Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Termodinamika adalah ilmu tentang energi, yang secara spesifik membahas te


ntang hubungan antara energi panasdengan kerja. Energi dapat berubah dari satu bent
uk ke bentuk lain, baik secara alami maupun hasil rekayasa teknologi.

Hukum kedua termodinamika terkait dengan entropi. Hukum ini menyatakan


bahwa total entropi dari suatu sistem termodinamika terisolasi cenderung untuk
meningkat seiring dengan meningkatnya waktu, mendekati nilai maksimumnya.

Hukum keseimbangan / kenaikan entropi: Panas tidak bisa mengalir dari


material yang dingin ke yang lebih panas secara spontan. Entropi adalah tingkat
keacakan energi. Jika satu ujung material panas, dan ujung satunya dingin, dikatakan
tidak acak, karena ada konsentrasi energi. Dikatakan entropinya rendah. Setelah rata
menjadi hangat, dikatakan entropinya naik.

Proses termodinamik yang berlanggsung secara alami seluruhnya disebut proses


ireversibel (irreversibel process).Proses tersebut berlanggsung secara spontan pada satu
arah tetapi tidak pada arah sebaliknya. Contohnya kalor berpindah dari benda yang
bersuhu tinggi ke benda yang bersuhu rendah.

Proses reversibel adalah proses termodinamik yang dapat berlanggsung secara


bolak-balik. Sebuah sistem yang mengalami idealisasi proses reversibel selalu
mendekati keadaan kesetimbangan termodinamika antara sistem itu sendiri dan
lingkungannya. Proses reversibel merupakan proses seperti-kesetimbangan (quasi
equilibrium process).

1
1.2 Rumusan Masalah

Maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut :


1. Bagaimana bentuk-bentuk energi, sistem dan proses termodinamika ?
2. Apa pengertian dan aplikasi hukum termodinamika II dan III ?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini, antara lain:


1. Memberikan pengetahuan kepada pembaca mengenai bentuk-bentuk energi,
sistem dan proses termodinamika.
2. Memberikan tambahan pengetahuan kepada pembaca tentang Hukum kedua
dan ketiga termodinamika.

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Termodinamika

Termodinamika adalah ilmu tentang energi, yang secara spesifik membahas


tentang hubungan antara energi panas dengan kerja. Seperti telah diketahui bahwa
energi didalam alam dapat terwujud dalam berbagai bentuk, selain energi panas dan
kerja, yaitu energi kimia, energi listrik, energi nuklir, energi gelombang
elektromagnet, energi akibat gaya magnet, dan lain-lain . Energi dapat berubah dari
satu bentuk ke bentuk lain, baik secara alami maupun hasil rekayasa teknologi. Selain
itu energi di alam semesta bersifat kekal, tidak dapat dibangkitkan atau dihilangkan,
yang terjadi adalah perubahan energi dari satu bentuk menjadi bentuk lain tanpa ada
pengurangan atau penambahan. Prinsip ini disebut sebagai prinsip konservasi atau
kekekalan energi.

Prinsip termodinamika tersebut sebenarnya telah terjadi secara alami dalam


kehidupan sehari-hari. Bumi setiap hari menerima energi gelombang elektromagnetik
dari matahari, dan di bumi energi tersebut berubah menjadi energi panas, energi
angin, gelombang laut, proses pertumbuhan berbagai tumbuh-tumbuhan dan banyak
proses alam lainnya. Proses didalam diri manusia juga merupakan proses konversi
energi yang kompleks, dari input energi kimia dalam makanan menjadi energi gerak
berupa segala kegiatan fisik manusia, dan energi yang sangat bernilai yaitu energi
pikiran kita. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, maka prinsip
alamiah dalam berbagai proses thermodinamika direkayasa menjadi berbagai bentuk
mekanisme untuk membantu manusia dalam menjalankan kegiatannya. Mesin-mesin
transportasi darat, laut, maupun udara merupakan contoh yang sangat kita kenal dari
mesin konversi energi, yang merubah energi kimia dalam bahan bakar atau sumber.
energi lain menjadi energi mekanis dalam bentuk gerak atau perpindahan diatas
permukaan bumi, bahkan sampai di luar angkasa.

3
Pabrik-pabrik dapat memproduksi berbagai jenis barang, digerakkan oleh
mesin pembangkit energi listrik yang menggunakan prinsip konversi energi panas dan
kerja. Untuk kenyamanan hidup, kita memanfaatkan mesin airconditioning, mesin
pemanas, dan refrigerators yang menggunakan prinsip dasar termodinamika.
Aplikasi termodinamika yang begitu luas dimungkinkan karena perkembangan ilmu
termodinamika sejak abad 17 yang dipelopori dengan penemuan mesin uap di
Inggris, dan diikuti oleh para ilmuwan thermodinamika seperti Willian Rankine,
Rudolph Clausius, dan Lord Kelvin pada abad ke 19. Pengembangan ilmu
thermodinamika dimulai dengan pendekatan makroskopik, yaitu sifat thermodinamis
didekati dari perilaku umum partikel-partikel zat yang menjadi media pembawa
energi, yang disebut pendekatan thermodinamika klasik.
Pendekatan tentang sifat thermodinamis suatu zat berdasarkan perilaku
kumpulan partikel-partikel disebut pendekatan mikroskopis yang merupakan
perkembangan ilmu thermodinamika modern, atau disebut thermodinamika statistik.
Pendekatan thermodinamika statistik dimungkinkan karena perkembangan teknologi
komputer, yang sangat membantu dalam menganalisis data dalam jumlah yang sangat
besar.

2.2 Bentuk-Bentuk Energi

Total energi (E) suatu sistem merupakan jumlah dari energi termal, mekanis,
kinetis, potensial, elektrik, magnetik, kimia dan nuklir. Di dalam termodinamika
yang dipelajari adalah besarnya perubahan dari satu bentuk energi ke bentuk lainnya,
bukan menghitung jumlah energi dari suatu sistem.

Bentuk energi dibagi menjadi dua kelompok:

1. Energi Makroskopik: Berhubungan dengan gerak dan pengaruh luar seperti


gravitasi, magnetik, elektrik dan tegangan permukaan.

Energi Makroskopik terdiri dari:

4
- Energi Kinetik ( Ek ): Energi yang disebabkan oleh gerakan relatif terhadap suatu
referensi. Adapun besarnya dalam berntuk energi per-satuan masa dengan:

Ek = m . v2........................................ (2.1)

* m= satuan masa media pembawa energi * v= satuan kecepatan gerakan


masa

- Energi Potensial ( Ep ): Energi yang disebabkan oleh elevasinya dalam medan


gravitasi, besarnya adalah:

Ep = m . g . h .................................... (2.2)

2. Energi Mikroskopik: Berhubungan dengan struktur molekul dan derajat aktivitas


molekul. Jumlah total energi mikroskopik disebut energi dalam (internal energy) ,
dengan simbol U.

Energi Mikroskopik terdiri dari:


- Energi Sensibel : Berhubungan dengan energi kinetik dan gerakan (translasi, rotasi,
vibrasi) molekul sistem.
- Energi Latent : Berhubungan dengan fasa dari sistem, mencair, menguap dll.
- Energi Kimia : Berhubungan dengan ikatan atom-atom dalam sistem.

Dengan demikian energi total suatu sistem hanya dipengaruhi oleh energi
kinetik,energi potensial dan energi dalam.

2.3 Sistem dan Proses Termodinamika

Suatu sistem termodinamika adalah sustu masa atau daerah yang dipilih,
untuk dijadikan obyek analisis. Daerah sekitar sistem tersebut disebut sebagai
lingkungan. Batas antara sistem dengan lingkungannya disebut batas sistem
(boundary), dalam aplikasinya batas sistem merupakan bagian dari sistem maupun
lingkungannya, dan dapat tetap atau dapat berubah posisi atau bergerak.

5
Dalam thermodinamika ada dua jenis sistem, yaitu sistem tertutup dan sistem
terbuka. Dalam sistem tertutup masa dari sistem yang dianalisis tetap dan tidak ada
masa keluar dari sistem atau masuk kedalam sistem, tetapi volumenya bisa berubah.
Yang dapat-keluar masuk sistem tertutup adalah energi dalam bentuk panas atau
kerja. Contoh sistem tertutup adalah suatu balon udara yang dipanaskan, dimana masa
udara didalam balon tetap, tetapi volumenya berubah, dan energi panas masuk
kedalam masa udara didalam balon. Dalam sistem terbuka, energi dan masa dapat
keluar sistem atau masuk kedalam sistem melewati batas sistem. Sebagian besar
mesin-mesin konversi energi adalah sistem terbuka. Sistem mesin motor bakar adalah
ruang didalam silinder mesin, dimana campuran bahan bahan bakar dan udara masuk
kedalam silinder, dan gas buang keluar sistem melalui knalpot.

Turbin gas, turbin uap, pesawat jet dan lain-lain adalah merupakan sistem
thermodinamika terbuka, karena secara simultan ada energi dan masa keluar-masuk
sistem tersebut. Karakteristik yang menentukan sifat dari sistem disebutproperty dari
sistem, seperti tekanan P, temperatur T, volume V, masa m, viskositas, konduksi
panas, dan lain-lain. Selain itu ada juga property yang disefinisikan
dari property yang lainnya seperti, berat jenis, volume spesifik, panas jenis, dan lain-
lain. Suatu sistem dapat berada pada suatu kondisi yang tidak berubah, apabila
masing-masing jenis property sistem tersebut dapat diukur pada semua bagiannya dan
tidak berbeda nilainya. Kondisi tersebut disebut sebagai keadaan (state) tertentu dari
sistem, dimana sistem mempunyai nilai property yang tetap. Apabila property nya
berubah, maka keadaan sistem tersebut disebut mengalami perubahan keadaan. Suatu
sistem yang tidak mengalami perubahan keadaan disebut sistem dalam keadaan
seimbnag (equilibrium). Perubahan sistem thermodinamika dari keadaan seimbang
satu menjadi keadaan seimbang lain disebut proses, dan rangkaian keadaan diantara
keadaan awal dan akhir disebut lintasan proses. Suatu sistem disebut menjalani suatu
siklus, apabila sistem tersebut menjalani rangkaian beberapa proses, dengan keadaan
akhir sistem kembali ke keadaan awalnya.

6
2.4 Hukum-Hukum Termodinamika

Suatu gas yang berada dalam suhu tertentu dikatakan memiliki energi dalam.
Energi dalam gas berkaitan dengan suhu gas tersebut dan merupakan sifat
mikroskopik gas tersebut. Meskipun gas tidak melakukan atau menerima usaha, gas
tersebut dapat memiliki energi yang tidak tampak tetapi terkandung dalam gas
tersebut yang hanya dapat ditinjau secara mikroskopik.

Berdasarkan teori kinetik gas, gas terdiri atas partikel-partikel yang berada
dalam keadaan gerak yang acak. Gerakan partikel ini disebabkan energi kinetik rata-
rata dari seluruh partikel yang bergerak. Energi kinetik ini berkaitan dengan suhu
mutlak gas. Jadi, energi dalam dapat ditinjau sebagai jumlah keseluruhan energi
kinetik dan potensial yang terkandung dan dimiliki oleh partikel-partikel di dalam gas
tersebut dalam skala mikroskopik. Dan, energi dalam gas sebanding dengan suhu
mutlak gas. Oleh karena itu, perubahan suhu gas akan menyebabkan perubahan
energi dalam gas.

Dimana U adalah perubahan energi dalam gas, n adalah jumlah mol


gas, R adalah konstanta umum gas (R = 8,31 J mol1 K1, dan T adalah perubahan
suhu gas (dalam kelvin).

Terdapat empat Hukum Dasar yang berlaku di dalam sistem termodinamika,


yaitu:
1. Hukum Awal (Zeroth Law) Termodinamika
Hukum ini menyatakan bahwa dua sistem dalam keadaan setimbang
dengan sistem ketiga, maka ketiganya dalam saling setimbang satu dengan
lainnya.

2. Hukum Pertama Termodinamika


Hukum ini terkait dengan kekekalan energi. Hukum ini menyatakan
perubahan energi dalam dari suatu sistem termodinamika tertutup sama dengan

7
total dari jumlah energi kalor yang disuplai ke dalam sistem dan kerja yang
dilakukan terhadap sistem.

3. Hukum Kedua Termodinamika


Hukum kedua termodinamika terkait dengan entropi. Hukum ini
menyatakan bahwa total entropi dari suatu sistem termodinamika terisolasi
cenderung untuk meningkat seiring dengan meningkatnya waktu, mendekati
nilai maksimumnya.

4. Hukum Ketiga Termodinamika


Hukum ketiga termodinamika terkait dengan temperatur nol absolut.
Hukum ini menyatakan bahwa pada saat suatu sistem mencapai temperatur nol
absolut, semua proses akan berhenti dan entropi sistem akan mendekati nilai
minimum. Hukum ini juga menyatakan bahwa entropi benda berstruktur kristal
sempurna pada temperatur nol absolut bernilai nol.

2.4.1 Hukum Pertama Termodinamika

Jika kalor diberikan kepada sistem, volume dan suhu sistem akan bertambah
(sistem akan terlihat mengembang dan bertambah panas). Sebaliknya, jika kalor
diambil dari sistem, volume dan suhu sistem akan berkurang (sistem tampak
mengerut dan terasa lebih dingin). Prinsip ini merupakan hukum alam yang penting
dan salah satu bentuk dari hukum kekekalan energi. Sistem yang mengalami
perubahan volume akan melakukan usaha dan sistem yang mengalami perubahan
suhu akan mengalami perubahan energi dalam. Jadi, kalor yang diberikan kepada
sistem akan menyebabkan sistem melakukan usaha dan mengalami perubahan energi
dalam. Prinsip ini dikenal sebagai hukum kekekalan energi dalam termodinamika
atau disebut hukum I termodinamika. Secara matematis, hukum I termodinamika
dituliskan sebagai :

Q = W + U ............................................ (2.3)

8
Dimana Q adalah kalor, W adalah usaha, dan U adalah perubahan energi
dalam. Secara sederhana, hukum I termodinamika dapat dinyatakan Jika suatu
benda (misalnya krupuk) dipanaskan (atau digoreng) yang berarti diberi kalor Q,
benda (krupuk) akan mengembang atau bertambah volumenya yang berarti
melakukan usaha W dan benda (krupuk) akan bertambah panas (coba aja dipegang,
pasti panas deh!) yang berarti mengalami perubahan energi dalamU.

1. Proses Isotermik
Suatu sistem dapat mengalami proses termodinamika dimana terjadi
perubahan-perubahan di dalam sistem tersebut. Jika proses yang terjadi
berlangsung dalam suhu konstan, proses ini dinamakan proses isotermik. Karena
berlangsung dalam suhu konstan, tidak terjadi perubahan energi dalam (U = 0)
dan berdasarkan hukum I termodinamika kalor yang diberikan sama dengan usaha
yang dilakukan sistem (Q = W). Proses isotermik dapat digambarkan dalam
grafik p V di bawah ini. Usaha yang dilakukan sistem dan kalor dapat dinyatakan
sebagaiDimana V2 dan V1 adalah volume akhir dan awal gas.

2. Proses Isokhorik
Jika gas melakukan proses termodinamika dalam volume yang konstan, gas
dikatakan melakukan proses isokhorik. Karena gas berada dalam volume konstan
(V = 0), gas tidak melakukan usaha (W = 0) dan kalor yang diberikan sama
dengan perubahan energi dalamnya. Kalor di sini dapat dinyatakan sebagai kalor
gas pada volume konstan QV.

QV = U ................................................ (2.4)

3. Proses Isobarik
Jika gas melakukan proses termodinamika dengan menjaga tekanan tetap
konstan, gas dikatakan melakukan proses isobarik. Karena gas berada dalam
tekanan konstan, gas melakukan usaha (W = pV). Kalor di sini dapat dinyatakan
sebagai kalor gas pada tekanan konstan Qp. Sebelumnya telah dituliskan bahwa

9
perubahan energi dalam sama dengan kalor yang diserap gas pada volume
konstan QV =U. Dari sini usaha gas dapat dinyatakan sebagai

W = Qp QV .................................. (2.5)

Jadi, usaha yang dilakukan oleh gas (W) dapat dinyatakan sebagai selisih
energi (kalor) yang diserap gas pada tekanan konstan (Qp) dengan energi (kalor)
yang diserap gas pada volume konstan (QV).

4. Proses Adiabatik
Dalam proses adiabatik tidak ada kalor yang masuk (diserap) ataupun keluar
(dilepaskan) oleh sistem (Q = 0). Dengan demikian, usaha yang dilakukan gas
sama dengan perubahan energi dalamnya (W = U). Jika suatu sistem berisi gas
yang mula-mula mempunyai tekanan dan volume masing-
masing p1 dan V1 mengalami proses adiabatik sehingga tekanan dan volume gas
berubah menjadi p2 dan V2, usaha yang dilakukan gas dapat dinyatakan sebagai
Dimana adalah konstanta yang diperoleh perbandingan kapasitas kalor
molar gas pada tekanan dan volume konstan dan mempunyai nilai yang lebih besar
dari 1 ( > 1). Proses adiabatik dapat digambarkan dalam grafik p Vdengan
bentuk kurva yang mirip dengan grafik p V pada proses isotermik namun dengan
kelengkungan yang lebih curam.

Hukum pertama termodinamika adalah suatu pernyataan mengenai hukum


universal dari kekekalan energi dan mengidentifikasikan perpindahan panas
sebagai suatu bentuk perpindahan energi. Pernyataan paling umum dari hukum
pertama termodinamika ini berbunyi: Kenaikan energi internal dari suatu sistem
termodinamika sebanding dengan jumlah energi panas yang ditambahkan ke
dalam sistem dikurangi dengan kerja yang dilakukan oleh sistem terhadap
lingkungannya.

10
Fondasi hukum ini pertama kali diletakkan oleh James Prescott Joule yang
melalui eksperimen-eksperimennya berhasil menyimpulkan bahwa panas dan kerja
saling dapat dikonversikan. Pernyataan eksplisit pertama diberikan oleh Rudolf
Clausius pada 1850: "Terdapat suatu fungsi keadaan E, yang disebut 'energi', yang
diferensialnya sama dengan jumlah kerja yang dipertukarkan dengan
lingkungannya pada suatu proses adiabatik.

2.4.2 Hukum Kedua Termodinamika


Termodinamika (bahasa Yunani: thermos = 'panas' and dynamic =
'perubahan') adalah fisika energi , panas, kerja, entropi dan kespontanan proses.
Hukum kedua termodinamika mengatakan bahwa aliran kalor memiliki arah. Dengan
kata lain, tidak semua proses di alam adalah reversibel (arahnya dapat dibalik).
Hukum kedua termodinamika menyatakan bahwa kalor mengalir secara spontan dari
benda bersuhu tinggi ke benda bersuhu rendah dan tidak pernah mengalir secara
spontan dalam arah kebalikannya. Misalnya, jika sebuah kubus kecil dicelupkan ke
dalam secangkir air kopi panas, kalor akan mengalir dari air kopi panas ke kubus es
sampai suhu keduanya sama.
Hukum pertama termodinamika tidak dapat menjelaskan apakah suatu proses
mungkin terjadi ataukah tak mungkin terjadi. Oleh karena itu, muncullah hukum
kedua termodinamika yang disusun tidak lepas dari usaha untuk mencari sifat atau
besaran sistem yang merupakan fungsi keadaan. Ternyata orang yang menemukannya
adalah Clausius dan besaran itu disebut entropi. Hukum kedua ini dapat dirumuskan
sebagai berikut:Proses suatu sistem terisolasi yang disertai dengan penurunan
entropi tidak mungkin terjadi. Dalam setiap proses yang terjadi pada sistem
terisolasi, maka entropi sistem tersebut selalu naik atau tetap tidak berubah.

Hukum kedua termodinamika memberikan batasan dasar pada efisiensi


sebuah mesin atau pembangkit daya. Hukum ini juga memberikan batasan energi
masukan minimum yang dibutuhkan untuk menjalankan sebuah sistem pendingin.

11
Hukum kedua termodinamika juga dapat dinyatakan dalam konsep entropi yaitu
sebuah ukuran kuantitatif derajat ketidakaturan atau keacakan sebuah sistem.

Dari hasil percobaan para ahli menyimpulkan bahwa mustahil untuk membuat
sebuah mesin kalor yang mengubah panas seluruhnya menjadi kerja, yaitu mesin
dengan efisiensi termal 100%. Kemustahilan ini adalah dasar dari satu pernyataan
hukum kedua termodinamika sebagai berikut: Adalah mustahil bagi sistem
manapun untuk mengaalami sebuah proses di mana sistem menyerap panas dari
reservoir pada suhu tunggal dan mengubah panas seluruhnya menjadi kerja
mekanik, dengan sistem berakhir pada keadaan yang sama seperti keadaan
awalnya. Pernyataan ini dikenal dengan sebutan pernyataan mesin dari hukum
kedua termodinamika.

Dasar dari hukum kedua termodinamika terletak pada perbedaaan antara sifat
alami energi dalam dan energi mekanik makroskopik. Dalam benda yang bergerak,
molekul memiliki gerakan acak, tetapi diatas semua itu terdapat gerakan terkoordinasi
dari setiap molekul pada arah yang sesuai dengan kecepatan benda tersebut. Energi
kinetik dan energi potensial yang berkaitan dengan gerakan acak menghasilkan energi
dalam.

Jika hukum kedua tidak berlaku, seseorang dapat menggerakkan mobil atau
pembangkit daya dengan mendinginkan udara sekitarnya. Kedua kemustahilan ini
tidak melanggar hukum pertama termodinamika. Oleh karena itu, hukum kedua
termodinamika bukanlah penyimpulan dari hukum pertama, tetapi berdiri sendiri
sebagai hukum alam yang terpisah. Hukum pertama mengabaikan kemungkinan
penciptaan atau pemusnahan energi. Sedangkan hukum kedua termodinamika
membatasi ketersediaan energi dan cara penggunaan serta pengubahannya.

Panas mengalir secara spontan dari benda panas ke benda yang lebih dingin,
tidak pernah sebaliknya. Sebuah pendingin mengambil panas dari benda dingin ke
benda yang lebih panas, tetapi operasinya membutuhkan masukan energi mekanik

12
atau kerja. Hal umum mengenai pengamatan ini dinyatakan sebagai berikut :Adalah
mustahil bagi proses mana pun untuk bekerja sendiri dan menghasilkan perpindahan
panas dari benda dingin ke benda yang lebih panas. Pernyataan ini dikenal dengan
sebutan pernyataan pendingin dari hukum kedua termodinamika.

Pernyataan pendingin ini mungkin tidak tampak berkaitan sangat dekat


dengan pernyataan mesin. Tetapi pada kenyataannya, kedua pernyataan ini
seutuhnya setara. Sebagai contoh, jika seseorang dapat membuat pendingin tanpa
kerja, yang melanggar pernyataan pendingin dari hukum kedua, seseorang dapat
mengabungkannya dengan sebuah mesin kalor, memompa kalor yang terbuang oleh
mesin kembali ke reservoir panas untuk dipakai kembali. Meski gabungan ini akan
melanggar pernyataan mesin dari hukum kedua, karena selisih efeknya akan
menarik selisih panas sejumlah dari reservoir panas dan mengubah seutuhnya
menjadi kerja W.

Perubahan kerja menjadi panas, seperti pada gesekan atau aliran fluida kental
(viskos) dan aliran panas dari panas ke dingin melewati sejumlah gradien suhu,
adalah suatu proses ireversibel. Pernyataan mesin dan pendingin dari hukum
kedua menyatakan bahwa proses ini hanya dapat dibalik sebagian saja. Misalnya, gas
selalu mengalami kebocoran secara spontan melalui suatu celah dari daerah
bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah. Gas-gas dan cairan-cairan yang dapat
bercampur bila dibiarkan akan selalu tercampur dengan sendirinya dan bukannya
terpisah.Hukum kedua termodinamika adalah sebuah pernyataan dari aspek sifat
searah dari proses-proses tersebut dan banyak proses ireversibel lainnya. Perubahan
energi adalah aspek utama dari seluruh kehidupan tanaman dan hewan serta teknologi
manusia, maka hukum kedua termodinamika adalah dasar terpenting dari dunia
tempat makhluk hidup tumbuh dan berkembang.

Dua formulasi dari hukum kedua termodinamika yang berguna untuk


memahami konversi energi panas ke energi mekanik, yaitu formulasi yang

13
dikemukakan oleh Kelvin-Planck dan Rudolf Clausius. Adapun hukum kedua
termodinamika dapat dinyatakan sebagai berikut :

1. Formulasi Kelvin-Planck

Tidak mungkin untuk membuat sebuah mesin kalor yang bekerja dalam suatu
siklus yang semata-mata mengubah energi panas yang diperoleh dari suatu sumber
pada suhu tertentu seluruhnya menjadi usaha mekanik.Dengan kata lain, formulasi
kelvin-planck menyatakan bahwa tidak ada cara untuk mengambil energi panas dari
lautan dan menggunakan energi ini untuk menjalankan generator listrik tanpa efek
lebih lanjut, misalnya pemanasan atmosfer.Oleh karena itu, pada setiap alat atau
mesin memiliki nilai efisiensi tertentu. Efisiensi menyatakan nilai perbandingan dari
usaha mekanik yang diperoleh dengan energi panas yang diserap dari sumber suhu
tinggi.

2. Formulasi Clausius

Tidak mungkin untuk membuat sebuah mesin kalor yang bekerja dalam suatu
siklus yang semata-mata memindahkan energi panas dari suatu benda dingin ke
benda panas. Dengan kata lain, seseorang tidak dapat mengambil energi dari
sumber dingin (suhu rendah) dan memindahkan seluruhnya ke sumber panas (suhu
tinggi) tanpa memberikan energi pada pompa untuk melakukan usaha. (Marthen
Kanginan, 2007: 249-250)

Berbeda dari hukum pertama, hukum kedua ini mempunyai berbagai


perumusan. Kelvin mengetengahkan suatu permasalahan dan Planck mengetengahkan
perumusan lain. Karena pada hakekatnya perumusan kedua orang ini mengenai hal
yang sama maka perumusan itu digabung dan disebut perumusan Kelvin-Planck bagi
hukum kedua termodinamika. Perumusan ini diungkapkan demikian :Tidak mungkin
membuat pesawat yang kerjanya semata-mata menyerap kalor dari sebuah reservoir
dan mengubahnya menjadi usaha. Oleh Clausius, hukum kedua termodinamika

14
dirumuskan dengan ungkapan : Tidak mungkin membuat pesawat yang kerjanya
hanya menyerap kalor dari reservoir bertemperatur rendah dan memindahkan kalor
ini ke reservoir yang bertemperatur tinggi, tanpa disertai perubahan lain.

Hukum kedua termodinamika berkaitan dengan apakah proses-proses yang


dianggap taat azas dengan hukum pertama, terjadi atau tidak terjadi di alam. Hukum
kedua termodinamika seperti yang diungkapkan oleh Clausius mengatakan, Untuk
suatu mesin siklis maka tidak mungkin untuk menghasilkan efek lain, selain dari
menyampaikan kalor secara kontinu dari sebuah benda ke benda lain pada
temperatur yang lebih tinggi".

Bila ditinjau siklus Carnot, yakni siklus hipotesis yang terdiri dari empat
proses terbalikkan: pemuaian isotermal dengan penambahan kalor, pemuaian
adiabatik, pemampatan isotermal dengan pelepasan kalor dan pemampatan adiabatik;
jika integral sebuah kuantitas mengitari setiap lintasan tertutup adalah nol, maka
kuantitas tersebut yaknivariabel keadaan, mempunyai sebuah nilai yang hanya
merupakan ciri dari keadaan sistem tersebut, tak peduli bagaimana keadaan tersebut
dicapai. Variabel keadaan dalam hal ini adalah entropi. Perubahan entropi hanya
gayut keadaan awal dan keadaan akhir dan tak gayut proses yang menghubungkan
keadaan awal dan keadaan akhir sistem tersebut.

Hukum kedua termodinamika dalam konsep entropi mengatakan, "Sebuah


proses alami yang bermula di dalam satu keadaan kesetimbangan dan berakhir di
dalam satu keadaan kesetimbangan lain akan bergerak di dalam arah yang
menyebabkan entropi dari sistem dan lingkungannya semakin besar".

Jika entropi diasosiasikan dengan kekacauan maka pernyataan hukum kedua


termodinamika di dalam proses-proses alami cenderung bertambah ekivalen dengan
menyatakan, kekacauan dari sistem dan lingkungan cenderung semakin besar.

Di dalam ekspansi bebas, molekul-molekul gas yang menempati keseluruhan


ruang kotak adalah lebih kacau dibandingkan bila molekul-molekul gas tersebut

15
menempati setengah ruang kotak. Jika dua benda yang memiliki temperatur berbeda
T1 dan T2 berinteraksi, sehingga mencapai temperatur yang serba sama T, maka dapat
dikatakan bahwa sistem tersebut menjadi lebih kacau, dalam arti, pernyataan "semua
molekul dalam sistem tersebut bersesuaian dengan temperatur T adalah lebih lemah
bila dibandingkan dengan pernyataan semua molekul di dalam benda A bersesuaian
dengan temperatur T1 dan benda B bersesuaian dengan temperatur T2". Di dalam
mekanika statistik, hubungan antara entropi dan parameter kekacauan adalah :

S = k log w ............................................. (2.6)

dimana k adalah konstanta Boltzmann, S adalah entropi sistem, w adalah


parameter kekacauan, yakni kemungkinan beradanya sistem tersebut relatif terhadap
semua keadaan yang mungkin ditempati.
Jika ditinjau perubahan entropi suatu gas ideal di dalam ekspansi isotermal,
dimana banyaknya molekul dan temperatur tak berubah sedangkan volumenya
semakin besar, maka kemungkinan sebuah molekul dapat ditemukan dalam suatu
daerah bervolume V adalah sebanding dengan V; yakni semakin besar V maka
semakin besar pula peluang untuk menemukan molekul tersebut di dalam V.
Kemungkinan untuk menemukan sebuah molekul tunggal di dalam V adalah:

W1 = c V ................................................ (2.7)

dimana c adalah konstanta. Kemungkinan menemukan N molekul secara


serempak di dalam volume V adalah hasil kali lipat N dari w. Yakni, kemungkinan
dari sebuah keadaan yang terdiri dari N molekul berada di dalam volume Vadalah :

w = w1N = (cV)N .......................................... (2.8)

Jika persamaan (2.8) disubstitusikan ke (2.6), maka perbedaan entropi gas


ideal dalam proses ekspansi isotermal dimana temperatur dan banyaknya molekul tak
berubah, adalah bernilai positip. Ini berarti entropi gas ideal dalam proses ekspansi
isotermal tersebut bertambah besar.

16
Definisi statistik mengenai entropi, yakni persamaan (2.6), menghubungkan
gambaran termodinamika dan gambaran mekanika statistik yang memungkinkan
untuk meletakkan hukum kedua termodinamika pada landasan statistik. Arah dimana
proses alami akan terjadi menuju entropi yang lebih tinggi ditentukan oleh hukum
kemungkinan, yakni menuju sebuah keadaan yang lebih mungkin. Dalam hal
ini, keadaan kesetimbangan adalah keadaan dimana entropi maksimum secara
termodinamika dan keadaan yang paling mungkin secara statistik. Akan
tetapi fluktuasi, misalgerak Brown, dapat terjadi di sekitar distribusi kesetimbangan.

Dari sudut pandang ini, tidaklah mutlak bahwa entropi akan semakin besar di
dalam tiap-tiap proses spontan. Entropi kadang-kadang dapat berkurang. Jika cukup
lama ditunggu, keadaan yang paling tidak mungkin sekali pun dapat terjadi: air di
dalam kolam tiba-tiba membeku pada suatu hari musim panas yang panas atau suatu
vakum setempat terjadi secara tiba-tiba dalam suatu ruangan.
Reservoir Energi Panas (Thermal Energy Reservoir)

Thermal Energy Reservoir atau lebih umum disebut dengan reservoir energi
panas adalah suatu benda atau zat yang mempunyai kapasitas energi panas yang
besar. Artinya reservoir dapat menyerap atau menyuplai sejumlah energi panas yang
tidak terbatas tanpa mengalami perubahan temperatur. Contoh dari benda atau zay
besar yang disebut reservoir adalah samudera, danau, dan sungai untuk benda besar
yang berwujud air dan atmosfer untuk benda berwujud besar di udara. Sistem dua
fasa juga dapat dimodelkan sebagau suatu reservoir, karena sistem dua fasa dapat
menyerap dan melepaskan panas tanpa mengalami perubahan temperatur. Dalam
prakteknya, ukuran sebuah reservoir menjadi relatif. Misalnya sebuah ruangan dapat
disebut sebagai sebuah reservoir dalam suatu analisa panas yang dilepaskan oleh
sebuah televisi. Reservoir yang menyuplai energi disebut dengan saurce dan reservoir
yang menyerap energi disebut dengan sink.
Mesin Kalor (Heat Engines)

17
Mesin kalor adalah sebutan untuk alat yang berfungsi mengubah energi
panas menjadi energi mekanik. Sebuah mesin kalor dapat di karakteristikkan sebagai
berikut:
1. Mesin kalor menerima panas dari source bertemperatur tinggi (energi matahari,
bahan bakar, reaktor nuklir, dll)
2. Mesin kalor mengkonvensi sebagian panas menjadi kerja (umumnya dalam bentuk
poros yang berputar)
3. Mesin kalor membuang sisa panas ke sink bertemperatur rendah.
4. Mesin kalor beroperasi dalam sebuah siklus.

Sebuah alat produksi kerja yang paling tepat mewakili definisi dari mesin
kalor adalah pembangkit listrik tenaga air, yang merupakan mesin pembakaran luar
dimana fluida kerja mengalami siklus termodinamika yang lengkap.
Efisiensi termal (thermal efficiencies)

Efisiensi termal sebenarnya digunakan untuk mengukur unjuk kerja dari suatu
mesin kalor, yaitu berapa bagian dari input panas yang diubah menjadi output kerja
bersih.

Unjuk kerja = Output yang diinginkan .................... (2.9)


Input yang diperlukan

Untuk mesin kalor, output yang diinginkan adalah output kerja bersih. Dan
input yang diperlukan adalah jumlah panas yang disuplai ke fluida kerja. Kemudian
efisiensi termal dari sebuah mesin kalor dapat diekspresikan sebagai:

Efisiensi termal = Output kerja bersih ................. (2.10)


Input yang diinginkan

Atau nth= 1 Q out ...................................... (2.11)

Atau Q in Dimana W bersih out = Qout-Qin ........ (2.12)

18
Melihat karaktristik dari sebuah mesin kalor, maka tidak ada sebuah mesin
kalor yang dapat mengubah semua panas yang diterima kemudian mengubahnya
semua menjadi kerja. Pernyataan tersebut dimuat sebuah pernyataan oleh Kelvin-
Plank yang berbunyi : Adalah tidak mungkin untuk sebuah alat atau mesin yang
beroperasi dalam sebuah siklus yang menerima panas dari sebuah reservoir tunggal
dan memproduksi sejumlah kerja bersih.

Pernyataan diatas hanya diperuntukkan pada mesin kalor, dapat diartikan


sebagai tidak ada sebuah mesin/alat yang bekerja dalam sebuah siklus menerima
panas dari reservoir bertemperatur tinggi dan mengubah panas tersebut seluruhnya
menjadi kerja bersih. Atau dengan kata lain tidak ada sebuah mesin kalor yang
mempunyai efisiensi 100%.

2.4.3 Hukum Ketiga Termodinamika

Efek magnetokalorik di pakai untuk menurunkan temperatur senyawa


paramagnetic hingga sekitar 0.001 K. Secara prinsip, temperatur yang lebih rendah
lagi dapat dicapai dengan menerapkan efek magnetokalorik berulang-ulang. Jadi
setelah penaikan medan magnetik semula secara isoterm, penurunan medan magnetik
secara adiabat dapat dipakai untuk menyiapkan sejumlah besar bahan pada
temperatur T, yang dapat dipakai sebagai tandon kalor untuk menaikan tandon kalor
secara isoterm ynag berikutnya dari sejumlah bahan yang lebih sedikit dari bahan
semula. Penurunan medan magnetik secara adiabat yang kedua dapat menghasilkan
temperatur yang lebih rendah lagi, T, dan seterusnya. Maka akan timbul pertanyaan
apakah efek magnetokalorik dapat dipakai untuk mendinginkan zat hingga mencapai
nol mutlak.

Pecobaan menunjukan bahwa sifat dasar semua proses pendinginan adalah


bahwa semakin rendah temperatur yang dicapai, semakin sulit menurunkannya.hal
yang sama berlaku juga untuk efek magnetokalorik.dengan persyaratan demikian,
penurunan medan secara adiabat yang tak trhingga banyaknya diperlukan untuk

19
mencapai temperatur nol mutlak. Perampatan dari pengalaman dapat dinyatakan
sebagai berikut : Temperatur nol mutlak tidak dapat dicapai dengan sederetan
prosesyang banyaknya terhingga.Ini dikenal sebagi ketercapaian temperatur nol
mutlak atau ketaktercapaian hukum ketiga termodinamika. Pernyataan lain dari
hukum ketiga termodinamika adalahhasil percobaan yang menuju ke perhitungan
bahwa bagaimana ST berlaku ketika T mendekati nol. ST ialah perubahan entropi
sistem terkondensasi ketika berlangsung proses isoterm terbuktikan. Percobaansangat
memperkuat bahwa ketika T menurun,ST berkurang jika sistem itu zat cair atau zat
padat. Jadi prinsip berikut dapat di terima: Perubahan entropi yang berkaitan dengan
proses-terbalikan-isotermis-suatu sistem-terkondensasi mendekati nol ketika
temperaturnya mendekati nol. Pernyataan tersebut merupakan hukum ketiga
termodinamika menurut Nernst-Simon. Nernst menyatakan bahwa perubahan entropi
yang menyertai tiap proses reversibel, isotermik dari suatu sistem terkondensasi
mendekati nol. Perubahan yang dinyatakan di atas dapat berupa reaksi kimia,
perubahan status fisik, atau secara umum tiap perubahan yang dalam prinsip dapat
dilakukan secara reversibel.

Hukum ketiga termodinamika terkait dengan temperatur nol absolut. Hukum


ini menyatakan bahwa pada saat suatu sistem mencapai temperatur nol absolut,
semua proses akan berhenti dan entropi sistem akan mendekati nilai minimum.
Hukum ini juga menyatakan bahwa entropi benda berstruktur kristal sempurna pada
temperatur nol absolut bernilai nol. StD Hukum ketiga termodinamika menyatakan
bahwa perubahan entropi yang berkaitan dengan perubahan kimia atau perubahan
fisika bahan murni pada T = 0 K bernilai nol. Secara intuitif hukum ketiga dapat
dipahami dari fakta bahwa pergerakan ionik atau molekular maupun atomik yang
menentukan derajat ketidakteraturan dan dengan demikian juga besarnya entropi,
sama sekali berhenti pada 0 K. Dengan mengingat hal ini, tidak akan ada perubahan
derajat ketidakteraturan dalam perubahan fisika atau kimia dan oleh karena itu tidak
akan ada perubahan entropi.

20
DAFTAR PUSTAKA

Ade.2009. HukumKetigaTermodinamika. http://adeputriprasetya.blogspot.com/2009/


11/hukum-3-termodinamika.html

Anonim. 2007. Termodinamika. http://id.wikipedia.org/wiki/Termodinamika

Anonim.2007. Termodinamika1. http://termodinamika1.wordpress.com/2007/12/08/


materiperkuliahan/Anonim.2009. HukumPertamaTermodinamika. http://www.cuacaj
ateng.com/hukumpertama thermodinamika.html

Anonim. 2009. Termodinamika. www.bebas.vlsm.org/v12/sponsor/.../0285%20Fis-1-


5b.html

Anonim.2011. HukumTermodinamika. kk.mercubuana.ac.id/files/13015-


3860358017731.doc

Anonim.2012. HukumTermodinamika. www.infofisioterapi.com/info/termodinamika.


html

Anonim.2013. BunyiHukum ke-2 Termodinamika. http://www.forumsains.com/fisika-


smu/bunyi-hukum-ke-2-thermodynamics/

Halliday, Resnick. 1998. Fisika Edisi Ke 3. Jakarta: Erlangga

Khairunnisa.2013. KonsepDasarTermodinamika. http://khairunnisa2.blogspot.com/2


013/03/konsep-dasar-termodinamika.htmlOdimira.

21

Anda mungkin juga menyukai