Anda di halaman 1dari 62

Sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan sebuah interaksi dengan

sesamanya. Dan proses interaksi itu tidak selamanya berjalan dengan baik, namun ada
kalanya dihiasi dengan konflik horizontal sehingga dalam kasus ini diperlukan adanya
suatu institusi yang menjadi pemutus konflik tersebut. Dalam kehidupan bernegara,
institusi ini menjelma dalam bentuk Lembaga-lembaga peradilan.
Di dalam dunia pengadilan, sebenarnya hanya ada satu hal pokok yang dicari
para justiabalance (pencari keadilan) yaitu Putusan Hakim.Setelah putusan tersebut
sudah final dan berkekuatan hokum sacara tetap maka akan dilaksanakan
eksekusi(akibat dari putusan tersebut).
Tujuan pihak-pihak yang berperkara menyerahkan perkara-perkaranya kepada
pengadilan adalah untuk menyelesaikan perkara mereka secara tuntas dengan putusan
pengadilan.Tetapi dengan adanya putusan pengadilan bukan berarti sudah
menyelesaikan perkara secara tuntas, akan tetapi perkara akan dianggap selesai apabila
ada pelaksanaan putusan atau eksekusi.
Dengan kata lain pencari keadilan mempunyai tujuan akhir yaitu agar segala hak-
haknya yang dirugikan oleh pihak lain dapat dipulihkan melalui putusan
pengadilan/hakim . Dan pemulihan tersebut akan tercapai apabila putusan
dapatdilaksanakan.Dan dalam makalah singkat ini akan mengemukakan sedikit
pembahasan mengenai pelaksanaan putusan/eksek usi
Pelaksanaan putusan /eksekusi adalah putusan pengadilan yang dapat
dilaksanakan. Dan putusan pengadilan yang dapat dilaksanakan adalah putusan yang
sudah mempunyai kekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsde) . Putusan yang sudah
berkekuatan tetap adalah putusan yang sudah tidak mungkin lagi dilawan dengan upaya
hukum verzet, banding, dan kasasi.
Pengadilan Agama sebagai salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman dapat
melaksanakan segala putusan yang dijatuhkannya secara mandiri tanpa harus melalui
bantuan Pengadilan Negeri. Hal ini berlaku setelah ditetapkannya UU No. 7/1989. Dan
sebagai akibat dari ketentuan UU Peradilan Agama diatas adalah:
a. Ketentuan tentang eksekutoir verklaring dan pengukuhan oleh Pengadilan Negeri
dihapuskan
b. Pada setiap Pengadilan Agama diadakan Juru Sita untuk dapat melaksanakan putusan-
putusannya
Pelaksanaan putusan hakim dapat Secara sukarela,atau Secara paksa dengan
menggunakan alat Negara,apabila pihak terhukum tidak mau melaksanakan
secarasukarela.Semua keputusan pengadilan mempunyai kekuatan eksekutorial, yaitu
kekuatan untuk dilaksanakan secara paksa oleh alat-alat Negara .Keputusan pengadilan
bersifat eksekutorial adalah karena pada bagian kepala keputusannya berbunyi Demi
Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa .
Putusan yang dapat dieksekusi adalah yang memenuhi syarat-syarat untuk dieksekusi,
yaitu :
Putusan yang telah berkekuatan hukum tetap, kecuali dalam hal:
a. Pelaksanaan putusan serta merta, putusan yang dapat dilaksanakan lebih dulu
b. Pelaksanaan putusan provisionil
c. Pelaksanaan Akta Perdamaian
d. Pelaksanaan (eksekusi) Grose akta
Putusan tidak dijalankan oleh pihak terhukum secara sukarela meskipun ia telah diberi
peringatan (aan maning) oleh Ketua Pengadilan Agama
Putusan hakim yang bersifat kondemnatoir
Putusan yang bersifat deklaratoir atau konstitutif tidak diperlukan eksekusi. Putusan
kondemnatoir tidak mungkin berdiri sendiri, dan merupakan bagian dari putusan
deklaratoir, karena sebelum bersifat menghukum terlebih dahulu ditetapkan suatu
keadaan hukum
Eksekusi dilakukan atas perintah dan dibawah pimpinan Ketua Pengadilan Agama.

Terdapat beberapa macam pelaksanaan putusan,yaitu:


Putusan yang menghukum salah satu untuk membayar sejumlah uang. Hal ini diatur
dalam pasal 196 HIR, pasal 208 R.Bg
Putusan yang menghukum salah satu pihak untuk melakukan suatu perbuatan. Hal ini
diatur dalam pasal 225 HIR, pasal 259 R.Bg
Putusan yang menghukum salah satu pihak untuk mengosongkan suatu benda tetap.
Putusan ini disebut juga Eksekusi Riil. Hal ini diatur dalam pasal 1033 Rv.
Eskekusi riil dalam bentuk penjualan lelang. Hal ini diatur dalam pasal 200 ayat (1) HIR,
pasal 218 ayat (2) R.Bg
Pasal 196 HIR/207 R.Bg mengatur tentang pelaksanaan putusan yang diakibatkan dari
tindakan tergugat/enggan untuk secara suka rela melaksanakan isi putusan untuk
membayar sejumlah uang, sehingga pihak penggugat sebagai pihak yang dimenangkan
mengajukan permohonan secara lisan atau tertulis kepada Ketua Pengadilan Agama
agar putusan dapat dijalankan.
Pasal 225 HIR/259 R.Bg berkaitan dengan pelaksanaan putusan untuk melakukan
suatu perbuatan tertentu yang tidak ditaati, sehingga dapat dimintakan pemenuhan
tersebut dinilai dalam bentuk uang. Maksud pelaksanaan putusan yang diatur dalam
ketentuan ini adalah untuk menguangkan bagian tertentu dari harta kekayaan pihak
tergugat sebagai pihak yang dikalahkan dengan tujuan guna memenuhi isi putusan
sebagai termuat dalam amarnya, yang telah memenangkan pihak penggugat sebagai
pemohon eksekusi.Yang dimaksudkan eksekusi riil dalam ketentuan pasal 1033 Rv.
adalah dilaksanakan putusan yang memerintahkan pengosongan atas benda tidak
bergerak. Dalam praktek di pengadilan,tergugat yang dihukum untuk mengosongkan
benda tidak bergerak tersebut setelah terlebih dahulu ditegur, untuk mengosongkan
dan menyerahkan benda tidak bergerak tersebut kepada penggugat selaku pihak
yangdimenangkan.Apabila tidak bersedia melaksanakan perintah tersebut secara
sukarela, maka Ketua Pengadilan dengan penetapan akan memerintahkan Panitera atau
Juru Sita, kalau perlu dengan bantuan alat negara (Polisi/ABRI) dengan paksa
melakukan pengosongan terhadap tergugat dan keluarga serta segenap penghuni yang
ada, ataupun yang mendapat hak dari padanya, dengan menyerahkannya kepada
Penggugat selaku pemohon eksekusi.
Adapun mengenai cara melakukan penjualan barang-barang yang disita dalam hal
pelaksanaan eksekusi riil dalam bentuk penjualan lelang diatur dalam pasal 200 HIR.
Ketentuan pokoknya antaralainberisi:
1. .Penjualan dilakukan dengan pertolongan Kantor Lelang;
2. Urutan-urutan barang yang akan dilelang ditunjuk oleh yang terkena lelang jika ia mau
3. Jika jumlah yang harus dibayar menurut putusan da biaya pelaksanaan putusan
dianggap telah tercapai, maka pelelangan segera dihentikan. Baran-barang selebihnya
segera dikembalikan kepada yang terkena lelang;
4. Sebelum pelelangan, terlebih dahulu harus diumumkan menurut kebiasaan setempat
dan baru dapat dilaksanakan 8 hari setelah penyitaan;
5. Jika yang dilelang terasuk benda yang tidak berberak maka harus diumumkan dalam dua
kali dengan selang waktu 15 hari;
6. Jika yang dilelang menyangkut benda tidak bergerak lebih dari Rp.1000.- harus
diumumkan satu kali dalam surat kabar yang terbit di kota itu paling lambat 14 hari
sebelum pelelangan;
7. Jika harga lelang telah dibayar, kepada pembeli diberikan kwitansi tanda lunas dan
selain itu pula hak atas barang tidak bergerak tersebut beralih kepada pembeli;
8. Orang yang terkena lelang dan keluarganya serta sanak saudaranya harus menyerahkan
barang tidak bergerak itu secara kosong kepada pembeli.

Sudut Hukum | Eksekusi adalah Pelaksanaan secara resmi suatu putusan Pengadilan di
bawah Pimpinan ketua Pengadilan Negeri, bahwa eksekusi itu haruslah diperintah secara
resmi oleh Ketua Pengadilan Negeri yang berwenang sebagai pelaksanaan atas suatu
putusan Pengadilan yang telah mempunyai Keputusan Hukum yang tetap.

Eksekusi tidak sama dengan tindakan main hakim sendiri, karena eksekusi ini adalah
menjalankan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap, apabila pihak
yang dikalahkan oleh pengadilan dalam suatu perkara mau secara sukarela dapat melaksanakan
putusan yang telah diputus tersebut maka dengan demikian selesailah perkaranya tanpa harus
dilaksnakan Eksukusi secara paksa.

Eksekusi diatur dalam pasal 195 HIR dan Pasal 206 Rbg, dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa eksekusi adalah menjalankan putusan pengadilan atas perintah Ketua Pengadilan negeri
yang pada tingkat pertama memeriksa perkara itu.

(Baca juga: Macam-macam Putusan Hakim)

Untuk menjalankan eksekusi ada beberapa hal yang menjadi azas-azas dari eksekusi yaitu :

1. Eksekusi dijalankan terhadap Putusan yang telah berkekuatan hukum tetap.

Disini jelas bahwa eksekusi hanya boleh dilakukan terhadap Putussan yang telah mempunyai
keputusanhukum yang tetap, akan tetapi terhadap hal ini undang undang ada mengatur
pengecualiannya yang meliputi:
Pelaksanaan putusan terlebih dahulu (Uit voerbaar bij voorraad) dimana eksekusi dapat
dijalankan terlebih dahulu walau ada banding dan kasasi.
Pelaksanaan putusan Provisi, Putusan Provisi merupakan pengecualian dimana jika hakim
mengabulkan tuntutan provisi maka putusan provisi dapat dijalankan walau perkara pokok belum di
putus.
Akta Perdamaian, akta perdamaian yang dibuat di persidangan mempunyai kekuatan
eksekusi, seperti putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap.
Eksekusi terhadap Grosse Akta, baik Grosse akta Hipotik maupun grosse akta pengakuan
hutang.
2. Eksekusi dijalankan terhadap Putusan yang tidak mau dijalankan secara sukarela.

Pada prinsipnya eksekusi merupakan tindakan paksa yang dijalankan oleh pengadilan, jika pihak
yang kalah mau menjalankan sendiri putusan Pengadilan maka tindakan eksekusi harus disingkirkan.

3. Putusan yang dapat di eksekusi adalah putusan yang bersifat Comdemnatoir. Artinya padaputusan itu
mengandung dictum yang bersifat penghukuman.

Jenis-jenis eksekusi :
Dalam menjalankan eksekusi ada beberapa jenis pelaksanaan dari eksekusi itu sendiri Yaitu :
1. Eksekusi putusan yang menghukum pihak yang dikalahkan untuk membayar
sejumlah uang, prestasi yang diharapkan adalah membayar sejumlah uang. (Pasal 196 HIR
dan Pasal 208 Rbg)
2. Eksekusi putusan yang menghukum orang untuk melakukan suatu perbuatan hal ini
diatur dalam pasal 225 HIR dan pasal 259 Rbg, pihak yang dimenangkan dapat meminta
kepada hakim agar kepentingan yang akan diperolehnya dinilai dengan uang.
3. Eksekusi Riil merupakan pelaksanaan prestasi yang dibebankan kepada debitur oleh
putusan hakim secara langsung. Jadi eksekusi riilitu adalah pelaksanaan putusan yang
menuju kepada hasil yang sama seperti apabila dilaksanakan secara sukarela.

Prosedur Eksekusi.
Untuk dapat menjalankan eksekusi maka dapat kita pedomani tata cara dalam melakukan eksekusi
yaitu:

4. Pelaksanaan eksekusi atas perintah dan/atau di pimpin Ketua Pengadilan Negeri. Pelaksanaan
eksekusi ini dilakukan atas perintah Ketua Pengadilan Negeri yang pada tingkat pertama memeriksa
perkara itu, jika eksekusi seluruhnya atau sebagian berada diluar daerah hukum pengadilan tersebut
maka Ketua Pengadilan meminta bantuan dari ketua pengadilan yang bersangkutan untuk
menjalankan putusan itu.

Jika dalam pelaksanaan putusan itu ada perlawanan dari pihak ketiga maka akan diserahkan
kembali kepada ketua Pengadilan yang memutus perkara tersebut.
5. Sebelum dilaksanakan Eksekusi, diberikan Peringatan (Aanmaning). Jika pihak yang dikalahkan
tidak mau atau lalai dalam memenuhi isi putusan tersebut dengan kemauannya sendiri, maka pihak
yang dimenagkan dapat memasukkan permintaan kepada ketua Pengadilan Negeri untuk
menjalankan putusan tersebut, kemudian Ketua Pengadilan akan memanggil pihak yang kalah
supaya dapat memenuhi Putusan tersebut dalam jangka waktu yang ditentukan oleh ketua selama-
lamanya 8 (delapan) hari.

6. Jika tidak mengindahkan Peringatan dilakukan sita eksekusi. Jika sesudah lewat waktu yang
ditentukan belum juga di penuhi putusan tersebut, atau sesudah dipanggil secara patut tidak juga
menghadap maka ketua Pengadilan Negeri karana jabatannya memberikan perintah secara tertulis
supaya disita sejumlah barang bergerak atau barang tetap dari pihak yang kalah sehingga cukup
untuk pengganti sejumlah uang yang disebut dalam putusan.

7. Penyitaan dilakukan oleh Panitera atau orang lain yang ditunjuk ketua Pengadilan. Penyitaan
tersebut dilakukan oleh panitera pengadilan negeri. (Pasal 197 ayat (2) HIR). Atau kalau panitera
berhalangan maka digantikan oleh orang lain yang ditunjuk oleh ketua Pengadilan Negeri.

8. Sita Eksekusi dilakukan dengan dua orang saksi. Pelaksanaan eksekusi tersebut dilakukan
dengan dihadiri oleh 2 orang saksi yang nama , pekerjaan dan tempat tinggalnya disebutkan dalam
berita acara.

9. Penyitaan terhadap benda bergerak tidak boleh atas Hewan dan Perkakas untuk Pencarian.
Penyitaan
terhadap barang boleh dilakukan apa saja akan tetapi tidak boleh dilakukan atas hewan dan
perkakas yang sungguh berguna dalam menjalankan pencariannya sendiri.

10. Barang yang disita tetap berada pada orang yang disita atau ditempat penyimpanan yang
patut.Berdasarkan situasi dan kondisi maka panitera membiarkan agar barang tersebut tetap berada
pada orang yang disita.
11. Penyitaan benda tidak bergerak dilakukan dengan mengumumkan berita acara penyitaan
terebut. Terhadap benda tidak bergerak maka berita acara penyitaan harus diumumkan kepada
masyarakat dengan menempel Berita acara tersebut di papan Pengumuman.

12. Penjualan barang sitaan dilakkan dengan Bantuan kantor lelang dengan nilai paling rendah
Rp.300. Penjualan barang sitaan itu dilakukan dengan bantuan kantor lelang.
Iklan

Eksekusi adalah merupakan pelaksanaan Putusan Pengadilan yang telah mempunyai


kekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsde) yang dijalankan secara paksa oleh
karena pihak yang kalah dalam perkara tidak mau mematuhi pelaksanaan acara
Putusan Pengadilan. Istilah Eksekusi berasal dari Bahasa Belanda, Executeren,
executie berarti melaksanakan, menjalankan, pelaksanaan, penjalanan. R. Subekti dan
Ny. Retnowulan, mengartikan eksekusi berarti pelaksanaan putusan. Eksekusi berarti
melaksanakan secara paksa putusan pengadilan dengan bantuan kekuatan alat negara
apabila pihak yang kalah (tereksekusi) tidak mau menjalankan secara sukarela.

Eksekusi ada dua (2) jenis yang pertama, eksekusi dengan Sukarela yang artinya pihak
yang dikalahkan melaksanakan sendiri putusan Pengadilan tanpa ada paksaan dari
pihak lain. Kedua, eksekusi dengan Paksaan yang artinya menjalankan putusan
Pengadilan, yang merupakan suatu tindakan hukum dan dilakukan secara paksa
terhadap pihak yang kalah disebabkan ia tidak mau menjalankan putusan secara suka
rela.

Dalam menjalankan Eksekusi ada beberapa asas, yakni :


1). Menjalankan putusan yang telah berkekuatan hukum tetap :
*Putusan Pengadilan Negeri tidak banding.
*Putusan Pengadilan Tinggi tidak kasasi.
*Putusan Mahkamah Agung

2). Putusan tidak dijalankan secara sukarela.


3). Putusan bersifat kondemnatoir (memerintah/menghukum).
4). Eksekusi atas perintah dan di bawah pimpinan Ketua Pengadilan
Negeri (Pasal 196 HIR dan 264 Rbg).
5). Permohonan PK tidak menangguhkan atau menghentikan pelaksanaan eksekusi
(Pasl 66 ayat (2) UU 14 tahun 1985 serta perubahannya).
6). Eksekusi harus sesuai dengan amar putusan.
Dalam perkara perdata pelaksanaan putusan pengadilan dilakukan oleh pihak yang
dikalahkan. Akan tetapi, terkadang pihak yang kalah tidak mau menjalankan putusan
secara sukarela, sehingga pihak yang menang dapat meminta bantuan pihak
pengadilan untuk memaksakan eksekusi putusan tersebut. Dalam hal ini tidak ada jalan
lain bagi pihak yang menang dari pada menggunakan haknya itu dengan perantaraan
hakim untuk melaksanakan putusan tersebut, akan tetapi putusan itu harus benar-benar
telah dapat dijalankan, telah memperoleh kekuatan pasti, artinya semua jalan hukum
untuk melawan keputusan itu sudah dipergunakan, atau tidak dipergunakan karena
lewat waktunya, kecuali kalau putusan itu dinyatakan dapat dijalankan dengan segera,
walaupun ada perlawanan, banding atau kasasi.

Pasal 195 HIR


Dalam perkara perdata oleh karena pihak yang menang telah memperoleh keputusan
hakim yang menghukum pihak lawannya maka ia berhak dengan alat-alat yang
diperbolehkan oleh undang-undang untuk memaksa pihak lawan guna mematuhi
keputusan hakim itu. Hak ini memang sudah selayaknya, sebab kalau tidak ada
kemungkinan untuk memaksa orang yang dihukum maka peradilan akan tidak ada
gunanya.

Pasal 196 HIR


Jika pihak yang dikalahkan tidak mau atau lalai untuk memenuhi isi keputusan itu
dengan damai, maka pihak yang menang memasukkan permintaan, baik dengan lisan,
maupun dengan surat, kepada ketua pengadilan negeri yang tersebut pada ayat
pertama pasal 195, buat menjalankan keputusan itu Ketua menyuruh memanggil pihak
yang dikalahkan itu serta memperingatkan, supaya ia memenuhi keputusan itu di dalam
tempo yang ditentukan oleh ketua, yang selama-lamanya delapan hari.

Jika setelah jangka waktu yang telah ditetapkan, putusan masih juga tidak
dilaksanakan, maka Ketua Pengadilan memerintahkan agar disita barang-barang milik
pihak yang kalah sampai dirasa cukup akan pengganti jumlah uang yang tersebut di
dalam keputusan itu dan ditambah pula dengan semua biaya untuk menjalankan
keputusan itu.

Pasal 197 HIR


Jika sesudah lewat tempo yang telah ditentukan belum juga dipenuhi
putusan itu atau jika pihak yang dikalahkan itu walaupun telah dipanggil
dengan patut tidak juga datang menghadap maka ketua atau pegawai yang
dikuasakan itu karena jabatannya memberi perintah dengan surat supaya
disita sejumlah barang kepunyaan pihak yang dikalahkan

Pasal 225 HIR


Jika seseorang yang dihukum untuk melakukan suatu perbuatan tidak melakukan
perbuatan itu dalam waktu yang ditentukan hakim, maka pihak yang menang perkara
boleh meminta kepada pengadilan negeri dengan perantaraan ketuanya, entah dengan
syarat, entah dengan lisan, supaya keuntungan yang sedianya akan didapatnya jika
keputusan itu dilaksanakan, dinilai dengan uang yang banyaknya harus
diberitahukannya dengan pasti; permintaan itu harus dicatat jika diajukan dengan lisan.

Pasal 208 Rbg


Bila setelah lampau tenggang waktu yang telah ditentukan, putusan hakim tidak
dilaksanakan atau pihak yang kalah tidak datang menghadap setelah dipanggil, maka
ketua pengadilan yang diberi kuasa karena jabatannya mengeluarkan perintah untuk
menyita barang-barang milik pihak yang kalah

Pasal 259 Rbg


Jika seseorang yang dihukum untuk melakukan suatu perbuatan tidak melakukannya
dalam waktu yang telah ditentukan oleh hakim, maka oleh orang yang mendapat
keuntungan dari putusan pengadilan yang bersangkutan dapat dimintakan kepada
pengadilan agar kepentingan dari pemenuhan perbuatan itu dinilai dalam jumlah uang
yang harus ia kemukakan.

PROSES PELAKSANAAN EKSEKUSI


Proses pelaksanaan eksekusi dimulai dengan pengajuan permohonan
eksekusi dan diakhiri dengan pelaksanaan eksekusi, dengan tahapan sbb :

1). Permohonan Eksekusi


Pemohon eksekusi mengajukan permohonan eksekusi yang diajukan langsung ke
Ketua Pengadilan Negeri dengan melampirkan fotokopi putusan pengadilan yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap, meliputi
putusan Pengadilan Negeri, dan/atau putusan Pengadilan Tinggi, dan/atau Putusan
Mahkamah Agung Republik Indonesia. Pihak yang berhak mengajukan permohonan
eksekusi adalah pihak yang dinyatakan menang dalam putusan, baik itu pribadi atau
melalui kuasa hukumnya dengan disertai surat kuasa khusus.

a) Pembayaran Panjar.
Permohonan eksekusi diajukan ke Kepaniteraan Perdata, dalam hal ini yang
menerima permohonan eksekusi adalah Panitera Muda (Panmud)
Perdata. Selanjutnya Pemohon membayar biaya panjar eksekusi sesuai dengan
yang telah ditentukan, dan dibuatkan bukti setor. Dan pemohon eksekusi menyerahkan
bukti penyetoran tersebut kepada petugas/kasir yang berada di bagian Kepaniteraan
Perdata Pengadilan dan kasir tersebut selanjutnya mengeluarkan
tanda bukti pembayaran berupa SKUM (Surat Kuasa Untuk Membayar).

b) Aanmaning (Teguran).
Ketentuan Pasal 207 ayat (2) Rbg, menyebutkan bahwa 8 hari setelah aanmaning
dilakukan, dan termohon eksekusi tidak mengindahkan teguran tersebut,
maka sudah dapat dilaksanakan eksekusi.

c) Eksekusi.
Setelah termohon eksekusi dipanggil secara patut ternyata tidak hadir
dengan alasan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan, maka dalam praktiknya
biasanya dipanggil 1 kali lagi dan jika tidak hadir, maka Ketua Pengadilan dapat
langsung mengeluarkan penetapan eksekusi terhitung sejak tergugat tidak
memenuhi panggilan, dengan perintah berupa penetapan (beschikking) dan ditujukan
kepada panitera atau juru sita untuk pelaksanaannya.

d) Pelaksanaan Eksekusi

Isi perintah, agar menjalankan eksekusi sesuai amar keputusan.


Eksekusi dilakukan oleh panitera/juru sita (109 R.Bg/pasal 197 HIR).
Dalam pelaksanaannya, panitera/juru sita dibantu oleh 2 (dua) orang saksi (210
R.Bg) atau pasal 197 ayat (6) HIR.
Eksekusi dilaksanakan ditempat objek/barang berada.
Membuat berita acara dengan ketentuan memuat :

- Barang/jenis yang dieksekusi


- Letak/ukuran yang dieeksekusi
- Hadir/tidak hadirnya tereksekusi
- Penegasan/pengawasan barang
- Penjelasan non bevinding bagi yang tak sesuai dengan amar putusan
- Penjelasan dapat/tidaknya dijalankan
- Hari/tanggal, jam, bulan dan tahun pelaksanaan
- Diserahkan kepada pemohon eksekusi
- Berita acara ditanda tangani oleh Pejabat pelaksana eksekusi panitera/juru sita,
dua saksi yang membantu pelaksanaan eksekusi, dan bila perlu melibatkan Kepala
desa/lurah setempat atau camat dan Termohon eksekusi.

Kepala desa/lurah atau camat dan termohon eksekusi secara yuridis formal tidak
diwajibkan menanda tangani berita acara, namun untuk menghindari hal-hal yang
mungkin timbul dibelakang hari sebaiknya keduanya harus diikutkan.

Memberitahukan isi berita acara eksekusi 209 R.Bg/pasal 197 ayat (5) HIR.
Pemberitahuan ini dapat dilakukan dengan cara memberikan copy salinan berita
acara tersebut.

EKSEKUSI RILL DAN EKSEKUSI PEMENUHAN SEJUMLAH UANG


a). Terhadap objek yang akan dieksekusi, terlebih dahulu diletakkan sita eksekusi.
Sita eksekusi dapat dilakukan terhadap eksekusi riil ataupun eksekusi pemenuhan
sejumlah uang, dan terhadap sita eksekusi ini tidak mutlak dilakukan karena
jika pada waktu berperkara terhadap objek gugatan atau jaminan telah diletakkan
sita jaminan, maka sita eksekusi tidak perlu lagi
dilaksanakan, akan tetapi sebaliknya jika terhadap objek gugatan atau
objek jaminan belum diletakkan sita eksekusi, maka sita eksekusi harus dilakukan.

b). Memperhatikan ketentuan Pasal 197 HIR atau Pasal 208 Rbg,
bahwa yang dapat diletakkan sita eksekusi adalah eksekusi pemenuhan sejumlah
uang, yang mana pihak yang kalah atau termohon eksekusi harus membayar
sejumlah uang sebagaimana isi putusan dan hal itu dapat dilakukan dengan
melelang harta bergerak maupun tidak bergerak milik termohon eksekusi apabila
termohon eksekusi tidak mematuhi isi putusan, sedangkan untuk eksekusi riil tidak ada
aturan hukum yang mengatur adanya sita eksekusi. Pasal 1033 Rv menyebutkan
bila termohon eksekusi tidak mematuhi isi putusan, maka dapat dilakukan
pengosongan terhadap objek perkara, tidak perlu dilakukan sita eksekusi terhadap
objek perkaranya.

c). Eksekusi riil merupakan eksekusi pengosongan atas objek perkara kepunyaan
pemohon eksekusi yang berada di tangan termohon eksekusi, sehingga apa bila akan
dilaksanakan eksekusi terhadap objek perkara, tidak diperlukan sita eksekusi. Berbeda
dengan eksekusi pemenuhan sejumlah uang, untuk terlaksananya eksekusi tersebut
diperlukan sita eksekusi atas barang jaminan atau barang milik termohon eksekusi,
agar objek yang disita itu dijadikan jaminan untuk melunasi sejumlah uang yang
tercantum pada amar putusan.

d). Terhadap eksekusi riil, bila pemohon eksekusi khawatir objek perkara dialihkan
kepada pihak lain, maka sebaiknya pada waktu proses berperkara sedang
berlangsung, pihak pemohon eksekusi yang waktu itu sebagai penggugat mengajukan
permohonan sita jaminan terhadap objek perkara dengan segala surat-surat yang
berhubungan dengan objek perkara tersebut

e). Terhadap eksekusi pemenuhan sejumlah uang dan melakukan suatu perbuatan
hampir sama dengan pelaksanaan eksekusi riil, yang mana setelah diletakkan sita
eksekusi atas objek jaminan atau barang bergerak maupun tidak bergerak milik
termohon eksekusi, maka kemudian Ketua Pengadilan Negeri mengeluarkan
penetapan perintah penjualan lelang dan uang
hasil lelang tersebutlah nantinya yang akan diserahkan kepada pemohon eksekusi
sebagai pemenuhan isi putusan.

f). Pelaksanaan eksekusi yang sukses mengakhiri rangkaian penyelesaian


perkara perdata melalui pengadilan. Dengan dilaksanakannya eksekusi tersebut,
pihak yang menang (pemohon eksekusi) akan mendapatkan haknya sebagaimana
ditentukan oleh putusan pengadilan.

EKSEKUSI SEJUMLAH UANG


Eksekusi pembayaran sejumlah uang dapat dilaksanakan dengan objeknya berupa
sejuamlah uang yang harus dilunasi tergugat kepada penggugat. Apabila amar putusan
berisi penghukuman pembayaran sejumlah uang tersebut kepada penggugat, dengan
jalan menjual lelang harta kekayaan tergugat.

Prosedur eksekusi penyerahan sejumlah uang dalam perkara yang menjadi wewenang
Pengadilan Negeri antara lain :
Permohonan pihak yang menang kepada Ketua Pengadilan Negeri
Peringatan aanmaning
Surat peringatan perintah eksekusi
Pelelangan

DALAM PELAKSANAAN EKSEKUSI ADA BEBERAPA KENDALA:

Barang yang akan dieksekusi tidak jelas (tidak jelas batas-batasnya,


ukurannya dan lain-lain)
Terjadi perubahan alamat
Barang yang akan dieksekusi ternyata merupakan milik sipenyewa
Barang yang akan dieksekusi sedang digunakan
Adanya dua putusan yang saling bertentangan terhadap objek yang sama
Terjadinya overmacht (relatif maupun absolut)
Amar putusan bersifat declaratoir

Untuk dapat dilaksanakan, maka harus diajukan perkara baru dengan nomor baru
dengan Petitum Perbaikan. Faktor berikutnya yang menghambat
pelaksanaan eksekusi adalah pada
waktu pengadilan meletakkan sita eksekusi atau melaksanakan eksekusi terhadap
eksekusi riil atau pengosongan tempat yang dikuasai oleh termohon
eksekusi, pemohon eksekusi kesulitan menentukan batas-batas tanah yang
akan dieksekusi, yang berakibat eksekusi tidak dapat dilaksanakan.

Untuk mengantisipasi adanya objek perkara yang kabur, Mahkamah


Agung melalui Surat Edarannya No. 7 Tahun 2001 Tentang Pemeriksaan
Setempat, mewajibkan kepada Hakim dalam hal memeriksa perkara yang
objeknya berupa tanah agar dilakukan pemeriksaan setempat, sehingga lokasi
serta batas-batas objek perkara jelas dan memudahkan dalam eksekusinya.

Bahwa pelaksanaan eksekusi dapat pula terhalang oleh karena objek


perkara telah berpindah tangan kepada pihak lain, bahkan telah diterbitkan
sertifikat atas nama pihak ketiga di atas tanah objek perkara. Hal ini baru
diketahui pada saat diletakkan sita eksekusi atas objek perkara. Apabila objek perkara
telah berpindah tangan kepada pihak lain, tentunya eksekus terhambat,
karenaPengadilan juga harus memperhatikan dan melindungi hak pihak ketiga
yang menguasai objek perkara, apalagi jika penguasaan tersebut didasarkan
pada itikad baik.

Untuk menghindari berpindahnya objek kepada pihak lain, penggugat dalam proses
beracara sedini mungkin sebaiknya mengajukan permohonan sita jaminan
(conservatoir beslag).
Di samping itu, penggugat dituntut berperan aktif untuk memberitahukan
kepada Badan Pertanahan Nasional (BPN) bahwa objek tanah dimaksud
sedang dalam berperkara, sehingga diharapkan tidak terjadi peralihan hak
kepada orang lain.

Kemenangan Penggugat dalam keadaan demikian merupakan kemenangan di


atas kertas, karena apa yang dituntutnya dalam amar dan dikabulkan oleh
pengadilan, tidak dapat dimohonkan eksekusinya, kecuali termohon eksekusi secara
sukarela bersedia memenuhi isi putusan.

Dasar Hukum Eksekusi

1. Pasal 195 s.d Pasal 224 HIR/Pasal 206 s.d Pasal 258 R.Bg (tentang tata cara
eksekusi secara umum)
2. Pasal 225 HIR/Pasal 259 R.Bg (tentang putusan yang menghukum tergugat
untuk melakukan suatu perbuatan tertentu)
3. Pasal 209 s.d Pasal 223 HIR/Pasal 242 s.d Pasal 257 RBg, yang mengatur
tentang sandera (gijzeling) berdasarkan SEMA Nomor 2 Tahun 1964 dianggap
bertentangan dengan peri kemanusiaan, sehingga tidak efektif digunakan lagi
4. Pasal 180 HIR/Pasal 191 R.Bg, SEMA Nomor 3 Tahun 2000 dan SEMA Nomor 4
Tahun 2001 (tentang pelaksanaan putusan yang belum mempunyai kekuatan
hukum tetap, yaitu serta merta (Uitvoerbaar bij voorraad dan provisi)
5. Pasal 1033 Rv (tentang eksekusi riil)
6. Pasal 54 dan Pasal 55 Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang
pelaksanaan putusan pengadilan.
7. HIR (Het Herzine Indonesich Reglemen) atau Reglemen Indonesia Baru,
Staatblad 1848.
8. RBg (Reglemen Buitengwesten) Staatblad 1927 No 277.
9. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
10. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang.

BANI
Badan Arbitrase Nasional Indonesia atau BANI adalah suatu badan yang dibentuk
oleh pemerintah Indonesia guna penegakan hukum di Indonesia dalam penyelesaian sengketa atau
beda pendapat yang terjadi diberbagai sektor perdagangan, industri dan keuangan, melalui arbitrase
dan bentuk-bentuk alternatif penyelesaian sengketa lainnya antara lain di bidang-
bidang korporasi, asuransi, lembaga keuangan, pabrikasi, hak kekayaan
intelektual, lisensi, waralaba, konstruksi, pelayaran / maritim, lingkungan hidup, penginderaan jarak
jauh, dan lain-lain dalam lingkup peraturan perundang-undangan dan kebiasaan internasional.
Badan ini bertindak secara otonom dan independen dalam penegakan hukum dan keadilan.

Pengadilan Negeri tidak berwenang untuk mengadili sengketa para pihak yang telah terikat dalam
perjanjian arbitrase.[1]

Penyelesaian sengketa melalui arbitrase adalah suatu cara untuk menyelesaikan sengketa atau
beda pendapat perdata oleh para pihak melalui alternatif penyelesaian sengketa yang didasarkan
pada itikad baik dengan mengesampingkan penyelesaian secara litigasi di Pengadilan Negeri.[2]

Daftar isi
[tampilkan]

Lingkup jasa BANI[sunting | sunting sumber]


BANI : menyediakan jasa-jasa bagi penyelenggaraan penyelesaian sengketa melalui arbitrase atau
bentuk-bentuk alternatif penyelesaian sengketa lainnya, seperti negosiasi,mediasi, konsiliasi dan
pemberian pendapat yang mengikat sesuai dengan peraturan prosedur BANI atau peraturan
prosedur lainnya yang disepakati oleh para pihak yang berkepentingan.

Klausula arbitrase[sunting | sunting sumber]


Klausula arbitrase adalah suatu klausula dalam perjanjian antara para pihak yang mencantumkan
adanya kesepakatan untuk menyelesaiakan sengketa yang timbul antara para pihak melalui proses
arbitrase.

Klausula arbitrase sebagaimana yang disarankan oleh BANI isinya adalah sebagai berikut : Semua
sengketa yang timbul dari perjanjian ini, akan diselesaikan dan diputus oleh Badan Arbitrase
Nasional Indonesia (BANI) menurut peraturan-peraturan administrasi dan peraturan-peraturan
prosedur arbitrase BANI, yang keputusannya mengikat kedua belah pihak yang bersengketa
sebagai keputusan tingkat pertama dan terakhir.

Prosedur arbitrase[sunting | sunting sumber]


Apabila para pihak dalam suatu perjanjian atau transaksi bisnis secara tertulis mencantumkan
klausula arbitrase yaitu kesepakatan untuk menyelesaikan sengketa yang timbul di antara mereka
sehubungan dengan perjanjian atau transaksi bisnis yang bersangkutan ke arbitrase di hadapan
Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI), atau menggunakan peraturan prosedur BANI, maka
sengketa tersebut akan diselesaikan dibawah penyelenggaraan BANI berdasarkan peraturan
tersebut, dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan khusus yang disepakati secara tertulis oleh
para pihak, sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan undang-undang yang bersifat
memaksa dan kebijaksanaan BANI. Penyelesaian sengketa secara damai melalui arbitrase di BANI
dilandasi itikad baik para pihak dengan berlandasan tata cara kooperatif dan non-konfrontatif.

Perwakilan para pihak[sunting | sunting sumber]


Para Pihak dapat menunjuk wakilnya / kuasanya dalam penyelesaian sengketa yang diajukan ke
BANI dengan suatu surat kuasa khusus

Namun apabila yang menjadi wakil adalah seorang penasehat asing atau penasehat hukum asing
dan perkara arbitrase tersebut adalah mengenai sengketa yang tunduk kepada hukum Indonesia,
maka penasehat asing atau penasehat hukum asing hanya dapat hadir apabila didampingi
penasehat atau penasehat hukum Indonesia.

Permohonan arbitrase[sunting | sunting sumber]


Pendaftaran dan penyampaian permohonan arbitrase diajukan oleh pihak yang memulai proses
arbitrase ("pemohon") pada sekretariat BANI.

Arbiter[sunting | sunting sumber]


Dalam Permohonan Arbitrase Pemohon dan dalam Jawaban Termohon atas Permohonan tersebut
Termohon dapat menunjuk seorang Arbiter atau menyerahkan penunjukan tersebut kepada Ketua
BANI.

Yang dapat dipilih oleh para pihak sebai arbiter hanyalah mereka yang diakui termasuk dalam daftar
arbiter yang disediakan oleh BANI dan/atau memiliki sertifikat ADR/Arbitrase yang diakui oleh BANI
dapat bertindak selaku arbiter berdasarkan peraturan prosedur BANI yang dapat dipilih oleh para
pihak.

Arbiter harus sekurang-kurangnya terdiri dari seorang arbiter ( arbiter tunggal ) atau tiga orang
arbiter tergantung pada kesepakatan para pihak yang diatur sebelumnya dalam perjanjian antara
mereka.

Pendapat yang mengikat[sunting | sunting sumber]


Walau tanpa adanya suatu sengketa, BANI dapat menerima permintaan yang diajukan oleh para
pihak dalam suatu perjanjian, untuk memberikan suatu pendapat yang mengikat mengenai
penafsiran ketentuan-ketentuan yang kurang jelas, dalam kontrak penambahan atau perubahan
pada ketentuan-ketentuan berhubungan dengan timbulnya keadaan-keadaan baru, dan lain-lain.
Dengan diberikannya pendapat oleh BANI tersebut, maka kedua belah pihak terikat padanya dan
siapa saja dari mereka yang bertindak bertentangan dengan pendapat itu, akan dianggap
melanggar perjanjian.

Kerjasama BANI[sunting | sunting sumber]


Dalam rangka mengembangkan arbitrase internasional dan berbagai bentuk alternatif penyelesaian
sengketa di bidang komersial antara para pengusaha di negara-negara yang bersangkutan, maka
BANI telah mengadakan kesepakatan kerjasama dengan berbagai lembaga di negara-negara,
antara lain dengan :

1. The Japan Commercial Arbitration Association (JCAA)[3];


2. The Netherlands Arbitration Institute ( NAI)[4];
3. The Korean Commercial Arbitration Board (KCAB) [5];
4. Australian Centre for International Commercial Arbitration (ACICA) [6];
5. The Philippines Dispute Resolution Centre Inc (PDRCI)[7];
6. Hong Kong International Arbitration Centre (HKIAC)[8] ;
7. The Foundation for International Commercial Arbitration dan Alternative Dispute Resolution
(SICA-FICA)[9]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]


1. ^ Pasal 3 UU no 30 tahun 1999
2. ^ Pasal 6 UU no 30 tahun 1999
3. ^ www.jcaa.or.jp/ Situs resmi JCAA
4. ^ www.nai-nl.org/english/ Situs resmi NAI
5. ^ http://www.kcab.or.kr/English/default.asp SItus resmi KCAB
6. ^ www.acica.org.au/ Situs resmi ACICA
7. ^ www.pdrci.org/ Situs resmi PDRCI
8. ^ www.hkiac.org Situs resmi HKIAC
9. ^ www.sica-fica.org Situs resmi SICA-FICA
PENYELESAIA
N SENGKETA
BISNISBADAN
ARBITRASE
NASIONAL
INDONESIA
BANI!
A;
Ar"#trase
1;
Pengertian
Menurut *ndang-
undang "omor +
ahun
entang
rbitrase
dan lternatif Pe
nyelesaian !engk
eta, Pasal ayat
( / arbitrase ad
alah cara penyele
saian sengketa per
data diluar peradil
an umum yang did
asarkan pada perja
njian arbitrase
yang dibuat secara
tertulis oleh para
pihak yang
bersengketa./
2;
0bjek rbitrase
1
!engketa yang da
pat diselesaikan
melalui arbitrase
hanya sengketa d
i bidang
perdagangan dan
yang menurut
hukum dan
peraturan
perundang-
undangandikuasai
sepenuhnya oleh
pihak yang
bersengketa.
dapun sengketa
yang tidak dapat
diselesaikan
melalui arbitrase
adalah yang
menurut
peraturan
perundang-
undangan tidak
dapat diadakan
perdamaian. $i
dalam Pasal 2 **
"o.
+ 3 diseb
utkan bahwa
Pengadilan "egeri
tidak berwenang
menyelesaikan
sengketa para pih
ak yang telah terik
at dalam perjanjia
n arbitrase dan put
usan arbitraseadal
ah final (final and
binding), artinya
tidak dapat
dilakukan
banding,
peninjauankembal
i atau kasasi, serta
putusannya
berkekuatan
hukum tetap bagi
para pihak.Hal-hal
Prinsip dalam
rbitrase'
a;
Penyelesaian
sengketa
dilakukan diluar
peradilan
b;
#einginan untuk
menyelesaikan
sengketa diluar
peradilan harus
berdasarkan atas k
esepakatan tertulis
yang dibuat oleh
pihak yang bersen
gketa.
c;
!engketa yang da
pat diselesaikan
melalui arbitrase
hanyalah sengket
adalam bidang
perdagangan dan
mengenai hak
yang menurut
hukum dan
1
http://www.ekoma
rwanto.com/2011/
05/arbitrase-dan-
alternatif-
penyelesaian.html
. diakses pada
tanggal 22
November 201
!am 05.2" wib.
2
Ibid
.
2
peraturan perund
ang-
undangan dikuasai
sepenuhnya oleh
pihak yang bersan
gkutan.
d;
Para pihak
menunjuk
arbiter3wasit di
luar pejabat
peradilan seperti
hakim, jaksa,
panitera tidak
dapat diangkat
sebagai arbiter.
e;
Pemeriksaan sen
gketa dilaksanak
an secara tertutu
p. Pihak yang be
rsengketa mempu
nyai hak yang sam
a dalam mengemu
kakan pendapatma
sing-masing.
f;
Penyelesaian
sengketa melalui
arbitrase dapat
dilakukan mengg
unakanlembaga
arbitrase nasional
atau internasional.
g;
rbiter3majelis
arbiter
mengambil
putusan
berdasarkan
ketentuan
hukumatau
berdasarkan
keadilan dan
kepatutan.
h;
Putusan
diucapkan dalam
waktu paling
lama + hari
sejak
pemeriksaanditut
up Putusan arbitr
ase bersifat final
and binding artin
ya final danmem
punyai kekuatan
hukum tetap serta
mengikat.
i;
Putusan arbitrase
diserahkan dan
didaftarkan
oleh arbiter kepad
a panitera pengadi
lan "egeri, dan
dalam hal para pih
ak tidak melaksan
akan putusanarbitr
ase secara
sukarela, maka
putusan
dilaksanakan
berdasarkan
perintah#etua P",
atas permohonan
salah satu pihak
yang bersengketa
. 4ang berwenang
menangani masala
h pengakuan dan
pelaksanaan Putus
an rbitrase
&nternasional
adalah Pengadilan
"egeri 5akarta
Pusat.
3;
#lausula rbitrase
+
$alam Pasal
angka + ** nomor
+ 3
ditegaskan bahwa
6Perjanjianarbitra
se adalah suatu k
esepakatan berup
a klausula arbitra
se yang tercantu
mdalam suatu
perjanjian tertulis
yang dibuat para
pihak sebelum
timbul
sengketaatau
suatu perjanjian
sutau perjanjian
arbitrase
tersendiri yang
dibuat para
pihak setelah
timbul sengketa.
4;
5enis rbitrase
2
a;
rbitrase d
Hoc ( rbitrase
7olunteer)
3
http://www.ekoma
rwanto.com/2011/
05/arbitrase-dan-
alternatif-
penyelesaian.html
. diakses pada
tanggal 22
November 201
!am 05.2" wib.
4
http://www.ekoma
rwanto.com/2011/
05/arbitrase-dan-
alternatif-
penyelesaian.html
. diakses pada
tanggal 22
November 201
!am 05.2" wib.
"
rbitrase yang di
bentuk secara kh
usus untuk meny
elesaikan ataume
mutus perselisihan
tertentu.
b;
rbitrase
&nstitusionalMer
upakan lembaga
atau badan arbitr
ase yang bersifat
permanen,contoh
nya di &ndonesi
a yaitu % "& (
%adan rbitrase
"asional&ndone
sia) sedangkan le
mbaga arbitrase i
nternasional
misalnya he&nt
ernational 8enter
of !ettlement of
in9estment
$isputes (&8!&$).
B;
Se$arah Ba%an
Ar"#trase
Nas#&nal
In%&nes#a
BANI!
'
% "& adalah
lembaga
independen yang
memberikan jasa
beragam
yang berhubungan
dengan arbitrase,
mediasi dan bentu
k-bentuk
lain dari penyeles
aiansengketa
di luar
pengadilan. % "
& didirikan pada
tahun :: atas
prakarsa
tiga pakar hukum
terkemuka, yaitu a
lmarhum Prof !oe
bekti !.H. dan Har
yono jitrosoebon
o !.H. dan Prof $r.
Priyatna
bdurrasyid, dan
dikelola dan
diawasioleh $ewa
n Pengurus dan $
ewan Penasehat
yang terdiri dari t
okoh-
tokohmasyarakat
dan sektor
bisnis. % "&
berkedudukan di
5akarta dengan
perwakilandi
beberapa kota
besar di
&ndonesia
termasuk
!urabaya,
%andung,
Pontianak,$enpas
ar, Palembang,
Medan dan
%atam.$alam me
mberikan dukun
gan kelembagaa
n yang diperluka
n untuk bertinda
k secara otonomi
dan independen
dalam penegakan
hukum dan
keadilan,% "&
telah
mengembangkan
aturan dan tata
cara sendiri,
termasuk batasan
waktudi mana
Majelis rbitrase
harus
memberikan
putusan. turan
ini
dipergunakandala
m arbitrase
domestik dan
internasional yang
dilaksanakan di
&ndonesia. Padas
aat ini % "&
memiliki lebih
dari
arbiter berl
atar belakang
berbagai
profesi,+ ;
diantaranya
adalah asing.$i
&ndonesia minat
untuk
menyelesaikan
sengketa melalui
arbitrase
mulaimeningkat
sejak diundangkan
nya *ndang-
undang "omor
+ ahun

entang rbitras
e dan lternatif
Penyelesaian !en
gketa *mum (**
rbitrase).
5
http://www.bani-
arb.org/bani#main
#ind.html. $iakses
pada tanggal
22November
201 !am 0%.2
wib