Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN

SATUAN ACARA PENDIDIKAN KESEHATAN (SAP)


MOBILISASI PADA PASIEN POST OPERASI
DI BANGSAL MAWAR RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA

Topik : Mobilisasi Pada Pasien Post Operasi


Sasaran : Pasien dan Keluarga.
Waktu : 30 menit.
Hari/Tanggal/Pukul : Rabu, 11 Oktober 2017 / 10.00 WIB
Tempat : Bangsal Mawar, RSUD dr. Moewardi Surakarta
Pelaksana : Mahasiswa Program Profesi Ners UMS

A. LATAR BELAKANG
Mobilisasi merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak bebas, mudah
teratur, mempunyai tujuan memenuhi kebutuhan hidup sehat, dan terpenting untuk
kemandirian (Berman et al, 2015).
Mobilisasi pasca operasi yaitu proses aktivitas yang dilakukan pasca pembedahan
dilmulai dari latihan ringan diatas tempat tidur (latihan pernafasan, latihan batuk
efektif, dan mngerakkan tungkai) sampai dengan pasien bisa turun dari tempat tidur,
berjalan kekamar mandi dan berjalan keluar kamar (Bunner & Suddarth, 2010)
Mobilisasi Post Operasi merupakan suatu aspek yang terpenting pada fungsi
fisiologis karena hal itu esensial untuk mempertahankan kemandirian. Dari definisi
tersebut dapat disimpulkan bahwa mobilisasi Post Operasi adalah suatu upaya
mempertahankan kemandirian sedini mungkin dengan cara membimbing penderita
untuk mempertahankan fungsi fisiologis.
Mobilisasi secara tahap demi tahap sangat berguna untuk membantu jalannya
penyembuhan pasien. Secara psikologis mobilisasi akan memberikan kepercayaan
kepada pasien bahwa pasien mulai merasa sembuh. Selain itu manfaat dari mobilitas
dini pada pasien pasca operasi dapat menurunkan terjadinya venostasis
(menghambatnya aliran darah kebagian tubuh), melancarkan stimulasi sirkulasi,
mencegah terjadinya dekubitus, meningkatkan tonus otot, dan meningkatkan
gastrointestin dan fungsi pulmonal (Morris et al, 2010)
Sebelumnya penyeluh melakukan survey dan didapatkan data dari perawat bangsal
mengatakan bahwa terdapat banyak pasien post operasi yang menjalani rawat inap
lebih dari tujuh hari dan immobilitas. Penyuluh juga melakukan pengamatan kepada
salah satu pasien mengatakan belum pernah melakukan alih baring dan lebih sering
terbaring diatas tempat tidur dan pasien sering mengeluh kaku dan kelelahan. Oleh
karena itu penyuluh melakuak penyuluhan tentang mobilisasi pada pasien post
operasi

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah dilakukan penyuluhan pasien dan keluarga diharapkan dapat mengetahui
dan memahami tentang mobilisasi pasca operasi.
2. Tujuan Khusus
Setelah dilakukan penyuluhan pasien dan keluarga, diharapkan dapat
menyebutkan:
a. Pengertian dari mobilisasi post operasi
b. Tujuan dari melakukan mobilisasi post operasi
c. Manfaat mobilisasi post operasi
d. Faktor-faktor yang mempengaruhi mobilisasi post operasi
e. Macam-macam mobilisasi post operasi
f. Indikasi dilakukan mobilisasi post operasi
g. Kontraindikasi dilakukan mobilisasi post operasi
h. Tahap-tahap mobilisasi post operasi

C. Sasaran
Sasaran adalah pasien pasca operasi dan keluarga yang sedang berada di rumah sakit.
D. Materi Penyuluhan
TERLAMPIR

E. Metode
1. Ceramah
2. Demonstrasi

F. Media
1. Alat
a. Leaflet
b. LCD

2. Setting Tempat

Keterangan gambar :
: Pembawa Materi
: Peserta
: Fasilitator
: Moderator
G. ORGANISASI PELAKSANA
1. Pembawa Materi : Lintang Puspita
Bertugas menyampaikan dan menjelaskan materi yang ada dengan cara yang
singkat dan jelas dan bermakna
2. Moderator : Irfan Fauzi
Bertugas memandu, mengarahkan dan memimpin jalannya diskusi, menggunakan
waktu secara tepat dan menutup diskusi.
3. Fasilitator : Gandria, Rosalina, dan Pradhitya
a. Memfasilitasi setiap peserta penyuluhan, membangkitkan kemampuan peserta
untuk aktif dalam diskusi.
b. Bertugas mengobservasi jalannya diskusi, mencatat segala hal yang penting
yang terjadi selama acara penyuluhan berlangsung dan berhak menegur
moderator bila terjadi penyimpangan dalam penggunaan waktu.
c. Mencatat semua hasil diskusi mulai dari jalannya diskusi sampai berakhirnya
diskusi kemudian melaporkan hasilnya pada peserta.

F. Kegiatan

No. Kegiatan Penyuluhan Kegiatan

1. Membuka penyuluhan 1. Memberi salam


(5 menit) 2. Menjelaskan tujuan
3. Kontrak waktu
4. Menggali pengetahuan peserta tentang
pengertian mobilisisasi
2. Penyajian materi 1. Menjelaskan pengertian dari mobilisasi post
(15 menit) operasi
2. Menjelaskan tujuan dari melakukan
mobilisasi post operasi
3. Menjelaskan manfaat mobilisasi post operasi
4. Menjelaskan faktor-faktor yang
mempengaruhi mobilisasi post operasi
5. Menjelaskan macam-macam mobilisasi post
operasi
6. Menjelasakan indikasi dilakukan mobilisasi
post operasi
7. Menjalaskan kontraindikasi dilakukan
mobilisasi post operasi
8. Menjelaskan tahap-tahap mobilisasi post
operasi
9. Mendemonstrasikan mobilisasi post operasi

3. Menutup penyuluhan 1. Memberikan kesempatan kepada keluarga


(10 menit) untuk bertanya
2. Menjelaskan kembali hal yang belum
dimengerti oleh sasaran.
3. Menanyakan kembali materi yang telah
diberikan
a. Apa pengertian mobilisasi post operasi
b. Apa tujuan dilakukan mobilisasi
c. Apa manfaat dilakukan mobilisasi
d. Apa saja faktor yang mempengaruhi
mobilisasi
e. Indikasi dan kontraindikasi dilakukan post
operasi
f. Tahap-tahap mobilisasi post operasi
4. Mengucapkan terima kasih dan salam

G. Evaluasi
Penyuluhan tentang Mobilisasi Post Operasi telah dilakukan pada hari Rabu
tanggal 11 Oktober 2017 pukul 10.00 WIB di Ruang Mawar RSUD dr. Moewardi
Surkarta. Penyuluhan telah berjalan selama 30 menit dengan peserta sebanyak 8
pasien beserta 1 orang keluarga dari tiap-tiap pasien. Metode yang digunakan adalah
ceramah tentang Mobilisasi Post Operasi dan demostrasi gerakan post operasi.
Seluruh peserta antusias terhadap kegiatan penyuluhan ini. Saat proses
penyuluhan, tidak ada peserta yang meninggalkan tempat penyeluhan. Pada fase
tanya jawab, terdapat dua penanya, antara lain:
1. Kelurga Tn. T bertanya Bagaimana cara melakukan posisi duduk atau
berjalan namun pasien terpasang selang dipunggung?.
Jawaban: keluarga dapat membantu untuk memegang selangnya dan
dipastikan pasien dalam posisi kuat dan tidak lemas, menghindari terjadinya
resiko jatuh. Amanya pasien diminta duduk saja tanpa perlu berjalan.
2. Keluarga Tn. M bertanya Apakah boleh dilakukan mobilisasi pada pasien
patah tulang?.
Jawaban: Boleh, namun harus menanyakan terlebih dahulu kepada pasien
apakah pasien kuat dan mampun, untuk lebih amannya lakukan gerakan yang
ke-2 alih baring (miring kanan-kiri) untuk menghindari nyeri yang sangat.
Pada fase evaluasi, moderator mengevaluasi peserta penyuluhan dengan
menanyakan kembali materi yang telah disampaikan oleh pemateri. Pertanyaan
ditujukan kepada peserta yang secara acak ditunjuk untuk menjawab pertanyaan.
Pertanyaan yang diberikan antara lain:
1. Apa pengertian mobilisasi post operasi?
2. Apa indikasi boleh dilakukan mobilisasi post operasi?
3. Ada berapa gerakan mobilisasi post operasi?
Hasil evalusai yang diperoleh adalah 3 dari 8 peserta dan kelarga dapat menjawab
dengan benar terkait pertanyaan yang diberikan. Peserta yang dapat menjawab
pertanyaan dengan benar menandakan bahwa informasi yang diberikan oleh
kelompok mampu diserap dan dipraktikan kepada pasien.
MATERI
MOBILISASI PADA PASIEN POST OPERASI

1. Pengertian Mobilisasi Post Operasi


Mobilisasi setelah operasi yaitu proses aktivitas yang dilakukan setelah operasi
dimulai dari latihan ringan diatas tempat tidur sampai dengan bisa turun dari tempat
tidur, berjalan kekamar mandi dan berjalan ke luar kamar (Brunner &Suddarth, 2010).
Mobilisasi dini termasuk salah satu faktor yang dapat memengaruhi proses
penyembuhan luka pasca operasi. Mobilisasi dini merupakan gerakan yang segera
dilakukan setelah operasi. Tindakan ini dilakukan bertujuan untuk mengembalikan
fungsi otot-otot perut agar tidak kaku dan mengurangi rasa sakit sehingga diharapkan
dapat mempercepat proses penyembuhan luka (Anggraini, 2013).
Mobilisasi dini setelah operasi memiliki banyak manfaat bagi pasien dapat
menurunkan angka mortalitas dan morbiditas pada pasien, dengan melakukan
mobilisasi dini maka akan diikuti fungsi sendi yang kembali normal dan menurunkan
angka Length of Stay atau lama rawat di rumah sakit. Selain itu mobilitas juga
menurunkan terjadinya angka ulkus karena adanya tekanan yang terus menerus akibat
terlalu banyak berbaring (Nancy, 2014).

2. Tujuan Mobilisasi Post Operasi


Beberapa tujuan dari mobilisasi menurut Morris et al (2010), antara lain:
a. Mempertahankan fungsi tubuh
b. Memperlancar peredaran darah
c. Membantu pernafasan menjadi lebih baik
d. Mempertahankan tonus otot
e. Memperlancar eliminasi urine
f. Mempercepat proses penutupan jahitan operasi
g. Mengembalikan aktivitas tertentu, sehingga pasien dapat kembali normal dan
atau dapat memenuhi kebutuhan gerak harian.

3. Manfaat Mobilisasi Post Operasi


Menurut Anggraini (2013), manfaat mobilisasi bagi post operasi adalah
a. Membantu mempercepat proses penyembuhan luka pasca operasi.
b. Mengembalikan fungsi otot-otot perut agar tidak kembali kaku.
c. Mengurangi rasa sakit sehingga diharapkan mempercepat proses pemulihan,
dan Nancy (2014) menambahkan mafaat mobilisasi adalah:
d. Meningkatkan prognosis (Menurunkan angka morbiditas).
e. Menurunkan angka Length of Stay atau lama rawat di rumah sakit.
f. Menurunkan kemungkinan terjadinya ulkus karena adanya penekanan terus
menerus.

4. Faktor yang mempengaruhi


Menurut Kozier, 2008, faktor-faktor yang mempengaruhi mobilisasi dini pot operasi
dapat segera terlaksana antara lain :
a. Gaya hidup
Gaya hidup seseorang sangat tergantung dari tingkat pendidikannya. Makin
tinggi tingkat pendidikan seseorang akan diikuti oleh perilaku yang dapat
meningkatkan kesehatannya. Demikian halnya dengan pengetahuan kesehatan
tentang mobilitas seseorang akan senantiasa melakukan mobilisasi dengan cara
yang sehat.
b. Proses penyakit atau trauma
Adanya penyakit tertentu yang diderita seseorang akan mempengaruhi
mobilitasnya, misalnya; seorang yang patah tulang akan kesulitan untuk
mobilisasi secara bebas. Demikian pula orang yang baru menjalani operasi,
karena adanya rasa sakit atau nyeri yang menjadi alasan mereka cenderung
untuk bergerak lebih lamban. Ada kalanya klien harus istirahat di tempat tidur
karena menderita penyakit tertentu.
c. Kebudayaan
Kebudayaan dapat mempengaruhi pola dan sikap dalam melakukan aktifitas
misalnya; pasien setelah operasi dilarang bergerak karena kepercayaan kalau
banyak bergerak nanti luka atau jahitan tidak jadi.
d. Tingkat energi
Kebudayaan dapat mempengaruhi pola dan sikap dalam melakukan aktifitas
misalnya; pasien setelah operasi dilarang bergerak karena kepercayaan kalau
banyak bergerak nanti luka atau jahitan tidak jadi.
e. Usia dan tingkat perkembangannya
Seorang anak akan berbeda tingkat kemampuan mobilitasnya dibandingkan
dengan seorang remaja.
f. Peran keluarga, terutama orang tua
Dukungan dan motivasi dalam keluarga yang kuat akan memicu anak untuk
berani melakukan mobilisasi dini paska operasi. Mobilisasi secara tahap demi
tahap sangat berguna untuk membantu jalannya penyembuhan pasien. Secara
psikologis mobilisasi akan memberikan kepercayaan pada pasien bahwa dia
mulai merasa sembuh. Perubahan gerakan dan posisi ini harus diterangkan pada
pasien atau keluarga yang menunggui. Pasien dan keluarga akan dapat
mengetahui manfaat mobilisasi, sehingga akan berpartisipasi dalam
pelaksanaan mobilisasi.

5. Macam-macam mobilisasi post operasi


Menurut Rehman et al (2012) mobilisasi dibagi menjadi :
a. Mobilisasi pasif
Dimana pasien dalam menggerakkan tubuhnya dengan cara di bantu dengan
orang lain seara total atau keseluruhan.
b. Mobilisasi aktif
Dimana pasien dalam menggerakkan anggota tubuhnya dilakukan secara
mandiri tanpa bantuan dari orang lain.
Sedangkan Menurut Carpenito (2000) dalam mobilisasi terdapat tiga rentang
gerak yaitu :
a. Rentang gerak pasif
Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot dan
persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya perawat
mengangkat dan menggerakkan kaki pasien
b. Rentang gerak aktif
Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara
menggunakan otot-ototnya secara aktif misalnya berbaring pasien
menggerakkan kakinya.
c. Rentang gerak fungsional
Berguna untuk memperkuat otot-otot dan sendi dengan melakukan aktifitas
yang diperlukan.

6. Indikasi dilakukan mobilisasi post operasi


Latihan mobilisasi biasanya diberikan pada pasien dengan :
a. Fraktur extremitas bawah yang telah diindikasikan untuk latihan mobilisasi
b. Post pengobatan kompresi lumbal (tulang belakang)
c. Pasien pasca serangan stroke dengan kerusakan mobilitas fisik,
d. Pasien post operasi yang memerlukan latihan mobilisasi, seperti kolostomi
atau laparostomi.

7. Kontraindikasi dilakukan mobilisasi post operasi


Pada kasus tertentu istirahat di tempat tidur diperlukan dalam periode tidak terlalu
lama seperti kasus pasien dengan infark miokard, disritmia jantung atau shock
sepsis, kontraindikasi lain dapat ditemukan pada kelemahan umum dengan tingkat
energy yang kurang.
8. Tahap-tahap mobilisasi post operasi
Menurut Clark et al (2013), dibagi menjadi 4 tahap yaitu:
a. Pada 6-10 jam pertama pasca operasi diharapkan pasien sadar dan sudah
mampu melakukan latihan pernapasan, batuk efektif, dan diajarkan miring
kanan-kiri
Gunakan posisi miring 300 dengan bergantian antara sisi kanan dan kiri, serta
sisi bagian belakang. Atau posisi tengkurap apabila kondisi pasien
memungkinkan
1) Berikan dukungan pada pasien yang sudah mampu melakukan reposisi
secara mandiri dengan tidur dalam posisi miring 300 sampai dengan 400
2) Larang posisi yang dapat meningkatkan adanya tekanan seperti posisi
miring 900, atau posisi semi recumbent
b. Pada hari ke 2 (24 jam kedua) pasca operasi, pasien dilatih duduk selama
kurang lebih 5 menit tanpa bersandar, kemudian di lanjutkan duduk ditepi
tempat tidur.
c. Pada hari ke 3 (24 jam ketiga), pasien dianjurkan untuk latihan berdiri di
samping tempat tidur dan latihan berjalan disekitar tempat tidur.
d. Pada hari ke 4-5 (24 jam keempat), pasien diharapkan sudah dapat berjalan
secara mandiri.
DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, Meiga. 2013. Pengaruh Mobilisasi Dini Terhadap Keberhasilan Penyembuhan


Luka Pada Pasien Pasca Operasi Di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.
Yogyakarta : STIKES AISYIYAH Yogyakarta

Berman, A., Snyder, S. J., & Frandsen, G. (2015). Kozier & Erb's Fundamental of Nursing
Concepts, Process, and Practice Tenth Edition. England: Pearson Education
Limited.

Clark, E. Diane, Lowman, D. John, Griffin, L., Rusell, Mattehws, M. Helen, Reiff, A.
Donald. (2013). Effectiveness of an Early Mobilization Protocol in a Trauma and
Burn Intensive Care Unit. Criticall Illness, 93, 186-196.

Epstein, Nancy E. A review article on the benefts of early mobilization following spinal
surgery and other medical/surgical procedures. 2014. Spine 2014, Vol 5, Suppl 3 - A
Supplement to Surgical Neurology International

Morris, B. A., Benetti, M., Marro, H., & Rosenthal, C. K. (2010). Clinical Practice
Guidelines For Early Mobilization Hours After Surgery. Orthopaedic Nursing,
290-316.

National Pressure Ulcer Advisory Panel. Prevention and Treatment of Pressure Ulcers:
Quick Reference Guide. 2014. Cambrige Media

Rehman, Syed Shakil., Sohail Iqbal Sheikh & Khalid Farooq Danish. 2012. The Role of
Early Mobilization in the Prevention of Post Operative Wound Infection after Lower
Extremity Orthopedic Surgeries . Department of Physiotherapy Riphah International
University Rawalpindhi.

Smeltzer, S. C., Bare, B. G., Hinkle, J. L., & Cheever, K. H. (2010) Medical Surgical
Nursing. ISBN 978-0-7817-8592-1
Suddarth, B. &. (2010). Text Book Of Medical Surgical Nursing 12th Edition.
Philadelphia: Lippincott, William.
LAPORAN
SATUAN ACARA PENDIDIKAN KESEHATAN (SAP)
MOBILITAS PADA PASIEN POST OPERASI
DI BANGSAL MAWAR RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA

Disusun untuk memenuhi tugas


Stase Keperawatan Medikal Bedah

Disusun Oleh:

IRFAN FAUZI J230170121


LINTANG PUSPITA P J230170099
ROSALINA KUSUMA W J230170062
PRADITHYA ANUGRAH P J230170055
GANDRIA PUTRI N J230170125

PROGRAM PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2017
Lampiran
Dokumentasi