Anda di halaman 1dari 6

PROSES PEMBUATAN BIODIESEL DENGAN CARA ELEKTROLISIS

Biodiesel merupakan sumber energi berupa bahan bakar yang dapat


diperbarui karena bahan baku utamanya bersifat biodegradable, atau dapat
terdegradasi (terurai) dengan baik dan bersifat ramah lingkungan. Senyawa utama
biodiesel adalah senyawa ester. Biodiesel dapat dibuat dari sumber daya hayati,
misalnya minyak lemak nabati atau lemak hewani, melalui reaksi transesterifikasi
asam lemak. Penggunaan solar sebagai bahan bakar mesin diesel akan
menghasilkan gas buang dengan kandungan NOx, SOx, senyawa hidrokarbon serta
partikulat-partikulat berbahaya lainnya. Emisi senyawa-senyawa tersebut dari
mesin diesel sangat berbahaya jika dibandingkan dengan emisi yang dikeluarkan
mesin berbahan bakar bensin karena kadar toksisitas partikulat dalam mesin diesel
yang berbahan bakar solar terbilang tinggi, yaitu sekitar 106,7 %.
Dibandingkan bahan bakar solar, biodiesel memiliki keunggulan, yaitu
emisi pembakarannya yang ramah lingkungan karena mudah diserap kembali oleh
tumbuhan serta tidak mengandung SOx, NOx, dan partikulat-partikulat berbahaya.
Berbagai metode diteliti untuk dapat menghasilkan biodiesel yang berkualitas baik.
Kriteria biodiesel sebagai bahan bakar pengganti solar harus memenuhi persyaratan,
antara lain memiliki kemiripan sifat fisik dan kimia dengan bahan bakar solar,
misalnya viskositasnya harus sesuai sehingga cocok digunakan untuk mesin diesel.
Biodiesel yang paling popular adalah fatty acid methyl ester (FAME).
Sintesis biodiesel dilakukan dengan metode elektrokimia (teknik
galvanostat) menggunakan elektroda kerja boron-doped diamond (BDD) yang
merupakan alternatif dari elektroda karbon tradisional yang memiliki keunggulan
dalam stabilitas kimia dan dimensional, elektroda pembanding Ag/AgCl dan
elektroda penunjang berupa elektroda platina (Pt). Sebagai pengganti katalis basa,
digunakan OH- yang diharapkan dapat dihasilkan dari elektrolisis (reduksi) air.
Sebelumnya, sintesis biodiesel dengan metode elektrolisis telah dilaporkan
menggunakan elektroda kerja dari platina. Diketahui bahwa penggunaan sel
elektrokimia dengan dua kompartemen terpisah dapat memberikan hasil reaksi yang
lebih baik. Maka, pada penelitian ini sel elektrokimia yang sama akan digunakan
untuk sintesis FAME dari bahan baku minyak kedelai dan metanol.
Elektrokimia merupakan ilmu yang mempelajari aspek elektronik dari suatu
reaksi kimia. Elemen yang digunakan dalam reaksi elektrokimia dikarakterisasikan
dengan banyaknya elektron yang dimiliki. Reaksi elektrokimia terjadi di dalam
suatu wadah yang disebut sebagai sel elektrokimia. Sel elektrokimia tersusun atas
dua ruang atau bagian, yakni anoda dan katoda. Pada anoda terjadi reaksi oksidasi
dan pada katoda terjadi reaksi reduksi. Berbeda dengan sel galvani, pada sel
elektrolisis membutuhkan input berupa arus listrik. Pada sel galvani, anoda
berfungsi sebagai elektroda dengan muatan negatif dan katoda merupakan elektroda
dengan muatan positif. Pada sel elektrolisis, anoda berperan sebagai elektroda yang
bermuatan positif dan katoda merupakan elektroda yang bermuatan negatif.
Reaksi elektrolisis dilakukan dalam dua sel elektrokimia yang dihubungkan
dengan menggunakan membran Nafion. Garam elektrolit yang digunakan adalah
natrium sulfat dan TBAP (tetrabutilamonium perklorat). Minyak yang digunakan
adalah minyak kedelai. Penggunaan metanol adalah sebagai pemberi gugus metoksi
dan penggunaan THF (tetrahidrofuran) sebagai pelarut pendukung (co-solvent).
Dilakukan menggunakan kromatografi gas (GC) dengan program temperatur
tertentu disesuaikan dengan sampel FAME yang diinjeksikan.
Langkah pertama yang dilakukan saat pembuatan biodiesel adalah persiapan
minyak kedelai dengan cara penentuan massa jenis minyak kedelai menggunakan
pikometer 10 mL. Piknometer tersebut diisi sampel yang akan diujikan dan
dikerjakan pada suhu ruang. Kemudian, piknometer direndam selama 30 menit.
Didapatkan berat air dengan pengurangan berat piknometer ditambahkan berat
sampel kemudian dikurangi dengan berat piknometer yang kosong.
Selanjutnya adalah penentuan kadar air dan bahan mudah menguap dalam
minyak kedelai dengan menggunakan krus kaca dipanaskan dalam oven pada suhu
(130 1) selama kurang lebih 30 menit dan didinginkan dalam desikator selama 20
sampai 30 menit, kemudian krus dan tutupnya ditimbang pada neraca Ohaus (hasil
penimbangan merupakan W0). Sebanyak 5 gram minyak kedelai dimasukkan ke
dalam krus tersebut, ditutup dan kemudian ditimbang beratnya (didapat berat W 1).
Krus dipanaskan dalam keadaan terbuka di dalam oven pada suhu (130 1) .
Pemanasan dilakukan selama 30 menit. Setelah 30 menit, krus ditutup saat masih
berada di dalam oven dan memindahkannya segera ke dalam desikator secara hati-
hati. Lalu, didiamkan dalam desikator selama 20-30 menit sampai suhunya
mencapai suhu ruang. Krus beserta isinya kemudian ditimbang pada neraca Ohaus
dan dicatat hasil penimbangannya (didapat berat akhir atau disebut W2).
Pada penentuan angka asam minyak kedelai, dilakukan dengan metode
titrasi standar. Sampel (minyak kedelai) dilarutkan sebanyak 2,5 gram dalam 12,5
mL alkohol (metanol) secara kuantitatif dan ditambahkan indikator fenolftalein
(PP). Indikator PP dapat dibuat dengan melarutkan 0,5 gram bubuk PP ke dalam 50
mL etanol. Jika telah larut, diencerkan dengan akuabides sampai 100 mL. Proses
titrasi dilakukan dengan larutan basa, NaOH 0,1 N sampai dihasilkan warna merah
muda yang tidak lagi hilang selama 30 detik. Hal yang sama dilakukan untuk larutan
blanko, yakni metanol yang dititrasi dengan NaOH 0,1 N.
Kemudian dilakukan penentuan angka penyabunan minyak kedelai dengan
menggunakan larutan KOH dalam alkohol. 25 mL larutan KOH 0,5 N dalam
alkohol ditambahkan ke dalam erlenmeyer yang berisi 2 gram sampel minyak
kedelai dikocok sampai campuran homogen. Erlenmeyer (labu bulat) dihubungkan
dengan kondensor dan direfluks sampai campuran mendidih selama setengah jam
dan suhu dijaga sebesar 65. Sampel minyak didinginkan sesaat sebelum titrasi, lalu
dilakukan titrasi dengan larutan HCl 0,5 N dan ditambahkan indikator fenolftalein
(PP). Dilakukan pula titrasi untuk larutan blanko tanpa penambahan sampel minyak.
Pada penentuan viskositas kinematik dengan sampel minyak kedelai
dimasukkan ke dalam viskometer Oswald secara hati-hati. Viskometer berisi
sampel minyak kedelai direndam dalam gelas kimia berukuran 1000 mL dan
dipanaskan di atas hotplate pada suhu 45 selama 30 menit. Dengan menggunakan
bulp, sampel minyak kedelai disedot sampai berada di atas tanda batas pertama.
Waktu alir diukur dari batas pertama sampai batas kedua pada tabung viskometer
(pengukuran waktu alir dilakukan sebanyak lima kali).
Penentuan bilangan iodida minyak kedelai dengan sampel sebanyak 0,25
gram minyak kedelai dimasukkan ke erlenmeyer kemudian dilarutkan dengan 5 mL
kloroform. Ditambahkan larutan Wijs sebanyak 5 mL dan didiamkan di tempat
gelap selama 30 menit. Kemudian ditambahkan 5 mL larutan KI 10% dan dititrasi
dengan larutan natrium tiosulfat 0,1 N sampai warna larutan berubah menjadi
kuning pucat. Ditambahkan 0,5 mL larutan kanji (larutan kanji dibuat dengan
melarutkan pati atau amilum sebanyak 0.5 gram ke dalam 50 mL aqudest yang telah
dipanaskan pada suhu 50C), kemudian titrasi dilanjutkan sampai warna coklat
hilang dan kembali menjadi kuning bening. Perlakuan yang sama untuk blanko
tanpa penambahan minyak kedelai ke dalam erlenmeyer.

Gambar 1. Skema Sel Elektrokmia


(Sumber : Allen, 2001)

Pada reaksi elektrolisis, sel terdiri dari katoda (kiri) dan anoda (kanan), di
katoda terdiri dari campuran antara minyak kedelai (10 mL) ditimbang sesuai
dengan berat molekul, metanol 10 mL, THF 10 mL serta garam elektrolit natrium
sulfat atau TBAP (tetrabutilamonium perklorat). Sedangkan di bagian anoda terdiri
dari larutan natrium sulfat 1 M dalam aquadest. (konsentrasi tetrahidrofuran,
metanol, garam elektrolit dan waktu reaksi elektrokimia).
Variasi dilakukan terhadap waktu reaksi elektrolisis, konsentrasi garam
elektrolit (natrium sulfat dan TBAP), variasi konsentrasi metanol serta THF.
Mayoritas, reaksi elektrolisis dilakukan dengan menggunakan garam elektrolit
Na2SO4. Waktu divariasikan mulai dari 0,5; 1 dan 1,5 jam. Konsentrasi garam
elektrolit natrium sulfat divariasikan dari 0,5; 1 dan 1,5 M sedangkan untuk TBAP,
0,1 dan 0,4 M. Setelah didapatkan waktu dan konsentrasi garam elektrolit terbaik,
nilai tersebut digunakan untuk variasi konsentrasi metanol dan THF. Setiap sampel
FAME hasil reaksi elektrolisis kemudian dipisahkan di dalam corong pisah dan
ditambahkan natrium sulfat anhidrat untuk menarik sisa-sisa air.
Reaksi yang terjadi merupakan proses pemecahan molekul air menjadi ion
OH-. Air akan direduksi selama proses reaksi elektrokimia berlangsung pada
pemberian arus sebesar -3 mA. Ion OH- yang terbentuk digunakan sebagai katalis
basa dalam reaksi transesterifikasi dan oleh sebab itu tidak dilakukan penambahan
senyawa basa kuat ke dalam reaksi karena melalui reaksi elektrokimia (reduksi air)
ini katalis yang berperan dalam reaksi adalah dari hasil reduksi air tersebut.
Ion OH- tersebut akan bereaksi lebih lanjut dengan metanol sebagai pelarut.
Gugus H+ pada metanol akan ditarik atau dilewatkan baik oleh katalis OH- dan
membran Nafion. Pada reaksi 2, ion metoksi yang bermuatan negatif akan
menyerang atom C pada trigliserida yang sifatnya lebih elektropositif dikarenakan
terikat sebagai gugus karbonil. Maka, ikatan karbonil terpecah menjadi O-. Bentuk
tersebut tidak stabil sehingga terjadi penataan ulang seperti pada reaksi 3. Sehingga
terbentuklah senyawa FAME dengan hasil sampingan gliserol.
Berdasarkan analisa grafik, disimpulkan bahwa hasil persen total FAME
maksimum untuk variasi waktu reaksi elektrokimia minyak kedelai dengan garam
elektrolit natrium sulfat 1 M adalah selama 0,5 jam. Penurunan yield FAME
dikarenakan jenis minyak yang digunakan untuk reaksi elektrokimia sudah cukup
murni dari pengotor, juga karena kandungan air di dalam minyak kedelai yang
tergolong sangat sedikit yang menyebabkan reaksi reduksi air kurang maksimal.
Selain itu, proses pemisahan campuran reaksi menjadi suatu bagian yang penting
agar FAME dapat dipisahkan dengan baik. Kandungan air dalam campuran yang
berasal baik dari minyak maupun dengan penambahan sejumlah tertentu air
memengaruhi besarnya persen komposisi FAME yang dihasilkan.
Berdasarkan data karakterisasi awal, menunjukkan bahwa minyak kedelai
yang digunakan adalah yang memiliki kualitas terbaik dan terkandung asam lemak
penyusunnya dari golongan rantai yang pendek. Penggunaan TBAP sebagai garam
elektrolit menghasilkan yield FAME paling tinggi, yakni sebesar 0,059%
dikarenakan kelarutan TBAP (tetrabutilamonium perklorat) yang tinggi di dalam
campuran sehingga kontaknya dengan permukaan elektroda BDD semakin sering
dan yield FAME yang dihasilkan menjadi lebih tinggi. Sehingga, biodiesel yang
dihasilkan adalah memiliki kualitas yang baik untuk digunakan.
DAFTAR PUSTAKA

Allen, J. Bard, Larry R. Faulkner. 2001. Electrochemical Methods Fundamentals


and Applications. New York: John Wiley.
Andi, Hartomo. 2011. Studi Pembuatan dan Karakterisasi Biodiesel Fuel Dari
Minyak Kedelai Melalui Metode Elektrokimia Menggunakan Elektroda
Kerja Boron-Doped Diamond. Depok: Universitas Indonesia.
Fujishima, A. 2005. Diamond Electrochemistry BKC- Elsevier, Tokyo.
Guan, G., & Kusakabe, K. (2009). Synthesis of biodiesel fuel using an electrolysis
method. Chemical Engineering Journal. No. 153. Hal. 159163.
Maharani, M.H., Zuliyana. 2010. Pembuatan Metil Ester (Biodiesel) dari Minyak
Dedak dan Metanol dengan Proses Esterifikasi dan Transesterifikasi.
Semarang, Jawa Tengah: Universitas Diponegoro..
S. Shibano. (2014). Synthesis of Biodiesel using a Two-Compartments
Electrochemical Cell, Chem. Lett. No. 43. Hal. 1292-1293.