Anda di halaman 1dari 8

MATHEdunesa

Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika Volume 2 No.6 Tahun 2017


ISSN :2301-9085

ANALISIS KESALAHAN SISWA SMP DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA


MATEMATIKA BERDASARKAN TAHAPAN NEWMAN SERTA UPAYA UNTUK
MENGATASINYA MENGGUNAKAN SCAFFOLDING

Anik Mega Putri


Pendidikan Matematika, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya, e-mail anikbm1@mhs.unesa.ac.id

Mega Teguh Budiarto


Pendidikan Matematika, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya, e-mail megatbudiarto@unesa.ac.id

Abstrak
Tujuan diberikannya matematika di sekolah yaitu untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam memecahkan
masalah. Kemampuan tersebut dapat dilihat melalui soal cerita. Soal cerita matematika merupakan soal
matematika yang diuraikan ke dalam bentuk cerita sesuai konteks kehidupan nyata. Dalam menyelesaikan soal
cerita tidak jarang dijumpai kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh siswa. Kesulitan biasanya ditandai dengan
adanya hambatan yang dialami siswa. Hambatan ini biasanya berupa siswa melakukan kesalahan ketika
menyelesaikan soal. Hal ini merupakan tanda bahwa siswa sedang berada dalam Zone of Proximal Development
(ZPD)nya. Oleh sebab itu, ketika siswa melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal cerita sebaiknya diberikan
bantuan berupa bimbingan oleh seseorang yang lebih kompeten agar siswa tidak melakukan kesalahan lagi.
Pemberian bantuan yang didasarkan pada teori Vygotsky ini sering disebut juga sebagai scaffolding.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang dilaksanakan di kelas IX SMP Negeri 32 Surabaya
tahun ajaran 2016/2017. Subjek dalam penelitian ini terdiri dari tiga siswa yang memiliki jumlah kesalahan
terbanyak dan bervariasi. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode tes dengan pemberian tes
diagnostik dan metode wawancara. Data dianalisis berdasarkan indikator kesalahan berdasarkan tahapan Newman
dalam menyelesaikan soal cerita.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa melakukan kesalahan pada tahap memahami (comprehenssion),
transformasi (transformation) dan pada tahap keterampilan proses (process skill). Kesalahan yang dilakukan siswa
yaitu dalam membuat pemodelan dan kurang teliti dalam melakukan perhitungan. Bentuk scaffolding yang
diberikan pada siswa saat melakukan kesalahan pada tahap membaca (comprhenssion) yaitu mengulas kembali
(reviewing). Kesalahan pada tahap transformasi (transformation), bentuk scaffolding yang diberikan yaitu
mengulas kembali (reviewing), membagun pemahaman ulang (restructuring) dan membangun konsep (developing
conceptual). Sedangkan pada tahapan keterampilan proses (process skill) bantuan scaffolding yang diberikan yaitu
berupa mengulas kembali (reviewing) dan membangun ulang pemahaman (restructuring).
Kata Kunci: Analisis kesalahan, Newman, Scaffolding, Soal Cerita.

Abstract
One of purposes given mathematics teaching is to develop students ability in solving problem. Students ability in
solving problem could be seen by mathematics word problem. Mathematics word problem is math problem which
is written in real life story. In solving word problem are not rare the difficulties faced by the students. The difficulty
is usually characterized by the presence of barriers that prevent students. These barriers are usually in the form of
mistakes made by students in solving problems. Thus shown that students are in the Zone of Proximal
Development (ZPD). Therefore, when students make mistakes in solving word problem should be given assistance
in the form of guidance by someone more competent so that students do not make another mistake. The provision
of assistance based on Vygotskys theory is often called as scaffolding.
This research was a qualitative descriptive research implemented in the nine grade of SMP Negeri 32 Surabaya of
the school year 2016/2017. Subjects in this study consisted of three students who have the greatest number of
errors and varied. Data collection method used is the method of testing by providing diagnostic tests and interview
method. Data were analyzed by Newman error indicator based on stage in solving word problem.
The results showed that students make mistakes at the stage of comprehenssion (C), transformation (T) and on-
stage process skills (P). The mistake is created at mathematical model and careless in calculation . Then, the
appropriate scaffolding to overcome those mistakes at the stage of transformation (transformation) is explaining,
reviewing, restructuring and developing conceptual. While at the stage of the process skills (process skill),
scaffolding given in the form of reviewing and restructuring.
Keywords: Error analysis, Newman stage, Scaffolding, Word Problem.

277
Volume 2 No.6 Tahun 2017

siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal


PENDAHULUAN cerita sebaiknya diberikan bantuan berupa bimbingan oleh
Matematika merupakan salah satu bidang studi yang seseorang yang lebih kompeten agar siswa tidak merasa
diberikan di setiap jenjang pendidikan. Soedjadi (2000) kesulitan lagi. Pemberian bantuan yang didasarkan pada
mengungkapkan sering dikatakan bahwa matematika teori Vygotsky ini sering disebut juga sebagai scaffolding.
sekolah merupakan bagian dari matematika yang Berdasarkan hasil wawancara dengan guru matematika di
berorientasi pada kepentingan pendidikan dan SMPN 32 Surabaya, siswa kelas IX masih banyak
perkembangan IPTEK. Sedangkan matematika sekolah melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal cerita.
meninjau pada kebutuhan pendidikan seperti proses belajar Salah satu materi yang dianggap sulit oleh siswa yaitu
mengajar di sekolah. Hal ini menunjukkan adanya tujuan materi persamaan kuadrat. Menurut White (2009), dalam
yang harus dicapai saat proses tersebut sedang berlangsung mendiagnosis kesulitan siswa dapat dilakukan dengan
seperti mengembangkan keterampilan memecahkan menganalisis kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal
masalah. Pemecahan masalah di sekolah biasanya berupa cerita menggunakan analisis kesalahan newman.
soal cerita (Aulia, 2014). Anghileri (2006), mengusulkan tiga hierarki penggunaan
Newman (dalam White, 2009) mengungkapkan lima scaffolding dalam pembelajaran matematika. Terdapat tiga
tahapan yang harus dilalui siswa dalam menyelesaikan soal level scaffolding yaitu level 1 Enviromental Provisions
cerita yaitu tahapan membaca (reading), tahapan yang berkaitan dengan lingkungan belajar siswa. Pada level
memahami (comprehenssion), tahapan transformasi 2 (Explaining, reviewing and restructuring) menunjukkan
(transformation), tahapan keterampilan proses (process interaksi langsung antara guru dan siswa. Explaining,
skill) dan tahapan penulisan jawaban akhir (encoding). dengan meminta siswa menyampaikan konsep dalam
Penelitian ini menggunakan tahapan menyelesaikan soal menyelesaikan soal, kemudian meninjau ulang (reviewing)
cerita menurut Newman, karena dalam menyelesaikan soal dengan memfokuskan kembali perhatian siswa yang
cerita dibutuhkan kemampuan membaca yang teralihkan dan guru merestrukturasi (restructuring) dengan
berhubungan dengan keterampilan berpikir siswa. membantu mereka mendapatkan pemahaman mereka dari
Penelitian Tuohimaa, Aunola dan Nurmi (2008) yang abstrak menjadi pengetahuan yang dapat diterima.
menunjukkan bahwa rendahnya kemampuan membaca Kemudian Pada level 3 (Developing Conceptual Thinking)
siswa mempengaruhi pemahaman siswa terhadap soal berkaitan dengan pengembangan pemikiran konseptual
cerita, sehingga menyebabkan jawaban akhir yang kurang siswa.
tepat dalam menyelesaikan soal cerita.
Ketika menyelesaikan soal cerita tidak jarang dijumpai METODE
kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh siswa. Kesulitan Penelitian ini berjenis deskriptif-kualitatif, sehingga
biasanya ditandai dengan adanya hambatan yang dialami peneliti disini berfungsi sebagai pengamat secara
siswa secara sadar ataupun tidak. Hambatan ini, merupakan keseluruhan. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas
penyebab utama terjadinya kesalahan yang dilakukan siswa IX di SMP Negeri 32 Surabaya tahun ajaran 2016/2017.
dalam pembelajaran. Data hasil tes digunakan sebagai data awal untuk
Menurut Vygotsky (dalam Nur, 1998: 30), setiap siswa menentukan subjek penelitian. Kemudian dilanjutkan
memiliki suatu konsep yang dinamakan sebagai Zone of dengan wawancara terhadap tiga orang subjek penelitian
Proximal Development (ZPD). Zone of Proximal dan diberikan scaffolding ketika subjek melakukan
Development atau lebih umum dikenal sebagai ZPD ini kesalahan dalam menyelesaikan soal cerita.
merupakan jarak antara tingkat perkembangan aktual dan Pada penelitian ini dilakukan observasi awal untuk
potensial yang dimiliki siswa. Tingkat perkembangan mendapatkan data mengenai materi dan jenis-jenis soal
aktual merupakan tingkatan dimana siswa mampu yang masih sering dikerjakan secara salah oleh siswa.
menyelesaikan tugas secara mandiri dan tingkat Selanjutnya setelah diperoleh data awal tersebut, kemudian
perkembangan potensial merupakan tingkat pengetahuan ditentukan kelas penelitian.
tertinggi siswa yang dapat dicapai apabila mendapatkan Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu:
bantuan atau bimbingan dari seseorang yang lebih mampu. 1. Tes Diagnostik
Ketika siswa sedang memasuki ZPD, sebenarnya siswa Tes ini digunakan untuk menentukan siswa yang
dapat menyelesaikan tugas yang diberikan secara mandiri. selanjutnya diwawancara berdasarkan skor tes.
Namun, adakalanya siswa merasa kesulitan sehingga Berdasarkan tes diagnostik ini juga diperoleh data
menyebabkan siswa tidak mendapatkan hasil yang optimal untuk menentukan kesalahan yang dilakukan
dalam menyelesaikan tugas tersebut. Oleh sebab itu, ketika siswa dalam menyelesaikan soal cerita. Tes

278
Volume 2 No.6 Tahun 2017

diagnostik ini terdiri dari dua butir soal cerita l. Siswa menuliskan apa
dengan materi persamaan kuadrat. yang ditanyakan dalam
2. Wawancara soal menggunakan
Wawancara dilakukan kepada subjek penelitian simbol yang dibuat
sendiri tanpa adanya
yang telah mengerjakan tes diagnostik. keterangan.
Wawancara digunakan untuk menggali lebih m.
dalam tentang kesalahan siswa berdasarkan n. Siswa menuliskan apa
tahapan Newman Error Analysis. Hasil yang ditanyakan tidak
wawancara juga digunakan sebagai acuan untuk sesuai dengan
memberikan scaffolding dalam menyelesaikan permintaan soal.
soal ceita yang diberikan pada subjek berdasarkan Transformasi o. Siswa sama sekali tidak
(Transformation) menuliskan langkah
level scaffolding oleh Anghileri (2006). dalam menyelesaikan
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini soal.
yaitu: p.
1. Analisis data hasil tes diagnostik q. Siswa menuliskan
Data yang diperoleh dari tes diagnostik dianalisis metode yang tidak tepat
berdasarkan indikator kesalahan oleh Newman. dalam menyelesaikan
soal.
Berikut merupakan indikator kesalahan dalam
r.
menyelesaikan soal cerita. s. Siswa tidak dapat
Tabel 1 Indikator kesalahan dalam menyelesaikan menjelaskan metode
soal cerita yang akan digunakan
Tahapan dalam menyelesaikan
menyelesaikan soal Indikator soal.
cerita t.
u. Siswa tidak lengkap
Membaca (Reading) Siswa tidak menemukan menuliskan metode
kata kunci dalam soal. karena tidak menulis
rumus matematika yang
Siswa tidak memahami akan digunakan dalam
sebuah kata atau kalimat menyelesaikan soal.
dalam soal.
Keterampilan Prosesv. Siswa melakukan
Memahami a. Siswa tidak menuliskan kesalahan dalam
(Process Skill)
(comperehension) informasi apa yang menghitung.
diketahui dan ditanya w.
dalam soal. x. Siswa melakukan
b. kesalahan dalam
c. Siswa tidak menuliskan mengubah soal cerita ke
secara lengkap informasi dalam bentuk kalimat
apa yang diketahui matematika.
dalam soal.
d. Siswa tidak melanjutkan
e. Siswa menuliskan langkah penyelesaian
informasi apa yang berdasarkan metode
diketahui tidak sesuai yang dipilih.
dengan permintaan soal.
f. Siswa tidak menuliskan
g. Siswa menuliskan apa tahapan dalam
yang diketahui dalam menghitung.
bentuk simbol tanpa
adanya keterangan. Siswa tidak dapat
h. menjelaskan tahapan
i. Siswa menuliskan apa yg perhitungan dengan tepat
diketahui dalam soal,
Menulis Jawaban Siswa menuliskan
namun tidak menuliskan
Akhir (Encoding) jawaban akhir yang tidak
apa yang ditanyakan
sesuai dengan konteks
dalam soal.
soal.
j.
k.

279
Volume 2 No.6 Tahun 2017

Siswa tidak menuliskan subjek juga melakukan kesalahan pada tahapan


satuan yang sesuai. perhitungan. Sedangkan pada soal nomor 2,
subjek melakukan kesalahan pada tahap
Siswa tidak dapat memahami, transformasi, keterampilan proses
menjelaskan jawaban
akhir dengan tepat. dan jawaban akhir. Kesalahan yang dilakukan
2. Menganalisis Bentuk Scaffolding subjek tampak ketika subjek menuliskan
Menentukan bentuk scaffolding yang diberikan informasi yang diketahui dan ditanya dalam soal.
kepada subjek berdasarkan kesalahan siswa dalam Selain itu kesalahan lain yang dilakukan subjek
menyelesaikan tes diagnostik. yaitu membuat pemodelan dan tahapan
3. Analisis wawancara perhitungan. Sehingga menyebabkan subjek juga
Tahapan dalam analisis hasil wawancara antara melakukan kesalahan dalam mendapatkan hasil
lain: akhir.
a. Reduksi data b. Analisis hasil tes diagnostik RA
Penelitian ini, reduksi data dilakukan dengan Berdasarkan hasil tes diagnostik pada soal nomor
cara mengurangi data-data yang tidak 1 subjek RA menunjukkan bahwa kesalahan yang
diperlukan. dilakukan terletak pada tahap transformasi.
b. Penyajian data Kesalahan yang dilakukan yaitu subjek RA
Penyajian data meliputi pengklasifikasian menggunakan metode yang tidak tepat dalam
dan identifikasi data. Penyajian data dalam menyelesaikan soal. pada soal nomor 2 Kesalahan
penelitian ini adalah pengklasifikasian yang dilakukan subjek RA terletak pada tahap
kesalahan siswa berdasarkan tahapan memahami dan transformasi. Subjek kurang
Newman dan bentuk scaffolding-nya. memahami isi soal sehingga menyebabkan subjek
c. Penarikan kesimpulan kesulitan dalam membuat pemodelan soal yang
Data yang sudah dipaparkan dan dibahas tepat.
secara jelas kemudian ditarik kesimpulan dari c. Analisis hasil tes diagnostik MS
data tersebut mengenai Analisis Kesalahan Pada soal nomor 1 subjek MS melakukan
Siswa SMP Dalam Menyelesaikan Soal kesalahan pada tahap transformasi dan
Cerita Matematika Berdasarkan Tahapan menuliskan jawaban akhir. Kesalahan yang
Newman Serta Upaya Untuk Mengatasinya dilakukan subjek MS tampak ketika ia
Menggunakan Scaffolding menentukan model matematika yang dibuat.
Subjek MS juga menuliskan hasil akhir yang tidak
HASIL DAN PEMBAHASAN tepat, karena subjek MS menuliskan jawaban
Hasil yang diperoleh merupakan deskripsi kesalahan serta akhir sebagai informasi yang diketahui.
bentuk scaffolding berdasarkan kesalahan yang dilakukan Sedangkan pada soal nomor 2 kesalahan terletak
siswa kelas IX SMP Negeri 32 Surabaya dalam pada tahap memahami, transformasi dan
menyelesaikan soal cerita. Berikut merupakan daftar siswa keterampilan proses. Kesalahan yang dilakukan
yang terpilih menjadi subjek penelitian. subjek tampak ketika subjek menuliskan
Tabel 2 daftar subjek penelitian informasi yang ada dalam soal, strategi
penyelesaian dan tahapan perhitungan yang tidak
Jumlah kesalahan tepat. Hal ini menyebabkan subjek juga
Kode Nama
No. Soal Soal nomor melakukan kesalahan dalam mendapatkan hasil
Siswa
nomor 1 2 akhir.
1. NWPD 2 4 2. Bentuk scaffolding yang diberikan kepada subjek
2. RATP 1 2 penelitian
3. MS 2 3
a. Pemberian scaffolding kepada subjek NW
1. Analisis bentuk kesalahan subjek penelitian dalam
Tabel 3 bentuk scaffolding untuk mengatasi
menyelesaikan soal cerita.
kesalahan subjek NW
a. Analisis hasil tes diagnostik NW
Soal Letak kesalahan Keterangan
Kesalahan yang dilakukan subjek NW pada soal
Reviewing
nomor 1 terletak pada tahap transformasi dan
Restructuring
keterampilan proses. Hal ini dapat dilihat melalui 1 Transformasi Developing
kesalahan subjek dalam menentukan strategi yang conceptual
digunakan dalam menyelesaikan soal. Selain itu thinking

280
Volume 2 No.6 Tahun 2017

Keterampilan Reviewing Pada tahap membaca (reading), menurut Jha (2012),


proses Restructuring siswa dikatakan telah melalui tahap ini apabila siswa dapat
Memahami Reviewing membaca soal dengan jelas serta dapat menemukan kata
Reviewing kunci dalam soal. Selain itu siswa dapat memahami makna
Restructuring kalimat dalam soal juga termasuk dalam tahap membaca.
Transformasi Developing
Penelitian Tuohimaa, Aunola dan Nurmi (2008)
2 conceptual
thinking menunjukkan bahwa rendahnya kemampuan membaca
Keterampilan Reviewing siswa mempengaruhi pemahaman siswa terhadap soal
proses Restructuring cerita, sehingga menyebabkan jawaban akhir yang kurang
Jawaban akhir Reviewing tepat dalam menyelesaikan soal cerita. Siswa dikatakan
b. Pemberian scaffolding kepada subjek RA melakukan kesalahan pada tahap ini jika siswa mengalami
Tabel 4 bentuk scaffolding untuk mengatasi kesulitan dalam memahami kalimat atau kata dalam soal
kesalahan subjek RA serta tidak bisa membaca sebuah simbol tertentu dalam
Soal Letak kesalahan Keterangan soal.
1 Transformasi Reviewing Dalam penelitian ini, siswa melakukan kesalahan
Reviewing membaca pada soal nomor 2. Siswa kurang memahami
Memahami
2 Restructuring makna soal Mereka dapat membersihkan kelas bersama-
Transformasi Restructuring sama dalam waktu 18 menit. Selain itu siswa terpaku pada
c. Pemberian scaffolding kepada subjek MS kata waktu Ana yang belum diketahui, sehingga
Tabel 5 bentuk scaffolding untuk mengatasi menyebabkan siswa tidak dapat melanjutkan penyelesaian
kesalahan subjek MS pada tahapan selanjutnya. Bentuk scaffolding yang
Soal Letak kesalahan Keterangan diberikan berupa bimbingan kepada siswa yang melakukan
Reviewing kesalahan. Menurut Anghileri (2006) terdapat tiga
Restructuring tingkatan dalam pemberian scaffolding. Pada tahap
Transformasi Developing membaca bantuan yang diberikan berupa mengulas ulang
1 conceptual (reviewing) yaitu dengan meminta siswa membaca soal
thinking dengan teliti.
Menuliskan
Reviewing Menurut Jha (2012), siswa dikatakan melalui tahap
jawaban akhir
memahami (comprehension) ditandai dengan kemampuan
Memahami Reviewing
Restructuring siswa dalam menjelaskan kembali isi soal seperti
Developing menyebutkan informasi yang diketahui dan yang
Transformasi
2 conceptual ditanyakan dalam soal. Jika siswa tidak dapat menyebutkan
thinking informasi apa yang ada dalam soal dan yang ditanyakan
Keterampilan dalam soal, maka siswa dikatakan melakukan kesalahan
Restructuring
proses pada tahap memahami. Selain itu apabila saat wawancara
berlangsung siswa tidak dapat menjelaskan kembali isi
Penelitian ini mendeskripsikan upaya untuk membantu soal, seperti apa yang diketahui dan ditanyakan dalam soal
siswa yang melakukan kesalahan dalam menyelesaikan juga dapat dikategorikan sebagai kesalahan pada tahap
soal cerita matematika menggunakan scaffolding dengan memahami (comprehension error (c)). Pada tahapan ini
acuan tahapan Newman. Pemberian scaffolding diberikan kesalahan yang dilakukan siswa pada soal nomor 1 adalah
untuk mengatasi kesalahan yang dilakukan siswa. Peneliti tidak lengkap dalam menulis informasi dalam soal seperti
mengaitkan tiga level dalam pemberian scaffolding oleh apa yang ditanyakan dalam soal. Kesalahan lain yang
Anghileri (2006). Namun tidak semua level digunakan dilakukan oleh siswa adalah menuliskan jawaban akhir
dalam pemberian bantuan mengingat kondisi siswa dan pada bagian yang diketahui. Namun ketika jawaban siswa
bentuk kesalahan yang dilakukan siswa. Tingkatan dikonfirmasi pada sesi wawancara, siswa dapat
scaffolding yang diberikan bergantung pada materi yang menjelaskan kembali isi soal dengan tepat. Hal ini
dibahas dalam penelitian ini. menunjukkan bahwa ada perbedaan jawaban yang
Pada penelitian ini pembahasan yang pertama yaitu diberikan siswa. Menurut Newman (dalam Jha, 2012)
kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal apabila siswa melakukan kesalahan pada saat
cerita matematika terkait pada materi persamaan kuadrat menyelesaikan soal, namun dapat memberikan jawaban
menurut tahapan Newman yaitu: (1) membaca (reading), yang tepat saat proses wawancara berlangsung maka
(2) memahami (comprehension), (3) transformasi kesalahan tersebut dapat digolongkan dalam kecerobohan.
(transformation), (4) penulisan jawaban akhir (encoding).

281
Volume 2 No.6 Tahun 2017

Sedangkan pada soal nomor 2, siswa melakukan kesalahan dengan tepat maka tidak perlu diberikan lagi scaffolding
dalam menuliskan informasi yang diketahui dalam soal. pada tahapan keterampilan proses (process skill). Namun,
Bentuk scaffolding yang diberikan kepada siswa berada pada kenyataannya siswa pada tahap ini masih ada yang
pada tingkatan kedua. Pada tingkatan ini, bentuk bantuan melakukan kesalahan. Kesalahan yang dilakukan siswa
yang diberikan berupa mengulas ulang (reviewing) yaitu adalah kurang teliti dalam melakukan perhitungan dan
dengan memfokuskan kembali perhatian siswa kepada mengalami kesulitan dalam memfaktorkan persamaan
soal. kuadrat.
Siswa dikatakan melalui tahap transformasi Bentuk scaffolding yang diberikan berupa
(transformation) menurut Jha (2012), ditandai dengan merestrukturisasi (restructuring) yaitu dengan mengaitkan
kemampuan siswa dalam menentukan strategi pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki siswa mengenai
penyelesaian soal dengan tepat. Apabila siswa tidak dapat materi prasyarat yaitu aljabar dan sifat distributif pada
menentukan strategi yang tepat dalam menyelesaikan soal, perkalian dalam memproses bilangan pecahan yang
maka siswa dikatakan melakukan kesalahan pada tahap bervariabel. Selain itu, bentuk scaffolding yang diberikan
transformasi. Selain itu jika siswa menentukan strategi pada tahap ini yaitu mengulas kembali (reviewing) hasil
yang kurang tepat juga dapat dikategorikan sebagai pekerjaan siswa agar tidak terjadi kesalahan kembali.
kesalahan pada tahap transformasi. Penulisan jawaban akhir merupakan tahapan paling
Pada tahapan ini siswa banyak melakukan kesalahan akhir dalam menyelesaikan soal cerita. Pada tahapan ini
berupa salah dalam menyusun persamaan. Kesalahan siswa menurut Jha (2012) siswa dikatakan melalui tahapan ini
dalam memilih metode penyelesaian juga dikategorikan jika siswa dapat menuliskan jawaban secara tepat sesuai
dalam kesalahan transformasi (Transformation error (t)), dengan permintaan soal. Oleh karena itu, siswa dikatakan
serta salah dalam membuat pemisalan sehingga melakukan kesalahan dalam tahapan ini apabila siswa tidak
menyebabkan siswa salah dalam membuat pemodelan. menuliskan jawaban dengan diberikan keterangan-
Kesalahan yang dilakukan siswa pada tahap ini adalah keterangan sesuai dengan permintaan soal.
dalam membuat pemodelan dan memilih strategi Berdasarkan hasil tes terdapat beberapa siswa yang
penyelesaian. Kesalahan yang dilakukan siswa pada tahap tidak menuliskan jawaban akhir sesuai dengan permintaan
ini diawali dengan penentuan variabel yang kurang tepat soal. Siswa terkadang tidak menuliskan satuan dalam
sehingga menyebabkan siswa salah dalam membuat jawaban akhir. Kesalahan yang dilakukan siswa
pemodelan. Siswa lebih banyak menggunakan strategi disebabkan karena siswa terburu-buru. Hal ini diperkuat
mencoba-coba dalam menyelesaikan soal. dengan hasil wawancara yang menyatakan bahwa setelah
Bentuk scaffolding yang diberikan untuk mengatasi siswa melalui tahapan penyelesaian siswa mengaku lupa
kesalahan siswa pada tahap ini menggunakan level kedua untuk menuliskan kembali jawaban akhir. Maka bentuk
dan ketiga yaitu mengulas kembali (reviewing), scaffolding yang diberikan apabila siswa melakukan
membangun pemahaman ulang (restructuring) dan kesalahan pada tahapan ini yaitu mengulas kembali
pengembangan pemikiran (developing conceptual (reviewing) , yaitu dengan meminta siswa mengecek ulang
thinking). Bentuk bantuan reviewing berupa pengecekan hasil pekerjaannya apakah sudah sesuai dengan permintaan
ulang maksud soal, restructuring berupa memberikan soal.
contoh yang sederhana terkait dengan permasalahan yang
dihadapi siswa. Bentuk bantuan reviewing berulang kali PENUTUP
diberikan kepada siswa untuk mengulas kembali hasil Simpulan
pekerjaan siswa agar di kemudian hari siswa terbiasa untuk Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa
teliti dalam menyelesaikan soal cerita. Selain itu, bentuk siswa SMPN 32 Surabaya kelas IX-C dalam
bantuan pada level ketiga yaitu developing conceptual menyelesaikan soal cerita terkait materi persamaan
thinking berupa mengembangkan pemikiran siswa dalam kuadrat:
membuat pemisalan. 1. Kesalahan yang dilakukan berdasarkan tahapan
Jha (2012) menjelaskan bahwa jika siswa dapat Newman terletak pada tahap memahami
melakukan proses perhitungan dengan tepat berdasarkan (comprehension) adalah tidak menuliskan apa yang
strategi yang dipilih, maka siswa dikatakan dapat melalui ditanyakan dalam soal. Pada tahap transformasi
tahap keterampilan proses (process skill). Kesalahan terjadi (transformation) yaitu siswa salah dalam membuat
jika siswa tidak dapat menentukan tahapan-tahapan yang pemisalan dan menyusun persamaan. Pada tahap
benar dan tidak dapat melakukan perhitungan dengan tepat keterampilan proses (Process Skill), siswa
dalam mendapatkan hasil akhir. Setelah siswa diberikan melakukan kesalahan dalam memfaktorkan
scaffolding dalam membuat pemodelan saat wawancara, persamaan kuadrat.
apabila siswa dapat melakukan tahapan penyelesaian

282
Volume 2 No.6 Tahun 2017

2. Bentuk scaffolding yang sesuai diberikan Arikunto, Suharsimi. 1997. Dasar-dasar Evaluasi
berdasarkan kesalahan siswa yaitu: Pendidikan. Yogyakarta: Bumiaksara
a. Pada tahap memahami (comprehension) bentuk Aulia, Kharitsa .2014. Identifikasi Ketidakpahaman Siswa
scaffolding yang digunakan terletak pada level 2 SMP Dalam Menyelesaikan Soal Cerita
reviewing (mengulas ulang), yaitu dengan Aljabar. Skripsi tidak diterbitakan: Universitas
memfokuskan kembali perhatian siswa kepada soal. Negeri Surabaya
b. Pada tahap transformasi (transformation) bentuk Bokar, Anthony Joseph. 2013. Solving And Reflecting On
scaffolding yang digunakan terletak pada level 2 Real-Word Problems : Their Influences On
reviewing yaitu berupa pengecekan ulang maksud Mathematical Literacy And Engagement in The
Eight Mathematical Practices.Reasearch
soal, restructuring berupa pemberian contoh
Project : Ohio University
sederhana yang mirip dengan permasalahan yang
dihadapi siswa. Bentuk bantuan reviewing berulang Degeng, I Nyoman. 1993. Buku Pegangan Teknologi
kali diberikan kepada siswa untuk mengulas kembali Pendidikan : Pusat Antar Universitas untuk
Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas
hasil pekerjaan siswa agar di kemudian hari siswa
Instruksional Universitas Terbuka. Jakarta :
terbiasa untuk teliti dalam melakukan perhitungan. Dirjen Dikti
Selain itu, bentuk bantuan pada level 3 developing
Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Undang-Undang
conceptual thinking berupa pengembangan
no.20 tahun 2003. Jakarta.
pemikiran siswa dalam membuat pemisalan.
c. Pada tahap keterampilan proses (Process Skill) Departemen Pendidikan Nasional. 2004. Pedoman
Pembelajaran Ketuntasan. Jakarta.
bentuk scaffolding yang diberikan adalah dengan
meminta siswa meneliti kembali hasil pekerjaan Ellerton, Nerida and Clements. 1992. Implications Of
(reviewing), dan membangun pemahaman ulang Newman Research For The Isssue Of What Is
apabila siswa tidak memahami konsep (restructuring) Basic In School Mathematics?. Educational
Studies In Mathematics
Saran Fadhilah, Nurul. 2015 .Analisis Kesalahan Siswa Dalam
Berdasarkan hasil penelitian saran yang dapat diberikan Menyelesaikan Soal Yang Berhubungan
Dengan Teorema Phytagoras Berdasarkan
yaitu bagi guru disarankan dapat menerapkan metode Taksonomi Solo Pada Kelas VIII. Skripsi tidak
Newman dalam pembelajaran untuk mengetahui diterbitakan: Universitas Negeri Surabaya

kesalahan yang dilakukan siswa. Guru juga dapat Fitria, Titis Nur. 2013. Analisis Kesalahan Siswa Dalam
Menyelesaikan Soal Cerita Berbahasa Inggris
menerapkan bentuk scaffolding sebagai salah satu upaya Pada Materi Persamaan Linear Satu
perbaikan dalam pembelajaran. Pemberian scaffolding ini Variabel.Skripsi tidak diterbitkan : Unesa

digunakan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan Gasco, Javier. 2013. The Motivation of Secondary School
Students in Mathematical Word Problem
siswa dalam zona perkembangan terdekatnya sehingga Solving, Electronic Journal of Research in
dapat membantu siswa terbiasa dalam menyelesaikan Educational Psychology, 12(1), 83-106. ISSN:
1696-2095. 2013, no. 32
permasalahan secara mandiri.
Hanifah, Nur Agustin. 2014. Penggunaan Scaffolding
untuk mengatasi kesalahan siswa kelas VII H
DAFTAR PUSTAKA SMP Negeri 2 Mojokerto Dalam Menyelesaikan
Soal Cerita Pada Materi Persamaan Linear Satu
Adams, TL. 2003. Reading Mathematics: More than Variabel. Skripsi tidak diterbitkan : Universitas
words can say. The reading Teacher, 56(8), 787 Negeri Surabaya
795 Hughes, A.G and Hughes E.H. 2012.Learning &
Anghileri, J. Scaffolding Practices that Enhance Teaching, Pengantar Psikologi Pembelajaran
Mathematics Learning. Journal of Mathematics Modern.Tejemahan.Bandung : Nuansa
Teacher Education, 9: 33-52 Jha, Sio Kumar. (2012). Mathematics Performance of
Arafiq, Rasyid.2015. Analisis Kesalahan Siswa MTs Primary School Students in Assam (India): An
Dalam Memecahkan Soal Cerita Bangun Ruang Analysis Using Newman Procedure
Sisi Datar Ditinjau Berdasarkan Gaya Belajar. International Journal of Computer
Tesis tidak diterbitkan : Universitas Negeri Applications in Engineering Science (Vol. II,
Surabaya Issue I, March 2012).

283
Volume 2 No.6 Tahun 2017

Kamus besar bahasa Indonesia.2016.kategori : analisis, Soedjadi, R. 2000. Kiat Pendidikan Matematika di
(online),http://kbbi.web.id/analisis,diakses Indonesia. Jakarta : Direktorat Jenderal
tanggal 22 Januari 2016) Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan
Nasional
Minarti.2013. Analisis Tingkat Kemampuan Siswa SMPN
2 Buduran, Sidoarjo Dalam Memecahkan Thalib, Syamsul Bachri. 2013. Psikologi Pendidikan
Masalah Berbentuk Soal Cerita Pada Materi Berbasis Analisis Empiris Aplikatif (Edisi
Sistem Persamaan Linear Dua Variabel. Revisi). Jakarta : Kencana Prenadamedia
Skripsi tidak diterbitkan : Universitas Negeri Group
Surabaya
Triwardani,Riski Ayu. 2015. Profil Pemecahan Masalah
Mulyadi, H. 2010. Diagnosis Kesulitan Belajar dan Aljabar PISA Pada Siswa SMP Ditinjau Dari
Bimbingan Terhadap Kesulitan Belajar Adversity Quotient. Skripsi tidak diterbitkan:
Khusus. Yogyakarta: Nuha Litera. Universitas Negeri Surabaya
Nasution. S. 2006. Berbagai Pendekatan dalam Proses Uno, Hamzah B. 2008. Orientasi Baru dalam Psikologi
Belajar dan Mengajar.Jakarta : Bumi Aksara Pembelajaran.Jakarta : Bumi Aksara
Newman, A. (1977). Newman Promt, (online), White, Allan L. 2010. Numeracy,Literacy and Newmans
(http://www.curriculumsupport.education.nsw Error Analysis.Journal of Science and
.gov.au/Secondary/mathematics/numeracy/ne Mathematics Education in Southeast Asia
wman/index.html diakses pada 20 Januari 2010, Vol. 33 No.2, 129-148
2016)
White & Clements. 2005. Active mathematics In
Nur, Mohamad & Wikandari, Prima Retno. 1998. Classrooms : Finding Out Why Children Make
Pendekatan-Pendekatan Konstruktivis Dalam Mistakes And Then Doing Something To Help
Pembelajaran. Surabaya : IKIP Surabaya Them. Square One, Vol 15, No. 4
Nurmi, Tuhimaa and Aunola. (2008). The association
between mathematical word problems and
reading comprehension Educational
Psychology, Vol. 28, No.4,409426.
OECD.2013. PISA 2012 results in focus :What 15-year-
olds know and what they can do whit what they
know (online),
(http://www.oecd.org/pisa/keyfindings/pisa-
2012-results-overview.pdf diakses pada 17
Februari 2016)
Palm, T. 2009. Theory of authentic task situations. In L
Verschaffel, B Greer, W Van Dooren, S
Mukhopadhyay (Eds.), Words and Worlds:
Modelling verbal descriptions of situations.
Netherlands: Sense Publishers, pp. 3-19.
Prakitipong, Natcha and Nakamura, Satoshi. (2006).
Analysis of Mathematics Performance of Grade
Five Students in Thailand Using Newman
Procedure CICE Hiroshima University, Journal
of International Cooperation in Education, Vol.9,
No.1, (2006) pp.111 122
Rosenshine, Barak and Meister, Carla. 1992. The Use of
Scaffolding for Teaching Higher-Level Cognitive
Strategies. Bureau : The Association for
supervision and curriculum Development
Santrock, John W. 2014. Psikologi Pendidikan
(Educational Psychology, Ed) Edisi 5 Buku
1.Jakarta : salemba humanika
Setiadi, Hari, dkk. 2012. Kemampuan Matematika Siswa
SMP Indonesia Menurut Benchmark
Internsional TIMSS 2011.Jakarta : Puspendik

284