Anda di halaman 1dari 13

Makalah

TEKNOLOGI TERAPAN DALAM PELAYANAN NIFAS

Disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Teknologi Pelayanan Kebidanan


Dosen Pengampu: Triana Indrayani, SST., M.Kes.

Disusun Oleh :
1. Idah Maulidah 173112540120023
2. Ivanda Eka Damayanti 173112540120163
3. Nadera Dwi Putri 173112540120232
4. Maudy Lila Kartika 173112540120233
5. Siti Liani 173112540120229
6. Karolina Noviantini Kristy 173112540120332

D IV KEBIDANAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS NASIONAL
2017
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga makalah ini dapat diselesaikan sesuai waktunya. Tak
lupa shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada junjungan kita, Nabi
Besar Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam, kepada keluarganya, para sahabat, serta dapat
sampai kepada kita selaku umatnya hingga akhir zaman.
Makalah ini berisikan pemaparan mengenai teknologi terapan dalam pelayanan nifas,
khususnya tentang analgetik dalam masa nifas, antibiotik dalam masa nifas, dan cold pack
untuk perineum dalam masa nifas.
Penulisan makalah ini tidak akan terlaksanan tanpa dukungan dan bimbingan dari
berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih
kepada:
1. Ibu Triana Indrayani, SST., M.Kes. selaku dosen mata kuliah Teknologi Pelayanan
Kebidanan.
2. Rekan-rekan mahasiswi Universitas Nasional Prodi D4 Kebidanan.
3. Semua pihak yang telah membantu dalam memberikan dukungan dan doa.
Penulis menyadari makalah yang telah disusun ini tentunya masih banyak kekurangan
baik dari sistem penulisan ataupun muatan dari makalah ini. Oleh karena itu, kritik dan saran
sangat dibutuhkan untuk penyusunan makalah-makalah selanjutnya. Terima kasih

Jakarta, Oktober 2017

Tim Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................................... i


DAFTAR ISI ........................................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .......................................................................................................... 1
B. Tujuan ........................................................................................................................1
C. Manfaat ......................................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN
A. Analgetik ................................................................................................................... 2
B. Antibiotik .................................................................................................................. 4
C. Cold Pack untuk Perineum ........................................................................................6
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................................................... 9
B. Saran ..........................................................................................................................9
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................... 10

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Proses persalinan merupakan hal yang fisiologis bagi semua wanita. Namun
tidak dipungkiri rasa nyeri setelah persalinan terkadang membuat wanita tidak merasa
nyaman dan akan mengganggu aktivitas. Dikhawatirkan ketidaknyamanan ini
mengakibatkan gangguan pada proses pemulihan masa nifas wanita pasca salin. Maka
dari itu terkadang dibutuhkan terapi baik secara farmakologis maupu non farmakologis
untuk meringankan nyeri yang dirasakan wanita saat masa nifas. Analgetik merupakan
obat atau salah satu terapi farmakologis yang sudah tidak asing lagi bagi sebagian
masyarakat di seluruh dunia dan berguna untuk mengurangi nyeri yang dirasakan.
Begitu pula antibiotik yang dapat menghambat pertumbuhan kuman yang bisa
mengganggu proses pemulihan masa nifas. Salah satu cara penanganan nyeri di
perineum pasca melahirkan secara nonfarmakologis yaitu dengan pemberian kompres
dingin dalam bentuk kantong es atau yang kini familiar disebut perineal cold pack.
Nyeri dapat mereda karena cold pack mengurangi prostaglandin yang memperkuat
reseptor nyeri dan menghambat proses inflamasi. Dalam makalah ini akan dibahas
mengenai analgetik, antibiotik, dan cold pack dalam masa nifas lebih dalam.

B. Tujuan
1. Untuk mengetahui tentang analgetik pada masa nifas.
2. Untuk mengetahui tentang antibiotik pada masa nifas.
3. Untuk mengetahui tentang cold pack untuk perineum pada masa nifas.

C. Manfaat
1. Diketahuinya tentang analgetik pada masa nifas.
2. Diketahuinya tentang antibiotik pada masa nifas.
3. Diketahuinya tentang cold pack untuk perineum pada masa nifas.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Analgetik
Obat analgetik merupakan obat yang sudah tidak asing lagi bagi sebagian
masyarakat di seluruh dunia. Banyaknya penggunaan analgetik juga tidak lain sebagai
akibat dari tingginya jumlah penderita nyeri yang mana rasa nyeri dapat menggangu
aktifitas sehari-hari.

1. Pengertian
Analgetik adalah obat yang digunakan untuk meredakan rasa nyeri. Obat
analgetik dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu obat golongan opioid dan NSAID.
Golongan Opioid bekerja pada sistem saraf pusat, sedangkan golongan NSAID
bekerja di reseptor saraf perier dan sistem saraf pusat.

2. Jenis
Obat analgetik dibagi menjadi 2 macam, yaitu analgetik opioid dan analgetik
non-narkotik. Analgetik opioid merupakan kelompok obat yang memiliki sifat
opium yang berasal dari getah Papaverum somniferum yang mengandung sekitar 20
jenis alkaloid diantaranya, morfin, codein, tebain, dan papaverin (Dewoto, 2008).
Sering terjadi penyalahgunaan opioid karena efek euforia dan ketagihan sehingga
penggunaannya pun dibatasi.
Analgesik jenis lainnya adalah Analgetik non-narkotik. Yang termasuk jenis ini
adalah analgesik antipiretik dan obat AINS (Anti Inflamasi Nonsteroid) dimana obat
ini banyak diresepkan oleh dokter maupun dijual bebas tanpa resep dokter (Wilmana
dan Sulistia, 2008). Beberapa contoh analgesik non narkotik yang sering digunakan
antara lain : paracetamol, aspirin, ibuprofen dan masih banyak lainnya.

3. Analgetik Pada Masa Nifas


Obat analgetik yang relatif aman untuk ibu nifas yaitu paracetamol dan
ibuprofen.

2
a. Paracetamol
Merupakan obat untuk mengobati rasa nyeri ringan hingga sedang.
1) Aturan minum
Gunakan dengan cara diminum sesuai dengan anjuran dokter atau pada
kemasan. Untuk mengatasi nyeri, sakit dan demam, tablet paracetamol 500
mg biasanya diminum sebanyak 6-8 jam sekali.
2) Dosis
Dosis diberikan berdasarkan kondisi medis dan respon terhadap
pengobatan.
1) Dewasa : 1 tablet 500 mg tiap 6-8 jam
2) Anak-anak : 10-12mg/kgbb/dosis tiap 6-8 jam. Dosis oral maksimal
40 mg/kgbb/hari
3) Efek samping
Efek samping paracetamol yang tidak sering namun kadang terjadi,
antara lain :
1) Mual, mulas atau sakit perit, diare, sembelit dan kembung.
2) Kulit terasa gatal atau terdapat ruam
3) Kuning pada kulit dan mata
4) Keamanan pada ibu hamil dan menyusui
Tidak ada penelitian yang memadai mengenai resiko penggunaan
paracetamol pada ibu hamil dan menyusui. Selalu konsultasikan dengan
dokter untuk memperhatikan potensi manfaat dibandingkan dengan resiko
sebelum menggunakan paracetamol. Obat ini termasuk dalam kategori C
(mungkin beresiko) menurut US Food andDrugs Administration (FDA).

b. Ibuprofen
Merupakan obat untuk mengobati rasa nyeri ringan hingga sedang.
Sering digunakan untuk pengobatan sakit gigi, sakit kepala, dan nyeri yang
dirasakan bersama flu, juga bisa digunakan untuk meredakan demam.
1) Aturan minum
Hanya dapat dikonsumsi oleh dewasa dan anak-anak diatas 6 bulan.

3
2) Dosis
Dewasa : 400-800 mg tiap 6 jam sekali. Maksimal dosis 3,2 gram/hari
3) Efek samping
a) Mual dan muntah
b) Perut kembung
c) Nyeri ulu hati
d) Gangguan pencernaan
e) Diaredan konstipasi
f) Tukak lambung
g) Muntah darah
h) Tinja berwarna hitam disertai darah.
4) Keamanan pada ibu hamil dan menyusui
Tidak ada penelitian yang memadai mengenai resiko penggunaan
paracetamol pada ibu hamil dan menyusui. Selalu konsultasikan dengan
dokter untuk memperhatikan potensi manfaat dibandingkan dengan resiko
sebelum menggunakan paracetamol. Obat ini termasuk dalam kategori C
(mungkin beresiko) menurut US Food and Drugs Administration (FDA).

B. Antibiotik
Antibiotik pertama kali ditemukan oleh sarjana Inggris dr. Alexander Flenning
(penemu penisilin) pada tahun 1928 tetapi penemuan ini baru dikembangkan pada tahun
1941 oleh dr Flerov.

1. Pengertian
Antibiotik adalah zat yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri yang dapat
mematikan menghambat pertumbuhan kuman, sedangkan toksisitasnya bagi
manusia kecil.

2. Jenis
Terdapat beberapa golongan antibiotik diantaranya adalah golongan penisilin
(penisilin dan amoxicillin), golongan cefalosperin (cefotaxime), golongan

4
aminoglikosida, golongan glikopeptida, golongan poliketida, golongan polimiksin,
golongan streptogramin, golongan sulfonamide dan golongan oksazilodinon.

3. Antibiotik Pada Masa Nifas


a. Antibiotik yang aman pada masa nifas :
1) Amoxycilin (tidak ditemukan efek samping)
2) Amoxycilin-clavulanate
3) Aminoglikosida (penyerapan yang rendah lewat usus bayi)
4) Antituberculosis (streptomycin tidak banyak diserap)
5) Cefalosporin (dipercayai sebagai yang paling aman)
6) Makrolid
7) Trimetrophim-sulphametoxazole
b. Antibiotik yang efeknya belum diketahui atau harus digunakan dengan hati-hati
pada masa nifas :
1) Dapsone
2) Nalidixic Acid
3) Nitrofurantoin
c. Antibiotik yang tidak disarankan pada masa nifas :
1) Metronidazole (dosis tinggi)
2) Quinolon

Antibiotik yang paling sering digunakan adalah amoxiclin, berikut penjelasan


mengenai amoxicilin. Amoxicillin yaitu salah satu jenis antibiotik golongan penisilin
yang digunakan untuk mengatasi infeksi berbagai jenis bakteri.
a) Aturan minum
Dapat dikonsumsi oleh dewasa dan anak-anak diatas 6 bulan
b) Dosis
1) Dewasa : 250-500 mg setiap 8 jam atau 500-875 gram tiap 12 jam
2) Anak : dibawah 40 kg 40-90 mg/kgbb tiap hari maksimal 3 gram/hari
c) Efek samping
1) Mual dan muntah
2) Diare

5
3) Sakit kepala
4) Ruam

d) Keamanan pada ibu hamil dan menyusui


Merupakat obat dengan kategori B karena hasil penelitian menunjukan tidak
adanya efek samping pada ibu hamil dan menyusui.

Antibiotik jenis Amoxicilin dan Amoxicilin + As. Klavulanat yang paling


banyak diberikan pada pasien pasca melahirkan ini, keduanya merupakan antibiotik
kelompok penisilin spektrum luas yaitu dapat menghambat dan mencegah pertumbuhan
bakteri gram positif maupun gram negatif. Walaupun dalam jumlah kecil terdapat
dalam darah janin dan air susu ibu (ASI), resiko pada bayi yang sedang diberikan air
susu ibu (ASI) dianggap aman. Semua kelompok penisilin dianggap aman bagi wanita
hamil dan yang menyusui. Pemberian amoxicilin terhadap pasien pasca melahirkan
secara oral dengan dosis 250 500 mg tiga kali sehari.

C. Cold Pack untuk Perineum


Setiap ibu yang telah menjalani proses persalinan dengan mendapatkan luka
perineum akan merasakan nyeri. Nyeri yang dirasakan pada setiap ibu dengan luka
perineum menimbulkan dampak yang tidak menyenangkan seperti kesakitan dan rasa
takut untuk bergerak. Banyak ibu dengan luka perineum yang jarang mau bergerak
pascapersalinan, sehingga dapat mengakibatkan banyak masalah nifas diantaranya sub
involusi uterus, pengeluaran lochea yang tidak lancar, dan perdarahan pascapartum.
Timbulnya nyeri berkaitan erat dengan reseptor dan adanya rangsangan.
Reseptor nyeri yang dimaksud adalah nociceptor. Reseptor nyeri dapat memberikan
respons akibat adanya rangsangan. Rangsangan tersebut dapat berupa kimiawi, termal,
atau mekanis. Stimulasi oleh zat kimiawi misalnya histamin dan prostaglandin, atau
stimulasi yang dilepas apabila terdapat kerusakan pada jaringan. Salah satu cara
penanganan nyeri episiotomi pasca melahirkan secara nonfarmakologis yaitu dengan
pemberian kompres dingin dalam bentuk kantong es atau yang kini familiar disebut
perineal cold pack. Nyeri dapat mereda karena cold pack mengurangi prostaglandin

6
yang memperkuat reseptor nyeri, menghambat proses inflamasi, merangsang
pelepasan endorfin sehingga menurunkan transmisi nyeri melalui diameter serabut C
yang mengecil serta mengaktivasi transmisi serabut saraf sensorik A-beta yang lebih
cepat dan besar.

1. Pengertian
Kantong es (ice pack) yakni sebuah kompres es yang dikemas dengan
menggunakan sarung tangan karet yang diisi batu es dan dibungkus dengan sesuatu
yang bersih seperti kain lap sekali pakai atau handuk sekali pakai (Wenniarti, 2016).
Kompres dingin atau cold therapy merupakan modalitas terapi fisik yang
menggunakan sifat fisik dingin untuk terapi berbagai kondisi, termasuk pada nyeri
luka perineum. Kompres dingin bekerja dengan menstimulasi permukaan kulit untuk
mengontrol nyeri. Terapi dingin yang diberikan akan mempengaruhi impuls yang
dibawa oleh serabut taktil A-Beta untuk lebih mendominasi sehingga gerbang
akan menutup dan impuls nyeri akan terhalangi. Nyeri yang dirasakan akan
berkurang atau hilang untuk sementara waktu. Tujuan dilakukannya kompres dingin
yaitu untuk mengurangi inflamasi yang terjadi pada tempat yang terserang nyeri
sehingga sensasi nyeri pasien dapat berkurang (Nurchairiah, 2014).
Dalam bidang kedokteran, kompres dingin banyak digunakan untuk
mengurangi rasa nyeri. Pada aplikasi dingin memberikan efek fisiologis yakni
menurunkan respon inflamasi, menurunkan aliran darah dan mengurangi edema,
mengurangi rasa nyeri lokal. Teknik ini berkaitan dengan teori gate control dimana
stimulasi kulit berupa kompres dingin dapat mengaktivasi transmisi serabut saraf
sensorik A-Beta yang lebih besar dan lebih cepat. Hal ini menutup gerbang
sehingga menurunkan transmisi nyeri melalui serabut C dengan diameter yang kecil
(Purnamasari, 2014).
Cold pack adalah gel beku yang digunakan fisioterapi untuk merawat daerah
yang nyeri dan peradangan. Cold pack dibalutkan pada handuk yang basah dan
diletakkan langsung pada daerah yang membutuhkan perawatan. Efek dingin dari
cold pack disalurkan ke kulit, otot dan jaringan tubuh pasien sehingga mempunyai
beberapa manfaat. Suhu yang dingin menyebabkan vasokonstriksi/penyempitan
pembuluh darah vena pada area tersebut.

7
2. Cara Menggunakan
Berikut adalah cara menggunakan metode sederhana cold pack:
1. Setelah melahirkan gunakan es yang dikemas dengan sarung tangan karet lalu
dibungkus dengan lapisan yang halus dan bersih seperti lap atau handuk sekali
pakai.
2. Tempelkan di area perineum.
3. Perawatan dengan cold pack bisa diberikan selama 20 menit sebanyak 2 kali dalam
sehari suhu 15C.
4. Ganti pembalut setiap ibu menggunakan kamar mandi.

Gambar 1.1
Perineal Cold Pack

Sekarang ini sudah ada cold pack kemasan yang juga disebut dengan Perineal Cold
Pack. Perineal cold pack ini bisa digunakan hingga 30 menit dan juga aman untuk kulit.

8
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Analgetik yaitu obat anti nyeri yang dapat digunakan sebagai terapi
farmakologis untuk meringankan nyeri yang dirasakan oleh ibu nifas. Analgetik yang
relatif aman untuk ibu nifas adalah paracetamol dan ibuprofen. Antibiotik yaitu obat
yang dapat menghambat pertumbuhan kuman dimana kuman dapat menghambat
pemulihan ibu nifas. Antibiotik yang relatif aman untuk ibu nifas diantaranya
amoxycilin, amoxycilin-clavulanate, aminoglikosida, cefalosporin, dan lain-lain.
Namun yang paling banyak digunakan adalah jenis amoxycilin. Dan tentunya
penggunaan obat pada ibu nifas tetap harus dibawah pengawasan ahli medis yang
berwenang. Cold pack adalah gel beku yang digunakan fisioterapi untuk merawat
daerah yang nyeri dan peradangan. Cold pack dibalutkan pada handuk yang basah dan
diletakkan langsung pada daerah yang membutuhkan perawatan. Efek dingin dari cold
pack disalurkan ke kulit, otot dan jaringan tubuh pasien sehingga suhu dingin dapat
menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah vena pada area tersebut. Cold pack disini
digunakan untuk meredakan nyeri perineum pada ibu nifas.

B. Saran
Diharapkan pada bidan atau dokter untuk selalu memberikan terapi yang aman
bagi pasien sesuai dengan kewenangan masing-masing. Dan diharapkan bagi pasien
untuk mencoba menerapkan terapi dengan cold pack untuk meredakan nyeri di
perineum pasca persalinan.

9
DAFTAR PUSTAKA

Buletin Perinasia. (2009). Obat-obat yang harus dihindari saat menyusui. Perinasia: Jakarta.
Dewoto. (2008). Analgesik opioid dan antagonis. Dalam Farmakologi dan Terapi, Sulistia, G.,
edisi 5. Jakarta: FKUI.
Madania. (2010). Studi penggunaan antibiotika pada pasien paska melahirkan di rumah sakit
bersalin bunda kota makassar. Universitas Negeri Gorontalo.
Rahmawati, ES. (2013). Pengaruh kompres dingin terhadap pengurangan nyeri luka perineum
pada ibu nifas di BPS siti alfirdaus kingking kabupaten tuban. Jurnal sain med. Vol. 5
(2).Diaksesdarihttp://dev2.kopertis7.go.id/uploadjurnal/Eva_Silviana_Rahmawati_Sti
kes_nu_tuban.pdf [10 Oktober 2017].
Wenniarti, dkk. (2016). Pengaruh terapi ice pack terhadap perubahan skala nyeri pada ibu post
episiotomi. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan. Vol. 3 (1). Diakses dari
http://ejournal.unsri.ac.id/index.php/jkk/article/view/2857. [10 Oktober 2017].
Wilmana, P. Sulistia. (2008). Anagesik-antipiretik-antiinflamasi nonsteroid dan obat
gangguan sendi lainnya. Dalam Farmakologi dan Terapi, Sulistia, G., edisi 4. Jakarta:
Gaya Baru.

10