Anda di halaman 1dari 2

Sederhana Yang Tidak Sederhana

CEO sekaligus pendiri facebook, Mark Zuckerberg, merupakan salah satu orang
yang paling berpengaruh di dunia saat ini. Kekayaan yang dimilikinya ditaksir senilai 73
miliar dolar yang membuatnya masuk pula ke dalam jajaran orang terkaya di dunia.
Dengan ketenaran dan harta yang dimiliki tentu zuckerberg dapat tampil glamor setiap
waktu. Namun demikian Zuckerberg memilih untuk menjadi seorang yang tercitrakan
sederhana dengan kaos polos abu-abu sebagai ciri khasnya. Namun apakah dia benar-
benar sesederhana sebagaimana terlihat dari cara berpenampilannya?

Bagaimana dengan pajak? Pajak memiliki pengertian yang sederhana, kontribusi


wajib kepada negara. Namun di satu sisi sebagian besar penerimaan negara bersumber
dari penerimaan pajak. Oleh karenanya pajak menyandang status yang paripurna dan
tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebisa mungkin kita harus menempatkan pajak
sebagai sesuatu yang istimewa. Dan dengan keistimewaannya tersebut pajak harus
diberikan treatment yang paling mutakhir. Bahkan kalau bisa segala sesuatu tentang
pajak dibuat serumit dan sekompleks mungkin, agar orang-orang yang berhubungan
dengan pajak pun dapat dianggap orang istimewa.

Sebenarnya kompleksitas pajak ini tidak semuanya bermaksud buruk. Tidak ada
orang yang senang membayar pajak dan mereka selalu mencari celah untuk mengurangi
atau kalau bisa tidak membayar pajak. Rumitnya segala tetek bengek perpajakan
dimaksudkan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya kecurangan perpajakan
tersebut. Ada pendapat bahwa berbagai modus operandi penghindaran pajak makin
canggih, oleh karenanya pajak harus lebih canggih lagi. Tambal sulam peraturan
perpajakan pun menjadi hal yang pasti terjadi dan berimbas pada makin kompleksnya
perpajakan.
Strategi memerangi penghindaran pajak dengan memutakhirkan peraturan
perpajakan sehingga semaki kompleks ternyata membawa dampak negatif pada
kepatuhan pajak. Kepatuhan pajak sebagai salah satu syarat utama meningkatnya
penerimaan pajak turun karena semakin kompleksnya peraturan pajak. Kompleksitas
pajak membuat orang malas berhubungan dengan pajak. Ibarat kata, ketika ada orang
ingin mendekati kamu tapi syarat yang kamu tetapkan banyak dan belibet. Pasti orang
yang niat awal mau ndeketin bakal mundur sebelum sempat mengambil langkah maju.

Menyadari fenomena tersebut pemerintah berinisiatif untuk membuat pajak menjadi


lebih sederhana. Menurut KBBI, sederhana bermakna bersahaja; tidak berlebih-lebihan;
tidak banyak pernik; lugas. Pajak dibuat selugas mungkin dan tidak bertele-tele. Dengan
kesederhanaanya diharapkan pajak dapat dipahami bahkan bagi orang yang paling
awam sekalipun. Salah satu cara yang paling familiar dalam upaya menyederhanakan
pajak adalah dengan menerapkan tarif PPh Final.

Penerapan PPh Final untuk beberapa jenis penghasilan memang sederhana, baik
dalam perhitungannya maupun dalam administrasinya. Namun kesederhanaan tersebut
menimbulkan masalah lainnya. Pajak harus bersifat adil, salah satu bentuk keadilan pajak
adalah adanya PTKP dan penerapan tarif progresif. Hal tersebut dimaksudkan agar
orang yang berpenghasilan rendah membayar lebih rendah dibanding orang yang
berpenghasilan tinggi, begitu pula sebaliknya. Dengan pajak PPh Final, semua orang
akan membayar dengan jumlah yang sama tanpa memperhitungkan PTKP dan
penghasilannya.

Pajak adalah iuran kepada negara yang sejatinya tidak istimewa dan harusnya
sederhana. Sederhana adalah sesuatu yang terlihat biasa saja, namun sesuatu yang
sederhana itu sesungguhnya tidak sesederhana kelihatannya.