Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

Sejarah Istana Maimun


Istana Maimun, terkadang disebut juga Istana Putri Hijau, merupakan istana kebesaran
Kerajaan Deli. Istana ini didominasi warna
kuning, warna kebesaran kerajaan Melayu.
Pembangunan istana selesai pada 25 Agustus
1888 M, di masa kekuasaan Sultan Makmun
al-Rasyid Perkasa Alamsyah. Sultan Makmun
adalah putra sulung Sultan Mahmud Perkasa
Alam, pendiri kota Medan.
Sejak tahun 1946, Istana ini dihuni oleh
para ahli waris Kesultanan Deli. Dalam waktu-waktu tertentu, di istana ini sering diadakan
pertunjukan musik tradisional Melayu. Biasanya, pertunjukan-pertunjukan tersebut dihelat dalam
rangka memeriahkan pesta perkawinan dan kegiatan sukacita lainnya. Selain itu, dua kali dalam
setahun, Sultan Deli biasanya mengadakan acara silaturahmi antar keluarga besar istana. Pada setiap
malam Jumat, para keluarga sultan mengadakan acara rawatib adat (semacam wiridan keluarga).
Bagi para pengunjung yang datang ke istana, mereka masih bisa melihat-lihat koleksi yang
dipajang di ruang pertemuan, seperti foto-foto keluarga sultan, perabot rumah tangga Belanda kuno,
dan berbagai jenis senjata. Di sini, juga terdapat meriam buntung yang memiliki legenda tersendiri.
Orang Medan menyebut meriam ini dengan sebutan meriam puntung.
Kisah meriam puntung ini punya kaitan dengan Putri Hijau. Dikisahkan, di Kerajaan Timur
Raya, hiduplah seorang putri yang cantik jelita, bernama Putri Hijau. Ia disebut demikian, karena
tubuhnya memancarkan warna hijau. Ia memiliki dua orang saudara laki-laki, yaitu Mambang Yasid
dan Mambang Khayali. Suatu ketika, datanglah Raja Aceh meminang Putri Hijau, namun, pinangan
ini ditolak oleh kedua saudaranya. Raja Aceh menjadi marah, lalu menyerang Kerajaan Timur Raya.
Raja Aceh berhasil mengalahkan Mambang Yasid. Saat tentara Aceh hendak masuk istana menculik
Putri Hijau, mendadak terjadi keajaiban, Mambang Khayali tiba-tiba berubah menjadi meriam dan
menembak membabi-buta tanpa henti. Karena terus-menerus menembakkan peluru ke arah pasukan
Aceh, maka meriam ini terpecah dua. Bagian depannya ditemukan di daerah Surbakti, di dataran
tinggi Karo, dekat Kabanjahe. Sementara bagian belakang terlempar ke Labuhan Deli, kemudian
dipindahkan ke halaman Istana Maimun.
Setiap hari, Istana ini terbuka untuk umum, kecuali bila ada penyelenggaraan upacara khusus.

2. Lokasi
Istana ini terletak di jalan Brigadir Jenderal Katamso, kelurahan Sukaraja, kecamatan Medan
Maimun, Medan, Sumatera Utara.
3. Luas
Luas istana lebih kurang 2.772 m, dengan halaman yang luasnya mencapai 4 hektar. Panjang dari
depan kebelakang mencapai 75,50 m. dan tinggi bangunan mencapai 14,14 m. Bangunan istana
bertingkat dua, ditopang oleh tiang kayu dan batu Setiap sore, biasanya banyak anak-anak yang
bermain di halaman istana yang luas.

4. Arsitektur
Arsitektur bangunan merupakan perpaduan antara ciri arsitektur Moghul, Timur Tengah,
Spanyol, India, Belanda dan Melayu. Pengaruh arsitektur Belanda tampak pada bentuk pintu dan
jendela yang lebar dan tinggi. Tapi, terdapat beberapa pintu yang menunjukkan pengaruh Spanyol.
Pengaruh Islam tampak pada keberadaaan lengkungan (arcade) pada atap. Tinggi lengkungan
tersebut berkisar antara 5 sampai 8 meter. Bentuk lengkungan ini amat populer di kawasan Timur
Tengah, India dan Turki.
Bangunan istana terdiri dari tiga ruang utama, yaitu: bangunan induk, sayap kanan dan sayap
kiri. Bangunan induk disebut juga Balairung dengan luas 412 m2, dimana singgasana kerajaan
berada. Singgasana kerajaan digunakan dalam acara-acara tertentu, seperti penobatan raja, ataupun
ketika menerima sembah sujud keluarga istana pada hari-hari besar Islam.Di bangunan ini juga
terdapat sebuah lampu kristal besar bergaya Eropa.
Di dalam istana terdapat 30 ruangan, dengan desain interior yang unik, perpaduan seni dari
berbagai negeri. Dari luar, istana yang menghadap ke timur ini tampak seperti istana raja-raja
Moghul.

5. Perencana
Ada beberapa pendapat mengenai siapa sesungguhnya perancang istana ini. Beberapa
sumber menyebutkan perancangnya seorang arsitek berkebangsaan Italia, namun tidak diketahui
namanya secara pasti. Sumber lain, yaitu pemandu wisata yang bertugas di istana ini,
mengungkapkan bahwa arsiteknya adalah seorang Kapitan Belanda bernama T. H. Van Erp.

6. Renovasi
Istana ini terkesan kurang terawat, boleh jadi, hal ini disebabkan minimnya biaya yang
dimiliki oleh keluarga sultan. Selama ini, biaya perawatan amat tergantung pada sumbangan
pengunjung yang datang. Agar tampak lebih indah, sudah seharusnya dilakukan renovasi, tentu saja
dengan bantuan segala pihak yang concern dengan nasib cagar budaya bangsa.
BAB II
PEMBAHASAN

Istana Maimun termasuk bangunan Bersejarah dan mejadi Ikon Kota Medan. Istana ini dibangun
dengan ciri khas Melayu dengan warna kuning, sebagai istana peninggalan Kerajaan Deli pada masa
saat itu dan disebut juga Istana Putri Hijau.
Istana Maimun mulai dibangun pada tanggal 28 Agusutus 1888 oleh Sultan Mahmud Al Rasyid,
selesai pada 18 Mei 1891. Bangunan istana terdiri dari 2 lantai dan memiliki 3 bagian yaitu,
bangunan induk, bangunan sayap kanan dan bangunan sayap kiri, bangunan induk sebagai tempat
Singgasana Raja.
Desain istana dengan gaya Tradisional Istana-istana melayu dan pola India Islam (Moghul) yang
terlihat dari bentuk lengkungan atap. Desainer Istana Maimun oleh Arsitek Italia, sumber
wikipedia, ada versi lain menyebutkan desainer Istana seorang belanda bernama T.H. Van Erp.
Jika kita melihat kedalam istana ada perpaduan budaya Belanda yang terlihat dari perabotan istana
seperti kursi, meja, toilet lemari dan pintu, pengaruh budaya Belanda juga terlihat di marmer prasati
di depan tangga yang ditulis dengan bahasa Belanda.

Prasasti Pembangunan Istana Maimun.

Didalam komplek istana terdapat Meriam Puntung, Meriam Puntung menurut Hikayat puak melayu,
Meriam Puntung adalah penjelmaan dari adik Putri Hijau dari Kerajaan Deli Tua bernama Mambang
Khayali yang berubah menjadi meriam dalam mempertahankan Istana dari serbuan Raja Aceh yang
di tolak pinangannya oleh Putri Hijau.
Akibat larasnya yang cukup panas karena menembak terus menerus, maka akhirnya pecah menjadi
dua bagian. Ujung meriam yang merupakan bagian yang satu melayang dan menurut dongeng jatuh
di kampung Sukanalu Kecamatan Barus Jahe Tanah Karo, sedangkan bagian yang lain disimpan
pada banguan kecil disisi kanan istana Maimun
Keberadaan Istana Maimun diawali dengan sejarah Kesultanan besar di Deli. Kesultanan
Deli merupakan sebuah kesultanan yang didirikan oleh Tuanku Panglima Gocah Pahlawan di
sebuah wilayah yang dikenal dengan sebutan Tanah Deli (Kini wilayah tersebut diberi nama
Medan dan Kabupaten Deli Serdang) pada tahun 1632.
Kesultanan Deli masih tetap ada hingga saat ini, walaupun tidak lagi mempunyai kekuatan
politik setelah berakhirnya Perang Dunia II dan setelah proklamasi kemerdekaan Republik
Indonesia.
Berdasarkan sumber sejarah, seorang Laksamana dari Kerajaan Aceh bernama Sri Paduka
Gocah Pahlawan, bergelar Laksamana Khoja Bintan, pergi dan memerangi Kerajaan Haru (Aru) di
Sumatera Timur bersama pasukannya pada tahun 1612 M. Baik sumber yang ditulis oleh Portugis
yang datang ke Indonesia saat itu maupun sumber yang berasal dari Kerajaan Aceh sendiri,
dikatakan bahwa Kerajaan Aceh merupakan kerajaan yang sangat besar dan memiliki pertahanan
tentara yang sangat kuat saat itu. mereka mengepung Kerajaan Aru selama berbulan-bulan dan
bertempur secara dahsyat dan mati-matian selama enam minggu. Ternyata, usaha tersebut tidak sia-
sia. Sri Paduka Gocah Pahlawan berhasil menaklukkan Kerajaan Aru.
Namun, peperangan tidak hanya sampai di situ. Pada tahun 1619, Kerajaan Aceh kembali
mengirim tentaranya untuk menghancurkan semua yang masih tersisa di Kerajaan Aru yang saat itu
menerima bantuan dari Portugis. Akhirnya, Kerajaan Aceh pun berhasil menghabiskan semua sisa-
sisa Kerajaan Aru, dan Sri Paduka Gocah Pahlawan pun mulai berkuasa di sana. Nama Kerajaan
Aru kemudian diganti menjadi Kesultanan Deli.
Ada cerita di masyarakat yang mengatakan bahwa nama Deli diambil dari nama tempat
bernama Deli Tua, yang dulunya merupakan pusat Kerajaan Aru . Namun, berdasarkan terombo
Kesultanan Deli, kesultanan tersebut diberi nama demikian karena Sri Paduka Gocah Pahlawan
memang berasal dari sebuah daerah bernama Delhi di India. Memang cerita tentang tokoh Sri
Paduka Gocah Pahlawan ini banyak tersebar di masyarakat dan diceritakan secara turun-temurun
dari mulut ke mulut, tentu saja cara ini akan menimbulkan banyak versi yang berbeda. Tetapi
kebanyakan masyarakat memang lebih banyak sependapat bahwa Sri Paduka Gocah Pahlawan
adalah seorang yang beragama Islam dan terdampar di pantai Aceh, yang kemudian diangkat
menjadi panglima perang di kerajaan tersebut. Ini membuktikan kebenaran terombo kesultanan Deli
yang mengatakan bahwa nama Deli berasal dari nama tempat asal Sri Paduka Gocah Pahlawan.
Pada tanggal 26 Agustus 1888, kesultanan Deli dipindahkan ke ibu kota Provinsi Sumatera Utara,
yaitu kota Medan. Setelah dipindahkan, di kota itulah kemudian Istana Maimun mulai dibangun
pada saat pemerintahan ada di bawah kekuasaan Sultan Deli yang ke-8, yaitu Sultan Mahmud Al
Rasyid Perkasa Alamsyah, putra sulung Sultan Mahmud Perkasa Alam, pendiri kota Medan. Alasan
pemindahan tersebut karena daerah Kesultanan Deli sebelumnya berada di dataran rendah sehingga
sering terjadi banjir akibat air pasang.
Kini, Istana Maimun dijadikan sebagai objek wisata di daerah Provinsi Sumatera Utara.
Istana ini menjadi tujuan wisata bukan hanya karena usianya yang tua, namun juga karena desain
interiornya yang unik, memadukan berbagai unsur kebudayaan dunia.
Bangunan dengan luas 2772 m2 dan halaman sekitar 4,5 hektar ini terletak di Jalan Brigadir
Jenderal Katamso, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan Maimun. Bangunan ini mulai dikerjakan
pada 26 Agustus 1888 dan diselesaikan pada 18 Mei 1891. Perpaduan budaya Timur dan Eropa
menandakan bahwa Istana Maimun tidak sepenuhnya dibangun oleh Indonesia saja.
Ada dua versi berbeda yang menjelaskan tentang arsitek yang membuat bangunan ini. Versi pertama
mengatakan bahwa perancang desain Istana Maimun adalah seorang arsitektur dari Italia bernama
Ferrari. Namun, versi kedua mengatakan bahwa perancang bangunan ini adalah seorang Kapiten
Belanda bernama T. H. Van Erp.
Selain unsur kebudayaan Melayu yaitu dengan gaya Islam, terdapat juga perpaduan unsur-
unsur negara lain seperti Spanyol, India, Belanda, Italia, dan Timur Tengah, sehingga Istana ini
menjadi sebuah bangunan yang sangat unik. Istana Maimun terdiri dari dua lantai dan 3 bagian,
yaitu bangunan induk, bangunan sayap kiri, dan bangunan sayap kanan, serta memiliki sekitar 30
ruangan.
Sejak tahun 1946 sampai sekarang, Istana Maimun masih dihuni oleh para ahli waris
Kesultanan Deli. Pada waktu-waktu tertentu, keluarga Kesultanan sering mengadakan pertunjukan
musik tradisional Melayu. Pertunjukan tersebut sudah menjadi tradisi bagi keluarga Kesultanan Deli
yang menjunjung tinggi kebudayaan Melayu. Mereka mengadakan pertunjukan musik tradisional
tersebut ketika ada anggota kesultanan yang menikah atau ketika ada acara sukacita lainnya, tak
jarang masyarakat ikut diundang. Masyarakat juga mengatakan bahwa sampai saat ini, tradisi Sultan
Deli yang mengadakan silaturahmi dengan sesama keluarganya masih berjalan sampai saat ini.
Biasanya acara tersebut dilakukan dua kali setahun untuk menjaga keharmonisan keluarga.
Jika tadi dikatakan ada beberapa sumber memiliki pendapat yang berbeda tentang Istana Maimun,
kali ini saya akan membahas dengan versi yang berbeda dari kedua versi sebelumnya.
Dalam hati kita mungkin bertanya, mengapa Belanda mau mendirikan istana yang sedemikian
megah di Indonesia?
Perkembangan perkebunanan terutama perkebunan tembakau di Deli sangat pesat saat itu
dan banyak investor asing yang berniat membuka lahan perkebunan di sana. Selain itu, banyak pula
penduduk yang berdatangan dari daerah lain untuk mencari hidup yang lebih makmur, di antaranya
adalah orang Cina dan Tamil. Karena banyak investor yang berminat, pemerintah Belanda mencoba
menawarkan investasi yang terbaik untuk Kesultanan Deli.
Pemerinta Belanda kemudian membuat perjanjian pada tanggal 14 November 1875 agar
Belanda dapat mengambil alih pekerjaan di Kesultanan Deli untuk mengutip pajak dan bea cukai
dari kerajaan Deli, dan Belanda akan memberi ganti rugi setiap tahunnya. Perjanjian yang terjalin
antara pemerintahan Belanda dengan Kesultanan Deli tersebut resmi disetujui oleh pihak Sultan
pada tanggal 14 November 1875 yang ditanda-tangani oleh Sultan Mamun Al Rasyid (sultan Deli
ke IX), Tengku Sulaiman (Raja Muda), Datuq Setia Raja (Hamparan Perak), Datuq Abdul Rahman
Sri Diraja (Sunggal), Datuq Ranta dan Datuq Rustam (Pejabat Suka Piring), dan kejuruan Muda dari
Percut.
Sumber mengatakan bahwa Belanda mendirikan istana ini sebagai hadiah, karena Belanda
merasa sangat berterima-kasih kepada Sultan Mahmud Al Rasyid atas ijin yang diberikan kepada
Belanda untuk membuka lahan dan membuat perkebunan di wilayah Kerajaan Deli tersebut. Ketika
Belanda menguasai Sumatera Timur, perkebunan tembakau dibuka secara luas. Tak ada yang
menduga bahwa, dalam perkembangannya di kemudian hari, ternyata tembakau Deli ini sangat
disukai di negeri yang menjadi jantung kolonialisme dunia, yaitu Eropa. Berkat perkebunan
tembakau tersebut, sultan Deli yang berkongsi dengan Belanda dalam membuka dan mengelola
lahan perkebunan kemudian menjadi kaya raya. Itulah sebabnya Belanda memberi hadiah kepada
Kesultanan Deli.
Berdasarkan sumber yang diperoleh dari pemandu wisata yang bekerja di sana, dikatakan
bahwa Istana Maimun sebenarnya dibangun oleh Belanda dengan membayar seorang arsitek dari
Italia bernama T. H. Van Erp, bukan Ferrari. Jadi jelas bahwa T. H Van Erp ini bukanlah seseorang
yang berkebangsaan Belanda, tetapi orang yang berkebangsaan Italia dan bekerja sebagai Konijnlijk
Nederlands-Indische Leger (KNIL), atau tentara Kerajaan Hindia-Belanda. Setelah Istana Maimun
diresmikan, lalu seorang berkebangsaan Italia lain bernama Ferrari mendesainnya lagi agar
bangunan ini menjadi lebih megah. Jadi, yang mendirikan Istana Maimun bukanlah Italia, tetapi
Belanda dengan meminta bantuan arsitek asal Italia.
Jika kita masuk ke dalam istana, kita akan merasakan bahwa istana bernuansa Melayu
tersebut memang kuat dengan pengaruh Islam. Ini terlihat di di beberapa bagian atap istana yang
melengkung membentuk kurva atau arcade dengan ketinggian sekitar 5-8 meter. Lengkungan ini
dikenal dengan sebutan pilar lengkungan Persia yang juga populer di Turki, Timur Tengah, sdan
India. Pintu bergaya Spanyol juga menjadi bagian yang menambah daya tarik Istana Maimun. Selain
itu, kita juga bisa melihat bahwa ada perpaduan budaya Belanda yang terlihat dari perabotan istana
seperti kursi, meja, dan lemari Bahkan ketika memasuki bangunan induk, kita juga akan melihat
prasasti berbahasa Belanda dan Melayu yang terdapat pada sekeping marmer di kedua tiang ujung
tangga naik. Tulisan tersebut berisi : De Eerste Steen Van Dit Gebouw, Is Gelegd Op Den 26
Augustus 1888 Door Z.H.Den Sultan Van Deli, Mahmoed El Rasjid Perkasa Alamsja. Tulisan
tersebut membuktikan, peletakan batu pertama pembangunan Istana Maimun dilakukan pada tanggal
26 Agustus 1888 oleh Sultan Mahmud Al-Rasyid Perkasa Alam.
Namun di balik kemegahan itu, ternyata Istana Maimun menyimpan sebuah legenda yang
menyertai terbentuknya istana itu. Pernahkah kalian mendengar tentang kisah Meriam Puntung?
Meriam Puntung merupakan salah satu peninggalan unik dari Kesultanan Deli yang sampai
sekarang masih menjadi teka-teki sebab adanya benda tersebut di sana. Benda bersejarah ini
memiliki kisah yang sampai sekarang masih dipercaya masyarakat dan belum diketahui. Menurut
cerita dari mulut ke mulut, Meriam Puntung juga erat kaitannya dengan Kerajaan Aceh (sebelum
Kerajaan Aceh mendirikan Kesultanan baru, yaitu Kesultanan Deli). Suatu hari seorang raja dari
Kerajaan Aceh mendengar kabar bahwa ada seorang putri yang cantik di Kerajaan Aru, yakni Putri
Hijau. Ia memiliki dua saudara laki-laki.
Karena kecantikannya yang tersebar kemana-mana, Raja Aceh pun berniat untuk
mempersunting Putri Hijau tersebut. Namun, ketika Raja Aceh datang melamarnya, sang putri pun
menolak. Hal ini membuat Raja Aceh marah, tidak terima karena ia merasa harga dirinya terinjak-
injak. Maka terjadilah perang. Ternyata, dalam perang tersebut kerajaan Aru kalah. Hal ini membuat
adik dari Putri Hijau yang mempunyai kesaktian marah, lalu ia menjelma menjadi meriam. Ia
menembak ke segala arah sampai akhirnya ia (meriam jelmaan adik Putri Hijau) meletus dan terbagi
dua. Bagian depannya terpental ke Tanah Karo, sedangkan bagian sisanya terlontar ke Labuhan
Deli, dan kini berada di halaman Istana Maimun Medan. Setelah meriam tersebut pecah, maka adik
Putri Hijau yang lain berubah menjadi seekor naga, lalu membawa Putri Hijau pergi entah ke mana.
Begitulah sedikit mitos yang menceritakan Kesultanan Deli , Istana Maimunnya dan meriam
puntungnya. Namun banyak mitos-mitos lain tentang Meriam Puntung tersebut. Keluar dari mitos
itu, Saat ini Meriam Puntung dijaga dengan baik di Istana Maimun
Bagian ujung meriam yang ditemukan di Seberaya wilayah Kabupaten Tanah Karo,
dipindahkan ke Sukanalu, karena masyarakat melihat peninggalan bersejarah tersebut dalam
keadaan tidak terurus. Sampai saat ini, sebagian masyarakat lokal masih mempercayai kebenaran
legenda ini dan menganggap bahwa meriam Puntung sungguh mendatangkan berkah. Inilah sebab
aneka bunga ditabur di atas meriam yang tersimpan di ruangan berukuran sekitar 46 meter.
Namun mitos hanyalah mitos. Ada sebuah buku yang berkata lain. Seorang penulis Portugis
bernama Pinto memiliki pendapat yang lebih condong bahwa Hikayat Putri Hijau itu terjadi di kala
penyerangan Bala Tentara Aceh ke Deli Tua di Tahun 1619, di dalam pertempuran dahsyat itulah
Meriam Puntung (atau dikenal namanya Indera Sakti) merupakan satu-satunya harapan terakhir dari
pihak Aru atau Deli Tua, yang baru dapat ditaklukan pihak Aceh setelah Meriam ini pecah karena
terus menerus dipakai menembaki musuhnya.
Benteng baru dapat direbut dengan memakai tipu muslihat perang yaitu dengan disogoknya
Bala Tentara Aru Deli Tua dengan menyebarkan uang-uang kepada bala tentara yang bertahan,
kemudian Sultan Aru tewas, tetapi kemudian Putra Mahkota ibarat Naga Mengamuk dapat
membebaskan Adiknya yaitu Putri Hijau dari kehinaan tawanan dan sama-sama menceburkan diri
ke laut lalu entah kemana. Inti dari mitos versi terakhir ini mengatakan bahwa Meriam Puntung
merupakan nama lain dari adik Putri Hijau, bukan adiknya itu yang berubah menjadi meriam. Dan
naga yang dikatakan pada mitos versi pertama hanyalah kiasan saja, karena saat itu adik Putri
Mahkota memang sangat marah bagai naga yang sedang mengamuk, tapi bukan berarti ia benar-
benar berubah menjadi naga dan membawa Putri Hijau pergi.
Selain Meriam Puntung, keunikan lain dari Istana Maimun adalah tentang adanya desas-
desus di masyarakat mengenai kebenaran terowongan yang diyakini berada di bawah tanah, yang
sampai sekarang masih membuat orang penasaran.
Pada tahun 1985, seorang ahli waris istana bernama Mayul pernah mencoba masuk ke dalam
terowongan guna melihat bagaimana isinya untuk menguji kebenaran cerita yang ada. Namun
sayang, ia tidak berhasil masuk jauh kedalam karena mengalami kesulitan. Mayul mengatakan
bahwa di dalam terowongan tersebut banyak terdapat sejumlah ruangan, termasuk penjara bawah
tanah. Namun ia tidak mengetahui isi terowongan tersebut sampai ke kedalaman yang paling jauh,
karena oksigen sulit ditemukan di sana.
Ia juga memprediksi bahwa terowongan itu menghubungkan kawasan Kota Matsum dan
Mesjid Raya Al-Mashun serta Taman Sri Deli. Karena dulu di Jalan Puri juga terdapat istana, dan
terowongan itu sering dilalui para tentara Melayu zaman dahulu.
Namun sayang, hingga saat ini masyarakat belum diizinkan untuk memasuki bahkan melihat
terowongan tersebut. Hal ini disebabkan karena untuk mencapai terowongan, kita harus melewati
ruangan-ruangan yang sekarang masih di huni oleh keluarga Sultan, hanya orang-orang tertentu
yang diizinkan masuk ke sana.

PENINGGALAN ISTANA MAIMUN

Disebut satu dari sekian istana yang paling indah di Indonesia, merajuk pada arsitektur bangunan
istananya. Istana Maimun memiliki arsitektur yang unik dengan perpaduan beberapa unsur
kebudayaan Melayu bergaya Islam (Timur Tengah), Spanyol, India dan Italia.

(Rudi Chandra/dTraveler)

Sekilas tentang sejarahnya, Istana Maimun merupakan peninggalan Kerajaan Deli. Didirikan oleh
Sultan Maimun Al Rasyid Perkasa Alamsyah yang merupakan keturunan raja ke-9 Kesultanan Deli.
Istana ini dibangun pada 26 Agustus 1888 dan baru diresmikan pada 18 Mei 1891.

Warna kuning yang mendominasi Istana Maimun melambangkan warna Melayu, sekaligus warna
kebesaran Kerajaan Deli di Sumatera Utara. Sedangkan pengaruh Eropa terlihat dari ornamen
lampu, kursi, meja, lemari, sampai pintu dorong. Satu lagi, bentuk pintu dan jendelanya lebar-lebar
seperti mirip bangunan-bangunan di Eropa.

Pengaruh Islam bisa dilihat dari bentuk lengkung (arcade) di bagian atap yang bentuknya
menyerupai perahu terbalik (lengkung persia) yang biasanya dijumpai pada bangunan-bangunan di
kawasan Timur Tenggah. Sampai saat ini, Istana Maimun masih terawat dengan baik.

Bangunan Istana Maimun menghadap ke timur dimana terdiri dari dua lantai dengan tiga bagian
yaitu bangunan induk, sayap kiri dan sayap kanan. Istana Maimun memiliki luas sebesar 2.772
meter persegi dan 30 ruangan.
Jangan cuma dipandangi dari luar, ayo masuk ke dalamnya dengan tiket masuk Rp 5 ribu saja.
Lihatlah peninggalan-peninggalan Kerajaan Deli serta singgasana rajanya. Benda-benda bersejarah
di sana tak ternilai harganya.

Yang menarik, ada bangunan kecil beratap ijuk di sisi kanan istana. Di sana tersimpan Meriam
Puntung yang disebut juga meriam buntung dengan legenda penjelmaan putri yang cantik.
Disebutkan, Meriam Puntung adalah penjelmaan dari adik Putri Hijau dari Kerajaan Deli Tua
bernama Mambang Khayali nan cantik jelita.

Dia berubah menjadi meriam dalam mempertahankan istana dari serbuan Raja Aceh yang ditolak
pinangannya oleh Putri Hijau. Akibat laras meriamnya yang terlalu panas karena menembak terus
menerus, maka akhirnya meriam pecah menjadi dua bagian. Ujung meriam yang merupakan bagian
yang satu, melayang dan menurut dongeng jatuh di Kampung Sukanalu, Kecamatan Barus Jahe,
Tanah Karo. Sedangkan bagian yang lain disimpan pada bangunan kecil di sisi kanan Istana
Maimun.
Meriam itu hanya satu dari segudang cerita yang ada di Istana Maimun. Terakhir sebelum pulang,
jangan lupa untuk berfoto-foto dengan pakaian adat Melayu di dalam Istana Maimun. Cukup
merogoh kocek Rp 10 ribu, kita bisa menyewanya dan berfoto-foto ala Siti Nurbaya dan Datuk
Maringgih. Asyik!

(Zulfan Ariansyah/dTraveler)

Jika ingin melihat Kota Medan dan Istana Maimun dari udara, traveler dapat langsung ke sana atau
melihatnya dari video perjalanan drone Elang Nusantara secara live dari layar monitor. Melalui
program Ekspedisi Langit Nusantara, Telkomsel akan mengungkapkan pesona Indonesia melalui
video yang diambil dari dua drone berjenis UAV (Unmanned Aerial Vehicle) yang melintasi lebih
dari 50 kota di Indonesia selama sebulan penuh.

Untuk hari ini, Sabtu (16/4), drone yang diterbangkan dari bagian barat Indonesia berkeliling
Medan. Cukup dengan mengakses situs traveler Elang Nusa dapat mengikuti perjalanan secara
lengkap, baik melalui live streaming maupun rekaman.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.google.co.id/?gws_rd=cr,ssl&ei=t1BYVbWPA8G4uASy6oDACw#q=interor+istana+
maimun+medan
http://www.tribunnews.com/travel/2015/05/16/istana-maimun-di-medan-dan-pesona-eksterior-
interior-musik-tradisional-dan-kekayaan-koleksinya
http://www.tribunnews.com/travel/2015/05/16/istana-maimun-di-medan-dan-pesona-eksterior-
interior-musik-tradisional-dan-kekayaan-koleksinya
http://www.tripadvisor.com/LocationPhotoDirectLink-g297725-d3219591-i47297307-
Istana_Maimun-Medan_North_Sumatra_Sumatra.html
BAB III
KESIMPULAN