Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hydrocephalus adalah keadaan patologi otak yang mengakibatkan bertambahnya
cairan serebrospinalis (CSS) dengan tekanan intrakarnial yang meninggi sehingga
terdapat pelebaran ruangan tempat mengalirnya CSS. Hydrocephalus Kongenital
umumnya terjadi sekunder akibat malformasi susunan saraf pusat atau stenosis
aquaduktus. Hydrocephalus biasanya timbul selama periode neonatus atau pada awal
masa bayi. Harus dibedakan dengan pengumpulan cairan lokal tanpa tekanan intrakarnial
yang meninggi seperti pada kista porensefali atau pelebaran ruangan CSS akibat
tertimbunnya CSS yang menempati ruangan, sesudah terjadinya atrofi otak.
Hydrocephalus yang tampak jelas dengan tanda tanda klinis yang khas disebut
hydrocephalus yang manifes. Sementara itu, hydrocephalus dengan ukuran kepala yang
normal disebut sebagai hydrocephalus yang tersembunyi. Dikenal Hydrocephalus
Kongenital dan Hydrocephalus Akuisita.
Secara keseluruhan, insidensi hidrosefalus antara 0,2-4 setiap 1000 kelahiran.
Insidensi hidrosefalus kongenital adalah 0,5-1,8 pada tiap 1000 kelahiran dan 11%-43%
disebabkan oleh stenosis aqueductus serebri. Tidak ada perbedaan bermakna insidensi
untuk kedua jenis kelamin, juga dalam hal perbedaan ras. Hidrosefalus dapat terjadi pada
semua umur. Pada remaja dan dewasa lebih sering disebabkan oleh toksoplasmosis.
Hidrosefalus infantil; 46% adalah akibat abnormalitas perkembangan otak, 50% karena
perdarahan subaraknoid dan meningitis, dan kurang dari 4% akibat tumor fossa posterior.
Secara internasional, insiden hidrosefalus yang didapat juga tidak diketahui jumlahnya.
Sekitar 100.000 shunt yang tertanam setiap tahun di negara maju, tetapi informasi untuk
negara-negara lain masih sedikit. Kematian pada hidrosefalus yang tidak ditangani dapat
terjadi oleh karena herniasi tonsil sekunder yang dapat meningkatkan tekanan
intracranial, kompresi batang otak dan sistem pernapasan (Darsono, 2005:211).
Kasus ini merupakan salah satu masalah dalam bedah saraf yang paling sering
ditemui. Data menyebutkan hidrosefalus kongenital terjadi pada 3 dari 1000 kelahiran di
Amerika Serikat dan ditemukan lebih banyak di negara berkembang seperti Brazil yaitu
sebanyak 3,16 dari 1000 kelahiran (Melo,2013) Indonesia ditemukan sebanyak 40%
hingga 50% dari kunjungan berobat atau tindakan operasi bedah saraf (Ibrahim,2012).
Hidrosefalus menjadi kasus yang banyak terjadi di perkotaan. Angka kejadian
kasus hidrosefalus di RSUP Fatmawati di ruang rawat bedah anak lantai III utara selama
3 bulan dari bulan Januari-Maret 2013 adalah sebanyak 22 kasus. Penyebab hidrosefalus
salah satunya adalah bakteri. Daerah perkotaan yang padat penduduk, memungkinkan
terjadi penyebaran bakteri dengan cepat salah satunya bakteri yang menyebabkan
hidrosefalus. Selain itu, pada daerah perkotaan yang padat penduduk masih banyak
penduduk yang tingkat kesejahteraannya rendah. Tingkat kesejahteraan yang rendah
dapat mempengaruhi nutrisi pada ibu hamil. Nutrisi pada ibu hamil juga mempengaruhi
perkembangan janin. Ibu dengan nutrisi yang kurang, maka perkembangan janin pun akan
terganggu sehingga dapat menimbulkan kelainan kongenital seperti hidrosefalus.
Kebanyakan kasus hidrosefalus dialami oleh neonatus. Anak dengan hidrosefalus
memerlukan perawatan khusus dan benar karena pada anak yang mengalami hidrosefalus
ada kerusakan saraf yang menimbulkan kelainan neurologis berupa gangguan kesadaran
sampai pada gangguan pusat vital dan resiko terjadi dekubitus. Ruang rawat bedah anak,
banyak memberikan pasien perawatan termasuk tindakan pemasangan infus, perawatan
luka dan prosedur invasif lain.
Tindakan keperawatan ini didokumentasikan pada suatu asuhan keperawatan
yang dibuat setiap hari untuk memantau kondisi terkini atau teraktual dari pasien. Laporan
dokumentasi asuhan keperawatan ini berisikan tentang identifikasi pasien dan prosedur
keperawatan yang sudah diberikan selama pasien di rumah sakit ( Mangole, dkk 2015).
Oleh karena itu penulis ingin menulis asuhan keperawatan pada An. MUA 32 bulan yang
tergolong balita dengan kasus hidrosefalus di ruang Anak Lantai Dasar RSUP Dr. Kariadi
Semarang.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu melakukan asuhan keperawatan pada anak yang
mengalami hidrosefalus.
2. Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penulisan asuhan keperawatan ini adalah
mahasiswa:
- Mampu mengidentifikasi masalah fisik yang muncul pada anak
dengan hidrosefalus.
- Mampu memberikan asuhan keperawatan pada anak dengan
hidrosefalus.
BAB IV
PEMBAHASAN

An. MUA, berjenis kelamin laki-laki, berusia 2 tahun, 8 bulan 22 hari masuk RSUP Dr.
Kariadi pada 24 Maret 2017 awalnya hanya untuk kontrol, namun ternyata dari rumah
sakit mengajurkan untuk rawat inap karena luka bekas operasi mengalami infeksi dan
dirawat pada ruang anak lantai dasar. Tanggal 25 Maret dilakukan pembedahan serta pada
tanggal 10 April 2017 dilakukan bedah craniotomi drainase abses, kemudian An. MUA
dipindahkan ke ruang PICU/NICU untuk observasi keadaan An. MUA setelah prosedur
invansif. An. MUA dipindah pada lantai dasar pada tanggal 13 April 2017 pada pukul
20.00 WIB. Ny. M orang tua An. MUA menuturkan tentang kondisi An. MUA, yang
sejak dalam kandungan mengalami jatuh atau terbentur sangat keras pada usia 7 bulan/
32 minggu dalam kandungan sehingga perut mengalami pembesaran. Oleh karena
pembesaran tersebut Ny. M harus melahirkan dengan SC dan melakukan MOW karena
mengalami pendarahan yang banyak.
Ny. M mengatakan An. MUA tidak pernah dilakukan imunisasi karena sejak kecil sudah
keluar masuk rumah sakit , Ny. M juga mengatakan anak tidak memiliki riwayat penyakit.
Tumbuh kembang anak terganggu karena gangguan kongenital yang dialami anak.
Terkaji motorik yang baru bisa dilakukan hanya mengunyah, berkedip, menggenggam
namun tidak terlalu kuat, klien belum bisa berbicara dan memanggil/ berekspresi.
Motorik kasar yang terkaji, klien belum bisa tengkurap, merayap, berjalan ataupun berlari
karena ketidakmampuan klien dalam berkatifitas. Ny. M mengatakan dalam keluarga
tidak ada yang mengalami penyakit yang sama dengan anak. Namun dalam keluarga
saudara dari ayah An. MUA ada yang mengalami kelumpuhan dan asma.
Hasil dari pemeriksaan fisik yang dilakukan ialah RR= 30 x/menit (mengalami sesak
nafas), Suhu = 36,7 0C, HR = 135 x/menit, saturasi 100 %, LILA= 14,5 cm, PB = 85
cm, BB = 10, 5 kg, LK= 50 cm (membesar), LD = 52 cm, LP= 52 cm. Terkaji z-score
menunjukkan nilai -1,8 yaitu gizi baik, serta anak tidak mengalami anoreksia, mual dan
muntah, kebutuhan cairan yang dibutuhkan anak adalah 1025 ml/hari dan tercukupi.
Kualitas tidur klien kira-kira 12 jam perhari. Pengkjian nyeri dilakukan secara CPOT
didapatkan skor 2 dengan kategori nyeri ringan. GCS klien 15 compos mentis, keadaan
klien lemah dan spastik (kaku sendi). Pemeriksaan kepala didapatkan kepala berbentuk
mesosepal (membesar), terdapat bekas luka post op craniotomy, LK= 50 cm, ubun-ubun
tidak tampak jelas dan tegang, dahi menonjol namun tidak mengkilat, Fontanel tegang,
Sutura keras dan melebar, kulit kepala keras dan cracked sign terdengar pelan. Ny. M
berkata An. MUA jarang menangi atau tidak pernah menangis sejak di RS serta An. MUA
pernah memiliki riwayat kejang sebelumnya. Oleh karena itu diambil diagnosa
keperawatan Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak berhubungan dengan
gangguan serebrovaskular (00201). Tindakan keperawatan yang sudah dilakukan untuk
meminimalisir masalah pada perfusi jaringan otak anak ialah memonitor tekanan
intrakranial (TIK) (NIC: 2590), kontrol infeksi (6540) dan pencegahan kejang ( 2690).
Pemeriksaan hidung ditemukan anak terpasang O2 dengan 2 lpm, dan terkaji RR 30
x/menit, anak tampak gelisah dan mengalami sesak nafas, terdapat pernafasan cuping
hidung dan rektraksi dinding dada, pola pernafasan cepat dan dalam serta terkaji suara
nafas tambahan whezzing (mengi). Diagnosa keperawatan dalam hal ini adalah
Ketidakefektifan Pola Nafas berhubungan dengan gangguan neurologis hidrosefalus yang
sudah dilakukan tindakan keperawatan yaitu : Manajemen Jalan Nafas (3140) serta
monitoring pernafasan (3350) dalam hal ini ada memonitoring O2 yang diberikan.
Terapi oksigen merupakan terapi pernafasan untuk mempertahankan oksigenasi jaringan
yang adekuat. Secara klinis tujuan utama pemberian O2 adalah untuk mengatasi keadaan
hipoksemia, menurunkan kerja nafas serta meurunkan kerja miokad (Harahap,2004).
Terdapat 3 sistem untuk memberikan oksigen kepada pasien tanpa intubasi. Untuk
konsentrasi oksigen rendah, kanula hidung dapat memberikan oksigen antara 24%
(IL/menit) sampai 36% (4 -5L/menit). Konsentrasi oksigen sedang (40-60%) dicapai
dengan pemberian lewat masker oksigen, sedangkan konsentrasi hingga 100% hanya
dapat dicapai dengan menggunakan stingkup muka reservoir. Pada kegawatan napas
trauma diberikan oksigen 6L/menit dengan sungkup muka. Pada penderita kritis berikan
100% oksigen, meskipun secara umum terapi oksigen memberikan manfaat yang
bermakna pada bentuk hipoksik hipoksemia dan anemi hipoksemia. Efek samping yang
sering dikhawatirkan adalah keracunan oksigen, tetapi hal tersebut terjadi setelah 24-48
jam terapi oksigen dengan fraksi inspirasi oksigen (Fi02)>60%. Oleh karena itu sedapat
mungkin setelah masa kritis, terapi oksigen diturunkan bertahap sampai Fi02<60%
dengan target untuk mendapatkan minimal saturasi oksigen (Sa02) 90%.
Indikasi pemberian terapi O2 adalah kerusakan 02 jaringan yang diikuti gangguan
metabolisme dan sebagai bentuk Hipoksemia, secara umum pada:
- Kadar oksigen arteri (Pa 02) menurun
- Kerja pernafasan meningkat ( laju nafas meningkat, nafas dalam, bemafas dengan
otot tambahan)
- Adanya peningkatan kerja otot jantung (miokard)
Metode & peralatan min. yang harus diperhatikan pada therapi O2:
- Mengatur % fraksi O2 (% FiO2)
- Mencegah akumulasi kelebihan CO2
- Resistensi minimal untuk pernafasan
- Efesiensi & ekonomis dalam penggunanan 02
- Diterima pasien Pa02 kurang dari 60 mmHg
Perkiraan konsentrasi oksigen pada alat masker semi rigid
Kecepatan aliran02 % Fi02 yang pasti
4 1/mnt 0,35
6 1/mnt 0,50
8 1/mnt 0,55
10 1/mnt 0,60
12 l/mnt 0,64
15 l/mnt 0,70
Tidak ada peralatan yang dapat memberi O2 100 %, walaupun O2 dengan kecepatan >
dari Peak Inspiratory flow rate (PIFR)
Metode pemberian oksigen
I. Sistem Aliran Rendah
1. Kateter Nasal Oksigen : Aliran 1 - 6 liter/ menit menghasilkan oksigen dengan
konsentrasi 24-44 % tergantung pola ventilasi pasien. Bahaya : Iritasi lambung,
pengeringan mukosa hidung, kemungkinan distensi lambung, epistaksis.
2. Kanula Nasal Oksigen : Aliran 1 - 6 liter / menit menghasilkan 02 dengan
konsentrasi 24 - 44 % tergantung pada polaventilasi pasien. Bahaya : Iritasi
hidung, pengeringan mukosa hidung, nyeri sinus dan epitaksis
3. Sungkup muka sederhana Oksigen : Aliran 5-8 liter/ menit menghasilkan 0 2
dengan konsentrasi 40 - 60 %. Bahaya : Aspirasi bila muntah, penumpukan C02
pada aliran 02 rendah, Empisema subcutan kedalam jaringan mata pada aliran 02
tinggi dan nekrose, apabila sungkup muka dipasang terlalu ketat.
4. Sungkup muka" Rebreathing " dengan kantong 02 Oksigen : Aliran 8-12 l/menit
menghasilkan oksigen dnegan konsentrasi 60 - 80%. Bahaya : Terjadi aspirasi
bila muntah, empisema subkutan kedalam jaringan mata pada aliran 02 tinggi dan
nekrose, apabila sungkup muka dipasang terlalu ketat.
5. Sungkup muka" Non Rebreathing" dengan kantong 02 Oksigen : Aliran 8-12
l/menit menghasilkan konsentrasi 02 90 %. Bahaya : Sama dengan sungkup muka
"Rebreathing".
II. SistemAliran tinggi
1. Sungkup muka venturi (venturi mask) Oksigen : Aliran 4 -14 It / menit
menghasilkan konsentrasi 02 30 - 55 %. Bahaya : Terjadi aspirasi bila muntah dan
nekrosis karena pemasangan sungkup yang terialu ketat.
2. Sungkup muka Aerosol (Ambu Bag) Oksigen : Aliran lebih dan 10 V menit
menghasilkan konsentrasi 02 100 %. Bahaya : Penumpukan air pada aspirasi bila
muntah serta nekrosis karena pemasangan sungkup muka yang terialu ketat.
Bahaya terapi oksigen adalah :
1. Nekrose C02 ( pemberian dengan Fi02 tinggi) pada pasien dependent on Hypoxic
drive misal kronik bronchitis, depresi pemafasan berat dengan penurunan
kesadaran . Jika terapi oksigen diyakini merusak C02, terapi 02 diturunkan
perlahan-lahan karena secara tiba-tiba sangat berbahaya
2. Toxicitas paru, pada pemberian Fi02 tinggi ( mekanisme secara pasti tidak
diketahui). Terjadi penurunan secara progresif compliance paru karena
perdarahan interstisiil dan oedema intra alviolar
3. Retrolental fibroplasias. Pemberian dengan Fi02 tinggi pada bayi premature pada
bayi BB < 1200 gr. Kebutaan
4. Barotrauma ( Ruptur Alveoli dengan emfisema interstisiil dan mediastinum), jika
02 diberikan langsung pada jalan nafas dengan alat cylinder Pressure atau auflet
dinding langsung.
Pemantauan pada pemberian terapi O2 ini diantaranya adalah :
1. Wamakulit pasien. Pucat/ Pink / merah membara.
2. Analisa Gas Darah (AGD)
3. Oksimetri
4. Keadaan umum.
Pemeriksaan kekuatan otot pada klien tekaji ektremitas atas 4 dan ekstremitas bawah 4,
dan klien mengalami kelemahan serta kaku atau spastik. Ny. M mengatakan anak belum
bisa belajar posisi tengkurap karena keadaan kepala yang besar. Diagnosa keperawatan
yang muncul adalah Hambatan Imobilitas Fisik berhubungan dengan kerusakan integritas
struktur tulang kepala. Intervensi keperawatan yang sudah dilakukan pada hal ini adalah
perawatan tirah baring (0740) : yaitu perawatan dengan menjaga posisi klien seuai dengan
body aligment, dan merubah posisi klien selama 2 jam seperti miring ke kanan atau kekiri
untuk meminimalisir luka tekan yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Intervensi lainnya
seperti manajemen energi klien (0180) : dengan memonitor intake nutrisi klien serta
menjaki status fisiologis klien sesuai dengan usia.
Penurunan motorik kasar dan halus klien menjadi data penting untuk penengakkan
diagnosa keperawatan resiko keterlambatan perkembangan berhubungan dengan faktor
resiko infeksi / cedera cerebral (hidrosefalus). Intervensi yang sudah dilakukan untuk
mengatasi maslah ini adalah peningkatan dalam perkembangan anak (8274) : yaitu
dengan membangun hubungan saling percaya dengan orang tua dan klien, menialai tubuh
kembang anak, kolaborasi dengan orang tua tentang pertumbuhan dan perkembangan
anak. Intervensi lain yang juga bisa diberikan seperti memberikan dukungan kepada
keluarga ( 7140) : yaitu dengan yakinkan keluarga bahwa anak sedang diberikan
perawatan yang terbaik, menialai reaksi emosi keluarga terhadap keadaan klien sekarang
serta meningkatkan hubungan saling percaya.
Pengelolaan pasien dilakukan dalam 3 hari dan pada hari ke 3 dilakukan evaluasi
terhadap keadaan klien. Evaluasi dilakukan pada 3 hari dan pada hari ke 3 diperoleh data
bahwa An. MUA didapatkan hasil :
15 April 2017 pada masalah keperawatan :
1. Ketidakefektifan Pola Nafas berhubungan dengan gangguan neurologis
hidrosefalus
Memperoleh hasil. Ny. M mengatakan anak belum bisa memberlakukan bongkar
pasang masker dan masih sangat perlu menggunakan masker, anak masih terlihat
sesak RR terkaji 30 x/menit, suara nafas tambahan whezzing dan pergerakan
dinding dada serta nafas dengan cuping hidung. Masalah belum teratasi, maka
perlu dilakukan tindakan pemantauan pola nafas dan kebutuhan oksigenasi klien.
2. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak berhubungan dengan gangguan
serebrovaskular (00201).
Memperoleh hasil Ny. M mengatakan anak MUA sudah menunjukkan respon
terhadap rangsang seperti melawan nyeri atau gelisah saat nyeri. Masalah teratasi
sebagian maka masih perlu dilakukan tindakan keperawatan untuk memantau jika
terjadi peningkatan TIK dan kejang secara tiba-tiba.
3. Hambatan Imobilitas Fisik berhubungan dengan kerusakan integritas struktur
tulang kepala.
Memperoleh hasil Ny. M mengatakan anak masih belum mampu bergerak lebih
namun sudah dibantu untuk mencapai posisi miring dengan cara dibantu
direbahkan/ diganti posisinya selama 2 jam sekali. Tampak tidak ada masalah
tambahan seperti luka tekan di bagian belakang punggung klien. Masalah teratasi
sebagian, maka perlu dilakukan latihan pergerakan tubuh dan manajemen energi
bagi anak MUA agar mudah nantinya melakukan pergerakkan.
4. Resiko keterlambatan perkembangan berhubungan dengan faktor resiko infeksi /
cedera cerebral (hidrosefalus)
Memperoleh hasil Ny. M mengatakan sudah mengetahui tugas-tugas
perkembangan bagi An. MUA diusianya sekarang. Masalah teratasi sebagian
maka perlu dilakukan pendidikan kesehatan untuk melatih stimulasi
perkembangan pada anak sesuai dengan usia An. MUA yaitu bayi mendekati
toddler dan perlu disarankan kepada keluarga untuk konsultasi kepada pskiatri
atau ke lembaga konseling pertumbuh kembangan anak.
BAB V
KESIMPULAN

A. Kesimpulan
Hydrocephalus adalah keadaan patologi otak yang mengakibatkan bertambahnya
cairan serebrospinalis (CSS) dengan tekanan intrakarnial yang meninggi sehingga
terdapat pelebaran ruangan tempat mengalirnya CSS. Anak dengan hidrosefalus
memerlukan perawatan khusus dan benar karena pada anak yang mengalami hidrosefalus
mengalami kerusakan saraf yang menimbulkan kelainan neurologis berupa gangguan
kesadaran sampai pada gangguan pusat vital dan resiko terjadi dekubitus.
Kasus ini sama halnya dengan yang dialami An. MUA 2 tahun,8 bulan 22 hari,
sejak lahir terdiagnosis hidrosefalus yang sekarang dirawat di ruang anak lantai dasar
RSUP Dr. Kariadi Semarang. Masalah fisik maupun mental dapat dialami oleh anak
dengan hidrosefalus. Masalah fisik yang muncul dapat berupa gangguan rasa nyaman
yang diakibatkan oleh peningkatan tekanan intrakranial ditandai dengan membesarnya
kepala anak. Diagosa keperawatan yang ditemukan adalah :
1. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak berhubungan dengan gangguan
serebrovaskular (00201). Tindakan keperawatan yang sudah dilakukan untuk
meminimalisir masalah pada perfusi jaringan otak anak ialah memonitor tekanan
intrakranial (TIK) (NIC: 2590), kontrol infeksi (6540) dan pencegahan kejang (2690).
2. Ketidakefektifan Pola Nafas berhubungan dengan gangguan neurologis hidrosefalus.
Tindakan keperawatan yaitu : Manajemen Jalan Nafas (3140) serta monitoring
pernafasan (3350) dalam hal ini ada memonitoring O2 yang diberikan
3. Hambatan Imobilitas Fisik berhubungan dengan kerusakan integritas struktur tulang
kepala. Intervensi keperawatan yang sudah dilakukan pada hal ini adalah perawatan
tirah baring (0740) dan manajemen energi klien (0180) .
4. Resiko keterlambatan perkembangan berhubungan dengan faktor resiko infeksi /
cedera cerebral (hidrosefalus). Intervensi yang sudah dilakukan untuk mengatasi
maslah ini adalah peningkatan dalam perkembangan anak (8274) dan memberikan
dukungan kepada keluarga ( 7140).
Pada evaluasi tindakan keperawatan selam 3 hari didapatkan beberapa masalah yang
teratasi dan belum teratasi. Masalah yang teratasi sebagian atau teratasi total tetap
dilakukan tindakan seperti pemantauan akan hal-hal yang dapat terjadi seperti tanda-
tanda vital ataupun peningkatan TIK yang dapat terjadi dalam waktu singkat.
Sedangkan diagnosa yang belum teratasi dilakukan evaluasi ulang dan pengkajian
ulang terhadap kondisi klien agar dapat lebih tepa membuat perencanaan tindakan
keperawatannya.
B. Saran
Hasil kesimpulan yang telah diuraikan di atas, penulis dapat memberikan saran
terkait hasil pemberian asuhan keperawatan pada klien dengan hidrosefalus adalah
sebagai berikut :
a. Bagi Mahasiswa.
Mempelajari secara komperhensif tentang pengakajian fisik yang khas ditemui,
analisa data yang muncul, perencanaan tindakan keperawatan, pelaksanaan tindakan
keperawatan menganalisa respon yang muncul dan mengevaluasi seluruh tindakan
keperawatan yang telah dilakukan dalam memberikan asuhan keperawatan anak
dengan kasus Hidrosefalus.
b. Pelayanan Kesehatan.
Saran untuk pelayanan di rumah sakit agar asuhan keperawatan yang diberikan
tidak hanya sebatas masalah fisik saja, namun juga dapat diberikan asuhan
keperawatan psikososial pada pasien di ruang rawat sehingga dapat meningkatkan
mutu pelayanan rumah sakit. Sedangkan saran untuk perawat ruangan agar dapat terus
memotivasi dan melibatkan anak dan keluarga dalam setiap pemberian asuhan
keperawatan serta lebih memperhatikan tumbuh kembang pada anak dan memotivasi
dan mengedukasi keluarga klien untuk stimulasi tumbuh kembang pada anak.
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, Gloria. M, Howard K. Butcher, Joanne M. Dochterman, dan Cheryl M.


Wagner. 2016 . Nursing Intervention Classification (NIC) Edisi ke enam. CV
Mocomedia . Elsevier Inc.
Darsono dan Himpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia dengan UGM. (2005). Buku
ajar neurologi klinis. Yogyakarta: UGM Press.
Herman T. Heather dan Shigemi Kamitsuru. 2015. Diagnosis Keperawatan Definisi dan
Klasifikasi / Nanda International Inc. Nursing diagnose : Definition &
Classification 2015-2017 Edisi 10. Jakarta : EGC
Ibrahim S, Rosa AB, Harahap AR. Hydrocephalus in children. In: Sastrodiningrat AD,
ed. Neurosurgery lecture notes. Medan: USU Press; 2012. P.671-80.
Mangole, Sefty dan Yudi. 2015. Hubungan Perilaku Perawat Dengan
Pendokumentasian Asuhan Keperawatan Di Cardiovaskular And Brain Center
Rsup Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas
Kedokteran. Universitas Sam Ratulangi Manado
Melo JR, deMelo EN, de Vasconcellos AG, Pacheco P. Congenital hydrocephalus in
the northeast of Brazil: epidemiological aspects, prenatal diagnosis, and treatment.
Child Nerv Syst [internet]. 2013 [cited 2013 April 28]. Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23609898
Morhead, Sue, Marion Jhonson, Meridean L. Maas dan Elizabeth Swanson. 2016 .
Nursing Outcomes Clasification (NOC) / Pengukuran Outcomes Kesehatan Edisi
kelima . CV Mocomedia . Elsevier Inc.