Anda di halaman 1dari 13

Laporan Hasil Observasi PBL

Semester 3 : Nyeri Kepala

Observasi pelaksanaan PBL dilaksanakan pada hari Senin, 9 Januari 2016, didapatkan
hasil sebgai berikut :

Pelaksanaan PBL sudah cukup baik, dengan system pembelajaran small group
berjumlah 10 orang, satu kelompok difasilitasi oleh 1 orang dosen atau dokter sebagai tutor dan
fasilitator. Peran tutor sudah cukup baik dalam memfasilitasi jalannya diskusi, diawali dengan
menyapa anggota kelompok, serta mengisi rubric penilaian pada saat awal dengan nama setiap
anggota diskusi (scoring). Dalam jalannya diskusi juga sudah cukup memancing agar peserta
dapat berperan lebih aktif, tidak mendominasi kelompok, hanya saja dirasa kurang merangsang
dengan teori-teori, tutor sedikit kurang memperhatikan karena terlalu sering mengecek ponsel.
Kemudian diakhir tutor sudah cukup baik dengan memberikan feedback kepada kelompok,
namun tidak perorangan.

Mendorong semua anggota kelompok untuk


berpartisipasi dalam diskusi

Membantu ketua untuk memelihara


dinamika kelompok
dan mengatur waktu
Memastikan bahwa notulen membuat
catatan dengan
akurat

Mencegah disuksi di luar skenario


Memastikan kelompok mencapai tujuan
kompetensi(learning objective)
Memeriksa pemahaman peserta
7 Menilai kinerja peserta
1. Pada PBL I (pertemuan pertama): mahasiswa memilih ketua kelompok dan 2
orang sekretaris (yang menulis di whiteboard dan di kertas/komputer). Mahasiswa
membahas skenario menurut 7 jumps yaitu langkah 1. Identifikasi masalah, langkah 2.
Identifikasi masalah, langkah 3. Analisa masalah, langkah 4. Hipotesis, langkah 5. Sasaran
pembelajaran, langkah 6. Belajar mandiri dengan mencari narasumber. Tutor menilai
aktivitas mahasiswa secara perorangan dan per kelompok dengan scoring dan sebagai
fasilitator.

Pada PBL 2 (pertemuan kedua): mahasiswa mempresentasikan tugas belajar mandirinya


masing-masing sesuai dengan sasaran pembelajaran yang didapatkan pada PBL 1,
dilakukan tanya jawab di antara mahasiswa, kemudian dibuat langkah 7.
Simpulan/rangkuman dari kasus.Tutor hanya sebagai fasilitator.

Tutor menilai tugas belajar mandiri mahasiswa, aktivitas perorangan saat presentasi,
aktivitas per kelompok.

Pada PBL 3 (pertemuan ketiga): dilakukan pleno. Dalam hari yang sama diadakan 2 kali
pertemuan masing-masing 100 menit. Pertama: kelompok A B, kedua: kelompok C D.
Ada moderator (dosen) dan 2 orang sekretaris (mahasiswa). Kelompok mahasiswa yang
maju presentasi dilakukan berdasarkan undian. Dihadiri para dosen pakar pengampu mata
kuliah pada blok tersebut dan para tutor. Mahasiswa mempresentasikan skenarionya
masing-masing sesuai kelompoknya. Setiap selesai presentasi dilakukan tanya jawab
antara mahasiswa. Pertanyaan-pertanyaan mahasiswa dicatat oleh sekretaris. Tutor menilai
aktivitas perorangan dan per kelompok pada kelompoknya yang tampil presentasi. Pada
akhir pleno maka semua dosen pakar menjelaskan semua pertanyaan mahasiswa tersebut.

Pada PBL di FK UKRIDA dalam membuat makalah tugas mandiri kadang-kadang


masih ada yang menjiplak makalah teman atau kakak kelasnya, sehingga menurut saya
perlu diadakan kuliah khusus tentang Etika Pendidikan Kedokteran topik kejujuran
akademis pada semester satu supaya sejak awal mahasiswa mengetahui tentang
plagiarisme, moralitas kedokteran dan lain-lain.

PBL KURIKUKULUM BERBASIS KOMPETENSI DAN PROBLEM-BASED


LEARNING AREA KOMPETENSI DOKTER

Fakultas Kedokteran UNS memiliki visi menyelenggarakan program studi pendidikan


dokter yang berkualitas dan memiliki reputasi tinggi, sehingga dapat menghasilkan lulusan
dokter yang mampu bersaing di pasar global dan berorientasi kepada kedokteran komunitas.
Program Studi Pendidikan Dokter pada Fakultas Kedokteran UNS diselenggarakan
dengan menggunakan kurikulum berbasis kompetensi (KBK), berdasarkan Standar Pendidikan
Profesi Dokter (KKI, 2006a). Kurikulum berbasis kompetensi diharapkan dapat menciptakan
proses pembelajaran yang membantu mahasiswa agar dapat mencapai sejumlah kompetensi
dokter pada akhir masa studi. Tabel 1.1 menyajikan 7 area komeptensi dokter sebagaimana
ditetapkan dalam Standar Kompetensi Dokter (KKI, 2006b).
Tabel 1.1 Area kompetensi dokter
1 Komunikasi efektif
2 Ketrampilan klinis
3 Landasan ilmiah ilmu kedokteran
4 Pengelolaan masalah kesehatan
5 Pengelolaan informasi
6 Mawas diri dan pengembangan diri
7 Etika, moral. medikolegal, profesionalisme, dan keselamatan pasien
Sumber: KKI, 2006b

KOMPONEN KOMPETENSI
(KKI, 2006b)

Area Komunikasi Efektif


1. Berkomunukasi dengan pasien beserta anggota keluarganya
2. Berkomunukasi dengan sejawat
3. Berkomunikasi dengan masyarakat
4. Berkomunukasi dengan profesi lain

Area Keterampilan Klinis


1. Memperoleh dan mencatat informasi yang akurat dan penting tentang pasien dan
keluarganya
2. Melakukan prosedur klink dan laboratorium
3. Melakukan prosedur kedaruratan klinis

Area Landasan Ilmiah Kedokteran


1. Menerapkan konsep dan prinsip ilmu biomedik, klinik, perilaku, dan ilmu kesehatan
masyarakat, sesuai dengan pelayanan kesehatan tingkat primer
2. Merangkum interpretasi anamneis, pemeriksaan fisik, uji laboratorium, dan prosedur yang
sesuai
3. Menentukan efektivitas suatu tindakan

Area Pengelolaan Masalah Kesehatan


1. Mengelola penyakit, keadaan sakit, dan masalah pasien sebagai individu yang utuh, bagian
dari keluarga dan masyarakat
2. Melakukan pencegahan penyakit dan keadaan sakit
3. Melaksanakan pendidikan kesehatan dalam rangka promosi kesehataan dan pencegahan
penyakit
4. Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk meningkatkaan derajat kesehatan
5. Mengelola sumber daya manusia, serta sarana, dan prasarana, secara efektif dan efisien,
dalam pelayanan kesehatan primer, dengan pendekatan kedokteran keluarga

Area Pengelolaan Informasi


1. Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu penegakan diagnosis,
pemberian terapi, tindakan pencegahan dan promosi kesehatan, serta penjagaan, dan
pemantauan status kesehatan pasien
2. Memahami manfaat dan keterbatasan teknologi informasi
3. Memanfaatkan informasi kesehatan

Area Mawas Diri dan Pengembangan Diri


1. Menerapkan mawas diri
2. Mempraktikkan belajar sepanjang hayat
3. Mengembangkan pengetahuan baru

Area Etika, Moral, Medikolegal, Profesionalisme, dan Keselamatan Pasien


1. Memiliki sikap profesional
2. Berperilaku profesional dalam bekerjasama
3. Sebagai anggota tim pelayanan kesehataan yang profesional
4. Melakukan praktik keddokteran dalam masyaarakat multikultural di Indonesia
5. Memenuhi aspek medikolegal dalam praktik kedokteran
6. Menerapkan keselamatan pasien dalam praktik kedokteran

PROBLEM-BASED LEARNING
Problem based learning (PBL) pertama kali diimplementasikan di Fakultas Kedokteran
Universitas McMaster, Kanada, tahun 1969, sebagai sebuah cara belajar baru yang radikal dan
inovatif dalam pendidikan dokter (Gwee, 2009). Namun gerakan PBL sendiri untuk
merestrukturisasi pendidikan kedokteran sudah dimulai di Universitas McMaster sejak tahun
1950an (Halonen, 2010). Sejak itu PBL telah menjadi trend baru pendidikan kedokteran. Kini
PBL telah diterapkan pada banyak Fakultas Kedokteran di seluruh dunia. Fakultas Kedokteran
Universitas Sebelas Maret mulai mengimplementasikan PBL sejak 2007. PBL memadukan
sejumlah teori dan prinsip pendidikan yang saling melengkapi ke dalam suatu desain sistem
pembelajaran. PBL mengandalkan strategi belajar yang berpusat kepada pelajar (student-
centered), kolaboratif, kontekstual, terpadu, diarahkan sendiri, dan reflektif. Desain dan
pelaksanaan pembelajaran meliputi belajar dalam kelompok-kelompok kecil dan peer teaching.
Mahasiswa bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil untuk membangun pengetahuan
dengan menggunakan kasus masalah yang realistis untuk memicu proses belajar (Gwee, 2009)
PBL merepresentasikan pergeseran besar dalam paradigma pendidikan dari pembelajaran
tradisional yang berpusat kepada dosen (teacher-centered) ke pembelajaran yang berpusat kepada
mahasiswa (student-centered). Pendidik dan penyelenggara pendidikan yang akan
mengimplementasikan PBL harus memahami prinsip-prinsip dasar, pelaksanaan, dan filosofi
PBL. Perhatian khusus perlu diberikan untuk melatih dan memilih tutor PBL karena mereka
memiliki peran penting dalam proses PBL. Perubahan mindset (pola pikir) yang signifikan perlu
dilakukan, baik pada mahasiswa maupun dosen, agar implementasi PBL berhasil. Karena itu
program pelatihan dan pembekalan untuk mahasiswa dan dosen harus dilakukan sebelum
implementasi PBL. PBL merupakan strategi pembelajaran yang sangat banyak menggunakan
sumber daya. Pengalaman banyak institusi yang telah menerapkan PBL menunjukkan, misalnya
Fakultas Kedokteran UGM di Yogyakarta yang telah menerapkan sejak awal 1990an,
implementasi PBL merupakan pekerjaan berat dan membutuhkan perencanaan yang seksama dan
terinci. Dibutuhkan komitmen tinggi di pihak pendidik yang diberi tanggungjawab
mengimplementasikan PBL dalam suatu institusi (Gwee, 2007).
Di sisi lain, PBL menawarkan banyak keuntungan, yaitu pendidikan yang lebih
berkualitas, holistik (menyeluruh), dan bernilai tambah, untuk membekali mahasiswa dalam
belajar menjadi tenaga kesehatan profesional pada abad ke 21. Implementasi PBL akan
membantu mahasiswa dalam mengembangkan kebiasaan berpikir, bersikap, dan berperilaku
yang dibutuhkan sebagai tenaga kesehatan profesional yang kompeten, melayani, dan etis pada
abad ke 21. Jika dilakukan dengan benar, PBL dapat memberikan sumbangan penting bagi
perbaikan pelayanan kesehatan di suatu negara yang diberikan oleh para tenaga kesehatan
profesional (Gwee, 2009).

Karakteristik PBL
Intinya, dalam PBL mahasiswa menggunakan masalah dari sebuah skenario sebagai
pemicu (trigger) untuk menentukan tujuan pembelajaran (learning objective). Lalu mahasiswa
melakukan studi secara mandiri dan diarahkan sendiri, sebelum kembali ke dalam kelompok
untuk membahas dan menyempurnakan pengetahuan yang diperoleh (Wood, 2003). Jadi terdapat
perbedaan antara konsep PBL (problem-based learning) dan pemecahan masalah (problem
solving). Pemecahan masalah menempatkan masalah sebagai target untuk dipecahkan. PBL
menggunakan masalah yang tepat sebagai pemicu untuk meningkatkan pengetahuan dan
pemahaman. Meskipun demikian bias saja masalah yang digunakan sebagai pemicu dalam PBL
merupakan masalah yang perlu dipecahkan oleh mahasiswa. Meskipun hanya sebagai pemicu,
masalah yang digunakan dalam PBL hendaknya realistis, membumi, sering dijumpai, yang
sesuai dengan konteks masalah yang sesungguhnya yang akan dihadapi mahasiswa ketika telah
menjadi dokter praktik (Wood, 2003).
Dalam buku Standar Komeptensi Dokter yang dikeluarkan Konsil Kedokteran Indonesia
menegaskan bahwa yang diharapkan adalah kompetensi dokter untuk memberikan pelayanan
kesehatan tingkat primer, bukan pelayanan kesehatan tingkat sekunder atau spesialistik
(KKI, 2006b). Selain itu, masalah yang dikemukakan dalam PBL sebaiknya tidak bersifat
monolitik yang hanya memicu hadirnya pengetahuan tunggal, melainkan masalah yang terbuka
(open-ended) yang memicu mahasiswa untuk mengeksplorasi pengetahuan transdisipliner
(Halonen, 2010). PBL menekankan pengetahuan awal (pre-existing knowledge, prior
knowledge) mahasiswa: Mulailah dengan yang Anda ketahui. Mahasiswa kemudian
mengambil peran aktif dalam merencanakan, menata, dan memilih masalah-masalah yang akan
menjadi tujuan pembelajaran.

Langkah-Langkah Dasar PBL


Dalam PBL, mahasiswa membagi diri dalam kelompok-kelompok kecil. Kemudian suatu
masalah yang realistis disajikan dan didiskusikan. Kemudian mahasiswa mengidentifikasi apa
yang sudah diketahui dalam hubungannya dengan masalah (pre-existing knowledge):
1. Informasi apa yang dibutuhkan
2. Strategi atau langkah-langkah apa yang selanjutnya perlu diambil untuk mempelajari
informasi/ pengetahuan/ dan ketrampilan yang diperlukan untuk menjawab masalah.
Lalu masing-masing mahasiswa meneliti berbagai isu dan mengumpulkan sumber
informasi. Sumber daya/ sumber informasi yang digunakan mahasiswa dievaluasi oleh
kelompok. Informasi/pengetahuan/ keterampilan baru dibagikan kepada anggota kelompok
lainnya. Siklus seperti itu diulangi sampai mahasiswa merasa bahwa semua masalah atau isu
telah terjawab dengan memuaskan. Mahasiswa bisa mengajukan saran, solusi, atau hipotesis.
Tutor melakukan evaluasi kinerja kelompok (Halonen, 2010).

Jenis Kompetensi yang Dihasilkan


Belajar kelompok PBL tidak hanya memudahkan tercapainya kompetensi untuk
mengakusisi (memperoleh) pengetahuan baru, tetapi juga sejumlah keterampilan lainnya yang
penting, misalnya ketrampilan berkomunikasi, kerjasama tim, pemecahan masalah,
tanggungjawab untuk belajar mandiri, berbagi informasi, dan menghargai orang lain (Tabel 1.2).
Dengan demikian PBL dapat dipandang sebagai sebuah metode belajar kelompok kecil yang
memadukan akuisi pengetahuan dan pengembangan aneka ketrampilan dan sikap umum yang
diperlukan dalam pekerjaan sebagai dokter atau tenaga kesehatan profesional lainnya (Wood,
2003).
Tabel 1.2 Keterampilan dan sikap umum yang dihasilkan PBL
Kerjasama tim Mengkaji kritis literatur
Memimpin kelompok Belajar mandiri
Mendengarkan Penggunaan sumberdaya informasi
Mencatat Keterampilan presentasi
Menghargai pandangan kolega
Sumber: Wood, 2003
Dengan demikian jelas bahwa keterampilan yang diperoleh dari strategi PBL mendukung
pencapaian area kompetensi dokter (Tabel 1.2), baik keterampilan memperoleh pengetahuan
(area kompetensi 3, 5), keterampilan berkomunikasi dan presentasi (area kompetensi 1),
kerjasama dalam tim (area kompetensi 7), pengembangan diri, memimpin kelompok, dan
menghargai orang lain (area kompetensi 6), penggunaan sumber informasi (area kompetensi 5),
maupun menilai literatur dengan kritis (area kompetensi 3, 4). Demikian pula penyajian materi
klinik di dalam skenario sebagai stimulus pembelajaran memungkinkan mahasiswa memahami
relevansi pengetahuan ilmiah yang diperoleh dengan prinsip-prinsip praktik klinis (area
kompetensi 2, 7).

Keuntungan dan Kerugian PBL

PBL memberikan aneka keuntungan sebagai berikut (Halonen, 2010):


1. Kemampuan retensi dan pemanggilan kembali (recall) pengetahuan lebih besar
2. Mengembangkan keterampilan interdisipliner:
Mengakses dan menggunakan informasi dari aneka domain subjek
Mengintegrasikan pengetahuan dengan lebih baik
Mengintegrasikan belajar di kelas dan lapangan
3. Mengembangkan keterampilan belajar seumur hidup:
Cara meneliti
Cara berkomuniasi dalam kelompok
Cara mengatasi masalah
4. Menciptakan lingkungan belajar yang aktif, kooperatif, penilaian diri dan kelompok (peer
assessment), berpsat pada mahasiswa, efektivitas tinggi.
5. Menciptakan lingkungan belajar yang memberikan
Umpan balik segera
Kesempatan untuk mempelajari aneka sasaran belajar yang disukai
Kesempatan untuk belajar pada berbagai tingkat pembelajaran (taksonomi Bloom)
6. Menciptakan lingkungan belajar yang dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan
memecahkan masalah
7. Meningkatkaan motivasi dan kepuasan mahasiswa, interaksi mahasiswa-mahasiswa, dan
interaksi mahasiswa-dosen/ instruktur

Kerugian PBL sebagai berikut (Halonen, 2010):


1. Membutuhkan perencanaan dan sumberdaya yang sangat besar:
Pembuatan skenario, meliputi masalah, kasus, situasi
Penyediaan sumberdaya untuk mahasiswa, misalnya, ruang diskusi, literatur, perpustakaan
tradisional maupun e-library, narasumber, tenaga profesional di bidangnya
2. Membutuhkan komitmen untuk menjalankan PBL, dan kesediaan dosen untuk menghargai
pengetahuan, pengalaman, dan ketrampilan yang diperoleh mahasiswa selama proses
pembelajaran
3. Memerlukan perubahan paradigma:
Pergeseran dari fokus dari apa yang diajarkan dosen (teacher-centered) menjadi apa yang
dipelajari mahasiswa (student-centered)
Perubahan pandangan dosen sebagai pakar yang berperan sebagai bank pengetahuan
melalui kuliah dan peragaan di kelas, menjadi dosen sebagai fasilitator atau tutor
pembelajaran
MODEL SPICES HARDEN
Harden et al. (2009) mengidentifikasi enam strategi dalam kurikulum pendidikan dokter.
Mereka membuat spektrum strategi tersebut dan membedakan antara model PBL yang
diformulasikan sebagai SPICES di satu sisi dan model konvensional di sisi lain: student-
centred/ teacher-centred, problem-based/ information-gathering, integrated/ discipline-based,
community-based/hospitalbased, elective/uniform and systematic/ apprentice ship-based (Tabel
1.3)
Model analisis strategi kurikulum SPICES dapat digunakan dalam perencanaan dan
evaluasi kurikulum, dan mengatasi masalah yang berkaitan dengan kurikulum, dan dalam
memberikan bimbingan berkaitan dengan metode pembelajaran dan penilaian..
Tabel 1.3 Perbedaan antara model SPICES Harden dan model konvensional
Model SPICES Model konvensional
1 Student centered Teacher-centered
2 Problem-based Information-gathering
3 Integrated Discipline-based
4 Community-based Hospital-based
5 Elective Uniform
6 Systematic approach Apprenticeship
Sumber: Harden et al., 2009

Perhatikan, model PBL yang disebut Harden et al. (2009) sebagai SPICES menekankan
pembelajaran berdasarkan masalah yang berbasis komunitas (strategi 4), bukan berbasis rumah
sakit. Jadi model ini sesuai dengan area kompetensi yang dinyatakan dalam Standar Kompetensi
Dokter (KKI, 2006b), bahwa seorang dokter harus mampu mengelola masalah kesehatan pasien
sebagai individu secara utuh, sebagai bagian dari keluarga dan masyarakat. Selain itu,
pembelajaran berbasis komunitas juga merupakan syarat mutlak jika pendidikan dokter bertujuan
mewujudkan visi pendidikan dokter pada FK UNS, yaitu dokter yang berorientasi kesehatan
komunitas.
IMPLEMENTASI PBL
Seven Jumps Maastricht. FK UNS menggunakan Tujuh Langkah (Seven Jumps) yang
dikembangkan Maastricht, Belanda, dalam mengimplementasikan diskusi tutorial PBL (Tabel
1.4).
Tabel 1.4 Seven Jumps Maastricht dalam proses tutorial
Langkah 1 Mengidentifikasi dan mengklarifikasi istilah dan konsep yang belum dikenal
dalam skenario. Notulen membuat daftar istilah yang masih belum jelas sampai
akhir diskusi
Langkah 2 Mendefinisikan masalah yang akan dibahas. Jika terdapat perbedaan pandangan
tentang masalah yang perlu dibahas, maka semua masalah harus dipertimbangkan.
Notulen membuat daftar masalah yang sudah disepakati untuk dibahas
Langkah 3 Sesi brainstorming (curah pendapat) untuk membahas masalah, yaitu
memberikan saran penjelasan dan mengidentifikasi area yang belum diketahui
dengan sempurna. Notulen mencatat semua pokok diskusi
Langkah 4 Kaji ulang langkah 2 dan 3, lalu tata penjelasan-penjelasan menjadi solusi
sementara. Notulen menata penjelasan-penjelasan
Langkah 5 Rumuskan tujuan pembelajaran (learning objective). Kelompok menyepakati
tujuan pembelajaran. Tutor memastikan bahwa tujuan pembelajaran terfokus, bisa
dicapai, komprehensif, dan tepat
Langkah 6 Belajar mandiri (semua mahasiwa mengumpulkan informasi yang berhubungan
dengan tujuan pembelajaran)
Langkah 7 Kelompok berbagi hasil belajar mandiri (mahasiswa mengindetifikasi sumber
belajar dan berbagi hasilnya). Tutor memeriksa pembelajaran, dan menilai kinerja
kelompok
Sumber: Wood, 2003

Tabel 1.5, 1.6, 1.7, dan 1.8, berturut-turut menyajikan daftar peran Ketua, Notulen, Peserta, dan
Fasilitator (Tutor) Kelompok Turoial PBL.
Tabel 1.5 Peran Ketua dan diskusi PBL
1 Memimpin proses diskusi kelompok
2 Mendorong anggota kelompok untuk mengambil bagian
dalam diskusi
3 Memelihara dinamika kelompok
4 Mengatur waktu
5 Memastikan kelompok mencapai tujuan pembelaajaran
(learning objective)
6 Memastikan notulen membuat catatan dengan akurat
Sumber: Wood, 2003

Tabel 1.6 Peran Notulen (Pencatat) dalam diskusi PBL


1 Mencatat inti diskusi yang dikemukan kelompok
2 Membantu kelompok dalam mengurutkan pikiran dan
gagasan
3 Berpartisipasi dalam diskusi
4 Mencatat sumber daya yang digunakan oleh kelompok
Sumber: Wood, 2003

Tabel 1.7 Peran Peserta dalam diskusi PBL


1 Mengikuti urutan langkah-langkah proses
2 Berpartisipasi dalam diskusi
3 Mendengarkan dan menghargai kontribusi peserta
lainnya
4 Mengajukan pertanyaan terbuka
5 Mencapai semua tujuan pembelajaran (learning
objective)
6 Berbagai informasi dengaan peserta lainnya
Sumber: Wood, 2003
Tabel 1.8 Peran Tutor dalam diskusi PBL
1 Mendorong semua anggota kelompok untuk
berpartisipasi dalam diskusi
2 Membantu ketua untuk memelihara dinamika kelompok
dan mengatur waktu
3 Memastikan bahwa notulen membuat catatan dengan
akurat
4 Mencegah disuksi di luar skenario
5 Memastikan kelompok mencapai tujuan kompetensi
(learning objective)
6 Memeriksa pemahaman peserta
7 Menilai kinerja peserta
Sumber: Wood, 2003

REFERENSI
Gwee M (2009). Problem-based learning: A strategic learning system design for the education of
healthcare professionals in the 21ST Century. The Kaohsiung Journal of Medical Sciences, 25
(5), 231-239
Halonen D (2010). Problem based learning: A case study. University fo Manitoba. auspace.
athabascau.ca:8080/.../Problem%20Based%20Learning.ppt. Diakses 20 Agustus 2010.
Harden RM, Sowden S, Dunn WR (2009). Educational strategies in curriculum development: the
SPICES model. ASME. www.medicaleducation.com
KKI (2006a). Standar pendidikan profesi dokter. Jakarta: Konsil Kedokteran Indonesia.
KKI (2006b). Standar kompetensi dokter. Jakarta: Konsil Kedokteran Indonesia.
Wood DF (2003). ABC of learning and teaching in medicine. Problem based learning. BMJ, 326