Anda di halaman 1dari 9

BAB 1

PENDAHULUAN

Interaksi radiasi dengan material merupakan fundamental dari spektroskopi. Interaksi


Radiasi Elektro Magnetik (REM) dengan atom atau molekul yang berada dalam material
akan menyebabkan peristiwa hamburan (dekomposisi) oleh atom atau molekul tersebut
menjadi sekumpulan atau berkas sinya-sinyal fundamentalnya (sinyal-sinyal harmoniknya).
Dekomposisi radiasi oleh atom atau molekul tersebut menuju ke segala arah dengan panjang
gelombang dan intensitas yang dipengaruhi ukuran partikel molekul. Apabila media
transparan tersebut mengandung hanya partikel dengan ukuran dimensi atom (permukaan 0,01
A2) maka akan terjadi dekomposisi radiasi dengan intensitas yang sangat lemah. Radiasi
dekomposisi tersebut tidak tampak oleh karena panjang gelombangnya adalah pada daerah
ultraviolet. Radiasi hamburan tersebut dikenal dengan hamburan Rayleigh. Demikian pula
yang tejadi pada molekul-molekul dengan diameter yang besar atau teragregasi sebagai
contoh molekul suspensi atau koloida. Hamburan pada larutan suspensi dan sistem koloida
panjang gelombangnya mendekati ukuran partikel molekul suspensi atau sistem koloid
tersebut. Radiasi hamburan rersebut dikenal sebagai hamburan Tyndal atau
hamburan mie yang melahirkan metode turbidimetri.

Suatu penelitian yang sulit dengan hasil temuan yang sangat berarti, dalam ilmu fisika
telah dilakukan oleh Chandra Venkrama Raman seorang ahli fisika berkebangsaan India, pada
tahun 1928. Menurut temuan Raman tampak gejala pada molekul dengan struktur tertentu
apabila dikenakan radiasi infra merah dekat atau radiasi sinar tampak, akan memberikan
sebagian kecil hamburan yang tidak sama dengan radiasi semula. Hamburan yang berbeda
dengan radiasi semula (sumber radiasi) tersebut berbeda dalam hal panjang gelombang,
frekuensi serta intensitasnya dikenal sebagai "feeble fluorescence" atau hamburan Raman.
Hamburan Raman tersebut memberikan garis Raman dengan intensitas tidak lebih dari
0,001% dari garis spektra sumber radiasinya.

Efek Raman ini sangat lemah dan menjadi kenyataan setelah ditemukan teknik laser 40
tahun kemudian. Cahaya sinar laser tidak sama dengan cahaya yang datang dari matahari atau
dari bola lampu, karena cahaya laser seluruhnya mempunyai satu panjang gelombang. Oleh
karena itu, jika cahaya mengenai objek, seluruh cahaya akan di hamburkan balik oleh objek
tersebut, dimana panjang gelombang cahaya yang datang sama dengan yang dipancarkan
balik. Tidak hanya itu saja, gelombang cahayanya berjajar rapih dengan arah yang sama
(polarisasi). Dengan demikian laser dapat meletakkan banyak foton pada spot yang kecil. Ada
banyak foton yang menumbuk sampel, satu dalam sejuta, meningkatkan sinyal sehingga
menjadi cukup kuat untuk dideteksi. Karena seluruh foton mempunyai panjang gelombang
yang sama, maka semua akan berinteraksi dengan cara yang sama pada molekul yang
jenisnya sama, sehingga memperkuat efek yang terjadi

Sejak ditemukannya efek Raman pada tahun 1982, spektroskopi Raman banyak
digunakan sebagai solusi dari berbagai kebutuhan teknologi, terutama dalam industri
laboratorium. Spektroskopi Raman merupakan teknik spektroskopi yang berdasarkan pada
hamburan inelastik dari cahaya monokromatik yang biasanya berasal dari sinar laser sehingga
mengakibatkan deformasi molekular oleh medan listrik E yang ditentukan dengan
kemampuan polarisasi molekular . Efek Raman merupakan frekuensi dari foton yang
dipancarkan ulang dapat dinaikkan maupun diturunkan terhadap frekuensi asli cahaya
monokromatik. Perubahan ini memberikan informasi tentang getaran, rotasi, dan transisi
frekuensi rendah yang lain pada molekul. Spektroskopi Raman dapat digunakan untuk
mempelajari material padat, cair, dan gas.
BAB 2

PEMBAHASAN

A. SPEKTROSKOPI RAMAN

Efek Raman berdasarkan hamburan inelastik dari cahaya monokromatik yang biasanya
berasal dari sinar laser sehingga mengakibatkan deformasi molekular oleh medan listrik E
yang ditentukan dengan kemampuan polarisasi molekular . Sinar laser dapat dianggap
sebagai gelombang EM berosilasi dengan vektor listrik E. Ketika terdapat interaksi
dengan sample, maka akan terbentuk momen dipole magnet P = E. Karena adanya
deformasi periodik, molekul mulai bergetar dengan karakteristik frekuensi m.

Gambar 1.Skema transisi raman

Pada gambar di atas, dipole yang berosilasi akan menghasilkan cahaya dengan tiga
frekuensi yang berbeda.
1. Ketika sebuah molekul yang tidak memiliki mode Raman menyerap foton dengan
frekuensi 0, maka molekul yang telah tereksitasi akan kembali ke keadaan
vibrasi dasar dan memancarkan cahaya dengan frekuensi yang sama 0 dengan
sumber eksitasi. Interaksi inilah yang disebut interaksi Rayleigh.
2. Ketika sebuah foton dengan frekuensi 0 diserap oleh molekul Raman-active pada
keadaan vibrasi dasar, maka sebagian dari energi foton akan berubah menjadi
mode Raman-active dengan frekuensi m yang menyebabkan frekuensi hamburan
cahaya berkurang menjadi 0-m. Frekuensi Raman ini disebut frekuensi Stokes.
3. Ketika sebuah foton dengan frekuensi 0 diserap oleh molekul Raman-active pada
keadaan vibrasi tereksitasi, maka sejumlah besar energi dari mode Raman-active
tereksitasi akan dilepaskan. Sehingga molekul kembali ke keadaan vibrasi dasar
dan frekuensi yang dihasilkan oleh cahaya yang terhambur akan meningkat
hingga 0+m. Frekuensi Raman ini disebut frekuensi Anti-Stokes.

B. INSTRUMENTASI

Pada dasarnya sistem spektrofotometer Raman teridiri atas empat komponen utama.
Yakni:
a) Sumber eksitasi (laser).
b) Sample sistem iluminasi dan optik pengumpul cahaya.
c) Filter atau spectrophotometer.
d) Detector (Photodiode array, CCD, atau PMT).

Gambar 2. Skema kerja spektroskopi Raman


Adapun prinsip kerja spektroskopi Raman dapat dilihat pada gambar 2. Di mana sample
disinari dengan sinar laser yang memiliki range antara UV hingga NIR. Hamburan
cahaya kemudian dikumpulkan oleh lensa dan dikirim melalui filter interferensi atau
spectrophotometer untuk mendapatkan spectrum Raman sample. Kemudian digunakan
Photodiode Arrays (PDA) atau Charge-Coupled Devices (CCD) untuk mendeteksi
cahaya terhambur Raman.

C. MENINGKATKAN INTENSITAS SINYAL RAMAN

Teknologi spektroskopi Raman terus mengalami perbaikan. Saat ini telah tersedia
beberapa cara untuk meningkatkan intensitas dari sinyal Raman, berikut adalah beberapa
teknik yang sudah dipakai untuk meningkatkan intensitas sinyal Raman :
I. STIMULATED RAMAN
Hamburan Raman terstimulasi merupakan peristiwa spektroskopi Raman non-
linear. Di mana lebih banyak sinar datang yang ditransformasi menjadi
hamburan Raman sehingga meningkatkan perbandingan signal-to-noise. Karena
frekuensi Stoke yang besar, maka frekuensi ini kemudian berperan menjadi
sumber eksitasi sekunder dan menghasilkan garis Stokes kedua dan seterusnya
(gambar 3).

Gambar 3. Skema transisi stimulated raman.


II. CARS (Coherent Anti-Stokes Raman)
CARS merupakan contoh lain dari Spektroskopi Raman non-linear. Digunakan
dua collinear laser untuk menerangi sample. Di mana laser pertama memiliki
frekuensi konstan, sedangkan frekuensi laser kedua dapat diatur sedemikian rupa
sehingga perbedaan frekuensi diantara dua laser sama dengan frekuensi mode
Raman-active. Dengan CARS, kita hanya mendapatkan satu puncak Raman yang
kuat.

Gambar 4. Skema transisi CARS

Dengan kata lain, untuk mendapatkan sinyal Raman yang kuat, laser kedua diatur
agar 2= 1-m. Sehingga frekuensi cahaya terhamburnya akan menjadi 0+m
yang merupakan frekuensi Anti-Stokes.

III. SERS DAN SERRS


Salah satu sifat dari sinyal Raman adalah sinyal raman molekul yang terserap oleh
permukaan metal dapat menjadi 5 hingga enam kali lebih kuat dari sinyal raman
molekul yang sama dengan jumlah besar. Peristiwa inilah yang mendasari
Surface-Enhanced Raman Spectroscopy. Permukaan substrat yang paling umum
digunakan adalah elektroda perak yang telah digores secara elektrokimia dengan
ukuran partikel kurang dari 20nm. Salah satu kelemahan dari SERS adalah
sulitnya interpretasi spectra. Karena penguatan sinyal yang dramatis, pita Raman
yang lemah pun akan muncul pada SERS. Serta karena interaksi dengan logam,
maka dimungkinkan puncak tertentu yang pada konvensional Raman merupakan
puncak yang kuat, tidak akan terdeteksi di SERS. Sehingga untuk mengatasi hal
ini, diciptakanlah Surface-Enhanced Resonance Spectroscopy atau SERRS yang
dapat menghasilkan spectra yang mirip dengan spectra regular resonansi raman.

IV. RESONANCE RAMAN


Terdapat beberapa material terutama yang berwarna, yang menyerap sinar laser
dan menghasilkan fluorescence yang mengkontaminasi spectrum Raman. Hal ini
akan menjadi masalah ketika kita melakukan analisa. Terutama apabila yang
digunakan merupakan laser UV. Efek resonansi Raman dapat digunakan untuk
meminimalisir kendala tersebut. Efek ini terjadi ketika frekuensi laser eksitasi
berpotongan dengan frekuensi elektronik keadaan eksitasi dan beresonansi
bersama.

Gambar 5. Skema transisi raman resonance


KESIMPULAN

a) Efek Raman berdasarkan hamburan inelastik dari cahaya monokromatik yang biasanya
berasal dari sinar laser sehingga mengakibatkan deformasi molekular oleh medan listrik
E yang ditentukan dengan kemampuan polarisasi molekular .
b) Pada dasarnya sistem spektrofotometer Raman teridiri atas empat komponen utama.
Yakni:
Sumber eksitasi (laser).
Sample sistem iluminasi dan optik pengumpul cahaya.
Filter atau spectrophotometer.
Detektor (Photodiode array, CCD, atau PMT).
c) Pengembangan spektroskopi Raman dapat dilakukan dengan meningkatkan intansitas
sinyal Raman dengan metode berikut :
Stimulated Raman
CARS
SERS dan SERS
Resonance Raman
DAFTAR PUSTAKA

a) Raman Spectroscopy Basics. Princeton Instruments.


b) http://en.wikipedia.org/wiki/Raman_spectroscopy diakses pada 16 juni 2012 ,13.00.
c) http://FISIKAATOMDANSPEKTROSKOPIFinaLe.pdf.html diakses pada 16 juni 2012 ,13.00.