Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Praktek pengeluaran darah (bloodletting) sudah sejak lama dikenal
manusia dan menjadi bagian dari pengobatan pasien. Teknik pengeluaran
darah yang pertama(tahun 100 SM) dilakukan oleh dokter-dokter dari Syria
dengan menggunakan lintah. Sebelum dikenal Hippocrates dengan
sebutanBapak Ilmu Kedokteran(abad 5 SM), seni pengambilan darah
banyak mengalami perubahan demikian pula berbagai alat untuk keperluan
pengambilan dan penampunngan bahan darah. Lanset untuk pengambilan
darah digunakan pertama kali sebelum abad ke 5 SM dengan tetap mengacu
kepada lintah sebagai bentuk dasar. Dengan lanset ini seorang dokter
(practitioner) melubangi vena, kadang-kadang sampai beberapa lubang.
Menjelang akhir abad 19 barulah teknologi mengambil alih memproduksi
lintah artificial. Kini telah dikenal beragam alat pengambilan darah dan
mudah diperoleh di pasaran. Kebanyakan pengambilan specimen darah pasien
saat ini masih dilaksanakan oleh teknisi/analis laboratorium baik diruang
laboratorium maupun diruang perawatan; padahal jabatan dan kandungan
tugas seorang teknisi atau analis laboratorium tidak sejalan dengan tannggung
jawab dan kegiatan/aktivitas seorang pengambil specimen darah(dalam hal ini
seorang flebotomis). Obyek yang dihadapi oleh teknisi/analis laboratorium
adalah peralatan pemeriksaan sedang obyek yang dihadapi oleh flebotomis
adal pasien(atau orang sehat) yang dilekati oleh banyak
hal:sifat,perilaku,masalah intern/pribadi dan lain-lain. Hal-hal ini sedikit
banyaknya bias menjadi peng3halang dalam kelancaran proses pengambilan
specimen darah dan hal-hal ini pula yang harus bias dihadapi dan diatasi
seorang flebotomis. System pelayanan kesehatan yang berkembang akhir-
akhir ini untuk tujuan kesejahteraan pasien mengacu kepada pelayanan
kesehatan oleh tim(team oriented). Dengan sendirinya, pelayanan
laboratorium akan selalu menjadi bagian integral dari pelayanan kesehatan

1
menyeluruh dan seorang flebotomis menjadi orang yang sangat
penting(crucial) karena menempati posisi awal dalam rangkaian. proses
pemeriksaan tes laboratorium. Posisi awal ini berada dalam penngawasan
program pemantapan mutu(fase pra-analitik) hasil laboratorium sehingga
salah benarnya flebotomis melaksanakan tugasnya akan mempengaruhi mutu
hasil tes. Hasil pemeriksaan laboratorium yang benar dan akurat merupakan
andil/modal dari tim laboratorium (mencakupi juga flebotomis) dalam
menunjanng diagnosis dan pemantauan penyakit. Oleh sebab itu, peran dan
tanggung jawab seorang flebotomis dalam melaksanakan tugasnya harus
senantiasa disadari.
Dalam kegiatan pengumpulan sampel darah dikenal
istilah phlebotomy yang berarti proses mengeluarkan darah. Dalam praktek
laboratorium klinik, ada 3 macam cara memperoleh darah, yaitu : melalui
tusukan vena (venipuncture), tusukan kulit (skinpuncture) dan tusukan arteri
atau nadi. Venipuncture adalah cara yang paling umum dilakukan, oleh
karena itu istilah phlebotomy sering dikaitkan dengan venipuncture.
Venipuncture merupakan suatu metode untuk mendapatkan sampel
darah lebih dari 0,5 mL, pemeriksaan yang memerlukan sampel berupa
serum, plasma ataupun wholeblood dari pembulu darah vena guna
pemeriksaan hematologi. Venipuncture dibagi menjadi tiga metode yaitu:
metode spuit, metode vacum tube dan metode wing needle.
Venipuncture dengan metode spuit yaitu suatu metode pengambilan darah
dari pembuluh darah vena dengan menggunakan alat spuit atau semprit dan
metode vacuum tube hampir sama dengan metode spuit namun bedanya pada
metode ini memiliki tabung penampung khusus yang disebut tabung vacuum.
Sedangkan venipuncture wing needle yaitu suatu metode pengambilan darah
dari pembuluh darah vena dengan menggunakan alat wing needle.

2
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.Apa yang dimaksud dengan pengambilan darah?
2. Berapa saja jenis pengambilan darah?
3. Bagaimana cara pengambilan darah pada anak-anak?
4. Apa indikasi dan kontra indikasi dari pengambilan darah ?
5. Apa saja alat dan bahan dalam pengambilan darah?
6. Apa saja yang mempengaruhi hasil pemeriksaan saat pengambilan
darah?
7. Dimana saja lokasi penusukan saat pengambilan darah pada anak-anak?
8. Kapan saja waktu pengambilan darah yang ?\

1.3 TUJUAN
1. Mengetahui pengertikan dari pengambilan darah.
2. Mengetahui jenis dari pengambilan darah.
3. Mengetahui cara pengambilan darah pada anak-anak.
4. Mengetahui indikasi dan konta indikasi dari pengambilan darah.
5. Mengetahui alat dan bahan dalam melakukan pengambilan darah.
6. Mengetahui apa saja yang mempengaruhi hasil pemeriksaan saat
pengambilan darah.
7. Mengethui lokasi saat pengambilan darah.
8. Mengetahui waktu pengambilaan darah

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN
Pengambilan darah vena yaitu suatu pengambilan darah yang diambil pada
pembuluh darah vena vossa cubitti pada orang dewasa, pada bayi vena
jugularis superficialis dapat dipakai atau juga darah dari sinus sagittalis
superior, vena saphena magna/ vena supervicial lain yang cukup besar untuk
mendapatkan sampel darah yang baik dan representatif dengan menggunakan
spuit atau vacutainer ( R.GANDASOEBRATA)

2.2 PENGAMBILAN DARAH PADA ANAK ANAK


Prosedur flebotomi atau pengambilan darah yang akan digunakan sangat
tergantung pada usia dan besar/ kecilnya si anak. Pembuluah darah vena pada
kelompok umur ini belum berkembang dengan sempurna. Sampel kapiler
harus diambil kecuali dokter secara khusus meminta pengambilan yang
perifer. Jika tusukan vena diminta untuk kebutuhan jumlah darah, vena pada
tangan lebih berkembang dan lebih mudah di akses daripada daerah antikubiti.
Pengambilan melalui vena harus dilakukan dengan jarum yang kecil atau wing
needle. Asisten dibutuhkan untuk menstabilitasi lengan atau tangan anak-anak.
Untuk anak yang lebih besar dengan vena juga sudah relative besar dan mudah
terlihat, prosedurnya sama dengan tusukan vena pada orang dewasa. Beberapa
hal yang perlu diperhatikan dalam venipuncture pada anak yaitu :
a. Persiapan diri Flebotomis
Perlu kesiapan khusus karena pasien yang akan dihadapi belum tentu
kooperatif.
b. Mempersiapkan anak dan orang tua
Salah satu poin penting adalah meyakinkan orang tuanya bahwa
tindakan yang akan dilakukan benar-benar diperlukan dalam rangka
diagnostic dan terapi yang tepat.

4
Prosedur Flebotami atau pengambilan darah pada anak :
1. Lakukan identifikasi data pada orang tua anak tersebut untuk memastikan
kecocokan data pada formulir pemeriksaan.
Jelaskan secara sederhana teknik yang akan digunakan kepada orangtua
anak tersebut. Bila perlu dijelaskan bahwa kemungkinan ditusuk bisah
lebih dari satu kali karena pembuluh darahnya masih halus/ kecil.
2. Usahakan posisi anak senyaman mungkin, misalkan didudukan di kursi
khusus yang memiliki sandaran punggung dan sandaran tangan, atau bisa
juga ditidurkan di tempat tidur agar lebih rileks.
3. Sembunyikan jarum suntik yang akan digunakan dari pandangan
si anak agar anak tidak merasa takut.

2.3 INDIKASI DAN KONTRA INDIKASI


a. Indikasi dilakukannya pengambilan darah vena:
Apabila pengambilan darah dilakukan untuk pemeriksaan yang
memerlukan specimen darah lebih dari 0,5 cc
Bila terdapat pemeriksaan yang memerlukan serum, plasma, atau
wholeblood dalam volume yang besar.
Pada pengambilan darah vena dengan wing needle
Digunakan untuk vena yang kecil (orangtua, anak-anak)
Pada pengambilan darah dengan sistem vacutainer Digunakan
untuk vena yang besar
Kontra indikasi dilakukannya pengambilan darah vena:

Pengambilan darah vena pada sebelah tangan yang mengalami


gangguan sirkulasi darah pada klien dengan mastektomi (operasi
pengangkatan payudara)
Daerah edema
Hematome
Daerah dimana darah sedang ditransfusikan

5
Daerah bekas luka atau terdapat tanda tanda infeksi , infiltrasi,
atau thrombosis pada tempat penusukan.
Daerah bekas cangkokan vascular (avsan) pada penderita
gangguan ginjal
rah intra-vena lines. Pengambilan darah pada daerah ini dapat
menyebabkan darah menjadi lebih encer dan dapat meningkatkan
atau menurunkan kadar zat tertentu.
Lengan yang mengalami gangguan atau kelumpuhan
(kelumpuhan otot dan saraf)
Lengan dengan gangguan sirkulasi ataupun neurologi

PROSEDUR

dilakukannya pengambilan darah arteri :


a. Indikasi pada pasien dengan penyakit paru, bayi prematur dengan
penyakit paru, Diabetes Melitus berhubungan dengan kondisi asidosis
diabetic.
b. Kontraindikasi pada pasien dengan penyakit perdarahan seperti hemofilia
dan trombosit rendah.

2.4 JENIS PENGAMBILAN DARAH


A. Perngambilan Darah Vena

6
Pada pengambilan darah vena (venipuncture), contoh darah umumnya
diambil dari vena median cubital, pada anterior lengan (sisi dalam lipatan
siku). Vena ini terletak dekat dengan permukaan kulit, cukup besar, dan
tidak ada pasokan saraf besar. Apabila tidak memungkinkan,
vena chepalicaatau vena basilica bisa menjadi pilihan berikutnya.
Venipuncture pada vena basilica harus dilakukan. dengan hati-hati karena
letaknya berdekatan dengan arteri brachialis dan syaraf median.
Jika vena cephalica dan basilica ternyata tidak bisa digunakan, maka
pengambilan darah dapat dilakukan di vena di daerah pergelangan tangan.
Lakukan pengambilan dengan dengan sangat hati-hati dan menggunakan
jarum yang ukurannya lebih kecil.

Lokasi yang tidak diperbolehkan diambil darah adalah :

Lengan pada sisi mastectomy


Daerah edema
Hematoma
Daerah dimana darah sedang ditransfusikan
Daerah bekas luka
Daerah dengan cannula, fistula atau cangkokan vascular
Daerah intra-vena lines Pengambilan darah di daerah ini dapat
menyebabkan darah menjadi lebih encer dan dapat meningkatkan
atau menurunkan kadar zat tertentu.

Ada dua cara dalam pengambilan darah vena, yaitu cara manual dan cara
vakum. Cara manual dilakukan dengan menggunakan alat suntik (syring),
sedangkan cara vakum dengan menggunakan tabung vakum (vacutainer).
Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam pengambilan darah
vena adalah :
a. Pemasangan turniket (tali pembendung) pemasangan dalam waktu
lama dan terlalu keras dapat menyebabkan hemokonsentrasi

7
(peningkatan nilai hematokrit/PCV dan elemen sel), peningkatan kadar
substrat (protein total, AST, besi, kolesterol, lipid total) melepas
turniket sesudah jarum dilepas dapat menyebabkan hematoma
b. Jarum dilepaskan sebelum tabung vakum terisi penuh sehingga
mengakibatkan masukknya udara ke dalam tabung dan merusak sel
darah merah.
c. Penusukan penusukan yang tidak sekali kena menyebabkan masuknya
cairan jaringan sehingga dapat mengaktifkan pembekuan. Di samping
itu, penusukan yang berkali-kali juga berpotensi menyebabkan
hematoma. tutukan jarum yang tidak tepat benar masuk ke dalam vena
menyebabkan darah bocor dengan akibat hematoma Kulit yang ditusuk
masih basah oleh alkohol menyebabkan hemolisis sampel akibat
kontaminasi oleh alcohol, rasa terbakar dan rasa nyeri yang berlebihan
pada pasien ketika dilakukan penusukan.
a. Pengambilan Darah Vena dengan Syring
Pengambilan darah vena secara manual dengan alat suntik (syring)
merupakan cara yang masih lazim dilakukan di berbagai laboratorium
klinik dan tempat-tempat pelayanan kesehatan. Alat suntik ini adalah
sebuah pompa piston sederhana yang terdiri dari sebuah sebuah
tabung silinder, pendorong, dan jarum. Berbagai ukuran jarum yang
sering dipergunakan mulai dari ukuran terbesar sampai dengan
terkecil adalah : 21G, 22G, 23G, 24G dan 25G. Pengambilan darah
dengan suntikan ini baik dilakukan pada pasien usia lanjut dan pasien
dengan vena yang tidak dapat diandalkan (rapuh atau kecil).
Prosedur :
a. Jelaskan prosedur pada anak sesuai perkembanganya
a. Persiapkan alat-alat yang diperlukan : syring, kapas alkohol 70%,
tali pembendung (turniket), plester, dan tabung. Untuk pemilihan
syring, pilihlah ukuran/volume sesuai dengan jumlah sampel yang
akan diambil, pilih ukuran jarum yang sesuai, dan pastikan jarum
terpasang dengan erat.

8
b. Lakukan pendekatan pasien dengan tenang dan ramah; usahakan
pasien senyaman mungkin.
c. Identifikasi pasien dengan benar sesuai dengan data di lembar
permintaan.
d. Verifikasi keadaan pasien, misalnya puasa atau konsumsi obat.
Catat bila pasien minum obat tertentu, tidak puasa dsb.
e. Minta pasien meluruskan lengannya, pilih lengan yang banyak
melakukan aktifitas.
f. Minta pasien mengepalkan tangan.
g. Pasang tali pembendung (turniket) kira-kira 10 cm di atas lipat
siku.
h. Pilih bagian vena median cubital atau cephalic. Lakukan perabaan
(palpasi) untuk memastikan posisi vena; vena teraba seperti sebuah
pipa kecil, elastis dan memiliki dinding tebal. Jika vena tidak
teraba, lakukan pengurutan dari arah pergelangan ke siku, atau
kompres hangat selama 5 menit daerah lengan.
i. Bersihkan kulit pada bagian yang akan diambil dengan kapas
alcohol 70% dan biarkan kering. Kulit yang sudah dibersihkan
jangan dipegang lagi.
j. Tusuk bagian vena dengan posisi lubang jarum menghadap ke atas.
Jika jarum telah masuk ke dalam vena, akan terlihat darah masuk
ke dalam semprit (dinamakan flash). Usahakan sekali tusuk kena.
k. Setelah volume darah dianggap cukup, lepas turniket dan minta
pasien membuka kepalan tangannya. Volume darah yang diambil
kira-kira 3 kali jumlah serum atau plasma yang diperlukan untuk
pemeriksaan. Letakkan kapas di tempat suntikan lalu segera
lepaskan/tarik jarum. Tekan kapas beberapa sat lalu plester selama
kira-kira 15 menit. Jangan menarik jarum sebelum turniket dibuka.

b. Pengambilan Darah Vena Dengan Tabung Vakum


Tabung vakum pertama kali dipasarkan oleh perusahaan AS BD

9
(Becton-Dickinson) di bawah nama dagang Vacutainer. Jenis
tabung ini berupa tabung reaksi yang hampa udara, terbuat dari
kaca atau plastik. Ketika tabung dilekatkan pada jarum, darah akan
mengalir masuk ke dalam tabung dan berhenti mengalir ketika
sejumlah volume tertentu telah tercapai.
Jarum yang digunakan terdiri dari dua buah jarum yang
dihubungkan oleh sambungan berulir. Jarum pada sisi anterior
digunakan untuk menusuk vena dan jarum pada sisi posterior
ditancapkan pada tabung. Jarum posterior diselubungi oleh bahan
dari karet sehingga dapat mencegah darah dari pasien mengalir
keluar. Sambungan berulir berfungsi untuk melekatkan jarum pada
sebuah holder dan memudahkan pada saat mendorong tabung.
menancap pada jarum posterior.
Keuntungan menggunakan metode pengambilan ini adalah, tak
perlu membagi-bagi sampel darah ke dalam beberapa tabung.
Cukup sekali penusukan, dapat digunakan untuk beberapa tabung
secara bergantian sesuai dengan jenis tes yang diperlukan. Untuk
keperluan tes biakan kuman, cara ini juga lebih bagus karena darah
pasien langsung dapat mengalir masuk ke dalam tabung yang berisi
media biakan kuman. Jadi, kemungkinan kontaminasi selama
pemindahan sampel pada pengambilan dengan cara manual dapat
dihindari.
Kekurangannya sulitnya pengambilan pada orang tua, anak kecil,
bayi, atau jika vena tidak bisa diandalkan
(kecil, rapuh), atau jika pasien gemuk.
Untuk mengatasi hal ini mungkin bisa
digunakan jarum bersayap (winged
needle).
Jarum bersayap atau sering juga
dinamakan jarum kupu-kupu hampir
sama dengan jarum vakutainer seperti

10
yang disebutkan di atas. Perbedaannya adalah, antara jarum
anterior dan posterior terdapat dua buah sayap plastik pada pangkal
jarum anterior dan selang yang menghubungkan jarum anterior dan
posterior. Jika penusukan tepat mengenai vena, darah akan
kelihatan masuk pada selang (flash).

Prosedur :
Jelaskan prosedur pada anak sesuai perkembangannya.

Persiapkan alat-alat yang diperlukan : jarum, kapas alkohol


70%, tali pembendung (turniket), plester, tabung vakum.
Pasang jarum pada holder, pastikan terpasang erat.
Lakukan pendekatan pasien dengan tenang dan ramah;
usahakan pasien senyaman mungkin.
Identifikasi pasien dengan benar sesuai dengan data di lembar
permintaan.
Verifikasi keadaan pasien, misalnya puasa atau konsumsi obat.
Catat bila pasien minum obat tertentu, tidak puasa dsb.
Minta pasien meluruskan lengannya, pilih lengan yang banyak
melakukan aktifitas.
Minta pasien mengepalkan tangan.
Pasang tali pembendung (turniket) kira-kira 10 cm di atas lipat
siku.
Pilih bagian vena median cubital atau cephalic. Lakukan
perabaan (palpasi) untuk memastikan posisi vena; vena teraba
seperti sebuah pipa kecil, elastis dan memiliki dinding tebal.
Jika vena tidak teraba, lakukan pengurutan dari arah
pergelangan ke siku, atau kompres hangat selama 5 menit
daerah lengan.

11
Bersihkan kulit pada bagian yang akan diambil dengan kapas
alcohol 70% dan biarkan kering. Kulit yang sudah dibersihkan
jangan dipegang lagi.
Tusuk bagian vena dengan posisi lubang jarum menghadap ke
atas. Masukkan tabung ke dalam holder dan dorong sehingga
jarum bagian posterior tertancap pada tabung, maka darah akan
mengalir masuk ke dalam tabung. Tunggu sampai darah
berhenti mengalir. Jika memerlukan beberapa tabung, setelah
tabung pertama terisi, cabut dan ganti dengan tabung kedua,
begitu seterusnya.
Lepas turniket dan minta pasien membuka kepalan tangannya.
Volume darah yang diambil kira-kira 3 kali jumlah serum atau
plasma yang diperlukan untuk pemeriksaan.
Letakkan kapas di tempat suntikan lalu segera lepaskan/tarik
jarum. Tekan kapas beberapa sat lalu plester selama kira-kira
15 menit. Jangan menarik jarum sebelum turniket dibuka.
B. Pengambilan Darah Kapiler

Pengambilan darah kapiler atau dikenal dengan istilah skinpuncture yang


berarti proses pengambilan sampel darah dengan tusukan kulit. Tempat
yang digunakan untuk pengambilan darah kapiler adalah :

Ujung jari tangan (fingerstick) atau anak daun telinga.


Untuk anak kecil dan bayi diambil di tumit (heelstick) pada 1/3 bagian
tepi telapak kaki atau ibu jari kaki.
Lokasi pengambilan tidak boleh menunjukkan adanya gangguan
peredaran, seperti vasokonstriksi (pucat), vasodilatasi (oleh radang,
trauma, dsb), kongesti atau sianosis setempat.
Pengambilan darah kapiler dilakukan untuk tes-tes yang memerlukan
sampel dengan volume kecil, misalnya untuk pemeriksaan kadar

12
glukosa, kadar Hb, hematokrit (mikrohematokrit) atau analisa gas
darah (capillary method).

Prosedur :
Jelaskan prosedur pada anak sesuai perkembangannya.
Siapkan peralatan sampling : lancet steril, kapas alcohol 70%.
Pertahankan asepsis ketat dan kewaspadaan umum
Pilih lokasi pengambilan lalu desinfeksi dengan kapas alkohol
70%, biarkan kering.
Peganglah bagian tersebut supaya tidak bergerak dan tekan
sedikit supaya rasa nyeri berkurang.
Tusuk dengan lancet steril. Tusukan harus dalam sehingga darah
tidak harus diperas-peras keluar. Jangan menusukkan lancet jika
ujung jari masih basah oleh alkohol. Hal ini bukan saja karena
darah akan diencerkan oleh alkohol, tetapi darah juga melebar di
atas kulit sehingga susah ditampung dalam wadah.
Setelah darah keluar, buang tetes darah pertama dengan memakai
kapas kering, tetes berikutnya boleh dipakai untuk pemeriksaan.
Pengambilan darah diusahakan tidak terlalu lama dan jangan
diperas-peras untuk mencegah terbentuknya jendalan.

C. Pengambilan Darah Arteri


Pengambilan darah arteri umumnya menggunakan arteri radialis di daerah
pergelangan tangan. Jika tidak memungkinkan dapat dipilih arteri brachialis
di daerah lengan atau arteri femoralis di lipat paha. Pengambilan darah
harus dilakukan dengan hati-hati dan oleh tenaga terlatih.

Sampel darah arteri umumnya digunakan untuk pemeriksaan analisa gas

13
darah.
Prosedur :

Jelaskan prosedur pada anak sesuai perkembangannya.


Siapkan peralatan sampling : lancet steril, kapas alcohol 70%.
Pertahankan asepsis ketat dan kewaspadaan umum.
Pilih lokasi pengambilan pada arteri radialis, brakialis, tau arteri
femoralis lalu desinfeksi dengan kapas alkohol 70%, biarkan
kering.
Peganglah bagian tersebut supaya tidak bergerak dan tekan
sedikit supaya rasa nyeri berkurang.
Tusukan jarum pada sudut 60-90 derajat. Tarik sejumlah darah
yang dibutuhkanke dalam spuit. Tarik jarum dan berikan tekanan
pada area injeksi dengan kasa steril kering selama 5 sampai 10
menit sampai perdarahan berhenti.
Tempatkan spesimen pada wadah yang tepat.
Puji anak atas kerja samanya

2.5 ALAT DAN BAHAN


Alat dan bahan yang digunakan dalam melakukan phlebotomy metode
venipuncture antara lain :
APD ( Alat Pelindung Diri ) yang lengkap, ini sangat penting terutama
bagi seorang phlebotomyst
1. Tourniquet
a. Tali karet (latex strap)
b. Seraket
c. Velcro-closure
d. Menset tensimeter
2. Jarum
a. Steril dan sekali pakai (19-23 gauge)
b. Ukuran jarum menunjukkan diameter lumennya

14
c. Ukuran yang besar menunjukkan diameter lumen yang kecil
dan sebaliknya.
3. System tabung vakum
a. Jarum khusus (20-22 gauge) steril
b. Holder/adapter
c. Tabung vakum (2-15ml)
1) Sterildan nonsteril
2) Tanpa zat tambahan
Antikoagulan
EDTA, heparin, Na-citrat, K, NH4-oksalat
Antiglikolitik
Na-Fluorida, Asam Iodo-asetat
Activator bekuan darah (chlot activator)
Partikel silica
Thixotropic gel separator
enis tabung ditandai dengan tutup berwarna
3) Jenis tabung ditandai dengan warna tutup tutup yang berbeda-beda
sesuai kegunaannya.
4. System semprit (syringe)
a. Terbuat dari plastic atau gelas 2-10ml
b. Steril dan sekali pakai
c. Ukuran jarum 21-23 gauge, 18 gauge untuk memindahkan
darah ke tabung
d. Panjang jarum 1-1,5inch
e. Terdiri dari barrel (penampung) dan plunger (penghisap)

5. System wing needle (Butterfly)


a. Jarum stainless steel 1,5-0,7inch
b. Selang/tubing 5-12inch
c. Dapat dihubungkan dengan tabung vakum atau sempri(dengan
adaptor khusus).

15
Beberapa jenis tabung sampel darah yang digunakan dalam praktek
laboratorium klinik adalah sebagai berikut :

a. Tabung tutup merah. Tabung ini tanpa penambahan zat additive, darah
akan menjadi beku dan serum dipisahkan dengan pemusingan. Umumnya
digunakan untuk pemeriksaan kimia darah, imunologi, serologi dan bank
darah (crossmatching test)
b. Tabung tutup kuning. Tabung ini berisi gel separator (serum separator
tube/SST) yang fungsinya memisahkan serum dan sel darah. Setelah
pemusingan, serum akan berada di bagian atas gel dan sel darah berada di
bawah gel. Umumnya digunakan untuk pemeriksaan kimia darah,
imunologi dan serologi
c. Tabung tutup hijau terang. Tabung ini berisi gel separator (plasma
separator tube/PST) dengan antikoagulan lithium heparin. Setelah
pemusingan, plasma akan berada di bagian atas gel dan sel darah berada di
bawah gel. Umumnya digunakan untuk pemeriksaan kimia darah.
d. Tabung tutup ungu atau lavender. Tabung ini berisi EDTA. Umumnya
digunakan untuk pemeriksaan darah lengkap dan bank darah (crossmatch)
e. Tabung tutup biru. Tabung ini berisi natrium sitrat. Umumnya
digunakan untuk pemeriksaan koagulasi (mis. PPT, APTT)
f. Tabung tutup hijau. Tabung ini berisi natrium atau lithium heparin,
umumnya digunakan untuk pemeriksaan fragilitas osmotik eritrosit, kimia
darah.
g. Tabung tutup biru gelap. Tabung ini berisi EDTA yang bebas logam,
umumnya digunakan untuk pemeriksaan trace element (zink, copper,
mercury) dan toksikologi.
h. Tabung tutup abu-abu terang. Tabung ini berisi natrium fluoride dan
kalium oksalat, digunakan untuk pemeriksaan glukosa.
i. Tabung tutup hitam ; berisi bufer sodium sitrat, digunakan untuk
pemeriksaan LED (ESR).

16
j. Tabung tutup pink ; berisi potassium EDTA, digunakan untuk
pemeriksaan imunohematologi.
k. Tabung tutup putih ; potassium EDTA, digunakan untuk pemeriksaan
molekuler/PCR dan bDNA.
l. Tabung tutup kuning dengan warna hitam di bagian atas ; berisi media
biakan, digunakan untuk pemeriksaan mikrobiologi - aerob, anaerob dan
jamur.

Ruangan khusus yang memadai untuk tindak phlebotomy


Dalam ruangan ini harus memiliki fentilasi yang baik, berisi kursi khusus
flebotomi yaitu kursi yang memiliki sandaran punggung dan sandaran
tangan. Ada tempat tidur untuk menidurkan pasien bayi dan anak-anak.

2.6 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HASIL


1. Waktu pemeriksaan sampel
Perlu diperhatikan saat pemeriksaan sampel, jika sampel langsung
diperiksa setelah pengambilan sampel, maka tidak akan terjadi masalah.
Akan tetapi jika pemeriksaan yang dilakukan pada sampel harus ditunda
maka penggunaan antikoagulan sangat diperlukan untuk mengurangi
kesalahan pada saat pemeriksaan yang diakibatkan oleh kerusakan dari
komponen darah itu sendiri.
2. Pasien Postur
Ada sedikit fakta bahwa postur pasien dapat mempengaruhi nilai
laboratorium yang diperoleh dari tes tertentu. Ada perbedaan dicatat dalam
nilai-nilai laboratorium pada pasien yang telah berada dalam posisi
berbaring atau telentang sebagai lawan mereka yang telah berdiri atau
rawat jalan untuk jangka waktu yang lama. Perbedaan nilai-nilai
laboratorium telah dikaitkan dengan pergeseran dalam cairan tubuh.
Cairan cenderung untuk tinggal di kompartemen vaskular (pembuluh
darah) saat pasien berbaring atau terlentang. Hal ini cenderung untuk
mencairkan darah. Ada pergeseran cairan ke ruang interstitial saat berdiri

17
atau ambulation. Tes laboratorium yang paling terpengaruh oleh fenomena
ini adalah protein (enzim, albumin, globulin) dan protein-bound zat-zat
seperti trigliserida, kolesterol, kalsium, dan zat besi.
Misalnya, ALT (SGPT) telah dikenal untuk meningkatkan sampai 14%
ketika pasien pergi dari telentang ke posisi tegak. Pasien yang mengalami
salah satu tes di atas dilakukan, harus diberitahu untuk menghindari
berkepanjangan berdiri sebelum venipuncture tersebut. Dibutuhkan sekitar
20 sampai 30 menit untuk menyamakan perpindahan cairan akibat
perubahan posisi.
3. Jenis Sampel
Jenis sampel darah yang diperlukan sangat penting. Jenis darah tergantung
pada tes memerintahkan. Berbagai jenis sampel darah termasuk darah
utuh, Plasma, Serum, Darah vena, kapiler, atau Darah Arteri. Dalam
kebanyakan tes laboratorium umum, darah vena digunakan. Laboratorium
kemudian akan mengekstrak serum atau plasma, tergantung pada
pengujian yang akan dilakukan. Darah vena adalah indikator yang baik
dari kondisi fisiologis seluruh tubuh. Hal ini juga relatif mudah diperoleh.
Oleh karena itu, darah vena yang paling sering digunakan untuk pengujian.
4. Pemasangan torniket (tali pembendung)
Pemasangan dalam waktu lama dan terlalu keras dapat menyebabkan
hemokonsentrasi (peningkatan nilai hematokrit/PCV dan elemen sel),
peningkatan kadar substrat (protein total, AST, besi, kolesterol, lipid total).
5. Obat-obatan yang dikonsumsi pasien
Saat ini, banyak agen farmakologis yang digunakan untuk mengobati
kondisi penyakit dan untuk profilaksis. Perawat harus menyadari dan
informasi tentang interaksi obat dan efek mereka pada tes laboratorium
dan tes diagnostik. Sebagai contoh, beberapa kontrasepsi oral
meningkatkan nilai dari besi, transferin, trigliserida, dan ceruloplasm. Obat
beracun ke hati atau ginjal, dapat menyebabkan peningkatan tes fungsi
organ (tes fungsi hati, dll) Ada begitu banyak obat yang digunakan saat

18
ini, Anda harus memiliki referensi yang tersedia untuk digunakan ketika
pasien Anda akan diberikan sensitif tes atau prosedur diagnostic

6. Diet pasien
Biasanya tidak ada persyaratan diet khusus untuk sebagian besar "rutin"
tes laboratorium atau prosedur. Namun, setiap perawat harus menyadari
tes yang memerlukan pembatasan makanan khusus. Beberapa tes perlu
berpuasa sebelum tes. Pastikan Anda menginformasikan pasien Anda
secara lisan dan tertulis. Pastikan bahwa staf diberitahu tentang
pembatasan makanan. Bukan rahasia bahwa banyak tes dan prosedur harus
dibatalkan pada menit terakhir karena pasien makan beberapa makanan.
Pastikan untuk menandai grafik pasien, daftar diet, dan menempatkan
tanda-tanda di kamar mereka. Banyak rumah sakit memiliki prosedur
khusus yang harus diikuti untuk NPO. Pastikan untuk mengikuti prosedur
ini dan menindaklanjuti menjaga mereka NPO, jika diperlukan untuk
pengujian atau prosedur. Juga ingat bahwa beberapa tes / prosedur
mungkin mengharuskan pasien mengkonsumsi makanan ringan, makanan
cair, atau diet khusus lainnya.
7. Jumlah sampel
Jumlah sampel yang dibutuhkan tergantung pada banyak faktor. Lab
masing-masing berbeda dalam jumlah darah atau cairan tubuh lainnya atau
jaringan yang diperlukan untuk melakukan analisis. Secara umum, jika
darah dijalankan dengan menggunakan alat analisis otomatis modern,
jumlah darah mungkin 10 ml atau kurang untuk setiap tes. Jika tes
dijalankan secara individual, atau jika tes rumit, jumlah yang lebih besar
darah mungkin diperlukan.
8. Penusukan
Penusukan yang tidak sekali kena menyebabkan masuknya cairan jaringan
sehingga dapat mengaktifkan pembekuan. Di samping itu, penusukan yang

19
berkali-kali juga berpotensi menyebabkan hematoma. Tusukan jarum yang
tidak tepat benar masuk ke dalam vena menyebabkan
darah bocor dengan akibat hematoma. Kulit yang ditusuk masih basah oleh
alkohol menyebabkan hemolisis sampel akibat kontaminasi oleh alcohol,
rasa terbakar dan rasa nyeri yang berlebihan pada pasien ketika dilakukan
penusukan.

2.7 LOKASI PENUSUKAN


a. Lokasi yang diperbolehkan
Pada orang dewasa, cari 3 vena yang paling mudah ditemukan di
daerah antikubiti dengan cara melihat atau dengan cara palpasi. Vena
mediana, vena cubiti mediana, dan vena cephalica mediana, secara tipikal
berada ditengah daerah antikubiti. Vena cephalica berada di lateral dan
vena basilica berada di medial. Pada anak dapat diambil pada vena
jugularis interna dan sinus sagitaris superior.
Pemilihan vena berdasarkan beberapa alasan, yaitu :
Dekat pada permukaan kulit
Vena mediana paling dekat dengan permukaan kulit,sehingga mudah
diakses.
Tidak bergerak
Vena mediana merupakan vena yang paling tidakbergerak ketika
jarum menusuk sehingga tusukan dapat berhasil dengan sukses.
Aman
Tusukan pada vena mediana kurang beresiko
Nyaman
Vena mediana tidak terlalu membuat rasa tidak nyaman saat ditusuk
Beberapa tempat alternative selain daerah antekubiti adalah bagian
dorsal tangan, bagian lateral pergelangan tangan,kaki, dan tumit ( dengan
ijin dokter ), vena kulit kepala ( neonates ) , dan alteri Femoralis ( hanya
oleh dokter ).

20
b. Lokasi yang tidak diperbolehkan
Pada mayoritas pasien, pengambilan specimen pada daerah
antekubiti tidak memungkinkan untuk beberapa sebab, antara lain :
1. Kegagalan saat menentukan vena yang dicari
2. Infus terpasang distal daerah antekubiti (Pengambilan darah di daerah
ini dapat menyebabkan darah menjadi lebih encer dan meningkatkan
atau menurunkan kadar zat tertentu)
3. Daerah antikubiti memar berlebihan akibat prosedur tusukan yang
sebelumnya (hematoma)
4. Adanya odem pada daerah antikubiti
5. Luka parut yang berlebihan
6. Kondisi kulit seperti ruam, infeksi, luka baker
7. Mastektomi
8. Daerah dimana darah sedang ditransfusikal
9.

2.8 WAKTU PENGAMBILAN DARAH


Biasanya untuk pemeriksaan hematologi rutin sampel pada umumnya
sampel dapat diambil pada pagi hari, sebab pada pagi hari pasien belum
terlalu banyak melakukan aktivitas dan belum terlalu capek, sehingga belum
terjadi banyak metabolisme dalam tubuh, namun ada beberapa pemeriksaan
yang harus diperhatikan, misalnya :
1. Spesimen untuk kultur kuman diambil sebelum pemberian antibiotik
2. Spesimen untuk malaria diambil pada waktu demam Spesimen untuk
mikrofilaria diambil pada tengah malam
3. Spesimen darah untuk pemeriksaan profil besi diambil pada pagi hari
dan setelah puasa 10-12 jam

21
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dalam kegiatan pengumpulan sampel darah dikenal istilah phlebotomy
yang berarti proses mengeluarkan darah. Dalam praktek laboratorium
klinik, ada 3 macam cara memperoleh darah, yaitu : melalui tusukan
vena (venipuncture), tusukan kulit (skinpuncture) dan tusukan arteri atau
nadi. Venipuncture adalah cara yang paling umum dilakukan, oleh
karena itu istilah phlebotomy sering dikaitkan dengan venipuncture.

3.2 Saran
Agar tidak terjadi kesalahan pada saat pengambilan darah maka seorang
flebotomist harus memiliki kompetensi dan perilaku professional
sehingga dapat bekerja dengan baik dan benar agar memperoleh hasil
yang akurat terlebih lagi pengambilan darah pada anak anak
membutuhkan ketelitian dan kehati-hatian karena anak-anak sering
menunjuikan sifat tidak kooperatif.

22
DAFTAR PUSTAKA

Alimul Hidayat,A.Aziz,Uliyah,Musrifatul. 2004. Buku Saku Praktikum


Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta:EGC

Gandasoebrata. 2008. Penuntun laboratorium klinik. Jakarta : Dian Rakyat

Wong L Donna. 2004. Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC

Perry & Potter.2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC

23

Anda mungkin juga menyukai