Anda di halaman 1dari 4

BUDIDAYA TANAMAN SEMUSI

1. a. Pebed tan semusim dan tahunan 10


b. Penggol Tan Semusim Berdasarkan fungsinya : (10)
A. Tanaman penghasil gula (Sugar Crops)
B. Tanaman Kacangan (Legume Crops)
C. Tanaman pangan/padi-padian (Cereal Crops)
D. Serat (Fiber Crops)
E. Industri (Tembakau)
F. Pangan/ubi-ubian (Tuber Crops

c. Faktor
Internal Faktor Eksternal (10)
Biotik
Abiotik

Rendeman (Perbandingan berat biji Kulit buah tebal, halus . Potensi


dengan berat gelondong) = 83% hasil = 1-2 kg per tanaman Sesuai Tahan suhu udara panas
untuk dataran rendah sampai
Menghasilkan 2 tongkol, sama besar Tetap berbuah walau di dataran
dengan tinggi Mulai panen umur
rendah
85 hari setelah tanaman Tahan
Tahan penyakit bulai, becak daun, dan
penyakit anthracnose buah Fisik Fisik tanam kuat, seragam
karat daun . Tongkol daun tertutup,
tanaman kokoh, percabangan
sehingga mengurangi busuk buah
kekar Buah keras, tahan Tahan penyakit layu fusarium
Fisik tanaman tegap, seragam, tahan penyimpanan, dan pengangkutan
jarak jauh . Kebutuhan benih = Tipe pertumbuhan semi
roboh . Potensi hasil = 13 ton pipil
100- 120 gram per HA. Berat per determinate
kering per hektar Populasi tanaman
62.000 per HA. Umur panen 103 hari buah = 15 gram. Tinggi tanaman =
Mulai panen umur 60 hari
Kebutuhan benih 15 kg per HA 65- 95 cm. Ukuran buah (Panjang x
Diameter) 14 x 1,4 c

3. Padi Sri dan Jajar Legowo (20(


4. PEMBIBITAN , PERSEMAIAN, PENGOLAHAN TANAH UTK MEDIA TANAM, ENANAMAN DAN
PEMUPUKAN, . Pengairan atau Penyiraman, 7. Pembumbunan (Gulud) dan Penyiangan, Topping dan
Wiwil, Pengendalian Hama dan Penyakit, . Panen Pasca panen

Kubis

Pengelolaan tanah serta air, Jarak tanam jarang 70 x 50 cm atau jarak tanam rapat 60 x 50 cm, Bibit yang sudah
berusia 3 - 4 minggu mempunyai 4 - 5 daun siap ditanam, Pemupukan , Fase pra pembentukan krop ( 0 - 49 hari )
, Fase pembentukan crop ( 50 - 90 hari ) Panen serta pasca panen (30)
1. Sistem ladang, sistem tegalpekarangan, sistem sawah dan sistem perkebunan
2. A. Sistem pertanian dengan rotasi bera secara alami. Sistem ini adalah sistem dimana budidaya
tanaman, bergantian dengan bera
b. Sistem pertanian dengan rotasi denganmakanan ternak
c. Sistem pertanian dengan rotasi tegalan
d. Sistem pertanian dengan rotasi tanaman tahunan

3. a. Hyper Arid : indek kekeringan(rasio antara curah hujan dan evapotranspirasi potensial) 0.03. b. Arid :
indek kekeringan 0.03-0.20 yang ditandai dengan adanya peternakan, kegiatan pertanian dilakukan dengan
irigasi tetes dan sprinkler. C. Semi Arid : indek kekeringan 0.2-0.5 yang ditandai dengan adanyakegiatan
pertanian denga mengandalkan air hujan. D. Sub Humid: indek kekeringan 0.5-0.75. Daerah sub humid
jugadimasukkan ke dalam area lahan kering, meski sebenarnyamemiliki karakter yang dekat dengan daerah
lahan basah..

b.

30
Peningkatan gizi dan protein daging melalui pemberian bibit ayam, itik, sapi dll serta pelatihan teknis
peternakan
Penyediaan bibit sayur, buah-buahan (holtikultura)
Peningkatan gizi dan protein ikan melalui penyediaan bibit ikan dan bimbingan teknis pengolahan hasil

Pembinaan pemberdayaan ibu rumah tangga pemanfaatan pekarangan

Pengkajian teknologi hasil pemanfaatan pekarangan


Pengemasan produk dan pemasaran hasil, dukungan manajemen koperasi
Pembinaan tentang gizi dan keamanan pangan

5. A . (5)
Beberapa masalah yang sangat mengganggu kelancaran pelaksanaan PIR, antara lain
1. sering terjadinya pelanggaran perjanjian, baik dilakukan oleh perusahaan inti maupun petani plasma,
tidak jelasnya aturan main yang harus disepakati, dan mandulnya fungsi kontrol lembaga yang
ditugaskan untuk hal itu.
2. Masalah alih teknologi yang berjalan setengah-setengah menyebabkan tingkat produktivitas kebun
rendah.
Dari media massa terungkap masalah dalam program PIR, terutama pada tahap persiapan dan
pembukaan lahan. Ketidakpuasan masyarakat atas luas dan pembagian lahan dapat melahirkan
kecemburuan sosial dan memicu konflik diantara masyarakat sendiri, serta mepertajaman kesenjangan
ekonomi di masyarakat.
.3. Masalah ketentuan harga komoditas, informasi harga komoditas yang tidak jelas dan selalu
berubah-ubah serta struktur pasar yang tertutup merupakan problema internal PIR yang lain. Adanya
pembagian keuntungan yang tidak seimbang, pemotongan harga komoditas sepihak, dan pembebanan
semua biaya produksi dan organisasi pada petani plasma yang sangat jarang dibicarakan secara
transparan, merupakan fenomena yang selalu muncul dalam implementasi program PIR-Bun di
berbagai wilayah di Indonesia.MONOPOLI, perkoncoan

B. (15)
1. A. Pertanian : suatu jenis kegiatan produksi yang berlandaskan proses pertumbuhan dari tumbuh-
tumbuhan dan hewan. Pertanian dalam arti sempit dinamakan pertanian rakyat sedangkan
pertanian dalam arti luas meliputi pertanian dalam arti sempit, kehutanan, perternakan, dan
perikanan (15)
B. Manusia pengumpul makanan dan pemburu Primitif, Tradisional, Modern, (10)

2. Elosistem dan Jaring Makanan (20)

3. a. Meningkatnya populasi manusia menuntut pasokan pangan &papan yang juga meningkat
Perubahan pola hidup diversifikasi diet, Kebutuhan akan sistem produksi ramah lingkungan dan
berorientasi pada mutu produk Jaminan Mutu, Kebutuhan transparansi & keterlacakan pada sistem
produksi pertanian, pencatatan rekaman dan audit, Globalisasi perdagangan transfer lintas negara dapat
mengacaukan keseimbangan rantai pasok (input-output) pada lokasi produksi, Konsumen menetapkan aturan-
aturan dan regulasi mereka kepada petani di negara lain, Peningkatan methan dari kegiatan
pertaniandimanfaatkan untuk biogas , Persaingan produk ikan, produk ternak untuk dimanfaatkan untuk
biogas, Persaingan produk ikan, produk ternak untuk ;

b. Tidak ramah lingkungan,Terjadi karena penggunaan teknologi yang sarat masukan luar berupa agrokimia
terutama pupuk inorganik dan pestisida buatan.Tidak efisien, Lahan luas, Mengelola satu sub sektor, Tidak
mandiri, Tergantung input dari luar

4. a. nilai 10. Faktor dari alam (internal) usahatani: petani pengelola (individu petani) , tanah tempat
usahatani, ,tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani, modal yang dibutuhkan dalam usahatani,
kemampuan petani dalam mengalokasikan penerimaan keluarga, dan jumlah anggota keluarga

Faktor dari luar (eksternal) usahatani: tersedianya sarana transportasi dan komunikasi, aspek-aspek
yang menyangkut pemasaran hasil dan bahan usahatani (harga hasi, harga saprodi, dan lain-lain),
fasilitas kredit, dan sarana penyuluhan bagi petani.

b. organisasi usahatani yang di fokuskan pada pengelolaan unsur-unsur produksi dan tujuan usahanya.
pola pemilikan tanah usahatani. kerja usahatani yang difokuskan pada distribusi kerja dan
pengangguran dalam usahatani. modal usahatani yang difokuskan pada proporsi dan sumber modal
petani

5. Pertanian yg dapat berkembang secara tidak terbatas ke arah manfaat yg semakin besar bagi manusia,
penggunaan sumberdaya yg lebih efisien, dan berkesetimbangan dg kondisi lingkungan yang sesuai untuk
manusia dan spesies lainnya.