Anda di halaman 1dari 11

Lembar Kerja Mahasiswa Praktikum Budidaya Pakan Alami 2017

SUB LABORATOIRUM ILMU Nama : Tri Andini Pratiwi


MAKANAN IKAN NIM : 15/378201/PN/14007
DEPARTEMEN PERIKANAN FAKULTAS
Asisten : Febriansyah Y.
PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA Tanggal : 26 Oktober 2017

LEMBAR KERJA MAHASISWA


A. ACARA
Budidaya Azolla
B. TUJUAN
1. Mengetahui cara budidaya Azolla sp. sebagai pakan alami
2. Mengetahui berbagai jenis unsur hara yang dibutuhkan dalam budidaya
Azolla sp.
C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat : - Bak budidaya
- Serokan halus
- Timbangan
- pH meter
- Termometer
- Penggaris
2. Bahan : - Bibit Azolla sp.
- Pupuk NPK
- Pupuk TSP
- Pupuk Urea
- Pupuk Kandang
- Air Tawar
D. CARA KERJA
1. Persiapan bak :
Membersihkan bak

Mengisi bak dengan air hingga ketinggan 25 cm


Menimbang pupuk sebanyak 20 g/bak, (dosis = 67 mg/liter)

Melarutkan pupuk, dan inkubasi selama 5 hari

1
Lembar Kerja Mahasiswa Praktikum Budidaya Pakan Alami 2017

2. Pemeliharaan
Menimbang bibit Azolla sp. sebanyak 20 g/bak

Memasukkan bibit Azolla sp. ke dalam bak pemeliharaan

Mengamati suhu air, suhu udara, pH, dan pertambahan biomassa setiap 4 hari selama
12 hari

Panen dilakukan setelah 12 hari pemeliharaan

E. TINJAUAN PUSTAKA
Taksonomi tanaman azolla menurut Arifin (1996) adalah sebagai berikut:
Divisio : Pteridophyta
Kelas : Leptosporangiopsida (heterospous)
Ordo : Salviniales
Famili : Salviniaceae
Genus : Azolla
Spesies : Azolla sp.
Menurut Sebayang (1996), Azolla sp. merupakan tanaman paku-pakuan,
termasuk dalam famili Salviniaceae tetapi ada juga yang menamakan famili
Azollaceae. Genus azolla dikelompokkan menjadi dua, yaitu Euazolla dan
Rhizosperma. Secara alami habitat azolla terdapat di kolam-kolam, tempat tergenang,
danau, sungai, saluran air maupun tanaman padi. Azolla berasal dari bahasa latin,
yaitu Azo yang berarti kering dan Ollyo yang berarti mati. Tanaman ini akan mati bila
dalam keadaan kering. Azolla termasuk herba berukuran kecil yang hidup secara
terapung bebas di air. Daun berukuran kecil, tidak bertangkai, berselang-seling
membentuk dua baris disepanjang batang. Selain itu memiliki batang yang bercabang,
tetapi memiliki akar sederhana berupa rhizoma. Azolla biasanya hidup bergerombol
dalam jumlah banyak di atas permukaan air.
Azolla merupakan tumbuhan paku air kecil berdiameter 1 2 cm yang halus
dan mengapung di atas permukaan air secara individu / berkelompok. Azolla secara
garis besar dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu akar, rhizome, dan daun. Azolla
memiliki struktur tumbuh yang khas, beradaptasi dengan lingkungan basah. Hidup

2
Lembar Kerja Mahasiswa Praktikum Budidaya Pakan Alami 2017

pada daerah yang selalu tergenang seperti sungai, selokan, waduk dan lain
sebagainya. Tumbuhan air ini memiliki keunikan dalam mengolah limbah organik.
Kemampuannya dalam mengolah limbah organik tidak diragukan lagi. Tumbuhan
berstolon ini menyerap makanan organiknya dengan cara penyerapan melalui akar
yang mirip rambut. Di dalam rongga daun khususnya bagian lobus dorsal tersebut
ditemukan Anabaena azolla yang berfungsi mengikat nitrogen udara dalam jumlah
besar pada permukaan daunnya diselubungi lapisan kutikula untuk melindungi
kehilangan air yang berlebihan dan pengaruh fisik dari luar (Khan, 1988).
Azolla sp. memiliki kemampuan dalam mengikat N2 udara karena adanya
simbiosis dengan sianobakteri (Anabaena azollae) yang hidup di dalam rongga daun
Azolla sp.. Simbiosis tersebut menyebabkan Azolla sp. mempunyai kualitas nutrisi
yang baik. Mekanisme simbiotik yang terjadi pada kompos Azolla sp. adalah
serangkaian proses fiksasi nitrogen pada tanah yang ditumbuhi menjadi subur dan
kaya akan nutrisi, khususnya senyawa golongan nitrogen. Selain itu, tanaman ini
memiliki berbagai kelebihan diantaranya dapat menyerap limbah cair dan sebagai
bahan uji ekotoksikologi (Nugrahapraja, 2008).
Azolla mempunyai kemampuan untuk mengakumulasi logam berat dalam
jumlah besar. Azolla mampu tumbuh cepat dengan biomassa besar dan mampu
menyerap beberapa jenis logam berat sehingga berpotensi sebagai fitoabsorber limbah
yang mengandung logam berat (Stepniewska, 2005). Kemampuan azolla dibuktikan
dari penelitian yang menyatakan azolla segar mampu mengadsorbsi logam berat Pb,
Cd, Cu, dan Zn masing-masing sekitar 228, 86, 62, dan 48 mg/L pada kondisi
biomassa azolla kemudian logam tersebut diikat bagian jaringan tubuhnya (Khosravi
et al., 2005). Pada kondisi lingkungan yang optimal pertumbuhan azolla dapat
mencapai 35% per hari. Kandungan nutrisinya cukup memadai, yaitu protein 24
30% dan kandungan asam amino lisin 0,42%, kandungan tersebut lebih tinggi
daripada kandungan lisin pada konsentrat jagung, dedak, dan beras pecah (Arifin,
2009). Azolla memiliki nisbah C/N antara 12 18, sehingga dalam waktu satu
minggu biomassanya telah terdekomposisi secara sempurna (Paulus, 2010).
Azolla dapat digunakan sebagai pupuk organik yang dapat memperbaiki sifat
fisik, kimia, maupun biologi tanah, sehingga bermanfaat untuk pertumbuhan dan hasil
tanaman padi. Manfaat lain dari tanaman air ini adalah dapat menekan pertumbuhan
gulma air sehingga menghemat biaya penyiangan atau penggunaan herbisida, dan

3
Lembar Kerja Mahasiswa Praktikum Budidaya Pakan Alami 2017

juga dapa ditanam bersama-sama dengan tanaman padi. Selain itu dapat juga
digunakan sebagai pakan ternak maupun pakan ikan pada usaha tani mina padi
(Paulus, 2010). Adanya manfaat pemberian azolla sebagai pakan tambahan (extra
feeding) pada budidaya ikan yang dikelola secara intensif antara lain: melengkapi
kebutuhan nutrisi ikan budidaya terutama asam amino, vitamin dan mineral sehingga
ikan sehat dan dapat tumbuh secara lebih baik; meningkatkan efisiensi terhadap
penggunaan pakan buatan sehingga dapat mengurangi biaya produksi; mengurangi
peluang terjadinya kanibal (memangsa sesamanya) seperti pada ikan lele karena
tanaman azolla dapat bertahan lebih lama (tidak rusak) pada media budidaya sehingga
kebutuhan terhadap pakan dapat terpenuhi (Retnowati, 2016).
F. HASIL PENGAMATAN
Hasil pengamatan
Kelompok Kegiatan Suhu udara oC suhu air oC pH Biomassa (g)
1 (kontrol) tebar 27 29 8.37 20
biomassa 1 29 28 8.44 23.5
biomassa 2 32 31.5 8.46 25.5
panen 28 31 8.27 29
2 ( Urea) tebar 27 29 8.33 20
biomassa 1 29 28 8.34 23
biomassa 2 32 31 7.83 20
panen 28 31 7.86 12.5
3 (TSP) tebar 27 29 8.33 20
biomassa 1 29 29 8.32 28
biomassa 2 32 31.5 8.36 28
panen 28 31 8.24 24.5
4 (NPK) tebar 27 29 8.03 20
biomassa 1 29 28 8.01 21.5
biomassa 2 32 31.5 8.2 24
panen 28 31 8.15 27
5 (Kandang) tebar 27 29 8.27 20
biomassa 1 29 28.5 8.31 25
biomassa 2 32 31 8.22 25.4
panen 28 31 8.06 29.5

G. PEMBAHASAN
Budidaya azolla yang dilakukan pada saat praktikum terdiri dari dua bagian
yaitu persiapan bak dan pemeliharaan azolla. Persiapan bak dilakukan dengan
membersihkan bak. Kemudian bak diisi dengan air hingga ketinggian 25 cm.
Selanjutnya, pupuk ditimbang sebanyak 20 g/bak (dosis = 67 mg/L). Pupuk yang

4
Lembar Kerja Mahasiswa Praktikum Budidaya Pakan Alami 2017

digunakan yaitu urea, TSP, NPK dan pupuk kandang. Kemudian pupuk yang
digunakan sebagai perlakuan dilarutkan pada bak dan di inkubasi selama 5 hari.
Untuk pemeliharaan azolla, setelah persiapan bak selesai dilakukan, bibit ditimbang
sebanyak 20 g/bak dan dimasukkan ke dalam bak pemeliharaan. Dilakukan
pengamatan suhu air, suhu udara, pH, dan pertambahan biomassa setiap 4 hari selama
12 hari. Panen dilakukan setelah 12 hari pemeliharaan. Sedangkan menurut Sugiharto
(2016), budidaya azolla dilakukan dengan proses pemupukan pada kolam. Pupuk
yang digunakan adalah pupuk kandang (kotoran ayam) dengan dosis 500 700
gram/m2. Dapat pula ditambah urea 15 gram/m2, TSP 20 gram/m2 dan amonium nitrat
15 gram/m2. Selanjutnya dibiarkan selama 3 hari. Kolam diisi dengan air segar. Mula-
mula 10-15 cm dan dibiarkan selama satu hari sampai warna air kolam berubah
menjadi coklat atau kehijauan yang menunjukkan mulai banyak jasad-jasad renik
yang tumbuh sebagai makanan alami azolla. Secara bertahap ketinggian air ditambah
sebelum bibit azolla ditebar, untuk mengganti air yang menguap. Pupuk alamiah yang
berupa kotoran ternak, humus dan kompos. Tumbuhan azolla juga menyesuaikan
dengan kotoran yang berasal dari limbah rumah tangga. Azolla dipanen pada umur 6-
8 hari. Berat rata-rata pada umur tersebut sekitar 1000 gram/m 3. Pada azolla,
pemanenan dapat dilakukan pada masa pemeliharaan 5-7 hari dan sebaiknya
dilakukan pada pagi hari. Merujuk pada pustaka tersebut, terdapat perbedaan pada
saat persiapan bak/kolam untuk budidaya azolla. Pada saat praktikum, pemupukan
dilakukan secara langsung bersamaan dengan pengisian air sera tidak dilakukannya
pengisian air secara bertahap pada persiapan bak. Sedangkan menurut Sugiharto
(2016), setelah dilakukannya pemupukan, bak/kolam didiamkan selama 3 hari serta
pengisian air pada bak/kolam dilakukan secara bertahap hingga terdapat jasad-jasad
renik yang tumbuh pada bak/kolam.
Salah satu faktor yang penting bagi pertumbuhan Azolla adalah kebutuhan
unsur hara. Azolla memerlukan unsur hara mikro dan makro untuk perkembangannya.
Konsentrasi ambang unsur-unsur hara P, K, Mg, Ca, masing-masing 0,03; 0,04; 0,04;
dan 0,05 mmol/lt (Watanabe, 1980). Beberapa elemen seperti Mo dan Co diperlukan
untuk aktivitas nitrogenasi (Khan, 1988). Pupuk urea merupakan pupuk kimia yang
mengandung Nitrogen (N) berkadar tinggi. Pupuk urea mengandung unsur hara N
sebesar 46% dengan pengertian setiap 100 kg urea mengandung 46 kg nitrogen
(Admiraldi, 2011). Pupuk TSP (Triple Super Fosfat) merupakan sumber unsuf fosfor

5
Lembar Kerja Mahasiswa Praktikum Budidaya Pakan Alami 2017

terbaik karena kadar fosfor yang dikandungnya praktis hampir seluruhnya dapat
melarut dalam air. Pupuk TSP ini tidak berbentuk serbuk tetapi merupakan butiran-
butiran yang berwarna kelabu dan mempunyai kadar P2O3 sebanyak 45% (Sutedjo dan
Kartasapoetra, 1990). Pupuk NPK (Nitrogen Posphat Kalium) merupakan pupuk
majemuk cepat tersedia yang memiliki kadar 15-15-15, 16-16-16, dan 8-20-15
(Rinsema, 1993). Pupuk kandang merupakan produk yang berasal dari limbah usaha
peternakan dalam hal ini adalah kotoran ternak (Setiawan, 2010). Kandungan unsur
hara pada pupuk kandang (kotoran sapi) yaitu N 0,53%; P 0,35%; K 0,41%; Ca
0,28%; Mg 0,11%; S 0,05%; dan Fe 0,004% (Tan 1993 dalam Setiawan, 2010).
Menurut Sugiharto (2016), pertumbuhan azolla menyesuaikan dengan kotoran yang
berasal dari limbah rumah tangga. Artinya, pertumbuhan azolla didukung dengan
adanya unsur hara yang terdapat pada pupuk. Pada praktikum, setiap bak diberi
perlakuan berupa pupuk yang berbeda-beda. Kelompok 1 merupakan kontrol,
kelompok 2 diberi pupuk urea, kelompok 3 diberi pupuk TSP, kelompok 4 diberi NPK
dan kelompok 5 diberi pupuk kandang. Sehingga pada setiap bak, azolla mengambil
unsur hara yang ada pada kandungan pupuk tersebut. Pada bak yang diberi perlakuan
berupa pupuk urea, azolla dapat mengambil unsur hara berupa nitrogen. Pada bak
yang diberi perlakuan pupuk TSP, azolla dapat mengambil unsur hara berupa fosfat.
Pada bak yang diberi perlakuan pupuk NPK, azolla dapat mengambil unsur hara
nitrogen, fosfat dan kalium sedangkan pada bak yang diberi pupuk kandang, azolla
dapat mengambil unsur hara makro dan mikro berupa N, P, K, Ca, Mg, Fe, S.
Pada kelompok 2, perlakuan yang diberikan adalah pemberian pupuk urea
sebesar 0,67 gram. Bibit azolla yang ditebar sebanyak 20 gram serta dilakukan
pengukuran suhu dan pH. Pada saat tebar, suhu udara 27oC dan suhu air 29oC serta
pH 8,33. Kemudian pada saat sampling pertama, azolla meningkatkan biomassa
sebesar 23 gram, suhu udara sebesar 29oC, suhu air 28oC dan pH 8,34. Pada saat
sampling kedua atau pengukuran biomassa kedua, azolla mengalami kematian
sehingga biomassanya menjadi 20 gram, suhu udara sebesar 32oC, suhu air 31oC dan
pH 7,83. Kemudian pada saat panen, biomassa azolla mengalami penurunan yang
drastis menjadi 12,5 gram, suhu udara sebesar 28 oC, suhu air 31oC dan pH 7,86.
Adanya fluktuasi terhadap biomassa azolla diduga karena faktor lingkungan yang
tidak sesuai terhadap pertumbuhan azolla. Hal tersebut sesuai dengan pustaka yang
menyatakan bahwa pertumbuhan azolla dipengaruhi oleh faktor-faktor iklim dari

6
Lembar Kerja Mahasiswa Praktikum Budidaya Pakan Alami 2017

lingkungan tumbuhnya, terutama ketersediaan air, sinar matahari, temperatur,


kelembaban udara, keharaan tanah, kegaraman dan pH media tumbuh (Khan, 1988;
Lumpkin, 1987). Temperatur optimum untuk pertumbuhan Azolla berkisar 25 30oC,
dengan intensitas sinar 25 50% sinar matahari penuh (20.000 40.000 lux) (Suyana
dkk, 1998), kelembaban optimum 85 90% (Zaas cit. Khan, 1988), keharaan cukup,
kecuali N, kadar garam tidak lebih dari 0,3% atau optimal ada konsentrasi garam
mineral 90 150 mg/l pada medium biakan dan pH 4,5 7 (Tran & Dao cit. Khan,
1988). Perlakuan yang menunjukkan hasil terbaik pada saat praktikum adalah dengan
pemberian pupuk kandang. Perlakuan dengan pemberian pupuk kandang
menunjukkan bahwa biomassa azolla mengalami kenaikan. Hal tersebut dikarenakan
kandungan unsur hara pada pupuk kandang dapat memenuhi kandungan nutrien yang
dibutuhkan azolla. Menurut Tan (1993) dalam Setiawan (2010), pupuk kandang
mengandung unsur hara yaitu N 0,53%; P 0,35%; K 0,41%; Ca 0,28%; Mg 0,11%; S
0,05%; dan Fe 0,004%. Sedangkan kandungan nutrien yang dibutuhkan azolla untuk
pertumbuhan adalah P, K, Mg, dan Ca (Watanabe, 1980). Oleh karena itu, azolla dapat
memanfaatkan kandungan unsur hara yang ada dalam pupuk kandang untuk
pertumbuhannya.
Pada saat pengamatan ataupun panen azolla, terdapat kondisi dimana azolla
tersebut mati. Hal ini berkaitan dengan kondisi optimum pemeliharaanya.
Pertumbuhan azolla dipengaruhi oleh faktor-faktor iklim dari lingkungan tumbuhnya,
terutama ketersediaan air, sinar matahari, temperatur, kelembaban udara, keharaan
tanah, kegaraman dan pH media tumbuh (Khan, 1988; Lumpkin, 1987). Temperatur
optimum untuk pertumbuhan Azolla berkisar 25 30oC, dengan intensitas sinar 25
50% sinar matahari penuh (20.000 40.000 lux) (Suyana dkk, 1998), kelembaban
optimum 85 90% (Zaas cit. Khan, 1988), keharaan cukup, kecuali N, kadar garam
tidak lebih dari 0,3% atau optimal ada konsentrasi garam mineral 90 150 mg/lpada
medium biakan dan pH 4,5 7 (Tran & Dao cit. Khan, 1988). Berdasarkan pustaka
tersebut, pH pada saat praktikum melebihi kondisi optimum pH pertumbuhan
azollanya. Azolla dapat tumbuh optimum pada pH 4,5 7 sedangkan pH pada pada
saat praktikum dapat mencapai 8. Selain itu suhu juga dapat berpengaruh pada
pertumbuhan optimum azolla. Suhu optimum untuk pertumbuhan azolla berkisar 25
30oC sedangkan suhu pada saat pengamatan maupun panen dapat mencapai 31

7
Lembar Kerja Mahasiswa Praktikum Budidaya Pakan Alami 2017

32oC. Pengaruh lingkungan tersebut dapat menyebabkan pertumbuhan azolla menurun


bahkan menyebabkan kematian.

Gambar 1. Siklus hidup Azolla sp. (Khan, 1983)


Berdasarkan gambar tersebut dapat dilihat bahwa anakan yang dipisahkan dari
induknya dalam waktu 1-3 hart memiliki akar 1 batang dan setelah 3-5 hari tumbuh
akar menjadi 2 batang dan selanjutnya setelah mencapai umur 13-15 hari akan
menjadi induk dengan akar 4-5 batang. Bila lingkungan optimal maka dalam waktu 3-
5 hari beratnya mencapai dua kali lipat (Khan, 1983). Sedangkan menurut Sugiharto
(2016), pemanenan azolla dapat dilakukan pada masa pemeliharaan 5 7 hari. Hal
tersebut didukung oleh (Khan, 1983) yang menyatakan bahwa pemanenan dilakukan
setiap 5 hari atau 7 hari sekali dengan cara memanen 50% raja dan sisanya
ditinggalkan sebagai bibit untuk pertumbuhan selanjutnya. Hal tersebut dilakukan
untuk menghindari penurunan biomassa dan kematian. Selain itu, kematian juga
disebabkan oleh tidak adanya penambahan pupuk setiap minggunya. Penambahan
unsur P dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan azolla dimana unsur P
merupakan faktor pembatas bagi azolla. Faktor lain yang menyebabkan azolla
mengalami kematian adalah kekurangan Mg. Menurut Yatazawa et al. (1980), apabila
media mengandung Mg sekitar 0,4 mol/l menyebabkan pertumbuhannya terganggu
daun menjadi lebih kecil dan warnanya menjadi kuning pucat dan A. azollae tidak
dapat hidup dalam daun Azolla.
Cara penanganan saat panen pada saat praktikum memiliki keterkaitan dengan
kondisi azolla yang mati ataupun yang hidup. Pada saat praktikum baik pengamatan
maupun panen, perhitungan biomassa dilakukan dengan mengambil azolla secara

8
Lembar Kerja Mahasiswa Praktikum Budidaya Pakan Alami 2017

bersamaan pada setiap kelompok. Hal ini mengakibatkan azolla tidak dapat bertahan
lebih lama tanpa media (air) dikarenakan untuk menimbang azolla dilakukan secara
bergantian. Hal ini sejalan dengan Sebayang (1996) yang menyatakan bahwa azolla
akan mati dalam keadaan kering. Proses pemanenan azolla yang baik menurut Khan
(1983) adalah dengan cara memanen 50% raja dan sisanya ditinggalkan sebagai bibit.
Setelah hari ke 7 10, permukaan kumpulan azolla ditepuk tepuk dengan sapu lidi
untuk membantu pemisahan bibit agar lebih cepat berkembang biak.

H. KESIMPULAN
1. Budidaya Azolla dapat dilakukan dengan cara pemberian pupuk sebagai media
tumbuh dan proses pemanenan dilakukan setiap 5 hari atau seminggu dengan
mengambil 50% rajanya dan sisanya sebagai bibit untuk pertumbuhan
selanjutnya.
2. Azolla memerlukan unsur hara makro dan mikro antara lain N, P, K, Fe, Co,
Mo dan Zn.
I. SARAN
Untuk praktikum kedepannya lebih baik dilakukan perlakuan dengan penambahan
unsur P maupun Mg setiap 5 hari untuk menjaga pertumbuhan azolla agar tidak
mengalami kematian.

J. DAFTAR PUSTAKA
Admiraldi, Y. 2011. Kajian Proses Produksi dan Pengendalian Mutu Proses
Pengemasan Pupuk Urea di PT Pupuk Kujang. Departemen Manajemen.
Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB.
Arifin, Z. 1996. Azolla Pembudidayaan dan Pemanfaatan pada Tanaman Padi.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Arifin, Z., dan A. Krismawati. 2009. Pemanfaatan Azolla sebagai Pupuk Organik.
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur.
httm://jatim.litbang.deptan.go.id
Khan, M. Manzoor. 1983. A primer azolla on production and utilization in
agriculture. Jointly published by: University of the Philippines at Los Banos
(UPLB); Philippine Council for Agriculture and Resource Research
Development (PCARRD); Southeast Asiann Regional Center for Graduate
Study and research in Agriculture (SEARCA).
Khan, M. 1988. Azolla Agronomy. Botanical Sciences of The University of The
Philiphines at Los Banos and The SEAMEO Regional Centre for Graduate
Study and Research in Agriculture.
Khosravi, M., M. Taghi Ganji, R. Rakhshaee. 2005. Toxic Effect of Pb, Cd, Ni, and
Zn on Azolla filiculoides in The International Anzali Wetland. International
Journal of Science and Technology. 2(1): 35 40.

9
Lembar Kerja Mahasiswa Praktikum Budidaya Pakan Alami 2017

Lumpkin, T.A. and D.L. Plucknett. 1982. Azolla as green manure: Use and
Management in Crop Production. Colorado: West View Press Inc.
Nugrahapraja, H. 2008. Pertumbuhan Tanaman Air Azolla pinnata R. Br. (Mata Lele)
pada Medium Pertumbuhan Berbeda. Skripsi. Program Studi Sarjana Biologi
SITH.
Paulus, J.M. 2010. Pemanfaatan Azolla sebagai Pupuk Organik pada Budidaya Padi
Sawah. Warta WIPTEK.
Retnowati, I. 2016. Pemanfaatan Tanaman Azolla sebagai Pakan Tambahan (Extra
Feeding).
Rinsema, W.J. 1993. Pupuk dan Cara Pemupukan. Bhratara: Jakarta.
Sebayang, H.T. 1996. Azolla, Suatu Kajian Produksi dan Potensinya dalam Bidang
Pertanian. Habitat 97(8): 45 48.
Setiawan, B.S. 2010. Membuat Pupuk Kandang Secara Tepat. Penebar Swadaya:
Jakarta.
Stepniewska, Z. 2005. Potential of Azolla Caroliniana for The Removal of Pb and Cd
from Wastewaters. International Agrophysics 19(3): 251 255.
http://cat.inist.fr/?aModele=afficheN&cpsidt=16964570
Sugiharto. 2016. Pengembangan Azolla pinnata pada Lahan Pekarangan sebagai
Bahan Pakan. Makalah Penyuluhan di Desa Banjarsari Kecamatan
Bantarkawung, Brebes. Fakultas Biologi. Universitas Soedirman Purwokerto.
Sutedjo, M. M., dan A.G. Kartasapoetra. 1990. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka
Cipta. Jakarta.
Suyana, J., Sudadi dan Supriyadi. 1998. Laju Pertumbuhan dan Penambatan N2
Azolla pada berbagai Intensitas Penyinaran dan Tinggi Genangan. Laporan
Penelitian Dosen Muda. F. Pertanian UNS, Surakarta.
Tan, K.H. 1993. Environmental Soil Science. Marcel Dekker. Inc. New York.
Watanabe, I., N.S. Berja and D.C. Rosario. 1980. Growth of Azolla in Paddy Field as
Affected by Phosphorus Fertilizer. Soil Sci. Plant Nutr. 26(2): 301 307.
Yatazawa, M., N. Tomomatsit, N. Hosada and K. Nunorne. 1980. Nitrogen fixation in
Azolla-Anabaena symbiosis as affected by mineral nutrient status. Sesil
Science Plant Nutrition 26: 415 426.

NILAI

10
Lembar Kerja Mahasiswa Praktikum Budidaya Pakan Alami 2017

Lampiran

11