Anda di halaman 1dari 20

KIMIA ANALITIK II

MEMBRAN ULTRAFILTRASI

Kelompok : VIII

Anggota :

1. Aditya Eka Septiriana


2. Annisa Miftahul Jannah
3. Aulia Sabrina
4. Edolfin Manulang

Tanggal : 19 April 2016

Dosen : 1. Sri Haryati, S.Pd, M.Si

2. Dr. Rini, S.Si, M.Si

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN PENDIDIKAN MIPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS RIAU

2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang mana berkat rahmat
dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah kami yang berjudul Membran
Ultrafiltrasi

Dalam makalah ini kami menjelaskan mengenai pengertian membrane secara umum dan
juga penjelasan mengenai membrane ultrafiltrasi . Adapuan tujuan kami menulis makalah ini
yaitu untuk memenuhi tugas dari dosen pengampu yang membimbing kami dalam mata
kuliah Kimia Analitik Ii. Di sisi lain, kami menulis makalah ini untuk mengetahui lebih rinci
mengenai Membran Ultrafiltrasi.

Kami menyadari makalah ini masih jauh dari keempurnaan. Oleh sebab itu, kami
mengharapkan kritik dan saran para pembaca demi kesempurnaan makalah Kami untuk ke
depannya.

Mudah-mudahan makalah ini bermanfaat bagi kita semua terutama bagi mahasiswa-
mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Kimia Analitik.

Pekanbaru, April 2016

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................ i

DAFTAR ISI ....................................................................................................................... ii

DAFTAR GAMBAR ........................................................................................................... ii

BAB I
PENDAHULUAN ............................................................................................................... 1
1.1 Kata Pengantar ............................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................................... 1
1.3 Tujuan ........................................................................................................................... 1
BAB II
PEMBAHASAN ................................................................................................................. 2
2.1 Membran ....................................................................................................................... 2
2.2 Pengertian Membran Ultrafiltrasi .................................................................................. 5
2.3 Prinsip Kerja Membran Ultrafiltrasi .............................................................................. 6
2.4 Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Membran Ultrafiltrasi ........................................ 6
2.5 Deskripsi Proses Membran Ultrafiltrasi ........................................................................ 8
2.6 Tipe-tipe Membran Ultrafiltrasi ..................................................................................... 10
2.6 Kelebihan Penerapan Membran Ultrafiltrasi ................................................................. 10
2.7 Permasalahan pada Penggunaan Membran Ultrafiltrasi dan Penanggulangannya ........ 12
2.8 Aplikasi Membran Ultrafiltrasi ...................................................................................... 13
BAB III
PENUTUP..............................................................................................................................15

3.1 Kesimpulan .....................................................................................................................15

3.2 Saran ...............................................................................................................................15

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................16


DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Bagan filtrasi dari berbagai tingkat. .....................................................................3


Gambar.2 Ilustrasi Proses Pemisahan dengan Membran .......................................................6

Gambar 3. Proses Filtrasi dengan Membran ..........................................................................8

Gambar 4. Proses Ultrafiltrasi................................................................................................9

Gambar 5. Diagram alir proses ultrafiltrasi dengan sistem backwash ...................................9

Gambar 6. Tipe Penyaringan Membran Ultrafiltrasi .............................................................11


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Teknologi membran telah tumbuh dan berkembang secara dinamis sejak pertama kali
dikomersilkan Sartorius-Werke di Jerman pada tahun 1927. Pengembangan dan aplikasi
teknologi ini semakin beragam dan penemuan-penemuan baru pun semakin banyak
dipublikasikan. Teknologi membran pada akhirnya menjadi salah satu teknologi alternatif
yang paling kompetitif saat ini dan telah memberikan beragam solusi bagi manusia dalam
pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Membran ultrafiltrasi dan reverse osmosis merupakan
beberapa jenis dari teknologi membran yang memiliki spesifikasi ukuran membran berturut-
turut, 0.001-0.1 m dan 0,0001-0,001 m. Secara umum ultrafiltrasi diaplikasikan dalam
proses pemisahan unsur- unsur partikulat dari larutannya dengan memanfaatkan beda tekan
dalam proses kerjanya. Untuk membran reverse osmosis digunakan untuk memisahkan zat
terlarut berukuran kecil.
Secara umum, ultrafiltrasi diaplikasikan dalam proses pemisahan unsur-unsur
partikulat, makromolekul (fraksionasi), koloid, dan polimer organik maupun anorganik dari
larutannya. Aplikasi proses ultrafiltrasi di industri di antaranya adalah untuk proses sterilisasi
obat-obatan dan produksi minuman, klarifikasi ekstrak juice, pemrosesan air ultramurni pada
industri semi konduktor, metal recovery, dan sebagainya. Sedangkan membran reverse
osmosis sendiri sudah banyak diterapkan pada berbagai industri pengolahan misalnya
desalinisasi air laut dan demineralisasi air. Pada proses pemurnian harus diperhatikan kondisi
operasi yang optimal agar membran dapat memurnikan suatu cairan secara optimal yang
ditunjukkan oleh parameter berupa fluks, permeabilitasm dan faktor rejeksi dari membran.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan membran dan membrane ultrafiltrasi?
2. Bagaimana prinsip dan proses kerja dalam membrane ultrafiltrasi?
3. Bagaimana pengaplikasian membrane ultrafiltrasi?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi membrane dan membrane ultrafiltrasi.
2. Untuk mengetahui prinsip dan proses kerja dalam membrane ultrafiltrasi.
3. Untuk mengetahui pengaplikasian membrane ultrafiltrasi.
BAB II
PEMBAHASAN

2. 1 Membran

Pada pertengahan abad 18 diketahui adanya fenomena membran sebagai penghalang


yang selektif untuk proses pemisahan. Penelitian tentang hal ini awalnya dilakukan oleh ahli
biologi, biokimia dan zoology. Periode sejarah perkembangan membran :

1. Tahun 1848-1960 : untuk keperluan penelitian saja


2. Tahun 1960-1980 : terjadi pengembangan baik pengembangan material maupun teknologi
prosesnya
3. Tahun 1980-sekarang : teknologi membran untuk pemisahan
Teknologi membran telah tumbuh dan berkembang secara dinamis sejak pertama kali
dikomersilkan oleh Sartorius-Werke di Jerman pada tahun 1927. Pengembangan dan aplikasi
teknologi ini semakin beragam dan penemuan-penemuan baru pun semakin banyak
dipublikasikan. Teknologi membran pada akhirnya menjadi salah satu teknologi alternatif
yang paling kompetitif saat ini akibatnya adanya permintaan yang sangat besar terutama
untuk aplikasi proses desalinasi.

Membran secara umum didefinisikan sebagai pemisah yang bersifat selektif berada di
antara dua fasa yaitu fasa I (umpan) dan fasa II (permeat). Membran bisa tipis atau tebal dan
strukturnya bisa homogen atau heterogen serta transpornya bisa aktif atau pasif. Mulder
(1996) mendefinisikan membran sebagai penghalang atau pembatas selektif yang diletakkan
diantara dua fasa. Membran merniliki kemampuan untuk melewatkan suatu komponcn
dengan mudah dan cepat daripada komponen lain. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan
sifat fisik atau kimia diantara komponen yang tertahan (retentat) dengan komponen yang
berpermeasi (permeat).

Membran merupakan alat pemisah berupa penghalang yang bersifat selektif yang
dapat memisahkan dua fase dari berbagai campuran, dimana campuran ini dapat bersifat
homogen/heterogen dan dapat berupa padatan, cairan maupun gas yang berubungan dengan
kedua sisinya (sisi umpan dan sisi permeat).

Generasi pertama dari proses membran adalah :

1. Microfiltration (MF) : proses yang mengurangi kadar polutan dari fluida (liquid dan gas)
dengan cara melewatkannya pada sebuah microporous membran yang berukuran 0.1 - 1
mikron
2. Ultrafiltration (UF) : teknik pemisahan dengan menggunakan membran untuk
menghilangkan zat terlarut dengan bobot molekul (BM) tinggi, aneka koloid, mikroba
sampai padatan tersuspensi dari air larutan dimana membran yang digunakan berukuran
0.001 0.01 mikron
3. Nanofiltration (NF) : proses filtrasi membran yang relatif baru yang sering digunakan
pada air yang mengandung total padatan terlarut rendah seperti air permukaan dan air
tanah yang segar, bertujuan untuk pelunakan (penghilangan kation polivalen) dan
penghilangan disinfeksi oleh produk precursor seperti bahan organik alami dan bahan
organik sintetik dimana ukuran pori membran sekitar 1 nanometer
4. Reverse Osmosis (RO) : suatu metode penyaringan yang dapat menyaring berbagai
molekul besar dan ion-ion dari suatu larutan dengan cara memberi tekanan pada larutan
ketika larutan itu berada di salah satu sisi membran seleksi (lapisan penyaring) dimana
memiliki ukuran pori 0.001 0.0001 mikron
5. Electrodialysis (ED) : proses pemisahan ion-ion dari suatu larutan dengan
mempergunakan arus listrik melalui membran semipermeabel yang bersifat permeable
terhadap ion tertentu
6. Membrane Electrolysis (ME) : membran ini mengijinkan kation terhidrasi untuk
melewati kompartemen antara anoda dan katoda, tetapi tidak untuk ion OH-dan Cl-,
dimana proses ini menghasilkan natrium hidroksida tanpa kontaminasi ion klorida.
7. Dialysis : proses perpindahan molekul terlarut dari suatu campuran larutan yang terjadi
akibat difusi pada membran semipermeabel. Dimana laju difusinya ditentukan oleh
konsentrasi, luas permukaan dan volume pelarut.

Gambar 1. Bagan filtrasi dari berbagai tingkat. Semakin ke bawah ukuran zat yang
difiltrasi semakin kecil, sampai pada ion valensi satu.

Sedangkan yang termasuk generasi kedua adalah :

1. Gas Separation (GS) : pori-pori yang digunakan relatif besar yaitu dari 0.1 10
mikrometer, permeat gas membran dengan aliran konvektif dan tidak terjadi pemisahan.
Jika pori-pori mmbran sangat kecil, sekitar 5-20 maka gas dapat dipisahkan dengan
molecular sieving (pengayakan molekular). Transport melalui tipe membran yang
kompleks dan termasuk difusi pada fasa gas dan difusi jenis adsorb pada permukaan
dari pori.
2. Pervaporation (PV) : teknologi membran yang mampu memisahkan suatu senyawa
secara selektif dari campurannya, khususnya pada ekstraksi/pemisahan senyawa kimia
yang sulit dilakukan dengan cara konvensional seperti distilasi.
3. Membrane Destillation (MD) : membran yang digunakan pada proses ini adalah
membran porous hidrofobik yang didasarkan pada pertimbangan tekanan operasi dimana
tekanan osmosis yang terjadi antara sisi distilat dan umpan akan besar.
4. Membrane Contractors (MC) : membran berfungsi sebagai antarmuka antara dua fasa
tapi tidak dikontrol kecepatan dari bagian melintang permeat membran, membran yang
digunakan merupakan fiber hollow microporous yang memisahkan oksigen yang
mengandung air dari gas nitrogen.
5. Carrier Mediated Process : reaksi pengangkutan dengan dan dibantu untuk transport
satu dari komponen dari umpan melintang membran. Kerja dari transport pengangkutan
yaitu fase liquid membran termasuk melarutkan pengangkut yang disebabkan oleh aksi
kapiler pada pori dari film microporous.

Proses membran adalah pemisahan pada tingkat molekular atau partikel yang sangat
halus. Molekul atau partikel yang dipindahkan melalui membran dari satu fasa ke fasa lain,
disebabkan oleh adanya :
1. Gradien temperatur (T)
Aplikasi penggunaan : thermo-osmosis dan distilasi membran. Kinerja instalasi berupa
fluks (J) dan selektivitas ()
2. Gradien konsentrasi (C)
Aplikasi penggunaan : pervaporasi, permeasi gas, permeasi uap, dialysis, dialysis-difusi.
Kinerja instalasi berupa fluks (J) dan selektivitas ()
3. Gradien tekanan (P)
Aplikasi penggunaan : mikrofiltrasi, ultrafiltrasi, nanofiltrasi dan reverse osmosis.
Kinerja instalasi berupa fluks (J) dan rejeksi (R)
4. Gradien energi (E)
Aplikasi penggunaan : elektrodialisis, elektro-osmosis dan membran-elektrolisis. Kinerja
instalasi berupa fluks (J) dan selektivitas ()

Tujuan proses pemisahan dengan membran berdasarkan fungsinya :

1. Konsentrasi : komponen yang diinginkan berada pada konsentrasi yang rendah sehingga
pelarutnya yang akan dikeluarkan
2. Purifikasi : terdapat bahan pengotor yang tidak diinginkan dan harus dikeluarkan
3. Fraksionasi : suatu campuran yang harus dipisahkan menjadi dua komponen yang sama-
sama diinginkan
4. Mediasi reaksi : kombinasi reaksi kimia/biokimia dengan komponen tertentu untuk
meningkatkan laju reaksi

Teknologi pemisahan menggunakan membran memiliki beberapa keunggulan


dibandingkan dengan proses pemisahan konvensional lain seperti destilasi dan evaporasi.
Keunggulan yang dimiliki antara lain :

1) Pemisahan berdasarkan ukuran molekul, sehingga pemisahan dapat beroperasi pada


temperature rendah (temperature ambient). Hal ini dapat menghindari kerusakan zat
pelarut maupun partikel terlarut yang sensitif terhadap panas.
2) Pemakaian energi yang relatif lebih rendah, karena biasanya pemisahan menggunakan
membran tidak melibatkan perubahan fasa. Meskipun terjadi perubahan fasa seperti pada
destilasi membran, namun temperatur yang dibutuhkan jauh lebih rendah daripada titik
larutan yang akan dipisahkan.
3) Tidak menggunakan zat bantu kimia dan tidak ada tambahan produk buangan.
4) Bersifat modular, artinya di scale-up dengan memperbanyak unitnya.
5) Dapat digabungkan dengan jenis operasi lainnya.

2. 2 Pengertian Membran Ultrafiltrasi

Membran Ultrafiltrasi adalah suatu teknologi filtrasi dengan besaran pori 0.01 mikron,
dimana proses pemisahan menggunakan membran dengan tekanan, biasanya digunakan untuk
menyaring makro molekul.
Membran ultrafiltrasi merupakan proses pemisahan membran untuk menghilangkan
atau menahan komponen dengan BM (berat molekul) tinggi sedangkan molekul dengan BM
rendah akan terlewatkan. Membran ultrafiltrasi dapat menyaring aneka koloid, mikroba
sampai padatan tersuspensi dari air misalnya protein, makro molekul dan polisakarida.
Membran ultrafiltrasi ini secara efektif dapat menyaring sedimen, karat, logam berat dan
menyaring cemaran warna, bau, bakteri, virus, serta zat berbahaya lainnya, namun tetap
mempertahankan mineral penting sehingga dapat digunakan untuk konsumsi langsung .
Membran semipermeabel dipakai untuk memisahkan makromolekul dari larutan.
Ukuran dan bentuk molekul terlarut merupakan faktor penting. Proses pemisahan dalam
modul ultrafiltrasi terjadi secara cross flow dimana umpan mengalir secara tangensial
sepanjang permukaan membran. Membran ultrafiltrasi dapat digolongkan berpori, namun
strukturnya lebih asimetris dibandingkan membran mikrofiltrasi. Proses ultrafiltrasi biasanya
digunakan untuk memisahkan partikel dengan ukuran berkisar antara 0,05 m 1 nm.
Proses pemisahan menggunakan membran ultrafiltrasi biasanya digunakan di bidang
industri dan penelitian untuk penjernihan air karena ukuran yang dapat diolah adalah air
pekat yang mengandung makromolekul yang memiliki berat atom sekitar 103-106 Da (1 Da
= 0,000714 gram). Pengolahan menggunakan ultrafiltrasi pada umumnya menggunakan
membran berukuran 0.001 mikron 0.01 mikron. Tekanan sistem ultrafiltrasi biasanya
rendah yaitu 10-100 psi (70-700 kPa) maka dapat menggunakan pompa sentrifugal biasa.
Membran ultrafiltrasi sehubungan dengan pemurnian air dipergunakan untuk menghilangkan
koloid (penyebab fouling), mikroba, pirogen, dan partikel modul higienis. Membran
ultrafiltrasi dapat menghasilkan fluks yang sangat tinggi, namun pada umumnya membran ini
hanya digunakan untuk menghasilkan fluks antara 50-200 galon perhari dengan tekanan
operasi sekitar 50 psi.
Membran ultrafiltrasi dibuat dengan mencetak membran selulosa asetat (SA) sebagai
lembaran tipis. Membran selulosa asetat mempunyai sifat pemisahan namun sayangnya dapat
dirusak oleh bakteri dan zat kimia serta rentan terhadap pH. Adapula membran dari polimer
polisulfon, akrilik, polikarbonat, PVC, poliamida, poliviniliden fluorida, kopolimer AN-VC,
poliasetal, poliakrilat, kompleks polielektrolit, dan PVA ikat silang. Selain itu, membran
dapat dibuat dari keramik, aluminium oksida, zirkonium oksida, dan sebagainya.

2. 3 Prinsip kerja membrane ultrafiltrasi

Membran ultrafiltrasi adalah proses pemisahan yang memisahkan molekul


berdasarkan ukuran molekul terlarut. Membran Ultrafiltrasi dapat menyaring molekul
berukuran kecil dan membuat molekul besar tertahan. Berikut ini adalah gambar ilustrasi dari
proses pemisahan dengan membran :

Gambar.2 Ilustrasi Proses Pemisahan dengan Membran

Aliran umpan masuk ke dalam membran, dengan adanya gaya dorong (driving force)
molekul atau partikel dalam umpan dapat berpindah dari fasa 1 ke fasa 2. Dimana driving
force dapat berupa konveksi/difusi dari masing-masing molekul, adanya tarik menarik antar
muatan komponen atau larutan dan perbedaan suhu atau tekanan. Kemudian molekul atau
partikel yang dapat melewati membran dinamakan aliran permeat sedangkan yang tertahan
dipermukaan membran disebut retentat.

2. 4 Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Membrane Ultrafiltrasi

Kinerja membran dapat dilihat dari dua parameter yaitu aliran melalui membran
(fluks) dan selektifitas.
1. Fluks
Fluks adalah jumlah volume permeat yang melewati satu satuan permukaan luas
membran dengan waktu tertentu dengan adanya gaya dorong dalam hal ini berupa tekanan.
Secara umum fluks dapat dirumuskan sebagai berikut:

Dimana:
J = fluks (L/m2.jam)
V = Volume permeat (Liter)
A = Luas permukaan membran (m2)
t = waktu (jam)

Untuk proses filtrasi dengan membran yang menggunakan beda tekan sebagai driving
force, fluks merupakan fungsi dari beda tekan dan konstanta permeabilitas yang dapat
dinyatakan dengan persamaan:

Konstanta permeabilitas merupakan konstanta yang menyatakan kemampuan membrane


untuk melewatkan aqua dm. Sejalan dengan waktu, permeabilitas membran akan berkurang.
Hal ini disebabkan oleh pembentukan fouling. Fouling merupakan proses dimana zat terlarut
atau partikel terdeposisi pada permukaan membran atau pada pori membran sehingga terjadi
penurunan kinerja membran. Foaling dapat disebabakan oleh zat koloid, biologis, organik,
dan mineral. Untuk meningkatkan kembali kinerja membran, membran dapat dibersihkan
dengan secara hidrolik (back wash dengan aqua dm), kimiawi, mekanik dan juga dengan
menggunakan listrik.

2. Selektifitas

Selektivitas suatu membran merupakan ukuran kemampuan suatu membran menahan


suatu spesi atau melewatkan suatu spesi tertentu lainnya. Selektivitas membran tergantung
pada interaksi antar muka dengan spesi yang akan melewatinya, ukuran spesi dan ukuran pori
permukaan membran. Selektifitas membran ditentukan oleh dua parameter yaitu faktor
rejeksi (R) dan factor pemisahan (). Persen rejeksi adalah persen dari konsentrasi yang
terpisahkan dari umpan (feedwater) oleh membran. Secara matematis persen rejeksi
dinyatakan oleh persamaan:

Dimana:
R = koefisien rejeksi
Cp = konsentrasi zat terlarut dalam permeat
Cf = konsentrasi zat terlarut dalam umpan

Dengan harga R berkisar antara 0 sampai 1. Jika harga R = 1 berarti zat kontaminan ditahan
oleh membran secara sempurna.

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kinerja sistem ultrafiltrasi:


1) Arus seberang (cross flow) Permukaan Membran .
Kenaikan Tingkat serapan dengan kecepatan aliran cairan di permukaan membran
Arus kecepatan (flowrate) hal ini sangat penting diperhatikan untuk cairan yang
mengandung emulsi atau suspensi Aliran yang lebih tinggi juga berarti konsumsi energi
yang lebih tinggi dan pompa yang lebih besar. Peningkatan kecepatan aliran juga
mengurangi fouling/kegagalan dari permukaan membran. Umumnya, kecepatan aliran
optimum dicapai oleh keseimbangan antara besarnya pompa dan peningkatan laju
serapan.

2) Tekanan operasi. (OperatingPressure)


Menembus tingkat berbanding lurus dengan tekanan diterapkan di seluruh permukaan
membran namun , karena meningkatnya kegagalan dan pemadatan kotoran,
tekanan operasi jarang melebihi 100 psig dan umumnya sekitar 50 psig karena akan
merusak dan merobek pori membrane.

3) Suhu Operasional
Air Hasil akan meningkat searah dengan meningkatnya suhu. Namun , suhu
umumnya bukanlah variabel terkontrol. Hal ini penting untuk mengetahui pengaruh suhu
pada membran fluks untuk membedakan antara penurunan serapan karena penurunan
suhu dan pengaruh parameter lainnya. Sistem Ultrafiltrasi ( Ultrafiltration) yang bisa
menghasilkan output hasil yang besar menggunakan lebih sedikit ruang dan energy serat
berongga. UF membran yang banyak digunakan untuk menggantikan metode pengolahan
air tradisional dan sebagai pra penyaringan reverse osmosis.

2. 5 Deskripsi Proses Membran Ultrafiltrasi

Sistem kerja dari membran ultrafiltrasi sebagai berikut : Air masuk dengan tekanan
rendah melalui lubang halus dengan diameter 0.5-2 mm. Ukuran pori filter 0.01-0.05 m
(sebagai pembanding sehelai rambut memiliki besar 50m, jadi pori-pori dari UF ini 500 kali
lebih kecil). Kontaminasi dengan ukuran yang lebih besar dari 0.05m akan tertahan dan
terbuang secara berkala pada saat dilakukan back flushing ataupun forward
flushing. Keunggulan dari sistem UF ini adalah pori-pori yang memiliki nilai absolut
dibandingkan dengan filter biasa. Filter UF memiliki ukuran sangat kecil dibandingkan
dengan bakteri sehingga lebih steril dari filterisasi biasa.
Unit ultrafiltrasi berfungsi untuk menghilangkan padatan tersuspensi, koloid, bakteri,
organic,logam berat, turbidiby matters yang masih ada di dalam air.

Gambar 3. Proses Filtrasi dengan Membran


Secara umum prosesnya tergolong sederhana, dimana air yang akan di olah dimasukkan ke
bejana yang berisi membran semipermeabel, dengan memberikan tekanan. Ini merupakan
proses fisis yang memisahkan zat terlarut dari pelarutnya. Membran hanya dilalui pelarut,
sedangkan zat terlarutnya, baik elektrolit maupun organik, akan ditolak (rejeksi), juga praktis
untuk menghilangkan zat organik. Kontaminan lainnya seperti koloid akan tertahan oleh
struktur pori yang berfungsi sebagai penyaring (sieve) molekul BM nominal. Membran yang
dipakai untuk ultrafiltrasi mempunyai struktur membran berpori dan asimetrik.

Gambar 4. Proses ultrafiltrasi

Gambar 5. Diagram alir proses ultrafiltrasi dengan sistem backwash

Berdasarkan diagram alir proses, tahapan proses pada system ultrafiltrasi dapat
dideskripsikan sebagai berikut :
1) Filter Guard

Sebagai primary barier, filter guard berfungsi untuk menahan parikel partikel
tersuspensi kasar yang ada didalam air. Unit ini mampu menahan partikel berukuran 75
micron atau lebih besar . Air yang keluar dari unit filter guard diharapkan bebas dari partikel
pertikel kasar yang berpotensi menyumbat lubang Lumen fiber membran ultrafilrasi.
Dalam jangka waktu tertentu, filter guard akan kotor sehingga perlu dibersihkan.

2) Pompa Filter UF

Pompa ini digunakan untuk mensuplay air dari tangki baku dan memberikan tekanan
kerja untuk mengindari water hammer . Pompa dilengkapi dengan indikator tekanan untuk
memonitor tekanan kerja Pompa.

3) Unit Ultrafiltrasi

Unit ultrafiltrasi merupakan unit low pressure membranes yang berfungsi menghasilkan
ultra filtered water murni melalui proses fisik, tanpa bantuan bahan kimia. Membranes
ultrafiltrasi memiliki ukuran pori 0,01 mikron sehingga membranes ultrafiltrasi dapat
digunakan untuk pemisah makromolekul, koloid, logam teroksidasi, bakteri, virus, organic
dan emulsi dari dalam air.

Proses filtrasi dan backwash pada unit ini berlangsung secara manual, maupun otomatis.
Durasi dan frekuensi backwash ditentukan berdasarkan kualitas air baku yang diolah. Siklus
filtrasi dan backwash akan berulang ulang secara teratur sesuai interval waktu yang
ditentukan.

4) Sistem Backwash

Selama proses operasi normal, membranes UF dapat mengalami proses kontaminasi oleh
berbagai foulant yang mengakibatkan terjadinya deposisi material tersuspensi, organic dan
biologis, serta deposisi partikel koloid. Peristiwa ini berdampak pada penurunan produktivitas
dan selektivitas membranes UF. Jika hal ini terjadi, proses cleaning secara periodic perlu
dilakukan untuk mengembalikan kinerja membranes UF.

Unit Backwash berfungsi untuk memfasilitasi proses cleaning dan flushing membranes
UF. Unit Backwash terdiri dari tanki Backwash dan pompa Backwash. Tangki Backwash
digunakan sebagai tempat penyediaan larutan pencuci. Pompa Backwash berfungsi
mengalirkan lalrutan pencuci kedalam membranes UF. Penyediaan/ pembuatan larutan kimia,
proses sirkulasi dan drain larutan kimia pencuci dilakukan secara manual.

2. 6 Tipe-tipe Membran Ultrafiltrasi

Ultrafiltrasi memiliki beberapa tipe penyaringan dan material dasar. Tipe-tipe


penyaringannya antara lain Cross Flow dan Dead end.
1. Tipe Dead End flow Ultrafiltrasi

Tipe pengaplikasi Dead end digunakan oleh para ahli pada saat dimana seorang
user memiliki keterbatasan akan sumber daya air. Dengan digunakannya sistem Dead
end maka penghematan air dapat dilakukan. Kelemahannya adalah membrane
ultrafiltrasi tersebut akan lebih cepat terjadi penumpukan kotoran dan tersumbat, sehingga
membrane harus lebih intensif dilakukan backwash dan flushing. Normalnya adalah 5 jam
pengoperasian sesuai dengan kapasitas setiap membrane ultrafiltrasi tersebut. Sistem
Dead end di rekomendasikan pada kondisi air yang tidak banyak mengandung koloid,
bakteria dan protein.

2. Tipe Cross Flow Ultrafiltration

Jenis ini banyak digunakan saat ini, dimana aliran air dilewatkan menyamping
membrane semipermeable. Sehingga penumpukan kotoran dapat di minimalisasi, tetapi
kelemahan dari sistem ultrafiltrasi Cros Flow, Kapasitas produksi per unit membrane
ultrafiltrasi akan semakin rendah dan terjadi pemborosan air yang cukup tinggi
dibandingkan dengan tipe Dead End. System Cross Flow di rekomendasikan di
kondisi air banyak mengandung koloid dan total suspended solid yang tinggi.

Gambar 6. Tipe penyaringan membrane ultrafiltrasi

Ultrafiltrasi juga dibedakan menurut pengaplikasian prosesnya, antara lain Inside out dan
Outside in.

1. Inside Out

Untuk pengaplikasian Inside out, maka ultrafiltrasi itu didesain dimana air yang
masuk dari dalam membrane dan keluar melalui dinding membrane semipermeablenya.
Sistem ini tidak dapat digunakan untuk air baku yang nilai TSS nya cukup tinggi,
maksimal 150ppm. Ultrafiltration membutuhkan pretreatment yang cukup baik diawal
sebelum masuk kedalam membrane yang bersistem Inside Out.

2. Outside In Ultrafiltration
Sedangkan Outside in, Ultrafiltration di desain dengan memasukkan air dari
dinding luar kedalam membrane semipermeablenya. Sistem ini memiliki toleransi yang
tinggi terhadap TSS, tidak membutuhkan filter awal yang intensif, memiliki area filtrasi
yang lebih besar, membutuhkan tekanan angin saat proses pencucian dan membutuhkan
air yang cukup banyak pada saat pencucian membrane ultrafiltrasi.

Membran ultrafiltrasi dapat berbentuk plateand frame, spiral-wound, dan tubular.


Setiap konfigurasi memiliki aplikasinya masing-masing. Untuk air dengan kemurnian tinggi,
spiralwound lebih umum untuk digunakan. Konfigurasi dipilih berdasarkan jenis dan
konsentrasi dari material berkoloid atau emulsi. Untuk semua konfigurasi, desain sistem yang
optimum harus memperhatikan laju alir, hilang tekan, konsumsi energi, fouling, dan juga
harga membran itu sendiri.

2. 7 Kelebihan Penerapan Membran Ultrafiltrasi

Aplikasi teknologi ultrafiltrasi secara teknik dan ekonomi sangat kompetitif.


Penggunaan proses ultrafiltrasi dalam proses filtrasi air memiliki berbagai keuntungan antara
lain :

1. Membran dapat bertindak sebagai filter yang sangat spesifik. Hanya molekul-molekul
dengan ukuran tertentu saja yang bisa melewati membran sedangkan sisanya akan
tertahan di permukaan membran.
2. Teknologi membran ini sederhana, praktis, dan mudah dilakukan. Dalam sistem yang
dirangkai secara lengkap dapat menurunkan biaya investasi dan juga biaya perawatan.
3. Kualitas filtrasi yang konsisten pada berbagai variasi kondisi umpan.
4. Proses pemisahan padatan tersuspensi dan mikroorganisme dilakukan tanpa
menggunakan bahan kimia.
5. Kemampuann membrane merejeksi seluruh bakteri dan virus sekaligus merupakan proses
desifeksi, sehingga proses desinfeksi lanjut hampir tidak dilakukan.
6. Ultrafiltrasi juga dapat membuang chlorine resistant germs seperti cryptosporidium.
Konsentrat (air limbah) juga akan terbuang .
7. Dapat membuang hampir semua film-forming pada membrane reverse osmosis, sehingga
dapat memperpanjang umur membrane

2. 8 Permasalahan pada Penggunaan Membran Ultrafiltrasi dan Penanggulanngannya

Sistem membran ultrafiltrasi memiliki beberapa kekurangan, salah satu masalah besar
yang sering terjadi pada masalah ultrafiltrasi, khususnya ultrafiltrasi dengan umpan multi
komponen, adalah fouling. Fouling adalah suatu fenomena yang disebabkan oleh deposisi
dan akumulasi secara irreversible dari partikel-partikel submikron pada permukaan membran
atau kristalisasi serta prepitasi dari partikel-partikel yang berukuran kecil pada permukaan
atau di dalam membran-membran itu sendiri.
Kekurangan teknologi membran yang lain yaitu fluks dan selektifitas karena pada
proses membran umumnya terjadi fenomena fluks berbanding terbalik dengan selektifitas.
Semakin tinggi fluks seringkali berakibat menurunnya selektifitas dan sebaliknya. Sedangkan
hal yang diinginkan dalam proses berbasiskan membran adalah mempertinggi fluks dan
selektifitas.

Untuk mengurangi penumpukan materi pada permukaan membran, ada dua cara yang
dapat diambil, yaitu:

a. Menjaga partikel mengenai membran.

Untuk menjaga partikel mengenai membran, ada beberapa teknik yang digunakan seperti
proses filtrasi, proses koagulasi dimana upaya-upaya tersebut lazim disebut sebagai
pretreatment.

Sebagai contoh, pada kasus limbah emulsi minyak-air, pretreatment yang dilakukan
ditujukan untuk memecahkan ikatan emulsi antara minyak dan air, sehingga diharapkan fasa
minyak dan fasa air dapat terpisah. Untuk memecahkan emulsi minyak/air secara kimia,
maka faktor penstabil harus terlebih dahulu dinetralisasi untuk membuka jalan bagi droplet
teremulsi untuk bergabung . Muatan elektrik dari droplet teremulsi dapat dinetralisasi dengan
memberikan muatan berlawanan melalui penambahan bahan kimia pemecah emulsi.
Karekteristik dielektrik dari air akan mengakibatkan droplet emulsi minyak memiliki muatan
negatif, sehingga pemecah emulsi kationik atau bermuatan positif diperlukan untuk proses
pemecahannya. Setelah emulsi minyak/air terpecahkan, secara ideal akan terbentuk dua
lapisan yang sangat berbeda, sebuah lapisan air dan sebuah lapisan minyak. Jadi pretreatment
disini ditujukan untuk mengurangi beban membran, meningkatkan fluks dan diharapkan
dapat memperpanjang waktu operasi (running time) dari membran.

b. Membersihkan membran.

Untuk membersihkan membran dapat digunakan pembersihan membran secara periodik,


atau meningkatkan tegangan geser (shear stress) pada permukaan membran dimana
konstituen yang telah tertahan (fouling) akan tergeser oleh turbulensi aliran sehingga tidak
terjadi penumpukan partikel. Contohnya dengan memakai aliran cross-flow yang ditujukan
untuk mengurangi fouling sehingga fluks membran dapat dikurangi laju penurunannya.

2. 9 Aplikasi Membrane Ultrafiltrasi

Ultrafiltrasi memiliki fungsi aplikasi yang luas dan beragam, berkisar dari pemrosesan
makromolekul biologis hingga pengolahan air limbah. Dari sudut pandang operasional,
ultrafiltrasi dimanfaatkan untuk membuat suatu senyawa terkonsentrasi (mengurangi jumlah
zat pelarut), menghilangkan garam (desalting) yang biasanya digunakan untuk
menghilangkan partikel dengan berat molekul rendah dari larutan protein, mencerahkan dan
memurnikan suatu senyawa, dan yang terakhir adalah fraksinasi atau pemisahan bagian-
bagian tertentu dari suatu senyawa.
Aplikasi yang dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi Ultrafiltrasi sangat
beragam dari pemprosesan makro yang sederhana hingga pengolahan limbah. Aplikasi ini
seperti, depot air minum isi ulang, pengolahan air bersih, penyaring dari air sungai, air
minum dalam kemasan (AMDK), pengolahan air limbah, dll.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1. Membran Ultrafiltrasi adalah suatu teknologi filtrasi dengan besaran pori 0.01
mikron, dimana proses pemisahan menggunakan membran dengan tekanan, biasanya
digunakan untuk menyaring makro molekul.
2. Membran ultrafiltrasi dapat menghasilkan fluks yang sangat tinggi, namun pada
umumnya membran ini hanya digunakan untuk menghasilkan fluks antara 50-200
galon perhari dengan tekanan operasi sekitar 50 psig
3. Prinsip Kerja Membran Ultrafiltrasi adalah proses pemisahan molekul berdasarkan
molekul terlarut. Membran Ultrafiltrasi dapat menyaring molekul berukuran kecil
dan membuat molekul besar tertahan.
4. Keunggulan dari sistem UF ini adalah pori-pori yang memiliki nilai absolut
dibandingkan dengan filter biasa. Filter UF memiliki ukuran sangat kecil
dibandingkan dengan bakteri sehingga lebih steril dari filterisasi biasa.

3.2 Saran

Dalam penulisan makalah ini penulis masih banyak kekurangan terutama dalam
mendapatkan referensi. Diharapkan kepada para pembaca untuk dapat menambah
kekurangan yang ada.
DAFTAR PUSTAKA

Notodarmojo, Suprihanto. 2004. Penurunan Zat Organik dan Kekeruhan Menggunakan


Teknologi Membran Ultrafiltrasi dengan Sistem Aliran Dead-End. ITB. Bandung
Pabby AK, Rizvi SSH, Sastre AM. 2009. Handbook of Membrane Separations: Chemical,
Pharmaceutical, Food, and Biotechnological Applications. Boca Raton. Taylor &
Francis.
Raymond D. Letterman (ed.).1999. Water Quality and Treatment 5th Ed.: American Water
Works Association and McGraw-Hill. New York.
I Gede Wenten. 2013. Teknologi Membran Untuk Pengelolaan Air. http://www. Igwenten
.com /2013/02/ teknologi-membran-untuk-pengelolaan-air.html
(diakses 17April 2016)
Ndaru Candra Sukmana. 2009. Membran Ultrafiltrasi. http://ndarucs.blogspot.co.id/2009/10/
membran-ultrafiltrasi.html