Anda di halaman 1dari 19

Berikut ini lingkup materi Mengkreasikan Puisi Rakyat untuk Mata Pelajaran Bahasa

Indonesia Kelas VII SMP/MTs. Indikator yang akan dicapai pada tiap bagian dicontohkan
berikut. (dapat dibuat indikator lain)

Kompetensi Dasar Indikator

menyimpulkan ciri umum (pantun, syair,


dan gurindam) pada teks yang
3.9 Mengidentifikasi informasi (pesan,
dibaca/didengar.
rima, dan pilihan kata) dari puisi rakyat
Membandingkan persamaan dan
pantun, syair, yang dibaca dan
perbedaan struktur pantun, syair, dan
didengar
gurindam pada teks yang
.
dibaca/didengar.
Mendaftar kata/ kalimat yang digunakan
pada teks yang dibaca/didengar.

4.9 Menyimpulkan isi (pantun, syair,


Menyimpulkan isi pantun
dan bentuk puisi rakyat setempat)
Menyimpulkan isi syair
yang disajikan dalam bentuk tulis
Menyimpulkan isi gurindam

Menyimpulkan variasi pola


pengembangan isi pantun
menyimpulkan prinsip penggunaan
kata/ kalimat pada pantun
3.10 Menelaah struktur dan
melengkapi pantun sesuai struktur dan
kebahasaan puisi rakyat (pantun,
kaidah bahasa serta menelaahnya
syair, dan bentuk puisi rakyat
memvariasikan beragam pola
setempat) yang dibaca dan didengar
pengembangan pantun
.
mengomentari dari segi struktur dan
bahasa
memperbaiki kesalahan dari segi isi,
syarat pantun, penggunaan kata,kalimat,
ejaan dan tanda baca

menulis dengan memperhatikan pilihan


4.10 Mengungkapkan gagasan,
kata, kelengkapan
perasaan, pesan dalam bentuk puisi
struktur, dan kaidah (pantun)
rakyat secara lisan dan tulis dengan
menyajikan syair dan gurindam dalam
memperhatikan struktur, rima, dan
bentuk musikalisasi
penggunaan bahasa
menyajikan pantun dalam bentuk
berbalas pantun

Pemilihan Tema
Tema yang dipilih pada unit puisi rakyat ini adalah nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur
bangsa Indonesia. Tema kearifan, keadilan, kejujuran, kepedulian/ gotong royong, kerja
keras perlu ditumbuhkan secara terus- menerus. Dalam upaya enumbuhkan sikap
kepedulian terhadap lingkungan sekitar, kedekatan dengan orang-orang tercinta, dan
menumbuhkan rasa empati sosial dengan penagmatan berbagai fenomena.
Aspek kebahasaan yang dilatihkan
Bekal yang diperlukan siswa untuk membuat puisi rakyat adalah memahami prinsip
penggunaan dan keterampilan bagian-bagain kompetensi. Pada unit ini siswa berlatih
menggunakan kata benda, kata sifat, keterangan tempat, kata depan, sinonim kata, kalimat
rincian, kalimat bermajas
Materi
Materi untuk tiap kegiatan diuraikan berikut.
Pengetahuan
Kegiatan A dan B
Pengertian
Jenis
Tujuan komunikasi puisi rakyat
Persamaan dan perbedaan syair, gurindam, pantun
Kata berima
Makna kata/ ungkapan
Keterampilan
Memahami isi syair, gurindam, pantun
Praktik memahami isi puisi rakyat (menjawab pertanyaan hal yang dideskripsikan, apa saja
informasi rincian)
Kegiatan C
Pengetahuan
Struktur
Karakteristik tiap bagian
Contoh cara melengkapi
Contoh variasi puisi rakyat dari segi kalimat yang digunakan
Contoh penggunaan kata/ kalimat pada pantun
Keterampilan
Praktik menelaah struktur
Praktik melengkapi struktur puisi rakyat (melengkapi bagian identifikasi/
gambaran umum, deskripsi bagian)
Praktik memvariasikan beragam pantun
Praktik membuat telaah ketepatan struktur, syarat pantun, dan penggunaan bahasa pada
puisi rakyat
Kegiatan D
Pengetahuan
Contoh langkah penyusunan
Contoh variasi sampiran pantun dengan beragam tema
Contoh variasi isi pantun dengan beragam tema
Keterampilan
Praktik menulis dari objek sekitar yang diamati
Praktik menyunting dan memperbaiki puisi rakyat yang dibuat
Sikap yang ditumbuhkan
Sikap utama yang ditumbuhkan pada pembelajaran unit ini adalah sikap peduli, Jujur
berkarya, tanggung jawab, toleran dan kerjasama , proaktif, dan kreatif. Kepedulian dapat
ditumbuhkan melalui penggalian masalah di sekitar untuk dijadikan pantun. Kreativitas
dilatihkan pada berbagai latihan memvariasikan pantun dari berbagai aspek.
Bagian C: Mencermati dan Melengkapi Struktur/ Kebahasaan
Materi
Pengetahuan
Struktur puisi rakyat (struktur gurindam, syair, dan pantun)
Contoh variasi pantun dari segi jenis kalimat, pola penyajian kalimat pada larik
Contoh variasi pengembangan isi
Contoh beragam kata berima pada sampiran dan isi
Prinsip mengurutkan
Prinsip melengkapi
Prinsip mengembangkan
Prinsip menggunakan kata/ kalimat
Keterampilan
Praktik mengurutkan
Praktik melengkapi
Praktik menyusun
Praktik menyunting
Sikap yang ditumbuhkan Jujur berkarya Tanggung jawab

Mengenal dan Memahami Puisi Rakyat


OLEH KECILNYAAKU | JUL 12, 2016 | PUISI RAKYAT | 0 KOMENTAR
Puisi rakyat merupakan warisan budaya bangsa yang wajib kita pelihara. Puisi rakyat berupa puisi,
syair, dan gurindam. Pada unit ini kita akan belajar tentang puisi rakyat yang berupa pantun. Pantun
adalah salah satu jenis puisi lama warisan nenek moyang kita yang kaya muatan nilai moral, agama,
dan budi pekerti. Melalui pantun inilah para leluhur kita mewariskan nilai-nilai luhur dengan cara
yang menghibur, segar, dan indah.
Mengenal dan Memahami Puisi Rakyat
Melalui kesastraan lama kamu dapat memahami nilai-nilai yang ingin diwariskan para leluhur. Puisi
rakyat berupa pantun, syair, gurindam, atau puisi rakyat yang berkembang di daerah tertentu. Pada
acara-acara di televisi, kepiawaian membuat pantun masih menjadi andalan untuk melucu. Pada lagu-
lagu juga masih ditemukan pantun. Sementara untuk gurindam, syair, dan sastra lama yang lain agak
kurang lagi didengar. Dalam dunia kesastraan kita memiliki warisan turun-temurun berupa cerita
rakyat atau puisi rakyat yang tidak diketahui siapa pengarangnya. Karena merupakan hasil turun-
temurun dan tidak diketahui siapa pengarangnya, puisi lama biasanya disampaikan dari mulut-
kemulut. Puisi lama terlihat kaku karena terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah kata dalam tiap
baris, jumlah baris dalam tiap bait dan juga pengulangan kata yang bisa di awal maupun di akhir sajak
atau kita kenal dengan sebutan rima. Pada bagian ini puisi lama yang akan dibahas adalah pantun.
Dan untuk membuka pembelajaran Mewarisi Nilai Luhur dan Mengkreasikan Puisi Rakyat, diawali
dengan membaca secara berantai pantun warisan nenek moyang kita! (gunakan irama lagu Rasa
Sayange)
Marilah membaca puisi rakyat untuk mengenali bentuk dan memahami nilai luhur yang terkandung di
dalamnya!
Pantun karya nenek moyang
Pantun 1
Air surut memungut bayam,
Sayur diisi ke dalam kantung;
Jangan diikuti tabiat ayam,
Bertelur sebiji riuh sekampung.

Pantun 2
Baik bergalas baik tidak,
Buli-buli bertali benang;
Baik berbalas baik tidak,
Asal budi sama dikenang.

Pantun 3
Ikan nila dimakan berang-berang,
Katak hijau melompat ke kiri;
Jika berada di rantau orang,
Baik-baik membawa diri.

Pantun 4
Akar keladi melilit selasih,
Selasih tumbuh di hujung taman;
kalungan budi junjungan kasih,
Mesra kenangan sepanjang zaman.

Sumber:
Buku sumber yang digunakan sebagai materi pembelajaran bahasa Indonesia SMP/MTs. Kelas VII
pada postingan-postingan ini dikutip dari: Bahasa Indonesia SMP/MTs. Kelas VII, Edisi Revisi 2016,
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2016.
Pengertian, Ciri, dan Langkah Membuat
Gurindam
OLEH KECILNYAAKU | JUL 12, 2016 | PUISI RAKYAT | 0 KOMENTAR
Pengertian Gurindam
Gurindam adalah puisi lama yang berasal dari negeri India. Istilah gurindam berasal dari bahasa India,
yaitu kirindam berarti mula-mula atau perumpamaan. Gurindamssarat nilai agama dan moral. Tak
dimungkiri bahwa gurindamsbagi orang dulu sangat penting dan dijadikan norma dalam kehidupan.
Seperti apakah gurindam sebenarnya? Gurindamsadalah puisi lama (Melayu) yang sangat penting
sebagai warisan budaya.
Ciri gurindams
terdiri atas dua baris dalam sebait
tiap baris memiliki jumlah kata sekitar 10-14 kata
tiap baris memiliki rima sama atau bersajak A-A, B-B, C-C, dan seterusnya
merupakan satu kesatuan yang utuh.
baris pertama berisi soal, masalah, atau perjanjian
baris kedua berisi jawaban, akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama. (isi atau maksud
gurindam terdapat pada baris kedua)
isi gurindamsbiasanya berupa nasihat, filosofi hidup atau kata-kata mutiara
Langkah membuat gurindamshampir sama dengan langkah membuat pantun hanya saja perlu
disesuaikan dengan syarat gurindam.
Langkah membuat
1) Tentukan ide yang akan disampaikan
2) Menata ide
3) Memilih kosakata
4) Membuat larik
5) Menata kembali kalimat/ larik
6) Menata gurindamssecara logis.

Bacalah contoh Gurindamsberikut!


Gurindam
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

Cahari olehmu akan sahabat,


yang boleh dijadikan obat.

Cahari olehmu akan guru,


yang boleh tahukan tiap seteru.

Jika hendak mengenal orang berbangsa,


lihat kepada budi dan bahasa.

Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,


sangat memeliharakan yang sia-sia.

Jika hendak mengenal orang mulia,


lihatlah kepada kelakuan dia.

Apabila kelakuan baik berbudi


Hidup menjadi indah tak akan merugi

Dengan orang tua jangan pernah melawan


Kalau tidak mau hidup berantakan

Jagalah hati jagalah lisan


Agar kau tidak hidup dalam penyesalan

Sayangilah orang tua dengan sepenuh hati


Itulah cara menunjukan bakti

Belajar janganlah ditunda-tunda


Karena kamu tidak akan kembali muda

Sumber:
Bahasa Indonesia SMP/MTs. Kelas VII, Edisi Revisi 2016, Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia, 2016.
Pengertian, Ciri, dan Langkah Membuat Pantun
OLEH KECILNYAAKU | JUL 12, 2016 | PUISI RAKYAT | 0 KOMENTAR
Pengertian Pantun
Pantun adalah puisi Melayu yang mengakar dan membudaya dalam masyarakat. Pantun dikenal
dengan banyak nama di berbagai bahasa di Nusantara, tonton (bahasa Tagalog), tuntun (bahasa Jawa),
pantun (bahasa Toba) yang memiliki arti kurang lebih sama, yaitu sesuatu ucapan yang teratur, arahan
yang mendidik, bentuk kesantunan. Pantun tersebar hampir diseluruh Indonesia.
Fungsi pantun.di semua daerah (Melayu, Sunda, Jawa, atau daerah lainnya) sama, yaitu untuk
mendidik sambil menghibur. Melalui pantun kita menghibur orang dengan permainan bunyi bahasa,
menyindir (menegur bahwa sesuatu itu kurang baik) secara tidak langsung, atau memberi nasihat. Ini
bukan berarti orang kita tidak tegas kalau hendak mengatakan sesuatu, tetapi dapat dikatakan bahwa
kita memiliki gaya tersendiri dalam mengungkapkan sesuatu.
Melalui pantunsleluhur kita terkesan lebih santun untuk menegur atau menasihati orang secara tidak
langsung agar orang yang kita tuju tidak merasa malu atau dipojokkan.
Ciri-ciri pantunsdapat dilihat berdasarkan bentuknya. Ciri-ciri ini tidak boleh diubah. Jika diubah,
pantun tersebut akan menjadi seloka, gurindam, atau bentuk puisi lama lainnya.
Ciri-ciri pantuns
Tiap bait terdiri atas empat baris (larik).
Tiap baris terdiri atas 8 sampai 12 suku kata.
Rima akhir setiap baris adalah a-b-a-b.
Baris pertama dan kedua merupakan sampiran.
Baris ketiga dan keempat merupakan isi.
Langkah membuat pantuns
1) Tentukan ide yang akan disampaikan ( kalau hidup bekerja keras kelak hidupnya menjadi sukses).
2) Menata ide menjadi dua larik ( dengan bunyi akhir yang berbeda).
3) Memilih kosakata yang diakhir dengan bunyi seperti dua larik.
4) Membuat larik sampiran dari benda/ kondisi yang tidak berkaitan langsung dengan isi.
5) Menata kembali kalimat/ larik dengan rima dari kosakata yang berima sama.
6) Menata pantunssecara logis.
Contoh Pantuns
Pantun Baru
Pergi melaut membawa jala,
Jala ditebar sambil mengingat;
Meski hidup banyak kendala,
Haruslah kita slalu semangat.

Enak rasanya bubur yang hangat,


Enak dimakan bersama kerupuk;
Hidup memang harus semangat,
Janganlah mudah kita terpuruk.

Kota Sampit di Kalimantan,


Kota Makasar di Sulawesi;
Teruslah berusaha jadi teladan,
Raihlah cita raih prestasi.

Penghasil batik di Yogyakarta,


Kalaulah Brebes penghasil beras;
Berusaha terus mengajar cita,
Sambil berdoa dan kerja keras

Sumber:
Bahasa Indonesia SMP/MTs. Kelas VII, Edisi Revisi 2016, Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia, 2016.
Pengertian, Ciri, dan Cara Membuat Syair
OLEH KECILNYAAKU | JUL 12, 2016 | PUISI RAKYAT | 0 KOMENTAR
Pengertian Syair
Selain gurindam dan pantun, yang termasuk ke dalam puisi rakyat adalah syair. Di bawah ini disajikan
pengertian syairs, ciri syair, dan Cara Membuat Syair.
Syairs adalah salah satu puisi lama. Syair berasal dari Persia dan dibawa masuk ke Nusantara bersama
dengan masuknya Islam ke Indonesia. Kata atau istilah syair berasal dari bahasa arab yaitu syiir atau
syuur yang berarti perasaan yang menyadari, kemudian kata syuur berkembang menjadi syiru
yang berarti puisi dalam pengetahuan umum.
Dalam perkembangannya syairs tersebut mengalami perubahan dan modifikasi sehingga menjadi khas
Melayu, tidak lagi mengacu pada tradisi sastra syair negeri Arab. Penyair yang berperan besar dalam
membentuk syairs khas Melayu adalah Hamzah Fansuri dengan karyanya, antara lain:
Syairs Perahu, Syairs Burung Pingai, Syairs Dagang, dan Syairs Sidang Fakir.
Ciri-ciri syairs antara lain :
1. Setiap bait terdiri dari empat baris.
2. Setiap baris terdiri atas 8-14 suku kata.
3. Bersajak a-a-a-a.
4. Semua baris adalah isi.
5. Bahasa yang digunakan biasanya berupa kiasan.
Langkah membuat syairs hampir sama dengan langkah membuat pantun hanya saja perlu disesuaikan
dengan syarat syairs.
Langkah membuat
1) Menentukan ide
2) Menata ide
3) Memilih kosakata
4) Membuat larik
5) Menata kembali kalimat/ larik
6) Menata syair secara logis.
Contoh syairs
Syairs Perahu
Inilah gerangan suatu madah
Mengarangkan syairs terlalu indah
Membetuli jalan tempat berpindah
Di sanalah iktikat diperbetuli sudah
Inilah gerangan suatu madah
Wahai muda kenali dirimu
Ialah perahu tamsil hidupmu
Tiadalah berapa lama hidupmu
Ke akhirat jua kekal hidupmu

Hai muda arif budiman


Hasilkan kemudi dengan pedoman
Alat perahumu jua kerjakan
Itulah jalan membetuli insan

Perteguh jua alat perahumu


Hasilkan bekal air dan kayu
Dayung pengayuh taruh di situ
Supaya laju perahumu itu

Sudahlah hasil kayu dan ayar


Angkatlah pula sauh dan layar
Pada beras bekal jantanlah taksir
Niscaya sempurna jalan yang kabir
Karya: Hamzah Fansuri

Sumber:
Bahasa Indonesia SMP/MTs. Kelas VII, Edisi Revisi 2016, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia, 2016.
Menelaah Struktur dan Bahasa Puisi Rakyat
OLEH KECILNYAAKU | JUL 12, 2016 | PUISI RAKYAT | 0 KOMENTAR
Menelaah Beragam Pola Pengembangan Pantun.
Bacalah pantun berikut!
Pola 1
Buanglah sampah pada tempatnya,
Jangan membuang di tengah jalan;
Kalau kita tidak mau bertanya,
Tidak bisa mencapai semua harapan.

Pola 2
Penghasil batik di Yogyakarta,
Penghasil ulos Sumatera Utara;
Kalau kamu memiliki cita-cita,
Hendaklah mau sedikit sengsara.

Pola 3
Membeli buku di daerah pecinan
Membeli buku lebih dari satu
Janganlah menunda pekerjaan
Hindari menyia-nyiakan waktu
Pola 4
Beli masi ke tempat Mbak Lulu
Beli pensil ke toko Cak Mamat
Sebaiknya kau pikir dahulu
Demi keputusan yang tepat

Pola15
Di Bengkulu tumbuh bunga raflesia
Bunga unik tanpa duri
Alangkah indahnya alam Indonesia
Marilah kita jaga agar lestari

Pola 6
Fatamorgana ternyata semu
Namun indahnya tiada terkira
Patuhilah selalu nasihat ibumu
Agar hidupmu tidak sengsara

Menelaah Struktur dan Bahasa Gurindam


Bacalah gurindam berikut!
Apabila kelakuan baik berbudi
Hidup menjadi indah tak akan merugi

Dengan orang tua jangan pernah melawan


Kalau tidak mau hidup berantakan

Jagalah hati jagalah lisan


Agar kau tidak hidup dalam penyesalan

Sayangilah orang tua dengan sepenuh hati


Itulah cara menunjukan bakti

Belajar janganlah ditunda-tunda


Karena kamu tidak akan kembali muda

Jika kamu terus menunda


Hilanglah sudah kesempatan berharga

Masa lalu biarlah berlalu


Masa depan teruslah kau pacu

Lestarikan alam kita


sebelum alam menjadi murka

Belajarlah demi masa depan


Untuk mencapai semua harapan

Apabila mata terjaga


Hilanglah semua dahaga

Apabila mulut terkunci rapat


Hilanglah semua bentuk maksiat

Apabila tangan tidak terikat rapat


Hilanglah semua akal sehat
Jika hendak menggapai cita-cita
Bekerjalah lebih dari rata-rata

Jika hendak hidup bahagia


Jangan penah melakukan perbuatan sia-sia

Barang siapa tidak takut tuhan


Hidupnya tidak akan bertahan

Apabila dengki sudah merasuki hati


Tak akan pernah hilang hingga nanti

Apabila hidup selalu berbuat baik


Tanda dirinya berhati cantik

Menelaah Struktur dan Aspek Kebahasaan pada Syair


Syair
Perteguh jua alat perahumu
Hasilkan bekal air dan kayu
Dayung pengayuh taruh di situ
Supaya laju perahumu itu

Wahai muda, kenali dirimu


Ialah perahu tamsil hidupmu
Tiadalah berapa lama hidupmu
Ke akhirat jua kekal hidupmu

Hai muda arif budiman


Hasilkan kemudi dengan pedoman
Alat perahumu jua kerjakan
Itulah jalan membetuli insan

Hai muda arif budiman


Hasilkan kemudi dengan pedoman
Alat perahumu jua kerjakan
Itulah jalan membetuli insane

Buku sumber:
Bahasa Indonesia SMP/MTs. Kelas VII, Edisi Revisi 2016, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia, 2016.

Bekal untuk Menelaah Puisi Rakyat


OLEH KECILNYAAKU | JUL 12, 2016 | PUISI RAKYAT | 0 KOMENTAR
Untuk menelaah Puisi Rakyat diperlukan pemahaman kebahasaan. Aspek-aspek kebahasaan yang
biasanya digunakan dalam puisi rakyat di antaranya:
Kalimat Perintah
Kalimat perintah adalah kalimat yang berisi atau bermaksud memberi perintah atau suruhan.
Contoh:
Buanglah sampah pada tempatnya
Kalimat saran
Kalimat saran adalah kalimat yang berisi tentang saran kepada orang lain untuk kebaikan orang lain
(sebaiknya, seyogyanya).
Contoh:
Sebaiknya kau pikir dahulu
Demi keputusan yang tepat
Kalimat ajakan
Kalimat ajakan adalah kalimat yang berisi ajakan kepada orang lain untuk melakukan suatu perbuatan
(ayo dan mari).
Contoh:
Marilah kita jaga agar lestari
Kalimat seru
Kalimat seru adalah kalimat yang mengungkapkan rasa hati, seperti kagum, heran, senang, dan sedih
(alangkah, betapa, dan bukan main).
Contoh:
Alangkah indahnya alam Indonesia ini.
Wahai, pemuda Indonesia teruslah berjuang melestarikan budaya kita.
Kalimat larangan
Kalimat larangan adalah kalimat yang berisi larangan agar orang lain tidak melakukan kegiatan
(jangan, hidari).
Contoh:
Janganlah berprasangka buruk kepada sesama
Kata penghubung yang sering digunakan pada puisi rakyat
Kata penghubung tujuan
Merupakan kata penghubung modalitas yang menjelaskan maksud dan tujuan suatu acara atau
tindakan (supaya, untuk, agar, dan guna).
Kata penghubung sebab (kausal)
Menjelaskan bahwa suatu peristiwa atau tindakan terjadi atas sebab tertentu (sebab, sebab itu, karena,
dan oleh karena itu).
Kata penghubung akibat
Konjungsi yang menggambarkan suatu peristiwa atau tindakan terjadi atas sebab peristiwa lain.
Konjungsi yang dipakai adalah sehingga, sampai, dan akibatnya.
Kata penghubung syarat
Konjungsi syarat yang menjelaskan suau hal bias terpenuhi apabila syarat yang ada dipenuhi, atau
dijalankan. Contoh kata yang digunakan adalah jika, jikalau, apabila, asalkan, kalau, dan bilamana.
Cermati Puisi Rakyat berikut!
Pantun
Penghasil batik di Yogyakarta,
Penghasil ulos Sumatera Utara;
Kalau kamu memiliki cita-cita,
Hendaklah mau sedikit sengsara.

Syair
Wahai muda, kenali dirimu
Ialah perahu tamsil hidupmu
Tiadalah berapa lama hidupmu
Ke akhirat jua kekal hidupmu

Gurindam
Apabila hidup selalu berbuat baik
Tanda dirinya berhati cantik

Buku sumber:
Bahasa Indonesia SMP/MTs. Kelas VII, Edisi Revisi 2016, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia, 2016.
Membaca puisi adalah perbuatan menyampaikan hasil-hasil sastra berupa puisi dengan bahasa lisan.
Membaca puisi sering diartikan sama dengan deklamasi. Membaca puisi dan deklamasi mengacu pada satu
pengertian yang sama, yakni mengkomunikasikan puisi kepada para pendengarnya. Hakikat membaca
puisi tidaklah berbeda dengan deklamasi, yaitu menyampaikan puisi kepada penikmatnya dengan setepat-
tepatnya agar nilai-nilai puisi tersebut sesuai dengan maksud penyairnya.

Puisi merupakan sebuah karya sastra yang memerlukan penghayatan dalam pembacaan dan pembawaan.
Puisi atau sajak dapat dibaca dalam hati atau dengan suara keras. Ada beberapa prinsip yang harus
dipertimbangkan pada saat membaca sajak dengan keras. Prinsip itu adalah volume suara, artikulasi suara,
intonasi, gerak tubuh, mimik, dan pandangan mata.
1. Volume suara adalah derajat keras atau lemahnya suara pada saat Anda membaca puisi. Keras atau
lemahnya suara harus tepat.
2. Artikulasi suara adalah pengucapan kata demi kata dengan benar serta dengan suara yang jelas dan pilah.
3. Intonasi adalah lagu membaca yang meliputi penggalan kata dan tinggi atau rendahnya suara pada saat
kalian membaca larik demi larik sajak.
4. Gerak tubuh meliputi gerak seluruh anggota tubuh: kaki, tangan, badan, dan kepala sesuai dengan isi
sajak yang dibaca.
5. Mimik adalah ekspresi atau perubahan wajah sesuai dengan karakteristik dan suasana (misalnya, sedih,
semangat, atau gembira) yang digambarkan pada sajak yang dibaca.
6. Pandangan mata adalah arah mata memandang, yang seharusnya ditujukan ke segala penjuru tempat
penonton berada.
Setelah mengetahui prinsip-prinsip tersebut, kita dapat mengaplikasikan prinsip tersebut ke dalam teknik-
teknik membaca puisi di atas pentas dalam dunia nyata.

Memahami prosedur membaca puisi yang MUDAH

Materi yang kalian hadapi disini agak berbeda dengan materi yang lainnya meskipun
berkaitan dengan membaca Puisi. Kalian diajak untuk menerapkan prinsip membaca
ekspresif pada saaat membaca puisi atau sajak. Cobalah kalian ikuti langkah-
langkah yang diberi pada masing-masing Point:

Point (A)
Apakah kalian tahu cara membaca puisi?? Puisi dapat diungkapkan
atau dibaca dalam hati atau dengan suara yang keras. Berikut ini,
kalian diajak untuk membaca puisi dengan suara yang cukup keras tetapi dengan
menerapkan teknik dan cara ucapan yang baik.
Sebelum menerapkan teknik dasar yang baik, kalian perlu memahami atau
mengetahui beberapa prinsip yang diperkirakan pada saat kalian membaca puisi
dengan keras,
Prinsip itu adalah volume suara,intonasi,artikulasi suara, gerak tubuh, mimik, serta
pandangan mata.
1. Volume suara
Ialah kerasnya atau lemahnya suara kita pada saat membaca puisi.
2. Intonasi
Ialah lagu membaca yang meliputi penggalan kata atau sajak dan tinggi atau
rendahnya suara pada saat kalian membaca kalimat demi kalimat.
3. Artikulasi suara
Ialah penyampaian kata demi kata dengan memperhatikan tutur kata yang
benar serta dengan suara yang jelas.
4. Gerak tubuh
Ialah meliputi keseluruhan gerak anggota tubuh: kaki, tangan, badan, serta kepala
sesuai dengan isi puisi yang dibaca.
5. Mimik
Ialah perubahan raut muka serta ekspresi wajah sesuai dengan karakteristik
dan suasana (misalnya: sedih, gembira,atau semangat) yang digambarkan pada
puisi yang dibaca.
6. Pandangan mata
Ialah arah dimana mata memandang, yang seharusnya mata tertuju kesegala
penjuru tempat dimana penonton berada.
Diskusikanlah prinsip-prinsip tersebut dengan teman-teman kalian.

Point (B)
Semua prinsip-prinsip itu sangat berguna untuk membaca sajak secara
ekspresif. Apa yang dimaksud sengan membaca ekspresif?? Membaca ekspresif
adalah membaca dengan mengekspresikan pikiran,perasaan atau pengalaman
yang dimiliki si penulis.
Pada dasarnya kegiatan dalam membaca ekspresif ini dilakukan dengan suara yang
keras serta gaya dan berpenampilan sesuai denga isi puisi yang dibaca.

Point (C)
Dengan keterangan yang disampaikan diatas, kalian dapat meengarisbawahi
bahwa membaca ekspresif, cocok sekali digabungkan dalam membaca puisi.
Point (D)
Membaca ekspresif sering dilakukan di depan kelas atau di depan teman-teman
kalian serta diatas pentas. Jika demikian halnya, diperlukan teknik membaca puisi
yang benar.

Dapat dikatakan bahwa teknik ini ialah prosedur yang mengandung beberapa point.
Point-point itu tidak harus ditempuh secara berurutan karena tidak saling
menentukan.
(point tambahan dari point D)
cobalah kalian cermati teknik membaca puisi diatas pentas berikut:
TEKNIK MEMBACA PUISI DIATAS PENTAS
Percaya diri (PD) bahwa kalian telah memakai pakaian yang rapi atau
mengenakan pakaian sesuai dengan isi puisi yang akan kalian baca diatas pentas.
Berdirilah dengan tegak tetapi agak santai serta tenangkan diri kalian diatas
pentas sebelum kalian mulai membaca puisi kalian.
Kuasailah pertunjukan serta penonton dengan mengarahkan pandangan kesegala
penjuru dimana tempat duduk penonton.
Hayati dan cermatilah puisi yang kalian baca dengan memahami isi dan pesan
yang terkandung dalam puisi yang kalian baca.
Bacalah puisi tersebut dengan suara yang jelas dan jangan terlalu terburu-buru
serta dengan artikulasi suara yang jelas, dengan volume suara yang dapat
menjangkau penonton dan serta dengan intonasi yang baik.
Aturlah napas kalian dengan baikdan dengan menyesuaikan dengan penggalan
kata, larik, serata bait perbait puisi tersebut,
Pusatkanlah perhatian kalian pada puisi yang dibaca dengan menguasai
panggung dan tanpa terpengaruh oleh penonton atau teman kalian.
Point (E)
Setelah kalian memahami teknik membaca puisi diatas, praktikkanlah teknik tersebut
di depan kelas kalian. Anggaplah posisi depan kelas itu sebagai pentas dan teman-
teman kalian itu ialah penonton. Kalian dapat membaca dengan teknik membaca
tersebut secara berganti-gantian kepada teman kalian, dan kalian dapat
memberikan komentar, pendapat serta penilaian kalian.

Point (F)
Dari komentar, pendapat, serta penilaian teman kalian, kalian merasa bahwa
point-point pada teknik membaca puisi diatas perlunya ada tambahan. Diskusikanlah
dengan temann sebangku kalian point-point apa saja yang perlu ditambahkan?? .

Point (H)
Serta dari penambahan point dari pada (point F) diatas,kalian memahami
bahwa prosedur tentang teknik membaca puisi itu merupkan bukan prosedur yang
ketat yang setiap pointnya harus ditempuh satu demi satu secara berurutan. Kalian
juga mungkin berpendapat bahwa puisi dengan isi serta pesan atau amanat yang
terkandung dalamnya yang berbeda untuk menuntut teknik membaca yang berbeda
pula. Diskusikanlah apakah teman sebangkumu sependapat dengan apa yang
kalian rasakan?? .
Pengertian Puisi, Ciri-Ciri Dan Jenis Puisi
Terlengkap
By Seputar PengetahuanPosted on 1 July 2015

Pengertian Puisi, Ciri-Ciri Dan Jenis Puisi Terlengkap Berbicara mengenai puisi, pasti sudah tidak
diragukan lagi pengetahuannya tentang puisi, namun banyak yang mungkin saja lupa atau belum mengetahui
apa sebenarnya puisi itu, apa saja ciri-ciri puisi dan jenis-jenisnya. Baiklah, pada kesempatan ini kita akan
membahas dan mengulas sedikit tentang pengertian puisi dan ciri-cirinya serta jenis-jenis puisi. Agar bisa
mempermudah teman-teman dalam mengarang sebuah puisi yang baik dan benar. Berikut ini penjelasannya.

Pengertian Puisi
Puisi merupakan salah satu ragam karya sastra yang terikat dengan irama, ritma, rima, bait, larik dan ditandai
dengan bahasa yang padat. Puisi juga merupakan seni tertulis yang mana menggunakan bahasa sebagai
kualitas estetiknya atau keindahanya. Puisi dibedakan menjadi dua yakni puisi lama & puisi baru.

Puisi lama ialah puisi yang terikat dengan aturan-aturan tertentu. Aturan-aturan tersebut antara lain : Jumlah kata
dalam satu baris; jumlah baris dalam satu bait; rima (persajakan ); banyaknya suku kata dalam setiap baris; dan
irama.

Puisi baru ialah puisi yang tidak terikat oleh aturan-aturan sehingga lebih bebas bentuknya daripada puisi lama,
baik dalam segi jumlah suku kata, baris, ataupun sajaknya.

Ciri-Ciri Puisi Lama


Ada beberapa ciri puisi lama, antara lain sebagai berikut:

Berupa puisi rakyat yang tidak diketahui nama pengarangnya.


Terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris dalam setiap baitnya, sajak dan jumlah suku kata dalam
setiap barisnya.
Disampaikan dari mulut ke mulut sehingga sering disebut juga dengan sastra lisan / kesusastraan lisan.
Menggunakan majas/gaya bahasa tetap (statis) & klise.
Berisikan tentang kerajaan, fantastis & istanasentris.

Jenis Puisi lama


Adapun jenis-jenis puisi lama antara lain:

Mantra yakni ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan ghaib.


Pantun merupakan puisi yang bersajak a-b-a-b, dimana pada tiap bait ada 4 baris, dalam tiap baris
terdiri dari 8 -12 suku kata, dan 2 baris pertama sebagai sampiran dan 2 baris setelahnya sebagai isi.
Karmina yang merupakan pantun kilat seperti pantun tetapi lebih pendek
Gurindam ialah puisi dimana pada tiap bait terdiri dari 2 baris, bersajakkan a-a-a-a, dan berisikan
nasihat.
Seloka yakni pantun berkait yang ditulis menggunakan bentuk syair atau pantun, bisa empat batis atau
lebih.
Syair yang merupakan puisi dengan ciri-cirinya yakni pada tiap bait ada 4 baris, bersajakkan a-a-a-a,
dan berisikan nasehat-nasehat atau cerita.
Talibun yaitu pantun genap dimana pada tiap bait terdiri dari 6/8/10 baris.

Ciri-Ciri Puisi Baru


Yang ini adalah ciri-ciri puisi baru, antara lain:

Diketahui nama pengarangnya


Perkembangannya secara lisan dan tertulis
Tidak terikat oleh aturan seperti jumlah baris, jumlah suku kata dan rima.
Menggunakan majas / gaya bahasa yang berubah-ubah (dinamis).
Pada umumnya berisikan tentang kehidupan
Biasanya lebih banyak menggunakan sajak pantun & syair
Bentuknya lebih rapi dan simetris
memiliki rima akhir yang lebih teratur
Pada tiap-tiap baris berupa kesatuan sintaksis

Jenis Puisi Baru


Berikut adalah jenis-jenis dari puisi baru:

Balada yakni puisi yang berisikan sebuah cerita atau kisah.


Himne yaitu puisi pujaan yang ditujukan untuk Tuhan, pahlawan dan tanah air.
Ode ialah puisi yang berbentuk sanjungan untuk orang-orang yang berjasa. Menggunakan nada atau
irama yang sangat resmi, membahas tentang sesuatu yang mulia, dan memiliki sifat yang menyanjung.
Epigram merupakan puisi yang berisikan ajaran ataupun tuntunan.
Romansa ialah puisi yang isinya tentang luapan perasaan cinta dan kasih sayang.
Elegi yakni puisi tentang kesedihan.
Satire ialah puisi yang isinya berupa sindiran ataupun kritikan.
Distikon merupakan puisi dimana pada tiap baitnya terdiri dari 2 baris.
Terzina ialah puisi dimana tiap baitnya terdiri atas 3 baris.
Kuatrain yakni puisi empat seuntai dimana puisi yang tiap baitnya terdiri dari 4 baris .
Kuint ialah puisi lima seuntai yang mana pada tiap baitnya terdiri dari 5 baris.
Sektet yaitu puisi enam seuntai yang tiap baitnya terdiri dari 6 baris.
Septime ialah puisi yang tiap baitnya terdiri atas tujuh baris atau puisi tujuh seuntai.
Oktaf/Stanza merupakan puisi dimana tiap baitnya terdiri dari 8 baris.
Soneta ialah puisi yang terdiri dari 14 baris dan terbagi menjadi dua, yakni pada dua bait pertama
masing-masing empat baris dan pada dua bait kedua masing-masing tiga baris.

Pengertian Puisi, Ciri, Jenis-Jenis, Unsur & Struktur Puisi|Secara Umum, Pengertian Puisi adalah
bentuk karya sastra dari hasil ungkapan dan perasaan penyair dengan bahasa yang terikat irama, matra,
rima, penyusunan lirik dan bait, serta penuh makna. Puisi mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair
secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan kekuatan bahasa dengan struktur fisik dan
struktur batinnya. Puisi mengutamakan bunyi, bentuk dan juga makna yang ingin disampaikan yang mana
makna sebagai bukti puisi baik jika terdapat makna yang mendalam dengan memadatkan segala unsur
bahasa. Puisi merupakan seni tertulis menggunakan bahasa sebagai kualitas estetiknya (keindahan). Puisi
dibedakan menjadi dua yaitu puisi lama dan juga puisi baru.
Pengertian Puisi Menurut Para Ahli

Herman Waluyo: Pengertian puisi menurut herman waluyo adalah karya sastra tertulis yang
paling awal ditulis oleh manusia.
Sumardi: Pengertian puisi menurut sumardi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan,
dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias (imajinatif).
Thomas Carlye: Pengertian puisi menurut thomas carley adalah ungkapan pikiran yang bersifat
musikal.
James Reevas: Pengertian puisi menurut James Reevas bahwa arti puisi adalah ekspresi bahasa
yang kaya dan penuh daya pikat.
Pradopo: Pengertian puisi adalah rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting,
diubah dalam wujud yang paling berkesan.
Herbert Spencer: Pengertian puisi adalah bentuk pengucapan gagasan yang bersifat emosional
dengan mempertimbangkan keindahan.

Unsur-Unsur Puisi
Unsur-unsur puisi terdiri dari struktur fisik dan struktur batin puisi antara lain sebagai berikut...

Struktur Fisik Puisi

Perwajahan Puisi (Tipografi), adalah bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata,
tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf
kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal tersebut menentukan pemaknaan terhadap puisi.
Diksi ialah pemilihat kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah
bentuk karya sastra yang sedikit kata-katanya dapat mengungkapkan banyak, hal maka kata-
katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan
makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.
Imaji, yaitu kata atau susunan kata yang mengungkapkan pengalaman indrawi, misalnya
penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji terbagi atas tiga yakni imaji suara (auditif), imaji
penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji mengakibatkan pembaca
seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan apa yang dialami penyair.
Kata Konkret, adalah kata yang memungkinkan memunculkan imaji karena dapat ditangkap
indera yang mana kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Seperti kata konkret "salju"
dimana melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll, sedangkan kata kongkret "rawa-
rawa" melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan dll.
Gaya Bahasa, adalah penggunaan bahasa dengan menghidupkan atau meningkatkan efek dan
menimbulkan konotasi tertentu dengan bahasa figuratif yang menyebabkan puisi menjadi
prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya makna. Gaya bahasa disebut dengan
majas. Macam-macam majas yaitu metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke,
eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro
toto, totem pro parte, hingga paradoks
Rima/Irama ialah persamaan bunyi puisi dibaik awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima
mencakup yakni: Onomatope (tiruan terhadap bunyi seperti /ng/ yang memberikan efek magis
puisi staudji C. B); Bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan
awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi (kata), dan sebagainya;
Pengulangan kata/ungkapan ritma merupakan tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya
bunyi. Rima sangat menonjol dalam pembacaan puisi.

Struktur Batin Puisi

Tema/Makna (sense); media pusi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda
dengan makna, maka pusi harus memiliki makna ditipa kata, baris, bait, dan makna keseluruhan.
Rasa (Feeling) yaitu sikap penyair mengenai pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya.
Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya akan latar belakang sosial dan psikologi penyair,
seperti latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam
masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman
pengungkapan tema dan ketetapan dalam menyikapi suatu masalah tidak tergantung dari
kemampuan penyair memili kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, namun juga dari
wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan keperibadian yang terbentuk oleh latar belakang
sosiologis dan psikologisnya.
Nada (tone) adalah sikap penyair terdapat pembacanya. Nada berhubungan dengan tema dan
rasa. Penyair dapat menyampaikan tema baik dengan nada yang menggurui, mendikte, bekerja
sama dengan pembaca dalam pemecahan masalah, menyerahkan masalah kepada pembaca,
dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.
Amanat/tujuan maksud (intention) adalah pesan yang akan disampaikan penyair kepada
pembaca yang terdapat dalam puisi tersebut.

Puisi Lama dan Puisi Baru

1. Puisi Lama
Pengertian puisi lama adalah puisi yang masih terikat oleh aturan-aturan yaitu sebagai berikut..

Jumlah kata dalam 1 baris


Jumlah baris dalam 1 bait
Persajakan (rima)
Banyak suku kata di tiap baris
Irama

Ciri-Ciri Puisi Lama

Tak diketahui nama pengarangnya.


Penyampaian dari mulut ke mulut, sehingga merupakan sastra lisan.
Sangat terikat akan aturan-aturan misalnya mengenai jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata
maupun rima.

Jenis-Jenis Puisi Lama


a. Mantra adalah ucapan-ucapan yang dianggap mempunyai kekuatan gaip.
Contoh Mantra : mantra untuk mengobati orang dari pengaruh makhluk halus

Sihir lontar pinang lontar

terletak diujung bumi

Setan buta jembalang buta

Aku sapa tidak berbunyi

b. Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, yang setiap bait terdiri dari 4 baris, dan di tipa
baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, sedangkan untuk 2 baris berikutnya
sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri atas pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-
teki, jenaka.
Contoh Pantun

sungguh elok emas permata

lagi elok intan baiduri

sungguh elok budi bahasa

jika dihias akhlaq terpuji

c. Seloka adalah pantun yang berkait


Contoh Seloka

Sudah bertemu kasih sayang

Duduk terkurung malam siang


Hingga setapak tiada renggang

Tulang sendi habis terguncang

d. Talibun adalah pantun genap yang disetiap barusnya terdiri dari 6, 8 ataupun 10 baris
Contoh Talibun

Anak orang di padang tarap

Pergi berjalan ke kebun bunga

hendak ke pekan hari tiah senja

Di sana sirih kami kerekap

meskipun daunnya berupa

namun rasanya berlain juga

e. Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris yang bersajak a-a-a-a dengan
berisi nasihat atau cerita.
Contoh Syair

Berfikirlah secara sehat

Berucap tentang taubat dan solawat

Berkarya dalam hidup dan manfaat

Berprasangka yang baik dan tepat

f. Karmina adalah pantun kilat misalnya pantun tetapi pendek.


Contoh Karmina

buah ranun kulitnya luka

bibir tersenyum banyak yang suka

g. Gurindam adalah puisi yang mana dari tiap bait terdiri 2 baris, bersajak a-a-a-a dan berisi nasihat.
Contoh Gurindam.

Barang siapa tiada memegang agama (a)

Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama (a)

Barang siapa mengenal yang empat (b)

Maka ia itulah orang yang ma'arifat (b)

Gendang gendut tali kecapi (c)

Kenyang perut senang hati (c)

2. Puisi Baru
Pengertian Puisi Baru adalah puisi yang tidak terikat lagi oleh aturan yang mana bentuknya lebih bebas
ddari pada puisi lama dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima.

Ciri-Ciri Puisi Baru

Memiliki bentuk yang rapi, simetris


Persajakan akhir yang teratur
Menggunakan pola sajak pantun dan syair walaupun dengan pola yang lain
Umumnya puisi empat seuntai
Di setiap baris atasnya sebuah gatra (kesatuan sintaksis)
Di tiap gatranya terdiri dari dua kata (pada umumnya) : 4-5 suku kata

Jenis-Jenis Puisi Baru - Puisi baru dikatogerikan menjadi dua macam yaitu sebagai berikut..
Jenis-Jenis Puisi Baru Berdasarkan Isinya
a. Balada adalah puisi yang berisi kisah atau cerita. Puisi jenis ini terdiri atas tiga (3) bait, yang setiap
delapan (8) larik dengan skema rima a-b-a-b-b-c-c-b. Lalu skema berubah menjadi a-b-a-b-b-c-b-c. Larik
terakhir dalam bait pertama digunakan sebagai refren pada bait-bait berikutnya. Contohnya pada puisi
karya Sapardi Damono berjudul "Balada Matinya Seorang Pemberontak".
b. Himne adalah puisi pujaan kepada Tuhan, tanah air, atau pahlawan. Ciri-ciri himne adalah lagu pujian
yang menghormati seorang dewa, tuhan, pahlawan, tanah air, almamater (pemandu di Dunia Sastra).
Semakin berkembangnya zaman, arti himne berubah yang mana pengertian himne sekarang adalah
sebagai puisi yang dinyanyikan, berisi pujian terhadap yang dihormati seperti guru, pahlawan, dewa, tuhan
yang bernapaskan ketuhanan.
c. Romansa adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih. Arti romansa berarti keindahan
perasaan; persoalan kasih sayang, rindu dendam, serta kasih mesra (perancis "Romantique).
d. Ode adalah puisi yang berisi sanjungan untuk orang yang telah berjasa. Nada dan gayanya sangat
resmi (metrumnya ketat), bernada anggun, membahas sesuatu yang mulia, bersifat menyanjung baik
terhadap pribadi tertentu atau peristiwa umum.
e. Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan atau ajaran hidup. Epigram berarti unsur pengajaran;
didaktik; nasihat membawa ke arah kebenaran untuk dijadikan pedoman, ikhtibar; ada teladan.
f. Elegi adalah puisi yang berisi rata tangis atau kesedihan yang berisi sajak atau lagu dengan
mengungkapkan rasa duka atau keluh kesah karena sedih atau rindu, terutama karena kematian/kepergian
seseorang.
g. Satire adalah puisi yang berisi sindira/kritik. Istilah berisi bahasa latin Sature yang berarti sindiran;
kejaman tajam terhadap sesuatu fenomena; tidak puasa hati satu golongan (ke atas pemimpin yang pura-
pura, rasuah, zalim, dsb).

Jenis-Jenis Puisi Baru Berdasarkan Bentuknya

a. Distikon adalah puisi yang mana di tiap baitnya terdiri dari dua baris (puisi dua seuntai).
b. Terzina adalah puisi yang mana di tiap baitnya terdiri dari tiga baris (puisi tiga seuntai).
c. Kuatrain adalah puisi yang di tiap baitnya terdiri dari empat baris (puisi empat seuntai).
d. Kuint adalah puisi yang di tiap baitnya terdiri dari lima baris (puisi lima seuntai).
e. Sektet adalah puisi yang di tiap baitnya terdiri dari enam baris (puisi enam seuntai).
f. Septime adalah puisi yang di tiap baitnya terdiri dari tujuh baris (tujuh seuntai).
g. Oktaf adalah puisi yang di tiap baitnya terdiri dari delapan baris (double kutrain atau puisi delapan
seuntai).
h. Soneta adalah puisi yang terdiri dari empat belas baris yang terbagi dalam dua, dimana dua bait
pertama masing-masing empat baris dan pada dua bait kedua masing-masing tiga baris. Kata soneta
berasal dari bahasa Italia yaitu Sonneto. Kata sono berarti suara. Jadi soneta adalah puisi yang bersuara.
Puisi soneta diperkenalkan oleh Muhammad Yamin dan Roestam Effendi yang diambil dari negeri
Belanda, sehingga mengapa kedua nama tersebut sebagai"Pelopor/Bapak Soneta Indonesia". Bentuk
soneta Indonesia tak lagi patuh pada syarat-syarat soneta yang ada di italia atau Inggris namun soneta
Indonesia memiliki kebebasan baik dalam segi isi maupun rimanya. Yang menjadi pegangan adalah jumlah
barinya (empat belas baris).

Anda mungkin juga menyukai