Anda di halaman 1dari 30

RANCANGAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA


NOMOR TAHUN
TENTANG
PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Menimbang : bahwa dengan diterbitkannya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang


a.
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, maka Peraturan Pemerintah
No. 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian
Pencemaran Air perlu disesuaikan.
b. Bahwa berdasarkan pertimbangan pada huruf a maka perlu menetapkan
Peraturan Pemerintah tentang Pengendalian Pencemaran Air
Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan pengelolaan
Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor
140, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5059).

MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR

BAB I
KETENTUAN UMUM

Bagian Kesatu
Pengertian

Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
1. Air adalah semua air yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah, termasuk
dalam pengertian ini air permukaan, air tanah, air hujan, kecuali air laut dan air fosil;
2. Sumber Air adalah tempat atau wadah air alami dan/atau buatan yang terdapat pada, di atas
ataupun di bawah permukaan tanah termasuk dalam pengertian ini akuifer, mata air, sungai,
rawa, danau, situ, waduk, dan muara.
3. Pengendalian Pencemaran Air adalah upaya pencegahan, penanggulangan pencemaran dan
pemulihan kualitas air untuk menjamin kualitas air agar sesuai dengan baku mutu air;
4. Mutu Air adalah kondisi kualitas air yang diukur dan/atau diuji berdasarkan parameter-
parameter tertentu dan metoda tertentu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang
berlaku;
5. Kelas Air adalah peringkat kualitas air yang dinilai masih layak untuk dimanfaatkan bagi
peruntukan tertentu;
6. Baku Mutu Air adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang
ada atau harus ada dan atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya di dalam air;
7. Baku Mutu Air Limbah adalah ukuran batas atau kadar unsur pencemar dan/atau jumlah unsur
pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam air limbah yang akan dibuang atau dilepas ke
dalam media air dan tanah dari suatu usaha dan atau kegiatan;
8. Status Mutu Air adalah tingkat kondisi mutu air yang menunjukkan kondisi cemar atau kondisi
baik pada suatu sumber air dalam waktu tertentu dengan membandingkan dengan baku mutu air
yang ditetapkan;
9. Pencegahan adalah upaya terpadu dan sistematis untuk melindungi dan menjaga kualitas air,
serta mencegah terjadinya pencemaran air melalui penerapan dan pendayagunaan instrumen
teknis dan yuridis yang meliputi baku mutu air limbah, perizinan, pengawasan, penyediaan
sarana dan prasarana dan instrumen ekonomi lingkungan hidup.
10. Penanggulangan adalah upaya terpadu dan sistematis untuk menanggulangi dampak pencemaran
air dari suatu usaha dan/atau kegiatan melalui penetapan prosedur operasional baku
penanggulangan pencemaran air, penyediaan biaya, penyediaan sarana dan prasarana,
melokalisasi dan meminimalisasi dampak dan penyampaian laporan.
11. Pemulihan adalah upaya terpadu dan sistematis melalui kegiatan penghentian sumber
pencemaran dan pembersihan unsur pencemar, remediasi, rehabilitasi, restorasi sehingga
kualitas air memenuhi dan/atau sesuai baku mutu air.
12. Pencemaran Air adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau
komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia yang tidak memenuhi baku mutu air limbah
dan/atau menyebabkan dilampauinya baku mutu air yang telah ditetapkan;
13. Beban Pencemaran Air adalah jumlah suatu unsur pencemar yang terkandung di dalam air atau
air limbah;
14. Daya Tampung Beban Pencemaran Air adalah kemampuan air pada suatu sumber air, untuk
menerima masukan beban pencemaran tanpa mengakibatkan air tersebut menjadi cemar;
15. Alokasi Beban Pencemaran Air adalah penjabaran lebih detail dari daya tampung beban
pencemaran air, yang meliputi besaran beban pencemar yang diperbolehkan dimasukkan dan
besaran beban pencemar yang harus diturunkan ke sumber air, sehingga kualitas air sesuai baku
mutu air.
16. Inventarisasi sumber pencemar air adalah kegiatan penelusuran, pendataan, dan pencacahan
terhadap seluruh aktivitas yang berpotensi menghasilkan air limbah yang masuk ke dalam
sumber air;
17. Identifikasi sumber pencemar air adalah kegiatan penelaahan, penentuan dan/atau penetapan
besaran dan/atau karakteristik dampak dari masing-masing sumber pencemar air yang
dihasilkan dari kegiatan inventarisasi;
18. Air limbah adalah air sisa dari suatu hasil usaha dan/atau kegiatan.
19. Sumber pencemar tertentu (point sources) adalah sumber pencemar yang bersifat lokal dengan
volume yang relatif tetap.
20. Sumber pencemar tidak tertentu/tersebar (non-point sources) adalah sumber pencemar yang
dibawa oleh air larian atau run off pada saat atau setelah terjadinya hujan
21. Laboratorium lingkungan adalah laboratorium yang mempunyai sertifikat akreditasi laboratorium
pengujian parameter kualitas lingkungan dan mempunyai identitas registrasi;
22. Pemerintah Pusat adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan
negara Republik Indonesia yang dibantu oleh Wakil Presiden dan menteri sebagaimana dimaksud
dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
23. Pemerintah Daerah adalah kepala daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah
yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom.
24. Setiap orang adalah orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbadan hukum atau
tidak berbadan hukum;
25. Usaha dan/atau Kegiatan adalah segala bentuk aktivitas yang dapat menimbulkan perubahan
terhadap rona lingkungan hidup serta menyebabkan dampak terhadap lingkungan hidup
26. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup.

Bagian Kedua
Tujuan

Pasal 2
Pengaturan Pengendalian Pencemaran Air bertujuan untuk:
a. melindungi, menjaga, dan memulihkan kualitas air pada sumber air;
b. menjamin kualitas air agar sesuai dengan baku mutu air melalui upaya pencegahan dan
penanggulangan pencemaran air serta pemulihan kualitas air.

Pasal 3
Dalam rangka Pengendalian Pencemaran Air, penyelenggaraannya dilakukan melalui:
a. Perencanaan;
b. Pencegahan;
c. Penanggulangan; dan
d. Pemulihan.

BAB II
PERENCANAAN

Bagian Kesatu
Umum

Pasal 4
Perencanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a meliputi:
a. Inventarisasi dan identifikasi Sumber Air
b. inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar air;
c. pemantauan kualitas air dan status kualitas air;
d. penetapan Kelas Air dan Baku Mutu Air;
(Penjelasan : Termasuk dalam Baku Mutu Air diantaranya adalah sedimen)

e. penetapan Daya Tampung Beban Pencemaran Air; dan


f. penyusunan rencana Pengendalian Pencemaran Air.

Bagian Kedua
Inventarisasi dan Identifikasi Sumber Air

Pasal 5
(1) Menteri melakukan inventarisasi dan identifikasi sumber air secara nasional berkoordinasi dengan
menteri terkait.

Penjelasan:
Koordinasi dilakukan dengan menteri terkait yang mempunyai kewenangan inventarisasi dan
identifikasi sumber air.

Termasuk menteri terkait diantaranya:


a. menteri yang menyelenggarakan urusan bidang sumber daya air;
b. menteri yang menyelenggarakan urusan bidang kehutanan;
menteri yang menyelenggarakan urusan bidang energi dan sumber daya mineral.

(2)Inventarisasi dan identifikasi sumber air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan
pendekatan:
a. Daerah Aliran Sungai untuk air permukaan; dan
Penjelasan:
Yang dimaksud dengan air permukaan adalah air yang berada di sungai, danau, waduk, rawa
dan badan air lain, yang tidak mengalami infiltrasi ke bawah tanah

b. Cekungan Air Tanah untuk air tanah.


Penjelasan:
Yang dimaksud dengan air tanah adalah segala bentuk aliran air hujan yang mengalir di bawah
permukaan tanah sebagai akibat struktur perlapisan geologi, beda potensi kelembaban tanah,
dan gaya gravitasi bumi. Termasuk didalamnya adalah mata air

Pasal 6
Inventarisasi dan identifikasi disusun berdasarkan:
a. Hasil citra landsat
b. Usulan daerah

Pasal 7
(1)Hasil inventarisasi dan identifikasi Sumber Air dapat dimutakhirkan dalam hal terdapat perubahan
Sumber Air.
Penjelasan:
Yang dimaksud dengan perubahan sumber air adalah penambahan, pengurangan, atau perubahan
sumber air, termasuk aliran sumber air.

(2)Hasil inventarisasi dan identifikasi Sumber Air sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) digunakan
sebagai dasar pembagian kewenangan Pengendalian Pencemaran Air.
Penjelasan:
Yang dimaksud dengan hasil inventarisasi dan identifikasi sumber air antara lain peta Cekungan
Air Tanah, peta aliran air tanah, peta rawan air tanah.

Pasal 8
Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota dapat membuat dan menetapkan perincian
hasil inventarisasi dan identifikasi Sumber Air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dalam hal
diperlukan.

Pasal 9
Masyarakat dapat memberikan usulan kepada Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Daerah untuk
melakukan pemutakhiran hasil inventarisasi dan identifikasi sumber air sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 dalam hal terdapat perubahan sumber air.

Pasal 10
(1) Pembagian kewenangan Pengendalian Pencemaran Air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat
(2) dilakukan berdasarkan Sumber Air.
(2)Sumber Air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. Sumber Air lintas provinsi, lintas negara, dan strategis nasional;

Penjelasan:
Termasuk dalam sumber air strategis nasional adalah:
sumber air yang berada pada kawasan strategis nasional yang ditetapkan untuk kepentingan
fungsi dan daya dukung lingkungan hidup sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-
undangan bidang penataan ruang; atau
sumber air strategis nasional oleh kementerian yang berwenang dinilai berdasarkan
parameter/aspek yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan.

b. Sumber Air lintas kabupaten/ kota; dan


c. Sumber Air dalam kabupaten/ kota.

Pasal 11
(1) Menteri bertugas dan berwenang menyelenggarakan Pengendalian Pencemaran Air untuk Sumber
Air lintas provinsi, lintas negara dan strategis nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat
(2) huruf a.
(2) Gubernur bertugas dan berwenang melakukan kegiatan Pengendalian Pencemaran Air untuk
Sumber Air lintas kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) huruf b.
(3) Bupati/Walikota bertugas jawab dan berwenang melakukan kegiatan Pengendalian Pencemaran Air
untuk Sumber Air dalam kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) huruf c.

Pasal 12
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penetapan wilayah kerja pengendalian pencemaran pada
sumber air diatur dalam Peraturan Menteri.

Penjelasan:
Termasuk yang diatur dalam peraturan menteri sebagaimana dimaksud adalah pembagian
kewenangan berdasarkan percabangan sungai (ordo).

Bagian Ketiga
Inventarisasi dan Identifikasi Sumber Pencemar Air

Pasal 13
(1) Bupati/Walikota wajib melakukan inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar air dalam skala
kabupaten/kota sesuai dengan wilayah administratifnya paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (s atu)
tahun.
(2)Inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
terhadap:
a. Sumber Pencemar Tertentu; dan
b. Sumber Pencemar Tidak Tertentu
(3) Inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2)
setidaknya dilakukan melalui:
a. persiapan inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar air;
b. survey dan verifikasi lapangan;
c. perhitungan dan analisis; dan
d. analisis dan penyusunan laporan hasil inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar
Penjelasan:
Laporan hasil inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar yang dimaksud merupakan bagian
dari laporan penyelenggaraan pengendalian pencemaran air.

Pasal 14
(1) Bupati/Walikota harus melaporkan hasil inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar air
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 kepada Gubernur dengan tembusan kepada Menteri.
(2) Gubernur harus melakukan rekapitulasi, analisis dan pemutakhiran terhadap hasil inventarisasi
dan identifikasi sumber pencemar air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit 1 (satu)
kali dalam setahun.
(3) Gubernur melaporkan hasil rekapitulasi dan analisis sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
kepada Menteri paling sedikit 1 (satu) kali dalam setahun.
(4) Menteri melakukan rekapitulasi dan analisis terhadap hasil inventarisasi dan identifikasi sumber
pencemar air sebagaimana dimaksud pada ayat (3) paling sedikit 1 (satu) kali dalam setahun.

Pasal 15
Hasil inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar air mutakhir menjadi dasar dalam menetapkan:
a. Kelas Air dan Baku Mutu Air; dan
b. Daya Tampung Beban Pencemaran Air dan Alokasi Beban Pencemaran Air.

Pasal 16
Ketentuan lebih lanjut mengenai inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar air diatur dalam
Peraturan Menteri.

Bagian Keempat
Pemantauan Kualitas Air dan Status Mutu Air

Paragraf 1
Pemantauan Kualitas Air

Pasal 17
(1)Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah melakukan pemantauan kualitas pada Sumber Air
sesuai dengan kewenangannya.
(2)Pemantauan kualitas air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan cara:
a. Pemantauan manual; dan/atau
b. Pemantauan otomatis
(3)Menteri menetapkan kewajiban pemantauan secara otomatis pada sumber air yang berisiko tinggi.
(4) Pemantauan kualitas air terdiri dari tahapan sebagai berikut:

a. Perencanaan;
b. Pelaksanaan;
c. analisis dan interpretasi data; dan
d. pelaporan.

Pasal 18
(1)Dalam rangka perencanaan pemantauan kualitas air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat
(4) huruf a, Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota menetapkan lokasi pemantauan, waktu dan
frekwensi pemantauan dan parameter kualitas air yang dipantau pada Sumber Air.

(2)Pemantauan kualitas air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan pada musim kemarau dan
musim hujan.

(3)Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota sesuai kewenangannya melakukan pemantauan kualitas air


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (4) huruf b.

(4)Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota sesuai kewenanganya melakukan analisis dan intepretasi data
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (4) huruf c.

(5) Hasil analisis dan intepretasi data sebagaimana dimaksud pada ayat (4) digunakan sebagai:

a. rona lingkungan awal;


b. kecenderungan perubahan kualitas air; dan/atau
c. pengambilan kebijakan

(6)Bupati/Walikota melaporkan hasil pemantauan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (4)
huruf d kepada Gubernur dan tembusan kepada Menteri paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu)
tahun.

(7)Gubernur melaporkan hasil pemantauan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (4) huruf d
kepada Menteri paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun.

Pasal 19
(1) Pemerintah Pusat dapat menugaskan atau mendelegasikan kepada Pemerintah Provinsi untuk
melakukan pemantauan kualitas air pada Sumber Air yang merupakan kewenangan
pemantauannya berada pada Pemerintah Pusat.
(2) Dalam hal Pemerintah Kabupaten/Kota memiliki kebutuhan untuk melakukan pemantauan
terhadap sumber air yang berada dalam wilayah administratifnya namun merupakan kewenangan
Pemerintah Pusat atau Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota dapat melakukan
pemantauan dengan koordinasi kepada Pemerintah Pusat atau Pemerintah Provinsi.

Pasal 20
(1) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib melakukan pemantauan kualitas air pada titik
pemantauan sesuai dengan izin lingkungan.
(2)Dalam rangka pemantauan kualitas air tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), penanggung
jawab usaha dan/atau kegiatan melakukan pemantauan pada:

a. Titik pemantauan yang mewakili kualitas air tanah yang tidak terkena dampak; dan
b. Titik pemantauan yang mewakili kualitas air tanah yang berpotensi terkena dampak

Pasal 21
Pedoman pemantauan kualitas air diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri.

Paragraf 2
Status Mutu Air

Pasal 22
(1) Menteri, Gubernur, dan Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya wajib mengumumkan
Status Mutu Air pada Sumber Air.

Penjelasan:
Yang dimaksud status mutu air pada sumber air mencakup sumber air selain air tanah
sebagaimana tercantum dalam ketentuan umum peraturan ini. Penentuan dan pengumuman status
mutu air tanah mengikuti pengaturan terkait jenis kegunaan air tanah sebagaimana diatur dalam
peraturan perundang-undangan.

(2) Status Mutu Air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperoleh melalui pengkajian Status Mutu
Air.
(3) Pengkajian Status Mutu Air sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan berdasarkan:
a. Data kualitas air; dan
b. Baku Mutu Air.
(4) Khusus danau, situ, dan waduk, dasar pengkajian status mutu air pada ayat (3) ditambahkan
dengan kriteria trofik air.

Pasal 23
Status Mutu Air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 menunjukkan:
a. kondisi cemar; atau
b. kondisi baik.

Pasal 24
(1)Dalam hal Status Mutu Air dinyatakan dalam kondisi cemar sebagaimana dimaksud dalam Pasal
23 huruf a, Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai
dengan kewenangannya membuat strategi, program dan rencana aksi serta pelaksanaan
penanggulangan pencemaran dan/atau pemulihan kualitas air.

Penjelasan:
Yang dimaksud dengan rencana dan program penanggulangan pencemaran dan/atau pemulihan
kualitas air adalah rencana yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari rencana
pengendalian pencemaran air, yang memuat secara detail perencanaan yang mengarah ke strategi
dan program penanggulangan dan pemulihan kualitas air di sumber air tertentu yang berstatus
cemar.

(2)Strategi, program dan rencana aksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bagian dari
rencana Pengendalian Pencemaran Air.

Pasal 25
Dalam hal Status Mutu Air menunjukkan kondisi baik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf
b, Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan
kewenangannya membuat dan mengimplementasikan rencana dan program pencegahan pencemaran
air dan pemeliharaan kualitas air.

Penjelasan:
Yang dimaksud dengan rencana dan program pencegahan pencemaran air dan pemeliharaan kualitas
air adalah rencana yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari rencana pengendalian
pencemaran air, yang memuat secara detail perencanaan yang mengarah ke strategi dan program
pencegahan dan pemeliharaan kualitas air di sumber air tertentu yang berstatus baik.

Pasal 26
Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman penentuan Status Mutu Air ditetapkan dalam Peraturan
Menteri.

Bagian Kelima
Kelas Air dan Baku Mutu Air

Pasal 27
(1)Menteri, Gubernur, dan Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya menetapkan:
a. Kelas Air; dan
b. Baku Mutu Air;
Penjelasan:
Termasuk dalam baku mutu air adalah sedimen yang berada di dasar sumber air. Adapun yang
dimaksud dengan sumber air di sini tidak termasuk air tanah dan mata air.
pada sumber air.
(2)Penetapan Kelas Air dan Baku Mutu Air pada sumber air harus dilakukan melalui kajian.
(3)Gubernur atau Bupati/Walikota dalam menetapkan Kelas Air dan Baku Mutu Air pada sumber air
sesuai kewenangannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mendapatkan persetujuan
Menteri.

Penjelasan:
Yang dimaksud dengan persetujuan Menteri mencakup persetujuan atas Kelas Air dan Baku Mutu Air
yang akan ditetapkan dan kajiannya.

Pasal 28
Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya dalam melakukan
pengkajian Kelas Air dan Baku Mutu Air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (2) harus
mempertimbangkan:
a. data kualitas air pada Sumber Air;
b. kondisi hidromorfologi Sumber Air;
c. kondisi sosial, ekonomi, dan budaya;
d. pemanfaatan air dan neraca air;
e. tata ruang; dan
f. inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar air.

Pasal 29
(1) Menteri melakukan kajian untuk menentukan kriteria mutu bagi setiap Kelas Air.
(2) Kriteria mutu air bagi setiap Kelas Air yang telah dikaji sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
menjadi Lampiran yang tidak terpisahkan dari Peraturan Pemerintah ini.

Pasal 30
(1) Menteri dapat menetapkan kriteria mutu air yang disesuaikan dengan tipologi atau kondisi
ekosistem khusus di luar dari kriteria mutu air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29.
(2) Kriteria mutu air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dalam Peraturan Menteri.
(3)Peraturan Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan bagian tidak terpisahkan dari
Peraturan Pemerintah ini.

Pasal 31
Kelas Air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 terdiri atas:
a. Kelas Air untuk sungai; dan
b. Kelas Air dan status trofik untuk danau dan waduk.

Pasal 32
(1) Kelas Air untuk sungai terdiri atas:
a. Kelas satu;
b. Kelas dua;
c. Kelas tiga; dan
d. Kelas empat.
(2) Sumber air [sungai] yang ditetapkan sebagai Kelas satu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
a ditujukan untuk:
a. air baku air minum dengan disinfeksi;
b. prasarana atau sarana rekreasi air;
c. pembudidayaan ikan air tawar;
d. peternakan;
e. air untuk mengairi pertanaman; dan/atau
f. peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
(3) Sumber air [sungai] yang ditetapkan sebagai Kelas dua sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
b ditujukan untuk:
a. air baku air minum dengan proses konvensional;
b. prasarana atau sarana rekreasi air;
c. pembudidayaan ikan air tawar;
d. peternakan;
e. air untuk mengairi pertanaman; dan/atau
f. peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
(4) Sumber air [sungai] yang ditetapkan sebagai Kelas Tiga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
c ditujukan untuk:
a. air baku air minum dengan proses kompleks atau konvensional plus;
b. pembudidayaan ikan air tawar;
c. peternakan;
d. air untuk mengairi tanaman; dan/atau
e. peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
(5) Sumber air [sungai] yang ditetapkan sebagai Kelas Empat sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf d ditujukan untuk:
a. mengairi pertanaman; dan/atau
b. peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

Pasal 33
Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya melakukan pemeliharaan
kualitas air pada Sumber Air kelas satu, dan memerlukan perlindungan.

Pasal 34
(1)Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya menetapkan Baku Mutu
Air pada Sumber Air sesuai kajian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (2) dalam hal hasil
kajian menunjukkan diperlukannya:
a. Baku Mutu Air khusus berdasarkan tipologi ekosistem khusus;
b. Parameter tambahan dari kriteria mutu air; dan/atau
c. Baku Mutu Air yang lebih ketat dari kriteria mutu air.
Penjelasan:
Yang dimaksud dengan lebih ketat adalah dapat lebih besar atau lebih kecil tergantung
karakteristik parameter. Misalnya, untuk parameter DO, lebih ketat apabila angkanya lebih besar.

(2) Menteri, Gubernur, atau Bupati/ Walikota sesuai dengan kewenangannya dapat menetapkan
kriteria mutu air sebagai baku mutu apabila tidak terdapat tipologi ekosistem khusus, parameter
tambahan dan/atau Baku Mutu Air khusus.

Pasal 35
Kelas Air dan Baku Mutu Air ditetapkan dalam:
a. Peraturan Menteri untuk sumber air lintas provinsi, lintas negara dan strategis nasional;
b. Peraturan Gubernur untuk sumber air lintas kabupaten/kota; atau
c. Peraturan Bupati/Walikota untuk sumber air dalam satu kabupaten/kota.

Pasal 36
Ketentuan lebih lanjut mengenai:
1. penetapan Kelas Air dan Baku Mutu Air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27, Pasal 28, Pasal 29,
Pasal 30, Pasal 31, Pasal 32, Pasal 34, dan Pasal 35
2. pemeliharaan kualitas air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33.
diatur dalam Peraturan Menteri.

Bagian Keenam
Daya Tampung Beban Pencemaran Air dan Alokasi Beban Pencemar Air

Pasal 37
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya dalam mengendalikan zat
pencemar yang masuk ke dalam sumber air wajib mempertimbangkan Daya Tampung Beban
Pencemaran Air dan Alokasi Beban Pencemaran Air pada sumber air.

Penjelasan:
Yang dimaksud dengan sumber air yang perlu ditetapkan daya tampung beban pencemaran air dan
alokasi beban pencemaran air dalam pasal ini tidak termasuk air tanah, mata air, dan rawa dan
danau/waduk yang tertutup (tidak ada inlet dan outlet).

Pasal 38
(1) Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota sesuai kewenangannya menetapkan Daya Tampung
Beban Pencemaran Air dan Alokasi Beban Pencemaran Air pada sumber air.
(2) Penetapan Daya Tampung Beban Pencemaran Air dan Alokasi Beban Pencemaran Air pada sumber
air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam bentuk:
a. Keputusan Menteri;
b. Keputusan Gubernur; atau
c. Keputusan Bupati/Walikota.

Pasal 39
(1)Dalam menetapkan Daya Tampung Beban Pencemaran Air dan Alokasi Beban Pencemaran Air,
Gubernur atau Bupati/Walikota dapat mengajukan permohonan penelaahan teknis kepada
Menteri dengan melampirkan hasil kajian.
(2) Menteri memberikan rekomendasi atas penelaahan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dalam jangka waktu paling lama 90 (sembilan puluh puluh) hari kerja sejak diterimanya
permohonan.

Pasal 40
Dalam menetapkan Daya Tampung Beban Pencemaran Air dan Alokasi Beban Pencemaran Air
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38, Menteri, Gubernur, dan Bupati/Walikota sesuai dengan
kewenangannya wajib melakukan analisis dengan memperhitungkan:
a. inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar;
b. kondisi hidrologi dan morfologi sumber air;
c. data kualitas air;
d. Baku Mutu Air untuk sungai atau Baku Mutu Air dan status trofik air untuk danau dan waduk;
dan
e. beban pencemaran pada setiap sumber pencemar air.

Pasal 41
Penetapan Daya Tampung Beban Pencemaran Air dan Alokasi Beban Pencemaran Air digunakan
sebagai dasar:
a. penetapan Perencanaan Pengendalian Pencemaran Air nasional, provinsi dan kabupaten/kota
dalam Pengendalian Pencemaran Air;

Penjelasan:
Termasuk dalam penetapan rencana pengendalian pencemaran air di tingkat nasional, provinsi, dan
kabupaten/kota adalah perumusan kebijakan, rencana, dan program terkait pengendalian
pencemaran air.
b. penerbitan izin lingkungan bagi usaha dan/atau kegiatan;
c. penerbitan izin terkait lokasi dan/atau kawasan bagi usaha dan/atau kegiatan;
d. penetapan persyaratan dan kewajiban terkait pembuangan Air Limbah ke Sumber Air dalam izin
lingkungan;

Penjelasan:
Hal ini hanya berlaku jika izin lingkungan dan/atau izin terkait lokasi/kawasan disetujui

e. perdagangan alokasi beban pencemaran air dan kompensasi jasa Pengendalian Pencemaran Air;
f. penetapan Baku Mutu Air Limbah dalam penerbitan izin lingkungan;
g. penyusunan rencana tata ruang wilayah; dan
h. penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis.

Pasal 42
Apabila hasil analisis Daya Tampung Beban Pencemaran Air dan Alokasi Beban Pencemaran Air
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 menunjukkan rencana usaha dan/atau kegiatan yang
diajukan pada lokasi tersebut berpotensi menjadi faktor penyebab terlampauinya Daya Tampung
Beban Pencemaran Air dan Alokasi Beban Pencemaran Air, maka:
a. Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota harus menolak permohonan Izin Lingkungan yang
diajukan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan; dan
b. Bupati/Walikota harus menolak permohonan izin lokasi yang diajukan penanggung jawab usaha
dan/atau kegiatan

Pasal 43
(1) Penetapan Daya Tampung Beban Pencemaran Air dan Alokasi Beban Pencemaran Air pada Sumber
Air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 dilakukan secara berkala paling sedikit 1 (satu) kali
dalam 5 (lima) tahun.
(2) Penetapan Daya Tampung Beban Pencemaran Air dan Alokasi Beban Pencemaran Air pada Sumber
Air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disesuaikan terhadap perubahan:
a. kondisi hidrologi dan morfologi sumber air;
b. jumlah beban dan jenis sumber pencemar air;
c. pemanfaatan air;
d. sarana pengairan;dan/atau
e. iklim
Penjelasan:
Iklim yang dimaksud adalah yang dapat menyebabkan berubahnya daya tampung beban
pencemaran air dan alokasi beban pencemaran air, antara lain: curah hujan, suhu, kelembaban

Pasal 44
Ketentuan mengenai Daya Tampung Beban Pencemaran Air dikecualikan dalam pengaturan air tanah,
mata air, rawa dan danau tertutup

Pasal 45
Pedoman penetapan Daya Tampung Beban Pencemaran Air dan Alokasi Beban Pencemaran Air diatur
lebih lanjut dalam Peraturan Menteri.

Bagian Ketujuh
Penyusunan Perencanaan Pengendalian Pencemaran Air

Pasal 46
(1)Menteri, Gubernur, dan Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya menyusun perencanaan
Pengendalian Pencemaran Air dengan melibatkan instansi pemerintah dan/atau pemerintah daerah
yang memiliki tugas pokok dan fungsi terkait bidang Pengendalian Pencemaran Air.
(2)Perencanaan Pengendalian Pencemaran Air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun
berdasarkan:
Penjelasan:
Perencanaan pengendalian pencemaran air meliputi perencanaan pencegahan sumber pencemar
tertentu dan sumber pencemar tidak tertentu.
a. inventarisasi dan identifikasi sumber pencemar;
b. status mutu air;
c. Kelas Air dan Baku Mutu Air; dan
d. Daya Tampung Beban Pencemaran Air
(3) Perencanaan Pengendalian Pencemaran Air sebagaimana dimaksud pada ayat (2) memuat strategi,
program dan rencana aksi tentang pengendalian pencemaran air.

Pasal 47
Perencanaan Pengendalian Pencemaran Air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 menjadi bagian
dari Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Rencana Pembangunan Jangka
Panjang, dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah.

Pasal 48
(1) Perencanaan Pengendalian Pencemaran Air menjadi pertimbangan untuk instrumen perencanaan
lain yang terkait pengelolaan sumber daya air.

Penjelasan:
instrumen perencanaan lain yang terkait pengelolaan sumber air antara lain rencana pengendalian
sumber air, rencana pengelolaan DAS terpadu (RPDAST) dan perencanaan pengelolaan sumber daya
air.

(2) Ketentuan lebih lanjut tentang teknis penyusunan dan pelaksanaan perencanaan Pengendalian
Pencemaran Air diatur dalam Peraturan Menteri

BAB III
PENCEGAHAN

Bagian Kesatu
Umum

Pasal 49
(1) Setiap orang melakukan pengelolaan [air limbah] sesuai peran dan fungsinya masing-masing dalam
rangka mencegah terjadinya pencemaran air.
(2) Dalam rangka pencegahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pengelolaan Air Limbah
dilakukan dengan instrumen:
a. Baku Mutu Air Limbah;
b. perizinan;
c. penyediaan sarana dan prasarana;
d. instrumen ekonomi lingkungan hidup; dan/atau
e. Larangan.
(3) Pengelolaan Air Limbah pada Sumber Pencemar Tertentu dilakukan dengan:
a. Baku Mutu Air Limbah;
Penjelasan:
Yang dimaksud dengan Baku Mutu Air Limbah adalah baku mutu air limbah yang berlaku
spesifik bagi jenis usaha dan/atau kegiatan tertentu. Baku Mutu Air Limbah yang ditetapkan
Menteri berlaku secara nasional, kecuali ditetapkan secara khusus oleh Gubernur.

b. Perizinan; dan/atau
c. Penyediaan sarana dan prasarana Pengendalian Pencemaran Air.
(4) Pengelolaan Air Limbah pada Sumber Pencemar Tidak Tertentu dilakukan dengan:
a. penyediaan sarana prasarana Pengendalian Pencemaran Air setempat maupun terpusat untuk
Sumber Pencemar Tidak Tertentu yang dapat dihubungkan menjadi Sumber Pencemar Tertentu;
dan/atau
b. cara pengelolaan terbaik untuk Sumber Pencemar Tidak Tertentu yang tidak dapat dihubungkan
menjadi Sumber Pencemar Tertentu.

Bagian Kedua
Baku Mutu Air Limbah

Pasal 50
(1) Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota menetapkan Baku Mutu Air Limbah dalam persyaratan
izin sesuai kewenangannya menggunakan pendekatan:
a. kualitas air dengan menggunakan perhitungan Daya Tampung Beban Pencemaran Air;
dan/atau
b. teknologi dengan mempertimbangkan kemampuan ekonomi.
(2) Dalam hal kualitas air telah memenuhi Baku Mutu Air, penetapan Baku Mutu Air Limbah
menggunakan pendekatan teknologi sebagaimana pada ayat (1) huruf b.
(3) Dalam hal kualitas air belum memenuhi Baku Mutu Air, penetapan Baku Mutu Air Limbah
menggunakan pendekatan kualitas air sebagaimana pada ayat (1) huruf a.
(4) Menteri menetapkan Baku Mutu Air Limbah berdasarkan teknologi dengan mempertimbangkan
kemampuan secara ekonomi.

Bagian Ketiga
Perizinan

Pasal 51
(1) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang melakukan:
a. pembuangan air limbah;
b. pemanfaatan air limbah; dan/atau
Penjelasan:
Pemanfaatan air limbah bertujuan untuk:
melindungi sumber air
mencegah pencemaran sumber air
perolehan kembali nutrien untuk pertanian
meningkatkan (augmentasi) debit aliran sungai
penghematan biaya pengolahan air limbah
cadangan air tanah
sumber air untuk industri, dan
manajemen sumber daya air yang berkelanjutan
c. injeksi ke formasi; atau
d. Pengelolaan air limbah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
wajib memiliki izin lingkungan.
(2) Dalam rangka melaksanakan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), setiap penanggung
jawab usaha dan/atau kegiatan wajib membuat kajian yang terintegrasi dalam dokumen
lingkungan.

Pasal 52
Ketentuan lebih lanjut tentang persyaratan kajian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 ayat (2)
diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri.

Pasal 53
(1) Kajian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 ayat (2) wajib memuat informasi yang memadai
untuk digunakan dalam menentukan:
a. volume air limbah;
b. teknologi pengelolaan;
c. karakteristik air limbah;
d. rona lingkungan; dan
e. dampak yang ditimbulkan.
(2) Berdasarkan informasi ayat (1) serta Daya Tampung Beban Pencemaran Air dan Alokasi Beban
Pencemaran Air, Menteri, Gubernur dan/atau Bupati/Walikota sesuai kewenangannya menentukan
Baku Mutu Air Limbah yang diizinkan.
(3) Dalam hal kajian sebagaimana dimaksud pada ayat 51 ayat (2) sudah terintegrasi dalam dokumen
lingkungan hidup yang disahkan, Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota sesuai kewenangannya
wajib memastikan Izin Lingkungan mencantumkan semua persyaratan pembuangan Air Limbah,
pemanfaatan Air Limbah, injeksi ke formasi dan/atau pengelolaan Air Limbah berdasarkan ilmu
pengetahuan dan teknologi sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Pasal 54
(1) Dalam hal informasi dalam kajian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (1) belum atau
hanya sebagian terpenuhi dalam penyusunan dokumen lingkungan hidup, Menteri, Gubernur, atau
Bupati/Walikota sesuai kewenangannya dapat menerbitkan Izin Lingkungan yang mencantumkan
kewajiban bagi pelaku usaha dan/atau kegiatan untuk:
a. memenuhi persyaratan kajian; dan
b. melakukan perubahan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup berdasarkan
kajian.
(2)Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang memperoleh izin lingkungan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) wajib menyampaikan laporan perubahan pengelolaan dan pemantauan
lingkungan hidup kepada Menteri, Gubernur atau Bupati/Walikota sesuai kewenangannya.
(3) Menteri, Gubernur atau Bupati/Walikota sesuai kewenangannya menerbitkan perubahan izin
lingkungan dalam hal:
a. persyaratan kajian; dan
b. perubahan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup;
yang disusun penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan terpenuhi dan dinilai layak.
(4) Izin Lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) mencantumkan semua persyaratan
sebagaimana kegiatan dalam Pasal 53 ayat (1)
(5) Tata cara perubahan izin lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilaksanakan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.

Pasal 55
Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib:
a. mematuhi persyaratan kualitas dan kuantitas air limbah yang diizinkan dalam izin lingkungan;
b. melakukan pemantauan kualitas dan kuantitas air limbah secara berkala;
c. melakukan perbuatan lain yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan yang terkait
dengan Pengendalian Pencemaran Air;
d. melaksanakan ketentuan mengenai penanggulangan pencemaran air sebagaimana dimaksud
dalam ketentuan peraturan perundang-undangan ini.

Pasal 56
Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan harus melakukan upaya:
a. Efisiensi penggunaan air;
b. Mengurangi kuantitas air limbah yang dihasilkan; dan
c. Pemanfaatan air limbah.

Pasal 57
(1) Dalam hal Daya Tampung Beban Pencemaran Air dan Alokasi Beban Pencemaran Air yang
menjadi kewenangan Menteri atau Gubernur atau Bupati/Walikota belum ditetapkan, Pejabat
Pemberi Izin Lingkungan harus menghitung Daya Tampung Beban Pencemaran Air pada sumber air
yang masuk dalam wilayah administratifnya untuk menentukan Baku Mutu Air Limbah yang
diizinkan untuk dibuang pada media air.
(2) Dalam hal Daya Tampung Beban Pencemaran Air dan Alokasi Beban Pencemaran Air yang
menjadi kewenangan Menteri atau Gubernur atau Bupati/Walikota telah ditetapkan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 38 dan Baku Mutu Air Limbah yang diizinkan untuk dibuang pada media air
sebagaimana pada ayat (1) lebih longgar dari Baku Mutu Air Limbah nasional, pejabat pemberi izin
Lingkungan wajib menentukan Baku Mutu Air Limbah yang sama atau lebih ketat dari Baku Mutu
Air Limbah nasional.

Pasal 58
Menteri, Gubernur atau Bupati/Walikota menetapkan persyaratan Pengendalian Pencemaran Air bagi
Air Limbah yang mengandung radioaktif berdasarkan rekomendasi tertulis dari lembaga
pemerintah yang bertanggung jawab di bidang tenaga atom.

Pasal 59
Tata cara dan persyaratan Pengendalian Pencemaran Air sebagaimana dalam Pasal 54 ayat (1) diatur
lebih lanjut dalam Peraturan Menteri.

Pasal 60
Dalam hal Sumber Pencemar Tidak Tertentu dapat dijadikan Sumber Pencemar Tertentu,
penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan wajib memiliki izin lingkungan

Bagian Keempat
Penyediaan Sarana dan Prasarana

Pasal 61
(1) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib menyediakan sarana dan prasarana
Pengendalian Pencemaran Air.
(2) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dapat melakukan kerja sama dengan pihak ketiga
dalam penyediaan sarana dan prasarana Pengendalian Pencemaran Air sebagaimana dimaksud
pada ayat (1).

Pasal 62
(1) Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya menyediakan sarana dan
prasarana pengelolaan Air Limbah.
(2) Menteri, Gubernur, dan/atau Bupati/Walikota dapat melakukan kerja sama dengan pihak ketiga
dalam penyediaan sarana dan prasarana Pengendalian Pencemaran Air sebagaimana dimaksud
pada ayat (1).

Pasal 63
Ketentuan mengenai penyediaan sarana dan prasarana diatur dalam Peraturan Menteri.

Bagian Kelima
Instrumen Ekonomi Pengendalian Pencemaran Air

Pasal 64
Instrumen ekonomi yang diterapkan dalam Pengendalian Pencemaran Air meliputi :
a. Mekanisme kompensasi / imbal jasa;
b. Internalisasi biaya lingkungan;
c. Dana jaminan pemulihan lingkungan hidup;
d. Pengembangan sistem perdagangan [izin pembuangan limbah];
e. Penghargaan kinerja Pengendalian Pencemaran Air; dan/atau
f. Bentuk instrumen ekonomi lain sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Paragraf Pertama
Mekanisme Kompensasi dan/atau Imbal Jasa

Pasal 65
(1)Pihak penyedia sumber air yang melakukan pemeliharaan maupun pelestarian kualitas sumber air
berhak memperoleh kompensasi/imbal jasa.
(2) Kompensasi/Imbal Jasa sebagaimana ayat (1) dapat diberikan oleh Pemerintah, Pemerintah
Daerah, dan/atau pemanfaat sumber air.
(3)Kompensasi/Imbal jasa sebagaimana dimaksud dengan ayat (1), dapat diberikan dalam bentuk :
a. Penyediaan dana kompensasi;
b. Bantuan teknis;
c. Pemberdayaan masyarakat di wilayah penyedia sumber air; dan/atau
d. Kompensasi lain yang disepakati oleh para pihak

Pasal 66
Penyedia sumber air yang menerima dana kompensasi/imbal jasa Pengendalian Pencemaran Air wajib
menggunakan dana kompensasi/imbal jasa sebagaimana dimaksud pada pasal 65 ayat (3) huruf a
untuk meningkatkan kualitas air di wilayah administratifnya sesuai dengan perjanjian kerja sama
serta peraturan perundang-undangan.

Pasal 67
Bentuk atau besaran jumlah kompensasi/jasa ditetapkan dalam perjanjian kerja sama sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.

Paragraf Kedua
Internalisasi Biaya Pengendalian Pencemaran Air

Pasal 68
(1) Penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan wajib mengalokasikan anggaran usaha dan/atau
kegiatannya untuk kepentingan Pengendalian Pencemaran Air.

(2) Alokasi anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipergunakan untuk:
a. Melaksanakan kewajiban dalam Pengendalian Pencemaran Air;
b. Membuat sistem penanggulangan dan pemulihan pencemaran air;
c. Pengembangan teknologi Pengendalian Pencemaran Air yang lebih efisien;
d. Peningkatan kapasitas SDM Pengendalian Pencemaran Air;
e. Imbal jasa Pengendalian Pencemaran Air;
f. Kegiatan lain yang mendukung upaya peningkatan kualitas air.

(3) Alokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dibebankan kepada konsumen
Paragraf Ketiga
Dana Jaminan Pemulihan Pencemaran Air

Pasal 69
Penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan wajib:
a. mengalokasikan dana jaminan pemulihan pencemaran air sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
b. menanggung semua biaya yang timbul dalam melakukan pemulihan termasuk dalam hal biaya
pemulihan lebih dari dana jaminan yang telah dialokasikan.

Pasal 70
Dalam penggunaan dana jaminan pemulihan pencemaran air, Menteri, Gubernur atau
Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya:
a.Mengidentifikasi pencemaran air yang terjadi di sumber air yang berada dalam kewenangannya
dan penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan yang bertanggungjawab;
b.Mengoordinasikan penggunaan dana jaminan pemulihan pencemaran air dalam perencanaan
dan pelaksanaan pemulihan; dan
c. Melakukan evaluasi dan pelaporan penggunaan dana jaminan pemulihan pencemaran air.

Paragraf Keempat
Dana Penanggulangan Pencemaran Air

Pasal 71
(1)Menteri membuat mekanisme penghimpunan, pemupukan dan penyaluran dana penanggulangan
pencemaran air.

Penjelasan:
Yang dimaksud dengan penghimpunan adalah identifikasi dan pengumpulan sumber pendanaan
untuk dana penanggulangan pencemaran air, yang dapat berasal dari APBN, APBD, dan sumber
pendanaan lain sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sumber pendanaan lain dapat
dibebankan kepada pencemar berdasarkan jumlah dan jenis pencemar.

(2) Menteri, Gubernur dan/atau Bupati/Walikota melaksanakan penghimpunan, pemupukan dan


penyaluran dana penanggulangan pencemaran air untuk pelaksanaan penanggulangan
pencemaran air di sumber air sesuai dengan kewenangannya masing-masing.

Pasal 72
Dalam penggunaan dana penanggulangan pencemaran dan/atau kerusakan dan pemulihan
lingkungan hidup, Menteri, Gubernur atau Bupati/Walikota sesuai kewenangannya:

a. membuat mekanisme identifikasi dan otorisasi penanggulangan pencemaran air yang dapat
dibiayai dengan dana penanggulangan pencemaran dan/atau kerusakan dan pemulihan
lingkungan hidup;
b. mengoordinasikan penggunaan dana penanggulangan pencemaran dan/atau kerusakan dan
pemulihan lingkungan hidup dalam penanggulangan pencemaran air; dan
c. membuat mekanisme pengembalian biaya dari pencemar akibat penanggulangan yang dilakukan
melalui mekanisme penggantian kerugian dan/atau mekanisme lainnya yang sah menurut
hukum.

Paragraf Kelima
Perdagangan Alokasi Beban Pencemaran Air

Pasal 73
(1) Menteri dapat menerapkan perdagangan alokasi beban pencemar terhadap penanggungjawab usaha
dan/atau kegiatan yang membuang air limbah ke media air dalam hal Pemerintah telah
menetapkan alokasi beban bagi setiap penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan dalam izin
lingkungan.

(2) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dapat melakukan jual beli kuota beban pencemaran
sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
(3) Mekanisme perdagangan alokasi beban diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri.

Paragraf Keenam
Penghargaan Kinerja Pengendalian Pencemaran Air

Pasal 74
(1) Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota dapat memberikan penghargaan kinerja terhadap
penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan sebagai bentuk insentif.
(2) Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota dapat mengumumkan kinerja penaatan usaha dan/atau
kegiatan dalam Pengendalian Pencemaran Air.
(3) Menteri dapat memberikan penghargaan kinerja terhadap Gubernur dan/atau Bupati/Walikota
yang melakukan Pengendalian Pencemaran Air sesuai dengan peraturan perundangan.
(4) Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota dapat memberikan penghargaan kinerja terhadap masyarakat
yang melakukan Pengendalian Pencemaran Air sesuai dengan peraturan perundangan.

Paragraf Ketujuh
Bentuk instrumen ekonomi lain

Pasal 75
Pemberian insentif dan disinsentif lainnya dapat diberikan sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Pasal 76
Pengaturan lebih lanjut mengenai instrumen ekonomi Pengendalian Pencemaran Air sebagaimana
diatur dalam Pasal 64 sampai dengan Pasal 75 diatur dalam Peraturan Menteri.

Bagian Kelima
Larangan

Pasal 77
Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dilarang:
a. membuang Air Limbah ke sumber air tanpa Izin Lingkungan
b. melakukan pembuangan Air Limbah secara sekaligus dalam satu saat atau pelepasan dadakan;
c. melakukan pengenceran Air Limbah dalam upaya penataan batas kadar yang dipersyaratkan;
Penjelasan:
Ketentuan ini tidak berlaku dalam hal pengenceran air limbah merupakan bagian integral dari
teknologi pengelolaan.

d. membuang Air Limbah di luar titik penaatan; dan


e. melakukan perbuatan yang dilarang oleh izin lingkungan dan peraturan perundang-undangan.

Pasal 78
Setiap orang dilarang membuang limbah ke:
a. Sumber air dalam hutan lindung;
b. Air tanah dan mata air di luar hutan lindung

BAB IV
PENANGGULANGAN DAN PEMULIHAN

Pasal 79
Kegiatan penanggulangan dan pemulihan status kualitas air dibagi menjadi dua bagian, yakni:
a. Penanggulangan dan Pemulihan Status Kualitas Air Dalam Keadaan Darurat
b. Pemulihan Status Kualitas Air Dalam Keadaan Cemar

Bagian Kesatu
Penanggulangan dan Pemulihan Status Kualitas Air Dalam Keadaan Darurat

Paragraf Pertama
Penanggulangan
Pasal 80
Setiap orang yang mengakibatkan terjadinya pencemaran air wajib melakukan penanggulangan
Pencemaran Air dalam keadaan darurat atau tidak terduga lainnya.

Pasal 81
(1) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib:
a. membuat sistem penanggulangan Pencemaran Air pada keadaan darurat dan/atau keadaan
yang tidak terduga lainnya;
Penjelasan
Sistem sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup ketersediaan sumber daya manusia yang
mumpuni, prosedur operasional standar, sarana dan prasarana penanggulangan pencemaran air
pada keadaan darurat dan/atau keadaan yang tidak terduga lainnya.

Pelaksanaan penanggulangan sesuai dengan sistem penanggulangan pencemaran air adalah


persyaratan minimum yang harus dilakukan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan.

Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan tidak lepas dari tanggung jawabnya untuk
melakukan:
penanggulangan atas pencemaran air yang terjadi akibat kontribusi pencemaran yang
dilakukan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan;
tindakan penanggulangan yang dibutuhkan sekalipun tidak diantisipasi dalam sistem
penanggulangan pencemaran air

b. melaksanakan penanggulangan Pencemaran Air pada keadaan darurat dan/atau keadaan yang
tidak terduga lainnya;
c. menyediakan dana yang memadai untuk mengimplementasikan sistem penanggulangan
pencemaran air pada keadaan darurat dan/atau keadaan yang tidak terduga lainnya;
d. menyampaikan laporan implementasi sistem penanggulangan Pencemaran Air pada keadaan
darurat dan/atau keadaan yang tidak terduga lainnya kepada Menteri, Gubernur atau
Bupati/Walikota.
(2) Dalam hal kondisi cemar disebabkan oleh satu atau lebih kegiatan dan/atau usaha, Menteri,
Gubernur dan/atau Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya mewajibkan penanggung
jawab kegiatan dan/atau usaha yang mengakibatkan kondisi cemar untuk melakukan
penanggulangan pencemaran air serta dampaknya.
(3) Dalam hal penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan tidak teridentifikasi, Pemerintah Pusat,
Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota melaksanakan penanggulangan.

Pasal 82
Penanggulangan pencemaran air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80 dan 81 dilakukan dengan:
a. melaporkan kepada pejabat yang berwenang;
b. pemberian informasi peringatan pencemaran air kepada masyarakat;
c. pengisolasian pencemaran air;
d. penghentian sumber pencemaran air; dan/atau
e. cara lain yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pasal 83
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penanggulangan Pencemaran Air diatur dalam Peraturan
Menteri.

Paragraf Kedua
Pemulihan Status Kualitas Air Dalam Keadaan Darurat

Pasal 84
(1)Setiap orang yang mengakibatkan pencemaran air wajib melakukan pemulihan pencemaran air.
(2)Pemulihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara terpadu dengan
mempertimbangkan faktor penyebab terjadinya pencemaran air.

Pasal 85
(1) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib membuat rencana pemulihan kualitas air untuk
keadaan darurat dan/atau keadaan yang tidak terduga.
(2) Dalam hal terjadi keadaan darurat, penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib melakukan
pemulihan sesuai dengan rencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang melakukan pemulihan kualitas air wajib
menyampaikan laporannya kepada Menteri, Gubernur, dan/atau Bupati/Walikota.

Pasal 86
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemulihan pencemaran air diatur dalam Peraturan Menteri.

Bagian Kedua
Pemulihan status kualitas air dalam kondisi cemar

Pasal 87
(1)Dalam hal status kualitas air menunjukkan kondisi cemar sebagaimana dimaksud pada Pasal 23
huruf a, Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai
dengan kewenangannya [membuat dan mengimplementasikan rencana dan program] pemulihan
kualitas air, antara lain:
a. penghentian sumber pencemaran dan pembersihan unsur pencemar;
b. remediasi;
c. rehabilitasi;
d. restorasi; dan/atau
e. cara lain yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
(2)Dalam hal kondisi cemar disebabkan oleh satu atau lebih kegiatan dan/atau usaha, Menteri,
Gubernur dan/atau Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya mewajibkan penanggung
jawab kegiatan dan/atau usaha yang mengakibatkan kondisi cemar untuk melakukan pemulihan
kualitas air.

Penjelasan:
Dalam hal penanggungjawab usaha telah memiliki rencana pemulihan kualitas air, maka perintah
merujuk pada rencana pemulihan kualitas air. Namun, dalam hal penanggungjawab usaha belum
memiliki rencana pemulihan kualitas air, maka perintah merujuk ke tindakan pemulihan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.

(3)Dalam hal kondisi cemar mengakibatkan dampak terhadap ekosistem, perintah pemulihan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diperluas untuk mencakup pemulihan ekosistem.
(4)Dalam hal penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan atau tidak teridentifikasi, Pemerintah
Pusat, Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota melaksanakan pemulihan.

BAB V
INFORMASI

Pasal 88
(1)Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah menyediakan, memberikan, dan/atau menerbitkan
informasi mengenai Pengendalian Pencemaran Air kepada masyarakat.

Penjelasan:
Penyediaan, pemberian dan pemberian informasi mengenai pengendalian pencemaran air dilakukan
berdasarkan perundang-undangan di bidang kearsipan dan keterbukaan informasi publik.

Penyediaan, pemberian dan pemberian informasi mengenai pengendalian pencemaran air dilakukan
berdasarkan perundang-undangan di bidang kearsipan dan keterbukaan informasi publik.

(2)Penyediaan, pemberian, dan/atau penerbitan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan secara proaktif dan/atau berdasarkan mekanisme permohonan informasi publik.

Pasal 89

(1) Menteri, Gubernur, dan/atau Bupati/Walikota setidaknya menyediakan, memberikan, dan/atau


menerbitkan informasi secara proaktif atas:
a. informasi sumber air yang memuat:
1. debit maksimum dan minimum sumber air;
2. kelas air, baku mutu air, status kualitas air, daya tampung beban pencemaran air dan alokasi
beban pencemaran air pada sumber air;
3. mutu air sasaran; dan
4. kontribusi beban pencemaran air yang diperoleh dari hasil inventarisasi dan identifikasi
sumber pencemar;
b. informasi terkait dampak yang ditimbulkan oleh sumber pencemar terhadap kualitas air:
1. potensi dan indikasi dampak pencemaran;
2. cara menghindari, menanggulangi dan mengurangi dampak dari pencemaran;
3. peringatan mutu air tidak memenuhi peruntukan sumber air;
c. informasi terkait dengan perizinan:
1. permohonan dan pemberian izin lingkungan dan perubahannya;
2. persyaratan dan tata cara izin lingkungan yang berkaitan dengan kegiatan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 53 ayat (1);
3. status permohonan izin lingkungan;
d. kebijakan, rencana, dan program pencegahan, penanggulangan, dan/atau pemulihan dalam
rangka Pengendalian Pencemaran Air yang dilakukan pemerintah;
e. peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pengelolaan kualitas air dan Pengendalian
Pencemaran Air.
(2)Gubernur dapat menyediakan informasi status mutu air yang berada dalam wilayah
administratifnya dan merupakan kewenangan Pemerintah Pusat
(3)Bupati/Walikota dapat menyediakan informasi status mutu air yang berada dalam wilayah
administratifnya dan merupakan kewenangan Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Provinsi.

Pasal 90
(1) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib mengumumkan:
a. peta potensi dampak pencemaran;
b. informasi cara menghindari, menanggulangi dan mengurangi dampak dari pencemaran;
c. laporan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang diumumkan secara berkala; dan
d. rencana pengendalian dan pemulihan lingkungan akibat pencemaran air.
(2) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib menyediakan sistem peringatan dini
pencemaran dan kerusakan air dan sistem informasi tanggap darurat pencemaran air.

Pasal 91
(1) Penerbitan atau pengumuman informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 88, Pasal 89, dan
Pasal 90 dilakukan dengan:
a. metode dan bahasa yang mudah dipahami masyarakat; dan
b. penyebarluasan melalui media yang mudah diakses oleh masyarakat berpotensi terdampak.
(2) Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota harus melakukan
pemutakhiran informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 secara berkala sedikitnya 1 (satu)
tahun 1 (satu) kali.

Pasal 92
(1) Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan
kewenangannya mengembangkan sistem informasi Pengendalian Pencemaran Air.
(2) Sistem informasi Pengendalian Pencemaran Air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diintegrasikan
dengan sistem informasi lain yang terkait lingkungan hidup dan sumber daya alam.

Pasal 93

(1) Dalam mengembangkan sistem informasi Pengendalian Pencemaran Air sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 92, Menteri melakukan:
c. koordinasi dengan kementerian dan lembaga non kementerian yang memiliki tugas dan
wewenang terkait Pengendalian Pencemaran Air; dan
d. koordinasi dengan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota.
(2) Dalam mengembangkan sistem informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 92 Gubernur dan
Bupati/Walikota sesuai kewenangannya memfasilitasi [mengkoordinasikan] pertukaran data antar
instansi yang memiliki tugas dan tanggung jawab terkait Pengendalian Pencemaran Air.

BAB VI
KETERLIBATAN MASYARAKAT

Pasal 94
Masyarakat memiliki hak dan kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan aktif dalam
Pengendalian Pencemaran Air.

Pasal 95
Menteri, Gubernur, dan Bupati/Walikota harus melakukan pembinaan kepada masyarakat dalam
rangka meningkatkan peran aktif masyarakat dalam Pengendalian Pencemaran Air.

Pasal 96
Peran aktif masyarakat dalam Pengendalian Pencemaran Air dapat berupa:
a. melakukan Pengendalian Pencemaran Air sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan
tanggung jawab;
b. menyampaikan pendapat, saran, dan tanggapan dalam setiap proses perencanaan dan
Pengendalian Pencemaran Air;
Penjelasan:
Yang dimaksud dengan setiap proses perencanaan dan pengendalian pencemaran air antara
lain meliputi penetapan kelas air, daya tampung beban pencemaran air, alokasi beban
pencemaran air, dan sebagainya.

c. melakukan pemantauan mandiri dan/atau menjadi pengamat dalam proses:


Penjelasan:
Pemantauan mandiri dapat dilakukan dalam bentuk pola kemitraan dengan pemerintah dan
pemangku kepentingan lain dan/atau inisiatif swadaya masyarakat.

Pemantauan mandiri misalnya dapat dilakukan dengan memantau kepatuhan kegiatan usaha
melalui indikator sederhana
1. pemantauan kualitas air; dan
2. pengawasan kepatuhan kegiatan dan/atau usaha

d. ikut serta dalam proses evaluasi laporan ;


e. menyampaikan pengaduan; dan/atau
Penjelasan:
Yang dimaksud dengan pengaduan adalah pengaduan sebagaimana diatur dalam peraturan
perundang-undangan dalam bidang lingkungan hidup. Tata cara dan tindak lanjut pengaduan
dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

f. mengajukan keberatan.

Pasal 97
(1) Masyarakat berhak mengajukan keberatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 96 huruf f dalam
hal:
a. tidak diberikannya kesempatan dan/atau penolakan untuk berperan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal;
b. ketertutupan proses dan isi dari strategi, program dan kegiatan Pengendalian Pencemaran Air;
dan/atau
c. terdapat tindakan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan/atau penanggung jawab usaha
dan/atau kegiatan yang diduga berpotensi menimbulkan pencemaran air.
(2) Keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib ditanggapi, direspon, dijelaskan, dan
ditindaklanjuti oleh instansi dan pejabat yang berwenang sesuai dengan keberatan yang diajukan
oleh masyarakat dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja.
(3)Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib disampaikan kepada masyarakat yang
mengajukan keberatan secara tertulis, jelas, dan patut.

Pasal 98
Bentuk dan mekanisme keterlibatan masyarakat dalam Pengendalian Pencemaran Air diatur lebih
lanjut dalam Peraturan Menteri

BAB VII
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

Bagian Kesatu
Pembinaan dan Pengawasan terhadap Kinerja Pemerintah Daerah dalam Penyelenggaraan
Pengendalian Pencemaran Air

Pasal 99
(1) Menteri melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap kinerja pemerintah provinsi dalam
penyelenggaraan Pengendalian Pencemaran Air.
(2) Gubernur melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap kinerja pemerintah kabupaten/kota
dalam penyelenggaraan Pengendalian Pencemaran Air.
(3) Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) meliputi:
a. penyelenggaraan perizinan pembuangan air limbah ke sumber air, ke air tanah, dan/atau
pemanfaatan air limbah ke tanah untuk aplikasi tanah;
b. pelaksanaan pengawasan penaatan persyaratan perizinan;
c. kebijakan terkait Pengendalian Pencemaran Air yang ditetapkan oleh Gubernur dan/atau
Bupati/Walikota; dan/atau
d. kesesuaian prosedur penyusunan kebijakan dan penetapan keputusan dengan peraturan
perundang-undangan.

Pasal 100
(1) Dalam hal Gubernur belum mampu melakukan pembinaan Pengendalian Pencemaran Air
sebagaimana dimaksud Pasal 99, Menteri melaksanakan pembinaan kepada Daerah
Kabupaten/Kota dengan berkoordinasi dengan Gubernur
(2) Dalam hal Gubernur belum mampu melakukan pengawasan Pengendalian Pencemaran Air,
Gubernur meminta bantuan untuk melaksanakan pengawasan kepada Pemerintah Pusat
(3) Dalam hal Gubernur tidak melaksanakan pembinaan dan pengawasan Pengendalian Pencemaran
Air sebagaimana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 99, Menteri mendorong atau memfasilitasi
Gubernur untuk melakukan pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan Pengendalian
Pencemaran Air terhadap kabupaten/kota.

Pasal 101
(1) Gubernur melaporkan pelaksanaan kewenangan bidang Pengendalian Pencemaran Air kepada
Menteri.
(2) Menteri melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan Pengendalian Pencemaran Air oleh
pemerintah provinsi melalui laporan bidang Pengendalian Pencemaran Air sebagaimana dimaksud
pada ayat (1).
(3) Selain melakukan evaluasi melalui laporan mengenai Pengendalian Pencemaran Air sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), Menteri dapat melakukan evaluasi berdasarkan pengaduan yang diterima
oleh kementerian di bidang lingkungan hidup.
(4) Berdasarkan hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3), Menteri dapat :
a. memberikan insentif/disinsentif terhadap Pemerintah Provinsi; atau
b. memberikan rekomendasi insentif atau disinsentif terhadap Pemerintah Provinsi kepada
kementerian yang menyelenggarakan urusan di bidang pemerintahan dalam negeri dan/atau
kementerian lainnya.

Pasal 102
(1) Bupati/Walikota melaporkan pelaksanaan kewenangan bidang Pengendalian Pencemaran Air
kepada Gubernur;
(2) Gubernur melakukan evaluasi terhadap Pengendalian Pencemaran Air oleh Pemerintah
Kabupaten/Kota melalui laporan bidang Pengendalian Pencemaran Air sebagaimana dimaksud
pada ayat (1)
(3) Gubernur melaporkan hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) serta memberikan
rekomendasi hasil evaluasi kepada Menteri.

Pasal 103
(1) Laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 dan Pasal 102 menjadi bagian dari laporan
penyelenggaraan Pemerintahan Daerah sesuai peraturan perundang-undangan yang mengatur
pemerintahan daerah.
(2)Tata cara pelaporan kepada Menteri diatur lebih lanjut dalam peraturan menteri.

Pasal 104
(1) Menteri menetapkan norma, standar, prosedur dan kriteria pelaporan urusan umum pemerintahan
di bidang Pengendalian Pencemaran Air.
(2)Penetapan norma, standar, prosedur, dan kriteria sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
paling lama 2 (dua) tahun terhitung sejak peraturan ini diundangkan.
(3) Menteri memberikan rekomendasi kepada menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan
dalam negeri untuk membatalkan kebijakan pemerintah daerah terkait penyelenggaraan
pencemaran air yang tidak mempedomani norma, standar, prosedur, dan kriteria sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).
Pasal 105
(1) Evaluasi terhadap laporan sebagaimana dimaksud pada 101 dan 102 dilakukan terhadap
sekurang-kurangnya:
a. kebijakan terkait Pengendalian Pencemaran Air yang ditetapkan oleh Gubernur dan/atau
Bupati/Walikota;
b. keputusan tentang perizinan bidang lingkungan hidup dan pelaksanaan pengawasan
penaatannya;
c. keputusan lain yang terkait dengan Pengendalian Pencemaran Air yang ditetapkan oleh
Gubernur dan/atau Bupati/Walikota; dan
d. kesesuaian prosedur penyusunan kebijakan dan penetapan keputusan dengan peraturan
perundang-undangan.
(2) Dalam hal kebijakan atau keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, b dan c
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dan/atau dibuat tidak sesuai dengan norma,
standar, prosedur dan kriteria sebagaimana dimaksud dalam Pasal 105, Menteri memberikan
rekomendasi:
a. pembatalan kebijakan atau keputusan;
b. penghentian proses penyusunan kebijakan atau keputusan;
c. penundaan proses penyusunan kebijakan atau keputusan;
d. perbaikan kebijakan, peraturan atau keputusan;
e. telaah dan evaluasi kebijakan, peraturan atau keputusan;
kepada menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan dalam negeri.
(3)Hasil evaluasi oleh Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada menteri yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan dalam negeri.

Pasal 106
Dalam melakukan evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 105, Menteri atau gubernur secara
aktif:
a. memberikan rekomendasi harmonisasi penyelenggaraan pencemaran air dari materi muatan
laporan penyelenggaraan Pengendalian Pencemaran Air yang saling bertentangan atau potensi
bertentangan;
b. mengoordinasikan penyelesaian perselisihan terkait penyelenggaraan Pengendalian Pencemaran
Air antar pemerintah daerah.

Pasal 107
(1) Dalam hal Gubernur tidak menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 ayat
(1), Menteri merekomendasikan kepada menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan
dalam negeri untuk memberikan sanksi kepada gubernur sesuai peraturan perundang-undangan.
(2) Dalam hal Bupati/Walikota tidak menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Gubernur memberikan pembinaan dan/atau sanksi untuk Bupati/Walikota sesuai peraturan
perundang-undangan.

Pasal 108
(1) Dalam penyelenggaraan Pengendalian Pencemaran Air, Menteri menetapkan standar pelayanan
minimum.
(2) Menteri memberikan [insentif dan disinsentif] kepada pemerintah daerah berdasarkan evaluasi
terhadap pemenuhan standar pelayanan minimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3)Evaluasi terhadap pemenuhan standar pelayanan minimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan berdasarkan:
a. evaluasi laporan penyelenggaraan Pengendalian Pencemaran Air sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 106;
b. laporan dan/atau informasi lain sesuai peraturan perundang-undangan.

Pasal 109
Ketentuan lebih lanjut mengenai mekanisme pembinaan dan pengawasan terhadap kinerja
Pemerintah Daerah diatur dalam peraturan perundang-undangan.

Bagian Kedua
Pembinaan dan Pengawasan terhadap Pelaku Usaha dan/atau Kegiatan

Pasal 110
(1) Menteri, Gubernur, dan Bupati/Walikota sesuai kewenangannya melakukan pembinaan ketaatan
penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan terhadap pelaksanaan Pengendalian Pencemaran Air
Penjelasan:
Pembinaan yang dimaksud antara lain:
1.memberikan sosialisasi [cara] penerapan peraturan perundang-undangan terkait pengendalian
pencemaran air;
2.memberikan informasi mengenai panduan teknis dan tata cara perizinan terkait pengendalian
pencemaran air; dan
3.memberikan informasi mengenai penerapan teknologi bersih untuk mencegah terjadinya
pencemaran air.

(2) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan terhadap:
a. Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang memiliki Izin Lingkungan; dan
b. Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang memiliki Surat Pernyataan Pengelolaan
Lingkungan Hidup (SPPL)
Penjelasan:
Yang dimaksud dengan pembinaan dan pengawasan terhadap usaha dan/atau kegiatan yang
memiliki SPPL antara lain :
a. membangun sarana dan prasarana pengelolaan air limbah;
b. memberikan bantuan sarana dan prasarana dalam rangka penerapan minimisasi air limbah,
pemanfaatan limbah, dan efesiensi sumber daya;
c. mengembangkan mekanisme percontohan; dan/atau menyelenggarakan pelatihan,
mengembangkan forum-forum bimbingan, dan/atau konsultasi teknis di bidang pengendalian
pencemaran air.
d. membangun sarana dan prasarana pengelolaan air limbah;
e. mendorong swadaya masyarakat dalam pengelolaan air limbah rumah tangga;
f. membentuk kelompok swadaya masyarakat (KSM) dan/atau kader-kader masyarakat dalam
pengelolaan air limbah rumah tangga;
g. mengembangkan mekanisme percontohan;
h. melakukan penyebaran informasi dan/atau kampanye pengelolaan air limbah rumah tangga;
dan/atau
i. menyelenggarakan pelatihan, mengembangkan forum-forum bimbingan dan/atau konsultasi
teknis dalam bidang pengendalian pencemaran air pada sumber air dari limbah rumah tangga.

(3) Pembinaan Pengendalian Pencemaran Air dilakukan dalam rangka:


a. Meningkatkan ketaatan terhadap kewajiban Pengendalian Pencemaran Air yang diatur dalam
peraturan perundang-undangan; dan
b. Mendorong ketaatan yang lebih dari kewajiban hukum usaha dan/atau kegiatan yang telah
ditetapkan dalam izin dan/atau peraturan perundang-undangan.
(4) Pembinaan terhadap usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak
menghilangkan proses penegakan hukum atas pelanggaran.

Pasal 111
(1) Dalam hal bupati/walikota tidak melaksanakan kewenangannya sebagaimana dimaksud pada Pasal
109, Gubernur dapat melaksanakan pembinaan dan/atau memfasilitasi bupati/walikota untuk
melaksanakan pembinaan.
(2) Dalam hal Gubernur tidak melaksanakan kewenangannya sebagaimana dimaksud pada Pasal 109,
Menteri dapat melaksanakan pembinaan dan/atau memfasilitasi Gubernur untuk melaksanakan
pembinaan.

Pasal 112
(1) Menteri, Gubernur atau Bupati/Walikota sesuai kewenangannya wajib melakukan pengawasan
Pengendalian Pencemaran Air terhadap ketaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan atas
persyaratan dan kewajiban dalam izin serta peraturan perundangan di bidang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan.

(2) Menteri dapat melakukan pengawasan terhadap ketaatan penanggung jawab usaha dan/atau
kegiatan yang izin lingkungannya diterbitkan oleh Gubernur atau Bupati/Walikota jika Menteri
menganggap terjadi pelanggaran yang serius di bidang Pengendalian Pencemaran Air.

Pasal 113
Ketentuan lebih lanjut tentang tata cara pembinaan dan pengawasan terhadap ketaatan penanggung
jawab usaha dan/atau kegiatan dalam Pengendalian Pencemaran Air diatur dalam Peraturan Menteri.
BAB VIII
KOORDINASI, KERJASAMA DAN KEMITRAAN

Pasal 114
Menteri, Gubernur, dan Bupati/Walikota bertanggung jawab untuk menjamin:
a. penyusunan rencana, program, dan kegiatan serta kebijakan dan peraturan; dan
b. pelaksanaan rencana, program, dan kegiatan serta kebijakan dan peraturan
yang disusun oleh Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota pada sumber air yang menjadi
kewenangannya tidak menimbulkan penurunan kualitas air atau pencemaran pada sumber air di luar
kewenangannya.

Bagian Kesatu
Koordinasi

Pasal 115
(1) Dalam Pengendalian Pencemaran Air, Pemerintah melakukan koordinasi
(2)Koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan antara :
a. Menteri dengan menteri lainnya;
b. Menteri dengan kepala lembaga lainnya; atau
c. Menteri dengan Gubernur dan Bupati/Walikota.
(3) Koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat berupa:
a. Inventarisasi dan identifikasi sumber air;
b. Pengembangan sistem informasi dalam Pengendalian Pencemaran Air
c. Pelaksanaan pembinaan lapis kedua dalam Pengendalian Pencemaran Air terhadap daerah
Kabupaten/Kota ; atau
d. Pelaksanaan pengawasan lapis kedua dalam Pengendalian Pencemaran Air terhadap daerah
Kabupaten/Kota

Bagian Kedua
Kerjasama

Pasal 116
(1) Kerjasama dalam Pengendalian Pencemaran Air mencakup:
a. Kerjasama antar-daerah Provinsi;
b. Kerjasama antar daerah provinsi dan daerah kabupten/kota dalam wilayahnya;
c. Kerjasama antara daerah provinsi dan daerah kabupaten/kota dalam wilayahnya;
d. Kerjasama antar-daerah kabupaten/kota daeri daerah provinsi yang berbeda;
e. Kerjasama antar-daerah kabupaten/kota dalam satu daerah provinsi

(2) Kerjasama dalam Pengendalian Pencemaran Air sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat
berupa:
a. Pemantauan Pengendalian Pencemaran Air dalam al sumber air yang lintas wilayah administrasi;
b. Pendanaan dalam melakukan penanggulan dan pemulihan pencemaran air yang bersifat lintas
kewenangan;
c. Penanggulangan terhadap pencemaran air dalam hal pencemaran air terjadi di sumber air yang
lintas wilayah administrasi; atau
d. Pemulihan terhadap pencemaran air dalam hal pencemaran air terjadi di sumber air yang lintas
wilayah administrasi.

Bagian Ketiga
Kemitraan

Pasal 117
(1) Dalam Pengendalian Pencemaran Air, Pemerintah dan Pemerintah Daerah melakukan kemitraan
dengan masyarakat maupun [pihak swasta]
(2) Kemitraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan secara :
a. Sukarela
b. Saling menguntungkan secara komersial; dan/atau
c. Partisipatif
(3) Kemitraan dapat dilakukan dalam hal:
a. Pengembangan praktik manajemen terbaik antara pemegang izin dengan contributor lainnya
dalam hal Pengendalian Pencemaran Air dari sumber tidak tertentu;
b. Pengembangan kerjasama pengelolaan kualitas air antara hulu dengan hilir ; atau
c. Pengembangan teknologi dalam rangka Pengendalian Pencemaran Air.

BAB IX
SANKSI ADMINISTRATIF

Pasal 118
Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang melakukan pelanggaran terhadap izin
maupun ketentuan peraturan perundang-undangan dalam peraturan ini dikenakan sanksi
administratif meliputi:
a. Teguran tertulis;
b. Paksaan Pemerintah;
c. Pembekuan izin lingkungan; dan/atau
d. Pencabutan izin lingkungan

Pasal 119
Tata cara pengenaan sanksi administratif dapat dikenakan terhadap penanggung jawab usaha
dan/atau kegiatan secara

a. Bertahap;
b. Bebas; dan
c. Kumulatif
Penjelasan:
Untuk menentukan pengenaan sanksi administratif secara bertahap, bebas atau kumulatif , pejabat
yang berwenang mengenakan sanksi mendasarkan pada pertimbangan:
1. tingkat atau berat-ringannya jenis pelanggaran yang dilakukan oleh penanggung jawab usaha
dan/atau kegiatan;
2. tingkat penaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan terhadap pemenuhan pemerintah
atau kewajiban yang ditentukan dalam sanksi administratif;
3. rekam jejak ketaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan;
4. tingkat pengaruh atau implikasi pelanggaran yang dilakukan oleh penanggung jawab usaha
dan/atau kegiatan pada lingkungan hidup.

Pasal 120
Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang melanggar Pasal 20 ayat (1), Pasal 57 ayat
(3), Pasal 81 ayat (1) huruf c, Pasal 81 ayat (1) huruf d, Pasal 85 ayat (1), dan Pasal 85 ayat (3)
dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis

Pasal 121
Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang melanggar Pasal 81 ayat (1) huruf a, Pasal
81 ayat (1) huruf b, dan Pasal 85 ayat (2) dikenakan sanksi administratif berupa paksaan pemerintah

Pasal 122
Dalam hal penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan tidak memenuhi kewajiban dalam teguran
tertulis sebagaimana dimaksud pasal 120, dikenakan sanksi administratif berupa paksaan
pemerintah, pembekuan izin dan/atau pencabutan izin.

Pasal 123
Dalam hal pelanggaran Pasal 81 ayat (1) huruf a, paksaan pemerintahnya berupa :
a. penghentian sementara kegiatan produksi ;
b. Penutupan saluran pembuangan air limbah atau emisi ; dan/atau
c. Tindakan lain yang bertujuan untuk menghentikan pelanggaran dan tindakan memulihkan
fungsi lingkungan hidup

Pasal 124
Dalam hal pelanggaran Pasal 81 ayat (1) huruf b dan Pasal 85 ayat (2) paksaan pemerintahnya berupa
:
a. Penghentian sementara kegiatan produksi;
b. Penyitaan terhadap barang atau alat yang berpotensi menimbulkan pencemaran air;
c. Pembongkaran;
d. Penghentian sementara seluruh kegiatan; dan/atau
e. Tindakan lain yang bertujuan untuk menghentikan pelanggaran dan tindakan memulihkan
fungsi lingkungan hidup

Pasal 125
(1) Dalam hal penangggung jawab usaha dan/atau kegiatan tidak menaati Paksaan Pemerintah dalam
jangka waktu tertentu karena keadaan memaksa, Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan
dapat diberikan perpanjangan waktu untuk memenuhi kewajibannya dengan membuat pernyataan
tertulis atas keterlambatan memenuhi kewajiban tersebut.
(2) Dalam hal penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan terlambat memenuhi kewajiban yang
harus dilakukan dalam sanksi paksaan pemerintah, penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan
dikenai denda atas keterlambatan pelaksanaan sanksi paksaan pemerintah dalam jangka waktu
tertentu.
(3) Dalam hal jangka waktu tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paksaan pemerintah tidak
dilaksanakan, penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dikenakan sanksi administrasi berupa
pembekuan izin lingkungan dalam jangka waktu tertentu.
(4) Dalam hal jangka waktu tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) paksaan pemerintah tidak
dilaksanakan, penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dikenakan sanksi administrasi berupa
pencabutan izin lingkungan dalam jangka waktu tertentu.

Pasal 126
Dalam hal penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan:
a. Tidak segera melakukan penanggulangan pencemaran air, baik dalam keadaan cemar maupun
dalam keadaan darurat
b. Tidak segera melakukan pemulihan pencemaran air, baik dalam keadaan cemar maupun dalam
keadaan darurat
Dapat dikenakan sanksi secara kumulatif

Pasal 127
Dalam hal penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan :
a. Terbukti tidak memiliki sarana dan/atau prasarana yang memadai untuk Pengendalian
Pencemaran Air pada saat terjadinya pencemaran air, termasuk dalam keadaan cemar maupun
dalam keadaan darurat;
b. Terbukti tidak menyediakan dana yang memadai untuk mengimplementasikan sistem
penanggulan pencemaran air

Dapat dikenakan sanksi administratif secara bebas

Pasal 128
Ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria, jangka waktu dan pemenuhan teguran tertulis, paksaan
pemerintah, pembekuan izin, pencabutan izin, dan denda atas keterlambatan dilaksanakan
berdasarkan peraturan perundang-undangan.

BAB X
PEMBIAYAAN

Pasal 129
(1) Biaya pelaksanaan Pengendalian Pencemaran Air pada Sumber Air yang lintas provinsi, lintas batas
negara dan/atau strategis nasional dibebankan pada anggaran pendapatan dan belanja negara
(APBN).
(2) Biaya pelaksanaan Pengendalian Pencemaran Air pada Sumber Air yang lintas kabupaten/kota
dibebankan pada anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) provinsi.
(3) Biaya pelaksanaan Pengendalian Pencemaran Air pada Sumber Air yang berada pada wilayah
kabupaten/kota dibebankan pada anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD)
kabupaten/kota.
(4) Dalam hal daerah provinsi dan daerah kabupaten/kota yang sudah dibina tidak menunjukkan
perbaikan kinerja dan berpotensi merugikan kepentingan umum secara meluas, Pemerintah Pusat
melakukan pengambilalihan pelaksanaan Pengendalian Pencemaran Air tertentu atas biaya yang
diperhitungkan dari APBD yang bersangkutan.

Pasal 130
(1) Dalam hal penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan tidak melakukan tindakan penanggulangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 81, Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan/atau
Pemerintah Kabupaten/Kota dapat melaksanakan penanggulangan atau menugaskan pihak ketiga
untuk melaksanakan penanggulangan:
a. atas beban biaya penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan; dan/atau
b. dengan menggunakan dana penjaminan.
(2) Dalam hal penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan tidak melakukan tindakan pemulihan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85, Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan/atau
Pemerintah Kabupaten/Kota melaksanakan pemulihan kualitas air atau menugaskan pihak ketiga
untuk melaksanakan pemulihan kualitas air:
a. atas beban biaya penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan; dan/atau
b. dengan menggunakan dana penjaminan.
(3) Pihak ketiga yang ditunjuk untuk melakukan penanggulangan dan/atau pemulihan pencemaran
air wajib menyampaikan laporannya kepada Menteri, Gubernur atau Bupati/Walikota.
(4) Pelaksanaan penanggulangan yang tidak diketahui penanggung jawabnya sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 81 ayat (3) dan/atau pemulihan yang tidak diketahui penanggung jawabnya
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 ayat (4) dilaksanakan atas beban biaya APBN/APBD.

BAB XI
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 131
(1)Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, seluruh izin pembuangan air limbah yang telah
diterbitkan tanpa memperhitungkan alokasi beban pencemaran air dinyatakan tetap berlaku
sampai dengan masa berlakunya berakhir dan tidak dapat diperpanjang.
(2) Penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan yang Izin Lingkungan atau izin pembuangan air
limbahnya terbit sebelum penetapan Daya Tampung Beban Pencemaran Air dan Alokasi Beban
Pencemaran Air wajib menyesuaikan Izin Lingkungannya berdasarkan alokasi beban pencemaran
air selambat-lambatnya dalam waktu 3 (tiga) tahun setelah penetapan Daya Tampung Beban
Pencemaran Air dan Alokasi Beban Pencemaran Air.

Pasal 132
(1)Izin pembuangan air limbah, izin pemanfaatan air limbah, dan izin pembuangan air limbah dengan
cara injeksi yang telah mendapat persetujuan sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini
dinyatakan tetap berlaku dan dipersamakan dengan Izin Lingkungan sampai dengan
diintegrasikan.

(2) Selambat-lambatnya 5 (lima) tahun sejak berlakunya Peraturan Pemerintah ini, semua izin
pembuangan air limbah, izin pemanfaatan air limbah, dan izin pembuangan air limbah dengan cara
injeksi wajib diintegrasikan dengan Izin Lingkungan.

Pasal 133
(1)Dalam hal Izin Lingkungan berubah sebelum berakhirnya izin pembuangan air limbah, izin
pemanfaatan air limbah, dan izin pembuangan air limbah dengan cara injeksi, maka:

a. Dalam hal pejabat penerbit Izin Lingkungan dengan pejabat penerbit izin pembuangan air
limbah, izin pemanfaatan air limbah, dan izin pembuangan air limbah dengan cara injeksi adalah
pejabat yang sama, maka pada saat penerbitan perubahan Izin Lingkungan, pejabat pemberi izin
harus mengintegrasikan Izin pembuangan air limbah, izin pemanfaatan air limbah, dan izin
pembuangan air limbah dengan cara injeksi menjadi bagian dari Izin Lingkungan; atau

b. Dalam hal pejabat penerbit Izin Lingkungan dengan pejabat penerbit izin pembuangan air
limbah, izin pemanfaatan air limbah, dan izin pembuangan air limbah dengan cara injeksi adalah
pejabat yang berbeda, maka izin pembuangan air limbah, izin pemanfaatan air limbah, dan izin
pembuangan air limbah dengan cara injeksi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Izin
Lingkungan dan dinyatakan berlaku sampai dengan masa berlakunya berakhir.

c. Dalam hal izin pembuangan air limbah, izin pemanfaatan air limbah, dan izin pembuangan air
limbah dengan cara injeksi telah habis masa berlakunya dan/atau berubah, penanggungjawab
usaha dan/atau kegiatan mengajukan perubahan Izin Lingkungan sesuai dengan ketentuan
dalam peraturan ini.

(3) Mekanisme perubahan Izin Lingkungan dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Pasal 134
Pada saat Daya Tampung Beban Pencemaran Air dan Alokasi Beban Pencemaran Air ditetapkan pada
suatu sumber air, semua izin yang belum memperhitungkan alokasi beban pencemaran air harus
disesuaikan dengan alokasi beban pencemaran air yang ditetapkan.

BAB XII
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 135
Dalam hal Baku Mutu Air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1) huruf b belum atau tidak
ditetapkan, berlaku kriteria mutu air untuk Kelas II sebagaimana tercantum dalam Lampiran
Peraturan Pemerintah ini sebagai baku mutu air.

Pasal 136
(1)Dalam jangka waktu selambat-lambatnya 3 (tiga) tahun sejak diundangkannya Peraturan
Pemerintah ini, baku mutu air yang telah ditetapkan sebelumnya wajib disesuaikan dengan
ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini.
(2)Baku mutu air yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tetap berlaku
sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Pemerintah ini.

Pasal 137
Inventarisasi dan identifikasi sumber air ditetapkan paling lambat 2 (dua) tahun sejak
diundangkannya Peraturan Pemerintah ini.

Pasal 138
Penetapan Daya Tampung Beban Pencemaran Air dan alokasi beban pencemaran air sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 38 ayat (1) wajib ditetapkan selambat-lambatnya 3 (tiga) tahun sejak
diundangkannya Peraturan Pemerintah ini.

Pasal 139
Pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini semua peraturan perundang-undangan yang
berkaitan dengan Pengendalian Pencemaran Air yang telah ada, tetap berlaku sepanjang tidak
bertentangan dengan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Pemerintah ini.

Pasal 140
Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini, maka Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001
tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air (Lembaran Negara Tahun 2001
Nomor 153, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4161) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 141
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku sejak tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan perundangan Peraturan Pemerintah ini dengan
penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di : Jakarta
pada tanggal :
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

JOKO WIDODO
PENJELASAN ATAS
PERATURAN PEMERINTAH NOMOR . TAHUN
TENTANG PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR

I. UMUM

Air merupakan sumber daya alam yang memenuhi hajat hidup orang banyak sehingga perlu dilindungi
agar dapat tetap bermanfaat bagi hidup dan kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya.
Untuk menjaga atau mencapai kualitas air sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan sesuai
dengan tingkat mutu air yang diinginkan, maka perlu upaya pelestarian dan atau pengendalian.
Pelestarian kualitas air merupakan upaya untuk memelihara fungsi air agar kualitasnya tetap pada
kondisi alamiahnya.

Pelestarian kualitas air dilakukan pada sumber air yang terdapat di hutan lindung. Sedangkan
pengelolaan kualitas air pada sumber air di luar hutan lindung dilakukan dengan upaya pengendalian
pencemaran air, yaitu upaya memelihara fungsi air sehingga kualitas air memenuhi baku mutu air.
[ADD] Sumber air yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini mencakup akuifer, mata air, sungai, rawa,
danau, situ, waduk dan muara. Peraturan Pemerintah ini tidak mengatur air laut.
Air sebagai komponen lingkungan hidup akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh komponen lainnya.
Air yang kualitasnya buruk akan mengakibatkan kondisi lingkungan hidup menjadi buruk sehingga akan
mempengaruhi kondisi kesehatan dan keselamatan manusia serta kehidupan makhluk hidup lainnya.
Penurunan kualitas air akan menurunkan dayaguna, hasil guna, produktivitas, daya dukung dan daya
tampung dari sumber daya air yang pada akhirnya akan menurunkan kekayaan sumber daya alam
(natural resources depletion).

Air sebagai komponen sumber daya alam yang sangat penting maka harus dipergunakan untuk sebesar-
besarnya bagi kemakmuran rakyat. Hal ini berarti bahwa penggunaan air untuk berbagai manfaat dan
kepentingan harus dilakukan secara bijaksana dengan memperhitungkan kepentingan generasi masa
kini dan masa depan. Untuk itu air perlu dikelola agar tersedia dalam jumlah yang aman, baik kuantitas
maupun kualitasnya, dan
bermanfaat bagi kehidupan dan perikehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya agar tetap
berfungsi secara ekologis, guna menunjang pembangunan yang berkelanjutan. Di satu pihak, usaha dan
atau kegiatan manusia memerlukan air yang berdaya guna, tetapi di ain pihak berpotensi menimbulkan
dampak negatif, antara lain berupa pencemaran yang dapat mengancam ketersediaan air, daya guna,
daya dukung, daya tampung, dan produktivitasnya. Agar air dapat bermanfaat secara lestari dan
pembangunan dapat berkelanjutan, maka dalam pelaksanaan pembangunan perlu dilakukan
pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air.

Dampak negatif pencemaran air mempunyai nilai (biaya) ekonomik, di samping nilai ekologik, dan sosial
budaya. Upaya pemulihan kondisi air yang cemar, bagaimanapun akan memerlukan biaya yang mungkin
lebih besar bila dibandingkan dengan nilai kemanfaatan finansial dari kegiatan yang menyebabkan
pencemarannya. Demikian pula bila kondisi air yang cemar dibiarkan (tanpa upaya pemulihan) juga
mengandung ongkos, mengingat air yang cemar akan menimbulkan biaya untuk menanggulangi akibat
dan atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh air yang cemar.

Berdasarkan definisinya, Pencemaran air yang diindikasikan dengan turunnya kualitas air sampai ke
tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Yang
dimaksud dengan tingkat tertentu tersebut di atas adalah baku mutu air yang ditetapkan dan berfungsi
sebagai tolok ukur untuk menentukan telah terjadinya pencemaran air, juga merupakan arahan tentang
tingkat kualitas air yang akan dicapai atau dipertahankan oleh setiap program kerja pengendalian
pencemaran air.

Penetapan baku mutu air selain didasarkan pada peruntukan (designated beneficial water uses), juga
didasarkan pada kondisi nyata kualitas air yang mungkin berada antara satu daerah dengan daerah
lainnya. Oleh karena itu, penetapan baku mutu air dengan pendekatan golongan peruntukkan perlu
disesuaikan dengan menerapkan pendekatan klasifikasi kualitas air (kelas air). Penetapan baku mutu air
yang didasarkan pada peruntukan semata akan menghadapai kesulitan serta tidak realistis dan sulit
dicapai pada air yang kondisi nyata kualitasnya tidak layak untuk semua golongan peruntukan.

Dengan ditetapkannya baku mutu air pada sumber air dan memperhatikan kondisi airnya, akan dapat
dihitung berapa beban zat pencemar yang dapat ditenggang adanya oleh air penerima sehingga air dapat
tetap berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Beban pencemaran ini merupakan daya tampung beban
pencemaran bagi air penerima yang telah ditetapkan peruntukannya.

Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian
Pencemaran Air sudah tidak memadai lagi, karena secara substansial tidak sesuai dengan prinsip
otonomi daerah sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah