Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN KEDOKTERAN KELUARGA

SKIZOFRENIA
STASE: IKAKOM II

Nama : Surayya Ardillah

NIM : 2011730163

A. UPT. PUSKESMAS PONDOK KACSNG TIMUR TANGGERANG SELATAN

B. UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

C. FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN


D. PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

E. 2017

KATA PENGANTAR

Segala Puji bagi Allah SWT, Shalawat dan Salam kami panjatkan bagi Nabi Besar kita
Nabi Muhammad SAW. Dalam mengikuti kegiatan IKAKOM 2 kami sebagai Dokter Muda di
tuntut agar bisa memahami dan menerapkan ilmu tersebut dalam praktik kedokteran nanti setelah
menyelesaikan masa pendidikan di kepaniteraan..
Penulis berharap semoga hasil dari laporan ini dapat bermanfaat bagi diri penulis sendiri
dan orang lain, sehingga diharapkan lebih banyak masyarakat yang lebih sadar bahwa setiap
pekerjaan memiliki resiko dan potensi bahaya. Bahwa penting sekali dalam melakukan pekerjaan
diperhatikan aspek-aspek yang dapat melindungi diri sehingga tidak membawa dampak penyakit
dimasa mendatang sehingga prokduktivitas dapat terganggu dan biaya untuk berobat / perawatan
tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh dari tempat kita bekerja.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada keluarga, dosen-dosen
pembimbing dan sahabat sahabat di fakultas kedokteran Universitas Muhammadiyah Jakarta
dan UPT Puskesmas Pondok Kacang Timur.

Surayya Ardillah
Tangerang Selatan, September 2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Terwujudnya keadaan sehat merupakan kehendak semua pihak. Tidak hanya oleh
orang perseorangan atau keluarga, tetapi oleh kelompom dan bahkan oleh seluruh
anggota masyarakat. Adapun yang dimaksudkan dengan sehat disini ialah keadaan
sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif
secara sosial dan ekonomi (UU No. 23 tahun 1992).
Untuk mewujudkan keadaan sehat tersebut banyak upaya yang harus
dilaksanakan, yang satu diantaranya adalah penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Upaya
penyelenggaraan pelayanan kesehatan diharapkan memenuhi faktor 3A 2C I dan Q, yaitu
available, accesible, affordable, continue, comprehensive, integreted dan quality. Secara
umum pelayanan kesehatan dibagi 2 yaitu pelayanan kesehatan personal atau pelayanan
kedokteran dan pelayanan kesehatan masyarakat. Pelayanan kedokteran keluarga adalah
termasuk dalam pelayanan kedokteran dimana pelayanan dokter keluarga ini memiliki
karakteristik tertentu dengan sasaran utamanya adalah keluarga.
B. Tujuan Kunjungan Kedokteran Keluarga
1. Tujuan Umum
Diketahuinya status kesehatan, gambaran karakteristik lingkungan dan kebiasaan
sebuah keluarga dan mencari hubungan dengan terjadinya penyakit dalam
keluarga tersebut, serta mencari faktor resiko dan penanganannya.
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya gambaran besaran pengaruh lingkungan sekitar, lingkungan
rumah, dan perilaku keluarga, dengan hubungan terjadinya skizofrenia
b. Diketahuinya gambaran faktor faktor resiko apa saja yang bisa
menyebabkan tercetusnya skizofrenia pada pasien
c. Mendapatkan penilaian dari universitas sebagai tugas akhir stase
IKAKOM II dalam rangka menjalankan kepaniteraan stase IKAKOM II

C. Manfaat Kunjungan Kedokteran Keluarga


1. Mengetahui status pasien yang dipilih sebagai subjek analisa, dan
mengetahui kondisi kesehatan terakhir pasien
2. Dapat melatih dan mempelajari lebih jauh tentang diagnosis komunitas
dan kedokteran kerluarga.
3. Dapat dijadikan sebagai rujukan subjektif untuk penelitian, diagnosis
komunitas lain, survey daerah, dan referensi keadaan lingkungan
4. Tinjauan pustaka dapat dijadikan referensi bagi pemda sekitar atau pejabat
dan dinas kesehatan yang berwenang untuk mengevaluasi faktor resiko terkait
masalah lingkungan di daerahnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Skizofrenia berasal dari dua kata, yaitu skizo yang artinya retak atau pecah, dan

frenia yang artinya jiwa, dengan demikian, seseorang yang menderita skizofrenia adalah

seseorang yang mengalami keretakan jiwa atau keretakkan kepribadian.


Skizofrenia adalah sekelompok reaksi psikotik yang mempengaruhi berbagai area

fungsi individu, termasuk berfikir dan berkomunikasi, menerima dan menginterpretasikan

realitas, merasakan dan menunjukan emosi serta berperilaku dengan sikap yang tidak dapat

diterima secara sosial.


B. EPIDEMIOLOGI
Data epidemiologis menunjukkan bahwa di Amerika Serikat prevalensi skizofrenia

adalah 1%, pada studi lain didapatkan rentang yang tidak jauh berbeda yaitu 0,6-1,9 %.

Skizofrenia ditemukan pada semua lapisan masyarakat dan area geografis, prevalensi

maupun insidensinya secara kasar sama di seluruh dunia. Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat

Departemen Kesehatan mengatakan bahwa jumlah penderita gangguan kesehatan jiwa di

masyarakat sangat tinggi, yakni satu dari empat penduduk Indonesia menderita kelainan jiwa

rasa cemas, depresi, stress, penyalahgunaan obat, kenakalan remaja sampai skizofrenia.
Di era globalisasi gangguan kejiwaan meningkat sebagai contoh penderita tidak

hanya dari kalangan kelasa bawah, sekarang kalangan pejabat dan masyarakat lapisan

menengah ke atas juga terkena gangguan jiwa.


Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RisKesDa) 2007 disebutkan, rata-rata nasional

gangguan mental emosional ringan, seperti cemas dan depresi pada penduduk berusia 15

tahun ke atas mencapai 11,6%, dengan angka tertinggi terjadi di Jawa Barat, sebesar 20%.

Sedangkan yang mengalami gangguan mental berat, seperti psikotis, skizofrenia, dan

gangguan depresi berat, sebesar 0,46%.


C. ETIOLOGI
Belum ditemukan etiologi yang pasti mengenai skizofrenia. Ada beberapa hasil

penelitian yang dilaporkan saat ini :


1. Biologi
Tidak ada gangguan fungsional dan struktur yang patognomonik ditemukan

pada penderita skizofrenia. Meskipun demikian beberapa gangguan organic dapat

terlihat (telah direplika dan dibandimgkan) pada subpopulasi pasien. Gangguan yang

paling banyak dijumpai yaitu pelebaran ventrikel tiga dan lateral yang stabil yang

kadang-kadang sudah terlihat sebelum awitan penyakit; atropi bilateral lobus

temporal medial dan lebih spesifik yaitu girus parahipokampus, hipokampus dan

amigdala; disorientasi spasial sel pyramid hipokampus; dan penurunan volume

korteks prefontal dorsolateral.


Beberapa penelitian melaporkan bahwa semua perubahan ini tampaknya statis

dan telah dibawa sejak lahir (tidak ada gliosis), dan pada beberapa kasus

perjalanannya progresif. Lokasinya menunjukkan gangguan perilaku yang ditemui

pada skizofrenia; misalnya, gangguan hipokampus dikaitkan dengan impermen

memori dan atropi lobus frontalis dihubungkan dengan symptom negatif skizofrenia.

Penemuan lain yaitu adanya antibody cytomegalovirus dalam cairan serebrospinal

(CSS), limfosit atipikal tipe P (terstimulasi), gangguan fungsi hemisfer kiri, gangguan

transmisi dan pengurangan ukuran korpus kalosum, pengecilan vermis serebri,

penurunan aliran darah dan metabolism glukosa di lobus frontal (dilihat dengan PET),

kelainan EEG, EP P300 auditorik (dengan QEEG), sulit memusatkan perhatian dan

perlambatan waktu reaksi, serta berkurangnya kemampuan menamakan benda.


Pada individu yang berkembang menjadi skizofrenia terdapat peningkatan

insiden komplikasi persalinan (premature, berat badan lahir rendah (BBLR), lahir

pada masa epidemic influenza), lebih besar kecenderungan lahir pada akhir musim
dingin atau awal musim panas, dan terdapat gangguan neurologi minor. Kemaknaan

penemuan-penemuan ini belum diketahui. Bagaimanapun, ini menunjukkan adnaya

dasar biologic dan heterogenitas skizofrenia.

2. Biokimia
Etiologi biokimia skizofrenia belum diketahui. Hipotesis yang paling banyak

yaitu adanya gangguan neurotransmitter sentral yaitu terjadinya peningkatan aktivitas

dopamine sentral (hipotesis dopamine). Hipotesis ini dibuat berdasarkan tiga

penemuan utama :
a. Efektivitas obat-obat neuroleptic (misalnya fenotiazin) pada skizofrenia, ia

bekerja memblok reseptor dopamine pasca sinaps (tipe D2).


b. Terjadinya psikosis akibat penggunaan amfetamin. Psikosis yang terjadi

sukar dibedakan, secara klinik, dengan psikosis skizofrenia paranoid sentral.

Selain itu, amfetamin juga memperburuk skizofrenia.


c. Adanya peningkatan jumlah reseptor D2 di nucleus kaudatus, nucleus

akumben, dan putamen pada skizofrenia.

Penelitian reseptor D1, D5 dan D4, saat ini, tidak banyak memberikan hasil.

Teori lain yaitu peningkatan serotonin di susunan saraf pusat (terutama 5-HT2A) dan

kelebihan NE di forebrain limbik (terjadi pada beberapa penderita skizofrenia).

Setelah pemberian obat yang bersifat antagonis terhadap neurotransmitter tersebut

terjadi perbaikan klinik skizofrenia.

3. Genetika
Skizofrenia mempunyai komponen yang diturunkan secara signifikan,

kompleks dan poligen. Sesuai dengan penelitian hubungan darah (konsanguinitas),

skizofrenia adalah gangguan bersifat keluarga (misalnya; terdapat dalam keluarga).

Semakin dekat hubungan kekerabatan semakin tinggi risiko. Pada penelitian anak
kembar, kembar monozigot mempunyai risiko 4-6 kali lebih sering menjadi sakit bila

dibandingkan dengan kembar dizigot. Pada penelitian adopsi, anak yang mempunyai

orang tua skizofrenia diadopsi, waktu lahir, oleh keluarga normal, peningkatan angka

sakitnya sama dengan bila anak-anak tersebut diasuh sendiri oleh orang tuanya yang

skizofrenia.
Frekuensi kejadian gangguan nonpsikotik meningkat pada keluarga

skizofrenia dan secara genetic dikatikan dengan gangguan kepribadian ambang dan

skizotipal (gangguan spectrum skizofrenia), gangguan obsesif-kompulsif, dan

kemungkinan dihubungkan dengan gangguan kepribadian paranoid dan antisosial.


4. Faktor Keluarga

Kekacauan dan dinamika keluarga memegang peranan penting dalam

menimbulkan kekambuhan dan mempertahankan remisi. Pasien yang pulang ke

rumah sering relaps pada tahun berikutnya bila dibandingkan dengan pasien yang

ditempatkan di residensial. Pasien yang berisiko adalah pasien yang tinggal bersama

keluarga yang hostilitas, memperlihatkan kecemasan yang berlebihan, sangat

protektif terhadap pasien, terlalu ikut campur, sangat pengeritik (disebut Ekspresi

Emosi Tinggi). Pasien skizofrenia sering tidak dibebaskan oleh keluarganya.

Beberapa peneliti mengidentifikasi suatu cara komunikasi yang patologi dan

aneh pada keluarga-keluarga skizofrenia. Komunikasi sering samar-samar atau tidak

jelass dan sedikit tak logis.

Pada tahun 1956, Betson menggambarkan suatu karakteristik ikatan ganda

yaitu pasien sering diminta oleh anggota keluarga untuk merespons pesan yang

bentuknya kontraindikasi sehingga membingungkan. Penelitian terbaru menyatakan


bahwa pola komunikasi keluarga tersebut mungkin disebabkan oleh dampak memiliki

anak skizofrenia.

D. GAMBARAN KLINIS
Pedoman Diagnostik Skizofrenia menurut PPDGJ-III, adalah sebagai berikut:
Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya

dua gejala atau lebih bila gejala gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):
1. Isi Pikiran :
a. thought echo, yaitu isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau

bergema dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun

isinya sama, namun kualitasnya berbeda


b. thought insertion or withdrawal yang merupakan isi yang asing dan luar

masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh

sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan


c. thought broadcasting, yaitu isi pikiranya tersiar keluar sehingga orang

lain atau umum mengetahuinya;


2. Waham :
a. delusion of control, adalah waham tentang dirinya dikendalikan oleh

suatu kekuatan tertentu dari luar atau


b. delusion of passivitiy merupaka waham tentang dirinya tidak berdaya

dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang dirinya diartikan

secara jelas merujuk kepergerakan tubuh/anggota gerak atau ke pikiran,

tindakan, atau penginderaan khusus), atau


c. delusional perception yang merupakan pengalaman indrawi yang tidak

wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau

mukjizat.
3. Halusinasi auditorik :
a. Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap

perilaku pasien, atau


b. Mendiskusikan perihal pasien pasein di antara mereka sendiri (diantara

berbagai suara yang berbicara), atau


c. Jenis suara halusinasi lain yang berasal dan salah satu bagian tubuh.
4. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap

tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik

tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa (misalnya mampu

mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan mahluk asing dan dunia lain).
Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara

jelas :
5. Halusinasi yang menetap dan panca-indera apa saja, apabila disertai baik oleh

waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif

yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap,

atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu minggu atau berbulan-bulan terus

menerus;
6. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation),

yang berkibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme;
7. Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi tubuh

tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor;


8. Gejala-gejala negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan respon

emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan

diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa

semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika;
Adanya gejala-gejala khas di atas telah berlangsung selama kurun waktu satu

bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik (prodromal)
Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan

(overall quality) dan beberapa aspek perilaku pribadi (personal behaviour),

bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap

larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude), dan penarikan diri secara sosial.

Adapun kriteria diagnosis skizofrenia menurut DSM IV adalah :


1. Berlangsung minimal dalam enam bulan

2. Penurunan fungsi yang cukup bermakna di bidang pekerjaan, hubungan

interpersonal, dan fungsi dalam mendukung diri sendiri

3. Pernah mengalami psikotik aktif dalam bentuk yang khas selama berlangsungnya

sebagian dari periode tersebut

4. Tidak ditemui dengan gejala-gejala yang sesuai dengan skizoafektif, gangguan

mood mayor, autisme, atau gangguan organik.

E. JENIS JENIS SKIZOFRENIA

Kraepelin membagi skizofrenia menjadi beberapa jenis. Penderita digolongkan ke

dalam salah satu jenis menurut gejala utama yang terdapat padanya. Akan tetapi batas-batas

golongan-golongan ini tidak jelas, gejala-gejala dapat berganti-ganti atau mungkin seorang

penderita tidak dapat digolongkan ke dalam salah satu jenis. Pembagiannya sebagai berikut :
Gejala klinis skizofrenia secara umum dan menyeluruh telah diuraikan di muka,

dalam PPDGJ III skizofrenia dibagi lagi dalam 9 tipe atau kelompok yang mempunyai

spesifikasi masing-masing, yang kriterianya di dominasi dengan hal-hal sebagai berikut :

Skizofrenia Paranoid

Skizofrenia paranoid agak berlainan dari jenis-jenis yang lain dalam jalannya penyakit.

Skizofrenia hebefrenik dan katatonik sering lama kelamaan menunjukkan gejala-gejala

skizofrenia simplex, atau gejala-gejala hebefrenik dan katatonik bercampuran. Skizofrenia

paranoid memiliki perkembangan gejala yang konstan. Gejala-gejala yang mencolok adalah

waham primer, disertai dengan waham-waham sekunder dan halusinasi. Pemeriksaan secara

lebih teliti juga didapatkan gangguan proses pikir, gangguan afek, dan emosi.
Jenis skizofrenia ini sering mulai sesudah umur 30 tahun. Permulaannya mungkin

subakut, tetapi mungkin juga akut. Kepribadian penderita sebelum sakit sering dapat
digolongkan skizoid, mudah tersinggung, suka menyendiri dan kurang percaya pada orang

lain.Berdasarkan PPDGJ III, maka skizofrenia paranoid dapat didiganosis apabila terdapat butir-

butir berikut :
Memenuhi kriteria diagnostik skizofrenia
Sebagai tambahan :
- Halusinasi dan/atau waham harus menonjol :
1. Suara-suara halusinasi satu atau lebih yang saling berkomentar tentang diri

pasien, yang mengancam pasien atau memberi perintah, atau tanpa bentuk

verbal berupa bunyi pluit (whistling), mendengung (humming), atau bunyi

tawa (laughing).
2. Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual, atau

lain-lain perasaan tubuh halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol.
3. Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan

(delusion of control), dipengaruhi (delusion of influence), atau Passivity

(delusion of passivity), dan keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam,

adalah yang paling khas.


- Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejalakatatonik

secara relatif tidak nyata / tidak menonjol.

Pasien skizofrenik paranoid memiliki karakteristik berupa preokupasi satu atau lebih

delusi atau sering berhalusinasi. Biasanya gejala pertama kali muncul pada usia lebih tua

daripada pasien skizofrenik hebefrenik atau katatonik. Kekuatan ego pada pasien skizofrenia

paranoid cenderung lebih besar dari pasien katatonik dan hebefrenik. Pasien skizofrenik paranoid

menunjukkan regresi yang lambat dari kemampuan mentalnya, respon emosional, dan

perilakunya dibandingkan tipe skizofrenik lain.

Pasien skizofrenik paranoid biasanya bersikap tegang, pencuriga, berhati-hati, dan tak

ramah. Mereka juga dapat bersifat bermusuhan atau agresif. Pasien skizofrenik paranoid kadang-
kadang dapat menempatkan diri mereka secara adekuat didalam situasi sosial. Kecerdasan

mereka tidak terpengaruhi oleh gangguan psikosis mereka dan cenderung tetap intak.

Skizofrenia Hebefrenik

Permulaannya perlahan-lahan atau subakut dan sering timbul pada masa remaja atau

antara 15-25 tahun. Gejala yang mencolok adalah gangguan proses berpikir, gangguan kemauan

dan adanya depersonalisasi atau double personality. Gangguan psikomotor seperti mannerism,

neologisme atau perilaku kekanak-kanakan sering terdapat pada skizofrenia heberfenik. Waham

dan halusinasi banyak sekali.


Berdasarkan PPDGJ III, maka skizofrenia hebefrenik dapat didiganosis apabila terdapat

butir-butir berikut Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia


Memenuhi kriteria diagnostik skizofrenia
Diagnosis hebefrenik untuk pertama kali hanya ditegakkan pada usia remaja atau

dewasa muda (onset biasanya mulai 15-25 tahun)..


Untuk diagnosis hebefrenik yang menyakinkan umumnya diperlukan pengamatan

kontinu selama 2 atau 3 bulan lamanya, untuk memastikan bahwa gambaran yang khas

berikut ini memang benar bertahan :


- Perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak dapat diramalkan, serta

mannerisme; ada kecenderungan untuk selalu menyendiri (solitary), dan perilaku

menunjukkan hampa tujuan dan hampa perasaan;


- Afek pasien dangkal (shallow) dan tidak wajar (inappropriate), sering disertai

oleh cekikikan (giggling) atau perasaan puas diri (self-satisfied), senyum sendirir

(self-absorbed smiling), atau oleh sikap, tinggi hati (lofty manner), tertawa

menyeringai (grimaces), mannerisme, mengibuli secara bersenda gurau (pranks),

keluhan hipokondrial, dan ungkapan kata yang diulang-ulang (reiterated phrases);


- Proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu (rambling)

serta inkoheren.
Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses pikir umumnya

menonjol. Halusinasi dan waham mungkin ada tetapi biasanya tidak menonjol (fleeting

and fragmentary delusions and hallucinations). Dorongan kehendak (drive) dan yang

bertujuan (determination) hilang serta sasaran ditinggalkan, sehingga perilaku penderita

memperlihatkan ciri khas, yaitu perilaku tanpa tujuan (aimless) dan tanpa maksud (empty

of purpose). Adanya suatu preokupasi yang dangkal dan bersifat dibuat-buat terhadap

agama, filsafat dan tema abstrak lainnya, makin mempersukar orang memahami jalan

pikiran pasien.

Skizofrenia Katatonik

Timbulnya pertama kali antara umur 15-30 tahun, dan biasanya akut serta sering

didahului oleh stres emosional. Mungkin terjadi gaduh-gelisah katatonik atau stupor katatonik.

Stupor katatonik yaitu penderita tidak menunjukkan perhatian sama sekali terhadap

lingkungannya. Gejala paling penting adalah gejala psikomotor seperti:


1. Mutisme, kadang-kadang dengan mata tertutup
2. Muka tanpa mimik, seperti topeng
3. Stupor, penderita tidak bergerak sama sekali untuk waktu yang lama, beberapa

hari, bahkan kadang sampai beberapa bulan.


4. Bila diganti posisinya penderita menentang : negativisme
5. Makanan ditolak, air ludah tidak ditelan sehingga berkumpul dalam mulut dan

meleleh keluar, air seni dan feses ditahan


6. Terdapat grimas dan katalepsi
Secara tiba-tiba atau pelan-pelan penderita keluar dari keadaan stupor ini dan mulai

berbicara dan bergerak. Gaduh gelisah katatonik adalah terdapat hiperaktivitas motorik, tetapi

tidak disertai dengan emosi yang semestinya dan tidak dipengaruhi rangsangan dari luar.
Penderita terus berbicara atau bergerak saja, menunjukan stereotipi, manerisme, grimas

dan neologisme, tidak dapat tidur, tidak makan dan minum sehingga mungkin terjadi dehidrasi
atau kolaps dan kadang-kadang kematian (karena kehabisan tenaga dan terlebih bila terdapat

juga penyakit lain seperti jantung, paru, dan sebagainya).


Berdasarkan PPDGJ III, maka skizofrenia katatonik dapat didiganosis apabila terdapat

butir-butir berikut :
Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia.
Satu atau lebih dari perilaku berikut ini harus mendominasi gambaran klinisnya :
(a) Stupor (amat berkurangnya dalam reaktivitas terhadap lingkungan dan

dalam gerakan serta aktivitas spontan) atau mutisme (tidak berbicara):


(b) Gaduh gelisah (tampak jelas aktivitas motorik yang tak bertujuan, yang

tidak dipengaruhi oleh stimuli eksternal)


(c) Menampilkan posisi tubuh tertentu (secara sukarela mengambil dan

mempertahankan posisi tubuh tertentu yang tidak wajar atau aneh);


(d) Negativisme (tampak jelas perlawanan yang tidak bermotif terhadap

semua perintah atau upaya untuk menggerakkan, atau pergerakkan kearah yang

berlawanan);
(e) Rigiditas (mempertahankan posisi tubuh yang kaku untuk melawan upaya

menggerakkan dirinya);
(f) Fleksibilitas cerea / waxy flexibility (mempertahankan anggota gerak

dan tubuh dalam posisi yang dapat dibentuk dari luar); dan
(g) Gejala-gejala lain seperti command automatism (kepatuhan secara

otomatis terhadap perintah), dan pengulangan kata-kata serta kalimat-kalimat.


Pada pasien yang tidak komunikatif dengan manifestasi perilaku dari gangguan

katatonik, diagnosis skizofrenia mungkin harus ditunda sampai diperoleh bukti yang

memadai tentang adanya gejala-gejala lain.


Penting untuk diperhatikan bahwa gejala-gejala katatonik bukan petunjuk diagnostik

untuk skizofrenia. Gejala katatonik dapat dicetuskan oleh penyakit otak, gangguan

metabolik, atau alkohol dan obat-obatan, serta dapat juga terjadi pada gangguan afektif.

Pasien dengan skizofrenia katatonik biasanya bermanifestasi salah satu dari dua bentuk

skizofrenia katatonik, yaitu stupor katatonik dan excited katatatonik. Pada katatonik stupor,
pasien akan terlihat diam dalam postur tertentu (postur berdoa, membentuk bola), tidak

melakukan gerakan spontan, hampir tidak bereaksi sama sekali dengan lingkungan sekitar

bahkan pada saat defekasi maupun buang air kecil, air liur biasanya mengalir dari ujung mulut

pasien karena tidak ada gerakan mulut, bila diberi makan melalui mulut akan tetap berada di

rongga mulut karena tidak adanya gerakan mengunyah, pasien tidak berbicara berhari-hari, bila

anggota badan pasien dicoba digerakkan pasien seperti lilin mengikuti posisi yang dibentuk,

kemudian secara perlahan kembali lagi ke posisi awal. Bisa juga didapati pasien menyendiri di

sudut ruangan dalam posisi berdoa dan berguman sangat halus berulang-ulang.

Pasien dengan excited katatonik, melakukan gerakan yang tanpa tujuan, stereotipik

dengan impulsivitas yang ekstrim. Pasien berteriak, meraung, membenturkan sisi badannya

berulang ulang, melompat, mondar mandir maju mundur.Pasien dapat menyerang orang

disekitarnya secara tiba-tiba tanpa alasan lalu kembali ke sudut ruangan, pasien biasanya

meneriakka kata atau frase yang aneh berulang-ulang dengan suara yang keras, meraung, atau

berceramah seperti pemuka agama atau pejabat.Pasien hampir tidak pernah berinteraksi dengan

lingkungan sekitar, biasanya asik sendiri dengan kegiatannya di sudut ruangan, atau di kolong

tempat tidurnya.

Walaupun pasien skizofrenia katatonik hanya memunculkan salah satu dari kedua diatas,

pada kebanyakan kasus gejala tersebut bisa bergantian pada pasien yang dalam waktu dan

frekuensi yang tidak dapat diprediksi.Seorang pasien dengan stupor katatonik dapat secara tiba-

tiba berteriak, meloncat dari tempat tidurnya, lalu membantingkan badannya ke dinding, dan

akhirnya dalam waktu kurang dari satu jam kemudian kembali lagi ke posisi stupornya.
Selama stupor atau excited katatonik, pasien skizofrenik memerlukan pengawasan yang

ketat untuk menghindari pasien melukai dirinya sendiri atau orang lain. Perawatan medis

mungkin ddiperlukan karena adanya malnutrisi, kelelahan, hiperpireksia, atau cedera yang

disebabkan oleh dirinya sendiri.

F. TATALAKSANA
Teori Biologik. Skizofrenia diobati dengan antipsikotik. Obat ini dibagi dalam dua

kelompok, berdasarkan mekanisme kerjanya, yaitu dopamine receptor antagonist atau

antipsikosis generasi I (APG-I) dan serotonin-dopamine antagonist atau antipsikosis generasi

II (APG-II). Obat APG-I disebut juga antipsikosis konvensional atau tipikal sedangkan APG-

II disebut juga antipsikosis baru atau atipikal. Obat APG-I berguna terutama untuk

mengontrol gejala-gejala positif sedangkan untuk gejala negatif hampir tidak bermanfaat.

Obat APG-II bermanfaat baik untuk gejala positif maupun negatif.

Terapi Kejang Listrik (TKL). Dapat juga bermanfaat unutuk mengontrol dengan cepat

beberapa psikosis akut. Beberapa pasien skizofrenia yang tidak berespons dengan obat-

obatan dapat membaik dengan TKL.

Terapi Psikososial. Terapi utama skizofrenia adalah farmakologi. Psikoterapi jangka panjang

yang berorientasi tilikan, tempatnya sangat terbatas dan tidak direkomendasikan. Di sisi lain,

metode terapi psikososial berorientasi suportif sangat bermanfaat terutama pada terapi jangka

panjang skizofrenia.

Pasien skizofrenia harus didekati secara baik dengan penuh empati. Bangunlah hubungan

yang nyaman dengan pasien. Komunikasi yang baik dengan pasien sangat diperlukan;
1. Katakana kepada pasien Anda, agar ia santai. Berikan kesan kepada pasien Anda

bahwa Anda percaya ia dapat berespons baik terhadap Anda.


2. Lebih spesifik misalnya ajukan pertanyaan-pertanyaan factual yang penting. Coba

identifikasi ketakutan-ketakutan pasien saat ini dan perhatikan tetapi jangan terlibat

dengan diskusi panjang tentang waham dan halusinasi yang kompleks


3. Lakukan observasi khusus tentang perilaku pasien (misalnya, Anda terlihat

takut, Anda tampak marah tetapi jangan terlibat dalam interpretasi yang

berlebihan. Bila ingin interpretasi lihat kondisi pasien, apakah sudah siap; bila belum,

ia akan defensive atau mungkin marah. Jangan membuat kesimpulan yang salah

tentang keadaan emosi dari efek yang tak serasi.


4. Jelaskan kepada pasien apa yang dilakukan terhadapnya, dan mengapa Anda

melakukannya
5. Bila percakapan berlangsung (misalnya; pasien menolak bicara), hentikan

wawancara dengan memberi harapan positif (misalnya; Kita akan kembali berbicara

setelah perasaan Anda lebih baik atau setelah Anda mau berbicara).
2.1 Prognosis
Skizofrenia merupakan gangguan yang bersifat kronik. Pasien secara berangsur-angsur

menjadi semakin menarik diri, dan tidak berfungsi setelah bertahun-tahun. Pasien dapat

mempunyai waham dengan taraf ringan dan halusinasi yang tidak begitu jelas (samar-

samar). Sebagian gejala akut dan gejala yang lebih dramatic hilang dengan berjalannya

waktu, tetapi pasien secara kronik membutuhkan perlindungan atau menghabiskan

waktunya bertahun-tahun di dalam rumah sakit jiwa.


Gambaran klinik yang dikaitkan dengan prognosis baik yaitu :
1. Awitan gejala-gejala psikotik aktif terjadi dengan secara mendadak
2. Awitan terjadi setelah umur 30 tahun, terutama pada perempuan
3. Fungsi pekerjaan dan social premorbid (sebelum sakit) baik. Performa

sebelumnya tetap merupakan predictor terbaik untuk meramalkan performa di masa

dating
4. Kebingungan sangat jelas dan gambaran emosi menonjol, selama episode akut

(symptom positif); beberapa hal yang perlu ditanyakan yaitu;


5. Kemungkinan adanya suatau stressor yang mempresipitasi psikosis akut dan tidak

ada bukti gangguan susunan saraf pusat (SSP)


6. Tidak ada riwayat keluarga menderita skizofrenia
7.

BAB III
PEMBAHASAN KEDOKTERAN KELUARGA

A. PENGAMATAN KEDOKTERAN KELUARGA


Jenis Pengamatan : Kunjungan
Cara Pengamatan : Wawancara dan laporan
Waktu Pelaksanaan : 19 Agustus 2017
Lokasi : Wilayah Kerja PKM Pondok Kacang timur

B. STATUS KESEHATAN PASIEN


1. Identitas Pasien
- Nama : Ny. Ningsih
- Usia : 58 tahun
- Kedudukan : Istri
- Jenis Kelamin : Perempuan
- Alamat : Pondok Kacang Timur RT 2 RW 11
- Pendidikan Terakhir : SD
- Pekerjaan : Buruh Cuci Lepas
2. Anamnesis (Autoanamnesis dan Alloanamnesis)
a. Keluhan Utama
Pasien datang untuk meminta rujukan dari puskesmas ke poli jiwa RSUD
Tangerang Selatan.
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang untuk meminta rujukan dari Puskesmas Pondok Kacang Timur
ke Poli Jiwa RSUD Tangerang Selatan terkait pengobatan skizofrenia 1 tahun
terakhir. Pasien mengaku bisikan bisikan sudah tidak ada.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat tekanan darah tinggi, diabetes mellitus, kolesterol, disangkal oleh
pasien.
Riwayat gangguan kejiwaan sebelumnya disangkal pasien. Sejak anak laki-
lakinya meninggal 2 tahun yang lalu pasien mengaku sering mendengar suara
adzan dan mengaji walau bukan jam waktu shalat, sering mendengar suara
seorang laki-laki menangis yang dia anggap merupakan suara anak laki-
lakinya yang butuh pertolongan di alam kubur, pasien juga mengaku sering
didatangi anak laki-laki yang mengatakan minta ditemani oleh ibu di rumah
yang sekarang. Menurut anak bungsunya, ibu kerap tiba-tiba menangis tengah
malam bila mendengar suara laki-laki yang disangka anaknya, ibu kerap
marah-marah dan membanting barang jika kita berjalan melewati kaca, dan
pernah ditemukan berjalan kaki dari rumah hingga kepemakaman pada sore
hingga malam hari karena ada seseorang yang memintanya datang ke
pemakaman.
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Kakak perempuan pasien pernah dipasung saat masih kecil, namun tidak
diketahui sakit apa yang dialami, anak laki-laki pasien, telah meninggal
karena gagal ginjal juga mengalami skizofrenia.
e. Riwayat Pengobatan
Saat ini pasien rutin berobat ke psikiater di RSUD Tangerang Selatan dan
rutin mengonsumsi obat Chlorpromazine, Amitriptilin, Olanzapine,
Trihexyphenidyl.
f. Riwayat Alergi
Riwayat alergi obat makanan debu cuaca disangkal.
g. Riwayat Psikososial
Pasien saat ini bekerja sebagai buruh cuci lepas. Riwayat penggunaan obat-
obatan terlarang disangkal, mengonsumi alkohol ataupun rokok disangkal.
3. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum/Kesadaran : KU Baik / Compos Mentis
b. Tanda Vital : TD : 120/80 mmHg HR : 82x/menit
RR : 18x/menit T : 36.8 oC
c. Keadaan Gizi
BB : 67 kg
TB : 158 cm
BMI : 26.9
Kesan : Overweight
d. Status Generalis
Mata : CA (-/-) SI (-/-) R. Cahaya (+/+)
Hidung : Epistaksis (-) Sekret (-) Deformitas (-)
Telinga : Otore (-/-) Serumen (-/-)
Leher : Pem. Tiroid/KGB (-)
Mulut : Mukosa Bibir Lembab (+), Lidah Kotor (-), Tremor (-)
Thorax : Simeteris. Pergerakan Dinding Dada Sama Kanan Kiri
Pulmo : Retraksi Dinding Dada (-/-)
Vocal Fremitus Sama Kanan dan Kiri
Batas Paru Jatung Normal
Vesikuler (+/+) Wheezing (-/-) Ronkhi (-/-)
Cor : Ictus Cordis Tidak Terlihat
Ictus Cordis Teraba
Batas Paru Jantung Normal
BJ I dan II Regular, Murmur (-), Gallop (-)
Abdomen : Nampak Cembung. Supel. Distensi (-)
Bising Usus (+) Normal
Nyeri Tekan (-)
Timpani seluruh lapang abdomen.
Ekstremitas: Atas : Akral Hangat (+/+), CRT < 2 (+/+)
Bawah : Akral Hangat (+/+), CRT < 2 (+/+)
4. Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan
5. Diagnosis Kerja
Skizofrenia Paranoid
6. Penatalaksanaan
Terapi Suportif. Menanamkan kepercayaan pada pasien bahwa gejalanya akan
hilang dengan selama pasien selalu minum obat secara teratur agar gejala dan
menjelaskan kepada pasien tentang akibat yang terjadi bila pasien tidak teratur
minum obat
Terapi berorientasi keluarga. Menjelaskan kepada keluarga pasien mengenai
kondisi pasien agar keluarga dapat menerima dan tidak dijauhi, dan agar dapat
mendukung kesembuhan pasien.
Terapi Kerja. Memafaatkan waktu luang dengan melakukan hobi atau pekerjaan
yang bermanfaat, melibatkan pasien secara aktif ke masyarakat.
Religi. Memotivasi pasien agar selalu rajin beribadah, seperti shalat, puasa, dan
berdzikir
Medikamentosa. Dari Puskemas dapat diberikan Amitriptilin 1 x 50 mg dan
Trihexiphenidil 3 x 2 mg. Rujuk ke poli jiwa RSUD Tangerang Selatan untuk
mendapatkan obat-obatan Skizofrenia.
C. PROFIL KELUARGA DAN STRUKTUR KELUARGA
1. Profil Keluarga
Jumlah Anggota Keluarga 4 orang
Inti
Nama Ayah :
Kusyanto, 62 tahun, Kepala Keluarga

Ibu :
Ningsish, 58 tahun

Anak :
Hendra, 39 tahun
Iwan, meninggal diusia 34 tahun (2014)
Pipit, 31 tahun

Pekerjaan Ayah, Buruh Bangunan


Ibu, Buruh Cuci Lepas
Anak ke 1, Driver Ojek Online
Anak ke 2, Meninggal pada tahun 2014
Anak ke 3, Ibu Rumah Tangga

Kewarganegaraan WNI

Lama Membina Keluarga 39 tahun

Tempat tinggal Tinggal di rumah sendiri di Jalan AMD raya, RT 02 RW 11,


Kel. Pondok Kacang timur, Kec. Pondok Kacang Timur, Kota
Tangerang Selatan. Sudah tinggal dirumah tersebut semenjak
24 tahun yang lalu

Agama Islam

Pendidikan terakhir Ayah : SMP Tamat


Ibu : SD Tamat
Anak 1 : SMP Tamat
Anak 2 : SMP Tamat

Pendapatan Rp 1.500.000,- s/d Rp 2.500.000,-/bulan


2. Genogram
Masanah Parman Sudiro Yati

AhmadSutirem Manah Tuti Salmah Sudiro Yanti

Kusyanto Kusdiro
Sri KasimanMasni Joko

Laki-laki Hidup
Hendra Iwan Pipit Perempuan Hidup
Laki-laki Wafat
Perempuan Wafat
Skizofrenia

D. ASPEK PERUMAHAN
Luas tanah : 5 m x 21 m.
Luas bangunan : 5 m x 18 m, 3 kamar serbaguna, ruang tamu, dapur umum (terpisah),
kamar mandi umum dibelakang (terpisah), tempat mencuci (terpisah).
Lantai : ubin/ keramik
Atap : genteng.
Ventilasi : kurang baik (jendela jarang dibuka), rumah cenderung berdebu dan pengap.
Pencahayaan : kurang (sinar matahari tidak masuk kedalam rumah).
Kelembaban : sangat lembab.
Kebisingan : tidak bising.
Pembuangan sampah : ada.
Sumber pengadaan air : Pompa air listrik dengan satu penampungan air.
Saluran air dialirkan ke got didepan rumah.
Kebersihan dan kerapihan : kurang

E. FUNGSI
1. Fungsi Biologis
Pola asuh yang diterima ayah : Demokratis
Pola asuh yang diterima ibu : Demokratis
Pola asuh yang diterapkan pada anak : Demokratis
2. Fungsi Psikologi
Tercipta rasa aman sesama anggota keluarga saling melindungi dan mengingatkan.
Ibu yang mengalami gangguan kejiwaan mendapatkan dukungan penuh dari keluarga
dan anaknya untuk berobat.
3. Fungsi Sosial
- Orang tua merawat dengan penuh kasih sayang dalam tumbuh kembang
anak
- Orang tua merawat anaknya dalm keadaan apapun
- Anak ke 3 menggantikan peran ibu dalam membantu mengurus rumah
tangga serta mendukung pengobatan ibu.
4. Fungsi Ekonomi
Menengah ke bawah, namun kebutuhan rumah masih dapat tercukupi.
5. Fungsi Adaptasi
- Ada perubahan bentuk keluarga, Anak ke 2 meninggal karena mengalami
Gagal Ginjal
- Tidak ada disfungsi anggota keluarga
- Lingkungan hidup keluarga dengan tetangga baik.
- Perilaku kesehatan keluarga kurang baik (ditemukan rokok), Kepala
keluarga dan anak pertama merokok.
F. PATIENT CENTERED DIAGNOSTIC
1. Diagnosis Holistik
Pasien yang berusia 58 tahun dengan diagnose Skizofrenia. Hubungan yang terjadi
dalam keluarga cukup harmonis. Dari segi fungsi psikologis, mengalami gangguan
kejiwaan, namun tidak mengalami depresi, dan cukup tangguh untuk melakukan
pengobatan rutin setiap bulan. Fungsi sosial keluarga pasien masih baik. Pasien cukup
aktif dalam acara yang diselenggarakan bersama masyarakat sekitar dan masih
bersosialisai dalam masyarakat lewat berbagai macam bentuk kegiatan walau
intensitasnya berkurang dikarenakan sakit yang diderita. Akan tetapi keluarga ini
tidak mempunyai kedudukan sosial tertentu dalam masyarakat. Pasien masih bekerja
di sebagai buruh cuci lepas, datang kebeberapa rumah bila dipanggil. Dari hasil
pekerjaan, pasien dan keluarganya sudah cukup untuk memenuhi kegiatan sehari-hari.
Untuk biaya pengobatan sendiri pasien termasuk ke dalam peserta BPJS yang rutin
dibayarkan tiap bulan oleh anak pertamanya. Interaksi antara pasien dengan keluarga
lain cukup harmonis. Tingkat pendidikan pasien kurang cukup untuk mengerti tentang
penyakit yang diderita saat ini, oleh karena itu pasien rutin melakukan pengobatan
terkait penyakitnya. Sedangkan dalam segi budaya, pasien dan keluarga masih
menjunjung budaya setempat, yaitu Budaya Suku Jawa-Sunda.
2. Diagnosis Biologis
Pasien Wanita, 58 tahun, dengan Skizofrenia Paranoid
3. Diagnosis Psikologis
Interaksi dengan keluarga cukup baik. Pasien didiagnosis mengalami gangguan
kejiwaan yaitu Skizofrenia Paranoid.
4. Diagnosis Sosial, Ekonomi, Budaya
Pasien tidak ikut mengurus organisasi yang ada di masyarakat, tetapi tetap ikut aktif
dalam acara yang diselenggarakan bersama masyarakat sekitar. Dapat berinteraksi
dengan orang lain. Tidak memiliki masalah di lingkungan keluarga maupun
masyarakat. Dari segi ekonomi sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Untuk biaya pengobatan sendiri pasien termasuk ke dalam peserta BPJS. Sedangkan
dalam segi budaya, pasien dan keluarga masih menjunjung budaya setempat, yaitu
Budaya Suku Jawa-Sunda.

G. DIAGNOSIS KELUARGA
INPUT PROSES OUTPUT OUTCOME

- Keluarga inti - Perhatian Pasien mengalami Derajat kesehatan


dengan 2 anak Keluarga Penuh Skizofrenia kurang optimal,
yang sudah Terhadap aktivitas keluarga
dewasa Penyakit Pasien terganggu
- Anak Pasien - Keluarga
Menderita Pasien ada yang
Skizofrenia dan menderita
meninggal oleh Skizofrenia, yaitu
karena Gagal Kakak Kandung
Ginjal Pasien serta Anak
Laki-laki pasien.

Pengaruh penyakit terhadap keluarga Pengaruh keluarga terhadap penyakit


Ketakukan keluarga akan terjadi penyakit Keluarga sebagai unit terkecil dalam
yang sama terhadap anggota keluarga yang masyarakat sehingga penyakit dalam
lain. keluarga merupakan masalah masyarakat
keseluruhan
Adanya kepedulian dan perhatian yang lebih Keluarga adalah pusat pengambilan
tinggi oleh keluarga terhadap penyakit yang keputusan kesehatan serta dukungan yang
dialami pasien penting yang dapat membantu proses
penyembuhan penyakit
Mempengaruhi produktivitas keluarga Keluarga merupakan wadah atau saluran
yang efektif untuk menyampaikan pesan-
pesan kesehatan

H. PENATALAKSANAAN
Keluhan Keluhan saat ini (-)
Diagnosis Skizofrenia Paranoid
Terapi 1. Minum obat yang teratur
2. Komuikasi, Informasi, dan Edukasi
3. Terapi : Amitriptilin : 1 x 50 mg (malam)
Trihexyphenidil : 3 x 2 mg
Yang Dilakukan 1. Edukasi kepada pasien, keluarga, serta lingkungan
Dokter Keluarga tentang penyakit yang dialami oleh pasien.
2. Edukasi keluarga untuk memberikan dukungan
terhadap pasien dan tidak menjauhi pasien
3. Lakukan kegiatan keagamaan serta aktifitas yang
produktif untuk pasien.
Rujukan Rujukan ke Poliklinik Jiwa
Pencatatan dan Isi :
Pelaporan a. Genogram
b. Family Folder
Rekam Medis :
a. Identitas pasien
b. Pemeriksaan fisik
c. Diagnosis / masalah
d. Tindakan / pengobatan
e. Pelayanan lain yang telah diterima pasien
Tindakan Promotif Lakukan penyuluhan kepada masyarakat dan komunitas
kesehatan tentang Pemahaman terhadap Skizofrenia seperti
Gejala, Penyebab Yang Mencetuskan, dan Pengobatannya.
Tindakan Preventif Support keluarga
BAB III
KESIMPULAN

A. Kesimpulan
Pada keluarga ini penyusunan pengambilan kesimpulan, istri mengalami skizofrenia bisa
terjadi karena faktor genetik karena kakak kandung mengalami gangguan kejiwaan, dan
faktor pencetusnya bisa terjadi pasca meninggalnya anak laki-lakinya yang mengalami
gagal ginjal dan juga skizofrenia.
Anggota keluarga sudah miliki pemahaman yang baik tentang penyakit yang diderita
pasien dan memberikan dukungan penuh untuk melakukan pengobatan. Sosial dan
Budaya pasien berinteraksi dengan lingkungan sekitar, dan mematuhi adat yang berlaku.
Dari segi ekonomi, menghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
B. Saran
Pasien harus tetap melanjutkan pengobatan hingga tuntas, dan melakukan aktifitas di luar
rumah agar kembali produktif. Serta dukungan keluarga dalam peran membantu
pemulihan kondisi kejiwaan pasien.
Foto Kegiatan