Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pada zaman sekarang ini perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
berkembang pesat, begitu juga dengan dunia kefarmasian. Hal ini dapat dilihat dari bentuk
sediaannya yang beragam yang telah di buat oleh tenaga farmasis. Diantara sediaan obat
tersebut menurut bentuknya yaitu solid (padat), semisolid (setengah padat) dan liquid
(cair).
Tujuan dari desain sediaan obat adalah untuk memperoleh hasil terapeutik yang
dapat diperkirakan dari suatu obat termasuk formulasi yang dapat diproduksi dalam skala
besar dengan kualitas produk yang dapat dipertahankan dan dihasilkan terus-menerus.
Bentuk sediaan obat antara lain sediaan cair, sediaan setengah padat dan sediaan padat.
Sediaan cair sendiri ada dalam bentuk sirup, suspensi, elixir dan lain sebagainya, sediaan
setengah padat terdiri dari krim, salep, gel dan masih banyak lagi. Sedangkan untuk
sediaan padat, dikenal dalam bentuk serbuk, granul, pil, tablet dan lain sebagainya.
Salah satu bentuk sediaan cair yang sering diproduksi adalah suspensi. Sediaan
suspensi dibuat jika bahan obat padat tidak dapat larut dalam pembawanya sehingga untuk
mendispersikannya dalam pembawa diperlukan suspending agent. Sediaan suspensi
memiliki beberapa keuntungan antara lain absorpsinya lebih cepat dibandingkan dengan
sediaan padat sehingga memberikan efek terapi lebih cepat.
Sediaan yang ditujukan untuk mengobati penyakit mata telah ditemukan sejak
dahulu. Istilah collyria diberikan oleh bangsa Yunani dan Romawi terhadap bahan-bahan
yang dapat larut dalam air, susu atau putih telur yang dapat digunakan sebagai tetes mata.
Pada abad pertengahan, tetes mata digunakan untuk memperbesar (dilatasi) pupil. Sebelm
Perang Dunia II, sediaan obat mata sangat sedikit tersedia di pasaran. Pada tahun 1950
hanya tiga sediaan obat mata yang masuk dalam US Pharmacopoeia (USP) XIV.

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 1


Sediaan obat mata biasanya dibuat pada farmasi komunitas atau farmasi rumah sakit
dengan stabilitas yang terbatas hanya untuk beberapa hari saja. Produk-produk obat mata
steril tersedia sebelum pertengahan tahun 1950-an, namun pentingnya sterilitas untuk obat
tetes mata masih belum dikenal secara resmi sampai tahun 1955 ketika panduan resmi
pertama kali memasukkan persyaratan sterilitas. Saat ini, jenis-jenis bentuk sediaan
formulasi obat mata adalah mulai dari larutan yang sederhana sampai dengan sistem
penghantaran kompleks.
Ada berbagai macam zat aktif yang dapat dibuat ke dalam bentuk sediaan suspensi.
Namun tidak semua zat aktif dapat stabil pada air atau mudah terurai jika disimpan dalam
waktu yang lebih lama dan salah satunya adalah antibiotika Klomramfenikol. Tetes mata
kloramfenikol adalah larutan steril Kloramfenikol, mengandung Kloramfenikol tidak
kurang dari 90% dan tidak lebih dari 130% dari jumlah yang tertera pada etiket. Dalam
percobaan ini bahan obat yang digunakan sebagai zat aktif pada sediaan obat tetes mata
steril adalah Kloramfenikol yang mempunyai daya sebagai antimikroba yang kuat
melawan infeksi mata dan merupakan antibiotika spectrum luas bersifat bakteriostatik.
Berdasarkan penjelasan di atas kelompok kami ingin membuat formulasi sediaan obat tetes
mata steril dalam bentuk suspensi.

Manfaat
Hasil diskusi ini diharapkan dapat digunakan sebagai informasi ilmiah tentang sediaan larutan
steril.

Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu ;
Untuk mengetahui apa yang dimaksud larutan steril, bentuk sediaan steril, dan cara
penggunannya.

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 2


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Larutan mata steril adalah steril berair atau berminyak solusi dari alkaloid , alkaloidal
garam , antibiotik , sulfonamides , steroid , enzim , antihistamines , pewarna , metabolisme
antagonis , atau zat lain. Solusi tersebut dimaksudkan untuk instalasi ke dalam cul-de-sac, yaitu
ruang antara bola mata dan kelopak mata.
Larutan mata dapat digunakan baik sebagai tetes (tetes mata) atau sebagai mencuci
(lotion mata). Efek yang diinginkan dari obat ini termasuk anestesi, anti infeksi, anti inflamasi,
miotic, mydriatic, cycloplegic, astringent, atau tindakan antiseptik. Hal ini juga dapat berfungsi
sebagai pelumas atau sebagai pengganti air mata.
Nyeri-Riegelman dan Vaughan, telah menunjukkan bahwa ada penyebab potensial nyeri yang
berkaitan langsung dengan sifat-sifat obat itu sendiri. Ini termasuk reaksi permukaan-aktif dan
protein-denaturasi banyak anestesi lokal, garam logam berat, dan quarternaries pada konsentrasi
tinggi. Senyawa-senyawa yang digunakan dalam oftalmologi yang permukaan-aktif, seperti
hidroklorida anestesi lokal, menyerap pada membran kornea. Peningkatan obat lokal ini
berkonsentrasi di wajah antar jaringan cair dapat menyebabkan jenis yang sama kerusakan yang
dapat diperkirakan dari larutan hipertonik. Rasa sakit yang disebabkan oleh senyawa permukaan-
aktif berlangsung lebih lama, pada kenyataannya, sejak elusi bahan terserap sulit untuk dicapai.
Dalam konsentrasi tinggi agent permukaan-aktif dapat menyebabkan kerusakan kornea
superfisial akibat denaturasi protein. Tanggapan ini mungkin kumulatif, berangsur-angsur
bertambah meningkatkan kerusakan dan nyeri bersamaan.
Kemungkinan rasa sakit yang disebabkan oleh kendaraan dibahas dalam bagian
berikutnya.
Frekuensi penggunaan-Banyak kondisi patologis mata mengharuskan kedua pemberian
lokal dan sistemik obat. Pemeriksaan umum mata biasanya membutuhkan berangsur-angsur dari
berbagai persiapan obat yang mungkin diagnostik atau terapeutik secara alami. Ini berarti
diberikan wadah multi-dosis obat yang dapat digunakan dengan pasien mungkin selama satu
hari, dan jika terkontaminasi mungkin memiliki efek luas.

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 3


Obat mata (ophthalmica ) terdiri dari tetes mata, salep mata (oculenta), pencuci mata (collyria)
dan beberapa bentuk pemakaian khusus. Pemakaian yang khusus dapat berupa penyemprot mata sebagai bentuk
depo, yang digunakan pada mata utuh atau terluka.
Sediaan tetes mata adalah cairan atau suspensi steril yang mengandung satu atau lebih zat aktif, tanpa atau
dengan penambahan zat tambahan yang sesuai. Sediaan ini digunakan pada mata dengan cara meneteskan obat
tersebut pada selaput lendir di sekitar kelopak dan bola mata.
Sediaan tetes mata merupakan larutan steril, yang dalam pembuatannya memerlukan pertimbangan yang
tepat terhadap pemilihan formulasi sediaan, seperti penggunaan bahan aktif, pengawet, isotonisitas, dapar,
viskositas, dan pengemasan yang cocok.
Sediaan tetes mata biasanya mengandung satu atau lebih bahan aktif, dan merupakan elemen terpenting
yang memberikan efek terapeutik dari sediaan tetes mata itu. Kloramfenikol merupakan zat aktif berupa serbuk
hablur halus berbentuk jarum, putih sampai putih kelabu atau putih kekuningan, tidak berbau, rasa sangat pahit.
Stabilitas yang paling baik berada pada kisaran pH 2 7 dan stabilitas maksimumnya di capai pada pH 6.
Antibiotik ini bersifat unik diantara senyawa alam karena adanya gugus nitrobenzen dan merupakan turunan asam
dikloroasetat. Bentuk yang aktif secara biologis yaitu bentuk levonya. Zat ini larut sedikit dalam air (1:400) dan
relatif stabil. Kloramfenikol diinaktivasi oleh enzim yang ada dalam bakteri filtrat tertentu. Disini terjadi reduksi
gugus nitro dan hidrolisis ikatan amida, juga terjadi asetilasi.
Kloramfenikol merupakan suatu antibiotik spektrum luas yang berasal dari beberapa jenis Streptomyces
misalnya S. venezuelae, S.phaeochromogenes var. chloromyceticus , dan S.omiyamensis. Setelah para ahli
berhasil mengelusidasi strukturnya, maka sejak tahun 1950, kloramfenikol sudah dapat disintesis secara total. S.
venezuelae pertama kali diisolasi oleh Burkholder pada tahun 1947 dari contoh tanah yang diambil dari
Venezuela. Filtrat kultur cair organisme menunjukkan aktivitas terhadap beberapa bakteri Gram negatif dan
riketsia. Bentuk kristal antibiotik ini diisolasi oleh Bartz pada tahun 1948 dan dinamakan kloromisetin karena
adanya ion klorida dan didapat dari aktinomisetes.
Kloramfenikol mempunyai rumus kimia yang cukup sederhana yaitu 1-(p-nitrofenil)-2-
dikloroasetamido-1,3-propandiol.
Gambar

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 4


Struktur kloramfenikol

Antibiotik ini bersifat unik diantara senyawa alam karena adanya gugus nitrobenzen dan antibiotik ini
merupakan turunan asam dikloroasetat. Bentuk yang aktif secara biologis yaitu bentuk levonya. Zat ini larut sedikit
dalam air (1:400) dan relatif stabil. Kloramfenikol diinaktivasi oleh enzim yang ada dalam bakteri tertentu. Disini
terjadi reduksi gugus nitro dan hidrolisis ikatan amida; juga terjadi asetilasi.
Berbagai turunan kloramfenikol berhasil disintesis akan tetapi tidak ada senyawa yang khasiatnya
melampaui khasiat kloramfenikol. Kloramfenikol adalah salah satu antibiotik yang secara kimiawi diketahui
paling stabil dalam segala pemakaian. Kloramfenikol memiliki stabilitas yang sangat baik pada suhu kamar dan
kisaran pH 2 sampai 7, stabilitas maksimumnya dicapai pada pH 6. Pada suhu 25C dan pH 6, memiliki waktu
paruh hampir 3 tahun. Yang menjadi penyebab utama terjadinya degradasi kloramfenikol dalam media air adalah
pemecahan hidrolitik pada lingkaran amida. Laju reaksinya berlangsung di bawah orde pertama dan tidak
tergantung pada kekuatan ionik media.
Berlangsungnya hidrolisis kloramfenikol terkatalisis asam umum/basa umum, tetapi pada kisaran pH 2
sampai 7, laju reaksinya tidak tergantung pH. Spesies pengkatalisasi adalah asam umum atau basa umum yang
terdapat pada larutan dapar yang digunakan; khususnya pada ion monohidrogen fosfat, asam asetat tidak
terdisosiasi, serta ion asam monohidrogen dan dihidrogen sitrat dapat mengkatalisis proses degradasi. Di bawah
pH 2, hidrolisis terkatalisis ion hidrogen spesifik memegang peranan besar pada terjadinya degradasi
kloramfenikol. Obat ini sangat tidak stabil dalam suasana basa, dan reaksinya terlihat terkatalisis baik asam
maupun basa spesifik.
Jalur utama degradasi kloramfenikol adalah hidrolisis ikatan amida, membentuk amida yang sesuai dan
asam dikloroasetat.
Degradasi kloramfenikol lewat dehalogenasi tidak menjadi bagian yang berperan dalam gambaran
degradasi total, setidaknya di bawah pH 7.
Laju degradasi tergantung secara linier pada konsentrasi dapar, spesies dapar beraksi sebagai asam umum
dan basa umum. Laju hidrolisis kloramfenikol tidak tergantung kekuatan ionik, dan tidak terpengaruh oleh

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 5


konsentrasi ion dihidrogen fosfat, dengan demikian aktivitas katalisisnya dianggap berasal dari aksi ion
monohidrogen fosfat sebagai katalisis basa umum.
Kromatografi merupakan teknik pemisahan satu atau lebih komponen dari suatu sampel yang dibawa
oleh fase gerak melewati fase diam. KCKT adalah kromatografi cair kolom modern, dimana teori dasarnya
merupakan pengembangan dari kromatografi cair kolom klasik. Kemajuan dalam teknologi kolom, pompa
tekanan tinggi dan detektor yang peka telah menyebabkan perubahan kromatografi kolom menjadi suatu sistem
pemisahan yang cepat dan efisien.
Pada KCKT, diperkenalkan penggunaan fase diam yang berdiameter kecil dalam kolom yang efisien.
Teknologi kolom partikel kecil ini memerlukan sistem pompa bertekanan tinggi yang mampu mengalirkan fase
gerak dengan tekanan tinggi agar tercapai laju aliran 1-2 mL/menit. Karena sampel yang digunakan sangat kecil
(<20g), oleh karena itu diperlukan detektor yang sangat peka. Dengan teknologi ini, pemisahan berlangsung
sangat cepat dengan daya pisah sangat tinggi. Penelitian yang dipercepat pada temperatur tinggi juga banyak
dilakukan oleh banyak perusahaan, tetapi kriterianya sering merupakan kriteria buatan yang tidak didasarkan
prinsip-prinsip dasar kinetik. Contohnya, beberapa perusahaan menggunakan aturan bahwa penyimpanan cairan
pada 37C mempercepat penguraian dua kali lajunya pada temperatur normal, sementara perusahaan lain
mengandaikan bahwa kondisi tersebut mempercepat penguraian dengan dua puluh kali laju normal. Perkiraan
waktu penyimpanan harus diikuti dengan analisis yang dirancang secara hati-hati untuk bermacam-macam bahan
dalam tiap produk jika hasilnya ingin cukup berarti.
Metode uji dipercepat untuk produk-produk farmasi yang didasarkan pada prinsip-prinsip kinetika kimia
ditunjukkan oleh Garret dan Carper. Menurut teknik ini nilai k untuk penguraian obat dalam larutan pada berbagai
temperatur yang dinaikkan diperoleh dengan memplot beberapa fungsi konsentrasi terhadap waktu, seperti terlihat
pada gambar berikut:
Gambar

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 6


Gambar
Plot Arrhenius untuk memperkirakan kestabilan obat pada temperatur ruangan .
Penguraian obat dalam larutan air yang dipercepat pada temperatur yang dinaikkan Logaritma laju penguraian
spesifik kemudian diplot terhadap kebalikan dari temperatur mutlak.

Free dan Blythe dan akhir-akhir ini, Amirjahed dan rekan-rekan telah mengusulkan metode yang mirip
di mana periode waktu fraksional diplotkan terhadap kebalikan temperatur, dan waktu dalam hari yang diperlukan
oleh obat untuk terurai menjadi beberapa fraksi dari potensi asalnya pada temperatur kamar diperoleh.
Pendekatannya diilustrasikan pada gambar 2.7 dan 2.8 Seperti diamati pada gambar 2.7, persen (%) log dari obat
yang tertinggal diplotkan terhadap waktu dalam hari, dan waktu yang diperlukan untuk menurunnya potensi
sampai 90% dari harga awal yaitu t90, di baca pada grafik. Dalam gambar 2.8, log waktu sampai 90% kemudian
diplotkan terhadap 1/T, dan waktu pada 25C memberikan umur produk dalam hari. Umur dan tanggal
kadaluwarsa ditentukan dengan cara ini.

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 7


Gambar
Waktu dalam hari yang diperlukan untuk turunnya potensi obat sam

Gambar Pada log t90 (yaitu waktu potensi 90%) pada sumbu tegak terhadap kebalikan temperatur (skala kelvin
dan celcius diperlihatkan pada sumbu mendatar).
Dengan metode ini, overage yaitu kelebihan jumlah obat yang harus ditambahkan pada sediaan untuk
menjaga paling sedikit 100% dari jumlah yang tercantum, semua umur yang diperkirakan untuk obat, dapat
dihitung dengan mudah dan ditambahkan pada sediaan tersebut pada saat pembuatan.

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 8


1.1 Pengertian
Menurut FI IV halaman 12, Larutan obat mata adalah larutan steril, bebas partikel asing,
merupakan sediaan yang dibuat dan dikemas sedemikian rupa hingga sesuai digunakan pada
mata. Pembuatan larutan obat mata membutuhkan perhatian khusus dalam hal toksisitas bahan
obat, nilai isotonisitas, kebutuhan akan dapar, kebutuhan akan pengawet (dan jika perlu
pemilihan pengawet) sterilisasi dan kemasan yang tepat. Perhatian yang sama juga dilakukan
untuk sediaan hidung dan telinga.
Menurut FI III halaman 10, Tetes mata adalah sediaan steril yang berupa larutan
ataususpensi yang digunaka dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar
kelopak mata dari bola mata.
Menurut DOM Martin : Tetes mata adalah seringkali dimasukkan ke dalam mata yang
terluka atau kecelakaan atau pembedahan dan mereka kemudian secara potensial lebih berbahaya
daripada injeksi intavena.
Menurut Scovilles : Larutan mata merupakan cairan steril atau larutan berminyak dari
alkaloid garam-garam alkaloid, antibotik atau bahan-bahan lain yang ditujukan untuk
dimasukkan ke dalam mata. Ketika cairan, larutan harus isotonik, larutan mata digunakan untuk
antibakterial, anstetik, midriatikum, miotik atau maksud diagnosa. Larutan ini disebut juga tetes
mata dan collyria (singular collyrium).
Menurut Parrot : Larutan mata (colluria) Obat yang dimasukkan ke dalam mata harus
diformulasi dan disiapkan dengan pertimbangan yang diberikan untuk tonisitas, pH, stabilitas,
viskositas dan sterilisasi. Sterilisasi ini diinginkan karena kornea dan jaringan bening ruang
anterior adalah media yang bagus untuk mikroorganisme dan masuknya larutan mata yang
terkontaminasi ke dalam mata yang trauma karena kecelakaan atau pembedahan dapat
menyebabkan kehilangan penglihatan.
Menurut Teks Book of Pharmaceutics : Tetes mata adalah cairan steril atau larutan
berminyak atau suspensi yang ditujukan untuk dimasukkan ke dalam saccus conjungtival.
Mereka dapat mengandung bahan-bahan antimikroba seperti antibiotik, bahan antiinflamasi
seperti kortikosteroid, obat miotik seperti fisostigmin sulfat atau obat midriatik seperti atropin
sulfat.
Menurut Ansel INA : Dengan definisi resmi larutan untuk mata adalah larutan steril yang
dicampur dan dikemas untuk dimasukkan dalam mata. Selain steril preparat tersebut memerlukan

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 9


pertimbangan yang cermat terhadap faktor-faktor farmasi seperti kebutuhan bahan antimikroba,
isotonisitas, dapar, viskositas dan pengemasan yang cocok.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa sediaan obat mata merupakan sediaan steril, yang
terdiri dari bahan bahan berkhasiat obat dan bahan tambahan dan membutuhkan perhatian khusus
dalam pembuatannya terutama dalam hal toksisitas bahan obat, nilai isotonisitas, kebutuhan akan
dapar, pengawet, sterilitas, serta kemasan yang tepat.

1.2 Teori Sediaan


Definisi Tetes Mata (Guttae Ophthalmicae)
- Tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspensi yang digunakan
dengan cara meneteskan obat pada selaput lender mata di sekitar kelopak mata
dan bola mata. (FI III Hal. 10)
- Larutan obat mata adalah larutan steril, bebas partikel asing, merupakan
sediaan yang dibuat dan dikemas sedekimian rupa hingga sesuai digunakan
pada mata. (FI IV Hal. 13)
- Suspensi obat mata adalah sediaan cair steril yang mengandung partikel-
partikel yang terdispersi dalam cairan pembawa untuk pemakaian pada obat
seperti yang tertera pada suspensiones. (FI IV Hal. 14)

1.3 Keuntungan dan Kerugian


Keuntungan :
Larutan mata memiliki kelebihan dalam hal kehomogenan, bioavailabilitas dan
kemudahan penanganan.
Suspensi mata memiliki kelebihan dimana adanya partikel zat aktif dapat
memperpanjang waktu tinggal pada mata sehingga meningkatkan waktu
terdisolusinya oleh air mata sehingga terjadi peningkatan bioavailabilitas dan
efek terapinya.
Kerugian :
Volume larutan yang dapat ditampung oleh mata sangat terbatas, maka larutan
yang berlebih dapat masuk ke nasal cavity lalu masuk ke jalur gastrointestinal
menghasilkan absorpsi sistemik yang tidak diinginkan.

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 10


Kornea dan rongga mata sangat kurang tervaskularisasi, selain itu kapiler pada
retina dan iris relatif non permeabel sehingga umumnya sediaan untuk mata
adalah efeknya lokal atau topikal.

1.4 Syarat sediaan tetes mata


Faktor-faktor dibawah ini sangat penting dalam sediaan larutan mata :

1. Ketelitian dan kebersihan dalam penyiapan larutan : Sterilitas akhir dari collyrium

dan kehadiran bahan antimikroba yang efektif untuk menghambat pertumbuhan dari

banyak mikroorganisme selama penggunaan dari sediaan;

2. Isotonisitas dari larutan; pH yang pantas dalam pembawa untuk menghasilkan

stabilitas yang optimum

Tetes mata adalah larutan berair atau larutan berminyak yang idealnya harus memiliki
sifat-sifat sebagai berikut :
1. Steril.
2. Isotonis dengan air mata, bila mungkin isohidris dengan pH air mata. Isotonis =
0,9% b/v NaCl, rentang yang diterima = 0,7 1,4% b/v atau 0,7 1,5% b/v.
3. Larutan jernih, bebas partikel asing dan serat halus.
4. Tidak iritan terhadap mata.

1.5 Pemilihan Bentuk Zat Aktif


Sebagian besar zat aktif yang digunakan untuk sediaan mata bersifat larut air atau dipilih
bentuk garamnya yang larut air. Sifat-sifat fisikokimia yang harus diperhatikan dalam memilih
garam untuk formula larutan tetes mata yaitu:
Kelarutan.
Stabilitas.
pH stabilitas dan kapasitas dapar.
Kompatibilitas dengan bahan lain dalam formula.

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 11


Sebagian besar zat aktif untuk sediaan tetes mata adalah basa lemah. Bentuk garam yang
biasa digunakan adalah garam hidroklorida, sulfat, dan nitrat. Sedangkan untuk zat aktif yang
berupa asam lemah, biasanya digunakan garam natrium.

1.6 Karakteristik Sediaan Mata

1. Kejernihan

Larutan mata adalah dengan definisi bebas adari partikel asing dan jernih secara normal

diperoleh dengan filtrasi, pentingnya peralatan filtrasi dan tercuci baik sehingga bahan-bahan

partikulat tidak dikontribusikan untuk larutan dengan desain peralatan untuk menghilangkannya.

pengerjaan penampilan dalam lingkungan bersih.

Penggunaan Laminar Air Flow dan harus tidak tertumpahkan akan memberikan

kebersamaan untuk penyiapan larutan jernih bebas partikel asing. Dalam beberapa permasalahan,

kejernihan dan streilitas dilakukan dalam langkah filtrasi yang sama. Ini penting untuk

menyadari bahwa larutan jernih sama fungsinya untuk pembersihan wadah dan tutup. keduanya,

wadah dan tutup harus bersih, steril dan tidak tertumpahkan. Wadah dan tutup tidak membawa

partikel dalam larutan selama kontak lama sepanjang penyimpanan. Normalnya dilakukan test

sterilitas.

2. Stabilitas

Stabilitas obat dalam larutan, seperti produk tergantung pada sifat kimia bahan obat, pH

produk, metode penyimpanan (khususnya penggunaan suhu), zaat tambahan larutan dan tipe

pengemasan.

Obat seperti pilokarpin dan fisostigmin aktif dan cocok pada mata pada pH 6.8 namun

demikian, pH stabilitas kimia (atau kestabilan) dapat diukur dalam beberapa hari atau bulan.

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 12


Dengan obat ini, bahan kehilangan stabilitas kimia kurang dari 1 tahun. Sebaliknya pH 5, kedua

obat stabil dalam beberapa tahun.

Tambahan untuk pH optimal, jika sensitivitas oksigen adalah satu faktor, stabilitas

adekuat diinginkan antioksidan. kemasan plastik, polietilen densitas rendah Droptainer

memberikan kenyamanan pasien, dapat meningkatkan deksimental untuk kestabilan dengan

pelepasan oksigen menghasilkan dekomposisi oksidatif bahan-bahan obat.

3. Buffer dan pH

Idealnya, sediaan mata sebaiknya pada pH yang ekuivalen dengan cairan mata yaitu 7,4.

Dalam prakteknya, ini jarang dicapai. mayoritas bahan aktif dalam optalmologi adalah garam

basa lemah dan paling stabil pada pH asam. ini umumnya dapat dibuat dalam suspensi

kortikosteroid tidak larut suspensi biasanya paling stabil pada pH asam.

pH optimum umumnya menginginkan kompromi pada formulator. pH diseleksi jadi

optimum untuk kestabilan. Sistem buffer diseleksi agar mempunyai kapsitas adekuat untuk

memperoleh pH dengan range stabilitas untuk durasi umur produk. kapasitas buffer adalah kunci

utama, situasi ini.

4. Tonisitas

Tonisitas berarti tekanan osmotik yang diberikan oleh garam-garam dalam larutan berair,

larutan mata adalah isotonik dengan larutan lain ketika magnefudosifat koligatif larutan adalah

sama. larutan mata dipertimbangkan isotonik ketika tonisitasnya sama dengan 0,9% laritan Na

Cl.

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 13


Sebenarnya mata lebih toleran terhadap variasi tonisitas daripada suatu waktu yang

diusulkan. Maka biasanya dapat mentoleransi larutan sama untuk range 0,5%-1,8% NaCl.

Memberikan pilihan, isotonisitas selalu dikehendaki dan khususnya penting dalam larutan

intraokuler. Namun demikian, ini tidak dibutuhkan ketika total stabilitas produk

dipertimbangkan.

5. Viskositas

USP mengizinkan penggunaan bahan pengkhelat viskositas untuk memperpanjang lama

kontak dalam mata dan untuk absorpsi obat dan aktivitasnya. Bahan-bahan seperti metilselulosa,

polivinil alkohol dan hidroksi metil selulosa ditambahkan secara berkala untuk meningkatkan

viskositas.

Para peneliti telah mempelajari efek peningkatan viskositas dalam waktu kontak dalam

mata. umumnya viskositas meningkat 25-50 cps range yang signifikan meningkat lama kontak

dalam mata.

6. Additives/Tambahan

Penggunaan bahan tambahan dalam larutan mata diperbolehkan, namun demikian

pemilihan dalam jumlah tertentu. Antioksidan, khususnya Natrium Bisulfat atau metabisulfat,

digunakan dengan konsentrasi sampai 0,3%, khususnya dalam larutan yang mengandung garam

epinefrin. Antioksidan lain seperti asam askorbat atau asetilsistein juga digunakan. Antioksidan

berefek sebagai penstabil untuk meminimalkan oksidasi epinefrin.

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 14


Penggunaan surfaktan dalam sediaan mata dibatasi hal yang sama. surfaktan nonionik,

kelas toksis kecil seperti bahan campuran digunakan dalam konsentrasi rendah khususnya

suspensi dan berhubungan dengan kejernihan larutan.

Penggunaan surfaktan, khususnya beberapa konsentrasi signifikan sebaiknya dengan

karakteristik bahan-bahah. surfaktan nonionik, khususnya dapat bereaksi dengan adsorpsi dengan

komponen pengawet antimikroba dan inaktif sistem pengawet.

Surfaktan kationik digunakan secara bertahap dalam larutan mata tetapi hampir invariabel

sebagai pengawet antimikroba. benzalkonium klorida dalam range 0,01-0,02% dengan toksisitas

faktor pembatas konsentrasi. Benzalkonium klorida sebagai pengawet digunakan dalam jumlah

besar dalam larutan dan suspensi mata komersial.

1.7 Formula umum

R/ Zat aktif
Bahan pembantu :
Pengawet
Pengisotonis
Antioksidan
Pendapar
Peningkat viskositas
Pensuspensi
Surfaktan

1.8 Teori Bahan Pembantu


a. Pengawet
Pengawet yang dipilih seharusnya mencegah dan membunuh pertumbuhan
mikroorganisme selama penggunaan. Pengawet yang sesuai untuk larutan obat
tetes mata hendaknya memiliki sifat sebagai berikut :

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 15


Bersifat bakteriostatikdan fungistatik. Sifat ini harus dimiliki terutama
terhadap Pseudomonasa aeruginosa.
Non iritan terhadap mata.
Kompatibel terhadap bahan aktif dan zat tambahan lain yang dipakai.
Tidak memiliki sifat alergen dan mensensitisasi.
Dapat mempertahankan aktivitasnya pada kondisi normal penggunaan
sediaan.
b. Pengisotonis
Pengisotonis yang dapat digunakan adalah NaCl, KCl, glukosa, gliserol
dan dapar. Rentang tonisitas yang masih dapat diterima oleh mata berdasarkan
FI IV yaitu 0,6 2,0%.
c. Pendapar
Secara ideal, larutan obat tetes mata mempunyai pH dan isotonisitas yang sama
dengan air mata. Hal ini tidak selalu dapat dilakukan karena pada pH 7,4
banyak obat yang tidak cukup larut dalam air, sebagian besar garam alkaloid
mengendap sebagai alkaloid bebas pada pH ini. Selain itu banyak obat tidak
stabil secara kimia pada pH mendekati 7,4. Tetapi larutan tanpa dapar antara
pH 3,5 10,5 masih dapat ditoleransi walaupun terasa kurang nyaman.
Rentang pH yang masih dapat ditoleransi oleh mata menurut FI IV yaitu 3,5
8,5.
Syarat dapar yaitu :
Dapat menstabilkan pH selama penyimpanan.
Konsentrasinya tidak cukup tinggi sehingga secara signifikan dapat
mengubah pH air mata.

d. Peningkat Viskositas
Beberapa hal yang harus diperhatikan pada pemilihan bahan peningkat
viskositas untuk sediaan tetes mata yaitu:
Sifat bahan peningkat viskositas itu sendiri.

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 16


Perubahan pH yang dapat mempengaruhi aktivitas bahan peningkat
viskositas.
Penggunaan produk dengan viskositas tinggi kadang tidak ditoleransi baik
oleh mata dan menyebabkan terbentuknya deposit pada kelompok mat, sulit
bercampur dengan air mata atau menganggu difusi obat.
Viskositas untuk larutan tetes mata dipandang optimal jika berkisar antara 15
25 cps. Pemilihan bahan pengental dalam obat tetes mata didasarkan pada,
yaitu:
Ketahanan pada saat sterilisasi.
Kemungkinan dapat disaring.
Stabilitas.
Ketidakcanpuran dengan bahan-bahan lain.
e. Antioksidan
Zat aktif untuk sediaan tetes mata ada yang dapat teroksidasi oleh udara. Untuk
itu kadang dibutuhkan antioksidan. Antioksidan yang sering digunakan adalah
Na metabisulfit atau Na sulfit dengan konsentrasi sampai 0,3%.
f. Surfaktan
Pemakaian surfaktan dalam obat tetes mata harus memenuhi berbagai aspek:
Sebagai antimikroba (surfaktan golongan kationik).
Menurunkan tegangan permukaan antara obat tetes mata dan kornea
sehingga meningkatkan aktif terapeutik zat aktif.
Meningkatkan ketercampuran antara obat tetes mata dengan cairan lakrimal,
meningkatkan kontak zat aktif dengan kornea dan konjungtiva sehingga
meningkatkan penembusan dan penyerapan obat.
Tidak boleh meningkatkan pengeluaran air mata, tidak boleh iritan dan
merusak kornea. Surfaktan golongan non ionik lebih dapat diterima
dibandingkan dengan surfaktan golongan lainnya.

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 17


1.9 Metode Sterilisasi
Metode sterilisasi terutama ditentukan oleh sifat sediaan. Jika memungkinkan,
penyaringan dengan penyaring membran steril merupakan metode yang baik jika dapat
ditunjukkan bahwa pemanasan mempengaruhi stabilitas sediaan, sterilisasi obat dalam wadah
akhir dengan autoklaf juga merupakan pilihan baik. Pendaparan obat tertentu disekitar pH
fisiologis dapat menyebabkan obat tidak stabil pada suhu tinggi. Penyaringan dengan
menggunakan penyaring bakteri adalah suatu cara yang baik untuk menghindari pemanasan,
namun perlu perhatian khusus dalam pemilihan, perakitan, dan pengunaan alat-alat. Sedapat I
mungkin gunakan penyaring steril satu kali pakai. (FI IV Hal. 13)
Menurut FI III, kecuali dinyatakan lain tetes mata dibuat dengan salah satu cara berikut:
Obat dilarutkan ke dalam cairan pembawa yang mengandung salah satu zat
pengawet tersebut atau zat pengawet lain yang cocok dan larutan dijernihkan
dengan penyaringan, masukkan ke dalam wadah. Tutup wadah dan sterilkan
dengan autoklaf pada suhu 115 116C selama minimal 30 menit, tergantung
volume cairan yang akan disterilkan (cara sterilisasi A).
Obat dilarutkan ke dalam pembawa berair yang mengandung salah satu zat
pengawet tersebut atau zat pengawet lain yang cocok dan larutan disterilkan
dengan cara filtrasi (cara sterilisasi C) ke dalam wadah yang sudah steril
secara aseptik dan ke tutup rapat.
Obat dilarutkan ke dalam cairan pembawa berair yang mengandung salah satu
zat pengawet tersebut atau zat pengawet lain yang cocok dan larutan
dijernihkan dengan penyaringan, masukkan ke dalam wadah, tutup rapat,
sterilkan dengan uap air mengalir pada suhu 98 - 100C selama minimal 30
menit tergantung volume cairan yang akan disterilkan (cara sterilisasi B).

1.10 Evaluasi Sediaan


Evaluasi Fisik
Uji kejernihan
Penentuan bobot jenis
Penentuan pH
Penentuan bahan partikulat

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 18


Penentuan volume terpindahkan
Penentuan viskositas dan aliran
Volume sedimentasi
Kemampuan redispersi
Penentuan homogenitas
Penentuan distribusi ukuran partikel
Evaluasi Kimia
Identifikasi
Penetapan kadar
Penetapan potensi
Evaluasi Biologi
Uji sterilitas
Uji efektivitas pengawet

1.11 Wadah dan Penyimpanan


Saat ini wadah untuk larutan tetes mata berupa gelas telah digantikan oleh wadah plastik
fleksibel terbuat dari polietilen atau polipropilen dengan built in dopper.
Keuntungan wadah plastik :
Murah, ringan, relatif tidak mudah pecah.
Mudah digunakan dan lebih tahan kontaminasi karena menggunakan built in
dopper.
Wadah polietilen tidak tahan autoklaf sehingga disterilkan dengan radiasi atau
etilen oksida sebelum dimasukkan produk secara aseptik.
Kekurangan wadah plastik :
Dapat menyerap pengawet dan mungkin permeabel terhadap senyawa volatil,
uap air, dan oksigen.
Jika disimpan dalam waktu lama, dapat terjadi hilangnya pengawet, produk
menjadi kering (terutama wadah dosis tunggal) dan produk teroksidasi.
Persyaratan kompendial :

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 19


Farmakope eropa mensyaratkan wadah untuk tetes mata terbuat dari bahan
yang tidak menguraikan atau merusak sediaan akibat difusi obat ke dalam
bahan wadah atau karena wadah melepaskan zat asing ke dalam sediaan.
Wadah terbuat dari bahan gelas atau bahan lain yang cocok.
Wadah sediaan dosis tunggal harus mampu menjaga sterilitas sediaan dan
aplikator sampai waktu penggunaan.
Wadah untuk tetes mata dosis ganaplikator sampai waktu penggunaan.
Wadah untuk tetes mata dosis ganda harus dilengkapi dengan penetes
langsung atau dengan penetes dengan penutup berulir yang steril yang
dilengkapi pipet karet.
Penyimpanan dalam wadah kaca atau plastik tertutup kedap, volume10 ml,
dilengkapi dengan penetes.

Penyimpanan
Tetes mata disimpan dalam wadah tamper-evident. Kompatibilitas dari
komponen plastik atau karet harus dicek sebelum digunakan.
Wadah untuk tetes mata dosis ganda dilengkapi dengan dropper yang
bersatu dengan wadah atau dengan suatu tutup yang dibuat dan disterilisasi
secara terpisah.

1.12 Penandaan
Farmakope eropa mengkhususkan persyaratan berikut pada pelabelan sediaan
tetes mata.
Label harus mencantumkan nama dan konsentrasi pengawet antimikroba atau
senyawa lain yang ditambahkan dalam pembuatan. Untuk wadah dosis ganda
harus mencantumkan batas waktu sediaan tersebut tidak boleh digunakan lagi
terhitung mulai wadah pertama kali dibuka.
Kecuali dinyatakan lain lama waktunya tidak boleh lebih dari 4 minggu.
Label harus mencantumkan nama dan konsentrasi zat aktif, kadaluarsa dan
kondisi penyimpanan.

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 20


Untuk wadah dosis tunggal, karena ukurannya kecil hanya memuat satu
indikasi bahan aktif dan kekuatan atau potensi sediaan dengan menggunakan
kode yang dianjurkan, bersama dengan persentasenya. Jika digunakan kode
pada wadah, maka pada kemasan juga harus diberi kode.

Untuk wadah sediaan dosis ganda, label harus ntuk wadah sediaan dosis ganda,
label harus menyatakan perlakuan yang harus d perlakuan yang harus
dilakukan untuk menghindarilakukan untuk menghindari kontaminasi isi
selama penggunaan.
Labelling
Label harus mencantumkan :
Nama dan persentase zat aktif.
Tanggal dimana sediaan tetes mata tidak layak untuk digunakan lagi.
Kondisi penyimpanan sediaan tetes mata.
Untuk wadah dosis ganda, label harus menyatakan bahwa harus dilakukan perwatan tertentu

untuk mencegah kontaminasi isi sediaan selama penggunaan.

1.13 Penggunaan Tetes Mata

1. Cuci tangan

2. Dengan satu tangan, tarik perlahan-lahan kelopak mata bagian bawah

3. Jika penetesnya terpisah, tekan bola karetnya sekali ketika enates dimasukkan ke dalam botol

untuk membawa larutan ke dalam enates

4. Tempatkan penates di atas mata, teteskan obat ke dalam kelopak mata bagian bawah sambil

melihat ke atas jangan menyentuhkan enates pada mata atau jari.

5. Lepaskan kelopak mata, coba untuk menjaga mata tetap terbuka dan jangan berkedip paling

kurang 30 detik

6. jika penetesnya terpisah, tempatkan kembali pada botol dan tutup rapat

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 21


1.14 Tetes Mata Harus Steril

Sterilisasi merupakan sesuatu yang penting.Larutan mata yang dibuat dapat membawa banyak

organisme, yang paling berbahaya adalah Pseudomonas aeruginosa.Infeksi mata dari organisme

ini yang dapat menyebabkan kebutaan.Ini khususnya berbahaya untuk penggunaan produk

nonsteril di dalam mata ketika kornea dibuka.Bahan-bahan partikulat dapat mengiritasi mata, ke

tidak nyamanan pada pasien dan metode ini tersedia untuk pengeluarannya

Jika suatu batasan pertimbangan dan mekanisme pertahanan mata, bahwa sediaan mata

harus steril. air mata, kecuali darah, tidak mengandung antibodi atau mekanisme untuk

memproduksinya. Oleh karena itu, mekanisme pertahanan utama melawan infeksi mata secara

sederhana aksi pertahanan oleh air mata, dan sebuah enzim ditemukan dalam air mata (lizozim)

dimana mempunyai kemampuan untuk menghidrolisa polisakarida dari beberapa organisme ini.

Organisme ini tidak dipengaruhi oleh lizozim. satu yang paling mungkin yang menyebabkan

kerusakan mata adalah Pseudomonas aeruginosa (Bacillus pyocyneas).

Pseudomonas aeruginas (B. pyocyaneus; P. pyocyanea; Blue pas bacillus) ini merupakan

mikroorganisme berbahaya dan upportunis yang tumbuh baik pada kultur media yang

menghasilkan toksin dan zat/produk antibakteri, cenderung untuk membunuh kontaminan lain

dan membiarkan Pseudomonas aeruginosa untuk tumbuh pada kultur murni. Bacillus gram

negative menjadi sumber dari infeksi yang serius pada kornea. Ini dapat menybabkan kehilangan

penglihatan pada 24-48 jam. Pada konsentrasi yang ditoleransi oleh jaringan mata, menunjukkan

bahwa semua zat antimikroba didiskusikan pada bagian berikut dapat tidak efektif melawan

beberapa strain dari organisme ini.

Jika suatu batasan pertimbangan dan mekanisme pertahanan mata, bahwa sediaan mata

harus steril.Air mata, kecuali darah, tidak mengandung antibody atau mekanisme untuk

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 22


memproduksinya.Oleh karena itu, mekanisme pertahanan utama melawan infeksi mata secara

sederhana aksi pertahanan oleh air mata, dan sebuah enzim ditemukan dalam air mata (lizozim)

dimana mempunyai kemampuan untuk menghidrolisa polisakarida dari beberapa organisme

ini.Organisme ini tidak dipengaruhi oleh lizozim.Satu yang paling mungkin yang menyebabkan

kerusakan mata adalah Pseudomonas aeruginosa (Bacillus pyocyneas).

1.15 Tetes Mata Harus Isotonis

Isotonisitas dalam larutan mata. Ketika sekresi lakrimal sekarang dipertimbangkan untuk

mempunyai tekanan smotic yang sama sebagai cairan darah, dan kemudian menjadi isotonis

dengan 0,9% larutan natrium klorida, perhitungan untuk penyiapan larutan mata isotonis telah

disederhanakan. Farmasis selanjutnya selalu menuntut, sebagai bagian dari praktek

profesionalnya, untuk menyiapkan larutan mata yang isotonis (Scovilles : 234).

Tonisitas adalah tekanan osmotik yang diberikan oleh garam dalam larutan berair.

Larutan mata adalah isotonik dengan cairan lain ketika magnetudo sifat koligatif larutan adalah

sama. Larutan yang dipertimbangkan isotonik ketika tonisitasnya sama dengan larutan NaCl

0,9%.

Perhitungan isotonisitas dalam suatu waktu mendapat penekanan yang lebih berat. Calon

farmasis harus diajarkan persyaratan yang lebih mendetail dan peralatan untuk mencapai

tonisitas, kadang-kadang kerusakan disebabkan oleh faktor lain seperti sterilitas dan stabilitas.

Sebenarnya mata lebih toleran terhadap variasi tonisitas daripada suatu waktu yang

diusulkan. Mata biasanya dapat mentoleransi larutan yang ekuivalen dalam rentang 0,5-1,8%

NaCl. Memberikan pilihan, isotonisitas selalu diinginkan dan khususnya penting dalam larutan

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 23


intraokuler. Namun demikian, ini tidak dibutuhkan menjadi perkara yang berlebihan ketika total

stabilitas produk dipertimbangkan.

Tonisitas berarti tekanan osmotik yang dihasilkan oleh larutan dari keberadaan padatan

terlarut atau tidak larut. Cairan mata dan cairan tubuh lainnya memberikan tekanan osmotik sama

dengan garam normal atau 0,9% larutan NaCl. Larutan yang mempunyai jumlah bahan terlarut

lebih besar daripada cairan mata disebut hipertonik. Sebaliknya, cairan yang mempunyai sedikit

zat terlarut mempunyai tekanan osmotik lebih rendah disebut hipotonik. Mata dapat mentoleransi

larutan yang mempunyai nilai tonisitas dalam range dari ekuivalen 0,5% sampai 1,6% NaCl

tanpa ketidaknyamanan yang besar.

Tonisitas pencuci mata mempunyai hal penting lebih besar daripada tetes mata karena

volume larutan yang digunakan. Dengan pencuci mata dan dengan bantuan penutup mata, mata

dicuci dengan larutan kemudian overwhelming kemampuan cairan mata untuk mengatur

beberapa perbedaan tonisitas. Jika tonisitas pencuci mata tidak mendekati cairan mata, dapat,

menghasilkan nyeri dan iritasi.

Dalam pembuatan larutan mata, tonisitas larutan dapat diatur sama cairan lakrimal

dengan penambahan zat terlarut yang cocok seperti NaCl. Jika tekanan osmotik dari obat

diinginkan konsentrasi melampaui cairan mata, tidak ada yang dapat dilakukan jika konsentrasi

obat yang diinginkan dipertahankan, ketika larutan hipertonik. Contohnya 10 dan 30% larutan

natrium sulfasetamid adalah hipertonik, konsentrasi kurang dari 10% tidak memberikan efek

klinik yang diinginkan. Untuk larutan hipotonik sejumlah metode disiapkan untuk menghitung

jumlah NaCl untuk mengatur tonisitas larutan mata, salah satu metodenya adalah metode

penurunan titik beku.

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 24


1.16 pH Cairan Mata

Ada persetujuan umum tentang konsentrasi ion hydrogen dari cairan lakrimal adalah mendekati

netral.Namun demikian, variasi nilai telah dilaporkan oleh beberapa peneliti. Kemudian Hasford

dan Hicks, Buchr dan Baeschlin, Feldman, Dekking, Byleveld, van Grosz dan Hild dan Goyan

dilaporkan telah menemukan pH cairan mata berhubungan dengan darah. Yang lain telah

mendapatkan nilai yang berbeda: Gyorffy dari 6,3-8,4, Lipschultz 8,0, Oguchi dan Nakasima

dari 8,4-8,6.

Federsen-Bjergaard menemukan pH cairan lakrimal dari sepuluh orang normal dan

menemukan nilai 8,2. Dia membuat ketentuan dengan cara kolorimetri dan elektrometri, dan

ditemukan hasil yang sama pada kedua metode. Hind dan Goyan dalam pekerjaan terakhir,

menemukan pH air mata adalah 7,4. Berdasarkan hal itu, pH cairan lakrimal sekurang-kurangnya

7,4 dan mungkin lebih alkali. (Scovilles : 224).

Konsentrasi ion hidrogen dari cairan mata berkisar 7,2-7,4. Sekresi lakrimal mempunyai

nilai pH antara 7,2-7,4 dan mempunyai kapasitas membuffer yang tinggi. Akibatnya, mata dapat

mentoleransi larutan yang mempunyai nilai pH dari 3,5-10, mereka tidak didapar dengan kuat

ketika cairan mata akan dengan cepat memperbaiki nilai pH normal dari mata.

1.17 pH Sediaan Tetes Mata

Larutan lakrimal normalnya pH 7,4 dengan rentang 5,2-8,3. Ini masih bisa ditoleransi oleh

larutan mata dengan range pH ini, disebabkan oleh (1) volume kecil larutan, (2) buffer cairan

mata, dan (3) peningkatan produksi air mata. (Parrot : 223). Dalam banyak perumpamaan, kita

dapat mencapai obat dengan seratus kali lebih stabil pada pH 5,0 dan kemudian pH 7,0. pH dari

larutan mata sebaiknya antara 4,5 dan 9

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 25


BAB III
JURNAL PENELITIAN
Judul
Uji Stabilitas Sediaan Tetes Mata Kloramfenikol Menggunakan Dapar Fosfat
Dibandingkan Sediaan Tetes Mata Kloramfenikol Menggunakan Dapar Borat
Dengan Metode Uji Dipercepat

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian mengenai pengaruh penggunaan dapar fosfat dan dapar borat
terhadap stabilitas sediaan tetes mata kloramfenikol dengan menggunakan metode uji
dipercepat. Dari hasil penelitian diketahui bahwa penggunaan dapar fosfat dalam sediaan
tetes mata kloramfenikol dibandingkan dengan penggunaan dapar borat menunjukkan
perbedaan penurunan kadar kloramfenikol yang cukup signifikan. Hasil uji stabilitas
dengan metode uji dipercepat menunjukkan bahwa penggunaan dapar fosfat dalam
sediaan tetes mata kloramfenikol dapat menurunkan energi aktivasi, mengubah orde
reaksi, serta meningkatkan laju reaksi hidrolisis kloramfenikol, sehingga waktu paruh
serta batas umur simpannya menjadi lebih cepat dibandingkan dengan tetes mata
kloramfenikol yang menggunakan dapar borat.

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 26


PENDAHULUAN
Masalah utama dari sediaan obat yang menggunakan pelarut air yaitu adanya
kecenderungan molekul obat berinteraksi dengan molekul-molekul air menghasilkan
produk pecahan dari konstitusi kimia yang berbeda yang dikenal sebagai reaksi hidrolisis.
Reaksi hidrolisis merupakan salah satu penyebab ketidakstabilan kimia dari sediaan yang
mengakibatkan terjadinya degradasi atau kerusakan kimia pada sediaan (Ansel, 1989).
Garam dapar pada umumnya digunakan dalam formulasi cairan farmasi untuk
mengatur pH larutan. Meskipun garam-garam tersebut cenderung mempertahankan pH
larutan pada tingkat tetap, tetapi dapat juga mengkatalisis reaksi hidrolisis sehingga
mempercepat terjadinya degradasi sediaan (Lachman, 1994).
Tetes mata Kloramfenikol merupakan larutan steril kloramfenikol dalam air
murni, mengandung larutan dapar yang cocok, dapat pula ditambahkan bahan pengawet
yang cocok. Tetes mata kloramfenikol mempunyai pH optimal 7,0 7,5 (British
Pharmacopoeia, 2001). Serbuk kloramfenikol dapat larut dalam 400 bagian air, memiliki
stabilitas yang sangat baik pada suhu kamar dan kisaran pH yang lebar yaitu 2,0 7,0
(Connors, 1992).

Penyebab utama terjadinya degradasi kloramfenikol dalam media air adalah


pemecahan hidrolitik pada lingkaran amida. Berlangsungnya hidrolisis kloramfenikol
terkatalisis oleh asam umum yang terdapat pada larutan dapar yang digunakan. Hal ini
menyebabkan kloramfenikol peka terhadap katalisis asam-umum, salah satunya adalah
ion monohidrogen fosfat yang terdapat dalam dapar fosfat. Adanya ion monohidrogen
fosfat dapat meningkatkan laju degradasi kloramfenikol (Connors, 1992).
Metode uji stabilitas dipercepat telah lama dilakukan, khususnya menggunakan
perlakuan termik. Dalam hal ini, peraturan kinetika reaksi dipergunakan, dimana
peruraian dipelajari pada suhu tinggi dan tidak pada suhu kamar, yang selanjutnya
diekstrapolasikan pada suhu penyimpanannya. Sebagai besaran dasar pertama yang
ditentukan adalah ketergantungan kecepatan peruraian akan konsentrasi, yang kedua
adalah ketergantungan kecepatan reaksi akan suhu (Martin, 1990).
Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian mengenai pengaruh ion monohidrogen

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 27


fosfat dalam dapar fosfat terhadap kestabilan sediaan tetes mata kloramfenikol
menggunakan metode uji stabilitas dipercepat.

TINJAUAN PUSTAKA

Obat tetes mata biasanya dipakai pada mata untuk maksud efek lokal pada
pengobatan bagian permukaan mata atau pada bagian dalamnya, dimana yang paling
sering dipakai adalah larutan dalam air. Karena kapasitas mata untuk menahan atau
menyimpan cairan terbatas, pada umumnya obat mata diberikan pada volume yang kecil.
Volume sediaan cair yang lebih besar dapat digunakan untuk menyegarkan atau mencuci
mata (Ansel, 1989).
Volume normal air mata dalam mata adalah 7 : l. Dimana mata yang tidak
berkedip dapat memuat paling banyak 30 : l cairan, sedangkan mata yang berkedip hanya
dapat menyimpan 10 : l cairan. Cairan yang berlebih, baik dari produksi secara normal
maupun yang ditambahkan dari luar, dengan cepat dialirkan ke mata. Ukuran tiap tetes
yang dimasukkan ke dalam larutan obat biasanya 50 : l (berdasarkan 20 tetes/ml), jadi
tetesan yang dimasukkan kebanyakan akan hilang. Volume yang ideal dari larutan obat
untuk dipakai, berdasarkan kapasitas mata yaitu 5-10 . Karena dosis mikroliter dari
penetes mata biasanya tidak ada atau tidak dipakai oleh pasien, hilangnya obat yang
dimasukkan penetes mata standar merupakan hal yang biasa. Jika diinginkan terapi
dengan tetesan beberapa kali, dianjurkan pemberiannya diulang setiap 5 menit. Hal ini
memungkinkan penumpukan obat di sudut, sedangkan kehilangan melalui pengaliran
kecil. Kadang-kadang pemakaian larutan untuk mata dengan konsentrasi obat lebih besar
dapat digantikan untuk pengobatan dengan tetesan yang berulang kali dari larutan yang
lebih encer (Ansel, 1989).
Jadi, dosis efektif dari pengobatan yang dilaksanakan pada mata dapat berbedabeda
dengan kekuatan obat yang diberikan; volume yang dipakai, lamanya pengobatan
yang berhubungan dengan permukaan mata dan frekuensi pemberian (Ansel, 1989).
Defenisi resmi larutan untuk mata adalah larutan steril yang dicampur dan
dikemas untuk dimasukkan ke dalam mata. Selain steril, preparat tersebut memerlukan
pertimbangan yang cermat terhadap faktor-faktor farmasi seperti kebutuhan bahan
antimikroba, isotonisitas, dapar, viskositas dan pengemasan yang cocok (Ansel, 1989).

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 28


Dapar mungkin digunakan dalam suatu larutan mata karena salah satu atau semua
alasan berikut ini : (1) untuk mengurangi ketidaknyamanan si pasien, (2) untuk menjamin
kestabilan obat, dan (3) untuk mengawasi aktivitas terapeutik bahan obat (Ansel, 1989).
Air mata mempunyai pH normal 7,4 dan memiliki suatu kemampuan dapar.
Pemakaian suatu larutan yang mengandung obat mata merangsang aliran air mata yang
mencoba menetralkan setiap kelebihan ion hidrogen atau hidroksil yang dikenakan pada
mata bersama larutan (Ansel, 1989).
Daerah toleransi pH yang tidak merusak mata ternyata tidak sama untuk beberapa
literatur. Pada pemakaian tetesan biasa yang nyaris tanpa rasa nyeri adalah larutan dengan
harga pH 7,3 9,7. Daerah pH 5,5 11,4 masih dapat diterima (Voigt, 1994).
Penyeimbangan pH pada umumnya dilakukan dengan larutan dapar isotonis. USP
menyediakan formula-formula untuk pembuatan larutan dapar yang sesuai untuk dipakai
oleh obat-obat tertentu, termasuk larutan dapar berikut :
Dapar Borat. pH dapar ini sedikit di bawah 5,0; dibuat dengan cara melarutkan 1,9
gram asam borat kedalam air yang cukup untuk untuk mendapatkan 100 ml. Dapar ini
cocok untuk garam yang dapat larut dalam air dari obat berikut: benoksinat, kokain,
dibukain, fenilefrin, pilokarpin, piperokain, prokain, proparakain, tetrakain, dan seng
(Ansel, 1989).
Dapar Fosfat Isotonis. Dapar ini disesuaikan untuk tonisitas dan memberikan suatu
pH pilihan berkisar antara 5,9-8,0. Dibuat dengan menggunakan dua larutan
persediaan, satu mengandung 8,00 gram mononatrium difosfat (NaH2PO4) per liter
dan lainnya mengandung 9,47 gram dinatrium monofosfat (Na2HPO4) per iter,
sedangkan beratnya sebagai anhidrida (Ansel, 1989).
Salah satu aktivitas yang paling penting dalam kerja preformulasi adalah evaluasi
kestabilan fisika dan kimia dari zat obat murni. Secara kimia, zat obat adalah alkohol,
fenol, aldehid, keton, ester-ester, asam-asam, garam-garam, alkaloid, glikosida dan lainlain,
masing-masing dengan gugus kimia relatif yang mempunyai kecenderungan kimia
berbeda terhadap kestabilan kimia (Ansel, 1989).
Salah satu proses kerusakan yang paling sering terjadi dan dapat menyebabkan
ketidakstabilan kimia adalah reaksi hidrolisis. Hidrolisis merupakan suatu proses
solvolisis dimana molekul obat berinteraksi dengan molekul-molekul air menghasilkan

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 29


suatu produk pecahan dari konstitusi kimia yang berbeda (Ansel, 1989).
Proses hidrolisis kemungkinan besar merupakan proses tunggal yang paling
penting karena peruraian obat terutama karena sejumlah besar obat adalah ester-ester
yang mengandung gugus lain seperti amida tersubtitusi, lakton, dan laktam, yang rentan
terhadap proses hidrolisis (Ansel, 1989).
Ada beberapa pendekatan untuk menstabilkan preparat-preparat farmasi yang
mengandung obat-obat yang cenderung mengurai dengan hidrolisis. Peruraian dengan
hidrolisis dapat dicegah untuk obat-obat yang diberikan dalam bentuk cairan dengan
mensuspensikannya dalam suatu pembawa bukan air. Penyimpanan pada lemari
pendingin dianjurkan untuk beberapa preparat yang tidak stabil karena penyebab
hidrolisis (Ansel, 1989).
Bersama-sama dengan temperatur, pH merupakan suatu penentu utama dalam
kestabilan obat yang cenderung mengalami peruraian hidrolisis. Hidrolisis dari
kebanyakan obat tergantung pada konsentrasi relatif dari ion hidroksil dan ion hidronium,
dan pH dimana masing-masing obat stabil secara optimal dapat dengan mudah
ditentukan. Untuk kebanyakan obat-obat yang dapat dihidrolisis pH kestabilan optimal
adalah pada sisi asam, pada pH antara 5 dan 6. Oleh karena itu, melalui penggunaan zat
pendapar yang tepat, kestabilan senyawa-senyawa yang tidak stabil dapat ditingkatkan
(Ansel, 1989).
Ketidakstabilan formulasi obat dapat dideteksi dalam beberapa hal dengan suatu
perubahan dalam penampilan fisik, warna, bau, rasa, dan tekstur dari formulasi tersebut,
sedangkan dalam hal lain, perubahan kimia yang terjadi tidak dapat terlihat langsung dari
perubahan fisik, tetapi harus melalui analisis kimia (Ansel, 1989).
Data ilmiah yang menyinggung kestabilan dari suatu formulasi menghasilkan
ramalan shelf-life yang diharapkan dari produk yang diteliti tersebut, dan bila perlu untuk
merancang kembali obat tersebut (misalnya menjadi bentuk ester atau garam yang lebih
stabil) dan untuk formulasi kembali bentuk sediaan tersebut. Jelaslah laju dan kecepatan
terjadinya degradasi obat dalam suatu formulasi merupakan hal yang sangat penting.
Pengkajian laju perubahan kimia dan cara di mana zat tersebut dipengaruhi oleh faktorfaktor
seperti konsentrasi obat atau reaktan, pelarut yang digunakan, kondisi temperatur
dan tekanan, dan adanya zat-zat kimia lain, dalam formulasi tersebut disebut reaksi

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 30


kinetika (Ansel, 1989).
Umumnya suatu pengkajian kinetis mulai dengan mengukur konsentrasi obat
yang diuji pada selang waktu tertentu pada suatu rangkaian kondisi spesifik termasuk
temperatur, pH, kekuatan ion, intensitas cahaya, dan konsentrasi obat. Pengukuran
konsentrasi obat pada berbagai selang waktu memperlihatkan kestabilan atau
ketidakstabilan dari obat tersebut yang dicirikan dengan berlalunya waktu (Ansel, 1989).
Data yang dikumpulkan dapat diutarakan secara grafik, dengan memplot
konsentrasi obat terhadap waktu. Dari data eksperimen, laju reaksi dapat ditentukan dan
suatu konstanta laju dihitung. Konstanta laju tersebut menggambarkan laju pada saat obat
mengurai pada kondisi eksperimen (Ansel, 1989).
Data tersebut juga dapat digunakan dalam penentuan waktu paruh obat secara
eksperimen. Waktu paruh obat didefenisikan sebagai waktu yang dibutuhkan obat
tersebut untuk mengurai menjadi separuh dari konsentrasi aslinya (Ansel, 1989).
Kloramfenikol merupakan suatu antibiotik spektrum luas yang berasal dari
beberapa jenis Streptomyces misalnya S. venezuelae, S. phaeochromogenes var.
chloromyceticus, dan S.omiyamensis. Setelah para ahli berhasil mengelusidasi
strukturnya, maka sejak tahun 1950, kloramfenikol sudah dapat disintesis secara total. S.
venezuelae pertama kali diisolasi oleh Burkholder pada tahun 1947 dari contoh tanah
yang diambil dari Venezuela. Filtrat kultur cair organisme menunjukkan aktivitas
terhadap beberapa bakteri Gram negatif dan riketsia. Bentuk kristal antibiotik ini diisolasi
oleh Bartz pada tahun 1948 dan dinamakan kloromisetin karena adanya ion klorida dan
didapat dari aktinomisetes.
Kloramfenikol mempunyai rumus kimia yang cukup sederhana yaitu 1-(pnitrofenil)-
2-dikloroasetamido-1,3-propandiol.

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 31


Antibiotik ini bersifat unik diantara senyawa alam karena adanya gugus
nitrobenzen dan antibiotik ini merupakan turunan asam dikloroasetat. Bentuk yang aktif
secara biologis yaitu bentuk levonya. Zat ini larut sedikit dalam air (1:400) dan relatif
stabil. Kloramfenikol diinaktivasi oleh enzim yang ada dalam bakteri tertentu. Disini
terjadi reduksi gugus nitro dan hidrolisis ikatan amida; juga terjadi asetilasi.
Berbagai turunan kloramfenikol berhasil disintesis akan tetapi tidak ada senyawa
yang khasiatnya melampaui khasiat kloramfenikol.
Kloramfenikol adalah salah satu antibiotik yang secara kimiawi diketahui paling
stabil dalam segala pemakaian. Kloramfenikol memiliki stabilitas yang sangat baik pada
suhu kamar dan kisaran pH 2 sampai 7, stabilitas maksimumnya dicapai pada pH 6. Pada
suhu 25oC dan pH 6, memiliki waktu paruh hampir 3 tahun. Yang menjadi penyebab
utama terjadinya degradasi kloramfenikol dalam media air adalah pemecahan hidrolitik
pada lingkaran amida. Laju reaksinya berlangsung di bawah orde pertama dan tidak
tergantung pada kekuatan ionik media (Connors, 1992).
Berlangsungnya hidrolisis kloramfenikol terkatalisis asam umum/basa umum,
tetapi pada kisaran pH 2 sampai 7, laju reaksinya tidak tergantung pH. Spesies
pengkatalisasi adalah asam umum atau basa umum yang terdapat pada larutan dapar yang
digunakan; khususnya pada ion monohidrogen fosfat, asam asetat tidak terdisosiasi, serta
ion asam monohidrogen dan dihidrogen sitrat dapat mengkatalisis proses degradasi. Di
bawah pH 2, hidrolisis terkatalisis ion hidrogen spesifik memegang peranan besar pada
terjadinya degradasi kloramfenikol. Obat ini sangat tidak stabil dalam suasana basa, dan
reaksinya terlihat terkatalisis baik asam maupun basa spesifik (Connors, 1992).
Jalur utama degradasi kloramfenikol adalah hidrolisis ikatan amida, membentuk
amida yang sesuai dan asam dikloroasetat.
Degradasi kloramfenikol lewat dehalogenasi tidak menjadi bagian yang berperan
dalam gambaran degradasi total, setidaknya di bawah pH 7. (Connors, 1992).
Laju degradasi tergantung secara linier pada konsentrasi dapar, spesies dapar
beraksi sebagai asam umum dan basa umum. Laju hidrolisis kloramfenikol tidak
tergantung kekuatan ionik, dan tidak terpengaruh oleh konsentrasi ion dihidrogen fosfat,
dengan demikian aktivitas katalisisnya dianggap berasal dari aksi ion monohidrogen
fosfat sebagai katalisis basa umum. (Connors, 1992).

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 32


TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
Penelitian bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai pengaruh penggunaan
dapar fosfat terhadap kadar kloramfenikol dalam sediaan tetes mata dan untuk
mengetahui batas umur simpan sediaan tetes mata kloramfenikol yang menggunakan
dapar fosfat dibandingkan dengan sediaan tetes mata kloramfenikol yang menggunakan
dapar borat.
Penelitian diharapkan dapat memberikan informasi mengenai pengaruh katalisis
asam/basa-umum yang terdapat dalam dapar fosfat dan dapar borat terhadap kadar
kloramfenikol dalam sediaan tetes mata sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan
dalam pemilihan bahan-bahan pendapar.

METODE PENELITIAN
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kloramfenikol base (Cendo
Pharmaceutical), Asam borat, Na tetraborat, Benzalkonium klorida (Cendo
Pharmaceutical), Natrium dihidrogenfosfat, Dinatrium hidrogenfosfat, Natrium klorida,
Air untuk injeksi, Metanol (sebagai fasa gerak).
Alat-alat yang digunakan adalah, Oven (Memmert), pH-Meter (Metohm),
Sonikator, Instrumen Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (Shimadzu), Bakteri Filter,
Syringe, Alat-alat gelas yang biasa digunakan di Laboratorium Teknologi dan Formulasi
Sediaan Steril.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode uji dipercepat dengan
langkah kerja sebagai berikut :

1. Sterilisasi alat dan bahan


Alat-alat yang digunakan disterilkan dalam autoklaf dengan suhu 121o C selama 15
menit.
Bahan yang digunakan, kecuali kloramfenikol, disterilkan dalam autoklaf dengan
suhu 1210 C selama 15 menit

2. Pembuatan Sediaan

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 33


a. Pembuatan Sediaan Tetes Mata Kloramfenikol 0,5 % dengan Menggunakan
Dapar Borat
Berdasarkan Formularium Nasional tahun 1978, obat tetes mata kloramfenikol mengandung
kloramfenikol 50 mg, asam borat 150 mg, natrium tetraborat 30 mg, phenyl hidragiri nitras 200
g. Pembuatan obat tetes mata kloramfenikol berdasarkan pada formula yang ada di Formularium
Nasional 1978 dengan perubahan pada penggunaan pengawet yaitu menggunakan benzalkonium
klorida 0,01 %. Kloramfenikol dilarutkan ke dalam cairan pembawa yang mengandung
Benzalkonium Cl dan dapar borat dan dimasukkan kedalam wadah secara aseptis
dengan disaring menggunakan bakteri filter (sterilisasi C).
b. Pembuatan Sediaan Tetes Mata Kloramfenikol 0,5 % dengan Menggunakan
Dapar Fosfat
Pembuatan obat tetes mata kloramfenikol berdasarkan pada formula yang
ada di Formularium Nasional 1978 dengan perubahan pada penggunaan pengawet
yaitu menggunakan benzalkonium klorida 0,01 % dan perubahan pada
penggunaan dapar yaitu dapar fosfat isotonis sesuai dengan Farmakope Indonesia
edisi III tahun 1979 yang terdiri dari diNatrium monohidrogen fosfat sebanyak
56.82 mg, Natrium dihidrogen fosfat sebanyak 32 mg dan natrium klorida
sebanyak 46 mg. Kloramfenikol dilarutkan ke dalam cairan pembawa yang mengandung
Benzalkonium Cl dan dapar fosfat isotonis dan dimasukkan kedalam wadah
secara aseptis dengan disaring menggunakan bakteri filter (sterilisasi C).

3. Pengujian Stabilitas Sediaan Tetes Mata Kloramfenikol Menggunakan Variasi


Suhu yang Dinaikkan dengan Uji Dipercepat.
Sediaan yang akan diuji diencerkan sehingga konsentrasinya menjadi 20 ppm, lalu dimasukkan
ke dalam wadah inert yang tertutup kedap. Jumlah sampel disesuaikan dengan jumlah titik
pengambilan sampel dan replikasi penentuan kadar. Setelah dimasukkan ke dalam oven selama
15 menit, kemudian dilakukan penentuan konsentrasi awal (C0). Sampel yang telah disiapkan,
dimasukkan ke dalam oven pada masing-masing suhu yaitu 50oC, 60oC, 70oC. Pada waktu-waktu
tertentu diambil masing-masing 2 wadah dari tiap suhu, lalu didinginkan pada lemari es untuk
menghentikan penguraian. Sampel kemudian disiapkan untuk penentuan kadar yang tersisa

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 34


menggunakan instrumen KCKT. Konsentrasi yang diperoleh kemudian diplot terhadap waktu
sehingga diperoleh nilai k (konstanta laju reaksi) untuk penguraian obat dalam larutan pada
tiap suhu yang dinaikkan. Logaritma laju penguraian spesifik kemudian diplot terhadap
kebalikan dari temperatur mutlak, dan hasilnya berupa garis lurus diekstrapolasi sampai
temperatur ruang k25o digunakan untuk memperoleh pengukuran kestabilan obat pada kondisi
penyimpanan biasa.

4. Penetapan Kadar Menggunakan Instrumen Kromatografi Cair Kinerja Tinggi.


Konsentrasi kloramfenikol yang tersisa dalam sampel diukur dengan instrumen Kromatografi
Cair Kinerja Tinggi (KCKT) menggunakan kolom C-18, fasa gerak metanol : air (60:40), laju
alir 0,7 ml/menit, dan panjang gelombang deteksi 279 nm. Larutan baku untuk menentukan
kurva baku dibuat dalam beberapa konsentrasi yaitu 1, 5, 10, 15, 20, 25, dan 30 ppm. Larutan
baku dan larutan sampel kemudian disaring melalui penyaring dengan porositas 0,45 m dan
digunakan filtrate yang jernih. Filtrat dimasukkan kedalam vial KCKT, dan disuntikkan secara
terpisah masing-masing sejumlah volume yang sama (20 _l). Respon puncak utama yang
muncul direkam dan diukur dalam kromatograf.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pemeriksaan pengaruh penggunaan dapar fosfat terhadap penurunan


konsentrasi kloramfenikol dalam sediaan tetes mata dengan metode uji dipercepat, dapat
disimpulkan bahwa:
Penggunaan dapar fosfat memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap penurunan
kadar kloramfenikol dalam sediaan tetes mata.
Penggunaan dapar fosfat dapat mengubah orde reaksi, menurunkan energy aktivasi, dan
mengurangi waktu paruh serta batas umur simpan dari sediaan tetes mata kloramfenikol
dibandingkan dengan sediaan tetes mata kloramfenikol yang menggunakan dapar borat.
Faktor perbedaan dapar yang digunakan dan waktu sampling yang berbeda pada tiap
suhu penyimpanan memberikan efek yang signifikan terhadap kadar kloramfenikol
dalam sediaan tetes mata.
Pada suhu 50oC terjadi perbedaan efek yang signifikan terhadap penurunan kadar
kloramfenikol dalam sediaan tetes mata pada hari ke-0, hari ke-5, dan hari ke-8. Untuk

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 35


suhu 60oC terjadi pada hari ke-0, hari ke-1, hari ke-2, dan hari ke-3. Sedangkan untuk
suhu 70oC terjadi pada hari ke-0, hari ke-1, dan hari ke-2.

Saran
Disarankan untuk penelitian selanjutnya dilakukan dengan meneliti stabilitas sediaan tetes mata
dengan metode uji dipercepat menggunakan climatic chamber agar dapat diketahui pengaruh
kelembaban terhadap stabilitas suatu sediaan serta meneliti kestabilan sediaan yang
menggunakan pembawa yang berbeda.

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 36


BAB IV
PENUTUP

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspensi yang digunakan dengan
cara meneteskan obat pada selaput lender mata di sekitar kelopak mata dan bola mata
Tetes mata kloramfenikol ini layak pakai karena memenuhi syarat karena memenuhi
syarat yaitu pH 7,4 dan larutan jernih.
Karena sifat dari zat aktif yang tidak tahan pemanasan dan juga bentuk sediaan
yang dibuat yaitu suspensi maka dalam pembuatan tetes mata kloramfenikol ini tidak
dilakukan sterilisasi akhir autoklaf tetapi sterilisasi yang dilakukan yaitu dengan teknik
aseptis. Alat - alat disterilisasikan dengan sterilisasi dengan menggunakan autoklaf 121C
selama 30 menit dan oven 150C selama 1 jam.

Saran
Sebelum memberikan larutan atau suspense oftalmik sebaiknya pengguna mencuci
tangan sampai bersih. Selama penanganan dan pemberian obat ata, harus berhati-hati agar
penetes tidak berkontak dengan mata, kelopak mata, atau permukaan lain.

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 37


DAFTAR PUSTAKA

.
1975, Remingtons Pharmaceutical Science, Fifteenth edition, Mack Publishing
Company: Pensylvania
Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Depkes RI. Jakarta
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Depkes RI. Jakarta
Anief, Moh. 1999. Ilmu Meracik Obat. Gajah Mada University Press. Yogyakarta
Syamsuni. 2006. Ilmu Resep. Kedokteran EGC. Jakarta

Sediaan Larutan Steril : Obat Tetes Mata Page 38

Anda mungkin juga menyukai