Anda di halaman 1dari 6

A.

Prinsip-Prinsip Dasar Penyusunan kontrak

1.Asas utama dalam kontrak

Asas adalah suatu kebenaran yang menjadi pokok dasar atau tumpuan berpikir atau
berpendapat.

Asas penting pertama dari suatu kontrak adalah asas konsensualitas . asas ini menjadi dasar argument
bahwa suatu kontrak telah lahir sejak saat di percaya kata sepakat mengenai apa yang di perjanjikan di
dalam suatu kontrak.

Asas penting kedua dalam hokum kontrak adalah asas kebebasan berkontrak. Asas ini berangkat dari
ajaran filsafat bahwa setiap orang adalah bebas untuk berkomunikasi dengan siapa aja (freedom for
comunicstion ) yang dia kehendaki.

2.Prinsip-Prinsip dasar dalam penyusunan kontrak dagang.

a.prinsip penggunaan istilah

b.prinsip kebebasan berkontrak

c.prinsip penawaran dan penerimaan

d.prinsip iktikat baik

e.prinsip peralihan risiko

f.prinsip ganti kerugian

g.prinsip keadaan darurat

h. prinsip alas an pemutus

i.prinsip pilihan hokum

j. prinsip penyelesaian sengketa

B.Kontrak perdagangan barang peniagaan

Dalam perjanjian jual beli barang baik untuk di jual kembali maupun untuk bahan baku dari
produksi nya dalam system suasana ekonomi yang mengglobalkan ini , ada beberapa hal yang harus
menjadi perhatian dari pelaku bisnis antara lain

A.Kemampuan untuk mengantisipasi dan menanggulangi kemampuan adanya persaingan dengan pihak
lain
B.Kemampuan untuk memahami dan menembus proteksi yang diadakan oleh Negara pembeli (dalam
perdagangan internasional )

C. Kemampuan untuk mengkreasi atau menciptakan perjanjian sedemikian rupa sehingga ada kepastian
hukum dan perlindungan hukum baginya di samping juga harus memberikan atau mendatangkan
keuntungan

B.I. Janjian janji Dalam Kontrak perdagangan Barang Perniagaan

Janji janji yang berkaitan dengan penyerahan barang umumnya meliputi

A.Kapan penyerahaan itu di lakukan

B.Tempat dimana penyerahan di lakukan

C.Cara melakukan penyerahan

B.2.1. Resiko Resiko Potensial dalam perdagangan internasional

1. Risiko dalam bidang transportasi

2.Resiko kredit atau non pembayaran

3.Risiko Nilai tukar mata uang

4.Risiko mutu barang

5.Risiko peristiwa tidak terduga

6.Resiko Hukum

B.2.2. Kiat Mengatasi risiko

perdagangan internasional

Pengelolahan risiko perdagangan internasional telah di upayakan melalui system standarisasi dokumen
yang menjabarkan hak hak, biaya-biaya,dan tanggung jawab dari proses perdagangan

Dalam praktek perdagangan internasional mekanisme yang diambil untuk menekan resiko bisnis di
bidang ini adalah

1.Risiko bonafiditas

2.Risiko non pembayaran


3.Risiko pembayaran

4.Risiko kemungkinan ingkar janji

5.Risiko Kerusakan,kekurangan,pencurian

6.Resiko terhadap penipu

7.Resiko terhadap perubahan kurs mata uang

B.2.3 Klausula kontrak dagang internasional yang perlu diperhatikan.

1.Masalah kualitas dan kuantitas barang;

2.Masalah harga dan penyerahan barang(resiko);

3.Masalah Pembayaran;

4.Masalah lain yang berkaitan dengan perdagangan internasional seperti penutupan


asuransi,lisensi,pelayanan purna jual,penyelesaian sengkata dan sebagainya.

BAB 3

LEMBAGA DAN PERJANJIAN PEMBIAYAAN

1.Landasan Hukum Lembaga Pembiayaan

1.1 Pengertian lembaga pembiayaan.

Sebagai landasan oprasional dari lembaga pembiayaan ini adalah Keppres R.I No. 61 tahun 1988 dan S.K.
Menkeu No. 1251/KMK.013/1988.Yang dimaksud dengan lembaga pembiayaan menurut ketentuan ini
adalah badan usaha yang melakuakn kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana atau barang
modal dengan tidak menarik dana secara langsung dari masyarakat

1.2 Bentuk usaha darilembaga pembiayaan

Menurut pasal 9 ayat dua Keppres No 61/1988 adalah PT atau koprasi.Dengan demikian ,bila ditelaah
ketentuan-ketentuan lebih lanjut,maka badan hokum Indonesia ini pemiliknya harus(pasal 9 ayat 3)

a.sahamnya dimiliki oleh warga Negara Indonesia dan/atau badan hukum Indonesia;atau

b.Badan usaha asing dan warga Negara Indonesia atau badan hukum Indonesia. Dalam bentuk ini maka
modal asing sebesar-besarnya 85 persen dari modal disetor(pasal 9 ayat(4))

1.3 Ijin Usaha

Diatur dalam pasal 10 ayat (1) SK Menkeu N0.1251/KMK.013/1988,permohonanannya diajukan kepada


Mentri Keuangan.
2.Bentuk dan perjanjian Lembaga pembiayaan

2.1 Perusahaan anjak piutang(factoring)

Yang dimaksud dengan perusahan anjak piutang (pasal 1 ayat (8)) Keppres RI No.61/1988) adalah badan
usaha yang melakukan usaha pembiayaan dalam bentuk pembelian dan/atau pengalihan serta
pengurusan piutang atau tagihan jangka pendek suatu perusahaan dari transaksi perdagangan dalam
atau luar negri.

2.1.1 Produk jasa factoring yaitu;

a.jasa financing(keuangan) merupakan core bisnis dari perusahaan anjak piutang

b.jasa non financing merupakan bentuk layananan jasa credit management cilent

2.1.2 Fasilitas Factoring

a.bentuk kesepakatan factoring

ada dua bnetuk factor agreement yang lazim dilakukan dalam transaksi factoring yaitu dalam bentuk
penawaran penjualan tagihan yang dilakukan oleh client kepada perusaahan factoring. Kedua dalam
bentuk perjanjian bahwa kedua belah pihaksepakat untuk menjual dan membeli tagihan pihak client.

b.jenis fasilitas factoring

dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu fasilitas dalam negri dan fasilitas luar negri

2.2 Perusahaan Pembiayaan Modal ventura

Adalah salah satu jenis lembaga pembiayaan yang melakukan aktifitasnya dengan mekanisme
penyertaan pada perusahaan target.

2.2.1 Karekteristik modal ventura.

Karakteristik dari modal ventura sebagai berikut;

a.modal ventura dikategorikan sebagai investasi berisiko tinggi.Untuk itu diperlukan semacam
ketajaaman naulri bisnis dari pemodal ventura untuk secara dini dapat menangkap isyarat-isyarat ada
tidaknya gangguan dalam mekanisme perusahaan pasangan usaha,serta kemampuan mengatasi
gangguan tersebut.

b.ciri pembiayaan ini berjangka panjang,dan tidak serta merta segera menghasilkan serta tidak teratur
dalam arti pendapaatan berupa deviden ,tergantung kepada kebijakan direksi,apakah keuntungan
tersebut akan dibagi atau tidak

c.nilai tambah pembiayaan modal ventura tidak akan banyak artinya,apabila tidak disertai dengan paket
lainnya,berupa pertambahan nilai melalui tehnical assistance,manajmen dan strategi bisnisnya.
2.2.2 Model pembiayaan.

Yaitu ada dua macam yaitu model early-stage financing dan model later-stage financing.

2.3 Perusahaan sewa guna usaha(leasing)

Sewa guna usaha menurut pasal 1 butir a.SK Menkes No. 48/KMK.013/1991, adalah kegiatan dalam
pembiayaan bentuk penyediaan barang modal baik secara sewa guna usaha dengan hak opsi maupun
sewa guna usha tanpa hak opsi untuk digunakan oleh lease selama jangka waktu tertentu berdasarkan
pembayaran secara berkala.

2.3.1. Bentuk perjanjian sewa guna usaha

Perjanjian sewa guna usaha dengan hak opsi dan tanpa hak opsi

2.3.2 Sindikasi leasing

1.perjanjian yang mengatur kerja sama antara beberapa perusaahan leasing yang bersangkutan.

2.Perjanjian jual beli barang modal antara pabrikan dengan perusahaan sewa guna usaha yang
bekerjasama tersebut.

3. perjanjian sewa guna usaha antara perusahaan yang memerlukan barang modal dengan perusaahn
sewa guna usaha yang bekerja sama tersebut.

2.3.3 Levarege Leasing

Pihak pihak yang terlibat dalam leverage leasing

1.perusahaan yang membutuhkan modal

2.perusahaanperusahaan sewa guna usaha

3.pemebri kredit

4.under writer

4. pabrikan.

2.3.4 Ketentuan mengenai perjanjian sewa guna usaha.

Diserahkan pada kesepakatan para pihak berdasarkan pasal 1338(1) KUHPerdata.

Namun sejak adanya SK Mentri Keuangan NO.1169/KMK.01/1991.

2.4 Kartu kredit

Adalah suatu kartu yang memberikan hak kepada pemegangnya atasb penunjujkan dari kartu itu dan
dengan menandatangani formulir rekening pada suatu perusahaan dapat memperoleh barang0barang
atau jasa tanpa perlu membayar secara langsung. Hal-hal yang harus diteliti oleh pemilik toko atau
pengusaha atas kartu kredit tersebut adalah;

1.Apakah kartu kredit itu masih berlaku

2.Apakah tanda tangan yang terdapat pada kartu kredit sesuia atau cocok dengan tanda tangn pada
invoices

3.Apakah nomer kartu kredit termasuk dalam stoplist yaitu daftar yang memuat nomer kartu kredit
yang dicuri,hilang atau yang sudah dambil kembali.