lagi keluhan
sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA

1. Rahajoe, N., Basir D., Makmuri M.S., Kartasasmita C. (2013) Sistematika


Pedoman Pengendalian Penyakit Demam Tifoid . Jakarta
2. Inawati. (2010) Demam Tifoid. Surabaya : Departemen Patologi Anatomi
Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.
3. Soedarmo, Sumarmo S., dkk (2008). Demam tifoid. Jakarta Dalam : Buku
ajar infeksi & pediatri tropis. Ed. 2 : Badan Penerbit IDAI ; h. 338-45.
4. Ryan, K. J. & Ray, C. G., (2014). Medical Microbiology. Sixth ed. New York: Mc
Graw Hill.
5. Richard E. Behrman, Robert M. Kliegman, Ann M. Arvin(2000); edisi bahasa
Indonesia: A Samik Wahab; Ilmu Kesehatan Anak Nelson Jakarta, ed.15.
6. Brusch, J. L., (2016). Typhoid Fever. Medscape
7. Kasper, D. L. et al., (2015). Harrison's Principles of Internal Medicine. 19th ed.
U.S.: Mc Graw-Hill
8. Kidgell, C. et al., (2002). Salmonella typhi, The Causative Agent of Typhoid Fever is
Approximately 50.000 Years Old. Infection, Genetics and Evolution, 2(1), pp. 39-45.
9. Wardana, I.T.N., Herawati.S., Yasa,.I.W.P.S,(2012).Diagnosa Demam Tifoid
dengan Pemeriksaan Widal,Bali: Departemen Patologi Klinik Fakultas
Kedokteran Universitas Udayana