Anda di halaman 1dari 74

UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN KESEHATAN MASYARAKAT


PERKOTAAN PADA IBU SS (89 TAHUN) DENGAN MASALAH INSOMNIA DI
WISMA CEMPAKA SASANA TRESNA WERDHA KARYA BHAKTI RIA
PEMBANGUNAN CIBUBUR

KARYA ILMIAH AKHIR NERS


Diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar ners

Ruby Larasaty, S.Kep


0806316240

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


PROGRAM PROFESI NERS
DEPOK
JULI 2013

ii

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Laporan ilmiah akhir ini adalah hasil karya saya sendiri,

dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk

telah saya nyatakan dengan benar.

Nama : Ruby larasaty

NPM : 0806316240

Tanda Tangan :

Tanggal : 11 Juli 2013

iii

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


iv

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat dan rahmatnya saya
dapat menyelesaikan laporan akhir penelitian tepat pada waktunya. Shalawat serta salam
semoga senantiasa diberikan kepada Nabi Muhammad SAW.

Laporan penelitian ini saya susun dalam rangka memenuhi tugas akhir program profesi
ners di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Selama menyusun tugas akhir
ners ini, peneliti banyak mendapatkan dukungan, semangat, bimbingan, dan arahan dari
berbagai pihak. Oleh karena itu, saya ingin mengucapkan rasa hormat, terimakasih, dan
penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:

1. Ibu Dewi Irawaty, Ph.D, Selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas
Indonesia,
2. Ibu Ns. Dwi Nurviyandari, S.Kep., M.N, selaku pembimbing proposal skripsi.
Terimakasih Ibu, atas bimbingan dan arahan Ibu.
3. Ibu Dessie Wanda S.Kp., M.N, Selaku pembimbing akademik. Terimakasih atas
dukungan Ibu,
4. Bapak Ibnu Abas, S.Kep, Selaku pembimbing klinik. Terimakasih atas masukan dan
arahan Bapak,
5. Bapak Rachmono, Ayah tercinta, Terimakasih atas dukungan, semangat, dan
nasehat yang selalu Papa berikan,
6. Ibu Rosihah, Mama tercinta, terimakasih atas dukungan, semangat, nasehat, dan doa
yang senantiasa Ibu panjatkan untuk kesuksesan laporan penelitian saya ini,
7. Risty Rachmonicha dan Jaki Nurhasya, Terimakasih atas bantuan dan arahan kakak
saat saya mengalami kesulitan,
8. Hendra Wicaksono, Terimakasih atas bantuan dan arahan mas yang selalu diberikan
kepada saya ketika mengalami kesulitan,
9. Teman-teman angkatan 2008 yang selalu memberikan dukungan, bantuan dan
support,
10. Dan kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


Demikian yang dapat saya sampaikan. Saya menyadari bahwa laporan akhir yang saya
susun memiliki banyak kekurangan, untuk itu saya sangat mengharapkan mendapatkan
kritik dan saran agar dapat memperbaiki diri. Akhir kata, saya berharap penelitian ini dapat
bermanfaat tidak hanya bagi saya, namun siapa saja yang mencintai ilmu pengetahuan.

Depok, 11 Juli 2013

Ruby Larasaty

vi

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
KARYA ILMIAH AKHIR NERS
UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : Ruby Larasaty
NPM : 0806316240
Fakultas : Ilmu Keperawatan
Jenis karya : Laporan Karya Ilmiah Akhir Ners

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas


Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive Royalty Free Right) atas
karya ilmiah saya yang berjudul :

Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Ibu


SS (89 Tahun) dengan Masalah Insomnia di Wisma Cempaka Sasana Tresna Werdha
Karya Bhakti RIA Pembangunan Cibubur

Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini
Universitas Indonesia berhak menyimpan, mengalihmedia / formatkan, mengelola dalam
bentuk pangkalan data (database), merawat, dan mempublikasikan tugas akhir ners saya
selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak
Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.


Dibuat di : Depok

Pada tanggal : 11 Juli 2013

Yang menyatakan

Ruby Larasaty ( )

vii

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


ABSTRAK

Nama : Ruby Larasaty


Program Studi : Fakultas Keperawatan
Judul :Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat
Perkotaan pada Ibu SS (89 Tahun) dengan Masalah Insomnia
di Wisma Cempaka Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti
RIA Pembangunan Cibubur

Jumlah lanjut usia Indonesia semakin bertambah setiap tahunnya. Hal tersebut masih belum
didukung dengan kelengkapan pelayanan kesehatan khusus lansia. Hadirnya nursing home
dapat membantu kebutuhan masyarakat akan perawatan lansia holistik. Masalah yang
banyak ditemukan di nursing home adalah masalah gangguan tidur. Penelitian di berbagai
belahan dunia menyebutkan bahwa gangguan tidur yang banyak terjadi pada lansia adalah
insomnia. Terapi farmakologis banyak digunakan dalam mengatasi insomnia meskipun
memiliki efek samping berbahaya. Pada karya ilmiah akhir ini akan dibahas mengenai
kasus Ibu SS yang mengalami insomnia. Peneliti mengkaji efektifitas terapi back massage
pada Ibu SS dalam mengatasi insomnia. Hasil menunjukan bahwa setelah 7 minggu terapi
dilaksanakan pada minggu keempat pola tidur terbentuk. Beberapa penelitian juga
menyebutkan bahwa terapi back massage memberikan efek bagi peningkatan kualitas dan
kuantitas tidur seseorang. Saran bagi penelitian selanjutnya adalah untuk memperluas topik
penelitian dengan menambahkan terapi lain seperti akupuntur dan aromaterapi dalam
menciptakan kualitas tidur yang baik bagi residen.

Kata kunci: Back Massage, Insomnia, Keperawatan, Lanjut Usia

viii

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


ABSTRACT

The amount of geriatric population is increasing each year. But many countries havent
providing complete health services yet for tackling this issue. Nursing home care is one of
many solutions for geriatric population. One of crucial problems founded in geriatric is
sleep disturbance. Research from all over nations show that the prevalence of insomnia is
the highest occurred in elderly than any kind of sleep disturbance. For omitting insomnia
problem, many elder used pharmacology therapy. But, pharmacology therapy gives
negative side effects. This research will talk about Ibu SS case which has insomnia
problem. Research assessed the effective of beck massage therapy for tackling insomnia
problem. Result shows that after seven weeks implementation, resident finally has sleep
pattern. Several research from all over the world also show that back massage therapy can
definitely reduce insomnia problem and increase quality and quantity of sleep in adult
residents. Suggest for next research are for widening the topic of the research such as
researching the effect of aromatherapy and acupuncture for tackling insomnia problem.

Key Words: Adult, Back Massage, Insomnia, Nursing

ix

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
PERNYATAAN ORISINALITAS ii
HALAMAN PENGESAHAN iii
KATA PENGANTAR iv
PERSETUJUAN PUBLIKASI vi
ABSTRAK vii
DAFTAR ISI ix
DAFTAR LAMPIRAN xii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang 2
1.2 Perumusan masalah 2
1.3 Tujuan penelitian .. 6
1.4 Manfaat penelitian 6

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Konsep Lanjut Usia
2.1.1 Konsep Kebutuhan Dasar Manusia...... 8
2.2 Konsep tidur
2.2.1 Fisiologi tidur 10
2.2.2 Pengaturan Tidur 10
2.2.3 Tahapan Tidur ... 11
2.2.4 Siklus Tidur .. 12
2.3 Gangguan tidur
2.3.1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Gangguan Tidur.. 13
2.3.2 Jenis Gangguan Tidur... 14
2.4 Insomnia
2.4.1 Etiologi Insomnia......................... 16
2.4.2 Patofisiologi Insomnia pada Lanjut Usia................... 17
2.4.3 Jenis Insomnia......................... 18
2.5 Insomnia pada Lanjut Usia 19
2.6 Efek Insomnia. 20
2.7 Penatalaksanaan Insomnia
2.7.1 Terapi Farmakologis. 21
2.7.2 Terapi Nonfarmakologis.. 21
2.8 Terapi back massage
2.8.1 Definisi terapi back massage. 22
2.8.2 Metode terapi back massage. 22
2.8.3 Manfaat terapi back massage 23
2.8.4 Prosedur terapi back massage 25
2.9 Perawatan dan Penatalaksanaan Lanjut Usia
2.9.1 Hospital Based 27
2.9.2 Community Based... 28

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


BAB 3 LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA
3.1 Pengkajian
3.1.1 Identitas Residen 31
3.1.2 Riwayat Kesehatan Residen.. 32
3.1.3 Aktifitas Residen... 33
3.1.4 Keadaan Psikologis 35
3.1.5 Keadaan Fisik 36
3.2 Analisa Data... 37
3.3 Rencana Tindakan Keperawatan... 38
3.4 Implementasi.. 40
3.5 Evaluasi.. 43

BAB 4. ANALISIS SITUASI


4.1 Profil... 48
4.2 Analisis Insomnia dengan Konsep dan Penelitian Terkait... 52
4.3 Analisis Konsep dengan Intervensi Kasus ... 57
4.4 Alternatif Pemecahan Masalah.. 61

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN


7.1 Kesimpulan 63
7.2 Saran. 64

DAFTAR PUSTAKA .. 65
LAMPIRAN.. xi

xi

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I - Pengkajian Ibu SS

Lampiran II - Analisa Data Ibu SS

Lampiran III - Rencana Asuhan Keperawatan Ibu SS

xii

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Lanjut usia merupakan kelompok orang yang mengalami proses penuaan. Setiap
tahun, jumlah lanjut usia Indonesia semakin bertambah. Kementrian kesehatan
menyebutkan bahwa pada tahun 2020 jumlah penduduk lanjut usia diperkirakan
akan meningkat menjadi11,43 persen dari total jumlah penduduk Indonesia (WHO,
2000). Namun, dalam menghadapi peningkatan jumlah lansia dari tahun ke tahun
ini belum dibarengi dengan perkembangan pelayanan kesehatan bagi lansia yang
optimal seperti adanya pelayanan khusus untuk lansia.

Semakin meningkatnya jumlah lansia dari tahun ketahun masih belum didukung
dengan kelengkapan pelayanan kesehatan khusus lansia. Pelayanan khusus lansia
khususnya di rumah sakit atau puskesmas masih belum optimal. Melihat
dinamisnya kehidupan perkotaan khususnya kota Jakarta membuat lansia seringkali
mendapatkan perawatan yang minim dari keluarga. Rutinitas harian mengharuskan
warga Jakarta untuk bekerja dan memiliki waktu yang sedikit dengan orang tua.
Untuk itu, kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan khusus lansia semakin
dibutuhkan.

Nursing home merupakan solusi dalam memenuhi kebutuhan lansia. Hadirnya


nursing home dapat membantu kebutuhan masyarakat akan perawatan lansia secara
holistik yang diharapkan dapat sesuai dengan standar nasional. Selain itu, dengan
adanya nursing home masalah-masalah yang terkait dengan lansia dapat teratasi
dengan baik karena tersedianya fasilitas dan tenaga kesehatan profesional dalam
bidang lanjut usia.

Masalah lansia yang kerap kali ditemukan di nursing home adalah masalah
hambatan mobilisasi fisik, sirkulasi, kenyamanan, penurunan kognitif, gangguan

xiii

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


eliminasi, dan gangguan tidur. Hal ini disebabkan oleh penurunan fisik lansia yang
berakibat pada peningkatan kerentanan lansia terhadap berbagai penyakit (Aru dkk,
2009). Untuk itu, lansia sebagai individu yang unik memiliki kebutuhan-kebutuhan
dasar yang harus dipenuhi. Adapun kebutuhan lansia yang penting adalah nutrisi,
eliminasi, seksualitas, aktivitas, keamanan, dan kebutuhan tidur (Lueckenotte,
1996).

Menurut Kaplan dan Sadcock (1997), Satu dari enam kebutuhan dasar yang kerap
kali tidak disari pentingnya adalah kebutuhan tidur dan istirahat. Salah satu masalah
tidur yang kerap kali dialami lansia adalah insomnia. Insomnia merupakan masalah
tidur yang paling sering terjadi pada lanjut usia (Bain, 2006). Insomnia adalah
gangguan masalah tidur ditandai dengan kurangnya jumlah jam tidur dan rendahnya
kualitas tidur yang terjadi selama tiga kali dalam satu minggu selama minimal satu
bulan (Holbrook, 2000). Kejadian insomnia pada lanjut usia terjadi sebanyak 10%-
15% dalam populasi (Matthews, 2003).

Survey yang dilakukan oleh National Institut of Health di Amerika (1970)


menyebutkan bahwa total penduduk dunia yang mengalami insomnia berjumlah
17% dari populasi. Dimana persentase penderita insomnia lebih tinggi dialami oleh
lansia. Disebutkan bahwa 1 dari 4 lansia yang berada pada usia 60 tahun mengalami
sulit tidur yang serius (Chopra, 1994 dalam Purwanto, 2007). Sedangkan hal yang
serupa juga ditemukan oleh penelitian yang dilakukan oleh American National
Sleep Foundation ditemukan bahwa sebanyak 54% lanjut usia Amerika mengalami
lebih dari satu kali kejadian insomnia setidaknya beberapa malam dalam beberapa
tahun terakhir.

Selain itu, penelitian yang dilakukan di Kairo juga menyebutkan bahwa lanjut usia
di Kairo yang mengalami kejadian insomnia yaitu berjumlah 60,5% dari total
populasi (Bakr, 2012). Hal ini seseuai dengan penelitian yang dilakukan oleh
Ohayon (2002) menyebutkan bahwa 48% lanjut usia mengalami insomnia. Untuk

xiv

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


itu, insomnia merupakan masalah yang serius dan penting untuk menjadi perhatian
tenaga kesehatan.

Beberapa orang menggunakan terapi medikasi yaitu dengan mengkonsumsi obat-


obatan untuk mengatasi insomnia (Ejindu, 2007). Padahal survey yang dilakukan
pada beberapa penelitian ditemukan bahwa peningkatan konsumsi obat-obatan
dapat meningkatkan resiko kecelakaan kerja, penurunan konsentrasi, penurunan
harga diri, dan efisiensi kerja (Walsh, 2004). Selain itu menurut Leger (2000)
disebutkan bahwa penggunaan obat-obatan tidur dapat menurunkan produktifitas
dan peningkatan tidur di siang hari (Glass et al., 2005). Penelitian lain juga
menyebutkan bahwa penggunaan obat-obatan dapat meningkatkan kejadian
kecelakaan mengemudi (Verster et al., 2006). Warga Amerika menghabiskan $13,9
miliar untuk penggunaan obat-obatan tidur setiap tahunnya (Martin et al., 2004).
Untuk itu, intervensi keperawatan sangat diperlukan dalam mencegah efek negatif
dari terapi medikasi.

Menurut Potter & Perry (2005) gangguan tidur dapat diatasi dengan intervensi
keperawatan seperti guided imagery, pemberian susu hangat, terapi musik,
akupuntur, aromaterapi, teknik napas dalam, modifikasi lingkungan, terapi
relaksasi, terapi back massage, foot massage, dan head massage. Selama tujuh
minggu mahasiswa menjalani praktek di Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti Ria
Pembangunan, mahasiswa mencoba untuk meneliti efektifitas terapi back massage
dalam menstimulasi efek relaksasi dan menciptakan pola tidur yang berkualitas bagi
lansia.

Kasus insomnia ditemukan pada Ibu SS, lanjut usia berusia 89 tahun. Ibu SS
mengeluh sulit tidur sejak 6 bulan terakhir. Selama tinggal di wisma Cempaka
Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti Ria Pembangunan, Ibu SS tidak pernah
mendapatkan intervensi untuk mengatasi insomnia. Ibu SS sering mengeluh mudah
lelah, sulit berkonsentasi, sering mengantuk pada siang hari, sulit berkonsentrasi,
dan mengatakan tidak pernah segar saat bangun pagi.

xv

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


Selama di STW, Ibu SS baru pertama kali dilakukan tindakan mengatasi sulit tidur
yang dilakukan oleh mahasiswa UI. Selain itu menurut Bain (2006), lebih dari dua
per tiga kejadian insomnia belum terdiagnosa. Tenaga kesehatan saat ini masih
jarang yang sudah memiliki keahlian dan keterampilan dalam mengatasi masalah
tidur insomnia. Untuk itu, pada karya ilmiah akhir ini akan dibahas mengenai kasus
Ibu SS terkait dengan efektifitas terapi back massage dalam mengatasi insomnia.

1.2 Perumusan masalah


Lanjut usia merupakan kelompok orang yang mengalami proses penuaan. Setiap
tahun, jumlah lanjut usia Indonesia semakin bertambah. Semakin meningkatnya
jumlah lansia dari tahun ketahun masih belum didukung dengan kelengkapan
pelayanan kesehatan khusus lansia. Hadirnya nursing home dapat membantu
kebutuhan masyarakat akan perawatan lansia holistik. Masalah geriatrik yang kerap
kali ditemukan di nursing home adalah masalah hambatan mobilisasi fisik,
sirkulasi, kenyamanan, penurunan kognitif, gangguan eliminasi, dan gangguan
tidur. Menurut Kaplan dan Sadcock (1997), Satu dari enam kebutuhan dasar yang
kerap kali tidak disari pentingnya adalah kebutuhan tidur dan istirahat. Salah satu
masalah tidur yang kerap kali dialami lansia adalah insomnia. Pada karya ilmiah
akhir ini akan dibahas mengenai kasus Ibu SS Berdasarkan latar belakang penelitian
ini, penulis tertarik untuk meneliti efektifitas terapi back massage teradap Ibu SS
dengan masalah gangguan tidur : Insomnia.
1.4 Tujuan Penulisan
Adapun peneliti mendefinisikan tujuan dari penelitian ini adalah :

1.4.1 Tujuan Umum :


Menggambarkan hasil asuhan keperawatan lanjut usia dengan masalah
gangguan tidur insomnia pada Ibu SS di Wisma Cempaka Sasana Karya Bhakti
Ria Pembangunan.

1.4.2 Tujuan Khusus :

xvi

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


1. Memberikan gambaran mengenai pelayanan lansia di Sasana Tresna Werdha
Karya Bhakti Ria Pembangunan,
2. Menggambarkan hasil pengkajian pada Ibu SS dengan masalah utama
gangguan tidur insomnia
3. Memaparkan rencana asuhan keperawatan pada Ibu SS dengan masalah
utama insomnia
4. Menggambarkan terapi back massage sebagai intervensi inovasi dalam
mengatasi gangguan tidur insomnia
5. Menggambarkan implementasi asuhan keperawatan pada Ibu SS dengan
masalah insomnia.

1.5 Manfaat Penelitian


Penulis mengharapkan agar laporan asuhan keperawatan individu lansia di Sasana
Tresna Werdha Karya Bhakti Ria Pembangunan dengan masalah utama insomnia dapat
berguna bagi:

1. Institusi pendidikan
Penulisan laporan ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih dalam
pengembangan ilmu pengetahuan khususnya bidang keperawatan. Laporan ini
diharapkan dapat menjadi sumber referensi bagi peneliti yang akan melakukan
penulisan laporan akhir ners dengan tema gangguan tidur khususnya insomnia
dengan terapi back massage. Laporan ini diharapkan dapat menjadi sumber
referensi bagi mahasiswa yang mengangkat tema laporan dengan masalah gangguan
tidur pada lansia. Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi peneliti yang akan
melakukan penelitian selanjutnya sehingga diharapkan dapat berguna untuk
mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang keperawatan.

2. Pelayanan Kesehatan Lansia

xvii

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


Penulisan karya tulis ini diharapkan dapat mengembangkan pelayanan kesehatan
yang berkualitas khususnya dalam mengurangi angka kejadian insomnia pada
lansia. Laporan ini diaharapkan dapat menjadi sumber referensi bagi tenaga
kesehatan dalam memberikan terapi untuk mengatasi insomnia.

xviii

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Bagian ini akan dijelaskan mengenai landasan teori dan konsep yang akan digunakan
sebagai dasar acuan dalam menyusun karya tulis ilmiah ini. Teori dan konsep tersebut
antara lain mengenai teori dan konsep tidur, insomnia, dan terapi back massage. Konsep
dan teori ini selanjutnya dilakukan studi kepustakaan untuk dikaitkan dengan judul dan
tujuan dari penelitian. Studi kepustakaan merujuk kepada referensi, buku teks, jurnal,
skripsi, tesis, dan referensi lainnya.

2.1 Konsep Lansia


2.1.1 Konsep Kebutuhan Dasar Manusia
Kebutuhan dasar manusia merupakan unsur dalam kehidupan yang dibutuhkan oleh
individu dalam mempertahankan kualitas hidup melalui keseimbangan biologis,
psikologis, sosial, spiritual, dan kultural. Menurut Perry & Potter (2005), kebutuhan
dasar manusia diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia. Maslow
(1943) mengatakan bahwa individu yang kebutuhan dasarnya terpenuhi maka
individu tersebut mengalami kondisi yang sehat. Apabila salah satu kebutuhan dasar
utama tersebut tidak terpenuhi maka individu tersebut berisiko untuk sakit.

Hierarki kebutuhan dasar manusia terbagi menjadi lima tingkatan. Adapun hierarki
kebutuhan hidup menurut Abraham Maslow (1943) meliputi kebutuhan fisiologis
atau basic needs, seperti udara, air dan makanan, temperature, eliminasi, tempat
tinggal, seks, istirahat dan tidur. Tingkatan yang kedua yaitu kebutuhan keselamatan
dan kemanan yang meliputi keamanan fisiologis dan psikologis. Tingkatan yang
ketiga yaitu kebutuhan akan kasih sayang dan rasa memiliki dalam hubungan sosial.
Tingkatan keempat meliputi kebutuhan rasa berharga dan harga diri yang
melibatkan percaya diri, pengamatan, merasa berguna, penerimaan dan kepuasan
diri. Tingkatan terakhir yaitu kebutuhan aktualisasi diri. Tingkatan ini

xix

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


berupa pernyataan dari diri berupa penerimaan dan sikap dalam mengatasi masalah.
Kebutuhan manusia menurut Maslow (1943) akan bergerak ke hierarki selanjutnya
setelah kebutuhan utama dipenuhi.

Kebutuhan utama manusia menurut teori Maslow (1943) adalah kebutuhan


fisiologi. Menurut Abraham Maslow (1943) kebutuhan fisiologi merupakan
kebutuhan yang paling mendasar dan krusial pada setiap individu dan merupakan
kebutuhan dasar. Untuk itu pemenuhan kebutuhan fisiologi yang optimal sangat
berpengaruh terhadap kualitas hidup seseorang. Adapun kebutuhan fisiologi
manusia yaitu kebutuhan untuk makan, minum, tempat tinggal, dan tidur.

2.2 Konsep Tidur


Konsep tidur menurut teori kebutuhan Maslow (1943), disebutkan bahwa manusia
akan memenuhi kebutuhan fisiologis seperti bernapas, makan, minum, ekskresi,
tidur, kebutuhan seksual sebelum naik ke-tingkatan selanjutnya. Tidur merupakan
salah satu kebutuhan dasar manusia yang paling penting karena ketika tidur tubuh
akan mengalami relaksasi dan merupakan proses pemulihan tubuh.

Tidur adalah suatu keadaan tidak sadar yang dialami seseorang dan dapat
dibangunkan kembali dengan indra atau rangsangan yang cukup (Guyton, 1987).
Tidur ditandai dengan aktivitas fisik minimal, tingkatan kesadaran menurun,
terdapat perubahan-perubahan proses fisiologis tubuh, dan adanya penurunan
respon terhadap rangsangan dari luar.

2.2.1 Fisiologi tidur


Tidur merupakan siklus harian yang terjadi pada individu. Perry & Potter
(1997) menyebutkan bahwa tidur masuk kedalam irama sirkadian.Irama
sirkadian adalah irama selama 24 jam. Irama sirkadian mempengaruhi
perubahan suhu, denyut jantung, fluktuasi tekanan darah, sekresi hormon,
kemampuan sensorik dan suasana hati.

xx

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


Selain itu, Irama sirkadian juga dipengaruhi oleh rutinitas, cahaya, suhu, tingkat
aktifitas (Perry & Potter, 2005).

2.2.2 Pengaturan Tidur


Tidur diatur oleh 2 mekanisme serebral. Mekanisme serebral yang pertama
yaitu mekanisme yang mengatur proses tertidur. Mekanisme kedua merupakan
mekanisme yang mengatur respon terbangun. Menurut Potter & Perry (2005),
Berikut adalah bagian-bagian otak yang mengatur proses tertidur adalah:
1. Sistem Aktifasi Retikular (SAR)
SAR memiliki sel khusus yang mempertahankan kewaspadaan dan terjaga.
SAR menerima stimulus sensori visual, auditori, nyeri, dan taktil. Aktifitas
korteks serebral seperti emosi dan pikiran juga turut menstimulasi SAR.
SAR memproduksi ketokolamin dan epinefrin (Sleep Research Society,
1993).

Ketika seseorang tidur, maka tubuh akan mengalami knock down atau
relaksasi. Selanjutnya stimulus SAR akan mengalami penurunan. Jika
seseorang berada pada ruangan yang sepi dan lingkungan yang gelap maka
produksi SAR akan semakin menurun kemudian selanjutnya akan diambil
alih oleh sistem BSR.

Tidur dapat terjadi dari pengeluaran serotonin dari sel tertentu dalam
system tidur pada pons dan otak tengah dan depan. Daerah otak tengah
disebut juga dengan daerah sinkronisasi bulbar (BSR). Dalam menentukan
seseorang terjaga atau tertidur tergantung impuls yang diterima dari pusat
otak yang tertinggi.

xxi

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


2.2.4 Tahapan Tidur
Perry & Potter (1997) membagi tidur memiliki dua fase, yaitu :
2.2.1.1 Fase NREM ( Non Rapid Eye Movement)
Fase NREM merupakan fase dimana terjadi beberapa penurunan
kondiai fisik. Pada saat fase NREM pergerakan mata akan menjadi
semakin melambat. Fase ini memiliki 4 tahap. Yaitu NREM 1
sampai dengan NREM 4. Seluruh tahap NREM terjadi selama 90
menit. Tidur dari tahap 1 sampai dengan tahap 4 akan mengalami
penurunan. Seseorang akan mengalami tidur awal pada saat
memasuki tahap satu dan dua. Pada tahap ini, seseorang mudah
terbangun. Pada tahap 3 dan 4 melibatkan tidur lebih dalam dan
menghasilkan gelombang yang rendah sehingga lebih sulit untuk
dibangunkan.

2.2.1.2 Fase REM ( Rapid Eye Movement )


Fase REM adalah fase tidur paling dalam. Pada fase ini seseorang
akan mengalami mimpi sebagai tanda telah memasuki tahapan
tidur paling dalam. Pada fase ini terjadi pergerakan mata yang
cepat. Siklus ini disebut juga sebagai siklus perbaikan konsolidasi
memori (Perry & Potter, 2005).

2.2.5 Siklus Tidur.


Pada saat seseorang masuk dan mencoba tidur, maka seseorang akan
mengalami perasaan mengantuk yang akan menjadi terus meningkat secara
bertahap. Ketika seseorang masuk pada Tahap NREM 1 maka akan terjadi
penurunan secara bertahap dari mulai tanda-tanda vital dan metabolisme.
Ketika memasuki tahap ini, seseorang sangat mudah terbangun oleh stimulus
sensori dan suara. Tahap ini berakhir setelah beberapa menit (Perry & Potter,
2005).

xxii

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


Pada tahap selanjutnya yaitu tahap NREM 2 merupakan tahap kemajuan
relaksasi. Seseorang menjadi semakin relaks dan semakin dalam. Kesadaran
mulai menurun dan fungsi tubuh juga semakin menurun. Tahap ini berakhir
pada menit ke 10 sampai 20. Pada tahap NREM 2 tubuh mulai berelaksasi
dan kesadaran semain menurun (Perry & Potter, 2005).

Tahap NREM 3 merupakan tahapan tidur yang lebih dalam dibandingkan


dengan NREM 2. Pada tahap ini, seseorang mulai sulit untuk terbangun dan
jarang bergerak. Otot-otot berada dalam keadaan relaksasi penuh. TTV
menurun secara teratur. Tahap ini berakhir setelah 15 sampai dengan 30
menit. Kemudian selanjutnya pada tahap NREM 4. Pada tahap ini, tidur
semakin dalam. Ketika seseorang masuk kedalam tahap ini akan sulit untuk
dibangunkan. Tanda tanda vital semakin menurun dan tahap ini terjadi
selama 15-30 menit (Perry & Potter, 2005).

Tahap yang terakhir adalah tahap REM. Pada tahap REM mimpi terjadi.
Tahap ini terjadi setelah 90 menit tertidur. Pada tahap ini ditandai dengan
respon otonom dari pergerakan mata yang cepat, fluktuasi jantung, kecepatan
respirasi serta fluktuasi tekanan darah, dan peningkatan sekresi lambung.
Saat memasuki tahap ini seseorang sulit untuk dibangunkan. Tahap ini
merupakan tahap tidur paling dalam dan seseorang akan sulit untuk
dibangunkan. Lama siklus ini sekitar 20 menit (Perry & Potter, 2005).

2.3 Gangguan Tidur


Seseorang yang mengalami gangguan tidur dapat dapat dipengaruhi oleh perubahan
baik fisik, psikologis, maupun lingkungan. Gangguan tidur dapat dikategorikan
menjadi gangguan tidur primer dan gangguan tidur sekunder. Gangguan tidur primer
seseorang akan mengalami gangguan tidur tanpa penyebab lain. Sedangkan gangguan
tidur sekunder karena adanya gejala klinis lainnya seperti disfungsi, depresi, atau
alkoholik.

xxiii

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


2.3.1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Gangguan Tidur
Gangguan tidur dapat terjadi akibat dari berbagai faktor seperti gaya hidup,
lingkungan tidak nyaman, emosi yang tidak stabil, pola tidur yang mengantuk
pada siang hari, latihan fisik dan kelelahan, serta asupan makan dan kalori.
Faktor-faktor gangguan tidur menurut Perry dan Potter (1997) adalah gaya
hidup, lingkungan yang tidak nyaman, emosi yang tidak stabil, pola tidur
mengantuk di siang hari, kelelahan dan latihan fisik, dan asupan makanan dan
kalori.

Gaya hidup merupakan rutinitas harian dapat mempengaruhi tidur seseorang.


Konsumsi alkohol, rokok, dan kebiasaan menonton televisi di malam hari dapat
mempengaruhi tidur seseorang. Selain gaya hidup, lingkungan adalah faktor
yang paling penting untuk seseorang dapat tertidur lelap. Lingkungan yang
berisik, terlalu panas, atau terlalu dingin dapat mengurangi kenyamaan
seseorang.

Selain gaya hidup dan lingkungan, kecemasan dan perasaan stres dapat
mengganggu pola tidur seseorang. Hal ini sangat mudah sekali untuk memicu
perasaan stres dan cemas. Menurut penelitian yang dilakukan di Amerika oleh
National Commision on Sleep Disorder Research (1993), menyatakan bahwa
banyak orang Amerika yang mengalami kesulitan tidur pada malam hari dan
mengantuk pada siang hari. Hal ini menyebabkan banyak permasalahan seperti
sukar konsentrasi, dan mengalami masalah perilaku dan emosional.

Seseorang yang kelelahan dalam tahap sedang, biasanya memiliki tidur yang
baik. Namun seseorang yang terlalu lelah dan dipicu dengan stres yang tinggi,
akan menyebabkan keletihan dan kesulitan untuk tertidur. Selain itu, Asupan
makanan juga dapat mempengaruhi kualitas tidur seseorang. Kafein dan alkohol
yang dikonsumsi di malam hari dapat mengganggu pola tidur seseorang.
Kebanyakan orang memerlukan tidur sebanyak 7-8 jam. Akan tetapi, lama
waktu tidur dipengaruhi oleh masing-masing individu.

xxiv

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


2.3.2 Jenis Gangguan Tidur
Gangguan tidur dapat terjadi pada siapa saja. Gangguan tidur dapat
mengganggu kualitas tidur seseorang. Berikut ini adalah jenis gangguan
tidur menurut Perry & Potter (2007) adalah sleep paralysis,
hipersomnia, parasomnia, sleep apneu, dan insomnia. Sleep paralysis
adalah ketidakmampuan untuk mengendalikan otot volunteer selama
sleep onset (gypnagogic) atau selama terbangun diantara waktu malam
dan pagi (hypnopompic). Kejadian ini sering didukung dengan
halusinasi dan perasaan tercekik dan sulit menggerakan lidah. Dalam
keadaan ini, seseorang dapat membuka mata, menggerakan bola mata
dan melihat sekeliling. Keadaan sleep paralysis dapat terjadi selama
beberapa menit sampai 20 menit (Murphy, Gillian, 2008). Selain itu,
menurut Perry & Potter (2005), sleep apneu adalah suatu keadaan
dimana seseorang mengalami keadaan henti napas saat tidur.

Gangguan tidur yang lainnya adalah hipersomnia. Hipersomnia adalah


suatu keadaan dimana seseorang tidur secara berlebihan dari waktu
yang normal. kebalikan dari insomnia yaitu kelebihan tidur dari 9 jam
dimalam hari. Sedangkan parasomnia adalah jenis gangguan tidur yang
terjadi pada anak-anak. Anak-anak yang emngalami parasomnia
mengalami gejala seperti tidur sembari berjalan, perasaan takut, dan
enuresis.

2.4 Insomnia
Menurut beberapa sumber terdapat berbagai definisi insomnia. Nanda (2012)
menyebutkan bahwa insomnia adalah suatu gangguan kuantitas dan kualitas tidur
yang menghambat fungsi fisik seseorang. Menurut Simpson (1996), Insomnia
merupakan ketidakmampuan untuk tertidur meskipun ada keinginan untuk
melakukannya. Menurut Holbrok (2000), Insomnia adalah gangguan tidur yang
terjadi setiap tiga kali dalam seminggu dan terjadi setidaknya dalam satu bulan.
Sedangkan menurut Zorick (1994), Insomnia adalah gejala yang dialami oleh

xxv

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


seseorang yang mengalami kesulitan untuk tidur, sering terbangun dari tidur, dan
mengalami tidur yang singkat.

Insomnia dianggap sebagai masalah yang mengganggu lansia. Menurut


Dombrowsky (2013), Insomnia merupakan jenis gangguan tidur yang berdampak
pada kesehatan dan kualitas hidup seseorang. The American of Academy Sleep
Medicine (2011) menyebutkan bahwa insomnia adalah suatu keadaan dimana
seseorang mengalami kesulitan tidur. Insomnia juga dapat disebut sebagai suatu
keadaan sulit untuk memulai dan mempertahankan tidur. Insomnia menyebabkan
seseorang tidak dapat mencapai kualitas dan kuantitas tidur yang diharapkan.
Insomnia menyebabkan defisiensi kegiatan, perasaan mengantuk, dan sulit
berkonsentrasi di siang hari (Bakr, 2012).

2.4.1 Etiologi Insomnia


Insomnia dapat terjadi pada orang-orang yang mengalami kecemasan dan
depresi. Insomnia juga dapat terjadi pada seseorang yang memiliki masalah
di kardiovaskuler. Menurut Simpson (1996), Gangguan tidur pada lanjut
usia dapat terjadi karena penyakit psikiatri, penyakit Alzheimer dan penyakit
degenerative, penyakit kardiovaskular dan perawatan paska operasi jantung,
penyakit paru, sindrom nyeri, penyakit prostatic, endokrinopati,
ketidakmampuan untuk melakukan rutinitas sebelum tidur, merasa tidak
nyaman, kebisingan, perawatan procedural, dan nyeri.

Menurut Nanda (2012), insomnia disebabkan oleh berbagai masalah antara


lain masalah psikologis, lingkungan, aktifitas, kuantitas tidur harian, faktor
genetis, fisiologis, konsumsi makanan tertentu, dan kenyamanan. Faktor
psikologis yang menyebabkan insomnia adalah ansietas, cemas, depresi,
ketakutan, berduka, dan stres. Selain faktor psikologis, faktor lingkungan
juga mempengaruhi kejadian insomnia. Lingkungan yang bising, cahaya
yang terang atau gelap, suhu yang ekstrim, kelembaban lingkungan, dan
tatanan yang tidak familiar mengganggu pola tidur seseorang. Selain itu,

xxvi

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


kuantitas tidur yang tidak sesuai seperti tidur siang terlalu lama dan tidur
terputus juga dapat mengganggu pola tidur seseorang, konsumsi alkohol,
kebersihan diri yang tidak terjaga dengan baik, konsumsi obat,
ketidaknyamanan fisik seperti nyeri, batuk, mual, inkontinensia, dan urgensi
juga menyebabkan insomnia.

2.4.2 Patofisiologi Insomnia pada Lanjut Usia


Lanjut usia rentan mengalami insomnia karena adanya perubahan pola tidur.
Pada lanjut usia, tahap tidur yang terganggu biasanya adalah tahap ke
NREM 4. Keluhan insomnia pada lansia mencakup ketidakmampuan untuk
tertidur, sering terbangun, ketidakmampuan untuk kembali tidur, dan
terbangun pada dini hari. Karena insomnia merupakan gejala, maka
perhatian harus diberikan secara holistik baik biologis, emosional, dan
medis.

Episode tidur REM pada lansia cenderung mengalami pemendekan.


Terdapat penurunan yang progresif pada tahap tidur NREM 3 dan NREM 4.
Pada beberapa lansia ditemukan tidak memiliki tahap NREM 4 (Perry &
Potter, 2005). Lanjut usia mudah terbangun pada malam hari dan mengalami
kesulitan untuk memulai tidur (Reynolds, 1993). Perubahan pola tidur yang
dialami oleh lansia disebabkan oleh perubahan pola sistem saraf pusat yang
mengatur pola tidur. Penurunan kondisi fisik dan sistem tubuh pada lansia
mengurangi sensitifitas waktu dalam pengaturan pola irama sirkadian.

Perilaku tidur lansia mengalami perubahan. Kesulitan untuk memulia tidur


dimalam hari digantikan dengan tidur pada siang hari. Hal ini dapat
diakibatkan oleh munculnya penyakit kronik pada lansia seperti lansia yang
mengalami arthritis akan mengalami kesulitan tidur karena sulit untuk
relaksasi akibat nyeri yang dirasakan. Peningkatan jumlah tidur di siang hari
pada lansia meningkat seiring dengan kesulitan lansia untuk memulai dan
mempertahankan tidur pada malam hari (Evans, 1994).

xxvii

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


Kualitas tidur lansia mengalami penurunan disebabkan oleh menurunnya
fungsi tubuh. Menurunya fungsi tubuh juga dapat berdampak bagi kualitas
tidur seseorang. Beberapa masalah kesehatan yang dapat mengganggu
kualitas tidur lansia adalah arthritis, nyeri kronis, depresi, gastroesophageal
reflux disease, dan masalah kesehatan jantung. Lanjut usia dengan masalah
kesehatan jantung mengalami kesulitan untuk bernapas, nocturnal
awakenings, kesulitan bernapas. Lima puluh hingga tujuh puluh persen
pasien dengan COPD dilaporkan mengalami kesulitan untuk memulai dan
mempertahankan tidur.

2.4.3 Jenis-Jenis Insomnia


Menurut Johnson (2005), jenis-jenis insomnia yang terjadi dibagi menjadi
tiga, yaitu jangka pendek, insomnia sementara, dan insomnia kronis.

Insomnia jangka pendek terjadi selama beberapa minggu. Insomnia jenis ini
muncul akibat stres yang bersifat sementara seperti kehilangan orang yang
dicintai, mendapatkan penyakit yang mengganggu pikiran, dan kehilangan
rutinitas. Kondisi ini dapat hilang setelah lanjut usia beradaptasi dengan
stresor. Sedangkan insomnia tipe sementara merupakan insomnia yang
terjadi karena adanya perubahan lingkungan. Insomnia tipe sederhana terjadi
pada seseorang yang jet lag, konstruksi bangunan yang bising, atau
pengalaman yang menimbulkan kecemasan.

Tipe insomnia yang terakhir adalah insomnia kronis. Insomnia tipe kronis
terjadi selama tiga minggu dan dapat terjadi seumur hidup. Kondisi ini
diakibatkan oleh kebiasaan tidur yang buruk, masalah psikologis,
penggunaan obat-obatan yang berlebihan, penggunaan alcohol, perubahan
jadwal tidur. Pada lansia, 40% insomnia tipe kronis terjadi karena masalah
kesehatan seperti apnea tidur, arthritis, nyeri kronis, dan masalah

xxviii

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


kardiovaskuler. Insomnia kronis memerlukan intervensi psikiatrik dan
medis.

2.5 Insomnia pada Lanjut Usia


Lanjut usia sebagai individu yang unik memiliki kebutuhan dasar yang harus
dipenuhi dalam upaya peningkatan kesehatan. Salah satu aspek utama dari
peningkatan kesehatan adalah pemenuhan kebutuhan tidur. Kebutuhan tidur yang
cukup pada lansia dibutuhkan sebagai upaya pemulihan fungsi tubuh sampai dengan
tingkat fungsional yang optimal. Kebutuhan tidur juga diperlukan lanjut usia agar
dapat melaksanakan kegiatan di siang hari guna menikmati kualitas hidup yang
tinggi.

Lanjut usia beresiko mengalami gangguan tidur. Gangguan tidur pada lansia dapat
disebabkan oleh berbagai hal seperti berkurangnya aktifitas, pensiun, perubahan pola
sosial, kematian pasangan, peningkatan penggunaan obat-obatan, penyakit yang
didapatkan, dan perubahan pola irama sirkadian. Meskipun gangguan tidur
merupakan hal yang normal pada lanjut usia, namun kejadia gangguan tidur dianggap
sebagai proses patologis yang menyertai penuaan (Bahr, 2011).

Pola tidur pada lansia mengalami perubahan disebabkan oleh proses patologis terkait
dengan usia. Gangguan tidur pada lanjut usia menyerang 50% lansia yang berusia 65
tahun atau lebih yang tinggal dirumah, dan sebanyak 66% lanjut usia yang tinggal di
home care (Wiley, 1974). Selama proses penuaan, pola tidur mengalami perubahan.
Perubahan yang terjadi adalah kuantitas tidur, terbangun dini hari, dan peningkatan
jumlah tidur siang. Jumlah waktu tidur pada tahap NREM 4 dan REM juga mengalami
penurunan (National Institute Health, 1990). Penelitian yang dilakukan oleh Johnson
(2005) menyebutkan bahwa terdapat hubungan antara jumlah waktu seseorang terjaga
dengan kuantitas tidur di malam hari. Untuk itu, semakin bertambahnya usia terutama
saat memasuki usia lanjut, pola irama sirkadian mengalami perubahan.Kualitas tidur
pada seseorang mengalami penurunan seiring dengan pertambahan usia (Bliwise,
1993).

xxix

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


Selain itu, insomnia pada lansia terjadi karena perubahan irama sirkadian. Irama
sirkadian diatur oleh anterior hipotalamus. Irama sirkadian seseorang juga dipengaruhi
oleh keadaan lingkungan. Perubahan siklus siang dan malam mempengaruhi irama
sirkadian. Pada lansia terjadi ketidaksesuaian antara irama sirkadian dengan perubahan
lingkungan. Gangguan irama sirkadian pada lansia menyebabkan kesulitan tidur pada
malam hari dan peningkatan rasa kantuk pada siang hari.

Insomnia merupakan hal yang biasa terjadi pada warga masyarakat yang tinggal di
negara industri. Menurut 10-15% orang dewasa pernah mengalami insomnia. Kejadian
insomnia semakin meningkat sesuai dengan usia seseorang. Penelitian yang dilakukan
oleh Johnson (2005). menyebutkan bahwa sebanyak 27% lansia yang berusia diatas 65
tahun mengalami kejadian insomnia sedikitnya 3 kali dalam seminggu. Lanjut usia
rentan untuk mengalami gangguan tidur.

2.6 Efek Insomnia


Insomnia berkaitan dengan kebiasaan tidur yang buruk. Adapun efek insomnia jika
tidak ditangani lebih lanjut menurut Perry & Potter (2005) adalah merasa letih,
cemas, depresi, mudah mengantuk, sulit konsentrasi, dan menurunnya kualitas hidup.
2.7 Penatalaksanaan Insomnia pada Lansia
Mengatasi insomnia pada lanjut usia dapat dilakukan dengan dua cara yaitu, terapi
farmakologis dan terapi non farmakologis. Pada terapi farmakologis terapi yang
diberikan merupakan medikasi. Sedangkan pada terapi nonfarmakologis, terapi yang
diberikan berupa terapi komplementer. Berikut penjelasan terapi farmakologis dan
nonfarmakologis menurut Bain (2006).

2.7.1 Terapi Nonfarmakologis


Insomnia dapat diatasi dengan terapi medikasi. Sekitar 25% warga Amerikan
menggunakan terapi medikasi untuk mengatasi masalah tidur (Bain, 2006). Terapi
medikasi dapat diberikan jika terapi nonfarmakologis tidak memberikan manfaat
yang signifikan pada residen. Jika residen merasa terapi farmakologis tidak

xxx

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


membantu residen dalam mengatasi masalah tidur maka terapi medikasi merupakan
solusi yang tepat.

Terapi farmakologis yang diberikan juga seharusnya yang memberikan efek


samping paling rendah. Pada malam hari dapat diberikan medikasi dengan hipnotik
sedatif. Saat memilih terapi sedatif tenaga kesehatan harus memastikan bahwa
dalam pengkajian memang benar ditemukan kesulitan tidur pada residen. Jenis
obat-obatan yang dapat digunakan adalah chloral hydrate, barbiturat, over-the-
counter (OTC), antihistamin, suplemen diet (melantonin). Selain itu dalam
mengatasi insomnia terapi medikasi yang dapat diberikan adalah neuroleptics (Bain,
2006).

2.7.2 Terapi Nonfarmakologis


Insomnia pada lansia dapat diatasi dengan berbagai intervensi keperawatan. Adapun
intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah dengan menciptakan
lingkungan yang nyaman, memberikan posisi tidur yang tepat, menghilangkan nyeri
dengan kompres dingin/hangat, memberikan kehangatan dengan selimut,
menghindari konsumsi kafein seperti kopi, teh, dan coklat di sore dan malam hari.
Dimalam hari pada saat waktu tidur lampu kamar dapat diatur temaram sehingga
kondusif untuk tidur.

Selain itu, dalam mengatasi insomnia lansia dapat diberikan terapi musik dengan
alunan yang lembut, memberikan susu hangat untuk menciptakan efek relaksasi,
membantu lansia untuk melakukan tidur siang selama 2 jam saja jangan lebih,
meningkatkan aktifitas lansia pada siang hari dan hindari aktifitas pada malam hari.
Aktifitas di malam hari dapat meningkatkan efek menyegarkan daripada
menidurkan, membantu lansia untuk mandi dengan menggunakan air hangat, dan
membantu lansia untuk relax dengan memberikan usapan pada punggung, head
massage, foot massage, dan back massage.

2.8 Terapi Back Massage

xxxi

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


2.8.1 Definisi Terapi Back Massage
Massage merupakan penanganan perawatan dari bagian luar tubuh yang
dilakukan dengan perantara tangan. Bagian tubuh yang dilakukan massage
adalah otot. Massage membutuhkan sentuhan yang pasti dan kuat. Massage
tidak dilakukan jika keluhan nyeri berasal dari tulang dan sendi (Perry &
Potter, 2005). Massage tidak dilakukan pada kondisi jantung yang tidak
baik, tekanan darah tinggi, sendi, dan peningkatan tekanan pembuluh
kapiler.

2.8.2 Metode Terapi Back Massage


Metode terapi massage dibagi menjadi dua, yaitu metode terapi massage
secara umum dan khusus. Massage secara umum adalah gerakan dan
tekanan gerakan massage, residen yang di massage merasakan relaksasi.
Gerakan pengurutan yang dilakukan harus dengan sentuhan halus, ringan
secara perlahan dan merata. Frekuensi melakukan terapi massage juga harus
disesuaikan dengan keadaan kulit, usia, dan tujuan perawatan. Arah
pengurutan dilakukan dengan gerakan tegak lurus terhadap lipatan kulit atau
sejajar dengan arah serabut otot. Massage tangan dan kaki dimulai dari
ujung kaki dan tangan dengan arah menuju jantung (Perry & Potter, 2005).

2.8.3 Manfaat Terapi Back Massage


Terapi Back Massage memiliki beragam manfaat bagi tubuh. Berbagai
sistem tubuh mengalami perbaikan dan efek positif setelah dilakukan back
massage. Adapun beberapa sistem tubuh yang menerima efek positif dari
terapi back massage adalah sistem saraf, sistem otot, sistem kerangka tubuh,
sistem sirkulasi, sistem pernapasan, sistem pencernaan, sistem reproduksi,
kelenjar getah bening, dan kulit (Sinclair, 2005).

Efek massage bagi sistem saraf adalah massage memiliki efek sedatif bagi
tubuh. Efek massage memberikan rasa ringan pada saraf yang terganggu
disebabkan oleh ketidaknyamanan akibat insomnia, tegang, sakit kepala,

xxxii

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


dan kondisi stress lainnya yang berhububgan dengan beban pikiran.
Aktifitas massage meningkatkan aktifitas otot, pembuluh darah, dan kelenjar
(Perry & Potter, 2005).

Massage memberikan efek bagi sistem otot dengan cara memberikan


keseimbangan antara relaksasi dan kontraksi. Gerakan pada massage
membuat otot dan jaringan lunak tubuh meregang dan rileks, mengurangi
ketegangan, dan kram (Sinclair, 2005). Jaringan serbut, pelekatan, dan
jaringan bekas luka dapat didetoksifikasi menjadi bahan endapan yang
dibuang oleh sistem tubuh. Dengan adanya gerakan kontraksi dan relaksasi
otot, maka zat-zat yang bersifat toksik akibat penggunaan otot yang
berlebihandapat dibuang oleh tubuh (Perry & Potter, 2005).
Manfaat massage bagi sistem kerangka tubuh adalah meningkatkan sirkulasi
darah dan limfe (Bain, 2006). Selain itu, massage therapy memberikan efek
dalam memperbaiki kebutuhan nutrisi karena massage membantu
melancarkan aliran peredaran darah (Sinclair, 2006). Selain itu massage
juga bermanfaat dalam peningkatan pertumbuhan tulang. Massage therapy
membantu melancarkan distribusi nutrisi khususnya kalsium dan membantu
peningkatan penyerapan nutrisi penting pertumbuhan tulang (Perry & Potter,
2005).

Gerakan massage dapat membantu menghilangkan tekanana yang ada pada


pembuluh darah arteri dan vena, mempercepat sirkulasi darah dalam sistem,
memperbaiki sirkulasi yang tidak optimal, sehingga tekanan darah dapat
menurun. Gerakan massage dapat menstimulasi peningkatan aliran produksi
kelenjar getah bening (Sinclair, 2006).

Efek massage bagi sistem pernapasan adalah meningkatkan bersihan jalan


napas lebih efektif. Gerakan massage dapat menstimulasi peningkatan
aktifitas paru. Selama dilakukan terapi massage napas mengendur namun

xxxiii

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


mendalam. Dengan gerakan massage sputum dapat terdorong keluar (Perry
& Potter, 2005).

Gerakan massage dapat menstimulasi peningkatan aktifitas dan penyerapan


nutrisi bagi kulit. Sehingga kondisi kulit dan tekstur dan kesehatannya
meningkat (Bain, 2006). Selain itu, Gerakan massage dapat menstimulasi
kandung kemih untuk mengeluarkan produk sisa metabolisme. Gerakan
massage dapat mengurangi nyeri haid karena efek relaksasi yang
ditimbulkan (Sinclair, 2006).

2.8.4 Prosedur Terapi Back Massage


Massage yang diberikan dilakukan dengan gerakan-gerakan pokok. Menurut
Perry & Potter (2005), Prosedur terapi back massage yaitu effleuredge,
friction, petrisage, tapotemen, dan fibrasi (Sinclair, 2006).

Effleurage adalah gerakan mengusap yang dilakukan secara bersamaan dan


berturut-turut kearah atas. Effleurage sering digunakan untuk wajah, leher,
kulit kepala, punggung, dada, lengan dan kaki. Effleurage memiliki efek
sedatif sehingga selalu diberikan pada awal dan akhir terapi massage (Perry
& Potter, 2005).

Manfaat Effleurage adalah menghilangkan secara mekanis sel-sel epitel


yang mati, mempercepat pengangkutan zat-zat sisa dan darah yang
mengandung karbondioksida, memperlancar aliran limfe baru dan darah
yang mengandung nutrisi dan oksigen, sebagai sarana untuk pertukaran zat
metabolism di semua jaringan menjadi meningkat, dan sebagai upaya untuk
meningkatan pemberian nutrisi pada lapisan kulit (Sinclair, 2006).

xxxiv

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


Gerakan selanjutnya adalah gerakan friksi atau gerakan menggesek.
Gerakan ini memberikan tekanan pada kulit. Gerakan ini bermanfaat untuk
memperlancar sirkulasi darah, mengaktifkan kelenjar kulit, menghilangkan
kerutan pada kulit, dan memperkuat otot kulit.

Lakukan pijatan melingkar ringan dengan kedua ujung jari yang ditekan
secara tegak lurus pada bagian-bagian yang dipijat. Adapun manfaat gerakan
ini adalah peningkatan penyembuhan jaringan-jaringan yang mengalami
kerusakan, memproduksi kelenjar-kelenjar lemak oleh tekanan dan
pelepasan dengan gerakan menepuk. Hal ini dapat bermanfaat untuk
memberikan kelembaban pada kulit (Perry & Potter, 2006).

Selanjutnya adalah gerakan petrisage. Gerakan ini menggunakan ujung jari


dan telapak tangan untuk menjepit beberapa bagian kulit. Pijatan jenis ini
perlu sedikit tekanan yang dilakukan secara ringan dan berirama. Adapun
manfaat dari gerakan Petrisage adalah memperlancar penyaluran zat-zat
dalam jaringan ke dalam pembuluh-pembuluh darah dan getah bening
(Sinclair, 2006).

Selain itu manfaat petrisage adalah sebagai peningkatan hantaran nutrisi


keseluruh tubuh dengan memperlancar aliran darah dan kelenjar getah
bening. Jika aliran darah dan getah bening tidak lancar, maka
terjadilah pembendungan yang dapat dihindarkan secara positif melalui
pengurutan meremas (Sinclair, 2006).

Gerakan selanjutnya adalah tapotage. Tapotage merupakan gerakan ketukan


yang berturut-turut dan cepat, yang dilakukan dengan seluruh tangan atau
ujung jari. Ketukan dilakukan untuk mengembalikan tonis otot-otot yang
kendur dan pula untuk merangsang ujung urat syaraf. Gerakan
mencincang adalah gerakan menepuk yang dilakukan dengan menggunakan
bagian samping luar kedua tangan, yang ditepukkan pada

xxxv

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


kulit secara berturut-turut dan berganti-ganti untuk pengurutan punggung,
bahu dan lengan. Khasiat gerakan Tapotage yaitu menyegarkan otot-otot,
melancarkan peredaran darah dan getah bening pada tempat yang diurut
(Perry & Potter, 2005).

Gerakan yang terakhir adalah gerakan vibrasi. Vibrasi adalah gerakan


menggetar untuk merangsang atau menenangkan urat syaraf dan
menghilangkan kerut pada wajah. Pada pijatan ini gunakan ujung jari dan
telapak tangan untuk menggetarkan kulit secara bergantian. Khasiat gerakan
vibrasi adalah untuk melemaskan jaringan-jaringan dan menghilangkan
ketegangan (Bain, 2006).

2.9 Perawatan dan Pelayanan Lanjut Usia


Peningkatan jumlah lansia harus ditunjang dengan peningkatan perawatan khusus
lanjut usia. Kebutuhan masyarakat akan pelayanan keperawatan khusus lansia
dibutuhkan dalam meningkatkan dan mempertahankan status kesehatan lansia.
Perawatan dan pelayanan lanjut usia yang berkualitas dapat meningkatkan kualitas
hidup lansia. Aksesibilitas dan ketersediaan pelayanan kesehatan khususnya bagi
lansia yang berada pada area rural dan miskin memiliki keterbatasan. untuk Untuk
itu, perawatan khusus lansia diperlukan untuk mengatasi masalah kesehatan lansia
secara intensif. Perawatan dan pelayanan lanjut usia dibagi menjadi dua yaitu
community based dan hospital based (Miller, 2012).

2.9.1 Hopital Based

Pelayanan kesehatan rumah sakit merupakan pelayanan kesehatan utama.


Namun, pelayanan rumah sakit menawarkan minim promosi kesehatan dan
tindakan pencegahan. Pelayanan rumah sakit menitikberatkan kepada
konsep curing. Tindakan pencegahan bagi lansia diabaikan karena banyak
pembuat kebijakan yang menganggap bahwa pencegahan yang dilakukan

xxxvi

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


pada residen dengan usia lanjut usia tidak memberikan efek yang signifikan
(Miller, 2012).

2.9.1 Community Based (Nursing home)


Nursing home care merupakan institusi yang ditujukan bagi lanjut usia yang
membutuhkan bantuan activity daily living. Nursing home dimiliki oleh
badan otonom pada suatu negara dan menerima bantuan dana dari
pemerintah dan lembaga-lembaga lainnya. Nursing home care menyediakan
pelayanan kesehatan yang holistik meliputi perawatan gigi, perawatan
kesehatan, konsultasi gizi, terapi rehabilitasi (terapi fisik dan terapi
kesehatan). Nursing home care dikategorikan menjadi intermediate care dan
long term care (Miller, 2012).

Intermediate care menyediakan perawatan kesehatan bagi residen yang


memiliki penyakit kronis dan memerlukan bantuan dalam memenuhi
kebutuhan harian. Intermediate care berfungsi pada perawatan restoratif.
Residen yang memiliki penyakit kronis memiliki hambatan dalam
memenuhi kebutuhan activity daily living.Perawatan yang ada di
intermediate care dapat meningkatkan kualitas hidup residen dengan
membantu memenuhi kebutuhan ADL (Miller, 2012).

Long term care menyediakan perawatan yang ditujukan bagi lansia yang
memiliki kondisi penyakit kronis seperti demensia. Beberapa penelitian
menyebutkan bahwa keterbatasan fungsi fisik, gangguan kognitif, dan
kebiasaan yang ada pada residen yang mengalami demensia dapat ditangani
dengan baik pada long term care (Cho, Zarit, & Chiriboga, 2009). Adapun
jenis community based service adalah :

2.9.1.1 Adult Day Center


Adult day center merupakan pelayanan harian bagi lansia yang
dependen. Adult day center menyediakan kehidupan sosial dan

xxxvii

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


rekreasi bagi lansia untuk mencegah penurunan fungsi pada
lansia. Layanan lansia ini menyediakan makanan, transportasi,
manajemen medikasi, bantuan perawatan diri, dan pelayanan
kesehatan lainnya yang terkait dengan terapi. Pelayanan pada
adult day care biasanya ada pada hari kerja dan berlangsung
selama delapan jam perhari. Setiap harinya, 5 jam pertama
digunakan untuk program formal, dan 3 jam selanjutnya
digunakan untuk interaksi sosial dan kegiatan yang tidak
tercantum pada kegiatan formal. Tujuan adanya adult day care
adalah untuk meningkatkan kemampuan dan membantu
memenuhi kebutuhan fungsional pada lansia yang memiliki
keterbatasan. Selain itu adult day care berfungsi untuk
meningkatkan kualitas hidup residen (Miller, 2012).

2.9.1.2 Respite Services


Respite services merupakan sarana pelayanan keperawatan lansia
yang bertujuan untuk mengurangi stres pada tangggung jawab
care giver. Hal ini disebutkan pada penelitian yang dilakukan
oleh Miller (1970) bahwa care giver memiliki resiko dalam
meningkatkan isolasi sosial, depresi klinis, distres psikologis,
dan permasalahan terkait dengan pemberi pelayanan kesehatan.
Respite services ditujukan kepada lansia yang tinggal dirumah
dan dirawat oleh anggota keluarga. Tujuan dari respite services
adalah untuk meningkatkan kesejahteraan pemberi pelayanan
lansia (Miller, 2012).

2.9.1.3 Parish Nursing Program


Parish nursing program merupakan pelayanan kesehatan lansia
secara holistik. Parish nursing program menyediakan pelayanan
fisik, emosi, dan kesehatan spiritual berdasarkan agregat dengan

xxxviii

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


berfokus terhadap aktifitas promosi kesehatan seperti screening,
edukasi, dan peningkatan akses ke pelayanan kesehatan. Aktifitas
promosi kesehatan yang ditawarkan oleh parish nursing program
adalah deteksi tekanan darah, edukasi kesehatan mengenai
olahraga, control berat badan, konseling spiritual, dan penurunan
stres (King & Tessaro, 2009).

2.9.1.4 Health Promotion Program


Pelayanan kesehatan lansia saat ini menawarkan edukasi
kesehatan bagi residen dengan memberikan promosi kesehatan.
Promosi kesehatan yang dilakukan adalah deteksi tekanan darah
harian, kursus mengemudi yang aman bagi lansia, manajemen,
edukasi, screening kesehatan, pengkajian medikasi, edukasi
nutrisi, dan manajemen stress (Miller, 2012).

xxxix

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


BAB 3
LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA

3.1 Pengkajian Residen


3.1.1 Identitas Residen
Residen berusia 89 tahun beragama Islam, dengan status pernikahan cerai
dengan suami, pendidikan terakhir sekolah tinggi perawat, dan pekerjaan saat
ini ibu rumah tangga. Suami residen sudah meninggal. Residen mengatakan
lupa berapa lama suami residen sudah meninggal. Residen sering
menyampaikan kenangan-kenangan bersama dengan suaminya dan mengatakan
terkadang ada perasaan rindu ingin bertemu. Sebelum tinggal di Sasana Tresna
Werdha Karya Bhakti Ria Pembangunan Cibubur, residen tinggal di Jalan Otista
III no 12 Kebun Nanas Jakarta Timur. Residen memiliki satu orang anak yang
menikah dengan pria berkebangsaan Belanda.

Residen mengatakan hubungan antar keluarga sangat baik. Residen sangat dekat
dengan anak-anak dan cucunya. Residen memiliki keluarga yang tinggal
disasana yaitu Bapak A. Residen sering mengatakan rindu dengan anaknya yang
tinggal di Belanda. Namun jarak yang jauh dan ongkos pesawat yang mahal
menyebabkan residen dan anakanya tidak bisa bertemu secara rutin.

Residen pernah tinggal di Belanda selama beberapa bulan, dan menolak ajakan
putrinya untuk tinggal di Belanda. Residen mengatakan tidak betah tinggal di
Belanda karena tidak tahan dengan cuaca yang terlalu dingin. Meskipun tinggal
di negara yang berbeda, putri semata wayang residen sering mengunjungi

xl

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


residen secara rutin setahun sekali. Namun, sudah 2 tahun belakanan putri dan
cucu-cucu residen belum mengunjungi residen karena biaya tiket pesawat yang
cukup mahal. Residen mengatakan rindu meskipun mengerti dan tidak
memaksakan anaknya untuk mengunjungi residen secara rutin.

3.1.2 Riwayat Kesehatan Residen


Residen memiliki diagnosa medis Accute Corronary Syndrome. Saat ini residen
mengkonsumsi terapi medis secara rutin yaitu Isosorbid denitrat, Ascordia,
Vascardin, Isodril, Cefadroxil, Alprazolam, dan Ambroxol 3x1. Menurut
residen, perawat Wijaya Kusuma, dan status residen, residen pernah 5 kali
mengalami serangan jantung. Serangan jantung terakhir dialami residen kurang
lebih 1 tahun yang lalu. Serangan jantung terjadi di malam hari. Serangan
jantung yang terakhir merupakan serangan jantung yang paling hebat dan
menyebabkan trauma pada residen. Residen mengatakan cemas nyeri dada
terulang kembali terutama pada malam hari.

Residen sudah menderita penyakit jantung selama 15 tahun. Jika aktifitas berat,
Residen sesak napas, nyeri dada, lelah, dan kaki terasa nyeri saat berjalan jauh.
Residen pada minggu keempat menendang kucing dan kuku kaki mengalami
kerusakan. Residen mengeluh nyeri kaki setelah menendang kucing. Sebelunya,
residen mengeluh nyeri kaki pada malam hari dan saat berjalan. Hal ini juga
mengganggu tidur residen. Nyeri kaki yang dirasakan residen sebelum
menendang kucing yaitu 4 (skala 10), dan setelah menendang kucing menjadi 6
(skala 10). Nyeri dirasakan terutama saat melakukan aktifitas.

Residen memiliki riwayat cephalgia, katarak, dan hipertensi. Ibunda residen


menderita hipertensi. Sedangkan ayahanda residen meninggal karena serangan
jantung. Keluarga diketahui tidak memiliki riwayat Diabetes mellitus.
Pemeriksaan laboratorium terakhir pada bulan januari tahun 2013, hemoglobin
residen menurun (36 mg/dl), eritrosit residen rendah (4,1 mg/dl), asam urat
tinggi (6 mg/dl), dan gula darah puasa residen naik (105). Keluhan residen saat
ini adalah residen mengatakan sulit tidur sejak 6 bulan terakhir dan merasakan

xli

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


nyeri pada jari kaki. Nyeri pada kaki residen mengganggu tidur residen. Selain
itu residen juga sering ketakunan nyeri dada berulang di malam hari. Karena
serangan nyeri dada terakhir terjadi di malam hari.

3.1.3 Aktifitas Residen


Residen sehari-hari makan 2x yaitu pada pagi hari dan siang hari. Porsi makan
residen tidak banyak. Residen biasa makan pagi roti atau havermout dan susu
low fat. Sedangkan disiang hari, lansia biasa makan nasi dengan lauk. Malam
hari lansia menghindari makan nasi untuk menghindari penyakit dan menjaga
bentuk tubuh. Residen minum air putih sebanyak 8 gelas/hari.

Residen mengatakan mengalami gangguan tidur selama 6 bulan terakhir.


Residen mengatakan tidak bisa tidur sama sekali di malam hari. Residen
mengatakan sering terbangun di malam hari dan kesulitan memulai untuk tidur
kembali sampai dengan esok hari. Residen mengatakan tidak puas dan merasa
kualitas tidurnya berkurang karena tidur malam yang tidak sesuai dengan
harapan. Residen tidak mengalami sakit kepala saat bangun tidur. Jumlah jam
tidur malam sekitar 1-2 jam. Residen nampak mengantuk, jarang keluar kamar
diatas jam 12 siang, mata berkantung, kantung mata besar, dan sering menguap.

Residen mengatakan biasa tidur di siang hari pada jam 2 sore sampai dengan
jam 4 sore. Residen merasakan tidur sedikit dirasa sangat kurang dan membuat
residen tidak bisa bangun dengan perasaan segar. Biasanya, residen tidur jam
01.00 malam, dan terbangun pada pukul 01.30 atau 02.00 dan tidak bisa
memulai tidur kembali. Aktifitas residen sebelum tidur adalah menonton
televisi. Residen juga menyalakan lampu saat tidur. residen merasa lemas,
mengantuk, kesulitan untuk konsentrasi.

Residen merupakan lansia yang cukup taat dalam melaksanakan kegiatan


ibadah. Residen selalu shalat lima waktu dan juga melaksanakan ibadah puasa.
Residen mengatakan melaksanakan shalat sunnah seperti dhuha dan tahajud,
namun residen mengatakan tidak pernah mengaji karena tidak bisa membaca al

xlii

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


quran. Residen tidak pernah nampak shalat di mushala. Residen biasa
melaksanakan ibadah di dalam kamar.

Residen tidak mengalami masalah pada pola eliminasi. Residen defekasi


sebanyak satu sampai dengan dua kali sehari. Tidak ada hambatan saat defekasi,
konsistensi lembut dan tidak keras. Residen mengatakan tidak memiliki
hambatan saat miksi. Residen melakukan miksi sebanyak kurang lebih lima
sampai dengan enam kali. Residen tidak mengalami inkontinensia.

Residen merupakan lansia yang aktif mengikuti kegiatan di Sasana Tresna


Werdha Karya Bhakti Ria Pembangunan. Residen biasa mengikuti kegiatan
sehari-hari dengan jadwal kegiatan yang telah ada di STW. Di pagi hari setelah
bangun residen biasa duduk di depan halaman untuk menghirup udara segar.
Kemudiaan menyiram bunga. Residen selalu makan pagi dan mandi pagi
sebelum melakukan aktifitas. Residen juga merupakan lansia yang aktif.
Residen aktif mengikuti kegiatan yang ada di STW seperti senam pagi, terapi
musik, menonton film, dan terkadang residen mengikuti pengajian. Selama
pengkajian, residen memiliki banyak rekan dan saling bercanda gurau.
Hubungan antara residen dengan teman-temannya terjalin dengan baik.

Residen merupakan lansia kedua yang tinggal paling lama di Sasana Tresna
Werdha Karya Bhakti Ria Pembangunan. Residen merupakan lansia yang
dituakan, dan juga dikenal oleh banyak residen lainnya. Residen nampak aktif
dan dekat dengan penghuni wisma Cempaka khususnya. Residen nampak sering
berbincang dan nampak dekat dengan residen lainnya. Pada pukul 13.00 setelah
makan siang residen nampak berbincang dengan opa A atau berbincang dengan
residen lain.

Aktifitas residen setelah makan siang pukul 12.00 tidur siang. Residen biasa
tidur siang selama satu sampai dengan dua jam. Residen mengatakan jumlah
waktu tidurnya saat ini masih belum memenuhi kualitas tidur yang residen
harapkan. Residen membiarkan televisi menyala dan menonton televisi sampai
pagi hari karena sulit memulai dan mempertahankan tidur dimalam hari.

xliii

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


Residen mengatakan badan terasa pegal-pegal. Residen juga mengatakan mudah
lelah saat melakukan aktifitas. Residen mengatakan sukar berkonsentrasi dan
sering mengantuk saat melakukan aktifitas disiang hari. Residen mengatakan
saat bangun tidur merasa tidak segar dan residen mengatakan jumlah waktu
tidur nya sangat kurang. Residen mengatakan sulit memejamkan mata dan
mempertahankan tidur. Residen mengatakan ingin tidur dengan cukup sehingga
disiang hari residen tidak merasa mengantuk.

Residen biasanya menutup pintu diatas pukul 12.00. residen biasa tidur siang di
siang hari. Residen mengatakan tidur selama satu sampai dengan dua jam di
siang hari. Residen mengatakan lebih memilih untuk dapat tertidur nyenyak di
malam hari daripada tertidur di siang hari. Hal ini disebabkan karena residen
ingin lebih bertenaga dan bersemangat saat melakukan aktifitas disiang hari
tanpa ada rasa kantuk.

3.1.4 Keadaan Psikologis


Keadaan emosi residen stabil. Beberapa minggu awal, residen nampak defensif
dengan kedatangan mahasiswa. Residen tidak melakukan kotak mata dan
menolak interaksi dengan mahasiswa. Namun setelah dilakukan pendekatan
selama 3 minggu, residen membuka diri dan menerima kehadiran mahasiswa.
Residen menngatakan khawatir nyeri dada berulang. Karena 5 tahun terakhir
nyeri dada terjadi di malam hari sehingga residen khawatir nyeri dada terjadi
saat malam.

3.1.5 Keadaan Fisik


Secara umum keadaan umum fisik residen cukup baik. Residen selalu nampak
rapi dan tercium harum yang sedap. Tanda tanda vital residen berada pada
keadaan yang baik. Secara umum, keadaan kepala residen baik. Residen tidak
memiliki ketombe dan kebersihannya terjaga dengan baik. Namun, rambut
residen mudah sekali untuk rontok dan rapuh. Residen menggunakan kacamata
konkav dan hanya digunakan saat membaca.

xliv

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


Pada minggu kelima dan minggu keenam, Nampak produksi mukus dengan
warna putih kental. Residen juga nampak terbatuk dan mengeluarkan sputum
berwarna putih bening dan kental. Mukosa mulut Nampak lembabm tidak
Nampak stomatitis, tidak nampak karies gigi. Residen menggunakan gigi palsu,
dan gigi nampak bersih dan terawat dengan baik.

Residen tidak memiliki masalah pedengaran dan tidak terdapat produksi


serumen pada telinga. Residen memiliki hematoma pada pelipis, namun sudah
dilaksanakan operasi pengangkatan. Keadaan leher residen baik, tidak ada
pembesaran kelenjar getah bening. Keadaan dada residen juga baik, tidak ada
tonjolan di payudara kanan dan kiri, serta bentuk putting eksverted dan tidak
nampak produksi cairan dari puting residen. Keadaan paru-paru residen cukup
baik. Bunyi napas vesikuler. Bunyi jantung juga normal tidak ada murmur dan
gallop. Keadaan abdomen residen berada pada kondisi baik. Tidak ada nyeri
tekan, bising usus empat kali permenit, dan tidak ada ascites.

Residen dapat berjalan tanpa menggunakan alat bantu. Residen juga memiliki
resiko jatuh yang rendah. Residen melakukan aktifitas sehari-hari dengan
mandiri tanpa bantuan care giver atau tenaga kesehatan lainnya. Jari kaki
residen terasa nyeri jika berjalan lama dan terasa agak kaku namun hal ini tidak
mengganggu mobilisasi lansia. Tidak ada edema pada ekstremitas residen. Pada
sikut dektra nampak hematoma dan tidak nyeri saat ditekan. Batas hematoma
residen tegas dan tidak menyebar.

Keadaan lingkungan kamar residen nampak kurang rapi. Residen mengatakan


jarang merapikan kamar. Residen mengatakan senang tinggal di Sasana Tresna
Werdha Karya Bhakti Ria Pembangunan karena tidak ada yang mengatur jika
kamar residen tidak rapi. Terdapat 5 meja dengan penyusunan barang tidak
rapih, lantai kamar residen tidak licin namun toilet residen agak licin karena
tidak dialasi sekat untuk mencegah slip. Penerangan kamar nampak redup
meskipun pada malam hari, residen menyalakan lampu saat tertidur. Ventilasi
dan pertukaran udara kamar cukup baik karena jendela kamar selalu dibuka.

xlv

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


3.2 Analisis Data
Analisis diagnosa berdasarkan klasifikasi diagnosa keperawatan Nanda (2012), Nic
Noc, dan Carpenito. Ditemukan dua masalah utama pada residen. Pada masalah yang
pertama, data subjektif yang didapatkan adalah residen mengatakan tidur selama 2
jam setiap harinya, residen tidak bisa tidur di malam hari, residen tidak mampu
mempertahankan tidur, tampak kurang bersemangat, sulit berkonsentrasi, bangun
terlalu pagi, dan residen merasa tidak segar saat bangun pagi, Lansia mengatakan
tidur 2 jam per hari di siang hari, residen merasa lemas saat melakukan aktifitas,
residen juga mengatakan ingin tidur malam sehingga kualitas hidupnya lebih baik dan
di siang hari dapat melakukan aktifitas tanpa ada perasaan mengantuk dan sulit
berkonsentrasi.

Selain data subjektif, data objektif yang ditemukan terkait dengan masalah pertama
adalah residen terlihat lemas saat berjalan, residen menguap, nampak kantung mata
berwarba kehitaman, dan di siang hari residen nampak jarang keluar kamar karena
tidur siang. Berdasarkan data yang didapatkan tersebut, maka masalah keperawatan
pertama yang akan diambil adalah insomnia.

Masalah keperawatan kedua yang ditemukan berdasarkan dengan data subjektif yang
didapatkan dari hasil pengkajian selama 7 minggu adalah residen mengatakan jari kaki
terasa nyeri dan kaku untuk digerakan, residen juga tidak mampu berjalan jauh karena
nyeri, skala nyeri lima, nyeri terasa tidak menyebar hanya di jempol kaki saja, nyeri
muncul terutama saat berjalan kaki, dan residen mengatakan nyeri hilang jika residen
beristirahat. Sedangkan data objektif yang didapatkan adalah, terdapat perubahan gaya
berjalan pada residen, residen nampak kesakitan saat berjalan, residen nampak
memegang kaki saat duduk. Berdasarkan data subjektif dan data objektif yang
didapatkan maka masalah keperawatan kedua yang diangkat adalah dengan diagnosa
keperawatan nyeri.

3.3 Rencana Asuhan Keperawatan

xlvi

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


Rencana asuhan keperawatan pada residen berdasarkan dua diagnosa keperawatan.
Tujuan dari asuhan keperawatan kepada residen telah disesuaikan dengan masing-
masing diagnosis keperawatan yang muncul. Diagnosa pertama yaitu insomnia dengan
tujuan agar setelah dilakukan asuhan keperawatan, residen mampu meningkatkan
pengetahuan mengenai insomnia dan penyebab insomnia, meningkatkan keteraturan
pola tidur dan kualitas tidur residen, dam meningkatkan kenyamanan residen di waktu
tidur.

Rencana asuhan keperawatan yang akan dilakukan berdasarkan diagnosa pertama


adalah melakukan diskusi dengan residen tentang tanda-tanda tidur yang berkualitas
dan masalah kesehatan yang mengganggu residen untuk tidur. Selain dilakukan diskusi
juga dilakukan penentuan waktu tidur residen, membuat jadwal harian. memberikan
anjuran pada residen untuk memonitor pola tidurnya, melakukan identifikasi aktivitas
residen sehari-hari, memberikan motivasi residen untuk memperbanyak aktivitas di
siang hari, memperbanyak asupan cairan di pagi dan siang hari serta mengurangi
asupan cairan di malam hari.

Selain itu pada diagnosa insomnia akan dilakukan peningkatan suasana nyaman pada
lingkungan tidur yang aman dan nyaman seperti lampu yang tidak menyilaukan,
kamar yang bersih dan rapi, dan suasana yang tenang. Selain itu dapat pula dilakukan
diskusi baik dengan residen dan care giver mengenai cara melakukan teknik guided
imagery yang benar, terapi music, backrub atau massage punggung dan relaksasi otot
progresif.

Tindakan kolaborasi yang dilakukan untuk diagnosa insomnia adalah konsultasi


dengan tenaga medis dokter terkait dengan terapi medis yang digunakan. Selain itu,
jika melalui terapi nonfarmakologis tidur residen tidak mengalami perbaikan maka
permintaan kepada dokter terkait dengan terapi farmakologis. Selain itu, kolaborasi
yang akan dilakukan yaitu memberikan edukasi kepada care giver untuk melakukan
terapi jika residen meminta kepada pihak sasana disaat mahasiswa tidak ada.

xlvii

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


Modifikasi lingkungan terhadap lampu yang menyala dan mati di malam hari juga
akan dilakukan.

Pada diagnosa kedua yaitu nyeri, rencana implementasi yang akan dilakukan adalah
melakukan foot massage dan memberikan kompres hangat. Selama dilakukan
pengkajian, keluhan nyeri jarang muncul. Keluhan nyeri kadang dirasakan residen
pada malam hari. Nyeri kembali dirasakan setelah residen menendang kucing.
Pada diagnosa nyeri, tindakan yang akan dilakukan adalah kompres hangat, terapi
relaksasi, melakukan pengkajian lebih dalam mengenai nyeri, latihan napas dalam, dan
stabilisasi kaki. Untuk tindakan kolaborasi, jika nyeri melebihi skala 6 maka terapi
farmakologis diknsultasikan dengan dokter wijaya kusuma.

Selain itu untuk diagnosa nyeri dilakukan pengukuran kemampuan klien dalam
melakukan mobilitas, akan dilakukan reorientasi lingkungan, memberikan anjuran
pada residen mengenai bantuan jika akan melakukan aktivitas yang dirasa kurang
mampu, memberikan penjelasan mengenai bahaya melakukan aktivitas yang dirasa
kurang mampu tanpa meminta bantuan, memberikan bantuan dan berikan latihan fisik
ROM, memberikan lingkungan yang aman, penggunaan alat bantu jalan, sandal, dan
menghindari lantai yang licin, dan memberikan anjuran pada klien untuk
menggunakan handrail di gang, kamar mandi, dan tangga.

3.4 Implementasi
Implementasi untuk diagnosa utama insomnia dilakukan sebanyak satu sampai
dengan dua kali dalam satu minggu. Setiap kali melakukan implementasi, residen dan
mahasiswa melakukan kontrak selama satu jam. Terapi dilaksanakan selama 45
sampai dengan satu jam. Sebelum melakukan implementasi, lingkungan dipersiapkan
dan mahasiswa melakukan cuci tangan. Selama implementasi, suasana kamar dibuat
temaram, dan dilantunkan alunan music yang menenangkan dengan irama lembut.

Minggu pertama pertemuan dengan residen, implementasi belum dapat dilakukan


karena residen menolak kehadiran mahasiswa. Residen menolak kehadiran

xlviii

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


mahasiswa karena residen memiliki mahasiswa kedokteran yang secara rutin
memeriksakan dirinya. Sehingga menurut residen kehadiran mahasiswa keperawatan
tidak diperlukan.

Selama satu minggu mahasiswa melakukan bina hubungan percaya secara intensif
dengan cara melakukan kontak mata, menyentuh punggung residen, menawarkan
memberikan solusi terhadap gangguan kesehatannya, berupaya melakukan
perbincangan dengan residen secara konsisten, menemani residen melakukan
aktifitas, memberikan bantuan ketika residen membutuhkan, maka residen akhirnya
menerima kehadiran mahasiswa pada minggu kedua. Residen terbuka dengan
mahasiswa dan menyampaikan masalah kesehatannya.

Sesuai dengan kontrak yang dilakukan dengan residen di minggu kedua, residen
bersedia untuk diintervensi sebanyak satu sampai dengan dua kali dalam satu minggu.
Implementasi yang telah dilakukan dalam mengatasi diagnosa insomnia adalah
mahasiswa menciptakan lingkungan yang nyaman dengan meredupkan lampu
penerangan saat waktu tidur, mematikan televisi, Memberikan posisi tidur yang
nyaman bagi residen.

Mahasiswa juga memberikan kehangatan dengan selimut sebelum tidur. Mahasiswa


dan residen juga melakukan diskusi terkait dengan penggunaan kafein seperti kopi,
teh, dan coklat di sore dan malam hari. Hal ini dilakukan untuk mengurangi efek
kafein yang membuat residen tetap terjaga dimalam hari. Mahasiswa juga
mengalunkan musik lembut setiap melakukan implementasi. Mahasiswa juga
memberikan susu hangat untuk menciptakan efek relaksasi pada residen terutama
sebelum tidur. Residen dan mahasiwa juga melakukan diskusi terkait dengan jumlah
waktu tidur yang ideal di siang hari yaitu selama 2 jam.

Residen dengan mahasiswa juga berdiskusi terkait dengan aktifitas harian residen
yaitu dengan menghindari aktifitas di malam hari dan meningkatkan aktifitas di siang
hari. Residen juga pernah mandi dengan menggunakan air hangat sebelum tidur.

xlix

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


Selain itu, dalam upaya menciptakan perasaan relax pada residen, mahasiswa telah
melakukan imlementasi dengan memberikan usapan pada punggung, foot massage,
head massage, back massage. Selain itu, selama melakukan implementasi mahasiswa
mengalunkan alunan musik lembut.

Selama enam minggu impelementasi dilakukan, terapi back massage memberikan


efek positif dan relaksasi pada residen. Pada minggu kedua, Mahasiswa menciptakan
kondisi lingkungan yang nyaman untuk dilakukan terapi. Lampu kamar diredupkan,
bantal residen disusun sedemikian rupa sehingga menciptakan kondisi nyaman pada
residen, residen diberikan susu hangat. Musik dengan alunan nada lembut telah
dinyalakan.

Pada minggu ketiga, dilakukan modifikasi lingkungan, pemberian susu hangat, terapi
musik, dan terapi back massage dilakukan kembali. Pada minggu keempat terapi
serupa dilakukan. Mahasiswa mencoba untuk tidak memberikan terapi musik dengan
alunan lembut, namun residen meminta dan mengatakan bahwa alunan musik lembut
membuat dirinya semakin relaksasi. Pada minggu keempat, dilakukan terapi back
massage dengan sentuhan lembut. Selain back massage juga diberikan usapan foot
massage, hand massage, dan head massage.

Pada minggu keempat terapi back massage dilakukan setelah lingkungan dimodifikasi
dengan meredupkan lampu. Residen menggunakan selimut hangat. Selain back
massage juga dilakukan foot massage, head massage, dan hand massage. Pada
minggu kelima, terapi back massage kembali dilakukan. Terapi dilakukan sampai
minggu keenam. Diminggu terakhir dilakukan terapi yang sama dan dilakukan
terminasi. Mahasiswa dari universitas binawan didelegasikan untuk melanjutkan
terapi.

Selama enam minggu dilakukan terapi, setiap minggunya terlihat progres yang
signifikan. Pada minggu pertama terapi dilakukan sudah memberikan efek relaksasi
pada residen. Pada minggu keempat, pola tidur residen terbentuk, residen tertidur

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


pukul sembilan malam. Dan pada minggu terakhir, residen mengatakan mudah untuk
memulai tidur dan mempertahankannya sampai enam sampai dengan delapan jam.

Implementasi yang dilakukan untuk diagnosa kedua yaitu nyeri. Selama empat
minggu, keluhan nyeri jarang terjadi pada residen. Nyeri yang dirasakan oleh residen
yaitu dengan skala lima. Saat nyeri dirasakan residen, mahasiswa memberikan
kompres hangat. Keluhan nyeri pada residen jarang muncul. Keluhan nyeri muncul
pada minggu keempat dan minggu ketujuh. Setelah dilakukan kompres, kaki residen
diistirahatkan.

Selama memberikan implementasi nyeri, tindakan kolaborasi tidak dilakukan. Residen


diberikan kompres hangat, dan stabilisasi kaki. Residen jarang mengeluh nyeri pada
kaki. Selain itu juga diberikan terapi foot massage pada minggu ke lima.

3.5 Evaluasi
Evaluasi merupakan hasil respon dari residen terhadap implementasi yang dilakukan.
Evaluasi dibagi menjadi empat bagian yaitu subjektif yang berisikan data-data yang
dipaparkan oleh residen, sedangkan data objektif adalah data yang ditunjukan melalui
tindakan atau perilaku residen, data analisa adalah analisis terhadap data subjektif,
data objektif, dan implementasi yang dilakukan. Sedangkan perencanaan adalah tindak
lanjut yang akan dilakukan pada residen.

Pada awal pertemuan dengan residen, residen defensif dengan kehadiran mahasiswa.
Pada awal pertemuan, residen tidak ada kontak mata dan menolak untuk melakukan
interaksi dengan mahasiswa. Setelah melakukan upaya membina hubungan saling
percaya selama dua minggu yaitu dengan cara melakukan interaksi dengan konsisten,
memberikan perhatian, dan melakukan kontak mata secara intensif, residen pada
akhirnya menerima kehadiran mahasiswa secara terbuka. Residen menyampaikan
keluhannya saat ini yang mengganggu adalah kesulitan residen untuk memulai dan
mempertahankan tidur. Implementasi diagnosa utama yaitu insomnia dilakukan pada
minggu kedua.

li

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


Setelah melakukan kontrak dengan residen, sesuai dengan kesepakatan antara
mahasiswa dengan residen, residen sepakat untuk dilakukan terapi back massage
sebanyak dua kali dalam satu minggu. Namun, untuk modifikasi lingkungan dan
pemberian susu hangat, residen bersedia dilakukan terapi massage sebanyak satu
sampai dua kali dalam satu minggu.

Residen mengatakan bahwa selama residen tinggal di sasana, baru pertama kali ada
mahasiswa yang masuk ke kamar residen untuk melakukan terapi massage.
Sebelumnya, residen belum pernah diberikan terapi serupa, khususnya dalam
mengatasi masalah gangguan tidur residen. Selanjutnya, pada minggu kedua sesuai
dengan kontrak yang dilakukan antara residen dengan mahasiswa, terapi massage
dilakukan.

Selama enam minggu melakukan implementasi, Mahasiswa menciptakan kondisi


lingkungan yang nyaman untuk dilakukan terapi. Lampu kamar diredupkan, bantal
residen disusun sedemikian rupa sehingga menciptakan kondisi nyaman pada residen,
residen diberikan susu hangat. Musik dengan alunan nada lembut telah dinyalakan.
Sebelum dilakukan tindakan tekanan darah residen 130/90 mmHg. Kemudian terapi
back massage, head massage, dan foot massage dilakukan. Setelah dilakukan terapi
selama kurang lebih satu jam, residen mengatakan merasa mengantuk, merasa rileks,
dan merasa otot menjadi enteng. Setelah dilakukan tindakan tekanan darah residen
selalu turun menjadi 120/80 mmHg. Residen tertidur setelah dilakukan terapi. Residen
juga mengatakan badan enteng dan merasa tenang. Selama dlakukan terapi residen
nampak tertidur pulas.

Setiap pagi di minggu kedua dan keempat evaluasi terhadap tindakan yang telah
dilakukan. Di minggu kedua residen mengatakan dapat tertidur selama 4 jam namun
terbangun sesekali namun residen mengatakan segar saat bangun. Pada hari yang
sama, residen juga nampak aktif mengikuti kegiatan yang ada di sasana tresna werdha.
Residen tidur siang pukul 13.00 setelah makan siang dan bangun pukul 14.00. setelah

lii

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


bangun tidur, residen menyiram bunga dan merapihkan meja di depan kamar residen.
Residen juga nampak berbincang dengan residen lainnya di ruang teras wisma
Cempaka.

Pada minggu keempat setelah implementasi residen mengatakan merasakan relaksasi


yang optimal. Selama dilakukan terapi residen mengatakan mengantuk dan Nampak
tertidur. Residen Nampak rileks dan sulit dibangunkan. Residen mengatakan usapan
lembut namun pasti membuat otot-otot residen menjadi rileks dan nyaman untuk tidur.
Residen mengatakan pijatan menggunakan tenaga membuatnya kurang nyaman.
Tekanan pijatan yang lembut membantu efek relaksasi lebih optimal. Residen
mengatakan, terapi, relaksasi kurang tercipta dengan sempurna. Untuk itu, residen
mengatakan terapi menjadi sangat berkualitas jika aspek lingkungan seperti
penerangan yang redup dengan suara musik yang menenangkan, ditambah dengan
pijatan yang lembut, selimut hangat, dan susu hangat sebelum tidur menciptakan efek
relaksasi yang baik bagi residen.

Perubahan yang signifikan terlihat pada minggu keempat dilakukan evaluasi. Residen
mengatakan dapat tertidur dengan pulas dari pukul 21.00 sampai dengan pukul 03.00.
Residen juga nampak mengikuti kegiatan di sasana tresna werdha. Residen
mengatakan segar saat bangun tidur dan merasa mudah berkonsentrasi. Residen
mengatakan sedih jika mahasiswa UI tidak ada, maka residen akan merasa kehilangan
karena tidak ada yang memberikan pijatan lembut pada residen. Residen nampak
segar, kantung mata berkurang, residen nampak jarang menguap, residen aktif
mengikuti kegiatan, dan residen nampak segar. Terapi massage memberikan efek bagi
peningkatan kualitas tidur residen, maka terapi dilanjutkan sampai minggu keenam.

Pola tidur residen mulai terbentuk pada minggu kelima. Residen mengatakan setiap
hari residen merasa mulai mengantuk pukul delapan malam dan tertidur pada pukul
sepuluh malam sampai dengan pukul empat pagi. Residen mengatakan merasa segar
pada bangun pagi, dan selama melakukan aktifitas di siang hari residen merasa
bersemangat dan tidak mengantuk. Selama dilakukan terapi residen mengatakan,

liii

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


waktu yang dihabiskan untuk tidur siang hanya selama satu jam. Residen mengatakan
merasa segar selama melakukan aktifitas.

Residen mengatakan pola tidur nya setelah dilakukan terapi selama empat minggu
terbentuk. Residen merasa mengantuk pukul delapan malam dan dapat tertidur
nyenyak pada pukul sepuluh malam. Residen dapat tertidur dengan nyenyak tanpa
terbangun. Jika residen terbangun karena ingin buang air kecil residen dapat memulai
tidur dan mempertahankan tidur sampai dengan pagi hari. Residen mengatakan merasa
segar dan dapat berkonsentrasi karena tidur yang cukup. Tidak nampak mata
kehitaman, residen nampak berkonsentrasi saat melakukan aktifitas. Selain itu residen
juga berada diluar kamar diatas jam 12 siang. Residen nampak segar, dan jarang
menguap.

Setelah dilakukan terapi selama enam minggu, sejak terapi di mingu pertama telah
memberikan efek pada residen. Residen mengatakan relaks, mengantuk, dan selama
terapi residen tertidur. Pada minggu ketiga residen dapat tertidur dengan lelap tanpa
terbangun. Residen mengatakan setelah bangun merasa segar dan bersemangat
melakukan aktifitas di pagi hari. Pada minggu keempat residen dapat tertidur dengan
nyaman. Pada minggu keempat pola tidur residen terbentuk. Pada minggu kelima
residen dapat memulai tidur tanpa dilakukan massage. Pada minggu keenam residen
mengatakan merasa puas dengan tidurnya saat ini.
Meskipun terapi tidak dilakukan residen mulai merasa mengantuk pada pukul
Sembilan malam dan tertidur pada pukul sepuluh malam. Pada minggu kelima dan
keenam, residen dapat tertidur dengan lelap pada pukul sepuluh dan bangun pukul
empat atau lima. Residen mengatakan pola tidurnya terbentuk. Selama implementasi
dilakukan tekanan darah residen berada pada rentang normal. Residen juga Nampak
relaks, tertidur, dan tenang saat dilakukan terapi. Residen mengatakn nyaman dan
merasa mengantuk dimalam hari. Residen mengatakan lebih bersemangat melakukan
aktifitas karena waktu tidurnya yang cukup.

liv

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


BAB IV
ANALISIS SITUASI

4.1 Profil Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti Ria Pembangunan


Penduduk lanjut usia di Amerika mengalami peningkatan sejak tahun 1950 sampai
dengan tahun 2000 atau peningkatan sekitar 12,4% dari jumlah populasi (Hetzel &
Smith, 2001). Menurut Eliopoulos (2001), sebanyak 75% lanjut usia yang berusia
diatas 75 tahun membutuhkan bantuan orang lain dan tidak bisa hidup seorang diri.
Pelayanan kesehatan yang berfokus pada lanjut usia diperlukan untuk mengatasi
peningkatan jumlah lanjut usia diatas 65 tahun diseluruh dunia.

lv

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


Pelayanan kesehatan lanjut usia yang dimaksud adalah pelayanan yang memiliki
sarana, prasarana, dan tenaga kesehatan yang memiliki kualitas, pengetahuan, dan
keahlian khusus dalam bidang gerontologi (Mauren, 2010). Untuk itu, kehadiran Sasana
Tresna Werdha Karya Bhakti Ria Pembangunan merupakan solusi bagi lansia untuk
dapat memenuhi kebutuhannya. Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti Ria Pembangunan
membantu kehidupan lansia untuk dapat hidup berkualitas dan bahagia.

Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti Ria Pembangunan merupakan lokasi pemukiman
lansia yang dikelola oleh Yayasan Ria Pembangunan. Yayasan ini dibentuk oleh Ibu Hj.
Siti Hartinah Soeharto. Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti Ria Pembangunan
diresmikan oleh presiden Soeharto pada tanggal 14 Maret 1984. Sasana Tresna Werdha
Karya Bhakti Ria Pembangunan merupakan institusi yang bergerak di bidang pelayanan
kesejahteraan lanjut usia.

Pelayanan yang ada di Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti Ria Pembangunan
bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup lanjut usia. Pelayanan kesehatan yang
diberikan berupa asuhan keperawatan, pelayanan sosial berupa pembinaan mental
spiritual sesuai keyakinan, konsultasi ahli, rawat jalan, rawat inap, rujukan RS dan
kegawatdaruratan, fisioterapi, farmasi senam, seni tradisional (angklung), bernyanyi,
kegiatan keterampilan membuat anyaman atau menyulam, berkebun, dan kegitan BAKI
(bincang-bincang).

Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti Ria Pembangunan menyediakan lahan bagi
residen untuk mengembangkan bakat dan hobi. Sasana juga menyediakan kegiatan
rekreasi. Pelayanan kesehatan harian yang ditawarkan sasana berupa pemeriksaan
kesehatan. Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan adalah pemeriksaan tanda-tanda
vital, pelayanan individu, dan pelayanan kelompok sesuai dengan kebutuhan kesehatan
lansia.

Lanjut usia yang ingin tinggal di sasana memiliki persyaratan khusus. Adapun
persyaratan residen yang ingin menetap di Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti Ria

lvi

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


Pembangunan antara lain berusia lansia yang berusia di atas 60 tahun, sehat jasmani
maupun rohani, mandiri, ingin tinggal di STW atas keinginan sendiri, memiliki
penanggung jawab keluarga, dan yang terpenting adalah tidak ada paksaan dari pihak
manapun. Sasana Tresna Werdha Ria Pembangunan dilengkapi oleh sarana dan
prasarana, antara lain fasilitas hunian, klinik werdha, fasilitas penunjang kesehatan
lansia, dan fasilitas lain yang mendukung.

Fasilitas tempat tinggal yang ada di Sasana meliputi Wisma Bungur kapasitas 25 kamar,
wisma Aster kapasitas 18 kamar VIP, Wisma Cempaka kapasitas 26 kamar, dan Wisma
Dahlia kapasitas 8 kamar. Selain itu, fasilitas klinik residen yaitu di Wijaya Kusuma
adalah memiliki kapasitas 3 kamar VIP, bangsal rawat inap 15 tempat tidur, pelayanan
24 jam.

Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti Ria Pembangunan juga menyediakan fasilitas
hunian lansia antara lain Wisma Soka, Wisma Mawar, Wisma Kamboja, dan Wisma
Kenanga. Setiap wisma dilengkapi dapur, ruang cuci, ruang serba guna, perpustakaan,
pendopo, ruang pemeriksaan kesehatan. Selain itu setiap wisma juga memiliki ruang
makan, ruang rekreasi, dan ruang tamu.

Setiap wisma menyediakan berbagai alat permainan yang dapat digunakan residen
untuk mengisi waktu luang. Wisma juga memiliki taman yang dapat digunakan residen
untuk berkebun. Residen yang dikategorikan tidak mampu melaksanakan aktivitas
sehari-hari secara mandiri memiliki caregiver yang difasilitasi oleh pihak Sasana dan
keluarga residen.

Wisma Cempaka merupakan salah satu ruangan di Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti
Ria Pembangunan. Wisma Cempaka merupakan wisma yang memiliki 26 kamar tidur.
Saat ini jumlah residen di wisma Cempaka berjumlah 19 orang. Jumlah care giver 5
orang, jumlah perawat 2 orang, Jumlah penanggung jawab wisma satu orang.
Pembagian kamar didasarkan pilihan kelas. Terkait dengan kondisi tersebut, maka
residen di wisma Cempaka pun beragam, terdiri dari residen dengan kondisi kesehatan

lvii

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


yang memerlukan bantuan minimal dan partial. Namun di wisma cempaka tidak
terdapat residen yang memerlukan bantuan total.

Wisma Cempaka dipimpin oleh seorang pekerja sosial, beliau bertanggung jawab pada
seluruh residen. Residen yang memerlukan pelayanan kesehatan diarahkan ke klinik
yang terletak di wisma Wijaya Kusuma yang memiliki tenaga perawat 24 jam. Jumlah
perawat di Sasana Tresna Werdha Yayasan Karya Bhakti Ria Pembangunan sebanyak
lima orang dengan tingkat pendidikan perawat DIII. Perawat yang bekerja di Sasana
berada di ruang perawatan Wijaya kusuma saja dan bertanggung jawab untuk seluruh
wisma.

Asuhan keperawatan yang dilakukan pada residen tampak disesuaikan dengan


ketersediaan tenaga dan alat di Sasana Tresna Werdha Yayasan Karya Bhakti Ria
Pembangunan. Perawat sudah melakukan asuhan keperawatan pada residen, namun
terlihat belum optimal dan belum disesuaikan dengan tindakan keperawatan yang khas
pada lansia. Residen di wisma Cempaka memiliki kondisi kesehatan yang beragam,
sehingga penting bagi perawat dan tenaga kesehatan lain untuk meningkatkan
kemampuan menangani residen dengan berbagai diagnosa keperawatan sehingga mutu
pelayanan tetap terjaga.

Salah satu alasan residen tinggal di sasana adalah karena residen ingin dapat
beristirahat dengan tenang selama masa tua dan tidak ada kebisingan kota Jakarta.
Sebelum residen tinggal di sasana, residen tinggal sendiri di rumah. Residen tinggal
seorang diri karena suami residen telah meninggal dunia. Residen memilih tinggal
sendiri di Jakarta dibandingkan tinggal di Belanda bersama anaknya. Residen terkadang
merasa rindu dengan anak yang tinggal di Belanda.

Hadirnya Sasana Tresna Werdha bagi residen (Ibu SS) yaitu dapat membantu residen
untuk meningkatkan koping adaptif dengan banyaknya kegiatan yang tersedia di Sasana
Tresna Werdha Karya Bhakti Ria Pembangunan seperti kegiatan senam lansia, terapi
musik, rekreasi, angklung, kerajinan tangan dan lain sebagainya. Sasana Tresna

lviii

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


Werdha bagi lanjut usia dapat meningkatkan kualitas hidup karena adanya dukungan
dari grup yang memiliki usia yang sama. Residen dapat saling membagi pengalaman,
memberikan dukungan satu sama lain, dan membina hubungan baik dengan sesama
residen.

Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti Ria Pembangunan sebagian besar telah memenuhi
standar internasional nursing home care. Menurut California Nursing Home Care
Standard (2012), Secara umum sasana telah menyediakan sarana dan prasarana yang
dibutuhkan oleh residen. Selain itu terdapat pula perawat yang 24 jam berada di wijaya
kusuma. Namun, jumlah perawat yang ada di wijaya kusuma masih belum memenuhi
kebutuhan residen. Sasana juga menyediakan care giver bagi residen yang partial dan
total care.

Menurut standar nursing home care di California, pengendalian infeksi merupakan


salah satu standar mutu yang harus dipertahankan. Mahasiswa melihat bahwa
pengendalian infeksi di sasana masih belum optimal. Sebelum melakukan tindakan,
perawat nampak jarang melakukan cuci tangan. Namun, screening kesehatan rutin
dilakukan terutama jika residen merasa ada keluhan, residen dapat langsung menuju ke
wijaya kusuma.

Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti Ria Pembangunan telah menyediakan beberapa
fasilitas untuk mencegah jatuh. Setiap lantai licin, terdapat tanda hati-hati berjalan.
Terdapat pegangan pada dinding yang dapat digunakan residen yang berjalan. Residen
yang memiliki resiko jatuh tinggi memiliki tongkat yang difasilitasi oleh sasana. Selain
itu, setiap lokasi yang memiliki tangga kecil, diberikan perbedaan warna untuk
menghindari resiko jatuh. Selain itu, nursing home yang berada di California
memperhatikan kebutuhan diet setiap individu lansia. Karena setiap individu memiliki
kebutuhan nutrisi yang berbeda terkait dengan masalah kesehatannya. Sasana Tresna
Werdha Karya Bhakti Ria Pembangunan masih menerapkan pemberian nutrisi yang
sama bagi seluruh residen California Nursing Home Care Standard (2012).

lix

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


4.2 Analisis Intervensi Masalah Insomnia dengan Konsep dan Penelitian Terkait
Wanita merupakan kelompok jenis kelamin yang rentan mengalami perasaan
kehilangan (Maurer, 2010). Semakin meningkatnya usia, proporsi wanita yang
kehilangan pasangan atau kehilangan anak yang pergi karena menikah sebanyak 33%
(US Bureau Consensus, 2003). Residen merupakan seorang lansia yang tinggal
seorang diri karena anak residen menikah dengan pria berkebangsaan Belanda. Saat
ini anak residen tinggal di Belanda bersama dengan anak-anak dan suaminya.

Residen kerap kali mengatakan kesepian, dan pernah mengatakan rindu dengan
anaknya. Suami residen sudah meninggal dunia. Selama interaksi residen sering
menyebutkan kenangan bersama dengan suaminya. Perasaan kehilangan memicu
krisis kehidupan dan memerlukan dukungan dalam menghadapi kesepiannya.
Keadaan kesepian dapat menyebabkan perasaan marah, bersalah, kesepian, dan
depresi.

Perasaan kesepian merupakan faktor resiko terjadinya depresi (Stuart & Laraia,
2001). Depresi dapat memicu terjadinya gangguan tidur insomnia (Lazarus, 1999).
Insomnia merupakan masalah yang banyak terjadi pada lanjut usia. Insomnia yang
disebabkan oleh depresi, nyeri, dan penyakit kardiovaskuler terjadi pada 5-10% lanjut
usia (Stuart & Laraia, 2001). Meskipun pada kenyataannya, lansia dengan penurunan
kesehatan fisik, nyeri, penyakit kronis, dan penurunan mobilitas memerlukan waktu
untuk tidur yang lebih lama. (Wilson, 1988).

Lanjut usia dengan penurunan kepuasan tidur menunjukan distres. Kelelahan (fatigue)
merupakan keluhan yang biasa disebutkan oleh lanjut usia jika kurang tidur (Stuart &
Laraia, 2001). Hal ini juga ditemukan pada residen yaitu di minggu kedua pengkajian
residen mengeluhkan badan pegal, merasa mudah lelah, dan cepat mengantuk.

Selama tujuh minggu dilakukan implementasi, selain terapi back massage, mahasiswa
melakukan terapi foot massage, head massage, pemberian susu hangat, modifikasi

lx

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


lingkungan, dan terapi musik dalam mengatasi insomnia. Selama dilakukan
implementasi tersebut, terlihat progress yang signifikan selama enam minggu
implementasi. Residen juga mengatakan secara subjektif bahwa semua implementasi
yang dilakukan oleh mahasiswa meningkatkan efek relaksasi yang menimbulkan
keinginan untuk tidur.

Foot massage dengan minyak essensial dapat menurunkan ansietas dan meningkatkan
rasa nyaman pada diri seseorang (Ejindu, 2007). Foot massage yang dilakukan
selama kurang lebih lima sampai dengan tiga puluh menit dapat meningkatkan efek
relaksasi dan kenyamanan (Wilkinson, 1999). Beberapa studi yang menyatakan
bahwa foot massage dapat meningkatkan kualitas tidur seseorang karena efek
relaksasi yang ditimbulkan (Ejindu, 2007).

Penelitian yang dilakukan oleh Hattan (2007) menyebutkan bahwa foot massage
dapat menurunkan sensitifitas refleks baroreseptor. Baroreseptor memiliki fungsi
yang penting karena mengatur tekanan darah (Sherwood, 2010). Beberapa penelitian
menyebutkan bahwa foot massage dapat menurunkan tekanan darah. Penelitian lain
juga menyebutkan hal yang serupa. Penelitian yang dilakukan oleh Frankel (1997)
menyebutkan bahwa foot massage dapat menurunkan tekanan darah, nadi, dan
respiration rate. Vasodilatasi menyebabkan efek relaksasi karena pelebaran pembuluh
darah sehingga aliran darah meningkat. Hal ini dapat menimbulkan efek relaksasi
(Sherwood, 2007).

Head massage merupakan salah satu tipe massage yang paling berperan untuk
mengatasi insomnia (Ejindu, 2007). Penelitian yang dilakukan di Tohoku University
Jepang menyebutkan bahwa facial massage dapat memberikan efek psikologis.
Penelitian yang dilakukan di Universitas Tohoku tersebut menemukan bahwa setelah
dilakukan facial massage responden menyebutkan secara subjektif peningkatan
kualitas tidur.

lxi

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


Penelitian yang dilakukan pada 18 lanjut usia di Inggris menyebutkan bahwa setelah
dilakukan terapi foot massage dan head massage selama masing-masing 20 menit
menunjukan penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik, nadi, dan respiration
rate. Pada penelitian tersebut juga dilakukan modifikasi lingkungan. Modifikasi
lingkungan yang diberikan adalah lampu yang redup, memberikan selimut hangat,
menyalakan kipas angin/air conditioner, dan mengurangi kebisingan. Selain itu
sebelum dilakukan massage residen juga diinstrusikan untuk mengurangi konsumsi
kafein selama empat jam sebelum terapi.

Hal ini sesuai dengan hasil yang ditemukan setelah implementasi pada residen.
tekanan darah sistolik dan diastolik, nadi, dan respiration rate mengalami penurunan
setelah dilakukan massage therpy, modifikasi lingkungan, dan music therapy. Selama
dilakukan terapi, residen tertidur dengan nyenyak dan setelah dilakukan terapi residen
mengatakan sangat rileks, nyaman, dan merasa mengantuk. Setelah dilakukan terapi
residen mengatakan tertidur.

Setelah 4 minggu dilakukan implementasi pola tidur residen terbentuk. Residen


merasa mengantuk pukul delapan malam dan dapat tertidur nyenyak pada pukul
sepuluh malam. Residen dapat tertidur dengan nyenyak tanpa terbangun. Jika residen
terbangun karena ingin buang air kecil residen dapat memulai tidur dan
mempertahankan tidur sampai dengan pagi hari. Residen mengatakan merasa segar
dan dapat berkonsentrasi karena tidur yang cukup.

Residen mengatakan residen sulit memulai tidur karena residen mengatakan merasa
nyeri pada sendi dan khawatir nyeri dada berulang. Foot massage dan head massage
yang dilakukan dapat mengaktifkan sistem gate control. Massage dapat
meningkatkan aktifitas subtansia gelatinosa. Saat massage dilakukan pintu
mekanisme akan menutup dan menyebabkan aktivitas sel T berhenti. Hal ini dapat
menyebabkan hantaran rangsangan nyeri ke sistem saraf pusat pun ikut terhambat.
Substansi gelatinosa yang ada pada bagian ujung dorsal serabut saraf spinal cord
berperan sebagai penutup dan pembuka pintu gerbang. Mekanisme gate control ini

lxii

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


dapat memodifikasi dan merubah sensasi nyeri yang datang sebelum mereka sampai
di korteks serebri (Perry & Potter, 2005).

Selain foot massage, head massage, dan modifikasi lingkungan, mahasiswa juga
memberikan terapi musik selama terapi massage dilakukan. Penelitian yang
dilakukan oleh Fishmer (2012) menyebutkan bahwa terapi musik berkontribusi untuk
meningkatkan kualitas tidur pada lanjut usia. Alunan musik yang lembut dapat
meningkatkan efek relaksasi dan peningkatan waktu pada tahap REM.

Beberapa penelitian merekomendasikan penggunaan terapi nonfarmakologis dalam


mengatasi insomnia (Kozasa et al., 2010). Mendengarkan alunan musik lembut
merupakan salah satu cara yang paling efektif dalam mengatasi insomnia (Morin et
al., 2006). Terapi musik merupakan salah satu terapi yang paling efektif dilakukan
untuk mengurangi stres (Nilsson, 2011). Terapi musik dapat membantu mengurangi
ansietas (Nilsson, 2010). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Lai
(2008) yaitu disebutkan bahwa alunan musik yang lembut dapat mengurangi
kecemasan, stres, dan menurunkan kortisol (Lai et al., 2008a; Nilsson, 2010, 2011).

Survey yang dilakukan di beberapa belahan dunia menunjukan bahwa 40-50% lanjut
usia yang mendengarkan alunan musik lembut sebelum tidur dapat meningkatkan
kuantitas dan kualitas tidur (Furihata et al., 2011). Menurut Morin (2006), terapi
musik yang diberikan pada residen yang mengalami insomnia dapat meningkatkan
kuantitas dan kualitas tidur mereka. Untuk itu solusi yang dapat diintervensi pada
lansia yang mengalami insomnia adalah dengan memberikan terapi musik.

Selain itu, mahasiswa juga memberikan susu hangat dalam menciptakan efek
relaksasi pada residen. Susu mengandung asam amino triptofan yang berfungsi untuk
merangsang tubuh dalam meningkatkan produksi serotonin. Serotonin berfungsi
untuk menimbulkan efek relaksasi dan perasaan tenang pada tubuh. Perasaan tenang
dan relaks yang muncul dapat meningkatkan rasa kantuk. Selain itu, triptofan juga

lxiii

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


menstimulasi tubuh untuk meningkatkan produksi hormon melantonin. Hormon
melantonin diproduksi pada malam hari Potter & Perry, 2005).

Setelah dilakukan implementasi pemberian susu hangat, terapi foot massage, head
massage, dan terapi musik secara signifikan terjadi perubahan kualitas tidur pada
residen. Pola tidur residen terbentuk pada minggu keempat. Residen mengatakan
mulai mengantuk pada pukul delapan dan dapat tertidur pada pukul sepuluh.
Meskipun terbangun karena buang air kecil, residen dapat memulai tertidur. Residen
mengatakan tidurnya berkualitas. Residen mengataan setelah memiliki waktu tidur
malam yang cukup, residen mengatakan jarang merasa mengantuk disiang hari.
Residen mengatakan lebih mudah berkonsentrasi, dan residen lebih bersemangat saat
melakukan aktifitas.

4.3 Analisis Konsep dengan Intervensi Kasus


Mahasiswa melihat efektifitas terapi back massage dalam mengatasi insomnia residen.
Selama tujuh minggu, Residen diberikan terapi back massage. Pada evaluasi subjektif
residen melaporkan kejadian peningkatan kualitas tidur setelah terapi. Secara objektif
teridentifikasi peningkatan kuantitas tidur residen. Hal ini sesuai dengan penelitian
yang dilakukan oleh Anna Ejindu (2007) yaitu terapi back massage dapat
meningkatkan relaksasi. Relaksasi yang baik dapat menstimulasi perasaan kantuk dan
membantu seseorang untuk memulai tidur pada tahap REM 1 menuju tahap REM 2.

Residen mengatakan merasakan khawatir dan cemas sebelum tidur karena takut
serangan nyeri dada terulang kembali di malam hari. Residen mengatakan bahwa
nyeri dada terakhir terjadi di malam hari beberapa tahun yang lalu. Pada saat itu
residen kesulitan meminta pertolongan karena lokasi wijaya kusuma yang cukup jauh
dari wisma cempaka. Hal ini menimbulkan perasaan takut dan trauma pada residen
terutama saat sebelum tidur. Perasaan cemas dan takut dimalam hari yang muncul ini
dapat mempengaruhi sistem saraf pusat untuk meningkatkan produksi hormon kortisol
dan norepinefrin dalam darah. (Perry & Potter, 2005).

lxiv

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


Ketika residen berada dalam keadaan takut dan cemas maka hormon norepinefrin akan
diproduksi. Kadar hormon norepinefrin yang tinggi dapat menyebabkan penurunan
kualitas tidur pada tahap NREM dan tahap REM (Perry & Potter, 2005). Pada
penjelasan di Bab II jelas disebutkan bahwa tahap REM memiliki fungsi paling vital.
Dimana pada REM, proses pemulihan tubuh terjadi. Salah satunya adalah untuk
meningkatkan konsentrasi dan perasaan segar saat beraktifitas disiang hari (Kozier,
2004).

Saat tahap REM terjadi, maka seluruh fungsi tubuh akan mengalami turned off.
Keadaan ini merupakan salah satu cara kerja tubuh untuk merelaksasi seluruh otot dari
ketegangan. Selain itu, pada tahap ini juga akan diproduksi sel darah merah yang
berfungsi sebagai pengikat oksigen. Kualitas tidur yang baik ditunjukan dengan
ada/tidaknya tahap REM seseorang. Tahap REM sendiri merupakan tahap terdalam
dalam tidur. Dimana seseorang akan merasakan kehilangan kesadaran secara penuh
dan sulit dibangunkan karena berada pada tahap tidur paling dalam (Perry & Potter,
2005).

Gerakan back massage dapat menstimulasi peningkatan produksi hormon serotonin


dan melantonin. Hormon serotonin berfungsi untuk menimbulkan efek relaksasi dan
perasaan tenang pada tubuh. Sedangkan melantonin banyak diproduksi pada malam
hari. Melantonin meningkatkan perasaan tenang dan mengantuk. Perasaan tenang dan
relaks yang muncul dapat meningkatkan rasa kantuk (Potter & Perry, 2005).

Gerakan back massage effleuredge dan gerakan yang lembut, tegas, dan menyentuh
kulit residen. Efek gerakan massage yang ditimbulkan yaitu dapat meningkatkan
kenyamanan residen (Cronfalk et al., 2009), perasaan senang (Bergsten, et.al., 2005),
dan relaksasi (Billhult, 2009). Aspek emosi yang dapat timbul setelah gerakan
massage adalah perasaan positif. Perasaan positif timbul dari aktifasi emosi positif
yang diatur oleh sistem saraf pusat (Olausson, 2008). Gerakan dan sentuhan lembut
massage dapat menstimulasi perasaan relaksasi yang diatur oleh sistem nervus otonom
(Sincair, 2005). Perasaan nyaman dan positif dapat meningkatkan perasaan kantuk dan

lxv

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


memberikan efek relaksasi untuk dapat memulai tidur (Lindgren, 2010). Coles (2009)
menyebutkan bahwa kekuatan sentuhan massage dapat meningkatkan efek
kenyamanan dan stabilitas.

Sinclair (2005) menyebutkan, manfaat terapi back massage adalah untuk merelaksasi
otot, melemaskan otot dan jaringan penghubung, meningkatkan aliran darah vena dan
aliran limpe, mengurangi nyeri, menurunkan tekanan darah, meningkatkan relaksasi
dalam, peningkatan produksi hormone serotonin, menstimulasi aliran cairan
serebrospinal, meningkatkan fungsi imun, menurunkan ansietas dan depresi. Sinclair
(2005) juga menyebutkan bahwa back massage dapat mengurangi kejadian insomnia.

Gerakan massage dapat menstimulasi aliran sirkulasi darah (Sinclair, 2005).


Peningkatan sirkulasi dapat diidentifikasi dengan peningkatan suhu pada area yang di
massage. Pada area yang dilakukan massage temperature kulit teraba lebih hangat.
Gerakan massage dapat meningkatkan sirkulasi kelenjar limfa. Selain itu, gerakan
massage juga dapat menstimulasi aliran cairan serebrospinal.
Touch Research Istitute (2005) juga menyebutkan bahwa gerakan massage dapat
menstimulasi hormon penyerapan makanan seperti gastrin dan insulin. Gerakan
effleuredge menstimulasi produksi kadar hormone kortisol. Kortisol merupakan
hormon yang menciptakan homeostasis tubuh saat seseorang mengalami stres
(Sinclair, 2005).

Penelitian yang dilakukan oleh Anna Ejindu (2007) terhadap 18 lansia di Inggris
menyebutkan bahwa, terapi back massage dapat menurunkan ansietas. Efek relaksasi
yang ditimbulkan dari gerakan massage menstimulasi tubuh untuk mengirimkan pesan
kepada baroreseptor untuk melakukan vasodilatasi. Ansietas dapat menurun setelah
terapi karena setelah massage ditemukan terjadi penurunan tekanan darah, nadi, dan
respiration rate. Untuk itu, setelah massage, aliran darah menjadi lebih lancar dan
distribusi nutrisi keseluruh tubuh menjadi lebih optimal (Guyton, 2000). Kenyamanan
untuk tidur juga dapat dipengaruhi oleh nyeri (Perry & Potter, 2005).

lxvi

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


Residen mengatakan merasakan nyeri pada kaki terutama saat berjalan dan dimalam
hari. Data yang ditemukan pada medical record, Residen memiliki kadar asam urat 6
mg/dl. Selain itu, residen pernah menendang kucing dan merasakan nyeri pada kaki
terutama saat digerakan. Gerakan massage dapat membantu menahan gerakan impuls
nyeri ke sistem saraf pusat. Massage therapy dapat membantu melepaskan
neurotransmiter penghambat nyeri. Massage yang dilakukan dapat menstimulasi
mekanoreseptor untuk memproduksi endogen seperti endorphin dan dinorfin. Endorfin
dan dinorfin dapat menghilangkan persepsi nyeri pada seseorang (Potter & Perry,
2005).

Selain itu, pada medula spinalis terdapat mekanisme neural yang berfungsi sebagai
gerbang. Mekanisme neural ini berfungsi untuk mengatur rangsangan nyeri dari saraf
perifer ke Sistem Saraf Pusat. Hantaran rangsangan nyeri dari serabut aferen perifer ke
sel transmisi medula spinalis diatur oleh mekanisme gate control di cornu dorsalis.
Teori gate control menyebutkan bahwa untuk mengurangi nyeri maka hantaran nyeri
ke sistem saraf pusat dapat dihambat dengan gerakan massage (Perry & Potter, 2005).
Jika nyeri berkurang maka kenyamanan akan tercipta dan residen dapat tertidur
dengan nyenyak.

4.4 Alternatif Pemecahan Masalah dan Rencana Tindak Lanjut


Terapi farmakologis merupakan salah satu solusi terapi yang dapat digunakan untuk
mengurangi kejadian insomnia pada lansia. Namun efek dan dampak negatif dari
terapi farmakologis dapat dihindari, jika pelaksanaan terapi alternatif dilakukan secara
konsisten. Selain melakukan terapi back massage, head massage, foot massage,
pemberian susu hangat, terapi musik, dan modifikasi lingkungan (lampu yang redup
dan pemberian selimut) terdapat beberapa alternatif pemecahan masalah yang dapat
dilakukan dalam mengatasi insomnia.

Menurut Avidan (2011) peningkatan kualitas dan kuantitas tidur pada residen yang
mengalami insomnia dapat dilakukan dengan pemberian edukasi terkait dengan

lxvii

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


kebiasaan higienitas. Elemen dasar untuk peningkatan kuantitas tidur adalah dengan
memberikan edukasi pada residen untuk membatasi tidur siang. Tidur siang dapat
dilakukan selama kurang lebih 30 menit. Selain itu, residen juga diinformasikan untuk
mengurangi konsumsi air sebelum tidur, mempertahankan kebiasaan tidur harian, dan
mengurangi pencahayaan saat tidur.

Residen juga diinformasikan untuk pergi ke tempat tidur hanya pada saat residen
merasa mengantuk saja. Pada siang hari residen diinformasikan untuk menghindari
tempat tidur dan diinstruksikan untuk melakukan aktifitas diluar kamar. Jika residen
tidak merasa mengantuk setelah 20 menit berbaring ditempat tidur maka residen dapat
beranjak dari tempat tidur dan melakukan aktifitas yang menenangkan seperti
membaca buku, melakukan teknik napas dalam, atau teknik relaksasi. Residen juga
diinformasikan untuk tidak melihat jam saat tidur (Avidan, 2011). Residen juga
diberikan edukasi untuk menghindari rokok, kafein, dan alkohol sebelum tidur.

Selain itu, menurut penelitian yang dilakukan oleh Fismer (2012), aromaterapi
merupakan terapi alternatif yang popular digunakan di Inggris. Inhalasi aroma
lavender berupa spray yang disemprotkan diruangan, lotion yang digunakan ditangan,
atau berupa oil/essence yang dibubuhkan pada bantal dapat memberikan efek
psikologis. Aromaterapi dapat memberikan efek sedatif yang memberikan stimulasi
pada Gama Aminobutyric Acid (GABA).

GABA menstimulasi neurotransmitter dalam memberikan efek depresan. Untuk itu,


aromaterapi dapat membantu meningkatkan kenyamanan dalam menciptakan suasana
tidur yang kondusif. Selain itu, arIbu SSerapi tidak memiliki efek samping sehingga
aman untuk digunakan sehari-hari (Fismer, 2012).

Selain aromaterapi dan edukasi, Penelitian yang dilakukan oleh Huang et al (2005)
menyebutkan bahwa terapi akupuntur dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas tidur
seseorang. Akupuntur merupakan sistem medikasi independen yang dikembangkan
oleh pengobatan Cina selama 3000 tahun berdasarkan pengaruh teori filosofi Cina

lxviii

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


seperti yin dan yang dan five elements. Teknik akupuntur dasar yang dilakukan adalah
dengan cara memasukan jarum kedalam titik akupuntur. Akupuntur dapat mengontrol
sirkulasi vaskuler sehingga menstimulasi tubuh untuk produksi melantonin dan
serotonin secara optimal. Penelitian yang dilakukan di Emiry University di Atlanta
menunjukan bahwa residen yang mengalami insomnia dan diberikan terapi akupuntur
menunjukan peningkatan kuantitas dan kualitas tidur (Huang, 2005).

Selain itu Sasana Tresna Werdha dapat meningkatkan fasilitas terapi tidur bagi residen
dengan menyediakan pengeras suara pada masing-masing wisma. Pengeras suara
tersebut diperlukan untuk memberikan informasi pada lansia terkait dengan waktu
tidur. Sasana dapat membentuk pola tidur residen dengan memberikan informasi
kepada lansia serentak pada pukul 21.00 untuk mematikan lampu karena waktu tidur
sudah tiba. Selain itu, dapat pula diputarkan alunan musik yang lembut untuk
menciptakan efek relaksasi residen di malam hari.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Gangguan tidur pada lansia dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti berkurangnya
aktifitas, pensiun, perubahan pola sosial, kematian pasangan, peningkatan
penggunaan obat-obatan, penyakit yang didapatkan, dan perubahan pola irama
sirkadian. Meskipun gangguan tidur merupakan hal yang normal pada lanjut usia,
namun kejadian gangguan tidur dianggap sebagai proses patologis yang menyertai
penuaan. Salah satu gangguan tidur yang banyak terjadi pada lansia di berbagai
belahan dunia adalah insomnia. Insomnia merupakan gejala yang dialami oleh
seseorang yang mengalami kesulitan untuk tidur, sering terbangun dari tidur, dan
mengalami tidur yang singkat.

lxix

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


Sasana Tresna Werdha Karya Bhakti Ria Pembangunan merupakan solusi bagi lanjut
usia dalam meningkatkan kualitas hidup lanjut usia. Residen (Ibu SS) merupakan
salah satu penghuni sasana. Residen memiliki gangguan tidur insomnia sejak enam
bulan yang lalu. Residen mengkonsumsi obat-obatan jantung namun terapi
farmakologis untuk mengatasi insomnia belum pernah diberikan. Selama 6 minggu,
residen diberikan terapi back massage merupakan terapi inovasi dalam mengatasi
insomnia residen. Selain terapi back massage juga dilakukan foot massage, dan head
massage. Selain itu, selama dilakukan terapi modifikasi lingkungan, pemberian susu,
danterapi musik. Selama enam minggu dilakukan implementasi pola tidur residen
terbentuk dan implementasi yang dilakukan memberikan efek yang optimal dalam
mengatasi insomnia residen.

Beberapa penelitian menyebutkan tindakan keperawatan seperti back massage, foot


therapy, head massage, modifikasi lingkungan, dan pemberian susu hangat dapat
memberikan efek sedatif. Efek sedatif ditimbulkan dari peningkatan hormon
serotonin dan peningkatan produksi melantonin. Efek sedatif memberikan stimulasi
relaksasi. Relaksasi dapat membantu meningkatkan kualitas dan kuantitas tidur
seseorang.

Penelitian yang dilakukan dibeberapa belahan dunia sebelumnya telah melakukan


percobaan pada responden terkait dengan terapi tidur tersebut. Hasil dari penelitian
sebelumnya diiimplementasikan oleh mahasiswa dalam mengatasi masalah insomnia
Ibu SS. dari aplikasi tersebut terlihat bahwa terapi back massage, foot massage, head
massage, modifikasi lingkungan, dan pemberian susu hangat memberikan efek sedatif
pada residen. Selama tujuh minggu praktek secara konsisten sebanyak dua kali dalam
satu minggu terapi dilakukan. Setelah empat minggu impelemtasi pola tidur dan
relaksasi residen dapat terbentuk dengan optimal.

1.1 Saran

lxx

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


Penulis menyarankan kepada mahasiswa yang akan melakukan praktek di Sasana
Tresna Werdha khususnya wisma cempaka untuk melanjutkan implementasi dalam
mengatasi insomnia pada Ibu SS. Batasan waktu praktek yaitu selama tujuh minggu
menyebabkan implementasi dalam mengatasi insomnia masih belum sepenuhnya
optimal. Implementasi yang dilakukan seharusnya dalam jangka waktu yang panjang
sehingga memberikan efek yang lebih optimal.

Selain itu, mahasiswa harus lebih teliti dan lebih objektif dalam mengidentifikasi
masalah gangguan tidur residen. Data subjektif yang diungkapkan lansia tidak cukup
untuk menegakan diagnosa insomnia. Untuk itu, pemeriksaan fisik, pengkajian
menggunakan kuesioner insomnia, dan observasi lansia secara intensif perlu
dilakukan oleh mahasiswa dalam menegakan diagnosa gangguan tidur. Penulis juga
menyarankan untuk melakukan direct care pada residen yang mengalami insomnia
dengan masalah demensia. Hal ini dikarenakan tidak optimalnya efek pemberian
pendidikan kesehatan pada residen dengan demensia.

lxxi

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


Daftar Pustaka

American Insomnia Association. 2002. American Insomnia Association treatment


Available online at http//www.americaninsomniaassociation.org. (diakses 27
Februari 2008).

Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, Edisi IV. Jakarta.
Rineka Cipta Benson, H.M.D. 2000. Dasar-dasar Respon.

Bain, Kevin. (2006). Management of Chronic Insomnia in Elderly Person. The American
Journal of Geriatric Pharmacotherapy. Available online at www.elsevier.com.

Bakr, Iman. (2012). Insomnia in Institutionalized Older People in Cairo, Egypt. European
Geriatric Medicine. Available online at www.sciencedirect.com.

Benson, H.M.D. 2000. Dasar-dasar Respon Relaksasi: Bagaimana menggabungkan respon


Relaksasi dengan Keyakinan Pribadi Anda. Bandung. Mizan.

Castle, S.M. 2001. Learning How to Relaks. Available online at http//www.relax.com


(diakses 27 Februari 2008).

Davis, M, Eshelman, E.R dan Matthew Mckay. 1995. Panduan Relaksasi dan Reduksi Stres
Edisi III. Alih Bahasa: Budi Ana Keliat dan Achir Yani. Jakarta. Penerbit Buku
Kedokteran EGC.

Diahwati, D. 2001. Serba- Serbi Manfaat dan Gangguan Tidur. Bandung. Pionir Jaya.

lxxii

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


Dinas Sosial, 2003. Pedoman Pelaksanaan Pelayanan Kesejahteraan Sosial Lanjut
Usia Melalui BPSTW/Instalasi. Bandung. BPSTW Ciparay.

Fishmer, Kate. (2012). Lavender and Sleep : A Systematic Review of The Evidence.
European Journal Interogative Medicine. Available online at
www.elsevier.com/eujim

Friedman, M.M.1998. Keperawatan Keluarga Teori dan Praktik Edisi 3. Jakarta. Penerbit
Buku Kedokteran EGC.

Guyton dan Hall. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9. Jakarta. Penerbit Buku
Kedokteran EGC . Hurlock, Elizabeth B. 1997. Psikologi Perkembangan. Jakarta.
EGC.

Henderson S, Jorm AF. (1995). Insomnia in Elderly. 162 : 22-4.

Hurlock, Elizabeth B. 1997. Psikologi Perkembangan. Jakarta. EGC .

Huang, Wei. (2009). A Systematic Review of The Effects of Acupuncture in Treating


Insomnia. Sleep Medicine Review. Available online at www.elsevier.com/locate/smrv

Iskandar, Y. dan Setyonegoro. 1985. Psikiatri Biologi Vol III Diagnosa dan Terapi dari
Insomnia. Jakarta. Yayasan Dharma Graha.

Jacobson, J. (2009). The nightmares of puerto ricans: an embodied


altered states of consciousness perspective. Journal of Psychiatry, 33, 266
289.

Kaplan, Robert, M dan P. Sacuzzo, Dennis. 1993. Psycological Testing Principles,


Aplication and Issue. Third Edition. California. Brocks/Cole Publishing Company.

Kaplan dan Sadock. 1997. Sinopsis Psikiatri: Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatris Klinis
Edisi Ketujuh Jilid Dua. Jakarta. Binarupa Aksara.

th
Kozier, Barbara, etc.(1995). Fundamental of nursing: concepts, process, and practice. (5
ed). California: Addison Wesley Company.
rd
Kryger MH. (2002) Principles and practice of sleep medicine. 3 ed. Philadelphia: WB
Saunders.

lxxiii

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


Kusnanto. 2004. Pengantar Profesi dan Praktek Keperawatan Profesional. Jakarta. Penerbit
Buku Kedokteran EGC.

Lazarus, Richard. (1999). Stress and emotion. New York: Springer.

Lichstein, KL., Johnson, RS. 1993. Relaxation for Insomnia and Hypnotic Medication Use
in Older Women. Available online at http//www.mayday.coh.org (diakses 2
Februari 2008).

Lueckenotte, A.G. 1996. Gerontological Nursing. Philadelphia. Mosby Year Book Mentz.
2003. Relaxation Therapy. Available online at http//www.mayday.coh.org (diakses
2 Februari 2008) Miltenberger. 2004. Relaksasi. Available online at
http//www.eworld-indonesia.com (diakses 2 Februari 2008)

Mentz. 2003. Relaxation Therapy. Available online at http//www.mayday.coh.org (diakses 2


Februari 2008)

Miltenberger. 2004. Relaksasi. Available online at http//www.eworld-indonesia.com


(diakses 2 Februari 2008)

Notoadmodjo, S. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta. Rineka Cipta. Nugroho,


W. 2002. Keperawatan Gerontik. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC
Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.
Jakarta. Penerbit Salemba Medika
Nunes J, Jean-Louis G, Zizi F, et al. (2008). Sleep Duration among Black and White
Americans: Results of the National Health Interview Survey. J Natl Med Assoc,
100:317-322.

Potter, P.A. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan Praktik edisi
Empat Volume 2. Jakarta. EGC

Power, Mick. (1999). Handbook of cognition and emotion. UK: Wiley


Lee, E. K.

Prawitasari, J.E., 1998. Pengaruh Relaksasi Terhadap Keluhan Fisik. Available online at
http// klinis.wordpress.com.(diakses 5 Maret 2008) Prasadja, A.A. 2005. Sleep
Disorder Clinic. Available online at http// www.relaxation.org (diakses 10 Maret
2008)

Purba. 2002. Kardiovaskular dan Faal Olahraga. Bandung. Balai Penerbit


Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

lxxiv

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013


Shah N, Bang A, Bhagat A. (2010). Indian research on sleep disorders. Indian J Psychiatry,
52, 255-259.

Taylor, C. et al. 1997. Fundamental of Nursing : The Art and Science of Nursing Care (3rd
Ed). St. Louis. Mosby Lippincotl. Raven Publisher

Young, Ryan. (2005). The Effect of Effleuredge Massage in Recovery Fatigue. Available
online at www.elsevier.com

lxxv

Analisis praktik..., Ruby Larasaty, FIK UI, 2013