Anda di halaman 1dari 2

TEKS TANTANGAN - PEREDARAN JAJANAN BERBAHAYA DI TENGAH MASYARAKAT

Kebutuhan konsumen akan camilan lezat membuat masyarakat semakin kreatif dan terus
menciptakan variasi jajanan yang enak, sehat, dan menarik. Namun seperti yang kita ketahui,
nyatanya masih banyak jajanan yang beredar di pasaran mengandung bahan kimia berbahaya yang
tidak boleh dikonsumsi manusia. Fenomena ini disebabkan oleh banyak faktor, baik faktor dari
konsumen maupun produsen.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, perilaku produsen maupun konsumen dapat menjadi
penyebab beredarnya jajanan berbahaya hingga saat ini. Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes)
RI nomor 33 tahun 2012 tentang ketentuan bahan tambahan makanan yang diizinkan serta batas
jumlah penggunaannya dan bahan tambahan makanan yang dilarang banyak mengalami
pelanggaran pada faktor-faktor ini. Pengetahuan yang minim dari pembeli maupun para produsen
akan bahan kimia yang tidak boleh digunakan sebagai bahan tambahan makanan (BTM) secara tidak
langsung menyebabkan bahan kimia berbahaya ikut terkonsumsi lewat jajanan yang mengandung
bahan-bahan tersebut. Selain itu, perilaku masyarakat yang cenderung membeli makanan yang
harganya murah tanpa memperhatikan kualitas membuat produsen memandang penggunaan bahan
kimia sebagai BTM adalah hal yang biasa demi memperoleh keuntungan dari penjualan yang murah.

Bahan-bahan berbahaya yang hingga kini masih tersedia di pasaran dan cukup mudah didapatkan
membuat produsen tergiur untuk meracuni produknya. Formalin, boraks, serta pewarna tekstil
seperti rodamin dan kuning metanil dengan mudahnya diperoleh dari oknum-oknum pedagang
gelap. Dengan menambahkan bahan-bahan kimia berbahaya tersebut ke dalam makanan, modal
yang diperlukan dapat ditekan dan laba yang diperoleh akan semakin besar.

Disamping berbagai faktor di atas, keteledoran pemerintah dalam mengawasi pemasaran produk
makanan seakan memperluas jalan untuk para produsen nakal dalam berbuat curang. Apalagi
Departemen Kesehatan masih memperbolehkan penggunaan BTM sakarin dan MSG yang telah
dilarang di beberapa negara lain. Selain itu, pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah dan pihak
berwajib seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) masih terlalu longgar dan belum
menyeluruh sehingga para distributor dan pedagang cenderung asal dalam menyortir jajanan yang
akan diperjual belikan. Dalam hal ini, perlindungan konsumen nyata diabaikan sehingga perbuatan
tersebut boleh dianggap menyimpang dari UU Nomor 8 tahun 1999 Tentang Perlindungan
Konsumen dan UU Nomor 7 tahun 1996 pasal 1 ayat (4) yang menyatakan bahwa keamanan pangan
adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran
biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan
manusia.

Sesungguhnya, dalam kasus ini pihak yang paling terdampak adalah anak-anak. Lingkungan sekolah
dan pergaulan yang banyak dimanfaatkan untuk mengedarkan berbagai jajanan berbahaya memiliki
andil besar dalam penyebaran makanan yang tidak sehat. Anak-anak kebanyakan juga lebih
mementingkan tampilan luar jajanan yang menarik dan berwarna mencolok alih-alih
memperhitungkan kandungan gizi serta keamanan makanan tersebut. Maka dari itu, produsen
jajanan anak banyak melakukan kecurangan dengan menambahkan pewarna tekstil dan pemanis
buatan tanpa takaran jelas yang dapat membawa dampak berkepanjangan bagi kesehatan anak.
Anak-anak maupun orang dewasa yang terlanjur memakan makanan berbahaya ini dapat dipastikan
terancam berbagai penyakit, mulai dari alergi sampai dengan kanker bahkan gagal ginjal. Daya pikir
orang yang mengkonsumsi jajanan berbahaya tak luput terkena dampaknya. Mulai dari penurunan
daya ingat atau bahkan mengakibatkan kecerdasan seseorang akan menurun.

Dari besarnya bahaya yang ditimbulkan setelah mengkonsumsi makanan dengan bahan tambahan
yang berbahaya, tentu kita sebagai masyarakat harus lebih cermat dan pandai dalam memilih
produk makanan yang sehat. Lebih baik lagi jika anak-anak usia sekolah membawa bekal dari rumah
sehingga higienitas dan keamanan makanan lebih terjamin. Selain itu, pemerintah dan pihak-pihak
yang berwenang pun harus meninjau kembali pelaksanaan undang-undang tentang peredaran
pangan serta mengawasi segala proses pengolahan makanan hingga sampai ke tangan konsumen
demi menjamin keamanan makanan yang beredar di seluruh Indonesia.