Anda di halaman 1dari 5

KONSEP PEMILIHAN BAHASA

1. Sosioliguistik
Sosiolinguistik adalah cabang ilmu bahasa yang berusaha menerangkan
korelasi antara perwujudan struktur atau elemen bahasa dengan faktor-faktor
sosiokultural pertuturannya dan tentu saja mengasumsikan pentingnya pengetahuan
dasar-dasar linguistik dengan berbagai cabangnya, seperti fonologi, morfologi,
sintaksis, dan semantik dalam mengidentifikasi dan menjelaskan fenomena-fenomena
yang menjadi objek kajiannya, yakni bahasa dengan berbagai variasi sosial atau
regionalnya. Sosiolinguistik sebagai cabang ilmu linguistik memandang atau
menempatkan kedudukan bahasa dalam hubungannya dengan pemakai bahasa di
dalam masyarakat karena dalam kehidupan bermasyarakat manusia tidak lagi sebagai
individu.

Kajian sosiolinguistik memposisikan bahasa tidak didekati sebagai bahasa


sebagaimana dalam kajian linguistik teoretis, melainkan didekati sebagai sarana
interaksi di dalam masyarakat. Konferensi sosiolinguistik pertama yang berlangsung
di University of California, Los Angeles, tahun 1964, telah merumuskan adanya tujuh
dimensi dalam penelitian sosiolinguistik. Ketujuh dimensi yang merupakan bidang
kajian sosiolinguistik itu adalah (1) identitas sosial penutur, (2) identitas peserta tutur,
(3) lingkungan sosial tempat peristiwa tutur, (4) analisis sinkronik dan diakronik dari
dialek-dialek sosial, (5) penilaian sosial yang berbeda oleh penutur akan perilaku
bentuk-bentuk ujaran, (6) tingkatan variasi linguistik, dan (7) penerapan praktis
penelitian sosiolinguistik.1 Rumusan lain menyebutkan bahwa obyek kajian meliputi
hubungan antara pembicara dan pendengar, berbagai macam bahasa
dan variasinya, penggunaannya sesuai dengan berbagai faktor penentu, baik faktor
kebahasaan maupun lainnya, serta berbagai bentuk bahasa yang hidup dan
dipertahankan di dalam suatu masyarakat.2

Bardasarkan beberapa rumusan diatas, kajian sosiolinguistik mencakupi


bidang kajian yang luas, bukan hanya menyangkut wujud formal bahasa dan variasi
bahasa melainkan juga penggunaan bahasa di masyarakat. Penggunaan bahasa
tersebut bertemali dengan berbagai faktor, baik faktor kebahasaan itu sendiri maupun
faktor nonkebahasaan, seperti faktor sosialbudaya, termasuk tata hubungan antara
pembicara dan pendengar. Implikasinya adalah bahwa tiap-tiap kelompok masyarakat
1
) Norbert Dittmar, Sociolinguistics (London: Edwar Arnold,1976), hal.128
2
) Soeseno Kartomihardjo, Bahasa Cermin Kehidupan Masyarakat ( Jakarta: Depdikbud, 1988), hal.4
mempunyai kekhususan dalam hal nilai-nilai sosialbudaya dan variasi penggunaan
bahasa dalam interaksi sosial.

2. Pemilihan Bahasa
Pemilihan bahasa (language choice) dalam masyarakat multibahasa menurut
perspektif sosiolinguistik merupakan gejala yang menarik untuk dikaji. Fasold
mengemukakan bahwa sosiolinguistik dapat menjadi bidang studi karena adanya
pilihan pemakaian bahasa.3 Fasold memberikan ilustrasi dengan istilah societal
multilingualism (multilingualisme masyarakat) yang mengacu pada kenyataan adanya
banyak bahasa dalam masyarakat yang sangat terbuka peluang terjadinya pemilihan
bahasa dalam pemakaiannya sesuai dengan tuntutan situasional.4 Sosiolinguistik
melihat fenomena pemilihan bahasa sebagai fakta sosial dan menempatkannya dalam
sistem lambang (kode), sistem tingkah laku budaya, serta sistem pragmatik. Dengan
demikian, kajian sosiolinguistik menyikapi fenomena pemilihan bahasa sebagai
wacana dalam peristiwa komunikasi dan sekaligus menunjukkan identitas sosial dan
budaya peserta tutur.
3. Pemilihan Bahasa dalam Perspektif Sosiolinguistik

Sosiolinguistik mengkaji masyarakat dwibahasa atau multibahasa. Dalam


kenyataannya, fenomena pemilihan bahasa juga akan bertemali dengan situasi
semacam itu sebab untuk menentukan peilihan bahasa atau ragam bahasa tertentu,
tentu ada bahasa lain atau ragam lain yang ikut digunakan dalam berkomunikasi
sehari-hari sebagai pendamping sekaligus pembanding. Studi pemilihan bahasa dalam
masyarakat seperti itu lebih mengutamakan aspek tutur (speech) daripada aspek
bahasa (language). Sebagai aspek tutur, pemakaian bahasa relatif berubah-ubah sesuai
dengan perubahan unsur-unsur dalam konteks sosial budaya. Hymes merumuskan
unsur-unsur itu dalam akronim SPEAKING,5 yang merupakan salah satu topik di
dalam etnografi komunikasi (the etnography of communication), yang oleh Fishman
disebut sebagai variabel sosiolinguistik.6 Ketujuh belas komponen itu oleh Hymes
diklasifikasikan lagi menjadi delapan komponen yang diakronimkan
dengan SPEAKING: (1) setting and scene (latar dan suasana tutur),
(2) participants (peserta tutur), (3) ends (tujuan tutur), (4) act sequence(topik/urutan
tutur), (5) keys (nada tutur), (6) instrumentalities (sarana tutur), (7) norms (norma-

3
) Ralph Fasold, The Sociolinguistics of Society( Oxford: Basil Blackwell, 1984), hal. 180
4
) Ralph Fasold, The Sociolinguistics of Society, hal. 180
5
) Dell Hymes, ed. . Foundations in Sociolinguistics An Ethnographics Approach (Philadelpia:
University of Pennsylvania Press, 1980), hal.
6
) Joshua A Fishman, The Sociology of Language (Rowley: Newbury House,1972), hal. 15
norma tutur), dan (8) genre (jenis tutur). Pandangan Hymes di atas dijadikan
kerangka konsep pelaksanaan penelitian ini. Kedelapan komponen peristiwa tutur
tersebut merupakan faktor luar bahasa yang menentukan pemilihan bahasa.

4. Kategori Pemilihan Bahasa


Pemilihan bahasa tidak sesederhana yang dibayangkan, yaitu memilih sebuah
bahasa secara keseluruha (whole language) dalam suatu komunikasi. Dalam hal
memilih bahasa, terdapat tiga jenis pilihan. Pertama, dengan memilih satu variasi dari
bahasa yang sama (intra-language-variation). Kedua, dengan alih kode (code-
swicthing), artinya menggunakan satu bahasa pada satu keperluan, dan menggunakan
bahasa yang lain pada keperluan lain. Ketiga, dengan melakukan campur kode (code-
mixing), artinya menggunakan satu bahasa tertentu dengan dicampuri serpihan-
serpihan dari bahasa lain.
Peristiwa peralihan bahasa atau alih kode (code-switching) dapat terjadi
karena beberapa faktor, yakni respon penutur terhadap situasi tutur (seperti kehadiran
seseorang dari luar dan perubahan topik pembicaraan) dan sebagai alat retorik
(seperti penekanan pada kata-kata tertentu atau penghindaran terhadap kata-kata yang
tabu). Menurut Blom dan Gumperz ada dua macam alih kode, yaitu (1) alih kode
situasional (situational switching) dan (2) alih kode metaforis (metaphorical
switching). Alih kode yang pertama terjadi karena perubahan situasi, sedangkan alih
kode yang kedua terjadi karena bahasa atau ragam bahasa yang dipakai merupakan
metafora (yang melambangkan identitas penutur).7

5. Faktor-Faktor Penentu Pemilihan Bahasa

Terdapat empat faktor utama yang menyebabkan pemilihan bahasa, yaitu (1)
latar (waktu dan tempat) dan situasi, (2) partisipan dalam interaksi, (3) topik
percakapan, dan (4) fungsi interaksi.8 Faktor pertama dapat berupa hal-hal, seperti:
makan pagi di lingkungan keluarga, pesta kuliah, atau berkencan. Faktor kedua
mencakup hal-hal, seperti: usia, jenis kelamin, pekerjaan, status sosial ekonomi, asal,
latar belakang kesukuan, dan peranannya dalam hubungan dengan partisipan lain.
(contoh: direktur-karyawan, suami-istri, penjual pembeli, guru-siswa). Faktor ketiga
dapat berupa: topik-topik tentang pekerjaan, olah raga, harga sembako, peristiwa

7
) John Gumperz, dan Dell Hymes, (eds.). Direction in Sociolinguistics (New York: Holt, Rinehart,
and Winston. 1972), hal. 408-409
8
) Fracois Groesjean, Life with Two Languages (Cambridge: Harvard University Press, 1982) hal.136
aktual, dan sebagainya. Faktor keempat dapat berupa hal-hal seperti: penawaran
informasi, permohonan, dan mengucapkan terima kasih.

Aspek yang perlu diperhatikan dari faktor partisipan adalah keahlian


berbahasa, pilihan bahasa yang dianggap lebih baik, status sosial ekonomi, usia, jenis
kelamim, pendidikan, pekerjaan, latar belakang etnis, relasi kekeluargaan, keintiman,
sikap kepada bahasa-bahasa, dan kekuatan luar yang menekan. Faktor situasi
mencakup: lokasi atau latar, kehadiran pembicara monolingual,tingkat formalitas, dan
tingkat keintiman. Faktor isi wacana berkaitan dengan topik percakapan dan tipe
kosakata. Faktor fungsi interaksi mencakup: strategi menaikan status, jarak sosial,
melarang masuk atau mengeluargak sesoorang dari pembicaraan, dan memerintah
atau meminta.

6. Pendekatan Pemilihan Bahasa

Pemilihan bahasa menurut Fasold dapat dilakukan berdasarkan tiga


pendekatan, yaitu pendekatan sosiologi, pendekatan psikologi sosial, dan pendekatan
antropologi.9 Pendekatan sosiologi berkaitan dengan analisis ranah (domain). Ranah
didefinisikan sebagai konsepsi sosiokultural yang diabstraksikan dari topik
komunikasi, hubungan peran antar komunikator, tempat komunikasi di dalam
keselarasan lembaga masyarakat dan bagian dari aktivitas masyarakat tutur. Di bagian
lain, ranah adalah konsepsi teoretis yang menandai satu situasi interaksi yang
didasarkan pada pengalaman yang sama dan terikat oleh tujuan dan kewajiban yang
sama, misalnya keluarga, ketetanggaan, agama, dan pekerjaan. Sebagai contoh,
apabila penutur berbicara di rumah dengan seorang anggota keluarga mengenai
sebuah topik, maka penutur itu dikatakan berada pada ranah keluarga.Berbeda dengan
pendekatan sosiologi, pendekatan psikologi sosial lebih tertarik pada proses
psikologis manusia daripada kategori dalam masyarakat luas. Pendekatan ini lebih
berorientasi pada individu, seperti motivasi individu, daripada berorientasi pada
masyarakat. Sedangkan pandangan antropologi menegaskan bahwa pilihan bahasa
bertemali dengan perilaku yang mengungkap nilai-nilai sosial budaya. Seperti juga
psikologi sosial, antropologi tertarik dengan bagaimana seorang penutur berhubungan
dengan struktur masyarakat. Perbedaannya adalah bahwa jika psikologi sosial
memandangnya dari sudut kebutuhan psikologis penutur, pendekatan antropologi

9
) Ralph Fasold, The Sociolinguistics of Society, hal. 183
memandangnya dari bagaimana seseorang menggunakan pemilihan bahasanya untuk
mengungkapkan nilai kebudayaannya.10

10
) Ralph Fasold, The Sociolinguistics of Society, hal. 192