Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM TRANSFORMATOR

MENGHITUNG RUGI TEMBAGA PADA TRANSFORMATOR

Oleh Kelompok 2 :
DICKY FAJAR A. 15050413003
ILHAM EFENDI 15050413014
BAGUS MANGGALA P. 15050413027

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
PRODI D3 TEKNIK LISTRIK
2017
A. JUDUL
Menghitung Rugi Tembaga Pada Transformator

B. TUJUAN
Mahasiswa dapat mengetahui rugi tembaga pada transformator

C. DASAR TEORI
Pengertian transformator atau yang biasa kita kenal dengan trafo adalah
komponen elektronika yang berfungsi untuk menaikkan atau menurunkan
tegangan listrik. Dengan demikian fungsi transformator ini sangat diperlukan
sekali dalam sebuah sistem/rangkaian elektronika. Di sini
transformator berperan dalam menyalurkan tenaga atau daya listrik dari
tegangan tinggi ke tegangan yang rendah atau sebaliknya, namun dengan
frekuensi yang sama. Oleh karena itu pula transformator merupakan piranti
listrik yang termasuk kedalam golongan mesin listrik statis.Transformator ini
berbentuk empat persegi panjang dimana di dalamnya terdapat susunan pelat
baja berbentuk huruf E. Transformator terbuat dari bahan kawat
tembaga(email) berukuran kecil yang melilit pelat tersebut yang membentuk
lilitan primer dan lilitan sekunder.Transformator bekerja berdasarkan prinsip
kerja induksi elektromagnetik. Dimana apabila terjadi suatu perubahan fluks
magnet pada kumparan primer, maka akan diteruskan ke kumparan sekunder
dan menghasilkan suatu gaya gerak listrik (ggl) induksidan arus induksi.
Nah,agar selalu terjadi perubahan fluks magnet, maka arus yang masuk(input)
ini harus berupa arus bolak balik (AC)

Konstruksi Transformator

Transformator sering juga disebut trafo memiliki konstruksi dan simbol


seperti pada gambar 1 berikut ini.

Gambar 1 konstruksi dan simbol transformator

Keterangan dari gambar 1 :

NP : jumlah lilitan primer


NS : jumlah lilitan sekunder

VP : tegangan primer

VS : tegangan sekunder

Sebuah trafo terdiri dari kumparan dan inti besi. Biasanya terdapat 2 buah
kumparan yaitu kumparan primer dan kumparan sekunder. Kedua kumparan
ini tidak berhubungan secara fisik tetapi dihubungkan oleh medan magnet.
Untuk meningkatkan induksi magnetik antara 2 kumparan maka ditambahkan
inti besi .

Prinsip Kerja Transformator

Transformator terdiri atas dua buah kumparan (primer dan sekunder) yang
bersifat induktif.Kedua kumparan ini terpisah secara elektris namun
berhubungan secara magnetis melalui jalur yang memiliki reluktansi
(reluctance) rendah.
Apabila kumparan primer dihubungkan dengan sumber tegangan bolak-
balik maka fluks bolak-balik akan muncul di dalam inti yang dilaminasi,
karena kumparan tersebut membentuk jaringan tertutup maka mengalirlah arus
primer. Akibat adanya fluks di kumparan primer maka di kumparan
primer terjadi induksi (self induction) dan terjadi pula induksi di kumparan
sekunder karena pengaruh induksi dari kumparan primer atau disebut sebagai
induksi bersama (mutual induction) yang menyebabkan timbulnya fluks
magnet di kumparan sekunder, maka mengalirlah arus sekunder jika rangkaian
sekunder di bebani, sehingga energi listrik dapat ditransfer keseluruhan (secara
magnetisasi).Prinsip dasar suatu transformator adalah induksi bersama(mutual
induction) antara dua rangkaian yang dihubungkan oleh fluks magnet.
Dalam bentuk yang sederhana,transformator terdiri dari dua buah kumparan
induksi yang secara listrik terpisah tetapi secara magnet dihubungkan oleh suatu
path yang mempunyai relaktansi yang rendah. Kedua kumparan tersebut
mempunyai mutual induction yang tinggi. Jika salah satu kumparan dihubungkan
dengan sumber tegangan bolak-balik, fluks bolak-balik timbul di dalam inti besi
yang dihubungkan dengan kumparan yang lain menyebabkan atau menimbulkan
ggl (gaya gerak listrik) induksi ( sesuai dengan induksi elektromagnet) dari hukum
faraday, Bila arus bolak balik mengalir pada induktor, maka akan timbul gaya
gerak listrik (ggl).
Untuk menjawab pertanyaan ini , kita terlebih dahulu harus mempelajari
rugi-rugi yang terjadi pada inti besi. Rugi rugi yang terjadi pada inti besi
disebut iron losses (rugi-rugi besi). Kerugian pada inti besi terdiri dari :

1. Hysterisis losses (rugi-rugi histerisis)


Kerugian histerisis disebabkan oleh gesekan molekul yang melawan aliran
gaya magnet di dalam inti besi. Gesekan molekul dalam inti besi ini
menimbulkan panas. Panas yang timbul ini menunjukan kerugian energi,
karena sebagian kecil energi listrik tidak dipindahkan , tetapi diubah bentuk
menjadi energi panas. Panas yang tinggi juga dapat merusak trafo ,sehingga
pada trafo trafo transmisi daya listrik ukuran besar, harus didinginkan
dengan media pendingin. Umumnya digunakan minyak khusus untuk
mendinginkan trafo ini.

Sebuah trafo didesain untuk bekerja pada rentang frekuensi tertentu.


Menurunnya frekuensi arus listrik dapat menyebabkan meningkatnya rugi-rugi
histerisis dan menurunkan kapasitas (VA) trafo.

2. Kerugian karena Eddy current (eddy current losses)

Kerugian karena Eddy current disebabkan oleh aliran sirkulasi arus yang
menginduksi logam. Ini disebabkan oleh aliran fluk magnetik disekitar inti
besi. Karena inti besi trafo terbuat dari konduktor (umumnya besi lunak),
maka arus Eddy yang menginduksi inti besi akan semakin besar. Eddy current
dapat menyebabkan kerugian daya pada sebuah trafo karena pada saat terjadi
induksi arus listrik pada inti besi, maka sejumlah energi listrik akan diubah
menjadi panas. Ini merupakan kerugian.

Untuk mengurangi arus Eddy, maka inti besi trafo dibuat berlapis-lapis,
tujuannya untuk memecah induksi arus Eddy yang terbentuk di dalam inti
besi.

3. Rugi-rugi tembaga (copper losses)

Rugi rugi yang ketiga adalah rugi-rugi tembaga (copper losses). Rugi-rugi
tembag terjadi di kedua kumparan. Kumparan primer atau sekunder dibuat
dari gulungan kawat tembaga yang dilapisi oleh isolator tipis yang disebut
enamel. Umumnya kumparan dibuat dari gulungan kawat yang cukup
panjang. Gulungan kawat yang panjang ini akan meningkatkan hambatan
dalam kumparan. Pada saat trafo dialiri arus listrik maka hambatan kumparan
ini akan mengubah sejumlah kecil arus listrik menjadi panas yaitu sebesar
(i2R). Semakin besar harga R maka semakin besar pula energi panas yang
timbul di dalam kumparan. Mutu kawat yang bagus dengan nilai hambatan
jenis yang kecil dapat mengurangi rugi rugi tembaga.

Sebuah trafo yang ideal diasumsikan:

Tidak terjadi rugi-rugi hysterisis

Tidak terjadi induksi arus Eddy


Hambatan dalam kumparan = 0, akibatnya tidak ada rugi-rugi tembaga

D. ALAT DAN BAHAN

NO Nama Alat / Bahan Jumlah Spesifikasi

1 Regulator Trafo 1 2KVA

2 Trafo 1 Fasa 1 ELTRA


500KVA

3 Ampere Meter 1 0 5V

4 Volt Meter 1 0 300V

5 Obeng 1 -

6 Power Meter AC 1 GW Instek

7 Kabel Penghubunng 10 -

E. RANGKAIAN PERCOBAAN

F. LANGKAH PERCOBAAN
1. Menyiapkan alat dan bahan lalu merangkai alat dan bahan seperti pada
gambar percobaan.
2. Memasang kabel pada terminal input regulator trafo untuk disambung ke
sumber tegangan.
3. Memasang terminal output pada regulator ke voltmeter.
4. Menyambung voltmeter ke Lin dan Nin pada power meter.
5. memasang kabel Lout pada powermeter ke 0 volt kumparan primer trafo
dan Nout pada powermeter ke 220 volt kumparan primer trafo.
6. Memasang amperemeter ke kumparan sekunder 0 volt dan 110 volt
7. Memeriksa kembali rangkaian sebelum memasang ke sumber tegangan
8. Memutar regulator dengan mengacu pada amperemeter tidak melebihi
batas arus maksimal pada trafo yaitu 4,5 A.
9. Mencatat tegangan dan arus yang dihasilkan setiap pemutaran regulator
trafo lalu mencatat hasil pada tabel percobaan.

G. DATA HASIL PERCOBAAN

No Range Regulator ( V ) V1 ( V ) V2 ( V ) I(A) Rugi Tembaga ( W )


1 0-5 5,2 V 4,8 V 1,2 A 2,94 Wat
2 0-7 7V 5,1 V 1,7 A 5,91 Wat
3 0 - 10 12,4 V 8,6 V 2,4 A 12,47 Wat
4 0 - 15 15,2 V 13,4 V 3,6 A 25,85 Wat
5 0 - 17 16,7 V 16,7 V 4,2 A 29,38 Wat

H. ANALISIS DATA
Pada percobaan kali ini kami mencoba memparalel dua buah trafo 1 fasa
dengan harapan tegangan dari transformator ini akan lebih besar dari sebelum
di parallel. Syarat untuk memparalel trafo satu fasa adalah polaritas yang
digunakan harus sama, maka dari itu kami menyambungkan tegangan satu
dengan tegangan yang lainya dengan nilai dan tempat yang sama. Jika tidak
maka trafo akan panas dan akhirnya terbakar. Selain itu syarat lain untuk
memparalel trafo adalah harus mempunyai frekuensi yang sama, pada saat
praktikum, kami mrnggunakan trafo dengan frekuensi yang sama yaitu, 50
60 Hz.
Pada hasil percobaan, dapat dilihat bahwa voltmeter pertama yang kami
hubungkan dengan sumber tegangan, menunjukan hasil yang sama dengan
besar sumber tegangan yang diberikan oleh PLN yaitu 220 V, sedang kan pada
voltmeter kedua kami dapat melihat perbedaan yang cukup signifikan.
Tegangan yang ditunjukan pada voltmeter adalah 230 V yang berarti ini
adalah tegangan hasil dari trafo yang kita parallel. Sehingga itu berarti kami
berhasil memparalel trafo 1 fasa.

I. KESIMPULAN
Pada percobaan kali ini untuk menghitung rugi tembaga menggunakan
power meter dengan rangkaian open loop . Jika tegangan semakin besar maka
rugi tembaga juga semakin besar .