Anda di halaman 1dari 4

Apabila kita bertandang ke satu keluarga di Palembang, atau ke rumah keluarga Palembang

di Jakarta atau di tempat lain, kita akan melihat suatu perabotan (lemari, meja, kursi) atau
wadah yang dibuat dari kayu berwarna dasar merah, hitam, dan kuning emas. Biasanya
terdapat hiasan sulur-sulur daun dan hiasan fauna. OrangPalembang menamakan barang
tersebut dengan nama lakuer.
Hasil kerajinan lakuer sangat populer diPalembang, Indonesia,Thailand,Jakarta.orang mulai
mengenal bahwa barang-barang lakuer juga diproduksi di Indonesia, khususnya tahun 1980-
an, dan salah satu pusat perbelanjaan di ). Baru setelah Pameran Produksi (Jepang dan dan
sekitarnya, tetapi belum dikenal luas oleh masyarakat di Nusantara. Di pasaran banyak dijual
barang barang lakuer, tetapi barang barang itu berasal dari luar.

Asal lakuer

Kata lakuer (bahasa Inggris: lacquer) berasal dari kata lac, yaitu nama bahan damar yang
dihasilkan oleh sejenis serangga yang bernama Laccifer lacca. Tumbuhan tempat
bertenggernya serangga ini banyak ditemukan di Jepang, Tiongkok, dan di daerah
Pegunungan Himalaya. Orang Jepang menyadapnya dari pohon tersebut sekali dalam 10
tahun. Di Sumatera Selatan pohon tersebut dikenal dengan nama pohon kemalo.
Lakuer atau pengerjaan lakuer untuk pertama kalinya dilakukan di Tiongkok, tetapi kemudian
diproduksi secara besar-besaran di Jepang. Menurut sumber Tionghoa pada masa Dinasti
Ming (1368-1643 M), lakuer awalnya dipakai untuk menulis pada batang bambu. Pada masa
Dinasti Chou (1027-256 SM), tempat-tempat makanan pada mulanya dibuat dari lakuer. Pada
masa berikutnya lakuer dipakai untuk menghias tandu dan kereta kecil. Motif hias yang
dipakai orang Tionghoa adalah motif hias flora dan fauna (naga, burung hong, dan kura -kura).
Ada sebuah berita Tionghoa yang ditulis oleh Chau Ju kua dari masa Dinasti Song (960-1279
M). Di dalam berita itu disebutkan negeri-negeri yang dikunjungi oleh para saudagar
Tionghoa, termasuk di dalamnya negeri-negeri di Asia Tenggara, dan hasil produksi dari
negeri-negeri tersebut.
Di Annam para pedagang memperdagangkan kayu cendana, kamper, timah hitam, timah,
samshu, gula, musk, dan barang lakuer. Penduduk asli Beranang menghasilkan su dan chan
(sejenis kayu gaharu), kayu laka, kayu cendana, dan gading gajah. ParaHainan dari Tsuan
chou untuk berdagang, antara lain, memuat wadah-wadah lakuer. pedagang asing di negeri
itu menukarkannya dengan emas, perak, porselen, besi, barang lakuer, samshu, beras, gula,
dan terigu. Jung-jung Tiongkok yang datang ke
Meskipun hubungan ekonomi dan agama dengan Tiongkok sudah berlangsung cukup lama,
masuknya kemahiran mengerjakan lakuer di Palembang belum dapat diketahui dengan pasti.
Berdasarkan berita Tionghoa, hubungan perdagangan dan agama antara Tiongkok dan
Sriwijaya sudah berlangsung sejak sekitar abad ke-7 Masehi. Bermacam-macam komoditas,
baik hasil hutan maupun hasil bumi, pada masa itu diperdagangkan. Namun, dalam berita itu
tidak disebutkan barang lakuer, baik sebagai barang komoditas maupun sebagai barang
persembahan (upeti).
AdaSiam kabar burung bahwa kerajinan membuat lakuer berasal dari negeri . Pada mulanya
hanyalah merupakan upeti dari para saudagar untuk penguasa setempat. Tujuannya agar
saudagar yang memberikan upeti tersebut diperkenankan oleh penguasa setempat untuk
masuk dan berdagang bahkan mengharap agar diperkenankan menetap di wilayah
kekuasaannya. Siam
Keterangan itu kurang kuat meskipun Thailand Palembang mirip dengan ragam hias lakuer
Tiongkok. Juga menghasilkan barang-barang lakuer, yang biasanya mempunyai ciri khas
menggambarkan makhluk kahyangan (kinara dan kinari) dengan mahkota khas Thai yang
meruncing ke atas. Dugaan yang lebih masuk akal adalah berasal dari negeri Tiongkok
karena ragam hias lakuer.
Karena banyaknya barang tersebut dan juga bentuknya yang cukup menarik, akhirnya barang
lakuer mulai ditiru oleh orang-orang terampil. Dalam peniruan barang lakuer banyak
diciptakan kreasi baru.
Dalam waktu relatif singkat peniru telah dapat memproduksi barang lakuer dalam jumlah
banyak. Dengan masuknya agama Islam di Palembang, ragam hias pada barang lakuer juga
bernapaskan Islam, terutama untuk barang pesanan para kerabat sultan dan kaum
bangsawan.
Cara membuatnya
Dengan mesin bubut, sebongkah kayu dibentuk bulat atau silindris. Untuk bentuk kotak atau
membuat dinding pemisah (sketsel) tidak diperlukan pembubutan, cukup dengan
membentuknya dari bilah-bilah papan.
Permukaannya dihaluskan dengan amplas halus, warna dasar dengan oker, dijemur hingga
kering. Bagian yang berlubang didempul dan kembali diampelas. Dilukis dengan tinta china
dengan hiasan flora dan fauna yang mengambil motif binatang (naga berbadan singa dengan
sisik dan duri di badannya), burung bangau, burung hong, dan ayam.
Ragam hias yang telah dilukis biasanya diwarnai merah kesumba, merah darah, hitam, dan
kuning emas (prada). Warna dasar yang digunakan hitam dan merah kesumba. Terakhir
dilakukan bal, yaitu memoles agar permukaannya berkilauan. Agar tahan lama dan
cemerlang, dilapisi cairan serlak (vernis), fungsinya sebagai coating, dan dijemur kembali.
Dalam membuat sebuah lemari khas Palembang, perajin memerlukan waktu sekitar 20 hari,
mulai dari membentuk lemari, mengukir daun pintu dan mahkota (bagian atas lemari),
menggambar, sampai menghaluskan. Kayu yang terbaik untuk bahan bakunya adalah kayu
mahoni.

Pelestarian
Palembang dikenal sebagai tempat memproduksi tenunan songket, namun juga dikenal
sebagai tempat membuat barang-barang lakuer. Kalau kain tenun songket dihasilkan juga di
beberapa tempat di Nusantara, seperti Pande Sikek (Sumatera Barat) dan Sambas
(Kalimantan Barat), maka barang-barang lakuer hanya dihasilkan diPalembang. Dengan kata
lain, lakuer dihasilkan di Palembang,Indonesia.
Akhir-akhir ini perajin lakuer semakin berkurang jumlahnya. Mungkin disebabkan kalah
dengan produksi barang-barang keramik, atau bahkan barang-barang plastik.
Apabila kita berbicara tentang pelestarian, maka yang akan menyangkut di benak kita adalah
pelestarian alam, pelestarian benda purbakala, dan pelestarian budaya. Pelestarian yang
lebih spesifik lagi, seperti kerajinan lakuer, hampir diabaikan. Sudah saatnya kerajinan
membuat barang lakuer dilestarikan karena tahun demi tahun perajinnya mulai berkurang.
Salah satu penyebabnya adalah kekurangan modal kerja. Dalam usaha pelestariannya,
kelihatan kurangnya perhatian pemerintah daerah. Terbukti dari banyaknya perajin lakuer
yang beralih profesi serta menyusutnya perajin lakuer di Lorong Antik.
Barang-barang lakuer bisa menjadi barang komoditas ekspor nonmigas. Ini sesuai dengan
ajakan pemerintah untuk menggalakkan ekspor nonmigas. Pembinaan dan penyuluhan
kepada para perajin barang-barang lakuer sebaiknya terus dilakukan dengan intensif, juga
pemerintah sebaiknya memberi jalan untuk memasarkannya ke luar negeri.
Barang-barang lakuer di pasaran internasional sebagian besar dikuasai Jepang dan Thailand
Palembang bisa masuk ke pasaran internasional karena barang itu mempunyai ciri khas.
Namun, untuk bisa masuk ke pasaran internasional sangat tergantung pada niat baik
pemerintah dalam membina dan menyuluh para perajin barang lakuer.
Kita juga dapat menikmati berbagai macam bentuk dan jenis kerajinan Lakuer ini di tempat
bersejarah khas kota Palembang, seperti di Museum Sultan Machmud Badaruddin II, Museum
Balaputera Dewa, Rumah Limas dan rumah-rumah Adat khas Kota Palembang.

Sumber:
http://palembangbari.blogdetik.com/2009/03/06/lakuer%E2%80%9D-kerajinan-khas-
palembang-kurang-mendapat-perhatian-masyarakat/
( diakses pada tanggal 26 Januari 2017 Pukul 08.12 Wib )
TUGAS SENI BUDAYA

KERAJINAN LAKUER

Abdul Tafsir Wildan


KELAS VII-5

SMP NEGERI 10 PALEMBANG


TAHUN 2017