Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH

PERAWATAN LUKA BERSIH & KOTOR


Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah

Disusun Oleh :
Vaulina S : 201602042
Aprilinda Safitri : 201602045
Emeralda Umi Balqis : 201602054
Ismi Henik : 201602058
Mufida :201602062
Ni Luh Putu Apriliani :201602066
Resa Hardodianto P.P :201602070
Safitri Nuri Rahayu : 201602074
Siti Rachma :201602078

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BANYUWANGI
2017
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1
A. Latar Belakang .......................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 1
C. Tujuan ....................................................................................................... 2

BAB II KONSEP LUKA ................................................................................


A. Anatomi dan Fisiologi integumen .............................................................
B. Pengertian Luka .........................................................................................
C. Jenis jenis Luka ......................................................................................
D. Mekanisme Terjadinya Luka .....................................................................
E. Penyembuhan Luka ...................................................................................
F. Faktor yang Mempengaruhi Proses Penyembuhan Luka ..........................

BAB III PROSEDUR .....................................................................................


A. Tujuan ........................................................................................................
B. Indikasi ......................................................................................................
C. Kontra Indikasi ..........................................................................................
D. Persiapan Alat ............................................................................................

BAB IV PENUTUP.........................................................................................
A. Kesimpulan ...............................................................................................
B. Saran .........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Luka adalah terputusnya kontinuitas suatu jaringan oleh karena adanya cedera
atau pembedahan. Luka bisa terjadi akibat trauma benda tumpul, benda tajam, suhu,
zat kimia, ledakan, gigitan hewan, konsleting listrik dan berbagai penyebab lainnya.
Luka bisa diklasifikasikan berdasarkan struktur anatomis, sifat, proses penyembuhan
dan lama penyembuhan. Perawatan Luka merupakan tindakan keperawatan yaitu
berupa mengganti balutan dan membersihkan luka baik pada luka yang bersih
maupun luka yang kotor. Perawat dituntut untuk mempunyai pengetahuan dan
keterampilan yang adekuat terkait dengan proses perawatan luka seperti : proses
perawatan luka bersih , dan proses perawatan luka kotor dengan menggunakan
Standar Operasional Prosedur (SOP) yang benar sehingga evaluasi hasil yang
ditemukan selama perawatan serta dokumentasi hasil yang diperoleh benar, akurat,
dan sistematik.
Dalam penulisan makalah ini menjelaskan tentang Anatomi dan Fisiologi
integument, Pengertian Luka Bersih dan Luka Kotor, serta Prosedur perawatan Luka
Bersih dan Luka Kotor. Perawatan luka ini diperlukan karena untuk menunjang
pengetahuan perawat dalam menangani luka pada pasien.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa pengertian sistem Anatomi dan Fisiologi Integumen?
1.2.2 Apa pengertian Luka?
1.2.3 Apa saja jenis-jenis luka?
1.2.4 Bagaimana mekanisme terjadinya luka?
1.2.5 Bagaimana proses penyembuhan luka?
1.2.6 Apa saja faktor yang mempengaruhi proses penyembuhan luka?
1.2.7 Bagaimana prosedur perawatan luka?

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui pengertian sistem Anatomi Fisiologi integument.
1.3.2 Untuk mengetahui pengertian luka.
1.3.3 Untuk mengetahui jenis-jenis luka.
1.3.4 Untuk mengetahui mekanisme terjadinya luka.
1.3.5 Untuk mengetahui proses penyembuhan luka.
1.3.6 Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi proses penyembuhan
luka.
1.3.7 Untuk mengetahui prosedur perawatan luka.

BAB II

KONSEP LUKA
2.1 Anantomi dan Fisiologi Integumen
Kulit merupakan organ tubuh yang paling luas yang berkontribusi terhadap total
berat tubuh sebanyak 7%. Keberadaan kulit memegang peranan penting dalam
mencegah terjadinya kehilangan cairan yang berlebihan, dan mencegah masuknya
agen-agen yang ada di lingkungan seperti bakteri, kimia dan radiasi ultraviolet. Kulit
juga akan menahan bila terjadi kekuatan-kekuatan mekanik seperti gesekan (friction),
getaran (vibration), dan mendeteksi perubahan-perubahan fisik darinlingkungan luar,
sehingga memungkinkan seseorang untuk menghindari stimulasi-stimulasi yang tidak
nyaman. Kulit membangun sebuah barrier yang memisahkan organ-organ internal
dengan lingkungan luar, dan turut berpartisipasi dalam berbagai fungsi tubuh vital.

Kulit tersusun dari 3 lapisan yaitu :

2.1.1 Epidermis
Epidermis berasal dari ektoderm, terdiri dari beberapa lapis (multilayer).
Epidermis sering kita sebut sebagai kuit luar.Epidermis merupakan lapisan
teratas pada kulit manusia dan memiliki tebal yang berbeda-beda: 400-600 m
untuk kulit tebal (kulit pada telapak tangan dan kaki) dan 75-150 m untuk
kulit tipis (kulit selain telapak tangan dan kaki, memiliki rambut). Selain sel-
sel epitel, epidermis juga tersusun atas lapisan:
A. Melanosit, yaitu sel yang menghasilkan melanin melalui proses
melanogenesis.Melanosit (sel pigmen) terdapat di bagian dasar epidermis.
Melanosit menyintesis dan mengeluarkan melanin sebagai respons
terhadap rangsangan hormon hipofisis anterior, hormon perangsang
melanosit (melanocyte stimulating hormone, MSH). Melanosit
merupakan sel-sel khusus epidermis yang terutama terlibat dalam
produksi pigmen melanin yang mewarnai kulit dan rambut. Semakin
banyak melanin, semakin gelap warnanya. Sebagian besar orang yang
berkulit gelap dan bagian-bagian kulit yang berwarna gelap pada orang
yang berkulit cerah (misal puting susu) mengandung pigmen ini dalam
jumlah yang lebih banyak. Warna kulit yang normal bergantung pada ras
dan bervariasi dari merah muda yang cerah hingga cokelat. Penyakit
sistemik juga akan memengaruhi warna kulit . Sebagai contoh, kulit akan
tampak kebiruan bila terjadi inflamasi atau demam. Melanin diyakini
dapat menyerap cahaya ultraviolet dan demikian akan melindungi
seseorang terhadap efek pancaran cahaya ultraviolet dalam sinar matahari
yang berbahaya.
B. Sel Langerhans, yaitu sel yang merupakan makrofag turunan sumsum
tulang, yang merangsang sel Limfosit T, mengikat, mengolah, dan
merepresentasikan antigen kepada sel Limfosit T. Dengan demikian, sel
Langerhans berperan penting dalam imunologi kulit.Sel-sel imun yang
disebut sel Langerhans terdapat di seluruh epidermis. Sel Langerhans
mengenali partikel asing atau mikroorganisme yang masuk ke kulit dan
membangkitkan suatu serangan imun. Sel Langerhans mungkin
bertanggungjawab mengenal dan menyingkirkan sel-sel kulit displastik
dan neoplastik. Sel Langerhans secara fisik berhubungan dengan saraf-
sarah simpatis , yang mengisyaratkan adanya hubungan antara sistem
saraf dan kemampuan kulit melawan infeksi atau mencegah kanker kulit.
Stres dapat memengaruhi fungsi sel Langerhans dengan meningkatkan
rangsang simpatis. Radiasi ultraviolet dapat merusak sel Langerhans,
mengurangi kemampuannya mencegah kanker.
C. Sel Merkel, yaitu sel yang berfungsi sebagai mekanoreseptor sensoris dan
berhubungan fungsi dengan sistem neuroendokrin difus.
D. Keratinosit, lapisan eksternal kulit tersusun atas keratinosit (zat tanduk)
dan lapisan ini akan berganti setiap 3-4 minggu sekali. Keratinosit yang
secara bersusun dari lapisan paling luar hingga paling dalam sebagai
berikut:
1. Stratum Korneum, terdiri atas 15-20 lapis sel gepeng, tanpa inti
dengan sitoplasma yang dipenuhi keratin. Lapisan ini merupakan
lapisan terluar dimana eleidin berubah menjadi keratin yang
tersusun tidak teratur sedangkan serabut elastis dan retikulernya
lebih sedikit sel-sel saling melekat erat.Lebih tebal pada area-area
yang banyak terjadi gesekan (friction) dengan permukaan luar,
terutama pada tangan & kaki. Juga merupakan lapisan keratinosit
terluar yang tersusun atas beberapa lapis sel-sel gepeng yang mati
dan tidak berinti.
2. Stratum Lucidum, tidak jelas terlihat dan bila terlihat berupa
lapisan tipis yang homogen, terang jernih, inti dan batas sel tak
terlihat. Stratum lucidum terdiri dari protein eleidin.Merupakan
lapisan sel gepeng yang tidak berinti dan lapisan ini banyak
terdapat pada telapak tangan & kaki.
3. Stratum Granulosum, terdiri atas 2-4lapis sel poligonal gepeng
yang sitoplasmanya berisikan granul keratohialin. Pada membran
sel terdapat granula lamela yang mengeluarkan materi perekat
antar sel, yang bekerja sebagai penyaring selektif terhadap
masuknya materi asing, serta menyediakan efek pelindung pada
kulit.2/3 lapisan ini merupakan lapisan gepeng, dimana sitoplasma
berbutir kasar serta mukosa tidak punya lapisan inti.
4. Stratum Spinosum,tersusun dari beberapa lapis sel di atas stratum
basale. Sel pada lapisan ini berbentuk polihedris dengan inti
bulat/lonjong. Pada sajian mikroskop tampak mempunyai tonjolan
sehingga tampak seperti duri yang disebut spinadan terlihat saling
berhubungan dan di dalamnya terdapat fibril sebagai
intercellularbridge.Sel-sel spinosum saling terikat dengan filamen;
filamen ini memiliki fungsi untuk mempertahankan kohesivitas
(kerekatan) antar sel dan melawan efek abrasi. Dengan demikian,
sel-sel spinosum ini banyak terdapat di daerah yang berpotensi
mengalami gesekan seperti telapak kaki.
5. Stratum Basal/Germinativum, merupakan lapisan paling bawah
pada epidermis, tersusun dari selapis sel-sel pigmen basal,
berbentuk silindris dan dalam sitoplasmanya terdapat
melanin.Pada lapisan basile ini terdapat sel-sel mitosis.

Setiap kulit yang mati akan terganti tiap 3- 4 minggu. Epidermis akan
bertambah tebal jika bagian tersebut sering digunakan. Persambungan
antara epidermis dan dermis di sebut rete ridge yang berfunfgsi sebagai
tempat pertukaran nutrisi yang essensial. Dan terdapat kerutan yang
disebut fingers prints.

Pada daerah kulit terdapat juga kelenjar keringat. Kelenjar keringat terdiri
dari fundus (bagian yang melingkar) dan

duet yaitu saluran semacam pipa yang bermuara pada permukaan

kulit membentuk pori-pori keringat. Semua bagian tubuh dilengkapi

dengan kelenjar keringat dan lebih banyak terdapat dipermukaan

telapak tangan, telapak kaki, kening dan di bawah ketiak. Kelenjar

keringat mengatur suhu badan dan membantu membuang sisa-sisa

pencernaan dari tubuh. Kegiatannya terutama dirangsang oleh


panas, latihan jasmani, emosi dan obat-obat tertentu. Ada dua jenis

kelenjar keringat yaitu :

1. Kelenjar keringat ekrin, kelenjar keringat ini mensekresi cairan


jernih, yaitu keringat yang mengandung 95 97 persen air dan
mengandung beberapa mineral, seperti garam, sodium klorida,
granula minyak, glusida dan sampingan dari metabolisma
seluler. Kelenjar keringat ini terdapat di seluruh kulit, mulai dari
telapak tangan dan telapak kaki sampai ke kulit kepala.
Jumlahnya di seluruh badan sekitar dua juta dan menghasilkan
14 liter keringat dalam waktu 24 jam pada orang dewasa.Bentuk
kelenjar keringat ekrin langsing, bergulung-gulung dan
salurannya bermuara langsung pada permukaan kulit yang tidak
ada rambutnya.
2. Kelenjar keringat apokrin, yang hanya terdapat di daerah ketiak,
puting susu, pusar, daerah kelamin dan daerah sekitar dubur
(anogenital) menghasilkan cairan yang agak kental, berwarna
keputih-putihan serta berbau khas pada setiap orang. Sel
kelenjar ini mudah rusak dan sifatnya alkali sehingga dapat
menimbulkan bau. Muaranya berdekatan dengan muara
kelenjar sebasea pada saluran folikel rambut. Kelenjar keringat
apokrin jumlahnya tidak terlalu banyak dan hanya sedikit cairan
yang disekresikan dari kelenjar ini. Kelenjar apokrin mulai aktif
setelah usia akil baligh dan aktivitas kelenjar ini dipengaruhi
oleh hormon.
2.1.2 Dermis
Merupakan bagian yang paling penting di kulit yang sering dianggap sebagai
True Skin karena 95% dermis membentuk ketebalan kulit.Terdiri atas
jaringan ikat yang menyokong epidermis dan menghubungkannya dengan
jaringan subkutis. Tebalnya bervariasi, yang paling tebal pada telapak kaki
sekitar 3 mm.Kulit jangat atau dermis menjadi tempat ujung saraf perasa,
tempat keberadaan kandung rambut, kelenjar keringat, kelenjar-kelenjar palit
atau kelenjar minyak, pembuluh-pembuluh darah dan getah bening, dan otot
penegak rambut (muskulus arektor pili). Lapisan ini elastis & tahan lama,
berisi jaringan kompleks ujung-ujung syaraf, kelenjar sudorifera, kelenjar.
Sebasea, folikel jaringan rambut & pembuluh darah yang juga merupakan
penyedia nutrisi bagi lapisan dalam epidermis.

Dermis atau cutan (cutaneus), yaitu lapisan kulit di bawah epidermis.


Penyusun utama dari dermis adalah kolagen. Membentuk bagian terbesar kulit
dengan memberikan kekuatan dan struktur pada kulit, memiliki ketebalan
yang bervariasi bergantung pada daerah tubuh dan mencapai maksimum 4 mm
di daerah punggung. Dermis terdiri atas dua lapisan dengan batas yang tidak
nyata, yaitu stratum papilare dan stratum reticular.
1. Stratum papilare, yang merupakan bagian utama dari papila dermis,
terdiri atas jaringan ikat longgar. Pada stratum ini didapati fibroblast, sel
mast, makrofag, dan leukosit yang keluar dari pembuluh (ekstravasasi).
Lapisan papila dermis berada langsung di bawah epidermis tersusun
terutama dari sel-sel fibroblas yang dapat menghasilkan salah satu bentuk
kolagen, yaitu suatu komponen dari jaringan ikat. Dermis juga tersusun
dari pembuluh darah dan limfe, serabut saraf , kelenjar keringat dan
sebasea, serta akar rambut. Suatu bahan mirip gel, asam hialuronat,
disekresikan oleh sel-sel jaringan ikat. Bahan ini mengelilingi protein dan
menyebabkan kulit menjadi elastis dan memiliki turgor (tegangan). Pada
seluruh dermis dijumpai pembuluh darah, saraf sensorik dan simpatis,
pembuluh limfe, folikel rambut, serta kelenjar keringat dan palit. Lapisan
ini tipis mengandung jaringan ikat jarang.
2. Stratum retikulare, yang lebih tebal dari stratum papilare dan tersusun
atas jaringan ikat padat tak teratur. Terdiri atas serabut-serabut penunjang
(kolagen, elastin, retikulin), matiks (cairan kental asam hialuronat dan
kondroitin sulfat serta fibroblas). Serta terdiri dari sel fibroblast yang
memproduksi kolagen dan retikularis yang terdapat banyak pembuluh
darah , limfe, akar rambut, kelenjar keringat dan kelenjar sebaseus.
A. Lapisan dermis juga ini mengandung sel-sel khusus yang membantu
mengatur suhu, melawan infeksi, air menyimpan dan suplai darah
dan nutrisi ke kulit. Sel-sel khusus dari dermis juga membantu dalam
mendeteksi sensasi dan memberikan kekuatan dan fleksibilitas untuk
kulit. Komponen dermis meliputi:
B. Pembuluh darah berfungsi sebagai transport oksigen dan nutrisi ke
kulit dan mengeluarkan produk sampah. Kapal ini juga mengangkut
vitamin D dari kulit tubuh.
C. Pembuluh getah bening sebagai pasokan (cairan susu yang
mengandung sel-sel darah putih dari sistem kekebalan tubuh) pada
jaringan kulit untuk melawan mikroba.
D. Kelenjar Keringat untuk mengatur suhu tubuh dengan mengangkut
air ke permukaan kulit di mana ia dapat menguap untuk
mendinginkan kulit.
E. Sebasea (minyak) kelenjar yaitu membantu untuk kulit tahan air dan
melindungi terhadap mikroba. Mereka melekat pada folikel rambut.
F. Folikel rambut, seperti rongga berbentuk tabung yang melampirkan
akar rambut dan memberikan nutrisi pada rambut.
G. Sensory reseptor syaraf yang mengirimkan sensasi seperti sentuhan,
nyeri, dan intensitas panas ke otak.
H. Kolagen protein struktural tangguh yang memegang otot dan organ di
tempat dan memberikan kekuatan dan bentuk ke jaringan tubuh.
I. Elastin protein karet yang memberikan elastisitas dan membuat kulit
merenggang. Hal ini juga ditemukan di ligamen, organ, otot dan
dinding arteri.

2.1.3 Subkutan atau Hipodermis


Pada bagian subdermis ini terdiri atas jaringan ikat longgar berisi sel-sel
lemak di dalamnya.Pada lapisan ini terdapat ujung-ujung saraf tepi, pembuluh
darah dan getah bening. Untuk sel lemak pada subdermis, sel lemak
dipisahkan oleh trabekula yang fibrosa. Lapisan terdalam yang banyak
mengandung sel liposit yang menghasilkan banyak lemak. Disebut juga
panikulus adiposa yang berfungsi sebagai cadangan makanan. Berfungsi juga
sebagai bantalan antara kulit dan setruktur internal seperti otot dan tulang.
Sebagai mobilitas kulit, perubahan kontur tubuh dan penyekatan
panas.Sebagai bantalan terhadap trauma. Tempat penumpukan energi.
Lapisan ini terutama mengandung jaringan lemak, pembuluh
darah dan limfe, saraf-saraf yang berjalan sejajar dengan permukaan
kulit. Cabang-cabang dari pembuluh-pembuluh dan saraf-saraf menuju
lapisan kulit jangat. Jaringan ikat bawah kulit berfungsi sebagai
bantalan atau penyangga benturan bagi organ-organ tubuh bagian
dalam, membentuk kontur tubuh dan sebagai cadangan makanan.
Ketebalan dan kedalaman jaringan lemak bervariasi sepanjang kontur
tubuh, paling tebal di daerah pantat dan paling tipis terdapat di kelopak
mata. Jika usia menjadi tua, kinerja liposit dalam jaringan ikat bawah
kulit juga menurun. Bagian tubuh yang sebelumnya berisi banyak
lemak, lemaknya berkurang sehingga kulit akan mengendur serta
makin kehilangan kontur.
2.2 Pengertian Luka

Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh yang disebabkan
oleh trauma benda tajam atau tumpul, perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan
listrik atau gigitan hewan (R. Sjamsu Hidayat, 1997).
Luka adalah suatu gangguan dari kondisi normal pada kulit (Taylor, 1997).
Luka adalah kerusakan kontinyuitas kulit, mukosa membran dan tulang atau organ
tubuh lain(Kozier, 1995).
Luka kotor atau luka terinfeksi adalah luka dimana organisme yang
menyebabkan infeksi pascaoperatif terdapat dalam lapang operatif sebelum
pembedahan. Hal ini mencakup luka traumatik yang sudah lama dengan jaringan
yang terkelupas tertahan dan luka yang melibatkan infeksi klinis yang sudah ada
atau visera yang mengalami perforasi. Kemungkinan relatif infeksi luka adalah lebih
dari 27 %. (Potter and Perry, 2005)
Luka bersih adalah luka tidak terinfeksi yang memiliki inflamasi minimal dan
tidak sampai mengenai saluran pernapasan, pencernaan, genital atau perkemihan.

1. Perawatan Luka Bersih


Prosedur perawatan yang dilakukan pada luka bersih (tanpa ada pus dan
necrose), termasuk didalamnya mengganti balutan.
2. Perawatan Luka Kotor
Perawatan pada luka yang terjadi karena tekanan terus menerus pada bagian
tubuh tertentu sehingga sirkulasi darah ke daerah tersebut terganggu.

2.3 Jenis-jenis Luka


2.3.1 Berdasarkan sifat kejadian, dibagi menjadi 2, yaitu luka disengaja (luka
terkena radiasi atau bedah) dan luka tidak disengaja (luka terkena trauma).
Luka tidak disengaja dibagi menjadi 2, yaitu :
a. Luka tertutup : luka dimana jaringan yang ada pada permukaan tidak
rusak (kesleo, terkilir, patah tulang, dsb).
b. Luka terbuka : luka dimana kulit atau selaput jaringan rusak, kerusakan
terjadi karena kesengajaan (operasi) maupun ketidaksengajaan
(kecelakaan).
2.3.2 Berdasarkan penyebabnya, di bagi menjadi 2 yaitu luka mekanik dan non
mekanik :

a. Luka mekanik (cara luka didapat dan luas kulit yang terkena)

1. Luka insisi (Incised wound), terjadi karena teriris oleh instrumen


yang tajam. Luka dibuat secara sengaja, misal yang terjadi akibat
pembedahan.
2. Luka bersih (aseptik) biasanya tertutup oleh sutura setelah seluruh
pembuluh darah yang luka diikat (ligasi).
3. Luka memar (Contusion Wound), adalah luka yang tidak disengaja
terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan dan dikarakteristikkan
oleh: cedera pada jaringan lunak, perdarahan dan bengkak, namun
kulit tetap utuh. Pada luka tertutup, kulit terlihat memar.
4. Luka lecet (Abraded Wound), terjadi akibat kulit bergesekan dengan
benda lain yang biasanya dengan benda yang tidak tajam.
5. Luka tusuk (Punctured Wound), luka ini dibuat oleh benda yang
tajam yang memasuki kulit dan jaringan di bawahnya. Luka punktur
yang disengaja dibuat oleh jarum pada saat injeksi. Luka tusuk/
punktur yang tidak disengaja terjadi pada kasus: paku yang menusuk
alas kaki bila paku tersebut terinjak, luka akibat peluru atau pisau
yang masuk ke dalam kulit dengan diameter yang kecil.
6. Luka gores (Lacerated Wound), terjadi bila kulit tersobek secara
kasar. Ini terjadi secara tidak disengaja, biasanya disebabkan oleh
kecelakaan akibat benda yang tajam seperti oleh kaca atau oleh
kawat. Pada kasus kebidanan: robeknya perineum karena kelahiran
bayi.
7. Luka tembus/luka tembak (Penetrating Wound), yaitu luka yang
menembus organ tubuh biasanya pada bagian awal luka masuk
diameternya kecil tetapi pada bagian ujung biasanya lukanya akan
melebar, bagian tepi luka kehitaman.
8. Luka bakar (Combustio), luka yang terjadi karena jaringan tubuh
terbakar.
9. Luka gigitan (Morcum Wound), luka gigitan yang tidak jelas
bentuknya pada bagian luka.
10. Luka non mekanik : luka akibat zat kimia, termik, radiasi atau
serangan listrik.

2.3.3 Berdasarkan tingkat kontaminasi

a. Clean Wounds (luka bersih), yaitu luka bedah takterinfeksi yang mana
tidak terjadi proses peradangan (inflamasi) dan infeksi pada sistem
pernafasan, pencernaan, genital dan urinari tidak terjadi. Luka bersih
biasanya menghasilkan luka yang tertutup, jika diperlukan dimasukkan
drainase tertutup. Kemungkinan terjadinya infeksi luka sekitar 1% 5%.
b. Clean-contamined Wounds (luka bersih terkontaminasi), merupakan
luka pembedahan dimana saluran respirasi, pencernaan, genital atau
perkemihan dalam kondisi terkontrol, kontaminasi tidak selalu terjadi,
kemungkinan timbulnya infeksi luka adalah 3% 11%.
c. Contamined Wounds (luka terkontaminasi), termasuk luka terbuka,
fresh, luka akibat kecelakaan dan operasi dengan kerusakan besar
dengan teknik aseptik atau kontaminasi dari saluran cerna. Pada kategori
ini juga termasuk insisi akut, inflamasi nonpurulen. Kemungkinan
infeksi luka 10% 17%.
d. Dirty or Infected Wounds (luka kotor atau infeksi), yaitu terdapatnya
mikroorganisme pada luka.

2.3.4 Berdasarkan kedalaman dan luasnya luka

a. Stadium I : Luka Superfisial (Non-Blanching Erithema) : yaitu luka


yang terjadi pada lapisan epidermis kulit.
b. Stadium II : Luka Partial Thickness : yaitu hilangnya lapisan kulit
pada lapisan epidermis dan bagian atas dari dermis. Merupakan luka
superficial dan adanya tanda klinis seperti abrasi, blister atau lubang
yang dangkal.
c. Stadium III : Luka Full Thickness : yaitu hilangnya kulit keseluruhan
meliputi kerusakan atau nekrosis jaringan subkutan yang dapat meluas
sampai bawah tetapi tidak melewati jaringan yang mendasarinya.
Lukanya sampai pada lapisan epidermis, dermis dan fasia tetapi tidak
mengenai otot. Luka timbul secara klinis sebagai suatu lubang yang
dalam dengan atau tanpa merusak jaringan sekitarnya.
d. Stadium IV : Luka Full Thickness yang telah mencapai lapisan otot,
tendon dan tulang dengan adanya destruksi/kerusakan yang luas.

2.3.5 Berdasarkan waktu penyembuhan luka

a. Luka akut : yaitu luka dengan masa penyembuhan sesuai dengan konsep
penyembuhan yang telah disepakati.
b. Luka kronis : yaitu luka yang mengalami kegagalan dalam proses
penyembuhan, dapat karena faktor eksogen dan endogen.

2.4 Mekanisme Terjadinya Luka

Tubuh biasanya mengabsorbsi kekuatan baik dari elastisitas jaringan atau


kekuatan rangka. Intensitas tekanan mengikuti hukum fisika. Hukum fisika yang
terkenal dimana kekuatan = masa x kecepatan. Sebagai contoh, 1 kg batu bata
ditekankan ke kepala tidak akan menyebabkan luka, namun batu bata yang sama
dilemparkan ke kepala dengan kecepatan 10 m/s menyebabkan perlukaan.
Faktor lain yang penting adalah daerah yang mendapatkan kekuatan. Kekuatan
dari masa dan kecepatan yang sama yang terjadi pada dareah yang lebih kecil
menyebabkan pukulan yang lebih besar pada jaringan. Pada luka tusuk, semua
energi kinetik terkonsentrasi pada ujung pisau sehingga terjadi perlukaaan,
sementara dengan energi yang sama pada pukulan oleh karena tongkat pemukul
kriket mungkin bahkan tidak menimbulkan memar.
Efek dari kekuatan mekanis yang berlebih pada jaringan tubuh dan
menyebabkan penekanan, penarikan, perputaran, luka iris. Kerusakan yang terjadi
tergantung tidak hanya pada jenis penyebab mekanisnya tetapi juga target
jaringannya. Contohnya, kekerasan penekanan pada ledakan mungkin hanya sedikit
perlukaan pada otot namun dapat menyebabkan ruptur paru atau intestinal,
sementara pada torsi mungkin tidaka memberikan efek pada jaringan adiposa
namun menyebabkan fraktur spiral pada femur.

2.5 Proses Penyembuhan Luka

Penyembuhan luka merupakan suatu proses penggantian jaringan yang mati/rusak


dengan jaringan baru dan sehat oleh tubuh dengan jalan regenerasi. Luka dikatakan
sembuh apabila permukaannya dapat bersatu kembali dan didapatkan kekuatan
jaringan yang mencapai normal.
Penyembuhan luka meliputi 2 kategori yaitu, pemulihan jaringan ialah regenerasi
jaringan pulih seperti semula baik struktur maupun fungsinya dan repair ialah
pemulihan atau penggantian oleh jaringan ikat (Mawardi-Hasan,2002).
Penyembuhan luka dapat terjadi secara:

1. Per Primam yaitu penyembuhan yang terjadi setelah segera diusahakan


bertautnya tepi luka biasanya dengan jahitan.
2. Per Sekundem yaitu luka yang tidak mengalami penyembuhan per primam.
Proses penyembuhan terjadi lebih kompleks dan lebih lama. Luka jenis ini
biasanya tetap terbuka. Biasanya dijumpai pada luka-luka dengan kehilangan
jaringan, terkontaminasi/terinfeksi. Penyembuhan dimulai dari lapisan dalam
dengan pembentukan jaringan granulasi.
3. Per Tertiam atau Per Primam tertunda yaitu luka yang dibiarkan terbuka selama
beberapa hari setelah tindakan debridemen setelah diyakini bersih, tetapi luka
dipertautkan (4-7 hari).
Proses penyembuhan luka yang terjadi adalah sebagai berikut:

1. Fase Inflamasi; Berlangsung sampai hari ke-5. Akibat luka terjadi


pendarahan, tubuh akan berusaha menghentikannya dengan vasokonstriksi,
pengerutan ujung pembuluh yang terputus (retraksi) dan reaksi hemostasis.
Hemostasis terjadi karena keluarnya trombosit, trombosit mengeluarkan
prostaglandin, tromboksan, bahan kimia tertentu dan asam amino tertentu yang
mempengaruhi pembekuan darah, mengatur tonus dinding pembuluh darah dan
kemotaksis terhadap leukosit. Sel radang keluar dari pembuluh darah secara
diapedesis dan menuju daerah luka secara kemotaksis. Sel Mast mengeluarkan
serotinin dan histamin yang meningkatkan permiabilitas kapiler, terjadi
eksudasi cairan oedema. Dengan demikian akan timbul tanda-tanda radang.
Leukosit, limfosit dan monosit menghancurkan dan memakan kotoran dan
kuman. Pertautan pada fase ini hanya oleh fibrin, belum ada kekuatan pertautan
luka sehingga disebut fase tertinggal (lag phase). Berat ringannya reaksi radang
ini dipengaruhi juga oleh adanya benda-benda asing dari luar tubuh, misalnya:
benang jahit, infeksi kuman dll. Tidak adanya serum maupun pus/nanah
menunjukkan reaksi radang yang terjadi bukan karena infeksi kuman tetapi
karena proses penyembuhan luka.
2. Fase Proliferasi atau Fibroplasi: Berlangsung dari akhir masa inflamasi
sampai kira-kira minggu ke-3. Pada fase ini terjadi proliferasi dari fibroblast
yang menghasilkan mukopolisakarida, asamaminoglisin dan prolin yang akan
mempertautkan tepi luka. Pada fase ini terbentuk jaringan granulasi.
Pembentukan jaringan granulasi berhenti setelah seluruh permukaan luka
tertutup epitel dan mulailah proses pendewasaan penyembuhan luka,
pengaturan kembali dan penyerapan yang berlebih.
3. Fase Remodelling/Fase Resorbsi/Fase penyudahan: Pada fase ini terjadi
proses pematangan yang terdiri dari penyerapan kembali jaringan yang
berlebih, pengerutan sesuai dengan gaya gravitasi dan akhirnya perupaan
kembali jaringan yang baru terbentuk. Fase ini berakhir bila tanda radang sudah
hilang.

2.6 Faktor yang Mempengaruhi Proses Penyembuhan Luka

1. Koagulasi; Adanya kelainan pembekuan darah (koagulasi) akan menghambat


penyembuhan luka sebab hemostasis merupakan tolak dan dasar fase inflamasi.
2. Gangguan sistem Imun (infeksi,virus); Gangguan sistem imun akan
menghambat dan mengubah reaksi tubuh terhadap luka, kematian jaringan dan
kontaminasi. Bila sistem daya tahan tubuh, baik seluler maupun humoral
terganggu, maka pembersihan kontaminasi dan jaringan mati serta penahanan
infeksi tidak berjalan baik.
3. Gizi (kelaparan, malabsorbsi), Gizi kurang juga: mempengaruhi sistem
imun.
4. Penyakit Kronis; Penyakit kronis seperti TBC, Diabetes, juga mempengaruhi
sistem imun.
5. Keganasan; Keganasan tahap lanjut dapat menyebabkan gangguan sistem
imun yang akan mengganggu penyembuhan luka.
6. Obat-obatan; Pemberian sitostatika, obat penekan reaksi imun, kortikosteroid
dan sitotoksik mempengaruhi penyembuhan luka dengan menekan pembelahan
fibroblast dan sintesis kolagen.
7. Teknik Penjahitan; Tehnik penjahitan luka yang tidak dilakukan lapisan demi
lapisan akan mengganggu penyembuhan luka.
8. Kebersihan diri/Personal Hygiene; Kebersihan diri seseorang akan
mempengaruhi proses penyembuhan luka, karena kuman setiap saat dapat
masuk melalui luka bila kebersihan diri kurang.
9. Vaskularisasi baik proses penyembuhan berlangsung; cepat, sementara
daerah yang memiliki vaskularisasi kurang baik proses penyembuhan
membutuhkan waktu lama.
BAB III
PROSEDUR

TINDAKAN KEPERAWATAN
A. Persiapan alat
1. Luka bersih
Alat steril
a. Pincet anatomi 1
b. Pinchet chirurgie 1.
c. Gunting Luka (Lurus).
d. Kapas Lidi.
e. Kasa Steril.
f. Kasa Penekan (deppers).
g. Mangkok / kom Kecil

Alat tidak steril


a. Gunting pembalut.
b. Plaster.
c. Bengkok/ kantong plastik.
d. Pembalut.
e. Alkohol 70 %.
f. Betadine 10 %.
g. Bensin/ Aseton.
h. Obat antiseptic/ desinfektan.
i. NaCl 0,9 % .
2. Luka kotor
Alat steril
a. Pincet anatomi 1.
b. Pinchet chirurgie 2.
c. Gunting Luka (Lurus dan bengkok).
d. Kapas Lidi.
e. Kasa Steril.
f. Kasa Penekan (deppers).
g. Sarung Tangan.
h. Mangkok / kom Kecil 2

Alat tidak steril


a. Gunting pembalut.
b. Plaster.
c. Bengkok/ kantong plastic.
d. Pembalut.
e. Alkohol 70 %.
f. Betadine 2 %.
g. H2O2, savlon.
h. Bensin/ Aseton.
i. Obat antiseptic/ desinfektan.
j. NaCl 0,9 %
k. Persiapan pasien
1) Perkenalkan diri.
2) Jelaskan tujuan.
3) Jelaskan prosedur perawatan pada pasien.
4) Persetujuan pasien.
B. Prosedur pelaksanaan
1. Luka bersih
Prosedur pelaksanaan:
a. Jelaskan prosedur perawatan pada pasien.
b. Tempatkan alat yang sesuai.
c. Cuci tangan.
d. Buka pembalut dan buang pada tempatnya.
e. Bila balutan lengket pada bekas luka, lepas dengan larutan steril atau NaCl.
f. Bersihkan bekas plester dengan wash bensin/aseton (bila tidak kontra indikasi),
dari arah dalam ke luar.
g. Desinfektan sekitar luka dengan alkohol 70%.
h. Buanglah kapas kotor pada tempatnya dan pincet kotor tempatkan pada
bengkok dengan larutan desinfektan.
i. Bersihkan luka dengan NaCl 0,9 % dan keringkan.
j. Olesi luka dengan betadine 2 % (sesuai advis dari dokter) dan tutup luka
dengan kasa steril.
k. Plester perban atau kasa.
l. Rapikan pasien.
m. Alat bereskan dan cuci tangan.
n. Catat kondisi dan perkembangan luka.

2. Luka kotor
a. Prosedur pelaksanaan
b. Jelaskan prosedur perawatan pada pasien.
c. Tempatkan alat yang sesuai.
d. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan (mengurangi transmisi pathogen yang
berasal dari darah). Sarung tangan digunakan saat memegang bahan berair
dari cairan tubuh.
e. Buka pembalut dan buang pada tempatnya serta kajilah luka becubitus yang
ada.
f. Bersihkan bekas plester dengan wash bensin/aseton (bila tidak kontra
indikasi), dari arah dalam ke luar.
g. Desinfektan sekitar luka dengan alkohol 70%.
h. Buanglah kapas kotor pada tempatnya dan pincet kotor tempatkan pada
bengkok dengan larutan desinfektan.
i. Bersihkan luka dengan H2O2 / savlon.
j. Bersihkan luka dengan NaCl 0,9 % dan keringkan.
k. Olesi luka dengan betadine 2 % (sesuai advis dari dokter) dan tutup luka
dengan kasa steril.
l. Plester perban atau kasa.
m. Rapikan pasien.
n. Alat bereskan dan cuci tangan.
o. Catat kondisi dan perkembangan luka
C. EVALUASI
1) Dimensi luka : ukuran, kedalaman, panjang, lebar.
2) Pengkajian luka.
3) Frekuensi pengkajian.
4) Rencana keperawatan.

D. DOKUMENTASI
1) Potential masalah.
2) Komunikasi yang adekuat.
3) Perawatan lanjut.
4) Mengkaji perkembangan terapi atau masalah lain yang timbul.
5) Harus bersifat faktual, tidak subjektif.
6) Tabel pengkajian luka.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kulit merupakan organ tubuh yang paling luas yang berkontribusi terhadap total
berat tubuh,keberadaan kulit memegang peranan penting dalam mencegah dari
beberapa hal seperti terjadinya luka,terinfeksi bakteri,terhindar dari bahan kimia,dan
radiasi ultraviolet.
Luka memiliki banyak macam diantaranya luka bersih,luka kotor,luka drain,lika
dapat disembuhkan dengan cepat dan tepat dengan cara penggunaan standar operasional
prosedur (SOP) yang baik.
B. Saran
Semoga makalah ini dapat digunakan sebagai pedoman dalam pembelajaran
keperawatan luka modern yang membuat mahasiswa keperawatan menjadi seorang
perawat berkompeten dan berdaya saing untuk masa depan.
Daftar Pustaka
https://muhammadrifkyhidayatullah.wordpress.com/2013/04/21/anatomi-dan-fisiologi-
sistem-integumen/. Diambil pada tanggal 4 April 2017. Pada pukul 11:00 WIB.

http://www.idmedis.com/2015/09/definisi-luka-dan-jenis-jenis-luka.html. Diambil pada


tanggal 4 April 2017. Pada pukul 11:20 WIB.

http://okyfauzi.blogspot.co.id/2012/05/asuhan-keperawatan-luka-kotor-dan-luka.html.
Diambil pada tanggal 4 April 2017. Pada pukul 13:00 WIB.

https://oshigita.wordpress.com/2014/03/05/jenis-jenis-luka/. Diambil pada tanggal 4 April


2017. Pada pukul 13:45 WIB.

http://noranindi.blogspot.co.id/2013/04/mekanisme-luka.html. Diambil pada tanggal 4


April 2017. Pada pukul 14:20 WIB.

http://perawatpskiatri.blogspot.co.id/2009/03/proses-penyembuhan-luka.html. Diambil
pada tanggal 4 April 2017. Pada pukul 15:10 WIB.