Anda di halaman 1dari 19

Trikomoniasis

A. Definisi
Trikomoniasis merupakan infeksi saluran urogenital bagian bawah pada
wanita maupum pria, dapat bersifat akut atau kronik, disebabkan oleh
Trichomonas vaginalis dan penularannya biasanya melalui hubungan seksual
( Daili, 2009).

B. Etiologi
Penyebab trikomoniasis ialah Trichomonas vaginalis yang pertama kali
ditemukan oleh Donne pada tahun 1836. Merupakan falgelata berbentuk
filiformis, berukuran 15-18 mikron, mempunyai 4 flagela, dan bergerak seperti
gelombang ( Daili, 2009).
Parasit ini berkembang biak secara belah pasang memanjang dan dapat hidup

dalam suasana Ph 5-7,5. Pada suhu 50 akan mati dalam beberapa menit, tetapi

pada suhu 0 dapat bertahan sampai 5 hari ( Daili, 2009).

Ada dua spesies lainnya yang dapat ditemukan pada manusia, yaitu T. tenax
yang hidup di rongga mulut serta kadang di paru-paru dan Pentatrichomonas
hominis yang hidup dalam kolon/usus, yang dianggap tidak pathogen ( Daili,
2009).

1
Gambar 1. Trichomonas vaginalis bentuk trophozoit ( Annabelle, 1999)

C. Epidemiologi
Penularan umumnya melalui hubungan kelamin, tetapi dapat juga melalui
pakaian, handuk, atau karena berenang. Oleh karena itu trikomoniasis ini terutama
ditemukan pada orang dengan aktivitas seksual tinggi, tetapi dapat juga ditemukan
pada bayi dan penderita setelah menopause. Penderita wanita lebih banyak
dibandingka pria ( Daili, 2009).
Trichomonas vaginalis ditemukan di seluruh dunia di semua ras, tetapi
delapan kali lebih sering pada orang kulit hitam dibandingkan pada orang kulit
putih ( Daili, 2009).

D. Patogenesis
Trichomonas vaginalis mampu menimbulkan peradangan pada dinding
saluran urogenital dengan cara invasi sampai mencapai jaringan epitel dan
subepitel. Masa tunas rata-rata 4 hari sampai 3 minggu. Pada kasus yang lanjut
terdapat bagian-bagian dengan jaringan granulasi yang jelas. Nekrosis dapat
ditemukan dilapisan subepitel yang menjalar sampai dipermukaan epitel. Di
dalam vagina dan urethra parasit hidup dari sisa-sisa sel, kuman-kuman dan benda
lain yang terdapat dalam secret ( Daili, 2009).

E. Diagnosis
Gejala klinis
Trikomoniasis pada wanita, yang diserang terutama dinding vagina, dapat
bersifat akut maupun kronik. Pada kasus akut terlihat secret vagina seropurulen
berwarna kekuning-kuningan, kining-hijau, berbau tidak enak (malodorous), dan
berbusa. Dinding vagina tampak kemerahan dan sembab. Kadang-kadang
terbentuk abses kecil pada dinding vagina dan serviks, yang tampak sebagai
granulasi berwarna merah yang dikenal sebagai strawberry appearance dan
disertai gejala dispareunia, perdarahan pascakoitus. Bila secret banyak yang
keluar bisa timbul iritasi pada lipat paha atau sekitar genitalia eksterna. Selain
vaginitis dapat pula terjadi uretritis, bartholinitis, skenitis, dan sistitis yang pada

2
umumnya tanpa keluhan. Pada kasus yang kronik gejala lebih ringan dan secret
vagina biasanya tidak berbusa ( Daili, 2009).

Gambar 2. Vagina dengan trikomoniasisdan tampak Strawberry


Appearance ( Annabelle, 1999)

Trikomoniasis pada laki-laki, infeksi Trikomoniasis pada pria dengan gejala


ringan terjadi pada saluran kemih , infeksi kelenjar prostat, vesika seminalis, dan
saluran spermatozoa (epididimis) dan kadang-kadang preputium. Infeksi menahun
sulit ditegakkan karena gejalanya ringan, tempat persembunyian Trichomonas
Vaginalis ini adalah kelenjar sken ( Daili, 2009).
Pada umumnya gambaran klinis lebih ringan dibandingkan dengan wanita.
Bentuk akut gejalanya mirip uretritis nongonore, misalnya disuria, poliuria, dan
secret uretra mukoid atau mukopurulen. Urin biasanya jernih, tetapi kadang-
kadang ada benang halus. Pada bentuk kronik gejalanya tidak khas; gatal pada
uretra, disuria, dan urin keruh pada pagi hari ( Daili, 2009).

Pemeriksaan penunjang

3
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan spekulum, palpasi
bimanual, uji pH duh vagina dan swab. Pada wanita, biasanya dikonfirmasi dengan
sediaan basah oleh fase kontras atau mikroskop, tetapi biasanya dalam Media
Feinberg-Whittington memberikan hasil yang lebih baik. Di sisi lain, pada laki-
laki, pemeriksaan disentrifugasi urin atau cairan prostat hanya sesekali positif.
Mitra seksual harus selalu diperiksa pada kedua spesimen jenis kelamin diambil
untuk menyingkirkan penyebab lain dari penyakit menular seksual ( Lopez, 2004).
Selain pemeriksaan langsung dengan mikroskopik sediaan basah dapat juga
dilakukan pemeriksaan dengan pewarnaan Giemsa, akridin, oranye, Leishman,
Gram, Papanicolau. Akan tetapi pengecatan tersebut dianggap sulit karena proses
fiksasi dan pengecetan diduga dapat mengubah morfologi kuman ( Daili, 2009).
Pada pembiakan pemilihan media merupakan hal penting, mengingat banyak
jenis media yang digunakan. Media modifikasi Diamond, misalnya In Pouch TV
digunakan secara luas dan menurut penelitian yang dilakukan media ini yang
paling baik dan mudah didapat ( Daili, 2009).

F. Diagnosis Banding
Vaginosis Bakterial, wanita dengan bakterial vaginosis mengeluh adanya duh
tubuh yang berbau tidak enak (amis) yang dinyatakan oleh penderita sebagai satu-
satunya gejala yang tidak menyenangkan. Penderita mengeluh rasa terbakar dan
gatal dan timbul edema serta eritema sekitar vulva. Pada pemeriksaan, yang khas
duh tubuh vagina bertambah, warna abu-abu homogen, viskositas normal, berbau
dan jarang berbusa ( Daili, 2009).

4
Gambar 3. Vagina dengan Vaginosis Bakterial ( Lopez, 2004)

Kandidosis atau Kandidiasis, yang disebabkan oleh Candida Albicans. Pasien


biasanya datang dengan keluhan gatal didaerah vulva dan flour albus berwarna
kekuningan disertai gumpalan-gumpalan berwarna putih kekuningan ( Lopez,
2004).

Gambar 4. Vagina dengan Kandidosis ( Lopez, 2004)

Uretritis non gonore, gejalanya berupa disuria ringan, perasaan tidak enak di
urethra, sering kencing, dan keluarnya duh tubuh seropurulen. Pada beberapa
keadaan, tidak terlihat keluarnya cairan duh tubuh sehingga menyulitkan
diagnosis ( Daili, 2009).
G. Penatalaksanaan

5
Pengobatan dapat diberikan secara topikal atau sistemik.
Secara topikal, dapat berupa :
Bahan cairan berupa irigasi, misalnya hydrogen peroksida 1-2% dan larutan asam
laktat 4%, bahan berupa supositoria yang bersifat trikomoniasidal misalnya
metronidazol sediaan 500 mg dan 1 gram, jel dan krim yang berisi zat
trikomoniasidal ( Daili, 2009).
Secara sistemik (oral) :
Metronidazol : dosis tunggal 2 gram atau 3 x 500 mg per hari selama 7 hari.
Jika tidak hamil, minum 2 gram per oral satu kali atau masing-masing 1 gram saat
pagi dan sore (dosis terbagi) pada hari yang sama. Efek samping hebat yang
memerlukan penghentian pengobatan jarang ditemukan. Efek samping yang
paling sering dikeluhkan ialah sakit kepala, mual, mulut kering, dan rasa kecap
logam. Efek samping lain adalah pusing, vertigo, ataksia, parestesia pada
ekstremitas, urtikaria, pruritus, disuria, sistitis, rasa tekan pada pelvik, kering pada
mulut, vagina dan vulva ( Daili, 2009).
Tinidazol : dosis tunggal 2 gram, memperlihatkan spektrum antimikroba yang
sama dengan metronidazol. Perbedaannya dengan metronidazol adalah masa
paruhnya yang lebih panjang sehingga dapat diberikan sebagai dosis tunggal per
hari, dan efek sampingnya lebih ringan daripada metronidazol. Adapun obat
lainnya adalah Nimorazol : dosis tunggal 2 gram dan Omidazol : dosis tunggal
1,5 gram ( Daili, 2009).
Kontraindikasi pemberian metronidasol pada wanita hamil, terutama pada
trimester pertama. Pada waktu pengobatan perlu beberapa anjuran pada penderita,
yaitu pemeriksaan dan pengobatan terhadap pasangan seksual untuk mencegah
jangan terjadi infeksi bola pingpong, jangan melakukan hubungan seksual
selama pengobatan dan sebelum dinyatakan sembuh, hindari pemakaian barang-
barang yang mudah menimbulkan transmisi, pasien harus diperingatkan untuk
tidak mengkonsumsi alkohol. Karena flagyl dapat memperkuat efek antikoagulan
oral, fenitoin, dan litium. Flagyl berlawanan dengan fenobarbital, fenitoin, dan
penginduksi enzim hati, menjaga kebersihan diri terutama daerah vagina, hindari
pemakaian handuk secara bersamaan, hindari pemakaian sabun untuk
membersihkan daerah vagina yang dapat menggeser jumlah flora normal dan
dapat merubah kondisi pH daerah kewanitaan tersebut ( Daili, 2009).

6
H. Komplikasi
Baru-baru ini penelitian telah menunjukkan hubungan antara infeksi
T.Vaginalis dan komplikasi T.vaginalis pada kehamilan seperti kelahiran
prematur, berat badan lahir rendah pada bayi baru lahir, radang panggul.
Trichomonas Vaginalis juga telah dikaitkan dengan peningkatan risiko penularan
HIV ( Lopez, 2004).

I. Prognosis
Prognosis yang sangat baik dengan resolusi infeksi yang terbentuk setelah
pengobatan yang tepat. Pengobatan pasangan seksual penting untuk menghindari
infeksi ulang. Infeksi yang tidak diobati dapat bertahan hingga 5 tahun ( Lopez,
2004).

Bakterial Vaginosis

A. Definisi

Bakterial vaginosis adalah sindrom klinik akibat pergantian Lactobacillus


Spp penghasil hidrogen peroksida (H2O2) yang merupakan flora normal vagina
dengan bakteri anaerob dalam konsentrasi tinggi (contoh : Bacteroides Spp,
Mobilincus Spp), Gardnerella vaginalis, dan Mycoplasma hominis. Jadi, bakterial
vaginosis bukan suatu infeksi yang disebabkan oleh suatu organisme, tetapi timbul

7
akibat perubahan kimiawi dan pertumbuhan berlebih dari bakteri yang
berkolonisasi di vagina ( Djuanda, 2010).

Saat ini belum ada bukti bahwa penyakit ini ditularkan secara seksual
antara pasangan heteroseksual. Namun, bakterial vaginosis disebabkan oleh
berganti-ganti pasangan seksual dan kuman penyebabnya pernah dibiak dari uretra
laki-laki yang menjadi pasangan seksual perempuan yang terinfeksi. Pasangan
lesbian dilaporkan dapat mengalami sekresi vagina (keputihan) yang serupa, dan
pada kasus bakterial vaginosis, hal ini mungkin mencerminkan penularan seksual
dalam kelompok ini ( Djuanda, 2010).

Pemeriksaan yang dilakukan terhadap wanita dengan bakteriologis vagina


normal dan wanita dengan bakterial vaginosis, ditemukan bakteri aerob dan
bakteri anaerob pada semua perempuan. Lactobacillus adalah organisme dominan
pada wanita dengan sekret vagina normal dan tanpa vaginitis. Lactobacillus
biasanya ditemukan 80-95 % pada wanita dengan sekret vagina normal.
Sebaliknya, Lactobacillus ditemukan 25-65 % pada bakterial vaginosis ( Djuanda,
2010).

B. Epidemiologi

Pada wanita yang memeriksakan kesehatannya, penyakit bakterial


vaginosis lebih sering ditemukan daripada vaginitis jenis lainnya. Frekuensi
bergantung pada tingkatan sosial ekonomi penduduk pernah disebutkan bahwa 50
% wanita aktif seksual terkena infeksi G. vaginalis, tetapi hanya sedikit yang
menyebabkan gejala sekitar 50 % ditemukan pada pemakai alat kontrasepsi dalam
rahim (AKDR) dan 86% bersama-sama dengan infeksi Trichomonas ( Ida Ayu,
2009).

Terdapat hubungan antara infeksi G.vaginalis dengan ras, promiskuitas,


stabilitas marital, dan kehamilan sebelumnya. Pada penggunaan AKDR dapat
ditemukan infeksi G.vaginalis dan kuman-kuman anaerob gram negatif ( Ida Ayu,
2009).

Hampir 90% laki-laki yang mitra seksual wanitanya terinfeksi


G.vaginalis, mengandung G.vaginalis dengan biotipe yang sama dalam uretra,

8
tetapi tidak menyebabkan uretritis. Pada suatu penyelidikan ditemukan adanya
hubungan antara timbulnya rekurensi setelah pengobatan tehadap kontak seksual.
Ditemukannya G.vaginalis sering diikuti dengan infeksi lain yang ditularkan
melalui hubungan seksual ( Ida Ayu, 2009).

C. Etiologi

Penyebab bakterial vaginosis bukan organisme tunggal. Pada suatu analisis


dari data flora vagina memperlihatkan bahwa ada beberapa kategori dari bakteri
vagina yang berhubungan dengan bakterial vaginosis, yaitu :

1. Gardnerella vaginalis

Berbagai kepustakaan selama 30 tahun terakhir membenarkan observasi


Gardner dan Dukes bahwa Gardnerella vaginalis sangat erat hubungannya
dengan bakterial vaginosis. Organisme ini mula-mula dikenal sebagai H.
vaginalis kemudian diubah menjadi genus Gardnerella atas dasar
penyelidikan mengenai fenetopik dan asam dioksi-ribonukleat. Tidak
mempunyai kapsul, tidak bergerak dan berbentuk batang gram negatif atau
variabel gram. Tes katalase, oksidase, reduksi nitrat, indole, dan urease
semuanya negatif. Kuman ini bersifat anaerob fakultatif, dengan produksi
akhir utama pada fermentasi berupa asam asetat, banyak galur yang juga
menghasilkan asam laktat dan asam format. Ditemukan juga galur anaerob
obligat. Untuk pertumbuhannya dibutuhkan tiamin, riboflavin, niasin, asam
folat, biotin, purin, dan pirimidin ( Ida Ayu, 2009).

2. Bakteri anaerob : Mobilincus Spp dan Bacteriodes Spp


Bacteriodes Spp diisolasi sebanyak 76% dan Peptostreptococcus sebanyak
36% pada wanita dengan bakterial vaginosis. Pada wanita normal kedua tipe
anaerob ini lebih jarang ditemukan. Penemuan spesies anaerob dihubungkan
dengan penurunan laktat dan peningkatan suksinat dan asetat pada cairan
vagina. Setelah terapi dengan metronidazole, Bacteriodes dan
Peptostreptococcus tidak ditemukan lagi dan laktat kembali menjadi asam
organik yang predominan dalam cairan vagina. Spiegel menyimpulkan bahwa
bakteri anaerob berinteraksi dengan G.vaginalis untuk menimbulkan
vaginosis. Peneliti lain memperkuat hubungan antara bakteri anaerob dengan

9
vaginosis bakterial. Mikroorganisme anaerob lain yaitu Mobiluncus Spp,
merupakan batang anaerob lengkung yang juga ditemukan pada vagina
bersama-sama dengan organisme lain yang dihubungkan dengan bakterial
vaginosis. Mobiluncus Spp hampir tidak pernah ditemukan pada wanita
normal, 85% wanita dengan bakterial vaginosis mengandung organisme ini
( Ida Ayu, 2009).
3. Mycoplasma hominis
Berbagai penelitian menyimpulkan bahwa Mycoplasma hominis juga harus
dipertimbangkan sebagai agen etiologik untuk vaginosis bakterial, bersama-
sama dengan G.vaginalis dan bakteri anaerob lainnya. Prevalensi tiap
mikroorganisme ini meningkat pada wanita dengan bakterial vaginosis.
Organisme ini terdapat dengan konsentrasi 100-1000 kali lebih besar pada
wanita dibandingkan dengan bakterial vaginosis pada wanita normal ( Ida
Ayu, 2009).
Pertumbuhan Mycoplasma hominis mungkin distimulasi oleh putrescine,
satu dari amin yang konsentrasinya meningkat pada bakterial vaginosis.
Konsentrasi normal bakteri dalam vagina biasanya 105 organisme/ml cairan
vagina dan meningkat menjadi 108-9 organisme/ml pada bakterial vaginosis.
Terjadi peningkatan konsentrasi Gardnerella vaginalis dan bakteri anaerob
termasuk Bacteroides, Leptostreptococcus, dan Mobilincus Spp sebesar 100-
1000 kali lipat ( Ida Ayu, 2009).
D. Patogenesis

Bakterial vaginosis disebabkan oleh faktor-faktor yang mengubah


lingkungan asam normal di vagina menjadi keadaan basa yang mendorong
pertumbuhan berlebihan bakteri-bakteri penghasil basa. Lactobacillus adalah
bakteri predominan di vagina dan membantu mempertahankan sekresi vagina
yang bersifat asam. Faktor-faktor yang dapat mengubah pH melalui efek
alkalinisasi antara lain adalah mukus serviks, semen, darah haid, mencuci vagina
(douching), pemakaian antibiotik, dan perubahan hormon saat hamil dan
menopause. Faktor-faktor ini memungkinkan meningkatnya pertumbuhan
Gardnerella vaginalis, Mucoplasma hominis, dan bakteri anaerob. Metabolisme
bakteri anaerob menyebabkan lingkungan menjadi basa yang menghambat
pertumbuhan bakteri lain ( Djuanda, 2010).

10
Mencuci vagina (douching) sering dikaitkan dengan keluhan disuria,
keputihan, dan gatal pada vagina. Pada wanita yang beberapa kali melakukan
douching, dilaporkan terjadi perubahan pH vagina dan berkurangnya konsentrasi
mikroflora normal sehingga memungkinkan terjadinya pertumbuhan bakteri
patogen yang oportunistik ( Djuanda, 2010)..

Sekret vagina adalah suatu yang umum dan normal pada wanita usia
produktif. Dalam kondisi normal, kelenjar pada serviks menghasilkan suatu cairan
jernih yang keluar, bercampur dengan bakteri, sel-sel vagina yang terlepas dan
sekresi dari kelenjar Bartolini. Pada wanita, sekret vagina ini merupakan suatu hal
yang alami dari tubuh untuk membersihkan diri, sebagai pelicin, dan pertahanan
dari berbagai infeksi. Dalam kondisi normal, sekret vagina tersebut tampak jernih,
putih keruh, atau berwarna kekuningan ketika mengering di pakaian, memiliki pH
kurang dari 5,0 terdiri dari sel-sel epitel yang matur, sejumlah normal leukosit,
tanpa jamur, Trichomonas, tanpa clue cell ( Djuanda, 2010).

Pada bakterial vaginosis dapat terjadi simbiosis antara G.vaginalis sebagai


pembentuk asam amino dan kuman anaerob beserta bakteri fakultatif dalam
vagina yang mengubah asam amino menjadi amin sehingga menaikkan pH sekret
vagina sampai suasana yang sesuai bagi pertumbuhan G. vaginalis. Beberapa
amin diketahui menyebabkan iritasi kulit dan menambah pelepasan sel epitel dan
menyebabkan duh tubuh berbau tidak sedap yang keluar dari vagina. Basil-basil
anaerob yang menyertai bakterial vaginosis diantaranya Bacteroides bivins, B.
Capilosus dan B. disiens yang dapat diisolasikan dari infeksi genitalia ( Djuanda,
2010).

G. vaginalis melekat pada sel-sel epitel vagina in vitro, kemudian


menambahkan deskuamasi sel epitel vagina sehingga terjadi perlekatan duh tubuh
pada dinding vagina. Organisme ini tidak invasif dan respon inflamasi lokal yang
terbatas dapat dibuktikan dengan sedikitnya jumlah leukosit dalam sekret vagina
dan dengan pemeriksaan histopatologis. Timbulnya bakterial vaginosis ada
hubungannya dengan aktivitas seksual atau pernah menderita infeksi
Trichomonas. Bakterial vaginosis yang sering rekurens bisa disebabkan oleh
kurangnya pengetahuan tentang faktor penyebab berulangnya atau etiologi

11
penyakit ini. Walaupun alasan sering rekurennya belum sepenuhnya dipahami
namun ada 4 kemungkinan yang dapat menjelaskan, yaitu:

1. Infeksi berulang dari pasangan yang telah ada mikroorganisme penyebab


bakterial vaginosis. Laki-laki yang mitra seksual wanitanya terinfeksi G.
vaginalis mengandung G. vaginalis dengan biotipe yang sama dalam uretra
tetapi tidak menyebabkan uretritis pada laki-laki (asimptomatik) sehingga
wanita yang telah mengalami pengobatan bakterial vaginosis cenderung
untuk kambuh lagi akibat kontak seksual yang tidak menggunakan
pelindung .

2. Kekambuhan disebabkan oleh mikroorganisme bakterial vaginosis yang


hanya dihambat pertumbuhannya tetapi tidak dibunuh.

3. Kegagalan selama pengobatan untuk mengembalikan Lactobacillus sebagai


flora normal yang berfungsi sebagai protektor dalam vagina.

4. Menetapnya mikroorganisme lain yang belum diidentifikasi faktor hostnya


pada penderita, membuatnya rentan terhadap kekambuhan.

( Djuanda, 2010)

E. Gambaran Klinis

Wanita dengan bakterial vaginosis dapat tanpa gejala. Gejala yang paling
sering pada bakterial vaginosis adalah adanya cairan vagina yang abnormal
(terutama setelah melakukan hubungan seksual) dengan adanya bau vagina yang
khas yaitu bau amis/bau ikan (fishy odor). Bau tersebut disebabkan oleh adanya
amin yang menguap bila cairan vagina menjadi basa. Cairan seminal yang basa
(pH 7,2) menimbulkan terlepasnya amin dari perlekatannya pada protein dan amin
yang menguap menimbulkan bau yang khas. Walaupun beberapa wanita
mempunyai gejala yang khas, namun pada sebagian besar wanita dapat
asimptomatik. Iritasi daerah vagina atau sekitar vagina (gatal, rasa terbakar),
kalau ditemukan lebih ringan daripada yang disebabkan oleh Trichomonas
vaginalis atau C.albicans. Sepertiga penderita mengeluh gatal dan rasa terbakar,
dan seperlima timbul kemerahan dan edema pada vulva. Nyeri abdomen,

12
dispareuria, atau nyeri waktu kencing jarang terjadi, dan kalau ada karena
penyakit lain.

Pada penderita dengan bakterial vaginosis tidak ditemukan inflamasi pada


vagina dan vulva. Bakterial vaginosis dapat timbul bersama infeksi traktus genital
bawah seperti trikomoniasis dan servisitis sehingga menimbulkan gejala genital
yang tidak spesifik ( Djuanda, 2010).

F. Diagnosis
Gardner dan Dukes (1980) menyatakan bahwa setiap wanita dengan
aktivitas ovum normal mengeluarkan cairan vagina berwarna abu-abu, homogen,
berbau dengan pH 5 - 5,5 dan tidak ditemukan T.vaginalis, kemungkinan besar
menderita bakterial vaginosis. WHO (1980) menjelaskan bahwa diagnosis dibuat
atas dasar ditemukannya clue cells, pH vagina lebih besar dari 4,5, tes amin positif
dan adanya G. vaginalis sebagai flora vagina utama menggantikan Lactobacillus.
Balckwell (1982) menegakkan diagnosis berdasarkan adanya cairan vagina yang
berbau amis dan ditemukannya clue cells tanpa T. vaginalis. Tes amin yang positif
serta pH vagina yang tinggi akan memperkuat diagnosis ( Djuanda, 2010).

Dengan hanya mendapat satu gejala, tidak dapat menegakkan suatu


diagnosis, oleh sebab itu didapatkan kriteria klinis untuk bakterial vaginosis yang
sering disebut sebagai kriteria Amsel (1983) yang berpendapat bahwa terdapat
tiga dari empat gejala, yaitu :

1. Adanya sekret vagina yang homogen, tipis, putih, melekat pada


dinding vagina dan abnormal
2. pH vagina > 4,5
3. Tes amin yang positif, yangmana sekret vagina yang berbau amis
sebelum atau setelah penambahan KOH 10% (Whiff test).
4. Adanya clue cells pada sediaan basah (sedikitnya 20 dari seluruh
epitel)
Gejala diatas sudah cukup untuk menegakkan diagnosis.
( Djuanda, 2010)
1) Anamnesis

13
Gejala yang khas adalah cairan vagina yang abnormal (terutama
setelah melakukan hubungan seksual) dengan adanya bau vagina yang khas
yaitu bau amis/bau ikan (fishy odor). Pasien sering mengeluh rasa gatal, iritasi,
dan rasa terbakar. Biasanya kemerahan dan edema pada vulva ( Djuanda,
2010).

2) Pemeriksaan Fisis
Pada pemeriksaan biasanya menunjukkan sekret vagina yang tipis dan
sering berwarna putih atau abu-abu, viskositas rendah atau normal, homogen,
dan jarang berbusa. Sekret tersebut melekat pada dinding vagina dan terlihat
sebagai lapisan tipis atau kelainan yang difus. Gejala peradangan umum tidak
ada. Sebaliknya sekret vagina normal, lebih tebal dan terdiri atas kumpulan sel
epitel vagina yang memberikan gambaran bergerombol ( Djuanda, 2010).
3) Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan preparat basah

Dilakukan dengan meneteskan satu atau dua tetes cairan NaCl 0,9% pada
sekret vagina diatas objek glass kemudian ditutupi dengan coverslip. Dan
dilakukan pemeriksaan mikroskopik menggunakan kekuatan tinggi (400
kali) untuk melihat clue cells, yang merupakan sel epitel vagina yang
diselubungi dengan bakteri (terutama Gardnerella vaginalis).
Pemeriksaan preparat basah mempunyai sensitifitas 60% dan spesifitas
98% untuk mendeteksi bakterial vaginosis. Clue cells adalah penanda
bakterial vaginosis ( Djuanda, 2010).

2. Whiff test
Whiff test dinyatakan positif bila bau amis atau bau amin terdeteksi
dengan penambahan satu tetes KOH 10-20% pada sekret vagina. Bau
muncul sebagai akibat pelepasan amin dan asam organik hasil alkalisasi
bakteri anaerob. Whiff test positif menunjukkan bakterial vaginosis
( Djuanda, 2010).

3. Tes lakmus untuk pH


Kertas lakmus ditempatkan pada dinding lateral vagina. Warna kertas
dibandingkan dengan warna standar pH vagina normal (3,8 - 4,2). Pada
80-90% bakterial vaginosis ditemukan pH > 4,5 ( Djuanda, 2010).

14
4. Pemarnaan gram sekret vagina
Pewarnaan gram sekret vagina dari bakterial vaginosis tidak ditemukan
Lactobacillus sebaliknya ditemukan pertumbuhan berlebihan dari
Gardnerella vaginalis dan atau Mobilincus Spp dan bakteri anaerob
lainnya ( Djuanda, 2010).
5. Kultur vagina
Kultur Gardnerella vaginalis kurang bermanfaat untuk diagnosis bakterial
vaginosis. Gardnerella vaginalis dapat ditemukan pada hampir seluruh
penderita bakterial vaginosis, tapi juga dapat ditemukan lebih dari 58%
pada perempuan tanpa bakterial vaginosis ( Djuanda, 2010).
6. Deteksi hasil metabolik :
1. Tes proline aminopeptidase: G.vaginalis dan Mobilincus Spp
menghasilkan Proline aminopeptidase, dimana Laktobasilus tidak
menghasilkan enzim tersebut.
2. Permainan Suksinat/ Laktat: batang gram negatif anaerob menghasilkan
suksinat sebagai hasil metabolik. Perbandingan suksinat terhadap laktat
dalam sekret vagina ditunjukkan dengan analisa kromotografik cairan-
gas meningkat pada bakterial vaginosis dan digunakan sebagai tes
skrining untuk bakterial vaginosis dalam penelitian epidemiologik
klinik.
( Djuanda, 2010)
G. Diagnosa Banding
1. Trikomoniasis
Pada pemeriksaan apusan vagina, trikomoniasis sering sangat menyerupai
penampakan pemeriksaan hapusan bakterial vaginosis, Tapi Mobiluncus dan
clue cells tidak pernah ditemukan pada trikomoniasis. Pemeriksaan
mikroskopik tampak peningkatan sel polimorfonuklear dan dengan
pemeriksaan preparat basah ditemukan protozoa untuk diagnostik. Whiff test
dapat positif dan pH vagina 5 pada trikomoniasis ( Djuanda, 2010).
2. Kandidiasis
Pada pemeriksaan mikroskopik, sekret vagina ditambah KOH 10% berguna
untuk mendeteksi hifa dan spora kandida. Keluhan yang paling sering pada
kandidiasis adalah gatal dan iritasi vagina. Sekret vagina biasanya putih dan
tebal, tanpa bau dan PH normal ( Djuanda, 2010).
H. Penatalaksanaan

15
Karena penyakit bakterial vaginosis merupakan vaginitis yang cukup banyak
ditemukan dengan gambaran klinis ringan tanpa komplikasi, jenis obat yang
digunakan hendaknya tidak membahayakan, dan sedikit efek sampingnya
( Djuanda, 2010).

Semua wanita dengan bakterial vaginosis simtomatik memerlukan


pengobatan, termasuk wanita hamil. Setelah ditemukan hubungan antara bakterial
vaginosis dengan wanita hamil dengan prematuritas atau endometritis pasca
partus, maka penting untuk mencari obat-obat yang efektif yang bisa digunakan
pada masa kehamilan. Ahli medis biasanya menggunakan antibiotik seperti
metronidazol dan klindamisin untuk mengobati bakterial vaginosis ( Djuanda,
2010).

A. Terapi sistemik

1. Metronidazol 400-500 mg, 2 x sehari selama 7 hari. Dilaporkan efektif


dengan kesembuhan 84-96%. Metronidasol dapat menyebabkan mual
dan urin menjadi gelap. Konsumsi alkohol seharusnya dihindari selama
pengobatan dan 48 jam setelah terapi oleh karena dapat terjadi reaksi
disulfiram. Metronidasol 200-250 mg, 3x sehari selama 7 hari untuk
wanita hamil. Metronidazol 2 gram dosis tunggal kurang efektif
daripada terapi 7 hari untuk pengobatan vaginosis bakterial oleh karena
angka rekurensi lebih tinggi.

2. Klindamisin 300 mg, 2 x sehari selama 7 hari. Sama efektifnya dengan


metronidazol untuk pengobatan bakterial vaginosis dengan angka
kesembuhan 94%.

3. Amoklav (500 mg amoksisilin dan 125 mg asam klavulanat) 3 x sehari


selama 7 hari.

4. Tetrasiklin 250 mg, 4 x sehari selama 5 hari

5. Doksisiklin 100 mg, 2 x sehari selama 5 hari

6. Eritromisin 500 mg, 4 x sehari selama 7 hari

16
7. Cefaleksia 500 mg, 4 x sehari selama 7 hari

( Djuanda, 2010)

B. Terapi Topikal

1. Metronidazol gel intravagina (0,75%) 5 gram, 1 x sehari selama 5 hari.

2. Klindamisin krim (2%) 5 gram, 1 x sehari selama 7 hari.

3. Tetrasiklin intravagina 100 mg, 1 x sehari.

4. Triple sulfonamide cream.(3,6) (Sulfactamid 2,86%, Sulfabenzamid


3,7% dan Sulfatiazol 3,42%), 2 x sehari selama 10 hari, tapi akhir-
akhir ini dilaporkan angka penyembuhannya hanya 15 45 %.

( Djuanda, 2010)

C. Pengobatan bakterial vaginosis pada masa kehamilan

Terapi secara rutin pada masa kehamilan tidak dianjurkan karena dapat
muncul masalah. Metronidazol tidak digunakan pada trimester pertama kehamilan
karena mempunyai efek samping terhadap fetus. Dosis yang lebih rendah
dianjurkan selama kehamilan untuk mengurangi efek samping (Metronidazol 200-
250 mg, 3 x sehari selama 7 hari untuk wanita hamil). Penisilin aman digunakan
selama kehamilan, tetapi ampisilin dan amoksisilin jelas tidak sama efektifnya
dengan metronidazol pada wanita tidak hamil dimana kedua antibiotik tersebut
memberi angka kesembuhan yang rendah ( Djuanda, 2010).

Pada trimester pertama diberikan krim klindamisin vaginal karena


klindamisin tidak mempunyai efek samping terhadap fetus. Pada trimester II dan
III dapat digunakan metronidazol oral walaupun mungkin lebih disukai gel
metronidazol vaginal atau klindamisin krim. Selain itu, amoklav cukup efektif
untuk wanita hamil dan intoleransi terhadap metronidazole ( Djuanda, 2010).

I. Prognosis

17
Prognosis bakterial vaginosis baik, dilaporkan perbaikan spontan pada lebih
sepertiga kasus. Dengan pengobatan metronidasol dan klindamisin memberi
angka kesembuhan yang tinggi (84-96%) ( Djuanda, 2010).

18
DAFTAR PUSTAKA

Daili SF. Trikomoniasis. In: Djuanda A, editor. 2009. Ilmu Penyakit Kulit
Dan Kelamin. Jakarta: Balai Penerbit FK-UI;
Lopez V. 2004. Rook's Texbtbook Of Dermatology. In: Burns T, editor.
Parasitic Worms And Protozoa. 7 ed. Australia: Blackwell Publishing;
Annabelle L.Garcia V, Stephen. 2008. Gonorrhea And Other Veneral
Dieseases. In: Klaus Wolf LAG, Stephen I.Katz, Barbara
A.Gilchrest, Amy S.Paller, David J.Leffell, editor. Fitzpatrick's
Dermatology In General Medicine. 7 ed. USA: MC-Graw Hill
Medical
Ida Ayu Chandranita Manuaba IBGFM, Ida Bagus Gde Manuaba, editor.
2009. Reproduksi Wanita. 2 ed. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC;

19