Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

RETINO BLASTOMA DI RUANG MELATI


RSUD dr. MOEWARDI SURAKARTA

Disusun Oleh:

IRFAN FAUZI
J 230 170 121

PROGRAM PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2017
LAPORAN PENDAHULUAN
RETINO BLASTOMA

A. PENGERTIAN
Retinoblastoma adalah tumor endookular pada anak yang mengenai saraf
embrionik retina. Kasus ini jarang terjadi, sehingga sulit untuk dideteksi secara
awal. Rata-rata usia klien saat diagnosis adalah 24 bulan pada kasus unilateral, 13
bulan pada kasus kasus bilateral. Beberapa kasus bilateral tampak sebagai kasus
unilateral, dan tumor pada bagian mata yang lain terdeteksi pada saat pemeriksaan
evaluasi. Ini menunjukkan pentingnya untuk memeriksa klien dengan anestesi
pada anak dengan retinoblastoma unilateral, khususnya pada usia dibawah 1
tahun. (Pudjo Hagung Sutaryo, 2006 ).
Retinoblastoma adalah kanker pada retina (daerah di belakang mata yang
peka terhadap cahaya) yang menyerang anak berumur kurang dari 5 tahun. 2%
dari kanker pada masa kanak-kanak adalah retinoblastoma.
Retinoblastoma adalah suatu neoplasma yang berasal dari neuroretina (sel
kerucut sel batang) atau sel glia yang bersifat ganas. Merupakan tumor ganas
intraokuler yang ditemukan pada anak-anak, terutama pada usia dibawah lima
tahun. Tumor berasal dari jaringan retina embrional. Dapat terjadi unilateral
(70%) dan bilateral (30%). Sebagian besar kasus bilateral bersifat herediter yang
diwariskan melalui kromosom. Massa tumor diretina dapat tumbuh kedalam
vitreus (endofitik) dan tumbuh menembus keluar (eksofitik). Pada beberapa kasus
terjadi penyembuhan secara spontan. Sering terjadi perubahan degeneratif, diikuti
nekrosis dan klasifikasi. Pasien yang selamat memiliki kemungkinan 50%
menurunkan anak dengan retinoblastoma. Pewarisan ke saudara sebesar 4-7%.

B. ETIOLOGI
1. Kelainan Kromosom
Terjadi karena kehilangan kedua kromosom dari satu pasang alel dominant
protektif yang berada dalam pita kromosom 13q14. Bisa karena mutasi atau
diturunkan. Penyebabnya adalah tidak terdapatnya gen penekan tumor, yang
sifatnya cenderung diturunkan. Kanker bisa menyerang salah satu mata yang
bersifat somatic maupun kedua mata yang merupakan kelainan yang
diturunkan secara autosom dominant. Kanker bisa menyebar ke kantung mata
dan ke otak (melalui saraf penglihatan/nervus optikus).
2. Faktor Genetik
Gen cacat RB1 dapat diwariskan dari orang tua pada beberapa anak, mutasi
terjadi pada tahap awal perkembangan janin. Tidak diketahui apa yang
menyebabkan kelainan gen, melainkan yang paling mungkin menjadi
kesalahan acak selama proses copy yang terjadi ketika sel membelah.

C. PATOFISIOLOGI
Retinoblastoma terjadi karena adanya mutasi pada gen RB1 yang terletak
pada kromosom 13q14 (kromosom nomor 13 sequence ke 14) baik terjadi karena
faktor hereditas maupun karena faktor lingkungan seperti virus, zat kimia, dan
radiasi. Gen RB1 ini merupakan gen suppressor tumor, bersifat alel dominan
protektif, dan merupakan pengkode protein RB1 (P-RB) yang merupakan protein
yang berperan dalam regulasi suatu pertumbuhan sel (Anwar, 2010:1). Apabila
terjadi mutasi seperti kesalahan transkripsi, tranlokasi, maupun delesi informasi
genetic, maka gen RB1 (P-RB) menjadi inactive sehingga protein RB1 (P-RB)
juga inactive atau tidak diproduksi sehingga memicu pertumbuahan sel kanker
(Tomlinson, 2006:62).
Retinoblastoma dapat tumbuh keluar (eksofitik) atau kedalam (endofitik).
Retinoblastoma endofitik kemudian meluas ke dalam korpus vitreum. Kedua jenis
secara bertahap akhirnya mengisi mata dan meluas melalui saraf optikus ke otak
dan sepanjang saraf dan pembuluh-pembuluh emisari di sclera ke jaringan orbita
lainnya. Secra mikroskopis, sebagian besar retinoblastoma terdiri dari sel-sel
kecil, tersusun rapat bundar atau poligonal dengan inti besar berwarna gelap dan
sedikit sitoplasma. Sel-sel ini kadang-kadang membentuk rosette Flexner
Wintersteiner yang khas, yang merupakan indikasi diferensiasi fotoreseptor.
Kelainan-kelainan degeneratif sering dijumpai, disertai oleh nekrosis dan
klasifikasi.
D. PATHWAY

Faktor keturuna (hereditas)


Faktor lingkungan (virus, zat kimia, radiasi)

Mutasi gen RB1 di kromosom 13q14

Gen RB1 inactive

Protein RB1 (P-RB) tidak diproduksi

Pertumbuhan sel daerah retina tidak terkontrol

RETINOBLASTOMA

Matastasis dan Dekstuksi saraf Massa tumor Tumor menempati


perkembangan memenuhi vitrous macula
penyakit, status klinis body

Gangguan MK. Gangguan


Peningkatan
hantaran Gangguan pergerakan bola
tekanan
impuls rasa nyaman mata
MK. kurang intraokular
nyeri
pengetahuan
Terjadi glaucoma
strabismus

Penurunan lapang
MK. Resiko pandang Penurunan
tinggi fungsi
ketidakefekt penglihatan
ifanpenatala
MK. Resiko tinggi
ksanaan MK. gangguan cedera
regimen konsep diri
terapeutik
MK.
MK. ANSIETAS
Gangguan persepsi sens
E. MANIFESTASI KLINIS
Gejala klinis subjektif pada pasien retinoblastoma sukar karena anak tidak
memberikan keluhan. Tapi kita harus waspada terhadap kemungkinan
retinoblastoma. Ledih dari 75% anak-anak dengan retinoblastoma yang pertama
kali dicatat mempunyai pupil putih yang mana dokter menyebutnya
Leukokoria yang seolah bersinar bila kena cahaya seperti mata kucing
Amaurotic cats eye, atau strabismus, atau kemerahan dan nyeri pada mata
(biasanya disebabkan glaukoma). Jika dalam perkembangan anak terjadi iritasi
kemerahan yang menetap, hal ini dapat menggambarkan inflamasi atau pseudo-
inflamasi pada mata, 9% pasien retinoblastoma dapat berkembang dengan
symptom ini. Tanda lain yang jarang diperlihatkan pada retinoblastoma termasuk
anisokoria, perbedaan warna pada iris (heterochromia), berair, penonjolan ke
depan pada mata (proptosis), katarak, dan pergerakan mata abnormal (nistagmus).
Penyakit ini jarang sekali didaptkan dalam stadium dini. Hal ini disebabkan
massa tumor tidak terletak di daerah makula maka tidak akan menimbulkan gejala
gangguan penglihatan. Terlebih lagi bila massa tumor hanya pada satu maa,
sehingga mata yang normal dapat mengatasi fungsi penglihatan. Disamping itu
penyakit ini biasanya mengenai bayi dan anak kecil yang belum mampu
mengemukakan keluhan-keluhan apabila terdapat gangguan fungsi mata,
misalnya penglihatan menjadi kabur. Orang tua tidak menyadari kelaianan yang
terjadi pada anaknya. Stadium dini biasanya didapatkan pada pemeriksaan
funduskopi rutin secara kebetulan atau apabila tumor terdapat di makula retina
dan menyebabkan mata juling karena binokuler vision penderita terganggu.
Gejala juling inilah membawa penderita atau orang tua penderita pergi ke dokter.
Sebagian besar penderita tumor ini datang pada keadaan stadium lanjut. Salah
satu gejala yang mendorong orang tua membawa penderita berobat adalah refleks
pupil yang berwarna putih atau kekuning-kuningan (leukokoria), seperti mata
kucing atau kelereng. Gambaran ini sebenarnya sudah menunjukkan hampir
seluruh retina terisi massa tumor.
Umunya terlihat pada usia 2 sampai dengan 3 tahun, sedangkan pada kasus
yang diturunkan melalui genetic gejala klinis dapat muncul lebih awal. (2,3,7,10)
1. Leukokoria
Merupakan gejala klinis yang paling sering ditemukan pada retinoblastoma
intra ocular yang dapat mengenai satu atau kedua mata. Gejala ini sering
disebut seperti mata kucing. Hal ini disebabkan refleksi cahaya dari tumor
yang berwarna putih disekitar retina. Warna putih mungkin terlihat pada saat
anak melirik atau dengan pencahayaan pada waktu pupil dalam keadaan semi
midriasis.
2. Strabismus
Merupakan gejala yang sering ditemukan setelah leukokoria. Strabismus ini
muncul bila lokasi tumor pada daerah macula sehingga mata tidak dapat
terfiksasi. Strabismus dapat juga terjadi apabila tumornya berada diluar
macula tetapi massa tumor sudah cukup besar.
3. Mata merah
Mata merah ini sering berhubungan dengan glaukoma sekunder yang terjadi
akibat retinoblastoma. Apabila sudah terjadi glaukoma maka dapat diprediksi
sudah terjadi invasi ke nervus optikus. Selain glaukoma, penyebab mata
merah ini dapat pula akibat gejala inflamasi okuler atau periokuler yang
tampak sebagai selulitis preseptal atau endoftalmitis. Inflamasi ini disebabkan
oleh adanya tumor yang nekrosis.
4. Buftalmus
Merupakan gejala klinis yang berhubungan dengan peningkatan tekanan intra
okular akibat tumor yang bertambah besar.
5. Pupil midriasis
Terjadi karena tumor telah mengganggu saraf parasimpatik.
6. Proptosis
Bola mata menonjol kea rah luar akibat pembesaran tumor intra dan ekstra
okular.

F. KLASIFIKASI
1. Golongan I : Tumor soliter/multiple kurang dari 4 diameter papil. Terdapat
pada atau dibelakang ekuator, Prognosis sangat baik
2. Golongan II : Satu atau beberapa tumor berukuran 4-10 diameter papil,
Prognosis baik.
3. Golongan III : Tumor ada didepan ekuator atau tumor soliter berukuran >10
diameter papil, Prognosis meragukan
4. Golongan IV : Tumor multiple sampai ora serata, Prognisis tidak baik.
5. Golongan V : Setengah retina terkena benih di badan kaca, Prognosis buruk

G. STADIUM RETINOBLASOMA
Tumor mata ini, terbagi atas IV stadium, masing-masing:
1. Stadium I: menunjukkan tumor masih terbatas pada retina (stadium
tenang)
2. Stadium II: tumor terbatas pada bola mata.
3. Stadium III: terdapat perluasan ekstra okuler regional, baik yang
melampaui ujung nervus optikus yang dipotong saat enuklasi.
4. Stadium IV: ditemukan metastase jauh ke dalam otak.
Pada beberapa kasus terjadi penyembuhan secara spontan, sering terjadi
perubahan degeneratif, diikuti nekrosis dan klasifikasi. Pasien yang selamat
memiliki kemungkinan 50 % menurunkan anak dengan retinoblastoma.

H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Diagnosis pasti retinoblastoma intraokuler dapat ditegakkan dengan
pemeriksaan patologi anatomi. Karena tindakkan biopsi merupakan
kontraindikasi, maka untuk menegakkan diagnosis digunakan bebrapa
pemeriksaan sebagai sarana penunjang :
1. Fundus Okuli : Ditemukan adanya massa yang menonjol dari retina
disertai pembuluh darah pada permukaan ataupun didalam massa tumor
tersebut dan berbatas kabur.
2. X Ray : Hampir 60 70 % penderita retinoblastoma menunjukkan
klasifikasi. Bila tumor mengadakan infiltrasi ke saraf optik foramen :
Optikum melebar.
3. USG : Adanya massa intraokuler
4. Lactate Dehydrogenase (LDH) : Dengan membandingkan LDH aqous
humor dan serum darah, bila rasio lebih besar dari 1,5 dicurigai
kemungkinan adanya retinoblastoma intraokuler (Normal rasio Kurang
dari 1)
5. Ultrasonografi dan tomografi komputer dilakukan terutama untuk pasien
dengan metastasis ke luar, misalnya dengan gejala proptosis bola mata.

I. KOMPLIKASI
Komplikasi Retinoblastoma yaitu:
1. Tumor non okuler sekunder dapat muncul pada penderita retinoblastoma.
Contohnya Osteosarkoma, berbagai jenis sarkoma jaringan lunak yang
lain, melanoma malignan, berbagai jenis karsinoma, leukemia dan
limfoma dan berbagai jenis tumor otak.
2. Komplikasi vaskular : kerusakan pembuluh darah retina dan perdarahan
dapat terlihat.
3. Efek pada tulang, gigi dan jaringan lunak setelah radiasi. Terjadi
hipoplasia pada tulang dan struktur jaringan lunak setelah terapi dengan
dosis radiasi.

J. PENATALAKSANAAN
Pengobatan retinoblastoma ialah enukleasi bulbi yang disusul dengan
radiasi. Apabila retinoblastoma sudah meluas sampai ke jaringan orbita maka
dilakukan eksenterasi orbita disusul dengan radiasi dan bila diberikan kemoterapi
(Ilyas dkk, 2002).
Harus dilakukan pemantauan teratur pada anak yang menderita
retinoblastoma dan keturunan berikutnya. Konseling genetik harus ditawarkan
dan anak dengan orang tua yang pernah mengalami retinoblastoma harus diawasi
sejak bayi (James dkk, 2005).
Bila tumor masih terbatas intraokular, pengobatan dini mempunyai
prognosis yang baik. Tergantung dari letak, besar, dan tebal,pada tumor yang
masih intraokular dapat dilakukan krioterapi, fotokoagulasi laser, atau kombinasi
sitostatik dan fotokoagulasi laser untuk mempertahankan visus. Pada tumor
intraokular yang sudah mencapai seluruh vitreus dan visus nol, dilakukan
enukleasi. Bila tumor telah keluar bulbus okuli, tapi masih terbatas dirongga
orbita, dilakukan kombinasi eksentrasi, radioterapi, dan kemoterapi. Pasien harus
terus dievaluasi seumur hidup karena 20-90% pasien retinoblastoma bilateral akan
menderita tumor ganas primer, terutama osteosarkoma (mansjoer, 2005).
1. Terapi
Beberapa cara terapi adalah :
a. Enukleasi bulbi : mengangkat bola mata dan diganti dengan bola mata
prothese (buatan). Dilakukan apabila tumor sudah memenuhi segmen
posterior bola mata. Apabila tumor telah berinervasi ke jaringan sekitar
bola mata maka dilakukan eksenterasi.
b. Penyinaran bola mata. Retino blastoma bersifat radiosensitif, sehingga
terapi ini sangat efektip. Bahayanya jaringan sekitarnya dapat rusak akibat
penyinaran.
c. Photocoagulation : fotokoagulasi laser sangat bermanfaat untuk
retinoblastoma stadium sangat dini. Dengan melakukan fotokoagulasi
laser diharapkan pembuluh darah yang menuju ke tumor tertutup, sehingga
sel tumor akan menjadi mati. Keberhasilan cara ini dapat dinilai dengan
adanya regresi tumor dan terbentuknya jaringan sikatrik korioretina. Cara
ini baik untuk tumor yang diameternya 4,5 mm dan ketebalah 2,5 mm
tanpa adanya vitreous seeding. Yang paling sering dipakai adalah Argon
atau Diode laser yang dilakukan sebanya 2 sampai 3 kali dengan interval
masing-masingnya 1 bulan.
d. Cryotherapy : terapi dengan cara pendinginan (pembekuan) pada kanker
ukuran kecil. Dapat dipergunakan untuk tumor yang diameternya 3,5 mm
dengan ketebalan 3 mm tanpa adanya vitreous seeding, dapat juga
digabungkan dengan fotokoagulasi laser. Keberhasilan cara ini akan
terlihat adanya tanda-tanda sikatrik korioretina. Cara ini akan berhasil jika
dilakukan sebanyak 3 kali dengan interval masing-masing 1 bulan.
e. Chemotherapy : Indikasinya adalah pada tumor yang sudah dilakukan
enukleasi bulbi yang pada pemeriksaan patologi anatomi terdapat tumor
pada koroid dan atau mengenai nervus optikus. Kemoterapi juga diberikan
pada pasien yang sudah dilakukan eksentrasi dan dengan metastase
regional atau metastase jauh. Kemoterapi juga diberikan pada tumor
ukuran kecil dan sedang untuk menganjurkan penggunaan Carboplastin,
Vincristine sulfat, dan Etopozide phosphate. Beberapa peneliti juga
menambahkan Cyclosporine atau dikombinasi dengan regimen
kemoterapi carboplastin, vincristine, etopozide phosphate. Tehnik lain
yang dapat digabungkan dengan metode kemoterapi ini adalah :
1) Kemoterapi, dimana setelah dilakukan kemoreduksi dilanjutkan
dengan termoterapi. Cara ini paling baik untuk tumor-tumor yang
berada pada fovea dan nervus optikus dimana jika dilakukan radiasi
atau fotokoagulasi laser dapat berakibat terjadinya penurunan visus.
2) Kemoradioterapi, adalah kombinasi antara kemoterapu dan
radioterapi yang dapat dipergunakan untuk tumor-tumor lokal dan
sistemik.
Cara terapi mana yang dipakai tergantung dari :
a. Ukuran kanker & lokasi kanker
b. Apakah sudah menjalar sampai kebolamata atau belum
c. Bagaimana status/keadaan bola mata yang lain
d. Adanya komplikasi
e. Riwayat keluarga
f. Tersedianya fasilitas untuk terapi-terapi diatas.
2. Pembedahan
a. Enukleasi : Dilakukan pada tumor yang masih terbatas pada itraokuler
ialah dengan mengangkat seluruh bola mata dan meotong saraf optik
sepanjang mungkin.
b. Eksentrasi Orbita : Dilakukan pada tumor yang sudah ekstensi ke jaringan
orbita ialah dgn mengangkat seluruh isi orbita dengan jaringan periostnya
c. Sesudah operasi diberikan therapi radiasi untuk membunuh sisasisa sel
tumor
K. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Sejak kapan sakit mata dirasakan
Penting untuk mengetahui perkembangan penyakit klien, dan sejauhmana
perhatian klien dan keluarganya terhadap masalah yang sedang dialami
klien. Retinoblastoma mempunyai prognosis baik bila ditemukan dini.
b. Riwayat trauma sebelum atau sesudah ada keluhan
Trauma dapat memberikan kerusakan pada seluruh lapis kelopak ataupun
bola mata. Trauma sebelumnya dapat juga memberikan kelainan pada
mata tersebut sebelum meminta pertolongan.
c. Apakah ada keluarga yang menderita penyakit yang sama sebelumnya
Retinoblastoma bersifat herediter yang diwariskan melalui kromosom,
protein yang selamat memiliki kemungkinan 50 % menurunkan anak
dengan retinoblastoma.
d. Apakah pasien merasakan adanya perubahan dalam matanya.
Retinoblastoma dapat menyebabkan bola mata menjadi besar.
e. Apakah ada keluhan lain yang menyertai
Keluhan sakit kepala merupakan keluhan paling sering diberikan oleh
penderita. Adanya keluhan pada organ lain juga bisa diakibatkan oleh
tumor yang bermetastase.
f. Penyakit mata sebelumnya
Kadang-kadang dengan mengetahui riwayat penyakit mata sebelumnya
akan dapat menerangkan tambahan gejala-gejala penyakit yang
dikeluhkan penderita.
g. Penyakit lain yang sedang diderita
Bila sedang menderita penyakit lain dengan keadaan yang buruk, dapat
pula memperburuk keadaan klien
h. Usia penderita
Dikenal beberapa jenis penyakit yang terjadi pada usia tertentu.
Retinoblastoma umumnya ditemukan pada anak-anak, terutama pada
usia di bawah 5 tahun.
i. Riwayat Psikologi
Reaksi pasien dan keluarganya terhadap gangguan penglihatan yang
dialami pasien: cemas, takut, gelisah, sering menangis, sering bertanya.
j. Data keadaan fisik anak retinoblastoma yang sering didapatkan
diantaranya adalah:
1) Keadaan umum
Anak biasanya terlihat lemah dan kurang bergairah serta tidak
selincah aanak seusianya yang normal.
2) Pemeriksaan fisik
a) Pemeriksaan Fisik Umum
Diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya keadaan
umum yang dapat merupakan penyebab penyakit mata yang
sedang diderita.
b) Pemeriksaan Khusus Mata
i. Pemeriksaan tajam penglihatan
Pada retinoblastoma, tumor dapat menyebar luas di dalam
bola mata sehingga dapat merusak semua organ di mata
yang menyebabkan tajam penglihatan sangat menurun.
ii. Pemeriksaan gerakan bola mata
Pembesaran tumor dalam rongga mata akan menekan saraf
dan bahkan dapat merusak saraf tersebut dan apabila
mengenai saraf III, IV, dan VI maka akan menyebabkan mata
juling.
iii. Pemeriksaan susunan mata luar dan lakrimal
Pemeriksaan dimulai dari kelopak mata, sistem lakrimal,
konjungtiva, kornea, bilik mata depan, iris, lensa dan pupil.
iv. Pemeriksaan Pupil
Leukokoria (refleks pupil yang berwarna putih) merupakan
keluhan dan gejala yang paling sering ditemukan pada
penderita dengan retinoblastoma.
v. Pemeriksaan funduskopi
Menggunakan oftalmoskopi untuk pemeriksaan media,
papil saraf optik, dan retina. Refleksi tak ada (atau gelap)
akibat perdarahan yang banyak dalam badan kaca.
vi. Pemeriksaan tekanan bola mata
vii. Pertumbuhan tumor ke dalam bola mata menyebabkan
tekanan bola mata meningkat

2. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan persepsi sensori penglihatan berhubungan dengan gangguan
penerimaan sensori dari mat
b. Resiko cidera berhubungan dengan gangguan persepsi sensori
c. Ansietas berhubungan dengan krisis situasional, hospitalisasi

3. Rencana Keperawatan
No
NOC NIC
Dx
1 Kriteria Hasil: a. Orientasikan pasien terhadap
a. Klien mampu lingkungan, staf, orang lain di
mempertahankan lapang areanya.
ketajaman penglihatan b. Letakkan barang yang
tanpa kehilangan lebih dibutuhkan/posisi bel pemanggil
lanjut dalam jangkauan.
c. Dorong klien untuk
mengekspresikan perasaan
tentang kehilangan atau
kemungkinan kehilangan
penglihatan.
d. Lakukan tindakan untuk
membantu pasien untuk
menangani keterbatasan
penglihatan, contoh, atur
perabot/mainan, perbaiki sinar
suram dan masalah penglihatan
malam.
2 Kriteria Hasil: a. Bantu keluarga klien menata
a. Mampu melakukan lingkungan jangan mengubah
maneuver dengan aman penataan meja-kursi tanpa
dilingkungan diorientasikan terlebih dahulu.
b. Menggunakan alat b. Bahas perlunya penggunaan
pelindung yang perlu perisai metal atau kaca mata bila
selama waktu ditentukan diperintahkan.
c. Manipulasi kelopak mata c. Gunakan prosedur yang
hanya dilakukan dengan memadai ketika memberikan
meletakan jari pada obat mata.
tulang orbita d. Jangan memberikan tekanan
d. Tidak terjadi cidera pada pada mata yang terkena trauma
mata.
3 Kriteria Hasil: a. Gunakan pendekatan dengan
a. Klien dan keluarga konsep atraumatik care
mampu mengidentifikasi b. Jelaskan semua prosedur dan
dan mengungkapkan dengarkan keluhan klien
gejala cemas c. Pahami harapan pasien dalam
b. Mengidentifikasi, situasi stres
mengungkapkan, dan d. Temani pasien untuk
menunjukkan teknik memberikan keamanan dan
untuk mengontrol cemas mengurangi takut
c. Tanda vital dalam batas e. Bersama tim kesehatan, berikan
normal informasi mengenai diagnosis,
d. Postur tubuh, ekspresi tindakan prognosis
wajah, bahasa tubuh, dan f. Anjurkan keluarga untuk
tingkat aktivitas menemani anak dalam
menunjukkan pelaksanaan tindakan
berkurangnya keperawatan
kecemasan. g. Lakukan massage pada leher dan
e. Menunjukkan punggung, bila perlu
peningkatan konsentrasi h. Lakukan terapi bermain atas
dan akurasi dalam indikasi
berpikir i. Bantu pasien mengenal
penyebab kecemasan
j. Dorong pasien/keluarga untuk
mengungkapkan perasaan,
ketakutan, persepsi tentang
penyakit
k. Instruksikan pasien
menggunakan teknik relaksasi
(sepert tarik napas
dalam, distraksi, dll)
l. Kolaborasi pemberian obat
untuk mengurangi kecemasan
DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Faten. 2010. Retinoblastoma Expression in Thyroid Neoplasms. The United


States and Canadian Academy of Pathology journal. Vol 13,562. Diakses 13
oktober 2011, dari medline database.

Carpenito, Lynda Juall. 1995. Rencana Asuhan & dokumentasi keperawatan edisi 2.
Jakarta:EGC

Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan edisi 3. Jakarta: EGC

Nurarif, A. H. dan Hardhi, K. (2015) Aplikasi NANDA NIC NOC,Edisi Revisi Jilid I.
Yogyakarta: Media Action Publishing

Tomlinson, Deborah. 2006. Pediatric Oncology Nursing. Berlin: Springer

Voughan, Dale. 2000. Oftalmologi umum. Jakarta :widya medika.