Anda di halaman 1dari 12

TUGAS PROYEKSI PETA

Visualisasi Indikator Tissot

Disusun Oleh :
Herning Ivan Sabastian
15/379923/TK/43188

DEPARTEMEN TEKNIK GEODESI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2017
LANGKAH KERJA

1. Mendownload shapefile dan template indikator Tissot daerah yang akan di visualisasikan
distorsinya di blog ArcGIS
2. Membuka software ArcMap 10.3.

3. Melakukan input data file shp dengan cara Add Data


4. Melakukan buffer pada titik perpotongan antara longitude dan latitude. Sehingga membentuk
sebuah luasan (lingkaran) dengan cara memilih ArcToolbox > Analysis Tools > Proximity >
Buffer
5. Mengubah sistem proyeksi yang dipakai, dengan cara klik view > data frame properties. Lalu
pilih tab coordinate system.

6. Pilih projected coordinate system , lalu apply pada file .Shp dan template indikator tissot yang
telah di inputkan

7. Mencoba beberapa system proyeksi (world) seperti Polyconic, Mercator, Robinson,


Stereographic, Sinusoidal, Mollweide, dll.
8. Lakukan langkah 1 7 untuk 2 file shp dengan area yang berbeda.
JAWABAN

a. Untuk setiap jenis proyeksi peta yang Anda pilih, jelaskan sifat yang dipertahankan
dari proyeksi tersebut (konform, ekuidistan, atau ekuivalen).

1. Polyconic
Lokasi : Seluruh Dunia

Lokasi : Russia

Proyeksi Polyconic memiliki sifat konformal, Ekuivalen, dan Ekuidistan pada daerah meridian
Greenwich. Semakin menjauhi meridian Greenwich, nilai distorsi semakin besar. Terlihat pada
gambar lingkaran indikator Tissot yang berubah bentuk, arah, maupun luasnya.
2. Mercator
Lokasi : Seluruh Dunia

Lokasi : Benua Russia


Proyeksi Mercator memiliki sifat konformal. Yakni sudut pada bidang datum akan sama
dengan sudut pada bidang proyeksi. Hal ini dibuktikan dengan gambar lingkaran indikator
Tissot yang akan tetap berbentuk lingkaran.
Namun semakin ke kutub atau semakin menjauhi ekuator, ukuran luas dari lingkaran
tissotnya berubah (membesar) yang berarti semakin ke kutub semakin besar distorsi luasnya.
Mercator dianggap cocok digunakan negara-negara di sekitar ekuator

3. Robinson
Lokasi : Seluruh Dunia

Lokasi : Benua Russia


Proyeksi Robinson memiliki sifat konformal, ekuivalen, dan ekuidistan pada garis Ekuator
saja. Semakin jauh dari Ekuator ke arah Kutub Utara dan Kutub Selatan, distorsi bentuk, luas,
dan jarak akan semakin besar. Namun untuk ke arah barat dan timur distorsi yang terjadi adalah
luas, jarak, sudut, dan ditambah arah. Terlihat adanya perubahan orientasi gambar indikator
Tissot.

4. Stereographic
Lokasi ; Seluruh Dunia

Lokasi : benua Russia


Proyeksi Stereographic memiliki sifat konformal. Yang artinya bentuk atau sudut pada seluruh
bidang proyeksi sama dengan bidang datum. Sifat ekuidistan dan ekuivalen hanya berlaku pada
origin yakni di perpotongan meridian nol (Greenwich) dengan ekuator. Semakin menjauhi titik
tersebut, maka distorsi luas dan jarak akan semakin besar. Terlihat pada gambar lingkaran yang
semakin membesar ukurannya jika menjauhi titik origin.

5. Sinusoidal
Lokasi : Seluruh Dunia

Lokasi : benua Russia


Proyeksi Sinusoidal memiliki sifat ekuivalen (mempertahankan luas). Dapat dibuktikan
dengan menghitung luas lingkaran dan ellips di tempat yang berbeda dengan bentuk berbeda.
Semakin menjauhi ekuator kearah selatan dan utara maka distorsi sudut dan jarak akan semakin
besar.

6. Bonne
Lokasi : Seluruh Dunia

Lokasi : Benua Russia


Proyeksi Bonne memiliki sifat ekuivalen (mempertahankan luas). Dapat dibuktikan dengan
menghitung luas lingkaran dan ellips di tempat yang berbeda dengan bentuk berbeda. Kondisi
ekuidistan dan conform berada hanya pada perotongan meridian Greenwich dan lintang tinggi.
Sekitar 80 derajat lintang utara dan di sepanjang lintang tinggi tersebut. Sehingga dapat
disimpulkan penggunaan system proyeksi ini hanya cocok pada daerah utara bumi seperti
rusia, RRC, dll.

b. Bedasarkan konsep apakah ArcGIS dalam membuat indikator Tissot? Kenapa hal
tersebut dapat dilakukan?
ArcGIS dapat membuat indikator Tissot karena bentuk dan geometri dari lingkaran
yang didapat dari hasil buffer titik-titik pertemuan longitude dan latitude memiliki nilai
yang mendefinisikan sumbu salib utama. Karena titik-titik perpotongan tersebut telah
diproyeksikan dengan model matematis tertentu, pada suatu sistem koordinat dan
menggunakan sistem proyeksi tertentu, maka terjadi perubahan (distorsi) yang dapat
dimodelkan oleh template indikator Tissot yang telah dibuat. Permodelan tersebut didapat
dari nilai faktor skala dan orientasi dari garis-garis parameter utama yaitu garis paralel
dan garis meridian. Sehingga dari proyeksi sat uke proyeksi yang lain dapat diketahui
indikator tissotnya, sehingga dapat disimpulkan apakah proyeksi tersebut bersifat
ekuidistan, ekuivalen, ataukah konform.

c. Untuk jenis proyeksi peta yang bersifat konform, jelaskan pola spasial dari indikator
Tissot yang terjadi (baik bentuk, ukuran, maupun orientasinya).

Konform memiliki bentuk yang sama. Sedangkan ukuran dan orientasinya berubah.
Indikator Tissot yang terjadi adalah jika nilai factor skala sepanjang meridian 0 sama
dengan factor skala sepanjang meridian 90 (m0 = m90 ).

d. Untuk jenis proyeksi peta yang bersifat ekuivalen, jelaskan pola spasial dari
indikator Tissot yang terjadi (baik bentuk, ukuran, maupun orientasinya).
Untuk ekuivalen yang dipertahankan adalah luas. Berarti bentuk, ukuran, dan
orientasinya bisa saja berubah. Indikator tissotnya jika Factor skala meridian 0 dikali
dengan factor skala meridian 90 akan sama dengan 1 (m0 x m90 = 1). Sehingga akan terjadi
perubahan bentuk bola menjadi ellips.

e. Berikan komentar atau kesimpulan Anda terhadap hasil tugas ini!


Tiap tiap proyeksi peta memiliki karakter yang unik. masing-masing memiliki
salah satu sifat ekuidistan, ekuivalen, atau konform yang cocok pada daerah tertentu saja.
Daerah yang yang dianggap cocok dengan suatu proyeksi peta tertentu memiliki sifat
ekuidistan, konform, dan ekuivalen (atau yang mendekati) pada daerah tersebut. Misalnya
untuk daerah ekuator lebih cocok menggunakan Mercator.