Anda di halaman 1dari 17

BAB 1

TINJAUAN TEORI

1.1. Konsep Dasar Medis


1.1.1. Pengertian
Perforasi septum adalah timbulnya lubang pada septum yang disebabkan
oleh berbagai macam trauma, penyakit, dll. Hussain (1997) mendapatkan dari 15
kasus yang ditangani selama 2 tahun, 7 kasus (46,7%) diantaranya adalah
iatrogenik. Lokasi yang paling sering dijumpai adalah pacta daerah anterior
septum.
Kelainan ini sering tanpa gejala, kalau pun ada tergantung dari ukuran
perforasi. Bila perforasi kecil, hidung seperti bersiul dapat terdengar pada waktu
respirasi. Gejala lain yang dapat dijumpai adalah krusta, epistaksis dan obstruksi
hidung.
Penanganan perforasi septum terdiri dari konservatif dan tindakan bedah.
Penanganan yang tepat akan mencegah perkembangan dari perforasi dan hal ini
penting terutarna pada anak-anak, dimana perforasi septum pada hidung yang
sedang dalam masa pertumbuhan akan memperlambat perkembangan hidung.
1.1.2. Anatomi
Septum membagi kavurn nasi menjadi dua ruang, kanan dan kiri. Septum
dibentuk oleh tulang dan tulang rawan. Bagian tulang yang membentuk septum
adalah lamina perpendikularis os etmoid, os vomer, krista nasalis maksila dan
krista nasalis palatum. Bagian tulang rawan adalah karrilago septum (lamina
kuadraangularis) dan kolumela. Septum dilapisi oleh perikondrium pada bagian
tulang rawan dan periosteum pada bagian tulang, sedangkan diluarnya dilapisi
oleh mukosa hidung.
Bagian terbesar dari septum nasi dibentuk oleh lamina perpendikularis os
etmoid posterior dan tulang rawan septum anterior; vomer membentuk bagian
posterior dari septum nasi, sementara krura medial dari kartilago alar mayor dan
prosesus nasal bawah (krista) maksila membentuk bagian anterior septum.
Gambar 1. Anatomi hidung
Lamina perpendikularis os etmoid membentuk sepertiga atas atau lebih
septum nasi; ini berhubungan dengan bagian horizontal os eternoid. Di bagian
anterior dan superior berhubungan dengan os frontal dan os nasal, di posterior
berhubungan dengan tonjolan os sfenoid, di postero-inferior dengan os vomer
dan antero-inferior dengan kartilago septum. Uluran kartilago septum
berbanding terbalik dengan ukuran lamina perpendikularis os etmoid.
Vomer terletak di septum nasi bagian posterior dan inferior. Dibagian
superior membentuk sendi os sfenoid dan lamina perpendikularis os etrnoid,
dan di bagian inferior dengan krista nasalis os maksila dan os palatina.
Tulang rawan septum bagian posterior mempunyai pinggir yang tipis
dan masuk ke dalam alur dari lamina perpendikularis os etmoid, dan pinggir
posterior juga masuk celah krista nasalis. Periosteum dan perikondrium dari
tulang rawan septum dihubungkan oieh jaringan konektif yang dibentuk oleh
ligamentum yang memungkinkan terjadinya gerakan dari tulang tersebut.
Apabila jaringan konektif itu tidak ada atau salah satu sisi alur atau celah dari
krista nasal tidak tumbuh dengan baik maka dislokasi tulang rawan septum
mudah terjadi.
Septum nasi didarahi oleh a.etmoidalis anterior dan posterior,
asfenopalatina,a palatina mayor dan alabialis superior. A.stenopalatina
mendarahi bagian posterior septum nasi dan dinding lateral hidung, khusus yana
posterior. A. etmoidalis anterior dan posterior adalah cabang dari oftalmika
yang berasal dari a. karotis intema. A.etmoidalis anterior adalah pembuluh
darah kedua terbesar yang mendarahi hidung bagian dalam, yang mendarahi
kedua bagian antero-superior dri septum dan dinding lateral hidung.
Vena - vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan
berdampingan dengan arteri.
Gambar 2. Anatomi hidung
Bagian anterior dan superior rongga hidung mendapat persarafan
sensoris dari n. etmoidalis anterior, yang merupakan cabang dari n. nasosiliaris
yang berasal dari n.oftalmikus (n. V-1). Rongga hidung lainnya, sebagian besar
mendapat persarafan sensoris dari n. maksila melalui ganglion sfenopalatinum.
Ganglion sfenopalatinum, selain memberikan persarafan sensoris, juga
memberikan persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa hidung. Ganglion
ini menerima serabut sensoris dari n. maksila (n. V-2), serabut parasimpatis dari
n.petrosus profundus. Disamping mensarafi hidung, ganglion sfenopalatina
mensarafi kelenjar lakrimalis dan palatum. Aliran limfatik hidung berjalan
secara pararel dengan aliran vena. Aliran limfatik yang berjalan disepanjang
vena fasialis berakhir pada limfnode submaksilaris.

Gambar 3. Anatomi nasal


1.1.3. Patogenesis
Sejauh ini belum ada literatur yang mengemukakan patogenesis
terjadinya perforasi septum dengan jelas. Beberapa literatur mengatakan
bahwa patogenesis berhubungan dengan penyebab dari perforasi itu sendiri.
Pada perforasi yang disebabkan oleh trauma, perforasi terjadi akibat robekan
dari mukoperikondrium yang membentuk ulkus. Ulkus akibat trauma yang
berkali-kali membentuk krusta dan krusta memperdalam ulkus sampai
menyingkapkan tulang rawan. Tulang rawan menjadi nekrosis dari perforasi
yang terjadi meluas ke membran mukosa pada sisi yang berlawanan.

1.1.4. Etiologi
Menurut Maqbocl, penyebab perforasi septum antara lain:
1. Trauma
1) Bedah atau kecelakaan
2) Kebiasaan memencet hidung
3) Tampon hidung yang padat sekali
4) Kauterisasi yang berulang
5) Hematom dan abses yang menyebabkan septum nekrosis.
2. Penyakit
1) Tuberkulosa
2) Sifilis
3) Midline granuloma.
4) Rinitis atrofi
3. Zat iritan
1) Menghirup tembakau atau kokain
2) Menghirup krom atau merkuri
4. Tumor septum
1) Khondrosarkoma
2) Granuloma
5. Idiopatik

Derajat besarnya perforasi :


1. Kecil : diameter perforasi < 1cm
2. Sedang : diameter perforasi 1-2 cm
3. Besar : diameter perforasi > 2 cm

1.1.5. Gejala Klinis


Kebanyakan perforasi septum tidak memberikan gejala. Brain (1980)
mendapatkan dari 69 kasus perforasi septum, sebanyak 62,4 % bebas dari
gejala. Gejala perforasi septum bervariasi menurut ukuran, penyebab dan
lokasinya. Lokasi perforasi di posterior memberikan gejala yang lebih sedikit.
Perforasi kecil di anterior dapat menimbulkan bunyi siulan. sedangkan bila
besar tidak. Bila ada krusta besar akan menyebabkan obstruksi dan terasa
seperti ada benda asing, bila ditiup dengan paksa atau dikorek dengan jari,
dapat menimbulkan perdarahan. Bila ada epistaksis berulang harus curiga akan
adanya ulkus yang perforasi. Epistaksis berat bisa terjadi bila tepi posterior
dari perforasi mengenai a. sphenopalatina.

1.1.6. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan :
1. Anarmnesa
2. Pemeriksaan fisik ; di kavum nasi dijumpai perforasi pada septum, adanya
krusta dan epistaksis.
3. Laboratorium; biopsi, untuk mengeluarkan kemungkinan disebabkan
proses keganasan. tes serologi, pacta penderita yang diduga terkena sifilis.
tes urin, pada penderita yang diduga menggunakan kokain.
4. CT-Scan dan /atau MRI ; pacta beberapa kasus tertentu untuk menilai
luasnya erosi tulang dan mengukur besarnya perforasi.

1.1.7. Penatalaksanaan

Brain mengatakan bahwa ada 2 hal yang harus diperhatikan pada


penatalaksanaan perforasi septum, yaitu :

1. Pengobatan proses penyebabnya.

2. Menganjurkan penyembuhan alami pada lesinya.

3. Bila tidak berhasil, tindakan bedah bisa dipertimbangkan. Kepada


penderita harus dikatakan untuk menjaga hidungnya dengan sangat hati-
hati dan menghindari trauma seperti membuang ingus dengan keras dan
memencet hidung.

Beberapa ahli mengemukakan bahwa penatalaksanaan perforasi septum terdiri


dari 2 bagian:

1. Konservatif.

Tujuan dari penatalaksanaan ini adalah untuk menjaga kelembaban


mukosa hidung. Gejala seperti krusta dan epistaksis dapat dikurangi
dengan menggunakan salap dan irigasi pelembab.

2. Operasi.

Ballenger berpendapat bahwa operasi penutupan dilakukan pada perforasi


yang kecil dan berlokasi di anterior. Di mana operasi bisa diulang setelah 2
minggu.

Berbagai cara telah dikemukakan untuk menutup perforasi septum :

1. Menggunakan obturator.
Untuk menutup perforasi yang kecil, dimana obturator ini terbuat dari
plastik lunak (Silastic).
2. Tindakan bedah plastik dengan menggunakan flap atau jabir.
Menurut Ballenger, ada 2 teknik menutup perforasi dengan menggunakan
flap.
1) Flap mukosa septum dapat dibalik untuk menutup perforasi.
Teknik operasi :
a. Anestesi topikal.
b. Tepi perforasi dibuat segar dengan mempertemukan epitel
dengan membran mukosa.
c. Mukoperikondrium dielevasi sampai 1/2 inci sekeliling tepi
perforasi.
d. Tulang rawan di reseksi seperti cincin untuk 1/8 sampai 1/4 inci
dari tepi perforasi.
e. Dibuat flap membran mulkosa, yang ukurannya harus lebih
besar daripada luas perforasinya, diambil dari perrnukaan
septum yang paling sesuai, kemudian dibalik ke arah perforasi
dan diselipkan diantara membran yang telah dielevasi
sekeliling perforasi.
f. Setelah flap bertangkai ini terpasang, dibuat 3 atau 4 jahitan
agar flap tetap di tempat.
2) Cara yang lebih sederhana ( teknik Hazletine )
Teknik operasi :
a. Anestesi topikal
b. Tepi perforasi dibuat segar dan mukoperikondrium dielevasi.
seperti pada bedah reseksi mukosa septum.
c. Insisi yang melengkung panjang dibuat melalui
mukoperikondriwn. 1/4 sampai 1/2 inci di anterior
perforasinya. Flap ini kemudian dielevasi.
d. Insisi yang melengkung panjang dibuat melalui perikondrium
septum sisi satunya. 1/4 sampai 1/2 inci di posterior
perforasinya. kemudian flap ini dielevasi.
e. Flap anterior dijahitkan ke tepi posterior perforasi yang telah
dipersegar, dan flap posterior di sisi yang berlawanan
dijahitkan ketepi anterior yang juga telah dipersegar.

Ada juga teknik operasi yang lain yaitu:

1. Metode seely dan climo

1) Flap dasar bagian atas dielevasikan menjadi satu bagian dari septum
setelah insisi rinoplasti rutin dibuat sebagai usaha untuk
menghilangkan semua regangan /tegangan pada garis jahitan.

2) Perfomsi kemudian ditutup, mengikis area anterior dan posterior pada


flap.

2. Metode seiffert

1) Potongan koronal menunjukkan perforasi septum dan konka- konka.


2) Membran mukosa dipindahkan dan pinggiran dalam perforasl dan
bagian yang berhadapan dengan konkha media. Septum di tampon dan
diletakkan pada konka media.
3) Saat penyembuhan (kira-kira 2 minggu kemudian) sebagian dari konka
media di potong clan septum dikembalikan ke tempat semula.
1.1.8. Pathway

1) Trauma
2) Penyakit
3) Zat iritan
4) Tumor septum
5) Idiopatik

Ulkus pada hidung

Membentuk krusta sampai tulang rawang hidung

Terjadi nekrosis pada tulang rawan

Meluas sampai membran mukosa pada sisi yang berlawanan

Operasi

Post operasi
Pre operasi Intra Operasi

Kurang informasi Post intubasi, sekret


ETT Tertekuk, berlebih, tampon
Obat inhalasi
Kurang Anestesi, posisi intra
operatif
Pengetahuan
Resiko Gangguan pola Resiko bersihan jalan napas
nafas tidak efektif
kurang efektif
1.
Ansietas / Cemas
Resiko cedera Resiko gangguan
pertukaran gas
1.1.9. Kesimpulan
1. Perforasi septum jarang dikeluhkan karena sebagian besar tidak
menunjukkan gejala.
2. Penyebab terbanyak dari perforasi septum adalah trauma.
3. Penatalaksanaan perforasi septum apabila telah menimbulkan gejala, dapat
dilakukan secara konservatif atau operasi.

1.2. Konsep Dasar General Anestesi


1.2.1. Pengertian
Anestesi umum atau pembiusan artinya hilang rasa sakit di sertai hilang
kesadaran. Ada juga mengatakan anestesi umum adalah keadaan tidak
terdapatnya sensasi yang berhubungan dengan hilangnya kesdaran yang
reversible.
Anestesi Umum adalah obat yang dapat menimbulkan anestesi yaitu suatu
keadaan depresi umum dari berbagai pusat di sistem saraf pusat yang bersifat
reversibel, dimana seluruh perasaan dan kesadaran ditiadakan sehingga lebih
mirip dengan keadaan pinsan. Anestesi digunakan pada pembedahan dengan
maksud mencapai keadaan pingsan, merintangi rangsangan nyeri (analgesia),
memblokir reaksi refleks terhadap manipulasi pembedahan serta menimbulkan
pelemasan otot (relaksasi). Anestesi umum yang kini tersedia tidak dapat
memenuhi tujuan ini secara keseluruhan, maka pada anestesi untuk pembedahan
umumnya digunakan kombinasi hipnotika, analgetika, dan relaksasi otot.

1.2.2. Teknik pemberian anestesi umum

Dari segi aliran gas/udara,maka anastesi umum inhalasi ada beberapa


sistem aliran udara/gas antara lain :
1. Sistem terbuka / semi terbuka
Dimana pada sistem ini aliran udara ekpirasi dialirkan / dibuang ke atmosfir
terbuka.Pada sistem ini tidak terjadi aliran balik udara ekspirasi
(rebreathing).
2. Sistem tertutup / semi tertutup
Dimana aliran udara ekspirasi sebagian besar mengalir keluar atau tertutup
sama sekali,sehingga aliran udara ekspirasi akan masuk kembali bercampur
dengan udara segar,namun sebelu itu udara ekspirasi sudah melalui absorber
untuk menetralisisr CO2.Pada sistem ini terjadi aliran balik udara ekspirasi (
rebreathing ).
1.2.3. Persiapan Pre anestesi
1. Anamnesis
1) Riwayat anestesi dan operasi sebelumnya.
2) Riwayat penyakit sistemik (diabetes melitus, hipertensi, kardiovaskuler,
TB, asma)
3) Pemakaian obat tertentu, seperti antidiabetik, antikoagulan, kortikosteroid,
antihipertensi secara teratur. Dua obat terakhir harus diteruskan selama
operasi dan anestesi, sedangkan obat yang lain harus dimodifikasi.
4) Riwayat diet (kapan makan atau minum terakhir. jelaskan perlunya puasa
sebelum operasi)
5) Kebiasaan-kebiasaan pasien (perokok berat, pemakai alkohol atau obat-
obatan)
2. Pemeriksaan fisik

Berpatokan pada B6:

1) Breath
Keadaan jalan nafas, bentuk pipi dan dagu, mulut dan gigi, lidah dan
tonsil. Apakah jalan nafas mudah tersumbat? Apakah intubasi akan sulit?
Apakah pasien ompong atau menggunakan gigi palsu atau mempunyai
rahang yang kecil yang akan mempersulit laringoskopi? Apakah ada
gangguan membuka mulut atau kekakuan leher? Apakah ada
pembengkakan abnormal pada leher yang mendorong saluran nafas bagian
atas
Tentukan pula frekuensi nafas, tipe napas apakah cuping hidung,
abdominal atau torakal, apakah terdapat nafas dengan bantuan otot
pernapasan (retraksi kosta). Nilai pula keberadaan ronki, wheezing, dan
suara nafas tambahan (stridor).
2) Blood
Tekanan nadi, pengisian nadi, tekanan darah, perfusi perifer. Nilai
syok atau perdarahan. Lakukan pemeriksaan jantung
3) Brain
GCS. adakah kelumpuhan saraf atau kelainan neurologist. Tanda-tanda
TIK
4) Bladder
Produksi urin. pemeriksaan faal ginjal
5) Bowel
Pembesaran hepar. Bising usus dan peristaltik usus. cairan bebas dalam
perut atau massa abdominal.
6) Bone
Kaku kuduk atau patah tulang. Periksa bentuk leher dan tubuh. kelainan
tulang belakang.
3. Pemeriksaan laboratorium dan radiologi
1) Pemeriksaan standar yaitu darah rutin (kadar hemoglobin, leukosit,
bleeding time, clothing time atau APTT & PPT)
2) Pemeriksaan kadar gula darah puasa
3) Liver function test
4) Renal function test
5) Pemeriksaan foto toraks
6) Pemeriksaan pelengkap atas indikasi seperti gula darah 2 jam post
prandial, pemeriksaan EKG untuk pasien > 40 tahun
7) Pada operasi besar dan mungkin bermasalah periksa pula kadar albumin,
globulin, elektrolit darah, CT scan, faal paru, dan faal hemostasis

1.2.4. Pembagian ASA


1. ASA 1
Pasien tidak memiliki kelainan organik maupun sistemik selain penyakit yang
akan dioperasi.
2. ASA 2
Pasien yang memiliki kelainan sistemik ringan sampai dengan sedang selain
penyakit yang akan dioperasi. Misalnya diabetes mellitus yang terkontrol atau
hipertensi ringan
3. ASA 3
Pasien memiliki kelainan sistemik berat selain penyakit yang akan dioperasi,
tetapi belum mengancam jiwa. Misalnya diabetes mellitus yang tak terkontrol,
asma bronkial, hipertensi tak terkontrol
4. ASA 4
Pasien memiliki kelainan sistemik berat yang mengancam jiwa selain penyakit
yang akan dioperasi. Misalnya asma bronkial yang berat, koma diabetikum
5. ASA 5
Pasien dalam kondisi yang sangat jelek dimana tindakan anestesi mungkin saja
dapat menyelamatkan tapi risiko kematian tetap jauh lebih besar. Misalnya
operasi pada pasien koma berat
6. ASA 6
Pasien yang telah dinyatakan telah mati otaknya yang mana organnya akan
diangkat untuk kemudian diberikan sebagai organ donor bagi yang
membutuhkan.
Untuk operasi darurat, di belakang angka diberi huruf E (emergency) atau D
(darurat), mis: operasi apendiks diberi kode ASA 1.E

1.2.5. Premedikasi
1. Tujuan
1) Pasien tenang, rasa takutnya berkurang
2) Mengurangi nyeri/sakit saat anestesi dan pembedahan
3) Mengurangi dosis dan efek samping anestetika
4) Menambah khasiat anestetika
2. Penggolongan Obat-Obat Premedikasi
1) Golongan Narkotika
a. analgetika sangat kuat.
b. Jenisnya : petidin dan morfin.
c. Tujuan: mengurangi rasa nyeri saat pembedahan.
d. Efek samping: mendepresi pusat nafas, mual-muntah, Vasodilatasi
pembuluh darah hipotensi
e. diberikan jika anestesi dilakukan dengan anestetika dengan sifat
analgesik rendah, misalnya: halotan, tiopental, propofol.
f. Pethidin diinjeksikan pelan untuk:
a) mengurangi kecemasan dan ketegangan
b) menekan TD dan nafas
c) merangsang otot polos
g. Morfin adalah obat pilihan jika rasa nyeri telah ada sebelum
pembedahan
a) mengurangi kecemasan dan ketegangan
b) menekan TD dan nafas
c) merangsang otot polos
d) depresan SSP
e) pulih pasca bedah lebih lama
f) penyempitan bronkus
g) mual muntah (+)
3. Golongan Sedativa & Transquilizer
1) Golongan ini berfungsi sebagai obat penenang dan membuat pasien
menjadi mengantuk.
2) Contoh : luminal dan nembufal untuk golongan sedative; diazepam dan
DHBF (Dihidrobensferidol) untuk golongan transquilizer.
3) Efek samping: depresi nafas, depresi sirkulasi.
4) diberikan apabila pasien memiliki rasa sakit/nyeri sebelum dianestesi,
pasien tampak lebih gelisah
a. Barbiturat
a) menimbulkan sedasi dan menghilangkan kekhawatiran sebelum
operasi
b) depresan lemah nafas dan silkulasi
c) mual muntah jarang
b. Diazepam
a) induksi, premedikasi, sedasi
b) menghilangkan halusinasi karena ketamin
c) mengendalikan kejang
d) menguntungkan untuk usia tua
e) jarang terjadi depresi nafas, batuk, disritmia
f) premedikasi 1m 10 mg, oral 5-10 mg
4. Golongan Obat Pengering
Bertujuan menurunkan sekresi kelenjar saliva, keringat, dan lendir di mulut
serta menurunkan efek parasimpatolitik / paravasopagolitik sehingga
menurunkan risiko timbulnya refleks vagal.

1.2.6. Obat Anestesi


Obat Dalam Jumlah di pengenceran Dalam Dosis 1 cc
sediaan sediaan spuit (mg/kgBB) spuit =

Pethidin ampul 100mg/2cc 2cc + 10 cc 0,5-1 10 mg


aquadest 8cc

Fentanyl 0,05 mg/cc 0,05mg

Recofol ampul 200mg/ 10cc + 10 cc 2-2,5 10 mg


(Propofol) lidocain 1
20cc ampul

Ketamin Vial 100mg/cc 1cc + 10 cc 1-2 10 mg


aquadest 9cc

Succinilcholin Vial 200mg/ Tanpa 5 cc 1-2 20 mg


pengenceran
10cc

Atrakurium ampul 10mg/cc Tanpa 5 cc Intubasi: 0,5- 10 mg


Besilat pengenceran 0,6,
(Tramus/ relaksasi:
Tracrium) 0,08,
maintenance:
0,1-0,2

Efedrin HCl ampul 50mg/cc 1cc + 10 cc 0,2 5 mg


aquadest 9cc

Sulfas Atropin ampul 0,25mg/cc Tanpa 3 cc 0,005 0,25 mg


pengenceran

Ondansentron ampul 4mg/2cc Tanpa 3 cc 8 mg 2 mg


HCl (Narfoz) pengenceran (dewasa)

5 mg (anak)

Aminofilin ampul 24mg/cc Tanpa 10 cc 5 24 mg


pengenceran
Dexamethason ampul 5 mg/cc Tanpa 1 5 mg
pengenceran

Adrenalin ampul 1 mg/cc 0,25-0,3

Neostigmin ampul 0,5mg/cc Tanpa Masukkan 2 0,5 mg


(prostigmin) pengenceran ampul
prostigmin +
1 ampul SA

Midazolam ampul 5mg/5cc Tanpa 0,07-0,1 1 mg


(Sedacum) pengenceran

Ketorolac ampul 60 mg/2cc Tanpa 30 mg


pengenceran

Difenhidramin ampul 5mg/cc Tanpa 5 mg


HCl pengenceran

1.2.7. Pasca Anestesi


Perawatan dan monitoring biasanya dilakukan :
1. Di ruang pulih sadar pada keadaan tertentu dan khusus, dapat dilakukan
di ruang perawatan
2. Dapat dilakukan dengan peralatan sederhana selama pasien di ruang pulih
sadar
3. Dapat dilakukan dengan cara manual maupun menggunakan peralatan
elektronik
Untuk memudahkan perawatan, lakukan monitoring B6 :
1. Breath (nafas) sistem respirasi
1) Pasien belum sadar evaluasi :
a. Pola nafas
b. Tanda-tanda obstruksi
c. Pernafasan cuping hidung
d. Frekuensi nafas
e. Pergerakan rongga dada simetris/tidak
f. Suara nafas tambahan (-) pada obstruksi total
g. Udara nafas yang keluar dari hidung
h. Sianosis pada ekstremitas
i. Auskultasi wheezing, ronki
2) Pasien sadar tanyakan adakah keluhan pernafasan :
a. (-) cukup berikan O2
b. Tanda-tanda obstruksi (+) terapi sesuai kondisi (aminofilin,
kortikosteroid, tindakan triple manuver airway)

2. Blood (darah) sistem kardiovaskuler


1) Tekanan darah
2) Nadi
3) Perfusi perifer
4) Status hidrasi (hipotermi syok)
5) Kadar Hb
3. Brain (otak) sistem SSP
1) Menilai kesadaran pasien
2) Dinilai dengan GCS (Glasgow Coma Scale)
3) Perhatikan gejala kenaikan TIK
4. Bladder (kandung kencing) sistem urogenitalis
1) Periksa kualitas, kuantitas, warna, kepekatan urin mencerminkan
kadar elektrolit
2) Untuk menilai :
a. Apakah pasien masih dehidrasi
b. Apakah ada kerusakan ginjal saat operasi acute renal failure,
transfusi hemolysis
5. Bowel (usus) sistem gastrointestinalis
1) Periksa :
a. Dilatasi lambung
b. Tanda-tanda cairan bebas
c. Distensi abdomen
d. Perdarahan lambung postoperasi
e. Obstruksi hipoperistaltik, gangguan organ lain, mis: hepar, lien,
pankreas
f. Dilatasi usus halus
2) Hati-hati!! Pasien operasi mayor sering mengalami kembung
mengganggu pernafasan karena ia bernafas diafragma
6. Bone (tulang) sistem muskuloskeletal
1) Periksa :
a. Tanda-tanda sianosis
b. Warna kuku
c. Perdarahan postoperasi
d. Gangguan neurologis gerakan ekstremitas